top of page

Hasil pencarian

9774 hasil ditemukan dengan pencarian kosong

  • Sengkarut Pohon Keluarga Hitler

    GEDUNG flat dan pub tiga lantai milik keluarga Dafner di Salzburger Vorstadt 15, kota Braunau am Inn, Austria pada sekira pukul 6 petang 20 April 1889 punya penghuni baru. Di salah satu kamar flat sewaanya, seorang penghuni bernama Klara Pölzl melahirkan Adolf Hitler.  Kelahiran Adolf kecil dirayakan dengan suka cita. Maklum, sejak dua tahun sebelumnya Klara dan suaminya, Alois Hitler Sr., dirundung nestapa bertubi-tubi. Adolf kecil tak pernah mengenal ketiga kakak kandungnya: Otto meninggal beberapa hari setelah lahir pada 1887, Gustav wafat pada 8 Desember 1887, dan Ida mangkat pada 2 Januari 1888 karena difteri. Adolf kecil merupakan anak keempat dari pernikahan Alois dengan Klara, istri ketiga Alois. Jika ditarik dari garis keturunan ayah, Adolf adalah anak ketujuh Alois yang gemar berselingkuh. Klara, ibunda Adolf, sebelum dinikahi sebagai istri sah kedua merupakan selingkuhan Alois.

  • Mencari Untung di Tanah Pembuangan Boven Digoel

    KAMP pengasingan Digoel, Papua menjadi momok tersendiri bagi siapapun yang coba-coba memberontak kepada pemerintah kolonial Belanda. Tak hanya dilingkupi hutan belantara sunyi, nyamuk-nyamuk penyebar malaria juga menghantui. Tunjangan minim juga tak cukup untuk penghidupan. Maka berjualan jadi salah satu cara untuk bertahan, sebagaimana dilakukan banyak penghuni Kampung C. Menurut eks Digoelis Muhammad Bondan seperti ditulis Molly Bondan dalam Spanning a Revolution: Kisah Mohammad Bondan, Eks-Digulis, dan Pergerakan Nasional Indonesia , Kampung C adalah kampung paling sibuk di Digoel karena sebagian besar penghuninya membuka warung kecil-kecilan di rumah mereka. “Wujud warung itu tidak lebih dari sebuah meja yang diberi taplak, diletakkan di depan pintu atau jendela yang terbuka, dengan di atasnya ditaruh barang-barang yang hendak dijual. Bagaimanapun kampung ini telah menjadi sesibuk seperti pusat perbelanjaan,” tulis Molly Bondan.

  • Sepakbola di Tanah Buangan Boven Digoel

    SEPAKBOLA memang olahraga sejuta umat. Dengan sebuah bola dan tanah lapang, orang-orang sudah bisa bermain sepakbola. Tak terkecuali para tahanan politik di Tanah Merah Boven Digoel, Papua. Sepakbola jadi andalan untuk memecah kesunyian kamp dan mengisi waktu luang. Sepakbola di Tanah Merah bermula ketika kaum buangan membentuk organisasi kesenian dan olahraga bernama Kunst, Sport en Voetbal Vereeniging Digoel  (KSVD). KSVD dipimpin oleh buangan asal Bandung, Wiranta yang kemudian digantikan oleh Sabariman. KSDV seringkali mengadakan pertandingan. Selain sebagai olahraga, sepakbola juga sebagai hiburan. Tak butuh waktu lama, sepakbola menjadi olahraga favorit kaum buangan. Setelah KSVD, muncul kesebelasan-kesebelasan lain, seperti Sinar Perdamaian dan SH ( Sport for Health ).

