Hasil pencarian
9739 hasil ditemukan dengan pencarian kosong
- Klepon, Makanan Istana
Letjen TNI Achmad Yani, Menteri/Panglima Angkatan Darat, mengirim utusan ke Malaysia pada awal 1965 untuk melakukan penjajakan guna mengakhiri Konfrontasi. Setelah Achmad Yani dibunuh dalam peristiwa Gerakan 30 September 1965, operasi itu dilanjutkan Mayjen TNI Soeharto. Soeharto membentuk tim operasi khusus yang dipimpin oleh Ali Moertopo. Salah satu anggota tim adalah Des Alwi, anak angkat Sutan Sjahrir, yang bersahabat dengan tokoh-tokoh Malaysia, seperti Tun Abdul Razak, Tunku Abdul Rahman, Tan Sri Ghazali Shafei, sejak sama-sama kuliah di Inggris tahun 1947. Ketika liburan kuliah pada 1948, Des Alwi mengajak Tun Abdul Razak ke Indonesia dan memperkenalkannya kepada Soeharto yang saat itu masih berpangkat mayor. Perundingan dilakukan di Malaysia dan Bangkok, Thailand, pada Mei 1966. Setelah itu, Tun Abdul Razak, Menteri Luar Negeri merangkap Deputi Perdana Menteri Malaysia, diundang ke Indonesia. Presiden Sukarno menerimanya sebagai tamu negara. Meski suasana kedua negara masih tegang, selama pertemuan itu tidak ada kesan kaku. “Ada peristiwa menaik, Presiden Sukarno menawarkan kue onde-onde dan klepon, kepada Tun Abdul Razak. Kue ini makanan khas Indonesia yang menjadi menu wajib istana untuk tamu negara. Suasana semakin akrab. Saya hanya tersenyum saja menyaksikan,” kata Des Alwi dalam “Juru Damai Saudara Serumpun” di majalah Tempo , 19–25 November 2007. Dari pertemuan kenegaraan itu, Des Alwi percaya jalan perundingan damai kian terbuka lebar. Soeharto menunjuk Adam Malik mewakili pemerintah Indonesia dalam pertemuan puncak mengakhiri Konfrontasi. Pada 11 Agustus 1966 di Bangkok, Adam Malik dan Tun Abdul Razak menandatangani perjanjian damai. Secara resmi Konfrontasi berakhir dan hubungan Indonesia-Malaysia pulih kembali. Manisnya kue klepon dalam pertemuan Sukarno dan Tun Abul Razak seakan menjadi saksi perdamaian antara negara serumpun. Budayawan Agus Dermawan T. dalam Dari Lorong-lorong Istana Presiden menyebut bahwa masakan di Istana Negara pada semua era presiden ternyata sangatlah Nusantara, meski pernah disela sebentar oleh makanan Eropa kala B.J. Habibie menjabat presiden. “Penganannya pun sederhana dan sangat Indonesia, seperti wajik, nogosari, lemper, lopis, semar mendem, dan klepon,” tulis Agus Dermawan. Makanan yang termasuk menu itu, lanjut Agus, termasuk jagung rebus berurap parutan kelapa, yang syahdan merupakan tanda kenangan kedekatan Sukarno dengan Perdana Menteri Ali Sastroamidjojo. Berkaitan dengan makanan itu, Sukarno pernah bilang, “ Go to hell , croissant , spekkoek , dan glace !” Bahkan, Sukarno pernah mencanangkan gerakan makan jagung dalam revolusi menu makan orang Indonesia. Gerakan ini gagal karena orang Indonesia sehidup semati bersama nasi. Mingguan Panji Masyarakat , No. 20 Tahun IV, 6 September 2000, melaporkan bahwa jangan anggap remeh jajanan pasar. Kue seperti onde-onde, lemper, atau pukis yang lebih dikenal sebagai makanan rakyat, rupanya disukai juga kalangan Istana. Presiden dan pejabat negara menyukai jajanan tradisional ini. “Hampir semua jenis jajanan pasar disukai keluarga Presiden Durrahman (Gus Dur, red .). Begitu pula Soeharto ketika masih berkuasa. Sementara Habibie lebih suka makanan ala Eropa,” demikian laporan Panji Masyarakat . Panji Masyarakat melanjutkan, biasanya kue-kue itu dihidangkan di bagian belakang ruang utama Istana Negara. Setelah acara resmi seperti pelantikan menteri atau peresmian program pemerintah, para tamu beranjak ke bagian belakang untuk menikmati berbagai jajanan tradisional itu sembari berbincang. Kue-kue tersebut selain dihidangkan pada acara resmi, juga menjadi suguhan sehari-hari keluarga presiden. Ada tiga pemasok hidangan itu untuk Istana Negara, yakni Ibu Nasution, Ibu Supit, dan Kukuh Pudjiantoro. Di antara ketiga pemilik katering itu, kue-kue buatan Kukuh, pemilik Katering Proklamasi, yang paling digemari keluarga presiden. Bahkan, kue buatan Kukuh beberapa kali dipesan khusus untuk hidangan pribadi keluarga Gus Dur di Ciganjur. Gagas Ulung dalam All About Wedding (2010) menyebut bahwa Katering Proklamasi berdiri sejak 1979 dengan spesialis jajanan tradisional khas Jawa, seperti klepon, lunpia, kue mangkok, carabikang, pisang goreng, apem, semar mendem, dan lain-lain. Katering ini berusaha melestarikan dan mengembangkan makanan tradisional. Alhasil, sejak 1987 hingga kini, pihak Istana Negara selalu menunjuk Katering Proklamasi sebagai penyedia hidangan tradisional khas Jawa untuk jamuan kenegaraan. Kue-kue jajanan pasar dihidangkan di Istana Negara, selain untuk melestarikan makanan khas Indonesia, ternyata juga memiliki makna. Agus Dermawan menyebut klepon, tepung berbalut kelapa dengan gula Jawa di dalamnya , dimaknai sebagai “negara yang berhati manis”.
- Dari Kopi hingga Anggur
Kopi Tersebar ke Seluruh Dunia Kopi tersebar ke seluruh dunia secara tak terduga. Selepas tunai berhaji, seorang jamaah haji asal Mysore, India, menyelundupkan tujuh biji kopi ke kampungnya pada abad ke-15. Dia hanya berniat ingin menikmatinya sendiri. O rang - orang kampung mendorongnya lebih jauh. Sejak itu, kopi mulai dikenal di beberapa kota pelabuhan dunia seperti Venezia, Lisabon, dan Amsterdam. Orang-orang pun segera gandrung minum kopi. Melihat permintaan yang tinggi, pedagang-pedagang Eropa mencari cara mendatangkan kopi. Mereka membawa pulang kopi dari wilayah Timur Tengah seperti Israel, Yordania, Libanon, dan Syiria. Belanda kemudian membawa biji kopi dari Yaman ke Ceylon (Srilanka). Di sana, mereka membudidayakannya. Tak puas dengan Ceylon, Belanda meluaskan ekspansinya ke Nusantara. Bersama itu, mereka juga menjadikan Nusantara, terutama Jawa, sebagai tanah budidaya kopi pada abad ke-17. Tak beberapa lama, Belanda berhasil menguasai penjualan kopi dunia. Tradisi Minum Teh Teh memiliki beragam kisah muasal. Salah satunya menyebut berasal dari Tiongkok. Disebutkan seorang Kaisar Tiongkok pada 2737 SM, Shen Nung, tengah duduk di bawah pohon sembari memasak air. Tiba-tiba helai daun teh jatuh dan masuk ke dalamnya. Aroma wangi menyeruak saat daun itu diseduh. Seduhan itu lalu diminum. Rasanya pahit dan sepat. Namun , kaisar menyukainya karena tubuhnya terasa segar. Sekarang daun itu dikena l dengan Camellia sinensis , sedangkan seduhannya disebut teh. Meski telah diminum khalayak sejak lama, pengolahan daun teh baru berkembang pada masa Dinasti Tang (618-906). Teh diolah dengan cara ditumbuk lalu dicetak dalam bentuk bata. Setelah mengering, teh bisa diseduh. Kala itu teh sudah menjadi minuman mewah. Tak sembarang orang bisa menikmatinya. Keluarga kaisar meminumnya sebagai simbol status. Saat upacara pengadilan kekaisaran dihelat, teh wajib dihidangkan. Bersama keluarga kaisar, sastrawan mendapat kehormatan ikut meminumnya. Kebiasaan ini diperkenalkan ke Jepang pada masa Dinasti Song (960-1279). Secara bertahap, teh akhirnya menyebar ke wilayah Eropa dan belahan dunia lainnya. Budidaya teh di Indonesia Awalnya teh hanyalah tanaman hias yang ditanam di beberapa lokasi, termasuk Istana Gubernur Jenderal di Batavia. Harga teh yang tinggi di pasar Eropa mendorong pemerintah Hindia Belanda melakukan percobaan membudidayakan teh. Pada 1826, teh berhasil dibudidayakan di Kebun Raya Bogor. Setahun kemudian penanaman dilakukan di Cisurupan, Garut, lalu dalam skala besar di Purwakarta dan Banyuwangi. Keberhasilan ini mendorong Jacob Isidorus Loudewijk Levian Jacobson, seorang ahli teh, untuk mendirikan perkebunan teh komersial di Jawa. Pada 1835, untuk kali pertama teh dari Jawa diekspor dan sebanyak 200 peti dilelang di Amsterdam. Gubernur Jenderal Johannes van Den Bosch menjadikan teh sebagai salah satu tanaman yang harus ditanam di masa Tanam Paksa. Teh adalah salah satu komoditas ekspor penting. Penemuan dan Pemanfaatan Tuak Minuman keras ini khas Nusantara. Penduduk lokal meracik tuak dengan menyadap pohon aren –sejenis palem. Pohon ini tersebar di beberapa wilayah Nusantara. Air sadapannya disebut nira. Cara menyadap ini bertahan turun-temurun. Catatan historis tertua mengenai minuman ini berasal dari berita Tiongkok masa Dinasti T’ang (618-906 M). Berita itu menyebut penduduk Ho-ling –sebuah kerajaan di Jawa Tengah– gemar meracik minuman keras dari nira kelapa. Sementara itu, Prasasti Taji (901 M), Kembang Arum (902 M), dan Rukam (907 M) mengisahkan pemanfaatan tuak yang dihidangkan saat penetapan suatu sima (tanah perdikan/bebas pajak). Penyulingan Anggur Tertua Sejumlah arkeolog mengungkap beberapa tempat yang diduga sebagai penyulingan anggur tertua. Tempatnya tersebar di pelbagai penjuru dunia. Pada 1963, arkeolog menemukan sebuah penyulingan anggur kuno di Tepi Barat, Palestina. Tempat itu diperkirakan dibangun pada 1650 SM. Temuan lain pada 1996 mengungkap sisa-sisa penyulingan anggur berusia 7400 tahun di desa Neolitik Hajji Firuz, bagian utara Iran. Sedangkan temuan paling mutakhir pada Juni 2010 mengungkap wilayah Areni, selatan Armenia, sebagai penyulingan anggur berusia lebih 5500 tahun.
