top of page

Hasil pencarian

9739 hasil ditemukan dengan pencarian kosong

  • Sriwijaya dalam Perdagangan Dunia

    Untungnya I-Tsing mencatat pengalaman berlayarnya bolak-balik dari Guangzhou sampai India. Sehingga diketahui sebuah negeri bernama  Fo-shi,  tempat ia mampir dan tinggal selama beberapa tahun di tengah pengembaraannya.   Fo-shi  adalah nama yang setelah diterjemahkan merujuk pada Sriwijaya. Sang biksu pun menjadi orang pertama yang membuat catatan cukup jelas tentangnya. Hingga seolah kemunculan dan perkembangan pusat keramaian di Sumatra itu muncul begitu tiba-tiba. Pada 671, yaitu ketika I-Tsing tiba di sana, kondisi Sumatra sudah ramai oleh lalulintas kapal. Di sana pun sudah didatangi ribuan biksu yang tengah mendalami ajaran Buddha. Bukanlah kebetulan Sriwijaya muncul sebagai kekuatan maritim yang dominan di kawasan Asia Tenggara. Kondisi ekonomi dan politik kawasan, ditambah keterampilan penguasa Sriwijaya telah memberi jalan bagi dirinya menuju kejayaan selama beberapa abad. Kedatuan Sriwijaya berkuasa dari 683 sampai kira-kira 1183. Mereka cukup diuntungkan oleh letak geografis dan sumber daya alamnya. Ninie Susanti, arkeolog Universitas Indonesia, menjelaskan letak pantai timur Sumatra begitu strategis. Ini masih ditambah angin musim yang bertiup secara teratur menjadikannya jalur perdagangan penting sejak awal abad Masehi. Jalur ini ada di antara rute Samudra Hindia, Laut Cina Selatan, dan Samudra Pasifik. Pun hasil alamnya yang berupa rempah, kayu cendana, kapur barus, kemenyan, besi, timah, emas telah disebut di dalam kitab-kitab sastra dari India sebagai komoditas yang dicari dalam perdagangan. “Sriwijaya mengeluarkan sekira 100-an prasasti dari timah, pasti karena hasil timahnya yang melimpah,” kata Ninie. Keuntungan itu mereka sadari sembari menjalin hubungan dengan pedagang dari India, Arab, dan Tiongkok. Waktu itu India dan Tiongkok merupakan bagian dari kekuatan dunia. Buntutnya pada abad ke-7 Sriwijaya merebut pos luar wilayah baratdaya Semenanjung Melayu. Ini yang kemudian membuatnya berkuasa atas Selat Malaka. “Sriwijaya menguasai sisi Selat Malaka yang merupakan lalu lintas strategis jalur perdagangan masa lalu,” kata Ninie. Namun, bagaimana awal mula keramaian terbentuk sehingga membuat Sriwijaya berjaya? Nyatanya, uraian tentang pendorong perkembangan Sriwijaya awal itu masih dibatasi sumber-sumber yang tak seberapa banyak. Keterbukaan Jalur Kalau melihat peta, letak Sriwijaya tepat berada di tengah, antara Tiongkok dan Timur Tengah yang jalurnya lewat India. Berdasarkan kronik Tiongkok, hubungannya dengan Sriwijaya baru terjadi pada abad ke-5 M. Harus menunggu berabad-abad sebelum kawasan di lautan selatan ini muncul dalam catatan resmi mereka. Sejarawan Denys Lombard dalam  Nusa Jawa 2: Jaringan Asia  menyebutkan hubungan wilayah laut selatan dengan Tiongkok menjadi lebih jelas sejak abad ke-3 SMdengan terbentuknya kekaisaran Tiongkok dan dikirimkannya ekspedisi-ekspedisi Kaisar Qin, Shi Huangdi, ke arah Kanton. Setelah kekaisaran pertama itu hancur, kerajaan-kerajaan di selatan mulai bermunculan pada abad ke-3. Catatan yang pasti mengenai Asia Tenggara pun mulai ditulis dalam teks-teks mereka. “Pada abad ke-3 terjalinlah hubungan dengan negeri-negeri Indocina, termasuk Funan,” jelas Lombard. Sejarawan Inggris, Oliver William Wolters, dalam  Kebangkitan dan Kejayaan Sriwijaya Abad III-VII,  berpendapat bahwa pembukaan pelabuhan Tiongkok berdampak pada masuknya dan menetapnya pedagang asing di wilayah Asia Tenggara. Ramainya pedagang di pasar laut Asia Tenggara menanggapi faktor-faktor politik di ujung barat dan timur dari rute maritim internasional. Menanggapi itu, Kenneth R. Hall, sejarawan Ball State University, yang banyak meneliti sejarah dan budaya Asia Selatan dan Tenggara sebelum abad ke-15, menyebut uraian Wolters itu membuat seolah daerah yang berada di antaranya tak cukup punya banyak aksi atas terjadinya keramaian ekonomi di wilayah mereka sendiri. Dalam “Local and International Trade and Traders in the Straits of Melaka Region: 600-1500” termuat di  Journal of the Economic and Social History of the Orient,  Hall menyebut pandangan itu mengasumsikan bahwa rute laut tergantung pada pasar di ujung rute, yaitu di Tiongkok, Asia Selatan, dan Timur Tengah. Artinya, peradaban di kedua ujung rute menawarkan potensi komersial yang cukup untuk mendorong terjadinya perdagangan. Sebaliknya, jika pasar di kedua ujungnya ditutup, maka pedagang internasional tidak punya alasan untuk membuat jalur maritim di sana. Artinya kemunculan pusat perdagangan di Asia Tenggara lebih dikarenakan faktor eksternal. “Tinjauan ini gagal untuk mengenali lokalisasi dalam pengembangan pasar dan peradaban di kawasan yang tidak terletak di ujung rute, tetapi di sepanjang jalur rute, dan kapasitas lokal untuk menjadi kreatif,” ujar Hall. Lewat bukti arkeologis diketahui bahwa sejak awal masehi pun Nusantara sudah terhubung dengan perdagangan internasional. Jejaknya berupa sisa-sisa permukiman yang kompleks dari abad ke-3 di atas lahan berawa ditemukan di Situs Air Sugihan, di pantai timur Palembang. Kemungkinan besar penghuninya telah melakukan kontak dengan wilayah luar. Mereka telah berlayar ke Funan.   Agustijanto Indrajaya, ketua tim peneliti dari Pusat Penelitian Arkeologi Nasional (Puslit Arkenas) menjelaskan bahwa di sana ditemukan manik-manik emas, batu, dan kaca, yang mirip dengan temuan di situs Oc-eo, lembah sungai Mekong. “Situs ini adalah pelabuhan yang masuk wilayah Kerajaan Funan yang berdiri pada awal masehi hingga abad 6,” katanya saat ditemui usai diskusi buku Kebangkitan dan Kejayaan Sriwijaya karya O.W. Wolters. Tak hanya berhubungan dengan Funan, di kawasan yang diduga pendahulu Sriwijaya itu,ditemukan banyak tinggalan budaya terkait Tiongkok dan India. Seperti tembikar Arikamedu, manik-manik karnelian India Selatan, dan keramik Tiongkok dari Dinasti Sui (abad 5-6). “Kita bisa memperkirakan Ko-ying memang di pantai timur. Ternyata dari bukti arkeologisnya ada kesesuaiannya dengan berita Tiongkok abad 3-4,” lanjutnya. Perkiraannya, situs ini dihuni sampai periode akhir Sriwijaya. Agustijanto melihat permukiman di situs inilah yang dalam catatan Tiongkok disebut Ko-ying dan Kan-t’o-li. Menurut Wolters, Ko-ying disebut dalam catatan Wan Chen, gubernur Wu untuk wilayah Tan, yang tak jauh dari Nanking sekarang. Sedangkan Kang T’ai, utusan pemerintahan Wu di Funan, menyebutnya dengan Chia-ying. Kendati sebutan Ko-ying belum diketahui asalnya, catatan keduanya memberikan gambaran bahwa Ko-ying adalah kerajaan di Nusantara bagian barat, setidaknya berdekatan dengan Selat Malaka. Sementara itu, Wolters menyebut Kan-t’o-li sebagai kerajaan dagang yang muncul pada abad ke-5 dan ke-6. Nama ini sering disebut dalam sumber Tiongkok.  Ming Shih  atau catatan  Sejarah Dinasti Ming  (abad 14) menyebut Kan-t’o-li sebagai nama lama Sriwijaya. “Kan-t’o-li pada abad 5-6 sudah kirim duta ke Tiongkok, menjadi besar masuk ke masa Sriwijaya, makanya disebut itu pendahulu Sriwijaya,” kata Agustijanto. Kesempatan Sriwijaya makin terbuka ketika Funan runtuh akibat serangan kerajaan di Kamboja pada abad ke-7. Selama lima abad sebelumnya, negeri itu adalah penguasa unggul atas laut-laut selatan. Sementara yang menjatuhkannya, kata George Cœdès, sejarawan Prancis, dalam  Asia Tenggara Masa Hindu-Buddha,  bukanlah kerajaan berbasis kelautan. Rakyatnya sudah bisa hidup makmur dengan hasil pertanian. Maka, kejatuhan Funan pun memberikan kebebasan dan kesempatan bagi pelayaran dan perdagangan di sepanjang perairan Asia Tenggara. Kesempatan ini kemudian digunakanan Sriwijaya untuk menggantikan peran Funan. Hall menyebut selanjutnya perkembangan peradaban di Asia Tenggara dan pasar mereka makin menawarkan alternatif yang menarik bagi pedagang-pedagang asing. Ketersediaan Produk Selain sebagai persinggahan pedagang internasional, Wolters berpendapat kalau wilayah Sumatra berperan penting menyediakan berbagai barang penggati. Barang ini muncul untuk menggantikan barang asli yang lebih mahal. Misalnya getah gaharu, yang mungkin berasal dari Sumatra Utara, dijadikan pengganti dupa. Menurut Wolter, perdagangan dupa melalui laut berlangsung pada abad ke-3 hingga puncaknya pada masa Dinasti Sung, ketika dupa diimpor secara besar-besaran. Maka munculah kesempatan untuk mengganti dupa dengan getah gaharu yang lebih murah harganya. Ada lagi getah kemenyan yang dianggap sebagai pengganti mur di Tiongkok Selatan. Pada sekira abad ke-5 kemenyan Nusantara bagian barat umumnya dinamakan damar atau getah kemenyan. Kemenyan dijadikan pengganti bahan obat pengasapan. Pohon-pohon yang menghasilkan kemenyan dengan jumlah yang besar hanya dijumpai di wilayah-wilayah Asia Tenggara dan Bolivia. Di Indonesia, terdapat jenis yang menghasilkan getah terbaik, yaitu jenis  Styrax sumatrana.  Jenis ini tumbuh terutama di pedalaman Tapanuli. “Latar belakang perkembangan ini adalah zaman permulaan perdagangan Tiongkok-Indonesia pada abad ke-5, yaitu ketika perdagangan dupa mendorong terjadi perdagangan getah gaharu sebagai pengganti,” jelas Wolters. Di sisi lain, Sriwijaya juga mengelola jaringan pasar di pedalaman. Pelabuhan di Selat Malaka yang telah dikuasai Sriwijaya menerima pasokan produk asli dari pedalaman. Berkat itu, pedagang internasional bisa memperoleh produk lokal. Sebagai gantinya mereka meninggalkan komoditas perdagangan mereka sendiri, misalnya tekstil dan keramik. Sriwijaya kemudian menyalurkan permintaan daerah akan komoditas impor itu. Komoditas impor yang biasa diminta daerah pedalaman misalnya besi. Menurut Hall sebagian besar wilayah pedalaman memiliki pasokan besi yang tak memadai. Ada pula tekstil, terutama kapas India yang diproduksi di wilayah Gujarat, India Barat dan di pusat tenun di pantai tenggara India. Lalu ada pula permintaan keramik Cina. Pada masa perkembangan Islam, permintaan batu nisan yang diimpor dari Gujarat juga meningkat. “Pasar Asia Tenggara cukup penting sehingga tekstil India diproduksi dengan spesifikasi Asia Tenggara, misalnya potongan panjang kain ritual produksi penenun Gujarat dengan ukuran dan desain khusus masyarakat Toraja,” jelas Hall. Lengkapnya komoditas dagang di pasar internasional Sriwijaya ini dicatat oleh sumber-sumber Tiongkok. Misalnya dalam catatan Zhao Rugua (Chu Ju-kua) dari abad ke-13. Disebutkan bahwa di Sriwijaya dapat ditemukan barang-barang seperti kayu gaharu, cengkeh, cendana, mutiara, kemenyan, air mawar, gading gajah, barang-barang dari katun, pisau, pedang, porselen, brokat sutra, kancing sutra, kasa sutra, gula, besi, beras, lengkuas kering, samsu dan kapur barus. Barang-barang itu biasanya dibarter dalam emas atau perak dengan harga yang tetap. “Sebagai contoh, satu tong samsu sama dengan satu tael perak, sepuluh tong sama dengan satu tael emas,” jelas Hall. Berdirinya pusat perdagangan di wilayah perairan Sriwijaya menawarkan kepraktisan. Di sini bisa ditemukan berbagai komoditas paling diminati dari manapun. Makin tersohorlah Sriwijaya.

