Hasil pencarian
9868 hasil ditemukan dengan pencarian kosong
- Sebelum Pearl Harbor, Pesawat AL Jepang Pernah Tenggelamkan Kapal AL AS.
VICTORIA Sabrina , kapal pesiar milik Victoria Cruises yang berbasis di New York, akan melakukan pelayaran perdana Mei 2020 nanti di Sungai Yangtze, China. Kapal pesiar mewah ramah lingkungan sepanjang 150 meter itu akan jadi kapal pesiar terbesar di dunia yang beroperasi di sungai. Pelayaran kapal Amerika di Sungai Yangtze bukanlah hal baru. Pada 1920-an, tanker-tanker milik Standard-Vacuum Oil, perusahaan minyak terbesar Amerika, dan kapal-kapal kargo Amerika hilir-mudik di sungai terpanjang China itu. Setelah ditandatanganinya perjanjian dengan pemerintah Republik China pada 1930, kapal-kapal perang Amerika juga rutin melayari sungai itu. Kapal-kapal perang itu mengawal kapal tanker dan kapal kargo Paman Sam agar tak dibajak dan dirompak, di mana kejahatan itu di Sungai Yangtze meningkat sejak akhir 1920-an. Kapal perang Amerika bahkan pernah jadi korban dalam pelayaran di Sungai Yangtze, dikenal sebagai Insiden USS Panay . Gegara Pendudukan Jepang Insiden USS Panay berawal dari direbutnya Shanghai oleh Jepang dalam Perang China-Jepang Kedua, 1937. Kejatuhan Shanghai membuat Chiang Kai-shek, kepala pemerintahan Republik China, mencari cara untuk melawan agresi itu. Oleh para penasehat militernya yang berkebangsaan Jerman, Chiang disarankan mengambil taktik pancingan. Yakni, membiarkan pasukan Jepang maju dari Shanghai ke ibukota Nanking dan terus masuk ke pedalaman lewat Sungai Yangtze. Saat pasukan Jepang sudah masuk jauh ke pedalaman itulah baru pasukan China menggempur dari sisi kanan-kiri sungai. Chiang menyetujui saran itu. Dengan masuknya Jepang ke Nanking pada November 1937, pertempuran sengit pun pecah karena militer China di bawah pimpinan Tang Shengzi mati-matian mempertahankannya alih-alih menyatakan Nanking sebagai kota terbuka. Pertempuran itu kemudian dikenal sebagai Pembantaian Nanking, karena pasukan Jepang memperkosa perempuan dan membunuhi penduduk sipil. Kondisi mengerikan itu mendorong penduduk yang selamat berbondong-bondong mengungsi. Perwakilan-perwakilan negara asing juga mengevakuasi warganya sejak November. Pada 11 Desember, Inggris dan Amerika kembali mengevakuasi warganya. Amerika menggunakan tiga kapal tanker milik Standard-Vacuum Oil, SSMei Ping, SS Mei An, dan SS Mei Hsia , dengan pengawalan kapal perang USSPanay . Konvoi itu berangkat pukul 8.30 pagi waktu setempat. Selain mengangkut 54 kru, Panay saat itu mengangkut empat staf Kedutaan AS dan 10 jurnalis AS dan asing. Konvoi yang dipimpin Panay itu mencapai titik 28 mil dari Nanking pada pukul 13.30 tanggal 12 Desember. Saat itulah beberapa pesawat pembom Yokosuka B4Y yang dikawal pesawat tempur A4N Nakajima Type 95 dari Grup Udara ke-13 AL Jepang pimpinan Letnan Okumiya Masatake terlihat terbang di atas mereka. Pesawat-pesawat itu ditugaskan ke Sungai Yangtze berdasar laporan intelijen yang menyatakan kapal-kapal Tiongkok yang dipenuhi tentara sedang bergerak naik ke Yangtze dari Nanking. Yakin akan keakuratan informasi intelijennya, pilot pesawat Yokosuka langsung melepaskan beberapa bomnya ke konvoi kapal Amerika di sungai. Satu bom berhasil mengenai satu kapal di konvoi itu yang terlihat sebagai kapal perang ( USS Panay ). Aksi Yokosuka langsung diikuti enam Nakajima menukik ke arah konvoi sambil memberondongkan senapan mesin dan menjatuhkan total 20 bom. USSPanay membalas serangan dengan menembakkan senapan mesin kaliber 30mm-nya meski saat itu lambungnya sudah sobek dan deknya terbakar. Namun tak satupun tembakan itu mengenai pesawat-pesawat Jepang tadi. Sebaliknya, kapal-kapal Amerika itu kembali didatangi pesawat-pesawat Jepang yang terus memberondong dan melepaskan bom-bomnya. “Setelah bombardir dan pemberondongan 20 menit terus-menerus itu, hasilnya amat menghancurkan. Kapal utama ( Panay , red .) dihajar di tengah sungai, dikelilingi peluru, terbakar, dan miring ke kanan. Dua kapal lain terdampar di tepi kanan Sungai Yangtze, yang lain di tepi kiri,” tulis Peter Harmsen dalam Nanjing 1937: Battle for a Doomed City . Meski sempat pergi, pesawat-pesawat Jepang itu kembali lagi karena Letnan Okumiya dimarahi atasannya lantaran tak menenggelamkan langsung kapal-kapal tadi. Kali ini mereka gagal menemukan kapal-kapal Amerika tadi dan hanya mendapati empat kapal lain yang berada lebih dekat dari kota Nanking. Okumiya langsung menjatuhkan bom 60 kilogramnya yang menghantam salah satu kapal. “Ketika dia berhenti (menyerang), dia melihat, dalam sepersekian detik, Union Jack di sisi lambung kapal. Dia menyadari kesalahannya,” sambung Harmsen. Bukan kapal Amerika, kali ini yang dihantam pesawat-pesawat Jepang merupakan kapal Inggris SS Wantung . “ SS Wantung berlayar dari Shanghai ke Wuhu untuk melakukan kerja penyelamatan di sana. Dia juga membawa muatan 100 ton kacang untuk Komite Zona Keamanan Internasional di Nanking,” tulis buku A Dark Page in History: The Nanjing Massacre and Post-Massacre Social . Kesalahan Okumiya segera disadari rekan-rekan pilotnya sehingga mereka tak jadi melepaskan tembakan dan bom. Pesawat-pesawat Jepang itu segera kembali ke pangkalan. Serangan kedua atas Panay membuat situasi di geladak kacau. Komandan Panay K apten James Joseph Hughes tertembak pahanya sehingga posisinya digantikan Letnan Arthur F. Anders. Personil militer lain yang tertembak yakni Pratu Charles Lee Ensminger dan Prajurit William Gorge Hulsebus. Sementara, penumpang sipil yang teridentifikasi tertembak adalah Sandro Sandri, kontributor suratkabar Italia La Stampa berusia 42 tahun, dan sekretaris Kedubes AS John H Paxton. Dokter kapal langsung menjadikan ruang mesin sebagai rumahsakit darurat. Sekira 45 korban serangan mengantri untuk mendapat perawatannya. Letnan Anders, yang tangannya tertembak dan lehernya terkena pecahan peluru, akhirnya memberi perintah lewat tulisan karena tak bisa bicara. Semua orang diperintahkannya meninggalkan kapal pada pukul 14.00 itu. Beberapa sekoci langsung membawa para kru dan penumpang ke sebuah pulau berilalang lebat, tempat para penumpang Panay bersembunyi. Dari rerimbunan ilalang, mereka melihat sebuah powerboat AL Jepang mendekati Panay sambil memberondong. Para serdadu Jepang itu lalu menaiki Panay dengan bendera Amerikanya yang masih berkibar. Lima menit kemudian mereka kembali ke powerboat dan pergi. Panay akhirnya tenggelam pukul 15.45 dan sempat diabadikan oleh kamera beberapa jurnalis yang menumpanginya. Karena takut, para penumpang Panay bertahan di yang dingin itu. Mereka baru menyeberang ke desa terdekat setelah keadaan aman. Namun, malamnya Pratu Ensminger dan Sandri tewas akibat luka-lukanya terlalu parah. Mereka semua akhirnya diselamatkan USS Oahu dan kapal Inggris HMS Ladybird . Berita serangan atas Panay pun sampai ke Tokyo dan Kedubes AS di Tokyo. Dubes AS untuk Jepang Joseph C. Grew pusing dan khawatir Amerika balas menyerang Jepang karena kasus Panay . Sebab, menurut FJ Bradley dalam He Gave the Order: The Life and Times of Admiral Osami Nagano, “Amerika memindahkan skuadron B-17 Flying Fortress ke Pangkalan Clark di Filipina sebagai tanggapan terhadap Insiden Panay.” Grew tak ingin kasus peledakan kapal AS USS Maine di Havana tahun 1898 yang memantik Amerika berperang dengan Spanyol terulang pada Jepang. Pemerintah Jepang akhirnya meminta maaf kepada pemerintah Amerika dan setuju membayar kompensasi sebesar 2,2 juta dolar. Permintaan maaf itu membuat pemerintah Amerika akhirnya memilih jalur diplomasi untuk menyelesaikan Insiden Panay . Berbeda dari pemerintah Jepang yang bersikeras serangan terhadap Panay karena salah identifikasi oleh pilotnya, rakyat Jepang menunjukkan simpati luar biasa kepada para korban dan keluarga mereka. Surat belasungkawa dan permintaan maaf hingga donasi uang dari masyarakat Jepang beragam kalangan, mulai anak-anak hingga pensiunan angkatan laut, terus membanjiri Kedubes AS di Tokyo dan konsulat-konsulat AS di kota-kota besar Jepang. Salah seorang yang bersimpati adalah bocah dari Nagasaki yang mengirim uang dan surat bertuliskan “Kepada pelaut Amerika”. “Dalam sebuah surat dua hari kemudian, konsulat di Nagasaki melaporkan kepada Grew bahwa pada 21 Desember seorang bocah lelaki dari SD Shin Kozen membawa surat dan sumbangan dua yen ke konsulat dan ditemani oleh kakak laki-lakinya. Konsul melampirkan kontribusi dan surat anak itu baik asli maupun terjemahannya. Surat itu berbunyi, ‘Musim dingin telah tiba. Setelah mendengar dari kakak saya bahwa kapal perang Amerika telah tenggelam beberapa hari lalu, saya merasa sangat menyesal. Dilakukan tanpa niat, saya meminta maaf atas nama para prajurit. Mohon dimaafkan. Ini adalah uang yang saya tabung. Tolong serahkan kepada para pelaut Amerika yang teluka.’ Bocah itu tidak menyebutkan namanya dalam surat itu, juga tidak mengungkapkannya ketika mengunjungi konsulat,” tulis Trevor K. Plante, arsiparis di unit Old Military and Civil Records, National Archives and Records Administration, dalam artikel yang dimaut archives.gov , “Japanese Expressions of Sympathy and Regret in the Wake of the Panay Incident”. Baik kompensasi resmi maupun donasi sukarela rakyat Jepang akhirnya tuntas dilaksanakan. Donasi yang terus berjalan hingga Februari 1938 dan memusingkan Dubes Grew itu –karena berpendirian menolak donasi apapun di luar kompensasi resmi, Washington memerintahkan untuk mengembalikan donasi itu; sementara Grew tak ingin Amerika menolak donasi karena melukai hati para pemberi donasi– akhirnya menghasilkan pendirian lembaga Japan-America Trust pada April 1938. Lembaga inilah yang mengalokasikan uang donasi untuk membiayai keperluan yang berhubungan dengan persahabatan Amerika-Jepang. “Kedua belah pihak lega dengan hasil dari masalah kontribusi Panay. Pembentukan Japan-America Trust menghapus semua kebutuhan untuk mengembalikan uang (donasi), dan tidak ada bagian dari pemerintah atau warga negara Amerika lain yang diuntungkan dari donasi tersebut,” sambung Plante.*
- Deregulasi, Cara Orde Baru Mengerek Pertumbuhan Ekonomi
PEMERINTAH telah menyerahkan draft Rancangan Undang-Undang (RUU) Cipta Kerja ke DPR pada pertengahan Februari 2020. RUU itu memuat revisi sejumlah pasal dalam hampir 80-an undang-undang di bidang ekonomi, pajak, lingkungan, ketenagakerjaan, dan banyak lagi. Bersama penyerahan itu, salinan RUU mulai tersebar dan dibaca oleh masyarakat.
- Santo Iker di Bawah Mistar
MASIH ingat Iker Casillas? Penjaga gawang Real Madrid sepanjang era Galácticos (2000-2014) itu selalu menjadi pembeda dari rekan-rekannya yang garang kala menghadapi lawan. Casillas selalu tampil menawan dengan kharisma dan perilakunya yang jauh dari kata arogan. Bak santo, ia enggan mengekspresikan rasa sakitnya ke publik kala dibuang dari klub yang dibelanya selama 25 tahun pada 2015. Padahal Casillas punya saham dalam mendatangkan lima gelar La Liga, dua Copa del Rey, empat Supercopa de España, dan tiga gelar Liga Champions dalam titimangsa 2000-2014. Namun itulah Madrid dengan presidennya Florentino Pérez. Yang menguntungkan, bakal dibintangkan. Tapi sebanyak apapun prestasi yang disumbangkan seorang bintang, klub tak menganggapnya dan bakal membuang kalau tak lagi menguntungkan. Casillas masih untung karena klub Portugal FC Porto mau menampungnya. Di Portugal, Casillas membuktikan belum habis. Ia membantu Porto mendulang gelar Primeira Liga musim 2017-2018. Sejak Mei 2019 Casillas mengidap penyakit jantung dan kini ia tutup buku untuk karier bermainnya (Foto: Twitter @IkerCasillas) Sayangnya sejak Mei 2019 Casillas mulai jarang tampil gegara didiagnosa punya penyakit jantung. Tahun ini jadi tahun terakhir Casillas mentas di lapangan hijau, di usia 39 tahun. “Sebelum mengumumkan pencalonannya (Presiden RFEF), Casillas menemui saya untuk memberitahu keputusannya mengakhiri karier,” ujar Presiden FC Porto Jorge Nuno Pinto da Costa, dikutip Sportstar , 18 Februari 2020. Ramalan Sejak Masa Kehamilan Sebagai penerus estafet kiper hebat Spanyol, Casillas punya prestasi paling mentereng dibanding empat pendahulunya. Ricardo Zamora, Antoni Ramallets, Luis Arconada, sampai Andoni Zubizarreta belum pernah merasakan gelar yang didapat Casillas. Lahir di Madrid pada 20 Mei 1981 dengan nama Iker Casillas Fernandéz, Casillas merupakan putra dari pasangan José Luis Casillas dan María del Carmen Fernández González. Jose merupakan pegawai di Kementerian Pendidikan Spanyol dan Maria seorang penata rambut. Iker Casillas di masa jadul kala meniti karier di akademi Real Madrid "La Fábrica" (Foto: Twitter @IkerCasillas) Sebagaimana dikisahkan Enrique Ortego dalam biografi Iker Casillas: La Humildad del Campeón , Casillas memiliki darah Basque. Kakeknya dari pihak ayah merupakan seorang perwira guardia civil , semacam polisi militer asal Bilbao. Ada kisah menarik tentang prediksi masa depan Casillas meski ia belum lahir ke dunia. “Suatu hari, seorang tukang sepatu dekat apartemen mereka meramalkan bahwa putra mereka akan jadi pemain hebat dan dia akan bermain untuk menaklukkan semua tantangan yang ada sekaligus mensejajarkan diri dengan para kiper hebat Basque,” tulis Jonathan Wilson dalam The Outsider: A History of the Goalkeeper. Prediksi tukang sepatu itu terbukti. Casillas bahkan sukses di tingkat internasional. Selain mengantarkan Spanyol merebut Piala Eropa 2008 dan 2012, Spanyol di masa Casillas akhirnya mampu mencicipi juara Piala Dunia pada 2010. “Casillas sebagai kapten di tiga sukses besar itu,” sambung Wilson. Momen paten Casillas di Piala Eropa 2008, Piala Dunia 2010, dan Piala Eropa 2012 (Foto: uefa.com/fifa.com ) Fans Madrid dan timnas Spanyol menjulukinya San Iker alias Santo Iker atau Iker si Orang Suci. “Persahabatannya dengan Xavi (kapten Barcelona) sejak di timnas muda Spanyol menjadi faktor besar dalam meredakan perseteruan Madrid-Barcelona yang bisa merusak spirit skuad timnas, mengingat rivalitas kedua tim saat itu di bawah asuhan José Mourinho dan Pep Guardiola,” ungkap entrenador Spanyol di Piala Dunia 2010, Vicente del Bosque, dikutip Wilson. Ikon Abadi Madrid Namun sebelum sampai ke kegemilangan itu, Casillas merintisnya dengan susah-payah. Sebagai anak introvert , ia lebih sering bermain sepakbola dengan ayahnya ketimbang anak-anak sebayanya. Itu disebabkan karena ayahnya sering dimutasi sehingga Casillas tak pernah punya teman dekat yang bertahan lama. Dari bersepakbola dengan ayahnya itulah Casillas mulai menyukai posisi kiper gegara setiap bermain di taman dia yang selalu jadi penangkap bola yang ditendang ayahnya. Sang ayah yang melihat bakat Casillas lalu coba memasukkan Casillas ke program ujicoba Real Madrid saat mereka pindah ke Madrid. Setiap tahun Real Madrid menggelar serangkaian ujicoba terbuka untuk anak-anak. Casillas mengikutinya saat berusia 10 tahun dan dia lulus di tes pertama. Namun pada tes kedua yang merupakan tes sparring, Casillas kebobolan tujuh gol. “Meski timnya kalah 7-1, Kepala Seksi Pemain Muda Madrid Antonio Mezquito melihat potensi dalam diri Casillas dan memutuskan untuk mengajaknya masuk akademi muda Real Madrid, La Fábrica,” sambung Ortego dalam biografi Casillas. Di tahun 1990 itulah karier Casillas dirintis. Meski posturnya enggak tinggi-tinggi amat, tapi Kak Casillas punya refleks yang cekatan untuk menjaga kesucian gawangnya (Foto: realmadrid.com ) Tuhan seolah sudah menata hidup Casillas untuk cemerlang di bawah mistar. Enam tahun setelah masuk La Fábrica dan bahkan belum menembus Real Madrid C, Casillas sudah terpilih masuk skuad Timnas Spanyol U-15 dan pada 1997 sudah turut memenangi Euro (Piala Eropa) U-16 di Jerman. “Hal terhebat tentang Iker adalah cara natural yang dia punya untuk selalu menghadapi banyak tantangan. Kedewasaan memberi dia ketenangan saat sedang bermain. Ketenangan yang berbuah manis,” ujar eks kiper Madrid dan timnas Spanyol yang melatih Casillas di La Fábrica, Paco Buyo, dikutip Wilson. Alhasil, pada akhir November 1997 Casillas sudah dipanggil ke tim senior Real Madrid. Usianya masih 16 tahun dan bahkan belum resmi masuk Real Madrid C lantaran ia masih menyelingi titian kariernya dengan pendidikan SMA di Instituto Cañaveral de Móstoles. Casillas, sebagaimana dimuat laman