top of page

Hasil pencarian

9739 hasil ditemukan dengan pencarian kosong

  • Bung Hatta dan Koperasi

    Tahun 1896, di Purwokerto, R. Aria Wiria Atmadja mendirikan Hulp en Spaar Bank. Tujuannya adalah untuk membantu pegawai bumiputra dalam mengurus hal-hal yang terkait soal birokrasi di pemerintahan kolonial. Badan non-pemerintah ini merupakan cikal bakal terbentuknya koperasi di Indonesia. Pada perkembangan selanjutnya, koperasi mulai dikenal luas sebagai lembaga kredit atau produksi yang mendukung usaha rakyat. Permulaan abad ke-20, koperasi mulai banyak bermunculan. Tokoh-tokoh pergerakan, bersama organisasinya seperti Budi Utomo, Sarekat Islam, dan PNI; ikut mendirikan koperasi sebagai bentuk penentangan terhadap penjajahan ekonomi. Salah satu tokoh yang besar pengaruhnya terhadap keberadaan koperasi di Indonesia, hingga dijuluki Bapak Koperasi Indonesia, adalah Mohammad Hatta. Dasar Membangun Koperasi Lily Gamar Sutantio, dalam buku Mengenang Sjahrir: Seorang Negarawan dan Tokoh Pejuang Kemerdekaan yang Tersisih dan Terlupakan  karya Rosihan Anwar, menjadi saksi keberhasilan Bung Hatta menghidupkan koperasi di Banda Neira selama masa pengasingannya pada 1930-an. Menurut putra asli Banda yang pernah dididik langsung Bung Hatta itu, ada dua orang lagi yang ikut membantu Bung Hatta membangun koperasi di Banda, yakni Sutan Sjahrir dan Iwa Kusuma Sumantri. Mulanya mereka menggagas sebuah organisasi sosial dan pendidikan yang bergerak di bidang olahraga, peminjaman buku, dan koperasi. Dinamakan Perkumpulan Banda Muda (Perbamoe), ketiganya menjadi donatur tetap. Bung Hatta dipercaya mengurus bidang koperasi Perbamoe. Dari sinilah dia mencontohkan model urundaya masyarakat untuk kesejahteraan bersama. “Kita akan memonopoli semua hasil bumi yang turun dari perahu kemudian didistribusikan pada masyarakat setempat,” kata Bung Hatta. Bung Hatta dan Pebamoe memiliki cara tersendiri dalam menarik minat masyarakat Banda terhadap koperasi. Bila ada perahu datang, muatannya diambil langsung oleh koperasi Perbamoe untuk dijual kembali ke penduduk. Dengan memotong rentetan jalur distribusi ini, harga asli barang tidak akan berbeda jauh dengan harga jualnya. Alhasil, penduduk bisa mendapatkan barang dengan harga lebih murah, petani maupun nelayan tidak merugi, dan koperasi tetap memperoleh keuntungan yang cukup untuk kas perkumpulan. Dari kas itulah Perbamoe mendapat modal untuk menyewa rumah lengkap dengan perabotannya untuk sekretariat. Kas itu pula yang digunakan Bung Hatta, Bung Sjahrir, dan Mr. Iwa untuk membangun perpustakaan yang koleksi bacaannya bisa dinikmati oleh semua orang. “Koperasi merupakan bentuk usaha yang berdasarkan atas azas kekeluargaan, karena koperasi yang menyatakan kerjasama antara para anggotanya sebagai suatu keluarga dan menimbulkan tanggung jawab bersama sehingga pada koperasi tidak ada majikan dan tidak ada buruh,” kata Bung Hatta seperti dikutip Y. Harsoyo, dkk dalam Ideologi Koperasi: Mentap Masa Depan . Bung Hatta sendiri mempelajari ilmu koperasi di Skandinavia. Saat sedang menempuh pendidikan di sekolah ekonomi di Rotterdam, Belanda, pada 1925 dia mengunjungi Denmark, Swedia untuk belajar tentang koperasi. Menurutnya, koperasi cocok diterapkan di negara-negara yang sedang merintis perekonomian rakyat. Pasca-kemerdekaan, Indonesia berusaha membangkitkan perekonomiannya yang nyaris nol. Pemerintahan Sukarno-Hatta menjadikan koperasi salah satu andalan. Menurut Patta Rapanna dalam Menembus Badai Ekonomi, koperasi jadi usaha bersama untuk memperbaiki taraf hidup layak masyarakat setelah terlepas dari belenggu penjajahan. Lewat jawatan koperasi, Kementerian Kemakmuran mendistribusikan keperluan sehari-hari dengan harga terjangkau. Bung Hatta melalui pidatonya juga terus menggalakkan pentingnya koperasi untuk membangun perekonomian rakyat yang baik. Keseriusan pemerintah Indonesia terhadap keberadaan koperasi pun terbukti dari terselenggaranya Kongres Koperasi Pertama di Tasikmalaya, Jawa Barat pada 1947. Berdasar kongres tersebut, tanggal 12 Juli ditetapkan sebagai Hari Koperasi Indonesia. Kritik Bung Hatta Kala menjalankan koperasi ini, Bung Hatta masih sering mendapati ada saja pihak yang keliru dalam memakai prinsip-prinsip koperasi yang benar. Dia pun beberapa kali mengeluarkan kritik di surat kabar, seperti tahun 1933 di dalam Daulat Ra’jat. Bung Hatta mencoba menegakkan kaidah koperasi yang baik agar tercipta sistem ekonomi yang berbasis kerakyatan. Bung Hatta merasa masih banyak koperasi yang hanya mengejar keuntungan semata. Misal menaikkan harga barang seenaknya, atau melakukan intimidasi terhadap masyarakat yang tidak membeli di koperasi dengan menyebutnya “tidak setia kawan”. Padahal menurutnya tujuan koperasi bukan itu. Sebagaimana prinsipnya, koperasi harus bersifat sukarela. “Koperasi menyusun tenaga yang lemah yang tersebar itu menjadi suatu organisasi yang kuat. Kekuatan koperasi terletak pada persekutuannya yang berdasarkan tolong-menolong serta tanggung jawab bersama. Bukan mengadakan permusuhan keluar yang menjadi sifat yang utama, melainkan memperkuat solidaritet ke dalam, mendidik orang insyaf akan harga dirinya serta menanam rasa percaya pada diri sendiri,” kata Bung Hatta dalam Zulfikri Sulaeman, Demokrasi untuk Indonesia: Pemikiran Politik Bung Hatta . Tidak hanya itu, Bung Hatta juga menemukan ada koperasi yang melakukan persekutuan tidak adil, dengan hanya menjual barang koperasi kepada anggotanya saja. Menurutnya, bentuk koperasi demikian tidak menunjukkan persekutuan ekonomi dan sosial yang bijak bagi seluruh masyarakat. Juga tidak mendidik perasaan sosial. Persaingan antar koperasi juga masih sering terjadi. Sesuai dengan fungsi sosial koperasi, seharusnya antar koperasi saling membantu untuk menumbuhkan perekonomian di tengah masyarakat, bukan memperlihatkan persaingan yang berujung pada kesengsaraan rakyat. Cita-cita membangun ekonomi rakyat harus menjadi yang utama bagi koperasi. “Tujuan utama koperasi adalah untuk memenuhi kebutuhan para anggotanya. Keuntungan memang diperlukan untuk perkembangan koperasi lebih lanjut, namun untuk mencapai keuntungan tidak perlu mengorbankan tujuan yang utama,” terang Bung Hatta.

