Hasil pencarian
9740 hasil ditemukan dengan pencarian kosong
- Nyong Ambon Pendeta Bung Karno
Pasca Peristiwa Lengkong 1946, Sukarno begitu terpukul dengan banyaknya perwira muda dan taruna yang gugur. Di rumah sakit Tangerang, seorang dokter memberinya obat dan memijit Sukarno hingga tertidur. Sejak itu, mereka menjadi dekat seperti sahabat lama. Dokter itu adalah Johannes Leimena, nyong Ambon yang akrab disapa Jo. Johannes Leimena lahir di Ambon, 6 Maret 1905. Sejak usia lima tahun, ayahnya meninggal dunia. Dia bersekolah di Ambonsche Burgerschool , tempat pamannya menjadi kepala sekolah. Ketika pamannya pindah tugas ke Cimahi pada 1914, dia turut serta. Ibunya tak mengijinkan, dia nekat menyelinap ke dalam kapal. Jo muda bergabung dalam Jong Ambon dan aktif dalam Kongres Pemuda Indonesia 28 Oktober 1928. Setelah lulus dari Meer Uitgebreid Lager Onderwijs (MULO) pada 1922, dia melanjutkan ke STOVIA (Sekolah Dokter untuk Bumiputra). Setelah bekerja sebagai dokter selama sebelas tahun, dia memperdalam penyakit dalam di Geneeskunde Hogeschool (Sekolah Lanjutan Kedokteran). Pada 1946, Perdana Menteri Sjahrir mengangkat Leimena menjadi menteri muda kesehatan, belum sebagai menteri penuh. Baru pada kabinet Amir Sjarifuddin, dia diangkat menjadi menteri penuh. Leimena yang Sederhana Leimena sangat terkenal akan kesederhanaan, kejujuran, dan kelembutannya. “Jo ternyata sama dengan Natsir, yakni sama-sama hanya punya 2 kemeja yang dua-duanya sudah lusuh,” tulis Faisal Basri dan Haris Munandar dalam Untuk Republik: Kisah-Kisah Teladan dan Kesederhanaan Tokoh Bangsa . Buku ini diluncurkan pada 13 Agustus 2019 di Galeri Nasional, Jakarta Pusat. Karena tidak punya tabungan, Leimena juga harus meninggalkan istri dan anak-anaknya di Jakarta. Ketika di Yogyakarta, dia enggan menggunakan fasilitas negara dengan tinggal di Hotel Merdeka yang semua akomodasinya ditanggung negara. “Dia tahu benar, para personel departemen keuangan harus jungkir balik mengumpulkan dana. Dia memutuskan untuk menyewa sendiri dan membagi satu kamar dengan seorang rekan. Jaman sekarang mana ada menteri yang kos sekamar berdua demi mengirit pengeluaran?” tulis Basri dan Munandar. Ketika ditugaskan menjadi delegasi Indonesia untuk berunding dengan Belanda dalam rangka persiapan menuju perundingan Renville, Leimena meminjam jas teman sekamarnya. Meskipun agak kekecilan, dia bisa bertahan beberapa Jam. “Jangan khawatir. Saya tidak akan bikin malu negara kita,” ucap Jo. Leimena tidak pernah mencari hiburan ke luar rumah. Pulang kantor, ia berganti pakaian, hanya mengenakan sarung dan kaus atau kemeja using, lalu bercengkerama dengan keluarganya. Hari-hari libur juga dihabiskannya bersama keluarga. Suatu hari, beberapa pemuda dari organisasi Kristen hendak bertemu Leimena di rumahnya. Karena berpikir akan diajak "makan besar" di rumah seorang menteri, mereka sengaja tidak sarapan. Tebakan itu tidak meleset, mereka diajak ke ruang makan. Namun, yang mereka temui di meja makan adalah singkong rebus, sarapan sehari-hari sang menteri dan keluarga. “Tutur katanya yang lembut membujuk dan wataknya yang sabar menjadikannya 'negosiator alamiah'. Orang sulit menolak kalau yang meminta adalah Jo. Kejujurannya juga dikenal luas sehingga orang-orang percaya dia tidak pernah bohong atau menggertak,” tulis Faisal Basri dan Haris Munandar. Sampai-sampai Presiden Sukarno menyebut Leimena sebagai “orang paling jujur yang pernah kutemui”. Bahkan, Sukarno dalam kesempatan lain menyebutnya mijn dominee yang artinya "pendetaku". Kiri-kanan: Adam Malik, Johannes Leimena, Mohammad Hatta, Sultan Hamengkubuwono IX, dan Soeharto, dalam pemakaman Presiden Sukarno Leimena yang Toleran Pada 1945, Leimena bergabung dengan Partai Kristen Indonesia (Parkindo). Dia lalu menjadi ketua umum pada 1950 sampai 1957. Dia juga turut membentuk Dewan Gereja-Gereja Indonesia (DGI) yang kini bernama Persatuan Gereja-Gereja Indonesia (PGI). Selain sederhana, Leimena juga dikenal sebagai sosok yang toleran. Dia bersahabat baik dengan Mohammad Natsir, tokoh Masyumi yang memperjuangkan Syariat Islam. Natsir menyebut Leimena sebagai Meneer de Dominee atau Tuan Pendeta. “Toleransi Jo terbukti ketika dia merestui salah satu putrinya menikah dengan seorang muslim, lalu mengikuti