UEFA , 9 Februari 2019, mengenang momen itu. Jelang pemanggilan itu, Casillas dan teman-temannya tengah larut dalam obrolan tentang Madrid. Tiba-tiba kepala sekolah (kepsek) masuk ke ruangan kelasnya dan meminta Casillas segera menyusul ibunya ke Bandara Madrid-Barajas. “Itu sebuah anekdot yang bagus. Pak kepsek bilang, ‘Iker, kamu sebaiknya cepat panggil taksi dan bergegas ke (bandara) Barajas karena Real Madrid baru saja menelepon ibumu dan ibumu menelepon kami. Segeralah kamu pergi karena kamu akan ke Norwegia’,” ungkap Casillas mengingat momen dadakan jelang laga Liga Champions kontra Rosenborg itu. Pemanggilan Casillas itu atas permintaan entrenador Jupp Heynckes. Pasalnya kala itu kiper utama Bodo Illgner dan kiper kedua Santiago Cañizares tengah cedera. Casillas dibutuhkan sebagai kiper cadangan untuk melapisi kiper Madrid lainnya, Pedro Contreras. Meski akhirnya tak dimainkan, Casillas sudah cukup girang jadi penonton di bangku cadangan. “Saya bisa berada di tempat yang sama dengan Fernando Morientes, Clarence Seedorf, Fernando Sanz, Predrag Mijatović, Davor Šuker, dan Raúl González. Suatu hal yang magis dan akan selalu saya ingat,” tambahnya. Penampilannya yang top markotop di final Liga Champions 2002 memastikan posisinya sebagai portero permanen Madrid seterusnya (Foto: Twitter @IkerCasillas) Usai lulus SMA, Casillas full menseriusi kariernya di Real Madrid C pada 1998, kemudian Real Madrid B sebagai kiper utama, hingga menembus tim utama Madrid. Debutnya di tim utama berlangsung pada 12 September 1999, kala Madrid bertandang ke Stadion San Mamés untuk menghadapi Athletic Bilbao di pentas La Liga. Tiga hari berselang, Casillas mencatatkan rekor sebagai pemain termuda di Liga Champions (18 tahun, 177 hari) kala dibawa pelatih Toshack meladeni Olympiakos Piraeus. Namun yang menjadi titik penting kariernya di Los Blancos adalah final Liga Champions musim 2001-2002 kontra Bayer Leverkusen di Stadion Hampden Park, Glasgow, Skotlandia, 15 Mei 2002. Kala itu Casillas masuk di menit ke-68 menggantikan César Sánchez yang cedera. “Ia dengan reflek-reflek cepat dan penyelamatan-penyelamatannya yang tangkas, serta kecerdasannya untuk membaca antisipasi pemain lawan, membantu Madrid mempertahankan keunggulan 2-1 sampai akhir laga. Sejak saat itu posisinya di bawah mistar tim utama Madrid menjadi permanen,” singkap Charles Parrish dan John Nauright dalam Soccer Around the World: A Cultural Guide to the World’s Favorit Sport. Habis karier manis Casillas, sepah dibuang Real Madrid yang rasanya sakit tapi tak berdarah (Foto: realmadrid.com ) Sejak itulah nama Casillas senantiasa terpampang di starting eleven tiap laga Madrid, hingga mencetak 700 penampilan. Tak terhingga pula penghargaan pribadi yang ia sabet. Kegemilangan Casillas sempat bikin celamitan klub-klub kaya di Inggris dengan niat meminangnya. Beruntung, Casillas yang rupawan pilih setia pada Madrid. Sialnya, loyalitas Casillas justru dibalas Madrid dengan pembuangan. Pembuangan itu memang bukan tanpa alasan. Sejak 2013, penampilan Casillas mulai tak stabil setelah cedera parah. Akibatnya entrenador José Mourinho dan penggantinya, Carlo Ancelotti, memilih kiper lain ketimbang Casillas selepas ia pulih. Perlakuan Madrid melego Casillas ke FC Porto pada 11 Juli 2015 itu mendatangkan banjir kecaman. Sebaliknya, Casillas kebanjiran simpati. Salah satunya dari kiper legendaris Italia Gianluigi Buffon. “Anda akan selalu menjadi ikon Real Madrid. Tapi di atas itu semua, Anda adalah salah satu representasi terbaik seorang kiper. Semoga beruntung dalam petualangan baru, akan sangat aneh melihat Anda dengan seragam lain. Semangat Iker!” kata Buffon dinukil Marca , 13 Juli 2015.
- Dokter Pribumi Menolak Diskriminasi Gaji
ABDUL Rivai kesal. Kualifikasi medis lokalnya hanya memungkinkan untuk mendaftar di posisi rendah dalam layanan medis kolonial. Gaji yang ia dapat bahkan kurang dari setengah gaji rekan-rekan Eropanya. Ia pun memprotes kebijakan diskriminatif pada dokter pribumi. Protes soal gaji juga pernah diutarakan dokter Tjipto Mangunkusumo. Tjipto tak hanya memprotes soal gaji dokter pribumi, tetapi juga gaji mantri Jawa. Protes gaji mantri dilakukan Tjipto saat dia dan dokter Eropa JT Terburgh, dibantu sepuluh mantri, ditugaskan menangani epidemi malaria yang melanda Jawa. Para mantri rupanya dibayar amat rendah. Mereka mengeluhkan hal itu pada Tjipto sebagai dokter pribumi sekaligus atasan mereka. Begitu mendengar hal itu, Tjipto langsung melapor ke pejabat Eropa setempat. Terburgh menyanggah Tjipto dengan mengatakan para mantri Jawa hanya mau bekerja jika dibayar di atas standar upah. Lebih jauh Terburgh menuduh Tjipto dan para mantri Jawa tidak paham dengan kerja kemanusiaan. Jelas saja Tjipto tidak terima dengan tuduhan itu. Pasalnya, ia merupakan salah satu dokter yang berani masuk ke kampung-kampung kala pes mewabah di Jawa Timur sementara para dokter Eropa ogah turun tangan. Tjipto pun mengancam akan mengundurkan diri kalau permintaan kenaikan gaji tidak dikabulkan. Benar saja, Tjipto mengundurkan diri ketika Terburgh menolak protesnya. Penilaian tentang dokter pribumi lulusan negeri jajahan lebih rendah dari lulusan Eropa membuat pemerintah kolonial menggaji mereka setengah atau lebih rendah dari para dokter Eropa. Para dokter pribumi juga ditempatkan di pedalaman atau bagian medis di mana dokter Eropa ogah menempati. Hans Pols dalam Nurturing Indonesia menyebut, penjajah Eropa umumnya berangggapan bahwa dokter dan pribumi terpelajar lain sebagai orang yang terlalu ambisius dan lupa akan tempatnya di sistem kolonial. Para dokter Eropa sangat memusuhi mereka, meski sebenarnya mereka sangat terbantu dengan kehadiran dokter pribumi. Pengalaman diskiminatif dan penyingkiran inilah yang memantik kesadaran politik para dokter pribumi. Sebagian besar dari mereka kemudian bergabung dengan gerakan nasionalis, semisal Tjipto, Bahder Djohan, dan Abul Rivai yang selain melancarkan protes soal diksriminasi gaji juga aktif dalam gerakan politik. Protes soal diskriminasi gaji mereka utarakan lewat Asosiasi Dokter Hindia ( Vereeniging van Inlandsche Geneeskundingen, VIG) yang beridiri pada 1911. Resistensi terus tumbuh hingga mereka didukung oleh Sarekat Islam. Beberapa cabang mendukung usulan aksi mogok para dokter Jawa. Protes itu akhirnya didengar pemerintah kolonial. Pada minggu kedua November 1919, pemerintah mengirim banyak proposal anggaran 1920 ke Volksraad. Isinya antara lain mengenai usulan anggaran 1920, usulan dewan kabupaten, dan prinsip sistem remunerasi baru, dan proposal tentang kenaikan gaji untuk dokter di Hindia. Langkah Dewan Rakyat menaikkan gaji dokter pribumi berhasil meredakan gelombang protes. Dewan Rakyat juga meminta pemerintah untuk mengubah jumlah kenaikan gaji tahunan dan penggantian biaya perjalanan. Namun, rupanya kenaikan itu tak signifikan. Ketika Bahder Djohan lulus dari STOVIA dan menjadi dokter pada 1927, gaji dokter pribumi masih setengah dari gaji dokter Eropa. Sebagai Indische Arts, gaji Bahder hanya 250 gulden sebulan, sedangkan teman Belandanya mendapat 500 gulden meskipun keahlian dan diplomanya sama. Padahal, Bahder memegang banyak pekerjaan. Ia bertanggung jawab atas dua bangsal: III dan IV. Tiap bangsal dihuni 10-15 pasien. Belum lagi ketika ada pasien TBC atau lepra yang datang, dialah yang harus menangani. Gaji yang sedikit itu bahkan tidak cukup untuk membayar langganan jurnal medis Geneeskundig Tijdschrift voor Nederlandsch Indie (GTNI) yang cukup mahal. Kepincangan itu juga dialami rekan sejawat Bahder yang pribumi. “Hal ini terang sekali memperlihatkan bagaimana pemerintah kolonial membedakan antara bangsanya sendiri dangan anak jajahannya meskipun memiliki pendidikan dan pekerjaan yang sama,” kata Bahder dalam otobiografinya, Bahder Djohan Pengabdi Kemanusiaan. Menurut Bahder, masalah kepincangan gaji merupakan bentuk diskriminasi nyata di depan mata dan mencerminkan bagaimana pemerintah kolonial memandang petugas medis pribumi. Lebih jauh ia mengatakan, persoalan ini bukan semata soal uang, melainkan apresiasi kerja dan martabatnya.
