top of page

Hasil pencarian

9829 hasil ditemukan dengan pencarian kosong

  • Ketika Demokrasi Mengendalikan Shinto

    Di depan corong radio nasional Jepang, Hideo Kishimoto, ahli budaya dan Shinto, mengumumkan hal penting pada 17 Desember 75 tahun silam. Pengumuman yang dibacakannya atas permintaan Civil Information and Educational (CIE), seksi di Supreme Commander for Allied Powers (SCAP) pimpinan Jenderal Douglas MacArcthur, itu tentang Shinto Directive yang dikeluarkan SCAP dua hari sebelumnya. Shinto Directive membawa Jepang keluar dari era lama yang banyak berdasarkan nilai-nilai Shinto. “Semangat kebebasan beragama dipatuhi sepenuhnya dan kebebasan berkeyakinan dalam menghormati tempat suci dijamin sepenuhnya. Kuil menghadapi kebutuhan untuk mengembangkan karakter religius mereka dan mulai sekarang dapat dengan bebas berusaha untuk membuat awal yang baru ke arah yang baru,” demikian penggalan pidato Kishimoto sebagaimana dikutip Helen Hardacre dalam Shinto: A History . Shinto Directive digagas MacArthur setelah penandatanganan penyerahan resmi Jepang kepada Sekutu di geladak kapal USS Missouri , 15 September 1945. Tujuannya untuk memisahkan Shinto (agama) dari negara. MacArthur menilai, pemisahan itu merupakan  prasyarat agar janji pembangunan politik dan ekonomi Jepang oleh Amerika pascaperang dapat dilaksanakan. Pembangunan hanya dapat dijalankan apabila sifat ultranasionalis dan militeristis pada rakyat Jepang sudah dihilangkan. Untuk dapat menghilangkan keduanya, dia –sebagaimana para sarjana Amerika memandang Shinto– menganggap bahwa yang pertama harus dibenai adalah akar dari keduanya, yakni Shinto. MacArthur kemudian menugaskan kepala CIE Letnan William K. Bunce, yang merupakan ahli budaya Jepang, untuk mengkonsep Shinto Directive. “Sebagaimana dinyatakan dalam kalimat pembukaannya, Directive tersebut dikeluarkan untuk (1) membebaskan rakyat Jepang dari paksaan langsung atau tidak langsung untuk percaya atau mengaku percaya pada suatu agama atau kultus yang secara resmi ditunjuk oleh negara, (2) untuk melepaskan diri Orang Jepang dari menanggung beban dukungan finansial wajib dari sebuah ideologi yang telah berkontribusi pada rasa bersalah perang mereka, kekalahan, penderitaan, privasi dan kondisi menyedihkan saat ini, (3) untuk mencegah terulangnya penyimpangan teori dan kepercayaan Shinto menjadi propaganda militeristik dan ultranasionalistik yang dirancang untuk menipu orang-orang dan memimpin mereka ke dalam perang agresi, dan (4) untuk membantu mereka dalam mengubah kehidupan nasional mereka untuk membangun Jepang baru berdasarkan cita-cita perdamaian dan demokrasi abadi. Tujuan tambahannya adalah untuk memperkuat prinsip kebebasan beragama,” tulis William P. Woodard dalam The Allied Occupation of Japan 1945-1952 and Japanese Religions. Bunce merespon perintah MacArthur dengan membentuk tim yang juga mengikutsertakan Kishimoto. Bagaimanapun, Bunce sadar urusan yang digarapnya merupakan isu amat sensitif. Pengikutsertaan Kishimoto dilakukan untuk mendapatkan pandangan lebih holistik mengenai Shinto sehingga tim terhindar dari membuat kesalahan fatal. Dalam studinya, tim membagi Shinto menjadi tiga: Kuil Shinto, Negara Shinto, dan Nasionalis Shinto. Negara Shinto, yang sebetulnya tidak pernah menjadi kebijakan resmi Kekaisaran, mendapat perhatian lebih karena MacArthur dan para sarjana Amerika menganggapnya sebagai pangkal masalah yang menyebabkan terjadinya Perang Pasifik. “Kalimat pembukaan studi tersebut mencatat bahwa Negara Shinto telah ‘digunakan oleh militeris dan ultranasionalis... untuk membangkitkan dan menumbuhkan semangat militer di dalam rakyat dan untuk membenarkan perang ekspansif,’” tulis Woodard mengutip kalimat pembuka draf. Yang membuat sulit tim adalah pembahasan mengenai kultus Kokutai , identitas nasional yang mendasari sistem pemerintahan, karena amat sensitif. Dalam soal ini, kaisar dan posisi politiknya mesti ditinjau ulang meski dalam pandangan masyarakat Jepang itu merupakan hal terlarang. Dalam keyakinan orang Jepang, kaisar merupakan titisan dewa Amaterasu. Oleh karena itu, Bunce merincinya lewat poin-poin spesifik agar mendapat pembahasan lebih dalam. Poin-poin itu antara lain: penilaian hari libur nasional; peringatan dan penghormatan pada korban perang melalui monumen, permakaman umum, dan tempat pemujaan bagi korban perang. Mengenai kaisar, tim merinci lebih dalam ke dalam sub poin, meliputi: pertanyaan umum tentang dugaan keilahian kaisar, yang turunannya antara lain penghapusan desain mata uang dan perangko yang militeristik di samping larangan literatur ultranasionalistik. Praktik membungkuk kolektif ke istana yang diterapkan di sekolah, dan perlakuan terhadap tempat-tempat tertentu yang ditunjuk secara khusus terkait erat dengan Kaisar Meiji. Kesimpulan Bunce, Shinto tak dapat dihapuskan dan dia menganggap tak perlu menghapuskannya. Adapun bahaya dari Negara Shinto yang diyakini Bunce terletak pada: dukungan sponsor, dan propagasi oleh negara; penggunaan mitologi samar-samar tentang asal ilahi tanah, kaisar, dan orang-orang yang ditetapkan oleh pemerintah Jepang dan nasionalis Shinto; dan paksaan yang diberlakukan pada semua orang Jepang untuk menjalankan ritual dan secara lahiriah menerima premisnya sebagai fakta sejarah. “Bahaya juga ditemukan bukan pada interkoneksi antara kaisar dan Shinto, tetapi dalam sifat khas dari sistem politik yang secara nominal menempatkan semua kekuatan sipil dan militer di tangan seorang raja-pendeta tetapi sebenarnya membiarkan kekuasaan itu menjadi dilakukan oleh setiap kelompok kuat yang menguasai mesin pemerintahan,” sambung Woodard. Dari hasil analisis itu, Bunce menawarkan solusi berupa: pemisahan menyeluruh antara agama dan negara, dan mengamankan revisi Konstitusi yang akan dilakukan terutama tentang penempatan kendali negara langsung di tangan perwakilan yang dipilih oleh rakyat. Bertolak dari solusi itu, Bunce merekomendasikan penghapusan semua dukungan, arahan, atau kendali pemerintah terhadap tempat-tempat suci, pendeta, upacara atau beragam ritual lain. Dengan begitu, Negara Shinto diposisikan sama dengan agama-agama lain. Kedua, Shinto mesti dihapus dari sistem pendidikan. Shinto hanya diizinkan berlanjut sebagai agama individu. Bertolak dari solusi itu, kata Woodard, Bunce merekomendasikan agar penyebaran Shinto dalam bentuk apapun dan dengan cara apapun di institusi pendidikan manapun yang didukung seluruhnya atau sebagian oleh dana publik harus dilarang. Kemudian, perintah kerajaan tentang Pendidikan, sebagai instrumen tunggal paling penting untuk memasukkan kesalehan dan kesetiaan kepada kaisar, harus diganti, diubah, atau ditafsirkan ulang dengan reskrip baru yang secara tegas menolak interpretasi ultranasionalistik atau dibuang dari sekolah. Semua altar Shinto, yang biasa disebut kamidana harus disingkirkan dari semua sekolah umum dan bangunan umum. Aturan wajib hadir siswa dan guru di kuil harus secara tegas dilarang dan diskriminasi terhadap siapa pun karena pandangannya tentang Shinto tidak boleh diizinkan. Terakhir, Dewan Kuil ( Jingi-in ) Kementerian Dalam Negeri dan semua lembaga yang didukung sepenuhnya atau sebagian oleh dana publik dan memiliki fungsi utama baik penyelidikan maupun penyebaran Shinto atau pelatihan imamat harus dihapuskan. Tiga bulan setelah berjibaku lewat studi dan diskusi, tim berhasil menyelesaikan draf mentah. Setelah dilaporkan kepada SCAP pada 3 Desember dan hasilnya memuaskan, draf mengalami perbaikan redaksional. Setelah semua selesai, SCAP mengeluarkannya sebagai kebijakan resmi pada 15 Desember. Dua hari kemudian, Kishimoto mengumumkannya dalam siaran radio. Respon orang Jepang berbeda-beda terhadap Shinto Directive. Ada yang sekadar tidak setuju, benci, melawan, acuh tak acuh, ada pula yang mendukung. Pemerintah Jepang mematuhi Shinto Directive. Dewan Kuil bahkan telah mengeluarkan instruksi kepada tiap kepala prefektur agar menghentikan kontribusi ke kuil-kuil di wilayah masing-masing sehari setelah pengumuman Kishimoto. “Untuk alasan yang berkaitan dengan reorganisasi kuil dan penggabungannya di bawah Ordonansi Organisasi Keagamaan, beberapa undang-undang tidak sepenuhnya dihapuskan sampai Februari 1946. Pada tanggal 1 Dewan Kuil dan Kantor Pembangunan Kembali Ise ( Zojingu Shicho ) di Kementerian Dalam Negeri dibubarkan dan keesokan harinya dikeluarkan perintah untuk menghapus atau mengubah 34 aturan hukum yang berkaitan dengan Shinto. Demikianlah Negara Shinto berakhir,” tulis Woodard. Kendati beitu, orang-orang di Kuil Kume di Prefektur Shimane membujuk walikota dan kepolisian setempat agar bergabung ke dalam barisannya sebagai oposisi. Akibatnya, polisi dari tingkatan lebih tinggi mengambil tindakan. “Polisi mengintimidasi anggota Society dengan menginterogasi mereka, menyita daftar keanggotaan, dan mencoba untuk mengusir mereka,” tulis Helen. Meski tujuannya baik, kemunculan Shinto Directive tetap tak lepas dari pertanyaan. “Liputan surat kabar tentang Shinto Directive sangat minimal dan menunjukkan ketertarikan paling besar pada pertanyaan apakah kaisar akan dipaksa turun tahta atau sistem kekaisaran dihilangkan sama sekali. Tetapi karena instruksi itu dikeluarkan hanya empat bulan setelah penyerahan, kekhawatiran tentang bertahan hidup dari satu hari ke hari berikutnya masih menjadi perhatian utama semua orang. Selain itu, Pendudukan telah memberlakukan kebijakan penyensoran yang dimulai pada September 1945, sehingga bahkan jika seseorang dengan keras tidak menyetujui Shinto Directive, protes tampaknya tidak akan terjadi. Dilarang mengkritik Pendudukan atau kebijakannya, sebuah sikap ironis bagi sebuah rezim yang bermaksud mendemokratisasi Jepang,” tulis Helen