  • Yang Pertama dalam Sejarah Film dan Bioskop

    Artis Indonesia Pertama yang Berani Vulgar Nurnaningsih mulai tenar saat membintangi flm Terang Bulan  (1937) besutan sutradara Albert Balink. Penampilan vulgarnya diawali pada 1954 setelah tampil setengah telanjang dalam flm Harimau Tjampa  karya D. Djajakusuma. Dia juga membiarkan sebuah foto dirinya yang berpose berani di sebuah kalender iklan. “Pers segera menjadikannya perkara, dengan nada sungguh-sungguh mempertanyakan batas antara seni dan pornograf, kata yang pada saat itu baru, dan perlu dijelaskan dengan padanannya: kecabulan,” tulis Denys Lombard dalam Nusa Jawa: Silang Budaya Jilid 1: Batas-batas Pembaratan . Setelah aksi beraninya itu, Nurnaningsih kemudian dikenal dengan semboyannya, “Kalau mau maju harus berani.” [Martin Sitompul]. Perempuan Indonesia Pertama Tampil di majalah Playboy Ratna Assan lahir pada 16 Desember 1954 di Torance, California, Amerika Serikat, dari pasangan Indonesia Ali Hasan dan Soetidjah. Ibunya Soetidjah lebih dikenal sebagai Dewi Dja, seorang penari yang tampil dalam film-film produksi Holywood. Nama Ratna Assan melejit ketika membintangi film Papillon  bersama Steve McQueen dan Dustin Hoffman pada 1973. Papillon  menjadi film termahal (12 juta dolar) yang diproduksi pada masanya. Ratna berperan sebagai Zoraima, gadis Indian yang menolong seorang pelarian kriminal Prancis bernama Henri Charriere “Papillon” (Steve McQueen). Penampilannya yang memukau dan wajahnya yang eksotis menarik Playboy  untuk menampilkan Ratna dalam rubrik pictorial  setahun kemudian. “Ratna Assan si ‘ butterly girl ’ bukan nama yang akrab, tapi penampilannya bersama Steve McQueen di Papillon  menjadikan wajah dan figurnya begitu familiar,” tulis Playboy  edisi Februari 1974. [Martin Sitompul]. Film Indonesia Pertama Bertema Homoseksualitas Istana Kecantikan  (1988) disebut-sebut sebagai film Indonesia pertama yang mengangkat isu homoseksualitas dalam bingkai drama keluarga. Film yang disutradarai Wahyu Sihombing ini bercerita tentang Nico (Mathias Muchus), seorang gay, yang dipaksa berpura-pura menikahi Siska (Nurul Arifin) untuk memenuhi kehendak orang tua. Nico akhirnya menyeleweng dengan seorang pria dan membawa cerita ke ranah hubungan homoseksual yang kompleks. Dari semua film bertema homoseksualitas yang diproduksi pada masa Orde Baru, Istana Kecantikan  adalah film dengan alternatif tema seksual yang paling diingat dan didiskusikan karena isunya yang khas dan mendobrak. “Hal ini bisa terjadi karena mulai muncul pandangan yang lebih toleran baik dari penonton maupun pekerja film, juga pengetahuan akan konstruksi identitas seksual alternatif dalam sinema Barat, Asia, dan Amerika Latin secara keseluruhan,” tulis Ben Murtagh dalam Genders and Sexualities in Indonesian Cinema . Istana Kecantikan  mendapatkan enam nominasi dalam Festival Film Indonesia 1988 dan memenangi satu yaitu Aktor Terbaik untuk Mathias Muchus. [Rahadian Rundjan]. Film Terbaik Pertama Ajang Oscar Academy Award atau Oscar merupakan ajang penghargaan bergengsi dalam industri film Amerika Sertikat. Oscar kali pertama diselenggarakan pada 16 Mei 1929. Seremoni berlangsung di Hotel Roosevelt, Los Angeles, yang dihadiri 270 peserta dan tidak disiarkan radio maupun televisi Pemenang perdana untuk film terbaik adalah film bisu berjudul Wings . Film ini disutradarai William A. Wellman dan diproduksi Paramount Pictures. Berdurasi 139 menit, Wings  mengisahkan pilot-pilot pesawat tempur dalam Perang Dunia I dengan menyelipkan bumbu percintaan di dalamnya. Meski film bisu, Wings  menjadi film yang dibuat dengan biaya produksi termahal pada zamannya. [Martin Sitompul]. Film India Pertama Sukses Internasional Film Awaara , rilis tahun 1951, dengan Raj Kapoor sebagai produser, sutradara, dan pemeran utamanya. Komposisi musik digarap tim Shankar Jaikishan. Soundtrack -nya dianggap inovatif dan penggambaran lagunya luar biasa, sehingga disebut-sebut sebagai mahakarya di era keemasan film India. Selain di dalam negeri, film ini meraih sukses di Timur Tengah, Afrika, bekas Uni Soviet, dan Asia Timur, bahkan menjadi box office  di Afro-Asia dan Timur Tengah. Para pemain dan lagu-lagunya jadi populer. Menurut Sangita Gopal dan Sujata Moorti dalam “Travels of Hindi Song and Dance”, pengantar dalam buku Global Bollywood , Awaara  memang bukan satu-satunya film India yang beredar di luar negeri tapi ia adalah yang pertama meraih popularitas berkat lagu-lagunya. Sukses Awaara  diikuti oleh film Aan  (1952), Mother India  (1957), dan beberapa film yang belakangan tayang. [Aryono]. Di Manakah Bioskop Pertama? Bioskop berasal dari bahasa Yunani, bios  yang berarti hidup dan skopeein  yang berarti melihat. Kehadiran bioskop tak bisa dilepaskan dari Athanasius Kircher, seorang Italia. Pada 1640, dia memulai langkah memanipulasi gambar sehingga tampak bergerak. Temuannya itu disebut magia catotrica  atau lentera ajaib. Setelah temuan itu, Simon Ritter von Stampfer mengkreasi stroboscope , gambar tembus pandang yang bisa dibersitkan cahaya pada 1853. Perkembangan menjadi lebih cepat selepas itu. Puncaknya terjadi pada pertunjukan di Paris, 28 Desember 1895. Adalah Lumiere bersaudara yang menyediakan gedung tertutup untuk melihat gambar bergerak. Pertunjukan itu terjadi di kedai kopi. Orang harus membayar jika ingin melihat pertunjukan itu. Sebelumnya, pertunjukan demikian telah diputar di Atlanta, Amerika Serikat, pada 1895 dan Berlin pada 1 November 1895. Namun, orang tak perlu membayar untuk melihatnya. Karena itu, pertunjukan di Paris tetap dianggap sebagai bioskop pertama. Di Manakah Drive-in-Theatre Pertama? Drive-in-theatre  adalah konsep menonton bioskop di luar ruangan, mirip layar tancap di Indonesia, namun penontonnya berada di dalam mobil. Jadi, seperti sebuah tempat parkir dengan fasilitas layar lebar. Drive-in-theatre  diperkenalkan di Las Cruces, New Mexico, Amerika Serikat, pada 11 Juni 1914 ketika Airdome Theater dibuka. Film pertama yang diputar adalah For Napoleon and France  karya sutradara Enrico Guazzoni. The Airdome Theater kemudian ganti nama jadi Movieland Theater sebelum tutup pada Oktober 1926. Masih di Las Cruces, Theatre de Guadlupe dibuka pada April 1915. Ia tutup lebih cepat dari pendahulunya, yakni pada Juli 1916. Drive-in-theatre  kemudian mewabah di Amerika Serikat. Konsep drive-in-theatre  dipatenkan Richard M. Hollingshead, Jr. di Chamden, New Jersey, pada 6 Juli 1933 setelah dia membuka drive-in-theatre  di depan rumahnya setahun sebelumnya. [Arief Ikhsanudin].

