Hasil pencarian
9870 hasil ditemukan dengan pencarian kosong
- Lambatnya Penanganan Pandemi Flu Spanyol di Hindia Belanda
Pemerintah penting sekali memahami pandemi di masa lalu. Pengalaman menghadapinya dapat dijadikan pelajaran berharga dalam menangani pandemi Covid-19. Khususnya pengalaman ketika pandemi Flu Spanyol melanda dunia termasuk Indonesia ketika berada di bawah pemerintah kolonial Hindia Belanda. "Banyak yang bisa dipelajari, dampaknya (Flu Spanyol, red. ) juga luar biasa. Kalau sudah pernah mengalami, sudah ditulis dengan bagus, banyak sumber yang bisa dipelajari kemudian disebarluaskan, kita tak perlu mulai dari zero . Kita hidup dalam pandemi justru harus takut kalau tidak tahu apa-apa," kata Herawati Supolo Sudoyo, peneliti dari Lembaga Biologi Molekuler Eijkman, dalam dialog sejarah "Riwayat Pandemi dari Masa ke masa" yang disiarkan langsung di Youtube dan Facebook Historia.id , Kamis, 24 September 2020. Baca juga: Wabah-Wabah Penyakit Pembunuh Massal Hera mengatakan, waktu Flu Spanyol menyerang pada awal abad ke-20, sudah muncul ide dan pemikiran bahwa kerumunan akan menyebarkan penyakit. "Ketika itu pun ada larangan untuk berkumpul," ujar Hera. Sayangnya, kata sejarawan Ravando Lie, pemerintah Hindia Belanda lambat merespons pandemi Flu Spanyol. Tak ada strategi pencegahan awal yang dilakukan sehingga banyak korban berjatuhan. "Kasus di Indonesia menurut saya agak sedikit memprihatinkan. Padapelaksanaannya tak ada strategi apapun oleh pemerintah kolonial," ujar Ravando. Mortalitas Tak Lazim Ravando menjelaskan, dari seluruh pandemi influenza yang pernah dikenal, Flu Spanyol yang paling terkenal. Dalam waktu singkat, penyakit ini diduga menginfeksi 500juta atau sepertiga populasi dunia. Tingkat kematiannya 20 persen dari total yang terjangkit. "Untuk ukuran influenza, angka mortalitas (kematian, red .) 20 persen sangat tak lazim. Kalau merujuk pada pandemi influenza sebelumnya , biasanya hanya membunuh 0,2 persen dari total populasi yang terjangkit," kata Ravando . Baca juga: Seabad Flu Spanyol Ketika pandemi Flu Spanyol terjadi pada 1918–1919, Perang Dunia I tengah berkecamuk. "Diduga dalam waktu empat bulan, penyakit ini lebih membunuh ketimbang black death yangmembunuh korbannya dalam empat tahun," kata Ravando. Melihat penyebarannya di dunia, Flu Spanyol terbagi menjadi tiga gelombang. Pertama,Maret–Agustus 1918, korbannya masih cenderung sedikit. Kedua, November–Desember 1918,puncak transmisi Flu Spanyol sehingga jumlah korbannya semakin masif.Ketiga, Desember 1918–Februari 1919, pandemi mulai mereda mungkin karena imunitas masyarakat mulai terbentuk. Perawat sedang menangani pasien Flu Spanyol di Walter Reed Hospital, Washington D.C., Amerika Serikat. (Wikimedia Commons). ResponsLambat Pemerintah kolonial Hindia Belanda sempat bersikukuh Flu Spanyol bukan penyakit berbahaya, sehinggatak menyiapkan strategi untuk menghadapinya. "Kalaupun kemudian merebak para dokter , pemerintah kolonial melihatnya hanya sebagai flu biasa yang dianggap tak berbahaya," kata Ravando. Kenyataannya koran-koran banyak memberitakanbagaimana pandemi menjangkiti masyarakat di Jawa dan Sumatra. Misalnya, koran Sin Po melaporkanpenyakit ini meneror Medan dan menyebar ke seluruh Sumatra dan Jawa. Bahkan, diberitakan 60 polisi di Medan terjangkit dan 100 kuli Tionghoa meninggal dunia. Baca juga: Flu dan Penyakit Menular Zaman Kuno Padahal,konsulat Belanda di Hongkong dan Singapura telah memperingatkan kemungkinan pandemi Flu Spanyol menyerang Hindia Belanda. Pemerintah kolonial pun disarankan untuk memperketat pengawasan di pelabuhan. "Karena ini jadi tempat turun naik penumpang dan diduga kalau tak diperketat penyakit akan menyebar dengan masif," kata Ravando. Di wilayah lain, seperti Singapura, pencegahan dimulai dengan penutupan sementara sekolah dan fasilitas umum yang memicu keramaian. Kemudian tenaga medis bergerak. Para dokter menjemput pasien yang terjangkit lalu mengirimnya ke tempat karantina untuk diawasi ketat. Baca juga: Ramuan dan Roh Jahat Penyebab Flu Terlambatnya pemerintah kolonial merespons pandemi membuat masyarakat kebingungan. Tak heran upaya mereka menghindari wabah dengan obat-obatan herbal hingga cara kultural seperti arak-arakan. "Obat-obatan jadi solusi dan dipromosikan juga oleh koran-koran sezaman. Banyak juga kemudian berita hoaks bermunculan," kata Ravando. Polisi di Seattle, Amerika Serikat, memakai masker yang dibuat oleh Palang Merah selama pandemi Flu Spanyol, Desember 1918. (Wikimedia Commons). Pemerintah kolonial baru melakukan upaya signifikan dengan membentuk Influenza Commissie pada 16 November 1918. Komisi ini bertugas menginvestigasi akar penyebaran dan gejala dari Flu Spanyol. Kebijakan yang dihasilkan di antaranya imbauan untuk mengenakan masker hingga pendistribusian obat antiinfluenza. Dibentuk pula Influenza Ordonnantieuntuk mengatur kegiatan di pelabuhan, mulai dari proses naik turun penumpang hingga bongkar muat barang. Bagi pelanggar peraturan dikenakan hukuman denda dan penjara. Baca juga: Sebuah Pamflet, Sebuah Panduan dalam Menghadapi Flu Menurut Ravando, rancangan peraturannya sudah diselesaikan oleh Dr. W. Thomas de Vogel dan timnya sejak 1919. Namun,pelaksanaannya menghadapi kendala karena di protes oleh para pelaku usaha yang mengganggap peraturan itu mematikan bisnis mereka. Akibatnya, peraturan itu baru disahkan pada 1920 ketika korban sudah mencapai 1,5juta jiwa, atau menurut data terbaru korbannya 4,3juta jiwa. "Di sinilah kebingungan yang dialami pemerintah kolonial," ujar Ravando. Baca juga: Penerjunan Tenaga Medis pada Wabah di Hindia Belanda Hingga kini proses memahami pandemi Flu Spanyol belum bisa dibilang tuntas. "Kita perlu memahami epidemiologinya. Ini belum selesai. Jadi, pandemi 1918 itu juga terus dipelajari apa yang terjadi. Virusnya sudah bisa dipelajari sekarang.Lalu karakternya dan pola penyebarannya," kata Hera. Penyakit menular, kata Hera, bisa dibilang merupakan pendamping setia manusia, termasuk yang terjadi sekarang. Kendati seakan wajar hidup di tengah berbagai penyakit menular, bukan berarti kita membiarkan begitu saja penyakit itu berjangkit hingga menjadi lebih dominan. Kitaharus terus mengenalisi pendamping itu. "Kita yang mengontrol, bukan mereka," kata Hera. " Yang kita lakukan harusnya berbicara pandemi dulu yang sekarang dan kemungkinan yang akan datang. Belajarlah dari sejarah."
- Feminisme dalam Enola Holmes
ENOLA Holmes (diperankan Millie Bobby Brown) sudah jadi anak yatim sejak balita setelah ditinggal mati sang ayah. Dibesarkan sendiri oleh sang ibu, Eudoria (Helena Bonham Carter), Enola tak hanya dididik intelektualitasnya dengan beragam literasi, namun juga ditempa kemampuan fisiknya dengan berlatih tenis, pertarungan pedang, hingga beladiri tangan kosong jujitsu . Adik detektif partikelir kondang Sherlock Holmes itu juga diajarkan banyak hal tentang pemecahan teka-teki, utamanya kode-kode terenkripsi dari kata-kata acak. Ia “dilatih” sang ibu untuk dibentuk jadi Sherlock perempuan. Semua yang diajarkan sang ibu ternyata sangat penting ketika Enola ditinggal pergi Eudoria kala usianya baru genap 16 tahun. Scene-scene informatif di atas dikombinasikan dengan klip-klip komikal digulirkan sineas Harry Bradbeer dengan cepat dalam lima menit, menjadi preambul film misteri dan dark comedy bertajuk Enola Holmes . Film ini diadaptasi dari salah satu seri novel detektif The Enola Holmes Mysteries karya Nancy Springer. Alur cerita lantas beringsut pada kepulangan kedua kakak Enola ke Ferndell Hall dari London. Kedua kakak itu adalah si sulung Mycroft Holmes (Sam Claflin), yang menjadi pejabat pemerintah, dan Sherlock Holmes (Henry Cavill), detektif yang sedang melejit kariernya. Sejak itu hidup Enola berubah. Baca juga: The Two Popes , Dua Paus dalam Sejarah Kelam Mycroft yang jadi wali Enola menghendaki Enola tumbuh menjadi perempuan terhormat dengan masuk sekolah kepribadian pimpinan seorang guru “killer” Nona Harrison (Fiona Shaw). Enola jelas berontak. Selama ini ia dididik sang ibu bukan untuk hidup jadi perempuan terkekang sebagaimana perempuan lain. Enola yang lebih berambisi bertualang sembari mencari ibunya yang menghilang lalu kabur dari rumah berbekal sejumlah petunjuk yang ditinggalkan ibunya. Dalam perjalanannya, Enola bersua Marquess of Basilwether (Louis Partridge), bangsawan muda yang juga tengah kabur dari wajib militer Viscount Tewksbury. Lantas? Lebih baik Anda tonton sendiri seperti apa keseruan petualangan investigasi Enola yang bahkan bakal menandingi kejeniusan sang kakak Sherlock. Enola Holmes sudah tersedia di layanan streaming daring Netflix sejak Rabu, 23 September 2020. Adegan Enola Holmes dilatih beragam ketangkasan oleh sang ibu, Eudoria. ( legendary.com / netflix.com ). Hak Kesetaraan Perempuan Dengan diiringi scoring musik dari komposer Daniel Pemberton, keseruan aksi-aksi dalam Enola Holmes begitu terasa. Pun ketika plot film dibawa ke dalam adegan-adegan sendu dan sentimentil macam saat Enola dan kedua kakaknya maupun beberapa adegan jenaka kala Enola bersama Lord Tewksbury. Lewat adegan per adegan, sutradara Bradbeer berupaya mengajak penonton masuk ke dalam aksi-aksi investigasi Enola terkait isu kesetaraan gender dalam hak politik. Bradbeer memang tak menerangkan titimangsa latarbelakang Kerajaan Inggris saat itu, namun sedikit demi sedikit penonton bisa menebak eranya adalah kurun 1880-an di mana gerakan feminis sudah mulai muncul. Dua petunjuk kentara soal titimangsa itu adalah kala Enola kabur dengan menaiki Benz Patent-Motorwagen. Kendaraan bermotor ciptaan Karl Benz itu merupakan mobil produksi massal pertama di dunia, 1885. Mobil itu diciptakan Karl Benz dan istrinya, Bertha Benz. Bertha pada Agustus 1888 menjadi pionir perempuan dalam industri otomotif sebagai pengemudi mobil jarak jauh. Dia berhasil berkendara 105 kilometer dengan rute Mannheim-Heidelberg-Wiesloch-Pforzheim. Bertha juga jadi penemu kampas rem, yang digunakan di mobil Benz Patent-Motorwagen. Baca juga: Kisah Ken Miles di Balik Ford v Ferrari Petunjuk lain adalah artikel di sejumlah koran dan pamflet yang ditemukan Enola, di mana turut termaktub artikel tentang isu Reform Bill/Representation of the People Act yang tengah diperdebatkan dalam House of Lords (Parlemen Kerajaan Inggris). Tokoh Lord Tewksbury jadi sosok sentral soal isu ini lantaran punya pemikiran politik baru bagi Inggris. Dia berulang-kali diselamatkan Enola dari upaya pembunuhan. “Film ini membuat kita melihat lagi (isu) feminisme di masa-masa awal dari era 1840-an hingga 1880-an. Saya sendiri senang bisa menggali lagi akar sejarah pergerakan feminisme awal dan bagaimana perkembangannya. Dengan cara ini saya merasa bisa membawa dimensi lagi soal ketertarikan saya tentang gerakan-gerakan feminis,” ujar Bradbeer dalam wawancaranya via Zoom dengan PTI , dikutip The Week , Selasa (22/9/2020). Bertha Benz dengan mobil Benz Patent-Motorwagennya ( mercedes-benz.com ). Gelombang pertama gerakan feminisme di Inggris (1839) bertolak dari tragedi yang menimpa Caroline Norton. Ia tak punya hak menggugat cerai suaminya dan tak diizinkan mendapat hak asuk ketiga anaknya dari sang suami yang seorang anggota parlemen, George Chapple Norton. Menukil Until They Are Seven, The Origins of Women’s Legal Rights karya John Wroath, Caroline melancarkan