Hasil pencarian
9860 hasil ditemukan dengan pencarian kosong
- Hikayat Kopi di Tanah Jawa
TAHUN 1656, Belanda berhasil mengusir orang-orang Portugis dari Ceylon (Srilanka). Di wilayah tersebut, mereka menemukan hektaran kebun kopi yang terbengkalai. Rupanya lahan itu milik orang-orang Arab yang ditinggalkan ketika Ceylon diduduki Portugis. Mengetahui potensi ekonomis-nya di pasaran dunia saat itu, VOC (Maskapai Perdagangan Hindia Timur) lantas menyewa seorang pakar botani bernama Carolus Linnaeus. Lewat proses penelitian bertahun-tahun, Linnaeus berhasil menemukan teknik pembudidayaan tanaman kopi. “Linnaeus lantas menamakan tanaman kopi hasil budidaya-nya itu dengan Arabica,”tulis Gabriella Teggia dan Mark Hanusz dalam A Cup of Java . Menurut pakar sejarah kopi Prawoto Indarto, istilah “Arabica” mengacu kepada orang-orang Arab yang kali pertama mengelola tanaman kopi itu di Ceylon. Bahkan ada anggapan di kalangan orang-orang Belanda bahwa tanaman kopi berasal dari tanah Arabia. “Kalau memakai terjemahan bebas, Arabica itu kurang lebih berarti ‘tanamanya orang-orang Arab’,” ujar Prawoto. Berdasarkan hasil risetnya, Linnaeus yakin bahwa tanaman kopi Arabica dapat berkembang secara maksimal di wilayah beriklim sub-tropis dengan hawa pegunungan yang sejuk. Pendapat sang pakar itu menjadikan salah seorang anggota De Heeren Zeventien (Tuan Tujuh Belas, para pemegang saham VOC) yang juga menjabat sebagai walikota Amsterdam Nicholas Witsen pada 1696 memerintahkan Andrian van Ommen (Komandan Angkatan Perang VOC di Pantai Malabar,India) untuk mengirimkan benih kopi Arabica ke Batavia. Sesampai di Batavia, benih kopi Arabica lantas ditanam di Kedawung (tanah milik Gubernur Jenderal Willem van Outhoorn (1691—1704). Namun karena seringnya banjir melanda desa di wilayah yang sekarang terletak di Tangerang Selatan itu, maka uji tanam tersebut mengalami kegagalan. Pada 1699, seorang pejabat VOC bernama Hendricus Zwaardecroon kembali mencoba peruntungan dengan menanam benih Arabica di wilayah bantaran Sungai Ciliwung seperti Bifara Cina (Bidaracina), Kampung Melayu, Meester Cornelis (Jatinegara) dan wilayah-wilayah lain seperti Sukabumi dan Sudimara (Tangerang Selatan). “Percobaan kedua itu ternyata sukses,” ungkap Teggia dan Hanusz. Hasil tanaman kopi yang ditanam oleh Zwaardecroon itu lantas dibawa ke Balai Penelitian Botani Amsterdam pada 1706. Berdasarkan riset di sana kualitas kopi dari Jawa itu mutunya ternyata sangat baik. Setahun kemudian, benih Arabica dari Jawa tersebut diperbanyak lewat biji lalu disebar ke kebun-kebun botani di Eropa, termasuk kebun milik Raja Lois XIV. Akhir 1707, Gubernur Jenderal Joan van Hoorn (1704—1709) memberitahukan kepada De Heeren Zeventien bahwa dia telah membagikan tanaman kopi Arabica kepada beberapa bupati di sepanjang pantai Batavia sampai Cirebon. “Dia membagikan itu hanya sekadar untuk kesenangan semata,” tulis Jan Breman dalam Keuntungan Kolonial dari Kerja Paksa: Sistem Priangan dari Tanam Paksa Kopi di Jawa 1720—1870. Namun beberapa waktu kemudian baru diketahui bahwa tanaman kopi Arabica sama sekali tidak cocok ditanam pada dataran rendah. Maka dicobalah generasi awal kopi Arabica dari Jawa itu ditanam di wilayah-wilayah pegunungan yang tanahnya kaya unsur vulkanik seperti Cianjur dan Kampung Baru (Bogor). Pada 1711, Cianjur memanen hasil tanaman kopi Arabica yang pertama. Desebutkan oleh Breaman, saat itu Bupati Cianjur Raden Aria Wiratanu III berhasil menyetor hampir 100 pikul kepada VOC. Harga yang dia peroleh adalah 50 gulden perpikul ( 1 pikul=125 pon). “Cukup lumayan, meskipun sangat sedikit dibandingkan dengan harga yang tercatat di pasaran Belanda,” ujar Breman. Kendati demikian, kiriman kopi dari Cianjur berhasil memecahkan harga lelang tertinggi di Balai Lelang Amsterdam. Biji-biji hitam asal Jawa itu dianggap mutunya lebih baik dibanding barang sejenis yang berasal dari Mocha, Yaman. Menurut Prawoto, keberhasilan itu membuka peluang bagi Belanda untuk tampil sebagai pemain utama dalam bisnis kopi yang tengah menggila saat itu di Eropa. Maka berduyun-duyunlah para pebisnis Belanda mengembangkan tanaman kopi Arabica di wilayah Cianjur dan sekitarnya. “Di tahun 1723, terdapat lebih dari satu juta pohon kopi Arabica tumbuh di Kabupaten Cianjur,” tulis Mudrig Yahmadi dalam Sejarah Kopi Arabica di Indonesia. Tiga tahun kemudian, Belanda semakin berjaya sebagai pengekspor kopi terbesar di dunia. Produk mereka dikenal oleh mancanegara sebagai Java Coffee (Kopi Jawa) yang sejatinya berasal dari tanah Cianjur di Priangan Barat.
- Lament dan Sejarah Lisan Orang Melanesia
Planet Bumi baru saja diterjang tsunami. Ketika air telah surut, di sebuah bibir pantai, seorang laki-laki berhasil bertahan hidup karena sebuah noken. Sementara itu, sebuah telur putih yang ukurannya sedikit lebih besar dari semangka juga berhasil selamat dari bencana. Untuk melanjutkan kehidupan yang baru saja porak-poranda, si laki-laki itu harus menetaskan telur itu. Namun ternyata, tsunami tak hanya menyisakan mereka. Sampah-sampah plastik yang tak bisa terurai bermutasi menjadi monster-monster yang kelaparan. Sedangkan satu-satunya sumber pangan dan energi adalah telur putih besar itu. Maka terjadilah perebutan sumber daya antara manusia dan monster-monster. Di sisi lain, rombongan manusia tengah bermigrasi mencari tempat hidup yang baru. Perjalanan panjang dilakukan sambil menyanyikan lament (lagu ratapan) yang mengisahkan sejarah manusia bertahan hidup ( survival ) dalam mencari pangan dan energi. Kisah di atas merupakan skenario Planet-Sebuah Lament, sebuah pertunjukan yang menggabungkan teater, film, tarian, dan nyanyian yang menarasikan sebuah folklore dalam kebudayaan Melanesia. Karya ini disutradarai oleh Garin Nugroho dan naskahnya ditulis oleh sutradara teater dan opera dari Melbourne, Michael Kantor. Laki-laki yang selamat dari tsunami menemukan sebuah telur. Diperankan oleh Boogie Papeda. (Fernando Randy/Historia). Menyanyikan Sejarah Lisan Kisah Planet-Sebuah Lament ini dinarasikan oleh Septina Layan, seorang penyanyi lament asal Merauke , dan paduan suara Mazmur Chorale dari Kupang. Melalui lagu-lagu lament Melanesia, mereka menceritakan kisah kehidupan, trauma, doa, keselamatan dan harapan untuk masa depan bumi. Septina Layan, yang telah bertahun-tahun melakukan riset mengenai lagu lament menyebut bahwa lament merupakan sebuah upaya menjaga ingatan tentang suatu kejadian melalui nyanyian. "Jadi lament itu sebenarnya sastra yang dinyanyikan. Sebenarnya juga berkaitan dengan tradisi lisan. Tradisi lisan bagaimana menceritakan sejarah kehidupan menggunakan nyanyian," kata Septina kepada historia.id. Lament , yang bila diterjemahkan menjadi "ratapan", telah berkembang di banyak kebudayaan dunia seperti Mesopotamia, Yunani, hingga Skotlandia. Dalam kebudayaan bangsa Melanesia yang tersebar dari Maluku, Papua hingga Kepulauan Hawaii, lament dapat ditelusuri sejak tradisi pengayauan (perburuan kepala manusia) eksis. "Yang saya kumpulkan hampir semua lagu itu sebenarnya mulai dari (zaman) pengayauan sudah ada," terang Septina. Lament diciptakan orang-orang Melanesia ketika sedang berduka, seperti ketika ada anggota keluarga yang meninggal dunia maupun kejadian-kejadian yang memilukan. "Yang lain berkisah tentang hal-hal yang menyentuh perasaan. Melihat bencana, melihat dinamika kehidupan yang dia merasa bahwa itu tidak seharusnya seperti itu. Akhirnya ungkapan-ungkapan itu untuk menguatkan kembali. Nyanyian itu justru memberikan kekuatan," ungkanya. Paduan suara dari Kupang, Mazmur Chorale, menyanyi dan berakting. (Fernando Randy/Historia). Karena berasal dari tradisi lisan, lagu lament selama ini hanya dihidupi oleh mama-mama Papua. Ketika berkebun maupun pergi ke hutan, mama-mama Papua sering menyanyikan lament . Sebagaimana khas nyanyian Papua, lament hanya memiliki empat dan lima nada (tetratonis dan pentatonis). Lament juga sarat