top of page

Hasil pencarian

9837 hasil ditemukan dengan pencarian kosong

  • Rokok Kretek Rumahan Eksis di Tengah Krisis

    GELOMBANG pasang Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) terkait dampak ekonomi akibat pandemi Covid-19 mulai berlangsung. Sebuah video viral menangkap suasana murung puluhan karyawan yang di-PHK di sebuah ritel besar di Depok, Jawa Barat. Di tempat lainnya, ratusan ribu orang di beragam sektor usaha dan bisnis juga telah kehilangan pekerjaannya. Hampir 90 tahun lalu, PHK massal juga pernah melanda Hindia Belanda. Saat itu, ekspor Hindia Belanda jatuh dihantam resesi global pada awal dekade 1930-an. Barang melimpah, harganya turun, tapi orang sulit memperoleh uang. Industri manufaktur di kota dan agroindustri mem-PHK buruh-buruhnya. Sebagian buruh kembali ke kampung halaman atau desanya untuk mencari pekerjaan lain. "Mereka yang sudah menjadi penduduk kota, seperti para buruh di Surabaya, menggantungkan diri pada jaringan sosial kampung untuk bertahan hidup," catat Dick Howard dalam Surabaya, City of Work: A Socioeconomic Behaviour in Java. Salah satu jaring pengaman sosial perdesaan adalah usaha rokok rumahan.

  • Wartawan Jadi Tentara Gurkha Dadakan

    Setelah menempuh perjalanan panjang, Rosihan Anwar dan Soedjatmoko tiba di Yogyakarta. Mereka baru saja selesai meliput Konferensi Malino dari Makassar. Rencananya hasil reportase itu akan disampaikan kepada Presiden Sukarno dan wakilnya Mohammad Hatta. “Setibanya di Stasiun Tugu, Yogya, saya bergegas ke Hotel Merdeka di Jalan Malioboro, saya jijnjing kopor pakaian dan saya kepit gulungan tikar sembahyang,” tutur Rosihan dalam Musim Berganti: Sekilas Sejarah Indonesia 1925—1950 . Pada waktu itu Rosihan adalah redaktur yang bernaung di bawah harian Merdeka,  media berhaluan nasionalis di masa revolusi. Menurut Rosihan keadaan di hotel kurang terpelihara karena banyak tamu yang datang silih berganti. Beruntung Rosihan masih mendapat kamar meskipun harus berbagi dengan Charles Tambu, pemimpin redaksi suratkabar berbahasa Inggris Independen . Saat itu, Charles Tambu menghindari kejaran tentara Belanda, mengungsi ke Yogya dan diperbantukan di Kementerian Penerangan.  Masuk kamar hotel, Rosihan menaruh kopernya di kolong ranjang lalu beranjak mandi. Dia kemudian mempersiapkan diri bertemu Sukarno pada pukul 11.00. Soal protokol tiada masalah. Bung Karno cukup terbuka dan gampang dihubungi. Maklum saja, masih dalam suasana zaman berjuang. Menjelang pukul 11.00,  Rosihan dan Soedjatmoko sudah berada di gedung kepresidenan. Bung Karno dan Bung Hatta menyambut dengan ramah. Mereka menanyakan bagaimana jalannya Konferensi Malino. Soedjatmoko – pemimpin redaksi majalah Het Inzicht terbitan Kementerian Penerangan melaporkan, Konferensi Malino diselenggarakan Hubertus van Mook. Menurut Soedjatmoko, van Mook hendak menyudutkan Republik Indonesia lewat konferensi yang melibatkan orang Indonesia bagian Timur sebagai kaki tangan. Berita baiknya, tidak semua rakyat Indonesia Timur berpihak kepada Belanda. Malahan dalam Konferensi Malino ada tokoh-tokoh daerah yang mendukung Republik. Hal inilah yang disampaikan Rosihan Anwar. Rosihan menyebutkan delegasi Sulawesi Selatan Tadjuddin Noor adalah seorang Republiken. Begitu pula dengan Raja Suppa Muda, putra Raja Bone Andi Mapanyuki yang diinternir oleh Belanda di Toraja. Raja Suppa Muda bahkan menitipkan dua helai tikar sembahyang dan sarung bugis kepada Rosihan untuk diserahkan kepada Sukarno dan Hatta. Itulah sebagai simbol dukungan rakyat Sulawesi Selatan kepada pemerintah Indonesia. “Tikar sembahyang, yang saya kepit mulai dari Makassar, saya bawa ke Jakarta, saya taruh di rak kereta api menuju Yogya, sudah sampai di tangan alamatnya,” ujar Rosihan. Di kereta api, Rosihan sempat memakai tikar sembahyang itu sebagai alas tidur.  Selesai menunaikan tugasnya, Rosihan kembali ke hotel. Alangkah terkejut dirinya menyaksikan koper yang disimpan sudah tidak ada lagi di tempat. Ditanyakan kepada pelayan hotel sia-sia belaka. Kasim Mansur, kawan Rosihan yang juga tinggal di hotel itu ikut mencari namun benda yang dicari tidak ketemu. “Rupanya bukan saja sekali merdeka, tetap merdeka, tetapi sekali hilang tetap hilang,” demikian Rosihan mengingat peritstiwa apes yang menimpa dirinya.            Semua pakaian Rosihan ada di koper itu. Rosihan pun harus bertahan dengan pakaian yang melekat di badan. Lagi pula dia tidak punya uang untuk beli pakaian salin. Dengan keadaan demikian, Rosihan pulang ke Jakarta. Nasib mujur masih menaungi Rosihan. Di Jakarta, Rosihan punya kenalan seorang tentara British Indian Army (BIA) dari unit Gurkha bernama Kapten Nirmal Sen Gupta. Sang perwira Gurkha yang bekerja di stasiun radio Sekutu di Gambir Barat ini mendengar kejadian sial yang dialami Rosihan. Kapten Gupta pun berbaik hati memberikan sepasang pakaian: seragam serdadu Gurkha. Walaupun agak gombrong, apa boleh buat. Tekstil langka dan mahal pada saat itu. Jadilah Rosihan tentara Gurkha dadakan. Sejak itu, Rosihan biasa memakai uniform hijau tentara Sekutu. Orang mungkin akan menyangka Rosihan bagian dari tentara Sekutu, padahal dirinya adalah wartawan Republiken di Jakarta. “Untung, tidak ada yang bertanya mengapa saya berpakaian demikikian,” kenang Rosihan, “Sebab kalau mesti jawab, niscaya kudu mulai dengan kisah sehelai tikar sembahyang.”