protesnya kepada parlemen lewat sejumlah pamflet dan puisi. “Pamflet-pamflet yang disebarkan Caroline berisi argumentasi bahwa para ibu punya hak dasar terhadap anak-anaknya, hingga menimbulkan perdebatan di kalangan politisi parlemen,” tulis Wroath. Baca juga: Captain Marvel , Antara Nostalgia dan Isu Feminisme Kampanye-kampanye Caroline akhirnya membuahkan hasil dengan dikeluarkannya Custody of Infants Act of 1839 atau Undang-Undang (UU) Hak Asuh Anak di Bawah Umur tahun 1893. Itu jadi “kemenangan” tersendiri bagi gerakan feminisme awal. Dalam UU tersebut, perempuan berhak menggugat cerai dan pihak ibu diizinkan mendapat hak asuh anak, setidaknya hingga sang anak berusia tujuh tahun. Sejak saat itu, gerakan feminisme kian menjamur menuntut kesetaraan gender di bidang edukasi, lapangan pekerjaan, hingga hak properti untuk perempuan. Bagaimana dengan hak perempuan dalam demokrasi dan memiliki hak suara dalam politik? Adegan Enola bersama Viscount Tewksbury, Marquess of Basilwether saat memecahkan investigasi upaya pembunuhannya. ( netflix.com ). Petunjuk soal itu dalam Enola Holmes berpusar pada sosok sang ibu, Eudoria, yang bersama sejumlah aktivis perempuan berencana mewujudkan rencana berbau kekerasan. Di akhir cerita, Bradbeer menguraikan bahwa figur Lord Tewksbury kemudian jadi aristokrat penting di balik lolosnya Representation of the People Act (UU Perwakilan Rakyat). Namun jika dicocokkan dengan setting waktunya, maksud dari lolosnya UU itu adalah UU Perwakilan Rakyat yang dikeluarkan pada Juni 1884. Perubahan radikal dalam UU tersebut adalah diberikannya hak pilih bagi para buruh tani di seantero Inggris dan Wales, baik di kota-kota besar maupun kota-kota kecil, sebagai perluasan UU serupa pada 1867. Baca juga: Sepakbola Tanpa Batas Gender Dalam UU Perwakilan Rakyat sebelumnya, hak pilih hanya diberikan kepada pemilik properti di kota-kota besar dengan nilai minimal 10 poundsterling dan penyewa properti dengan nilai sewa tahunan juga 10 pounds. UU Perwakilan Rakyat 1884 itu digalang para politisi oposisi liberal pimpinan Joseph Chamberlain. “UU ini adalah revolusi terbesar yang pernah dijalani negara ini,” kata Chamberlain usai UU itu disahkan, dikutip Norman Lowe dalam Mastering Modern British History. Organisasi feminis Women’s Social and Political Union pada tahun 1910. ( museumoflondon.org.uk ). UU Perwakilan Rakyat 1884 melejitkan jumlah pemilih hingga 60 persen dari sebelumnya. Namun, UU itu belum bersifat universal lantaran hak pilih perempuan masih dikesampingkan. Perkara itulah yang jadi misteri, di mana Bradbeer memberi kesempatan pada para penonton untuk menelaah pengaruh UU tersebut lewat adegan penutup Enola Holmes berupa pertemuan kembali Enola dengan ibunya walau hanya untuk sesaat. Sang ibu masih punya obsesi memperjuangkan apa yang disisihkan para politisi parlemen dalam UU Perwakilan Rakyat 1814. Para aktivis feminis yang sebelumnya masih bergelut dengan hak-hak buruh perempuan, mulai menengok hak pilih mereka dalam politik. Women’s Social and Political Union (WSPU) yang dibidani Emmeline Pankhurst dan kedua putrinya, Christabel dan Sylvia, sejak 10 Oktober 1903 mempelopori upaya tersebut. Selain menggalang pendukung dari para perempuan lewat pertunjukan-pertunjukan teater dan aksi mogok makan, WSPU beberapakali bikin onar dan bertindak vandalis seperti melempari kaca jendela-jendela gereja atau membakar kotak-kotak pos dalam perjuangan tuntutannya. Aksi-aksi menggegerkan itu diharapkan bisa membuat tuntutan-tuntutan politik mereka didengar. Baca juga: Lyudmila Pavlichenko Sniper Kondang Uni Soviet Bagi sejarawan Martin Pugh, kekerasan-kekerasan macam itu justru dianggap menodai tujuan mulia mereka. “Militansi macam itu jelas merusak tujuan utama. Efek dari militansi itu malah jadi langkah mundur dari tujuan politik untuk perempuan memiliki hak pilih,” tulis Pugh dalam State and Society: A Socual and Political History of Britain Since 1870 . Masyarakat dan aparat yang resah lalu membuat perhitungan kala sekitar 300 aktivis perempuan WSPU berdemonstrasi dan melakukan longmarch dari Caxton Hall menuju Gedung Parlemen pada Jumat, 19 November 1910. Di depan gedung parlemen, para demonstran WSPU dicegat barisan aparat polisi. Ketegangan terjadi dan 300 demonstran feminis itu diserang, dipukuli dengan tongkat-tongkat polisi. Sejumlah pria yang kebetulan berada di lokasi turut serta menyerang para demonstran. Emmeline Pankhurst (kiri) pelopor WSPU & Ada Wright (kanan) saat dipukul polisi dalam headline The Daily Mirror edisi 19 November 1910 kala terjadi Insiden "Black Friday". ( museumoflondon.org.uk ). Sebanyak 112 demonstran lantas ditangkapi. Puluhan korban pihak demonstran mengaku juga sempat mengalami pelecehan seksual. Namun tuntutan untuk penyelidikan tentang kebrutalan polisi dan pelecehan seksual dalam peristiwa yang dikenal sebagai Black Friday itu ditolak Menteri Dalam Negeri Winston Churchill. Selain WSPU, kelompok feminis yang memperjuangkan hak perempuan adalah National Union of Women’s Suffrage Societies (NUWSS). Kelompok yang didirikan Millicent Fawcett pada 1897 ini memilih jalan konstitusional dalam perjuangannya. NUWSS berjuang dengan lobi-lobi politik di parlemen meski sempat vakum akibat Perang Dunia I (28 Juli-11 November 1918). Sepuluh bulan jelang Perang Dunia I berakhir parlemen akhirnya mulai melunak soal tuntutan hak pilih untuk perempuan. Keputusan itu berangkat dari fakta kaum perempuan terbukti menjadi “tulang punggung” dalam upaya militer Inggris menghadapai Kekaisaran Jerman dalam medan perang. Saat banyak warga laki-laki dimobilisasi, kaum perempuanlah yang berjibaku dalam pertanian untuk logistik pasukan di berbagai wilayah. Mereka juga bekerja di pabrik-pabrik persenjataan, bahkan turun di medan perang sebagai perawat dan juru masak di markas-markas militer. Baca juga: Bukan Churchill Biasa Upaya para aktivis perempuan akhirnya membuahkan hasil pada 6 Februari 1918 dengan dikeluarkannya Representation of the People Act 1918 (UU Perwakilan Rakyat 1918) sebagai perluasan UU 1884. Dalam UU baru, semua pria berusia 19 tahun, termasuk prajurit dan pelaut, serta perempuan berusia minimal 30 tahun punya hak memilih dan dipilih. “Reform Bill Passed: Women’s Vote Won,” demikian judul berita suratkabar Manchester Guardian edisi 7 Februari 1918. “UU Perwakilan Rakyat yang telah menggandakan jumlah pemilih, memberi parlemen tambahan suara sekitar enam juta pemilih perempuan,” demikian potongan beritanya. UU tersebut jadi tonggak pertama hak kesetaraan gender dalam politik. Lantas lewat Pemilu 14 Desember 1918, Countess Constance Markievicz, anggota NUWSS, jadi perempuan pertama yang duduk di Parlemen Inggris dengan daerah pemilihan Dublin St. Patrick’s. Data Film Judul: Enola Holmes | Sutradara: Harry Bradbeer | Produser: Mary Parent, Alex Garcia, Millie Bobby Brown, Paige Brown | Pemain: Millie Bobby Brown, Henry Cavill, Helena Bonham Carter, Sam Claflin, Fiona Shaw, Frances de la Tour, Louis Partridge | Produksi: Legendary Pictures, PCMA Productions | Distributor: Netflix | Durasi: 123 Menit | Rilis: 23 September 2020 (Netflix).
- Para Pemuda yang Diciduk Usai Rapat Raksasa di Lapangan Ikada
Rapat raksasa di Lapangan Ikada (sekarang kompleks Monumen Nasional), Jakarta pada 19 September 1945 berlangsung suskes. Tanpa menghiraukan ancaman militer Jepang yang masih berkuasa, sekitar 200.000 orang (versi Bung Karno: satu juta orang) datang dari berbagai pelosok Jakarta, Bogor, Bekasi, Karawang, Tangerang, Purwakarta, Sukabumi, dan Cianjur. Mereka memamerkan dukungan maksimal kepada pemerintahan Republik Indonesia pimpinan Sukarno-Hatta yang baru sebulan berdiri. “Rapat Ikada memperlihatkan kekuatan retorika Sukarno terhadap rakyat,” ungkap Robert B. Cribb dalam Gejolak Revolusi di Jakarta 1945-1949: Pergulatan Antara Otonomi dan Hegemoni. Namun kesuksesan kaum Republik di Ikada menjadi aib bagi militer Jepang yang dituntut pihak Sekutu untuk tetap memelihara status quo. Karena itu mereka mencari biang kerok di balik aksi unjuk rasa tersebut. Kamis pagi, 20 September 1945, situasi Jakarta diliputi ketegangan. Di satu pihak, militer Jepang mengkhawatirkan akan munculnya aksi-aksi susulan dari para pemuda Republik. Di pihak lain, para pemuda pun merasa cemas militer Jepang akan melakukan aksi balas dendam karena perintahnya sama sekali tak dituruti. Tidak ingin kecolongan lagi, begitu matahari terbit dari ufuk timur, secara serentak tentara Jepang melangsungkan razia di tempat-tempat yang dicurigai sebagai basis kelompok pemuda sekaligus melarang orang-orang Indonesia mengibarkan bendera Merah Putih. Malamnya, sekelompok Kenpeitai (Polisi Militer Jepang) lantas mengepung Asrama Angkatan Baru Indonesia yang terletak di Jalan Menteng Raya No. 31. Mereka menciduk para pemimpin pemuda Menteng 31 antara lain A.M. Hanafi, D.N. Aidit, Sidik Kertapati, Manaf Roni, M.H. Lukman, dan Wahidin Nasution. “(Kami) diangkut ke Penjara Cipinang. Tapi karena ketahuan saya punya hubungan dengan sipirnya (bernama) Jusuf asal Bengkulu, kami diangkut lagi dan dijebloskan ke Penjara Bukit Duri,” kenang A.M. Hanafi dalam Menteng 31: Membangun Jembatan Dua Angkatan. Pada hari ke-2 di Penjara Bukit Duri, saat mengikuti acara sarapan pagi, tetiba para tokoh pemuda itu terkejut melihat rekan mereka Adam Malik dan Darwis pun ada di sana. Adam Malik berkisah bagaimana situasi di luar dan kebutuhan rakyat akan tenaga mereka. Maka sambil berbisik-bisik, mereka kemudian merencanakan untuk melarikan diri dari penjara tersebut hari itu juga. “Sekarang kita angkat Bung Hanafi jadi 'diktator' kita semua, kita mesti secepatnya keluar dari sini, kan kita sudah merdeka,” ujar Adam Malik. “Mengapa saya harus jadi seorang diktator?” tanya Hanafi. “Supaya kita semua bisa disiplin, laksanakan perintahnya tanpa mendebat,” ungkap Adam Malik. Maka dibuatlah rencana pelarian lebih rinci: selagi melobi kepala sipir penjara, Tengku Thajeb, Adam Malik dan Wahidin Nasution harus menerobos langsung ke pintu penjara, sementara Darwis dan Hanafi bergerak paling akhir dan memberi perlindungan kepada rombongan pertama. Saat para petugas mengatur makanan dan para penjaga yang terdiri dari sekelompok tentara Jepang pergi menaiki sebuah truk, para pemuda itu melihat pintu penjara yang tiga lapis terbuka begitu saja. Tanpa menunggu komando lagi, Adam Malik langsung meloncat keluar penjara diikuti yang lainnya. Sidik dan Hanafi yang bergerak belakangan sempat dihalangi oleh dua sipir berkebangsaan Indo-Belanda. Namun demi melihat sepucuk pistol (yang secara diam-diam diberikan oleh Tengku Thajeb) di genggaman tangan kanan Hanafi, tak pelak mereka pun menjadi ragu. Saat situasi demikian, tetiba terdengar bentakan keras dari Tengku Thajeb: “ Laten ze maar er van doorgaan als jullie niet ge dood willen worden !” (Biarkan mereka lepas, kalau kalian tidak mau mati!).” Sontak, para pengawal itu terbengong-bengong kebingungan. Mereka lantas melepaskan tangan Sidik Kertapati yang sudah mereka pegang. Begitu melihat Sidik terlepas, Hanafi menghambur sambil mendorong Sidik keluar. Sesampai di luar, kelompok para pelarian itu pun mengambil jalan masing-masing. Hanafi ingat, dia bersama Sidik sempat bersembunyi di keramaian Pasar Jatinegara sebelum mereka menggabungkan diri kembali dengan organisasi perlawanan.