- Ketika Soebandrio Diancam John F. Kennedy
Suasana “panas” meliputi Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Washington, Amerika Serikat. Perang urat syaraf berlaku antara Menteri Luar Negeri Indonesia Soebandrio dengan Duta Besar Belanda untuk PBB Herman van Rooijen. Keduanya merupakan ketua delegasi negara masing-masing dalam merundingkan sengketa Irian Barat (kini Papua). Pertemuan tersebut adalah lanjutan dari perundingan yang telah dihelat beberapa hari sebelumnya di kota Middleburg. “Tanggal 25 Juli 1962, van Rooijen datang ke Kedutaan Besar Indonesia di Washington, guna melaksanakan perundingan kedua,” kenang Soebandrio dalam Meluruskan Sejarah Irian Barat. “Syukur bahwa van Rooijen bersedia datang ke Kedutaan Besar Indonesia.” Saat itu Soebandrio berhalangan datang ke tempat perundingan netral yang sedianya dilangsungkan di Middleburg. Soalnya, Soebandrio sedang dalam pemulihan pasca operasi infeksi kaki sehingga megalami kesulitan saat berjalan.
- Witan Sulaeman dan Mula Sepakbola Serbia
EROPA Timur lagi-lagi jadi tujuan pesepakbola Indonesia merintis karier. Setelah Egy Maulana Vikri di Polandia (Lechia Gdańsk), kini ada Witan Sulaeman yang mencoba peruntungannya di Serbia. Sejak 11 Februari 2020, Witan, jebolan PSIM Yogyakarta cum gelandang Timnas Indonesia U-19, dikontrak klub papan tengah Superliga Serbia FK Radnik Surdulica dengan masa percobaan enam bulan. Bila penampilan Witan di klub yang didirikan pengusaha sepatu Gradimir Antić itu bagus, ia berpotensi mendapatkan penambahan durasi kontrak tiga tahun. “Witan akan bergabung di tim utama Radnik. Semoga ini jalan yang terbaik. Dia harus bekerja keras dan mengambil kesempatan ini dengan cara terbaik,” kata Dusan Bogdanovic, agen Witan, sebagaimana dikutip Kumparan , 11 Februari 2020. Namun selain kerja keras dan skill mumpuni, Witan juga mesti punya mental baja untuk bisa sukses. Eropa Timur pada umumnya dan Serbia khususnya, dikenal sebagai negeri yang subur bagi rasisme. Egy sendiri pernah mengalaminya di Polandia pada Maret 2018 dan sukses melaluinya. “Saya pikir dengan Egy berani masuk ke Eropa Timur, dia mestinya sudah siap mental. Karena di Eropa, khususnya Eropa Timur, masyarakatnya terdiri dari banyak bangsa,” ujar Timo Scheunemann, mantan pelatih klub Liga Indonesia berdarah Jerman, kepada Historia medio Maret 2018. “(Rasisme) berakar dari konflik yang pernah terjadi, baik Perang Dunia I, II maupun perang-perang sebelumnya. Apalagi yang notabene Eropa Timur, di mana pendidikan kebanyakan masyarakatnya masih di bawah negara-negara Eropa Barat,” tambah pria yang kini tengah menemani tim Garuda Select di Inggris sebagai penerjemah. Bola Sepak dari Mahasiswa Yahudi Meski usianya nyaris seabad(didirikan tahun 1926), FK Radnik yang berbasis di kota Surdulica bukan perkumpulan sepakbola pertama Serbia. Klub sepakbola pertama yang teroganisir di Serbia bernama Bácska Szabadkai Athletikai Club (kini FK Bačka), berdiri pada 3 Agustus 1901. Bácska berbasis di Subotica, kota perbatasan utara negeri itu dengan Astro-Hungaria. Maka namanya pun berbau Hungaria. Klub itu lalu terdaftar di otoritas olahraga Kekaisaran Austria-Hungaria setelah wilayah Subotica diduduki. Perkumpulan olahraga Soko di Beograd pada 1912, di mana klub ini jadi yang pertama memainkan sepakbola di Serbia sejak 1896 Sepakbola sendiri pertamakali diperkenalkan ke Kerajaan Serbia oleh mahasiswa berdarah Yahudi, Hugo Buli yang dijuluki “Bapak Sepakbola Serbia”. Dipaparkan Dejan N. Zec dalam risetnya “The Origins of Soccer in Serbia: Serbian Studiesvolume 24” yang dimuat di On the Very Edge: Modernism and Modernity in the Arts and Architecture of Interwar Serbia (1918-1941) , Hugo Buli adalah pelajar asal Beograd dari keluarga saudagar dan bankir Yahudi nan kaya dan mengenyam pendidikannya di Berlin. Saat bersekolah di Berlin itulah ia mengenal sepakbola. Ia lantas bermain di klub BFC Germania yang berbasis di Distrik Tempelhof kurun 1892. Sepulangnya dari Jerman, ia memperkenalkan sepakbola ke perkumpulan olahraga Soko pada 1896. “Dia seorang yang antusias terhadap sepakbola dan merasa punya misi mengenalkannya ke publik di Serbia. Setelah kembali dari Jerman, dia menggelar pertandingan persahabatan antara dua tim yang berisi teman-temannya dan para atlet perkumpulan Soko pada 19 Mei 1896 di salah satu taman di Beograd, setelah lebih dulu memberi briefing singkat tentang aturan main sepakbola,” ungkap Zec. Kendati laga itu diliput banyak wartawan, publik Serbia belum banyak yang kepincut permainan 22 pria berebut sebutir bola itu. Para penonton yang belum paham betul permainan si kulit bundar heran mengapa permainan itu hanya boleh dimainkan dengan kaki. “Meski begitu, Buli dan perkumpulan Soko terus mempromosikan olahraga anyar itu dan beberapa tahun kemudian, tim amatir pertama didirikan. Pada 1899, anggota-anggota Soko: Buli, Mihajlo Živadinović, Bernar Robiček, Velizar Mitrović, Marko Milutinović, dan Blaža Barlovac, membentuk Prvo srpsko društvo za igru loptom (perkumpulan Serbia pertama yang bermain sepakbola),” lanjut Zec. Namun kesebelasan itu sekadar perkumpulan di bawah naungan Soko, bukan klub sepakbola yang berdiri sendiri. Maka ia tak bisa dihitung sebagai klub tertua Serbia . Hugo Buli, "Bapak Sepakbola Serbia" yang nahasnya tewas di kamp konsentrasi Nazi di Beograd pada 1941 (Foto: geni.com/yadvashem.org ) Klub yang didirikan Buli cs. itu tak didukung pemerintah kerajaan. Akibatnya, sepakbola berkembang lambat. Tapi sepakbola menarik minat beberapa pihak yang lantas turut mendirikan klub, meski tetap bernaung di bawah perkumpulan olahraga lain laiknya Soko. Selain FK Bačka pada 1901, klub-klub awal di Serbia yang berdiri adalah Concordia (1903), Šumadija (1904), Srpski mač (1905), Dušan Silni (1908), Vihor, dan Deligrad (1909). “Jelang Perang Dunia I, sepakbola baru tumbuh dengan sangat cepat, baik di Beograd maupun kota-kota lain. Pada 1914 saja angka pesepakbola aktif sudah sekitar tiga ribu pemain yang tersebar di kota-kota seperti