- 14 Des 2022
- 6 menit membaca
Diperbarui: 16 Apr
MENJELANG peringatan 150 tahun “Keti Koti”, penghapusan perbudakan di Suriname, Deputi Perdana Menteri cum Menteri Keuangan Belanda, Sigrid Kaag bertandang ke ibukota Paramaribo pekan ini. Agendanya berdiskusi dengan pemerintah Suriname sehubungan dengan rencana permintaan maaf resmi pemerintah Belanda terkait perbudakan di bekas jajahannya di Karibia: Suriname, Aruba, Curaçao, Bonaire, dan Sint Maarten.
Rencana itu berangkat dari hasil laporan delegasi tim riset sejarah perbudakan Belanda yang dipimpin anggota legislatif Kiki Hagen usai mengunjungi negeri-negeri itu medio Agustus 2022. Tim tersebut meriset dampak-dampak apa saja yang ditimbulkan dari perbudakan masa lalu terhadap generasi saat ini sekaligus menentukan saran yang mesti dilakukan pemerintah kerajaan terkait aspek-aspek buruk dari warisan kolonial itu.
Di sisi lain, Caribbean Reparations Commission (CRC) yang mewakili masyarakat Karibia sudah lama menuntut permintaan maaf dan kompensasi kepada para mantan kolonialis. Tidak hanya Belanda tapi juga Prancis, Spanyol, dan Portugal. Menanggapi rencana Belanda, CRC menuntut permintaan maaf datang langsung dari Perdana Menteri Mark Rutte dan Raja Willem-Alexander plus kompensasi.
Ingin membaca lebih lanjut?
Langgani historia.id untuk terus membaca postingan eksklusif ini.


















