top of page

Sumbangan Rakyat Bangka untuk Republik Indonesia

Rakyat Bangka mengumpulkan dana untuk mendukung Republik Indonesia di hadapan para pejabat dan tentara Belanda. Peristiwa penting yang terlupakan.

loading_historia_white.gif
transparant.png
  • 6 Jul 2022
  • 3 menit membaca

Pada 6 Juli 1949, Presiden Sukarno, Wakil Presiden Mohammad Hatta, dan para menteri yang diasingkan di Bangka kembali ke Yogyakarta. Sebelumnya, pada 4 Juli 1949 mereka mengadakan perpisahan dengan rakyat di Muntok yang dihadiri 300 orang. Pada hari berikutnya, para pemimpin bangsa itu mengadakan perpisahan dengan rakyat di Pangkalpinang yang dihadiri lebih dari tiga ribu orang.


Sejarawan Universitas Gadjah Mada, Sri Margana dalam akun twitter-nya @margana_s (5/7) mengungkap peristiwa penting yang terlupakan dalam sejarah, di mana pada kesempatan itu rakyat Bangka menyumbangkan uang sebesar f.90.170,18 atau nilai sekarang kurang lebih setara dengan Rp14 miliar.


“Uang itu diserahkan langsung kepada Sukarno di sebuah gedung di Jl. Balai, sekarang Jl. KH Hasan Basri, kantor Koramil, disaksikan 3.000 orang rakyat Bangka,” tulis Margana.



Sumbangan itu disebut dalam bijlage atau lampiran laporan residen Bangka tanggal 22 Juni 1949. Lampiran yang dibuat oleh Pusat Panitia Penjokong Pembangunan “Djogdjakarta” itu merinci distrik-distrik yang menyumbang, seperti Pangkalpinang, Petaling, Sungai Selan, Sungai Liat, Baturusa, Belinyu, Toboali, Koba, Muntok dan Djebus.


“Dana itu didapat dari para dermawan, hasil pertunjukan amal, lelang barang, dan penjualan bunga oleh kaum perempuan muda serta ibu-ibu di Bangka,” tulis Margana.


Menurut Margana, Sukarno sangat terkesan dengan apa yang dilakukan rakyat Bangka. Terlebih penggalangan dana ini dilakukan secara terang-terangan di hadapan pejabat dan tentara Belanda yang menduduki Bangka.


Bukti sumbangan rakyat Bangka dalam lampiran (bijlage) laporan residen Bangka tanggal 22 Juni 1949. (Dok. Sri Margana).
Bukti sumbangan rakyat Bangka dalam lampiran (bijlage) laporan residen Bangka tanggal 22 Juni 1949. (Dok. Sri Margana).

“Sukarno menyebut rakyat Bangka ‘Republiken Sejati’. Sayang peristiwa ini telah dilupakan sejarah,” tulis Margana.


Dalam otobiografinya Memoir, Mohammad Hatta berkisah bahwa dia, Mr. Asaat, Mr. Gafar Pringgodigdo, dan Suryadi Suryadarma diasingkan ke sebuah pesanggrahan tambang timah di kaki gunung Menumbing, dekat Muntok pada akhir Desember 1948.



Di sana, mereka sempat tak diizinkan keluar dan pesanggrahan mereka sempat dipasangi kerangkeng kawat meski hanya beberapa hari. Bung Hatta menyebut, setelah diperbolehkan keluar dari area pesanggrahan, banyak kampung ingin mereka datang.


“Tatkala rakyat sekitar Muntok telah tahu bahwa kami telah boleh keluar dari tempat ‘pertapaan’ kami, banyak datang permintaan agar kami datang mengunjungi kampung mereka, misalnya dari Sungai Liat, Jebus, dan Belinyu,” kata Hatta.


Sementara itu, Sukarno diasingkan ke Bangka sejak Januari 1949, setelah sebelumnya dia diasingkan ke Prapat, Sumatra Utara. Dalam otobiografinya, Bung Karno Penyambung Lidah Rakyat Indonesia, ia tak banyak bercerita mengenai Bangka.



Sri Margana, sejarawan Universitas Gadjah Mada, ketika berkunjung ke Bangka. (Dok. Pribadi).
Sri Margana, sejarawan Universitas Gadjah Mada, ketika berkunjung ke Bangka. (Dok. Pribadi).

Menurut Daniel S. Lev dan Ruth T. McVey dalam Making Indonesia,kedatangan para pemimpin Republik ke Bangka membangkitkan antusiasme dan simpati banyak kalangan termasuk anggota Bangka Raad.


Antusiasme ditunjukkan ketika kabar kedatangan Sukarno tersiar. Rakyat berkumpul di sepanjang jalan bandara di Pangkalpinang, bahkan sebagian datang dengan bus. Ketika pesawat yang ditunggu-tunggu ternyata bukan pesawat Sukarno, sekira dua ribu orang berbondong-bondong pindah ke pelabuhan.