  • Membuang Orang Pergerakan ke Boven Digoel, Papua

    MENTERI Sosial Tri Rismaharini lagi-lagi bikin sensasi. Dalam video yang belakangan viral, Risma terekam memaharahi beberapa anggota Aparatur Sipil Negara (ASN) di Balai Wyata Guna, Bandung. Risma mengangap mereka tidak tangkas bekerja menyiapkan makanan di dapur umum. Kemarahan Risma kiranya dapat dipahami. Namun, yang menjadi sorotan, Risma mengancam akan memutasi anak buahnya yang lalai itu ke Papua. “Dengar, saya nggak main-main, nggak ada yang susah buat saya pindahkan ke Papua,” begitu kata Risma. Alih-alih menuai simpati, ucapan Risma lebih terkesan bernada diskriminasi. Papua merupakan daerah paling timur sehingga sangat jauh dari pusat pemerintahan. Tak dapat dipungkiri, Papua memang belum semaju daerah lain di Indonesia. Dari pernyataan Risma, Papua seolah-olah menjadi tempat pembuangan bagi mereka yang terhukum. Pernyataan Risma itu mengingatkan kita kepada sikap represif pemerintah Hindia Belanda pada waktu lampau. Di masa kolonial, pemerintah Hindia Belanda merepresi orang-orang pergerakan dengan mengirimkannya ke penjara pengasingan di Papua. Penjara yang lebih mirip kamp interniran itu berlokasi di Boven Digoel, yang sekarang masuk wilayah Kabupaten Boven Digoel, Provinsi Papua.

  • Sebelum Niti Soemantri Berjasa di Bidang Koperasi

    SETAMAT dari Normaal School (sekolah guru) pada 1920, Achmad Niti Soemantri menjadi guru pada Standard School (sekolah dasar lima tahun) di Cipanas, Cianjur. Lima tahun mengabdi di sana, pad 1925 dia pindah mengajar ke Volkschool (Sekolah Rakyat, sekolah dasar tiga tahun) di Cianjur.   Namun, pemuda kelahiran Garut, 20 Agustus 1901 itu tak hanya menghabiskan waktunya untuk mengajar. Soemantri juga aktif di suratkabar mingguan Padjadjaran dan Matahari  yang terbit di Bandung.   Soemantri terseret arus pergerakan nasional yang paling menggeliat di era 1920-an, menjadi jejaring dari Sarekat Rakyat dan Partai Komunis Indonesia (PKI) seperti para haji di Banten. Dalam Pemberontakan PKI 1926, Soemantri terseret pula. Algemeen Handelsblad dan  De Indisch   Courant  edisi 8 Desember 1926 menyebut, Soemantri adalah “pemimpin kerusuhan di Cianjur dan Sukabumi.” Di dua tempat itu, pemberontakan PKI dianggap gagal.

  • Alkisah Foto Jenazah Aliarcham

    Engkau tidak hilang bagi kami, tidak!/ Masa kini kami tumbuh dari masa lampaumu/ Tangan kami menganyam terus/ Karya suci dan perjoanganmu/ Kami meneruskan kata gairah/ Kehidupanmu dengan rasa bahagia/ Obor yang menyala di malam kelam anda/ Kami sampaikan kepada angkatan kemudian. Sajak gubahan penyair Belanda Henriette Roland Holst itu (dalam bahasa Belanda) tertulis di sebuah papan tulis hitam yang diambil dari sebuah sekolah. Digambar pula simbol palu arit pada papan itu lalu ditempatkan di belakang kepala jenazah Aliarcham. Pemimpin Digoelis itu meninggal dunia karena penyakit TBC pada Juli 1933 di atas sebuah perahu motor. Di Tanah Merah, seruan “Aliarcham meninggal!” menjalar ke seluruh kamp ketika perahu dari Tanah Tinggi itu tiba. Kematian Aliarcham telah menimbulkan rasa kehilangan yang berat bagi para Digoelis.

  • Dalam Keadaan Sakit, Aliarcham Tetap Melawan

    KETIKA akhirnya dipindahkan ke Kamp Tanah Tinggi, Aliarcham mulai mengalami batuk-batuk. Kondisinya menjadi semakin parah dan diketahui ia mengidap penyakit Tuberkulosis (TBC). Kian hari badannya semakin kurus. Mukanya pucat dan matanya juga cekung. Sukimah adalah istri Aliarcham yang pada 1926 ikut dalam pembuangan ke Okaba. Ia turut pula ketika Aliarcham dipindahkan ke Tanah Merah dan kemudian ke Tanah Tinggi. Anak laki-laki mereka yang bernama Aneksimander juga ikut dalam pengasingan ini. Di Tanah Tinggi ketika Aliarcham mulai sakit, istrinya diminta kembali Jawa. Sukimah yang saat itu tengah mengandung diminta pulang agar melahirkan di Jawa. Lagi pula akan sangat berbahaya jika penyakit Aliarcham menular ke keluarganya.