  • Seragam Jerman Nazi Buatan Hugo Boss

    STYLISH dan tampak gagah. Demikianlah penampakan seragam perwira hingga para serdadu Jerman Nazi di Perang Dunia II. “Kalau saya lihat memang obyektif ya. Orang yang mengenakan seragam Jerman itu lebih (tampak) gagah dibandingkan seragam militer Amerika (Serikat), Inggris, dll. Pertama , mungkin karena desainnya. Kedua , karena reputasi militer mereka juga. Kalau seragam Jerman sekeren itu tapi (reputasi militernya) acak-acakan kayak Italia, enggak akan heboh sampai sekarang. Jadi ada korelasinya,” ujar pemerhati sejarah militer Jerman Nazi Alif Rafik Khan kepada Historia. Kendati reputasi militer Jerman kala Perang Dunia II menuai banyak decak kagum, keputusannya memulai perang dan kekejian para kombatannya dalam holocaust atau pembantaian jutaan orang Yahudi dan sejumlah ras yang dianggap inferior membuatnya diabadikan sebagai penjahat. Akibatnya, hingga kini siapapun yang mengenakan seragam Jerman Nazi model apapun, kecuali untuk keperluan film bertema Perang Dunia II, mesti siap-siap dihujat sampai dilaknat. Musikus Ahmad Dhani pernah mengalaminya pada 2014. Mengenakan seragam hitam menyerupai tunic sebagaimana yang pernah dipakai Heinrich Himmler, salah satu gembong Nazi, lengkap dengan sepasang pangkat Reichsführer-SS atau komandan tertinggi pasukan Schutsztaffel (paramiliter Partai Nazi) dan pita Blutorden (pita merah darah penghargaan Kudeta Munich, 9 November 1923), Dhani pun jadi bulan-bulanan di jagat maya. Baca juga: Blitzkrieg , Serbuan Kilat ala Nazi Seragam M32 yang dipakai Reichsführer-SS Heinrich Luitpold Himmler (kiri) & replikanya yang dipakai Ahmad Dhani (Foto: ushmm.org/Youtube High Voltage) Yang dipakai Ahmad Dhani adalah seragam SS model M32 yang didesain Oberführer (setara kolonel) Karl Diebitsch dan diproduksi Hugo Boss. Satu dari beragam seragam modismiliter Jerman Nazi itu dibuat sebagai pelengkap propaganda. Propaganda Nazi lewat fesyen militer dipopulerkan oleh sayap militer Partai Nazi, Sturmabteilung (SA). Ciri khas seragam SA adalah kemeja cokelat dan celana hitam. Atasannya lazim dilengkapi sabuk selempang hitam dan armband swastika merah di lengan dan bawahannya celana hitam model breeches (menggembung di bagian paha). “Seragam cokelat ini diinisiasi Gerhard Roßbach (veteran Perang Dunia I yang turut membangun SA) pada 1924 yang memanfaatkan surplus kemeja denim tropis militer Austria. Setahun kemudian oleh Hitler yang baru keluar dari penjara diresmikan sebagai seragam resmi SA, lengkap dengan atributnya,” tulis John Toland dalam Adolf Hitler . Seragam yang mirip ini juga diperuntukkan bagi para anggota Hitlerjugend (organisasi pemuda Nazi sejak berdirinya 1926). Bedanya hanya pada celana hitam pendek, dasi kepanduan hitam, dan armband khas Hitlerjugend berupa swastika dengan kombinasi merah-putih-merah. Baca juga: Heinrich Himmler, Arsitek Genosida Nazi Ilustrasi seragam Sturmabteilung (kiri) & Hitlerjugend (Foto: Bundesarchiv) Sedangkan seragam SS, pasukan paramiliter yang langsung berada di bawah Hitler, bukan partai sebagaimana SA, sejak 1932 berupa atasan-bawahan hitam dengan armband swastika merah. Seragam ini didesain Diebitsch, seniman yang juga veteran Perang Dunia I, dibantu desainer grafis Walter Heck. “Sejak awal SS memang punya desainernya sendiri. Adalah Oberführer Karl Diebitsch di masa antar-perang. Seragam yang dirancang, seragam M32 yang seperti dipakai Himmler, di mana dasarnya juga menjiplak seragam fasis Italia ( Camicie Nere /Pasukan Hitam) tapi dirancang lebih keren,” sambung Alif yang juga penulis 1000+ Fakta Nazi Jerman . Seragam Stylish Produksi Hugo Boss Sudah jadi rahasia umum bahwa ada brand fesyen ternama di balik seragam-seragam Nazi. Di antara banyak produsen, Hugo Boss yang paling tenar. “Dia (Hugo Boss) intinya membuat, bukan mendesain. Jadi semacam konveksi seragamnya, baik untuk model perwira sampai prajurit. Ini yang salah kaprah selama ini beredar, bahwa dikatakan Hugo Boss mendesainnya. Itu enggak benar. Dia cuma salah satu produsen yang paling terkenal saja,” tambah Alif. “Hugo Boss memang awalnya fokus memproduksi seragam SA, SS, dan Hitlerjugend. Itupun tidak dalam artian memonopoli produksinya. Tapi dia salah satu produsen yang terbesar sejak dia jadi anggota Partai Nazi. Sebelum itu kan dia hampir bangkrut,” lanjutnya. Baca juga: Jojo Rabbit , Satir Pemuda Hitler Hugo Ferdinand Boss (kiri) & Oberführer Karl Diebitsch (Foto: Bundesarchiv/thirdreicharts.com) Hampir bersamaan dengan berdirinya Divisi SS Totenkopfverbände atau Divisi Tengkorak pada 1936, Hugo Boss memulai produksi seragam M32 dengan warna berbeda, tak lagi hitam melainkan erdgrau atau kelabu. Itu lantas diikuti oleh unit-unit SS. Selain warna, armband swastika pada seragam M32 diganti emblem elang Jerman SS di lengan kiri dan cuff title atau pita manset yang bertuliskan nama divisi. Pola atribut itu tetap eksis ketika SS punya beraneka model seragam tempur di Perang Dunia II. Namun, itu tidak berlaku pada tiga matra militer reguler Jerman (Wehrmacht). “Kalau untuk militer reguler, seragamnya dari zaman Reichswehr (Angkatan Bersenjata Jerman sebelum rezim Nazi) biasanya sudah punya konveksi sendiri dan punya desainernya masing-masing. Itupun desainnya mencomot seragam era Reichswehr, hanya ditambah (emblem) elang Nazi. Hugo Boss di masa perang juga ikut memproduksi tapi memang pesanannya tak sebesar ketika dia memproduksi seragam untuk SS,” terang Alif. Beda seragam lapangan ( feldbluse ) Wehrmacht dan SS terletak pada atribut. Pada seragam pasukan SS, atribut di kerah tunic -nya berupa lambang SS (mirip petir) di sisi kanan dan tanda kepangkatan di sisi kiri. Sementara pada seragam Wehrmacht, kerahnya sekadar litzen atau sepasang lis perak untuk prajurit, dan ornamen bordir keemasan alt-Larisch – yang terinspirasi dari simbol Resimen Infantri ke-26 Prusia di abad ke-18– untuk perwira tinggi. Baca juga: Hermann Goering pendiri Schutzstaffel (SS) Detail perbedaan letak atribut Wehrmacht (kiri) dan SS yang mencolok di bagian kerah dan lengan (Foto: unt.edu/Randy Wirayudha) Seragam SS di lengan kirinya juga disematkan emblem elang Nazi, sementara seragam Wehrmacht emblem diletakkan di dada kanan. Untuk pengenal unit, SS menandainya dengan pita manset di tangan kiri, sementara Wehrmacht menyematkan lambang masing-masing kesatuan pada sepasang pangkat di bahu. Seiring munculnya beragam varian model seragam, perubahan dan perbedaan pun muncul. Seragam M36 ( Dienstanzug Modell 1936), misalnya, memiliki empat saku berkerut (dua di atas dan dua di bawah tunic ) meski warnanya masih sama feldgrau (abu-abu kehijauan). M36 juga dilengkapi lidah saku berbentuk mirip kerang dan kerah berwarna hijau gelap. Di era Reichswehr, seragamnya hanya memiliki sepasang saku di bagian bawah tunic dan warna kerahnya tak beda dengan keseluruhan seragam. Baca juga: Empat Senjata Jerman yang Mengubah Dunia Seragam M36 berbeda dari M40 pada bagian kerah dan warna lidah bahu untuk pangkatnya, dari hijau gelap menjadi feldgrau atau sewarna dengan keseluruhan seragam. Adapun pada varian M41, pasukan SS mempertahankan lima kancing pada tunic -nya sebagaimana era awal, sementara Wehrmacht menggunakan enam kancing. Sementara, varian M42 memiliki ciri kantong rata, tak lagi berkerut. Pada varian M43, semua lidah sakunya dibuat rata, bukan lagi berbentuk mirip kerang. Untuk varian M44, panjang seragam tak lagi sepaha namun hanya sampai lingkar pinggang. Ukurannya mirip Sonderberkleidung der Panzertruppen (seragam kru tank). Bedanya, seragam kru tank sejak 1934 berwarna hitam dengan model kerah terbuka dan posisi kancing terletak di pinggang kanan, tak lagi di tengah. Seragam varian M43 untuk unit SS yang bentuk saku sudah berbentuk kotak tanpa kerutan (Foto: Randy Wirayudha/HISTORIA) Sementara, seragam kru panzer Wehrmacht dilengkapi simbol tengkorak di kedua kerahnya. Ini mengikuti simbol pasukan kavaleri “Black Hussars” pimpinan Marsekal August von Mackensen di Perang Dunia I. Adapun kru tank SS tetap menggunakan simbol petir. “Seragamnya seperti jaket berbahan wol. Warna hitam agar lebih praktis karena takkan terlihat kotor jika terkena oli dan jaket berukuran pendek agar tak tersangkut apapun di dalam panser. Biasanya dilengkapi sidecap (peci lapangan) atau baret hitam,” ungkap Franz Kurowski dalam Panzer Aces: German Tank Commanders of WWII . Baca juga: Erwin Rommel Si Rubah Gurun Selain faktor simbolis dan praktis, iklim menjadi faktor penting dalam desain seragam pasukan Jerman. Itu sebabnya seragam pasukan Afrikakorps pimpinan Marsekal Erwin Rommel di front Afrika Utara menggunakan bahan katun, bukan wol. Dimodifikasi dari varian M40, seragam Afrikakorps berwarna khaki kehijauan. Iklim panas membuat pasukan ini sering mengenakan celana pendek dengan warna serupa. Pola-pola seragam berikut atributnya itu semua masih digunakan Bundeswehr (sebutan pengganti Wehrmacht) pasca-Perang Dunia II. Namun, elang Nazi tak lagi dipakai. Seragam kru tank untuk Wehrmacht (kiri) & SS yang jadi inspirasi seragam M44 (Foto: Bundesarchiv) Nasib Hugo Ferdinand Boss sendiri ikut tenggelam bersama Nazi. Pria yang mempekerjakan sekitar 200 pekerja paksa selama masa perang itu dipersekusi dan dicap pendukung Nazi usai perang. Ia meninggal pada 9 Agustus 1948 akibat infeksi bakteri dari abses giginya . Namun , nasib sang pendiri beda dengan brand -nya. Meski pada 1946 dilarang memproduksi busana, brand Hugo Boss bangkit begitu larangan tersebut dicabut pada 1950. Lewat upaya menantunya, Eugen Holy, Hugo Boss terus melaju hingga menjadi brand premium di tingkat global sampai sekarang. Produknya tak lagi hanya busana, tapi juga merambah ke sepatu dan parfum. Kendati sempat mengupayakan penutupan masa lalu kelamnya, Hugo Boss akhirnya meminta maaf. Permintaan maaf itu dikeluarkan sejak masa lalu sang pendiri terbongkar lewat terbitnya buku Roman Köster(2011) berjudul Hugo Boss, 1924-1945: Die Geschichte einer Kleiderfarbrik zwischen Weimarer Republik und Drittem Reich (terj. Hugo Boss, 1924-1945: The History of Clothing Factory during Weimar Republic and Third Reich ). “Kami menyampaikan penyesalan terhadap mereka yang menderita dan mengalami kerja paksa di pabrik yang dijalankan Hugo Ferdinand Boss di bawah rezim Nazi,” demikian pernyataan Hugo Boss dalam buku itu, dikutip The Jewish Chronicle , 22 September 2011. Baca juga: Kombatan Yahudi Mantan Nazi