  • Drama Penangkapan Brigjen Soepardjo

    Brigjen Mustafa Sjarief Soepardjo jadi buronan kelas kakap. Kodam V/Jaya  memasukkan namanya ke dalam daftar hitam pencarian. Soepardjo diburu karena dianggap bertanggung jawab dalam operasi makar Gerakan 30 September 1965 (G30S). Padahal, Soepardjo sebelumnya bertugas di Kalimantan Barat sebagai panglima Komando Tempur Ganyang Malaysia. Soepardjo dalam kesaksiannya di Mahkamah Militer Luar Biasa: Perkara M.S. Supardjo , mencatat bahwa banyak sekali berita-berita suratkabar ibukota yang memberitakan dirinya. Termasuk pula foto-foto maupun reklame yang bertuliskan, “tangkap hidup atau mati Supardjo ex brigadir jenderal TNI adalah gembong Gestapu/PKI” dan sebagainya. Dewan Revolusi yang berada di balik G30S, menempatkan Soepardjo sebagai orang kedua setelah Letkol Untung Sjamsuri. Untung sendiri telah dieksekusi mati pada akhir Maret 1966 di daerah Cimahi, Jawa Barat. Sementara itu, pemimpin PKI D.N. Aidit sudah lebih dulu dieksekusi di Boyolali, Jawa Tengah, diperkirakan itu terjadi pada November 1965. Tersisa Sebatang Kara Menurut Julius Pour dalam Gerakan 30 September: Pelaku, Pahlawan & Petualang . Soepardjo merupakan satu-satunya pimpinan militer G30S yang belum berhasil diciduk sampai awal 1967. Di sisi lain, komplotannya sudah berhasil ditumbangkan atau diringkus. Melihat kenyataan tersebut, sosok Soepardjo memang perlu dicermati. Mengapa dia sanggup bertahan begitu lama? “Sebagai seorang perwira tinggi berkualifikasi Rangers , ternyata hanya dia yang tetap bisa menunjukkan kemampuan. Sanggup berjuang sendirian dalam belantara Ibu Kota,” tulis Julius Pour. Terhitung, satu setengah tahun lamanya Soepardjo meloloskan diri sejak G30S meletus. Soepardjo mulai menghilang setelah kemunculan terakhirnya di kawasan Halim Perdanakusuma pada awal Oktober 1966. Mula-mula. dia bersembunyi di sebuah rumah di belakang gedung hiburan Miss Cicih, Pasar Senen selama satu malam. Di daerah itu, Soepardjo berkenalan dengan beberapa orang anggota Partai Komunis Indonesia (PKI). Salah seorang dari mereka bernama Saleh mengajak Soepardjo menetap di Cilincing, Jakarta Utara. Selama empat bulan bermukim di Cilincing, Soepardjo tinggal berpindah. Mulai dari rumah Mayor (Laut) Suwardi, kemudian Kapten (Laut) Nandang, hingga sekali waktu di rumah Kopral (Udara) Sutarjo di Komplek AURI Halim Perdanakusuma. Atas bantuan Suwardi, Soepardjo berhasil memiliki KTP baru Kelurahan Semper dengan nama Sjarief. Mengibuli Kalong Untuk menangkap Soepardjo, Kodim 0501 Jakarta Pusat membentuk satuan tugas dengan sandi “Operasi Kalong” pada 16 Agustus 1966. Mendengar namanya, dapat ditebak operasi ini bergerak pada malam hari. Operasi Kalong dipimpin oleh Kapten (Inf.) Suroso, beranggotakan 8 intel dari kodim-kodim di wilayah Kodam V/Jaya. Pada 24 Desember 1966, tim Operasi Kalong melancarkan operasi penyergapan. Namun, Soepardjo keburu mencium gelagat tidak aman sehingga dia berhasil meloloskan diri. Meskipun demikian, anggota Satgas Operasi Kalong berhasil mengetahui tempat persembunyian Soepardjo. Keesokan hari, upaya penyergapan kedua dilancarkan. Satgas Operasi Kalong bekerja sama dengan beberapa anggota Angkatan Laut yang tinggal di daerah sekitar persembunyian Soepardjo. Operasi kedua ini dilakukan dengan sangat hati-hati sekaligus dipersiapkan sebagai hadiah “Natal”. Lagi-lagi Soepardjo gagal diringkus. “Rupanya Soepardjo memiliki feeling yang tajam dan gerakan yang licin bagaikan belut. Ia kembali berhasil meloloskan diri dari upaya penyergapan,” tulis Ki. Onto Bogo dalam “Operasi Unik: Penyergapan Gembong PKI Ex Brigjen Supardjo” termuat di majalah Senakatha, No. 19, Oktober 1994. Setelah berhasil mengelabui pemburunya, Soepardjo bergegas meninggalkan daerah Cilincing. Soepardjo menuju kawasan Halim Perdanakusuma dengan menyamar sebagai pedagang radio keliling. Penyaramarannya cukup apik. Jenderal bintang satu ini berpakaian layaknya pedagang keliling berkopiah hitam dan berkacamata. Soepardjo yang berperawakan gagah dan berkumis sedang itu menggunakan nama samaran: Ibrahim. Tertangkap di Loteng Setiba di Halim, Soepardjo menumpang di rumah seorang kenalannya bernama Kopral Udara Sutarjo yang tinggal di Komplek AURI Rajawali. Sutarjo meyediakan kamar khusus yang berfungsi sebagai kamar kerja maupun kamar tidur bagi Soepardjo. Namun, bila sewaktu-waktu situasi tidak aman, Soepardjo tidur di atas loteng yang diatur sedemikian rupa. Di tempat ini pula Soepardjo menyimpan risalah yang ditulisnya sendiri bertajuk “Beberapa Pendapat jang Mempengaruhi Gagalnja ‘G-30-S’ Dipandang dari Sudut Militer”.  Satgas Operasi Kalong terus membuntuti Soepardjo. Kapten Suroso memimpin langsung operasi penangkapan sekaligus menjalin kerja sama dengan Komandan Pangkalan AU Halim Perdana Kusuma Kolonel (Udara) Rusman. Untuk itu, AURI  memperbantukan 4 intel dan 8 anggota Polisi Militer Angkatan Udara. Sejak itu, Satgas Operasi Kalong beranggotakan 20 orang.  Memasuki Idul Fitri, 12 Januari 1967, Satgas Operasi Kalong bergerak dari markasnya di bilangan Tanah Abang menuju Halim pukul 03.00. Pukul 05.00, tim menggerebek kediaman Kopral Sutarjo. Kapten Suroso memerintahkan anak buahnya memeriksa setiap penjuru rumah. Setelah semua kamar digeledah, buronan yang dicari tidak ketemu. Kapten Suroso kemudian memerintahkan Sersan Sukirman dan Peltu Rosadi naik ke atap untuk memeriksa loteng. Dalam keadaan remang temaram, Peltu Rosadi melaporkan adanya benda putih tergeletak di sudut loteng. Sementara itu, Kapten Suroso mendengar bunyi gesekan kaki di atap yang mencurigakan. Untuk memastikan, Peltu Rosandi diperintahkan sekali lagi naik ke atap dan menyergap. Setiba di loteng terjadilah percakapan antara Peltu Rosandi dan Brigjen Soeparjo. “Kalau manusia harap menyerah, tetapi kalau bukan akan saya tembak,” seru Peltu Rosandi. Mendengar ancaman itu, Soepardjo memperlihatkan diri dan membalasnya dengan jawaban, “ya, saya menyerah,” sebagaimana terkisah dalam Senakatha . Supardjo berhasil ditangkap hidup-hidup dalam suatu penggerebekan setengah jam yang mencekam. Setelah diringkus, Soepardjo diangkut panser ke markas Kodim 0501. Kedua belah tangannya diborgol. Ketika memasuki anak tangga depan kantor Kodim, sebagaimana dicatat juru warta TVRI Hendro Subroto dalam Dewan Revolusi PKI , keringat mengucur dari wajah Soepardjo sambil tangannya bergetar. Soepardjo kemudian dihadapkan kepada Komandan Kodim 0501 Letkol Sudjiman yang dulu pernah jadi anak buahnya.   Penangkapan Soepardjo, seperti disebutkan Ki Onto Seno melahirkan guyonan, “Baru dalam sejarah, ada jenderal diterkam kalong di atas loteng rumah.” Sementara itu, berbagai media ibukota ramai-ramai memberitakannya sebagai hadiah Lebaran bagi umat Islam Indonesia. Namun, Oei Tjoe Tat, menteri Kabinet Dwikora dalam Memoar Oei Tjoe Tat: Pembantu Presiden Soekarno agaknya meragukan peran Soepardjo sebagai otak di balik G30S. Menurut Oei, Soepardjo pernah menyampaikan kepadanya tentang adanya golongan yang serius dengan konfrontasi dan ada golongan yang cuma pura-pura saja demi duit. “Sekiranya benar, ia tidak berniat berontak terhadap pemerintahan Sukarno,” kata Oei.

