top of page

"Tak Perlu Menunggu Ludah itu Kering, Kau Kutembak!"

Pengalaman Letnan Kolonel A.E. Kawilarang dan Mayor Ibrahim Adjie saat ditugaskan mengatasi pertikaian antara pejuang Indonesia di Sumatera Utara.

loading_historia_white.gif
transparant.png
  • 14 Apr 2020
  • 3 menit membaca

Akhir Mei 1948, pemerintah Republik Indonesia (RI) via Markas Besar Tentara (MBT) di Yogyakarta menugaskan Letnan Kolonel A.E.Kawilarang untuk berangkat ke Sumatera. Bersama Mayor Ibrahim Adjie, Letnan Satu Abu Amar dan Letnan Dua Hutabarat, Alex mendapat misi untuk menuntaskan pertikaian antar tentara Indonesia di Sumatera.


Komandan Brigade II Surjakantjana Divisi Siliwangi itu merasa penasaran, apa yang menyebabkan dia harus pergi ke wilayah yang sama sekali belum dikenalnya itu. Guna mememenuhi kepenasaran itu, Alex bahkan pernah bertanya langsung kepada Wakil Presiden sekaligus Menteri Pertahanan ad interim Mohammad Hatta.


“Di Tapanuli dan Sumataera Timur harus ada komandan yang bukan berasal dari Jawa atau Sumatera. Di sana harus dilakukan pembersihan. Banyak serobotan, lucut melucuti, kurang disiplin dan lagi banyak korupsi,” jawab Bung Hatta.


Sebagai catatan, di wilayah Tapanuli memang saat itu sedang terjadi “perebutan wilayah” antara tentara Indonesia sendiri. Mereka yang terlibat berasal dari kesatuan tentara yang dipimpin oleh Mayor Bedjo dan para pejuang yang ada di bawah Mayor L. Malao.


“Alhasil saya merasa terpilih sebagai “tukang bersih-bersih”. Jadilah!” ujar Alex seperti dituliskan dalam otobiografinya, Untuk Sang Merah Putih (disusun oleh Ramadhan KH).

Singkat cerita, berangkatlah Alex dan rombongan ke Sumatera pada Agustus 1948. Selama belum ada penugasan rinci, untuk sementara mereka ditempatkan di Bukittinggi, Sumatera Barat.


November 1948, Alex ditunjuk menjadi Komandan Sub Teritorial VII. Sebagai pimpinan wilayah, dia harus mulai membereskan kekacauan-kekacauan yang ada di Tapanuli, Sumatera Timur Selatan. Langkah pertama yang dia lakukan adalah membubarkan brigade-brigade yang ada lalu menggantinya dengan sektor-sektor. Setidaknya ada 4 sektor yang dia bentuk untuk menghadapi kemungkinan agresi militer Belanda yang kedua kalinya.


Pembentukan sektor-sektor otomatis diikuti dengan perpindahan wilayah kekuasaan masing-masing kekuatan bersenjata yang ada saat itu. Sebagai contoh Pasukan Sektor I harus meninggalkan Sibolga digantikan oleh Pasukan Sektor IV dan Sektor S.


Aturannya Pasukan Sektor IV dan Sektor S dipersilakan masuk Sibolga usai Pasukan Sektor I pergi. Namun karena ada kesalahpahaman beberapa unit Pasukan Sektor S sudah mulai mendekati Sibolga, sementara saat itu Pasukan Sektor I masih ada di kota tersebut.


Untuk mencegah keributan karena pertemuan dua pasukan yang tadinya bermusuhan itu, maka Letnan Kolonel Alex  mengutus Letnan Dua David Munthe untuk mengingatkan komandan Pasukan Sektor S untuk tidak masuk dulu ke Sibolga. Alih-alih disanggupi, komandan Sektor S malah mengancam Letnan Dua David dengan todongan pistol.


“Besok paginya, saya panggil perwira yang menodong Munthe itu…” kenang Alex.

Belum selesai melakukan teguran, Sang Perwira malah menyemprot Alex duluan. Sambil menggebrak meja, dia menolak mentah-mentah perintah atasannya itu untuk jangan dulu memasuki Sibolga.


Bak mitraliur, Si Perwira terus nyerocos. Alex yang tadinya akan melakukan teguran juga terkait penodongan Munthe, memilih untuk  menahan diri, menunggu dulu sampai teriakan-teriakan sang perwira selesai. Setelah dia diam, sambil menggebrak meja hingga gelas-gelas di atas meja berjatuhan, Alex langsung balas memaki-maki Komandan Sektor S tersebut.


“Sekarang dalam kondisi aman, kau mau aksi-aksian masuk Sibolga! Tahu kau, kalau kau dan pasukanmu  masuk Sibolga sekarang lalu bentrok dengan Pasukan Sektor I, siapa yang menjadi korban? Rakyat dan tentara lagi! Mana tanggungjawabmu?! Mana disiplinmu?! Kau malah mau bermain-main koboy-koboyan dengan pistol. Memuakan! Pengecut memang biasa begitu! Tunggu sampai Aksi II, baru kau boleh mencabut pistolmu kepada lawan!”


Sejumlah kalimat lagi masih dilontarkan Alex. Dia betul-betul memarahi Komandan Sektor S. Namun di luar dugaan, tetiba Si Komandan bangkit dan berdiri. Bersikap tegap sambil memberi hormat kepada Alex.


“Saya taat perintah!” katanya dalam nada tegas.


