top of page

Cornel Simanjuntak, Komponis yang Bertempur

Komponis yang turut bertempur di masa revolusi. Pernah tertembak di paha, meninggal di usia muda.

loading_historia_white.gif
transparant.png
  • 16 Jul 2020
  • 3 menit membaca

Merantau dari Pematang Siantar ke Magelang, Cornel Simanjuntak awalnya mengambil pendidikan guru. Tapi di sekolah, ia justru memperdalam kemampuan bermusiknya. Ia kemudian menjadi komponis andal sekaligus pejuang.


Pemuda kelahiran tahun 1921 ini belajar musik ketika menempuh pendidikan di Holandsche Indische Kweekschool (HIK) St. Xaverius College, Magelang. Melalui ekstrakulikuler musik, ia bergabung dengan paduan suara, memimpin orkes, dan mulai menciptakan lagu. Ia belajar dari Pastor J. Schouten.


Kemampuan di bidang musik di kemudian hari menjadi bagian hidup yang tak terpisahkan dari Cornel. Ia terus mencipta lagu dan bermusik ketika Jepang masuk ke Indonesia hingga tahun-tahun tak menentu pasca Proklamasi kemerdekaan.


Di Bawah Jepang


Ketika Jepang mulai menduduki Indonesia pada 1942, kehidupan di Magelang menjadi kacau. Kegiatan sekolah dihentikan dan para pastor ditawan Jepang. Cornel hendak melaksanakan ujian dianggap sudah lulus.


Cornel sempat menjadi guru di Magelang tapi tak lama. Ia berhenti dan sempat tak ada kabar. Binsar Sitompul, adik kelasnya di Xaverius College, menyebut bahwa suatu ketika ia mendengar lagu-lagu yang disiarkan oleh Jepang begitu mirip dengan lagu-lagu gubahan Cornel. Ternyata benar, lagu-lagu itu ciptaan Cornel.


Awalnya Binsar heran, mana mungkin Cornel mau tunduk dan bekerja untuk kepentingan propaganda Jepang. Belakangan ia tahu bahwa Cornel memanfaatkan Jepang untuk tetap berkarya.


“Cornel membuat lagu-lagu propaganda Jepang hanyalah untuk menjaga agar kesempatan mencipta tetap terbuka, sesuai dengan keinginannya sendiri. Selain itu juga agar tetap terbuka saluran baginya untuk menyiarkan hasil-hasil karyanya kepada masyarakat luas melalui radio,” tulis Binsar dalam Cornel Simanjuntak, Komponis, Penyanyi, Pejuang.


Selain itu, Cornel juga memanfaatkan paduan suara yang mendapat subsidi pemerintah Jepang. Ia menerima imbalan dari lagu-lagu yang dibuatnya untuk keperluan hidup pada masa sulit itu.


Cornel bekerja di Keimin Bunka Shidosho atau Pusat Kebudayaan bagian musik. Pada masa ini pula, ia banyak berkesenian dengan tokoh-tokoh sezaman. Ia bergabung dengan perkumpulan sandiwara Maya bersama Usmar Ismail, Chairil Anwar, Rosihan Anwar, hingga S. Sudjojono.


“Melalui lakon-lakon yang dipentaskan, tampak jelas warna sebenarnya perkumpulan ini, yaitu cita-cita kemerdekaan, bebas dari penjajahan,” sebut Binsar.


Turut Bertempur


Merujuk J.A. Dungga dan Liberty Manik, Ensiklopedia Musik Volume II menyebut bahwa kerja-kerja Cornel sebagai komponis setidaknya bisa ditinjau dalam tiga masa kreatif. Pertama, Cornel membuat lagu-lagu yang menggunakan melodi baru namun dengan interval yang sederhana. Komposisi ini dapat didengar dari lagu Asia Sudah Bangun dan Indonesia Merdeka yang lebih dikenal dengan judul Sorak-Sorak Bergembira.


Kedua, masa ketika Cornel berkompromi dengan selera radio yang lagunya berpola setengah klasik dan setengah hiburan. Lagu seperti Citra dan Mekar Melati yang penah menjadi lagu untuk festival film nasional masuk dalam masa ini.


Ketiga, masa di mana Cornel semakin diakui kredibilitasnya sebagai komponis. Lagu seperti O, Angin, Kemuning, dan Pinta Lagi yang berangkat dari puisi yang dimusikalisasi termasuk dalam masa ini.