  • Nas yang Nahas

    KETIKA Presiden Sukarno bingung mencari kandidat yang pas untuk mengisi jabatan KSAD yang –sementara dijabat Pj. KSAD Kolonel Zulkifli Lubis– kosong, Gatot Subroto menyarankannya agar memilih kembali AH Nasution bila presiden menginginkan sosok yang paling sesuai dengan keinginannya untuk memimpin Angkatan Darat. Presiden akhirnya menerima saran Gatot. Saran Gatot tentu berangkat dari pertimbangan-pertimbangan rasional. Namun di luar itu, Gatot mengenal betul karakter orang yang dicalonkannya. Gatot dan Nas, sapaan akrab AH Nasution, telah menjalin persahabatan sejak lama meski usia keduanya berbeda jauh. Beberapa pengalaman hubungan kedua jenderal mantan KNIL itu di masa Perang Kemerdekaan dituliskan Nas dalam memoarnya, Memenuhi Panggilan Tugas . Sewaktu Nas menjadi panglima Divisi Siliwangi dan Gatot panglima Divisi Sunan Gunung Jati, misalnya, keduanya sering bertemu. “Kolonel Gatot Subroto, panglima Divisi II, sehabis menginspeksi anak buahnya sering mampir di pos komando saya, mengolok dengan kata-kata, ‘Kamu terlalu zakelijk , kamu tak tahu kesenangan’,” tulis Nas dalam memoarnya. Nas biasanya membalas celetukan itu dengan celetukan pula. Suatu ketika, Gatot yang mengunjungi pos komando Nas mendapati Nas dan bawahannya sedang sarapan. Melihat menu sarapan mereka berupa jagung tua yang direbus dengan gula, Gatot enggan ikut sarapan dan melontarkan kalimat yang menyulut tawa hadirin. “Gigi-gigi saya sudah tua, tidak bisa mengunyah jagung setua begitu. Maka itu saya cari-cari makan di luar saja!” kata Gatot, dikutip Nas. Namun, persahabatan Nas dan Gatot tak melulu berisi canda-tawa. Usai Perjanjian Renville, Gatot pernah mencurigai Nas. “Rekan Kolonel Gatot Subroto mendapat laporan-laporan yang bersifat tuduhan bahwa Jenderal Mayor Nasution adalah seorang agen NICA. Laporan-laporan itu membanjir sedemikian banyaknya sehingga ia sendiri mulai bimbang mengenai diri saya,” kata Nas mengenang. Psywar  tentang mata-mata musuh begitu masif pada masa itu. Biasanya yang menjadi korban adalah orang-orang yang punya keterkaitan latar belakang, entah pendidikan atau jabatan, dengan Belanda, atau orang-orang yang secara fisik mirip indo. Rohmah Soemohardjo, istri Jenderal Oerip Soemohardjo, salah satu yang mengalaminya. Ia dicuriga laskar sebagai mata-mata Belanda karena punya hubungan akrab dengan orang-orang Belanda dan kemampuan bahasa Indonesianya buruk. Akibat kecurigaan itu, Rohmah selama suatu waktu pernah mengalami ancaman pembunuhan setiap hari dan rumahnya pernah diperampok. Tuduhan sebagai mata-mata NICA yang berlanjut dengan ancaman penculikan juga menimpa KSAU Komodor Suryadarma yang punya tampilan fisik seperti bule dan latar belakang sebagai navigator di AU KNIL. “Pengumuman Belanda bahwa Komodor Suriadarma ‘diberhentikan dengan resmi dari dinas militer KNIL’ merupakan bahan provokasi yang luas pula, sehingga salah seorang anggota delegasi kita sudah benar-benar menganggap dia berada di pihak Belanda,” tulis Nasution. Tuduhan itu amat mengganggu Suryadarma. “Soeriadi sering merasa kecewa, sakit hati, kalau ia mendengar isu atau desas-desus bahwa ia seorang NICA karena ia bekas KNIL,” kata istri Suryadarma, Utami Suryadarma, dalam memoar berjudul Saya, Soeriadi, dan Tanah Air . “Mungkin juga desas-desus itu berasal dari pihak-pihak kita sendiri yang merasa iri.” Karena tuduhan yang amat mengganggu itulah Suryadarma akhirnya suatu hari membuka tantangan. “Ia pernah mengumbar secara terbuka di hadapan banyak perwira dan prajurit dengan berkata, bahwa silahkan siapa saja yang berani menculik dia, akan dihadapi dengan pistolnya yang dapat dipakainya dengan tangan kiri dan kanan. Dan seketika itu juga, ia mendemonstrasikan kelihaian ini. Sejak itu hilanglah suara-suara kelompok yang mau menculiknya,” sambung Utami. Berbeda dari Suryadarma yang merespon tuduhannya dengan cara koboi, Nas justru lebih banyak diam merespon tuduhan miring yang dialamatkan kepadanya. Kecurigaan Gatot terhadapnya hilang setelah Gatot mengutarakannya kepada Wapres Moh. Hatta dan mendapat penjelasan yang meyakinkannya. Namun ketika bertemu Presiden Sukarno, Nas akhirnya mengutarakan juga kegelisahannya. Nahas bagi Nas, alih-alih mendapatkan respon serius presiden untuk membahas solusinya, dia justru mendapati presiden bersikap seolah tak peduli sambil bercanda. “Waktu saya singgung hal itu di depan Presiden, ujar beliau dengan tertawa adalah sekadar: ‘Ah, mukamu juga seperti peranakan Indo’,” kata Sukarno dikutip Nasution.*