  • Nasib Mereka yang Terbuang di Theresienstadt dan Boven Digoel

    SUDAH tak terhingga peneliti sejarah atau sejarawan mengulik dan mempublikasikan tulisan-tulisan sejarah tentang kamp-kamp pengasingan di delapan penjuru mata angin. Tetapi yang mengkomparasikannya satu sama lain, terlebih menilik kesamaan kehidupan orang-orang buangan di Eropa dan daratan Papua mungkin baru Prof. Rudolf Mrázek. Mrázek, sejarawan yang juga guru besar emeritus University of Michigan itu sampai melintas belahan bumi untuk melakoni riset dan wawancaranya dari Israel hingga Papua. Puncaknya, ia terbitkan bukunya pada 2020 dengan tajuk The Complete Lives of Camp People: Colonialism, Fascism, Concentrated Modernity (terj. Keseharian Orang Buangan di Kamp Kolonial ). Di dalamnya, Mrázek menyelami kehidupan para orang buangan di Kamp Ghetto Theresienstadt di kota Theresienstadt (kini Terezín, Czechia/Ceko) dan Kamp Pengasingan Boven Digoel di Tanah Merah, Papua yang berada di dua belahan bumi berbeda dengan jarak 13 ribu kilometer. “Mungkin bagi kalangan akademisi atau para ahli (sejarah), tidak masuk akal karena kedua kamp berada di dua sisi dunia yang berbeda. Satu kamp (Digoel) untuk para tahanan politik (tapol) komunis, orang-orangnya (Sutan) Sjahrir, pemuda liberal democrat, sosialis kiri, pemuda gerakan Islam yang semuanya musuh politik rezim (pemerintah Hindia Belanda). Dan (kamp) Theresienstadt untuk orang-orang Yahudi dan dijadikan propaganda politik (Nazi Jerman). Kedua orang-orang buangan itu memang kelihatan berbeda,” ujar Mrázek dalam Forum Diskusi Budaya Pusat Riset Masyarakat dan Budaya, Badan Riset dan Inovasi Nasional bertajuk “Keseharian Orang Buangan di Kamp Kolonial” secara daring di Youtube PMB BRIN , Senin (5/8/2024).

  • Djojotoegimin dan Musik yang Menghidupkan Digoel

    BUTUH waktu tiga hari naik kapal untuk mencapai Digoel dari Merauke. Nyamuk malaria atau keganasan buaya di Sungai Digoel dan bermacam gangguan alam lain akan selalu menjadi ancaman begitu sampai. Belum lagi, di tahun 1927 hinga 1940 itu, kesunyian Digoel yang terletak di pedalaman belantara Papua tak kalah menakutkan. Di sanalah mereka yang terkait Pemberontakan Partai Komunis Indonesia (PKI) November 1926 dan Januari 1927 ditempatkan oleh pemerintah kolonial Hindia Belanda. Atas nama Rust en Orde (Keamanan dan Ketertiban), mereka dikucilkan agar tak mengganggu apalagi merongrong penguasa. Di tempat seperti Digoel itulah kehadiran Djojotoegimin seharusnya menjadi penting. Setidaknya dia bisa menjadi “pembunuh” kesunyian Digoel. Sebab, sebelum dibuang ke Boven Digoel, dia memang seorang musisi profesional.