  • Kisah Penganiayaan oleh Polisi di Era 1970-an

    Oknum kepolisian yang melakukan penganiayaan jadi sorotan pemberitaan belakangan ini. Bermula dari pengakuan Sarpan, seorang kuli bangunan yang digebuki polisi sampai mukanya bonyok di sel tahanan Polsek Percut Sei Tuan, Medan. Sarpan saat itu diperiksa sebagai saksi kasus pembunuhan kernetnya bernama Dodi. Karena dianggap memberikan keterangan berbelit-belit, polisi penyidik menganiaya Sarpan lewat cara memukul, menendang, sampai menyetrumnya. Kepolisian Daerah Sumatra Utara akhirnya mencopot 9 anggotanya yang terbukti bersalah melakukan tindak penganiayaan itu.    Cara penyidikan polisi yang brutal memang kerap terjadi. Penganiayaan kadang dijadikan metode ampuh interogasi untuk mengorek keterangan dari saksi ataupun tersangka. Akan tetapi, praktik demikian tentu saja tidak sesuai dengan kemanusiaan bahkan bisa berujung nyawa melayang. Kasus serupa pernah bikin gempar institusi kepolisian pada dekade 1970. Aksi penganiayaan itu menyeret personil Tim Khusus Anti Bandit yang lebih dikenal dengan nama “Tekab”. Saat itu, reputasi Tekab sedang naik daun sebagai satuan buru sergap para penjahat di Jakarta. “Media massa kan publikasikan, ya terkenal. Jadi kayak publik figur tapi invisible  gerakannya,” ujar Teguh Esha wartawan Jakarta dekade 1970-an kepada Historia. Sisi Gelap Tekab Menurut Teguh Esha, bandit-bandit ibu kota bakalan ciut nyalinya begitu mendengar nama besar Tekab. Anggota polisi yang masuk Tekab punya kualifikasi khusus: berani, jago bela diri, berfisik kuat, dan mahir menembak. Tekab Jakarta segera menjadi model untuk kepolisian di kota-kota besar provinsi lain. “ Bandit-bandit ngeper (takut) juga tuh,” seloroh mantan wartawan yang juga pengarang novel legendaris Ali Topan Anak Jalanan itu. Namun pada medio 1973, Tekab harus menghadapi masalah hukum yang serius. Martawibawa alias Tan Tjong, tahanan Komdak Metro Jaya, meninggal dunia akibat penganiayaan yang dilakukan tiga anggota Tekab. Ketiganya adalah Letda Polisi Chairul Bahar Muluk beserta dua pembantunya, Peltu Sutaryo dan Pelda I Wayan Mangku. Martawibawa tersangka kasus makelar mobil dan keimigrasian itu mengalami kekerasan fisik: mata lebam, rahang bergeser, luka di kepala, serta tangan dan kaki lecet. Di pengadilan militer, Muluk mengakui menghajar Martawibawa karena dianggap memberikan keterangan berbelit-belit. Pengadilan memutuskan ketiganya bersalah atas penganiayaan yang berujung pada kematian. Muluk diganjar hukuman penjara tiga tahun sedangkan dua rekannya setahun lima bulan. Kejadian tersebut merusak citra Tekab yang kadung dianggap sebagai pelindung warga ibukota. Komandan Tekab, Mayor Polisi Seman, pun menyesali tindakan anak buahnya. “Ia (Muluk) polisi muda kepercayaan saya, sayang ia kurang bisa menahan luapan emosinya. Muluk adalah tenaga muda yang cekatan menghadapi tugasnya,” ujar Seman dikutip Tempo , 14 Juli 1973. Dalam Kompas , 25 Juni 1973, Mayor Seman menyatakan, Tekab sedapat-dapatnya tidak akan menggunakan kekerasan lagi. “Saya tidak mau peristiwa Martawibawa terulang kembali, hingga anggota-anggota saya dihadapkan ke Mahkamah ABRI,” ujarnya. Perilaku minus aparat Tekab sampai ke telinga Panglima Komando Pemulihan Keamanan dan Ketertiban (Pangkopkamtib) Jenderal Soemitro. Sebagaimana diwartakan Ekspres , 18 Mei 1973, dalam pertemuan Kopkamtib yang dihadiri Kapolri Jenderal Widodo Budidarmo, Soemitro melayangkan teguran keras: tidak ingin mendengar lagi bercokol “polisi kampungan”. Dalam tesisnya, “Kejahatan di Jakarta: Peranan Polri dalam Pencegahannya 1970-1980-an” yang dipertahankan di Universitas I ndonesia, I Gde Putu Gunawan menyebut peran Tekab mulai tereduksi ketika Awaloedin Djamin menjabat sebagai Kapolri. Di era Awaloedin, kepolisian mulai melibatkan peran masyarakat dalam menanggulangi kejahatan. Alasannya, mengurangi kejahatan t id ak cukup hanya dengan menangkap pelakunya. Awaloedin kemudian mencanangkan Sistem Keamanan dan Ketertiban Masyarakat Swakarsa (Siskamtibmas Swakarsa). Melalui Siskamtibmas, partisipasi masyarakat diperluas guna membantu kinerja kepolisian. Sejak 1981, program Siskamtibmas dijalankan masing-masing kepolisian daerah (Polda). Salah satu wujudnya adalah sistem keamananan lingkungan (siskamling) yang masih berlaku hingga kini .

  • Cornel Simanjuntak, Komponis yang Bertempur

    Merantau dari Pematang Siantar ke Magelang, Cornel Simanjuntak awalnya mengambil pendidikan guru. Tapi di sekolah, ia justru memperdalam kemampuan bermusiknya. Ia kemudian menjadi komponis andal sekaligus pejuang. Pemuda kelahiran tahun 1921 ini belajar musik ketika menempuh pendidikan di Holandsche Indische Kweekschool (HIK) St. Xaverius College, Magelang. Melalui ekstrakulikuler musik, ia bergabung dengan paduan suara, memimpin orkes, dan mulai menciptakan lagu. Ia belajar dari Pastor J. Schouten. Kemampuan di bidang musik di kemudian hari menjadi bagian hidup yang tak terpisahkan dari Cornel. Ia terus mencipta lagu dan bermusik ketika Jepang masuk ke Indonesia hingga tahun-tahun tak menentu pasca Proklamasi kemerdekaan. Di Bawah Jepang Ketika Jepang mulai menduduki Indonesia pada 1942, kehidupan di Magelang menjadi kacau. Kegiatan sekolah dihentikan dan para pastor ditawan Jepang. Cornel hendak melaksanakan ujian dianggap sudah lulus. Cornel sempat menjadi guru di Magelang tapi tak lama. Ia berhenti dan sempat tak ada kabar. Binsar Sitompul, adik kelasnya di Xaverius College, menyebut bahwa suatu ketika ia mendengar lagu-lagu yang disiarkan oleh Jepang begitu mirip dengan lagu-lagu gubahan Cornel. Ternyata benar, lagu-lagu itu ciptaan Cornel. Awalnya Binsar heran, mana mungkin Cornel mau tunduk dan bekerja untuk kepentingan propaganda Jepang. Belakangan ia tahu bahwa Cornel memanfaatkan Jepang untuk tetap berkarya. “Cornel membuat lagu-lagu propaganda Jepang hanyalah untuk menjaga agar kesempatan mencipta tetap terbuka, sesuai dengan keinginannya sendiri. Selain itu juga agar tetap terbuka saluran baginya untuk menyiarkan hasil-hasil karyanya kepada masyarakat luas melalui radio,” tulis Binsar dalam Cornel Simanjuntak, Komponis, Penyanyi, Pejuang . Selain itu, Cornel juga memanfaatkan paduan suara yang mendapat subsidi pemerintah Jepang. Ia menerima imbalan dari lagu-lagu yang dibuatnya untuk keperluan hidup pada masa sulit itu. Cornel bekerja di Keimin Bunka Shidosho  atau Pusat Kebudayaan bagian musik. Pada masa ini pula, ia banyak berkesenian dengan tokoh-tokoh sezaman. Ia bergabung dengan perkumpulan sandiwara Maya bersama Usmar Ismail, Chairil Anwar, Rosihan Anwar, hingga S. Sudjojono. “Melalui lakon-lakon yang dipentaskan, tampak jelas warna sebenarnya perkumpulan ini, yaitu cita-cita kemerdekaan, bebas dari penjajahan,” sebut Binsar. Turut Bertempur Merujuk J.A. Dungga dan Liberty Manik, Ensiklopedia Musik Volume II  menyebut bahwa kerja-kerja Cornel sebagai komponis setidaknya bisa ditinjau dalam tiga masa kreatif. Pertama, Cornel membuat lagu-lagu yang menggunakan melodi baru namun dengan interval yang sederhana. Komposisi ini dapat didengar dari lagu Asia Sudah Bangun  dan Indonesia Merdeka  yang lebih dikenal dengan judul Sorak-Sorak Bergembira . Kedua, masa ketika Cornel berkompromi dengan selera radio yang lagunya berpola setengah klasik dan setengah hiburan. Lagu seperti Citra  dan Mekar Melati yang penah menjadi lagu untuk festival film nasional masuk dalam masa ini. Ketiga, masa di mana Cornel semakin diakui kredibilitasnya sebagai komponis. Lagu seperti O, Angin , Kemuning , dan Pinta Lagi  yang berangkat dari puisi yang dimusikalisasi termasuk dalam masa ini. Pasca Proklamasi, Cornel bergabung dengan Angkatan Pemuda Indonesia (API) yang bermarkas di Menteng 31. Pada akhir Desember 1945, ia turut bertempur melawan serdadu Belanda di Tangsi Penggorengan. Cornel juga disebut memimpin pasukan di daerah Tanah Tinggi. Menurut Binsar, ketika baku tembak di daerah Senen, peluru menembus paha Cornel sehingga harus dilarikan ke rumah sakit. Selang beberapa hari, tersiar kabar Belanda hendak menggeledah rumah sakit dan menangkap pemuda-pemuda yang terluka. Cornel lalu mengungsi ke Karawang, kemudian pindah ke Yogyakarta. Di Yogyakarta, kesehatan Cornel menurun dan mulai mengidap penyakit paru-paru. Meski demikian, ia tetap menulis tentang musik dan menciptakan lagu. Setelah delapan bulan dirawat, Cornel meninggal dunia pada 15 September 1946. Cornel mendapat anugerah Satya Lencana Kebudayaan dari Menteri Pendidikan dan Kebudayaan pada 1962.