Sikap membangkang juga pernah dilakukan oleh salah satu pasukan yang akan dipindahkan dari Sibolga. Waktu itu giliran Mayor Ibrahim Adjie yang harus  menghadapi komandannya yang dikenal garang dan tak jarang main tembak begitu saja.


Mayor Adjie lantas memanggil sang komandan. Alih-alih menuruti perintah, dia malah menyuruh Adjie untuk datang langsung ke markasnya. Kendati merasa kesal, perwira yang berasal dari Divisi Siliwangi itu berusaha menahan diri. Dia mengalah dan lantas mendatangi markas pasukan yang membandel itu.


“Ayah saya bilang, mereka biasanya hanya menguji nyali para komandan saja,” tutur Kiki Adjie, salah seorang putra dari Ibrahim Adjie.


Perundingan pun terjadi. Si Komandan bersikeras tidak akan pindah. Dia malah mengusir Adjie dan menyebut tidak mengakui kepemimpinannya. Adjie pun bersikeras dalam sikap tegas. Tetiba di tengah percekcokan itu, sang komandan mengeluarkan pistol, menyimpannya di meja lalu meludahinya.


“Kau aku kasih kesempatan untuk pergi dari sini sampai ludah di pistolku itu kering. Jika tidak, kau kutembak!” teriaknya menantang.


Di luar dugaan Si Komandan, Adjie malah menyambar pistol berludah itu lalu menodongkannya ke kepala Si Komandan.


“Tak perlu menunggu ludah itu kering, sekarang juga kau aku tembak jika tidak ikut perintahku!” ujar Adjie.


Dalam sikap ketakutan, Si Komandan akhirnya menyanggupi permintaan Mayor Adjie. Sejak kejadian itulah para komandan di Tapanuli tak pernah lagi membantah perintah-perintah yang datang dari Alex dan Adjie.

Komentar

Dinilai 0 dari 5 bintang.
Belum ada penilaian

Tambahkan penilaian
bg-gray.jpg
Prasasti Tugu turut meriwayatkan Kali Bekasi dan Kali Cakung Lama. Satu dari tujuh prasasti penting warisan Tarumanagara.
bg-gray.jpg
This is a story of a watch repairman who contributed to Christianization in Surabaya, Indonesia. He wanted Javanese Christians to be like the Dutch.
bg-gray.jpg
Jambi termasuk daerah sulit direbut pasukan payung dan Gadjah Merah Belanda. Diprioritaskan untuk direbut karena menjadi penghasil minyak buat Indonesia.
bg-gray.jpg
Before Tarumanagara, there was a civilization called Buni. What is the story of Tarumanagara's origin?
Keluarga keturunan Italia ini keluarga tentara. Ada yang harum namanya, ada pula yang suram.
Keluarga keturunan Italia ini keluarga tentara. Ada yang harum namanya, ada pula yang suram.
Setelah Jerman kalah dalam Perang Dunia II, pasukan Soviet berusaha mencari jenazah Adolf Hitler. Penemuan jenazah mirip Hitler memicu spekulasi bahwa pemimpin Nazi itu memiliki doppelgänger atau sosok pengganti.
Setelah Jerman kalah dalam Perang Dunia II, pasukan Soviet berusaha mencari jenazah Adolf Hitler. Penemuan jenazah mirip Hitler memicu spekulasi bahwa pemimpin Nazi itu memiliki doppelgänger atau sosok pengganti.
Dituding membocorkan rahasia negara, Asa Bafagih menjadi wartawan pertama yang dilaporkan ke Kejaksaan Agung. Peristiwa Bafagih sekaligus yang pertama dalam sejarah pers Indonesia ketika hak ingkar wartawan berhasil dipertahankan.
Dituding membocorkan rahasia negara, Asa Bafagih menjadi wartawan pertama yang dilaporkan ke Kejaksaan Agung. Peristiwa Bafagih sekaligus yang pertama dalam sejarah pers Indonesia ketika hak ingkar wartawan berhasil dipertahankan.
Tradisi mudik Lebaran menjadi salah satu mobilitas penduduk terbesar yang terus meningkat seiring pertumbuhan ekonomi dan perkembangan transportasi serta infrastruktur. Grafik berikut memperlihatkan dinamika kenaikan dan penurunan jumlah pemudik di Indonesia.
Tradisi mudik Lebaran menjadi salah satu mobilitas penduduk terbesar yang terus meningkat seiring pertumbuhan ekonomi dan perkembangan transportasi serta infrastruktur. Grafik berikut memperlihatkan dinamika kenaikan dan penurunan jumlah pemudik di Indonesia.
Propaganda perang terus bergonta-ganti wahana seturut perkembangan teknologi. Bila Indonesia punya K’Tut Tantri, dulu Blok Poros juga punya propagandis perempuan lewat radio. Kini Iran pakai AI untuk “nge-troll” Amerika.
Propaganda perang terus bergonta-ganti wahana seturut perkembangan teknologi. Bila Indonesia punya K’Tut Tantri, dulu Blok Poros juga punya propagandis perempuan lewat radio. Kini Iran pakai AI untuk “nge-troll” Amerika.
Kerajaan ini tercatat sebagai kerajaan tertua di Jawa. Raja Purnawarman, sebagai raja yang paling terkenal pernah menghadiahkan 1000 ekor sapi.
Kerajaan ini tercatat sebagai kerajaan tertua di Jawa. Raja Purnawarman, sebagai raja yang paling terkenal pernah menghadiahkan 1000 ekor sapi.
transparant.png
bottom of page