- Jejak Sejarah Pelukis Dullah
NAMA pelukis Dullah memang tak lebih populer dibanding nama “Dullah” lain: Sudjono Abdullah, Basuki Abdullah, apalagi Abdullah Suriosubroto yang lebih senior. Dullah yang satu ini memang terpinggirkan dari wacana seni lukis Indonesia sejak Orde Baru mulai mempreteli pengaruh Sukarno.
- Tantangan Riset Sejarah di Era Milenial
PENYUGUHAN sejarah secara populer yang selama ini dilakukan majalah Historia.id lewat artikel. Namun, untuk turut menjawab tantangan era digital, diversifikasi produk ditambah dengan infografis, video, dan galeri foto. Tetap saja, semua sajian itu berlandaskan arsip dan data lain. Sayangnya di Indonesia semua sumber itu masih berserakan. Butuh ketekunan untuk bisa merapikan, mengelola, hingga menyulamnya jadi sajian. Mendiang Aryono merupakan tulang punggung Historia untuk urusan yang satu itu. “Di Indonesia itu pencarian arsip bukan sesuatu yang mudah, tidak seperti di luar negeri yang sudah banyak didigitalisasi. Di Indonesia setengah mati mencarinya. Saya belum melihat ada pelimpahan data yang membuat kita sulit memilahnya karena bagi saya, sumber arsip masih terbatas. Kalaupun melimpah, kita harus memilahnya dan itu pekerjaan lain yang enggak mudah juga,” tutur Redaktur Pelaksana Historia Budi Setiyono dalam Webinar bertajuk “Riset Sejarah di Era Digital: Tribute to Aryono”, Senin (21/9/2020) malam. “Menurut saya itulah pentingnya sosok seperti Aryono. Proses itu juga masih berlangsung karena kita punya cita-cita besar untuk mendirikan pusat data sejarah di Historia. Karena kita tahu betul sulitnya mencari arsip. Mau enggak mau kita harus memproduksi arsip dari foto dan segala macam. Juga datang ke keluarga (pelaku sejarah, red .) yang punya arsip, dari narasumber itu juga menjadi arsip yang penting dan membantu kita untuk penulisan sejarah,” imbuhnya. Kepala riset Historia.id , (alm) Aryono. ( Historia.id ). Mendiang Aryono sejak 2012 berkarier di majalah Historia sebagai penulis, hingga kepala divisi riset. Namun kabar duka datang ketika ia mengembuskan napas terakhirnya pada 15 September 2020 di usia 38 karena mengalami pendarahan otak. Oleh karenanya tujuan diskusi webinar Historia tak hanya untuk mengenang sosok Aryono alias Arik, namun juga mengenai apa yang dikerjakannya semasa hidup, yakni riset arsip, data, dan sumber sejarah yang penting di era digital ini. “Mungkin 10, 50, atau 100 tahun ke depan arsip-arsip itu tidak lagi berbentuk kertas tua berdebu yang tersimpan di pusat-pusat arsip atau dokumentasi. Tapi bisa jadi file-file elektronik yang berserakan yang menjadi milik setiap orang. Tantangannya bagaimana kita bisa mendigitalisasi sumber-sumber sejarah yang selama ini terbengkalai, tercerai-berai, bagaimana kita memproduksi arsip yang justru sekarang jadi paperless dan tersentralisir dan bisa diakses secara mudah,” ungkap Pemimpin Redaksi Historia.id, Bonnie Triyana. Baca juga: Aryono dalam Kenangan Selain masih dalam proses mendirikan pusat data sejarah Historia, Arik semasa hidupnya juga turut menggali arsip-arsip Anton Lucas di Flinders University, Adelaide, Australia, pada September 2019. Anton Lucas adalah sejarawan Australia yang meneliti revolusi sosial di tiga daerah di utara Jawa Tengah. Bersama Bonnie, Arik datang ke Negeri Kanguru atas undangan pengajar kajian Asia Tenggara di universitas itu, Dr. Priyambudi Sulistyanto. “Awalnya saya berinisiatif bahwa koleksi-koleksi (arsip) Pak Anton agar ditaruh sebagai Anton Lucas Special Collection, seperti Kahin Special Collection yang ada di Cornell University. Tujuannya agar di masa depan memudahkan peneliti-peneliti yang ingin studi atau menggali arsip-arsip Pak Anton di kampus kita,” ujar Priyambudi. Dr. Priyambudi Sulistyanto, senior lecturer Flinders University. ( Historia.id ). Dari pertemuan Priyambudi dengan mendiang Arik, muncul pula ide menggali arsip-arsip yang menurutnya jarang jadi minat para peneliti dan sejarawan muda Indonesia, yakni tentang hubungan perdagangan Hindia-Belanda dengan Kerajaan Ayutthaya (kini Thailand). Bagi Priyambudi, alangkah jadi hal yang bagus jika sejarawan-sejarawan muda Indonesia bisa lebih mengembangkan wawasannya ke Asia Tenggara, selain sejarah negeri sendiri. “Dari dialog saya sama dia, dia tertarik tentang interaksi saya dengan kota tua Ayutthaya. Di sana ada perkampungan Makassar, bekas-bekas jejak orang Makassar setelah perang Belanda-Makassar dan mereka lari, salah satunya ke Ayutthaya. Dan di sana juga ada kantor VOC (Vereenigde Oostindische Compagnie/Kongsi Dagang Hindia Timur),” lanjutnya. “Kalau hubungan Nusantara atau Hindia Belanda dengan Ayutthaya begitu intensif di abad XV, XVI, dan XVII, berarti sebetulnya ada yang menarik tentang jejak-jejak perdagangan kala itu yang orang Indonesia sendiri kurang tahu banyak karena sejarawan Indonesia biasanya meneliti tentang Indonesia sendiri. Saya memimpikan sejarawan muda Indonesia sudah harus melihat kawasan Asia Tenggara,” tambah Priyambudi. Baca juga: Anton Lucas dan Cerita Kutilnya Priyambudi mengaku sempat mengatakan pada Arik bahwa perlu ada dorongan agar para sejarawan muda Indonesia mau mempelajarinya. Pasalnya data dan arsipnya sendiri bisa digali di sebuah situs yang dinamai “Rumah Belanda” di Thailand. Di situs itu bahkan juga sudah dibuat semacam museum interaktifnya. Kepingan sejarah itu hanya satu dari sedikit narasi sejarah yang langka untuk diminati dan kemudian digali data dan arsipnya. Selangka riset dan data tentang buruh migran dalam pusaran sejarah. Soal sejarah buruh migran ini turut disuguhkan di salah satu sudut Museum Multatuli di Rangkasbitung, Lebak, Banten. Arik turut jadi sosok di belakang hadirnya display dan narasi sejarah di museum tersebut tentang buruh migran yang dibawa pemerintah kolonial Belanda dari Pulau Jawa ke Suriname. Tak hanya buruh-buruh dari Jawa Tengah yang dibawa Belanda ke koloninya di Amerika Selatan itu, namun juga dari Banten. Sejarah tentang buruh migran ini, diakui Direktur Eksekutif Migrant Care Wahyu Susilo, sahabat Arik, hampir tak pernah diketahui. “Arik juga yang menyadarkan saya untuk kembali ke sejarah. Saya 20 tahun bekerja untuk isu buruh migran. Enggak ada itu sejarahnya (dibahas buruh migran) di Indonesia. Kita punya banyak historiografi sejarah perburuhan, tapi enggak ada tentang buruh migran. Itu yang membuat saya harus terus mencari dan di Indonesia wacana ini enggak pernah ada, baik di kalangan sejarawan karena mungkin ini sejarahnya orang kecil,” papar Wahyu. "Annah la Javanaise", film animasi tentang perdagangan manusia dan eksploitasi anak. ( annecy.org ). Padahal, menurut Wahyu, arsip dan data sejarah tentang latarbelakang buruh migran bisa jadi suntikan berarti bagi upaya-upaya advokasinya. Agar tak menjadi produk yang sama sekali tak bernilai, butuh upaya kreatif dalam penyajiannya. Wahyu merujuk pada sebuah film animasi karya anak bangsa yang diputar di Annecy International Animation Film Festival 2020, bertajuk Annah la Javanaise. “Filmnya hanya enam menit, dibuat sineas Indonesia, Fatimah Tobing Rony. Menceritakan seorang anak usia 13 tahun di akhir abad ke-19 yang dibawa seorang pelukis ke Prancis. Saya cek di buku Sejarah Kecil Indonesia-Prancis 1800-2000 , di situ kisahnya disajikan netral saja, dianggap pionir hubungan Indonesia-Prancis,” katanya. “Tapi ketika saya melihat film itu dan saya cari lagi teks-teks terkait, ini adalah sejarah eksploitasi. Sejarah di mana perdagangan manusia juga sudah terjadi waktu itu. Anak itu dieksploitasi, kalau pagi jadi model lukisan telanjang, kalau siang dipekerjakan untuk pekerjaan-pekerjaan domestik, kalau malam jadi budak seks. Jadi sebenarnya upaya-upaya kreatif melalui media digital mendorong kita kembali lagi menguji fakta-fakta sejarah dan saya rasa kita akan sangat dimudahkan dengan inisiatif digitalisasi arsip,” sambung Wahyu. Baca juga: Kisah Hidup Ibrahim Isa Digitalisasi arsip seperti yang dikerjakan Arik semasa hidupnya, menurut Ita Fatia Nadia, pengiat Ruang Arsip dan Sejarah Perempuan Indonesia (RUAS), akan sangat penting untuk membuka pemahaman baru tentang sejarah para tokoh yang selama ini terpinggirkan rezim Orde Baru. Termasuk tokoh-tokoh pemuda gerakan kesetiakawanan Asia-Afrika dan tokoh-tokoh perempuan. “Suatu hari Januari 2020 Arik menelefon saya. Ia bertanya tentang gerakan Asia Afrika. Dia tertarik meneliti kembali dokumen-dokumen itu dan tentang bagaimana Pak Hersri Setiawan terlibat,” timpal Ita. “Gerakan Asia-Afrika kan juga tidak banyak dituliskan. Lebih banyak tentang konferensi (Asia-Afrika) di Bandung. Tetapi bagaimana jaringan-jaringan di dalam gerakan Asia-Afrika sebagai gerakan pembebasan nasional, di mana orang-orang muda kita terlibat, seperti Pak Hersri, Ibrahim Isa, Yusuf Ishak dll, jaringan itu tidak pernah dituliskan dan dilihat kembali,” tambahnya. Ita Fatia Nadia, pegiat Ruang Arsip dan Sejarah Perempuan Indonesia (kiri). ( Historia.id ). Butuh kerja keras memang untuk menuliskan gerakan tersebut. Sebab, data dan arsip-arsipnya ada di empat lokasi di luar tanah air. Selain di Kolombo (Sri Lanka), arsip dan data tentangnya terdapat di London (Inggris), Belanda, dan Kairo (Mesir). Tantangan semacam itu acap ditemui Ita kala meneliti tokoh-tokoh perempuan. Terlebih melihat buku-buku yang ada, lazimnya bukan dihasilkan dari para penulis berlatarbelakang sejarah dan seringkali penggunaan datanya berdasarkan like dan dislike atau berdasarkan kepentingan politik. “Pembuatan bibliografi menjadi sangat penting untuk itu. Untuk mengurutkan kembali peristiwa-peristiwa dan tokoh-tokoh yang dituliskan oleh para penulis. Dikumpulkan seluruhnya yang fokusnya pada Asia-Afrika, kemudian kita lacak kembali apa saja keterlibatan Indonesia di situ, siapa penulisnya, fokusnya apa, topiknya apa. Arik pun mengajak saya untuk membuat bibliografi tentang gerakan Asia-Afrika itu, namun sayangnya saya sedang tidak ada waktu karena lagi mengejar tulisan lain,” ujarnya. Baca juga: Ricklefs yang Tak Sempat Saya Temui Ita juga merujuk pada pusat data ICRC atau Palang Merah Internasional di Swiss. Di situ terdapat segudang arsip tentang kekerasan 1965 yang nyaris tak tersentuh penelitian. Persoalannya, data-data itu tak bisa disalin dan dipindai. “Banyak sekali (arsip) tentang pembunuhan, tentang kekerasan 1965. Bahkan sesungguhnya terjadi sejak 1963 tentang pembunuhan orang-orang Tionghoa di Bandung. Arsip ini saya bisa masuki karena saya istrinya Hersri Setiawan, yang boleh mengakses adalah orang yang namanya tercatat dan dianiaya,” papar Ita. “Saya kira itu suatu arsip yang penataannya luar biasa bagus dan setiap orang punya file -nya dan juga kasusnya kapan, sampai kepada siapa pelakunya. Komplit sekali. Tapi saya tak bisa copy , scan , tak bisa apa-apa. Saya hanya boleh duduk dan membaca. Dari sini jadi penting bagaimana arsip semacam itu bisa diakses oleh orang Indonesia supaya ini membangun suatu kesadaran sejarah baru tentang peristiwa 1965 dan kekerasan yang terjadi,” tandasnya.