  • Arti Ibu Pertiwi hingga Pekik Merdeka

    Istilah Ibu Pertiwi Ibu Pertiwi merujuk pada personifikasi nasional negara Indonesia. Ibu Pertiwi sudah dikenal sejak zaman Hindu-Buddha di Nusantara sebagai dewi bumi dan lingkungan hidup, atau Dewi Prthvi dalam bahasa Sanskerta saat itu. Seiring perkembangan zaman, Ibu Pertiwi menjadi kata kiasan untuk menyebut tanah air tempat lahirnya bangsa Indonesia. Ibu Pertiwi populer dalam berbagai lagu dan prosa perjuangan, seperti lagu “Ibu Pertiwi” dan “Indonesia Pusaka”. Kata Ibu Pertiwi juga kerap digunakan di media untuk menyebut Indonesia secara kiasan atau dalam kalimat yang berkonteks puitis. [Rahadian Rundjan] Sebutan Puitis untuk Nusantara Insulinde. Berasal dari bahasa Latin, insula  (pulau) dan Inde  (India). Istilah ini diperkenalkan Multatuli dalam romannya yang berjudul Max Havelaar  pada 1860. Multatuli, yang bernama asli Eduard Douwes Dekker, menyebut Indonesia sebagai “Kerajaan Insulinde yang megah melingkari khatulistiwa bak untaian zamrud.” Pernyataan bernada ironi ini dimaksudkan untuk menyindir bangsa Belanda yang menjajah, memeras, dan berlaku sewenang-wenang terhadap penduduk asli Hindia Belanda. Pada 1913, Insulinde digunakan sebagai nama partai untuk menggantikan Indische Partij setelah para pemimpinnya, Tjipto Mangunkusumo, Suwardi Suryaningrat, dan Ernest Douwes Dekker, diasingkan oleh pemerintah Hindia Belanda. [Martin Sitompul]. Nama Indonesia Pertama Kali Muncul Jauh sebelumnya, ada banyak sebutan untuk Indonesia. Yang paling umum adalah Nusantara; nusa  artinya pulau, antara  adalah lain atau seberang. Kata ini dipakai Majapahit untuk menyebut semua wilayah taklukkannya, yang membentang antara benua Asia dan Australia. Sebutan ini tersua dalam naskah-naskah Jawa Kuno pada abad ke-14. Memasuki abad ke-17, kepulauan penghasil rempah ini biasa disebut Hindia Timur ( Oost Indische ). Ada pula sebutan Kepulauan Timur ( The Eastern Islands ), Kepulauan Hindia ( Indian Arciphelago ), Lautan Timur ( The Eastern Seas ), dan Pulau-Pulau Hindia ( Insulinde ). Pada 1850, George Samuel Windsor Earl, seorang pelancong dan pengamat sosial asal Inggris, menggagas kata Indonesia  untuk mewakili sekelompok ras manusia (Polinesia) yang menghuni kepulauan Hindia (etnografis). Sejawatnya, James R. Logan, seorang etnolog, berpendapat kata itu lebih baik dimasukkan dalam istilah geografis karena pemendekan dari Kepulauan Hindia. Sedangkan untuk menyebut penduduknya, Logan mengusulkan kata Indonesian . Belanda Memilih Nama Hindia Belanda Alternatif nama Hindia Belanda pernah diangkat pada 1919. Volksraad  (Dewan Rakyat) mendiskusikan usulan empat nama: Indonesie, Insulinde, Hindia Belanda, dan OostIndie. Dalam pemungutan suara tanggal 26 April 1919, nama Insulinde menang dengan 16 suara. Namun, beberapa hari kemudian, keputusan itu dipersoalkan, dan sebagai gantinya Hindia dipilih tanpa perdebatan dengan alasan sudah dikenal dengan baik. Pada Oktober 1920, Komisi Negara hendak mengubah konstitusi Hindia Belanda. Setelah disetujui pemerintah, pasal 1 itu berbunyi: “Kerajaan Belanda meliputi Belanda, Hindia Belanda, Suriname, dan Curacao…” Pasal itu didiskusikan dalam Volksraad  di Batavia pada 26–29 April 1921. Sebelumnya, pada awal tahun, Dirk van Hinloopen-Labberton, seorang guru yang tersentuh gerakan dan partai-partai yang muncul di Jawa, mempersiapkan amandemen yang mengusulkan nama Indonesia. Dia mempersiapkannya dengan Ch. Crammer dan Th. Vreede, sehingga dikenal sebagai amandemen Labberton-Cramer-Vreede. Amandemen ini ditolak sehingga tak dibahas dalam sidang Volksraad  pada April 1921. Beberapa orang di Volksraad  meremehkannya sebagai “baru pantas bagi nama sebuah jenis cerutu.” Sejak awal, pemerintah sudah menekankan bahwa sebutan Hindia Belanda secara esensial mempunyai arti dalam hukum internasional. Second Chamber  dari parlemen di Belanda mendiskusikannya pada 1 November 1921. Terinspirasi amandemen Labberton-Cramer-Vreede, W. van Ravesteyn, wakil dari komunis, menekankan sebutan Indonesia. Nasibnya juga sama. Amandemennya ditolak. Indonesia sebagai Identitas Politik Cerdik-cendekia bumiputra yang menempuh studi di Negeri Belanda mengubah nama perkumpulan mereka, Indische Vereeniging  (Perhimpunan Hindia) yang berdiri pada 1908 menjadi Perhimpunan Indonesia (PI) pada 1925. Kata Indonesia  digunakan untuk merujuk sebuah cita-cita negara baru, sebuah identitas politik. Dalam Kongres Demokrasi Internasional untuk Perdamaian di Bierville, dekat Paris, pada Agustus 1926, untuk kali pertama nama Indonesia  diperkenalkan. Mohammad Hatta mewakili PI dalam pidatonya mengutarakan perjuangan rakyat Indonesia untuk kemerdekaan nasionalnya. Atas penggunaan nama itu dalam arti politik, pemerintah Belanda melarang pemakaian nama Indonesia  di Hindia Belanda. Tapi tak ada yang bisa membendungnya. Garuda Menjadi Lambang Negara Kala Sukarno telah merumuskan Pancasila pada 1 Juni 1945, dia menginginkan konsepnya divisualisasikan. Visualisasi itu akan dipakai sebagai lambang negara. Namun, lambang itu tak kunjung dibuat hingga lima tahun setelahnya. Barulah pada 1950, Sukarno secara resmi mengeluarkan sayembara lambang negara. Pada 10 Januari 1950, Sukarno membentuk sebuah panitia yang bertugas menyeleksi lambang negara. Koordinatornya adalah Sultan Hamid II, menteri negara zonder portofolio. Terpilih dua karya terbaik. Masing-masing dari Sultan Hamid II dan Mohammad Yamin. Keduanya bergambar garuda. Dua karya itu lalu diajukan ke DPR Republik Indonesia Serikat (RIS). Mereka lebih menerima karya Sultan Hamid II lantaran karya Mohammad Yamin dianggap mencitrakan pengaruh Jepang dengan penyertaan sinar-sinar matahari. Kemudian lambang itu diperlihatkan ke Sukarno pada 8 Februari 1950. Setelah melalui beberapa penyempurnaan, gambar garuda itu akhirnya diterima sebagai lambang resmi negara RIS pada 11 Februari 1950. Sukarno kemudian memperkenalkannya kepada publik kali pertama pada 15 Februari 1950 di Hotel Des Indes. Pada 20 Maret 1950, lambang itu disempurnakan kembali oleh pelukis istana, Dullah. Melalui Peraturan Pemerintah No. 66 Tahun 1951, lambang itu secara resmi digunakan. Dari Mana Asal Garuda Garuda merupakan nama umum untuk seekor elang mitologis. Burung ini terdapat dalam relief-relief di Candi Dieng (abad ke-9). Bentuk kepalanya seperti manusia, namun berparuh. Relief di Candi Prambanan dan Panataran juga memuat gambaran burung ini. Selain dalam relief, garuda digunakan dalam lambang dan stempel kerajaan-kerajaan di Jawa. Dalam khazanah pewayangan, garuda dikenal sebagai sosok yang penuh keberanian, setia, dan terhormat. Gambaran ini tersua dalam cerita Mahabharata  yang diadopsi untuk lakon wayang. Nama burung itu Jatayu. Citra perkasa burung itu melekat hingga Indonesia merdeka. Pekik Merdeka Mengkhalayak Kata “merdeka” berasal dari bahasa Sanskerta, maharddhika . Kata ini tersua dalam naskah kakawin Nitisastra  bertitimangsa abad ke-15. Artinya, telah bebas dari soal keduniawian. Kata ini lambat laun diucapkan “merdeka”. Kata "merdeka" beroleh pengertian baru selama masa pergerakan kebangsaan (1908–1945). Sejumlah koran di Hindia Belanda memuat kata ini dalam pengertian “bebas dari penjajahan”. Usai Proklamasi, Bung Karno kerap memberi salam dengan memekik “merdeka!” Bersama itu, tangannya terkepal dan diangkat setinggi bahu. Karena dilakukan seorang tokoh, salam ini lekas mengkhalayak. Pemerintah bahkan menetapkan pekik “merdeka” sebagai salam nasional melalui Maklumat Pemerintahan 31 Agustus 1945. [Hendaru Tri Hanggoro].

