Hasil pencarian
9862 hasil ditemukan dengan pencarian kosong
- "Tak Perlu Menunggu Ludah itu Kering, Kau Kutembak!"
Akhir Mei 1948, pemerintah Republik Indonesia (RI) via Markas Besar Tentara (MBT) di Yogyakarta menugaskan Letnan Kolonel A.E.Kawilarang untuk berangkat ke Sumatera. Bersama Mayor Ibrahim Adjie, Letnan Satu Abu Amar dan Letnan Dua Hutabarat, Alex mendapat misi untuk menuntaskan pertikaian antar tentara Indonesia di Sumatera. Komandan Brigade II Surjakantjana Divisi Siliwangi itu merasa penasaran, apa yang menyebabkan dia harus pergi ke wilayah yang sama sekali belum dikenalnya itu. Guna mememenuhi kepenasaran itu, Alex bahkan pernah bertanya langsung kepada Wakil Presiden sekaligus Menteri Pertahanan ad interim Mohammad Hatta. “Di Tapanuli dan Sumataera Timur harus ada komandan yang bukan berasal dari Jawa atau Sumatera. Di sana harus dilakukan pembersihan. Banyak serobotan, lucut melucuti, kurang disiplin dan lagi banyak korupsi,” jawab Bung Hatta. Sebagai catatan, di wilayah Tapanuli memang saat itu sedang terjadi “perebutan wilayah” antara tentara Indonesia sendiri. Mereka yang terlibat berasal dari kesatuan tentara yang dipimpin oleh Mayor Bedjo dan para pejuang yang ada di bawah Mayor L. Malao. “Alhasil saya merasa terpilih sebagai “tukang bersih-bersih”. Jadilah!” ujar Alex seperti dituliskan dalam otobiografinya, Untuk Sang Merah Putih (disusun oleh Ramadhan KH). Singkat cerita, berangkatlah Alex dan rombongan ke Sumatera pada Agustus 1948. Selama belum ada penugasan rinci, untuk sementara mereka ditempatkan di Bukittinggi, Sumatera Barat. November 1948, Alex ditunjuk menjadi Komandan Sub Teritorial VII. Sebagai pimpinan wilayah, dia harus mulai membereskan kekacauan-kekacauan yang ada di Tapanuli, Sumatera Timur Selatan. Langkah pertama yang dia lakukan adalah membubarkan brigade-brigade yang ada lalu menggantinya dengan sektor-sektor. Setidaknya ada 4 sektor yang dia bentuk untuk menghadapi kemungkinan agresi militer Belanda yang kedua kalinya. Pembentukan sektor-sektor otomatis diikuti dengan perpindahan wilayah kekuasaan masing-masing kekuatan bersenjata yang ada saat itu. Sebagai contoh Pasukan Sektor I harus meninggalkan Sibolga digantikan oleh Pasukan Sektor IV dan Sektor S. Aturannya Pasukan Sektor IV dan Sektor S dipersilakan masuk Sibolga usai Pasukan Sektor I pergi. Namun karena ada kesalahpahaman beberapa unit Pasukan Sektor S sudah mulai mendekati Sibolga, sementara saat itu Pasukan Sektor I masih ada di kota tersebut. Untuk mencegah keributan karena pertemuan dua pasukan yang tadinya bermusuhan itu, maka Letnan Kolonel Alex mengutus Letnan Dua David Munthe untuk mengingatkan komandan Pasukan Sektor S untuk tidak masuk dulu ke Sibolga. Alih-alih disanggupi, komandan Sektor S malah mengancam Letnan Dua David dengan todongan pistol. “Besok paginya, saya panggil perwira yang menodong Munthe itu…” kenang Alex. Belum selesai melakukan teguran, Sang Perwira malah menyemprot Alex duluan. Sambil menggebrak meja, dia menolak mentah-mentah perintah atasannya itu untuk jangan dulu memasuki Sibolga. Bak mitraliur, Si Perwira terus nyerocos. Alex yang tadinya akan melakukan teguran juga terkait penodongan Munthe, memilih untuk menahan diri, menunggu dulu sampai teriakan-teriakan sang perwira selesai. Setelah dia diam, sambil menggebrak meja hingga gelas-gelas di atas meja berjatuhan, Alex langsung balas memaki-maki Komandan Sektor S tersebut. “Sekarang dalam kondisi aman, kau mau aksi-aksian masuk Sibolga! Tahu kau, kalau kau dan pasukanmu masuk Sibolga sekarang lalu bentrok dengan Pasukan Sektor I, siapa yang menjadi korban? Rakyat dan tentara lagi! Mana tanggungjawabmu?! Mana disiplinmu?! Kau malah mau bermain-main koboy-koboyan dengan pistol. Memuakan! Pengecut memang biasa begitu! Tunggu sampai Aksi II, baru kau boleh mencabut pistolmu kepada lawan!” Sejumlah kalimat lagi masih dilontarkan Alex. Dia betul-betul memarahi Komandan Sektor S. Namun di luar dugaan, tetiba Si Komandan bangkit dan berdiri. Bersikap tegap sambil memberi hormat kepada Alex. “Saya taat perintah!” katanya dalam nada tegas. Sikap membangkang juga pernah dilakukan oleh salah satu pasukan yang akan dipindahkan dari Sibolga. Waktu itu giliran Mayor Ibrahim Adjie yang harus menghadapi komandannya yang dikenal garang dan tak jarang main tembak begitu saja. Mayor Adjie lantas memanggil sang komandan. Alih-alih menuruti perintah, dia malah menyuruh Adjie untuk datang langsung ke markasnya. Kendati merasa kesal, perwira yang berasal dari Divisi Siliwangi itu berusaha menahan diri. Dia mengalah dan lantas mendatangi markas pasukan yang membandel itu. “Ayah saya bilang, mereka biasanya hanya menguji nyali para komandan saja,” tutur Kiki Adjie, salah seorang putra dari Ibrahim Adjie. Perundingan pun terjadi. Si Komandan bersikeras tidak akan pindah. Dia malah mengusir Adjie dan menyebut tidak mengakui kepemimpinannya. Adjie pun bersikeras dalam sikap tegas. Tetiba di tengah percekcokan itu, sang komandan mengeluarkan pistol, menyimpannya di meja lalu meludahinya. “Kau aku kasih kesempatan untuk pergi dari sini sampai ludah di pistolku itu kering. Jika tidak, kau kutembak!” teriaknya menantang. Di luar dugaan Si Komandan, Adjie malah menyambar pistol berludah itu lalu menodongkannya ke kepala Si Komandan. “Tak perlu menunggu ludah itu kering, sekarang juga kau aku tembak jika tidak ikut perintahku!” ujar Adjie. Dalam sikap ketakutan, Si Komandan akhirnya menyanggupi permintaan Mayor Adjie. Sejak kejadian itulah para komandan di Tapanuli tak pernah lagi membantah perintah-perintah yang datang dari Alex dan Adjie.