- Aryono dalam Kenangan
“Nasib terbaik adalah tidak dilahirkan, yang kedua dilahirkan tapi mati muda, dan yang tersial adalah umur tua. Rasa-rasanya memang begitu. Bahagialah mereka yang mati muda,” demikian Soe Hok Gie menulis dalam buku hariannya, Catatan Seorang Demonstran . Gie seolah meramal takdirnya sendiri: mati muda pada usia 27 tahun di puncak Gunung Semeru, 16 Desember 1969. Aryono (Arik), kawan kami yang baru saja wafat Selasa subuh, 15 September 2020, tak pernah terdengar mengucapkan atau mengutip kalimat Soe Hok Gie tersebut. Nyawanya tak terselamatkan setelah pingsan pada Senin malam dan sempat dilarikan ke Unit Gawat Darurat Rumah Sakit Pelni, Petamburan, Jakarta Barat. Dia mati muda seminggu setelah merayakan ulang tahun yang ke-38. “Tiap generasi,” demikian sejarawan Amerika Henry Morse Stephens, “menulis sejarahnya sendiri.” Gie lulus dari UI pada 1964, menulis skripsi mengenai gerakan komunis yang bermetamorfosis dari Sarekat Islam di Semarang, diterbitkan dengan judul Di Bawah Lentera Merah . Sementara Arik lulus 2009 dari Universitas Diponegoro, Semarang dengan skripsi berjudul Jalan Mendaki Menuju Reformasi: Gerakan Mahasiswa di Semarang Tahun 1990–1998 . Arik memang tertarik pada sejarah aktivisme dan terlibat secara praksis pada kegiatan aktivisme. Semenjak kuliah aktif di dalam berbagai forum diskusi, bergiat di ranah kebudayaan dan terlibat kegiatan riset. Salah satu pekerjaan riset yang pertama kali saya lakukan dengannya adalah pengumpulan kisah-kisah penyintas peristiwa 1965 di Jawa Tengah. Saat itu, Arik belum lagi lulus kuliah, rambutnya masih gondrong urakan, penampilan khas aktivis mahasiswa yang agak sedikit nyeniman. Pada pertengahan 2012, tiga tahun setelah lulus kuliah, Arik melamar ke majalah Historia . Lamarannya diterima. Dia kemudian datang ke kantor redaksi di Jl. Wahid Hasyim, Tanah Abang. Penampilannya sudah berbeda dari waktu terakhir saya temui saat melakukan penelitian: rambutnya tak lagi gondrong dan tubuhnya jauh lebih gemuk. Sebelum mulai resmi bekerja, saya yang mewawancarainya. Pada akhir wawancara dia bertanya: “Jadi kapan saya mulai kerja, mas?” “Sekarang juga!” kata saya. Sejak hari itu, Arik bekerja di Historia , mengawali kariernya sebagai reporter. Arik selalu menunjukkan keseriusannya bekerja, walau kemampuan menulisnya kadang-kadang masih kedodoran, dia terbilang anak yang tambeng alias cuek dan terus belajar. Budi Setiyono, redaktur pelaksana yang juga instruktur kelas pelatihan jurnalisme sastra di Yayasan Pantau pernah beberapa kali mengembalikan naskah karya Arik untuk diperbaiki. Seorang reporter lain malah pernah dibabat sebelas kali bolak-balik revisi. Arik tak sampai sebelas kali tapi lumayan membuatnya pucat. Setelah beberapa kali evaluasi, melihat kinerja Arik, kami memutuskan untuk memindahkan Arik ke bagian riset. Bukan apa-apa, dia rajin melakukan penelitian dan banyak menemukan bahan, namun masih kurang piawai meramu bahan temuannya menjadi naskah yang ciamik. Di bagian riset, Arik seperti menemukan jodohnya: klop! Seiring waktu dan karena sifat uletnya, Arik berhasil mengembangkan diri tak hanya jadi periset andalan tapi juga penulis yang piawai meramu bahan temuan riset dengan reportase. Dalam artikel “Tari Topeng Rasinah Melintasi Sejarah” dia menunjukan keterampilannya memadukan reportase dan riset sejarah. Setelah peristiwa 1965, tari topeng Indramayu mengalami kesulitan pentas karena tuduhan terkait dengan aktivitas Lembaga Kebudayaan Rakyat (Lekra). Arik merekam kegiatan sanggar tari topeng maestro Mimi Rasinah yang kini dikelola Aerli, cucu Rasinah. Arik memang trengginas. Kecuali pada masa pagebluk corona, dia rajin ke lapangan baik untuk reportase maupun riset arsip dan pustaka ke kantor Arsip Nasional atau Perpustakaan Nasional. Tugasnya sebagai kepala bagian riset juga meliputi pengumpulan dokumentasi sejarah yang tercecer di berbagai lokasi untuk disimpan secara digital di hard disk komputer di kantor. Rencananya, kami akan membangun pusat data digital sejarah di Historia.id , Arik salah satu motor penggeraknya. Untuk mewujudkan gagasan tersebut, kami merintis proyek seri dokumentasi aktivisme masa Orde Baru. Rencananya kesaksian aktivis dari semua angkatan mulai 1974 sampai 1998 akan direkam dan disimpan di dalam bank data yang terbuka untuk digunakan oleh para peneliti. Dua tahun lalu kami telah memulai melakukan pendokumentasian terhadap beberapa aktivis yang terlibat gerakan anti-Soeharto di era 1990-an. Arik yang spesialis sejarah gerakan mahasiswa berperan penting di dalam proyek tersebut. Kemampuan Arik melakukan riset sejarah memang jempolan. Selain memahami seluk beluk kearsipan, dia juga menguasai bahasa Belanda sebagai sumber secara pasif. Selama bergabung dengan Historia.id , Arik terlibat di dalam beberapa proyek penting, mulai dari riset konten Museum Multatuli, pameran Surat Pendiri Bangsa dan riset proyek Asal-Usul Orang Indonesia (ASOI) yang menggunakan tes DNA. Bekerja dengan Arik selalu penuh riang dan canda tawa. Dia tak pernah terdengar mengeluh sekalipun pekerjaan terus bertumpuk setiap hari. Acapkali dia terlihat tidur mendengkur di kursi kerjanya di kantor. Hal serupa juga terjadi ketika kami berdua menjadi peneliti tamu di Flinders University, Adelaide, Australia September 2019. Kesunyian ruang koleksi khusus pecah oleh suara dengkuran Arik yang ketiduran saat memindai dokumen. Ajaibnya, dia tertidur sementara tangannya masih terus bekerja menggerakan pemindai. Sembari bergurau saya bilang padanya kalau dia sudah dapat karomah Gus Dur karena tetap bisa bekerja sambil terlelap. Arik dan saya diundang untuk membongkar arsip-arsip milik sejarawan Anton Lucas yang tersimpan di seksi koleksi khusus perpustakaan Flinders University. Anton meneliti sejarah di pantai utara Jawa Tengah untuk disertasinya yang sudah diterbitkan, Peristiwa Tiga Daerah: Revolusi dalam Revolusi . Intuisi dan wawasan yang dimilikinya terlihat dari caranya memilah arsip yang memberikan petunjuk pada peristiwa penting di masa lalu. Di ruangan koleksi khusus itu Arik berbisik kepada saya, “Pak… MMC nih, Pak. MMC.” Merapi Merbabu Complex atau disingkat MMC adalah milisi kiri yang berafiliasi dengan Partai Komunis Indonesia. Pasca peristiwa Madiun 1948, mereka menjadikan wilayah lereng gunung Merapi dan Merbabu sebagai basisnya. MMC terdiri dari para laskar merah yang kecewa atas kebijakan Reorganisasi dan Rasionalisasi (Re-Ra) pemerintah terhadap Tentara Nasional Indonesia. Arik paham peristiwa penting ini belum banyak diketahui publik, dia pun bergegas mencatat dan memindai beberapa dokumen penting itu. Sebagai peneliti sejarah yang sadar situasi, Arik juga mafhum jika penulisan sejarah gerakan kiri di Indonesia, terutama mengenai peristiwa 1965 masih diliputi trauma. Cara pandang sejarah yang traumatis dan terbebani stigma negatif itu menjadi penghalang bagi ikhtiar pengungkapan kebenaran dan penegakkan keadilan bagi para korban dan penyintas peristiwa 1965. Perhatiannya pada isu 1965 terwujud di dalam beberapa artikelnya antara lain tentang penemuan 16 titik kuburan massal di Purwodadi, Jawa Tengah, “Operasi Penumpasan PKI di Surabaya” dan “Pembersihan Mahasiswa IPB dan UI”, mengisahkan operasi penangkapan mahasiswa yang dituduh terlibat dalam peristiwa G30S 1965. Ketika Simposium Nasional Tragedi 1965 berlangsung di hotel Aryaduta, Jakarta, 18–19 April 2016, Arik adalah penulis yang setiap hari bertugas meliput acara tersebut. Selain mencintai pekerjaannya, Arik juga selalu menunjukkan sikap solidaritasnya pada kawan. Suatu kali seorang penulis Historia.id menghadapi persoalan akibat menyebut aparat militer terlibat melarang diskusi bertemakan peristiwa 1965 di sebuah kampus di Malang. Danrem Malang melalui Kepala Penerangan Korem (Kapenrem) mencari-cari penulis muda yang gugup itu. Arik pasang badan, dia menenangkannya seraya melayani sanggahan perwira Korem Malang melalui telepon. Di kemudian hari kisah tersebut diceritakan kembali dengan bumbu guyon dan jadi bahan tertawaan. Kadang-kadang selalu saja ada kelakuan nyeleneh almarhum. Kali lain, dalam sebuah perhelatan pesta di kampus Flinders University, kami menikmati suguhan makanan. Saya, Direktur Migrant Care Wahyu Susilo dan Arik mencomot makanan dan menenggak minuman apapun yang dibawa oleh pramusaji. Rupanya ada satu jenis makanan yang kami bertiga sukai dan ingin tambah lagi, namun pramusaji berjalan cepat ke tengah kerumunan menawarkan makanan itu untuk yang lain. Arik tak sabar. Dia pun berteriak memanggilnya, “Mbakk….mbakkkk… kesini mbaakk..,” katanya sambil melambai-lambaikan tangannya. Jangankan datang, menengok pun tidak. Saya dan Wahyu Susilo tertawa terpingkal-pingkal menyaksikan tingkah Arik. Dalam bertugas, Arik tak pernah mengeluh dan mengatakan tidak atau menolak penugasan. Saya selalu meminta tolong agar dicarikan dokumen penting sebagai sumber tulisan, baik di kantor ANRI maupun di Perpusnas RI. Terakhir kali saya memesan kepadanya agar dicarikan pidato Bung Karno tentang pertahanan dan keamanan serta arsip-arsip Departement van Financien era kolonial. “Oke, Pak. Beres, nanti saya carikan,” katanya. Senin sore, 14 September 2020, Arik masih terlihat sekelebat melintasi ruang kerja saya yang terbuka pintunya. Saya menyapanya setengah berteriak, “Rik, piye ? Beres?” “Beres, Pak! Aman!” katanya sambil berlalu ke arah ruangan kerjanya. Tanpa disangka itulah pertemuan saya yang terakhir dengannya. Kurang dari empat jam kemudian, pukul 19:40, Arik jatuh pingsan di kantor. Kami segera membawanya ke UGD RS Pelni, Petamburan, Slipi yang jaraknya hanya sepelemparan batu dari kantor. Setelah sempat dirawat secara intensif semalaman, Arik mengembuskan napas terakhirnya pada Selasa pukul 04:50 subuh. Menurut tim dokter yang menanganinya, dia mengalami pendarahan otak dan kecil kemungkinan untuk diselamatkan. Anak muda yang baik hati dan periang itu wafat dalam tugasnya sebagai sejarawan dan periset sejarah andalan kami. Pada kaos yang dikenakannya saat-saat terakhir hidupnya tertera kalimat, We are not the makers of history, we are made by history . Arik memang bukan pencipta sejarah, tokoh besar sebagaimana dimaksud oleh sejarawan Jerman, Leopold von Ranke. Namun kerja-kerja Arik semasa hidupnya: menelusuri sumber sejarah dan mencatat kisah-kisah masa lalu merupakan pekerjaan besar yang menyadarkan kita akan pentingnya sejarah dalam membentuk pengalaman hidup kita sekarang dan masa yang akan datang. Selamat jalan, Arik. Kami jaga api semangatmu dan teruskan kerja-kerjamu... Kumpulan tulisan Aryono bisa dibaca di sini
- Saat Benny Moerdani Dikira Takut Terjun