Čačak, Leskovac, Sokobanja, Smederevska Palanka, Natalinci, Zaječar, serta Niš. Beogradski Sport Klub (BSK) dan Velika Srbija (keduanya berdiri 1911) kemudian jadi dua klub paling sukses dan populer dalam sejarah Serbia pra-komunis,” sambung Zec. Velika Srbija yang di kemudian hari berubah nama menjadi SK Jugoslavija dan bubar pada 1945, jadi klub pertama yang memenangkan kejuaraan resmi antarklub Serbia, sebuah kejuaraan yang digelar Komite Olimpiade Serbia pada musim semi 1914. Ironisnya, tak lama kemudian Kekaisaran Austria-Hungaria mendeklarasikan perang terhadap Serbia, mengakibatkan roda kegiatan sepakbola Serbia terhenti. Zaman Edan Sepakbola Serbia Hingga Perang Dunia I pecah, Serbia belum sempat mendirikan federasi sepakbola. Kesempatan memiliki federasi sepakbola sendiri hilang karena pasca-Perang Dunia I Serbia jadi bagian Yugoslavia bersama Kroasia, Bosnia, Herzegovina, dan Slovenia. Alhasil, Beogradski loptački podsavez atau Sub-asosiasi Sepakbola Beograd yang berdiri pada 12 Maret 1920, bernaung di bawah FSJ (Asosiasi Sepakbola Yugoslavia). Namun sub-asosiasi Beograd turut membentuk timnas Yugoslavia pertama untuk ikut Olimpiade Antwerp 1920. Sejak 1923, sub-asosiasi Beograd juga turut menyertakan tim-tim Serbia dalam Liga Utama Yugoslavia. Kolase Milovan Jakšić, kiper andalan Timnas Yugoslavia di Piala Dunia 1930 yang merupakan jebolan klub Soko (Foto: fifa.com ) Geliat sepakbola di Serbia vakum lagi dengan pecahnya Perang Dunia II. Banyak pemainnya tinggal nama, baik karena ikut angkat senjata bersama barisan Partizan dan Chetnik maupun akibat ditahan di kamp konsentrasi Nazi-Jerman. Buli si “Bapak Sepakbola Yugoslavia” salah satunya. Ia dimasukkan ke kamp konsentrasi Topovske Šupe di Beograd pada 1941 dan jadi korban holocaust . Usai Perang Dunia II, para pemain Serbia menjadi tulang punggung timnas Yugoslavia. Mereka turut menikmati rangkaian prestasi medali perak Olimpiade 1948 dan 1952, serta runner-up Piala Eropa 1960 dan 1968. Namun memanasnya situasi politik yang berbuah konflik pada 1990-an membawa sepakbola Serbia memasuki “zaman edan”. Dalam How Soccer Explains the World: An Unlikely Theory of Globalization, Franklin Foer menguraikan, pada 1990-an terdapat dua klub paling sengit rivalitasnya yang lazimnya memuncak pada aksi-aksi anarkisme suporter, yakni Red Star Beograd dan Partizan Beograd. Red Star juga berseteru dengan Kroasia. “Orang Kroasia, polisi, tidak ada bedanya. Akan saya habisi mereka semua,” kata Krle, pentolan Ultras Bad Boys, suporter fanatik Red Star, saat ditanya Foer tentang siapa yang paling mereka benci. Suporter Red Star Beograd (kini FK Crvena Zvezda) yang dikenal sangar di seantero Serbia (Foto: crvenazvezdafk.com ) Kroasia mereka benci lantaran Perang Yugoslavia (1991-1999). Sementara, polisi mereka benci lantaran memonopoli kepemilikan klub sepakbola bersama militer. Lucunya, Red Star sendiri dimiliki Kepolisian Serbia, Sementara musuhnya, Partizan Beograd, dimiliki militer. Dua tim sekota inilah yang paling dahsyat rivalitasnya, acap berimbas pada aksi kekerasan di luar stadion. “Fans Partizan pernah membunuh suporter Red Star berumur 15 tahun. Ia sedang duduk di stadion, mereka tembak dadanya. Monster-monster itu membunuh si bocah. Mereka tak tahu batas,” imbuh Krle menguraikan mula perseteruan mereka dengan suporter Partizan. Kejadian itu sekadar puncak gunung es dari “api dalam sekam” rivalitas kedua klub. Kebencian para suporter Red Star yang merupakan kaum nasionalis, sudah mencapai ranah harga diri dan ideologis sehingga menstimulasi aksi fisik saat Yugoslavia memasuki perpecahan. “Tentara melambangkan musuh dari cita-cita mereka. Ideologi tentara komunis menolak gagasan identitas separatis Serbia. Haram bagi soliditas buruh dan kerukunan etnis. Para pengikut Josip Broz Tito yang namanya dipakai untuk kesebelasan tentara (Partizan Beograd), telah membunuh Chetnik, pasukan nasionalis Serbia yang juga telah memerangi Nazi. Red Star pun jadi wadah bagi nasionalis Serbia yang bercita-cita merebut kembali martabat bangsanya,” sambung Foer. Željko ‘Arkan’ Ražnatović, penjahat perang dalam Konflik Balkan cum pentolan kelompok suporter Delije (Foto: dnevnik.ba/fcobilik.co.rs ) Situasi makin runyam karena pemerintah dan aparat keamanan Serbia mendukung suporter-suporter garis keras macam hooligan Inggris itu. Selain Ultras yang beranggotakan campuran dari beragam kalangan, mulai pekerja kantoran hingga mantan tukang pukul dan anggota geng, kelompok yang paling dihormati adalah Delije. Basis suporter ini dikomando Željko ‘Arkan’ Ražnatović, yang dalam Perang Balkan membentuk milisi SDG (Garda Sukarela Serbia). Lewat SDG itulah kelompok Arkan angkat senjata dalam Perang Balkan. Arkan kemudian ditetapkan sebagai penjahat perang karena membantai banyak sipil Bosnia. Saat ini, ketika Serbia telah menjadi negeri sendiri, rasisme di dalam sepakbola tetap bertahan. Sebagaimana dikatakan Coach Timo, rasisme jadi “jalan” lain aksi kekerasan suporter di sana. Di level timnas pun masih acap terjadi. Pada September 2019 dalam Kualifikasi Euro 2020, contohnya. Kala Serbia menjamu Portugal di Stadion Rajko Mitić itu, fans Serbia melancarkan teror rasisme nyaris sepanjang laga kepada para pemain berkulit hitam Portugal. Akibatnya Federasi Sepakbola Serbia didenda 33.250 euro dan dihukum dengan memainkan dua laga kandang berikutnya tanpa penonton. Semoga Witan punya mental sekuat baja seandainya diteror rasisme baik dari suporter lawan maupun suporter FK Radnik itu sendiri.
- Makanan Kaleng Merentang Zaman
PEMERINTAH Prancis mendeklarasikan sebuah sayembara unik pada 1795. Isinya: dicari orang yang mampu mengawetkan makanan. Hadiah yang ditawarkan tak tanggung-tanggung, yakni uang sejumlah 12.000 franc (setara 167 juta dalam kurs rupiah saat ini). Penggagas hajatan itu adalah Napoleon Bonaparte, jenderal Prancis terkemuka. Saat itu, Napoleon membutuhkan metode pengawetan makanan untuk menyokong logistik konsumsi pasukannya dalam persiapan menginvasi berbagai negara.