- Stirling Moss, Raja Balap tanpa Mahkota
CUACA di Sirkuit Monza amat indah suatu hari medio Mei 2015. Sir Stirling Moss yang mengenakan atribut pembalap lengkap era 1950-an, hampir tak bisa berhenti tersenyum di sepanjang trek. Kakinya masih fasih menginjak pedal gas maupun kopling. Tangannya masih solid memegang setir dan persneling. Namun tentu semuanya berbeda. Usianya sudah sepuh. Suasana sirkuit pun tak sesemarak kala ia balapan di trek yang sama pada GP Italia 1955. Meski begitu, Moss tetap bisa merasakan suasana itu kembali hidup. Tak lain lantaran mobil balap yang ia kemudikan sama persis dengan yang digunakannya enam dekade sebelumnya. Legenda balap Inggris itu mengendarai mobil berbodi streamliner Mercedes-Benz 300SLR. Untuk menjajal beberapa lap di Monza, ia ditemani jawara F1 yang senegara dengannya, Lewis Hamilton, di kokpit mobil Mercedes W196 Monoposto atau varian awal mobil Moss di paruh pertama F1 musim 1955, sebelum berganti dengan varian streamliner. Hamilton sesekali menyamakan kecepatan untuk mengambil posisi berdampingan sembari ngobrol kecil. Mungkin sekaligus menjaga agar Moss tak berlebihan menggeber mobilnya, mengingat usianya sudah 85 tahun. Kenangan pada 2015 itu tak terlupakan buat Hamilton, salah satu figur F1 yang terpukul ketika mendengar Moss wafat pada Minggu (12/4/2020). Legenda balap yang sepanjang kariernya jadi raja di lintasan tanpa mahkota itu mengembuskan nafas terakhir di usia 90 tahun karena kesehatannya terus menurun. “Hari ini kita menyampaikan selamat tinggal kepada Sir Stirling Moss, seorang legenda balapan. Tentu saya akan sangat merindukan perbincangan kami. Saya benar-benar bersyukur sempat memiliki momen istimewa bersamanya. Semoga ia beristirahat dengan tenang,” tutur Hamilton berduka via akun Twitter -nya, @LewisHamilton, 12 April 2020. Mengubah Bully jadi Motivasi Laman resmi F1 dalam muatan obituari Moss menjuluki sebagai “Mr. Motor Racing”. Ia legendaris sejati meski dalam rentang tujuh tahun (1955-1961) kariernya di ajang balap paling beken sedunia itu tak pernah sekalipun mencicipi gelar juara. Moss dicap sebagai pembalap paling sportif dengan catatan turun di 66 balapan, 16 kali merebut pole position, dan 16 kali berdiri di puncak podium. Ia rival terberat sejumlah legenda lain macam Juan Manuel Fangio, Alberto Ascari, Jack Brabham, hingga sesama pembalap Inggris Mike Hawthorn dengan empat kali jadi runner-up (1955-1958) dan tiga kali menempati urutan tiga klasemen akhir (1959-1961). Pria bernama lengkap Stirling Craufurd Moss itu lahir di West Kensington, London, Inggris pada 17 September 1929. Sejak kecil ia sudah akrab dengan deru mesin mobil balap. Pasalnya sang ayah, Alfred Moses, berprofesi sebagai dokter gigi sekaligus pembalap medioker. Di era 1920-an, ayahnya sering terjun di ajang-ajang amatir lokal. Sempat pula ia sekali ‘ gas pol ’ di ajang Indianapolis 500 pada 1924 dan finis di urutan ke-16. Ibunya, Aileen Craufurd, semasa muda juga jadi juru balap ajang-ajang amatir balap mobil sejenis Singer Nine. Kelak adiknya yang lantas dipersunting pembalap reli Swedia Erik Carlsson, Pat Moss, juga merambah dunia balap di ajang reli. Mengutip otobiografi yang dituliskan Moss bersama Alan Henry bertajuk All My Races , ia sudah dihadiahi ayahnya mobil Austin 7 pada usia sembilan tahun. Alfred Moss, ayah Stirling Moss juga merupakan pembalap era 1920-an (Foto: mundalis.com ) Walau hidup di keluarga dengan perekonomian yang lebih dari cukup, bocah Moss bukan tak pernah mengalami pergulatan batin. Sejak di usia sekolah dasar, ia acap jadi korbanperundungan. Utamanya perundungan bernada anti-semit karena ia punya darah Yahudi dari garis kakeknya, Abraham Moses Moss. Akibatnya, ia jadi anak yang malas ke sekolah. Beberapakali pula ia harus pindah-pindah sekolah. “Awalnya saya selalu menyembunyikan masalah itu dari orangtua. Butuh waktu lama untuk saya bisa mengubah perundungan itu menjadi motivasi kesuksesan,” kenang Moss. Mille Miglia dan Mahkota Formula Mengidap nefritis atau radang ginjal membuat Moss muda tak diharuskan ikut ke medan Perang Dunia II dan wajib militer dua tahun pasca-perang. Berkahnya, pendidikannya tak terlalu terganggu oleh perang. Ia hanya harus sering ikut lari ke tempat-tempat perlindungan serangan bom tiap kali sirine meraung-raung di masa-masa Battle of Britain , 10 Juli-31 Oktober 1940. Sejak 1948, Moss merintis karier balapnya dengan serius mengikuti beberapa ajang balap “kasta menengah” seperti Cooper 500, RAC Tourist Trophy, Alpine Rally, Goodwood Trophy, dan British Formula Three (F3). Moss menjalani debutnya di F1 pada 27 Mei 1951 bersama tim HWM-Alta di Sirkuit Bremgarten, GP Swiss. Ia hanya mampu finis di urutan ke-14. Bukan karena kalah skill dari Fangio yang di hari itu naik ke puncak podium atau Nino Farina dan Luigi Villoresi di podium kedua dan ketiga, namun karena mobil HWM 51 bermesin Alta F2 yang dikendarai Moss kurang kompetitif. Pada musim 1952, ia pindah ke tim ERA dengan mobil bermesin Bristol BS1 dan kemudian pindah tim Connaught, dan Cooper hingga 1953. Itu dilakoninya karena prinsip, hanya mau mengemudikan mobil bermesin dan ditopang sasis buatan Inggris. “Lebih baik kalah terhormat dengan mobil Inggris daripada menang dengan mobil buatan asing,” cetus Moss, dikutip Paul May dalam Heroes and Saints . Prinsip itu kemungkinan merupakan buah dari pengalaman getirnya kala merasa dikerjai Enzo Ferrari. Pada 1951, ia mulai didekati Enzo Ferrari yang menawarkan untuk mengendarai mobil Ferrari untuk ajang Formula Two (F2) di GP Bari. Tapi ketika sudah melakukan perjalanan jauh dari London ke Puglia, Moss yang ditemani ayahnya, hanya mendapati satu-satunya mobil Ferrari adalah mobil yang dikendarai pembalap Piero Taruffi. Masalahnya tak satupun staf tim Ferrari yang bisa memberi penjelasan memuaskan. Akhirnya Moss dan ayahnya pulang dengan memendam dengki. Maka hingga 1954 ia tak pernah sekalipun mau menyentuh mobil-mobil pabrikan asing. Namun karena catatan awal kariernya (1951-1953) yang sama sekali tak menggembirakan, ditambah nasihat-nasihat para sponsor, Moss akhirnya berkenan masuk ke kokpit mobil asing, yakni Maserati 250F di tim Alfieri Maserati asal Italia. “Moss bisa tampil di musim 1954 dengan mobil (Maserati) 