  • Bu Ruswo, Pahlawan dari Balik Dapur Umum

    Dalam keadaan lelah usai menyabung nyawa dalam pertempuran di front Bukateja, Purbalingga pada 1947, prajurit-prajurit republik terpaksa “berjuang” kembali untuk bisa kembali ke tempat asal, Yogyakarta. Selain terpaksa duduk di bordes rangkaian kereta api, mereka mesti menahan lapar di tengah udara dingin sepanjang perjalanan Temanggung-Yogyakarta itu lantaran gerimis. “Kalau begini ada Bu Ruswo tidak bakal lapar. Tidak bakal haus. Tidak bakal kedinginan. Mulut bisa ngebul!” kata salah satu prajurit kepada temannya, seperti diceritakan Tjiptoning dalam Majalah Minggu Pagi , 1 Februari 1959. Namun, setibanya di Stasiun Tugu, Yogyakarta, asa mereka kembali muncul. Seorang yang mereka harapkan telah siap sedia. Dialah Ibu Ruswo, ibunya para prajurit. Bu Ruswo merupakan orang yang berperan penting pada masa revolusi fisik di Yogyakarta. Ia tak mengangkat senjata dan maju ke medan pertempuran, namun berjuang di belakang layar dengan memasok logistik bagi para prajurit. Lahir dengan nama Kusnah pada 1905 di Yogyakarta, ia kemudian lebih dikenal sebagai Bu Ruswo sejak menikah dengan pemuda bernama Ruswo Prawiroseno. Pada 1928, Bu Ruswo mulai aktif dalam berbagai organisasi. Mulanya ia bergabung dengan Indonesisch Nationale Padvinders Organisatie (INPO), organisasi kepanduan yang berdiri sejak 1926. INPO kemudian melebur dengan beberapa kepanduan lain menjadi Kepanduan Bangsa Indonesia (KBI). Menurut Tjiptoning, Bu Ruswo memang memiliki minat dalam kepanduan. Selama aktif dalam kepanduan, Bu Ruswo seringkali berperan dalam mengurus logistik. “Di Jogja, ada jambore KBI urus makanan. Ada Perkino (Perkemahan Kepanduan Indonesia) di Ambarwinangun (Jogja) – Sri Sultan untuk pertama kalinya hadir; zaman Belanda!-, urus makanan. Ada Kongres Indonesia Muda, urus makanan. Ada Kongres Taman Siswa, urus makanan, ada Kongres PNI, Kongres Partindo, kongres PSSI (sepakbola) urus makanan!,” tulis Tjiptoning. Pada zaman pendudukan Jepang, Bu Ruswo bergabung dengan Badan Pembantu Prajurit Indonesia (BPPI). BPPI kemudian berubah menjadi Badan Penolong Keluarga Korban Perjuangan. Karena keaktifannya, Bu Ruswo bersama kawannya Lasmidjah Hardi pernah dipanggil pemerintah Dai Nippon. "Dengan hati berat dan bermacam-macam pertanyaan dalam hati, kami menghadap. Tapi syukurlah bukan hukuman yang kami terima, melainkan tugas untuk memimpin Fujinkai (organisasi wanita) di Yogyakarta,” tulis Lasmidjah Hardi dalam Sumbangsihku bagi Pertiwi: (Kumpulan Pengalaman dan Pemikiran). Selama Revolusi Fisik di Yogyakarta, Bu Ruswo aktif mengorganisir dapur-dapur umum di setiap kantong pasukan Republik. Ia juga menggerakkan para perempuan agar turut membantu perjuangan dari belakang layar, di samping mengumpulkan sumbangan penduduk untuk memenuhi kebutuhan logistik. Menurut Pranoto Reksosamodra, yang kelak menjadi Asisten Pernsonalia Men/Pangad, dalam Memoar Mayor Jenderal Raden Pranoto Reksosamodra, Bu Ruswo rajin keluar masuk kota-kota yang kala itu diduduki pihak Belanda. “Dia bertugas sebagai kurir atau berbelanja keperluan kami yang sedang bergerilya di luar kota,” tulis Pranoto . Pranoto mengenang, suatu ketika dia bertemu dengan Bu Ruswo yang membawakan oleh-oleh surat kabar, kemenyan, kelembak, dan tembakau. Dengan itu, dia dan gerilyawan lainbisa merokok meski kertas rokoknya menggunakan surat kabar bekas. Meski dikenal sebagai pahlawan dari dapur umum, Bu Ruswo sebenarnya tak melulu mengurus makanan. Ia sempat bergabung dengan Komite Pembela Buruh Perempuan Indonesia, Komite Penyokong Perguruan Indonesia, hingga Perkumpulan Pembrantasan Perdagangan Perempuan dan Anak (P4A). Dalam Peng hancuran Gerakan Perempuan, Saskia Wieringa mencatat bahwa Bu Ruswo turut hadir dalam Kongres Persatuan Perkumpulan Isteri Indonesia (PPII) II di Surakarta pada 1932 di mana isu perdagangan perempuan santer diperbincangkan. Bu Ruswo, sebagaimana dikutip Wieringa dari Perikatan Perkoempoelan Isteri Indonesia, mengatakan bahwa perdagangan perempuan merupakan “penyakit dunia.. yang sudah ada sejak dulu kala sampai dewasa ini, dari Timur maupun sampai Barat… Suatu penyakit yang merajalela di setiap sudut hubungan manusia, dari tingkat rendah sampai tinggi, di kalangan kulit putih dan berwarna.” Namun, lantaran sudah terlanjur dikenal sebagai pahlawan dari balik dapur umum, aktivitas maupun pemikiran Bu Ruswo dalam berbagai organisasi perempuan hampir tak tercatat dalam sejarah. Atas jasa-jasanya, pada 1958 Bu Ruswo dianugerahi B intang Gerilya oleh Presiden Sukarno yang diberikan bersama penganugerahan untuk almarhum Jenderal Sudirman dan Sri Sultan Hamengku Buwono IX. Nama Bu Ruswo kemudian diabadikan menjadi nama jalan di Yogyakarta, Jalan Ibu Ruswo.

  • Lika-liku Mobil Listrik yang Menggelitik

    SEMENJAK Raja Kasunanan Surakarta Pakubuwono X memiliki “kereta setan” alias mobil, jumlah kendaraan bermotor empat roda terus bertambah. Namun, pertambahan mobil sebagai kendaraan pribadi masyarakat Indonesia berjalan lambat. Penggunaan mobil baru masif jauh setelah Indonesia merdeka, terutama setelah masuknya mobil-mobil Jepang pada 1970-an. Masifnya penggunaan mobil sebagai kendaraan pribadi membuat pasar otomotif tanah air membesar. Para produsen dari berbagai belahan dunia tertarik. Beragam jenis mobil berikut teknologi yang menyertainya pun bermunculan. Isu kelestarian lingkungan menjadi tantangan sekaligus pangsa pasar tersendiri yang mendorong para produsen mengembangkan mesin bertenaga listrik sebagai pengganti mesin bertenaga bahan bakar minyak (BBM). Di Indonesia, Hyundai menjadi pelopornya dengan meluncurkan mobil listrik murni Ioniq Electric dan SUV (Sport Utility Vehicle) Kona Electric oleh PT Hyundai Motor Indonesia pada 6 November 2020. Beragam fitur teknologi yang disandang Hyundai Ioniq dan Kona merupakan bagian dari perjalanan sejarah panjang mobil listrik. Laju Sejarah Mobil Listrik Embrio mobil listrik muncul pertamakali pada 1828 lewat mesin elektrik ciptaan Ányos Jedlik, ilmuwan Hungaria sekaligus pendeta Ordo Santo Benediktus. Bereksperimen sejak setahun sebelumnya,dengan hanya bermodalkan imajinasi, Jedlik menciptakan alat penggerak elektromagnetis yang dinamakannya lightning-magnetic self-rotor (baling-baling kilat magnetis yang bergerak sendiri). “Bagaimana jika, secara kebetulan, sebuah aliran listrik cukup besar yang melewati kumparan ditempatkan di sekitar pasak magnetis? Jika hasilnya membuat pasaknya lebih kuat, maka aliran listriknya akan membuat sekeliling pasaknya lebih kuat pula, di mana hal itu akan memberikan aliran lebih kuat lagi hingga sebuah batas tertentu,” ungkap Jedlik dalam catatannya, dikutip Kevin Desmond dalam Innovators in Battery Technology: 95 Influential Electrochemist . Jedlik lantas menjajal alat buatannya dengan menempatkan di sebuah kendaraan kecil seukuran mainan. Percobaannya berhasil, namun karya Jedlik itu dianggap tak punya prospek apapun saat itu. “Mesinnya tak punya tujuan pengaplikasian yang praktis, apalagi komersial sebagaimana pandangan Ordo Benediktus saat itu, hingga akhirnya ciptaannya dikesampingkan. Ia juga tak pernah lagi membicarakan penemuan revolusionernya itu selama tiga dekade berselang,” sambung Desmond. Ányos István Jedlik dengan mesin listrik ciptaannya. (anc/ jedliktarsasag.hu ). Di periode yang sama, ilmuwan asal Skotlandia Robert Anderson menciptakan hal serupa. Dia membuat purwarupa kereta yang tak digerakkan dengan kuda, melainkan dengan baterai pada 1832. “Hanya sedikit yang diketahui dari penemuan Robert Anderson –sayangnya detail-detail tentang kendaraan buatannya sudah hilang. Hanya diketahui antara 1832-1839 d ia mendesain, membangun, dan menguji kereta yang digerakkan baterai. Anderson juga sayangnya belum punya alternatif selain menggunakan baterai berisi sel-sel timbal-asam non-isi ulang. Baterai yang rechargeable sendiri baru ditemukan pada 1859,” tulis Nigel Burton dalam History of Electric Cars. Meskipun penemuan Anderson hanya jadi catatan kaki dalam historiografi mobil listrik, nama Anderson tetap diakui sebagai pionir mobil listrik. Anderson tak seberuntung ilmuwan Belanda Sibrandus Stratingh. Bila penemuan Anderson minim apresiasi, kereta tiga roda berpenggerak baterai karya Stratingh pada 1834 diapresiasi secara luas. Ciptaan Stratingh itu berupa kereta terbuat dari kayu berbobot tiga kilogram yang ditempatkan dua pelat kumparan masing-masing bermaterial tembaga dan seng. Di atas keretanya, Stratingh menempatkan sebuah guci berisi asam encer. Idenya datang setelah membaca sejumlah riset karya Moritz von Jacobi yang mendesain mesin elektromagnetik di St. Petersburg, Rusia. Sibrandus Ezn. Stratingh dengan kereta bermesin listrik pertamanya. ( rug.nl ). Dibantu mekanik Christopher Becker, Stratingh membuat beberapa purwarupa untuk dijajal beperjalanan keliling kota Groningen pada 22 Maret 1834. Suratkabar Groninger Courant edisi 27 Maret 1834 melaporkan, percobaan perdana Stratingh berjalan lancar tanpa masalah apapun. “Pada pagi 22 Maret, perjalanan ujicoba pertama dilakukan Tuan Stratingh dan Becker dengan kendaraan mereka yang beperjalanan melalui jalan-jalan berliku di kota dengan hasil positif. Para pembuatnya sangat senang dengan pengujiannya hingga mereka merasa masih bisa melakukan pengembangan lagi agar juga bisa melewati jalan-jalan berbatu tanpa masalah,” demikian Groninger Courant memberitakan . Kereta buatan Stratingh melakoni pengujian jarak jauh pertamanya pada 3 November 1835 dengan rute Groningen-De Punt yang berjarak 20 kilometer. Hasilnya memuaskan. Kabar keberhasilan itu mencapai telinga Raja Willem I yang lantas memberi Stratingh insentif 600 gulden demi melanjutkan penelitiannya dan berbagi pengetahuan ke sejumlah kampus. Namun, penelitian Stratingh acap terhambat karena kesehatannya mulai terganggu. Sepeninggal Stratingh yang tutup usia pada 15 Februari 1841, pengembangan mobil listrik dilanjutkan insinyur Prancis Gustave Trouvé. Dengan ketersediaan baterai timbal-asal yang bisa diisi ulang ciptaan ilmuwan Belgia Gaston Planté, pada 1881 Trouvé menciptakan mobil beroda tiga yang bisa mengangkut manusia. “Trouvé sebelumnya mengembangkan mesin itu untuk pengaplikasian transportasi air, hingga menghasilkan perahu bermesin listrik pertama yang melintasi Sungai Seine, hingga kemudian dia mengadaptasikannya ke sebuah kendaraan beroda tiga Coventry-Rotary,” sambung Burton. Purwarupa pertama mobil Trouvé lahir pada 26 Mei 1881. Dalam pengujiannya, kendaraan itu bisa melaju hingga kecepatan 3,6 km/jam saat jalan menanjak dan 9 km/jam di jalanan menurun. Dia memamerkan penemuannya di Exsposition Internationale d’Électricité di Paris, 15 Agustus-15 November 1881. Thomas Parker, insinyur Inggris yang kondang berkat inovasinya berupa trem di Liverpool dan Birmingham, turut menciptakan mobil bertenaga listrik pada 1884. Mobil beroda empatnya bahkan bisa mengangkut tiga orang. Kelebihan mobil Parker adalah mesinnya tak mengepulkan asap seperti buatan Trouvé atau Stratingh. Searah jarum jam: kolase mobil listrik ciptaan Gustave Pierre Trouvé, Thomas Parker, Andreas Flocken dan LRV milik NASA. (Bibliothèque Nationale de France/ evrijders.nl /Deutsches Museum/ nasa.gov ). Empat tahun berselang, giliran ilmuwan Jerman Andreas Flocken melaju dengan mobil ciptaannya, Flocken Elektrowagen. Mobil ini diklaim sebagai mobil listrik pertama yang dilengkapi penerang listrik di depannya dan diproduksi massal oleh Macinenfabrik A. Flocken di Coburg. Amerika Serikat baru mengikuti pada 1890 lewat kereta bermesin listrik pertama yang bisa mengangkut penumpang hingga 12 orang ciptaan William Morrison. Dibuat di Des Moines, Iowa, mobil ini bisa melaju hingga 23 km/jam. Mobil ini ditenagai mesin listrik dengan baterai yang bisa diisi ulang dan dilengkapi sistem gir dan mekanisme setir yang lebih praktis ketimbang para pendahulunya. Diklaim sebagai mobil listrik praktis pertama, mobil Morrison jadi pijakan awal kepopuleran mobil listrik hingga akhir abad ke-19. Dalam Used Battery Collection and Recycling , G. Pistoia, JP Wiaux, dan SP Wolsky menulis, mobil listrik mampu bersaing dengan mobil Internal Combustion Engine (ICE) atau mobil konvensional BBM di pasar Amerika. “Pada akhir abad ke-19 sebenarnya teknologi mesin listrik dan uap lebih maju ketimbang mesin berbahan bakar minyak. Sampai tahun 1900, 38 persen mobil di Amerika adalah mobil listrik. Hampir 34 ribu mobil listrik terdaftar di Amerika pada 1912,” tulis Pistoia dkk. Pengoperasian yang tidak berisik, kehandalan, dan kemudahan menyalakan mesin jadi sejumlah faktor kesuksesan penjualannya. Namun, kekurangan mobil listrik pada awal abad ke-20 adalah masih belum bisa digunakan jarak jauh. Harganya pun relatif lebih mahal ketimbang mobil BBM yang mulai 1930-an menenggelamkan kepopuleran mobil listrik. Krisis Minyak Beberapa produsen mobil konvensional terkemuka perlahan mengembangkan mobil listrik. Terutama pada 1970-an ketika terjadi krisis minyak dan mencuatnya isu lingkungan. Terbukanya potensi pasar mobil bermesin alternatif kemudian memunculkan mobil hybrid (dua mesin: BBM dan listrik), ataupun plug-in hybrid (bermesin BBM dan listrik yang yang di- charge dari sumber listrik eksternal). Di Indonesia, Hyundai menjadi pelopor mobil listrik murni dengan meluncurkan Ioniq dan Kona. Keduanya jadi ujung tombak pabrikan asal Korea Selatan itu untuk mendobrak pasar mobil konvensional. Mengusung kampanye “Be Bold, Be Electric”, Hyundai menawarkan aspek filosofis sekaligus aspek ekonomis melalui Ioniq dan Kona. Kedua mobil ini merupakan agen perubahan gaya hidup kita agar ramah lingkungan dan secara ekonomis. Ioniq dan Kona bukan hanya mobil listrik murni termurah di Indonesia (di bawah Rp1 miliar) namun juga 4,4 kali lebih irit dibanding mobil konvensional, hybrid ataupun plug-in hybrid . Keiritan Ioniq dan Kona didapat dari pasokan sejumlah teknologi mutakhir. Ioniq & Kona, dua mobil listrik murni pertama di Indonesia persembahan Hyundai Motor Indonesia. ( hyundai.com ). Ioniq yang lebih dulu lahir (Juli 2016) dan masuk Indonesia sebagai armada taksi online, tenaganya dipasok baterai lithium-ion polymer berkapasitas 38,3 kWh. Ia bisa menjelajah sejauh 277 kilometer. Sementara Kona yang lahir pada Juni 2017 di Korea, ditopang tenaga listrik dari baterai lithium-ion berkapasitas 39,2 kWh dan magnet synchronous 150 kW. Kona mampu menjelajah hingga 261 kilometer. Baterai Ioniq maupun Kona dilengkapi Electric Power Control Unit (EPCU) dan On Board Charger (OBC) untuk memastikan kondisi baterai berpendingin itu tak mati tiba-tiba di tengah jalan. Untuk pengisiannya pun mudah. Pengguna bisa mengisi daya di Stasiun Pengisian Kendaraan Listrik Umum (SPKLU) yang disediakan Perusahaan Listrik Negara (PLN) –saat ini masih seratas area Jakarta, Tangerang, Bandung, Surabaya Denpasar, dan Makassar– atau di semua dealer resmi Hyundai di Indonesia. Keseriusan Hyundai dalam menyongsong era mobil listrik juga dilakukan dengan memperhatikan desain Ioniq maupun Kona. Untuk ini, Hyundai menggandeng desainer Luc Donckerwolke. Alhasil desain primium Ioniq dan Kona kuat menampilkan kesan futuristik. Melalui Ioniq dan Kona, Hyundai ingin melibas sejumlah mitos mobil listrik yang selama ini acap jadi kekhawatiran masyarakat: kesulitan mencari tempat pengisian daya baterai, harga selangit, dan daya tahan baterai itu sendiri.

