top of page

Hasil pencarian

9805 hasil ditemukan dengan pencarian kosong

  • Empat Siti Soendari dalam Sejarah Kaum Putri*

    DI hadapan para hadirin dalam Kongres Perempuan Indonesia Pertama di Mataram, Siti Soendari menyampaikan pidatonya yang amat progresif di masanya. Pidato itu tentang kedudukan perempuan dalam perkawinan. Namun, ada dua Siti Soendari di kongres tersebut. Pertama, Siti Soendari Sudirman dari Putri Budi Sejati, organisasi perempuan di Surabaya. Kedua, Siti Soendari Darmobroto dari organisasi Putri Indonesia. Nama Siti Soendari terbilang jamak di era tersebut. Dalam sejarah Indonesia, ada empat Siti Soendari yang namanya sering disebut. Lantas, Siti Soendari mana yang membawakan pidato progresif dalam kongres tersebut? Siti Soendari Darmobroto Siti Soendari Darmobroto merupakan putri dari Wirio Darmobroto, bangsawan Ponorogo yang bekerja sebagai kepala sekolah. Soendari juga membuka sekolah di Pacitan, Jawa Timur. Namanya banyak disebut dalam sejarah gerakan perempuan. Ia amat peduli pada isu pentingnya pendidikan bagi perempuan. Harry A Poeze mengisahkan dalam Di Negeri Penjajah, Soendari Darmobroto hadir menyuarakan pendidikan bagi para gadis pribumi di Kongres Pengajaran Kolonial Pertama di Den Haag, Agustus 1916. Siti Soendari Darmobroto. (Harry A Poeze,  Di Negeri Penjajah ). Susan Blacburn dalam Women and The State in Modern Indonesia menyebut Soendari Darmobroto inilah yang menjadi kontributor Putri Hindia dan mendirikan Wanito Sworo pada 1913, bukan Soendari istri Mohammad Yamin. Lewat terbitan berbahasa Jawa itulah Soendari menyuarakan ide-idenya tentang kedudukan perempuan dalam masyarakat. Saat kongres perempuan, Soendari Darmobroto hadir mewakili Putri Indonesia yang punya cabang di Bandung, Mataram, dan Surabaya. Pidatonya berjudul “Kewajiban dan Cita-Cita Putri Indonesia” amat progresif, berisi tentang kesetaraan peran lelaki dan perempuan dalam pernikahan. Baca juga:  Keributan di Kongres Perempuan “Sudah lama kaum laki-laki menjadi raja dalam pergaulan hidup dan terkadang juga dalam rumah tangga kita,” kata Soendari dalam pidatonya yang dikutip Susan Blackburn dalam Kongres Perempuan Pertama: Tinjauan Ulang . “Kalau Indonesia ingin maju dan harum, haruslah kita semua berada dalam persamaan dengan kaum laki-laki,” sambungnya. Siti Soendari Sudirman Prestasi penting Soendari Sudirman ialah berhasil menjadi anggota Gemeenteraad (Dewan Kota) Surabaya setelah perjuangan panjang para perempuan pribumi untuk mendapat hak pilih. Soendari merupakan aktivis perempuan yang mendirikan Putri Budi Sejati, organisasi perempuan di Surabaya. Amat sulit menelusuri masa kecil Soendari Sudirman. Ia menikah dengan R. Soedirman, residen Surabaya yang juga wakil pengurus besar Parindra di kota tersebut. Soendari Sudirman merupakan tokoh lama dalam gerakan perempuan. Sama seperti Soendari Darmobroto, Soendari Sudirman juga hadir dalam Kongres Perempuan Indonesia pertama dan menjadi pembicara. Pidato Soendari Sudirman berjudul “Pergerakan Perempuan, Perkawinan, dan Perceraian”. Di masa itu, isu kedudukan perempuan dalam perkawinan sedang jadi fokus pembahasan para aktivis. Tak heran jika mayoritas materi pidato kongres pertama berkutat pada soal perkawinan. Baca juga:  Chailan Si Peliput Kongres Perempuan Pertama Pidatonya membahas tentang nasib perempuan dalam perkawinan sekaligus mengkritik ketiadaan hak perempuan dalam beragam aspek. “Hak menolak, hak bersuara sesuai dengan pendapat sendiri, apalagi hak kawin sesuai dengan kehendak sendiri sebagaimana laki-laki memilih istri yang disukainya, tidak dimiliki kaum perempuan,” kata Soendari dalam pidatonya. Oleh karena itu, organisasi yang dipimpin Soendari, Putri Budi Sejati, bergerak di bidang pemajuan dan pendidikan perempuan. Dalam Konferensi Putri Budi Sejati tahun 1937, Soendari mengatakan bahwa organisasinya tidak ikut dalam soal politik namun memberi kelonggaran pada anggotanya bila ingin bergerak di jalur politik. Soendari Sudirman kemudian diangkat sebagai anggota Dewan Kota Suarabaya pada 1938. Artikel “De Gemeenteraad Van Soerabaia” di De Indische Courant edisiSabtu, 24 September 1938, menyebut pengangkatan Soendari sebagai anggota Dewan Kota Surabaya merupakan momen bersejarah lantaran ia perempuan pertama yang berhasil masuk menjadi anggota Dewan Kota Surabaya. Siti Soendari Adik dr. Soetomo Banyaknya nama Siti Soendari dalam sejarah Indonesia membuat banyak pihak acapkali terkecoh, termasuk Historia . Dalam artikel “Soendari Gigih Lawan Poligami” , Historia membuat kesalahan dengan menggabungkan kisah Siti Soendari Darmobroto dan Soendari adik dr. Soetomo. Soendari adik dr. Soetomo merupakan teman kuliah dan indekos Maria Ullfah saat mengambil jurusan hukum di Universitas Leiden. Semasa kuliah, Soendari mengikuti Perhimpunan Mahasiswa Perempuan Universiats Leiden (Nederlandse Vereeniging voor Vrouwelijke Studenten Leiden, VVSL) dan menjadi anggota Perhimpunan Indoensia (PI). Mulanya, PI hanya wadah untuk berkumpul mahasiswa Indonesia. Namun seiring derasnya gerakan politik di tanah air, PI ikut berpolitik menentang penjajahan Belanda. (Solita Sarwono dan Santo Koesobjono,  Siti Soendari, Adik Bungsu dr. Soetomo). Ia lulus dari Universitas Leiden pada 1934 dan kembali ke tanah air. Soendari kembali tinggal satu kontrakan dengan Maria Ullfah di kawasan Salemba. Di Jakarta, ia bekerja di Departemen Kesehatan Umum dan sempat bergabung dengan Persatuan Wanita Republik Indonesia (Perwari). Dalam biografi Siti Soendari, Adik Bungsu dr. Soetomo, disebutkan bahwa Soendari kemudian hari bekerja sebagai direktur Bank Nasional Malang . “Pernah ikut Perwari waktu tinggal di Semarang. Bu Soendari itu bukan tipe orang yang aktif dan tidak menonjol. Kalau kakaknya (Sri Oemiyati) atau Maria Ullfah itu memang aktif dalam kegiatan organisasi,” kata Solita Sarwono dan Santo Koesobjono (anak Soendari) pada Historia. Siti Soendari Istri Mohammad Yamin Siti Soendari Mertoatmodjo, bersama Moh. Yamin (kanan) dan anak mereka. (Sutrisno Kutoyo, Prof. H Muhammad Yamin, S.H). Tak banyak catatan tentang Siti Soendari istri Moh. Yamin. Dalam biografi Mohammad Yamin yang ditulis Sutrisno Kutoyo hanya disebutkan bahwa Yamin memperistri perempuan bangsawan Jawa asal Kadilangu, Demak bernama Siti Soendari Mertoatmodjo. Tahun pernikahan mereka pun tidak jelas. Kutoyo menulis mereka menikah tahun 1934, sumber lain menyebut mereka menikah tahun 1937. Lantaran namanya sama, ada penulis biografi yang mengira Soendari Mertoatmodjo merupakan pendiri Wanito Sworo . Padahal, seperti disinggung sebelumnya, pendiri Wanito Sworo merupakan Siti Soendari Darmobroto dari Jawa Timur. * Artikel ini merupakan koreksi atas artikel berjudul “Soendari Gigih Lawan Poligami” . Dalam artikel tersebut, Historia melakukan kesalahan berupa tercampurnya kisah Soendari Darmobroto dan adik dr. Soetomo. Artikel ini ditulis dengan menelusuri nama-nama Soendari dalam sejarah Indonesia.