  • Mengenang Hebatnya Dolores O’Riordan di Panggung

    Vokalis band The Cranberries asal Irlandia, Dolores O’Riordan, ditemukan meninggal dunia di bak mandi kamarnya, di Hotel Park Land Hilton, London, 15 Januari 2018. Industri musik dunia gempar. Spekulasi bermunculan. Apakah Dolores bunuh diri? Catatan dokter menunjukkan kematian Dolores bukan bunuh diri, melainkan kecelakaan setelah menenggak alkohol. “Ini kecelakaan yang tragis,” ujar dokter Shirley Radclife dilansir dari  washingtonpost.com . Dolores saat tampil di Jakarta pada 2011. (Fernando Randy/Historia). Semasa hayatnya, Dolores tampil cemerlang di blantika musik. Dia memulai kiprahnya bersama The Cranberries pada 1990. Grup ini tadinya bernama The Cranberry Saw Us dengan personel Niall Quinn (vokalis), kakak beradik Noel Hogan (gitaris) dan Mike Hogan (bassis), dan Fergar Lawler (penabuh perkusi).  Begitu Niall Quinn keluar karena alasan sudah tidak ada kecocokan di antara mereka lagi, Dolores masuk menggantikannya. Kualitas vokal Dolores memikat Mike dan Noel. Mereka akhirnya merekrut Dolores dan mengganti nama grupnya jadi The Cranberries. Bergabungnya Dolores membawa peruntungan. Lagu-lagu The Cranberries bertengger di puncak tangga lagu Irlandia, Eropa Timur, dan Amerika Utara.  Hits  mereka antara lain "Ode To My Family", "Linger", "Salvation", "Dreams" dan "Zombie". Album-album mereka juga laris manis tanjung kimpul.  Dolores dengan gitar andalanya saat membawakan lagu-lagu The Cranberries. (Fernando Randy/Historia). Dolores menghibur ribuan fansnya di Jakarta. (Fernando Randy/Historia). Dolores bersama The Cranberries memberikan warna baru kepada blantika musik tahun 1990. Saat itu aliran  Grunge Music  lagi jaya-jayanya dengan grup Nirvana sebagai kepalanya. Lalu diikuti oleh Soundgarden dan Pearl Jam. Keberhasilan penjualan album membawa The Cranberries tur keliling dunia. Hingga akhirnya mereka sampai pada titik jenuh dalam bermusik dan menyatakan vakum.  The Cranberries kemudian bereuni. Tempat yang dipilihnya istimewa: Indonesia. Mereka tampil dalam acara "Java Rockin Land" di Ancol, Jakarta, pada 2011. The Cranberries mementaskan hampir semua  hits -nya malam itu. Mereka sadar penggemarnya rindu setengah mampus. The Cranberries telah lama menghilang. Obat paling mujarab untuk membayar tuntas kerinduan para penggemar adalah dengan memainkan  hits  yang ada.  Suara unik nan khas adalah salah satu andalan Dolores dalam bernyanyi. (Fernando Randy/Historia). Dolores bernyanyi seolah energinya tak akan habis. Vokalis kelahiran 6 September 1971 masih atraktif serupa pemudi usia 20-an. Dia fasih memainkan gitar dan bergonta-ganti pakaian. Dan yang membuat penggemarnya makin kesengsem, Dolores tak pelit menyapa. Malam itu benar-benar milik The Cranberries, Dolores, dan ribuan penggemarnya.  Aksi bersemangat dari Dolores. (Fernando Randy/Historia). Total seluruh hits dibawakan oleh The Cranbberies di Jakarta. (Fernando Randy/Historia). Ribuan penggemar yang menyaksikan aksi panggung The Cranbberies. (Fernando Randy/Historia). Kini setelah hampir dua tahun kepergian Dolores, The Cranberries mengeluarkan album baru sebagai penghormatan untuk sang vokalis. Album itu memuat 11 lagu yang sempat mereka rekam saat masih bersama Dolores. Dimulai dari  singel  berjudul "All Over Now" dan berakhir pada "In The End" yang menjadi tajuk album mereka.  Tanpa lelah Dolores dan The Cranberries tampil di hadapan para penggemar mereka. (Fernando Randy/Historia). Album penghormatan itu ternyata masuk nominasi untuk kategori album rock terbaik dalam ajang Grammy Awards 2020. Dolores boleh jadi sudah bernyanyi di surga sana. Tapi sisa-sisa suaranya masih  nyantol  kuat di dunia sini. Selamat jalan, Dolores.  Usai sudah penampilan The Cranbberies dan Dolores di Jakarta. (Fernando Randy/Historia).