- Dari Nina Bobo hingga Salam Metal
Lagu untuk Menidurkan Anak Ada banyak kisah mengenai lagu ini. Mulai terkait lagu kematian hingga pemujaan terhadap setan. Tapi semua kisah itu tak bersandar pada catatan sejarah yang terang. Lagu itu sebenarnya sejenis lullaby , sebuah lagu yang enak didengar, menyejukkan hati, dan biasa didendangkan kepada anak kecil agar tertidur. Tiap bangsa punya lagu seperti itu. Tak ada catatan sejarah yang terang menyebut kapan lagu itu mulai dikenal masyarakat Indonesia. Tapi Yapi Tambayong dalam 123 Ayat Tentang Seni menyebut judul lagu itu berasal dari gabungan bahasa Portugis dan Spanyol; Menina (gadis kecil) dan Bobo (bodoh dalam pengertian disayang). Mungkin mula lagu ini bisa terjejaki dari sejarah interaksi penduduk Nusantara dengan bangsa Portugis dan Spanyol pada abad ke-15. Sejarah Titilaras di Indonesia Sebelum berjumpa dengan kebudayaan Barat (diatonik, tujuh nada), titilaras yang dikenal di Indonesia adalah pentatonik (lima nada). Sebutannya berbeda di tiap daerah: selonding di Bali, pelog dan slendro di Jawa, maoling di Minahasa, dan sorog atau madenda di Sunda. Yapi Tambayong dalam 123 Ayat Tentang Seni menulis, di antara semua titilaras yang dipunyai kebudayaan Indonesia, hanya slendro yang diketahui sejarahnya.” Dalam catatan Tiongkok terungkap titilaras itu dikenal pada masa pemerintahan Buddha, Syailendra, di sekitar Candi Borobudur pada abad ke-8. Orang Jawa mengenal titilaras itu melalui seorang guru agama Buddha dari Tiongkok, Hwi Ming. Titilaras itu sudah dikenal masyarakat Tiongkok sejak 2700 SM. Fenomena British invasion British invasion adalah fenomena dalam dunia musik Amerika Serikat pada dekade 1960-an. “Invasi Inggris” ini merujuk pada grup band legendaris Inggris asal Liverpool, The Beatles. Mengusung genre rock n roll , lagu bertajuk “I Want to hold Your Hand” sukses merajai tangga lagu Amerika saat dirilis pada 26 Desember 1963. Dalam kurun dua bulan, singel itu mencapai penjualan album tertinggi di Amerika. Ketika melakukan tur ke Amerika pada Februari 1964, penampilan The Beatles disaksikan 74 juta pemirsa ketika tampil di acara The Ed Sullivan Show.The Beatles, sejak itu, menguasai industri musik Amerika lewat lagu-lagu mereka. Korps Marching Band Bermula Bentuk awal korps marching band tercatat bermula di Kesultanan Ottoman pada abad ke-13. Dalam setiap pertempuran, sebuah korps khusus akan mengiringi pasukan Ottoman dengan memainkan musik-musik yang menggetarkan musuh sekaligus meningkatkan semangat juang prajurit kesultanan. Korps ini dinamakan mehter , yang juga merupakan bagian dari korps elite Janissary , pasukan budak milik sultan. Pada awalnya, musik-musik mehter hanya dimainkan di medan pertempuran. Namun kemudian berkembang menjadi musik orkestra dan dipertunjukkan dalam acara-acara seremonial di istana. Dengan perantaraan perang antara Ottoman dan kerajaan-kerajaan Eropa, pada abad ke-17 musik mehter pun merambah dunia Barat dan mempengaruhi karya-karya komposer kenamaan Eropa saat itu, seperti Mozart dan Beethoven. Salam Metal Jadi Populer Salam berupa isyarat tangan yang mengangkat jari telunjuk dan kelingking ke udara kali pertama dipopulerkan Ronnie James Dio, vokalis Black Sabbath, grup musik asal Inggris yang sering disebut sebagai perintis genre musik heavy metal . Dalam setiap konsernya, Dio melakukan salam ini sebagai sarana berkomunikasi dengan penonton. Salam ini kemudian melekat dengan musik-musik metal; juga rock dan pop. Menurut Dio, dia tahu “salam metal” ini sejak kecil dari neneknya yang seorang keturunan Italia. “Saya diberitahu bahwa hal ini disebut malocchio . Jika seseorang dilanda nasib buruk karena pengaruh setan, nenek saya akan menunjukkan malocchio untuk menghindari nasib buruk tersebut,” ujar Dio dalam Louder Than Hell: The Definitive Oral History of Metal yang disusun Jon Wiederhorn dan Katherine Turman.
- Aliansi Amerika-Jerman di Pertempuran Kastil Itter
KAPTEN John C. ‘Jack’ Lee Jr. duduk mengaso di atas turet tank M4 Sherman yang dinamainya “Besotten Jenny” pada sore yang terbalut udara hangat musim semi, 4 Mei 1945. Tank itu “istirahat” di sebuah simpang jalan setelah memimpin tank-tank lain mengamankan Kota Kufstein, Austria. Namun belum juga lama bersantai, kewaspadaan kapten muda komandan Kompi B Batalyon Tank ke-23, Divisi Lapis Baja ke-12, Korps XXI Amerika Serikat itu tergugah. Dari kejauhan tampak sebuah mobil mirip kodok menggelinding mendekati persimpangan tempat tank Kapten Lee. Mobil yang ternyata Kübelwagen buatan Volkswagen (VW) itu jelas kendaraan punya tentara Jerman. Namun Lee mengurungkan aba-aba bersiap pasukannya setelah muncul bendera putih dari kodok besi itu. Seorang mayor Wehrmacht lalu turun dari kodok itu dan disapa Lee seadanya. Sang mayor memperkenalkan dirinya sebagai Josef ‘Sepp’ Gangl, lalu menyerahkan sepucuk surat dan memberitahu dia dan sisa pasukannya dari Resimen Artileri ke-83 yang bertahan di Wörgl, tak jauh dari Kufstein, siap menyerahkan diri ke pasukan Amerika. John C. 'Jack' Lee Jr. (kanan) saat masih berpangkat letnan (Foto: spiegel.de/Robert D. Lee) Gangl mengklaim surat berbahasa Inggris itu berasal dari salah seorang tahanan di Kastil Itter. Isi suratnya berintikan permintaan bantuan penyelamatan para tahanan VIP tokoh-tokoh penting asal Prancis. Meski diragukan Lee, Gangl menguraikan bahwa surat itu didapatkannya dari seorang anggota pemberontak bawah tanah Austria. Si pemberontak itu sendiri mendapat suratnya dari Andreas Krobot, tahanan asal Cekoslovakia yang menjadi koki di Kastil Itter. Krobot bersepeda delapan kilometer ke Kota Wörgl demi menitipkan surat itu. “Jack Lee kemudian berkomunikasi lewat radio dengan Letkol Kelso G. Clow (dan-yon Lapis Baja ke-23) dan dari komunikasi itu Lee diarahkan untuk mengatasi situasi di Wörgl dan Kastil Itter semampunya. Untuk menguji kebenaran cerita dan kesungguhan niat Gangl, ia mengatakan akan ikut dengan mobil sang mayor untuk melakukan pengintaian areanya,” tulis Stephen Harding dalam The Last Battle: When U.S. and German Soldiers Joined Forces in Waning Hours of World War II in Europe . Baca juga: Aksi Gila Michael Wittmann si Jago Tank Jerman Kapten berusia 27 tahun itupun ikut dalam Kübelwagen Mayor Gangl yang di sampingnya turut serta Kopral Keblitsch. Lee mengajak Kopral Edward Szymczyk sebagai pengawal. Untuk kian meyakinkan Lee, Gangl mengutarakan alasan dan motifnya bersedia jadi “perantara” pesan dari Kastil Itter. Gangl, lanjut Harding, juga sudah diperintahkan komandannya, Letkol Johann Giehl, untuk mengosongkan Wörgl sejak akhir April dengan terlebih dulu menghancurkan sejumlah jembatan. Namun Gangl urung menuruti perintah itu karena melihat situasi, Jerman sudah kalah dan Hitler sudah bunuh diri pada 30 April. Mayor Josef 'Sepp' Gangl (Foto: Garnisonmuseum Ludwigsburg/Stephen Harding) Baca juga: Seragam Jerman Nazi Buatan Hugo Boss Gangl juga melihat warga Wörgl sudah muak dengan perang dan banyak yang memajang kain putih dalam rangka menyongsong pasukan Amerika yang sudah mendekat. Namun Gangl insyaf bahwa mereka bakal jadi korban keganasan pasukan Schutzstaffel (SS, paramiliter Nazi) jika kedapatan mengibarkan bendera putih di permukiman. Pasukan SS itu adalah sisa-sisa dari Divisi SS ke-17 “Götz von Berlichingen” yang akan mengisi kekosongan pendudukan Wörgl setelah ditinggalkan angkatan darat Jerman. Gangl memutuskan untuk bertahan di Wörgl bersama tak lebih dari 10 serdadu artileri dan juga bekerjama dengan mempersenjatai para pemberontak bawah tanah Austria. Sesampainya di Wörgl, Kapten Lee resmi menerima penyerahan sisa pasukan Gangl. Lee mengizinkan mereka tetap menyandang senjata sebagai perbantuan pengamanan bersama para partisan