  • Cara Penguasa Jawa Melawan Tiongkok

    Sejak mendirikan Dinasti Yuan, Khubilai Khan mulai menebar kekuasannya.Ia menuntut bakti dari penguasa-penguasa yang sebelumnya mengakui kekuasaan kaisar-kaisar Dinasti Sung. Jika menolak, mereka akan diserang. Salah satunya penguasa di Jawa. Khubilai Khan mengirim utusan ke Jawapada 1280, 1282, dan 1286.Raja Singhasari, Kertanegara dengan percaya diri merusak muka utusan terakhir, Meng Qi pada 1289, karenatelah menjalin hubungan baik dengan kerajaan-kerajaan lain di Nusantara dan Asia Tenggara. Sebagaimana disebut dalam Kakawin Nagarakrtagama, bahwa seluruh Jawa, Sunda, dan Madura tunduk di bawah kekuasaan Kertanegara. Ia mengirim ekspedisi militer ke Malayu, menguasai Pahang di Semenanjung Malayu, serta menaklukkan Bali dan memboyong rajanya sebagai tawanan pada 1284. Ia juga menguasai Gurun, pulau di wilayah timur Nusantara, dan Bakulapura atau Tanjungpura di barat daya Kalimantan. Dalam Prasasti Camundi dari 1292 disebutkan Kertanegara puas dengan keme na ngan-kemenangannya di semua tempat. Ia menjadi payung pelindung seluruh dwipantara atau Nusantara. Sejarawan Malang, Suwardono dalam Krtanegara dan Misteri Candi Jawi, menjelaskan Prasasti Camundi memberikan petunjuk tentang hubungan Kertanegara dengan kawasan Asia Tenggara bagian selatan dan kepulauan. Itu pula yang dimaksud dalam Nagarakrtagama. Menurut Dwi Cahyono, arkeolog dan pengajar sejarah di Universitas Negeri Malang, walaupun dalam Nagarakrtagama disebut menundukkan bukan berarti ada pertempuran. "Kalau ada (pertempuran) itu akan mempermudah Mongol masuk, karena energi berkurang," ujarnya. Khususnya ekspedisi ke Malayu pada 1275. Untuk mempererat hubungan dengan Malayu , pada 1286 Kertanegara mengirimkan hadiah berupa arca Buddha Amoghapasa. Penempatannya di Dharmasraya dipimpin oleh empat pejabat tinggi dari Jawa. Menurut Dwi itu bukan ekspedisi militer melainkan untuk merekut mitra sejajar. "Menurut saya ini semacam MoU ( memorandum of understanding ). Jika dua kekuatan itu berkoalisi, diharapkan dapat mengontrol Selat Malaka dan menghadapi musuh bersama,khususnya menghadapi serangan Mongol," kata Dwi. Selain di kawasan Nusantara, Kertanegara juga bersekutu dengan Kerajaan Champa. Tujuannya sama: untuk membendung serangan bangsa Tartar, sebutan Jawa untuk Mongol. Dalam Prasasti Po Sah di dekat Phanrang dari 1306 disebutkan seorang permaisuri Raja Champa adalah putri dari Jawa bernama Tapasi. Adik Kertanegara itu menikah dengan Raja Jaya Simhawarman III (1287-1307). Kerja sama itu menguntungkan bagi Jawa ketika Kubilai Khan mengirim pasukan pada 1292 untuk menghukum Kertanegara. Raja Jaya Singhawarman III tidak mengizinkan mereka menurunkan jangkar di pelabuhan Champa untuk mengisi perbekalan. Apalagi s elama berlayar ke Jawa, mereka menghadapi banyak kesulitan. Shi Bi, salah satu komandan ekspedisi dalam catatannya di Sejarah Dinasti Yuan, menyebut angin selama pelayaran bertiup sangat kencang. Lautan begitu bergelombang membuat kapal terombang-ambing. Para prajurit pun tak makan selama berhari-hari. Ditambah lagi, menurut W.P. Groeneveldt dalam Nusantara dalam Catatan Tionghoa , armada Mongol yang berlayar dari Quanzhou di Fujian itu tidak mengikuti rute biasanya yang menyusuri pesisir Malaka dan Sumatra. Mereka justru berlayar di tengah lautan dan dengan berani atau mungkin nekat mengambil rute lurus terdekat menuju tujuannya. Akibatnya, dari ribuan kapal , yang berhasil sampai Jawa Timur hanya sebagian kecilnya. Banyak yang tewas. Baik karena serangan bajak laut, maupun penyakit.  " Mongol itu tidak jago berlayar. Apalagi paling sulit melintasi Laut Cina Selatan," kata Dwi. Supremasi Tiongkok Banyak yang yakin ekspedisi Khubilai Khan ke Jawa sebenarnya demi menguasai perdagangan laut. Namun, David W. Bade, ahli perpustakaan di Joseph Regenstein Library Universitas Chicago, dalam Of Palm Wine, Women and War: The Mongolian Naval Expedition to Java in the 13th Century , menjelaskan bahwa saat itu Jawa menjadi negara terakhir di selatan Tiongkok yang menolak tunduk. Pengaruh Jawa semakin besar setelah mengirim utusan ke Malayu dalam ekspedisi Pamalayu. Apalagi pengaruh Sriwijaya,yang berhubungan baik dengan Tiongkok, sudah pudar. "Kemungkinan invasi Mongol ke Jawa hanya karena hasrat Khubilai Khan mengirimkan angkatan lautnya dan juga amarahnya setelah Meng Qi dilukai, masih terus dipertanyakan,"  tulis Bade. Morris Rossabi, sejarawan Queens College dan Columbia University, salah satu yang meragukan ekspedisi Mongol ke Jawa hanya untuk menghukum orang asing yang melukai utusannya. "Sementara banyak sekali yang harus dipertaruhkan dalam ekspedisi ini," tulis Rossabi dalam Khubilai Khan: His Life and Times . Jika dilihat secara umum, menurut Groeneveldt, penguasa di Tiongkok selalu digerakkan oleh karakter superioritas mereka. Kala itu, supremasi Tiongkok terhadap negara-negara lain adalah dogma nasional yang begitu tertanam, bahwa kaisar ditunjuk Langit untuk menjadi penguasa dunia. Sejak masa awal sejarah Tiongkok, mereka selalu mencatat kedatangan penguasa asing yang memberikan penghormatan kepada kaisar. Para penguasa dari negara - negara yang lebih kecil di Asia sering melakukan perdagangan hingga ke Tiongkok , sambil membawa hadiah untuk mengambil hati penguasa nya .  Bahkan, c ara ini diikuti para pedagang swasta yang menyamar sebagai utusan dari negeri jauh. Dengan memberikan sedikit barang dagangan, mereka berharap mendapat fasilitas perdagangan atau akses hingga ke ibu kota. "Keuntungan utama hubungan ini adalah kesempatan bagi para penguasa di negara-negara lain agar bisa berdagang di Tiongkok," tulis Groeneveldt. Sejak dulu Tiongkok dipandang tinggi, khususnya oleh negara-negara di Asia. Budayanya tinggi, istananya mewah dan luas. Kekayannya membuat kagum bangsa-bangsa di Asia. Karenanya para penguasa merasa mendapat kehormatan jika bisa menjalin hubungan dengan Tiongkok. Sementara bagi kaisar, semua negara harus tunduk kepada bangsa yang dipilih Langit, yaitu Tiongkok. Jika ada yang memberikan hadiah (upeti), walaupun sedikit harus diterima dengan tangan terbuka dan dibantu sesuai dengan kebutuhannya. "Bangsa Tionghoa bahkan menjadikan upaya kontak dagang biasa menjadi pengakuan atas superioritas mereka," tulis Groeneveldt. Terlebih lagi kekuasaan Tiongkok di era Dinasti Mongol. Menurut sejarawan Inggris, John Man dalam Kubilai Khan, ambisi utama Sang Khan adalah membuat dunia mengakui kejayaannya. "Tak ada alasan khusus kenapa harus menaklukkan suatu negara. Ia hanya harus melakukannya," tulis John Man. Oleh karena itu, menurut Suwardono, Kertanegara berusaha untuk menyatukan seluruh Nusantara karena adanya bahaya dari luar yang mengancam, yaitu pasukan Mongol .