250F, di mana finansialnya disponsori Shell-Mex dan BP. Moss merasakan sendiri betapa bagusnya handling mobil 250F sebagai wahana yang ideal untuk mendemonstrasikan skill -nya,” tulis Stuart Codling dalam Art of the Formula 1 Race Car . Prestasi Moss pun mulai moncer sejak mengendarai Maserati. Di pentas F1 ia memang hanya merasakan sekali naik ke podium ketiga di GP Belgia, 20 Juni 1954. Tetapi di luar F1, tahun itu Moss mendulang beberapa gelar dengan mobil 250F, di antaranya International Gold Cup dan Goodwood Trophy. Semusim berikutnya, ia pindah ke tim Mercedes. Di sinilah nama Moss mulai jadi langganan calon juara F1. Di musim 1955 dengan mobil Mercedes W196, Moss tiga kali naik podium, termasuk kemenangan pertamanya di GP Inggris, 16 Juli 1955 yang dihelat di Sirkuit Aintree, Liverpool. Bahkan di akhir musim, ia sukses menguntit Fangio yang juga rekan setimnya menjadi runner-up , sekaligus mengangkangi dua pembalap Ferrari, Eugenio Castellotti dan Maurice Trintignant, yang hanya mampu bercokol di urutan tiga dan empat klasemen akhir. Stirling Moss bersama co-driver Denis Jenkinson di ajang Mille Miglia 1955 (Foto: formula1.com ) Namun kenangan yang tak pernah dilupakannya di tahun 1955 justru keikutsertaannya di ajang Mille Miglia. Bersama co-driver Denis Jenkinson, Moss memenanginya. Itu menjadi kali pertama Moss memenanginya sejak ikut Mille Miglia pada 1951. Mirip Le Mans 24 Hours, Mille Miglia adalah ajang balap ketahanan mobil dan pembalap. Bedanya, Le Mans dibatasi waktu 24 jam, sementara Mille Miglia waktunya non-stop selama 10 jam dengan jarak tempuh 1.500 kilometer dengan start -nya dimulai dari Brescia dan finis di Roma. “Menang Mille Miglia lebih sulit daripada Le Mans 24 Hours. Tingkat stres di dalam mobil lebih tinggi. Anda juga balapan di jalanan umum dengan intensitas selama 10 jam. Balapan di jalanan umum di mana Anda tak mengenal treknya sangat berbeda dan sangat menuntut teknik. Anda tidak bisa mempelajari karakter trek sepanjang 1.000 mil,” sambung Moss dalam otobiografinya. “Belum lagi penonton yang berdesak-desakan di pinggir treknya membuat Anda tak bisa melihat ujung tepi tikungan. Tapi sepanjang karier kemenangan itulah pencapaian terbaik saya. Anda tak bisa membandingkan misalnya dengan kemenangan saya di GP Monaco 1961. Segalanya bergantung pada kepercayaan diri, baik terhadap mobil maupun kemampuan Anda,” lanjutnya lagi. Pada musim 1958, Moss hanya kalah sebutir poin dari kompatriotnya, Mike Hawthorn, dalam perebutan juara F1. Tak pernah sepanjang kariernya gelar juara begitu dekat dengan genggamannya. Di musim itu, Moss empat kali menang dan mengumpulan 41 poin. Adapun Hawthorn cuma sekali menang tetapi punya perolehan 42 poin. Penyebabnya, Moss lebih sering gagal mendapatkan poin karena gagal finis di lima seri, sementara Hawthorn hanya dua kali. Namun yang paling menjadi perhatian utama adalah sikap sportif Moss terhadap Hawthorn di GP Portugal yang dihelat di Sirkuit Boavista, 24 Agustus 1958. Mengutip majalah Motor Sport edisi Oktober 1958, mobil Hawthorn tergelincir di sebuah tikungan pada lap ke-48. Masalahnya saat itu kondisi tikungannya menanjak, menjadikan Hawthorn sukar menyalakan lagi mesin mobilnya. Satu-satunya cara adalah didorong ke jalanan menurun dan itu artinya Hawthorn harus berbalik arah. Itu kemudian dipermasalahkanpengawas balapan ( steward) . Hawthorn dianggap menjalankan mobilnya berlawanan arah di luar trek dan itu merupakan pelanggaran. Hasilnya, Hawthorn yang finis kedua di belakang Moss, didiskualifikasi. “Tapi pada rapat ofisial balapan di malam hari setelah balapan, Moss memberi kesaksian bahwa Hawthorn mencoba menyalakan lagi mesinnya dengan didorong di sisi dalam bantalan tepi trek, bukan di luar dan oleh karenanya tidak melanggar peraturan. Lalu pada jam 11 malam ofisial balapan memberi keputusan mengembalikan status runner-up Hawthorn,” tulis majalah itu. Stirling Moss (kiri) bersama John Michael 'Mike' Hawthorn, saingan sekaligus teman baik di pentas F1 era 1950-an (Foto: formula1.com ) Andai Moss tak berinisiatif dan bersikap sportif untuk memberi kesaksian pada ofisial balapan GP Portugal, Hawthorn takkan mendapatkan tambahan tujuh poin. Itu berarti di akhir musim sangat mungkin Moss-lah yang keluar sebagai juara dunia, bukan Hawthorn. “Bagi saya, Mike tak semestinya didiskualifikasi. Saya merasa, keputusan steward telah salah mendiskualifikasinya. Dan saya memberi kesaksian bahwa dia masih di dalam trek, tepatnya di escape road (jalur darurat, red. ) yang kemudian diterima ofisial. Nyatanya hal itu membuat saya kehilangan gelar. Walau demikian (sikap sportif) sudah berarti kemenangan buat saya,” tambah Moss. Di pengujung musim, Moss akhirnya gagal juara. Meski pedih, tiada penyesalan dalam hatinya. “Memang sempat ada sedikit rasa kesal karena saya merasa harusnya tahun itu saya juara. Saya merasa punya kemampuan untuk jadi juara tapi nyatanya saya tidak juara. Mike adalah teman baik saya. Tentu saya merasa mampu mengalahkan dia, tetapi harus diterima juga bahwa saya kalah satu poin darinya,” tandas Moss yang pensiun pada 1962 akibat cedera parah usai kecelakaan di ajang Glover Trophy.
- Rokok Kretek Rumahan Eksis di Tengah Krisis
GELOMBANG pasang Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) terkait dampak ekonomi akibat pandemi Covid-19 mulai berlangsung. Sebuah video viral menangkap suasana murung puluhan karyawan yang di-PHK di sebuah ritel besar di Depok, Jawa Barat. Di tempat lainnya, ratusan ribu orang di beragam sektor usaha dan bisnis juga telah kehilangan pekerjaannya. Hampir 90 tahun lalu, PHK massal juga pernah melanda Hindia Belanda. Saat itu, ekspor Hindia Belanda jatuh dihantam resesi global pada awal dekade 1930-an. Barang melimpah, harganya turun, tapi orang sulit memperoleh uang. Industri manufaktur di kota dan agroindustri mem-PHK buruh-buruhnya. Sebagian buruh kembali ke kampung halaman atau desanya untuk mencari pekerjaan lain. "Mereka yang sudah menjadi penduduk kota, seperti para buruh di Surabaya, menggantungkan diri pada jaringan sosial kampung untuk bertahan hidup," catat Dick Howard dalam Surabaya, City of Work: A Socioeconomic Behaviour in Java. Salah satu jaring pengaman sosial perdesaan adalah usaha rokok rumahan.
