- 24 Mar 2020
- 3 menit membaca
Diperbarui: 20 Apr
Engkau tidak hilang bagi kami, tidak!/ Masa kini kami tumbuh dari masa lampaumu/ Tangan kami menganyam terus/ Karya suci dan perjoanganmu/ Kami meneruskan kata gairah/ Kehidupanmu dengan rasa bahagia/ Obor yang menyala di malam kelam anda/ Kami sampaikan kepada angkatan kemudian.
Sajak gubahan penyair Belanda Henriette Roland Holst itu (dalam bahasa Belanda) tertulis di sebuah papan tulis hitam yang diambil dari sebuah sekolah. Digambar pula simbol palu arit pada papan itu lalu ditempatkan di belakang kepala jenazah Aliarcham.
Pemimpin Digoelis itu meninggal dunia karena penyakit TBC pada Juli 1933 di atas sebuah perahu motor. Di Tanah Merah, seruan “Aliarcham meninggal!” menjalar ke seluruh kamp ketika perahu dari Tanah Tinggi itu tiba. Kematian Aliarcham telah menimbulkan rasa kehilangan yang berat bagi para Digoelis.
Ingin membaca lebih lanjut?
Langgani historia.id untuk terus membaca postingan eksklusif ini.


