  • Asal-Usul Marga Sinaga

    SINAGA adalah salah satu marga tertua yang ada dalam suku Batak Toba. Asalnya dari Desa Urat, Pulau Samosir namun marga ini umum pula dikenal di Indonesia. Tidak sedikit pula keturunan Sinaga yang hari ini berada di penjuru dunia. Bila dijejaki dari garis leluhur, maka marga Sinaga keturunan Si Raja Batak generasi kelima. Dari Si Raja Batak memperanakkan Guru Tateabulan. Guru Tateabulan memperanakkan Tuan Sariburaja. Tuan Sariburaja memperanakkan Raja Lontung. Si Raja Lontung inilah yang menjadi ayahnya Sinaga. Si Raja Lontung memiliki sembilan anak yang terdiri dari 7 laki-laki dan 2 perempuan ( boru ). Mereka antara lain: Toga Sinaga, Tuan Situmorang, Toga Pandiangan, Toga Nainggolan, Toga Simatupang, Toga Aritonang, Toga Siregar, Siboru Amak Pandan, dan Siboru Panggabean. Menurut E.H. Tambunan dalam Sekelumit Mengenai Masyarakat Batak Toba dan Kebudayaannya , keturunan Lontung kebanyakan tinggal di Samosir. Keturunan Lontung kemudian menyebar memenuhi Tanah Batak. “Hampir di seluruh Tanah Batak terdapat keturunan Lontung, bermarga Sinaga,” tulis Tambunan. Dalam beberapa buku tarombo  (silsilah), sebagaimana dicatat antropolog Richard Sinaga dalam Silsilah Marga-Marga Batak , ada yang menempatkan Situmorang sebagai keturunan Lontung yang pertama sedangkan Sinaga pada urutan kedua. Menurut cerita orang tua turun-temurun, anak sulung Si Raja Lontung adalah Sinaga dan anak kedua Situmorang. Setelah dewasa, Situmorang lebih dulu kawin dengan Boru Limbong sementara adik Boru Limbong ini diperistri oleh Sinaga. “Karena itu Situmorang lazim disebut haha ni parrajaon  (menjadi abang karena istrinya kakak dari istri Sinaga) dan Sinaga disebut haha ni partubu  (abang karena lebih dahulu lahir),” tulis Richard Sinaga. Sinaga mempunyai 3 anak laki-laki antara lain: Raja Bonor, Raja Ratus, dan Raja Uruk. Masing-masing dari mereka mempunyai tiga anak laki-laki. Raja Bonor yang kemudian disebut Sinaga Bonor memperanakkan Raja Pande, Tiang Ditonga, dan Suhutnihuta. Si Raja Ratus yang kemudian disebut Sinaga Ratus memperanakkan Ratus Nagodang, Si Tinggi, dan Si Ongko. Raja Uruk yang kemudian disebut Sinaga Uruk memperanakan Sihatahutan, Barita Raja, dan Datu Hurung. Dalam Toba Na Sae: Sejarah Lembaga Sosial Politik Abad XIII-XX , budayawan Sitor Situmorang  mencatat persaingan antara marga Sinaga dan Situmorang pada masa Si Singamangaraja XII. Salah satu keturunan Sinaga bernama Ompu Palti Raja –menurut Belanda– adalah musuh bebuyutan Sisingamangaraja. Pada masa penyerangan Belanda, Ompu Paltiraja bersikap netral bahkan bermusuhan dengan Sisingamangaraja. Menurut Sitor, meski sama-sama keturunan Lontung, Situmorang dan Sinaga memainkan peran kultural dan politik yang berbeda. Marga Situmorang disebutkan sebagai bride giver  karena Sisingmanagaraja selalu beristrikan boru Situmorang. Sementara Sinaga disebut oleh Sitor sebagai bride taker  bagi dinasti Sisingamangaraja. “Dari silsilah diketahui bahwa relasi antara kedua marga kakak-beradik dalam lingkungan Lontung itu ditandai persaingan intern, yaitu perebutan hegemoni dalam organisasi parbaringin (agama Batak) di semua bius  Lontung,” tulis Sitor. Selain itu, diterangkan Sitor antara marga Sinaga dan Situmorang kerap bersaing mengenai siapa yang berhak menjadi Pandita Bolon  (pendeta utama) yang mempimpin organisasi parbaringin dalam bius (paguyuban meliputi wilayah tertentu) mereka. Sampai saat ini semua keturunan Toga Sinaga masih tetap satu marga yaitu marga Sinaga. Lain halnya dengan saudara-saudaranya yang enam, telah berkembang menjadi beberapa marga. Semua keturunan Toga Sinaga terhimpun dalam satu ikatan yang diberi nama: Parsadaan Pomparan Toga Sinaga dohot Boruna (PPTSB). Persatuan ini ada di tingkat kecamatan, kabupaten, provinsi bahkan tingkat nasional. Pada 1966 PPTSB membangun tugu Toga Sinaga di Desa Urat, Samosir dan diresmikan pada Juni 1970. Di tanah air, beberapa tokoh bermarga Sinaga tercatat sebagai tokoh publik. Mereka antara lain Anicetus Bongsu Antonius Sinaga (uskup agung), Saktiawan dan Ferdinand Sinaga  (pesepakbola), Restu dan Gita Sinaga  (artis peran), Indra Sinaga (vokalis band Lyla), Narova Morina Sinaga  (vokalis band Geisha), Dolorosa Sinaga  (perupa), dan yang lainnya .