- Wartawan Jadi Tentara Gurkha Dadakan
Setelah menempuh perjalanan panjang, Rosihan Anwar dan Soedjatmoko tiba di Yogyakarta. Mereka baru saja selesai meliput Konferensi Malino dari Makassar. Rencananya hasil reportase itu akan disampaikan kepada Presiden Sukarno dan wakilnya Mohammad Hatta. “Setibanya di Stasiun Tugu, Yogya, saya bergegas ke Hotel Merdeka di Jalan Malioboro, saya jijnjing kopor pakaian dan saya kepit gulungan tikar sembahyang,” tutur Rosihan dalam Musim Berganti: Sekilas Sejarah Indonesia 1925—1950 . Pada waktu itu Rosihan adalah redaktur yang bernaung di bawah harian Merdeka, media berhaluan nasionalis di masa revolusi. Menurut Rosihan keadaan di hotel kurang terpelihara karena banyak tamu yang datang silih berganti. Beruntung Rosihan masih mendapat kamar meskipun harus berbagi dengan Charles Tambu, pemimpin redaksi suratkabar berbahasa Inggris Independen . Saat itu, Charles Tambu menghindari kejaran tentara Belanda, mengungsi ke Yogya dan diperbantukan di Kementerian Penerangan. Masuk kamar hotel, Rosihan menaruh kopernya di kolong ranjang lalu beranjak mandi. Dia kemudian mempersiapkan diri bertemu Sukarno pada pukul 11.00. Soal protokol tiada masalah. Bung Karno cukup terbuka dan gampang dihubungi. Maklum saja, masih dalam suasana zaman berjuang. Menjelang pukul 11.00, Rosihan dan Soedjatmoko sudah berada di gedung kepresidenan. Bung Karno dan Bung Hatta menyambut dengan ramah. Mereka menanyakan bagaimana jalannya Konferensi Malino. Soedjatmoko – pemimpin redaksi majalah Het Inzicht terbitan Kementerian Penerangan melaporkan, Konferensi Malino diselenggarakan Hubertus van Mook. Menurut Soedjatmoko, van Mook hendak menyudutkan Republik Indonesia lewat konferensi yang melibatkan orang Indonesia bagian Timur sebagai kaki tangan. Berita baiknya, tidak semua rakyat Indonesia Timur berpihak kepada Belanda. Malahan dalam Konferensi Malino ada tokoh-tokoh daerah yang mendukung Republik. Hal inilah yang disampaikan Rosihan Anwar. Rosihan menyebutkan delegasi Sulawesi Selatan Tadjuddin Noor adalah seorang Republiken. Begitu pula dengan Raja Suppa Muda, putra Raja Bone Andi Mapanyuki yang diinternir oleh Belanda di Toraja. Raja Suppa Muda bahkan menitipkan dua helai tikar sembahyang dan sarung bugis kepada Rosihan untuk diserahkan kepada Sukarno dan Hatta. Itulah sebagai simbol dukungan rakyat Sulawesi Selatan kepada pemerintah Indonesia. “Tikar sembahyang, yang saya kepit mulai dari Makassar, saya bawa ke Jakarta, saya taruh di rak kereta api menuju Yogya, sudah sampai di tangan alamatnya,” ujar Rosihan. Di kereta api, Rosihan sempat memakai tikar sembahyang itu sebagai alas tidur. Selesai menunaikan tugasnya, Rosihan kembali ke hotel. Alangkah terkejut dirinya menyaksikan koper yang disimpan sudah tidak ada lagi di tempat. Ditanyakan kepada pelayan hotel sia-sia belaka. Kasim Mansur, kawan Rosihan yang juga tinggal di hotel itu ikut mencari namun benda yang dicari tidak ketemu. “Rupanya bukan saja sekali merdeka, tetap merdeka, tetapi sekali hilang tetap hilang,” demikian Rosihan mengingat peritstiwa apes yang menimpa dirinya. Semua pakaian Rosihan ada di koper itu. Rosihan pun harus bertahan dengan pakaian yang melekat di badan. Lagi pula dia tidak punya uang untuk beli pakaian salin. Dengan keadaan demikian, Rosihan pulang ke Jakarta. Nasib mujur masih menaungi Rosihan. Di Jakarta, Rosihan punya kenalan seorang tentara British Indian Army (BIA) dari unit Gurkha bernama Kapten Nirmal Sen Gupta. Sang perwira Gurkha yang bekerja di stasiun radio Sekutu di Gambir Barat ini mendengar kejadian sial yang dialami Rosihan. Kapten Gupta pun berbaik hati memberikan sepasang pakaian: seragam serdadu Gurkha. Walaupun agak gombrong, apa boleh buat. Tekstil langka dan mahal pada saat itu. Jadilah Rosihan tentara Gurkha dadakan. Sejak itu, Rosihan biasa memakai uniform hijau tentara Sekutu. Orang mungkin akan menyangka Rosihan bagian dari tentara Sekutu, padahal dirinya adalah wartawan Republiken di Jakarta. “Untung, tidak ada yang bertanya mengapa saya berpakaian demikikian,” kenang Rosihan, “Sebab kalau mesti jawab, niscaya kudu mulai dengan kisah sehelai tikar sembahyang.”
- Nas yang Nahas
KETIKA Presiden Sukarno bingung mencari kandidat yang pas untuk mengisi jabatan KSAD yang –sementara dijabat Pj. KSAD Kolonel Zulkifli Lubis– kosong, Gatot Subroto menyarankannya agar memilih kembali AH Nasution bila presiden menginginkan sosok yang paling sesuai dengan keinginannya untuk memimpin Angkatan Darat. Presiden akhirnya menerima saran Gatot. Saran Gatot tentu berangkat dari pertimbangan-pertimbangan rasional. Namun di luar itu, Gatot mengenal betul karakter orang yang dicalonkannya. Gatot dan Nas, sapaan akrab AH Nasution, telah menjalin persahabatan sejak lama meski usia keduanya berbeda jauh. Beberapa pengalaman hubungan kedua jenderal mantan KNIL itu di masa Perang Kemerdekaan dituliskan Nas dalam memoarnya, Memenuhi Panggilan Tugas . Sewaktu Nas menjadi panglima Divisi Siliwangi dan Gatot panglima Divisi Sunan Gunung Jati, misalnya, keduanya sering bertemu. “Kolonel Gatot Subroto, panglima Divisi II, sehabis menginspeksi anak buahnya sering mampir di pos komando saya, mengolok dengan kata-kata, ‘Kamu terlalu zakelijk , kamu tak tahu kesenangan’,” tulis Nas dalam memoarnya. Nas biasanya membalas celetukan itu dengan celetukan pula. Suatu ketika, Gatot yang mengunjungi pos komando Nas mendapati Nas dan bawahannya sedang sarapan. Melihat menu sarapan mereka berupa jagung tua yang direbus dengan gula, Gatot enggan ikut sarapan dan melontarkan kalimat yang menyulut tawa hadirin. “Gigi-gigi saya sudah tua, tidak bisa mengunyah jagung setua begitu. Maka itu saya cari-cari makan di luar saja!” kata Gatot, dikutip Nas. Namun, persahabatan Nas dan Gatot tak melulu berisi canda-tawa. Usai Perjanjian Renville, Gatot pernah mencurigai Nas. “Rekan Kolonel Gatot Subroto mendapat laporan-laporan yang bersifat tuduhan bahwa Jenderal Mayor Nasution adalah seorang agen NICA. Laporan-laporan itu membanjir sedemikian banyaknya sehingga ia sendiri mulai bimbang mengenai diri saya,” kata Nas mengenang. Psywar tentang mata-mata musuh begitu masif pada masa itu. Biasanya yang menjadi korban adalah orang-orang yang punya