  • Penerjunan Tenaga Medis pada Wabah di Hindia Belanda

    UNTUK menangani pandemi Covid-19, Pemerintah Kota Jakarta Timur akan mengerahkan 2.500 tenaga medis muda. Pemilihan tenaga medis muda ini menurut Ketua Tim Satgas COVID-19 Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Jakarta Timur Tedy Harto, karena mereka memiliki imun tubuh lebih baik daripada dokter senior. Tenaga medis muda tersebut rencananya disalurkan secara bergelombang ke sejumlah tempat layanan kesehatan di Jakarta Timur. Pada tahap pertama, sebanyak 2.000 hingga 2.500 dokter muda akan dikirim ke lapangan. "Tim medis yang akan dikerahkan sebelumnya kami berikan pembekalan dengan matang dan kami seleksi yang muda-muda," ujar Tedy sebagaimana diberitakan tempo.co, Kamis, 9 April 2020. Pengerahan tenaga medis dalam skala besar juga pernah dilakukan kala wabah cacar melanda Hindia Belanda pada abad ke-19. Pemerintah kolonial mengirimkan manstri-mantri cacar ke desa-desa agar vaksinasi atau pencacaran bisa dilakukan secara menyeluruh. Vaksin cacar sendiri baru ditemukan pada 1798 oleh dokter Inggris Edward Jenner. Setelah vaksin temuan Jenner bisa diproduksi massal di Belanda beberapa tahun kemudian, pemerintah Belanda mengirimkannya ke Hindia Belanda. Namun sayang, vaksin tersebut tidak efektif dipakai di koloninya. Dua faktor besar yang mempengaruhi ialah cuaca dan lama waktu kirim. Lamanya pengiriman lewat kapal membuat vaksin jadi rusak karena cuaca laut yang panas. Belum lagi lama waktu pengiriman mengurangi efektivitas vaksin cacar dari Inggris. Untuk menanggulanginya, pemerintah akhirnya memproduksi sendiri vaksin di Hindia Belanda. Begitu ketersediaan vaksin dipastikan cukup untuk mencacar penduduk pribumi (khususnya anak-anak), mantri-mantri dikerahkan ke desa-desa. Para mantri yang kemudian disebut mantri cacar itu sebelumnya telah dilatih oleh para dokter Eropa di rumahsakit di tiga kota besar di Jawa. Namun, pelatihan untuk para vaksinator umumnya hanya difokuskan pada pemberian suntikan dan pembelajaran untuk membedakan fitur-fitur vaksin. Teori kesehatan tidak diajarkan pada mereka. Dalam “Dari Mantri Hingga Dokter Jawa”, Baha’udin menyebut kala Thomas Raffles menjabat sebagai Gubernur Hindia Belanda, vaksinasi cacar dilakukan secara besar-besaran. Petugas vaksin tak hanya ditempatkan di kota besar seperti Surabaya, Semarang, dan Batavia. Penempatan mereka mencapai Jepara, Pasuruan, Bangil, dan Probolinggo. Sepanjang penelusuran Historia, tidak ditemukan angka pasti jumlah mantri cacar yang diterjunkan pemerintah kolonial. Yang pasti, jumlah petugas medis ditambah mengingat luasnya cakupan wilayah pencacaran. Pengerahan mantri cacar menurun pada 1850 semasa kepemimpinan pengawas vaksin A.E. Wazklewicz. Penyebabnya, para penduduk pribumi diminta mengantar anak mereka ke pusat vaksin yang jaraknya cukup jauh. Beberapa penolakan tentu terjadi mengingat pencacaran jadi hal baru bagi masyarakat pribumi. Untuk mengurangi penolakan, pemerintah menggunakan bantuan penghulu (pemimpin agama Islam) sebagai asisten. Liesbeth Hesselink mengisahkan dalam Healers on the Colonial Market , enam petugas vaksin perempuan di Jakarta sekitar tahun 1850 dipekerjakan lantaran perempuan pribumi dan anak perempuan yang sudah menikah tidak ingin divaksinasi oleh laki-laki. Vaksinator perempuan sebelumnya sudah  dilatih dengan baik karena pekerjaan mereka sulit untuk dipantau. Selain itu, mantri cacar juga mendampingi dokter dalam tugas dinas mobil yang keliling mengantar petugas medis untuk berkujung ke desa-desa. Ada pula mobil yang dirancang untuk melakukan penyuluhan keliling. Pada penanganan kasus malaria, pelatihan mantri malaria dilakukan untuk menambah jumlah tenaga medis. Dosen IAIN Surakarta Martina Safitry menulis dalam tesisnya di UGM, “Dukun dan Mantri Pes”, kursus pertama diadakan di Batavia pada 1926. Sebanyak 134 orang lulus setahun berikutnya. Para mantri malaria itu ditugaskan menangkap dan mengklasifikasikan nyamuk juga larva di sekitar tempat terjangkit. Mereka juga diminta untuk membuat dan memeriksa sampel darah penderita, mengawasi pembuatan saluran air, dan sebagai agen penyuluh penanggulangan malaria. Sementara, pada penanganan penyakit pes, pemerintah juga menerjunkan mantri pes untuk mengatasi masalah kesehatan ini. Mereka merupakan para pemuda bumiputra yang sebelumnya dilatih menjadi mantri. Tugas awal mereka ialah memberi penerangan tentang penyakit pes hingga ke pelosok Jawa. “Mantri pes selain bantu dokter Jawa dan dokter Eropa dia juga bertugas untuk awasi perbaikan rumah,” kata Martina kala dihubungi Historia. Pada 1914, muncul usulan untuk menggandeng Palang Merah Internasional untuk mengendalikan wabah pes. Para perawat Eropa didatangkan ke Hindia Belanda untuk melatih perempuan pribumi tentang perawatan kesehatan dan penanggaulanagan pes. Selain itu, jumlah mantri pes diperbanyak dari sebelumnya yang hanya satu mantri polisi dan satu mantri pes untuk satu distrik. “Pada 1915 berdiri satu dinas sendiri, ada tim peneliti untuk mencari cara menyambuhkan pes, dan penelusuran pasien terjangkit berserta keluarganya,” kata Martina. Setelah itu, jumlah orang yang dimasukkan ke barak diseleksi. Mulanya, penduduk yang berjarak 100 meter dari rumah penderita pes wajib dikarantina, tak jarang malah satu desa dikarantina di barak isolasi. Sejak ada proses seleksi, hanya orang-orang yang pernah kontak dengan penderita atau orang yang dianggap berpotensi tertularlah yang diisolasi. Namun, terlepas dari semua tindakan pencegahan pada wabah pes, kampanye skala besar juga menimbulkan kecurigaan pribumi. Penduduk yang masih awam menyebut prosedur desinfeksi sebagai sihir jahat yang dilakukan oleh Belanda. Di beberapa tempat, biopsi limpa –untuk menentukan penyebab kematian apakah pes atau bukan– mendapat penolakan. Bahkan, kata Liesbeth, ada seorang mantri dirajam karena keawaman penduduk pada prosedur biopsi tersebut.*

  • Ketika Bung Sjahrir Pergi

    MINGGU pagi, 10 April 1966. Dalam suasana Paskah, Jakarta yang baru saja tenang dari demonstrasi-demontrasi mahasiswa tetiba terhenyak. Antara  menyiarkan sebuah berita duka: Sutan Sjahrir meninggal di Zurich (Swis). Kantor Berita milik pemerintah Republik Indonesia (RI) itu mengutip keterangan dari seorang jurnalis Reuters  (Kantor Berita Kerajaan Inggris). “ Reuters  sendiri mendapat berita itu dari seorang petugas rumah sakit tempat Sjahrir dirawat,” ungkap wartawan senior, Rosihan Anwar dalam Perdjalanan Terachir Pahlawan Nasional Sutan Sjahrir. Tokoh pejuang sekaligus Perdana Menteri Republik Indonesia pertama itu pergi meninggalkan seorang istri, Siti Wahjuni Poppy Saleh (yang dinikahinya pada 1951) dan putra-putri yang masih kecil: Krya Arsjah alias Buyung (9) dan Siti Rabyah Parvati alias Upik (5).