Austria. Sementara itu, Lee dan Gangl melanjutkan perjalanan ke Kastil Itter. Kastil peninggalan abad ke-13 di puncak Bukit Brixental itu terpisahkan sebuah ngarai dan aksesnya hanya sebuah jembatan. Aliansi dalam Misi Dramatis Berkat info Rupert Hagleitner dan Alois Mayr, partisan Austria di Wörgl, Lee dan Gangl mendapati rute-rute aman menuju Desa Itter yang terletak di lembah bukit. “Jalan tikus” itulah yang mereka tempuh untuk menghindari blokade pasukan SS. Saat melewati Gereja St. Joseph, Lee-Gangl bertemu perwira SS Hauptsturmführer (setara kapten) Kurt-Siegfried Schrader. “Schrader sedang dalam perjalanan pulang ke Desa Itter setelah bertemu para tahanan (VIP) Prancis di Kastil Itter. Schrader sebelumnya salah satu anggota pasukan gabungan (Wehrmacht-SS) dari Grup Tempur Giehl. Ia baru pulih setelah terluka dalam sebuah pertempuran,” ungkap Scott Baron dalam Valor of Many Stripes: Remarkable Americans in World War II. Schrader, lanjut Baron, sudah akrab dengan para tahanan VIP di Kastil Itter karena beberapa anggota keluarganya turut bekerja menyediakan kebutuhan mereka. Dari Schrader pula Lee mendapat info bahwa kastil itu tak lagi dikawal pasukan penjaga SS-Totenkopf karena Komandan SS-Totenkopf Sebastian Wimmer melarikan diri bersama semua penjaga Kamp Konsentrasi Dachau. Para tahanan Kastil Itter merupakan bagian darinya. Baca juga: Orang Indonesia di Kamp Konsentrasi Pertama Nazi Hauptsturmführer Kurt-Siegfried Schrader (Foto: National Archives) Schrader menginformasikan kepada Lee siapa saja tahanan VIP yang harus diselamatkan. Selain dua eks-perdana menteri (PM) Prancis Édouard Daladier dan Paul Reynaud, ada eks-Menteri Pertahanan Maxim Weygand, eks-Panglima Tentara Prancis Jenderal Maurice Gamelin, dan Marie-Agnès de Gaulle yang merupakan kakak Jenderal Charles de Gaulle, pemimpin pemerintahan pengasingan Prancis di Inggris. Kastil Itter sudah diambilalih oleh para tahanan VIP serta para tahanan asal Balkan, yang sebelumnya dipekerjakan di kastil, berbekal sisa-sisa senjata ringan yang ditinggalkan penjaga. Sesampainya Lee di gerbang kastil, ia disambut figur-figur penting di atas. Lee berjanji akan kembali membawa pasukan untuk menyelamatkan mereka. Baca juga: Blitzkrieg , Serbuan Kilat ala Nazi Satu hal yang mengganjal di pikiran Lee hanyalah bisa-tidaknya Schrader dipercaya mengingat ia perwira SS, bukan Wehrmacht sebagaimana Gangl. “Gangl melihat sikap skeptis Lee terhadap Schrader. Ia lalu menjamin bahwa Schrader takkan mengkhianati Lee. Gangl percaya karena ia sudah mengenal Schrader sejak mereka saling mengenal di Grup Tempur Giehl,” sambung Harding. Kastil Itter di salah satu pelosok Tyrol atau bukit di Pegunungan Alpen (Foto: bildarchivaustria.at ) Lee lalu bergegas kembali ke Kufstein. Dia meminta bantuan Komandan Resimen Infantri ke-142 Letkol George E. Lynch dan diberi tiga skuad pasukannya berisi 14 prajurit. Lee juga mengumpulkan lima tank Sherman lagi dari kompinya. Didukung pasukan Gangl, kini Lee punya misi membebaskan para tahanan VIP itu dengan kekuatan enam tank Sherman, 14 tentara Amerika, dan 10 serdadu Jerman. Kekuatan tank-nya ia sebar, dua di jembatan di atas Sungai Inn, dua lagi di Wörgl untuk menemani para partisan Austria menjaga kota dari potensi serangan pasukan SS. Satu tank Sherman ia perintahkan berjaga di jembatan yang jadi akses dari Wörgl menuju Desa Itter. Sementara Tank Lee, “Besotten Jenny”, datang ke Kastil Itter bersama 24 pasukan gabungan Amerika-Jerman. Baca juga: Tank Gaek "Stuart" yang Bertahan Hidup Para tahanan di dalam kastil meyakinkan Lee bahwa mereka wajib ikut mempertahankan diri. Pasalnya Schrader mengabarkan bahwa satu kompi pasukan SS “Götz von Berlichingen” berkekuatan 100-200 serdadu akan ke kastil untuk menghabisi para tahanan. “Lee sadar bahwa dia akan menghadapi peperangan di sebuah kastil di Pegunungan Alpen bersama sekelompok tahanan VIP Prancis, aliansi yang mengkhawatirkan dengan musuh (tentara Jerman), dan berada dalam situasi hidup-mati dalam sebuah pertempuran yang bisa dibilang aneh di Perang Dunia II front Eropa,” sambung Harding. Ilustrasi Tank M4 Sherman, serupa dengan tank "Besotten Jenny" yang dikendarai Kapten Jack Lee (Foto: archive.gov ) Pada pagi buta 5 Mei 1945, Kapten Lee yang tengah melepas lelah dikagetkan oleh bunyi rentetan senjata dari luar kastil. Sekitar 100 pasukan SS melakukan serbuan, demikian yang dilihatnya lewat binokular dari atas menara kastil. Pertempuran Kastil Itter dimulai. Pada serangan gelombang pertama, 24 pasukan di kastil dengan beberapa tahanan masih mampu menghalau serangan pasukan SS. Tetapi pada serangan gelombang kedua, pasukan SS mendapati hasil pengintaian bahwa kastil itu hanya dilindungi seonggok tank Sherman. Satu tembakan meriam Flak 88 (Flugabwehrkanone 18 kaliber 8,8 cm) pasukan SS pun langsung melumpuhkan satu-satunya tank di Kastil Itter berikut radio komunikasi di dalamnya. Baca juga: Texel, Palagan Terakhir di Eropa Kehancuran tank itu ikut menambah masalah Lee. “Padahal Lee teringat bahwa dia mendapat jaminan Kolonel Lynch bahwa pasukan inti Resimen ke-142 akan segera menyusulnya kala Lee berangkat dari Kufstein. Lynch memerintahkan Letkol Marvin Coyle, komandan Batalyon ke-2, bergerak dari Kufstein menuju Lembah Brixental dengan tujuan Kastil Itter. Tetapi pasukan berkekuatan empat kompi dan sejumlah tank Sherman lainnya tak bisa lekas bergerak karena banyaknya blokade,” singkap Baron lagi. Situasi di Kastil Itter kian genting seiring meningginya mentari. Mayor Gangl ambruk ditembak sniper SS kala menyelamatkan Reynaud di tengah sengitnya pertempuran. Kekhawatiran Lee diperparah oleh menipisnya stok amunisi. Ilustrasi pasukan SS Divisi ke-17 Panzergrenadier "Götz von Berlichingen" yang menyerang Kastil Itter (Foto: Repro "The 17th Waffen-SS Panzergrenadier Division Götz von Berlichingen") Dalam situasi kacau itu, Jean Borotra, mantan atlet tenis yang jadi tahanan di sana, mengajukan diri untuk keluar meminta bantuan kepada pasukan Amerika terdekat. “Jean Borotra selalu bersemangat ketika kami menahan gempuran. Dia mengajukan diri menyelinap keluar tembok kastil dan lari menuju Wörgl untuk minta bantuan. Itu artinya dia harus berlari 40 yard di medan terbuka sebelum bisa menyembunyikan diri di pepohonan. Saya sempat menolaknya tetapi dia bersikukuh,” tutur Lee kepada suratkabar militer AS, Hellcat News , 26 Mei 1945. Baca juga: Halt Order dari Hitler Mencegah Sekutu Musnah di Dunkirk Pertaruhan nyawa Borotra tak sia-sia. Ia bertemu empat kompi Resimen ke-142 Amerika di Wörgl yang kemudian bergegas membantu ke Kastil Itter. Di Kastil, misi Lee dan mendiang Gangl berada di ujung tanduk. Pasukan SS makin dekat ke tembok kastil. Sisa-sisa pasukan gabungan Amerika-Wehrmacht nyaris tak punya amunisi dan hanya bisa mengundurkan diri ke salah satu menara jaga. Maurice Gamelin, Michel Clemenceau & Paul Reynaud, tiga dari sekian tokoh VIP yang ditahan di Kastil Itter turut bertempur (Foto: riddip.com ) Sekira pukul empat sore, Lee mendengar gemuruh suara tank dari luar. Baru sedikit ia melongok ke jendela, wajah kusutnya seketika berubah. Pasukan bantuan akhirnya tiba dan pasukan SS yang mengepung kastil lari kocar-kacir. Mission impossible Lee dan Gangl membebaskan para tahanan VIP berhasil. Atas keberaniannya, Kapten Lee dianugerahi medali Distinguished Service Cross. Mendiang Gangl diakui sebagai pahlawan Austria dan namanya diabadikan jadi nama sebuah jalan di kota Wörgl. Schrader dibebaskan dari semua peradilan yang lazim dihadapi para serdadu SS berkat kesaksiannya. Baca juga: Gedoran Corregidor
- Ketika Cornel Simanjuntak Menodong Ibu Sud