  • USIS dan CIA di Indonesia

    AUGUSTIN Sibarani (1925-2014), karikaturis lepas, biasa nongkrong dan main catur di restoran “Sederhana” di daerah Pasar Senen, Jakarta. Pada suatu hari, dia didatangi seorang peminat karikaturnya. Dia bekerja di bagian ekspedisi penerbitan majalah dari kantor USIS (United States Information Service). “Gaji di kantor kami besar,” katanya kepada Sibarani sambil memegang bidak catur dan melahap soto mi, kemudian minum bir. “Kalau mau, datanglah melamar, saya kira orang Amerika senang sama seorang karikaturis,” katanya yang sayang tidak disebutkan namanya dalam memoar Augustin Sibarani, Karikatur dan Politik.

  • Islamisasi di Tanah Ternate

    Kejayaan Ternate sebagai salah satu bandar niaga terkemuka di wilayah Timur Nusantara telah membawa perubahan besar bagi sebagian rakyatnya. Di bawah pimpinan Sida Arif Malamo (1322-1331), Ternate menjadi pintu masuk utama perniagaan Maluku, mengungguli saudaranya, Tidore. Para pedagang dari Cina, Arab, dan Gujarat pun berlomba menarik hati rakyat di daerah penghasil cengkih raja (cengkih kualitas terbaik) itu untuk menjalin hubungan dagang dengan negeri mereka. Di tengah aktivitas niaga tersebut, ajaran agama Islam yang dibawa pedagang Arab mulai dikenal rakyat Ternate. Keinginan untuk memperdalamnya pun mulai dirasakan sebagian dari mereka, terutama yang sering bersinggungan dengan orang-orang Arab itu. Namun hingga pertengahan abad ke-15, proses Islamisasi di sana belum sepenuhnya dapat diterima rakyat Ternate. Tidak adanya dukungan dari para penguasa membuat Islam sulit berkembang kala itu. Baca juga:  Berebut Rempah di Maluku Barulah pada masa pemerintahan Marhum (1431-1486), di akhir kekuasaannya, ajaran Islam mulai mendapat tempat dan diterima banyak penguasa Ternate. Perkembangannya saat itu cukup intens. Bahkan, menurut M. Adnan Amal dalam Kepulauan Rempah-rempah: Perjalanan Sejarah Maluku Utara 1250-1950 , Marhum membawa Islam ke lingkungan terdalam istana. “Putra Marhum, Zainal Abidin, memperoleh didikan Islam sejak kanak-kanak hingga dewasa di bawah bimbingan juru dakwah terkenal, Datu Maulana Husein, yang dapat dianggap sebagai pembawa Islam ke Maluku, khususnya ke Ternate,” ungkap Adnan. Juru Dakwah dari Gresik Menurut Mundzirin Yusuf dalam Sejarah Peradaban Islam di Indonesia, Datu Maulana Husein berasal dari Minangkabau. Dia datang ke Ternate pada 1465 sebagai pedagang dan juru dakwah dari Gresik. Datu Maulana Husein berhasil menjalin hubungan persahabatan dengan Marhum. Berkat itu, dia mampu menyebarkan ajaran Islam di lingkungan istana Ternate. “Dia pandai membaca Al-Qur’an dan suaranya amat merdu. Hampir setiap malam dia membaca kitab suci itu dengan tilawah yang baik dan menarik pribumi Ternate. Akibatnya, banyak pribumi Ternate datang ke rumahnya sekedar mendengar tilawah Al-Qur’an, dan jumlahnya semakin membengkak dari hari ke hari,” kata Adnan. Baca juga:  Sultan Baabullah, Pahlawan Nasional dari Ternate Dengan cara tersebut Maulana Husein mampu menarik minat rakyat Ternate untuk mengenal Islam. Di antara mereka juga banyak yang meminta diajarkan cara membaca Al-Qur’an. Di kediamannya, Maulana Husein lalu membuka pengajian dan sekolah untuk mengajarkan ajaran Islam secara lebih dalam kepada siapapun yang ingin mempelajarinya. Masyarakat pun berbondong-bondong mendatangi Maulana Husein untuk menjadi seorang muslim. Di lingkungan istana, setelah berhasil mengislamkan Marhum, Maulana Husein memberikan pengajaran Islam kepada seluruh keluarga istana dan pejabat istana. Dia mengajarkan tata cara shalat, membaca Al-Qur’an, dan ajaran Islam lainnya. Raja juga memerintahkan semua orang untuk memeluk Islam. Menurut Adnan, Marhum menjadi raja pertama Ternate yang dimakamkan secara Islam. Murid Sunan Giri Zainal Abidin meneruskan takhta Ternate setelah ayahnya, Marhum, wafat pada 1486. Dia ditetapkan sebagai sultan pertama negeri tersebut. Di bawah pemerintahannya, Islam menjadi agama resmi kerajaan Ternate. Zainal Abidin melakukan perubahan-perubahan besar di Ternate, di antaranya: gelar Kolano yang digunakan raja berubah menjadi Sultan; Ternate secara resmi menjadi kesultanan; mempertegas kedudukan agama Islam di pemerintahan; dan membentuk Lembaga Jolebe yang bertugas membantu tugas harian Sultan di bidang agama (jolebe berjubah putih) dan pemerintahan (jolebe berjubah hitam). “Perubahan struktur dan kelembagaan Kesultanan Ternate telah membawa pengaruh besar terhadap kerajaan-kerajaan lainnya di Maluku. Kerajaan-kerajaan seperti Tidore dan Bacan, akhirnya juga terpengaruh dan menerapkan struktur dan kelembagaan kerajaannya mengikuti struktur dan kelembagaan baru yang diintroduksi Ternate,” tulis Adnan. Baca juga:  Akhir Tragis Sultan Ternate di Tangan Portugis Dasar pendidikan agama yang diperoleh Zainal Abidin selain berasal dari gurunya, Datu Maulana Husein, juga berasal dari salah seorang Wali Songo, yakni Sunan Giri. Pada 1495, dengan didampingi Maulana Husein, Zainal pergi ke Gresik untuk memperdalam Islam di madrasah milik Sunan Giri. Menjadi murid seorang Wali Songo memang menjadi cita-cita Zainal Abidin sejak remaja. Berkat cerita yang selalu disampaikan gurunya, dia selalu membayangkan sosok para penyebar ajaran Islam di tanah Jawa tersebut. Zanal Abidin menjadi satu-satunya sultan asal Maluku yang menimba ilmu dari seorang Wali Songo. Di sekolah teman-temannya memberi nama kecil untuk Zainal Abidin, yakni Sultan Bualawa (Sultan Cengkih). Dikisahkan H.J. De Graaf dan TH. Pigeaud dalam Kerajaan-Kerajaan Islam di Jawa , Zainal Abidin dikenal handal dalam berpedang. Pernah suatu hari, dia bertemu seorang pemuda yang mengamuk dan hendak menyerang Sunan Giri. Dengan sigap, Zainal Abidin mencabut pedangnya dan dengan satu tebasan membelah kepala orang tersebut. De Graaf juga menyebut ada kisah yang menyebut keahilan berpedangnya dapat membelah sebuah batu karang. Baca juga:  Pengabdi VOC dari Ternate Selama di Giri, Zainal Abidin menjalin hubungan baik dengan penguasa dan orang-orang berpengaruh lainnya. Ketika hendak pulang ke tanah airnya, dia mengajak sejumlah ahli agama ke Ternate untuk mengajarkan agama dan budaya Islam. Satu yang cukup terkenal di antara mereka adalah Tuhubahahul. Para ulama tersebut diberi tugas sebagai guru agama, mubaligh, dan imam di Kesultanan Ternate. Pada 1500, Zainal Abidin wafat. Dia digantikan oleh Bayanullah, yang di kalangan orang Barat dikenal dengan nama Sultan Boleif atau Abu Lais. Pada masa pemerintahannya, aturan-aturan yang bertujuan memantapkan syairat Islam di segala segi kehidupan masyarakat Ternate dibuat. Dan para pelanggar aturan tersebut akan diganjar hukum berat. Baca juga:  Islamisasi Minangkabau Beberapa peraturan yang dibuat Bayanullah, di antaranya: pembatasan poligami, larangan pergundikan, pemangkasan biaya pernikahan yang berlebihan, dan peraturan berpakaian bagi perempuan. Peraturan lain yang dikeluarkan untuk mempertegas kedudukan Islam adalah kewajiban memeluk agama Islam bagi semua rakyat Ternate. “Setelah Zainal Abidin, Bayanullah dapat dipandang sebagai tokoh paling berjasa dalam penyebaran agama Islam, khususnya di wilayah Kesultanan Ternate. Di samping itu, Bayanullah merupakan sultan yang paling signifikan jasanya dalam implementasi prinsip-prinsip Islam ke dalam struktur dan lembaga-lembaga Kesultanan Ternate. Dia juga sukses mengeluarkan rakyatnya dari politeisme ke moniteisme Islam,” ungkap Adnan.