  • Soedirman Suka Main Sepakbola

    Suatu hari menjelang tengah malam pada 1944. Soedirman menyampaikan rencana bergabung dengan pasukan Pembela Tanah Air (Peta) yang dibentuk Jepang. Dia meminta pengertian istrinya, Siti Alfiah. Namun, Alfiah mengkhawatirkannya karena mata sebelah kiri suaminya itu kurang terang. “Lalu, kaki mas yang terkilir waktu main bola itu…” “Tidak apa-apa, Bu, semua pengalaman ada gunanya. Saya harap ibu berhati mantap,” kata Soedirman. Dialog itu termuat dalam biografi Perjalanan Bersahaja Jenderal Sudirman karya Soekanto S.A. seperti dicuplik buku Soedirman: Seorang Panglima, Seorang Martir garapan tim majalah Tempo . Sepakbola merupakan olahraga kesukaan Soedirman ketika muda. Saat dia aktif di organisasi Hizbul Wathan, kepanduan Muhammadiyah, kemudian Pemuda Muhammadiyah. “Soedirman biasanya main sebagai back . Permainannya cukup baik, akan tetapi kasar,” tulis Solichin Salam dalam Djenderal Soedirman Pahlawan Kemerdekaan . Karena permainan Soedirman cukup baik, catat buku Sudirman Prajurit TNI Teladan ,lebih-lebih kalau sebagai back , maka dia temasuk pemain kelas A. Pada masa itu, istilahnya bukan yunior dan senior, tetapi kelas A dan kelas B. Pemuda pendiam dan terlihat lemah itu, ternyata ketika main bola cukup tangkas dan agak keras dalam mengamankan pertahanan. Sebagai back , nampak sekali ketangkasannya jika musuh telah mengurung bentengnya. Jika barisan depan musuh mulai menyerangnya, dia pun mengeluarkan segala taktik dan teknik untuk memberesihkan semua gerak serangan. “Di sanalah para penonton akan kagum dan tidak menyangka bahwa back yang cekatan itu adalah pemuda yang bernama Soedirman yang biasa digelari kajine (si haji) dalam pergaulan sehari-hari karena alimnya,” demikian tercatat dalam buku terbitan Dinas Sejarah TNI AD itu. Soedirman memimpin kesebelasan Banteng Muda di Cilacap. Klubnya selalu ikut bertanding ketikajambore Hizbul Wathan atau konferensi Pemuda Muhammadiyah di berbagai kota di Karesidenan Banyumas. Sebagai back kuat Banteng Muda, dia pun menjadi pemain bond (perkumpulan, red. ) sepakbola Banyumas. Bahkan, dia kemudian dipilih menjadi Ketua Pesatuan Sepakbola Banyumas. Mokhammad Samingan, adik Soedirman, menceritakan karena dia pemain back yang tangguh, maka sering diancam lawannya. Dalam salah satu pertandingan, dia pernah disikat pemain lawan sehingga kakinya cedera – ada sumber yang menyebut sambungan tulang lutut kirinya bergeser. Cedera itu masih ada sampai dia wafat. Sepakbola juga membuat mata sebelah kanan sedikit cacat. Kendati kaki dan matanya cedera, Soedirman tetap dapat menjadi anggota Peta. Dia mengikuti latihan Peta angkatan kedua sebagai daidancho (komandan batalion) di Bogor. Setelah itu, dia ditempatkan sebagai daidancho Daidan III di Kroya, Banyumas. Setelah Indonesia merdeka, Kolonel Soedirman menjabat komandan Divisi V TKR Purwokerto. Saat itulah, dia mengatur strategi melawan Sekutu di Ambarawa. Karier militernya mencapai puncak setelah dia terpilih menjadi panglima besar tentara Indonesia. Ketika Belanda melancarkan agresi militer kedua, dia dalam keadaan sakit melawan dengan bergerilya dari 19 Desember 1948 sampai 10 Juli 1949. Panglima Besar Jenderal Soedirman meninggal dunia pada 29 Januari 1950.