keterkaitan latar belakang, entah pendidikan atau jabatan, dengan Belanda, atau orang-orang yang secara fisik mirip indo. Rohmah Soemohardjo, istri Jenderal Oerip Soemohardjo, salah satu yang mengalaminya. Ia dicuriga laskar sebagai mata-mata Belanda karena punya hubungan akrab dengan orang-orang Belanda dan kemampuan bahasa Indonesianya buruk. Akibat kecurigaan itu, Rohmah selama suatu waktu pernah mengalami ancaman pembunuhan setiap hari dan rumahnya pernah diperampok. Tuduhan sebagai mata-mata NICA yang berlanjut dengan ancaman penculikan juga menimpa KSAU Komodor Suryadarma yang punya tampilan fisik seperti bule dan latar belakang sebagai navigator di AU KNIL. “Pengumuman Belanda bahwa Komodor Suriadarma ‘diberhentikan dengan resmi dari dinas militer KNIL’ merupakan bahan provokasi yang luas pula, sehingga salah seorang anggota delegasi kita sudah benar-benar menganggap dia berada di pihak Belanda,” tulis Nasution. Tuduhan itu amat mengganggu Suryadarma. “Soeriadi sering merasa kecewa, sakit hati, kalau ia mendengar isu atau desas-desus bahwa ia seorang NICA karena ia bekas KNIL,” kata istri Suryadarma, Utami Suryadarma, dalam memoar berjudul Saya, Soeriadi, dan Tanah Air . “Mungkin juga desas-desus itu berasal dari pihak-pihak kita sendiri yang merasa iri.” Karena tuduhan yang amat mengganggu itulah Suryadarma akhirnya suatu hari membuka tantangan. “Ia pernah mengumbar secara terbuka di hadapan banyak perwira dan prajurit dengan berkata, bahwa silahkan siapa saja yang berani menculik dia, akan dihadapi dengan pistolnya yang dapat dipakainya dengan tangan kiri dan kanan. Dan seketika itu juga, ia mendemonstrasikan kelihaian ini. Sejak itu hilanglah suara-suara kelompok yang mau menculiknya,” sambung Utami. Berbeda dari Suryadarma yang merespon tuduhannya dengan cara koboi, Nas justru lebih banyak diam merespon tuduhan miring yang dialamatkan kepadanya. Kecurigaan Gatot terhadapnya hilang setelah Gatot mengutarakannya kepada Wapres Moh. Hatta dan mendapat penjelasan yang meyakinkannya. Namun ketika bertemu Presiden Sukarno, Nas akhirnya mengutarakan juga kegelisahannya. Nahas bagi Nas, alih-alih mendapatkan respon serius presiden untuk membahas solusinya, dia justru mendapati presiden bersikap seolah tak peduli sambil bercanda. “Waktu saya singgung hal itu di depan Presiden, ujar beliau dengan tertawa adalah sekadar: ‘Ah, mukamu juga seperti peranakan Indo’,” kata Sukarno dikutip Nasution.*
- Mengenang Hebatnya Dolores O’Riordan di Panggung
Vokalis band The Cranberries asal Irlandia, Dolores O’Riordan, ditemukan meninggal dunia di bak mandi kamarnya, di Hotel Park Land Hilton, London, 15 Januari 2018. Industri musik dunia gempar. Spekulasi bermunculan. Apakah Dolores bunuh diri? Catatan dokter menunjukkan kematian Dolores bukan bunuh diri, melainkan kecelakaan setelah menenggak alkohol. “Ini kecelakaan yang tragis,” ujar dokter Shirley Radclife dilansir dari washingtonpost.com . Dolores saat tampil di Jakarta pada 2011. (Fernando Randy/Historia). Semasa hayatnya, Dolores tampil cemerlang di blantika musik. Dia memulai kiprahnya bersama The Cranberries pada 1990. Grup ini tadinya bernama The Cranberry Saw Us dengan personel Niall Quinn (vokalis), kakak beradik Noel Hogan (gitaris) dan Mike Hogan (bassis), dan Fergar Lawler (penabuh perkusi). Begitu Niall Quinn keluar karena alasan sudah tidak ada kecocokan di antara mereka lagi, Dolores masuk menggantikannya. Kualitas vokal Dolores memikat Mike dan Noel. Mereka akhirnya merekrut Dolores dan mengganti nama grupnya jadi The Cranberries. Bergabungnya Dolores membawa peruntungan. Lagu-lagu The Cranberries bertengger di puncak tangga lagu Irlandia, Eropa Timur, dan Amerika Utara. Hits mereka antara lain "Ode To My Family", "Linger", "Salvation", "Dreams" dan "Zombie". Album-album mereka juga laris manis tanjung kimpul. Dolores dengan gitar andalanya saat membawakan lagu-lagu The Cranberries. (Fernando Randy/Historia). Dolores menghibur ribuan fansnya di Jakarta. (Fernando Randy/Historia). Dolores bersama The Cranberries memberikan warna baru kepada blantika musik tahun 1990. Saat itu aliran Grunge Music lagi jaya-jayanya dengan grup Nirvana sebagai kepalanya. Lalu diikuti oleh Soundgarden dan Pearl Jam. Keberhasilan penjualan album membawa The Cranberries tur keliling dunia. Hingga akhirnya mereka sampai pada titik jenuh dalam bermusik dan menyatakan vakum. The Cranberries kemudian bereuni. Tempat yang dipilihnya istimewa: Indonesia. Mereka tampil dalam acara "Java Rockin Land" di Ancol, Jakarta, pada 2011. The Cranberries mementaskan hampir semua hits -nya malam itu. Mereka sadar penggemarnya rindu setengah mampus. The Cranberries telah lama menghilang. Obat paling mujarab untuk membayar tuntas kerinduan para penggemar adalah dengan memainkan hits yang ada. Suara unik nan khas adalah salah satu andalan Dolores dalam bernyanyi. (Fernando Randy/Historia). Dolores bernyanyi seolah energinya tak akan habis. Vokalis kelahiran 6 September 1971 masih atraktif serupa pemudi usia 20-an. Dia fasih memainkan gitar dan bergonta-ganti pakaian. Dan yang membuat penggemarnya makin kesengsem, Dolores tak pelit menyapa. Malam itu benar-benar milik The Cranberries, Dolores, dan ribuan penggemarnya. Aksi bersemangat dari Dolores. (Fernando Randy/Historia). Total seluruh hits dibawakan oleh The Cranbberies di Jakarta. (Fernando Randy/Historia). Ribuan penggemar yang menyaksikan aksi panggung The Cranbberies. (Fernando Randy/Historia). Kini setelah hampir dua tahun kepergian Dolores, The Cranberries mengeluarkan album baru sebagai penghormatan untuk sang vokalis. Album itu memuat 11 lagu yang sempat mereka rekam saat masih bersama Dolores. Dimulai dari singel berjudul "All Over Now" dan berakhir pada "In The End" yang menjadi tajuk album mereka. Tanpa lelah Dolores dan The Cranberries tampil di hadapan para penggemar mereka. (Fernando Randy/Historia). Album penghormatan itu ternyata masuk nominasi untuk kategori album rock terbaik dalam ajang Grammy Awards 2020. Dolores boleh jadi sudah bernyanyi di surga sana. Tapi sisa-sisa suaranya masih nyantol kuat di dunia sini. Selamat jalan, Dolores. Usai sudah penampilan The Cranbberies dan Dolores di Jakarta. (Fernando Randy/Historia).