iman suaminya,” tulis Faisal Basri dan Haris Munandar. Ketika menjadi menteri kesehatan, Leimena berhasil meracik salep untuk mengobati penyakit kulit ringan yang sering diidap rakyat kecil. Label “Salep Leimena” sangat mujarab dan terkenal pada zamannya. Dia kembali lagi membuktikan diri sebagai menteri sekaligus dokter inovatif yang peduli rakyat kecil. Leimena juga merumuskan rencana pembangunan kesehatan gratis untuk pencegahan dan penyembuhan serta perimbangan fasilitas pelayanan kesehatan di kota dan desa. Rencana ini terlaksana dan sekarang dikenal sebagai Pusat Kesehatan Masyarakat (Puskesmas). Selain itu, Leimena juga membentuk Balai Kesejahteraan Ibu dan Anak (BKIA), yang kemudian menjadi Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional (BKKBN). Sejarah mencatat Leimena sebagai menteri dengan masa jabatan terlama, yakni 21 tahun dengan 18 kabinet berbeda pada era Sukarno. Dia juga merupakan satu dari sedikit orang dekat Sukarno yang ‘selamat’ dari peristiwa Gerakan 30 September 1965. Dia sempat ingin dipertahankan Soeharto sebagai menteri, namun menolak secara halus dengan perantara Sultan Hamengkubuwono IX. Namun, dia masih diminta menjadi anggota Dewan Pertimbangan Agung (DPA) hingga tahun 1973. Selepas itu, Leimena kembali aktif di Parkindo, DGI, UKI, STT, dan lain-lain. Dia sempat pula menjadi Dewan Pertimbangan Pusat (Deperpu) Partai Demokrasi Indonesia (PDI). Di akhir perjalanan hidupnya, dia masih sempat kembali menjadi dokter dan menjabat Direktur Rumah Sakit DGI Cikini. Leimena wafat pada 29 Maret 1977 di Jakarta. Nyong Ambon itu mendapat gelar Pahlawan Nasional pada 2016. Penyanyi berdarah Maluku, Glenn Fredly, dalam peluncuran buku Faisal Basri dan Haris Munadar menyampaikan, “Bukan karena saya dari Maluku, tapi saya suka dengan Leimena. Hari ini masyarakat di Maluku lose of hope terhadap pemimpinnya.” Menurut Glenn, cerita-cerita teladan kepemimpinan seperti Leimena, perlu dimunculkan kembali dengan cara baru. “Itu yang saya bilang, bagaimana menerjemahkan ini menjadi sesuatu yang bisa membangun harapan baru,” ujar Glenn.
- Apakah Naga Benar-benar Ada?
PUNGGUNGNYA terdiri dari barisan perisai yang rapat. Saking rapatnya, udara bahkan tak bisa melewatinya. Dengusannya mengeluarkan kilatan cahaya. Ia bagai sinar fajar. Lubang hidungnya mengeluarkan asap, seperti panci mendidih di atas alang-alang yang terbakar. Mulutnya menyemburkan api. Batu bara pun bisa menyala akibat dengusan napasnya. Makhluk yang dijelaskan dalam Book of Job ( Kitab Ayub ) itu mirip sekali dengan seekor Naga. Namun di sana disebut dengan Leviathan, semacam monster raksasa yang mengerikan. Naga, telah ada selama ribuan tahun. Dongeng tentangnya dikenal di banyak budaya. Ia muncul dalam mitologi di Amerika, Eropa, India, dan Tiongkok. Karenanya, ide dan deskripsi Naga sangat bervariasi. Beberapa Naga digambarkan memiliki sayap, tapi yang lain tidak. Ada Naga yang dikisahkan bisa berbicara dan menyemburkan api, yang lain tidak bisa. Di antaranya hanya beberapa kaki panjangnya, tapi yang lainnya bisa berkururan menjangkau mil. Beberapa Naga hidup di istana atau di bawah lautan, sementara yang lain hanya dapat ditemukan di gua dan di dalam pegunungan. Makhluk itu juga bisa diidentikkan sebagai makhluk pembawa kebaikan, maupun kejahatan. Tak jelas kapan kisah Naga pertama kali muncul. Laman Livescience menulis, paling tidak Naga yang paling tua bisa dirunut sampai awal masa Yunani dan Sumeria Kuno. Kata Dragon dalam bahasa Inggris asalnya dari bahasa Yunani Kuno, draconta artinya “untuk mengawasi”. Maksudnya, binatang buas itu biasanya menjaga harta karun, gunungan koin, atau emas. Ini seperti yang digambarkan dalam trilogi film fantasi The Hobbit. Smaug, Naga terakhir di Middle-earth dikisahkan mengambil alih Lonely Mountain (Gunung Sunyi) yang berisikan harta karun Erebor. Naga diwujudkan sebagai makhluk yang menyeramkan, terutama waktu Kristen menyebar ke seluruh dunia. Pada abad pertengahan, kebanyakan orang mendengar kisah Naga dari Alkitab. St. George and the Dragon, lukisan karya Paolo Uccello, 1470. Gereja Kristen menciptakan legenda tentang orang kudus yang saleh berperang dan menaklukkan setan berbentuk Naga. Yang paling terkenal adalah kisah St. George the Dragon Slayer . Alkisah, St. George datang ke kota yang terancam oleh Naga. Dia lalu menyelamatkan seorang gadis, melindungi dirinya dengan tanda salib, dan membunuh binatang itu. Penduduk kota, yang terkesan dengan iman dan keberanian St. George segera menjadi Kristen. “Kemungkinan besar orang Kristen pada saat itu percaya pada keberadaan Naga secara literal,” tulis laman Livescience. Tradisi Hindu maupun Buddha juga mengenal Naga sebagai hewan mistis. Menurut John Miksic dalam Borobudur: Golden Tales of the Buddhas, tradisi Hindu acap mengisahkan Naga lewat literatur dan kesenian. Seringkali kehadirannya dihubungkan dengan keberkahan. "Di Borobudur, mereka digambarkan dalam bentuk manusia, namun di tempat lain mereka akan muncul dalam bentuk asli sebagai hewan," tulis Miksic. Kata Naga yang dipakai di Indonesia asalnya dari bahasa Sanskerta. Arti harfiahnya ular. Khususnya di Jawa, Naga lebih merujuk pada dewa ular. Dalam budaya Jawa Kuno, Naga sering dihubungkan dengan air dan kesuburan. Di Jawa ada banyak kisah tentang Naga. Yang muncul dalam pahatan di candi biasanya dihubungkan dengan air amrta atau air kehidupan dalam kisah Samudramanthana . Di Tiongkok Naga disebut dengan Lóng. Sebagaimana disebut laman Livescience, ia adalah makhluk yang hidup di lautan, danau, sungai, dan bahkan hujan. Mereka dipuja sebagai simbol yang memberi kehidupan dari keberuntungan dan kesuburan, yang mampu melepaskan hujan di musim kemarau. “Mereka digambarkan sebagai hewan yang punya tubuh ular, sisik ikan, cakar elang, tanduk rusa, dan wajah Qilin (makhluk suci dalam legenda Tiongkok, red. ),” tulisnya. Patung Naga Tiongkok di sebuah kuil. (Leungchopan/Shutterstock). Fakta di Balik Legenda Naga Namun, kepercayaan pada Naga tak hanya berdasarkan legenda. Banyak juga orang dulu yang meyakini berdasarkan bukti kuat. Contohnya, selama ribuan tahun tak ada yang bisa menjelaskan tentang tulang-tulang raksasa yang ditemukan di seluruh dunia. Dilansir dari laman Livescience , beberapa abad lalu desas-desus tentang Naga terkonfirmasi keberadaannya oleh saksi mata. Para pelaut yang kembali dari Indonesia melaporkan telah bertemu dengan mereka. Makhluk yang katanya sejenis kadal itu dapat menjadi agresif dan mematikan. Panjangnya sampai 10 kaki. Namun ternyata itu adalah komodo. “Mirip dengan Naga, sebelumnya diyakini, gigitan Komodo sangat mematikan karena bakteri beracun di mulutnya,” jelas laman itu. “Meskipun mitos itu dibantah pada tahun 2013 oleh tim peneliti dari Universitas Queensland.” Komodo Pada masa lalu, Naga kerap dipakai untuk menyebut hewan tak dikenal. Pada abad ke-16 misalnya, Fei Xin, seorang personel militer yang ikut berlayar bersama Cheng Ho sempat mengunjungi bagian utara Sumatra. Dalam buku Catatan Umum Perjalanan di Lautan ( Xingcha Shenglan ), dia menceritakan adanya sebuah pulau yang sering didatangi Naga. Pulau itu menjulang di Laut Lambri. Jaraknya satu hari satu malam jika berlayar ke arah barat dari Pulau Sumatra. Naga-Naga yang ke sana meninggalkan liur yang tinggi nilainya di pasaran. “Pada setiap musim semi beberapa ekor Naga suka datang ke sana, bermain-main. Kalau sudah begitu, air liurnya banyak tertinggal di pulau. Karenanya orang menyebutnya sebagai Pulau Liur Naga,” catatnya. Rupanya, berdasarkan terjemahan W.P. Groeneveldt dalam Nusantara dalam Catatan Tionghoa, liur Naga itu adalah ambergris. Naga yang dimaksud tak lain merupakan paus. Ma Huan juga menyebutkan keberadaan Naga dalam catatannya, Yingya Shenglan darisekira 1416 . Penerjemah resmi yang ikut berlayar bersama Cheng Ho itu menulis, di pesisir Man-la-ga (Melaka) ditemukan kura-kura dan Naga. Naga itu suka menyerang manusia. Ia memiliki empat kaki. Rupanya, berdasarkan terjemahan Groeneveldt, Naga yang dimaksud adalah buaya. Buaya “Seluruh tubuhnya ditutupi dengan sisik. Sederetan tanduk di punggungnya dengan kepala seperti Naga dan gigi yang keluar dari mulutnya. Jika bertemu manusia, Naga ini akan memakannya,” tulis Ma Huan. Naga pada akhirnya mewujud dari gagasan yang mencontoh makhluk nyata. Itu dimulai dari ular atau reptile menakutkan lainnya. “Seiring waktu mereka pun memperoleh bentuknya sendiri dengan menyerap harapan dan imajinasi masyarakat setempat dengan meminjam sifat-sifat hewan yang nyata,” tulis Livescience .