  • Pangeran Diponegoro Suka Main Catur

    USTAZ Abdul Somad (UAS) menjadi viral di media sosial karena media daring memberitakan tausiahnya yang mengharamkan permainan domino dan catur. Berita itu turun setelah dia memberi tausiah di Komisi Pemberantasan Korupsi pada Rabu, 20 November 2019. Tausiah itu diunggah di channel  Youtube Teman Ngaji pada 26 Juli 2017. Dalam tausiahnya itu, UAS membacakan pertanyaan dari jemaah tentang hukum main domino. “Maaf Pak Ustaz, boleh tidak main domino untuk mengisi luang, biasanya 17 Agustus?” UAS menjawab bahwa mazhab Hanafi mengharamkan dadu dan catur. Alasannya karena main catur bisa membuat orang melalaikan salat dan lupa waktu. Dia juga tak setuju jika catur dijadikan olahraga. “Lari oke, lempar lembing oke, renang oke, tapi merenung sampai tiga jam…nah itu, bahwa ketua persatuan catur marah sama saya, terserahlah. Tapi saya tak setuju. Mengabiskan waktu itu. Banyak lagi yang perlu kita pikirkan. Memikirkan bagaimana politik, memikirkan anak. Ini yang dipikirkan, cemana pion-pion bisa selamat,” kata UAS disambut tawa jemaah. Warganet pun mengomentari pendapat UAS soal main catur haram itu. Di antaranya banyak yang membagikan tautan berita "Saudi Menjadi Tuan Rumah Turnamen Catur Dunia" di voaindonesia.com  (26 Desember 2017). Memang pada 2016, seorang ulama Arab Saudi, Abdulaziz al-Sheikh, dalam sebuah acara televisi, mengharamkan catur karena buang-buang waktu dan membuka peluang menghambur-hamburkan uang yang dapat menyebabkan permusuhan dan kebencian. Menanggapi fatwa haram itu, Wakil Sekretaris Jenderal Majelis Ulama Indonesia Tengku Zulkarnaen, mengatakan bahwa catur hukumnya hanya makruh dan tidak perlu difatwakan haram. “Dalam mazhab Imam Syafi’i catur itu makruh karena membuang-buang waktu, manfaatnya enggak  ada. Tapi kalau main caturnya pakai taruhan baru haram. Catur tidak akan difatwakan haram di Indonesia. Namun hukum makruhnya juga tidak dapat dihilangkan karena sifat permainannya yang sangat membuang-buang waktu,” kata Tengku dikutip tempo.co   Diponegoro Main Catur Catur dimainkan oleh berbagai kalangan dan dipertandingkan mulai dari tingkat RT hingga dunia. Salah satu tokoh sejarah yang suka main catur adalah Pangeran Diponegoro. Sejarawan Peter Carey dalam biografi Pangeran Diponegoro, Kuasa Ramalan , mengungkapkan kesukaan Diponegoro yaitu berkebun, memelihara burung, dan main catur. Di tempat semadinya di Selarejo dan Selarong, Diponegoro membangun kebunnya dengan menanam bunga, sayuran, buah-buahan, dan pepohonan. Dia membanggakan tanah Jawa yang subur. Dalam otobiografinya, Babad Dipanegara , dia menyebut berbagai jenis binatang yang menemaninya selama masa semadinya yang sunyi: ikan di Selarejo; kura-kura, burung tekukur, buaya, dan harimau selama semadi rimbanya di sepanjang Perang Jawa; dan burung-burung perkutut dan kakatua kesayangannya ketika diasingkan di Manado dan Makassar. "Di tempat pengasingan pun dia menghabiskan banyak waktu dengan kakatuanya," tulis Peter Carey. Dalam pandangan Jawa, kedekatan dengan alam dan binatang semacam itu merupakan pantulan kepekaan dan keutuhan rohani seorang manusia. Inilah gambaran keadaan yang tepat disebut sebagai kesatria pengembara ( satrio lelono ) dalam kesusastraan wayang Jawa. “Dia juga suka sekali main catur,” tulis Peter Carey. Peter Carey menyebut seorang perempuan yang sangat dihargai oleh Diponegoro, yaitu Raden Ayu Danukusumo, putri Sultan Hamengkubuwono I dan ibunda Patih Danurejo II (menjabat 1799-1811). “Perempuan itu disebutnya dalam babad karyanya sebagai teman bermain catur, suatu permainan yang sangat disukai Diponegoro,” tulis Peter Carey. Bagi Diponegoro, Raden Ayu Danukusumo tak sekadar teman main catur. Perempuan ini terkenal karena pengetahuannya tentang bacaan Islam-Jawa dan penguasaannya terhadap aksara pegon, dua macam kemahiran yang dikagumi Diponegoro, yang juga menulis dalam huruf pegon. Termasuk di antara naskah koleksi Raden Ayu Danukusumo adalah karya Nuruddin ar-Raniri dalam bahasa Melayu, Bustan as-Salatin  (Taman Raja-raja), dan karya Muhammad ibn Fadl Allah al-Burhanpuri, al-Tuhfa al-mursala ila ruh an-Nabi  (Kiriman Cenderamata kepada Roh Nabi). “Rupanya keduanya adalah jenis naskah yang konon telah dipelajari oleh Diponegoro di masa mudanya,” tulis Peter Carey.*