HARI masih pagi ketika pasukan Kompi A RPKAD dan Yon 438 Diponegoro memulai perjalanan dari Alahan Panjang menuju Muaralabuh, Sumatera Barat. Perjalanan itu merupakan kelanjutan dari perintah yang diterima Dan Kie A RPKAD Letda Benny Moerdani dari Panglima Operasi 17 Agustus Kolonel Ahmad Yani hari sebelumnya. Perjalanan itu dimaksudkan untuk membungkam jantung pertahanan pasukan PRRI. Setelah menganggap bertempur frontal di Padang tidak menguntungkan secara taktis, pasukan PRRI memilih menyingkir ke pinggiran. “Manuver-manuver perang gerilya mulai dilaksanakan Zulkifli Lubis, yang bergerak sebagai koordinator militer di daerah Sijunjung bersama sekitar tiga sampai empat anak buahnya melatih sekitar dua regu pasukan rakyat,” tulis Mestika Zed dalam Sumatera Barat di Panggung Sejarah, 1945-1995 . Melihat kondisi tersebut, Yani pun mengambil keputusan baru. “Maka Kolonel Akhmad Yani mengambil keputusan untuk mengabaikan obyek politisnya yaitu perebutan ‘Ibu kota PRRI’, akan tetapi menduduki Alahanpanjang untuk menghindari/mencegah pihak PRRI melarikan diri ke daerah lumbung beras Sumatera, yakni Kerinci,” tulis Dinas Sejarah Militer Kodam VII/Diponegoro dalam Sejarah Rumpun Diponegoro dan Pengabdiannya . Pasukan Benny dan Diponegoro berangkat menggunakan truk. Benny dan beberapa rekan perwira RPKAD menggunakan pick up . Namun karena mesin pick up rewel dalam perjalanan itu, Benny dan rekan-rekan di tertinggal jauh. Menjelang sebuah tebing, Benny melihat seutas kawat. Karena curiga, dia perintahkan pengemudi menghentikan mobil. Benny langsung turun untuk memeriksanya. Namun saat dia baru beberapa langkah berjalan, terdengar suara tembakan bazoka. Sisi kiri pick up langsung hancur terkena bazoka itu. Pecahan pelurunya berhamburan ke berbagai arah. Beruntung Benny sudah tiarap sehingga selamat. Pun begitu dengan rekan-rekannya. Namun begitu debu dari tanah yang terkena ledakan mulai menipis, Benny dikagetkan dengan suara rintihan. Suara itu ternyata datang dari sahabatnya, Letda Dading Kalbuadi. Dading terkapar setelah lehernya terkena pecahan peluru bazoka. Benny segera memerintahkan wakilnya, Letda Soeweno, membawa Dading ke garis belakang. Rekan-rekan Benny langsung membalas serangan lawan tanpa menunggu perintah. Mereka akhirnya bisa selamat. Hari itu juga, Muaralabuh dibebaskan. Pertempuran itu menjadi puncak dari keterlibatan Kompi Benny lantaran setelah itu Yani memerintahkan RPKAD pulang ke Batujajar. Perintah itu dikeluarkan Yani setelah mendapat laporan Benny karena pasukannya sudah terlalu lelah. Dari 70 anggota Kompi A, hanya 37 personil yang tersisa saat itu. Pertempuran itu juga menjadi penutup “manis” Bagi Benny dalam keterlibatannya dalam rangkaian operasi penumpasan PRRI yang telah dilaluinya sejak dari Medan, Pekanbaru, hingga Padang. Saat memulainya di Padang, Benny bahkan harus cedera. Cedera itu didapat saat Benny hendak terjun untuk membebaskan Padang pada pukul 06.40 tanggal 17 April 1958. Ketika hendak ke pintu pesawat yang sudah dibuka, pesawat bergoyang akibat cuaca. Akibatnya, Benny hilang keseimbangan dan kakinya terlilit tali pengikat di perut pesawat. Karena berupaya untuk melepaskan lilitan itu, Benny mundur selangkah. Gerak mundur Benny itu dianggap oleh jump master sebagai tindakan takut terjun. Maka sesuai prosedur, jump master langsung menendang Benny dari belakang. Tubuh Benny pun langsung ke luar pesawat dengan posisi tidak normal, yakni menggantung. Sementara kakinya membentur dinding pesawat. Parasutnya yang masih kuncup menggantung ke luar. “Saya terjun dengan tali membelit kaki. Tak bisa dibayangkan, lutut dihempas-hempaskan begitu, rasanya sudah jadi bubur,” kata Benny sebagaimana dikutip Julius Pour dalam Benny: Tragedi Seorang Loyalis . Dalam waktu yang terbatas, Benny mesti bergerak cepat. Sambil menahan nafas, tangan kanannya langsung meraih pisau komando yang diselipkan di betisnya. Tali yang melilitnya langsung dia potong. Begitu tali putus, tubuhnya langsung meluncur cepat ke arah bumi. Saat itulah tangan kirinya dengan segera menarik tali payung cadangan. Benny diselamatkan oleh perintahnya sendiri sesaat sebelum penerjunan berlangsung, agar pasukan membawa payung cadangan. Namun karena lututnya cedera, Benny mendarat dengan posisi tidak sempurna. “Dia terhempas, kedua lututnya yang baru saja diremukkan oleh benturan melawan dinding pesawat, tidak kuat menahan beban tubuhnya,” sambung Julius Pour. Benny harus berjalan pincang sambil menahan rasa sakit untuk mencapai pasukannya yang telah lebih dulu mendarat di Tabing. Beruntung saat itu Tabing telah ditinggalkan oleh pasukan PRRI.*
- Menjaga Marwah Pendidikan Sejarah
RENCANA Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan mengubah mata pelajaran sejarah menjadi mata pelajaran pilihan untuk jenjang Sekolah Menengah Atas (SMA) menuai kritik. Sebagaimana diatur dalam Kurikulum 2013, sejarah seharunya menjadi salah satu mata pelajaran wajib seluruh siswa di jenjang SMA, baik jurusan Ilmu Pengetahuan Alam (IPA), maupun Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS). Namun tahun depan hal itu tidak berlaku. Diberitakan CNN Indonesia , Kemendikbud berencana membuat mata pelajaran sejarah menjadi tidak wajib bagi siswa SMA/SMK sederajat. Tertuang dalam rencana penyederhanaan kurikulum yang akan diterapkan Maret 2021, sejarah untuk kelas 10 akan digabung dengan mata pelajaran IPS. Sementara untuk kelas 11 dan 12, sejarah hanya masuk dalam kelompok peminatan yang sifatnya tidak wajib. “Saya berharap itu sekedar wacana dan akan dikaji lebih mendalam dari kementerian, perwakilan guru, maupun akademisi,” tutur Faizal Firdaus, guru sejarah SMA Negeri 3 Jakarta kepada Historia . “Menurut saya jika diganti menjadi mata pelajaran pilihan, generasi muda selanjutnya akan kehilangan salah satu akses untuk mengenal bangsanya, membangun jiwa nasionalisme maupun kesempatan belajar dari masa lampau,” lanjutnya. Asosiasi Guru Sejarah Indonesia (AGSI) memberikan reaksi terkait rencana tersebut dengan membuat sebuah petisi. Dilansir Change.org , hingga Jumat (18/09/2020), sudah lebih dari 12 ribu orang menandatangani petisi “Kembalikan posisi mata pelajaran sejarah sebagai mapel wajib bagi seluruh anak bangsa” yang diajukan AGSI kepada Presiden Joko Widodo. Dalam petisi itu AGSI menyebut jika bangsa yang tidak mengenal sejarah bisa diibaratkan sebagai seorang yang pikun atau sakit jiwa, yang akan kehilangan identitas atau kepirbadiannya. Menurut AGSI mata pelajaran sejarah merupakan media paling ampuh dalam proses penguatan jati diri dan karakter manusia, juga menjadi alat pemersatu sebuah bangsa. Sementara guru sejarah adalah ujung tombak, sekaligus benteng peradaban. “Bagaimana memori kolektif kita sebagai sebuah bangsa dan nilai-nilai positif yang terkandung di dalamnya ditransformasikan melalui pembelajaran serta keteladanan di ruang-ruang kelas,” tulis AGSI di dalam petisinya. “Mari kita selamatkan generasi muda kita dari amnesia sejarah, mari kita selamatkan bangsa ini dari gerbang kehancuran. Sesungguhnya belajar dari sejarah adalah sebuah keharusan, bukan merupakan pilihan!”. Rencana Kemendikbud itu pun menjadi perbincangan hangat masyarakat di jagat maya. Banyak yang menilai keputusan itu tidak tepat. Mereka khawatir jika sejarah menjadi mata pelajaran yang tidak wajib diajarkan, generasi muda akan kehilangan pengetahuan sejarah bangsanya. Mereka amat menyayangkan jika kisah-kisah heroik para pahlawan bangsa ini harus hilang. Merespons hal itu, Kemendikbud menegaskan bahwa rencana penyederhanaan kurikulum pendidikan masih terus dikaji dengan berbagai pihak guna meningkatkan kualitas pendidikan nasional. Melalui Siaran Pers Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan No. 264/Sipres/A6/IX/2020, Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan dan Perbukuan Kemendikbud Totok Suprayitno menegaskan bahwa kabar pelajaran sejarah keluar dari kurikulum tidak benar. Pelajaran sejarah, ujar Totok, akan tetap diajarkan dan diterapkan di setiap generasi. “Kemendikbud mengutamakan sejarah sebagai bagian penting dari keragaman dan kemajemukan serta perjalanan hidup bangsa Indonesia, pada saat ini dan yang akan datang,” ucapnya. “Sejarah merupakan komponen penting bagi Indonesia sebagai bangsa yang besar sehingga menjadi bagian kurikulum pendidikan. Nilai-nilai yang dipelajari dalam sejarah merupakan salah satu kunci pengembangan karakter bangsa.” Membangun Identitas Bangsa Menanggapi rencana Kemendikbud tersebut, Ikatan Alumni Pendidikan Sejarah Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) menyelenggarakan webinar berjudul “Matinya Sejarah: Kritik atas Rancangan Kurikulum 2020” pada Kamis (17/09/2020). Di sana berkumpul para akademisi yang mengkritisi rencana pemerintah terhadap pendidikan sejarah di Indonesia. Guru Besar Pendidikan Sejarah UPI, yang juga Ketua Tim Pengembang Kurikulum 2013 Said Hamid Hasan mengatakan bahwa banyak alasan yang menjadikan pembelajaran sejarah penting bagi bangsa Indonesia. Di antaranya sejarah bisa menjadi alat untuk mengembangkan jatidiri bangsa, menjadi wadah bagi ingatan kolektif berbagai peristiwa yang pernah dilalui masyarakat Indonesia, membangun nasionalisme, serta memberi teladan dari perjuangan para tokoh. Menurut Said, sejarah bisa memberi inspirasi. Dengan mempelajarai berbagai peristiwa sejarah, kita dapat mengetahui bagaimana para tokoh berjuang, dan cara menyelesaikan masalah-masalah yang dihadapi. Hal itu juga nantinya akan mengembangkan kepedulian sosial bangsa dalam menghadapi beragam peristiwa. “Para guru sejarah harus sadari dari apa yang sudah mereka (para pahlawan) lakukan bisa mengembangkan kreativitas kita sehingga dalam menghadapi peristiwa sekarang ini kita bisa menyelesaikannya,” ujar Said. Menurut Edy Suparjan dalam Pendidikan Sejarah untuk Membentuk Karakter Bangsa , dalam proses pengembangan karakter keberadaan sejarah amat penting. Sejarah bisa menjadi media untuk mewarisi seluruh akhlak baik para pendahulu bagi kemajuan dan pembentukan mental bangsa. Melalui kisah-kisah heroik para pahlawan di masa perjuangan, generasi muda bisa belajar soal pentingnya hak asasi manusia, patriotisme, persamaan, kebebasan, dan keadilan. “Selain pengetahuan kesejarahan, pembelajaran sejarah juga menyimpan pendidikan nilai untuk pembentukan kesadaran sejarah, kepibadian bangsa, dan sikap,” tulis Suparjan. Membangun Minat Sejarah Upaya bangsa Indonesia dalam menjaga identitas melalui sejarah sebenarnya sudah dilakukan sejak tahun 1950-an. Secara resmi para akademisi yang menaruh fokus pada sejarah berkumpul. Di Yogyakarta tahun 1957, kegiatan formal itu mencoba menghasilkan pada yang disebut sebagai “sejarah nasional Indonesia”, yang berisi kisah-kisah sejarah milik bangsa Indonesia. “Permasalahan sudut pandang dalam kaitannya dengan wawasan kebangsaan menjadi masalah mendesak, yang pada waktu itu masih dihadapkan pada kenyataan dominannya peredaran tulisan-tulisan mengenai sejarah berbagai kerajaan di Indonesia oleh para sejarawan Belanda, yang secara sengaja ataupun tidak sering kali menampilkan visi kolonial dalam melihat sejarah kita,” tertulis dalam Kongres Nasional Sejarah 1996 . Tahun 1970, para akademisi kembali berkumpul di Yogyakarta untuk mengadakan acara Seminar Sejarah Nasional II. Melalui kepemimpinan sejarawan Sartono Kartodirdjo, didirikan organisasi profesi bagi sejarawan. Pada kesempatan itu pula permasalahan periodisasi sejarah Indonesia dibahas secara khsus. Usaha nyata dilakukan dengan perencanaan pembuatan buku yang menjadi referensi utama sejarah Indonesia, yang diterbitkan beberapa tahun setelahnya.*
