top of page

Tentang Belanda yang Janggal

Ini tentang orang-orang Belanda yang terlihat sedang linglung. Bingung cari kemana juntrungannya.

loading_historia_white.gif
transparant.png
  • 8 Mei 2014
  • 3 menit membaca

Diperbarui: 6 Mei 2025

SAYA tiba di Amsterdam tepat pada 1 Mei, hari buruh. Sebagian pekerja libur di sini, sebagian tidak. Tapi berbeda dengan di Indonesia, di Belanda “May Day” bukan hari libur nasional. Kalau memang soal libur merupakan ukuran kemajuan, bolehlah kita merasa lebih maju dari Belanda. Tapi soal kenyataan hidup buruh, memang lain adanya. Buruh di Belanda jauh lebih terjamin hidupnya ketimbang di negara kita. Itu faktanya.


Den Haag adalah pusat pemerintahan di Belanda. Sejumlah kantor pemerintahan berdiri di sini, tak jauh dari penginapan di mana saya tinggal. Bangunan gedung Tweede Kamer (Majelis Rendah), Eerste Kamer (Majelis Tinggi) dan kantor Perdana Menteri terletak berdekatan. Masuk dan keluar dari pintu gerbang yang sama.

Tak jauh dari pintu gerbang utama, terdapat sederet kalimat dari pasal pertama Undang-Undang Belanda yang terukir pada sebuah monumen yang juga berfunsi sebagai tempat duduk para pengunjung. Kira-kira bunyinya, “Setiap manusia di Belanda harus diperlakukan setara tanpa pengecualian. Diskriminasi yang berdasarkan pada agama, kepercayaan, aliran politik, ras dan jenis kelamin tidak pernah bisa diizinkan.”


Belanda memang telah sejak lama membaptis dirinya menjadi sebuah negeri yang multikultur. Sejak periode 1960-an, ada begitu banyak imigran yang masuk ke sini. Sebagian mereka datang dari Turki, Maroko, dan berbagai negara di benua Afrika lainnya. Mereka datang sebagai pekerja kasar: mulai tukang sapu sampai kuli bangunan. Lambat laun, komunitas pendatang ini semakin membiak.


Jumlahnya makin lama makin meningkat. Generasi kedua dan ketiga yang lahir di Belanda langsung mereken dirinya jadi warga negara Belanda. Masalah mulai muncul. Perlakuan yang setara ternyata, belakangan ini, cuma jadi hiasan yang tertatah di monumen cita-cita orang Belanda. Diam-diam, orang Belanda yang berkulit putih mulai merasa tak nyaman.


Sentimen itu semakin menjadi-jadi ketika pada 4 November 2004, Theo van Gogh, sutradara film “Submission” yang mengkritik kedudukan perempuan dalam Islam ditemukan tergeletak tewas di pinggiran jalan Amsterdam dengan sebilah pisau tertancap di dadanya. Dia dibunuh seorang pemuda Maroko berkewarganegaraan ganda, Maroko dan Belanda. Mohammed Bouyeri, pemuda itu, meninggalkan secarik kertas pesan ancaman kepada beberapa politisi Belanda di tubuh Theo.


Ketakutan merebak. Aksi kriminal berlatar belakang sentimen keagamaan itu menjadi bibit konflik rasialisme di Belanda. Adalah Geerts Wilder politikus Partij Voor Vrijheid (PVV, Partai untuk Kebebasan) yang semakin mengukuhkan perasaan rasialisme pada sebagian kalangan warga kulit putih Belanda.


Pada Pemilu 2010 yang lalu, PVV berhasil meraih 24 kursi di parlemendan berhasil menjadi partai terbesar ketiga di Belanda. Pada Pemilu 2012 lalu, perolehan suara PVV menurun dan hanya beroleh 15 kursi saja. Kekuatan politik yang diperoleh PVV mencerminkan tumbuhnya perasaan rasialisme dan diskriminasi di sebagian kalangan warga Belanda, khususnya yang berkulit putih.


Wilders melakukan kampanye kemana-mana. Dia menyebarkan kebencian terhadap warga pendatang, khususnya terhadap warga Maroko dan Turki, dengan embel-embel terorisme dan radikalisme. Dalam kunjungan saya ke Belanda 2010 yang lalu, saat partainya Wilders baru saja jadi salah satu peraih kursi terbanyak pada Pemilu, beberapa orang Belanda yang saya tanyai pendapatnya tentang dia kasak-kusuk bicara pada saya. “Wilders hidup tidak tenang, saya dengar dia selalu hidup berpindah-pindah rumah dengan pengawalan ketat karena ketakutannya sendiri,” ujar Peter Hoogendijk, wartawan TV Belanda sekaligus sutradara film dokumenter.