  • Tak Payah Dirundung Fitnah

    DEMI mendapatkan tulisan nama masing-masing di telapak tangan, anak-anak perempuan di Simpang Tonang Tolu rela berkumpul di rumah Sitti Rohana (Kudus). Mereka rela mengantri. Mereka amat gembira begitu Rohana selesai menuliskan nama mereka. Telapak tangan terus mereka pandangi begitu sudah tertera nama diri sendiri. Mereka hafalkan tiap goresan. “M-A-L-A, Mala,” kata Rohana mengajari teman sebayanya. Kesenangan itu ternyata memantik dengki sebagian orang. Ada saja yang mencibir aktivitas Rohana dan kawan-kawannya dengan bilang “banyak lagak” atau menyamakan Rohana dengan anak lelaki. Rohana diam saja. Ia tak ambil pusing. Ketika kembali ke Koto Gadang di usia 17 tahun, Rohana langsung terpikir untuk mengajari teman-teman sebayanya membaca, menulis, menjahit, dan keterampilan lain. Rumah neneknya pun ia jadikan tempat untuk mengajar kecil-kecilan. Usaha dari nol itu berbuah manis. Muridnya terus bertambah dan makin beragam latar belakang. Namun, tetap saja usaha Rohana mengajar tak mulus. Pemikiran kolot beberapa anggota masyarakat yang kadung memfosil sulit dikikis. Ada saja tetua di kampungnya yang berpikir pendidikan yang diberikan hanya membuat anak-anak peremuan menjadi berani melawan adat karena merasa pintar. Ada pula yang khawatir kalau anak perempuan Koto Gadang menjadi pandai membaca, mereka akan berkirim surat dengan lelaki Belanda dan menikah dengan orang luar Koto Gadang. Rohana tak marah atau tersinggung dengan sikap mereka. Ia paham, maksud baik tak selamanya disukai orang. “Saya sama sekali tak berniat buruk apalagi sampai merusak budi pekerti anak gadis di Koto Gadang. Semua yang saya lakukan ini seamta-mata demi kemajuan kaum perempuan agar mendapat pendidikan yang layak,” kata Rohana seperti dikutip Fitriyanti dalam Wartawan Perempuan Pertama Indonesia: Rohana Kudus . Sayangnya, lambat-laun penolakan makin kencang. Terlebih setelah tahun 1908 Rohana menikah dengan Abdul Kudus yang aktivis pergerakan. Sebagian orang tua murid takut anak-anak mereka ditangkap Belanda karena ikut dalam gerakan politik ketika belajar tulis-menulis di rumah Rohana. Puncak dari ketakutan itu, mereka minta sekolah Rohana ditutup dengan alasan tak ada gunanya dan meresahkan. Banyaknya gunjingan dan tekanan membuat Rohana dan Abdul memilih pindah ke Kampung Maninjau. Mereka menetap di sana selama dua tahun, kemudian pindah ke Padang Panjang selama setahun. Selama di tanah rantau, Rohana tetap berkirim surat pada mantan murid-muridnya di Koto Gadang. Dia ingin sekali kembali mengajar di Koto Gadang. Keresahaannya itu ia sampaikan pada Abdul. “Barangkali selama ini saya berjalan sendiri memajukan pendidikan kaum perempuan di kampung.  Mereka merasa dilangkahi dan mengaggap saya telah melanggar adat-istiadat,” kata Rohana, sedih. “Apakah itu yang menurut Adik membuat mereka tersinggung?” kata Abdul menenangkan istrinya. “Memang tidak selamanya tujuan baik kita diterima dengan hati terbuka.”   Selama berada di tanah rantau, Rohana merasa kesepian karena tak punya kegiatan selain mendampingi Abdul. “Apalagi kita belum dikaruniai anak,” Rohana mengeluh. Setelah diskusi itu, keduanya sepakat untuk kembali ke Koto Gadang. Rohana sudah menyusun rencana agar usahanya membuka sekolah tak mendapat penolakan lagi. Begitu tiba di Koto Gadang, Rohana meminta bantuan Ratna Puti, istri seorang jaksa yang posisinya cukup dihormati. Lewat bantuan Ratna Puti, sekira 60 perempuan yang terdiri dari istri para pemuka adat, agama, dan pejabat daerah (para Bundo   Kanduang ) berhasil diundang dalam pertemuan perempuan. Dalam pertemuan itu, Rohana mengutarakan pentingnya membuka sekolah bagi anak perempuan di Koto Gadang untuk menyiapkan mereka menjadi orang yang mandiri. “Mari bersama-sama kita berniat mengatasi masalah pendidikan untuk kaum perempuan di Koto Gadang. Kita memerlukan sebuah sekolah resmi bagi kaum perempuan, yang tentu saja atas izin pemerintah daerah,” kata Rohana. Rohana Kudus bersama murid-muridnya. (Repro Wartawan Perempuan Pertama Indonesia: Rohana Kudus ). Pesan Rohana menyentuh hati para Bundo   Kanduang . Mereka pun mendukung pembentukan perkumpulan perempuan yang dinamai Kerajinan Amai Setia (KAS) pada 11 Februari 1911. Lewat perkumpulan ini, didirikanlah sekolah kepandaian putri yang mengajarkan baca-tulis, menjahit, dan menyulam. Rohana duduk sebagai presiden KAS dan sebagai direktris perguruan itu. Pada awal berdirinya, seluruh kegiatan sekolah KAS dilakukan di rumah nenek Rohana, seperti sekolah yang dulu ditentang. Makin hari muridnya makin banyak. Rumah nenek Rohana pun tak cukup menampung. Lebih lagi, lembaga rintisan Rohana sudah resmi berdiri, maka timbullah keinginan untuk membangun gedung sekolah dan sekretariat perkumpulan KAS. Namun, seperti diceritakan Tamar Djaja dalam Rohana Kudus, Srikandi Indonesia, kala itu Rohana tak punya uang. Rekannya yang orang Belanda, Tuan Groenevel, kemudian mengusulkan agar Rohana mengadakan lotere untuk menggalang dana. Rohana pun bergegas mengurus izin penyelenggaraan lotere ke pemerintah setempat. Setelah izin penyelenggaraan lotere berhasil didapatkannya, gunjingan tetangga kembali menerpa. Sebagian tokoh adat, agama, dan Bundo Kanduang  tak setuju dengan penyelenggaraan lotere karena dinilai haram. Sementara menurut Rohana, penyelenggaraan lotere ini didasari niat baik untuk pembangunan fasilitas pendidikan. Berhasil menampik satu rintangan, datang lainnya. Rohana dituduh mengkorupsi uang lotere yang berhasil digalang. Tuduhan itu diperparah dengan mengaitkan pekerjaan Abdul yang lebih banyak dikerjakan di rumah. Mereka menuding Abdul tak punya penghasilan hingga membuat Rohana harus memenuhi kebutuhan hidup dan mengutip uang pembangunan sekolah. Tudingan kejam itu membuat Rohana menangis. Ia menolak segala tudingan itu, membela kehormatan Abdul, dan membuktikan kalau ia tidak bersalah di pengadilan Bukittinggi. Pada 21 September 1914, Rohana menyerahkan catatan keuangan KAS pada pejabat negara W Frijling BB di Batavia untuk diperiksa. Pada 6 November 1914, Rohana juga menyerahkan buku catatan keuangan KAS ke pejabat lain, Van Ronkel. Kedua pejabat Hindia-Belanda itu tak menemukan ada kejanggalan. Pemeriksaan keuangan itu selesai pada 1916. Rohana tidak terbukti bersalah. Selama proses persidangan, posisi Rohana digantikan pengurus lain. Namun, ketika kasusnya selesai, alih-alih dikembalikan ke posisinya, Rohana malah disisihkan. Salah seorang murid Rohana yang ia bebaskan dari buta huruf hingga bisa berbahasa Belanda, menjegalnya. Rohana tak diperbolehkan menjabat direktris dan kepala perkumpulan lagi. Rohana juga difitnah berselingkuh dengan lelaki Belanda. Fitnah warga Koto Gadang itu berangkat dari fakta di masa itu hanya Rohana yang berani keluar-masuk kantor pemerintahan dan berkawan dengan lelaki Belanda. Fitnah itu diperparah dengan komentar miring, Rohana belum kunjung hamil padahal sudah menikah sembilan tahun. Namun saat fitnah belum punya anak sedang kuat menerpanya, Rohana hamil. Rohana girang bukan kepalang. Ketika kehamilannya sampai ke telinga banyak orang, tetap saja ada yang memfitnahnya dengan mengatakan kehamilan Rohana merupakan hasil hubungan gelap dengan petinggi Belanda. Sontak saja Rohana marah. “Kita buktikan saja nanti. Biarlah anak ini lahir berkulit hitam dan berhidung pesek!” kata Rohana. Hujaman fitnah itu membuat Abdul khawatir pada istrinya yang tengah hamil. Abdul percaya betul pada istrinya. Tak mungkin Rohana mengutip uang atau main serong dengan lelaki lain. Rohana dan Abdul akhirnya pindah ke Bukittinggi lantaran kondisi Koto Gadang sudah tidak nyaman. Di sanalah anak pertama mereka, Djasma Juni, lahir pada 1917. Rohana pun tak pusing memikirkan Amai Setia yang sudah diambil alih muridnya. Ia lebih memilih membangun sekolah baru di Bukittinggi, Rohana School.*