  • Jenderal Jusuf dan Para Wartawan

    BISA dikatakan Jenderal TNI M. Jusuf adalah Panglima ABRI yang paling disenangi wartawan pada masanya. Selain dikenal ramah terhadap kuli tinta, Jusuf juga tidak “pelit” berbagi dengan mereka. Jusuf membuktikan itu dengan kebiasaan mengajak para wartawan untuk meliput perjalanan dinasnya. “Antara tahun 1978-1983, Jusuf identik dengan perjalanan keliling Indonesia. Perjalanan pun identik dengan hidup, makan, tidur di dalam perut (pesawat) Hercules,” tulis Atmadji Sumarkidjo dalam Jenderal M. Jusuf: Panglima Para Prajurit . Bagi kalangan wartawan, kunjungan ke penjuru negeri ini disebut sebagai “Safari Jusuf”. Hampir sebagian besar perjalanan Jusuf ke luar kota diawali pada dini hari. Artinya, berangkat sekitar pukul 05.00 pagi. Maka bagi wartawan yang diajak untuk meliput sudah dijemput oleh staf Menhankam pada pukul 02.00-03.00 dini hari. Jusuf punya aturan terhadap para wartawan yang berkesempatan mengikuti safarinya. Mereka harus mengenakan seragam serba hijau, baik seragam formal ataupun lapangan (Pakaian Dinas Lapangan). Di balik aturan itu terselip alasan khusus. “Supaya mereka menghayati dan merasakan denyut nadi para prajurit ABRI,” kata Jusuf ditirukan Atmadji. Sekira 30 menit setelah pesawat berangkat dari Pangkalan Halim Perdanakusumah, Jusuf suka melakukan inspeksi dalam pesawat. Dia melihat siapa-siapa saja penumpang yang jadi anggota rombongan. Kesempatan itu juga yang selalu digunakan Jusuf untuk menyapa para wartawan. Kadang-kadang Jusuf memberikan informasi kepada wartawan mengenai tujuan yang harus dicapai dalam kunjungan tersebut. Pembicaraan Jusuf dengan wartawan acap kali diselingi canda. Bagi yang sudah dikenalnya baik, Jusuf kerap melayangkan tanya, “Bagaimana kabarmu? Baek-baek  saja kan?” Jusuf juga tidak sungkan memperhatikan penampilan wartawan yang terlihat agak urakan. Misalnya, jika dilihatnya ada wartawan yang gondrong, Jusuf akan berseloroh, “Kau rapikan sedikit rambutmu ya, biar kelihatan bagus.” Di dalam pesawat, Jusuf tidak senang kepada mereka yang punya kebiasaan merokok. Dia bisa marah kalau melihat asap membubung, sekalipun terhadap sesama perwira tinggi. Namun Jusuf toleran kalau soal tidur. Jusuf senang jalan ke kabin belakang dan mengamati para penumpang yang tertidur lelap. Beberapa jam kemudian dalam suasana yang santai, dia sering meledek para wartawan. “Wah enak sekali kalian ini, sudah nggak bayar naik pesawat terbang, tidurnya pulas pula,” celoteh Jusuf . Siapapun tidak ada yang marah karena tahu bahwa itu sekedar senda gurau belaka. Setiap kali ikut serta meliput kunjungan kerja Jusuf di daerah, semua kebutuhan wartawan ditanggung. Mulai dari transportasi, makan, hingga akomodasi. Mereka yang sudah jadi langganan tetap masuk kategori “rombongan sirkus”. Namun ada pula wartawan yang diajak secara dadakan. Suatu siang usai rapat kerja DPR, empat orang wartawan menunggu Jusuf untuk melakukan wawancara. Ketika Jusuf berjalan ke luar ruangan, otomatis para wartawan mengerumuninya sambil menyodorkan alat perekam. Namun Jusuf sedang dalam kondisi kurang mood  untuk diwawancarai. Dengan tongkat komandonya, dia menunjuk satu-satu ke perut wartawan itu. “Aku sedang malas bicara. Kau, kau, kau, dan kau, ikut aku saja sekarang ke Halim! Kita berangkat ke Medan satu jam lagi,” ujar Jusuf spontan. Dengan cepat, staf Jenderal Jusuf mencari sebuah mobil untuk menaikan para wartawan itu. Keempat wartawan tadi pun diangkut dalam keadaan setengah bengong . Setibanya di Medan, barulah mereka punya waktu untuk buru-buru membeli sikat gigi, odol, pakaian dalam dan baju ganti. Salah satu wartawan yang beruntung selalu mengikuti kunjungan Jusuf ialah Atmadji Sumarkidjo. Ketika itu, Atmadji masih seorang reporter muda harian Sinar Harapan . Menurut Atmadji, hubungannya dengan Jusuf pada awalnya sebatas profesionalitas antara wartawan dengan narasumbernya. “Kemudian hubungan tersebut berkembang menjadi hubungan pribadi yang amat berkualitas dan tak pernah satu kali pun terhenti hingga Pak Jusuf wafat,” kenang Atmadji. Hubungan karib tersebut dimulai dengan perhatian khusus yang diberikan oleh istri Jusuf, Elly Jusuf Saelan atas tulisan-tulisan yang dimuat di surat kabar  Sinar Harapan . Atmadji kemudian dipercaya untuk menuliskan biografi M. Jusuf yang berjudul  Jenderal M. Jusuf: Panglima Para Prajurit.   Seiring waktu, karier jurnalis Atmadji kian menanjak di  Sinar Harapan . Namanya pun malang melintang di dunia media maupun penerbitan tanah air. Kini Atmadji lebih dikenal aktif sebagai staf khusus Menteri Kordinator Bintang Kemaritiman Luhut Binsar Pandjaitan.*

  • Krisis Ekonomi Masa Sukarno

    KRISIS ekonomi beberapa kali mewarnai sejarah Indonesia. Penyebabnya beragam: bisa karena pengaruh perubahan dunia luar atau lantaran dinamika politik dalam negeri. Untuk penyebab kedua, Indonesia mengalaminya pada dekade 1960-an. Banyak orang terkapar menyusul krisis itu. Tapi segelintir kecil lainnya justru makmur.