  • Sekolah Masa Revolusi

    Lonceng sekolah berbunyi. Murid-murid masuk ke kelas. Seorang guru lelaki mengambil tumpukan rapor di mejanya dan memanggil nama muridnya satu per satu. Murid-murid cemas. Sampai di meja guru, murid melihat rapornya masing-masing. Ada yang wajahnya berubah senang, ada juga yang tegang. Sebagian murid tak naik kelas. Harus mengulang lagi setahun. Nilai rapornya jelek. Matanya basah. Murid lainnya tampak sumringah. Senyumnya lebar. Mereka naik kelas. Nilai rapornya bagus. “Ruang kelas dalam sekejap terisi oleh para pelajar yang bergembira diselingi dengan pelajar-pelajar yang berlinang-linang matanya. Banyak pula yang menangis terisak-isak terutama murid wanitanya,” cerita Asmadi tentang suasana pembagian rapor murid kelas 2 Sekolah Menengah Tinggi (SMT) di Malang pada Juli 1947 dalam Sangkur dan Pena. Salah satu murid itu bernama Rahmad. Dia termasuk beruntung. Nilai rapornya bagus sehingga bisa naik kelas. Padahal Rahmad juga seorang anggota Tentara Republik Indonesia Pelajar (TRIP) Batalyon 5000 di Malang, Jawa Timur, pada 1947. Waktunya sering terbagi antara belajar di sekolah dan berlatih di asrama untuk menghadapi tentara NICA. Selama masa 1945–1949, banyak pelajar setingkat SMP dan SMA bergabung ke TRIP. Sekolah mereka tetap jalan. Usia mereka sudah terlalu dewasa untuk duduk di bangku sekolah. Rahmad, misalnya, telah berusia 19 tahun saat menginjak kelas 2 SMT. Cerita Asmadi menunjukkan pendidikan di sekolah tetap berjalan walaupun dalam suasana perang.   Memasuki masa awal kemerdekaan, Indonesia berusaha merumuskan ulang sistem, konsep, dan tujuan pendidikan. Pendidikan menjadi salah satu kementerian dalam susunan pemerintahan Indonesia dengan nama Kementerian Pengajaran. Lalu berubah jadi Kementerian Pengajaran dan Kebudayaan. Menterinya pun silih berganti dalam waktu singkat. Pemerintah menetapkan pendidikan Indonesia bersendikan agama dan kebudayaan bangsa. Susunan pelajarannya terdiri atas pengetahuan umum, pendidikan budi pekerti, pendidikan semangat bekerja, kekeluargaan, cinta tanah air, dan keprajuritan. “Syarat itu diwajibkan untuk semua sekolah baik negeri maupun swasta,” catat Suradi HP dkk. dalam Sejarah Pemikiran Pendidikan dan Kebudayaan . Jenjang pendidikan tak banyak berubah. Sekolah dasar masih enam tahun, lalu berlanjut ke sekolah menengah pertama tiga tahun dan menengah atas tiga tahun. Penerapan kebijakan pendidikan ini tak mudah. Selama masa ini, pendidikan Indonesia mengalami masa krisis. Kementerian kesulitan menjalin komunikasi dengan sekolah-sekolah negeri dan swasta di daerah. Belanda menduduki beberapa wilayah di Jawa sehingga mempersulit penyelenggaraan pendidikan. Banyak sekolah dan sarananya juga rusak. “Sebagian dari gedung-gedung sekolah dimusnahkan oleh badan-badan perjuangan dan di antaranya ada juga yang untuk seterusnya dipakai sebagai kantor umum atau diduduki tentara. Alat pelajaran pun banyak yang hilang,” catat Helius Sjamsuddin dalam Sejarah Pendidikan di Indonesia Zaman Kemerdekaan (1945–1966). Selain itu, kelas-kelas juga tak jarang kosong. Murid-murid SMP dan SMA meninggalkan bangku sekolah untuk angkat senjata atau masuk palagan. “Banyak pelajar yang tidak dapat masuk sekolah, terutama mereka yang bertugas sebagai anggota tentara RI,” sebut Istingatun, mantan murid SMT Jakarta 1943–1945 dalam Jembatan Antar Generasi: Pengalaman Murid SMT Djakarta 1942–1945. Sebagian orang menganggap mereka keren. Pahlawan muda, berani, dan patriot. Tapi tak sedikit pula yang kecewa dengan keputusan murid-murid itu meninggalkan sekolah. “Untuk apa kita mengorbankan anak-anak kita secara percuma begitu. Mereka masih mempunyai hari depan yang lebih baik dan tidak hanya sekadar untuk memuaskan diri sendiri seperti mereka sekarang ini,” seru para penentang keikutsertaan pelajar dalam perang, seperti diungkap Asmadi dalam Pelajar Pejuang . Kelompok ini termasuk pula Ikatan Pelajar Indonesia (IPI). Mereka menggulirkan gerakan kembali ke sekolah bagi para pelajar. Selebaran tentang pelajar-pelajar yang tewas di palagan disebarkan saban hari. “TRIP mengorbankan pelajar mati konyol!” tulis sebuah selebaran. Gerakan ini cukup kuat memancing perdebatan di kalangan pelajar. “Berbagai anggota TRIP Staf I yang terdiri dari pelajar SMT berhari-hari lamanya memperdebatkan masalah itu,” lanjut Asmadi. Puncak perdebatan ditandai oleh kembalinya ratusan anggota TRIP ke sekolah. Ini terjadi menjelang musim kenaikan kelas. Yang jadi masalah, gedung sekolahnya seringkali tak layak dan cukup untuk menampung pelajar. Di samping itu juga sekolah kekurangan guru. Banyak guru juga ikut larut dalam kancah revolusi. Kegiatan di sekolah juga berlangsung sulit. Para pelajar telah banyak lupa dengan materi pelajaran. “Otak yang sudah lama terlatih untuk itu telah menjadi beku,” ungkap Asmadi. Pemerintah juga belum mencetak buku-buku pelajaran. Sehingga para murid menyalin ulang pelajaran dari papan tulis. Hampir seluruh waktu belajar habis untuk menyalin. Setelah itu, barulah para murid mendapat penerangan dari para guru. Menyalin kesannya sepele. Tapi bagi para murid, itu menjadi kegiatan yang membosankan. Apalagi kualitas alat tulis dan buku mereka sangat buruk. “Sedang asyik-asyiknya menulis tiba-tiba pensilnya patah atau kertasnya sobek,” terang Asmadi. Masalah lainnya, salinan itu cepat luntur. Lebih lagi bila terkena air. “Tulisan-tulisan yang dengan susah payah digoreskan ke dalamnya akan hilang tanpa bekas,” kata Asmadi. Lama berjuang di palagan membuat tabiat para murid berubah. Mereka jadi lebih pandai mengayunkan sangkur ketimbang pena. Lebih takut terhadap pelajaran dan susah konsentrasi pada ujian. Padahal di palagan mereka tak takut musuh dan mati. Konsentrasi terus pada posisi pertahanannya. Tapi di kelas, semuanya berubah. Para murid kesulitan menghadapi pelajaran ilmu alam, mekanika, kimia, aljabar, ilmu bumi, bahasa Inggris, Jerman, dan Indonesia. Mereka harus bersusah payah menghafal kembali materi tersebut. “Harus banyak mengurangi saat-saat mengaso dan tidur,” kata Asmadi. Saking stresnya dengan pelajaran, tak jarang para murid jatuh sakit. “Tak sedikit di antara pelajar-pelajar itu berubah menjadi kurus karenanya,” terang Asmadi. Keadaan mulai berangsur normal setelah 1949. Perang dengan Belanda berakhir. Sekolah-sekolah mulai bisa memperbarui fasilitasnya. Undang-undang pendidikan pun segera disusun. Gelombang pelajar kembali ke sekolah kian banyak. Sebagian mereka telah lewat umurnya untuk dikategorikan sebagai pelajar SMP atau SMA. Tapi mereka acuh dengan itu. Buat mereka ilmu di sekolah juga perlu diraih kembali.