  • Gunakan Adat Jawa, Pernikahan Bung Hatta Bikin Hadirin Tertawa

    SUATU hari tak lama setelah Indonesia merdeka, Hasjim Ning kedatangan pamannya, Bung Hatta. “Bung Hatta memberi tahu kepadaku bahwa ia akan menikah tanggal 18 November 1945 di Megamendung di daerah Cipayung. Dimintanya aku dan ayahku yang ketika itu menetap di Bogor agar ikut menghadiri perkawinannya,” kata Hasjim dalam otobiografi berjudul Pasang Surut Pengusaha Pejuang . Kabar dari Bung Hatta itu membuat Hasjim senang. Sanak-famili Bung Hatta, termasuk Hasjim, telah lama menanti-nanti pernikahan Bung Hatta. Namun, mereka tak berani mengungkit soal itu lantaran Bung Hatta sudah berpendirian tak akan menikah sebelum Indonesia merdeka. “Bung Hatta sadar apa yang sedang dia prioritaskan,” kata Halida Hatta, putri bungsu Bung Hatta. Maka ketika hari pernikahan Bung Hatta dan Rahmi Rachim –putri Abdul Rachim sahabat Bung Karno– tiba, mereka suka-cita menghadirinya. Tidak banyak memang yang hadir dalam resepsi pernikahan itu karena Bung Hatta ingin resepsi sederhana. “Tidak lebih dari 30 orang, kiraku. Selain dari keluarga kedua pengantin, tentu saja Bung Karno yang menjadi ‘mak comblang’ pernikahan itu ikut hadir bersama Bu Fatmawati,” sambung Hasjim. Bung Karno merupakan orang yang amat memperhatikan Hatta dalam urusan yang satu itu. “Waktu saya bertanya kepada Hatta, gadis mana yang dia pilih, jawabnya: ‘Gadis yang kita jumpai waktu kita berkunjung ke Instituut Pasteur, yang duduk di kamar sana, yang begini, yang begitu, tapi saya belum tahu namanya,” kata Bung Karno kepada R. Soeharto, dikutip dalam Saksi Sejarah . Gadis pujaan Hatta itu ternyata Rahmi Rachim, anak kawannya sendiri. Maka, Bung Karno pun mengajak R. Soeharto ke rumah Abdul Rachim guna melamar Rahmi untuk Hatta. Entah karena jasa baik Bung Karno itu atau bukan, pernikahan Hatta digelar menggunakan adat Jawa. “Aku tidak tahu siapa yang punya gagasan agar diadakan upacara adat Jawa, yakni kedua pengantin melakukan upacara menginjak telur. Mungkin gagasan itu tumbuh karena kehadiran Bung Karno saja,” kata Hasjim. Lantaran menggunakan adat Jawa itulah Hasjim ketiban sial. Tanpa pemberitahuan apapun sebelumnya, Hasjim diminta mewakili Bung Hatta menemani Titi, adik Bu Rahmi, melakukan ritual injak telur. Permintaan itu jelas membuatnya kaget lantaran sebagai orang berdarah Minang-Palembang, dia tak tahu bagaimana cara melakukan ritual itu. Hasjim terpaksa menerimanya lantaran permintaan itu datang dari Bung Hatta. “Tidak seorang pun yang memberi petunjuk bagaimana mestinya melakukannya secara khidmat, maka aku menginjaknya tak ubahnya bagai tentara Jepang yang menginjak mangsanya meski aku sudah berusaha agar seindah orang menari payung. Dengan sendirinya, upacara adat Jawa yang halus itu menjadi sebuah lelucon yang menerbitkan air mata karena tertawa yang tak tertahankan dari para hadirin,” kenang Hasjim. Setelah resepsi pernikahan selesai, Hasjim berkesempatan ngobrol santai dengan Bung Karno. Di situlah dia mengorek bagaimana Bung Karno bisa “menaklukkan” Bung Hatta sehingga mau menikah padahal banyak sanak-familinya gagal untuk urusan satu itu. “Aku menagih janjinya, yang akan menikah bila Indonesia merdeka. Sekarang kita sudah merdeka, apa lagi. Kalau ia masih menolak, itu namanya tidak normal. Indonesia sulit dipimpin oleh orang yang tidak normal,” kata Sukarno menjawab pertanyaan Hasjim. “Kenapa dengan gadis yang berbeda jauh usianya?” Hasjim bertanya lebih jauh. “Jangan berlagak bodoh, Hasjim. Apa jij kira aku tidak sebanding dengan Fatma?” sahut Sukarno. “Kenapa presiden dan wakil presiden sama-sama memilih gadis muda?” “Supaya kelihatan vitalitasnya prima,” jawab Sukarno, membuat Hasjim tertawa.