- Penerjunan Tenaga Medis pada Wabah di Hindia Belanda
UNTUK menangani pandemi Covid-19, Pemerintah Kota Jakarta Timur akan mengerahkan 2.500 tenaga medis muda. Pemilihan tenaga medis muda ini menurut Ketua Tim Satgas COVID-19 Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Jakarta Timur Tedy Harto, karena mereka memiliki imun tubuh lebih baik daripada dokter senior. Tenaga medis muda tersebut rencananya disalurkan secara bergelombang ke sejumlah tempat layanan kesehatan di Jakarta Timur. Pada tahap pertama, sebanyak 2.000 hingga 2.500 dokter muda akan dikirim ke lapangan. "Tim medis yang akan dikerahkan sebelumnya kami berikan pembekalan dengan matang dan kami seleksi yang muda-muda," ujar Tedy sebagaimana diberitakan tempo.co, Kamis, 9 April 2020. Pengerahan tenaga medis dalam skala besar juga pernah dilakukan kala wabah cacar melanda Hindia Belanda pada abad ke-19. Pemerintah kolonial mengirimkan manstri-mantri cacar ke desa-desa agar vaksinasi atau pencacaran bisa dilakukan secara menyeluruh. Vaksin cacar sendiri baru ditemukan pada 1798 oleh dokter Inggris Edward Jenner. Setelah vaksin temuan Jenner bisa diproduksi massal di Belanda beberapa tahun kemudian, pemerintah Belanda mengirimkannya ke Hindia Belanda. Namun sayang, vaksin tersebut tidak efektif dipakai di koloninya. Dua faktor besar yang mempengaruhi ialah cuaca dan lama waktu kirim. Lamanya pengiriman lewat kapal membuat vaksin jadi rusak karena cuaca laut yang panas. Belum lagi lama waktu pengiriman mengurangi efektivitas vaksin cacar dari Inggris. Untuk menanggulanginya, pemerintah akhirnya memproduksi sendiri vaksin di Hindia Belanda. Begitu ketersediaan vaksin dipastikan cukup untuk mencacar penduduk pribumi (khususnya anak-anak), mantri-mantri dikerahkan ke desa-desa. Para mantri yang kemudian disebut mantri cacar itu sebelumnya telah dilatih oleh para dokter Eropa di rumahsakit di tiga kota besar di Jawa. Namun, pelatihan untuk para vaksinator umumnya hanya difokuskan pada pemberian suntikan dan pembelajaran untuk membedakan fitur-fitur vaksin. Teori kesehatan tidak diajarkan pada mereka. Dalam “Dari Mantri Hingga Dokter Jawa”, Baha’udin menyebut kala Thomas Raffles menjabat sebagai Gubernur Hindia Belanda, vaksinasi cacar dilakukan secara besar-besaran. Petugas vaksin tak hanya ditempatkan di kota besar seperti Surabaya, Semarang, dan Batavia. Penempatan mereka mencapai Jepara, Pasuruan, Bangil, dan Probolinggo. Sepanjang penelusuran Historia, tidak ditemukan angka pasti jumlah mantri cacar yang diterjunkan pemerintah kolonial. Yang pasti, jumlah petugas medis ditambah mengingat luasnya cakupan wilayah pencacaran. Pengerahan mantri cacar menurun pada 1850 semasa kepemimpinan pengawas vaksin A.E. Wazklewicz. Penyebabnya, para penduduk pribumi diminta mengantar anak mereka ke pusat vaksin yang jaraknya cukup jauh. Beberapa penolakan tentu terjadi mengingat pencacaran jadi hal baru bagi masyarakat pribumi. Untuk mengurangi penolakan, pemerintah menggunakan bantuan penghulu (pemimpin agama Islam) sebagai asisten. Liesbeth Hesselink mengisahkan dalam Healers on the Colonial Market , enam petugas vaksin perempuan di Jakarta sekitar tahun 1850 dipekerjakan lantaran perempuan pribumi dan anak perempuan yang sudah menikah tidak ingin divaksinasi oleh laki-laki. Vaksinator perempuan sebelumnya sudah dilatih dengan baik karena pekerjaan mereka sulit untuk dipantau. Selain itu, mantri cacar juga mendampingi dokter dalam tugas dinas mobil yang keliling mengantar petugas medis untuk berkujung ke desa-desa. Ada pula mobil yang dirancang untuk melakukan penyuluhan keliling. Pada penanganan kasus malaria, pelatihan mantri malaria dilakukan untuk menambah jumlah tenaga medis. Dosen IAIN Surakarta Martina Safitry menulis dalam tesisnya di UGM, “Dukun dan Mantri Pes”, kursus pertama diadakan di Batavia pada 1926. Sebanyak 134 orang lulus setahun berikutnya. Para mantri malaria itu ditugaskan menangkap dan mengklasifikasikan nyamuk juga larva di sekitar tempat terjangkit. Mereka juga diminta untuk membuat dan memeriksa sampel darah penderita, mengawasi pembuatan saluran air, dan sebagai agen penyuluh penanggulangan malaria. Sementara, pada penanganan penyakit pes, pemerintah juga menerjunkan mantri pes untuk mengatasi masalah kesehatan ini. Mereka merupakan para pemuda bumiputra yang sebelumnya dilatih menjadi mantri. Tugas awal mereka ialah memberi penerangan tentang penyakit pes hingga ke pelosok Jawa. “Mantri pes selain bantu dokter Jawa dan dokter Eropa dia juga bertugas untuk awasi perbaikan rumah,” kata Martina kala dihubungi Historia. Pada 1914, muncul usulan untuk menggandeng Palang Merah Internasional untuk mengendalikan wabah pes. Para perawat Eropa didatangkan ke Hindia Belanda untuk melatih perempuan pribumi tentang perawatan kesehatan dan penanggaulanagan pes. Selain itu, jumlah mantri pes diperbanyak dari sebelumnya yang hanya satu mantri polisi dan satu mantri pes untuk satu distrik. “Pada 1915 berdiri satu dinas sendiri, ada tim peneliti untuk mencari cara menyambuhkan pes, dan penelusuran pasien terjangkit berserta keluarganya,” kata Martina. Setelah itu, jumlah orang yang dimasukkan ke barak diseleksi. Mulanya, penduduk yang berjarak 100 meter dari rumah penderita pes wajib dikarantina, tak jarang malah satu desa dikarantina di barak isolasi. Sejak ada proses seleksi, hanya orang-orang yang pernah kontak dengan penderita atau orang yang dianggap berpotensi tertularlah yang diisolasi. Namun, terlepas dari semua tindakan pencegahan pada wabah pes, kampanye skala besar juga menimbulkan kecurigaan pribumi. Penduduk yang masih awam menyebut prosedur desinfeksi sebagai sihir jahat yang dilakukan oleh Belanda. Di beberapa tempat, biopsi limpa –untuk menentukan penyebab kematian apakah pes atau bukan– mendapat penolakan. Bahkan, kata Liesbeth, ada seorang mantri dirajam karena keawaman penduduk pada prosedur biopsi tersebut.*
- Ketika Bung Sjahrir Pergi
MINGGU pagi, 10 April 1966. Dalam suasana Paskah, Jakarta yang baru saja tenang dari demonstrasi-demontrasi mahasiswa tetiba terhenyak. Antara menyiarkan sebuah berita duka: Sutan Sjahrir meninggal di Zurich (Swis). Kantor Berita milik pemerintah Republik Indonesia (RI) itu mengutip keterangan dari seorang jurnalis Reuters (Kantor Berita Kerajaan Inggris). “ Reuters sendiri mendapat berita itu dari seorang petugas rumah sakit tempat Sjahrir dirawat,” ungkap wartawan senior, Rosihan Anwar dalam Perdjalanan Terachir Pahlawan Nasional Sutan Sjahrir. Tokoh pejuang sekaligus Perdana Menteri Republik Indonesia pertama itu pergi meninggalkan seorang istri, Siti Wahjuni Poppy Saleh (yang dinikahinya pada 1951) dan putra-putri yang masih kecil: Krya Arsjah alias Buyung (9) dan Siti Rabyah Parvati alias Upik (5).