  • Hikayat Sunan Prapen

    Pertengahan abad ke-16, kegaduhan terjadi di wilayah Tengah dan Timur Pulau Jawa. Wafatnya pemimpin kharismatik Demak, Sultan Trenggana, membuat kekosongan kekuasaan terjadi di kerajaan Islam terbesar di Jawa tersebut. Perebutan kekuasaan pun tidak terhindarkan antara Pajang dan Jipang, yang semakin memperkeruh suasana di Jawa kala itu. Akibatnya, banyak negeri  vasal yang memutuskan hubungan dengan Demak dan memilih merdeka. Satu di antara negara yang telah sepenuhnya merdeka itu adalah Giri Kedaton di Gresik, Jawa Timur. Sebenarnya, sejak kejatuhan Majapahit pada 1527, Giri tidak pernah merasa ada di bawah kuasa Demak. Mereka menganggap diri sebagai negeri merdeka dan bebas. Sebagaimana diuraikan H.J De Graaf dan TH. Pigeaud dalam Kerajaan-Kerajaan Islam di Jawa , baik dalam tutur Demak maupun Giri tidak pernah disebutkan adanya pendudukan atas Giri. Namun kejatuhan itu telah membuat wilayah Gresik secara umum terbebas dari bayang-bayang kuasa Demak. Di wilayah Giri Kedaton, kekuasaan tertinggi dipegang oleh pemimpin agama. Tempat itu sejak abad ke-15 telah digunakan oleh para ulama untuk menuntut ilmu dan menyebarkan ajaran Islam. Sewaktu keributan di Demak terjadi, pemimpin agama di Giri diduduki oleh Sunan Prapen, atau dikenal juga dengan nama Sunan Mas Ratu Pratikal. Dia diangkat pada 1548, menggantikan adiknya Sunan Seda-ing-Margi yang tewas di dalam sebuah perjalanan. “Sunan Prapen ialah pemimpin agama di Giri. Selama pemerintahannya yang panjang sekali (dari tahun 1548 sampai kira-kira tahun 1605) ia banyak berjasa membentuk dan memperluas kekuasaan “kerajaan imam” Islam, baik di Jawa Timur dan Jawa Tengah maupun di sepanjang pantai pulau-pulau Nusantara Timur,” kata Graaf dan Pigeaud. Sunan Prapen diketahui merupakan cucu Sunan Giri, salah seorang Wali Songo. Selama berada di bawah pimpinannya, Giri mencapai masa keemasannya. Daerah itu menjadi pusat peradaban Islam, serta pusat ekspansi Jawa di bidang ekonomi dan politik. Menurut Bagenda Ali dalam Awal Mula Muslim di Bali Kampung Loloan Jembrana Sebuah Entitas Kuno , Sunan Prapen juga menjadikan Giri tempat penyebaran Islam ke wilayah Indonesia bagian timur, termasuk Bali yang amat kental dengan kehinduannya dan Nusa Tenggara. Islamisasi Bali dan Nusa Tenggara Tidak dijelaskan dengan pasti kapan Sunan Prapen melakukan Islamisasi di Bali dan Nusa Tenggara. Namun menurut David D. Harnish dalam Between Harmony and Discrimination: Negotiating Religious Identities within Majority-Minority Relationships in Bali and Lombok , Sunan Prapen pergi ke Bali dan Lombok dalam misi penyebaran Islam yang dijalankan Giri. “Sunan Prapen asal Gresik memang menyiarkan Islam di Buleleng, sebelum akhirnya melanjutkan ke wilayah Lombok. Dia membangun Mushola di Buleleng untuk memfasilitasi para pedagang Muslim yang datang ke Buleleng,” tulis Dhurorudin Mashad dalam Muslim Bali: Mencari Kembali Harmoni yang Hilang . Di Lombok, ditemukan banyak bukti keberadaan Giri. Di Desa Dasan Geres, Gerung, Lombok Barat, terdapat sebuah tempat bernama Giri Menang. Tempat itu dipercaya sebagai persinggahan Sunan Prapen selama proses penyebaran Islam di Lombok. Ditemukan juga masjid tua di beberapa lokasi di Lombok Utara dan Lombok Tengah. Selain itu, ada Kelurahan Prapen di Praya, Lombok Tengah, yang dipercaya diambil dari nama Sunan Prapen. “Situs-situs itu menjadi bukti perjalanan Islam dari Jawa ke wilayah Lombok,” tulis Harnish. Di Nusa Tenggara, Sunan Prapen pergi ke banyak tempat, seperti Sumbawa, Bima, Dompu, Lombok, hingga sekitar pegunungan Rinjani, sebelum akhirnya kembali ke Bali untuk melanjutkan perjalanan pulang ke Jawa Timur. Proses pengenalan Islam yang dilakukan Sunan Prapen tidak selamanya berjalan mulus. Menurut Harnish, banyak masyarakat yang kembali ke kepercayaan lamanya begitu Sunan Prapen meninggalkan tempat mereka. Tidak adanya pemimpin agama yang sekualitas Sunan Prapen disebut menjadi alasan kondisi itu terjadi. Tempat Berlindung Para Raja Pada 1549, sebagai simbol kebebasan dari belenggu Demak, Sunan Prapen membangun sebuah kedaton baru di Giri, menggantikan kedaton milik kakeknya yang dibangun pada 1488. Menurutnya kedaton lama itu tidak menunjukkan kekuasaan dan kejayaan para pemimpin agama di Giri. Sehingga perlu dilakukan perubahan. Selain itu bangunan baru tersebut, kata de Graaf, menjadi bukti bahwa seorang pemimpin agama ingin disejajarkan dengan raja-raja yang merdeka. Sebagai pemimpin agama, Sunan Prapen lebih banyak memusatkan usahanya untuk memperluas kekuasaan rohani. Di samping kegiatan-kegiatan dagang ke wilayah timur untuk keperluan ekonomi Giri. Menurut De Graaf, dia tidal terlalu mencampuri urusan politik penguasa-penguasa di pedalaman Jawa Tengah. Bahkan di Jawa Timur pun Sunan Prapen tidak memperlihatkan usaha-usaha mencari kekuasaan lebih besar. Banyak penguasa Jawa menganggap Sunan Prapen seorang alim yang bijak. Diceritakan dalam Serat Kandha , Sunan keempat Giri itu pernah menjadi pendamai antara pasukan Mataram dan pasukan Surabaya yang bertempur pada 1589. Kedaton Giri juga oleh Sunan Prapen dijadikan tempat berlindung bagi raja-raja Jawa Tengah dan Jawa Timur yang terdampak pertempuran tersebut. “Menjelang akhir hidupnya yang panjang itu, Sunan Prapen menyatakan keinginan menghormati kakeknya, Prabu Satmata, pendiri dinasti pemimpin-pemimpin rohani di Giri. Ia telah memberi perintah untuk membuat cungkup di atas makam kakeknya. Rupanya, ia menyadari bahwa kekuasaannya di Jawa Timur terletak atas dasar rohani yang kukuh, yang telah diletakkan oleh seorang ulama, yakni kakeknya itu,” tulis De Graaf dan Pigeaud. Sunan Prapen hidup hingga mencapai usia lebih dari 100 tahun. Menurut penuturan pelaut Belanda Olivier van Noort, ketika singgah di Gresik pada 1601, dia mendengar bahwa daerah itu dipimpin oleh seorang tua berusia 120 tahun. “Istri-istrinya yang banyak itu mempertahankan hidupnya dengan menyusuinya seperti seorang bayi,” tutur Olivier. Dalam berita-berita Cina juga disebutkan tentang raja tua yang umurnya lebih dari seratus tahun. Sunan Prapen diperkirakan wafat pada 1605. Dia dimakamkan di sekitar Giri Kedaton, bersama pemimpin-pemimpin agama Giri lainnya.

  • Ketika Presiden Soeharto Dijahili Pangeran Kamboja

    Presiden Soeharto pernah kecele di negeri orang. Sewaktu kunjungan kenegaraan ke Kamboja, panitia penyambutan salah putar lagu. Niatnya ingin memberikan kesan seperti di rumah sendiri. Tapi siapa sangka, berkumandanglah lagu “Gendjer-Gendjer” mengiringi kedatangan rombongan Soeharto. Lagu itu terlarang karena lekat dengan citra Partai Komunis Indonesia (PKI) yang dibasmi oleh rezim Soeharto.

  • Harun Kabir, Penyelamat Keluarga Bung Karno

    SUATU senja di bulan September 1945. Hetty Kabir masih ingat beberapa mobil berhenti depan rumahnya di Jalan Ciwaringin No. 33 Bogor. Dari salah satu kendaraan tersebut, keluarlah Achmad Subardjo, Chaerudin Achyar, Presiden Sukarno beserta keluarganya (Fatmawati, Guntur Sukarnoputra, mertua Bung Karno: Hasan Din dan Siti Chadijah). Sebagai tuan rumah, sang ayah Harun Kabir menyambut hangat para tamu penting itu. Tak perlu waktu lama, dari perbincangan singkat antara Bung Karno dengan ayahnya, putri kedua Harun Kabir itu langsung paham bahwa sang presiden akan menitipkan Guntur (putra mereka yang belum berusia 1 tahun), Hasan Din dan Siti Chadijah di rumahnya selama waktu yang tak bisa ditentukan. “Mereka bertiga akan tinggal  bersama kami karena saat itu situasi Jakarta sangat tidak aman,” kenang almarhum Hetty Kabir dalam suatu wawancara yang dilakukan pada 2016. Cerita Hetty itu terkonfirmasi dalam buku Catatan Kecil Bersama Bung Karno Bagian I , karya Fatmawati. Istri Sukarno kelahiran Bengkulu itu membenarkan jika keluarga besar Presiden Sukarno sempat “mengungsi” ke Istana Bogor yang sudah dikuasai oleh para pemuda. Kepindahan tersebut terjadi karena di Jakarta teror tentara NICA (Pemerintah Sipil Hindia Belanda bentukan H.J. van Mook) mulai merajalela. Namun ketika di Istana Bogor pun, Fatmawati merasakan hal serupa. Dia tidak merasa betah dengan “situasi revolusiener” di sekitar istana yang banyak melibatkan para jago dan pemuda-pemuda setempat. “Bung Karno dan aku pulang kembali ke Jakarta, tetapi Guntur dan nenek-kakeknya tetap tinggal di Bogor, bersama keluarga Harun Kabir,” ungkap Fatmawati. Siapakah sebenarnya sosok Harun Kabir? Pemerintah Jawa Barat mengakui sosok Harun Kabir sebagai tokoh pejuang di era revolusi. Namanya bahkan tertabalkan di tiga kota: Bogor (Jalan Kapten Harun Kabir yang lalu berganti menjadi Jalan Taman Safari), Cianjur (Jalan Mayor Harun Kabir) dan Sukabumi (Jalan Kapten Harun Kabir). Namun sejatinya Harun Kabir bukanlah berasal dari Bogor, Cianjur atau Sukabumi, seperti banyak diyakini oleh beberapa peneliti sejarah di Jawa Barat. Aslinya dia adalah menak Bandung dan putra tunggal dari Raden Kabir Natakusumah, keturunan langsung dari Bupati Bandung ke-5 Raden Wiranatakusumah I (1769-1794). “Ayah saya lahir di Kapatihan pada 5 Desember 1910,” ungkap almarhum Hetty Kabir (putri ke-2 pasangan Harun Kabir dan R.A. Soekrati). Menjelang pemerintah Hindia Belanda runtuh, Harun Kabir menjabat sebagai Asisten Residen Bogor. Ketika militer Jepang berkuasa (1942—1945), dia ditempatkan sebagai pejabat di Zaimubu  (Departemen Keuangan), Jakarta. Pasca proklamasi 17 Agustus 1945, Harun lantas mendirikan Lasykar 33 yang memakai rumahnya sebagai markas besar.  “Saya ingat beliau sempat menjadi komandan saya di Lasykar 33,” ungkap Sukarna, veteran pejuang kemerdekaan kelahiran 1921. Pada awal 1946, Lasykar 33 dilebur ke dalam Tentara Keamanan Rakyat (TKR). Menurut buku Siliwangi dari Masa ke Masa karya Dinas Sejarah Kodam III, beberapa bulan kemudian, Divisi Siliwangi mendapuk Harun Kabir sebagai Kepala Staf Brigade Surjakantjana, dengan pangkat mayor. Namun kemudian karena ada pembenahan struktur dari Markas Besar Tentara (MBT) di Yogyakarta, semua pangkat perwira diturunkan menjadi satu tingkat. Harun pun turun pangkat menjadi kapten. Sebagai kepala staf brigade yang membawahi Bogor, Cianjur dan Sukabumi, mobilitas Kapten Harun begitu tinggi. Kendati awalnya dari dunia sipil, Kapten Harun dikenal sebagai sosok perwira yang sangat disiplin dan loyal kepada Republik. “Harun Kabir adalah perwira yang sangat cakap,” ujar Letnan Kolonel (Purn) Eddie Soekardi, eks Komandan Brigade Surjakantjana Divisi Siliwangi (1946-1947). Kesaksian soal itu terlontar pula dari mulut Hetty Kabir. Dia masih ingat bagaimana sang ayah sering jarang pulang ke rumah karena selain sibuk bertugas juga menghindari pengawasan intelijen militer Belanda. “Ayah memang menjadi incaran tentara Belanda. Begitu kritisnya situasi itu, hingga kami harus diungsikan ke rumah kerabat di Garut ” kenang perempuan kelahiran tahun 1936 itu. November 1947, Harun Kabir dan keluarga menyingkir ke wilayah selatan Cianjur. Mereka kemudian diamankan di sebuah bukit yang merupakan ladang huma. Bukit Cioray namanya. Karena pengkhianatan orang terdekatnya, persembunyian Harun Kabir lantas terendus oleh pasukan khusus Belanda. Tanpa memberikan kesempatan untuk diadili. Harun Kabir beserta dua pengawalnya kemudian dihukum mati di depan istri dan ketiga putrinya.*

