Hasil pencarian
9825 hasil ditemukan dengan pencarian kosong
- Yang Muda yang Berkuasa
KAPAL dari Singapura berlabuh di Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta. Dua penumpangnya turun. Mereka berusaha keluar pelabuhan secara ilegal. Dua orang itu D.N. Aidit dan M.H. Lukman. “Beberapa hari yang lalu Aidit dan Lukman, dua anggota dari agitprop (agitasi dan propaganda) PKI, telah tiba di Jakarta dari Vietnam,” tulis Sinpo, 25 Juli 1950. Sinpo mengabarkan Aidit dan Lukman pernah menjadi gerilyawan di Vietnam. Jacques Leclerc, seorang pakar sejarah kiri Indonesia, berpandangan kemunculan Aidit dan Lukman penuh perhitungan dan skenario. Mereka muncul saat pemerintah mengurangi tekanan terhadap PKI dengan sebuah cerita heroik rekaan. Dari perjuangan di Tiongkok dan Vietnam sampai upaya mereka masuk ke Indonesia secara ilegal sehingga menarik perhatian suratkabar.
- Memulihkan Citra PKI yang Terkoyak
HARI itu, 19 Desember 1948, kota Yogyakarta dihujani bom. Belanda melancarkan agresi militer kedua. Kepanikan melanda para tahanan di penjara Wirogunan. Alimin, Abdoelmadjid, Tan Ling Djie, dan beberapa tahanan PKI lainnya memutuskan melarikan diri. Pascaperistiwa Madiun, PKI adalah partai yang kalah, tersingkir dari kekuasaan. Pengurus partai terpencar-pencar, menghindari kejaran pemerintah. Setelah Musso dan Maruto Darusman dieksekusi mati, Tan Ling Djie sebagai orang ketiga dalam partai menjadi pimpinan CC sementara. Menurut arsip Belanda yang dikutip Poeze dalam Tan Malaka, Gerakan Kiri, dan Revolusi Indonesia, Tan Ling Djie mendirikan Pusat PKI Darurat di Kediri. Di dalamnya terdapat anggota Politbiro yang masih tersisa: Wikana, Soedisman, Abdoelmadjid, Djokosoejono, Tjokronegoro, dan Setiadjit. PKI kembali beraktivitas di bawah tanah.
- Solo-Madiun 1948
SOLO, 31 Agustus 1948. Di alun-alun utara Keraton Surakarta Hadiningrat, Musso menyampaikan orasinya tentang Jalan Baru. Hadir pula Alimin, Amir Sjarifuddin, dan Maruto Darusman. Para pimpinan PKI itu menyerukan agar para kader mempersiapkan Kongres Fusi pada akhir tahun. Siswoyo, sekretaris SC Surakarta, bertugas sebagai notulis. Dia menyaksikan rapat umum dihadiri puluhan ribu massa. “Bagi sebagian kalangan, rapat umum tersebut tampak seperti show of force PKI,” kenang Siswoyo dalam memoar Siswoyo dalam Pusaran Arus Sejarah Kiri. Keesokan harinya, Slamet Widjaja (kader PKI OSC Solo) dan Siswo Pardijo (Staf Intel Divisi Panembahan Senopati) diculik pasukan tak dikenal. Teror berlanjut. Lima opsir Senopati yang ditugaskan mengusut penculikan hilang saat menyambangi markas Divisi Siliwangi –yang hijrah dari Jawa Barat guna memenuhi “garis Van Mook” sesuai Perjanjian Renville– di Srambatan, Solo. Ketegangan dua bulan sebelumnya akibat tertembaknya Kolonel Sutarto, komandan Senopati, oleh orang tak dikenal di rumahnya kembali muncul.
