top of page

Warisan Nakhoda Pertama

Sebagai nakhoda sejarah maritim, dia tahu pentingnya laut bagi negara kepulauan Indonesia.

loading_historia_white.gif
transparant.png

Adrian Bernard Lapian.

23 Jul 2011
5 menit membaca

Diperbarui: 19 Jul 2025

DULU Inggris dikenal sebagai “Raja Laut”. Armadanya begitu superior. Saking luas wilayah kekuasaannya, tak heran bila muncul semboyan “Inggris, negara di mana matahari tidak pernah terbit dan tenggelam.” Mereka sadar bahwa hanya dengan memanfaatkan kondisi geografis (laut) semaksimal mungkin plus kerja keras, kejayaan bisa diraih.


Berabad-abad silam kerajaan-kerajaan di Nusantara juga menyadari pentingnya laut sebagai penghubung dengan wilayah-wilayah lain. Laut juga membuka cakrawala pemikiran mereka. Informasi dan ilmu pengetahuan dari dunia luar, atau sebaliknya, masuk melalui laut. Kejayaan Sriwijaya, Majapahit, Malaka, Makassar, Ternate, Tidore, Samudera Pasai, atau Demak, misalnya, tak lepas dari pemahaman mereka akan laut.

Ingin membaca lebih lanjut?

Langgani historia.id untuk terus membaca postingan eksklusif ini.

bg-gray.jpg
Kepulangan Semaoen ke Indonesia setelah 33 tahun di pengasingan disambut semarak. Presiden Soeharto menawarkan keluarga agar jenazahnya dimakamkan di Kalibata.
bg-gray.jpg
Memutus perkara adalah amanah, bukan mainan. Siapa mengkhianatinya harus menanggung akibat yang sepadan. Itulah yang tersurat dalam sistem dan tata kelembagaan hukum Jawa yang diterapkan Kesultanan Demak hingga Yogyakarta.
bg-gray.jpg
Tiga bersaudara berjuang mempertahankan kemerdekaan di Kalimantan Barat. Bardan Nadi, yang gugur di tangan tentara Belanda, diingat sebagai pahlawan. Sedangkan jejak kedua saudaranya menghilang di tengah perburuan kaum komunis setelah 1965.
bg-gray.jpg
Sepeninggal mentornya, Henk Sneevliet, Semaoen mengampu panji palu arit. Merapat ke Moskow hingga diasingkan lewat besluit.
transparant.png
bottom of page