  • Digoelis Makassar Itu Bernama Paiso

    PERINGATAN kematian Sun Yat Sen dihelat orang-orang Tionghoa Makassar di sebuah sekolah di daerah Baloeng pada 1925. Tak hanya dihadiri 200 orang Tionghoa, sekira 30 orang bumiputra juga hadir di sana. Salah satunya yang bernama Paiso. Namun ketika di sana, Paiso langsung diamankan polisi. Paiso dikaitkan dengan komunisme. Meskipun menurut Overzicht van de Inlandsche en Maleisisch-Chineesche Pers, 1925 no. 20 (14 Mei 1925) dalam pertemuan itu komunis sedang tidak menjadi bahasan, Paiso –yang disebut-sebut sebagai orang Jawa kelahiran 1894– sudah kadung dianggap orang berbahaya. Paiso, disebut Het Nieuws van den dag voor Nederlandsch-Indië tanggal 8 Februari 1924, adalah sekretaris Sarekat Rakjat daerah Makassar. Sarekat Rakjat Makassar itu berdiri pada November 1923. Ketuanya Alibin, seorang guru sekolah milik Sarekat Islam yang berasal dari Minangkabau; Wakilnya Mohamad Ali, pekerja di kantor syahbandar Makassar; dan bendaharanya Abdul Maki. Sarekat Rakjat terkait dengan Partai Komunis Indonesia (PKI).

  • Digoelis Masuk Parlemen

    NAMA pria kelahiran Blora tahun 1912 ini mirip dengan nama seorang jenderal mayor Kementerian Pertahanan yang dieksekusi negara pada Desember 1948. Djokosudjono, nama pria ini, sejak usia 17 tahun sudah aktif memperjuangkan kemerdekaan Indonesia dengan ikut Partai Nasional Indonesia (PNI) dan aktif di serikat buruh. Di serikat buruh, antara 1931-1934 dia menjadi Sekretaris Persatuan Sarekat Sekerdja seluruh Indonesia. Dia pernah pula memimpin kongres buruh pertama di Surabaya. Sekitar 1935, bersama Musso, Pamudji, dan Achmad Sumadi, Djokosudjono membangun Partai Komunis Indonesia (PKI) dalam gerakan bawah tanah. PKI kemudian dikenal sebagai PKI Ilegal. Namun perjuangan mereka tetap terendus aparat kolonial yang sejak 1934 menggalakkan penindakan terhadap gerakan nasionalis. Pada 1938, Djokosudjono ditangkap aparat hukum kolonial dan dibuang ke Boven Digoel. Untuk mencapai Boven Digoel yang terletak di pedalaman Papua, kala itu mesti ke Merauke dulu. Setelah itu dilanjutkan naik kapal sekitar 3 hari dari pelabuhan Merauke. Sebab, jalan darat belum ada.

  • Kesatria Ratu Belanda Menjaga Boven Digoel

    THOMAS Najoan merupakan orang buangan di Tanah Merah, Boven Digoel, yang suka bercanda. Orang-orang buangan suka dengan humornya. Suatu kali, dia ditanya kenapa kabur ke Australia tapi kembali lagi ke Digoel. “Australia tidak menyukai saya, maka kembalilah ke Om Bintang,” kata Thomas Najoan. Dalam pelarian berikutnya, Thomas Najoan tertangkap lagi. Mantri polisi yang dikenal sebagai Om Bintang lalu bertanya padanya kemana dia akan pergi. “Saya sedang mencari Stalin dan Trotsky, tapi rupa-rupanya saya selalu hanya bisa menemukan Om Bintang,” kata Thomas Najoan sebagaimana dicatat Sutan Sjahrir dalam Renungan dan Perjuangan .

bg-gray.jpg
Tedy masuk militer karena pamannya yang mantan militer Belanda. Karier Tedy di TNI terus menanjak.
bg-gray.jpg
Dua anggota legiun Mangkunegaran ikut serta gerakan anti-Belanda. Berujung pembuangan.
bg-gray.jpg
Rumahsakit Bethesda Yogyakarta yang masih berdiri hingga kini merupakan buah "kasih" dr. Belanda bernama JG Scheurer.
bg-gray.jpg
Poligami dipraktikkan oknum tentara sejak dulu. Ada yang dapat hukuman karenanya.
bg-gray.jpg
Depok terkenal dengan sambaran petirnya. Banyak memakan korban, sedari dulu hingga hari ini.
bottom of page