- Fusi Demi Arah Revolusi
AGUSTUS 1948, Soeripno, dutabesar keliling RI untuk Eropa Timur, tiba di Yogyakarta. Dia dipanggil pulang ke Indonesia untuk menjelaskan perjanjian unilateral yang dibuatnya dengan Moskow. Ikut bersamanya seorang sekretaris bernama Soeparto, yang tak lain adalah Musso. Musso pemuka lama PKI yang ikut menggerakkan pemberontakan tahun 1926 dan lama menetap di Moskow. Sebagai agen Komintern, Musso membawa mandat untuk menyelaraskan haluan kaum komunis di Indonesia sesuai garis Zhdanov yang tak lagi berkompromi terhadap kekuatan imperialisme Barat. Andrei Zhdanov adalah pemimpin Partai Komunis Uni Soviet (PKUS). Namun, Musso menemukan kader-kader komunis terserak di beberapa partai kiri: Partai Buruh Indonesia (PBI), PKI legal, dan Partai Sosialis, yang tergabung dalam Front Demokrasi Rakyat (FDR). Musso juga menyadari PKI yang dipimpin Sardjono tak memainkan peran menonjol. Maka, Musso mengadakan pertemuan dengan pemuka-pemuka PKI dan FDR.
- Dilikuidasi Komite Pemberesan
MENYUSUL Maklumat No. X yang mendorong pembentukan partai-partai politik, Mr. Mohammad Joesoef menghidupkan kembali PKI pada 21 Oktober 1945 dan diakui pemerintah pada 7 November 1945. PKI menjadi partai pertama yang didirikan setelah proklamasi kemerdekaan. Dalam maklumatnya, sebagaimana dilansir Soeara Rakjat, 7 November 1945, Joesoef merasa sudah waktunya, “Komunis bangun kembali dan tampil ke muka guna memimpin rakyat jelata untuk mempertahankan kemerdekaan kita dan menyempurnakan Republik Indonesia menurut dasar sosialisme yang sejati.” Pada 12 November 1945, dua hari sebelum Sutan Sjahrir dilantik sebagai perdana menteri, PKI mengeluarkan programnya, yang dalam berbagai segi tak jauh berbeda dari program Partai Sosialis. Ia menuntut hak-hak demokrasi yang luas, jaminan upah layak, dan jam kerja yang pantas. Ia menjanjikan nasionalisasi semua perusahaan penting dalam bidang-bidang produksi, distribusi, dan keuangan.
- Terjerat Keabsahan Mandat
SETELAH menerima kabar kekalahan Jepang, anggota PKI Ilegal di bawah kepemimpinan Widarta berkumpul di Pemalang. Mereka mengadakan rapat di pos kehutanan Sukawati. Hadir antara lain Widarta, Soekardiman (Cilik), Wikana, Mulyadi (Djono Bungkuk), Marto, K. Midjaja, dan seorang kader lokal dari Pekalongan. Rapat mendiskusikan perkembangan partai. Posisi Uni Soviet tak menentu setelah kemenangan Sekutu. Amir Sjarifuddin masih di penjara. Nasib kader lainnya tak jelas. Partai juga kekurangan pimpinan, anggota, uang, dan senjata. Organ partai Menara Merah tak terbit lagi dan belum ada penggantinya. Sementara tentara Jepang masih kuat dan Kempetai masih memburu orang-orang komunis. Rapat memutuskan untuk sementara PKI tetap bergerak di bawah tanah. Mereka juga menerbitkan selebaran-selebaran, tanpa cap dan nama PKI, yang berisi ajakan melawan Jepang. “Dengan demikian, akan menjadi milik siapapun dan mereka dapat melancarkan aksi atas nama revolusi dan bukan atas nama PKI,” tulis Anton Lucas dalam Radikalisme Lokal.
