- 1 jam yang lalu
- 8 menit membaca
BAHKAN di masa tuanya, Henk Ngantung masih mengalami perundungan dan tak lepas dari stigma. Geni Ngantung, anak kedua Henk, masih ingat kejadian memilukan itu, menjelang wafatnya sang ayah. Pada akhir November 1991, Henk berkesempatan memamerkan lukisan-lukisannya di Galeri Jaya Ancol, Jakarta Utara.
“Sebelum tanggal 29 November [1991] sebenarnya sudah mau pameran. Intel bilang dianggap berbahaya. Katanya, Henk mau reuni sama orang PKI dan Lekra,” tutur Geniati Heneve Ngantung, yang akrap dipanggil Geni, kepada Historia.ID.
Itu adalah pameran terakhir Henk Ngantung. Tidak banyak yang tahu, Henk yang sudah sepuh itu mengalami tekanan sepanjang pameran berlangsung. Aparat intelijen militer dari Badan Koordinasi Intelijen Negara (Bakin) disusupkan untuk mengawasi jalannya pameran. Henk yang sehari-harinya berpembawaan tenang, memendam amarah dan sakit hati. Keluarganya pun tak habis pikir mengapa Henk sampai diperlakukan sebegitu rupa.
Ingin membaca lebih lanjut?
Langgani historia.id untuk terus membaca postingan eksklusif ini.


