- Kematian 5 Mahasiswa Indonesia di Belanda
Permulaan abad ke-20, banyak bangsawan di Hindia Belanda yang mulai berminat belajar ke Belanda. Sejak Raden Mas Panji Sosrokartono, kakak Kartini, menjadi generasi pertama orang Indonesia yang bersekolah di Belanda, para bangsawan berlomba menyekolahkan anaknya di sana. Mereka berharap memperoleh pengetahuan untuk membangun dan menjaga kekuasaannya. Di samping urusan gengsi antar bangsawan. Namun persoalan hidup di Belanda bukanlah perkara mudah bagi orang Indonesia. Keadaan iklim dan kebiasaan makan (termasuk jenis makanan) yang berbeda menjadi sebab banyak dari mereka yang kemudian jatuh sakit. Bahkan hingga menelan korban jiwa dalam kasus tertentu. Dalam Di Negeri Penjajah: Orang Indonesia di Negeri Belanda 1600-1950, sejarawan Harry A. Poeze mencatat jika antara 1913-1920 terdapat 5 orang Indonesia yang meninggal. Baca juga: Orang Indonesia Pertama di Kabinet Belanda Mengingat kecilnya jumlah keseluruhan mahasiswa Indonesia yang menempuh studi di sana, dan dalam umur muda pula, angka kematian itu memang cukup menjadi sorotan. Karena itu beberapa kali para pejabat Belanda dan para ahli mengemukakan kalau menempuh pendidikan di Eropa bukan pilihan yang bagus bagi orang Indonesia, utamanya jika ditinjau dari segi kesehatan. Perlu adanya penyaringan yang ketat untuk hal tersebut. “Meninggalnya orang-orang muda di tempat yang jauh dari tanah-airnya itu merupakan tragedi yang luar biasa,” ungkap Poeze. Berikut 5 mahasiswa Hindia Belanda (Indonesia) yang meninggal dunia saat proses studi di Belanda. Raden Mas Ario Notowirojo Raden Mas Ario Notowirojo tercatat sebagai mahasiswa Indonesia pertama yang wafat ketika sedang menempuh studi di Belanda. Ario Notowirojo meninggal pada April 1913, dalam usia 22 tahun. Ia meninggal akibat penyakit TBC (tuberculosis) yang dideritanya ketika sudah tinggal di Belanda. Ario Notowirojo tiba di Amsterdam pada 1910 untuk mengikuti pendidikan di sekolah dagang. Sebelum meninggal ia sempat mendapat perawatan di Swiss. Namun usaha medis itu tidak dapat menyelamatkan nyawanya. Kematian Ario Notowirojo itu menjadi pukulan berat bagi Praja Pakualaman. Karena Ario Notowirojo adalah putra Paku Alam VII, dengan gelar Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Ario Prabu Suryodilogo (1882-1937). Praja Pakualaman berdiri pada 17 Maret 1813 di bawah pimpinan Bendara Pengeran Harya Natakusuma, dengan gelar Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Ario Paku Alam I. Pemerintahan Pakualaman berada di wilayah Yogyakarta. Namun status kekuasaannya tidak lebih besar dari Kesultanan Ngayogyakarta Hadiningrat. Baca juga: Kantor Sultan Yogyakarta Diserbu Belanda Kematian Ario Notowirojo begitu membekas di kalangan orang-orang Belanda, utamanya yang mengenal sosok almarhum. Pejabat Hindia Belanda Jacques Henrij Abendanon bahkan sampai menulis artikel peringatan kematian Notowirojo di Voordracten en Mededeelingen van de Indische Vereeniging . Ario Notowirojo, kata Abendanon, datang ke Belanda dengan semangat yang tinggi untuk memperdalam ilmu pengetahuan agar dapat memimpin pemerintahan di negerinya. Ia disebut berkeinginan kuat membawa kemajuan di bidang ekonomi, terutama dalam kaitannya dengan perdagangan dan industri. Mempelajari perekonomian dunia diyakini Ario Notowirojo sebagai jalan tercepat mewujudkan mimpinya itu. “Ada hal-hal lain yang menyebabkan semua orang yang mengenal Notowirojo akan selalu mengenangnya dan menyesalkan kepergiannya yang terlalu dini itu, yaitu kelembutannya, budi pekertinya yang menyenangkan, kemauannya yang keras, dan semangat yang memancar di matanya. Semangat ini, hasrat jiwanya untuk hidup dan bekerja demi bangsa ini, tidak akan hilang. Ia akan hidup terus di hati ribuan orang,” tulis Abendanon. Raden Basoeki Raden Basoeki (Repro Di Negeri Penjajah: Orang Indonesia di Negeri Belanda 1600-1950) Mahasiswa Indonesia selanjutnya yang juga meninggal dunia akibat penyakit TBC adalah Raden Basoeki. Ia tutup usia pada September 1915, dalam usia 21 tahun. Raden Basoeki tercatat sebagai mahasiswa Sekolah Pertanian Tinggi di Wageningen, Belanda. Ia juga merupakan putra Atmodirono, arsitek pertama di pemerintahan Hindia Belanda yang berasal dari golongan pribumi. Dalam majalah mahasiswa Wageningen ditulis sebuah kenangan tentang detik-detik terakhir hidup Raden Basoeki yang cukup menyayat hati. Seperti dikutip Poeze: “Di dalam matanya saya baca keinginan yang sangat untuk melihat tanah kelahirannya di selatan yang kaya sinar matahari. Ia hanya bisa menyembuhkan diri di bawah naungan pohon palem dan beringin di tanah airnya yang menyenangkan dan selalu hijau. Terasa oleh saya, untuk dia meninggal begitu jauh dari tanah air, dari orangtua, dari handai taulan itu sungguh mengerikan. Basoeki menderita dengan diam dan tabah, seperti biasa pada orang-orang sebangsanya.” Baca juga: Raja Nusantara di Penobatan Ratu Belanda Penghormatan terhadap sosok Raden Basoeki juga datang dari Abendanon. Dalam majalah Koloniaal Weekblad , sang pejabat Hindia Belanda ini memberi laporan perihal pemakaman almarhum. Ahli hukum Belanda Conrad Theodore van Deventer mendapat kesempatan berbicara saat upacara pemakaman. Ia hadir sebagai ketua Tjandistichting (Perhimpunan Yayasan Tjandi) yang melakukan pengawasan terhadap sejumlah mahasiswa Indonesia, termasuk Raden Basoeki. Van Deventer menyebut kematian Raden Basoeki cukup mendadak karena sembilan hari sebelum kematiannya mereka sempat bertemu dan si mahasiswa terlihat baik. Raden Mas Ario Soerjo Soebandrio Raden Mas Ario Soerjo Soebandrio (Repro Di Negeri Penjajah: Orang Indonesia di Negeri Belanda 1600-1950) Kematian Raden Mas Ario Soerjo Soebandrio menjadi yang paling mengejutkan. Musibah yang menimpa keluarga Praja Mangkunegaran itu diratapi oleh kaum elit Jawa. Peran Raden Soebandrio begitu diharapkan keluarga Mangkunegaran dalam proses pembangunan Praja Mangkunegaran di wilayah kekuasaannya, Surakarta. Praja Mangkunegaran sendiri berkuasa di Surakarta sejak 1757 sampai 1946. Kerajaan otonom ini merupakan pecahan dari Dinasti Mataram, yang dikenal sebagai Wangsa Mangkunegaran. Namun praja ini tidak memiliki otoritas sebesar Kesultanan Yogyakarta dan Kesultanan Surakarta. Para penguasa Mangkunegaran bergelar “Pangeran Adipati Arya” karena mereka tidak berhak menyandang gelar “Sunan” atau “Sultan”. Penguasa pertama praja ini adalah Raden Mas Said, dengan gelar Mangkunegara I. Raden Mas Soebandrio merupakan adik dari Mangkunegara VII, Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Aria. Bastomi S dalam Karya Budaya Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Aryo Mangkunegara I-VIII , menyebut jika putra-putri Mangkunegara V (ayah Raden Mas Soebandrio) berjumlah 28 orang. Mangkunegara VII adalah anak ketujuh, sementara keterangan mengenai urutan ke berapa Raden Mas Soebandrio di dalam persaudaraan yang besar itu tidak dijelaskan. Baca juga: Mengintip Masa Lalu dari Mangkunegaran Kegiatan studi Raden Mas Soebandrio di Belanda tersebut sebenarnya mengikuti jejak kakaknya. Diketahui Mangkunegara VII pernah mengenyam pendidikan di Universitas Leiden, Belanda, selama 3 tahun, sebelum akhirnya kembali ke Mangunegaran untuk menggangikan pamannya, Mangkunegara VI yang mengundurkan diri pada 1916. Selama berada di Negeri Belanda, Raden Mas Soebandrio tinggal bersama Noto Soeroto, yang kemudian hari dikenal sebagai penyair Jawa pertama yang karya-karyanya dikenal dalam ranah kesusastraan Belanda. Si Penyair mengajarkan banyak hal kepada Raden Mas Soebandrio, utamanya pendalaman bahasa-bahasa Barat yang dikuasainya. Athanasius Djajeng-Oetama Nisan Athanasius dan Linus (Repro Di Negeri Penjajah: Orang Indonesia di Negeri Belanda 1600-1950) Athanasius Djajeng-Oetama adalah salah satu mahasiswa Indonesia yang menempuh pendidikan keagamaan di Belanda. Ia datang bersama 4 mahasiswa lainnya antara tahun 1916-1920. Mereka dikirim oleh kelompok pater Jesuit yang mendirikan beberapa sekolah di Muntilan, Jawa Tengah. Melalui sekolah-sekolah inilah, agama Katholik tersebar. Banyak murid yang diarahkan untuk menjadi pendeta. Sehingga pendidikan Katolik-Roma di Belanda penting untuk diikuti. Athanasius merupakan orang beruntung yang berkesempatan menimba ilmu keagamaan di Belanda. Namun takdir memaksa Athanasius melupakan cita-citanya menjadi pendeta. Ia wafat sebelum dapat menyelesaikan pendidikannya. Mahasiswa ini meninggal dunia pada Maret 1918 setelah berjuang melawan suatu penyakit ganas selama beberapa minggu. Tidak ada informasi tentang jenis penyakit apa yang diderita Athanasius. Meski begitu perjuangannya tergambar jelas di