akan pengulangan atau repetisi, gaya resitatif, dan pengulangan beberapa nada di akhir kalimat lagu. Septina sendiri mengenal lament sejak kecil karena ia lahir dari keluarga yang menghidupi lament. Ayahnya, seorang pembantu pastor membuatnya dekat dengan lament, paduan suara, dan bermusik. Septina pun kemudian terpanggil menekuni nyanyian-nyanyian tradisi bangsa Melanesia itu. "Saya baru mengumpukan di wilayah selatan Papua. Kebetulan itu sebenarnya kerinduan saya karena nyanyian-nyanyian tradisi itu lebih banyak diminati oleh orang tua dan jarang dinyanyikan oleh anak-anak karena kesulitan bahasa," sebutnya. Septina kini telah menghimpun 30 lagu, menotasikan, dan menuliskan liriknya berdasar memori orang-orang yang sudah tua. Ia kemudian membukukan kumpulan lagu tersebut dan membagikannya kepada anak-anak. Ia juga melatih mereka menyanyikannya. Septina juga menciptakan sendiri lagu-lagu lament dengan tema-tema yang berkaitan dengan masalah lingkungan di Papua seperti tergusurnya hutan sagu hingga kehidupan burung cendrawasih. Monster-monster yang diperankan oleh Galabby, Douglas D’Krumpers, Bekham Dwaa, dan Pricillia E.M. Rumbiak. (Fernando Randy/Historia). Ruang Ekspresi Indonesia Timur Garin Nugroho, sutradara Planet-Sebuah Lamen menyebut pementasan ini merupakan upaya untuk membicarakan dan menyediakan ruang ekspresi bagi budaya Melanesia yang selama ini jarang tersentuh. Garin sudah tertarik dengan lament sejak tahun 2012. Dia menyebut lament hidup di sudut-sudut Nusantara purba dan menjadi ratapan sejarah purba dunia, baik ratapan hilangnya kota-kota maupun rusaknya peradaban sebab perang atau bencana. Sejak 1985, Garin juga telah melakukan perjalanan ke daerah timur Indonesia dan mendengarkan lament di desa-desa. Selain itu, pengalaman mendengar lament dalam perayaan paskah di Pulau Procida, Italia hingga Larantuka, Nusa Tenggara Timur juga menginspirasinya. "Saya melakukan perjalanan panjang sejak 1985 di NTT, khususnya Flores. Kalau anda baca dalam tradisi musikologi, (mereka) memiliki kekayaan luar biasa pada vokal. Dan saya banyak sekali jalan di Papua. Bahasa tubuh Papua kalau anda lihat tadi luar biasa sekali. Vocabulary -nya hampir kita tidak punya," ujar Garin. Burung yang menetaskan telur menjadi hutan kecil. Diperankan oleh Rianto. (Fernando Randy/Historia). Garin kemudian melakukan riset tentang lament hingga tanpa sengaja bertemu Septina Layan di Papua. Ia juga kemudian bertemu paduan suara Mazmur Chorale dari Kupang serta penari-penari Papua. "Oleh karena itu, ini menjadi sebuah kumpulan dari mereka yang kemudian memang membawa suara Melanesia," terang Garin. Garin menambahkan, merayakan Melanesia tidak hanya dengan menyebut-nyebut eksistensinya, melainkan juga dengan memberi dukungan kepada bakat-bakat luar biasa orang Melanesia. Planet-Sebuah Lament telah digelar di Teater Besar, Taman Ismail Marzuki, 18-19 Januari 2020 dan akan membuka perhelatan Asia-Pacific Triennial of Performing Arts (Asia-TOPA) Februari mendatang di Melbourne, Australia. Pertunjukan ini juga dijadwalkan tampil di Dusseldorf, Jerman, dan Amsterdam, Belanda.
- Misteri Kematian Frida Kahlo
PERTUNJUKAN teater bertajuk Frida: Stroke of Passion oleh kelompok teater Macha yang bakal dihelat di Gedung Teater Casa 0101, Los Angeles pada 7 Februari 2020 mendatang memancing perhatian banyak pihak. Pertunjukan yang digarap sutradara pemenang Eddon Awards, Odalys Nanin, itu akan menyajikan detik-detik terakhir kehidupan pelukis legendaris asal Meksiko Frida Kahlo yang tak banyak diketahui publik. Publik selama ini hanya mengetahui penyebab kematian Frida dari hasil resmi yang dirilis otoritas medis, bahwa Frida tewas karena pneumonia embolism (emboli paru) atau penyumbatan arteri di paru-paru. Pihak yang tak meyakini versi tersebut, termasuk Nanin, meyakini Frida meninggal pada 13 Juli 1954 karena bunuh diri. Keyakinan itu berangkat dari penafsiran atas kata-kata terakhir Frida di diary -nya: “ Espero Alegre la salida – y Espero no Volver jamás ”, yang artinya Aku begitu antusias menantikan jalan keluar – dan aku berharap takkan pernah kembali. Melalui Frida: Stroke of Passion , Nanin akan mengungkapkan hal baru. “Pertunjukan ini akan mengungkapkan pekan terakhir dalam hidup Frida Kahlo dan selubung misteri tentang siapa atau apa yang membunuhnya. Saya ingin menunjukkan babak-babak tentang fisik, emosi dan mental pikirannya selama sepekan sebelum kematiannya. Saya mengeksplorasi rasa sakitnya, rasa takut, cinta tapi yang terpenting adalah misteri kematiannya,” ujar Nanin, dikutip The Pride LA , 3 Januari 2020. Calon Dokter jadi Pelukis Lukisan hidup Frida memang penuh liku, sarat petualangan, cinta, dan skandal. Frida lahir pada 6 Juli 1907 di Coyoacán, Meksiko dengan nama lahir Magdalena Carmen Frida Kahlo y Calderón. Ia anak pertama dari rahim Matilde Calderón y González, perempuan berdarah Mestizo yang merupakan istri kedua fotografer Jerman Carl Wilhelm “Guillermo” Kahlo. Sejak kecil, Frida mengidap penyakit polio. Menukil Frida: The Biography of Frida Kahlo yang dirangkum sejarawan seni Hayden Herrera, Frida mengidap polio sejak usia enam tahun yang membuat kaki kanannya lebih kecil dari yang kiri. Seringkali di sekolah tingkat dasar ia jadi korban bullying karenanya. Namun, di rumahnya sang ayah begitu getol jadi “mentor” seni Frida, mulai fotografi hingga lukis. Frida Kahlo saat berusia lima tahun sebelum terkena penyakit polio (Foto: fridakahlo.org ) Frida termasuk pelajar yang cerdas. Ia nyaris jadi dokter kala studi medis di Escuela Nacional Preparatoria di Mexico City. Nahas, sebuah kecelakaan pada 17 September 1925 kala ia menumpang bus untuk pulang ke Coyoacan dari sekolahnya, merenggut masa depannya. “Tulang belakangnya patah di tiga bagian. Juga tulang selangkanya, serta tulang rusuk. Kaki kirinya mengalami retak di 11 bagian, tulang kaki kanannya tergeser, perutnya tertusuk besi handrail hingga menembus dinding vaginanya. Dokter yang merawatnya mengira dia takkan selamat di meja operasi,” ungkap Herrera. Frida akhirnya selamat setelah diopname selama sebulan di rumahsakit dan dua bulan rawat jalan. Otomatis Frida hanya bisa beraktivitas di kursi roda dan ketergantungan obat pereda nyeri. Ia lalu beralih studi ke politik. Bahkan, ia jadi kader PCM atau Partai Komunis Meksiko. Goresan Riwayat di Atas Kanvas Namanya sebagai seniman mulai dikenal sejak bergabung dengan partai komunis dan berkenalan dengan sejumlah aktivis seperti Julio Antonio Mella (eksil komunis Kuba), Tina Modotti (aktivis, seniman, dan fotografer Amerika), dan pelukis Diego Rivera yang kelak pada 1929 jadi suaminya. Setelah berpacaran dengan Rivera, Frida mulai getol mengeluarkan karya surealis yang sudah dirintisnya sejak 1926. “Tampak energi yang tak biasa, penggambaran karakter yang sangat tepat dan menggambarkan kekerasan yang sebenarnya…memiliki dasar pengaruh yang sangat jujur, kepribadian artistiknya juga orisinil. Jelas gadis ini seniman yang otentik,” ujar Rivera yang terpesona pada karya-karya Frida kala keduanya bersua pada 1928, dikutip Herrera. Selain gemar menelurkan lukisan potret diri, karya Frida tak jarang menggambarkan budaya masyarakat Meksiko prakolonial. Beberapa karya lainnya dipengaruhi aktivitas politik yang diikutinya mengenai isu-isu gender serta pembagian kelas di masyarakat Meksiko. Selain potret diri, Frida juga tak jarang melukis potret keluarga, seperti potret ayahnya, Carl Wilhelm “Guillermo” Kahlo, misalnya (Foto: fridakahlo.org ) Reputasi Frida meroket setelah menggelar pameran-pameran solo. Di antaranya, pameran di Galeri Seni Julien Levy, New York, pada 1938 yang disponsori seniman surealis André Breton. Juga pameran di Paris setahun setelahnya. “Meski pamerannya di Paris bertajuk The Mexique secara finansial kurang sukses, Musée National d’Art Moderne, Centre Georges Pompidou (Museum Louvre) membeli salah satu karya Kahlo, (berjudul) The Frame ,” ungkap Terri Hardin dalam Frida Kahlo: A Modern Master. Lukisan The Frame yang berukuran 28,5x20,7 itu merupakan lukisan potret diri yang dibuat Frida pada 1938. Karyanya tergolong anti- mainstream lantaran dilukis di atas kombinasi lembaran alumunium dan kaca. Frida sosok bertangan dingin jika sudah menggoreskan cat minyak di atas kanvas. Ia satu-satunya pelukis Meksiko yang karyanya terpajang di museum seni terbesar dunia, Louvre. Hari-Hari Terakhir Kendati di tahun 1940-an getol menelurkan banyak karya, kondisi kesehatan Frida berangsur menurun. Infeksi luka di tangan, sifilis, hingga depresi karena meninggalnya sang ayah pada April 1941 menjangkitinya. Pada 1950, Frida bahkan hampir menghabiskan sepanjang tahun dengan dirawat di Rumahsakit ABC, Mexico City usai operasi perbaikan tulang periodontal. Tiga tahun berikutnya kondisi Frida kian miris akibat penyakit gangrene atau kematian jaringan sel di kaki kanannya. Kaki kanan Frida mulai dari lutut ke bawah diamputasi pada Agustus 1953. Rasa sakit di kakinya membuat Frida mulai berpikir untuk mengakhiri hidupnya. “Mereka telah memberiku siksaan yang rasanya berabad-abad dan pada suatu ketika saya kehilangan alasan. Aku terus mengeluarkan keinginan untuk bunuh diri. Hanya Diego yang mencegahku melakukannya. Tak pernah aku merasakan sakit seperti ini sepanjang hidupku,” tulis Frida dalam diary -nya pada Februari 1954, dikutip Martha Zamora dalam Frida Kahlo: The Brush of Anguish. Meski sakit, Frida masih aktif di politik. Beberapa pekan sebelum meninggal, Frida bersama suaminya ikut berunjuk rasa menentang invasi CIA (dinas intelijen Amerika) di Guatemala. Namun gegara ikut demo itu pula kondisi kesehatannya kian gawat. Pada 12 Juli 1954 malam Frida mengalami demam tinggi dan hampir tak berhenti berteriak akibat rasa sakit di tulang belakangnya. Lukisan potret keluarga Frida Kahlo (kiri) dan lukisan "The Frame" (kiri) yang dibeli Museum Louvre pada 1939 (Foto: fridakahlo.org ) Pagi 13 Juli 1954, Frida ditemukan terbaring tak bernyawa di atas tempat tidurnya oleh salah satu asisten rumah tangganya di La Casa Azul. Catatan medis menerangkan, Frida meninggal karena emboli paru lantaran memang ia juga mengidap pneumonia. Setelah dikremasi, abu jenazahnya disimpan di kediamannya di La Casa Azul, yang pada 1958 diubah menjadi Museum Frida Kahlo. Dikremasinya jenazah Frida tanpa melalui otopsi menimbulkan misteri penyebab kematiannya. Beberapa pihak meyakini ia bunuh diri dengan menenggak obat pereda nyeri lebih dari dosis yang disarankan dokter. Setidaknya begitu yang diyakini Herrera dalam biografi Frida maupun Nanin yang akan mementaskan Frida: Stroke of Passion . Jalan berliku hidup Frida menginspirasi banyak orang untuk mengisahkannya lewat novel, serial televisi, maupun film. Biopik Frida, Naturaleza Viva (1983) atau Frida (2002), yang diperankan aktris kawakan Hollywood Salma Hayek, hanyalah sedikit di antaranya.
- Kontroversi Schumi
BALAPAN Formula One (F1) musim 2020 memang masih dua bulan lagi, 15 Maret 2020. Namun, Lewis Hamilton sudah tak sabar. Juara bertahan asal Inggris dari tim Mercedes itu bakal menyongsong rekor untuk mensejajarkan diri dengan legenda hidup Michael “Schumi” Schumacher. Schumi punya koleksi tujuh gelar dunia. Hamilton yang kini dalam puncak kariernya dan tengah mendominasi F1 ibarat Schumi di masa lampau, sudah punya enam gelar itu. “2019 adalah tahun yang takkan saya lupakan. Saya tak bisa menggambarkan perasaan memenangi gelar keenam. Sekarang mari kita rayakan akhir 2019 dan kembali berjuang untuk 2020,” ujar Hamilton di akun Instagram -nya, @lewishamilton, 1 Januari 2020. Hamilton sendiri satu dari sekian pembalap F1 yang mengagumi Schumi. Sebaliknya, Schumi pernah meramalkan bahwa Hamilton bakal melampaui rekornya. Schumi mengungkapkannya dalam sebuah program BBC , 27 Oktober 2008, tak lama setelah Hamilton memenangi gelar pertamanya di musim 2008. Kala itu Schumi sudah pensiun (sementara) dan menjadi penasihat pengembangan di tim Scuderia Ferrari, lima tahun sebelum Schumi mengalami kecelakaan saat berski di Pengunungan Alpen. “Saya bisa bilang, tentu saya iya (Hamilton bisa memenangi tujuh gelar, red. ). Dulu tiada yang menyangka, bahkan saya sendiri, bisa mengalahkan rekor (Juan Manuel) Fangio. Lalu saya melewatinya. Rekor memang tercipta untuk dipecahkan,” sebutnya. Catatan Rekor di Atas Kecurangan Namun seperti halnya Hamilton, kegemilangan kiprah Schumi tak jarang diwarnai kontroversi. Tak sedikit insiden dengan kesengajaan dan kecurangan yang dilakoni di lintasan atas nama kemenangan dari sejumlah rival sengitnya. Insiden yang terjadi pada 1991, contohnya, kala Schumi belum masuk F1. Insiden itu terjadi 18 Agustus 1991, saat kualifikasi 430km of Nürburgring yang merupakan seri kelima di World Sportscar Championship. Menyitat Autosport , 16 November 2005, Schumi di balik kemudi mobil tim Sauber-Mercedes yang hendak melaju cepat untuk mencetak waktu terbaik, merasa dihalang-halangi pembalap tim Jaguar Derek Warwick. Saat itu Warwick sudah mencetak waktu terbaiknya dan menjalani sisa sesi kualifikasi dengan ‘santuy’. Alhasil, Schumi kesal dan kehilangan waktu di sesi itu. Michael Schumacher kala balapan di tim Sauber-Mercedes di ajang World Sportcars Championship (Foto: Daimler AG) Sebagai balasan, Schumi memepetkan mobilnya ke samping mobil Warwick, lantas banting setir hingga menghantam “hidung” dan ban depan mobil Warwick. Schumi yang kemudian kabur ke pit stop , dikejar Warwick. Sesampainya di garasi Sauber, Warwick melabrak Schumi. Nyaris terjadi baku pukul jika tak segera dilerai senior Schumi di Sauber, Jochen Mass. Insiden lainnya yang lebih culas terjadi 13 November 1994 di GP Australia yang jadi seri terakhir di musim itu. Schumi tinggal selangkah lagi menggamit gelar dunia pertamanya di tim Benetton-Ford. Namun posisinya di klasemen hanya berjarak satu poin dari rival sengitnya, Damon Hill asal Inggris di mobil tim Williams-Renault. Hill dalam otobiografinya, Watching the Wheels, berkisah bahwa pada lap ke-35 ia mengklaim punya kesempatan emas menyalip Schumi yang sejak awal memimpin balapan. Mobil Schumi tergelincir dan menabrak dinding pembatas sehingga beberapa bagian depannya rusak. Namun, Schumi ngotot melanjutkan balapan lantaran gelar juara dunia taruhannya. Saat di tikungan Hill hendak meng- overtake Schumi dengan kecepatan mobil yang menurun drastis akibat kecelakaan, Schumi sengaja menutup celah dan akhirnya kedua mobil bertabrakan. Schumi maupun Hill pun gagal finis. Alhasil, Schumi berhasil meraih gelar juara dunia pertamanya. Detik-detik Michael Schumacher (kanan) menabrakkan mobilnya ke arah Damon Hill di F1 GP Australia 1994 (Foto: Youtube Formula One) Dari hasil investigasi pengawas balapan, kejadian itu hanya dianggap insiden balapan biasa. Schumi bisa berbangga dengan gelar juara perdananya, namun sejumlah media Inggris mengecamnya meski Hill pribadi enggan berbicara miring lantaran masih terpengaruh tragedi kematian rekannya, Ayrton Senna, di GP San Marino beberapa bulan sebelumnya. “Saya terpaksa menerima hasilnya. Namun bagian terbesar dari diri saya juga merasa bahwa sejak kami kehilangan Ayrton, musim ini sudah berantakan. Gelar itu jadi yang pertama dari tujuh gelar Formula One-nya, di mana di saat itu jadi target di luar bayangan siapapun. Mungkin juga Senna takkan membayangkannya,” ungkap Hill. Hal serupa terjadi di seri terakhir GP Eropa musim 1997, di Sirkuit Jerez, 26 Oktober 1997. Schumi yang di musim itu sudah bersama tim Scuderia Ferrari, tengah bersaing ketat untuk gelar juara dengan pembalap tim Williams, Jacques Villeneuve. Schumi memimpin klasemen dengan 78 poin, hanya unggul satu poin dari Villeneuve. Menukil Chicago Tribune 12 November 1997, keculasan Schumi seperti yang ia lakukan pada Hill diulanginya terhadap Villeneuve. Kala balapan memasuki lap ke-48, Villeneuve yang senantiasa membuntuti Schumi berupaya