- Apakah Cheng Ho Pernah Naik Haji?
BARANGKALI menarik jika Cheng Ho juga dibahas saat musim haji seperti saat ini. Sebab, oleh tak sedikit warga Indonesia, di samping diyakini menganut Islam, Cheng Ho juga dipercaya merupakan laksamana bergelar haji. Makanya, ada sebuah yayasan yang diberi nama Yayasan Haji Muhammad Cheng Hoo yang menaungi Masjid Cheng Ho di Surabaya.
- Jangan Tembak, Oom!
TAK lama setelah tiba di ibukota Yogyakarta, pasukan Tentara Pelajar Seberang (TPS) mendapat tugas ke Sidobunder yang terletak persis di tengah pertigaan Gombong-Puring-Karanganyar, Kebumen, Jawa Tengah. Markas Besar Tentara (MBT) khawatir Desa Sidobunder jatuh ke tangan Belanda setelah mereka melanggar Perjanjian Linggarjati lewat Agresi Militer I. Desa Sidobunder penting dipertahankan karena letaktnya strategis, tak jauh dari demarkasi Kali Kemit. Dipimpin Lettu Maulwi Saelan –di kemudian hari menjadi wakil komandan Resimen Tjakrabirawa; pernah menjadi kiper sekaligus kapten timnas sepakbola Indonesia saat tampil di Olimpiade Melbourne 1956– pasukan TPS berangkat menumpang kereta api pada akhir Agustus 1947. Saat tiba, di Sidobunder sudah ada pasukan Seksi 321 Kompi 320 Yon 300 pimpinan Letnan Anggoro. Kedua pasukan diperintahkan berkoordinasi mempertahankan desa tersebut. Suasana tegang menghinggapi Sidobunder waktu itu. Maklum, habis perayaan hari kelahiran Ratu Wilhelmina. Biasanya, pasukan Belanda merayakan hari kelahiran itu dengan menyerang basis-basis republik. Benar saja, saat pasukan tertidur lelap tak lama setelah pergantian hari dari 31 Agustus ke 1 September, pasukan Belanda menyerang. Pasukan penyerang Belanda berkekuatan sekira satu batalyon yang berpencar ke berbagai arah. Kedatangan pasukan Belanda sontak membuat Anggoro dan pasukannya melarikan diri ke arah timur. Pasukan TPS tinggal sendiri menghadapi lawan. “Sudah di belakang kita si Belanda pagi-pagi,” ujar Maulwi (almarhum) kepada Historia beberapa tahun silam. “Kami nggak bisa apa-apa. Ya, terpaksa kami ambil senjata.” Dalam kekuatan tak imbang, pasukan TPS melakukan perlawanan. Pertempuran sengit terjadi. Tajudin, anak buah Maulwi, tumbang dimangsa peluru Belanda tak lama kemudian. Konsentrasi pasukan buyar. Koordinasi dengan pasukan 321 tiada lagi. Maulwi, pengawalnya La Indi, Losung, La Sinrang, dan Herman Fernandez akhirnya terpisah dari pasukan. Dalam keadaan dihujani tembakan, mereka menerjang persawahan yang saat itu banjir. Sebuah kebun kelapa akhirnya jadi tempat mereka bertahan dan terus memberi perlawanan. Pertempuran jarak dekat terjadi antara mereka melawan pasukan Belanda yang datang dari arah Puring. Hujan tembakan dari pasukan Belanda membuat pasukan TPS terdesak. Keadaan makin sulit karena amunisi pasukan TPS menipis. Dalam keadaan hidup-mati itu, La Sinrang dan Fernandez mendengar Losung berteriak. “Jang tembak, Oom! Peluru habis.”