  • Naskah-naskah tentang Jamu

    Jamu sempat diburu karena dianggap dapat menangkal virus corona (Covid-19). Banyak orang memang meyakini khasiat jamu dalam mencegah dan mengobati berbagai penyakit. Jejak pengobatan warisan leluhur ini dapat ditelusuri hingga masa prasejarah. Manusia purba sudah memanfaatkan tetumbuhan sebagai obat. Buktinya berupa alat batu pipisan untuk menghaluskan biji-bijian dan tanaman yang tersimpan di Museum Nasional, Jakarta. “Alat ini hampir pasti digunakan untuk perawatan kesehatan sehari-hari dengan ditemukannya sisa bubuk dan ekstrak tanaman padanya,” tulis Susan-Jane Beers dalam Jamu: The Ancient Indonesian Art of Herbal Healing . Pemanfaatan tanaman sebagai obat kemudian ditemukan dalam naskah-naskah kuno masa Hindu-Buddha.   Setelah budaya tulis makin kuat, paling tidak sejak abad ke-17, pemanfaatan jamu mulai ditulis dalam manuskrip-manuskrip dan menjadi tradisi turun-temurun. Dwi Cahyono, arkeolog dan pengajar sejarah di Universitas Negeri Malang, mengatakan ilmu pengobatan kuno terekam di sejumlah pustaka. Terutama yang menggunakan unsur sebutan usadha . Misalnya, Usadha Jawa dan  Usadha Bali . Dwi menjelaskan istilah usadha  atau kadang ditulis osadha  dan husadha  mengandung arti obat. “Hingga kini istilah usada , perubahan dari bentuk sebelumnya, masih lazim digunakan sebagai nama apotek, rumah sakit, atau tempat pengobatan lainnya,” kata Dwi. Selain itu, ada juga manuskrip Serat Primbon Jampi Jawi Jilid I dan Serat Primbon Racikan Jampi Jawi Jilid II. Menurut Hesti Mulyani, dosen pendidikan bahasa Jawa Universitas Negeri Yogyakarta,   naskah-naskah ini memuat uraian racikan jamu asli Jawa, khususnya bagi para bangsawan. “Sejak zaman dulu, zaman kerajaan, gaya hidup sehat sangat diperhatikan dengan memanfaatkan tanaman obat atau herbal sebagai bahan perawatan kecantikan, kebugaran, dan pengobatan,” tulis Hesti dalam “Pengobatan Tradisional Jawa Terhadap Penyakit Bengkak dalam Manuskrip Serat Primbon Jampi Jawi Jilid I dan Serat Primbon Racikan Jampi Jawi Jilid II Koleksi Surakarta”, yang terbit di Prosiding Seminar Nasional Meneguhkan Peran Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat dalam Memuliakan Martabat Manusia . Serat Primbon Jampi Jawi  ditulis sekira abad ke-18 pada masa Hamengkubuwono II. Di dalamnya tertulis berbagai macam herbal. Bagian tumbuhan yang berasal dari daun, rimpang, akar, dan kulit kayu dari berbagai jenis tanaman diolah secara tradisional untuk mempertahankan kecantikan dan kebugaran perempuan bangsawan. Hesti menjelaskan, bagian rimpang misalnya. Di dalam manuskrip Serat Primbon Jampi Jawi  disebutkan beberapa janis yang berkhasiat. Di antaranya rimpang jahe, kencur, kunyit, kunci, lempuyang, sunthi, temulawak, bengle, dan dringo . B agian umbi tanaman yang biasa digunakan sebagai bahan racikan jamu adalah bawang merah dan bawang putih. Sementara kulit kayu atau kulit batang  berasal dari kayu manis, secang, mesoyi, rasuk angin, dan kelembak. Bahan dari dedaunan adalah pupus anggur, asam jawa (kering), gondhangkasih, inggu prêman , jempinah, pupus kara, karandang, lampes, menirang, bawang cina, pegagan, seruni, saraband, saga (kering), walu, waru, dan trawas. J enis bunga, buah, dan biji yang berkhasiat antara lain bunga cengkih dan waru; buah asam, kemukus, labu putih, pala, isi sawo; dan biji adas, jinten, kedhawung, ketumber, dan mungsi. B ahan pelengkap yang biasa dipakai adalah dupa cina, garam, inggu, tambakau, dan terasi merah. C airan sebagai campuran bahan ramuan jamu yaitu air jeruk nipis, air jeruk purut, air panas, air tawar, air perasan daun iler, air susu ibu, dan cuka. Sumber tertulis lainnya adalah Serat Centhini . Karya ini ditulis atas perintah Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Anom Amengkunegara III yang memerintah Surakarta (1820–1823). Ia adalah putra Pakubuwono IV (1788–1820). Penyusunannya dipimpin Ki Ngabehi Ranggasutrasna, didampingi Raden Ngabehi Yasadipura, Raden Ngabehi Sastradipura. Mereka dibantu Pangeran Jungut Mandurareja dari Klaten, Kiai Kasan Besari dari Panaraga, dan