  • Jalan Panjang Memulangkan Jarahan Belanda

    SEBANYAK 1.500 benda bersejarah Indonesia yang dibawa Belanda pada masa kolonial telah direpatriasi (dikembalikan) pada akhir 2019. Repatriasi yang berlangsung sejak 2015 itu, disebut sebagai yang terbesar sepanjang sejarah. Namun, repatriasi itu tentunya bukan yang pertama kali. Sejak era kepemimpinan Sukarno, upaya repatriasi sudah mulai dilakukan. Pada 1954, Muhammad Yamin, Menteri Pendidikan, Pengajaran dan Kebudayaan saat itu, melawat ke Belanda. Dalam kunjungan tersebut, Yamin dan Soedarsono, Kepala Jawatan Kebudayaan yang menyertainya, mulai merintis usaha pengembalian benda bernilai sejarah dan budaya Indonesia yang disimpan di Belanda. Sutrisno Kutoyo dalam biografi Prof. H. Muhammad Yamin, S.H. menyebut upaya tersebut mendapat respons baik dari Kementerian Pendidikan, Kebudayaan dan Ilmu Pengetahuan Belanda. Mereka menyatakan akan segera menyerahkan benda-benda bernilai sejarah dan budaya yang diambil pada masa kolonial. Baca juga: Belanda Kembalikan Ribuan Benda Bersejarah Beberapa benda yang waktu itu hendak dikembalikan antara lain, tengkorak Sangiran, keropak Negarakertagama , arca Prajnaparamita, naskah tulisan tangan dalam bahasa Melayu, Jawa, Sunda, Madura serta dialek-dialek tulisan tangan bahasa Indonesia, tengkorak Trinil Du Bois, dokumen perang, dan peta lama Indonesia. Kemudian pada 1955, dilakukan inventarisasi koleksi benda purbakala dan naskah kesastraan yang berada di Belanda dan beberapa negara Eropa. Hasilnya, sebanyak 1.151 benda yang disimpan di berbagai museum di Belanda serta 31 benda di museum Jerman, Denmark, dan Belgia berhasil diinventarisir. Keropak Negarakrtagama  menjadi benda pertama yang dikembalikan Belanda ke Indonesia. ( cagarbudaya.kemdikbud.go.id ). Namun, wacana repatriasi 1954 dan 1955 tersebut tampaknya tak pernah terealisasi. Isu tersebut baru disinggung kembali dalam Musyawarah Museum Seluruh Indonesia ke-1 di Yogyakarta pada Oktober 1962. Musyawarah menghasilkan usulan kepada pemerintah Indonesia untuk mengupayakan pengembalian "harta-harta alam dan kebudayaan" Indonesia di luar negeri. "Saatnya sudah tiba kini bagi kita untuk mengadakan registrasi terhadap harta kebudayaan nasional, agar dengan demikian dapatlah diketahui dengan jelas apa saja daripadanya yang masih kita miliki, yang telah hilang dan apa ada kemungkinan untuk mendapatkannya kembali," sebut Ghozali, Sekretaris Asisten Kurator Bagian Edukasi Museum Pusat (kini Museum Nasional), dikutip majalah Varia , 5 Juni 1963. Baca juga: Kisah Benda-Benda Bersejarah Indonesia Dibawa ke Negeri Orang Selain masalah pengembalian, musyawarah juga mengusulkan perombakan radikal terhadap sistem permuseuman yang dianggap telah usang. Diusulkan pula peninjauan terhadap Monumenten Ordonnantie 1931  dan diganti dengan Undang-Undang Museum dan Museum Nasional. Undang-Undang Museum diharapkan dapat menjamin kelestarian benda budaya bersejarah Indonesia dari difusi dan transisi budaya. Lebih lanjut, musyawarah juga menganjurkan agar Indonesia bergabung dengan International Council of Museum (ICOM) yang berpusat di Paris dan disponsori oleh UNESCO. Dengan menjadi anggota ICOM, Indonesia dapat menjalin hubungan kebudayaan dengan negara-negara anggota. Hal ini akan dapat mempermudah usaha-usaha pengembalian benda-benda bersejarah Indonesia. Baca juga: Harga Mahal di Balik Patung Gajah Museum Nasional Wacana-wacana tersebut tampaknya baru membuahkan hasil pada 2 September 1970, ketika Presiden Soeharto melakukan kunjungan ke Belanda. Dalam kunjungan tersebut, bersamaan dengan resepsi kenegaraan di Huis Ten Bosch, Ratu Juliana menyerahkan keropak Negarakrtagama . "Tidak lupa sebuah buku tua yang bernama Negara Kertagama  diberikan kepada Soeharto setelah buku yang memang berasal dari Indonesia itu tersimpan lama di Leiden," tulis majalah Ekspress , 19 September 1970. Namun, penyerahan tersebut agaknya hanya simbolis. Pasalnya, keropak Negarakrtagama baru benar-benar berada di tanah air pada 1972. Arca Prajnaparamita, salah satu masterpiece Museum Nasional, dikembalikan Belanda pada 1978. (Wikipedia). Pada 1978, Museum Pusat (kini Museum Nasional) dalam rangka ulang tahun yang ke-200, mengadakan pameran berbagai benda koleksinya. Secara khusus pameran tersebut menampilkan benda-benda bersejarah yang berhasil dikembalikan dalam rangka kerja sama kebudayaan antara pemerintah Indonesia dan Belanda. Salah satu benda primadona dalam pameran ini adalah arca Prajnaparamita dari salah satu candi Kerajaan Singhasari. Menurut katalog Pameran Peringatan Ulang Tahun ke-200 Museum Pusat arca ini dikembalikan oleh Belanda melalui Duta Besar Indonesia untuk Belanda Sutopo Yuwono pada 1978. Baca juga: Lebih Dekat dengan Museum Nasional Awalnya arca ini diserahkan kepada seorang sarjana Belanda bernama Reinwardt oleh asisten residen D. Monnerau, untuk disumbangkan kepada salah satu museum di Belanda pada 1819. Arca ini berada di Belanda selama satu setengah abad sejak diangkut ke Leiden pada 1823. Bersamaan dengan pengembalian arca tersebut, Belanda juga memulangkan tiga buah benda yang pernah digunakan oleh Pangeran Diponegoro, yaitu sebuah payung kehormatan, tombak dan pelana kuda. Selain itu terdapat 237 benda berharga dari Puri Cakaranegara, Lombok, hasil jarahan pada Perang Lombok 1894. Baca juga:  Kembara Pusaka Diponegoro Pada 2017, 37 tahun pasca pengembalian yang cukup besar itu, bersamaan dengan pembukaan pameran "Aku Diponegoro: Sang Pangeran dalam Ingatan Bangsa, dari Raden Saleh hingga Kini" di Galeri Nasional, sebuah tongkat milik Pangeran Diponegoro dikembalikan. Mengutip National Geographic Indonesia , tongkat bernama Kanjeng Kyai Cokro itu telah disimpan selama 181 tahun oleh salah satu keluarga keturunan Gubernur Jenderal Hindia Belanda 1833-1834, Jean Chretien Baud. Dirjen Kebudayaan Hilmar Farid dengan Direktur Rijkmuseum Taco Dibbits usai pertemuan membicarakan pengembalian benda seni bersejarah dari Belanda ke Indonesia, 17 Mei 2019. (Dok. Bonnie Triyana). Setelah kembalinya 1.500 benda bersejarah akhir 2019, kini pemerintah Indonesia tengah melakukan pembahasan dengan Nationaal Museum van Wereldcultuturenterkait repatriasi gelombang selanjutnya. Ada tiga museum yang mengajukan repatriasi yakni Rijks Museum, Tropen Museum, dan Volkenkunde Museum. Baca juga: Mencari Museum yang Mendidik Direktur Jenderal Kebudayaan, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Hilmar Farid dalam konferensi pers di Museum Nasional pada 2 Januari 2020, menyebut repatriasi selanjutnya masih berada pada tahap diskusi, terutama dengan museum Kerajaan Belanda, Rijks Museum. "Bulan Mei 2019 jumpa dengan direktur Rijks Museum mendiskusikan ini. Sebentar lagi akan ada workshop-workshop untuk meneruskan pembicaraan ini. Pengembalian apa yang di Belanda sekarang disebut roofkunst, benda-benda bersejarah dan benda kesenian yang diperoleh dengan cara tidak pantas," kata Hilmar Farid. Tim Indonesia yang terlibat dalam pembahasan pengembalian benda seni bersejarah dengan pihak Rijksmuseum. Dari kiri ke kanan: Nusi Lisabila Estudiantin dari Museum Nasional Indonesia, sejarawan Bonnie Triyana, Atase Pendidikan dan Kebudayaan KBRI Belanda Din Wahid, Dirjen Kebudayaan Hilmar Farid, dan politikus Heri Akhmadi. (Dok. Bonnie Triyana). Hilmar menyebut, proses repatriasi ini akan memakan waktu cukup lama karena perlu kajian lebih dalam hingga dilanjutkan ke pemilihan barang-barang yang akan dikembalikan ke Indonesia. "Karena untuk menentukan mana barang yang benar-benar diambil dengan cara dijarah juga tidak mudah," imbuhnya. Hilmar juga menambahkan bahwa "demam" repatriasi memang tengah menjadi pembicaraan hangat di berbagai negara di Eropa. Negara-negara tersebut berupaya melakukan dekolonialisasi rak-rak museum dan mengembalikan barang jarahan kepada negara bekas jajahan.

  • Ketika Balet Dianggap Menghina Islam

    TUJUH perempuan penari masuk panggung gelap. Pakaiannya putih menyerupai mukena untuk salat. Mukena menutup bagian kepala sampai ke lutut. Tapi lengan tangan terbuka. Bagian lutut sampai kaki dibungkus oleh leotard (sejenis legging senam). Lampu-lampu panggung menyorot para penari. Suara azan terdengar. Dilafazkan oleh perempuan. Bersahut-sahutan dalam bahasa Arab dan Indonesia.

  • CIA dan Daftar Anggota PKI yang Dihabisi

    SETELAH peristiwa Gerakan 30 September 1965 terjadi pembunuhan massal terhadap anggota Partai Komunis Indonesia (PKI). Jumlah korbannya mencapai ratusan ribu orang. Dan Amerika Serikat berperan dalam memberikan daftar orang-orang komunis itu untuk diburu dan dihabisi. Wartawan Kathy Kadane mengungkapnya untuk pertama kali di washingtonpost.com ,   21 Mei 1990. Kepada Kathy, mantan pejabat urusan politik Kedutaan Besar Amerika Serikat di Jakarta, Robert J. Martens, mengakui memberikan daftar orang-orang PKI, dari tokoh atas hingga kader bawah, kepada tentara Indonesia untuk diburu dan dibunuh. Analis yang berpengalaman dalam soal komunis itu mengepalai kelompok pejabat di kedutaan dari Departemen Luar Negeri dan CIA untuk menyusun daftar itu selama dua tahun. Daftar itu memuat lebih dari 5.000 nama.