- Pattimura Pernah Jadi Tentara Inggris
KETIKA Inggris (kembali) menjadi penguasa tunggal Maluku, rakyat diatur dalam suasana kebebasan. Inggris belajar atas kesalahan mereka di masa lalu, juga melihat kebijakan pemerintahan Belanda sebelumnya yang berhasil menyulut reaksi rakyat untuk melawan. Dampak pemerintahan baru Inggris di Maluku dinilai baik oleh semua kalangan. Rakyat tidak merasa adanya tekanan dari penguasa lama yang kembali tersebut. Hal itu dirasakan juga oleh Thomas Mattulesi dan teman-teman seperjuangannya di Lease, Kepulauan Maluku bagian tengah. Sesekali ia memanfaatkan kelonggaran peraturan pemerintah Inggris itu untuk bekayuh ke Ambon, mencari informasi sebanyak-banyaknya dari pusat pemerintahan Inggris di Maluku. “Kebebasan ini, terutama kebebasan kaum muda di seluruh negeri, nantinya mempunyai akibat buruk bagi Belanda yang kembali lagi sesudah pemerintah Inggris berakhir,” kata I. O. Nanulaitta dalam Kapitan Pattimura . Ketika Inggris mengumumkan penarikan pemuda-pemuda Maluku untuk menjadi bagian dari kesatuan militer mereka, Mattulesi dan teman-temannya segera mendaftar. Sedikitpun mereka tidak ragu menjadi bagian dari barisan bangsa asing tersebut. Alasan kuat yang membuat Mattulesi memilih bergabung adalah tugas tentara rakyat itu yang dibentuk untuk menjaga wilayah kekuasaan Inggris dari pihak luar, atau secara tidak langsung juga turut menjaga rakyat Maluku. Selain itu tidak seperti Belanda yang mengirim tentara rakyat ke Batavia, Inggris akan menempatkan mereka di Ambon. Ada syarat-syarat tertentu agar dapat lolos seleksi tentara rakyat. Dua di antaranya adalah tes kesehatan dan uji kemampuan fisik. Setelah seluruh proses selesai dilakukan terpilihlah 500 orang, termasuk Mattulesi, untuk bergabung dalam kesatuan Ambon. Mereka dibayar cukup tinggi dan bertempat tinggal di asrama militer di Ambon. Tidak lupa para perwiranya diberi seragam yang baik. “Latihan berperang, pendaratan di berbagai pantai berombak, berpasir putih, hingga berkarang adalah latihan-latihan yang sungguh dipersiapkan untuk menangkis dan menyerang musuh,” tulis Nanulaitta. Tentara Inggris cukup baik melatih para perwira baru ini. Berbagai macam pelatihan menggunakan senjata api dipelajari selama berada di sana. Oleh karena perang yang masih terus berkecamuk antara Inggris dan Prancis dibantu Belanda, pemerintahan di Maluku selalu dalam kondisi siaga. Setelah dirasa siap, Mattulesi dan perwira lain disebar ke pulau-pulau di seluruh negeri. Selama pelatihan, Mattulesi menunjukkan keterampilan, kecakapan, dan kemampuan memimpin melebihi teman-temannya yang lain. Ia pun cepat mendapat promosi dan dipercaya menjadi pemimpin bagi angkatannya. Kurang lebih Mattulesi berkarir di militer Inggris selama tujuh tahun. Pangkat terakhir yang diterimanya adalah sersan mayor. Namun pada 19 Agustus 1816, karir militer Mattulesi berakhir. Hasil peperangan di Eropa memaksa Inggris menyerahkan kembali Indonesia ke tangan Belanda. Kali ini ada perjanjian internasional yang ditandatangani, Traktat London , sehingga Inggris tidak mungkin kembali menguasai Indonesia. Pada 18 Maret 1817, kesatuan Ambon dikumpulkan oleh pimpinan militer Inggris. Mereka menjelaskan situasi yang sedang dihadapi kepada Mattulesi dan kawan-kawannya. Sampai tiba waktunya, mereka akan tetap berada pada kesatuan. Dan tugas terakhir yang harus dijalankan adalah menyambut rombongan orang-orang Belanda di Benteng Victoria. “Disiplin militer terlalu meresap pada diri Mattulesi dan pasukannya untuk bertindak di luar kehendak atasannya. Ia harus menurut perintah dulu,” tulis Nanulaitta. Dampak penyerahan kekuasaan itu juga dirasa oleh Mattulesi dan kesatuan Ambon. Pada 25 Maret 1817, bersamaan dengan diturunkannya Union Jack (bendera Inggris) di Batavia, Mattulesi terpaksa memberikan tugas penjagaan kepada tentara Belanda, yang mayoritas diisi oleh orang Jawa. “Alangkah lucunya, pasukan Jawa ini tidak dilengkapi dengan semestinya. Mereka belum diberi pakaian seragam. Mereka masuk pos-pos dengan hanya bercelana pendek dan berbadan telanjang,” kata Nanulaitta. Sebenarnya kesatuan Ambon pernah ditawarkan oleh Inggris kepada Belanda. Namun ditolak karena Belanda ingin membangun pasukan baru, yang dilatih oleh militer mereka. Akhirnya dibuatlah keputusan bahwa