  • Pionir Sarung Tangan Kiper

    IBARAT belahan jiwa bagi seorang kiper, sarung tangan selalu menemani dalam segala situasi kemelut di muka gawang. Sebuah perlengkapan sepele dan jarang diperhatikan orang namun bagian tak terpisahkan dari kiper dalam sepakbola dan menarik sejarahnya, sampai PSSI mengunggah pengetahuan asal-mula sarung tangan kiper lewat berbagai akun media sosialnya. Menurut keterangan yang diunggah PSSI, kiper pertama yang menggunakan sarung tangan adalah Amadeo Carrizo, kiper River Plate dan timnas Argentina, pada tahun 1940. “Sarung tangan berbahan wol tersebut digunakan sebagai penghangat untuk menghadapi cuaca dingin. Bahkan jari tangan para penjaga gawang dapat terasa beku hingga kesulitan saat menangkap bola. Seiring berjalannya waktu, pada 1973, perusahaan sarung tangan asal Jerman menggandeng Sepp Maier, penjaga gawang timnas Jerman Barat untuk merancang sarung tangan khusus penjaga gawang sepak bola. Sarung tangan ini dirancang agar bisa membantu dan meningkatkan performa di bawah mistar gawang,” tulis PSSI di Facebook , Twitter dan Instagram-nya , Selasa (14/7/2020). Baca juga: Kiper Der Panzer Keblinger Blunder Disebutkan kiper pertama yang mengenakan sarung tangan adalah Amadeo Raúl Carrizo asal Argentina  (Foto: Facebook PSSI) Entah admin PSSI mencomot sumber dari mana, informasi yang diunggah tidak tepat. Kiper sudah menggunakan sarung tangan jauh sebelum era Carrizo. Perusahaan peralatan olahraga yang pertamakali merancang sarung tangan pun bukan dari Jerman. Bukan Sekadar Penghangat Sarung tangan bukan perlengkapan kiper yang diwajibkan FIFA lewat regulasinya sampai saat ini. Dalam “Equipment Regulations” FIFA , kiper diperbolehkan memakainya, boleh juga tidak. Warna sarung tangan yang diperbolehkan adalah warna apapun kecuali warna serupa dengan jersey . Banyak kiper mencopot sarung tangannya, semisal Ricardo Pereirakiper Portugal di Euro (Piala Eropa) 2004. Untuk pemain non-kiper, sarung tangan lazimnya dikenakan sebagai penghangat ketika udara dingin. Tetapi bagi kiper, sarung tangan lebih dari sekadar penghangat. Ia merupakan pelindung terpenting selain deker di tulang kering. Oleh karenanya maka teknologi dalam sarung tangan terus dikembangkan produsen sejalan dengan sepatu bola dan jersey. Baca juga: Kiper Brasil yang Dilaknat hingga Akhir Hayat Dimulai dari berbahan wol, sarung tangan kiper terus disempurnakan dengan menggunakan bahan kulit, karet, hingga dilengkapi fitur pelindung tambahan di bagian jari-jarinya. Tujuannya mencegah jari membengkok atau patah ke arah belakang. Contohnya adalah sarung tangan evoDISC buatan Puma, produsen alat olahragaasal Jerman, yang kemunculannya pada 2017 bikin heboh ketika mulai dipakai Petr Cech, kiper klub Inggris Arsenal. Keunggulan sarung tangan evoDISC yakni bagian punggung tangannya dilapisi lateks sebagai pelindung dan di pergelangan tangan dilengkapi sistem cakram evoDISC untuk menyesuaikan ukuran tangan. Jadi untuk mengencangkan sarung tangan, tak lagi pakai velcro atau strap pelekat “kreket”. Sarung tangan buatan William Sykes pada 1885 (kiri) & yang termutakhir evoDISC buatan Puma pada 2017 (Foto: dpma.de/puma.com ) Sebagaimana sepakbola modern itu sendiri, sarung tangan kiper pertamakali dibuat dan dipatenkan desainnya di Inggris. Mengutip situs Deutsches Patent- und Markenant , adalah Wm. Sykes & Sons, pabrik peralatan olahraga asal Inggris, yang pertama mendesain dan mematenkannya pada awal 1885. Pabrik milik pebisnis Inggris William Sykes (sejak awal abad ke-20 merger menjadi Slazenger) ini mulanya memproduksi alat olahraga kriket berbahan kulit. “William Sykes mematenkan sepasang sarung tangan kulit untuk kiper. Sarung tangannya dilapisi karet India untuk perlindungan dan bantalan (tangan kiper),” tulis situs itu. Baca juga: Skandal Kiper Cile Robert Rojas demi Piala Dunia Namun, masih jadi misteri apakah saat itu sudah ada kiper yang menggunakannya di kompetisi resmi atau belum, lantaran Sykes tak memproduksi massal. Kiper pertama yang mengenakan sarung tangan yang pasti bukan Carrizo (1945) yang hanya menggunakannya kala suhu di lapangan amat dingin alias bukan saban pertandingan. Situs goalkeepersdifferent.com mengungkapkan, kiper pertama yang tercatat memakai sarung tangan adalah Archibald ‘Archie’ Pinnell. Kiper asal Skotlandia itu mulai mengenakan sarung tangan wol kala membela Chorley FC di Liga Lanchasire tahun 1894. Dokumentasi yang diunggah di laman klub menjadi bukti, Pinnell tampak mengenakannya ketika terduduk membelakangi gawang. Tidak hanya mengenakan sarung tangan, ia juga sudah melindungi kakinya dengan sepasang deker. Archi Pinnell pada 1894 (kiri) & Leigh Richmond Roose pada 1905 (Foto: Chorley FC/Repro "For Club and Country: Welsh Football Greats") Selain Pinnell, kiper yang acap mengenakan sarung tangan adalah Leigh Richmond ‘Dick’ Roose, ketika mengawal mistar gawang Stoke City pada 1905. Kiper asal Wales itu, disebutkan dalam Dictionary of Welsh Biography , merupakan kiper nyentrik dan kerap beraksi nekat demi menyelamatkan gawangnya. Roose biasanya membawa sepasang sarung tangan wol putih ke dalam lapangan. Seringkali Richmond juga mengenakan mantel wol ketika bermain di cuaca dingin. Pada 1930-an, beberapa kiper mulai mengenakan sarung tangan berbahan kulit lantaran bahan wol mudah basah ketika hujan. Selain Carlo Ceresoli (Timnas Italia/Inter Milan), ada Giampiero Combi (Italia/Juventus), dan Anders Rydberg (Swedia/IFK Göteborg) di Piala Dunia 1934. Baca juga: Lev Yashin, Raja Diraja Pengawal Mistar Dunia Meski begitu, sarung tangan wol masih lebih dominan dipilih kiper, utamanya kiper-kiper di Inggris pasca-Perang Dunia II. Pasalnya, sarung tangan wol dianggap lebih lengket ketimbang sarung tangan kulit ketika hujan dan bola basah. “Memang terasa licin ketika kondisi kering tapi Anda akan mendapat manfaat yang lebih di waktu basah (karena hujan). Saya pribadi lebih sering meninju bola tapi itupun akan lebih beresiko dan berbahaya tanpa sarung tangan di waktu hujan,” tutur Gordon Banks , kiper timnas Inggris era 1961-1972, dalam Charlie Buchan’s Soccer Gift Book. Sepp Maier sudah menggunakan sarung tangan khusus kiper di Piala Dunia 1974 buatan Reusch (Foto: fifa.com ) Pada 1973, sarung tangan khusus kiper muncul, dibuat oleh perusahaan Jerman Reusch. Bekerjasama dengan kiper Jerman Josef ‘Sepp’ Maier, Reusch mengembangkan sarung tangan dengan bantalan berbahan karet untuk pelindung telapak tangan. Pengembangan berawal dari eksperimen unik Maier. “Mulanya saya mengeringkan bola dengan handuk dan ternyata handuknya menempel ke bolanya. Jadi saya punya sarung tangan dengan bahan ini,” papar Maier dikutip Paul Simpson dan Uli Hesse dalam Who Invented Stepover and Other Crucial Football Conundrums? “Lalu Gebhard Reusch berkolaborasi dengan Maier yang hasilnya pada 1973 menghadirkan sarung tangan kiper dengan nama Maier. Di waktu yang bersamaan juga muncul eksperimen dari kiper Jerman lain, Wolfgang Fahrian. Ia bermitra dengan pebisnis alat olahraga Kurt Kränzle, di mana eksperimennya menggunakan lembaran karet yang lazimnya terdapat di raket tenis dan dilem ke sarung tangan untuk daya cengkeram bola yang lebih baik,” lanjut Simpson dan Hesse. Sejak saat itu sarung tangan kiper pun berkembang dengan beragam fitur. Besarnya pasar dan keunikannya yang mensyaratkan fitur-fitur tertentu mendorong hampir semua produsen alat olahraga di dunia terjun ke dalam bisnis sarung tangan kiper. Dengan menggandeng kiper-kiper ternama, yang namanya acap tertera di tiap sarung tangan, para produsen berlomba-lomba menyuguhkan teknologi termutakhir dibalut dengan unsur fesyen lewat sarung tangan produk mereka sehingga sarung tangan kiper “ngetren” di tiap laga sepakbola. Baca juga: Kiper Pahlawan Tanpa Tanda Jasa