Pasca Proklamasi, Cornel bergabung dengan Angkatan Pemuda Indonesia (API) yang bermarkas di Menteng 31. Pada akhir Desember 1945, ia turut bertempur melawan serdadu Belanda di Tangsi Penggorengan.


Cornel juga disebut memimpin pasukan di daerah Tanah Tinggi. Menurut Binsar, ketika baku tembak di daerah Senen, peluru menembus paha Cornel sehingga harus dilarikan ke rumah sakit.


Selang beberapa hari, tersiar kabar Belanda hendak menggeledah rumah sakit dan menangkap pemuda-pemuda yang terluka. Cornel lalu mengungsi ke Karawang, kemudian pindah ke Yogyakarta.


Di Yogyakarta, kesehatan Cornel menurun dan mulai mengidap penyakit paru-paru. Meski demikian, ia tetap menulis tentang musik dan menciptakan lagu. Setelah delapan bulan dirawat, Cornel meninggal dunia pada 15 September 1946. Cornel mendapat anugerah Satya Lencana Kebudayaan dari Menteri Pendidikan dan Kebudayaan pada 1962.

Komentar

Dinilai 0 dari 5 bintang.
Belum ada penilaian

Tambahkan penilaian
bg-gray.jpg
Percobaan bom nuklir-hidrogen oleh Amerika Serikat di Kepualaun Eniwetok di Pasifik merisaukan seorang anggota DPR. Mendorong pemerintah galang sikap penolakan di pentas internasional.
bg-gray.jpg
Snouck Hurgronje traveled to Jeddah and Mecca to observe and gather information about Muslims in the Dutch East Indies.
bg-gray.jpg
Gerilya di hutan hingga dapat julukan Ratu Rimba Malaya, Shamsiah Fakeh pernah ditangkap di Jakarta pasca peristiwa G30S 1965.
bg-gray.jpg
Sebelum menjadi sentra kuliner seperti sekarang, kawasan Jalan Sabang pernah menjadi tempat nongkrong anak gaul Jakarta hingga tempat mangkal tante-tante kesepian.
Dari tuntutan jam kerja hingga perlindungan pekerja. Perjuangan buruh mengalami perubahan, namun tujuannya tetap satu: keadilan.
Dari tuntutan jam kerja hingga perlindungan pekerja. Perjuangan buruh mengalami perubahan, namun tujuannya tetap satu: keadilan.
Berawal dari ahli psikologi ingin mengamati kehidupan narapidana di penjara. Eksperimen ini menjadi eksperimen paling terkenal dan kontroversial.
Berawal dari ahli psikologi ingin mengamati kehidupan narapidana di penjara. Eksperimen ini menjadi eksperimen paling terkenal dan kontroversial.
Memanfaatkan kesempatan dalam kesempitan, milisi Serbia memandu orang-orang kaya untuk “Sarajevo Safari”. Ibu hamil jadi yang termahal untuk diburu via senapan.
Memanfaatkan kesempatan dalam kesempitan, milisi Serbia memandu orang-orang kaya untuk “Sarajevo Safari”. Ibu hamil jadi yang termahal untuk diburu via senapan.
Sejak masa kolonial, tembakau dan produk turunannya dikenai cukai. Dianggap menguntungkan dan bertahan kala krisis global.
Sejak masa kolonial, tembakau dan produk turunannya dikenai cukai. Dianggap menguntungkan dan bertahan kala krisis global.
Penyanyi nyentrik asal Sukabumi sohor di era 1990-an. Sedari remaja, penikmat musik “Ngak Ngik Ngok” ini sudah bermusik.
Penyanyi nyentrik asal Sukabumi sohor di era 1990-an. Sedari remaja, penikmat musik “Ngak Ngik Ngok” ini sudah bermusik.
Chairil Anwar dan Des Alwi jual beli barang bekas. Dari aktivitas itu Sutan Sjahrir memperoleh radio gelap untuk mendengarkan berita kekalahan Jepang.
Chairil Anwar dan Des Alwi jual beli barang bekas. Dari aktivitas itu Sutan Sjahrir memperoleh radio gelap untuk mendengarkan berita kekalahan Jepang.
transparant.png
bottom of page