  • Hatta yang Keras Kepala

    HIDUP di Boven Digul pada 1935 merupakan takdir yang tidak bisa dihindari Mohammad Hatta. Ia dan beberapa tokoh Partai Nasional Indonesia (PNI) ditangkap pemerintah Belanda karena aktifitasnya dianggap membahayakan. Bersama Sjahrir, Hatta ditangkap di Batavia pada Februari 1934, dan baru ditempatkan di Tanah Merah setahun kemudian, tepatnya pada 28 Januari 1935. Sebelum ditempatkan di desa, Hatta dan penghuni baru Tanah Merah dipanggil ke kediaman pejabat Belanda yang bertanggung jawab atas Digul, Kapten Van Langen. Ia menerangkan tentang pembagian kelompok masyarakat di tempatnya yang harus dipilih oleh para interniran baru itu. Diceritakan Hatta dalam Mengenang Sjahrir , di Digul masyarakatnya terbagi menjadi dua: golongan yang bekerja sama dengan pemerintah ( werkwillig ), dan golongan yang enggan membantu pemerintah ( naturalis ). Orang-orang werkwillig setiap bulannya akan diberi ransum berupa beras, kacang hijau, teh, minyak kelapa, dan kebutuhan pokok lainnya. Mereka juga diberi upah 40 sen sehari. Para werkwillig  ini bahkan dijanjikan kembali ke tempat asalnya, dalam kondisi tertentu. Sementara kelompok naturalis saban bulan hanya mendapat ransum saja. Mereka juga harus melakukan pekerjaan kasar, seperti mencangkul, menggali selokan, dan pekerjaan lain yang serupa. Para naturalis ini diyakini akan hidup selamanya di tanah Digul. “Tuan pilihlah, ke dalam golongan mana tuan akan masuk,” tanya Van Langen kepada Hatta. “Masukkan saja aku ke dalam golongan naturalis. Jikalau aku kiranya mau masuk golongan werkwillig , dahulu di Jakarta aku sudah memilihnya. Berbagai jabatan sudah ditawarkan pemerintah kepadaku. Aku tentu sudah menjadi tuan besar dan tak perlu aku datang ke Digul untuk menjadi kuli upah 40 sen sehari. Aku tetap sebagai nonkooperator,” tegas Hatta. “Buat tuan diadakan kerja kantor. Tuan tidak akan mengerjakan pekerjaan kuli. Apabila tuan memilih golongan naturalis , tuan akan tetap tinggal di Digul ini. Tidak akan dikembalikan ke daerah asal tuan,” ucap Van Langen. “Itu pendapat tuan. Menurut pendapatku tidak ada yang tetap di dunia ini. Semuanya dalam perubahan, apa yang tidak bisa sekarang, di kemudian hari bisa terjadi. Sebab itu aku tetap pada pendirianku,” kata Hatta. Van Langen yang tahu betul kemampuan Hatta tidak ingin membiarkannya begitu saja. Ia ingin tokoh PNI itu ada di pemerintahannya, mengatur tempat pembuangan itu bersama. Akhirnya Van Langen mempersilahkan Hatta beristirahat. Dan memintanya kembali esok hari, berharap mendapat jawaban yang berbeda dari Hatta. “Baiklah jangan tuan ambil keputusan hari ini. Pikirkanlah semalam apa yang kukatakan ini. Tuan kembali besok pagi,” ucapnya. Setelah Hatta meninggalkan ruangan, kawan-kawan yang lain bergiliran masuk mengahadap Van Langen. Termasuk Sjahrir, para buangan itu memilih masuk golongan naturalis . Mereka tetap pada pendiriannya sebagai golongan nonkooperator. Keesokan harinya Hatta kembali menemui Van Langen. Ia datang masih dengan pendirian yang sama: tidak bersedia membantu pemerintah. Pejabat Belanda itu menyayangkan sikap Hatta yang begitu keras kepala. Menurutnya Hatta tidak memikirkan matang-matang masa depannya di Digul karena bisa saja ia tinggal selama-lamanya di Tanah Merah itu. “Percayalah aku tidak akan tinggal selama-lamanya, karena dunia berubah senantiasa,” kata Hatta sambil melangkah ke luar ruangan itu. Sewaktu Hatta sampai di mulut pintu, Van Langen kembali melayangkan tawarannya: “Aku harap tuan nanti mengubah pendirian tuan.” Sambil berlalu Hatta hanya memberi senyum. Pada Juli 1935, enam bulan sejak Hatta menolak Van Lagen, tawaran untuk mengabdi kepada Belanda kembali datang. Kali ini melalui Residen Haga dari Ambon, yang kebetulan akan mengunjungi Digul dalam tugasnya meninjau seluruh daerah kekuasaannya. Waktu itu Van Lagen sudah tidak memerintah, tugasnya digantikan oleh Kapten Wiarda. Ketika Residen Haga sampai di Digul, diperintahkannya kepada Wiarda supaya Hatta dan Sjahrir datang menghadapnya. Setelah sampai, Hatta dipersilahkan masuk terlebih dahulu. Di dalam ruangan sudah menunggu Residen Haga dan seorang pendampingnya. Percakapan dibuka dengan menanyakan kabar kesehatan Hatta. “Aku mengerti tuan berusaha hidup dari karangan-karangan tuan dalam surat kabar. Berhubung dengan itu, pemerintah bersedia membantu memenuhi keperluan tuan membayar porto pos. Saban bulan juga tuan akan menerima f 7.50,” ucap Haga. “Apa artinya tiga ringgit itu bagiku, tidak besar bedanya dengan harga makanan yang kuterima saban bulan. Kalau aku diberi bantuan di atas jumlah biasa yang diberikan di sini untuk orang interniran, kenapa aku tidak diberi bantuan sebanyak bantuan yang diberika kepada kaum intelektual yang diinternir di tempat lain seperti Dr. Tjipto dan Mr. Iwa di Banda Neira atau Ir. Sukarno di Endeh?” kata Hatta. Residen Haga lalu menerangkan jika setiap daerah memiliki kebijakan yang berbeda terkait para interniran, terutama persoalan pendapatan yang mereka terima setiap bulan. Itulah mengapa selama masih berstatus tahanan Digul, Hatta tidak mungkin mendapat upah sebesar kawan-kawannya di tempat lain. “Kalau begitu, biarlah aku menerima bantuan hidup menurut rezim yang berlaku di sini. Bantuan f 7.50 itu untuk ongkos pos mengirim karangan-karanganku tidak perlu tuan berikan,” tegas Hatta. Sesaat Residen Haga terdiam. Ia kemudian meminta Hatta memikirkan tawarannya itu, tidak perlu menjawab terburu-buru. “Betapapun juga baiklah tuan pikirkan semalam, besok pagi tuan datang kembali memberikan jawaban yang terakhir,” ucapnya. “Baiklah, izinkan aku kembali ke kampung pembuangan,” kata Hatta. Setelah berjabat tangan, Hatta pun pamit undur diri. Lalu giliran Sjahrir yang diminta masuk. Sekitar 15 menit berada di dalam, Sjahrir keluar. Sambil berjalan ke tempat tinggal, Hatta menceritakan percakapannya dengan Haga. Ternyata Sjahrir pun diberi tawaran yang sama dan ia juga diminta memberi jawaban keesokan harinya. Esok paginya, Hatta dan Sjahrir kembali ke kantor pemerintahan menemui Residen Haga. Hatta diterima terlebih dahulu. Di dalam, Hatta menegaskan kalau dirinya tetap pada pendirian dan menyesal tidak dapat menerima bantuan pemerintah tersebut. Waktu Hatta keluar, Sjahrir diminta untuk masuk. Sekira 10 menit ia berada di dalam. Tatkala sudah keluar, Sjahrir mengatakan kepada Hatta bahwa dirinya terpaksa menerima bantuan dari pemerintah itu. Selama berada di Digul, dia tidak memiliki pendapatan sepeserpun untuk menafkahi istrinya di Belanda. Hatta dapat memaklumi keputusan Sjahrir. Namun beberapa kawan di Tanah Merah mencela tindakan Sjahrir tersebut. Dia dituduh telah menyerah kepada pemerintah Belanda. Hatta tidak tinggal diam. Ia meyakinkan semua orang bahwa Sjahrir bukan meminta, tetapi hanya menerima dan memang keadaan yang memaksanya melakukan hal itu. Beberapa waktu kemudian, cela-celaan kepada Sjahrir tidak terdengar lagi. “Di Digul aku selalu berpesan kepada kawan-kawan yang dibuang ke sana, yang lama dan yang baru, supaya menjaga kesehatan pikiran dan perasaan, jangan terganggu apa-apa, tetap menerima segalanya dengan hati yang tenang,” kata Hatta.