- Lyudmila Pavlichenko Sang Bidadari Pencabut Nyawa
LYUDMILA Pavlichenko tak habis pikir. Dalam perjalanannya di kota-kota besar Amerika Serikat sepanjang September 1942, letnan Uni Soviet berparas anggun itu tak henti-hentinya dihujani pertanyaan dari wartawan-wartawan Amerika. Baginya itu konyol. Maka sekuat tenaga ia menahan diri supaya tak “meledak” yang bisa mengacaukan misi yang diembannya dari diktator Soviet Josef Stalin. Pavlichenko datang ke Amerika pada akhir Agustus 1942. Perjalanan panjang menggunakan pesawat terbang ditempuhnya dari Moskow ke Kairo lalu Miami, Florida. Dari Miami ke Washington DC perjalanannya dilakukan menggunakan keretaapi ekspres. Sejak Juni 1942, Lyuda, panggilan Pavlichenko, ditarik dari medan perang untuk mengemban misi propaganda. Tujuan utamanya agar Amerika mau membuka front kedua di Eropa demi mendesak Jerman Nazi. Maka dikirimlah delegasi mahasiswa Soviet bersama Pavlichenko sebagai primadonanya. Namun, di Amerika Lyuda benar-benar keheranan. Entah ketika di Washington DC, New York, atau Chicago, dia lebih sering ditanya wartawan Amerika hal-hal yang baginya sangat sepele. “Saya terkesima tentang pertanyaan-pertanyaan dari para wartawan perempuan di Washington. Mereka menanyakan hal-hal konyol seperti apakah saya memakai bedak, pemerah pipi, cat kuku, dan apakah saya mengkritingkan rambut. Seorang reporter bahkan berani mengkritik rok panjang saya dengan mengatakan perempuan Amerika biasanya mengenakan rok pendek dan seragam saya membuat saya tampak gemuk,” kata Lyuda kepada Time , 28 September 1942. “Itu semua membuat saya marah. Saya mengenakan seragam saya secara terhormat. Seragam yang tersemat (medali) Order of Lenin yang sering tertutup bercak darah di pertempuran. Sangat jelas bagi perempuan Amerika lebih mementingkan apakah mereka memakai celana dalam sutera di balik seragam mereka. Namun mereka belum mengerti makna dari seragam itu sendiri,” sambungnya. Terlepas dari komentarnya yang sarkas, Lyuda menjalani tur ke Amerika dengan sukses. Selain akhirnya Sekutu membuka front kedua bagi Jerman lewat Afrika Utara lalu ke Italia, Lyuda juga membawa pulang oleh-oleh persahabatan dengan Eleanor Roosevelt. Ibu negara Amerika itu sempat mempersilakan Lyuda dkk. menginap di Gedung Putih selama kunjungan di Washington DC. Mahasiswa Sejarah Jago Tembak Kecantikan tak pernah masuk dalam kamusnya. Lingkaran hidupnya yang sarat pergulatan membuatnya jadi sosok yang dingin. Semasa muda, cewek tomboy kelahiran Bila Tserkva, Ukraina, 12 Juli 1916 itu sembari bersekolah juga mesti menopang ekonomi keluarga dengan bekerja sebagai buruh di sebuah pabrik senjata di Kyiv. “Karena tak punya skill , awalnya butuh waktu setengah tahun bagi saya untuk menyesuaikan diri dengan ritme kehidupan di pabrik dan mendapatkan pertemanan dengan para buruh lain. Saya juga kemudian diterima masuk di Liga Pemuda Komunis,” kenang Lyuda dalam memoarnya, Lady Death: The Memoirs of Stalin’s Sniper . Di pabrik senjata itulah Lyuda mulai mengenal senjata dan menjajal menembakkannya. Orang pertama yang mengajari dan mengetahui ternyata Lyuda punya “bakat alam” dalam menembak adalah Fyodor Kushchenko. Ia anggota Liga Pemuda Komunis yang jadi salah satu instruktur dalam uji tembak senapan di pabrik itu. “Fyodor memberi saya sepucuk senapan TOZ-8 buatan Pabrik Senjata Tula yang diproduksi antara 1932-1946. Senapan sederhana dengan amunisi 5,6x11 milimeter yang tak hanya biasa disuplai untuk militer, namun juga untuk olahraga menembak dan untuk berburu,” ujar Lyuda. Lyudmila 'Lyuda' Pavlichenko dari mahasiswi sejarah, anggota Liga Pemuda Komunis hingga kombatan Tentara Merah. ( loc.gov /Repro Lady Death ). Sebelum memegang senapan itu untuk kali pertama, Lyuda mendapat briefing singkat tentang cara memegang, mengarahkan, dan membidik sasaran dari Kushchenko. Usai briefing , Kushchenko mengecek semuanya dan memasukkan amunisinya. Dor! Saat Lyuda menekan picunya, ia terkejut bukan main. Tak hanya oleh bisingnya suara letusan senapan yang belum familiar di telinganya, namun juga popor senapan yang menghentak lengannya. “Kushchenko tersenyum melihat saya. ‘Itu karena Anda belum terbiasa. Tembak lagi! Anda pasti bisa,’ katanya. Lalu saya mengunci pundak dengan lebih erat dan menembak tiga kali lagi. Saat melihat kertas yang jadi sasaran, ia terkesan. ‘Untuk seorang pemula, hasilnya lumayan bagus. Jelas Anda punya bakat’,” ungkapnya. Sejak saat itu, setiap Sabtu Lyuda selalu berlatih menembak dengan instrukturnya selepas jam kerja. Mulai 1936 Lyuda menyambung sekolahnya ke Universitas Kyiv lewat program pendidikan Liga Pemuda Komunis. Sesuai minatnya pada sejarah, ia masuk jurusan Sejarah Arkeologi dan Etnografi Uni Soviet. Di pandai di kelas, Lyuda mahasiswa yang cakap dalam olahraga baik sebagai sprinter maupun pelompat tinggi. Lyuda turut dalam program sekolah sniper Tentara Merah pada 1939. Pendidikan ini berisi kelas politik, latihan baris-berbaris, pertarungan tangan kosong, dan 220 jam kelas latihan menembak, di mana 30 jam di antaranya latihan menembak taktis. Lyuda juga diperkenalkan senjata-senjata baru macam Simonov AVS-36 dan Tokarev SVT-38 dengan teleskop PE 4x. Salah satu potret propaganda tentang heroisme Lyuda di front Timur. ( Majalah Smena , No.12 tahun 1942). Namun ketika kuliahnya di Universitas Kyiv menginjak tahun keempat, Jerman menginvasi Uni Soviet lewat Operasi Barbarossa (Juni 1941). Sebagai anggota Liga Pemuda Komunis, Lyuda pun mengajukan diri masuk Tentara Merah. Ia bersikeras ingin masuk infantri dan menolak ditugaskan sebagai perawat hanya karena dia perempuan. Tetapi setelah menunjukkan surat-surat dan sertifikat sekolah menembaknya, Lyuda diizinkan masuk unit infantri di Resimen Senapan ke-54 “Stenka Razin”, Divisi ke-25 Tentara Merah. Ia jadi satu di antara dua ribu kombatan perempuan yang diterima masuk ke infantri. Namun karena minimnya pasokan senjata, Lyuda pertamakali maju ke medan perang di front Odessa hanya dibekali sebutir granat. “Sungguh membuat frustrasi hanya bisa memantau pertempuran dengan sebutir granat di satu tangan. Tetapi getir rasanya menunggu rekan di samping Anda terluka agar senapannya bisa diberikan kepada Anda. Pada akhirnya sebuah pecahan bom melukai seorang kolega yang sedang berlindung di parit dan memberikan saya senapannya karena dia terlalu terluka untuk bisa menggunakannya,” kenangnya. Hingga Mei 1942, Lyuda punya catatan konfirmasi "kill" sebanyak 309 walau diyakini angkanya lebih dari itu. ( orlova-center.ru ). Medio Agustus 1941 jadi momen “pembaptisan” Lyuda menewaskan musuh dengan senapannya. Kala itu, ia yang sudah memegang senapan, turun dalam kubu pertahanan di sebuah bukit di Odessa. Mulanya ia hanya bertugas untuk mengintai dan hanya boleh menembak sesuai perintah atasannya. “Saya melihat pasukan Rumania (Sekutu Jerman Nazi) sedang menggali parit hanya berjarak 300-400 yard dari tempat persembunyian saya. Kami dilarang keras komandan untuk menembak tanpa perintah. Saya pun mengirim pesan: ‘Bolehkah saya menembak?’ Saya menunggu dengan sabar, hingga akhirnya komandan membalas: ‘Anda yakin bisa mengenai mereka?’ Saya jawab dengan yakin, ‘Iya.’ Lalu komandan menjawab: ‘Kalau begitu, tembaklah!’” tulis Lyuda dalam catatan bertajuk “Kill the Enemy”, termuat di buletin informasi Kedutaan Besar Uni Soviet untuk Amerika, Volume II tahun 1942. “Lalu saya menenangkan diri dan berhati-hati kala membidik dan tembak! Sasaran pasukan Rumania saya tumbang. Rekannya yang mencoba menolong juga saya bidik dan kena. Juga satu lagi tewas oleh peluru saya. Tetapi tiga orang dalam ‘pembaptisan’ saya hanya terhitung tembakan percobaan, walau kemudian mulai saat itu saya dimasukkan di unit sniper ,” tambahnya. Pada Oktober 1941 Lyuda dipindah ke Sevastopol. Di sinilah, pada Pengepungan Sevastopol (30 Oktober 1941-Juli 1942), Lyuda mencetak kelegendarisannya. Hingga Mei 1942, Letnan Lyuda yang berjuluk “Lady Death” mencatatkan angka kill resmi sebanyak 309 nyawa, 36 di antaranya penembak runduk pasukan Axis. Nestapa di Balik Kebanggaan Lyuda dijadikan alat propaganda kesayangan Stalin untuk menyuntik moril jutaan serdadu Soviet di berbagai front. Pada Juni 1942, ia terluka akibat terkena pecahan mortir. Stalin pun memilih menariknya dari medan pertempuran. Setelah Lyuda pulih, Stalin menjadikannya “duta perang” keliling Amerika hingga Inggris sepanjang Agustus-November 1942. Lyuda mengemban misi agar Sekutu lekas membuka front baru agar perang di Eropa tak hanya ditanggung Soviet. “Hadirin. Usia saya 25 tahun dan saya telah membunuh 309 penyerbu fasis. Apakah hadirin tak merasa bahwa kalian sudah terlalu lama bersembunyi di balik punggung saya?” kata Lyuda dalam pidatonya fenomenalnya di Chicago yang mengundang decak kagum ribuan orang. Sontak ia jadi primadona di Amerika. Ia menjalin persahabatan dengan Ibu negara Eleanor Roosevelt dan namanya bahkan diabadikan dengan lagu karangan Woody Guthrie bertajuk “Miss Pavlichenko”. Sekembalinya ke Soviet, Lyuda dipromosikan dengan pangkat mayor sebagai imbalan kesediaannya untuk tetap di garis belakang. Lyuda berkontribusi sebagai instruktur penembak runduk hingga berakhirnya Perang Dunia II. Usai perang, Lyuda melanjutkan studi sejarahnya di Universitas Kyiv sampai 1953. Setelah lulus, ia menunaikan cita-citanya sebagai sejarawan sembari jadi asisten peneliti di markas Angkatan Laut Soviet. Eleanor, sahabatnya yang mantan ibu negara Amerika, dua kali mengunjunginya di Moskva, pada 1957 dan 1958. Lyuda (tengah) saat bersua Anna Eleanor Roosevelt (kanan) pada 1942 dan terus bersahabat sampai akhir hayat. ( loc.gov ). Sebagai perempuan, Lyuda berusaha jadi ibu yang baik untuk Rostislav, putra semata wayangnya. Dia amat bangga Rotislav mengikuti jejaknya menjadi perwira. “Rostislav seorang anak yang baik dan karakternya mirip ayah saya. Tinggi, rambut gelap, dan bermata coklat. Dia melanjutkan tradisi di dinas militer. Slava lulus dengan baik dari Fakultas Hukum Universitas Moskva dan Sekolah KGB (Intelijen Soviet). Dia menyandang pangkat perwiranya dengan kehormatan. Saya bangga padanya,” tutur Lyuda dalam memoarnya. Namun di balik kebanggaan itu, terpendam nestapa. Di sisa hidupnya, Lyuda menderita Post-Traumatic Stress Disorder atau kelainan jiwa yang banyak diderita veteran perang. Akibatnya, Lyuda menjadi alkoholik hingga tutup usia karena stroke pada 10 Oktober 1974 di usia 58 tahun.