dalam Majalah St. Claverbond tahun 1918. Hari-hari terakhir Athanasius dihabiskan dengan berdoa bersama para pendeta dan suster yang merawatnya di gereja. Ia telah berjuang melawan penyakitnya. Namun kondisinya terus menurun dan tidak ada dokter yang mampu menyembuhkannya. Para pendeta pun sudah melakukan kebaktian terakhir baginya. Baca juga: Langkah Awal Anak Pendeta “Sama sekali tidak dibesar-besarkan, bahwa meninggalnya Athanasius dirasakan sekali oleh semua orang di sekitarnya. Mereka merasakan betapa indah dapat dimakamkan bersama dia,” ditulis majalah St. Claverbond. Athanasius memang dikenal memiliki kepribadian yang baik. Ia pintar dan mudah untuk bergaul. Karenanya banyak orang yang merasa kehilangan sosok pemuda Jawa yang baik hati ini. Pemakaman Athanasius dilangsungkan di taman pemakaman di Noviciaat di Mariendaal. Upacara pelepasan dilakukan langsung oleh Kepala Biara. Keluarganya dari Jawa turut hadir. Kawan-kawan sesama mahasiswa di Belanda pun banyak yang menghadiri pelepasan Athanasius. Linus Sardal Pontja-Soevonda Sama seperti Athanasius, Linus Sardal Pontja-Soevonda juga terdaftar sebagai mahasiswa keagamaan di Belanda. Linus datang bersama rombongan calon pendeta Jawa antara tahun 1916-1920. Nasibnya sama-sama kurang beruntung seperti Athanasius. Ia meninggal dunia pada April 1920 akibat penyakit TBC. Linus telah berkali-kali terhindar dari kematian. Secara medis hidup Linus seharusnya sudah berakhir sejak 1919. Namun ia mampu bertahan. Diketahui para pendeta telah melakukan tiga kali pembacaan doa terakhir untuknya –berarti tiga kali pula Linus terhindar dari kematiannya. Setiap kali Linus terhindar dari kematian, kondisi fisiknya ikut kembali prima. Ia bahkan tidak terlihat seperti orang yang baru saja sakit. Namun pada Maret 1920, kondisi Linus benar-benar kritis. Setiap orang yang melihatnya berharap kematian kembali menghindari Linus. Tetapi tubuhnya sudah tidak dapat menahan penderitaannya. 6 April 1920 semua kerabat telah berkumpul. Hari berikutnya Linus pergi untuk selamanya. Ia lalu dimakamkan di pemakaman Noviciaat Sarikat Jesus. “Kalau Linus sudah di surga, Linus akan mengkristenkan seluruh Jawa,” ucap pendeta yang mempin upacara pemakaman. Kematian Athanasius dan Linus sempat membuat gempar. Banyak calon pendeta dari Jawa yang akhirnya enggan pergi menuntut ilmu ke Belanda. Mereka takut kejadian kedua pendahulunya itu menimpa mereka. Namun tahun-tahun setelahnya, keadaan kembali normal. Banyak calon pendeta yang kembali pergi ke Belanda. Baca juga: D.I. Pandjaitan, Balada Jenderal Pendeta
- Eksotiknya Akar Sejarah Karnaval Rio
JUTAAN orang sudah bersiap menyambut pesta jalanan terbesar di dunia, Carnaval do Rio de Janeiro alias Karnaval Rio di Brasil. Ajang itu menghadirkan parade ribuan penari dan peserta karnaval berkostum flamboyan, glamor, eksotis hingga vulgar. Tahun ini karnaval itu “direcoki” kecemasan akan virus corona yang tengah mewabah di 27 negara dan menjangkiti sekira 60 ribu orang di seluruh dunia. Karnaval Rio biasanya digelar tahunan selama sepekan, dimulai setiap hari Jumat jelang ibadah puasa prapaskah (51 hari sebelum Paskah) dalam Katolik, agama yang dianut mayoritas rakyat Brasil. Untuk tahun ini, Karnaval Rio rencananya dihelat sepanjang 21-26 Februari 2020. “Memang wabah virus ( corona ) itu mengkhawatirkan karena akan ada banyak orang bepergian ke sana-sini dan juga banyak turis datang ke sini dari segenap penjuru dunia,” terang pejabat dinas kesehatan kota Rio de Janeiro Patricia Guttman, dikutip Daily Mail , Kamis (13/2/2020). Parade blocos atau kirab usungan raksasa yang ikonik di tiap perhelatan Karnaval Rio (Foto: riocarnaval.org ) Meski hingga saat inibelum ditemukan kasus virus corona di “Negeri Samba”, setidaknya 34 dari 60 ribu orang yang terjangkit di seluruh dunia merupakan warga Brasil di luar negeri. “Namun kami siap untuk (menggelar) karnaval,” tegas Guttman. Sebagai langkah pencegahan, pemerintah kota Rio sudah menyiapkan 120 kamar karantina di berbagai rumahsakit serta melatih tenaga-tenaga medis untuk mendeteksi gejala-gejala virus corona. Tak ketinggalan, para tenaga medis yang bersiaga dalam karnaval bakal dilengkapi masker dan pakaian khusus antivirus siap pakai jika terdeteksi ada kasus virus corona. Secuil Tradisi Romawi hingga Portugis Hingga zaman kiwari, belum ada peneliti yang bisa memastikan detailnya sejak kapan akar Karnaval Rio berhulu. Namun beberapa bukti mengejutkan. Festival semacam itu, kata bukti-bukti tersebut, sudah ada sejak eksisnya permukiman penjelajah Romawi di beberapa wilayah di Brasil sejak tahun 19 SM.Mereka datang jauh sebelum bangsa Portugis yang dipelopori Pedro Álvares Cabral pada tahun 1500. Maka ada kisah perayaan semacam Karnaval Rio berawal dari pesta yang acap digelar para pendatang Romawi di Rio, dalam rangka perayaan penghormatan terhadap Bacchus, dewa anggur. Kisah ini diperkuat oleh penemuan sejumlah artefak dari bangkai kapal era Romawi pada 1976 di Teluk Guanabara oleh beberapa nelayan pemburu lobster. Sejarawan Gary Fretz menyimpulkan dalam esai nya “The First Europeans to Reach the New World” , dikutip Frank Joseph dalam The Lost Colonies of Ancient America , bahwa orang Eropa pertama yang datang ke Brasil tak lain adalah bangsa Romawi, bukan bangsa Portugis di permulaan abad ke-16. Se iring dengan bermukimnya bangsa Romawi , se jumlah tradisi seperti p erayaan pemujaan Dewa Bacchus , turut mereka seb arkan . Semuabermula karena garam,komoditas paling berharga bagi manusia di zaman itu.“Bangsa Romawi punya tempat produksi garam yang besar di Ilha do Sal (pulau garam, kini Pulau Sal) di Kepulauan Cape Verde, 350 mil lepas pantai Afrika Barat. Lokasinya terletak dalam garis lurus arus gelombang panas dan angin kering dari Gurun Sahara yang sangat mudah bisa membawa kapal garam Romawi terdampar ke Teluk Guanabara,” ujar Fretz. Ilustrasi perayaan Entrudo di masa kolonial (Foto: ipanema.com ) Setelah Romawi runtuh, tradisi itu turut terhenti. Perayaan besar semacam pesta serupa dan jadi cikal bakal Karnaval Rioadalah perayaan Entrudo yang dibawa bangsa Portugis. Perayaan itu asalnya merupakan tradisi dari Kepulauan Madeiradan Cape Verde. Beberapa sumber menyebut bahwa Entrudo sudah sering digelar di Brasil sejak abad ke-16, setelah kedatanganCabral. Meski begitu, ungkap John J. Crocitti dan Monique Vallance pada risetnya yang disusun dalam Brazil Today: An Encyclopedia of Life in the Republic , gelaran Entrudo pertama yang tercatat arsip sejarah Portugis terjadi pada 1641. Seperti halnya Karnaval Rio saat ini, Entrudo juga digelar jelang puasa prapaskah. “Perayaannya dihelat di jalan-jalan, di mana orang-orang menggelar perang air yang mereka saling lempar dengan ember, limões de cheiro , semacam bola lilin yang diberi pengharum, dan tak ketinggalan perang telur dan tepung,” jelas Crocitti dan Vallance. Entrudo mulanya sekadar perayaan bagi kelas menengah bangsa Portugis dan para budak. Oleh karenanya Entrudo acap dihelat dengan parade kreasi kostum glamor para budak meniru para tuan mereka. Seiring dihapuskannya perbudakan di Brasil pada 1888, Entrudo tak lagi hanya dinikmati kelas pekerja, warga kulit hitam , dan mulattos (blasteran Afro-Eropa). Kaum elit ikut menikmatinya . Kolase parade cordões yang khas dalam Karnaval Rio (Foto: riodejaneiro.com/riocarnaval.org ) Pasca-kemerdekaan Brasil pada 1822 yang mengakibatkan ditinggalkannya warisan Portugis, mereka membuat perayaan yang lebih teroganisir pengganti Entrudo . Ranchos carnavalescos , misalnya. Di awal abad ke-20,perayaan ranchos carnavalescos masih tertular pengaruh tradisi kaum Afro-Brasil era perbudakan, yakni blocos dan cordões . Pengaruh itu dipertahankan hingga kini sebagai cirikhas Karnaval Rio. Sejarawan Brasil Ana Lucia Araujo dalam Public Memory of Slavery memaparkan, blocos adalah semacam kirab kreasi kontemporer raksasa yang diusung, dan cordões adalah parade penari yang memakai kostum-kostum glamor, flamboyan, dan vulgar. Keduanya dibawakan oleh Escola de Samba atau sekolah Samba, organisasi kontes kostum yang berdiri sejak 1928. “ Escola de Samba mayoritas terdiri dari warga Afro-Brasil, kegiatan mereka dimasukkan secara resmi ke perayaan karnaval oleh pemerintahan (presiden) Getúlio Vargas. Di periode yang sama, Komisi Pariwisata Brasil juga mulai mensponsori Escola de Samba jelang persiapan parade sepanjang tahun,” ungkap Araujo. Sejak saat itu, Karnaval Rio tak hanya sekadar perayaan jelang puasa prapaskah, namun juga ajang kontes kostum dan kirab. M eski m ulanya Karnaval Rio di gra t iskan untuk umum, namun per 1961 ia menjadi tontonan berbayar .