Kiai Mohammad Mindad dari Surakarta. Dalam Serat Centhini, tumbuhan obat digunakan untuk menjaga kesehatan, mencegah penyakit, mengurangi sakit, penyembuhan, dan mempercantik diri. Menurut serat ini tanaman bahan jamu dapat digunakan untuk mengobati penyakit panas dingin, batuk, mata, bisul, susah kencing, susah kentut, dan masalah stamina pria. Naskah ini memuat dengan lengkap cara pengobatannya . Dilengkapi dengan uraian jenis bahan tanaman dan cara memakainya. Ada yang cara pengobatannya dengan diminum setelah diambil sarinya, dikunyah, ditempelkan pada dahi ( pilis ), dioleskan pada perut ( tapel ), dioleskan pada badan ( parem ), untuk merendam bagian badan ( rendhem ), ditempelkan atau diteteskan pada bagian yang sakit, dan disemburkan ke bagian tubuh yang diobati ( sembur ). Di luar cara-cara itu, menurut Murdijati Gardjito, Guru Besar Ilmu dan Teknologi Pangan Universitas Gadjah Mada, Serat Centhini juga menunjukkan bahwa masyarakat Jawa selalu melibatkan Tuhan dalam penyembuhan penyakit. Misalnya dalam membuat obat penyakit telinga yang tuli. Diperlukan bahan seperti tujuh butir merica, akar kelor, empedu ayam hitam, dan minyak wijen. Ramuannya lalu diteteskan pada lubang telinga yang tuli sambil membaca palak binas atau Surat Al-Falaq dan An-Naas tiga kali. “Berbagai bahan tanaman jamu yang digunakan ada yang masih dapat kita jumpai pada masa sekarang, adapula yang sudah sulit dijumpai atau bahkan belum pernah didengar namanya,” tulis Murdijati dalam Jamu Pusaka Penjaga Kesehatan Asli Indonesia . Selain Serat Centhini , dalam Serat Kawruh terdapat 1.166 resep di antaranya 922 resep tentang ramuan bahan alam . Khususnyadalam bab Jampi-Jampi Jawi terdapat 244 resep berupa catatan rajah dan jimat. Isinya adalah gambar-gambar doa, rapal, dan mantra. “ Serat Kawruh disusun pada 1831 atas perintah Pakubuwono V. Isinya kumpulan ramuan obat asli Jawa,” kata Murdijati. Ada juga buku tentang jamu karya Johanna Maria Carolina Versteegh (setelah menikah menjadi Jans Kloppenburg-Versteegh) yang ditulis pada 1907. Buku berjudul Indische Planten en Haar Geneeskracht (Tanaman Asli Hindia dan Daya Penyembuhnya) itu berisi uraian singkat mengenai nama daerah asal tumbuhan, nama latin, morfologi, dan bagian dari tanaman yang bisa digunakan. Termuat pula resep pengobatan dan cara memelihara kesehatan yang dilakukan orang Jawa berdasarkan pengamatannya. Terdapat 1.467 petunjuk bagaimana mengatasi gangguan kesehatan menggunakan bahan ramuan jamu Jawa. “Banyak pasien yang datang ke Kloppenburg-Versteegh, reputasinya sebagai penyembuh menyebar cepat. Publikasi penemuannya adalah suatu warisan berharga sebagai pedoman dalam dunia pengobatan herbal,” kata Murdijati. Alternatif Mujarab Agaknya pengobatan tradisional warisan leluhur ini dapat dipercaya khasiatnya. Pasalnya,ada hukuman bagi mereka yang asal-asalan mengobati orang sakit. Khususnya pada masa Majapahit, kegagalan dalam melakukan pengobatan diancam hukuman cukup berat. Aturan itu tertuang dalam Kitab Undang-Undang Majapahit, Kutaramanawa atau Agama . Dari 275 pasal, ada pasal yang berisi sanksi bagi yang gagap mengobati hingga berujung kematian pada hewan atau manusia. Apabila gagal mengobati hewan sehingga hewannya mati, maka didenda empat kali tiga atak . Satu atak  setara 200 picis , satuan untuk menyebut mata uang tembaga Cina. Jika yang diobati manusia dan malah mati, maka didenda selaksa  atau satu laksa setara 10.000 picis . Apabila yang diobati seorang brahmana dan mati, maka ia diganjar hukuman mati oleh raja. “Ini mengingatkan kita kepada apa yang sekarang disebut dengan malapraktik,” kata Dwi. Namun, menurut Dwi, sebagai obat tradisional, khasiat jamu tidak serta merta menyembuhkan penyakit. Lebih sering jamu harus dikonsumsi teratur secara berangsur-angsur. Kendati hanya diposisikan sebagai obat alternatif, jamu tak pernah ditinggalkan oleh para penggunanya. “Ketika merasa mentok oleh cara medis dan obat-obatan modern, ” kata Dwi, “ orang masa kini beralih ke pengobatan tradisional, yang boleh jadi lebih memiliki kemujaraban. ”