- Soe Hok Gie dan Perploncoan di UI
PERPLONCOAN lazim dialami oleh mahasiswa baru di perguruan tinggi. Bahasa formalnya orientasi studi dan pengengalan kampus atau kerap disebut ospek. Kegiatan itu sudah jadi rutinitas ketika memasuki tahun ajaran baru. Namun, sederet stigma miring melekat kala mendengar kata “diplonco”. Mulai dari senioritas, intimidasi, hingga kekerasan kerap terjadi dalam perploncoan. Itulah yang terjadi baru-baru ini di Universitas Negeri Surabaya (Unesa). Walaupun pada masa pandemi seperti sekarang, perploncoan tetap dilaksanakan secara daring. Dalam sekejap, kegiatan itu menjadi sorotan publik lantaran terlihat beberapa senior membentaki juniornya. Aksi bentak-bentak itu muncul di media sosial, jadi viral, dan menuai banyak kecaman. Merentang ke belakang, perploncoan memang sudah menjadi tradisi dari masa-masa. Soe Hok Gie, aktivis mahasiswa terkemuka itupun pernah merasakannya. Dalam catatan hariannya Soe Hok Gie menuangkan pengalamannya diplonco bahkan dirundung oleh seniornya. Mahasiswa Jurusan Sejarah Pengumuman ujian selesai. Setelah menyandang predikat lulus, Soe Hok Gie pun resmi menjadi alumnus SMA Kanisius. Gie kemudian mengikuti seleksi masuk perguruan tinggi. Semula Soe Hok Gie diterima di Fakultas Keguruan Ilmu Pendidikan Jakarta (kini UNJ). Tapi, dia mencoba peruntungan juga di Universitas Indonesia. Pilihan pertamanya jurusan psikologi tapi gagal. Soe Hok Gie diterima pada pilihan kedua, yaitu jurusan sejarah. Resmilah Soe Hok Gie jadi mahasiswa Fakultas Sastra Jurusan Sejarah UI angkatan 1961. Kampusnya masih di Rawamangun. Sebelum mulai kuliah, diadakan masa perploncoan dari tanggal 27 September sampai 1 Oktober. “Ketika baru diplonco kami dibentak-bentak, ditendang tas kami dan dimaki-maki,” catat Soe Hok Gie tanggal 20 Oktober 1961 dalam catatan hariannya yang dibukukan Catatan Seorang Demonstran . Soe Hok Gie menyaksikan dirinya dan kawan-kawan seangkatan diperlakukan seperti binatang. Berbagai risakan terlontar dari lisan senior. Misalnya, “jelek lu”, “muka lu lihat dulu”, “gigi lu kuning”, dan sebagainya. Pada awalnya, Soe Hok Gie menganggap perploncoan itu sia-sia belaka tiada guna. Tetapi kemudian dia melihat sisi positifnya. Khususnya bagi "anak-anak borjuis" atau yang mereka tidak bepikiran dewasa. Ketika diplonco, Soe Hok Gie mengingat salah satu kawannya bernama Nurul Komari. Dia mendapat kesan bahwa kawannya itu seorang “anak mami” karena sangat tergantung dengan ibunya. Dalam perploncoan, dia menangis karena dimaki-maki. “Di sinilah adanya unsur positif dari perploncoan, setidak-tidaknya kita dicoba (biar cuma lima hari), untuk menghadapi situasi nyata atas beban sendiri,” kata Soe Hok Gie. Seorang anak, lanjutnya, mau tidak mau menjadi dewasa. Dia harus berani dan sadar untuk melepaskan diri dari pelindungnya, dalam hal ini orang tuanya. Menurut Soe Hok Gie, dalam perploncoan ada dua jenis manusia. Sebagian berani menghadapi kenyataaan dengan bersikap sesuai. Dia termasuk dalam golongan ini. Waktu diplonco, Soe Hok Gie ketawa-ketawa saja sehingga ada seniornya yang bilang kalau dia senang diplonco. Sebagian lagi marah-marah dan mendendam. Dalam keadaan demikian, perploncoan ibarat malapetaka bagi mereka. Mereka adalah orang-orang konyol, demikian tulis Soe Hok Gie dalam catatannya. Dalam perploncoan, Soe Hok Gie mendapat kawan-kawan senior yang menjadi akrab. (Richard Zakaria) Leirissa (sejarah tingkat II) seorang yang baik hati dan mau membimbing. Ong Hok Ham (sejarah tingkat II) seorang yang pandai dan berkata supaya Soe Hok Gie merasakan hidup kemahasiswaan yang sedalam-dalamnya. Di kemudian hari, R.Z. Leirissa dan Ong Hok Ham menjadi sejawaran beken Indonesia lewat karya-karya mereka. Plonco di Mapala Pada waktunya, Soe Hok Gie pun naik tingkat menjadi senior. Meski demikian, dia tidak ikutan memplonco anak baru. Dalam catatan hariannya tanggal 4 Oktober 1962, dia sebenarnya mengakui punya ketertarikan untuk ikut sebagai senior dalam masa perkelanan. Tujuannya semata-mata ingin mengetahui perangai mahasiswa baru dan memberikan pandangan postif bagi mereka. Tapi pada akhirnya, dia lebih memilih bergumul dengan alam dengan membentuk komunitas Mahasiswa Pecinta Alam (Mapala). Mapala UI didirikan pada 1964 sebagai organisasi internal mahasiswa UI. Kegiatannya berupa perkemahan, perjalanan, dan pendakian gunung, termasuk konservasi alam. Mapala juga menjadi penampungan bagi mahasiswa yang jenuh dari hiruk pikuk politik kampus yang melibatkan organisasi kampus dengan partai politik tertentu. Soe Hok Gie merupakan salah satu perintisnya di Fakultas Sastra. Sudah jadi tradisi pula jika calon anggota Mapala mesti “ditatar” terlebih dahulu sebelum resmi diterima sebagai anggota. Pada Desember 1969, Mapala melakukan pendakian ke Gunung Semeru, Jawa Timur. Dalam daftar rombongan, tercatat beberapa nama pentolan pencinta alam. Soe Hok Gie salah satu di antaranya. Saat itu, dia telah menjadi dosen muda di kampusnya. Selain itu, dia juga dikenal sebagai penulis, aktivis, dan tokoh pergerakan mahasiswa di zaman awal Orde Baru. Dalam kumpulan tulisan Soe Hok Gie Sekali Lagi, Rudy Badil mengenang waktu itu masih mahasiswa tingkat persiapan jurusan Antropologi Fakultas Sastra UI. Seingat Badil, Maman (ketua Mapala) dan Soe Hok Gie kemungkinan besar akan melantiknya dan diberi nomor anggota Mapala FS-UI kalau dirinya yang perilakunya dianggap pembangkang bisa perform lumayan. “Ingat, elo kami plonco di hutan gunung supaya lebih dewasa dan tidak ngotot dan melawan senior-senior, ya,” kira-kira begitu kata Soe Hok Gie sebagaimana dikisahkan Badil dalam artike “Antar Hok-Gie dan Idhan ke Atas”. Soe Hok Gie menasihati Badil supaya mengurangi sedikit perilaku hura-hura. Beberapa senior Mapala Fakultas Sastra kurang begitu menyukai Badil. Saat itu dia tergabung dalam Ikatan Mahasiswa Djakarta yang kerap diplesetkan Ikatan Mahasiswa Dansa yang katanya borjuis. Di sela-sela perjalanan, Soe Hok Gie pernah berujar, “Ingat Dil, elo harus punya kepribadian ya.” Wejangan Soe Hok Gie itu begitu membekas bagi Rudy Badil. Lelaki yang kemudian menjadi jurnalis itu tak menyangka jika pendakian itu menjadi kebersamaan terakhir mereka.*
- Siapa Sebenarnya Bangsa Indonesia?