Mobil yang dikirim untuk menjemput Sukarno tak bisa masuk ke pelabuhan. Sukarno sendiri memilih jalan kaki. Massa rakyat mengangkat Sukarno ke bahu mereka dan meneriakkan pekik “merdeka.” Sukarno kemudian duduk di kap mobil dan semakin membuat massa bersemangat.


“Mereka mendorong kendaraan yang mogok, Sukarno dan semuanya, melewati jalanan,” tulis Lev dan McVey.


Sukarno, Mohammad Hatta, dan Haji Agus Salim kembali ke Yogyakarta pada 6 Juli 1949. (Dok. Sri Margana).
Sukarno, Mohammad Hatta, dan Haji Agus Salim kembali ke Yogyakarta pada 6 Juli 1949. (Dok. Sri Margana).


Rakyat Bangka juga tampak mendukung ide-ide Republik ketimbang konsep federal. Ketika Bung Hatta melakukan satu perjalanan dari Muntok ke Pangkalpinang pada Februari 1949, orang-orang berkumpul di pinggir jalan dan meneriakkan “merdeka” seolah-olah Bangka tidak sedang diduduki Belanda.


Merujuk pada laporan kepolisian pada 1949, rakyat Bangka begitu bersimpati kepada para tawanan ketika mereka dibebaskan. Misalnya, ketika Bung Hatta dan Masjarif mengunjungi pasar di Pangkalpinang, lagi-lagi terdengar teriakan-teriakan “merdeka”.


“Orang-orang berteriak untuk menemuinya. Panitia penyambutan dibentuk dan uang dikumpulkan untuk digunakan para tahanan,” tulis Lev dan McVey.



Sukarno, Hatta, dan para menteri tiba di Yogyakarta pada 6 Juli 1949. Di sepanjang jalan dari Maguwo hingga kota Yogyakarta, rakyat mengelu-elukan kembalinya para pemimpin dari pengasingan di Bangka dengan berbagai spanduk yang penuh kegembiraan.


“Peristiwa 6 Juli ini dikenal dengan Djogja Kembali. Pada masa Orde Baru monumen Jogja Kembali (Monjali) dibangun tetapi Soeharto memiliki interpretasi lain. Jogja kembali bukan kembalinya para pemimpin Republik dari Bangka, tetapi 19 Juli ketika Soeharto menjemput kembali Jenderal Soedirman kembali dari gerilya,” tulis Margana.

Komentar

Dinilai 0 dari 5 bintang.
Belum ada penilaian

Tambahkan penilaian
bg-gray.jpg
Istilah tante girang populer pada 1970-an kendati sudah menggejala dua dekade sebelumnya. Sastra populer merekamnya sebagai potret sosial.
bg-gray.jpg
Despite the mixed reactions, telenovelas continue to dominate Indonesian television. The heyday of these Latin American soap operas ultimately came to an end as viewers grew tired of them and switched to Mandarin and Korean dramas.
bg-gray.jpg
According to the Wangsakerta Manuscript, Tarumanagara was founded by refugees from India.
bg-gray.jpg
Prasasti Tugu turut meriwayatkan Kali Bekasi dan Kali Cakung Lama. Satu dari tujuh prasasti penting warisan Tarumanagara.
Sebagai ibukota Asia-Afrika, Bandung tak sekadar mencetuskan gerakan politik dan perdamaian, melainkan juga kedaulatan ekonomi.
Sebagai ibukota Asia-Afrika, Bandung tak sekadar mencetuskan gerakan politik dan perdamaian, melainkan juga kedaulatan ekonomi.
Setelah memberontak, pangkatnya  malah naik. Itulah pengalaman Alex Mengko si tentara berpengalaman.
Setelah memberontak, pangkatnya malah naik. Itulah pengalaman Alex Mengko si tentara berpengalaman.
K’tut Tantri dikenal sebagai penyiar asing yang membantu perjuangan Indonesia. Pengalaman di kamp interniran Jepang menjadi episode paling pahit dalam hidupnya.
K’tut Tantri dikenal sebagai penyiar asing yang membantu perjuangan Indonesia. Pengalaman di kamp interniran Jepang menjadi episode paling pahit dalam hidupnya.
Memanfaatkan kepercayaan orang Vietnam akan kematian, Amerika Serikat membuat operasi hantu untuk memanipulasi emosi dan persepsi tentara Viet Cong.
Memanfaatkan kepercayaan orang Vietnam akan kematian, Amerika Serikat membuat operasi hantu untuk memanipulasi emosi dan persepsi tentara Viet Cong.
Terinspirasi dari Festival Glastonbury. Konsisten memadukan para penampil beken dan para musisi dengan musikalitas tinggi lintas-genre.
Terinspirasi dari Festival Glastonbury. Konsisten memadukan para penampil beken dan para musisi dengan musikalitas tinggi lintas-genre.
Awalnya penyakit mematikan ini sulit diobati. Berkat penemuan insulin, diabetes tak lagi menjadi momok.
Awalnya penyakit mematikan ini sulit diobati. Berkat penemuan insulin, diabetes tak lagi menjadi momok.
transparant.png
bottom of page