  • Kemasan Anyar Nagabonar

    DALAM kelamnya malam yang diselingi sambaran petir, Nagabonar lahir ke dunia. Ia tumbuh tanpa ayah. Nagabonar kecil (diperankan Azka Dimas) tampil sebagai anak nakal tukang mencuri. Namun, ajaran keras emaknya (Rita Matumona) membuatnya insyaf. Maka ketika tumbuh dewasa (diperankan Gading Marten), Nagabonar tak lagi jadi pencopet. Ketika merantau ke Medan dari desanya di tepi Danau Toba pada 1937, Naga kaget melihat perilaku culas banyak orang, termasuk kawan lamanya Lukman (Rifky Alhabsyi), di kota besar itu. Dari Lukmanlah Naga mengenal mendapat kawan-kawan baru macam Mariam (Roby Tremonti), Bujang (Ence Bagus), Murad (Fermana Manaloe), hingga Sulung Panjaitan (Donny Damara) yang oleh kawanannya dijadikan figur paling dihormati. Mereka inilah yang lantas jadi pasukan Naga saat perang kemerdekaan. Dalam perjalanannya, Naga kepincut seorang gadis indo, Kirana (Citra Kirana). Gadis yang dianggap tercantik se-dunia itu jadi rebutan Naga, Mariam, Yoshida (Harry Ponto) si jenderal Jepang, dan Bastian (Delano Daniel) si kapten Belanda. Bagaimana kelanjutannya? Ah , lebih asyik Anda tengok sendiri di bioskop-bioskop tanah air. Nagabonar: Reborn  akan beredar mulai 21 November 2019. Para pemeran Nagabonar: Reborn dalam konferensi persnya, minus pemeran utama Gading Marten (Foto: Fernando Randy/HISTORIA) Di Bawah Bayang-Bayang Nagabonar Lawas Siapa tak kenal Nagabonar? Publik lintas generasi rasanya familiar dengan figur fiktif ciptaan Asrul Sani yang selegendaris Kabayan di cerita-cerita orang Sunda ini. Setiap penikmat filmnya punya kenangan masing-masing entah dari menonton langsung saat film pertamanya, Nagabonar (1987), ditayangkan bioskop maupun di televisi ketika film tersebut ditayangkan tiap 17 Agustus dan Hari Pahlawan 10 November di era 1990-an. Ibu saya berkisah, sehari setelah menontonnya di sebuah bioskop di Manggarai, Jakarta pada 3 Juli 1987, dia melahirkan saya yang lalu juga akrab dengan film yang diperankan Deddy Mizwar itu. Maka ketika Nagabonar: Reborn dirilis, teringat betul film Nagabonar- nya Asrul Sani itu yang tersedia di banyak situs streaming maupun YouTube . Jadi jangan heran bila banyak penonton masa kini bakal membandingkan Nagabonar milenial dengan versi lawasnya. Terutama, membandingkan Nagabonar versi Deddy Mizwar dengan versi Gading Marten. “Memang berat waktu kita punya ide mengangkat cerita Nagabonar. Karena kita tahu setiap film seperti itu (akan dibandingkan, red. ). Tapi kalau saya lihat ketika Gading memainkan peran ini total, satu menit-dua menit memang kita merasa begitu. Tetapi setelah itu hilang bayangan (Deddy Mizwar, red. ) itu. Yang kita lihat sosok Nagabonar Gading Marten,” ujar Gusti Randa, produser merangkap pemeran dokter Zulham, ayah Kirana, dalam konferensi pers screeningNagabonar: Reborn , Selasa (19/11/2019) di XXI Plaza Indonesia. Gusti Randa, produser film Nagabonar: Reborn (Foto: Fernando Randy/HISTORIA) Tim produksi mengklaim mereka mengangkat banyak konteks baru agar lebih dekat dengan kaum milenial sebagai sasaran. Oleh karena itu beberapa alur cerita dikembangkan lebih jauh untuk melahirkan sosok Nagabonar baru. Tim penulis skenario dan sutradara mengaku diberi kebebasan mengembangkan dasar cerita asli milik Asrul. “Ada tantangan Nagabonar harus dibungkus dan di- update supaya mendekati pada masyarakat kekinian. Juga tantangan isu-isu dan kontekstual yang relevan dengan realitas sekarang. Seperti saat dia merantau ke kota, dia menghadapi realitas majemuk hingga kemudian tumbuh menjadi seorang nasionalis sejati,” kata Fermana, anggota tim penulis skenario, menimpali. Setidaknya ada dua pesan yang ingin disampaikan sutradara dalam Nagabonar: Reborn . Pertama, soal jiwa nasionalisme seorang Nagabonar. Kedua, tentang Nagabonar sebagai seorang yang sangat menghormati perempuan, terutama sosok ibu. Jadilah Nagabonar versi anyar ini insyaf ketika masih kecil karena selalu teringat pesan ibunya. “Ada satu adegan saat perundingan garis demarkasi, di mana dia tak mau sejengkal tanah pun dikuasai Belanda. Saya mencoba menyampaikan pesan-pesan nasionalisme itu. Lalu dia sosok yang menghormati perempuan. Emaknya saat menasihati menanamkan budi baik, dia selalu berkata ‘jangan mencuri kalau kau tak mau masuk neraka.’ Mungkin bisa menjadi inspirasi bagi anak muda. Tentu ini baik untuk Indonesia maju,” ujar Dedi Setiadi sang sutradara. Dibungkus ala FTV, Apa Kata Dunia? Dari tontonan dua jam di layar bioskop, Nagabonar: Reborn menyisakan kesan sebuah suguhan FTV (film televisi). Itu tersua baik dari sisi sinematografi, music scoring , pemilihan angle , maupun alur cerita yang ke sana-sini. Celakanya, Nagabonar: Reborn tidak ditopang riset yang kuat. Properti dan wardrobe- nya sekadar mengulang kengawuran film-film bertema sejarah lain. Seragam serdadu, misalnya, tiada beda antara zaman kolonial, pendudukan Jepang, dan perang kemerdekaan. Ini didapati pada sosok Sulung Panjaitan, pengganti sosok Mayor Pohan, yang sudah berpakaian ala pejuang 1945, berkemeja dan mengenakan sidecap, meski di film tertera tulisan tahun 1937. Lebih ngaco lagi, tampak serdadu Jepang bersenjatakan Austen. Padahal, senapan otomatis asal Australia ini baru diproduksi pada 1942. Kalaupun sudah beredar, baru terbatas di lingkungan militer Australia yang baru masuk Indonesia pada 1946. Adegan tembak-menembak antara Kapten Bastian dengan Nagabonar secara historis terbalik logikanya. Bastian seorang perwira Belanda yang naik pangkat jadi mayor, namun menyandang pistol Nambu buatan Jepang. Sementara, Nagabonar menyandang dua pistol Vickers buatan Belanda. Tampilnya sejumlah tokoh tanpa kejelasan kaitan dengan kehidupan Nagabonar juga amat mengganggu. Itu terlihat misalnya di scene kemunculan eks Menko Pemberdayaan Manusia dan Kebudayaan Puan Maharani. Dedi mengungkapkan, dia menyampaikan pesan baru soal nasionalisme dalam adegan perundingan garis demarkasi dengan Belanda. Padahal, di Nagabonar (1987) racikan sineas M.T. Risyaf, soal ini dihadirkan lewat adegan Nagabonar enggan manut pada permintaan Belanda. Jiwa nasionalis dan patriotik yang dihadirkan Deddy Mizwar justru lebih “nendang” ketimbang Gading. Yang pasti, bumbu percintaan terlalu berlebihan ditonjolkan dalam film ini, mengalahkan tema kehidupan Nagabonarnya sendiri. Yang bikin ambyar adalah perangai Nagabonar terhadap Kirana, yang awalnya merupakan pacar kapten Belanda Bastian. Tiba-tiba, Naga menculiknya dan memaksanya jadi pacar. Hal itu bertolakbelakang dari sifat Nagabonar versi 1987, yang meski ceplas-ceplos dan konyol namun tetap tak sampai hati memaksa Kirana (diperankan Nurul Arifin) untuk menjatuhkan pilihan padanya. Tak ada adegan menculik Kirana di versi 1987, yang ada cinta itu datang dengan sendirinya tanpa paksaan. Kirana hadir di hati Naga untuk menggantikan kehilangan separuh jiwanya yang hilang, yakni si Bujang (Afrizal Anoda), sahabatnya yang gugur. Sayangnya di Nagabonar: Reborn sosok Bujang hanya jadi pelengkap. Padahal, dalam versi 1987 Bujang bukan figuran dalam hidup Naga. Suka-duka selalu dilalui bersama oleh keduanya. Ketika anak buah Naga yang lain berhamburan saat diserang Belanda, Bujang tetap di samping Naga dan tak pernah gentar menghadapi Belanda. Namun, produser punya alasan mengapa percintaan lebih ditonjolkan dalam Nagabonar: Reborn . “Karena kita tahu penonton kita adalah kaum milenial. Yang everlasting bagi kaum milenial adalah percintaan,” ujar Gusti Randa. Alasan itulah yang mungkin menjadi latar pemilihan Dedi Setiadi sebagai sutradara. Dedi malang-melintang di FTV maupun sinetron. Karena ini pula pesan-pesan nasionalisme yang disampaikannya sangat gamblang sehingga acapakali tak pas dengan suasana era 1930-an sampai era perang kemerdekaan yang jadi latar waktu film. Sekalipun begitu, Nagabonar: Reborn tetap pantas diapresiasi. Di tengah “invasi” film-film Hollywood di tanah air, ia berani muncul dengan pesan nasionalisme lewat tampilan baru. Penonton juga akan disuguhkan gambaran kehidupan dan budaya masyarakat Batak di pesisir Danau Toba yang jarang diangkat ke sebuah film. Sejumlah adegak kocak yang mengocok perut juga menjadi nilai plus tersendiri film ini.

  • Ketika Cemburu Membakar Amangkurat I

    SETELAH berhasil mengatasi kesedihan akibat kehilangan Ratu Malang, Amangkurat I mencoba bangkit. Ia telah kembali duduk di takhtanya dan perlahan memperbaiki pemerintahan yang sempat ditinggalkan. Amangkurat I berusaha keluar dari derita yang hampir menghancurkan Mataram tersebut. Tidak ingin larut dalam kesendirian, raja kemudian menyuruh para pejabat negerinya agar dicarikan perempuan lain yang setara dengan sang pujaan hati. Namun perkara itu tidaklah mudah. Terlebih tidak banyak perempuan di dalam negeri kala itu yang kecantikannya bisa disetarakan dengan Ratu Malang. Dikisahkan J.J. Meinsma dalam Babad Tanah Jawi: Javaanse Rijkroniek , Amangkurat I mengutus dua orang dalam misi pencarian calon kekasihnya itu, yakni Nayatruna dan Yudakarti. Sebagai petunjuk, keduanya harus bisa menemukan seorang perempuan yang “berasal dari suatu daerah dengan air sumur yang baunya segar”. Dan pencarian itupun berakhir di wilayah tepi Kali Mas, Surabaya, Jawa Timur. Di sebuah daerah yang masuk dalam kuasa Pangeran Pekik, mertua Amangkurat I, tinggal seorang mantri bernama Ngabei Mangunjaya. Sang mantri memiliki seorang putri cantik jelita yang usianya kurang lebih 11 tahun. Oyi, begitulah Mangunjaya memanggilnya. “Memang para utusan terpesona melihat gadis cantik itu, dan anak tersebut mereka bawa,” tulis H.J. De Graaf dalam Runtuhnya Istana Mataram . Para utusan lalu membawa gadis cilik itu ke hadapan Amangkurat I. Memang benar sunan langsung jatuh hati padanya, tetapi ia menilai calon istrinya itu masih terlalu kecil untuk diperistri. Maka sunan memerintahkan kepala mantri kapedhak , Ngabei Wirareja, agar mengurus Oyi hingga usianya siap untuk menjadi bagian dari keluarga inti Raja Mataram. Di sisi lain, putra Amangkurat I, Pangeran Anom, juga sedang dipusingkan dengan pencarian calon istrinya. Ia berulang kali gagal dalam memutuskan gadis yang akan dipinang. Hampir sama seperti ayahnya, Pangeran Anom agak pemilih dalam menentukan gadis pujaannya. Terakhir kali dijodohkan dengan putri Cirebon, sang pangeran malah ketakutan dengan sifat keras gadis tersebut. “Ketika pangeran melihat gadis itu, ia memuji penampilannya yang cantik, tetapi agak sedikit pemarah. Pangeran mulai khawatir gadis itu akan bersikap kasar pada suaminya,” tulis Meinsma. Pada suatu waktu, setelah rencana perjodohannya gagal, Pangeran Anom secara kebetulan pergi ke kediaman Wirareja. Babad Tanah Jawi, maupun Serat Kandha tidak secara jelas menyebut apa tujuan pangeran memasuki kediaman sang kepala mantra. Namun di sana ia bertemu dengan Oyi yang sedang membatik bersama ibu angkatnya (istri Wirareja). “Sebagaimana layaknya, larilah gadis itu ketakutan, tetapi sempat ia menoleh sebentar dan merapikan rambutnya,” kata Graaf. Gadis misterius yang jelita itupun seketika merasuk jiwa Pangeran Anom. Oyi sangat sesuai dengan kriteria gadis yang sedang dicari-carinya. Segera ia bertanya kepada Wirareja siapa gerangan yang sedang membatik tersebut. Wirareja lalu menerangkan bahwa mutiara indah itu diperuntukkan bagi ayahnya. Ia hanya sekedar mengurusi hingga usia gadis itu matang. Namun pangeran terlanjur mabuk kepayang kepada gadis “kepunyaan” ayahnya itu. Sejak itu, pikirannya terus melayang membayangi sosok Oyi. Di dalam babad, pangeran diceritakan jatuh sakit karena cintanya itu. Bahkan sampai mengurung diri di kamar, tidak makan dan tidak tidur. Melihat cucu kesayangannya dirundung sendu seperti itu, Pangeran Purbaya berusaha menghibur. Ia memutuskan akan melakukan segalanya, apapun resiko yang akan terjadi. Bersama istrinya, Purbaya lalu pergi ke rumah Wirareja. Ia meminta agar Oyi diserahkan kepadanya. Wirareja tentu menolak karena takut akan kemurkaan Amangkurat I. Namun bujukan barang-barang mewah dari Purbaya akhirnya melemahkan Wirareja. Oyi kemudian dibawa menggunakan tandu menuju kediaman Purbaya. Segera cucunya dipanggil agar keluar dari dalam kamarnya. Betapa terkejut pangeran Anom ketika menemukan Oyi sudah ada di hadapannya. Ia tidak percaya gadis pujaan hatinya bisa sedekat itu. Sang putra mahkota pun terlihat seperti hidup kembali. Namun menurut Graaf: “Sang kakek memikul segala tanggung jawab demi kegembiraan dan kebahagiaan si cucu”. Mereka tidak tahu kekejaman apa yang menanti. Benar saja, tidak lama setelah, Amangkurat I mendengar kabar penjemputan Oyi dari kediaman Wirareja. Ia begitu marah kepada putranya, Purbaya, dan Wirareja. Amangkurat I lalu memerintahkan pasukannya untuk menghancurkan kediaman Purbaya. Dalam laporan Residen Mataram 5 Juli 1669, sunan sampai menghancurkan kediaman Pangeran Anom dan membakar rumah-rumah di sekitarnya. Laporan pemerintah Belanda tahun 1670 menyebut banyak kaki tangan Pangeran Anom yang dihukum berat. Bahkan Wirareja dan keluarganya diusir ke Ponorogo, dan tidak lama kemudian keluar perintah dari sang raja untuk menghukum mati mereka. Sementara itu, Pangeran Anom sendiri dihukum  dengan diusir dari keraton Mataram. Meski akhirnya diperbolehkan untuk kembali.