  • Datang ke Medan Terjerat Pelacuran

    Lagi-lagi selebriti tanah air tersandung kasus prostitusi. Seorang artis FTV berinisial HH yang juga selebgram tenar kena ciduk polisi. Sang artis kedapatan melakukan perbuatan asusila dengan seorang pengusaha di kamar hotel bintang lima di kota Medan. Sejatinya jejak prostitusi di Medan dapat terlacak sejak zaman pemerintah kolonial Belanda. Ketika itu, Medan masih berupa kampung lahan perkebunan untuk tanaman tembakau Deli. Dalam panen perdananya, tembakau Deli laku keras ketika diekspor ke pasaran Eropa. Sejak itulah, permintaan pun kian meningkat. Untuk mengupayakannya tetap stabil, para tuan kebun memerlukan pasokan tenaga kerja. Mempekerjakan buruh perempuan jadi pilihan karena perempuan lebih teliti untuk pekerjaan ringan dan mau dibayar murah. Prostitusi di Perkebunan Pada 1873, para tuan kebun mendatangkan pekerja perempuan yang berasal dari Jawa. Kuli perempuan ditugaskan untuk menyortir daun tembakau atau mengambil ulat hama. Upah mereka terbilang kecil, hanya setengah dari upah yang diterima kuli laki-laki. Lagi pula, kuli perempuan tidak diberi fasilitas tempat tinggal sehingga harus membaur dengan kuli laki-laki. Maka tidak heran, untuk memenuhi kebutuhan dasar, para kuli perempuan terpaksa melacurkan diri di lingkungan pekerja kebun. “Menurut anggapan yang berlaku di perkebunan; semua kuli perempuan adalah pelacur, atau terpaksa menjadi pelacur,” tulis Jan Breman dalam  Menjinakan Sang Kuli: Politik Kolonial pada Awal Abad ke-20.  “Walaupun demikian, para tuan kebun memanfaatkan juga pelacur kontrak itu untuk memuaskan nafsu seksual mereka, yang berarti bersaing dengan dengan kuli lelaki.” Menurut Ann Laura Stoler dalam  Kapitalisme dan Konfrontasi di   Sabuk Perkebunan Sumatera 1870-1979 , banyak dari kuli perempuan yang datang dari Jawa ke Medan karena tipu daya. Sebelum hijrah, mereka dijanjikan pekerjaan sebagai buruh perkebunan dengan upah tinggi. Setiba di perkebunan, kenyataan berbicara lain. Mereka menjadi alat untuk membuat kuli laki-laki betah bekerja di kebun. Dengan demikian, para kuli bersedia memperpanjang kontraknya. Tenaga para kuli yang mengerjakan lahan perkebunan mengubah wajah kampung Medan. Memasuki abad 20, tanah rawa yang subur itu menjadi kota koloni yang ramai. Pada 1891, Sultan Deli, Makmun Perkasa Alam memindahkan pusat pemerintahannya dari Labuhan ke Medan. Pada 1 April 1909, Medan memperoleh statusnya sebagai  gementee  (kota) baru. Dalam Sejarah Medan Tempo Doeloe, Tengku Luckman Sinar mencatat, dalam sekejap saja berduyun-duyun maskapai-maskapai dan pengusaha asing meminta tanah yang baik dan subur kepada Sultan Deli agar diizinkan membuka lahan perkebunan. Sepanjang jalan raya antara Labuhan dengan Medan telah penuh dengan rumah-rumah pelacuran dan rumah-rumah judi. “Kuli-kuli yang baru gajian, sekejap mata telah kehilangan gajinya sehingga terpaksa harus menandatangani kontrak baru,” tulis Luckman Sinar. Prostitusi di perkebunan menyebabkan munculnya berbagai penyakit kelamin danpenyakit sosial seperti maraknya kelahiran “anak-anak kebon” hingga tindakan kriminal. Surat kabar Pewarta Deli  3 September 1916 memberitakan maraknya pencurian di toko-toko di Medan. Pencurian terjadi karena gaya hidup kuli perkebunan yang suka menghamburkan uang di meja judi dan pelacuran.   Medan Kota Metropolitan Memasuki zaman Indonesia merdeka, kota Medan terus berbenah. Di era Orde Baru, pertumbuhan ekonomi meningkat pesat. Lazimnya kota-kota besar, gaya hidup hiburan malam pun ikutan berkembang di Medan. Tempat-tempat hiburan seperti klub malam, diskotik, salon kecantikan, panti pijat, sampai lokalisasi bermunculan di pusat kota. Di tempat-tempat seperti itulah praktik prostitusi acap kali terjadi. “Bioskop yang memutar film porno bermunculan. Bisnis hiburan malam, nyaris tak terkendali, bahkan ada yang berani menjajakan perawan gres.  Protes-protes seakan tak digubris. Hiburan bagi pria iseng, banyak digelar di klub khusus dan salon kecantikan,” tulis majalah Matra  No. 93, April 1994. Soal bursa seks, sebagaimana termuat dalam  liputan khusus Matra , Medan tampaknya tidak kalah dengan Jakarta. Matra  menyebutkan, banyak perempuan muda yang memiliki profesi ganda di Medan. Ada sarjana yang jadi simpanan pengusaha, para istri yang melakukan kerja sampingan untuk menambah penghasilan, para mahasiswi yang menutup kebutuhan uang kuliah dan hidupnya dengan profesi sebagai perempuan panggilan. Semua itu, agaknya bukanlah berita yang aneh lagi bagi masyarakat setempat. Beberapa kawasan yang diinisialkan Matra  seperti NR, NB, JA, GP, dan K adalah tempat berkumpulnya perempuan panggilan kelas tinggi.     “Kemunculan prostitusi kelas tinggi adalah konsekuensi logis dari perkembangan masyarakat, peningkatan taraf hidup, dan meningkatnya kemampuan perekonomian. Dan prostitusi kelas menengah atas itu memang menjadi ciri khas kota besar,” ujar dr. Baren Ratur Sembiring, ahli kebidanan dan penyakit kandungan kepada Matra . Selain itu, prostitusi jalanan di Medan masih jadi pilihan bagi Perempuan Seks Komersil (PSK) yang tidak memiliki akses di tempat hiburan. Menurut Yuyung Abdi, jurnalis foto Jawa Pos, sebelum 2008, PSK yang  menjajakan diri di pinggir Jalan Iskandar Muda dapat ditemui saat malam telah larut. Namun, setelah beberapa kali polisi pamong praja gencar melakukan razia mereka lebih nyaman menjajakan diri sekitar Jalan K.H. Wahid Hasyim atau Jalan Gajah Mada. “Razia pemkot tentu sangat melelahkan. Mengejar mereka tengah malam butuh biaya dan energi. Meski, jumlah keseluruhan pekerja seks di kawasan jalanan tidak masif. Tidak lebih dari 100 orang,” kata Yuyung dalam Prostitusi: Kisah 60 Daerah di Indonesia. Selama belasan tahun mereportase potret prostitusi di Indonesia, Yuyung mengatakan dari segi jumlah, tempat hiburan syahwat di Medan memang cukup banyak. Namun entah mengapa keberadaannya seolah "terpinggirkan”. Para PSK tidak banyak bermain di kota tersebut. Mereka lebih memilih Batam, yang barangkali lebih menjanjikan dari sisi lancarnya arus rezeki prostitusi. Kendati demikian, prostitusi jalanan di Medan masih tetap awet sampai saat ini.

  • Menanti Gelar Pahlawan Nasional untuk Ali Sastroamidjojo

    Sumbangsih Ali Sastroamidjojo terhadap Republik Indonesia (RI) tak bisa dianggap enteng. Selain dikenal sebagai tokoh pejuang sejak era pegerakan, berbagai jabatan menteri dalam sejumlah kabinet, jabatan formatur, hingga menjadi diplomat telah diemban lelaki berjanggut lebat itu. Sayangnya, sejarah Republik ini mengingat Ali hanya sebatas Wakil Ketua Mejlis Permusyawaratan Rakyat Sementara (MPRS), seperti terukir di tempat peristirahatan terakhir Ali di Taman Makam Pahlawan Kalibata: “Ali Sastroamidjojo SH, eks Wakil Ketua MPRS”. Sejatinya peran Ali tidak hanya sebatas wakil ketua MPRS periode 1960-1966 saja. Ketika berkuliah di Negeri Belanda dia sudah aktif di Perhimpunan Indonesia bersama Mohammad Hatta. Sebagai wadah pergerakan nasional pertama bangsa Indonesia, PI membangun kesadaran perjuangan Ali. Menurut sejarawan Rushdy Hoesein, Ali juga aktif di Partai Nasional Indonesia (PNI), menemani Bung Karno selama zaman pergerakan. Tidak hanya berperan aktif di tubuh PI dan PNI, Ali juga pernah dipercaya menjabat Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Indonesia pada kabinet Amir Sjarifoeddin (1947-1948) dan kabinet Hatta I (1948-1949). Bahkan selama proses perundingan dengan Belanda, Ali tercatat sebagai anggota delegasi RI dalam Konferensi Meja Bundar tahun 1949. Dia pun diketahui sebagai duta besar pertama Indonesia untuk Amerika Serikat. “Jelas dalam sejarah Indonesia, Ali Sastroamidjojo adalah seorang nasionalis,” tutur Rushdy saat mengisi acara webinar Dialog Sejarah “Ali Sastroamidjojo yang Terlupakan” di historia.id . Ali Sastroamidjojo pernah ditunjuk menjadi formatur kabinet. Jabatan Perdana Menteri itu dijalankan sebanyak dua kali (1953-1955 dan 1956-1957). Bahkan ketika menjabat formatur di kabinet keduanya, Ali juga merangkap menjadi Menteri Pertahanan. Pernah juga Ali Sastroamidjojo diangkat sebagai Menteri Penerangan. Di dalam tugasnya sebagai PM, kabinet Ali berhasil menyelenggarakan pemilu pertama pada 1955. Satu sumbangsih terpenting Ali bagi kedaulatan Indonesia adalah Konferensi Asia Afrika (KAA). Menurutnya, ide penyelenggaraan KAA muncul ketika dia hadir dalam konferensi lima negara (India, Sri Lanka, Burma, Pakistan, dan Indonesia) di Colombo tahun 1954. Diceritakan di dalam otobiografinya, Tonggak-Tonggak di Perjalananku , gagasan untuk melanjutkan dan mempererat kerjasama antara negara-negara Asia-Afrika segera disampaikan Ali. “… Alhasil, Pak Ali ini betah di mana saja dan menjalankan semua tugas dan tanggung jawab yang diberikan,” imbuh Rushdy. Namun beberapa perwakilan delegasi meragukan gagasan Ali tersebut. Banyak yang merasa jika ide bagus itu akan sulit untuk dipraktekan. Bahkan Perdana Menteri India Jawaharlal Nehru khawatir konferensi itu hanya akan menimbulkan perbedaan pandangan di antara negara-negara Asia-Afrika, yang malah menimbulkan perpecahan. Menolak menyerah, Ali terus melakukan pendekatan-pendekatan diplomatik secara lebih intim kepada seluruh kepala negara peserta Konferensi Colombo. Dia mencoba memberi pemahaman tentang ide konferensi yang coba digagasnya. Hasilnya, seluruh peserta menyutujui diadakannya KAA dan sepakat memilih Indonesia sebagai tuan rumah pertama perhelatan akbar diplomasi negara-negara di Asia dan Afrika. “Waktu dibicarakan dengan Presiden Sukarno tentu saja dia sangat setuju dengan ide Pak Ali tersebut. Pastinya itu sesuai dengan misi Bung Karno yang ingin memosisikan Indonesia sebagai garda terdepat pembebasan negara-negara Asia-Afrika yang saat itu banyak yang masih dijajah negara-negara Barat,” ujar Rushdy. Proses Gelar Pahlawan Meskipun demikian, hingga kini Ali Sastroamidjojo belum dianugerahi gelar pahlawan nasional. Menurut Tarida Ali Sastroamidjojo (salah seorang cucu Ali), proses pengajuan sedang berlangsung. Sejumlah kendala sempat dihadapi pihak keluarga, sehingga pelaksanaan pengajuan sang kakek sempat terhambat. Awalnya, tutur Tarida, pihak keluarga tidak merasa perlu untuk mengajukan gelar pahlawan nasional untuk sang kakek. Baginya, perjuangan Ali untuk kemerdekaan sudah tentu dilakukan secara ikhlas, semata-mata bagi bangsa Indonesia. Dia dan keluarga besar baru terpikir melakukan pengajuan setelah beberapa pihak menyarankan untuk mengajukan gelar pahlawan tersebut. Kali pertama usulan gelar pahlawan nasional tersebut datang di tahun 2010, ketika keluarga besar Ali diundang hadir pertama kali dalam acara peringatan KAA di Bandung. Setelah proses diskusi panjang, barulah pada 2013 keluarga sepakat mengurus pengusulan gelar pahlawan nasional untuk Ali Sastroamidjojo. “Motivasinya besar, jasa-jasa beliau; beliau tidak pernah berkhianat, tidak pernah berbuat sesuatu yang melawan kebijakan pemerintah, dan sebagainya, Alhasil, Ali itu sudah memenuhi syarat,” ujar Rushdy. Secara administratif, proses pengajuan gelar pahlawan memang cukup sulit. Menurut Rushdy prosedur yang harus dipenuhi biasanya membuat pihak keluarga enggan untuk mengurusinya. Belum lagi waktu yang lama, serta hambatan-hambatan lain yang mengharuskan pihak pengusul mencurahkan waktu dan tenaga di dalam prosesnya. Salah satu pihak yang secara serius melakukan pengusulan gelar pahlawan untuk Ali adalah GMNI (Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia). Dilansir laman resmi GMNI , pihaknya telah melakukan langkah audiensi dengan Kementerian Sosial bidang Kepahlawanan, Keperintisan, Kesetiakawanan, dan Restorasi Sosial (K2KRS). Direktur K2KRS, Joko Irianto, yang turut hadir dalam audiensi tersebut, menyebut Kemensos menyambut baik usulan tersebut. Dia juga menuturkan jika syarat-syarat pengusulan tersebut harus ditempuh sesuai prosedur agar dapat diterima kemudian ditetapkan. “Kita dari Kemensos selalu terbuka untuk menerima setiap masukan usulan gelar pahlawan nasional. Selanjutnya tinggal melengkapi persyaratan yang dibutuhkan, serta melaksanakan langkah-langkah sesuai yang diatur dalam UU No. 20 Tahun 2009,” ungkapnya.