- Melawan Fasis Jepang
PASCA pendudukan Jerman atas Belanda pada Mei 1940, pemerintahan Hindia Belanda melakukan penangkapan terhadap orang-orang yang dituduh komunis dan simpatisan Jerman atau Jepang. Amir Sjarifoeddin bersama sebagian besar pemimpin Gerakan Rakjat Indonesia (Gerindo) ditangkap dan diinterogasi pada Juni 1940 atas tuduhan komunisme. “Tampaknya satu kopi surat kabar PKI bawah tanah, Menara Merah, ditemukan di rumah Amir. Polisi mencurigai kemungkinan hubungan yang dimiliki Amir, Wikana, Adam Malik, dan lainnya dengan PKI yang telah diperbarui sejak 1936, namun polisi tidak memiliki cukup bukti untuk membuat tuntutan,” tulis Gerry van Klinken dalam 5 Penggerak Bangsa yang Terlupa. Amir mendirikan Gerindo pada 1937. Sebagai organisasi legal, Gerindo mengusung strategi taktis yang memungkinkan kerjasama dengan Belanda dalam menghadapi fasisme yang sedang bangkit di Eropa. Amir bergabung dengan PKI Ilegal melalui Widarta pada Kongres Gerindo II, Juli 1939.
- Jalan Terjal PKI Ilegal
KOMUNIS Internasional (Komintern) mengirimkan agen yang tak disebutkan namanya ke Hindia Belanda pada akhir 1934. Agen itu ditugaskan menjalin kontak dengan kaum komunis untuk membangun kembali PKI yang dilarang akibat pemberontakan gagal tahun 1926-1927. Misi agen itu berakhir dengan kegagalan; dia ditangkap aparat pemerintah kolonial Belanda. Pada tahun yang sama, Komintern mendirikan Biro Luar Negeri PKI yang berpusat di Amsterdam, Belanda. Biro ini terdiri dari Roestam Effendi, Moh. Ilderem (Achmed), dan Abdoelmadjid, dengan dukungan kaum komunis Belanda. “Dengan dibukanya Biro itu, PKI hidup kembali dalam bentuk organisasi. Tugasnya adalah menyebarkan bacaan, melakukan propaganda di kalangan penganggur, pemuda, dan pelaut, menyusun program, dsb.,” tulis sejarawan Harry A. Poeze dalam Di Negeri Penjajah.
- Surat Mandat untuk Kamerad Maring
PADA secarik kain belacu putih yang telah menguning lapuk dimakan usia itu tertera sembilan nama penandatangan. Mereka adalah Semaoen, Boedisoetjitro, Mohamad Kasan, Hadji Boesro, Kadarisman, Soeradi, H.W. Dekker, P. Bergsma, dan Tan Malaka. Dari coretan tinta di akhir surat, masih bisa terlihat jelas siapa saja pemilik tandatangan. Kesembilan orang tersebut memberi mandat kepada Henk Sneevliet untuk menjalankan tugas dan membuat keputusan atas nama mereka selaku pengurus Perserikatan Komunis di Hindia (Partij der Kommunisten in Indie, kemudian menjadi Partai Komunis Indonesia) dan Sarekat Islam. Perserikatan Komunis di Hindia berdiri pada 23 Mei 1920, setelah sebelumnya bernama ISDV (Indische Sociaal-Democratische Vereeniging atau Perkumpulan Sosial Demokrat Hindia Belanda). Tidak ada penjelasan kenapa surat kuasa bertitimangsa 5 September 1921 itu diketik di atas secarik kain, bukan kertas sebagaimana umumnya surat kuasa. Besar kemungkinan surat tersebut diselundupkan melalui para pelaut yang pergi berlayar ke Belanda. Sejarawan Harry A. Poeze memperkuat dugaan itu. Menurut penulis biografi Tan Malaka ini, korespondensi di kalangan tokoh-tokoh komunis dilakukan secara rahasia untuk menghindari sensor dan penyitaan pemerintah kolonial.