PADA akhir 1944, di bawah tekanan Jepang kehidupan rakyat Indonesia semakin terpuruk. Banyak orang kelaparan hingga meninggal karena beras susah didapat. Kesulitan itu juga dialami komponis Cornel Simanjuntak dan kawan-kawannya di Jakarta. Meski Cornel bekerja di Keimin Bunka Shidosho , namun uang yang diperolehnya hampir tak lagi bernilai. Penjual beras lebih memilih menukar berasnya dengan barang berharga daripada uang. Karena itu, Cornel memilih menggunakan gajinya untuk membeli buku bekas dan pakaian bekas. Karena tidak ada beras, Cornel dan temannya, Binsar Sitompul dan Gayus Siagian, makan singkong dengan sayur kangkung yang hanya dibumbui garam. “Namun rupanya Cornel menyadari juga, bahwa ia perlu mencari jalan keluar dari kemelut itu. Pada suatu sore sepulang di rumah ia menyatakan, bahwa di Gang Thimas, Tanah Abang, ada barang dagangan berupa arang,” tulis Binsar Sitompul dalam Cornel Simanjuntak, Komponis, Penyanyi, Pejuang. Arang itu harus dijual dan mendapatkan untung karena modal pokoknya harus disetorkan kepada pemilik arang. Mereka yang biasanya bergelut di dunia kesenian itu pun harus rela menjadi penjual arang agar dapur kembali mengepul. Agar arang itu cepat laku, mereka menodong orang-orang yang dikenal. Cornel meyebut nama-nama yang kemungkinan mau membeli arang, seperti Lasmidjah Hardi yang turut berjuang ketika revolusi, dan Ibu Sud, pencipta lagu kenamaan. “Esok harinya kami berangkat ke Gang Thomas. Segera pula keranjang-keranjang berisi arang kami tumpuk di atas sebuah gerobak dorong. Cornel bekerja keras tanpa menghiraukan tangan dan pakaiannya yang menjadi hitam. Kami pun berangkat. Saya memegang bagian depan gerobak untuk menjaga keseimbangannya, dan Cornel mendorong dari belakang,” kata Binsar. Setelah basah kuyup oleh keringat, mereka sampai di Jalan Maluku, Menteng, tempat Ibu Sud tinggal. Tanpa bertanya dulu, mereka lalu menurunkan lima keranjang arang dan mengangkutnya ke dapur rumah Ibu Sud. Ibu Sud hanya bisa geleng-geleng kepala melihat kelakuan anak-anak muda itu. Ia juga tidak menawar harga arang ketika Cornel menyebut nominal. Tak sampai di situ, pada kesempatan itu Cornel menodong lagi. “Ibu Sud, kami lapar nih,” kata Cornel. Ibu Sud segera pergi ke dapur. Kembali dari dapur, Ibu Sud membawa dua piring nasi goreng yang masih hangat dan baunya harum. “Aduhai, sudah lama kami tidak menikmati hidangan seenak itu,” kata Binsar. Melihat anak-anak muda kumal dan kelaparan itu Ibu Sud hanya termenung. “Hai Cornel, mana lagumu yang baru? Jangan asyik mengurus arang saja dong,” kata Ibu Sud. “Tunggu saja Bu, kalau sudah laku semua ini, akan saya buat lagu Romantika Penjual Arang ,” jawab Cornel. Mendengar jawaban Cornel, Ibu Sud hanya tertawa sambil geleng-geleng kepala. Hubungan Cornel dengan Ibu Sud memang sudah erat sejak lama. Cornel banyak belajar musik dari Ibu Sud sejak pindah ke Jakarta. Biasanya, ketika Cornel selesai membuat lagu baru, Ibu Sud yang menjadi pendengar pertamanya. Ibu Sud juga yang menganjurkan Cornel mengikuti les menyanyi pada Ny. Kempers, seorang guru musik berkebangsaan Belanda.
- CIA Ungkap Peristiwa APRA Westerling
SETELAH melakukan pembantaian di Sulawesi Selatan, Kapten Raymond Westerling, komandan Korps Speciale Troepen (Pasukan Khusus Belanda) kembali melakukan operasi brutal di Jawa Barat. Puncaknya ketika seorang komandan batalion dari Divisi 7 Desember melaporkan Westerling karena pasukan yang dipimpinya telah membunuh sepuluh warga sipil di jalanan kota Ciamis. Atas perintah Panglima Tentara Belanda di Batavia, Jenderal Simon Spoor, Westerling pun dibebastugaskan pada 11 November 1948. Westerling kemudian memasuki kehidupan baru sebagai warga sipil. Dia menikahi kekasihnya, Fernanda Yvonne Fournier, wanita keturunan Indo-Prancis. Fernanda adalah putri seorang pengelola hotel asal Prancis yang menikah dengan wanita pribumi (versi lain menyebutkan wanita Vietnam).
- Bioskop Garuda, Dulu Primadona kini Tinggal Nama
Bicara tentang film tak akan bisa lepas dari bioskop. Film menjadi salah satu kesenian yang memikat banyak orang hingga masa kini, sedangkan bioskop menjadi tempat untuk menikmati film. Sejarah penyebaran film berhubungan erat dengan pendirian bioskop di berbagai tempat. Film masuk ke Indonesia pada awal abad ke-20. Bersama itu bioskop pertama muncul di Batavia dan menarik perhatian banyak orang. Waktu itu bioskopnya masih berupa rumah. Tapi apa yang dipertunjukan sungguh suatu keajaiban. Gambar idoep, itulah sebutan film saat itu. Maka, orang berbondong-bondong ke bioskop. Orang-orang bermodal tebal mendirikan bioskop di berbagai tempat di luar Batavia. Makin hari, makin bagus bentuknya. Tapi seperti bisnis lainnya, bisnis bioskop juga merasakan masanya bangun dan jatuh, naik dan turun, manis dan pahit, hidup dan mati. Di Kediri, Jawa Timur, masa-masa itu terekam jelas dalam bioskop Garuda. Patung Panji Asmoro Bangun simbol kota Kediri, Jawa Timur. (Fernando Randy/Historia). Bioskop Garuda di Kediri, Jawa Timur. (Fernando Randy/Historia). Bioskop Garuda terletak di Jalan Yos Sudarso, kawasan Pecinan, tak jauh dari Klenteng Tjoe Hwie Kiong yang berbatasan dengan Kali Brantas. Pendirian bioskop ini sebati dengan tumbuhnya minat orang Kediri pada film selama era 1970-an. Selain Garuda, Kediri punya empat bioskop lain pada masa 1980-an. Tempat duduknya selalu terisi penuh. Baca juga: Yang Pertama dalam Sejarah Film dan Bioskop “Dulu di Kediri itu tidak banyak tempat hiburan. Ketika bioskop dibangun, warga penasaran dan akhirnya masuk dan nonton film,” ujar Ismanto (48), salah satu guru di kota Kediri. Klenteng Tjoe Hwie Kiong yang berlokasi tidak jauh dari bioskop Garuda. (Fernando Randy/Historia). Bangunan Bioskop Garuda yang tampak angker. (Fernando Randy/Historia). Dari lima bioskop itu, Garuda paling elite. “Bioskop Garuda itu salah satu bioskop untuk yang punya duit lebih mas, karena harga tiketnya cukup mahal zaman itu, seingat saya harga tiketnya sekitar Rp350-an,” kata Ismanto. Baca juga: Konflik Aceh Mereda Tapi Bioskop Terlupa Jika dikonversi ke nilai uang sekarang, nilainya sekira Rp35.000. Selain itu, film-film yang diputar bioskop Garuda pun berbeda dari bioskop lainnya. Mereka lebih sering memutar film-film terbaru dari kawasan Asia: Tiongkok dan India. Tapi seiring perkembangan zaman, bioskop Garuda mulai ditinggalkan orang pada 2000-an. Bangunan gedung bioskop Garuda yang tampak tidak terurus. (Fernando Randy/Historia). Lambang Garuda yang melekat pada pintu utama gedung bioskop. (Fernando Randy/Historia). Bioskop ini sekarang tak aktif lagi. Tapi bangunannya masih berdiri. Ada papan nama bertulis "Garuda" lengkap dengan logo burung Garuda yang juga merupakan lambang negara Indonesia. Baca juga: Asal-Usul Profesi Tukang Catut di Bioskop Penyebab matinya bioskop Garuda antara lain maraknya pembajakan, kemunculan perangkat pemutar film rumahan, dan kalah bersaing dengan jaringan bioskop modern. Pengunjung Garuda pun berkurang. Pemasukan tak ada sehingga membuat manajemen Garuda limbung. Setelah didera kerugian, Garuda tersungkur dan mati. Salah satu sisi bangunan bioskop Garuda yang rusak. (Fernando Randy/Historia). Bangunan Garuda tampak tak terurus. Catnya terkelupas. Lumut menutup sebagian sisi dinding bangunan. Karat menggerogoti besi-besi untuk ornamen, pagar, dan fondasinya. Baca juga: Mengenang Bioskop Drive-In ala Ciputra Bila malam tiba, bangunan ini menyeramkan. Tak sedikit warga yang ngeri ketika harus melewatinya pada malam hari karena bangunannya mirip dengan gedung berhantu dalam film horor. Cat yang sudah tampak terkelupas. ( Foto : Fernando Randy/Historia ) Sisi bangunan tampak sudah mulai mengelupas. (Fernando Randy/Historia). Bioskop Garuda yang jaya pada masanya kini tinggal kenangan. (Fernando Randy/Historia).