Belakangan, begitu saya tiba di Den Haag, saya dengar kabar lain. PVV mulai terbelah. Itu akibat pernyataan-pernyataan Wilders yang menyebarkan kebencian pada komunitas warga Maroko di Belanda. Dalam sebuah pidatonya di depan para pendukungnya, dia bertanya apakah pendukungnya ingin lebih sedikit warga Maroko yang tinggal di Belanda atau lebih banyak. Semua menjawab sedikit. Wilders juga bertanya lagi, apakah pendukungnya ingin warga kulit putih lebih banyak apa lebih sedikit? Mereka menjawab “lebih banyak”.


Kabar buruknya, cita-cita persamaan hak manusia yang tertatah pada monumen di depan kantor pemerintahan Belanda di Den Haag terancam hanya tersisa sebagai kalimat usang. Konyolnya, sassus beredar menyebutkan kalau Geerts Wilder sebetulnya seorang Indo. Bukan kulit putih berdarah murni. Neneknya, demikian kabar yang  tersebar, berdarah Jawa. Saat remaja, Wilders banyak diolok-olok sebagai seorang Indo.


Kabar baiknya, tak semua orang Belanda sepakat pada kegilaan Wilders dan partainya. Itu terbukti dengan makin menurunnya orang yang memilih dia dan tentu saja karena partainya kini mulai terpecah. Mereka mulai cakar-cakaran sendiri.


Tapi terkadang, kalau melihat sejarah, orang Belanda memang selalu janggal. Manusia dinyatakan harus diperlakukan setara tanpa diskriminasi atas nama apapun. Tapi dulu di Hindia Belanda (sekarang jadi Indonesia), mereka pula yang memberlakukan aturan segregasi sosial dalam masyarakat jajahan. Sehingga orang seperti si Pitung, bisa dimaki-maki “Kowe orang Pitung inlanders God Verdomme” oleh Tuan Heins, atasannya Demang Meester.

Sekian.*

Komentar

Dinilai 0 dari 5 bintang.
Belum ada penilaian

Tambahkan penilaian
bg-gray.jpg
Sebelum menjadi sentra kuliner seperti sekarang, kawasan Jalan Sabang pernah menjadi tempat nongkrong anak gaul Jakarta hingga tempat mangkal tante-tante kesepian.
bg-gray.jpg
Klub sepakbola yang dibangun komunitas Arab Pekalongan ini tak bisa dianggap remeh. Kendati kerap didera kesulitan finansial, Alhilaal berhasil merengkuh gelar juara.
bg-gray.jpg
After leading the PETA uprising in Blitar, Supriyadi fled to the jungle and disappeared. It is believed that he was secretly killed by the Japanese as his body is nowhere to be found to this day.
bg-gray.jpg
Kala ditugaskan ke Pontianak, Rudy Blatt dapat informasi pembantaian rakyat oleh Jepang. Berinisiatif mencari para penjahat perang Jepang itu.
Rudy Pirngadie jenderal berbintang pudar. Gemerlap justru memancar dari bintangnya di dunia musik. Dijuluki Buaya Keroncong hingga Jenderal Keroncong.
Rudy Pirngadie jenderal berbintang pudar. Gemerlap justru memancar dari bintangnya di dunia musik. Dijuluki Buaya Keroncong hingga Jenderal Keroncong.
Donald Trump menghina Paus Leo XIV. Dahulu Napoleon menangkap dua Bapa Suci.
Donald Trump menghina Paus Leo XIV. Dahulu Napoleon menangkap dua Bapa Suci.
Dari bergeliat, peternakan-peternakan sapi perah di seantero Jakarta perlahan menghilang akibat gejolak politik. Ada banyak haji di balik industri tersebut.
Dari bergeliat, peternakan-peternakan sapi perah di seantero Jakarta perlahan menghilang akibat gejolak politik. Ada banyak haji di balik industri tersebut.
Perjalanan 50 tahun Apple penuh inovasi dan tantangan, bermula dari garasi hingga rmenjadi raksasa teknologi global.
Perjalanan 50 tahun Apple penuh inovasi dan tantangan, bermula dari garasi hingga rmenjadi raksasa teknologi global.
Dalam kisah legenda Jawa, Roro Mendut dikenal sebagai wanita yang berani mendobrak anggapan merokok identik dengan laki-laki. Ia berjualan rokok demi menolak dipinang sang punggawa istana.
Dalam kisah legenda Jawa, Roro Mendut dikenal sebagai wanita yang berani mendobrak anggapan merokok identik dengan laki-laki. Ia berjualan rokok demi menolak dipinang sang punggawa istana.
Sebagai pengarang novel populer, Motinggo Boesje memelopori konsep tante girang. Sementara itu, Ali Shahab pengarang pertama yang mencantumkan istilah tante girang pada novelnya.
Sebagai pengarang novel populer, Motinggo Boesje memelopori konsep tante girang. Sementara itu, Ali Shahab pengarang pertama yang mencantumkan istilah tante girang pada novelnya.
transparant.png
bottom of page