menyalip di tikungan Dry Sac dari sisi dalam. Saat Villeneuve sudah mulai menyusul, Schumi menabrakkan hidung mobilnya ke sisi kiri body mobil Villeneuve. Mobil Schumi pun rusak parah dan ia gagal menyelesaikan balapan. Sementara meski body samping mobilnya rusak, Villeneuve tetap mampu melanjutkan dan bahkan finis urutan ketiga. Kali ini keculasan Schumi gagal berbuah. Villeneuve tetap juara. Michael Schumacher (merah) di kokpit Ferrari saat menyeruduk mobil Jacques Villenueve di F1 GP Eropa 1997 (Foto: formula1.com ) Kelakuan Schumi itu tak dibiarkan FIA selaku otoritas balapan. “Motor Sports Council FIA melucuti hasil urutan kedua klasemen Schumacher dan memerintahkannya terlibat dalam kampanye safe-driving tahun depan,” tulis Chicago Tribune. Schumi mengaku salah. Sejumlah media kembali mengutuknya. Bahkan media-media Jerman mengecam tindakannya. Meski tak disanksi, Schumi harus rela posisinya sebagai runner-up musim 1997 didiskualifikasi. Kontroversi lain terjadi di GP Austria 2002. Team order atau perintah manajer tim yang ditaati Schumi justru memancing kemarahan banyak fans Ferrari. Perintah itu mengharuskan Rubens Barrichello, rekan setimnya, memperlambat mobilnya agar Schumi lebih dulu menyentuh garis finis. Meski tak melanggar regulasi F1 maupun FIA, hal itu dianggap banyak pihak, utamanya fans Ferrari, sebagai tindakan tak sportif. Toh, musim 2002 masih panjang. Pada saat penerimaan trofi di podium, Schumi memaksa Barrichello untuk berdiri di puncak podium, sementara Schumi geser ke podium kedua. Kejadian itu membuat Ferrari didenda USD1 juta. “Saya berterimakasih pada Rubens untuk poin yang saya dapat, namun saya tidak terlalu senang dengan hal itu,” aku Schumi, dikutip BBC , 12 Mei 2002. Di Sirkuit Indiana Motor Speedway dalam GP Amerika Serikat 2002, kala Schumi sudah mengunci gelar dengan raihan poinnya, ia balas memberi jalan buat Barrichello untuk finis lebih dulu. Barrichello pun menang. Kelakuan Schumi (kanan) kala menjepit Rubens Barrichello ke pagar pembatas sirkuit di GP Hungaria 2010 (Foto: formula1.com ) Ending serupa tak terjadi di GP Hungaria 2010. Ketika balapan memasuki lap ke-42, di salah satu trek lurus, Barrichello yang sudah bersama tim Williams berupaya menyalip dari sisi dalam. Schumi yang saat itu sudah bersama tim Mercedes, enggan memberi jalan. Mobil Barrichello dengan kecepatan 180 mil per jam pun terjepit antara mobil Schumi dan dinding pembatas. Meski tak terjadi kecelakaan, pengawas balapan menghukum Schumi dengan start dari posisi ke-10 di race berikutnya, GP Belgia. Schumi akhirnya minta maaf. “Setelah melihat insiden itu lagi, keputusan sanksi steward sudah tepat. Manuver saya terhadap dia (Barrichello) terlalu berbahaya. Memang saya ingin menunjukkan bahwa dia takkan bisa melewati saya, namun setelah dilihat secara rasional, saya membahayakan dia. Saya minta maaf dan bukan maksud saya membahayakan nyawanya,” tandas Schumi dikutip ESPN , 2 Agustus 2010.
- Sejarah Bisnis Asuransi di Indonesia
KASUS dugaan korupsi melanda Jiwasraya dan Asabri, dua perusahaan asuransi milik negara. Keduanya asuransi berbeda jenis. Jiwasraya bergerak di asuransi jiwa, sedangkan Asabri mengelola dana pensiun. Tapi pangkal kasus keduanya sama: kesalahan berinvestasi. Kesalahan itu merugikan negara lebih dari Rp20 triliun dan mengancam kepercayaan publik terhadap asuransi.
- Kala M. Jusuf Nyaris Direnggut Maut
TANPA pemberitahuan sebelumnya, Pangdam Hasanuddin Kolonel M. Jusuf disertai Komandan PM Kodam Hasanuddin Letkol CPM Sugiri, As-Ops Koandait (Komando Antar Daerah Indonesia Timur) Letkol Suraksono, dan Kepala Kepolisian Sulawesi Selatan/Tenggara Kombes Pol. Mardjaman mendatangi pos komando Yon 330 Siliwangi –yang ditugaskan memberi bantuan kodam setempat dalam mematahkan pemberontakan Kahar Muzakkar– di Enrekang, 2 April 1964. Kedatangan mereka mengagetkan para pimpinan Yon 330 yang saat itu sedang rapat. Setelah makan siang bersama, Jusuf mengatakan dirinya minta disediakan satu kompi pasukan untuk mengawalnya esok. “Besok aku akan mengadakan pertemuan dengan Andi Selle agar ia kembali ke jalan yang benar. Sebagai putera Sulawesi saya ingin mengajaknya baik-baik untuk bersama-sama membangun Sulawesi ini. Pertemuan ini dipersiapkan oleh Letkol Eddy Sabar, komandan Brigif 011, namun saya tidak tahu pasti bagaimana kelanjutan dari pertemuan ini. Karena itu siapkan satu kompi 330 untuk pengamanan, dan tugaskan seorang perwiramu yang baek untuk mendampingi saya!” kata Jusuf, dikutip Atmadji Sumarkidjo dalam Jenderal M. Jusuf Panglima Para Prajurit . Andi Selle merupakan Dan Yon Bau Massepe di Korps Cadangan Nasional Sulawesi Selatan yang dipimpin Kahar Muzakkar. Selle dan Kahar kemudian berpisah jalan. “Dalam minggu-minggu sebelum hari yang telah ditetapkan untuk integrasi resmi Korps Cadangan Nasional, pertentangan intern yang pertama di kalangan pengikut-pengikut Kahar Muzakkar terjadi ketika Andi Selle memihak Pemerintah dalam persoalan apakah integrasi Korps Cadangan Nasional Sulawesi Selatan akan dilakukan batalyon demi batalyon atau tidak,” tulis Cornelis van Dijk dalam Darul Islam, Sebuah Pemberontakan . “Penggabungan Batalyon Bau Masseppe Andi Selle ke dalam Tentara sebagai Batalyon 719 pada 7 Agustus 1951 hanyalah memperbesar pertentangan antara Kahar dan Tentara, selanjutnya.” Dalam perjalanan waktu, besarnya kebebasan yang dimiliki para komandan batalyon, termasuk Selle, membuat mereka menyalahgunakan posisi militer yang ada untuk mencari keuntungan pribadi. Seperti Andi Sose, Andi Selle juga tumbuh menjadi warlord yang merugikan masyarakat dan negara. Dalam Paths and Rivers: Sa’dan Toraja Society in Transformation, Profesor Roxana Waterson dari National University of Singapore menggambarkan keduanya sebagai oportunis, serakah, menggunakan posisi militer untuk terlibat dalam perdagangan barter yang amat menguntungkan, berusaha mengendalikan ekspor regional dengan mengorbankan pemerintah pusat, mematok harga lokal, dan menarik pajak barang dalam perjalanan ke kota-kota dataran rendah. “Laporan Staf Angkatan Darat tahun 1961, yang saat itu jelas-jelas dianggap sebagai liabilitas, menggambarkannya sebagai seorang oportunis dan petualang ambisius, siap memperkaya dirinya dengan cara apa pun yang mungkin dan selalu mencari peluang untuk mendapat untung dari kedua belah pihak, apakah pemerintah atau gerilyawan,” lanjut Roxana. Oleh karena itulah Dan Yon 330 Siliwangi Mayor Himawan Soetanto menaruh curiga besar saat Jusuf menerangkan rencana perundingannya dengan Selle. “Bakalan rame nih!” kata Himawan kepada wakilnya, Yogie S. Memet, mengomentari keterangan Jusuf. Namun, Himawan tetap mematuhi perintah Jusuf dengan mempersiapkan pasukan yang diminta. Dua kompi dipersiapkannya untuk perundingan itu, yakni Kompi E/330 di bawah Lettu Mukardanu sebagai kompi pengawal dan Kompi D/330 di bawah Lettu Anwar Rasyim sebagai kompi cadangan. Sepuluh prajurit terbaik diplot menjadi pengawal pribadi Jusuf. Sementara untuk pendamping Jusuf, Himawan menugaskan Kapten Jayadi. Pada pukul 07 pagi keesokan harinya, Jusuf berangkat ke Pinrang, tempat perundingan, dikawal satu peleton dari Kompi E/330. Para pengawal pribadi Jusuf yang dipimpin Peltu Daud Supriyanto menggunakan jip Gaz dan jip yang digunakan Jayadi. Anggota kompi yang lain naik truk. Jusuf sendiri menggunakan sedan Dodge milik gubernur Sulawesi Selatan yang dipinjamnya untuk keperluan resmi. Sedan itu berada di belakang jip Jayadi dan di depan truk kompi. Di sedan itu juga ikut Letkol Sugiri dan Kombes Mardjaman, keduanya duduk di baris supir. Begitu konvoi mendekati lokasi perundingan, Desa Lappangeng, para prajurit Siliwangi mulai curiga karena ratusan pengawal Selle dengan beragam senjata sudah bersiap di sepanjang jalan. “Pasukan Siliwangi yang cuma satu kompi itu ditambah sejumlah kecil pasukan dari Raiders Hasanuddin akhirnya berbaur dengan pasukan Andi Selle di tepi-tepi