- Kerajaan Aru, Riwayat Negeri Perompak
Lima abad lalu, pelaut Portugis Tome Pires menggambarkan penguasa negeri Aru sebagai raja paling besar di seluruh Sumatra. Ia memiliki banyak penduduk dan lanchara (kapal). Ia juga menguasai banyak aliran sungai di wilayahnya. Sang raja menguasai barang-barang rampasan hasil penyerbuan. Rakyat dan aparat kerajaan pergi melaut untuk merompak. Mereka membagi hasil jarahannya dengan raja. Aru bermusuhan dengan tetangganya, Malaka. Negeri lain pun memandang Aru dengan buruk. “Tanpa mencuri, mereka tak akan bisa hidup, karena itu tak ada yang bisa berkawan dengan mereka,” catat Pires dalam Suma Oriental. Raja Aru seorang Moor yang tinggal di istana di pedalaman. Tanah di sekitarnya berawa-rawa, sehingga tak mungkin ditembus. Di balik reputasinya sebagai negeri perompak, Aru adalah penghasil beras kualitas baik, buah-buahan dan hasil ternak melimpah, serta segala rupa hasil hutan, seperti kamper, kemenyan, rotan, dan madu. Jika Teluk Aru di Selat Malaka sekarang bisa dikaitkan dengan wilayah Kerajaan Aru pada masa lalu, maka kondisi geografis itu mendukungnya menjadi pemain penting dalam perniagaan di Selat Malaka. Itu sebelum keramaian niaga bergeser. Penguasa Malayu-Batak Aru pun harus mengadopsi strategi baru untuk menemukan pamornya kembali, sebagaimana dikatakan sejarawan Anthony C. Milner, dkk. dalam “A Note on Aru and Kota Cina” yang terbit di jurnal Indonesia , No. 26 (Oktober 1978). Pernah Berjaya dalam Niaga Pasca Sriwijaya diserang Kerajaan Chola pada 1025, semua wilayah bawahannya di Sumatra bagian utara dan Semenanjung Malaya semakin aktif dalam perniagaan internasional. Ini dikatakan Ery Soedewo, peneliti Balai Arkeologi Sumatra Utara dalam “Manik-Manik Kaca Salah Satu Indikator Kejayaan dan Keruntuhan Perniagaaan Pulau Kampai” yang terbit di jurnal Kalpataru , Vol. 24 No. 2 (2015). Situs Kota Cina yang oleh Milner dihubungkan dengan Kerajaan Aru, menunjukkan kebangkitan kerajaan ini setelah mengendurnya pengaruh Sriwijaya. Situs ini berada di antara Sungai Belawan dan Sungai Deli yang bermuara di Selat Malaka. Dari temuan arkeologis di situs itu, diduga kontak dagang dan budaya telah berkembang sejak abad ke-11. “Mungkin telah membangkitkan ambisi para kepala daerah,” tulis Milner. Bukti arkeologis itu menunjukkan kemakmuran dan pengaruh terbesar Aru terjadi sejak pertengahan abad ke-12 hingga ke-14. “Pada saat kapal Dinasti Sung berdagang dengan Sriwijaya, tepat sebelum Aru menarik perhatian Kubilai Khan,” lanjut Milner. Nama Aru tercatat dalam sumber-sumber lokal dan mancanegara. Teks tertua, Nagarakrtagama yang selesai ditulis pada 1356, menyebut nama Haru atau Aru. Nama Aru juga tercatat dalam Pararaton . Ketika menyerukan Sumpah Palapa, Mahapatih Gajah Mada menyebut nama-nama negeri yang diharapkan bisa bersatu di bawah Majapahit, salah satunya Haru (Sumatra Utara). Catatan Tiongkok tertua, Sejarah Dinasti Yuan , menyebut Aru mengirim utusan dua kali ke istana Kubilai Khan pada 1282 dan 1295. Dalam Xingcha Shenglan (1436), Fei Xin, pejabat yang empat kali mendampingi Cheng Ho, menyebut masyarakat Aru mengumpulkan kamper dari hutan untuk dijual ke pedagang asing yang singgah. Mereka juga mengimpor sutra berwarna, tembikar, manik-manik, dan sebagainya. Sementara itu, menurut Ma Huan (1433), penerjemah Cheng Ho, dalam Yingyai Shenglan , Kerajaan Aru memiliki sungai bernama Sungai Air Tawar. Orang-orangnya hanya sedikit menggunakan barang impor. Mereka banyak mengkonsumsi susu. Negara ini kecil dan tak ada produk yang bisa diekspor kecuali resin berbau wangi dan sebagainya. “Ada kemungkinan Fei Xin dan Ma Huan menggambarkan daerah yang berbeda,” tulis Milner. Dalam masa yang sama, Sejarah Dinasti Ming mencatatnya sebagai negeri yang tandus dan hanya menghasilkan sedikit panen. Namun, utusan-utusan dari Aru ke Tiongkok masih dikirim pada 1411, 1419, 1421, dan 1423. Begitu juga Cheng Ho yang diutus kaisar Tiongkok ke Aru pada 1412. Persinggahannya yang kedua terjadi pada 1431. Ia berkunjung dengan membawa hadiah untuk raja Aru. Inilah kontak formal terakhir Tiongkok dengan Aru. Nama Haru atau Aru kemudian menghilang dari catatan Tiongkok. Aru muncul kembali dalam catatan Tome Pires di Suma Oriental pada abad ke-16, sebagai negara yang rakyatnya merompak muatan kapal di Selat Malaka . Pamor yang Berubah Milner menilai potret Aru dalam laporan-laporan itu menunjukkan bahwa pada awal 1400-an kedudukannya menjadi tidak penting. Dibandingkan dengan Samudera Pasai, negeri ini lebih banyak mendapat perhatian dalam catatan Tiongkok. Kala itu hanya ada sedikit perdagangan di Aru. Sedangkan kronik-kronik Tiongkok begitu rinci menyebutkan hasil bumi dan kebiasaan penduduk Samudera Pasai. “Para pedagang dari segala penjuru datang ke tempat ini,” catat Sejarah Dinasti Ming. Maka, setelah tahun 1423, penguasa Aru tak lagi mengirim utusan ke Tiongkok. Sebaliknya, laporan yang berusia lebih muda menyebut minat Aru beralih dari perdagangan yang sah ke pembajakan. “Dihadapkan dengan kegagalan komersial, penguasa Malayu-Batak Aru mengadopsi strategi baru,” tulis Milner. Lokasi ibu kota pun pindah. Milner menunjuk Deli Tua sebagai lokasi baru setelah Kota Cina. Lokasi ini lebih ideal untuk pamor Aru yang baru. Letaknya sekira 25 km lebih ke pedalaman dari Kota Cina, dikelilingi hutan, berada di dekat aliran Sungai Petani, yang merupakan nama Karo untuk hulu Sungai Deli. Pires menyebut kawasan itu tak dapat ditembus. Lokasi sempurna bagi penguasa Aru untuk mengatur siasat perompakan di Selat Melaka. Kendati begitu, menurut Milner, Deli Tua bukanlah permukiman baru. Didapati fragmen keramik dari masa Sung dan Yuan yang semasa dengan tahun-tahun kejayaan Kota Cina. Namun, fragmen keramik dari abad ke-14 hingga ke-16 ditemukan di Deli Tua dalam jumlah yang cukup besar. Bersamaan dengan itu ditemuan peluru senjata api berbahan timah. Repelita Wahyu Oetomo, peneliti Balai Arkeologi Medan , menyebut peluru itu adalah peluru laras panjang yang umum digunakan pada abad ke-15 hingga ke-19 atau dikenal dengan senapan musket. Ada juga meriam dengan tulisan berbunyi “Sanat… 03 Alamat Balun Haru”. “Apabila 03 berarti tahun 1003 Hijriyah, berarti cocok dengan 1539 Masehi, yang menurut Pinto merupakan ditaklukkannya Haru oleh Sultan Aceh, Al Qahhar,” tulis Repelita dalam “Benteng Putri Hijau Berdasarkan Data Sejarah dan Arkeologis” di laman Kemendikbud . Menurut Milner, temuan itu menunjukkan bahwa (Deli Tua, red. ) diarahkan untuk perang daripada perdagangan. Sedangkan kegagalan Aru untuk kembali naik di dunia perdagangan sulit dijelaskan alasannya. Milner menyebut sangat mungkin pelabuhan kerajaan ini lama kelamaan tak lagi mudah untuk dilayari. “Pantai Sumatra Timur telah banyak berubah bahkan dalam sejarah yang tercatat,” tulis Milner. Salah satu indikasinya, banyak toponim yang merujuk pada “sungai mati”. Beberapa lokasi yang jauh di pedalaman juga disebut pernah menjadi pelabuhan. Hingga hari ini pun pendangkalan sungai terus terjadi. Namun tak pasti kapan prosesnya mulai terjadi. “Kita tahu bahwa seorang penulis Arab abad ke-16 mengeluh tentang pelabuhan Aru yang dangkal,” tulis Milner. Aru, bagaimanapun, pada akhirnya bernasib buruk dalam kontes perniagaan. Pencapaian komersial Aru hanya sampai abad ke-14. “Kehadiran komunitas pedagang Tionghoa yang ramai tidak lebih dari kenangan, perdagangan dengan Tiongkok telah bergeser ke kerajaan-kerajaan seperti Pasai dan Malaka,” tulis Milner. Nasibnya pun tak bertahan lama sejak catatan Tome Pires melukiskan Aru sebagai kekuatan yang ditakuti di perairan Selat Malaka. Ini menjadi riwayat terakhir Aru sebagai sebuah kerajaan dalam sumber sejarah. “Kekuatan yang baru berkembang, Aceh mengakhiri eksistensi Aru sebagai salah satu kekuatan penting dalam kehidupan sosial, ekonomi, dan politik di kawasan Selat Malaka,” tulis Ery Soedewo.
