top of page

Sukarno Sahabat Warga Leningrad

Pertama kali berkunjung ke Leningrad, Sukarno disambut hangat laiknya seorang sahabat.

loading_historia_white.gif
transparant.png

Presiden Sukarno di Pabrik mesin Kuibysjev, Leningrad.

28 Feb 2016
3 menit membaca

Diperbarui: 22 Apr

CUACA dingin tak menghalangi ribuan penduduk Leningrad untuk menyambut tamu agung. Akhir Agustus 1956 itu, penduduk tumpah ruah di mana-mana, di museum, jalan-jalan, hingga stasiun kereta api.


Museum Antropologi dan Ethnografi Akademi Ilmu Pengetahuan Uni Soviet di kota itu mendapat pengunjung jauh lebih banyak dari hari-hari biasanya. Sejak beberapa hari sebelumnya, pihak museum memamerkan 1000-an barang berkaitan dengan Indonesia, mulai kekayaan alam dan budaya Indonesia hingga bukti-bukti perjuangan rakyatnya.


Pers tak mau kalah. Artikel maupun feature tentang Indonesia, plus pemberitaan kunjungan Presiden Sukarno ke Moskow, mengisi halaman-halaman surat kabar setempat sejak beberapa hari.

Ingin membaca lebih lanjut?

Langgani historia.id untuk terus membaca postingan eksklusif ini.

bg-gray.jpg
Tiga bersaudara berjuang mempertahankan kemerdekaan di Kalimantan Barat. Bardan Nadi, yang gugur di tangan tentara Belanda, diingat sebagai pahlawan. Sedangkan jejak kedua saudaranya menghilang di tengah perburuan kaum komunis setelah 1965.
bg-gray.jpg
Sepeninggal mentornya, Henk Sneevliet, Semaoen mengampu panji palu arit. Merapat ke Moskow hingga diasingkan lewat besluit.
bg-gray.jpg
Semaoen membawa Sarekat Islam cabang Semarang ke arah radikal. Pecah kongsi dengan H.O.S. Tjokroaminoto, Semaoen membentuk Sarekat Islam Merah.
bg-gray.jpg
Semaoen dikenal sebagai wartawan yang tajam mengkritik pengusaha kapitalis dan pemerintah kolonial. Akibatnya, dia dipenjara karena delik pers. Selama ditahan, dia menulis Hikajat Kadiroen.
transparant.png
bottom of page