jalan. Semua bersenjata lengkap dan berdiri dengan raut muka tegang,” tulis Atmadji. Kecurigaan prajurit Siliwangi makin bertambah ketika melihat mobil Jusuf dibuntuti sebuah power wagon berisi tujuh pengawal Selle bersenjata bren, yang kemudian menjaga pintu bangunan tempat perundingan. “Andi Selle datang dengan memakai baju merah dengan disertai oleh salah seorang kepercayaannya Sersan Mayor Mansyur,” tulis Badan Pembina Corps Siliwangi Jakarta Raya dalam Album Kenangan Perjuangan Siliwangi . Kecurigaan itu akhirnya tak berbuah apa-apa. Tak lama kemudian, Jusuf dan Selle beriringan keluar dari tempat perundingan sambil tersenyum dan berbincang. Keduanya lalu menaiki mobil Jusuf, yang di dalamnya ada Sugiri, Mardjaman, dan supir. Mobil itu akan membawa mereka ke rumah Bupati Pinrang H. Andi Makkulau, sekitar delapan kilometer dari tempat perundingan, untuk makan siang atas permintaan Selle. Jusuf duduk di kursi belakang kiri dan Selle di belakang kanan. Di sebuah pertigaan dalam perjalanan, mobil Jusuf bukannya berbelok ke kanan malah lurus. Mobil seolah-olah menuju Pare-Pare lalu ke Makassar. Para pengawal Selle pun mengkhawatirkan pemimpinnya akan dibawa lari ke Makassar untuk ditangkap. Sebuah jip pengawal Selle lalu mendahului mobil Jusuf. Jip itu mendadak berhenti. Beruntung supir masih sempat menghentikan mobil Jusuf sehingga tak menabrak mobil di depannya. Sejurus kemudian, tulis Atmadji, “Jusuf melompat turun dan memerintahkan pengawal untuk menangkap Selle, dan Selle juga turun dari sisi yang lain dan memberikan perintah.” Tembak-menembak jarak dekat antara pengawal Jusuf dan pengawal Selle pun tak terhindarkan. “Tiga penumpang di mobil Dodge terkena peluru semua karena tidak sempat ke luar mobil. Kolonel Sugiri tewas, Kombes Pol. Mardjaman mengalami luka-luka di tangan, sementara supir Langa, luka di kepala hingga topinya robek. Mobil Dodge penuh dengan lubang-lubang peluru. Dan pihak pengawal pribadi juga gugur Praka Adang B dan sejumlah prajurit Kujang lainnya mengalami luka-luka ringan,” sambung Atmadji. Hampir bersamaan dengan perintah Jusuf kepada Daud agar menangkap Selle, Selle pun memerintahkan prajuritnya untuk menembak Jusuf. “Hampir bersamaan dengan bunyi senjata otomatis yang ditujukan ke sedan, salah seorang pengawal Jusuf yaitu Praka Syamsudin melempar granat ke arah jip yang memotong konvoi yang kemudian disusul dengan tembakan Thompson Sersan Kopong Poyong, juga pengawal Jusuf yang lain.” Tembak-menembak makin sengit setelah pasukan pengawal Jusuf yang tertinggal jauh di belakang tiba. Sementara tangan kanannya memegang senapan, Peltu Daud langsung melompat dan merangkul Jusuf untuk memberi perlindungan sambil menarik panglima ke arah mobil Gaz. Dalam upaya perlindungan itulah Daud roboh setelah dadanya diterjang peluru pengawal Selle. Jusuf terpaksa meneruskan perjalannya ke jip Gaz tanpa perlindungan. “Menurut Jusuf, sewaktu ia berjalan menuju jip Gaz, Andi Selle malah meneriakkan komando kedua: ‘Ikuti dia dan tembak!’ Para pengawal kemudian terus mengalihkan tembakan ke arah Jusuf. Tetapi ia sendiri merasa ada sesuatu yang panas di belakang lehernya dan punya insting bahwa ada sesuatu yang melindungi nyawanya,” tulis Atmadji. Begitu Jusuf masuk ke dalam jip, supir langsung menancap gas sekuat mungkin menerobos apa saja yang ada di depan tanpa menghiraukan hujan peluru di sekitarnya. Jusuf dan penumpang lain dalam jip pun selamat. Sementara, para prajurit Siliwangi dan pengawal Selle masih baku tembak meski hanya beberapa menit. Namun karena pasukan Siliwangi lebih menguasai cara menembak dan menguasai posisi, korban lebih banyak jatuh dari pihak Selle. Tak lama kemudian, Selle dan para pengawalnya yang tersisa melarikan diri ke hutan. “Tetapi dalam tembak-menembak yang terjadi Andi Selle, yang berhasil melarikan diri, tertembak bahunya,” tulis Van Dijk.
- Empat Kerajaan Buatan tanpa Pengakuan
DI tengah kisruh beragam skandal, mulai Jiwasraya, Asabri, hingga kegagalan KPK menggeledah DPP PDIP, publik tanah air digegerkan oleh kemunculan Kerajaan Agung Sejagat (KAS). Totok Santoso Hadiningrat dan istrinya, Dyan Gitarja, yang mendirikan kerajaan di Bayan, Purworejo, Jawa Tengah itu mengklaim kerajaan mereka sebagai penerus Kerajaan Majapahit dan dengan kekuasaan meliputi seluruh dunia. KAS memiliki misi untuk menciptakan kedamaian di kolong langit. Kemunculan KAS menambah panjang daftar micronations (negara mikro) atau negara fiksi/khayalan yang berdiri di dalam sebuah negara berdaulat. Sejak abad ke-19, klaim semacam KAS sudah bertebaran di segenap pojok bumi baik yang klaim sungguhan maupun sekadar propaganda iklan. Bentuk mereka beragam, mulai dari republik hingga monarki. Dari ratusan negara khayalan itu, sedikitnya eksis lima negara berbentuk kerajaan dan mengklaim punya dasar historis atas berdirinya kerajaan mereka. Empat di antaranya, mirip KAS yang mengaku memegang warisan janji 500 tahun pasca-runtuhnya Majapahit. Berikut empat kerajaan itu: Principato di Seborga Kerajaan atau lebih tepatnya Kepangeranan Seborga merupakan negara yang didirikan bekas seorang petani bunga hias Giorgio Carbone pada 1963. Monarki itu mengklaim lahan seluas 14 kilometer persegi di Liguria, kawasan di barat laut Provinsi Imperia, Italia. Carbone yang menasbihkan diri sebagai Pangeran Giorgio I, sebagai pemimpin hingga wafatnya pada 2009. The Telegraph dalam obituari sang pangeran menyebut bahwa Carbone punya klaim historis dari dokumen di arsip Gereja Vatikan. Arsip itu menyebutkan bahwa desa yang kemudian menjadi kota Seborga berdiri di atas lahan milik para biarawan Ordo Santo Benediktus sejak diberikan Count Guidone dari Ventimiglia pada tahun 954. Meski dianggap sudah berdaulat pada tahun 954, Seborga disebut baru memiliki bentuk pemerintahan principality (kepangeranan) sejak tahun 1079. Carbone mengklaim Principato di Seborga bukan bagian dari Italia berdasarkan Risorgimento atau perjanjian penyatuan sejumlah kerajaan maupun republik di Italia untuk melebur ke Kerajaan Italia pada 1861, lantaran Seborga tak disebutkan dalam perjanjian itu. Pemerintah Italia tak pernah menanggapi gerakan Carbone meski kepangeranan itu punya bendera –biru dengan garis silang putih seperti panji Santo Bernardus– plus moto negara “ Sub Umbra Sede” (Berdiam di bawah keteduhan). Pemerintah justru melihatnya sebagai daya tarik turisme. Setelah Pangeran Giorgio I mangkat, pemimpinnya dipilih lewat pemilu 25 April 2010. Marcello Menegatto menang dan memperoleh gelar Pangeran Marcello I hingga Nina Menegatto menggantikannya setelah memenangkan pemilu berikutnya, November 2019. Hingga 2018, tercatat 297 orang menjadi warga kepangeranan dengan mata uang Seborga Iuigino itu. Untuk pertahanan, kepangeranan punya pasukan sukarela Corpo delle Guardie. Principality of Sealand Sejak 1960-an Kepangeranan Sealand disebut banyak pihak sebagai negara mikro terkecil, teraneh, dan paling dikenal luas. Kepangeranannya dideklarasikan Paddy Roy Bates, penyiar stasiun radio ilegal Radio Essex . Negaranya berdiri di atas sebuah platform bekas benteng militer Inggris, 11 kilometer lepas pantai Suffolk. Mengutip John Ryan dkk dalam Micronations: Lonely Planet , mulanya platform itu sekadar salah satu bagian menara dari HM Fort Roughs. Benteng itu dibuat pada 1943 di masa Perang Dunia II sebagai benteng pertahanan yang ditempatkan sejumlah meriam antiudara untuk menangkal invasi udara Jerman Nazi. Pada 1956, benteng itu dinonaktifkan dengan ditenggelamkan. Namun menara dan platform tak tenggelam sepenuhnya. Lama tak berpenghuni, platform itu didatangi Bates dan keluarganya pada 2 September 1967. Di sanalah keduanya mendeklarasikan kemerdekaan Roughs Tower dari Inggris dan mendirikan Kepangeranan Sealand. Delapan tahun berselang, barulah kepangeranan memperkenalkan konsitusi, bendera nasional, lagu kebangsaan, mata uang, dan paspornya. Beberapakali negara itu diancam invasi