- Lama Wabah di Masa Lalu
SETELAH menjalani karantina selama beberapa bulan, orang-orang mulai bertanya kapan pandemi Covid-19 berakhir. Para peneliti di berbagai negara seperti di Inggris, China, Rusia, dan Amerika Serikat terus berusaha mencari jalan keluar dengan pengembangan vaksin. Di Indonesia sendiri, pengembangan vaksin sudah mencapai tahap III (pengujian pada manusia dengan jumlah besar) per Juli 2020 dan ditargetkan selesai pada 2022. Meski jalan untuk vaksinasi massal masih amat jauh, beberapa negara seperti Indonesia memilih melonggarkan karantina lebih awal karena pertimbangan ekonomi. Prediksi tentang berakhirnya wabah pun menjadi amat sulit dilakukan. "Saya pikir ada semacam masalah psikologis sosial seperti kelelahan dan frustrasi," kata sejarawan Universitas Yale Naomi Rogers pada The New York Times . Menurutnya, ketika kerugian ekonomi terus meningkat akibat pembatasan sosial, orang-orang memilih untuk kembali menjalankan aktivitas. Ada perbedaan pandangan antara masyarakat dan para ahli kesehatan. Yang pertama melihat masalah ekonomi dan sosial sementara para ahli kesehatan melihatnya sebagai krisis kesehatan yang membahayakan nyawa. Menilik akhir wabah di masa lalu, sejarawan membedakannya menjadi dua. Berakhir secara medis, yakni ketika jumlah kasus baru dan tingkat kematian menurun drastis; dan berakhir secara sosial, yakni ketika ketakutan akan penyakit berkurang. Wabah cacar yang pernah menyerang dunia temasuk yang berakhir secara medis berkat temuan vaksin yang bisa menangkal virus seumur hidup. Sejak muncul pertamakali tahun 1558 di Ternate dan Ambon, cacar menjadi penyakit mematikan karena ketiadaan obat dan vaksin. Pengendalian cacar baru dilakukan ketika ahli medis Inggris dokter Edward Jenner menemukan cara ampuh penanggulangan cacar pada 1796. Stefan Riedel dalam “Edward Jenner and the History of Smallpox and Vaccination”, menyebut pada Mei 1796, Jenner menemukan seorang pemerah susu bernama Sarah Nelms yang terserang cacar sapi. Ia kemudian meneliti cara penjinakan cacar sapi dan mengujicobanya pada anak salah seorang pelayannya. Keberhasilan penemuan Jenner menjadi titik terang pengendalian wabah cacar di seluruh dunia, temasuk di Hindia Belanda. Dalam “Dari Mantri hingga Dokter Jawa” yang dimuat dalam Humaniora Oktober 2006, Baha’Udin menulis, pada 1818 ada 50420 pencacaran, tahun 1860 jumlahnya meningkat tajam jadi 479.768 pencacaran dengan 211.051 pencacaran ulang. Pada 1875 jumlah pencacaran makin naik hingga 930.853 orang yang menerima vaksin. Mulanya, vaksin dikirim tiap 2-3 bulan sekali dari Amsterdam, Rotterdam, Utrech, dan Den Haag. Namun pada 1879, pemerintah kolonial mendirikan Parc Vaccinogene di Batu Tulis, Bogor untuk meningkatkan produksi vaksin. Pemerintah juga menambah jumlah tenaga medis yang bertugas mendistribusikan vaksin (mantri cacar) dan mendirikan Dokter Djawa School di Batavia. Meski penyakit ini berhasil dikendalikan sejak abad ke-19, dunia baru dinyatakan bebas dari cacar pada 1979. Sementara, cerita lain datang dari wabah pes. Bermula di Malang pada 1910, pes lambat laun menjalar ke Semarang, Yogyakarta, dan wilayah lain. Menurut data pemerintah kolonial, sepanjang 1910-1939, korban pes di Jawa Timur sebanyak 39.254 orang, Jawa Tengah 76.354, dan Yogyakarta 4.535. Pada 1920-an, wabah pes menyerang Cirebon, Priangan, dan Batavia dengan angka kematian yang terus meningkat. Hingga puncaknya di Jawa Barat tahun 1933-1935, pes mengakibatkan 69.775 orang tewas. Di Jawa Timur, pes berhasil dikendalikan dengan vaksinasi, renovasi rumah, dan peningkatan kebersihan lingkungan. Bila pada 1910-1919 ada 37602 orang yang terjangkit pes, pada 1920-1929 angkanya turun menjadi 1521. Terence Hull dalam “Plague in Java” mencatat, pada dekade terakhir kekuasaan kolonial, angka kasus pes di Jawa Timur terus menurun hingga menjadi 131 sepanjang 1930-1939. Namun ketika angka kasus pes di Jawa Timur turun, wilayah Jawa Barat malah naik pesat. Sayangnya pada masa Jepang masalah kesehatan tak mendapat perhatian sehingga tak ada catatan tentang pes di masa tersebut. Pada pendemi Flu Spanyol 1918, karantina wilayah juga dilakukan pemerintah kolonial. Pejabat kesehatan memberi aturan khusus pada kapal-kapal yang menepi di pelubahan-pelabuhan Hindia Belanda berupa larangan menurunkan penumpang. Bila ada yang melanggar, denda menanti. Priyanto Wibowo dalam Yang Terlupakan Pandemi Influenza 1918 menyebut, wabah yang paling hebat berlangsung kira-kira tiga minggu. Namun puncaknya baru berakhir kira-kira dua bulan dan pandemi influenza 1918 memang tidak pernah dinyatakan secara resmi berakhir. Menurut Priyanto, pandemi itu menghilang dengan sendirinya. Para sejarawan menyebut Flu Spanyol sebagai pandemi yang terlupakan. Dalam ingatan kolektif masyarakat Amerika Serikat sendiri, Pandemi Flu 1918 tidak banyak diperbincangkan terutama ketika masa pandemi itu sendiri. Namun karena beratnya kehidupan di masa Perang Dunia I, orang-orang memilih untuk kembali beraktivitas dengan beberapa penyesuaian untuk menghindari penularan virus. Menurut sejarawan Universitas Cambridge Mary Dobson, infeksi flu Spanyol kemudian menurun pada 1921 namun penularan Flu Spanyol terus terjadi hingga 1957. Tidak ada catatan pasti kapan sebuah penyakit benar-benar hilang. Menurut Naomi Rogers, klaim tentang berakhirnya wabah bisa amat sulit didefinisikan. “Siapa yang bisa mengklaim akhirnya?"