  • Fakta dan Dramatisasi The Professor and the Madman

    DI sebuah lorong gelap ruang bawah tanah di London, Inggris pada suatu hari di tahun 1872, dr. William Chester Minor (diperankan Sean Penn) dituntun sipir menuju ruang sidang dengan raut wajah dingin. Ia didakwa membunuh seorang pria bernama George Merrett.                                                                                Namun karena pertimbangan ketidakwarasan Minor, hakim mengamini kesimpulan tak bersalah dari para juri. Minor lalu divonis tahanan di Rumahsakit Jiwa Broadmoor. Kehebohan berita tentang kasus yang menjadi pemberitaan berbagai suratkabar itu sampai ke filolog James Murray (Mel Gibson). Tak dinyana, Murray di kemudian hari bersua langsung dengan Minor dalam misi besar merampungkan kamus besar bahasa Inggris terbitan Oxford University Press. Begitulah prolog film drama The Professor and the Madman  yang disajikan sutradara PB Shemran alias Farhad Safinia . Sosok dr. William Chester Minor yang diperankan Sean Penn. ( eaglepictures.com ). Adegan lantas beralih ke sebuah rapat di aula perpustakaan besar di Universitas Oxford. Para akademisinya sedang mendengarkan dengan seksama presentasi Murray. Murray merupakan orang yang dipercaya memimpin perampungan proyek kamus The New English Dictionary on Historical Principles. Proyek tersebut mangkrak dua dekade meski telah dipegang para profesor di Universitas Oxford. Pemilihan Murray tak lepas dari dukungan sahabatnya, Frederick James Furnivall (Steve Coogan). Furnivall percaya bahwa perumusan kamus itu butuh sebuah gebrakan dan metode-metode non-konvensional. Dalam pandangannya, orang yang tepat hanya Murray yang dikenalnya punya segudang pengetahuan linguistik meski putus sekolah sejak usia 14 tahun. Murray juga merupakan poliglot 11 bahasa yang fasih dialek Aramaik, Koptik, Vaudois, Teutonik, Syria, hingga Provençal meski tak punya satupun gelar sarjana. Dengan pengetahuan skill Murray itulah Furnivall mengajukan nama Murray. Gebrakan Murray dimulai dengan mengajukan permohonan partisipasi semua orang yang hidup di bawah payung kolonialisme Britania Raya dan dilegitimasi Universitas Oxford. Dari semua kontribusi via surat yang datang kepadanya, Murray menyaringnya bersama tim yang ia bentuk. Istri dan 11 anaknya ada di dalam tim. Mel Gibson (kanan) memainkan tokoh editor Kamus Besar Bahasa Inggris Oxford James Augustus Henry Murray. (Tangkapan layar Mola TV). Meski begitu, tetap ada sejumlah kata yang sukar ditemukan definisinya oleh Murray dan timnya. Bahkan sampai membuatnya frustrasi. Di tengah kefrustrasian itu, muncullah beberapa kontribusi solutif dari seorang pasien RSJ Broadmoor. Kontributor itu adalah Minor. Besarnya arti kontribusi Minor membuat Murray membulatkan tekad untuk menjenguk Minor ke RSJ Broadmoor. Di situlah kedua figur yang sangat berjasa meracik kamus Oxford bertatap muka. Bagaimana kelanjutan drama yang menaungi keduanya? Baiknya Anda saksikan sendiri The Professor and the Madman yang sudah diputar di bioskop-bioskop sejak 10 Mei 2019 namun masih bisa ditonton secara streaming lewat Mola TV yang menayangkannya sejak 8 Oktober 2020. Dramatisasi The Professor and the Madman bisa jadi salah satu tontonan menghibur sekaligus mencerahkan di masa pandemi COVID-19 ini. Kamus hasil karya dua tokoh utama dalam film itu begitu lekat dengan kita mengingat sejak abad ke-20 kamus itu sudah tersebar luas, termasuk ke Indonesia. Belum lagi secara teknis, di mana pengambilan gambarnya sedari awal hingga akhir diproses dengan presisi oleh editor Dino Jonsater. Sisi entertainment kian kuat dengan iringan musik klasik dari komposer Bear McCreary. Penonton bakal terbawa ke suasana London era pertengahan abad ke-19. The Professor and the Madman diadaptasi dari biografi dr. Chester Minor karya jurnalis Simon Winchester, The Surgeon of Crowthorne: A Tale of Murder, Madness and the Love of Words yang terbit 1997. Setahun kemudian, Mel Gibson mendapatkan hak untuk memfilmkannya walau upaya mengangkat kisahnya ke layar perak baru bisa digarap mulai 2016 dan rampung dua tahun kemudian. Sebelum memfilmkan, Gibson dan sang sutradara terlibat konflik dengan Voltage Pictures selaku distributor. Lantaran dialihwahanakan dari buku ke layar lebar, dramatisasi dimasukkan demi menghasilkan racikan film yang menarik meski harus melenceng dari fakta. Penyebutan “profesor” pada tokoh Murray contohnya. Meski gelar profesi itu tak pernah disandang Murray, tim produksi berdalih memakai sebutan itu berdasarkan apa yang ditulis Winchester. Winchester sendiri pada 1998 mengubah judulnya menjadi The Professor and the Madman: A Tale of Murder, Insanity, and the Making of the Oxford English Dictionary setelah menerima saran untuk edisi yang khusus dirilis di Amerika dan Kanada. Adalah Larry Ashmead, editor Penerbit Harper Collins, yang menyarankan Winchester mengubah judulnya agar kisah perumusan kamus itu lebih mengundang minat pembaca. “Dia (Ashmead) bilang, ‘Saya bisa membuatnya laris. Kita bisa membuat kisah perumusan kamus menjadi cerita keren. Penerbit di Inggris menyebut The Surgeon of Crowthorne . Tapi tiada satupun di sini (Amerika) yang tahu di mana itu Crowthorne. Kita beri judul The Professor and the Madman. ’ Tetapi saya katakan tidak ada seorang profesor di antara mereka. Namun Larry meyakinkan saya untuk tetap memakai judulnya dan hasilnya terjual jutaan copy ,” tulis Winchester dalam kolom obituari mengenang Ashmead yang dimuat The Guardian , 28 September 2010. Dramatisasi tak sesuai fakta lain adalah tentang pemberian terbitan pertama kamus Oxford yang memuat ribuan entri kontribusi Minor. Dalam film, kamus itu diberikan langsung oleh Murray saat menjenguk Minor di Broadmoor. Padahal, menurut Winchester dalam biografi Minor, kamus itu diberikan oleh Eliza Merrett, janda enam anak yang suaminya dibunuh Minor. Kolase tokoh Eliza Merrett, janda korban yang didramatisir memiliki hubungan asmara dengan dr. Minor. ( eaglepictures.com ). Dramatisasi tak sesuai fakta terpenting adalah soal asmara di antara Minor dan Eliza Merrett (diperankan Natalie Dormer). Minor kenal Eliza setelah dikenalkan sipir RSJ Broadmoor Muncie (Eddie Marsan). Muncie mendatangi Eliza untuk memberikan uang pensiunan Minor sebagai purnawirawan kapten Angkatan Darat Amerika, sesuai permintaan Minor. Sebagaimana dituliskan Winchester, memang benar bahwa Minor rutin mengirimkan uang pensiunannya kepada Eliza semenjak jadi pasien di RSJ Broadmoor. Minor bahkan juga mengirimkan uang hibah dari ibu tirinya yang dikirimkan dari Amerika. Namun, perkenalan Minor dan Eliza bukan diperantarai sipir RSJ, melainkan dari utusan Kedutaan Amerika di London. Setelah perkenalan itu, Eliza mengunjungi Minor di Broadmoor pada awal 1880. Keduanya akhirnya saling berkirim surat dan Eliza kemudian sering mengirimkan paket buku dari London ke RSJ Broadmoor. “Salah satu yang dikirimkannya adalah terbitan pertama Murray kamus edisi pertama yang diterbitkan pada April 1879,” tulis Winchester. Dari hubungan itu, Minor perlahan jatuh hati pada Eliza. Dalam film, cinta yang dirasakan Minor tetap berkalang rasa bersalah. Karena itu Minor sampai melakoni autopenectomy (memotong alat kelamin sendiri) demi mencegah perasaannya terhadap Eliza bergulir lebih jauh. Padahal menurut Winchester, Minor melakukannya setelah mengalami schizophrenia . Ia berhalusinasi melakukan pelecehan seksual terhadap anak-anak. Winchester tak pernah mengungkapkan ada hubungan lebih intim antara Eliza dan Minor. “Tidak ada suasana khusus yang eksis dalam pertemuan antara Minor dan Eliza selain sekadar pertemuan biasa dan formal. Dalam setiap pertemuannya, Minor selalu mengemukakan rasa penyesalannya. Tetapi Eliza sudah memaafkan kejadian itu dan menerimanya dengan lapang dada. Eliza memahami bahwa pembunuhan itu terjadi ketika Minor tak mengetahui mana orang yang benar dan salah,” sambung Winchester. Deskripsi Film: Judul: The Professor and the Madman | Sutradara: Farhad Safinia (P.B. Shemran) | Produser: Nicholas Chartier, Gaston Pavlovich | Pemain: Mel Gibson, Sean Penn, Natalie Dormer, Steve Coogan, Ioan Gruffud, Stephen Dillane, Eddie Marsan, Jennifer Ehle | Produksi: Icon Entertainment International, Fastnet Films, Voltage Pictures | Distributor: Vertical Entertainment | Genre: Drama Biopik | Durasi: 124 Menit | Rilis: 10 Mei 2019, 8 Oktober 2020 ( MolaTV ) .

  • Addio Paolo Rossi!