pihak lain. Operator radio bajakan lain, Ronan O’Rahilly, sempat ingin merebutnya dengan kekerasan beberapa bulan setelah Bates mendirikan negara. Ancaman itu akhirnya dilerai pasukan Marinir Inggris dengan tembakan peringatan. Namun, Inggris tidak menindak mereka lantaran perairan tempat platform itu berada di perairan internasional dan belum masuk wilayah Zona Ekonomi Ekslusif (ZEE) Inggris. Perlahan, negara itu mulai menerima banyak warga baru yang tentu memunculkan perkara baru. Pada Agustus 1978, warga bernama Alexander Achenbach yang ingin menyulap platform itu menjadi kasino dan hotel mewah, melakukan kudeta saat sang pangeran dan keluarganya tengah ke Suffolk. Sang pangeran mampu merebutnya kembali. Sepeninggal Bates, tampuk pimpinan dilungsurkan ke putranya, Pangeran Michael, sejak 2012 hingga kini. Crown Dependency of Forvik Negara Mahkota ( Crown Dependency ) Forvik didirikan Stuart Hill pada pada 21 Juni 2008 dengan mengklaim Pulau Forewick Holm seluas 1 hektar di Selat Sound of Papa yang tak berpenghuni. Lokasinya sekitar 200 meter di selatan Pulau Papa Stour dan Semenanjung Sandness, Skotlandia. Mengutip Steven Roger Fischer dalam Islands: From Atlantis to Zanzibar , Hill mengklaim berhak mendirikan negara dengan pemerintahan sendiri terlepas dari Inggris Raya, berdasarkan perjanjian historis Raja Denmark dan Norwegia Christian I dengan Raja Skotlandia James III pada 1459. Hill menyebut, dalam perjanjian itu Raja Christian I menggadaikan pulau itu beserta Kepulauan Shetland sebagai mahar pernikahan putrinya, Margaret, dengan James III. Lantaran penggadaian itu tak pernah ditebus, Hill meyakini status Pulau Forewick Holm masih jadi sengketa dan dia berhak punya pemerintahan sendiri laiknya Isle of Man atau Kepulauan Channel. Sampai 2015, Hill yang mendapuk diri sebagai perdana menteri, mengklaim sudah punya 218 warga negara. Imperatorskiy Prestol Imperatorskiy Prestol yang berarti Takhta Kekaisaran, didirikan oleh Anton Bakov, pebisnis dan Ketua Monarkhicheskaya Partiya atau Partai Monarki di Rusia, pada 2011. Mulanya, Bakov memproklamirkan negara monarki konstitusional Romanovska Imperiya atau Kekaisaran Romanov, yang diklaim sebagai penerus Tsarisme Romanov. Kekaisaran itu ditumbangkan Revolusi Bolsheviks pada 1917. Menukil situs resmi negara, romanovempire.com , wilayah kekuasaannya mewarisi kawasan-kawasan yang dijelajahi AL Tsarisme Rusia di masa lalu yang tak menjadi bagian Uni Soviet, di antaranya dataran Antarktika, Inggris Raya, Amerika Utara, dan beberapa pulau di utara Jepang. Warganya tak lain adalah massa Partai Monarki Rusia. Sejak 2014 mereka mengklaim sudah punya 4.000 warga berpaspor Kekaisaran Romanov. Bakov sendiri mendapuk diri sebagai perdana menteri. Pada 31 Maret 2014, Bakov mengangkat Pangeran Nikolai Kirillovich Romanov sebagai Tsar Nikolai III. Nikolai yang punya nama lain Pangeran Karl Emich itu masih cicit buyut Tsar Alexander II. Dengan pengangkatan tsar itu, nama negara Romanovska Imperiya pun diubah menjadi Imperatorskiy Presto dan simbol negara berupa elang berkepala dua. Sementara, benderanya mirip bendera AL Rusia, bendera putih bermotif St. Andrew’s Cross. Berdirinya kekaisaran itu tak pernah ditanggapi pemerintah Rusia. Presiden Vladimir Putin menolak mentah-mentah permintaan lahan di Yekaterinburg oleh Nikolai III untuk dijadikan ibukota dan didirikan istana.
- Ilmu Eksak Tertua
Manusia Nusantara sudah mengenal ilmu perbintangan sejak 35.000 tahun lalu. Di salah satu lukisan cadas tertua, Leang-leang di Maros dan Pangkep, Sulawesi Selatan, ditemukan penggambaran proses perburuan babi dan rusa, telapak tangan, dan gambar-gambar geometris. Diperkirakan itu melambangkan bintang dan matahari. Sementara itu, peradaban Mesopotamia mencatat pengetahuan astronomi untuk pertama kali pada 4.000 tahun silam. Mesopotamia bahkan telah mengenal planet-planet seperti Dewi Isthar atau Inana, sekarang dikenal dengan nama Venus. “ Mereka juga telah memperkenalkan konsep makrokosmos dan mikrokosmos yang mencapai India pada awal milenium pertama . Kemampuan leluhur mempelajari langit dan angkasa merupakan ilmu eksak paling tua yang ada di muka bumi,” kata Ayu Dipta Kirana, kurator Museum Sonobudoyo, Yogyakarta . Karin menjabarkan sejarah perkembangan pengetahuan astronomi lewat pameran temporer Etnoastronomi bertajuk “Angkasa Raya, Ruang dan Waktu” di Museum Sonobudoyo Yogyakarta. Salah satunya soal bagaimana astronomi mempengaruhi religi masyarakat kuno hingga kini. Menurut Karin,dimulai sejak kepercayaan animisme dan dinamisme, praktik penyembahan terhadap matahari sudah dijumpai. Komunitas pendukung kebudayaan itu meyakini kalau matahari memberikan kehidupan terhadap mereka. Aliran kepercayaan ini kemudian berkembang secara konseptual menjadi agama dunia yang lebih kompleks. Nekara, salah satu dari corak kebudayaan logam awal, merupakan salah satu perangkat dalam upacara. Nekara ini dihiasi dengan berbagai unsur alam dan angksa, seperti simbol matahari, rembulan, dan bintang. (Wikipedia). Nekara, salah satu dari corak kebudayaan logam awal, merupakan salah satu perangkat dalam upacara. Nekara ini dihias dengan berbagai unsur alam dan angksa, seperti simbol matahari, rembulan, dan bintang. Praktik peribadatannya kemudian turut pula dipengaruhi oleh konsep langit dan arah mata angin, seperti dalam agama Hindu atau Buddha. “Ada pengetahuan kuno mengenai konsep kosmologi yang menjadi dasar spiritual beberapa kepercayaan kuno. Manusia adalah bagian dari sebuah jagad besar (makrokosmos) alam semesta ini, manusia juga representasi dari jagad kecil (mikrokosmos),” kata Karin. Karenanya, manusia percaya kalau nasib dan garis hidupnya sudah ditentukan dan dibaca oleh langit. “ Konsep makrokosmos dan mikrokosmos merupakan konsep tua dari masa Babilonia yang kemudian menyebar ke India, mempengaruhi perkembangan agama Hindu-Buddha juga ,” lanjut Karin . Misalnya dalam pembangunan bangunan suci. Biasanya orang kuno menggunakan konsep mandala . Mandala adalah representasi dari alam semesta yang diwujudkan dalam konstelasi dewa-dewa berdasarkan tingkatannya. Konsep ini merupakan imajinasi visual mengenai alam raya. Sebagaimana yang dijabarkan dalam pameran, Candi Borobudur menjadi contoh bangunan Buddhis yang memperlihatkan konsep mandala dengan jelas. Dikenal arca lima tokoh Tataghata yang mewakili unsur pokok alam semesta: Wairocana, Aksobhya, Ratnasambhawa, Amitabha, dan Amoghasiddhi. Menurut arkeolog Universitas Indonesia, Supratikno Rahardjo dalam Peradaban Jawa arca Wairocana menguasai zenith dengan sikap tangan memutar roda dharma . Aksobhya menguasai arah timur dengan sikap tangan kanan seakan menyentuh bumi. Ratnasambhawa menguasai arah selatan, dengan sikap tangan mengajar. Amitabha menguasai arah barat dengan sikap tangan bersemadi. Lalu Amoghasiddhi menguasai arah utara dengan sikap tangan menolak bahaya. Karena menjadi bagian dari jagad besar, gerak konstelasi bintang pun bisa dijadikan pertanda masa depan. Segala peristiwa dan kejadian dapat diprediksi dan berjalan sesuai dengan tatanan kosmik yang telah berlangsung selama ribuan tahun. Dalam pameran yang masih berjalan hingga 10 Februari 2020 itu dijumpai cawan zodiak atau yang disebut dengan prasen. Ini biasanya menjadi perlengkapan upacara adat masyarakat Tengger, yang mendiami dataran tinggi di sekitar kawasan Pengunungan Bromo-Tengger-Semeru, Jawa Timur. Prasen digunakan sebagai wadah air suci oleh Dukun Pandita. J.G. de Casparis, epigraf asal Belanda, dalam Indonesian Chronology menjelaskan prasen umumnya dibuat pada era Majapahit, abad ke-14 hingga ke-15. Ia berbahan perunggu. Pada permukaannya terdapat simbol-simbol zodiak. Di antaranya Mesa (domba jantan, Aries), Vrsabha (lembu jantan, Taurus), Mithuna (anak kembar, Gemini), Karka (ketam, Cancer), Simha (singa, Leo), Kanya (gadis, Virgo), Tula (timbangan, Libra), Vrscika (kalajengking, Scorpio), Dhanusa (busur panah, Sagitarius), Makara (uadng, Capriconus), Kumbha (guci, Aquarius), Mina (ikan, Pisces). “Kehadiran tanda-tanda zodiak mirip jam matahari berhubungan dengan pengukuran waktu, misalnya penggunaannya dalam upacara keagamaan, mengetahui waktu kapan matahari memasuki setiap tanda zodiak,” jelas Casparis. Angkasa yang menjadi dasar konsep waktu hadir dalam konsep spiritual hingga masa kini. Tanda-tanda pergantian waktu diterjemahkan praktik ibadahnya. Karin mencontohkan dengan waktu-waktu kapan azan, sebagai penanda waktu salat dalam Islam, dikumandangkan. “Dalam Islam, perubahan waktu amat penting sebagai pondasi spiritual, termasuk untuk menentukan waktu perayaan ibadah seperti Ramadan,” kata Karin. Menurutnya, pengamatan bintang dan benda-benda langit di alam raya membantu manusia untuk mewujudkan kepercayaan mereka. Tak heran, sejak dulu mereka yang ahli mengamati pergerakan benda langit mendapat tempat penting di masyarakat. Di Jawa Kuno dan Bali Kuno dikenal jabatan wariga . Daud Aris Tanudirjo, arkeolog Universitas Gadjah Mada, menjelaskan tugas wariga adalah menentukan waktu dan tempat yang baik untuk memulai suatu pekerjaan. Caranya dengan membaca kejadian alam yang berulang atau gerakan benda-benda di langit. Beberapa prasasti menyebut profesi itu. Misalnya, prasasti-prasasti dari masa pemerintahan Rakai Kayuwangi (856-883) dan Rakai Watukura (901-910). Di sana disebut beragam jabatan di desa. Menurut ahli epigrafi, Boechari dalam Melacak Sejarah Kuno Indonesia Lewat Prasasti , jika dijumlahkan semuanya kira-kira lebih dari 30 jabatan, di antaranya wariga . “Kita saat ini sudah memegang pengetahuan luar biasa itu dalam alat bantu berupa kompas atau GPS, misalnya. Smartphone kita memuat semua pengetahuan itu terasa sangat sederhana, tapi dulu, tak semua orang bisa memahami pengetahuan langit,” kata Karin. Pembaca bintang dan benda langit pada masa lalu tak cuma penting dalam spiritual, tapi dalam keseharian bahkan politik. Langit menentukan waktu tanam, waktu perjalanan, navigasi, menerjemahkan konsep pagi, siang, malam, untuk beradaptasi terhadap lingkungan, hingga meramal nasib kerajaan.
- Makam Plumbon Jadi Situs Memori CIPDH-UNESCO
PADA 1980-an, sebuah makam dengan tumpukan batu di hutan Plumbon, Semarang hanyalah sebuah tempat bagi orang-orang yang mencari peruntungan nomor togel. Sesekali ada orang berziarah, namun tak dikenal siapa mereka. Pasca Reformasi, tepatnya pada 2000, Yayasan Penelitian Korban Pembunuhan 1965 (YPKP 65) yang diketuai Sulami, mantan Sekretaris Jenderal Gerwani (Gerakan Wanita Indonesia), sempat mengidentifikasi keberadaan makam yang diduga berisi kerangka korban-korban pembunuhan massal 1965 tersebut. Namun, tak ada kelanjutan dari indentifikasi kala itu, hingga pada 2014, sekelompok aktivis yang membentuk Perkumpulan Masyarakat Semarang untuk Hak Asasi Manusia (PMS-HAM) mulai membuka memori masa silam dari makam di tengah hutan jati itu. PMS-HAM memerlukan waktu 7,5 bulan untuk melakukan penelitian mengenai identitas para korban serta melakukan pendekatan kepada masyarakat dan pemerintah. “Jadi kami mencari kolega korban, keluarga korban, kemudian minta izin dari RT, RW, lurah, camat sampai walikota, Polsek, Polres, Polda, Koramil, sampai Kodam, dan kami tembuskan juga ke Mabes TNI,” ujar Yunantyo Adi Setiawan, Koordinator PMS-HAM kepada historia.id. PMS-HAM kemudian berhasil mengidentifikasi delapan nama dari 24 korban yang diperkirakan dikubur di makam tersebut. Mereka adalah Moetiah, Soesatjo, Darsono, Sachroni, Joesoef, Soekandar, Doelkhamid, dan Soerono. Moetiah adalah guru TK Melati dan anggota Gerwani di Patebon, Kendal. Soesatjo adalah patih yang merangkap pengurus PKI Kendal. Joesoef adalah carik di Desa Margorejo dan anggota PKI di Cepiring. Soerono adalah anggota PKI dari Kedungsuren. Sachroni adalah anggota PKI dari Mangkang. Sedangkan, Darsono, Soekandar, dan Doelkhamid , merupakan anggota Pemuda Rakyat. Yunantyo menyebut kedelapan korban dan belasan lainnya dibunuh tanpa proses hukum yang jelas. “Tidak ada pengadilannya. Baru dicurigai tapi sudah dibunuh. Jadi,sebagai upaya kemanusiaan kita waktu itu, rekonsiliasi dalam bentuk memanusiakan makam mereka,” terangnya. Awalnya PMS-HAM hendak melakukan penggalian terhadap makam tersebut. Namun, karena Komnas HAM tidak merespons permohonan izin yang diajukan, maka dipilih opsi pemasangan nisan. PMS-HAM juga berkaca dari peristiwa di Wonosobo pada 2000. Kala itu YPKP65 melakukan ekskavasi kuburan massal di Hutan Kaliwiro, Wonosobo. Ketika hendak dimakamkan ulang di daerah Kaloran pada 2001, terjadi penolakan dari Forum Ukhuwah Islamiyah Kaloran (FUIK). Beberapa kerangka bahkan dibakar. Maka untuk pemasangan nisan makam Plumbon, PMS-HAM melakukan dialog dengan Pemuda Pancasila dan Front Pembela Islam (FPI) terlebih dahulu. “Kita hanya bicara kemanusiaan saja , tidak bicara konflik masa lalu,” terangnya. Doa lintas agama pada acara pemasangan nisan makam korban pembunuhan massal 1965 di Plumbon, Semarang, 1 Juni 2015. (Dok. Yunantyo Adi Setiawan). Pada 1 Juni 2015, acara pemasangan nisan dilangsungkanbersamaan dengan Hari Lahir Pancasila. Dengan mengundang warga, tokoh lintas agama, serta berbagai elemen masyarakat dan ormas, acara dapat berjalan dengan lancar. PMS-HAM juga melibatkan pemerintah daerah, pimpinan Perhutani Kendal selaku pemilik lahan hutan, serta pihak kepolisian dan TNI. Akhirnya, sebuah batu nisan dari marmer bertuliskan delapan nama korban pembunuhan berhasil didirikan. “Intinya waktu itu kita resmikan dengan doa bersama lintas agama bersama warga bahwa tempat itu mulai 1 Juni 2015 menjadi tempat terbuka sebagai upaya kemanusiaan terhadap korban itu,” jelas Yunantyo. Nisan ini menjadi monumen pertama korban pembunuhan masal 1965 yang didirikan secara resmi atas izin pemerintah. Acara ini juga sekaligus menjadi peristiwa rekonsiliasi kultural bagi korban, masyarakat dan pemerintah. Pada 1 Mei 2019, Yunantyo mendapat surel dari The International Center for the Promotion of Human Rights (CIPDH) yang berada dibawah United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization (UNESCO), yang meminta materi terkait makam Plumbon tersebut. CIPDH-UNESCO kemudian menetapkan makam itu sebagai situs memori terkait pelanggaran HAM berat. CIPDH-UNESCO didirikan pada 2007 di Buenos Aires, Argentina, untuk meningkatkan kesetaraan dan nondiskriminasi melalui program-program yang mempromosikan kesetaraan gender, keberagaman dan antarbudaya. CIPDH-UNESCO mengandalkan potensi pendidikan warisan budaya dan sejarah sebagai elemen penting dalam membangun identitas kolektif. Selain itu,CIPDH-UNESCO juga memprioritaskan pendidikan HAM sebagai pendorong untuk mempromosikan budaya koeksistensi demokratis dan akses yang setara terhadap HAM. Untuk itu, CIPDH-UNESCO berupaya memvisualisasikan situs-situs terkait dengan memori pelanggaran HAM berat di seluruh dunia sebagai bagian dari warisan budaya kolektif komunitas dalam bentuk peta interaktif. Proyek ini juga bertujuan untuk memperoleh pengetahuan tentang bagaimana masyarakat berurusan dengan masa lalu mereka, kebijakan publik apa yang diberlakukan untuk menjaga memori dan untuk mengumumkannya, serta kesepakatan dan konsensus apa yang memungkinkan ingatan ini dikenal. Proyek ini mendata berbagai warisan meliputi arsip, warisan budaya tak benda, monumen, museum dan situs dengan tema perbudakan, genosida dan atau kejahatan massal, konflik bersenjata, dan persekusi politik. Makam Plumbon masuk dalam kategori situs persekusi politik bersama kuburan massal Priaranza del Bierzo di Spanyol dan Space for Memory and for the Promotion and Defense of Human Rights (Former ESMA) di Argentina. Selain makam Plumbon, CIPDH-UNESCO juga memasukan Aksi Kamisan dalam peta mereka. Aksi dengan pakaian dan payung hitam di depan Istana Negara itu masuk dalam kategori warisan budaya tak benda dengan tema persekusi politik.