- Ketika Si Bung Dikira Tukang Kebun
Mendiang Kolonel (Purn.) Maulwi Saelan menjadi saksi bagaimana Presiden Sukarno amat menyukai kegiatan bercocok tanam. Menurutnya, setiap hari Bung Karno selalu meluangkan waktu untuknya. “Itu pohon beringin yang di Istana dia yang tanam,” ujarnya kepada Historia beberapa tahun lalu. Kegiatan berkebun Bung Karno biasa dimulai pada pagi setelah sarapan. Kolonel KKO Bambang Widjanarko menjadi salah satu yang sering diminta Bung Karno menemaninya keliling memperhatikan tanaman di taman-taman Istana. Bambang menyatakan dalam Sewindu Dekat Bung Karno , Bung Karno akan marah bila mendapati ada pohon yang tak terawat atau rusak. Biasanya tukang kebun yang kebagian jatah merawat pohon yang kedapatan tak terawat akan langsung dipanggil dan diperintahkan untuk segera membenahi pohon itu. Berkebun merupakan salah satu aktivitas yang paling disukai dan rutin dilakukan Bung Karno. Sewaktu menjalani pembuangan di Ende, Flores, Bung Karno bersama Inggit istrinya menanami pekerangan rumahnya dengan sayuran. Dengan begitu Bung Karno bisa membunuh kejemuan di tempat pembuangan yang sepi sekaligus mencukupi kebutuhannya di tengah melompongnya kantong. “Sekalipun kami hanya punya uang sedikit, kami berhasil mencukupi diri sendiri. Kebutuhanku sederhana. Makananku terdiri dari nasi, sayur, buah-buahan, terkadang ayam atau telor dan ikan asin kering sedikit. Sayuran diambil dari yang kutanam di pekarangan samping rumah,” kata Bung Karno dalam otobiografinya, Bung Karno Penyambung Lidah Rakyat Indonesia . Kegiatan itu terus berlanjut ketika Bung Karno tinggal di Jakarta pada masa pendudukan Jepang. Pohon-pohan yang ditanam dan dirawat bersama Ibu Fatmawati saban hari diperhatikan Bung Karno. Tukang kebun yang diupah membantu akan kena marah bila tak merawat pohon-pohon dengan serius. Pernah suatu kali Bung Karno memarahi tukang kebun karena kedapatan tak menuruti arahannya sehingga membuat pohon menjadi merana. Kebiasaan berkebun Bung Karno tetap berlanjut ketika pusat pemerintahan pindah ke Yogyakarta pada 1946. Pun ketika mengalami pembuangan di Berastagi, Sumatera Utara. Di sana, Bung Karno sempat menanam pohon beringin di tempat pembuangannya. Setelah pemerintahan kembali ke Jakarta, berkebun kembali dilakukan Bung Karno di kompleks istana. Namun, kegiatan itu tak hanya dilakukan Bung Karno di istana Jakarta. Istana Tampaksiring di Bali pun tak luput jadi tempat berkebun Bung Karno. Hal itu disaksikan antara lain oleh Horst Henry Geerken, perwakilan perusahaan Telefunken di Jakarta, yang sering diundang Bung Karno. Geerken menuliskannya dalam memoar berjudul A Magic Gecko: Peran CIA di Balik Jatuhnya Soekarno . “Sukarno senang bekerja di kebun pagi hari dan menanam banyak pohon dan menghabiskan waktu di Istanan dengan tangannya sendiri,” kata Geerken. Karena berkebun itu pula Bung Karno suatu hari mendapat sial. Suatu pagi ketika langit masih gelap, Bung Karno melihat sebuah kebun yang tak mendapat perawatan semestinya. Masih dengan pakaian seadanya, dia pun tergerak menanganinya. Namun di tengah aktivitas itu, sebuah tepukan mendarat di bahunya disertai suara seorang pria. “Hei, itu tanah saya!” kata pria bernama Made Galang itu yang diwawancara Geerken saat berusia 82 tahun. Bung Karno yang kaget lalu menoleh. Begitu mata kedua pria itu saling bertemu, Made langsung syok. Dia tak menyangka tukang kebun yang diperingatinya ternyata presidennya. Bung Karno tak sedikitpun marah dan hanya mengatakan, seperti dikutip Geerken, “Saya mau tolong saja.” Namun tetap saja hal itu membuat Made amat malu dan merasa bersalah.
- Monumen Sukarno Resmi Berdiri di Aljazair
SETELAH sempat tertunda, peresmian Monument Soekarno di Alger, Aljazair terlaksana pada Sabtu (18/7/2020) pagi waktu setempat atau sore WIB. Monumen tersebut menjadi penanda hubungan persaudaraan antardua negara yang terpisah 12 ribu kilometer jauhnya. Pembangunan monumen itu diinisiasi Kedutaan Besar RI (KBRI) Alger, didesain Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil, dan dipercantik sebuah patung Sukarno dari lempengan-lempengan besi karya pematung Dolorosa Sinaga. Peresmian itu dihadiri antara lain oleh Menteri Luar Negeri Aljazair Sabri Boukadoum, dan Gubernur Provinsi Alger Youcef Charfa. Ketua DPR RI Puan Maharani yang merupakan cucu Sukarno, hadir secara virtual dari Jakarta. Baca juga: Patung Bung Karno Berdiri di Aljazair Dalam pidatonya, Duta Besar RI untuk Aljazair Safira Machrusah menyampaikan, sosok Sukarno dihadirkan dalam monumen dan patungnya tak lain lantaran jalinan sejarah. Sukarno tak sekadar founding father bagi Indonesia, namun juga jadi mercusuar dunia yang melantangkan perjuangan melawan imperialisme dan kolonialisme yang mencengkeram bangsa-bangsa di Asia dan Afrika. “Sukarno lahir dari keluarga yang sederhana dan tumbuh menjadi negarawan yang mulia. Melalui pengalaman hidupnya, ia membangun self-awareness terhadap pentingnya kemerdekaan dan kebebasan. Jiwa muda membawanya aktif terlibat dalam politik dan kemudian membentuk pemikiran-pemikirannya terhadap nilai-nilai kemerdekaan,” tutur Safirah. “Perjuangannya itu membuatnya ditahan dan dibuang oleh pemerintah kolonial Belanda berkali-kali. Semua pengalaman itu membimbingnya menjadi lebih gigih berjuang untuk kemerdekaan Indonesia. Ia juga yang menggali dasar negara Indonesia sebagai negara berdaulat, tercermin dalam Pancasila,” tambahnya yang menguraikan satu per satu sila-silanya kepada hadirin. Plakat Monumen Sukarno di Alger, Aljazair (Foto: Youtube KBRI Alger) Nilai-nilai Pancasila itu masih universal dan relevan sebagai salah satu penguat persahabatan Indonesia-Aljazair. Ditambah Pembukaan Undang-Undang Dasar (UUD) 1945 yang jadi dasar, keduanya menjadi alasan mengapa Sukarno aktif menyokong kemerdekaan negara-negara terjajah, termasuk Aljazair. “Pembukaan UUD 1945 menyebutkan tentang kewajiban Indonesia untuk aktif mendorong perjuangan bangsa lain menuju kemerdekaan. Dengan jelas disebutkan bahwa kemerdekaan adalah hak segala bangsa. Dan penjajahan di atas dunia harus dihapuskan karena tak sesuai dengan kemanusiaan dan keadilan,” lanjut Safirah yang sudah empat tahun bertugas jadi Dubes RI untuk Aljazair. Baca juga: Makna Patung Bung Karno di Aljazair Dua prinsip yang jadi pegangan bangsa Indonesia itu, sambung Safirah, jadi modal Bung Karno untuk lebih menyuarakan perjuangan kemerdekaan bangsa-bangsa terjajah lewat Konferensi Asia Afrika di Bandung pada April 1955. Konferensi itu turut mengundang Aljazair kendati negeri itu belum merdeka dari Prancis. “Banyak negara belum merdeka tahun 1955, namun suara mereka di Bandung meningkat menjadi tekanan internasional terhadap negara-negara Barat untuk mendengar suara bangsa-bangsa terjajah, terkait hak mereka untuk merdeka dan menentukan nasib sendiri. Kami bangga memiliki Sukarno sebagai pendiri bangsa dan menjadi tokoh global yang memicu nilai-nilai universal tentang kemerdekaan dan membangkitkan spirit untuk terbebas dari kolonialisme dan imperialisme,” kata Safirah. “Indonesia dan Aljazair adalah dua saudara, berbagi semangat anti-kolonialisme yang sama dan memuliakan pentingnya persatuan dalam nilai-nilai nasionalisme. Indonesia dan Aljazair juga mengalami pertumpahan darah dalam perjuangannya dan saya senang upacara peresmian monumen ini bisa digelar di bulan yang sama dengan Hari Kemerdekaan Aljazair (5 Juli),” paparnya. Dubes RI Safirah Machrusah (kanan) memberi potongan tumpeng pertama untuk Menlu Aljazair sebagai simbolik peresmian (Foto: Youtube KBRI Alger) Diharapkan, monumen dan patung Sukarno yang berdiri tegak di jantung ibukota Aljazair itu bisa menjadi pengingat, terutama untuk generasi baru Indonesia dan Aljazair, demi merawat nilai-nilai perjuangan kedua negara yang punya satu tujuan: perdamaian abadi dan kesejahteraan di dunia. “Jika Anda memerhatikan, monumen ini berbentuk seperti bulan sabit dengan lima bintang, mencerminkan bendera Aljazair. Di setiap pilar pendeknya kami cantumkan teks Dasasila Bandung yang dihasilkan dari KAA 1955 sebagai deklarasi mempromosikan kemerdekaan, kesetaraan, perdamaian, dan kerjasama. Kini kami persembahkan bagi rakyat Aljazair, sebuah monumen sebagai simbol persahabatan abadi dan kerjasama yang saling menguntungkan,” tutup Safirah. Baca juga: Aljazair Merdeka Hal senada disampaikan Puan Maharani. Persamaan pemikiran dan perjuangan untuk membebaskan diri dari kolonialisme dan imperialisme lewat KAA di Bandung pada 1955 yang digelar Presiden Sukarno, kata Puan, menjadi dasar yang tak lekang waktu bagi persahabatan dua negara yang dipisahkan batas-batas benua itu. “Kita sedang menatap masa depan. Namun kita semua tetap harus mengenang sejarah kita sebagai bagian dari landasan