  • Bentakan Menlu RI Buat Diplomat AS

    MENTERI Luar Negeri Indonesia Retno Marsudi mengatakan tidak akan pernah mengakui klaim Tiongkok atas wilayah Natuna. Pernyataan Retno terlontar sehubungan dengan adanya aksi kapal-kapal penjaga pantai Cina yang lancang memasuki kawasan Natuna. Menurutnya klaim sepihak Cina bertentangan dengan hukum internasional tentang batas teritorial laut sebagaimana telah diatur dalam konvensi UNCLOS pada 1982.  Sikap Retno ini justru berkebalikan dengan Menteri Pertahanan Prabowo Subianto dan Menteri Kordinator Bidang Maritim dan Investasi Luhut Binsar Panjaitan. Prabowo mengatakan Tiongkok tetap negeri sahabat Indonesia sedangkan Luhut menghimbau agar persoalan ini tidak dibesar-besarkan. Prabowo dan Luhut terkesan lembek padahal keduannya adalah mantan jenderal yang merintis karier militer dari korps pasukan elite. Di era Presiden Sukarno, Indonesia juga pernah memiliki menteri luar negeri yang berani bernama Soebandrio. Bila Retno Marsudi mengawali karier diplomatiknya sebagai Duta Besar (Dubes) RI untuk Islandia dan Norwegia, maka Soebandrio merupakan Dubes RI pertama untuk Inggris. Soebandrio kemudian menjabat menteri luar negeri pada 1957 hingga 1966. Pada Maret 1958, pemberontakan Pemerintahan Revolusioner Republik Indonesia (PRRI) menyeret keterlibatan Amerika Serikat (AS). Pemerintah AS yang saat itu dipimpin Presiden Dwight Eisenhower secara resmi menyatakan simpatinya kepada pemberontakan itu. Dukungan tersebut kemudian diikuti dengan bantuan materi berupa sokongan persenjataan, logistik, dan dana operasional. Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD) Mayor Jenderal Abdul Haris Nasution  mengerahkan pasukan elite RPKAD dari Jawa Barat dan Banteng Raiders dari Jawa Tengah ke Sumatra Barat untuk menumpas PRRI. Atas tindakan TNI tersebut, Sterling J. Cottrell datang tergesa-gesa menemui Menteri Luar Negeri Soebandrio. Sebagaimana tercatat dalam arsip Foreign Relations of The United States, 1958--1960, Indonesia, Volume XVII , Cotrell adalah seorang diplomat yang berposisi sebagai penasihat Kedutaan Besar AS di Indonesia. Cotrell  bertugas di Jakarta sejak awal 1958. Menurut Juru Bicara Departemen Luar Negeri Ganis Harsono, Cotrell menemui Soebandrio di kantor Departemen Luar Negeri dengan gaya angkuh. Kedua belah tangan bertolak di pinggang dan sebelah kakinya di atas meja koktail Soebandrio. Cotrell meminta agar anggota-anggota marinir Armada Ke-7 Amerika diizinkan mendarat di pantai sebelah timur Sumatra untuk melindungi jiwa dan kepentingan orang-orang Amerika, terutama yang bermukim di kompleks pertambanyak minyak Caltex, Riau. Melihat lagak Cotrell, Soebandrio meradang. Tanpa panjang bicara, dia lantas membentak Cotrell persis di wajahnya. “Keluar kamu! Sampaikan kepada Menteri Luar Negerimu (John Foster) Dulles, bahwa dua ratus pesawat udara Cina telah siap di Pulau Hunan untuk menyapu anggota-anggota marinirmu kalau dalam tempo empat hari Dulles tidak mengeluarkan pernyataan bahwa Amerika tidak hendak mencampuri soal-soal dalam negeri Indonesia,” jawab Soebandrio ditirukan Ganis sebagaimana terkisah dalam Cakrawala Politik Era Sukarno . Hubungan Indonesia dengan Cina memang mulai rapat setelah Konferensi Asia-Afrika pada 1955. Dalam hajatan akbar yang diselenggarakan Indonesia itu, Cina mengutus delegasinya yang dipimpin langsung oleh Perdana Menteri Chou En-Lai. Namun soal pesawat udara Cina yang siaga di Pulau Hunan (Hainan, provinsi Cina bagian paling selatan - red ) untuk menyelamatkan Indonesia, dapat dipastikan hanyalah gertakan Soebandrio semata. Walau demikian, bualan Soebandrio ternyata dimakan oleh Cotrell. Sebelum tempo empat hari yang ditetapkan Soebandrio berakhir, John Foster Dulles dalam satu keterangan pers di Washington mengatakan bahwa AS tidak akan mencampuri urusan dalam negeri Indonesia. Dilansir majalah Time  10 Maret 1958, sebagaimana dikutip Baskara T. Wardaya dalam Indonesia Melawan Amerika: Konflik Perang Dingin, 1953--1963 , Dulles menyatakan bahwa “Washington lebih senang dengan pemerintahan (Indonesia) yang lebih konstitusional,” tetapi tanpa menyiratkan sedikit pun soal keterlibatan langsung AS. Pendapat Dulles tersebut didahului pernyataan Asisten Menteri Luar Negeri untuk Urusan Timur Jauh, Walter Robertson. Pada 4 Maret 1958 Robertson memberi kesaksian di hadapan Kongres mengenai bahaya komunisme di Indonesia namun tidak menyinggung soal campur tangan AS di Indonesia.     “Pada waktu itulah pemimpin-pemimpin pemerintah Amerika Serikat mulai menyadari, bahwa mereka telah salah pasang dalam pertaruhan,” ujar Ganis Harsono.

  • Mengokohkan Balet Nasional Indonesia

    THE Little Ballet Group, grup balet pertama Indonesia, berhasil menggelar pertunjukan perdananya pada 24 Agustus 1959. Grup ini terdiri dari pebalet Indonesia: Farida Oetoyo, Julianti Parani, Jimmy Tan, Louise Pandelaki, dan Wim Roemers. Hampir semuanya berusia 20-an tahun. Kecuali seorang bernama Nyonya Leska Ong.