  • Ali Sastroamidjojo, Sang Diplomat Ulung

    Tarida Ali Sastroamidjojo masih ingat kata-kata Mahendra Siregar (sekarang  Wakil Menteri Luar Negeri RI) pada suatu hari. Dalam pertemuan yang terjadi beberapa tahun lalu itu, sang petinggi Kemenlu RI itu memuji visi Ali Sastroamidjojo (Duta Besar pertama RI untuk Amerika Serikat, 1950-1953) yang telah menginisiasi pembelian tanah yang sekarang di atasnya berdiri gedung Kedutaan Besar RI di negeri Paman Sam itu. “Beliau bilang Kedutaan Besar RI di AS merupakan kedutaan milik kita yang letaknya paling strategis dari kedutaan-kedutaan RI yang ada di dunia,” ungkap cucu Ali Sastroamidjojo tersebut. Gedung yang terletak di Massachusetts Avenue No. 2020 itu memang termasuk tempat istimewa di Washington (ibu kota AS). Selain terletak di kawasan yang dikenal orang AS sebagai tempat bersejarah (eks tempat tinggal MacLean, pionir pertambangan tembaga di barat AS), juga lahan dan gedungnya sangat luas. Jauh lebih mencukupi dibanding gedung kedutaan lama yang terletak di Massachusetts Avenue No. 2523. Namun itu bukan satu-satunya peran Ali selaku seorang diplomat bagi Republik ini. Tokoh legendaris Partai Nasional Indonesia (PNI) tersebut juga memiliki peran-peran penting dalam memosisikan Indonesia di kancah pergaulan internasional. Salah satunya adalah Konferensi Asia Afrika (KAA). Menurut Ali dalam otobiografinya Tonggak-Tonggak di Perjalananku , ide KAA muncul di benaknya ketika dia diundang untuk mengikuti konferensi 5 negara (Sri Langka, India, Pakistan, Burma dan Indonesia) di Colombo. Undangan itu secara langsung dilayangkan oleh Perdana Menteri Sri Langka Sir John Kotelawala pada awal 1954. “Maka timbullah gagasan di pikiran saya untuk melanjutkan dan mempererat kerjasama antara negara-negara Asia-Afrika…” ungkap Ali Sastroamidjojo. Ide itu tidak serta mera diterima oleh para peserta Konferensi Colombo. Banyak yang meragukan bahwa ide yang dipuji bagus tersebut akan mulus saat dipraktekan. Perdana Menteri India J. Nehru bahkan mengkhawatirkan konferensi tersebut hanya akan meruncingkan perbedaan di antara  negara-negara Asia Afrika. Ali tidak patah arang. Dia kemudian melakukan pendekatan-pendekatan diplomatik kepada seluruh kepala negara peserta Konferensi Colombo. Hasilnya, seluruh peserta menyetujui diadakannya KAA dan menyepakati untuk menunjuk Indonesia sebagai tuan rumah perhelatan besar itu. “Waktu dibicarakannya dengan Presiden Sukarno tentu saja dia sangat setuju dengan ide Pak Ali tersebut. Pastinya itu sesuai dengan misi Bung Karno yang ingin memosisikan Indonesia sebagai garda terdepan pembebasan negara-negara Asia-Afrika yang saat itu banyak yang masih dijajah negara-negara Barat,” papar sejarawan Rushdy Hosein. Sejarah kemudian mencatat, KAA berjalan sukses.  Perhelatan internasional yang diadakan di Bandung pada 18-24 April 1955 diikuti oleh 29 negara dan menghasilkan kesepakatan bersejarah yang diberi nama sebagai Dasa Sila Bandung:   Menghormati hak-hak dasar manusia dan tujuan-tujuan serta asas-asas   yang termuat di dalam piagam Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) Menghormati kedaulatan dan integritas teritorial semua bangsa Mengakui persamaan semua suku bangsa dan persamaan semua bangsa, besar maupun kecil Tidak melakukan intervensi atau campur tangan dalam soalan-soalan dalam negeri negara lain Menghormati hak-hak setiap bangsa untuk mempertahankan diri secara sendirian ataupun kolektif yang sesuai dengan Piagam PBB Tidak menggunakan peraturan-peraturan dari pertahanan kolektif untuk bertindak bagi kepentingan khusus dari salah satu negara besar dan tidak melakukannya terhadap negara lain Tidak melakukan tindakan-tindakan ataupun ancaman agresi maupun penggunaan kekerasan terhadap integritas wilayah maupun kemerdekaan politik suatu negara Menyelesaikan segala perselisihan internasional dengan jalan damai, seperti perundingan, persetujuan, arbitrasi (penyelesaian masalah hukum) , ataupun cara damai lainnya, menurut pilihan pihak-pihak yang bersangkutan sesuai dengan Piagam PBB Memajukan kepentingan bersama dan kerjasama Menghormati hukum dan kewajiban–kewajiban internasional Kepiawaian Ali selaku diplomat pun terbukti saat pada Desember 1959 dia pergi ke Havana untuk menjajaki hubungan dengan Kuba yang saat itu baru saja dipimpin oleh Fidel Castro. Karena sikapnya yang luwes, dia langsung disukai oleh Fidel dan pemimpin revolusi Kuba lainnya yakni Che Guevara. “Eyang saya sampai diundang oleh Fidel ke pelosok Kuba untuk melihat langsung bagaimana situasi rakyat Kuba sesungguhnya,” ungkap Tatiek Kemal, salah satu cucu Ali sastroamidjojo. Hasil dari dari kunjungan itu, Presiden Sukarno setuju untuk membuka perwakilan negara masing-masing di Kuba maupun Indonesia. Bahkan lebih lanjut, Presiden Sukarno berkenan mengunjungi Kuba dan bertemu dengan Fidel Castro dan Che Guevara pada Januari 1960.

  • CIA Gagalkan KAA II di Aljazair

    PADA 19 Juni 1965 dini hari yang sepi terdengar berondongan senapan mesin, mungkin ke udara. Deru panser bergerak membawa tentara yang bertugas memutus semua kawat telepon yang terhubung ke istana presiden. Pasukan bersenjata menyerbu istana dan membawa Presiden Aljazair Ahmed Ben Bella yang sedang tertidur lelap. Gerakan militer itu hanya berlangsung sepuluh menit.

  • Karena Beras Pelabuhan Banyuwangi Dibom Belanda

    BILA mengingat peristiwa penting dalam sejarah Indonesia yang terjadi pada awal Juli, umumnya orang mengingat usaha kelompok yang berafiliasi dengan Persatuan Perjuangan (PP) Tan Malaka untuk memaksa Sukarno agar menyetujui perubahan struktur pemerintahan yang mereka ajukan. Sebenarnya, pada permulaan Juli 1946 ada kejadian lain yang juga patut diperhatikan, walaupun jauh dari ibu kota Republik Indonesia dan sangat jarang disebut orang. Kali ini tidak hanya berkenaan dengan konflik internal di tubuh kaum Republiken, melainkan dalam konteks perang Indonesia-Belanda, dengan India yang terlibat secara tidak langsung. Peristiwa itu adalah pengeboman Belanda atas pelabuhan Banyuwangi, Jawa Timur. Tidak tanggung-tanggung, Belanda membombardir pelabuhan itu dari laut dan udara selama tiga hari berturut-turut. Penyebabnya karena pelabuhan itu menjadi tempat penyimpanan dan pengapalan beras ke India yang menderita kelaparan. Pada April 1946, Perdana Menteri Sutan Sjahrir, sebagai salah satu gestur diplomatik untuk meraih dukungan internasional, menawarkan bantuan beras kepada India sebanyak 500.000 ton. Bantuan itu disambut baik India yang menjanjikan bahan pakaian –yang sangat dibutuhkan Indonesia– sebagai balasan. “Diplomasi beras” Sjahrir ini penting bagi Republik Indonesia yang usianya belum genap setahun dan lautnya tengah diblokade oleh Belanda.

bottom of page