- Senjakala Kopi Jawa
PERANG Jawa (1825-1830) telah menyedot begitu banyak uang di kas Kerajaan Belanda. Menurut sejarawan Peter Carey, kurang lebih 25 juta gulden (setara dengan kira-kira 2,5 milyar dolar Amerika Serikat untuk hari ini) telah dikeluarkan untuk memadamkan pemberontakan yang dipelopori oleh Pangeran Diponegoro itu. “Situasi itu menyebabkan pemerintah Hindia Belanda bukan saja kekurangan uang namun juga terjerat utang di mana-mana,” ujar lelaki Inggris yang hampir setengah abad meneliti tentang Perang Jawa tersebut. Kebangkrutan itu pula yang menyebabkan Gubernur Jenderal Johannes van den Bosch (1830-1833) membuat kebijakan tanam paksa atau dikenal sebagai Cultuur stelsel (sistem kultivasi) guna mengembalikan kestabilan pundi-pundi Hindia Belanda. Menurut Prawoto Indarto dalam The Road to Java Coffee , gagasan Cultuur stelsel sejatinya diambil dari kerjasama VOC dengan bupati Priangan yang dikenal sebagai Priangan stelsel . Bedanya dalam Cultuur stelsel , selain Jawa juga mencakup seluruh Sumatera dan komoditi lebih beragam. Walaupun demikian, kopi tetap dimasukan dalam tanaman yang diwajibkan. “Untuk menajalankannya, van den Bosch memanfaatkan ikatan feodal-tradisional antara bangsawan-bangsawan pribumi dan rakyat sebaik-baiknya,” ungkap Prawoto. Pada saat permintaan dunia akan kopi semakin meningkat, van den Bosch melihat peluang yang bisa digunakan untuk menutup kerugian keuangan akibat Perang Jawa. Maka dia memerintahkan penanaman kopi sebanyak 50 juta benih pada tahun pertama dan 40 juta benih pada tahun kedua pemerintahannya. Menurut Surip Mawardi dalam makalahnya berjudul “Perkembangan Bahan Tanam Kopi Arabika di Indonesia Selama Tiga Abad (1699-1999)”, hingga 1840 di Pulau Jawa saja ada sekitar 330 juta pohon kopi yang mampu menghasilkan satu juta karung kopi. Dua tahun kemudian, panen kopi mengalami lonjakan menjadi sekitar 64.201 ton. Pada 1845, pasaran dunia memerlukan 209.100 ton kopi. Kendati tidak bisa mengulangi prestasi seperti di tahun 1724, namun setidaknya kopi jawa berhasil memenuhi 27% (209.100 ton) dari permintaan pasar dunia tersebut. “Dari tanam paksa, Kerajaan Belanda bisa meraup untung hingga 832 juta gulden (setara dengan 75,5 milyar dolar Amerika Serikat hari ini),” ujar Peter Carey. Pernyataan Carey terkonfirmasi dalam buku Sejarah Indonesia Modern 1200-2008 karya sejarawan M.C. Ricklefs. Ricklefs menyebut keuntungan sistem tanam paksa menjadikan perekonomian dalam negeri Belanda kembali stabil: hutang-hutang luar negeri Belanda terlunasi, pajak-pajak diturunkan, kubu-kubu pertahanan dibangun, terusan-terusan diciptakan, dan jalan-jalan kereta api negara dibangun. “Hal yang sebaliknya terjadi pada masyarakat Jawa yang diperas: penyakit dan kelaparan bertambah merajalela dan kaum miskin melonjak tinggi jumlahnya di desa-desa Jawa),” ungkapnya. Kritik terhadap Cultuur stelsel kemudian bermunculan. Tokoh humanis Belanda Eduard Dauwes Dekker alias Multatuli dalam bukunya Max Havelaar, of the Koffie-veilingen der Nederlandsche Handelsmaatshappij memprotes akibat dari Culltuur stelsel yang banyak memakan korban dari kalangan rakyat Hindia Belanda. Dia juga menuduh sistem itu sebagai kecurangan pemerintah Hindia Belanda kepada petani hingga menyebabkan kemiskinan, tragedi dan kematian para petani lokal. Dari kelompok liberal muncul nama Fransen van de Putte. Dalam sebuah artikel berjudul “Suiker Contracten”, dia mengkritik Cultuur stelsel yang telah membunuh bisnis perkebunan swasta di Hindia Belanda. Pemerintah Hindia Belanda merespon kritik-kritik itu dengan mengganti Cultuur stelsel dengan peraturan Undang-undang Agraria ( Agrische Wet ) pada 1870. Dalam aturan tersebut, pihak swasta diberikan porsi besar untuk mengelola bisnis kopi di Hindia Belanda. Ada disediakan Hak Guna Usaha perkebunan selama 75 tahun untuk pihak swasta dan perorangan. Pasca 1870, pihak swasta merajai bisnis kopi di Hindia Belanda. Dengan memanfaatkan kebijakan Politik Etis (politik balas budi), mereka mengatur menejemen bisnis kopi secara mandiri. Begitu dominannya peran mereka, hingga pada 1905, secara resmi pemerintah Hindia Belanda menarik diri dari bisnis kopi di Jawa. Tiga tahun kemudian, mereka melakukan hal yang sama di Sumatera. Seiring pengalihan itu, pada 1876 “kutukan” menghampiri bisnis kopi di Hindia Belanda. Entah dari mana datangnya, tetiba wabah yang disebut sebagai hemeleia vastatrix merajalela. Hemeleia vastatrix merupakan jamur berwarna putih yang menempel di pucuk daun kopi. Kendati terlihat sepele dan biasa, jamur itu terbukti bisa menebar secara mendadak di sebagian besar perkebunan Kopi Jawa, terutama yang berada di dataran rendah (di bawah 1.000 dpl). Menurut Prawoto yang mengutip Fernando dalam karyanya Java , akibat serangan jamur putih itu, bisnis Kopi Jawa mengalami sakratul maut. Sejarah mencatat pada 1880, Jawa telah kehilangan potensi ekspor sekitar 120.000 ton biji kopi sehingga menimbulkan kapanikan luar biasa di pasaran kopi dunia. “Para pengamat industri kopi dunia mengungkap situasi yang terjadi di Jawa (dan Ceylon) itu sebagai declining of Asian production yang turut mendorong kenaikan harga kopi di pasaran dunia,” tulis Prawoto. Bencana yang terjadi di Jawa (dan Ceylon) dimanfaatkan oleh para petani Brazil. Mereka lantas menanam kopi secara besar-besaran. Perlahan namun pasti, Brazil kemudian menggantikan posisi Hindia Belanda sebagai pemasok utama kopi dunia. Bahkan hingga kini. Sejak diserang jamur hamileia vastatrix , penyebab karat daun kopi, usia Kopi Jawa sendiri mulai menuju senjakala. Kejayaannya sekarang hanya tersisa di pelosok-pelosok Jawa. Itu pun dalam bentuk yang tidak sekualitas dan sebanyak dulu lagi.*





