  • Arsip Angkasa Pura Mengudara

    FUNGSI bandar udara ( airport ) amat penting bagi industri penerbangan. Dalam sejarahnya, pembangunan bandar udara (bandara) di Indonesia tidak dapat terlepas dari peran PT Angkasa Pura. Itu nama badan usaha milik negara pelopor pengusahaan kebandarudaraan secara komersial di Indonesia. “Diinisiasi oleh Presiden Sukarno yang punya keinginan membangun pelabuhan udara nasional dan internasional di Indonesia,” ujar Gede Eka Sandi, Corporate Secretary PT Angkasa Pura I dalam acara “Ekspose Inventaris Arsip PT Angkasa Pura I (Persero): 1960—2011” yang diselenggarakan Arsip Nasional Republik Indonesia (ANRI) pada 19 November 2019.   Embrio Angkasa Pura bermula pada 1962. Saat itu, Presiden Sukarno baru kembali dari Amerika Serikat dan menyaksikan betapa modernnya bandara disana. Sukarno menegaskan keinginannya kepada Menteri Perhubungan dan Menteri Pekerjaan Umum agar lapangan terbang di Indonesia setara dengan bandara negara maju. Ekspose Inventaris Arsip PT Angkasa Pura I (Persero): 1960—2011” yang diselenggarakan Arsip Nasional Republik Indonesia (ANRI) pada 19 November 2019. Foto: Dok. Direktorat Pengolahan ANRI. Pada 15 November 1962, dibentuklah Perusahaan Negara (PN) Angkasa Pura Kemayoran yang bertugas membangun dan mengelola Bandara Kemayoran di Jakarta. Bandara Kemayoran ini sekaligus menjadi pelabuhan udara Indonesia pertama yang dibuka untuk rute penerbangan internasional. Pada 20 Februari 1964, PN Angkasa Pura Kemayoran mengambil alih aset dan operasional Bandara Kemayoran. Tanggal itu sekaligus diperingati sebagai hari jadi perusahaan.   PN Angkasa Pura Kemayoran kemudian berganti nama menjadi PN Angkasa Pura. Pergantian ini sehubungan dengan pembangunan bandara di kawasan Indonesia yang lain. Setelah Kemayoran, Angkasa Pura membangun Bandara I Gusti Ngurah Rai (Denpasar), Halim Perdanakusumah (Jakarta), Polonia (Medan), Juanda (Surabaya), Sepinggan (Balikpapan), dan Sultan Hasanuddin (Ujung Pandang). Pada 1974 status badan usaha Angkasa Pura diubah menjadi perusahaan umum (perum). Seiring waktu wilayah operasional Angkasa Pura kian meluas. Pada 1986, Angkasa Pura diubah menjadi Perusahaan Umum Angkasa Pura I. Hal ini sejalan dengan dibentuknya Perum Angkasa Pura II - sebelumnya bernama Perum Pelabuhan Udara Cengkareng – yang secara khusus bertugas mengelola Bandara Soekarno-Hatta Jakarta. Pada 1992, berdasarkan Peraturan Pemerintah No. 5, Perum diubah menjadi Perseroan Terbatas (PT) yang sahamnya dimiliki penuh oleh negara. Sesuai peraturan ini, Angkasa Pura berganti nama menjadi PT. Angkasa Pura I. PT Angkasa Pura I mengelola bandara di regional Indonesia tengah dan timur. Sementara itu, PT Angkasa Pura II mengelola bandara di Indonesia kawasan barat Hingga kini, PT Angkasa Pura I mengelola 15 bandara sedangkan PT Angkasa Pura II mengelola 16 bandara. Di luar sektor penerbangan, Angkasa Pura juga meluaskan sayap usahanya. Anak usaha Angkasa Pura meliputi bidang logistik, properti, perhotelan, dan retail. Pada 2014 dan 2018 PT. Angkasa Pura I menyerahkan arsipnya ke pihak ANRI. Menurut Sarip Hidayat, Direktur Pengolahan ANRI arsip yang diserahkan terdiri dari 83 boks arsip tekstual, 2890 arsip foto 2890 lembar, 4000 frame arsip foto negatif, dan 293 slide arsip fotoslide . Selain itu, terdapat pula arsip-arsip visual berupa dokumentasi video. Arsip-arsip tersebut mengurai perjalanan Angkasa Pura sepanjang setengah abad mulai dari berdiri sampai 2011.   Kepada Historia, arsiparis ANRI, Jajang Nurjaman yang mengelola arsip Angkasa Pura mengatakan arsip tersebut dapat segera diakses publik. Menurutnya arsip ini punya nilai penting dalam merekam sejarah penerbangan maupun industri kedirgantaraan di Indonesia. Diperkirakan, arsip Angkasa Pura telah masuk layanan ANRI pada awal tahun depan. “Harapannya supaya banyak peneliti atau masyarakat umum yang mengakses arsip terkait kedirgantaraan Indonesia, dan sebagai gerbang masuk arsip statis lain yang masih disimpan oleh perusahaan atau individu yang terkait dengan sejarah penerbangan Indonesia,” kata Jajang.