Suatu hari, Truman Simanjuntak mengikuti seminar tentang Austronesia. Arkeolog senior yang banyak meneliti manusia prasejarah ini kemudian dirubung wartawan. Seorang wartawan mengajukan pertanyaan tak terduga: Siapa sebenarnya bangsa Indonesia? “Jawaban saya waktu itu rasanya kurang memuaskan. Ini lalu menjadi tantangan saya untuk menjawabnya,” kata Truman dalam bedah buku terbarunya, Manusia-Manusia dan Peradaban Indonesia yang diadakan Pusat Penelitian Arkeologi Nasional. Truman menilai arkeologi bisa menjawab pertanyaan itu. Ilmu ini bisa menggali masa lampau tanpa batas, selama ada interaksi manusia dengan lingkungan yang kemudian menyimpan data hingga kini. “Nilai-nilai yang tercermin itu kemudian menjadi pondasi masyarakat masa sekarang dan masa yang akan datang,” ujar Truman. Truman memerlukan waktu lima tahun untuk menyarikan semua temuannya menjadi jawaban pertanyaan wartawan itu. Ia tuangkan jawabannya dalam buku yang menjelaskan perjalanan Indonesia sejak dihuni manusia pertama hingga kini. Baca juga: Awal Kedatangan Manusia ke Nusantara Menurut Truman, ada empat kata yang mengantarkan Indonesia pada kondisi masa kini. “Ada proses migrasi, adaptasi, interaksi, kemudian berevolusi hingga pada Indonesia yang kita punyai kini,” katanya. Dari proses itu, kata Truman, Indonesia sarat dengan nilai-nilai dan capaian para leluhur. Misalnya, ada Homo erectus yang punya ide dalam menciptakan bentuk hiasan geometris pada cangkang kerang. Belum lagi gambar cadas tertua yang usianya puluhan ribu tahun, yang lawannya hanya ada di Spanyol. “Indonesia harusnya leading peradaban global,” tegas Truman. Ketika melakukan perjalanan ke pelosok Nusantara, Truman menemukan ilmu pengetahuan, kearifan lokal terutama dalam interaksi dengan lingkungan, keuletan, dan gotong royong. Inilah yang mestinya menjadi landasan dalam berbangsa dan bernegara. “Semua nilai itu dipres oleh para pendahulu kita menjadi Pancasila,” kata Truman.“Pancasila bukan begitu saja muncul pada sekitar kemerdekaan, perumusannya iya, tapi nilainya sudah ada jauh sejak ribuan tahun.” Kesadaran Multietnik Sementara itu, peneliti utama Balai Arkeologi Yogyakarta, Harry Widianto, mengungkapkan bahwa perjalanan evolusi Homo sapiens yang rumit menjadi awal terbentuknya populasi yang mendiami kepulauan Nusantara. Diaspora Sapiens atau manusia modern dimulai sejak pertama kali mereka keluar dari Afrika, kemudian menjangkau berbagai wilayah yang jauh, termasuk Indonesia. Setidaknya, sejak 70 ribu tahun lalu kepulauan Nusantara sudah disinggahi manusia modern awal. Ras Australomelanesid ini mendiami Indonesia bagian timur. Di antara mereka kemudian ada yang bermigrasi ke barat melalui Nusa Tenggara Barat dan Timur. “Perjalanan dimulai 40 ribu tahun lalu,” kata Harry. Jejak mereka kemudian bercampur dengan ras Mongoloid di wilayah NTT dan NTB. Ras Mongoloid inimengisi bagian barat, seperti Jawa, Kalimantan, dan Sumatra, juga Asia Tenggara. “Ini saudara kita datang dari utara menempati kepulauan Indonesia bagian barat,” kata Harry. “Manusia yang ketemu di NTT-NTB itu percampuran.” Baca juga: Leluhur Langsung Bangsa Indonesia dari Taiwan Menurut Harry, pengetahuan ini penting bagi kesadaran multietnik masyarakat Indonesia. Kendati berbeda secara fisik, tapi secara historis orang-orang di Indonesia bagian timur sangat dekat dengan masyarakat bagian barat. “Kita punya tiga warna, di timur, NTB-NTT, dan barat. Kita ini berangkai. Ini penting untuk memahami diversitas untuk kedamaian bangsa,” kata Harry. Arkeolog Universitas Gadjah Mada, Daud Aris Tanudirjo, mengamini kalau keberagaman Indonesia telah ditunjukkan oleh populasi awal yang mendiaminya. Selain yang sudah dibahas dalam buku Truman, Daud menjelaskan bahwa hasil penelitian genetika terbaru semakin menunjukkan itu, bahwa Australomelanesid yang cukup lama mendiami kepulauan Nusantara rupanya memiliki ciri yang berbeda-beda. “Kalau saya membaca deskripsi Australomelanesid (dalam buku karya Truman, red. ) yang cukup lama tinggal di Indonesia memberi kesan jenis manusia ini mempunyai ciri yang sama di daerah-daerah huniannya. Penelitian genetika akhir-akhir ini, Australomelanesid punya ciri beda,” kata Daud. Baca juga: Dua Rute Migrasi Leluhur Nusantara Di wilayah barat, ras Australomelanesid tak memiliki genetika Denisovan, yaitu manusia Neanderthal yang pernah hidup di Asia Timur dan Eropa Timur. Genetika ini hanya ditemukan pada ras Australomelanesid yang mendiami wilayah timur Indonesia. “Bagaimana mereka masih menyimpan gen itu sampai sekarang? Ini bukti keunikan kepulauan Indonesia. Pembahasan ini akan memperkaya soal keragaman tadi,” kata Daud. Bagi Daud, evolusi budaya tak selalu berjalan linier dan sama di semua tempat. Proses perubahannya multilinier, bahkan ke segala arah. “Daya serap budaya luar maupun kemampuan dan kebutuhan berinovasi beda-beda, bergantung pada komunitas yang menjalaninya,” ujar Daud. Baca juga: Leluhur Orang Papua Contohnya sikap orang Baduy yang tidak ingin menyerap modernitas. Padahal, mereka berada tak jauh dari hingar bingar Jakarta. Komunitas pengguna kubur megalitik di Gunung Kidul dan pendukung kubur kalang di Bojonegoro diyakini masih eksis ketika Kerajaan Mataram Hindu mendirikan candi-candi megahnya. “Seakan tersisih padahal mereka bagian dari kerajaan itu. Mereka tetap teguh pada prinsipnya. Saya kira ini hampir terjadi di setiap perjalanan budaya di segala zaman,” kata Daud. Ini yang kemudian memunculkan bercak-bercak budaya di negara kepulauan Indonesia. Ini pula yang akan menambah keyakinan akan adanya keragaman. “Di Indonesia tidak pernah ada yang mendominasi. Selalu terjadi percampuran persamaan kebersamaan,” ujar Daud. Karakter Luhur Manusia Indonesia Hidup di wilayah kepulauan Nusantara memunculkan karakter masyarakat yang khas. Menurut Daud, lingkungan kepulauan akan membentuk budaya yang jarang ditemukan di wilayah lain. “Saya berharap kajian adaptasi lingkungan kepulauan dibahas lebih banyak di buku ini, walaupun di dalam buku sudah disebut kekhasan kita adalah kepulauan,” kata Daud . Nilai luhur manusia Indonesia, lanjut Daud, berpangkal pada proses adaptasi terhadap lingkungan kepulauan. Karenanya orang Indonesia lebih mengenal sebutan tanah air ketimbang mother land atau father land. Baca juga: Bukti Leluhur Austronesia Tertua di Taiwan dan Cina Selatan Ini yang menjadi ciri budaya Nusantara, bahwa masyarakatnya sangat menghargai perpaduan tanah dan air sebagai sumber kehidupan. “Makanya pasti ada inovasi yang muncul dalam lingkungan yang khas ini,” ujar Daud. Tinggal di lingkungan kepulauan juga memunculkan sifat keterbukaan. Para leluhur bangsa Indonesia terbiasa bertualang, singgah ke berbagai tempat, bertemu ragam manusia dan budaya yang berbeda. “Mereka selalu bertemu manusia dan hal baru di lingkungan yang baru. Jadi tidak mungkin jadi orang tertutup,” ujar Daud. Baca juga: Indonesia Penutur Austronesia Terbesar Kebiasaan bertualang mencari hal baru itu menumbuhkan kepercayaanpada kekuatan di luar dirinya. Misalnya, ketidakpastian di laut menyebabkan mereka lebih religius. “Mengapa Pancasila, sila pertama berbunyi Ketuhanan Yang Maha Esa?” tanya Daud. “Akarnya adalah perjalanan panjang para penghuni kepulauan yang penuh bahaya, lebih berisiko daripada kalau di daratan.” Sifat tak kenal menyerah untuk menemukan hal baru juga menjadi karakter orang kepulauan. Ini muncul dari tradisi leluhur untuk mengkoloni daerah baru, menjelajah dari satu pulau ke pulau lainnya. Baca juga: Manusia Indonesia adalah Campuran Beragam Genetika Peribahasa seperti bersakit-sakit dahulu, bersenang-senang kemudian, menurut Daud, juga mencerminkan jiwa para penutur Austronesia. “Tradisi mereka berlayar menentang angin dulu, susah dulu, tapi kalau tak menemukan tempat baru, mereka hanya akan kembali mengikuti arusnya, kembali pulang,” lanjut Daud. Daud menilai Truman telah menginisiasi upaya untuk tak hanya bercerita tentang masa lalu lewat data arkeologi. Tapi karya terbarunya ini telah merumuskan lebih jauh bagaimana nilai luhur yang berasal dari masa prasejarah ditransmisikan ke masa kini. Termasuk, bagaimana ciri keindonesiaan yang bineka tunggal ika terbentuk. “Pesan seperti itu jarang kita temui dalam buku arkeologi,” kata Daud.“Ini memberikan contoh kerja arkeologi yang bermanfaat lebih nyata, di mana kita bisa ikut membentuk kebangsaan kita.”
- Masa Bersiap dan Ironi Belanda
Selama Oktober 1945, di seluruh Jawa dan sebagian kecil Sumatra, aksi-aksi berdarah dilakukan nyaris setiap hari oleh sebagian orang Indonesia. Dalam catatan Mary van Delden, sejarawan dari Universitas Radboud, Belanda, jumlah korban yang jatuh mencapai ribuan jiwa. “Andaikan tentara Indonesia tidak ikut campur menjaga sebagian kamp internir saat itu, saya yakin korban jiwa akan jauh lebih banyak,” tulis Marry dalam disertasinya “ De republikeinse kampen in Nederlands-Indië, Oktober 1945-Mei 1947. Orde in de chaos? ” (Kamp Republik di Hindia-Belanda, Oktober 1945-Mei 1947. Ketertiban di tengah kekacauan?). Menurut Robert B. Cribb, seluruh aksi brutal itu sejatinya ditujukan kepada orang-orang Belanda dan para pengikutnya yang memiliki gelagat ingin berkuasa kembali di negeri bekas jajahannya. Tidak ada satu pun sasasaran yang logis untuk dijadikan pelampiasan revolusiener selain orang-orang tersebut. Di Batavia dalam kurun itu, orang-orang Eropa menghilang, bahkan ketika sedang berada di kota dan pada akhirnya tubuh mereka ditemukan mengambang di salah satu kanal beberapa hari kemudian. Rumah-rumah keluarga kulit putih juga dikepung pada malam hari dan para penghuninya dibunuh tanpa ampun, termasuk anak-anak dan perempuan. “Molenvliet, suatu kanal panjang yang mengalir dari kota tua ke arah selatan merupakan tempat favorit kaum inlander untuk melakukan penyergapan, seperti halnya jalan utama dari Senen ke Jatinegara,” papar Cribb dalam Gejolak Revolusi di Jakarta 1945-1949: Pergulatan Antara Otonomi dan Hegemoni. Praktek teror itu pada akhirnya menyebar ke seluruh kawasan luar Batavia. Karawang dan Bekasi adalah dua wilayah ommelanden (luar tembok kota) yang tak terlepas dari kegilaan revolusiener orang-orang pribumi. Telan (94), masih ingat bagaimana para pemuda di wilayah Tambun menggerebek rumah orang-orang Tionghoa dalam suatu dini hari. “Karena orang Belanda sedikit di wilayah itu, para pemuda lalu menjadikan orang-orang Cina sebagai sasaran. Mereka banyak dibunuh dan mayatnya dicempungin ke Sungai Citarum,” ungkap eks anggota sebuah lasykar di Karawang itu. Telan menyebutkan sebagian pemuda yang terlibat dalam aksi di masa bersiap itu adalah anggota-anggota Angkatan Pemuda Indonesia (API) dan para jagoan (sekarang dikenal dengan istilah: preman) yang kelak banyak bergabung ke Lasjkar Rakjat Djakarta Raja (LRDR). Menurut jurnalis cum peneliti sejarah Wenri Wanhar, tidak hanya di “kandangnya masing-masing”, para jagoan Karawang-Bekasi itu juga ikut meramaikan aksi gedoran di Depok pada 11 Oktober 1945. Di bawah pimpinan Camat Nata, mereka datang dari arah timur Depok dengan menggunakan kereta api, truk dan gerobak sapi. “Gerombolan tersebut dengan bebas merampok dan mengobrak-abrik rumah-rumah dan mengusir penghuninya, terutama penduduk Kristen Eropa,” ungkap Wenri dalam Gedoran Depok: Revolusi Sosial di Tepi Jakarta 1945-1955 . Pihak intelijen Belanda (NEFIS) meyakini bahwa dengan melihat ciri-cirinya, sangatlah jelas bahwa aksi-aksi itu merupakan aksi kolektif yang terorganisir secara baik. Artinya ada orang atau kelompok tertentu yang mengorganisasi aksi-aksi tersebut. Berdasarkan keyakinan itu, tidak mustahil jika NEFIS mengantongi nama-nama pelaku kekerasan dalam masa bersiap. Namun ironisnya, sekira dua tahun usai kejadian berdarah itu, alih-alih menangkap mereka dan membawanya ke pengadilan, para komandan di jajaran militer Belanda malah memobilisasi para penjahat itu ke dalam Pasukan Non-organik Milik Sang Ratu (HAMOT). Itu suatu milisi yang berisi “para pembelot” dari kubu Republik yang terdiri dari eks prajurit TNI, oknum kriminal dan eks anggota-anggota LRDR. “Para penguasa kolonial mempersenjatai mereka dan memberi imunitas sementara untuk berperang di bawah bendera Belanda melawan para mantan sejawat mereka sendiri,” ungkap Remy Limpach dalam Kekerasan Ekstrem Belanda di Indonesia. Semua kompromi itu terpaksa dilakukan oleh militer Belanda karena adanya keterbatasan personil dan upaya mengefesiensikan pergerakan para serdadu mereka. Para komandan militer Belanda berharap dengan keterlibatan “para kriminal” itu, tingkat kematian dan cidera di kalangan para prajurit kulit putih akibat perang bisa ditekan serendah mungkin. Hingga November 1947, sepakterjang HAMOT memang kerap menuai sukses dalam berbagai operasi tempur. Selain keberanian mereka, faktor penguasaan medan juga mempengaruhi kemenangan-kemenangan itu. Namun menjelang penutupan tahun 1947, secara cepat para anggota HAMOT kembali kepada perangai lamanya: berbuat brutal dan senang menjarah. Mereka kemudian dikenal sebagai milisi yang selalu melakukan tindakan ekstrem secara kemanusiaan. “Bahkan di wilayah yang dikuasai oleh Belanda…” ujar Limpach.





