untuk kita membangun masa depan yang lebih baik. Indonesia dan Aljazair terpisah jarak yang begitu luas melewati daratan, benua, dan lautan. Akan tetapi sejarah menyatukan kita,” kata Puan menimpali. Ketua DPR RI cum cucu Bung Karno, Puan Maharani memberi sambutan secara virtual dari Jakarta (Foto: Youtube KBRI Alger) Menanggapi dua perwakilan Indonesia, Menlu Aljazair menyatakan, jika delegasi Aljazair tak diundang ke forum KAA 1955, perjuangan mereka masih akan mengalami perjalanan yang lebih panjang. Maka sudah sepatutnya sosok Bung Karno dikenang tak hanya demi narasi sejarah, tetapi juga jadi tumpuan persahabatan yang kelak akan dirawat para generasi muda kedua negara. “Pada April 1955 Presiden Sukarno mengundang sebuah delegasi dari Aljazair. Pada saat itu isu (kemerdekaan) Aljazair belum terlalu terkenal di dunia. Dan ketika Mohamed Yazid, ketua delegasi, naik ke podium, dia memanggil semua delegasi Aljazair masuk ke dalam ruangan dan ini adalah sesuatu yang luar biasa pada saat itu,” kata Boukadoum. “Dukungan dan sambutan yang diberikan Sukarno adalah bukti hubungan Indonesia dan Aljazair sangat kuat dan ini jadi dasar untuk membangun hubungan yang lebih kuat. Sejarah ini menjadi dasar supaya membangun dialog politik antara kedua negara dan membangun kerjasama yang semakin meninggi antardua negara, secara bilateral maupun secara multilateral, untuk membangun kepentingan bersama,” tandasnya. Baca juga: Djamila Bouhired Srikandi Aljazair
- Ketika Ali Sastroamidjojo Diajak Fidel Castro ke Daerah Terpencil
Kamis, 1 Januari 1959, Republik Kuba memasuki fase baru. Akibat serangan terus menerus dilakukan oleh para gerilyawan revolusiener pimpinan Fidel Castro, Presiden Fulgencio Batista hengkang ke Republik Dominika. Sejak itulah Kuba secara resmi jatuh ke tangan para revolusiener. Namun tak semua negara di dunia mengakui kekuasaan Castro, terutama negara-negara Barat dan para sekutunya. Pengakuan total justru datang dari negara-negara yang berafiliasi ke Blok Timur dan sebagian negara-negara yang pernah terlibat dalam Konferensi Asia Afrika di Bandung pada 1955. Salah satunya adalah Republik Indonesia (RI) yang menugaskan Ali Sastroamidjojo (diplomat senior sekaligus Duta Besar Tetap RI untuk PBB) untuk merintis hubungan RI dengan Kuba. “Jadi sebelum Presiden Sukarno bertemu dengan Fidel Castro dan Che Guevara pada 1960, eyang saya-lah yang terlebih dahulu mengondisikan rencana pertemuan antara Castro dengan Bung Karno,” ungkap Tatiek Kemal, salah seorang cucu Ali Sastroamidojojo. Dalam otobiografinya, Tonggak-Tonggak di Perjalananku , Ali Sastroamidjojo menyatakan bahwa kunjungannya ke Kuba adalah salah satu misi diplomatik yang paling penting dan mengesankan dirinya. “Kunjungan itu saya lakukan dengan persetujuan Kementerian Luar Negeri di Jakarta yang memberikan tugas pula supaya saya menyampaikan pesan Menteri Luar Negeri RI kepada Menteri Luar Negeri Kuba bahwa Pemerintah RI sudah siap melaksanakan tukar menukar perwakilan diplomatik pada tingkat duta besar….” ungkap Ali. Rombongan utusan RI terdiri dari Ali Sastroamidjojo, Titi Roelia (istri Ali Sastroamiodjojo) dan Sekretaris Pertama bernama Masfar. Mereka tiba di di Havana (ibu kota Kuba) pada 16 Desember 1959. Begitu mendarat di Bandara Jose Marti, rombongan kecil Ali Sastroamidjojo langsung disambut oleh Menteri Luar Negeri Kuba Dr.Raul Roa. Sambutan meriah dilangsungkan oleh para pejabat Kuba. Dr. Roa secara khusus mengadakan resepsi bagi rombongan Ali di Kementerian Luar Negeri dengan dihadiri oleh semua kepala perwakilan diplomatik di Havana dan para menteri kabinet Castro serta para pejabat militernya. Guna menghormati tamu-tamu dari Indonesia, selama kunjungan empat hari itu khusus di atas gedung Kemenlu Kuba dikibarkanlah Sang Saka Merah Putih. Namun anehnya, saat melihat jadwal acara utusan khusus RI selama di Kuba, Ali sama sekali tak menemukan agenda untuk bertemu dengan pemimpin revolusi sekaligus perdana menteri Kuba, Fidel Castro. “Saat menyampaikan pesan dari Menlu RI, saya singgung soal keheranan saya itu. Saya katakan, mengunjungi Kuba tanpa berjumpa dengan Fidel Castro rasanya agak ganjil,” ujar Ali. Ditanyakan soal tersebut secara langsung oleh tamunya membuat Dr.Roa gelagapan. Sambil sedikit agak rikuh, dia mengatakan bahwa dirinya sudah berusaha untuk mengatur pertemuan antara Ali Sastroamidjojo dengan Fidel Castro tetapi hingga detik itu belum juga berhasil karena Dr. Roa sendiri sama sekali tidak tahu di mana Fidel Castro berada hari-hari itu. Fidel, lanjut Roa, selalu sibuk dan tak pernah berada di kantornya. Dia sangat rajin berkeliling dan turba ke daerah-daerah tanpa memberitahu sebelumnya ke mana dia akan pergi. “Tetapi Menlu Roa berjanji akan terus mengusahakan agar saya bertemu dengan Castro dan akan memberi kabar kepada saya dalam waktu 24 jam,” kenang Ali. Dua hari kemudian, Ali mendapat undangan makan malam dari Che Guevara pada jam 20.00. Di undangan jamuan makam itulah, dia baru mendapatkan kepastian bisa bertemu dengan Castro. Maka berangkatlah Ali Sastro, Titi Roelia dan Masfar malam itu ke Gedung Bank Sentral Nasional, tempat Che Guevara berkantor. Begitu sampai di tempat acara, semua pejabat sudah hadir termasuk Guevara dan Roa. Anehnya saat acara makan malam akan dimulai, tempat duduk Castro tetap kosong. Ali melihat wajah Roa mulai gelisah, namun tidak demikian dengan Che Guevara. “Dia terlihat tenang-tenang saja, mungkin sudah terbiasa dengan sikap Castro tersebut,” ungkap Ali. Begitu acara makan malam akan berakhir dan akan ditutup dengan acara minum kopi bersama, tetiba Castro datang dalam pakaian perjuangan lengkap dengan pistol di pinggang kanan-nya. Tanpa menghiraukan aturan protokoler, Castro langsung mendatangi Ali dan menjabat erat tangannya. Acara minum kopi kemudian berpindah ke ruangan lain. Castro berbicara akrab dengan para tamunya dari Indonesia itu. Dalam suatu kesempatan, dia bertanya kepada Ali mengenai kesan-kesan terhadap Kuba dan rakyatnya. Ali menjawab bahwa dirinya belum memiliki kesan apapun, karena selama di Kuba dia hanya melihat situasi di Havana saja. Castro paham. Secara spontan, dia lantas mengajak Ali untuk ikut serta dengan dia melihat daerah-daerah di luar Havana. Ajakan itu langsung diiyakan oleh Ali karena dirinya mengira kunjungan itu akan dilakukan besok hari. Ternyata dugaannya salah. Pemberangkatan ke daerah itu akan dilakukan pada malam itu juga. “Padahal waktu sudah menunjukan jam 12 malam,” kenang Ali. Singkat cerita, Ali Sastro, Titi Roelia dan Masfar mengikuti rombongan Castro. Perjalanan panjang pun dimulai dengan kawalan para prajurit berambut gondrong. Setelah mengunjungi sebuah pabrik gula dan minum kopi di sana, seorang pejabat memberitahu bahwa mereka ditunggu oleh Castro di suatu tempat. Castro menerima rombongan Indonesia ketika dia sedang sibuk memberikan petunjuk kepada para pekerja dan sopir-sopir truk yang tengah sibuk menggarap tanah di tepi suatu danau besar bernama Zapata. Castro menjelaskan kepada Ali bahwa pekerjaan yang tengah dikerjakan itu merupakan suatu proyek pembangunan perumahan kepariwisataan. Bukan untuk para wisatawan asing melainkan untuk rakyat Kuba sendiri yang selama rezim Batista belum pernah menikmati istirahat di tempat yang indah dengan biaya murah. Setelah selesai dengan urusan pekerjaan, di luar agenda, rombongan Indonesia “diculik” oleh Castro untuk menuju sebuah pulau kecil di tengah danau. Di sanalah berada tempat peristirahatan Castro jika melepas penat seusai turba. Tak sampai setengah jam sampailah mereka di pulau tersebut. Ali mengenang rumah peristirahatan yang ditempati Castro lebih menyerupai “benteng persembunyian” dibanding suatu villa mewah. Rumahnya sederhana sekali namun tetap dilengkapi sebuah tempat pendaratan untuk helikopter. “Saya juga melihat beberapa antena tinggi untuk mengirim dan menerima berita-berita radio…” ungkap Ali. Ketika sudah tiba waktunya makan siang, Castro meminta disediakan makanan buat dia dan para tamunya. Tetapi di dapur, yang tersedia ternyata hanya tinggal nasi saja, karena lauk pauknya sudah habis. Marahkan Castro? Alih-alih kesal, dia malah mengajak Ali dan seorang pejabat untuk memancing ikan di danau. Sambil memancing Castro bercerita tentang segala hal mengenai sendi dan misi dari revolusinya. Beberapa jam memancing, banyaklah ikan yang didapat. Castro meminta para pengawalnya untuk menggoreng ikan-ikan hasil pancingan itu. Jadilah kemudian mereka makan sore hanya dengan menu ikan goreng, kecap dan sejenis cabe rawit. “Bagi mereka hal semacam itu biasa saja, karena rupanya Castro dan kawan-kawannya biasa juga makan seperti itu selama bergerilya di hutan-hutan dan pegunungan,” ungkap Ali.






















