- 20 Mei 2024
- 4 menit membaca
Diperbarui: 20 Mei
“DI SANA sudah ada bangsa Asia yang telah berdiri tegak dengan hormatnya, diakui oleh segala bangsa beradab di dunia sebagai sesama tinggi. Bangsa Asia mana mendapat kehormatan sebesar itu kalau tidak Jepang? Kita berada jauh, jauh sekali dari Jepang, tetapi gelombangnya dapat kita rasakan –kita, orang-orang yang mengetahui,” kata seorang pensiunan dokter Jawa saat berbicara di hadapan para siswa sekolah kedokteran pada awal abad ke-20.
Sebagaimana dikisahkan oleh Pramoedya Ananta Toer dalam Jejak Langkah, salah satu seri dari tetralogi Pulau Buru, pensiunan dokter Jawa bertubuh kecil, kurus, dan mengenakan baju surjan berdestar Yogya itu hadir di sekolah kedokteran untuk memberikan “kuliah” umum yang mendorong lahirnya wawasan kebangsaan di kalangan orang-orang terpelajar. Sosok dokter Jawa itu berdasarkan tokoh nyata, yaitu Wahidin Soedirohoesodo.
Wahidin Soedirohoesodo lahir di Desa Mlati, Yogyakarta pada 7 Januari 1857 (sumber lain tahun 1852) dan meninggal pada 26 Mei 1917. Ia merupakan saudara sepupu dr. Radjiman Wedyodiningrat yang menjadi ketua BPUPKI tahun 1945.
Ingin membaca lebih lanjut?
Langgani historia.id untuk terus membaca postingan eksklusif ini.


