  • Kisah Benda-Benda Bersejarah Indonesia Dibawa ke Negeri Orang

    Alfred Russel Wallace, seorang naturalis Inggris, sempat mampir ke Mojokerto dalam ekspedisinya di Kepulauan Nusantara. Di sana ia menginap di rumah Mr. Ball, lelaki Inggris yang telah lama tinggal di Jawa. Oleh kenalan barunya itu, Wallace diantarkan ke Desa Mojoagung. Dalam perjalanan mereka berhenti untuk mengamati puing-puing kota kuno Majapahit. Sampai di rumah seorang wedana atau kepala distrik Mojoagung, ia melihat sebuah relief dewi yang terpajang. Relief pada batu andesit itu tingginya tak sampai perut orang dewasa. Tadinya, panil batu itu terkubur di suatu tempat dekat Mojoagung. Wallace mengaguminya. Ketertarikannya itu sampai terlihat di ekspresi wajahnya. Ball pun memintakan relief itu untuknya. "Senang sekali ternyata wedana itu langsung memberikan," kata Wallace. Sosok perempuan dalam relief itu adalah Durga Mahisasuramardini. Ia memiliki delapan tangan dan berdiri di atas punggung seekor mahisa (kerbau). Salah satu tangan kanannya menarik ekor mahisa . Sementara tangan kirinya menjambak rambut asura (raksasa) yang keluar dari kepala mahisa . Tangan lainnya memegang bermacam-macam senjata. "Dewi ini sangat dipuja oleh orang-orang Jawa masa lampau sehingga patungnya sering ditemukan di puing candi-candi yang terdapat di bagian timur Pulau Jawa," lanjut Wallace. Keesokannya, relief yang didapat Wallace secara cuma-cuma itu dikirim ke Mojokerto. "Akan saya bawa nanti kembali ke Surabaya," ujar Wallace. Kisah Wallace mendapatkan cenderamata berupa temuan arkeologis itu dicatat dalam karyanya, The Malay Archipelago yang terbit pada 1869. Perilakunya tak begitu mengejutkan. Kala itu, artefak dari Nusantara memang biasa dijadikan cenderamata, hadiah, bahkan hiasan taman di kediaman para pejabat kolonial. Maka tak mengherankan kalau di antaranya kini terpajang cantik di museum-museum di negeri orang. Dibanding Wallace, masih ada yang lebih parah. Ia adalah Frederik Coyett, orang Eropa pertama yang mengunjungi Borobudur pada 1733. Ia tertarik pada relief dan arca Buddha di candi itu. Ia pun membawa beberapa arca ke Batavia. Menurut Jean Gelman Taylor, sejarawan dari University of New South Wales, Australia dalam “Visual History a Neglected Resource for the Longue Durée”, termuat di Environment, Trade and Society in Southeast Asia a Longue Durée Perspective, oleh-oleh arca itu oleh Coyett kemudian ditempatkan di taman villa yang ia bangun sesaat sebelum kematiannya pada 1736. “Kemudian tanah miliknya pindah kepemilikan kepada komunitas Tionghoa Batavia yang juga tertarik pada arca Buddha, mengubah tempat tinggal Coyett menjadi Kuil Cina dan tanah pemakaman yang dikenal sebagai Klenteng Sentiong,” jelas Taylor. Ada lagi Nicolaus Englehard, gubernur pantai timur laut Jawa pada 1801-1808. Setelah sempat melakukan perjalanan ke tiga situs kuno di Yogyakarta: Candi Prambanan, Kota Gede, dan Pesanggrahan Gembirowati, tiba-tiba minat Englehard terhadap tinggalan purbakala tersulut. Begitulah kata sejarawan asal Belanda, Marieke Blombergen dan Martijn Eickhoff dalam “A Wind of Change on Java’s Ruined Temples: Archaeological Activities, Imperial Circuits and Heritage Awareness in Java and the Netherlands (1800-1850)” termuat di BMGN - Low Countries Historical Review (2013). Englehard pun mengisi tahun-tahun berikutnya dengan berbagai “kegiatan arkeologis” lainnya. Contohnya pada 1804, ia mulai mengumpulkan arca-arca kuno di Jawa untuk dipajang di kediamannya, "De Vrijheid", di Semarang. Di antara arca-arca itu ada yang berasal dari Candi Singasari di Malang. Kebetulan, Englehard baru menemukan kembali candi dari abad ke-13 itu setahun sebelumnya. Menurut Ann R. Kinney dalam Worshiping Siva and Buddha: The Temple Art of East Java dari candi yang diyakini sebagai pendharmaan Raja Kertanegara itu,ada enam arca utama yang dibawa Englehard.   “(Arca-arca itu, red .) akhirnya membentuk inti dari koleksi seni Indonesia di Rijksmuseum voor Volkenkunde di Leiden,” jelasnya. “Selama abad ke-19, arca-arca lainnya terus dipindahkan ke Holland atau Batavia, atau diberikan kepada pejabat tinggi yang berkunjung.” Nasib artefak sebagai buah tangan berlanjut pada masa kedudukan Inggris di Jawa. Bahkan menurut Peter Carey, sejarawan asal Inggris, mereka adalah pencuri aset Indonesia nomor wahid. Setidaknya ada dua benda cagar budaya penting asal Indonesia yang kini nasibnya masih di negeri orang karena dibawa oleh Sir Stamford Raffles. Prasasti Sanguran atau dikenal dengan Minto Stone sudah lebih dari 200 tahun berdiri di halaman belakang rumah keluarga Lord Minto dalam keadaan tertutup lumut dan lapuk. Padahal prasasti dari 982 M ini memuat catatan pemberian status sima oleh raja Medang di Jawa Tengah, Dyah Wawa kepada Desa Sanguran, yang mungkin letaknya di sekitar Malang sekarang. Dari tempat ditemukannya di Malang, Prasasti Sanguran dikirim ke Kolkatapada April 1813. Menurut sejarawan asal Inggris, Hadi Sidomulyo (Nigel Bullogh) dan Peter Carey dalam “The Kolkata (Calcutta) Stone” termuat di Jurnal The Newsletter (2016) terbitan International Institute for Asian Studies, prasasti ini dimaksudkan sebagai hadiah dari Raffles kepada pelindungnya, Gubernur Jenderal India, Lord Minto. Minto yang mengakhiri masa jabatannya pada Desember tahun itu, membawanya pulang ke Skotlandia. Prasasti itu kemudian diletakkan di tanah leluhurnya di Roxburghshire. “Paling tidak, itu menunjukkan Minto menghargai barang itu dan bersusah payah memilikinya, diangkut ke tanah miliknya di Skotlandia, meskipun beratnya lebih dari tiga ton,” kata Hadi. Beda nasibnya dengan Prasasti Pucangan atau yang dikenal dengan Calcutta Stone. Kini, kata Hadi, ia tersimpan tak terawatt di Museum India. Padahal Prasasti Pucangan yang berasal dari 1041 M itu unik karena satu-satunya yang menyimpan catatan kronologis tentang pencapaian Airlangga, penguasa di Kahuripan, disertai silsilahnya sebagai pewaris keluarga raja yang sah. “Kolkata Stone, di sisi lain, disimpan di Museum India di mana sekarang hampir dilupakan, mengalami degradasi karena keingintahuan kecil, terperangkap di gudang museum asing seolah-olah akibat kecelakaan historis,” catat Hadi. Menurut Hadi, tak jelas bagaimana dan kapan Prasasti Pucangan menemukan jalannya ke Kolkata. “Yang kita tahu, bahwa itu adalah salah satu dari dua prasasti batu Jawa yang penting, yang dikirim ke India selama periode pemerintahan Raffles,” jelasnya lagi. Kemungkinan, Mackenzie menemukannya ketika bertamasya ke wilayah Mojokerto sekarang pada Maret 1812. Lalu ia membawanya ke Surabaya melalui sungai Kali Mas. "Rincian pengirimannya ke Kolkata belum diketahui, tetapi prasasti itu cukup masuk akal berada di antara barang-barang yang menemani Mackenzie sekembalinya ke India pada Juli 1813," kata Hadi. Arca Prajnaparamita atau dikenal dengan Arca Ken Dedes. Kini menjadi koleksi Museum Nasional, Jakarta. ​(Wikipedia). Jadi Koleksi Museum Luar Negeri Belum lagi cerita Raja Chulalongkorn dari Siam (Thailand) yang membawa pulang sembilan gerobak penuh arca dan karya seni Jawa Kuno, sebagai ganti patung gajah yang sekarang terpajang di halaman depan Museum Nasional, Jakarta. Pada 1896, baginda berkunjung ke Jawa. Ia meminta izin kepada pemerintah kolonial Belanda untuk membawa pulang arca-arca itu. Dalam Borobudur: Golden Tales of the Buddhas , John Miksic, arkeolog University of Singapore, mengungkapkan oleh-oleh yang diminta sang raja itu termasuk 30 relief, lima arca Buddha dan dua arca singa dari Candi Borobudur, beberapa langgam Kala yang biasanya ada di bagian atas pintu masuk candi, serta arca Dwarapala yang merupakan temuan dari Bukit Dagi, yaitu bukit yang berada sekira beberapa ratus meter di barat laut Candi Borobudur. Namun setidaknya, benda-benda ini masih bernasib baik. Sofwan Noerwidi, arkeolog Pusat Penelitian Arkeologi Nasional, dalam "Ganesa Pemimpin Para Gana: Dua Arca Ganesa Singasari Koleksi Museum di Negeri Orang", termuat dalam Arca: Sepilihan Teks dan Foto tentang Seni Arca Klasik mengatakan satu paket arca Buddha dari Borobudur itu kini diletakkan di kuil Wat Phra Kaeo, di dalam kompleks istana. Sementara di Museum Nasional Bangkok tersimpan pula koleksi arca dan relief dari Prambanan, Plaosan, dan Jawa Timur. "Di museum inilah kita temukan kembaran arca Ganesha Singasari di Leiden yang ditempatkan di tengah-tengah Java Room, dan dilengkapi dengan altar yang nampaknya digunakan oleh sebagian pengunjung," jelasnya. Museum di Leiden, atau namanya Rijksmuseum Volkenkunde sudah lama diketahui menyimpan banyak harta karun Singhasari. Di sana terpajang cantik arca Brahma, Nandi, Durga, Ganesha, Bhairawa, Mahakala, dan Nandiswara dari Singhasari.  "Karena itu, jika kita ke Candi Singasari, kita hanya akan menemukan arca Agastya di bilik selatan, fragmen arca Dewa Candra dan Surya, serta arca Dewi Parwati yang belum selesai di pelataran candinya," kata Sofwan. Yang mungkin bernasib lebih menggembirakan lagi adalah di antara mereka yang kemudian berhasil kembali ke tanah air. Misalnya, keropak Negarakrtagama yang hanya ada satu-satunya di dunia. Lontar ini, kata arkeolog Nunus Supardi, dalam "Ken Dedes Pulang Kampung" termuat di Jurnal Prajnaparamita (2016), dirampas dari Puri Cakraningrat, Lombok, ketika Belanda menyerbu puri itu.  Pada 1972, keropak Negarakrtagama resmi diizinkan pulang kampung. Sekarang ia disimpan di Perpustakaan Nasional Republik Indonesia. Ada juga arca Prajnaparamita. Konon, arca yang dikenal sebagai arca Ken Dedes ini berasal dari Candi Cungkup Putri yang lokasinya tak jauh dari Candi Singasari. Sebelum akhirnya kembali ke tanah air, dan menjadi koleksi masterpiece di Museum Nasional, Jakarta, arca Ken Dedes juga pernah menjadi penghuni Rijksmuseum Volkenkunde. Nunus menjelaskan Ken Dedes ditemukan pada 1819 oleh D. Monnereau, seorang pegawai Belanda di dekat Singhasari. Arca itu kemudian diserahkan kepada C.G.C. Reinwardt pada 1820, lalu dibawanya ke Belanda. "105 tahun kemudian, pada 1975 Ken Dede bisa dibawa pulang kembali ke tanah air," kata Nunus. Pada awal tahun 2020, sebanyak 1.500 benda bersejarah yang sebelumnya ada di Museum Nusantara di Kota Delft, Belanda, dipulangkan ke Indonesia melalui proses repatriasi. Dulunya koleksi itu merupakan barang-barang dari Indonesia yang dibawa ke Belanda pada masa kolonial.