kesatuan Ambon akan dibebaskan, yang berarti nantinya mereka dapat menentukan sendiri kelanjutan karir militernya masing-masing. Dalam buku Sedjarah Perdjuangan Pattimura , M. Sapija menerangkan penyerahan kembali pemerintah Maluku ke tangan Belanda terjadi pada 21 April 1817. Dengan disaksikan langsung rakyat, proses penyerahan terjadi dalam upacara yang cukup sederhana. Di sana turut hadir J. Churcham sebagai wakil kerajaan Inggris, sementara Belanda diwakili oleh residen Martheze. Sebelum Inggris angkat kaki dari tanah Maluku, kesatuan Ambon dikumpulkan di pusat kota Ambon. Para pembesar militer Inggris mengadakan upacara pembebasan. Dengan disaksikan ratusan rakyat, pejabat Belanda, dan sisa pejabat Inggris yang masih bertahan, Mattulesi dan anggota kesatuannya diberi surat bebas. Status sosial mereka pun berubah menjadi ‘Borgor’, yang berarti mereka kebal terhadap kebijakan kerja paksa Belanda, serta diberi banyak kemudahan dalam menjalani hidup. Upacara pembebasan itu diakhiri dengan pesta meriah yang mengundang seluruh masyarakat yang tinggal di Ambon. Mereka menari, bernyanyi, dan saling bercerita dalam suasana yang riang gembira. Tentara Inggris juga turut hadir di tengah-tengah masyarakat, menikmati sajian di dalam pesta tersebut. Dengan berakhirnya hari, berarti tuntas sudah tugas Mattulesi dan kesatuan Ambon sebagai bagian dari penjaga keamanan di Maluku. Namun penglaman Mattulesi dalam kesatuan militer Inggris itu berdampak besar dikemudian hari. Ia dan teman-temannya mampu menerapkan pelajaran yang meraka dapatkan saat memimpin rakyat Maluku berperang melawan Belanda. “Kebencian mereka terhadap Belanda menjadikan mereka prajurit-prajurit yang bertekad bulat untuk menghancurkan Belanda, kalau tentaranya berani mendarat,” ucap Nanulaitta.
- Cerita Lucu Batalion Cibatu
Suatu hari, Letnan Satu Soegih Arto dipanggil Letnan Kolonel Omon Abdurahman, Komandan Resimen 8 Divisi Siliwangi. Dia tak lagi jadi ajudan karena sang komandan menugaskannya untuk memimpin batalion di daerah Garut. Pada hari yang telah ditentukan, Soegih Arto dibawa oleh Kepala Staf Resimen 8 menghadap Letnan Kolonel Ponto, Komandan Resimen 10 di Garut. Dia menyambut dengan gembira kehadiran Soegih Arto untuk menggantikan komandan batalion yang lama, Djaja Iskandar. Setiba di markas batalion di Cibatu, sebuah bangunan bekas Kawedanaan, Soegih Arto diperkenalkan dengan seluruh anggota staf. “Wah, ini sih bukan batalion, tetapi paguyuban warga Cibatu dan Garut sekitarnya,” kata Soegih Arto dalam memoarnya, Sanul Daca . Mereka memang memakai seragam tentara, namun sikapnya masih seperti warga sipil. Kalau sudah menghormat, saluir, terus munjungan (menyalami sambil membungkuk seperti sungkem). Kalau menunjuk arah masih menggunakan ibu jari tangan kanan dengan ditopang tangan kiri. “Saya berpikir, apakah saya ini jadi wedana atau komandan batalion,” kata Soegih Arto. Soegih Arto pun bertekad mengubah paguyuban itu menjadi unit tentara yang siap maju ke medan perang. Dia dibantu seorang komandan kompi bekas tentara Peta (Pembela Tanah Air) zaman Jepang, menyusun pelatihan. Sehingga lambat laun paguyuban berubah menjadi unit tentara. Setelah menjalani latihan yang keras selama beberapa bulan, Batalion Cibatu dikirim ke garis depan di Bandung Selatan, di sektor Ciparay/Sapan. Pada hari-hari pertama, Soegih Arto telah kehilangan seorang komandan kompi yang tertembak kakinya oleh sniper Belanda. Pertolongan terlambat, kakinya infeksi tetanus sehingga harus diamputasi. Pemuda bernama Yusuf itu punya semangat hidup yang kuat. Setelah meninggalkan tentara, dia kemudian menjadi lurah di daerah Cirebon. Desa yang dipimpinnya maju dan berkali-kali menjadi juara desa se-Jawa Barat. Pertempuran di sektor Sapan jarang terjadi. Sekalinya menyerang, Belanda membabi buta: tembakan meriam dan mortir tak henti-hentinya, rentetan senapan tak ada habisnya. Soegih Arto pun menarik mundur pasukannya. Di lain waktu, Soegih Arto sedang patroli, beberapa mortir jatuh tak jauh dari mereka. Mereka lari tunggang langgang ke depan dan masuk ke kolong jembatan. Mereka terhindar dari ledakan, namun sial ketika menjatuhkan diri menimpa sarang semut. Semut-semut yang mendapatkan serangan itu keluar mengerubungi badan mereka. “Tidak ada yang terlewatkan sampai alat