- Cerita dari Kota Kelahiran
DEBAT di arena kongres VII ISDV berlangsung seru. Dua kubu beradu argumentasi ihwal perlu tidaknya merespons tawaran Henk Sneevliet untuk bergabung dengan Komintern. Semaoen dan Pieter Bergsma setuju ISDV merapat ke Moscow. Menurut mereka, penggabungan yang disertai syarat perubahan nama organisasi perlu dilakukan untuk menarik garis demarkasi antara kelompok sosialis sejati dengan sosialis palsu. Adapun Hartogh, sang ketua, tegas menolak. Dia berpandangan, gerakan kiri di Hindia Belanda saat itu belumlah kuat. Ketimbang bergabung dengan Komintern, kata Hartogh lebih baik fokus bekerja membangunkan rakyat dengan memperbanyak pengalaman proletariat. Het Vrije Woord melaporkan, perdebatan pada 23 Mei 1920 itu terus berlanjut dan tak menghasilkan titik temu. Pemimpin sidang lalu menggelar voting. Hasilnya, mayoritas peserta kongres ingin bergabung dengan Komintern dan menyepakati perubahan nama ISDV menjadi Persarekatan Komunis di Hindia (PKH). Petrus Blumberger dalam De Communistische Beweging in Nederlandsche Indie menyebut peristiwa yang menjadi tonggak kelahiran PKI itu terjadi di Kantor Sarekat Islam (SI) Semarang. Kantor SI Semarang yang dimaksud Blumberger berada di Kampung Gendong, Kelurahan Sarirejo, Kecamatan Semarang Timur. Kini, setelah 95 tahun, ia masih berdiri tegak di tengah permukiman warga. Pada 2012, bangunan yang kerap disebut Gedung SI itu, pernah hendak dibongkar oleh yayasan pengelola. Namun, niat itu berhasil digagalkan oleh para pegiat sejarah di Kota Lumpia. Medio 2014 Gedung SI ditetapkan sebagai cagar budaya dan dipugar dengan anggaran Rp600 juta dari Pemerintah Provinsi Jawa Tengah. Namun, sayang hingga kini, bangunan itu tak kunjung difungsikan.
- Berawal dari Kelompok Diskusi
HENK Sneevliet baru setahun tinggal di Hindia Belanda ketika ide untuk menyatukan kaum sosialis muncul di kepalanya. Saat itu, beberapa gelintir sosialis biasa menggelar diskusi selepas kerja: tentang perkembangan situasi politik baik di Hindia maupun di Belanda dan juga ide-ide Marxisme yang sedang mewujud dalam berbagai gerakan politik di Eropa. Mulanya tak semua orang bersetuju kalau kelak organisasi yang bakal dibentuk itu mengambil peran terlalu jauh dalam urusan politik di Hindia Belanda. Sebagian yang tak setuju itu meyakini bahwa masyarakat Hindia Belanda hanya dapat berubah melalui tahapan evolusi. Karena, “sosialisme hanya akan berarti dalam konteks negara dengan industri berkembang yang melahirkan proletariat,” demikian tulis Ruth McVey dalam Kemunculan Komunisme Indonesia. Gagasan tak seragam. Di lain pihak, ada usulan kalau organisasi itu kelak harus berada di dalam arus gerakan politik di Hindia Belanda, bukan sekadar cabang dari partai politik tertentu di negeri induk, Belanda. Sehingga berbagai analisis tentang tahapan perkembangan masyarakat di Hindia Belanda tak jadi pertimbangan utama bagi penyebaran gagasan sosialisme.
- Menuju Kepunahan Mamalia Terbesar
DI perahu pertama yang berlayar mencari ikan paus, para pemburu berteriak: “Baleo..! Baleo..! Baleo..!” Teriakan itu pertanda kawanan koteklema atau paus sperma (catodon macrocephalus) menampakkan diri. Yang lainnya pun siap beraksi. Perburuan paus dilakukan masyarakat Lamalera di Pulau Lembata, Nusa Tenggara Timur sejak lama. Dokumen Portugis pernah mencatatnya pada 1624 –dan empat abad kemudian masih berlangsung. Tradisi serupa juga dilakukan masyarakat adat di belahan bumi lainnya. Dan mereka melakukannya secara arif, tak berlebihan dan paus yang diburunya pun bukan jenis langka. Ancaman sebenarnya justru datang dari industri yang memanfaatkan tubuh dan bagian ikan paus. Mereka tak henti memburu mamalia terbesar sejagat ini. Beberapa jenis ikan paus pun terancam punah. Padahal, paus berperan dalam menjaga ekosistem laut.





















