top of page

Di Bawah Cengkeraman Kaum Feodal

Boedi Oetomo didirikan anak muda kemudian dikuasai kaum priayi tua. Berakhir sebagai organisasi konservatif.

loading_historia_white.gif
transparant.png

Lukisan sidang pemecatan Soetomo di ruang pamer gedung STOVIA. (Micha Rainer Pali/Historia.ID).

8 Agu 2024
4 menit membaca

Diperbarui: 20 Mei

WAHIDIN Soedirohoesodo, seorang dokter Jawa dari priayi rendahan, sama sekali tak bermaksud singgah ke STOVIA (School Tot Opleiding van Inlandsche Artsen atau Sekolah untuk Pendidikan Dokter Bumiputra) di Batavia.


Pada akhir 1907, dia hanya ingin rehat setelah melakukan perjalanan kampanye mencari beasiswa bagi anak-anak muda bumiputra yang pandai. Ditemani Pangeran Ario Notodirodjo, putra Pakualam V, dia mendatangi para priayi yang lebih tua dan tinggi untuk menyampaikan gagasannya itu.


Wahidin tiba-tiba diundang Soetomo dan Soeradji, siswa STOVIA, untuk berceramah mengenai pentingnya pendidikan sebagai kunci kemajuan. Wahidin mengungkapkan gagasannya untuk mewujudkan sebuah lembaga beasiswa bagi pemuda bumiputra agar dapat melanjutkan studinya dengan baik.

Ingin membaca lebih lanjut?

Langgani historia.id untuk terus membaca postingan eksklusif ini.

bg-gray.jpg
Kepulangan Semaoen ke Indonesia setelah 33 tahun di pengasingan disambut semarak. Presiden Soeharto menawarkan keluarga agar jenazahnya dimakamkan di Kalibata.
bg-gray.jpg
Memutus perkara adalah amanah, bukan mainan. Siapa mengkhianatinya harus menanggung akibat yang sepadan. Itulah yang tersurat dalam sistem dan tata kelembagaan hukum Jawa yang diterapkan Kesultanan Demak hingga Yogyakarta.
bg-gray.jpg
Tiga bersaudara berjuang mempertahankan kemerdekaan di Kalimantan Barat. Bardan Nadi, yang gugur di tangan tentara Belanda, diingat sebagai pahlawan. Sedangkan jejak kedua saudaranya menghilang di tengah perburuan kaum komunis setelah 1965.
bg-gray.jpg
Sepeninggal mentornya, Henk Sneevliet, Semaoen mengampu panji palu arit. Merapat ke Moskow hingga diasingkan lewat besluit.
transparant.png
bottom of page