pengebor saya pun dikerubutinya,” kata Soegih Arto. Mereka tak dapat bertahan lebih lama dari serangan semut. Sehingga mereka keluar semua: memilih mati oleh mortir daripada oleh semut. “Akan sangat memalukan kalau dimuat di koran, seorang komandan batalion mati karena dikerubut semut,” kata Soegih Arto. Mereka buka baju lalu menceburkan diri ke sungai. Badannya babak belur, bentol-bentol. Soegih Arto dan pasukannya melanjutkan pertempuran melawan Belanda yang berlangsung nonstop selama 13 jam. Karena batalionnya dapat bertahan dari serangan Belanda yang bertubi-tubi, Panglima Siliwangi memberikan penghargaan. Ini adalah surat penghargaan pertama yang diberikan oleh Divisi Siliwangi. Batalion Cibatu yang dipimpin Soegih Arto mondar-mandir antara Cibatu dan Ciparay. Istirahat di Cibatu, kalau bertugas ke front, ke Ciparay lagi. Menurut Soegih Arto, keadaan di medan perang tidak selalu menegangkan dan mengerikan. Banyak juga yang menyenangkan, seperti menangkap ikan di Citarum, lalu dibakar, dimakan dengan nasi merah yang pulen dan sambal yang hitam pekat karena banyak terasinya. Hmmm... nikmatnya. Malam harinya diadakan hiburan pertunjukan pencak silat. Para perwira bermain kartu atau domino. Tak pakai judi karena memang tak punya uang. “Penghidupan yang seperti apa lagi yang diinginkan?” kata Soegih Arto. “Usia muda, beban keluarga tak ada, makan cukup, kurang makan tinggal minta, kalau bosan istirahat langsung berangkat menyerang Belanda. Suatu kehidupan yang penuh variasi." Karier Kapten Soegih Arto, Komandan Batalion Cibatu yang dikerubuti semut, terus naik. Dari komandan batalion sampai menjadi Jaksa Agung dan pensiun dengan pangkat letnan jenderal. Dia sempat menjabat duta besar di Burma (Myanmar) dan India.
- Aksi Andjing NICA di Medan Laga
KASIM masih berusia 16 tahun ketika 10 pemuda Maluku berseragam loreng mengepungnya di bilangan Matraman, Jakarta pada awal 1946. Tak ada jalan lagi untuk berlari, kecuali dia harus pasrah saja saat hantaman bogem mentah melayang ke tubuhnya. Sekujur tubuh Kasim lebam, pakaian menjadi compang-camping karena salah seorang dari prajurit KNIL itu merobek lencana merah putih di dadanya. “Dia lalu menyuruh saya menelan lencana yang terbuat dari kain itu,” kenang mantan pejuang kemerdekaan asal Jakarta tersebut. Sejarah mencatat, para prajurit KNIL yang mengeroyok Kasim adalah bagian dari Batalyon X. Itu terkonfirmasi dari keterangan Robert B. Cribb dalam Gangster and Revolutionaries, The Jakarta Peoples Militia and The Indonesian Revolution 1945-1949. “Mereka dengan gembira memukul atau membunuh setiap rakyat Indonesia yang menunjukan atribut Republik di tempat-tempat umum,”ungkap Cribb. Kebengisan Batalyon X menuai kebencian yang tak terhingga dari orang-orang Indonesia. Mereka kemudian menyebut para bekas kaum internir Jepang tersebut sebagai “andjing” NICA (Pemerintah Sipil Hindia Belanda) kreasi H.J. van Mook. Alih-alih merasa terasa terhina, ejekan itu justru dijadikan kebanggaan. “Dalam setiap pertempuran, para ekstrimis (kaum Republiken) meneriaki kami sebagai “andjing NICA”, yang kemudian secara resmi kami jadikan nama batalyon,” tulis S.A. Lapre dalam Het Andjing NICA Batalijon (KNIL) in Nederlands-Indie, 1945-1950. Batalyon X Andjing NICA kemudian dimasukan ke Brigade V Divisi B. Kendati masih menggunakan nama “Andjing NICA”, namun nomor batalyon berubah, dari X menjadi V. Selain orang-orang Maluku, Andjing NICA pun kemudian diperkuat oleh orang Manado, Sangir, Jawa, Sunda, Timor, Indo dan Belanda. Sebagai komandan batalyon ditunjuk seorang perwira KNIL eks penghuni kamp internir. Namanya Letnan Kolonel Adrianus van Zanten. Pertengahan 1946, Andjing NICA ditugaskan ke front Bandung. Begitu tiba di ibu kota Jawa Barat itu, pada Juli 1946 mereka langsung terlibat pertempuran hebat dengan pasukan lasykar Hizbullah. Dalam bentrok yang terjadi di wilayah Buahbatu tersebut, Andjing NICA sukses membantai puluhan pejuang. “Persenjataan musuh jauh lebih lengkap dan modern. Sedangkan pihak Hizbullah hanya bermodalkan beberapa senapan, pistol, golok serta bambu runcing,” ujar Kolonel (Purn) R.J. Rusady W dalam otobiografinya, Tiada Berita dari Bandung Timur 1945-1947. Selanjutnya aksi mereka semakin menggila. Dalam pertempuran di Cipamokolan, mereka berhasil membunuh 