- Jenderal Jusuf dan Para Wartawan
BISA dikatakan Jenderal TNI M. Jusuf adalah Panglima ABRI yang paling disenangi wartawan pada masanya. Selain dikenal ramah terhadap kuli tinta, Jusuf juga tidak “pelit” berbagi dengan mereka. Jusuf membuktikan itu dengan kebiasaan mengajak para wartawan untuk meliput perjalanan dinasnya. “Antara tahun 1978-1983, Jusuf identik dengan perjalanan keliling Indonesia. Perjalanan pun identik dengan hidup, makan, tidur di dalam perut (pesawat) Hercules,” tulis Atmadji Sumarkidjo dalam Jenderal M. Jusuf: Panglima Para Prajurit . Bagi kalangan wartawan, kunjungan ke penjuru negeri ini disebut sebagai “Safari Jusuf”. Hampir sebagian besar perjalanan Jusuf ke luar kota diawali pada dini hari. Artinya, berangkat sekitar pukul 05.00 pagi. Maka bagi wartawan yang diajak untuk meliput sudah dijemput oleh staf Menhankam pada pukul 02.00-03.00 dini hari. Jusuf punya aturan terhadap para wartawan yang berkesempatan mengikuti safarinya. Mereka harus mengenakan seragam serba hijau, baik seragam formal ataupun lapangan (Pakaian Dinas Lapangan). Di balik aturan itu terselip alasan khusus. “Supaya mereka menghayati dan merasakan denyut nadi para prajurit ABRI,” kata Jusuf ditirukan Atmadji. Sekira 30 menit setelah pesawat berangkat dari Pangkalan Halim Perdanakusumah, Jusuf suka melakukan inspeksi dalam pesawat. Dia melihat siapa-siapa saja penumpang yang jadi anggota rombongan. Kesempatan itu juga yang selalu digunakan Jusuf untuk menyapa para wartawan. Kadang-kadang Jusuf memberikan informasi kepada wartawan mengenai tujuan yang harus dicapai dalam kunjungan tersebut. Pembicaraan Jusuf dengan wartawan acap kali diselingi canda. Bagi yang sudah dikenalnya baik, Jusuf kerap melayangkan tanya, “Bagaimana kabarmu? Baek-baek saja kan?” Jusuf juga tidak sungkan memperhatikan penampilan wartawan yang terlihat agak urakan. Misalnya, jika dilihatnya ada wartawan yang gondrong, Jusuf akan berseloroh, “Kau rapikan sedikit rambutmu ya, biar kelihatan bagus.” Di dalam pesawat, Jusuf tidak senang kepada mereka yang punya kebiasaan merokok. Dia bisa marah kalau melihat asap membubung, sekalipun terhadap sesama perwira tinggi. Namun Jusuf toleran kalau soal tidur. Jusuf senang jalan ke kabin belakang dan mengamati para penumpang yang tertidur lelap. Beberapa jam kemudian dalam suasana yang santai, dia sering meledek para wartawan. “Wah enak sekali kalian ini, sudah nggak bayar naik pesawat terbang, tidurnya pulas pula,” celoteh Jusuf . Siapapun tidak ada yang marah karena tahu bahwa itu sekedar senda gurau belaka. Setiap kali ikut serta meliput kunjungan kerja Jusuf di daerah, semua kebutuhan wartawan ditanggung. Mulai dari transportasi, makan, hingga akomodasi. Mereka yang sudah jadi langganan tetap masuk kategori “rombongan sirkus”. Namun ada pula wartawan yang diajak secara dadakan. Suatu siang usai rapat kerja DPR, empat orang wartawan menunggu Jusuf untuk melakukan wawancara. Ketika Jusuf berjalan ke luar ruangan, otomatis para wartawan mengerumuninya sambil menyodorkan alat perekam. Namun Jusuf sedang dalam kondisi kurang mood untuk diwawancarai. Dengan tongkat komandonya, dia menunjuk satu-satu ke perut wartawan itu. “Aku sedang malas bicara. Kau, kau, kau, dan kau, ikut aku saja sekarang ke Halim! Kita berangkat ke Medan satu jam lagi,” ujar Jusuf spontan. Dengan cepat, staf Jenderal Jusuf mencari sebuah mobil untuk menaikan para wartawan itu. Keempat wartawan tadi pun diangkut dalam keadaan setengah bengong . Setibanya di Medan, barulah mereka punya waktu untuk buru-buru membeli sikat gigi, odol, pakaian dalam dan baju ganti. Salah satu wartawan yang beruntung selalu mengikuti kunjungan Jusuf ialah Atmadji Sumarkidjo. Ketika itu, Atmadji masih seorang reporter muda harian Sinar Harapan . Menurut Atmadji, hubungannya dengan Jusuf pada awalnya sebatas profesionalitas antara wartawan dengan narasumbernya. “Kemudian hubungan tersebut berkembang menjadi hubungan pribadi yang amat berkualitas dan tak pernah satu kali pun terhenti hingga Pak Jusuf wafat,” kenang Atmadji. Hubungan karib tersebut dimulai dengan perhatian khusus yang diberikan oleh istri Jusuf, Elly Jusuf Saelan atas tulisan-tulisan yang dimuat di surat kabar Sinar Harapan . Atmadji kemudian dipercaya untuk menuliskan biografi M. Jusuf yang berjudul Jenderal M. Jusuf: Panglima Para Prajurit. Seiring waktu, karier jurnalis Atmadji kian menanjak di Sinar Harapan . Namanya pun malang melintang di dunia media maupun penerbitan tanah air. Kini Atmadji lebih dikenal aktif sebagai staf khusus Menteri Kordinator Bintang Kemaritiman Luhut Binsar Pandjaitan.*
- Krisis Ekonomi Masa Sukarno
KRISIS ekonomi beberapa kali mewarnai sejarah Indonesia. Penyebabnya beragam: bisa karena pengaruh perubahan dunia luar atau lantaran dinamika politik dalam negeri. Untuk penyebab kedua, Indonesia mengalaminya pada dekade 1960-an. Banyak orang terkapar menyusul krisis itu. Tapi segelintir kecil lainnya justru makmur.