  • Kegagalan Kepala Stasiun CIA di Jakarta

    DALAM rapat mingguan di Gedung Putih pada empat bulan pertama tahun 1957, Direktur CIA Allen Dulles, membawa catatan-catatan ringkas dari telegram yang dikirimkan kepala stasiun CIA di Jakarta. Inti dari pesan telegram itu bernada memanas-manasi: “Situasi kritis… Sukarno seorang komunis terselubung… Kirimkan senjata.”

  • Martir Letnan Kadir dan Seloroh Kopral Panamo

    BEBERAPA saat sebelum terjadi pertempuran di Desa Mardinding, Tanah Karo, Letnan Kadir Saragih menatap puncak bukit yang ada di desa tersebut. Cukup lama dia menatapi Bukit Mardinding itu. Dengan tatapan takjub, Kadir berujar dengan lepas kepada kawan sekompinya. “Alangkah indahnya puncak bukit itu. Suatu tempat perhentian yang menyenangkan,” ujar Kadir. Dia melanjutkan, “Kalau nanti ada diantara kita yang gugur ditembus peluru senjata Belanda, kita makamkan di atas bukit ini sebagai tugu kenang-kenangan, sebagai ‘benteng kemenangan'.” Ucapan Letnan Kadir tersebut tercatat dalam buku harian komandan resimennya, Letkol Djamin Gintings yang pada 1964 diterbitkan dalam memoar berjudul Bukit Kadir . Letnan Kadir adalah Komandan Seksi 2 Kompi 1 Batalion XV yang ditugaskan dalam operasi dadakan menggempur kubu pertahanan Belanda di Mardinding. Dalam kenangan Djamin Gintings, Letnan Kadir  merupakan perwira muda berbadan tegap. Tingginya lebih kurang 160 cm. Menurut kawan-kawannya, Letnan Kadir memilki paras muka yang bisa menarik perhatian kaum Hawa.  “Tetapi sampai akhir hidupnya dia belum mempunyai kekasih selain daripada perjuangan,” tulis Djamin Gintings. Dalam keadaan siap tempur, Letnan Kadir menampilkan laku yang aneh. Kepada Sersan Mayor Bantaryat Sinulingga, Kadir menyerahkan pedangnya. Sinulingga pun terheran-heran melihat tindakan komandannya.   “Tuan sendiri pakai senjata apa?" tanya Sinulingga. “Saya bawa sebuah pentungan,” jawab Kadir. “Saya kira sudah cukup sekedar untuk menghajar mereka (tentara Belanda - red ) agar mereka tahu kena pentungan tentara Indonesia,“ tukasnya. Selain Kadir, seorang prajurit bernama Kopral Panamo memperlihatkan gelagat yang tidak kalah anehnya. Seperti Letnan Kadir, Kopral Panamo seorang prajurit anggota Kompi 1. Badannya gemuk pendek dan berkulit hitam. Panamo dikenal suka melawak dan membuat kawannya-kawannya tertawa. Menurut Djamin Gintings, sejak agresi militer Belanda pertama, Panamo mengurusi bagian perbekalan makanan. Tidak heran bila Panamo selalu lapar dan doyan makan. Menjelang penyerbuan, Kopral Panamo mengambil seutas rotan. Ketika rekannya bertanya untuk apa gerangan, Panamo mengatakan rotan itu akan digunakan sebagai tali ranselnya. Tetapi sembil tertawa, Panamo berseloroh, “Kalau nanti saya tewas tali ini untuk mengikat mayat saya.” Semua temannya-temannya termasuk Panamo sendiri tertawa lepas. Pertempuran pun berlangsung dari tengah hari hingga pukul 5 sore. Ketika desing peluru saling berbalas, Letnan Kadir maju menyerbu pos tentara Belanda sambil berseru “Maju” dan “Merdeka.” Tiba-tiba sebuah peluru menembus dada Kadir dan dia gugur seketika. Kopral Panamo yang kocak itu juga terkena tembakan di perutnya. Panamo sempat bertahan dari luka beratnya. Tali rotan yang sudah dipersiapkannya ternyata berguna menjadi tambahan pengikat alat pemikut tandu ketika Panamo dibawa ke tempat yang lebih aman. Di tengah jalan, Panamo kehausan. Teman-temannya memberi air minum. Namun setelah minum, Panamo meronta, “Perutku. Tolong pijak biar semua air keluar.” Dia kesakitan usai meminum air itu. Ketika berada di pinggang bukit, Panamo tidak mampu lagi bertahan. Dia mengehembuskan nafas penghabisan setelah memekikkan “Merdeka”. Di lembah bukit Mardinding itulah Kopral Panamo dimakamkan. Sementara Letnan Kadir dimakamkan di puncak bukit, sebagaimana permintaannya sebelum pertempuran berlangsung.    Letkol Djamin Gintings menamakan puncak Bukit Mardinding sebagai Bukit Kadir dan lembahnya sebagai Lembah Panamo. Untuk mengenang keduanya, sang komandan resimen menuliskan untaian sajak. Di puncak bukit terletak pusara Pahlawan kadir yang gagah perkasa Sebagai tugu pahlawan bangsa Mempertahankan tanah air Indonesia Itulah……….Bukit Kadir  Di lembah bukit Panamo berkubur Demi perjuangan ia tersungkur Gugur sebagai pahlawan bertempur Untuk kemerdekaan yang subur Itulah……….. Lembah Panamo

bg-gray.jpg
Tedy masuk militer karena pamannya yang mantan militer Belanda. Karier Tedy di TNI terus menanjak.
bg-gray.jpg
Dua anggota legiun Mangkunegaran ikut serta gerakan anti-Belanda. Berujung pembuangan.
bg-gray.jpg
Rumah Sakit Bethesda Yogyakarta merupakan buah kasih dokter misionaris Belanda bernama J.G. Scheurer yang dijuluki Dokter Tolong.
bg-gray.jpg
Poligami dipraktikkan oknum tentara sejak dulu. Ada yang dapat hukuman karenanya.
bg-gray.jpg
Snouck Hurgronje diangkat menjadi pejabat negara di Hindia Belanda. Dia mengamati dan memberikan catatan serta nasihat yang membantu pemerintah kolonial mengatur ketertiban dan keamanan di wilayah koloni.
bottom of page