  • Percaya pada Jamu dari Dulu

    Mpu Monaguna, penulis abad ke-13 dalam karyanya , Kakawin Sumanasantaka,   menggambarkan kehidupan di pedalaman. Salah satunya tempat tinggal para pertapa. Para biarawan itu membajak sawah dan memiliki kebun-kebun sayur yang terpelihara. Sementara para rahib perempuan memasuki hutan untuk mengumpulkan buah-buah serta dedaunan untuk dijadikan obat. Tokoh utama dalam kisah itu, seorang putri raja, Putri Indumati, seringkali dipakaikan pupuk   ( apupuk ) pada ubun-ubunnya. Pilis dioleskan ke pelipisnya yang sakit. Bila cegukan diobati ujung daun sirih. Obat tuli-tuli  untuk merawat bagian telinganya . Ia juga minta disembur air yang melegakan ketika tenggorokannya sakit seperti tersedak. Karya Mpu Monaguna itu merekam bagaimana orang Jawa Kuno mengobati penyakit. Pupuk dan pilis hingga kini masih digunakan. Pupuk adalah ramuan yang ditempelkan pada ubun-ubun bayi atau batita agar tetap hangat. Pilis adalah jamu oles yang terbuat dari bahan-bahan seperti ganthi, kencur, kunyit, peppermint,  dan bunga kenanga. Biasanya ia ditempelkan pada bagian kening atau dahi. Pilis sampai kini dipercaya bisa membantu meredakan rasa pusing dan melancarkan peredaran darah. S. Supomo dalam Kakawin Sumanasantaka: Mati karena Bunga Sumanasa  menjelaskan dari asal katanya,  tuli-tuli mungkin adalah obat untuk penyakti telinga. Sedangkan menyembur tenggorokan yang sakit dengan air yang melegakan diartikan sebagai metode pada masa itu yang dilakukan oleh penyembuh. Fungsinya untuk mengobati sakit ringan dengan kunyahan jamu yang mendinginkan. Dwi Cahyono, arkeolog dan pengajar sejarah di Universitas Negeri Malang, menjelaskan bahwa kata "jamu" adalah serapan dari istilah bahasa Jawa Baru. Bahasa kromonya adalah jampi . “Varian sebutannya, yaitu jampyan , terdapat dalam bahasa Jawa Kuna dan Jawa Tengahan yang berarti obat, pengobatan, atau penawar,” kata Dwi. Istilah jampi  atau jampyan banyak muncul dalam kesusastraan kuno. Di antaranya Kakawin Gathotkacasraya, Bhomakawya, Bharattayudha, Sumanasantaka, Lubhdaka, Subhadrawiwaha, dan Abhimanyuwiwaha . Muncul juga dalam susastra kidung seperti Harsyawijaya, Kidung Sunda, Kidung Malat, dan  Kidung Ranggalawe. Menurut Hesti Mulyani, dosen pendidikan bahasa Jawa Universitas Negeri Yogyakarta , tak ada catatan jelas sejak kapan tradisi meracik dan meramu jamu bermula. Namun, tradisi itu diyakini sudah menjadi budaya sejak kerajaan Hindu-Buddha di Jawa. “Relief Candi Borobudur menggambarkan kebiasaan meracik dan meminum jamu untuk menjaga kesehatan,” tulis Hesti dalam “Pengobatan Tradisional Jawa Terhadap Penyakit Bengkak dalam Manuskrip Serat Primbon Jampi Jawi Jilid I dan Serat Primbon Racikan Jampi Jawi Jilid II   Koleksi Surakarta”, yang terbit di Prosiding Seminar Nasional Meneguhkan Peran Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat dalam Memuliakan Martabat Manusia . Sementara itu, Murdijati Gardjito, Guru Besar Ilmu dan Teknologi Pangan Universitas Gadjah Mada, mengatakan kebiasaan meracik dan meminum jamu tampak dalam relief Karmawibhangga di kaki candi yang mulai dibangun pada abad ke-8. Salah satu adegannya menunjukkan beberapa orang menolong laki-laki yang sakit dengan cara dipijat kepalanya, digosok perut dan dadanya. Ada pula yang membawakan semangkuk obat. Relief lainnya menggambarkan tanaman yang masih digunakan sebagai bahan pembuat jamu, seperti nagasari, semanggen, cendana merah, jamblang, pinang, pandan, maja, cendana wangi, dan kecubung. “Gambaran yang sama juga ditemukan pada relief-relief di Candi Prambanan, Candi Panataran, Candi Sukuh, dan Candi Tegawangi,” tulis Murdijati   dalam Jamu Pusaka Penjaga Kesehatan Asli Indonesia. Dengan begitu, kata Murdijati, pengetahuan asli orang Jawa tentang penyembuhan penyakit sudah berkembang sejak lama. Pengobatan itu dilakukan dengan bahan dasar yang ada di sekitarnya. Para Penyembuh Pada zaman kuno terdapat ilmu, buku, atau orang yang berkaitan dengan pembuatan, penggunaan, dan penjualan obat. Berbagai profesi di dunia kesehatan disebutkan dalam beberapa prasasti. Dalam Prasasti Balawi (1305) muncul istilah tuha nambi  yang artinya tukang obat. Kemudian terdapat istilah kdi  (dukun wanita) dan walyan  (tabib). Profesi tuha nambi  juga muncul dalam Prasasti Sidoteka (1323). Prasasti ini juga menyebut istilah wil tamba . Secara harfiah kata Jawa Kuna dan Tengahan tamba  menunjuk pada obat. Kata jadiannya anambani  atau tumambani  yang berarti menyembuhkan atau mengobati orang. “Pada bahasa Jawa Baru ada kata-kata Mutiara,  tamba teka lara lunga,  artinya obat datang penyakit pergi,” jelas Dwi. Dalam Prasasti Bendosari (1360) disebutkan istilah padadah  atau pemijatan, mungkin merujuk pada tukang pijat. Ada juga tabib desa atau dalam prasasti disebut janggan . Menurut Dwi, sebutan janggan  juga terdapat dalam Serat   Pararaton  yang berkaitan dengan guru di Desa Sagenggeng. “Bila menilik sebutannya, yaitu guru janggan , salah satu ilmu yang diajarkan pada muridnya itu adalah ilmu pengobatan,” kata Dwi. Dari masa Majapahit juga ada Prasasti Madhawapura yang menyebutkan profesi penjual jamu ( acaraki ). Kata acaraki dan caraki  terdapat dalam kitab Korawasrama . Kata caraki juga merujuk pada seseorang yang menyediakan atau menjual ramuan tumbuh-tumbuhan. Istilah yang hampir mirip adalah caraka, yaitu   sebutan bagi orang bijaksana penyusun buku mengenai obat-obatan. Istilah caraka  telah ada sejak abad ke-9 dan masa sesudahnya. Ia disebut dalam Kakawin Ramayana , Bhomakawya , Arjunawijaya ,  Sutasoma, Korawasrama, dan Tantri Demung . “Ada kemungkinan, kata Jawa Baru craken  menunjuk pula pada pengarang tulisan mengenai obat-obatan,” jelas Dwi. Dwi menyebut istilah caraka juga merujuk pada kitab yang membicarakan mengenai obat-obatan. Ia merupakan cabang Yajurveda Hitam . Hingga kini, pengetahuan asli tentang jamu masih terjaga. Terbukti dengan masih adanya sentra produksi jamu di Wonogiri dan Sukoharjo; dusun jamu di Dusun Kiringan, Bantul, Yogyakarta; kampung jamu di Nguter, Sukoharjo, Jawa Tengah; serta pasar bahan dan perlengkapan untuk membuat dan menjajakan jamu di Pasar Jamu Nguter.  “Sampai ada warung jamu, toko jamu, hingga kafe jamu. Tak ketinggalan industri jamu,” kata Murdijati.

bg-gray.jpg
Tedy masuk militer karena pamannya yang mantan militer Belanda. Karier Tedy di TNI terus menanjak.
bg-gray.jpg
Dua anggota legiun Mangkunegaran ikut serta gerakan anti-Belanda. Berujung pembuangan.
bg-gray.jpg
Rumah Sakit Bethesda Yogyakarta merupakan buah kasih dokter misionaris Belanda bernama J.G. Scheurer yang dijuluki Dokter Tolong.
bg-gray.jpg
Poligami dipraktikkan oknum tentara sejak dulu. Ada yang dapat hukuman karenanya.
bg-gray.jpg
Snouck Hurgronje diangkat menjadi pejabat negara di Hindia Belanda. Dia mengamati dan memberikan catatan serta nasihat yang membantu pemerintah kolonial mengatur ketertiban dan keamanan di wilayah koloni.
bottom of page