- Naskah-naskah tentang Jamu
Jamu sempat diburu karena dianggap dapat menangkal virus corona (Covid-19). Banyak orang memang meyakini khasiat jamu dalam mencegah dan mengobati berbagai penyakit. Jejak pengobatan warisan leluhur ini dapat ditelusuri hingga masa prasejarah. Manusia purba sudah memanfaatkan tetumbuhan sebagai obat. Buktinya berupa alat batu pipisan untuk menghaluskan biji-bijian dan tanaman yang tersimpan di Museum Nasional, Jakarta. “Alat ini hampir pasti digunakan untuk perawatan kesehatan sehari-hari dengan ditemukannya sisa bubuk dan ekstrak tanaman padanya,” tulis Susan-Jane Beers dalam Jamu: The Ancient Indonesian Art of Herbal Healing . Pemanfaatan tanaman sebagai obat kemudian ditemukan dalam naskah-naskah kuno masa Hindu-Buddha. Setelah budaya tulis makin kuat, paling tidak sejak abad ke-17, pemanfaatan jamu mulai ditulis dalam manuskrip-manuskrip dan menjadi tradisi turun-temurun. Dwi Cahyono, arkeolog dan pengajar sejarah di Universitas Negeri Malang, mengatakan ilmu pengobatan kuno terekam di sejumlah pustaka. Terutama yang menggunakan unsur sebutan usadha . Misalnya, Usadha Jawa dan Usadha Bali . Dwi menjelaskan istilah usadha atau kadang ditulis osadha dan husadha mengandung arti obat. “Hingga kini istilah usada , perubahan dari bentuk sebelumnya, masih lazim digunakan sebagai nama apotek, rumah sakit, atau tempat pengobatan lainnya,” kata Dwi. Selain itu, ada juga manuskrip Serat Primbon Jampi Jawi Jilid I dan Serat Primbon Racikan Jampi Jawi Jilid II. Menurut Hesti Mulyani, dosen pendidikan bahasa Jawa Universitas Negeri Yogyakarta, naskah-naskah ini memuat uraian racikan jamu asli Jawa, khususnya bagi para bangsawan. “Sejak zaman dulu, zaman kerajaan, gaya hidup sehat sangat diperhatikan dengan memanfaatkan tanaman obat atau herbal sebagai bahan perawatan kecantikan, kebugaran, dan pengobatan,” tulis Hesti dalam “Pengobatan Tradisional Jawa Terhadap Penyakit Bengkak dalam Manuskrip Serat Primbon Jampi Jawi Jilid I dan Serat Primbon Racikan Jampi Jawi Jilid II Koleksi Surakarta”, yang terbit di Prosiding Seminar Nasional Meneguhkan Peran Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat dalam Memuliakan Martabat Manusia . Serat Primbon Jampi Jawi ditulis sekira abad ke-18 pada masa Hamengkubuwono II. Di dalamnya tertulis berbagai macam herbal. Bagian tumbuhan yang berasal dari daun, rimpang, akar, dan kulit kayu dari berbagai jenis tanaman diolah secara tradisional untuk mempertahankan kecantikan dan kebugaran perempuan bangsawan. Hesti menjelaskan, bagian rimpang misalnya. Di dalam manuskrip Serat Primbon Jampi Jawi disebutkan beberapa janis yang berkhasiat. Di antaranya rimpang jahe, kencur, kunyit, kunci, lempuyang, sunthi, temulawak, bengle, dan dringo . B agian umbi tanaman yang biasa digunakan sebagai bahan racikan jamu adalah bawang merah dan bawang putih. Sementara kulit kayu atau kulit batang berasal dari kayu manis, secang, mesoyi, rasuk angin, dan kelembak. Bahan dari dedaunan adalah pupus anggur, asam jawa (kering), gondhangkasih, inggu prêman , jempinah, pupus kara, karandang, lampes, menirang, bawang cina, pegagan, seruni, saraband, saga (kering), walu, waru, dan trawas. J enis bunga, buah, dan biji yang berkhasiat antara lain bunga cengkih dan waru; buah asam, kemukus, labu putih, pala, isi sawo; dan biji adas, jinten, kedhawung, ketumber, dan mungsi. B ahan pelengkap yang biasa dipakai adalah dupa cina, garam, inggu, tambakau, dan terasi merah. C airan sebagai campuran bahan ramuan jamu yaitu air jeruk nipis, air jeruk purut, air panas, air tawar, air perasan daun iler, air susu ibu, dan cuka. Sumber tertulis lainnya adalah Serat Centhini . Karya ini ditulis atas perintah Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Anom Amengkunegara III yang memerintah Surakarta (1820–1823). Ia adalah putra Pakubuwono IV (1788–1820). Penyusunannya dipimpin Ki Ngabehi Ranggasutrasna, didampingi Raden Ngabehi Yasadipura, Raden Ngabehi Sastradipura. Mereka dibantu Pangeran Jungut Mandurareja dari Klaten, Kiai Kasan Besari dari Panaraga, dan Kiai Mohammad Mindad dari Surakarta. Dalam Serat Centhini, tumbuhan obat digunakan untuk menjaga kesehatan, mencegah penyakit, mengurangi sakit, penyembuhan, dan mempercantik diri. Menurut serat ini tanaman bahan jamu dapat digunakan untuk mengobati penyakit panas dingin, batuk, mata, bisul, susah kencing, susah kentut, dan masalah stamina pria. Naskah ini memuat dengan lengkap cara pengobatannya . Dilengkapi dengan uraian jenis bahan tanaman dan cara memakainya. Ada yang cara pengobatannya dengan diminum setelah diambil sarinya, dikunyah, ditempelkan pada dahi ( pilis ), dioleskan pada perut ( tapel ), dioleskan pada badan ( parem ), untuk merendam bagian badan ( rendhem ), ditempelkan atau diteteskan pada bagian yang sakit, dan disemburkan ke bagian tubuh yang diobati ( sembur ). Di luar cara-cara itu, menurut Murdijati Gardjito, Guru Besar Ilmu dan Teknologi Pangan Universitas Gadjah Mada, Serat Centhini juga menunjukkan bahwa masyarakat Jawa selalu melibatkan Tuhan dalam penyembuhan penyakit. Misalnya dalam membuat obat penyakit telinga yang tuli. Diperlukan bahan seperti tujuh butir merica, akar kelor, empedu ayam hitam, dan minyak wijen. Ramuannya lalu diteteskan pada lubang telinga yang tuli sambil membaca palak binas atau Surat Al-Falaq dan An-Naas tiga kali. “Berbagai bahan tanaman jamu yang digunakan ada yang masih dapat kita jumpai pada masa sekarang, adapula yang sudah sulit dijumpai atau bahkan belum pernah didengar namanya,” tulis Murdijati dalam Jamu Pusaka Penjaga Kesehatan Asli Indonesia . Selain Serat Centhini , dalam Serat Kawruh terdapat 1.166 resep di antaranya 922 resep tentang ramuan bahan alam . Khususnyadalam bab Jampi-Jampi Jawi terdapat 244 resep berupa catatan rajah dan jimat. Isinya adalah gambar-gambar doa, rapal, dan mantra. “ Serat Kawruh disusun pada 1831 atas perintah Pakubuwono V. Isinya kumpulan ramuan obat asli Jawa,” kata Murdijati. Ada juga buku tentang jamu karya Johanna Maria Carolina Versteegh (setelah menikah menjadi Jans Kloppenburg-Versteegh) yang ditulis pada 1907. Buku berjudul Indische Planten en Haar Geneeskracht (Tanaman Asli Hindia dan Daya Penyembuhnya) itu berisi uraian singkat mengenai nama daerah asal tumbuhan, nama latin, morfologi, dan bagian dari tanaman yang bisa digunakan. Termuat pula resep pengobatan dan cara memelihara kesehatan yang dilakukan orang Jawa berdasarkan pengamatannya. Terdapat 1.467 petunjuk bagaimana mengatasi gangguan kesehatan menggunakan bahan ramuan jamu Jawa. “Banyak pasien yang datang ke Kloppenburg-Versteegh, reputasinya sebagai penyembuh menyebar cepat. Publikasi penemuannya adalah suatu warisan berharga sebagai pedoman dalam dunia pengobatan herbal,” kata Murdijati. Alternatif Mujarab Agaknya pengobatan tradisional warisan leluhur ini dapat dipercaya khasiatnya. Pasalnya,ada hukuman bagi mereka yang asal-asalan mengobati orang sakit. Khususnya pada masa Majapahit, kegagalan dalam melakukan pengobatan diancam hukuman cukup berat. Aturan itu tertuang dalam Kitab Undang-Undang Majapahit, Kutaramanawa atau Agama . Dari 275 pasal, ada pasal yang berisi sanksi bagi yang gagap mengobati hingga berujung kematian pada hewan atau manusia. Apabila gagal mengobati hewan sehingga hewannya mati, maka didenda empat kali tiga atak . Satu atak setara 200 picis , satuan untuk menyebut mata uang tembaga Cina. Jika yang diobati manusia dan malah mati, maka didenda selaksa atau satu laksa setara 10.000 picis . Apabila yang diobati seorang brahmana dan mati, maka ia diganjar hukuman mati oleh raja. “Ini mengingatkan kita kepada apa yang sekarang disebut dengan malapraktik,” kata Dwi. Namun, menurut Dwi, sebagai obat tradisional, khasiat jamu tidak serta merta menyembuhkan penyakit. Lebih sering jamu harus dikonsumsi teratur secara berangsur-angsur. Kendati hanya diposisikan sebagai obat alternatif, jamu tak pernah ditinggalkan oleh para penggunanya. “Ketika merasa mentok oleh cara medis dan obat-obatan modern, ” kata Dwi, “ orang masa kini beralih ke pengobatan tradisional, yang boleh jadi lebih memiliki kemujaraban. ”





