    BELUM habis pemberitaan tentang kepergian Diego Maradona, dunia sepakbola kembali ditinggal satu bintangnya, yakni Paolo Rossi. Pahlawan Timnas Italia di Piala Dunia 1982 itu mengembuskan nafas terakhirnya di usia 64 tahun pada Rabu (9/12/2020) di Roma, Italia. Pihak keluarga menyebutkan, Rossi wafat setelah lama berjuang melawan kanker paru-paru. Sejumlah rekannya di skuad Gli   Azzurri (julukan Timnas Italia) 1982 pun meluapkan kepedihannya. “Saya tak tahu mesti berkata apa, seperti petir di siang bolong. Kami selalu punya hubungan baik dengan Paolo. Sosok yang ramah dan pintar. Kabar ini sesuatu hal yang sulit saya cerna,” kata kiper sekaligus kapten Italia Dino Zoff, dikutip La Gazzetta dello Sport , Kamis (10/12/2020). Paolo Rossi (tengah) dikabarkan meninggal setelah menderita kanker paru-paru ( figc.it ) Menimpali Zoff, bek kanan Pietro Vierchowod merasa kabar duka itu jadi pukulan yang menambah pahitdalam situasi negerinya di masa pandemi COVID-19. “Dia pemain hebat di Piala Dunia 1982 dan lebih dari itu, ia pribadi yang sensitif dan baik. 2020 menjadi tahun yang diawali dan berakhir dengan buruk. Sebuah kehilangan besar bagi sepakbola dunia,” ujarnya. Nama Rossi memang tak setenar Maradona. Namun bersama Garrincha (Brasil) dan Mario Kempes (Argentina), Rossi punya catatan rekor dalam sejarah Piala Dunia yang belum bisa disamai bintang manapun hingga kini. Transformasi "Pablito" Seperti anak-anak di Italia di zamannya, Rossi sudah mengenal si kulit bundar sejak dini dan memainkannya di jalanan sepulang sekolah. Pria kelahiran Santa Lucia, dekat Kota Prato, 23 September 1956 itu sudah meretas karier sepakbolanya di usia muda dengan bergabung ke klub amatir Coiano Santa Lucia, kemudian Cattolica Virtus. “Ibunya Paolo Rossi bekerja di perusahaan saya. Pablito (julukan Rossi) menendang bola pertamanya dengan dilatih saya sebelum pindah ke Cattolica Virtus. Malam di mana ia mencetak tiga gol ke gawang Brasil, saking girangnya saya sampai kena serangan jantung,” kenang Rodolfo Becheri, bos sebuah perusahaan perdagangan sekaligus presiden Coiano Santa Lucia, kepada La Repubblica , 25 April 2012. Sempat menembus skuad utama Juventus, Paolo Rossi lantas dipinjamkan ke Como ( juventus.com/paolorossiacademy.com ) Kala menginjak usia 16 tahun, pemuda kurus itu terdeteksi radar pencari bakat klub Juventus, Italo Allodi, kala menengok kompetisi U-16 di Prato. Rossi bermain sebagai spesialis winger (sayap)kanan. Allodi segera menawarkan Rossi untuk mempertajam skill -nya di akademi Juventus dan bersambut. Rossi bahkan sudah menembus skuad utama Bianconeri (julukan Juventus) pada 1973. Namun, Rossi tipe pemain yang rentan cedera lutut sehingga jarang dimainkan. Akibatnya, Juventus meminjamkannya ke Como selama semusim (1975-1976). Sialnya, Rossi juga gagal bersinar. Titik balik karier Rossi terjadi semusim kemudian saat klub Serie B Vicenza Calcio meminjamnya dari Juventus tak lama dari kembalinya Rossi dari Como. Oleh allenatore (pelatih) Giovan Battista Fabbri, karakter bermain dan posisi Rossi diubah dari pemain pelari dari sektor sayap menjadi penyerang tengah. Dari Fabbri pula Rossi mendapat tempaan teknik finishing dan positioning di kotak penalti. Hasilnya, di akhir musim Rossi mendapat anugerah sepatu emas sebagai top skordengan 21 gol sekaligus mengantarkan Vicenza meraih juara Serie B musim 1976-1977. “Fabbri sudah seperti ayah buat saya. Sosok family man klasik dan selalu memberi nasihat, serta selalu melindungi Anda. Dia juga bisa memastikan persatuan yang solid di antara pemain. Saya berutang banyak padanya karena dialah yang mengubah saya dari winger menjadi penyerang tengah,” kenang Rossi dalam wawancaranya dengan Tutto Juve , 23 September 2013. Pasca-dibuang Juve, Paolo Rossi melejit di Vicenza di bawah asuhan GB Fabbri (lrvicenza.met'paolorossiacademy.com) Prestasi itu membuat pelatih Timnas Italia Enzo Bearzot memanggil Rossi ke skuad jelang persiapan Piala Dunia 1978. Di turnamen itu, skuad Italia didominasi pemain muda. Sebagai hasil besutan Fabbri di Vicenza, Rossi jadi lebih fleksibel untuk bertukar peran dari penyerang tengah kembali jadi pemain sayap dengan dua rekannya di lini depan: Roberto Bettega dan Franco Causio. Di Piala Dunia 1978 pula Rossi mendapat julukan “Pablito” (Paolo kecil) dari fans tuan rumah Argentina. Julukan itu disematkan padanya berkat aksi-aksi ciamiknya yang mengundang decak kagum. Lewat tiga gol dan empat assist yang dibuatnya selama turnamen, Rossi sebagai debutan muda meraih penghargaan bola perak alias pemain terbaik kedua sepanjang turnamen. Habis Skandal, Terbitlah Trofi Piala Dunia Selepas Piala Dunia 1978, Rossi dibeli Vicenza dari Juve dengan banderol selangit, 2,6 miliar lira. Nilai transfer itu mendaulat Rossi jadi pemain termahal pada masanya. Namun sial bagi Rossi karena lagi-lagi dibekap cedera lutut. Akibatnya Vicenza di musim 1978-1979 jatuh lagi ke Serie B. Rossi akhirnya dipinjamkan ke Perugia. Di Perugia, Rossi diterpa cobaan paling getir dalam kariernya. Ia terkena imbas Skandal Totonero atau pengaturan skor di musim 1979-1980 yang melibatkan lima klub Serie B dan delapan klub Serie A, termasuk Perugia. Dari penyelidikan Guardia di Finanza, dinas khusus di bawah naungan Kementerian Keuangan Italia, didapati ada dua pelatih dan 20 pemain dari 13 klub yang terlibat aktif dalam aktivitas perjudian sepakbola dan pengaturan skor. Rossi termasuk di antara 20 pemain itu. “Rossi selalu menyanggah keterlibatannya dan bukti-bukti terhadapnya sebagian besar hanya berdasarkan kata ‘si anu’ dan ‘si anu’. Mungkin saja dia dijadikan kambing hitam karena reputasinya atau bisa saja memang dia benar-benar terlibat. Terlepas dari itu, dia tetap disanksi larangan berman tiga tahun yang kemudian dikurangi menjadi dua tahun,” tulis Nick Holt dalam Mammoth Book of the World Cup. Paolo Rossi berjasa besar kala Italia meraih trofi Piala Dunia ketiganya pada 1982 ( fifa.com ) Meski masih dihukum larangan bermain, Rossi masih diminati Juventus yang merekrutnya kembali pada 1981. Setahun kemudian setelah terbebas dari sanksi, Rossi kembali dipanggil Bearzot ke Timnas Italia. Keputusan berani Bearzot memasukkan nama Rossi ke skuad Italia di Piala Dunia 1982 Spanyol itu membuatnya kebanjiran kritik. Namun, Rossi mampu memberi bukti bahwa keputusan Bearzot bukanlah blunder . Mark Ryan mengungkapkan dalam Lowdown: A Short History of the World Cup , di balik buruknya penampilan Italia di babak grup, tim asuhan Bearzot itu masih bisa lolos dan bahkan mencapai partai puncak. Dari total 10 gol di sepanjang turnamen, enam di antaranya diciptakan Rossi. “Terlepas dari bintang-bintang Amerika Selatan yang sedang bersinar seperti Maradona (Argentina), serta Paulo Falcão dan Zico (Brasil), Paolo Rossi yang justru mencuri perhatian. Menarik karena Italia sebenarnya tampil buruk di fase grup sampai media-media Italia mencibir agar Bearzot sebaiknya membawa tim pulang dari Spanyol. Tetapi entah bagaimana Italia mampu melaju ke fase berikutnya,” tulis Ryan. Rossi jadi kunci keberhasilan Italia melaju. Di perempatfinal kala bersua Brasil di Estadi de Sarrià, Barcelona, 5 Juli 1982, Rossi membalikkan cacian publik Italia menjadi sanjungan lewat hattrick untuk mengunci kemenangan 3-2. Rossi lantas mengubur cap skandal suapnya dengan mencetak sebutir gol dalam kemenangan 3-1 Italia atas Jerman Barat di partai final yang dihelat di Estadio Santiago Bernabéu, 11 Juli 1982. Namun ketika laga berakhir, alih-alih bereuforia dengan berlarian seperti rekan-rekannya, Rossi justru mengunci pandangannya ke arah papan skor. “Saya melihat papan skor. Saya memandangi kerumuman penonton dan rekan-rekan yang merayakan. Tetapi di dalam hati saya terdapat rasa pahit. Saya berkata dalam hati: ‘Sekarang kamu harus menghentikan waktu.’ Itu adalah momen yang takkan saya alami lagi sepanjang hidup saya. Saya merasa, di sinilah akhir perjalanannya,” tutur Rossi kepada Storie di Calcio , 4 Juli 2015. Kolase Paolo Rossi kala berseragam Perugia, AC Milan, hingga Hellas Verona ( paolorossiacademy.com ) Itu jadi trofi Piala Dunia ketiga Italia setelah tahun 1934 dan 1938. Rossi sendiri dianugerahi sepatu emas karena menjadi top skor dengan enam gol, dan bola emas sebagai pemain terbaik. Tiga prestasi yang digapai secara bersamaan itu: trofi Piala Dunia, bola emas, dan sepatu emas, mensejajarkan Rossi dengan Garrincha (Brasil) dan Mario Kempes (Argentina) yang masing-masing meraihnya di Piala Dunia 1962 dan Piala Dunia 1978. Di antara para bintang sepakbola Italia, Rossi jadi pemain ketiga yang meraih Ballon d’Or (1982). Rossi juga tercatat sebagai pemain tersubur timnas di Piala Dunia (1978 dan 1982) dengan total sembilan gol. Rekor tersebut baru bisa disamakan oleh Roberto Baggio dan Christian Vieri beberapa tahun kemudian. Di senjakala kariernya, Rossi mulai sering dicadangkan Juventus gegara rentan cedera. Meski begitu, ia turut berandil mengantarkan Juventus menyabet scudetto Serie A musim 1981-1982 dan 1983-1984, Coppa Italia 1982-1983, Piala Winners 1983-1984, Piala Champion 1984-1985, dan UEFA Super Cup 1984. Setelah dilepas Juventus dan ditampung AC Milan pada 1985, Rossi lantas menutup kariernya di Hellas Verona setahun kemudian. Setelah pensiun, Rossi tetap tak bisa jauh dari sepakbola. Hingga akhir hayatnya, Rossi eksis sebagai komentator di berbagai media seperti Sky dan Rai Sport . Atas dedikasinya terhadap sepakbola dunia, pada 2007 Rossi dianugerai Golden Foot. Namanya juga dimasukkan ke dalam daftar Hall of Fame FIGC (otoritas sepakbola Italia) pada 2016. Addio! Riposare in Pace , Paolo Rossi!

bg-gray.jpg
Tedy masuk militer karena pamannya yang mantan militer Belanda. Karier Tedy di TNI terus menanjak.
bg-gray.jpg
Dua anggota legiun Mangkunegaran ikut serta gerakan anti-Belanda. Berujung pembuangan.
bg-gray.jpg
Rumah Sakit Bethesda Yogyakarta merupakan buah kasih dokter misionaris Belanda bernama J.G. Scheurer yang dijuluki Dokter Tolong.
bg-gray.jpg
Poligami dipraktikkan oknum tentara sejak dulu. Ada yang dapat hukuman karenanya.
bg-gray.jpg
Snouck Hurgronje diangkat menjadi pejabat negara di Hindia Belanda. Dia mengamati dan memberikan catatan serta nasihat yang membantu pemerintah kolonial mengatur ketertiban dan keamanan di wilayah koloni.
bottom of page