  • Aturan Bersepeda pada Masa Lampau

    Kring, Kring, Kring ada sepeda Sepedaku roda tiga Ku dapat dari Ayah Karena rajin belajar. Anda ingat penggalan lagu tadi? Lagu ciptaan Pak Kasur, pendidik anak-anak, pada 1960-an. Dia biasa menggunakan lagu ini untuk mengiringi anak-anak masuk kelas Kebun Kanak-Kanak, sebuah lembaga pendidikan buatannya. Kala itu banyak anak bersepeda dengan riang menuju Kebun Kanak-Kanak sembari membunyikan suara "kring" dari bel sepeda. Bel sepeda berguna untuk memberikan tanda kepada orang lain. Penggunaan bel meluas tak lama setelah sepeda masuk ke Hindia Belanda pada 1910-an. Bel biasanya terpasang pada sisi kanan stang. Bel masih menjadi incaran para pesepeda hingga sekarang. Bel sebenarnya tidak termuat dalam aturan kelengkapan bersepeda, tapi terpasang di banyak sepeda anak-anak atau dewasa. Berbeda dari aturan kendaraan bermotor, aturan tentang sepeda dan kelengkapannya tak banyak diketahui orang. Seiring dengan tingginya gairah bersepeda dan pembuatan lajur khusus sepeda di beberapa kota Indonesia, penting untuk mengenal aturan bersepeda. “Perlu clear  lajur dan rambunya, sosialisasinya, perlengkapan safety- nya, dan kalau perlu ada lisensinya,” ujar Gamma Riantori (38 tahun), karyawan swasta penggemar sepeda. Menilik sejarah, aturan bersepeda sebenarnya sudah pernah ada dan diterapkan demi keselamatan bersama pengguna jalan. Awal sepeda masuk Hindia Belanda pada 1910-an, aturan tentang penggunaan sepeda dan alat-alatnya belum ada. Aturan terkait hal itu muncul pada 1930-an seiring dengan terbitnya Wegverkeers Ordonanntie 1933 ( Staatsblaad  1933 No. 68) atau Undang-Undang Lalu Lintas Jalan. Angkat Tangan Sebelum Belok Pokok-pokok aturan itu terangkum dalam buku karya Mr. Dr. F.J.W.H. Sandbergern berjudul Atoeran Mempergoenakan Djalan Raja  terbitan 1939. Pesepeda wajib berjalan di lajur kiri jalan, di samping kanan pejalan kaki dan gerobak pedati. “Kereta angin sekali-kali tidak boleh lalu di tengah-tengah jalan,” catat Sandbergen. Kereta angin adalah sebutan untuk sepeda pada masa itu. Lajur sebelah kanan pesepeda digunakan untuk kendaraan lebih cepat seperti delman, sado, sepeda motor roda dua, dan auto (mobil). Pesepeda dilarang pula mengambil lajur pejalan kaki dan kendaraan lebih lambat. Jika pesepeda ingin berbelok ke kiri atau kanan, dia wajib mengangkat tangan ke arah tujuannya.   Untuk memberitahu pengguna jalan lain bahwa pesepeda akan melambat atau berhenti, dia juga harus menggunakan tangannya sebagai isyarat. “Jika hendak melambatkan jalan, gerakkanlah tangan ke atas-ke bawah. Jika hendak berhenti, acungkanlah tangan ke atas lurus-lurus,” tulis Sandbergen. Selama melaju, pesepeda tidak boleh berpegangan pada kendaraan lain. Menurut Sandbergen, tindakan itu sangat berbahaya. “Jika tidak tergiling oleh kendaraan tempat berpegang itu, boleh jadi digiling oleh kereta yang datang dari belakang.” Larangan lain bagi pesepeda ialah membawa seorang atau lebih dalam satu sepeda jika tak ada alat boncengan. Jika seorang penumpang sepeda berdiri di atas jalu roda belakang, pesepeda akan terkena pelanggaran lalu-lintas. Demi keamanan dirinya, pesepeda wajib melengkapi kendaraannya dengan lampu putih, reflektor (mika pemantul cahaya), dan tanda khusus bagi pesepeda tuli atau kurang pendengaran. Lampu putih terpasang di bagian depan dan menyorot ke bawah. Lampu itu tidak boleh mengarah ke pengguna jalan lain. Reflektor terletak di belakang. Pemasangan reflektor tak bisa sembarangan. “Pada kereta angin hanya boleh dipakai kaca merah (reflektor) yang sudah disahkan,” sebut Sandbergen. Direktur Transportasi dan Manajemen Air ( Verkeer en Waterstaat ) Hindia Belanda   menyusun senarai untuk reflektor sepeda. Senarai berisi 56 jenis reflektor dari beragam jenama dan pabrikan. Pesepeda harus memilih salah satunya. Dia tak bisa memasang reflektor di luar senarai resmi pemerintah. Pajak Sepeda Kelengkapan wajib lainnya adalah peneng atau tanda lunas pajak sepeda. Ini luput dari penjelasan Sandbergen. Padahal tanda ini wajib dipasang di depan sepeda. Sejak 1930-an, pemerintah kolonial menerapkan pajak kepada tiap pemilik sepeda. Selayaknya kepada pemilik kendaraan tak bermotor lain seperti delman, sado, dan gerobak. Pengecualian kepada pesepeda dari kepolisian dan militer. Besaran pajak sepeda berbeda di tiap wilayah, sesuai dengan semangat desentralisasi pemerintahan sejak 1905. Pemerintah kolonial menggunakan pajak ini untuk merawat jalan. Tapi pesepeda protes tersebab lajur untuk mereka mudah rusak. “Lajur yang disediakan penuh lubang,” catat P.K. Ojong dalam Kompas , 7 April 1967. Berbeda dari lajur kendaraan bermotor, mulus. Padahal sama-sama bayar pajak. Pemerintah pendudukan Jepang mempertahankan penerapan pajak. Tapi tujuannya untuk membiayai perang. Pengumuman terhadap besaran dan batas waktu pembayaran pajak sepeda kerap muncul di surat kabar. Cara ini bertahan hingga Indonesia masuk masa merdeka. Bedanya, penggunaan pajak kembali untuk perawatan jalan. Pesepeda harus membawa sepedanya ke Balai Kota atau kantor bendahara kota. Orang tak menganggap berat pajak sepeda. “Orang-orang terutama anak-anak sekolah, mengantre dengan sepedanya di Balai Kota (atau haminte ) di Jalan Kebon Sirih untuk membayar peneng,” kenang Firman Lubis dalam Jakarta 1950-an . Pesepeda memang tidak perlu surat izin mengemudi ( rijbewijs ) . Tidak pula ada batasan umur untuk pesepeda.   Tapi mereka tetap wajib mematuhi aturan bersepeda dan kelengkapan sepeda. Termasuk pula pembayaran pajak. Pelanggaran terhadap aturan tersebut akan diganjar hukuman dari polisi atau pemerintah. Bentuknya bervariasi: penjara, denda, dan penghentian sementara operasional sepeda. “Semua sepeda yang tidak memakai peneng tahun 1950 yang berada di jalanan umum, akan ditahan,” ucap R. Soewirjo, walikota Jakarta dalam Java Bode , 18 April 1950. Sedangkan di Semarang, hukumannya denda sebesar 100 florin. Padahal pajaknya hanya 2,25 florin setahun. Jika tak mampu membayar denda, pemilik sepeda akan masuk penjara selama-lamanya sebulan. Demikian keterangan dari De Locomotiev , 18 Juli 1950. Penerapan pajak sepeda mulai kendor seiring menghilangnya sepeda dari jalanan kota-kota besar Indonesia pada 1970-an. Orang pun enggan membayarnya. Maka pemerintah kota menurunkan petugas hingga ke Rukun Tetangga/Kampung untuk menarik pajak sepeda. Ternyata hasil penarikan pajak sepeda lebih kecil daripada biaya operasional untuk petugas. Semangat pemerintah kota pun ikut kendor. Secara formal, pajak sepeda tidak berlaku lagi setelah terbit UU No. 18 Tahun 1997 tentang Pajak dan Retribusi Daerah. Sejumlah kewajiban pesepeda pada masa lampau juga hilang atau tak tercantum dalam UU No. 22 Tahun 2009 tentang Lalu-Lintas dan Angkutan Jalan. Misalnya tentang reflektor, tanda isyarat tangan, dan lampu. Tapi beberapa aturan lain masih bertahan seperti kewajiban tanda khusus untuk pesepeda tuli atau kurang pendengaran dan larangan membawa penumpang tanpa alat boncengan.

bottom of page