- Sepuluh Benda Bersejarah Hasil Repatriasi dari Belanda
MUSEUM Nasional kini tengah melakukan kajian konten dan kajian konservasi terhadap 1.499 benda bersejarah hasil repatriasi dari Belanda. Sebagian besar benda memang belum memiliki data provenance (asal usul) yang lengkap. Beberapa data bahkan baru berupa perkiraan dari pihak Museum Nusantara, Delf. "Banyak koleksi yang belum jelas provenance -nya (asal usulnya). Perlu kajian khusus untuk memperdalam informasi koleksi itu sendiri," jelas Nusi Lisabila Estudiantin, Kepala Bidang Pengkajian dan Pengumpulan Museum Nasional Indonesia. Nantinya, kata Nusi, benda-benda tersebut akan diklasifikasikan dalam tujuh kelompok, yakni prasejarah, etnografi, arkeologi, numismatik dan heraldik, geografi, keramik dan sejarah. Berikut ini sepuluh dari 1.499 benda bersejarah yang diperoleh dari situs resmi Museum Nusantara ( collectie-nusantara.nl ): 1. Model Perahu dari Cengkeh Model perahu yang disusun dari kuncup-kuncup cengkeh. ( collectie-nusantara.nl ). Model perahu dengan pendayung dan tiga tiang ini terbuat dari susunan cengkeh. Tiap-tiap kuncup cengkeh disatukan dengan cara dijahit menggunakan benang. Benda berukuran 19 x 39,5 x 9 cm ini berasal dari paruh pertama abad ke-20. Terdapat dua model kapal dengan bentuk berbeda serta satu model bentuk set peralatan merokok dan satu set peralatan minum teh. Semuanya berasal dari Ambon, Maluku. 2. Ukiran Tanduk Rusa Tanduk rusa dengan ukiran dari Bali. (Fernando Randy/Historia). Dua tanduk rusa sepenuhnya dihiasi dengan ukiran. Ukiran-ukiran merepresentasikan pangeran, putri, raksasa, dan garuda dan lain sebagainya tersebar pada dua tanduk. Data Museum Nusantara menyebut ukiran tanduk ini "berkualitas tinggi". Dua tanduk tersebut kemungkinan merupakan tanduk rusa Jawa atau rusa Timor ( Cervus timorensis syn . Rusa timorensis ) yang dibuat atau dibawa dari Bali. Kedua tanduk ini diperkirakan berasal dari abad 19–20. 3. Kapak Batu Kapak batu berasal dari 5.000-1.000 SM. ( collectie-nusantara.nl ). Sebuah kapak terbuat dari batu yang diperkirakan berasal dari 5.000-1.000 SM. Kapak ini berbentuk cembung memanjang. Sementara bagian depannya datar dan bagian sisinya sempit dan rata. Data Museum Nusantara menyebut kapak berukuran 3 x 9 x 5,5 cm ini berasal dari Pulau Kalimantan. 4. Peralatan Perak Batak Beragam peralatan perak dari Batak. ( collectie-nusantara.nl ). Terdapat 12 objek berbeda yang digantung dengan rantai yang disatukan oleh cincin logam. Berisi berbagai peralatan seperti pembersih telinga, penjepit rambut, tusuk gigi, kotak tembakau hingga kotak kapur. Peralatan terbuat dari perak ini berasal dari paruh kedua abad ke-19 (sebelum 1890). Kemungkinan dibuat atau dibawa dari Karo, Sumatra Utara. 5. Liontin Ikan Berkepala Naga Liontin ikan berkepala naga dari Jawa Timur. ( collectie-nusantara.nl ). Sebuah liontin berbentuk ikan dengan kepala naga berukuran 10,5 x 13 x 0,4 cm. Liontin ini kemungkinan juga digunakan sebagai jimat keberuntungan. Liontin ini terbuat dari tembaga dan perak dan berasal dari paruh pertama abad ke-20. Kemungkinan berasal dari kebudayaan Peranakan di Jawa Timur. Liontin sejenis disebut sebagai "kalung baderan" atau kalung ikan mas. 6. Gayor Gong Gayor gong yang dibuat oleh seniman M.B. Djadjeng Lesono. ( collectie-nusantara.nl ). Gayor gong atau stand gong ini menurut data Museum Nusantara diproduksi pada 1925 oleh seniman M.B. Djadjeng Lesono dari Yogyakarta. Sementara gongnya disebut dibuat di Bogor dari perunggu. Gayor gong dihiasi ukiran dengan karakter dua orang penjaga dengan pedang di bagian atas. Terdapat pula karakter naga di kedua sisi. Bagian tengah berupa lubang bundar untuk gong. Kemudian pada bagian atas merupakan pahatan karakter merak dengan ekor mengembang. Gayor gong ini berukuran 173,5 x 140 x 27 cm. 7. Laci Perhiasan Piramida Laci perhiasan berbentuk piramida. ( collectie-nusantara.nl ). Laci berbentuk piramida ini merupakan kotak perhiasan pernikahan. Namun, ada kemungkinan juga merupakan kotak obat. Laci berukuran 43 x 39 x 38 cm ini diperkirakan berasal dari Bali atau Jawa Timur. Dibuat atau dibawa ke Belanda pada paruh pertama abad ke-20. Terdapat satu lagi laci berbentuk piramida yang berasal dari Palembang. 8. Sisir Sisik Penyu Sisir yang terbuat dari cangkang penyu sisik. ( collectie-nusantara.nl ). Sisir dekoratif ini dibuat dari cangkang penyu sisik ( Eretmochelys Imbricata ). Bagian atas sisir melengkung dan memiliki motif cut-out . Di bagian tengah terdapat bentuk sebatang pohon kehidupan. Sementara di kedua sisi berupa ayam jantan yang berdiri di atas seekor rusa. Sisir dekoratif lainnya menunjukan motif garuda di bagian tengah, kuda poni dan seorang gadis. Sisir berukuran sekitar 15 x 13,5 x 5 cm ini kemungkinan berasal dari Sumba, dibuat atau dibawa ke Belanda pada paruh pertama abad ke-20. 9. Jas Hujan Sabut Kelapa Jas hujan sabut kelapa dari Belitung. ( collectie-nusantara.nl ). Benda ini berasal dari paruh kedua abad ke-19 (sebelum 1895). Jas hujan berdimensi 125 x 120 cm ini berasal dari daerah Dendang, Pulau Belitung (dulu Biliton). Jas hujan yang dibuat dari sabut kelapa ini berasal dari kebudayaan China dan menurut data Museum Nusantara, jas hujan ini memang digunakan oleh penambang China di Pulau Belitung. 10. Model Rumah Adat dan Perahu Model perahu dagang dari Kota Baru, Sumatra Barat. (Fernando Randy/Historia). Terdapat setidaknya 16 model perahu serta 12 model rumah dan masjid yang tururt dikembalikan. Model-model perahu mewakili bentuk perahu dari Bugis, Makassar, Sangihe, Bacan, Jawa, Madura, hingga Sumatra. Model perahu paling besar berupa perahu dagang dari Kota Baru, Sumatra Barat. Model perahu berukuran 197 x 53 cm bahkan memiliki dua atap. Diperkirakan berasal dari paruh kedua abad ke-19. Sementara model rumah, masjid, dan lumbung merepresentasikan berbagai kebudayaan di Nusantara. Sebagian besar dibuat atau dibawa ke Belanda pada paruh kedua abad ke-19. Selain benda-benda di atas, masih ada ratusan tekstil, mata uang, litograf, perabot rumah, perhiasan, dan senjata. Pihak Museum Nasional telah menyiapkan gedung baru berlantai tiga yang akan difungsikan sebagai storage di belakang Taman Mini Indonesia Indah (TMII). Kedepan, juga akan dilakukan berbagai kegiatan penunjang penelitian dan konservasi museum di storage baru ini. "Nanti akan ada untuk pelatihan konservasi, sekolah konservasi, untuk museum-museum di Indonesia dari sana. Semacam workshop ," ujar Siswanto, Kepala Museum Nasional. Setelah kajian konten dan konservasi selesai, Museum Nasional rencananya akan menggelar pameran benda-benda hasil repatriasi pada Juni mendatang.





















