top of page

Supaya Panglima Tertinggi Tak Celaka Lagi

Resimen Tjakrabirawa dibentuk setelah terjadinya percobaan pembunuhan terhadap Presiden Sukarno saat salat Iduladha. Sempat ditolak Sukarno.

loading_historia_white.gif
transparant.png

Kolonel CPM Maulwi Saelan (memakai baret), wakil komandan Resimen Tjakrabirawa, mengawal Presiden Sukarno dalam kunjungan kenegaraan ke Korea Utara. (Dok. Maulwi Saelan).

8 Nov 2023
6 menit membaca

Diperbarui: 5 Jun

MAULWI Saelan, 87 tahun, kali pertama bertemu Presiden Sukarno pada 1958. Ketika itu, Sukarno mampir di Parepare, dalam perjalanannya dari Manado. Sebagai Wakil Komandan Batalion VII/CPM (Corps Polisi Militer) Makassar, Maulwi ditugaskan bertanggung jawab atas keamanan Sukarno selama di Parepare sampai Danau Tempe, tempat terakhir perjalanan kembali ke Jakarta.


Maulwi sangat terkesan dengan Sukarno. “Dia ramah dan perhatian kepada para pengawalnya,” kata Maulwi kepada Historia. Sementara itu, Sukarno sudah pula kenal Maulwi lewat penampilannya sebagai kiper sekaligus kapten timnas Indonesia di Olimpiade Melbourne pada November 1956. Waktu itu timnas Indonesia berhasil menahan imbang Uni Soviet 0-0.


Setelah terjadinya percobaan pembunuhan terhadap Sukarno saat salat Iduladha pada 14 Mei 1962, Menko Hankam/KASAB Jenderal TNI A.H. Nasution mengusulkan pembentukan pasukan pengawal presiden dan keluarganya. Nasution meminta Letnan Kolonel CPM Moh. Sabur, ajudan presiden, untuk menyampaikan rencana itu kepada presiden. 

Ingin membaca lebih lanjut?

Langgani historia.id untuk terus membaca postingan eksklusif ini.

bg-gray.jpg
Dibuang ke Belanda tak menghentikan pergerakan Semaoen. Bekerjasama dengan kelompok sosialis dan komunis serta para pelaut Indonesia. Namun, keputusan membuat kesepakatan dengan Perhimpunan Indonesia mengakibatkan pemecatan.
bg-gray.jpg
Kepulangan Semaoen ke Indonesia setelah 33 tahun di pengasingan disambut semarak. Presiden Soeharto menawarkan keluarga agar jenazahnya dimakamkan di Kalibata.
bg-gray.jpg
Memutus perkara adalah amanah, bukan mainan. Siapa mengkhianatinya harus menanggung akibat yang sepadan. Itulah yang tersurat dalam sistem dan tata kelembagaan hukum Jawa yang diterapkan Kesultanan Demak hingga Yogyakarta.
bg-gray.jpg
Tiga bersaudara berjuang mempertahankan kemerdekaan di Kalimantan Barat. Bardan Nadi, yang gugur di tangan tentara Belanda, diingat sebagai pahlawan. Sedangkan jejak kedua saudaranya menghilang di tengah perburuan kaum komunis setelah 1965.
transparant.png
bottom of page