21 prajurit dari Batalyon Kohar (TRI). Jumlah korban yang sama juga dialami oleh Pasukan Istimewa dan pasukan KRIS (Kebaktian Rakjat Indonesia Sulawesi) saat berhadapan dengan Andjing NICA di Pangaritan dan Gedebage. Karena strategi utama militer Belanda adalah merintis jalan ke Jawa Tengah dan Yogyakarta, maka Andjing NICA yang dianggap lebih mengenal wilayah itu kemudian dikirimkan ke front Bandung Timur. Di sana mereka harus berhadapan dengan lawan yang sepadan: Batalyon Pelopor. Dikisahkan oleh S.A. Lapre, saat berbasis di wilayah Ujungberung (front Bandung Timur), Andjing NICA pada suatu malam diteror dengan tembakan mortier kaliber 8 dan granat. Pabrik beras yang menjadi pos mereka seolah diguncang gempa sekaligus diserang peluru musuh yang bagaikan ribuan tawon mengamuk. “Di dalam bangunan yang besar itu tidak pernah saya merasa begitu ketakutan seperti pada malam itu ketika granat-granat mortir berjatuhan di sekeliling kami,” kenang Letnan Satu H.R. Toorop, Komandan Kompi Staf Batalyon Infanteri V Andjing NICA. Horor pertempuran juga dikisahkan oleh anggota Andjing NICA yang lain bernama Kopral Butselaar. Ketika mereka sedang bergerak ke arah pegunungan di utara Ujungberung, mereka bertemu dengan pasukan musuh kurang lebih berjarak 100 meter. Alih-alih bersiaga, seorang sersan bernama Keereweer malah berlaku sombong dengan berteriak-teriak menantang gerilyawan-gerilyawan TRI untuk menghadapinya. “Teriakan Sersan Keereweer malah disambut dengan semburan peluru-peluru senapan mesin Hotskis, yang membuat kami ketakutan hingga merasa ingin berak di celana,” kenang Butselaar. Karena tembakan senapan mesin musuh tak mau berhenti, lewat radio mereka lantas meminta bantuan tembakan mortir dari pasukan Belanda yang sedang berada di Gunung Bogkor. Entah karena salah menyebut titik koordinat atau pelayan mortir kurang ahli, alih-alih membungkam senapan mesin musuh, peluru-peluru mortir justru jatuh di wilayah pertahanan para prajurit Andjing NICA. “Bayangkan dari depan kami dihantam senapan mesin Hotskis sedang dari belakang kami dijatuhi peluru mortir dari kawan kami sendiri,” ujar Butselaar. Panik melanda peleton Andjing NICA itu. Komandan peleton berteriak-teriak histeris seperti orang gila, memerintahkan agar pelayan radio menyuruh sang penembak mortir di Gunung Bongkor menghentikan tembakannya. Suatu permintaan yang sia-sia, karena sang pelayan radio sudah tewas tertembus peluru, menyusul kemudian Sersan Keereweer. Pertempuran pun berakhir dengan nyaris habisnya seluruh anggota peleton tersebut. Bandung Timur memang mimpi buruk untuk Andjing NICA. Hampir setiap malam, mereka harus bertahan dalam ketakutan di pos-pos. Begitu gentarnya, hingga peluru cahaya hampir tiap 5 menit ditembakan ke udara. Kepanikan dan putus asa melanda. Moril pasukan kerap turun ke titk nadir. Puncaknya terjadi, saat markas pusat mendatangkan penyanyi Tom van Der Stap dan kelompok musik De Witte Raven ke markas mereka di Arjasari, seorang anggota Andjing NICA malah lebih memilih menghabisi nyawanya sendiri dengan satu tembakan ke kepala daripada menikmati hiburan Tom dan kawan-kawan.
- Perburuan dalam Sepekan
Bunyi gamelan yang penghabisan telah lenyap di udara senja hari. Sepagi anak lurah Kaliwangan telah disunati. Tamu-tamu telah habis pulang. Senja rembang datang. Begitulah Pram memulai ceritanya, Perburuan . Sejak senja rembang 16 Agustus 1945 itulah Hardo untuk pertama kalinya menampakkan diri. Setelah setengah tahun bersembunyi dari buruan Nippon, ia muncul di depan rumah Ningsih, tunangannya. Hari itu adalahhari sunatan Ramli, adik Ningsih. Namun Den Hardo, bukan lagi pemuda yang orang-orang Kaliwangan kenal. Saat itu telah menjadi seorang kere. Kere dengan rambut gondrong dan lengket. Wajah kotor dan dipenuhi brewok. Tidak berbaju dan telanjang kaki. Hardo telah menjadi buruan sejak pertama kali memutuskan untuk memberontak. Menjadi pelarian di bukit batu padas dan bersembunyi di dalam gua yang pekat. Meninggalkan sanak keluarga bahkan tunangannya. Lalu sampai kapan Hardo akan bertahan? “Sampai Nippon kalah,” kata Hardo. Semangat Anti Jepang Hardo adalah mantan sodhanco . Ia memberontak bersama dua sodhanco lainnya, Dipo dan Karmin, serta para shodan . Namun sayang, pemberontakan kepada balatentara Dai Nippon itu gagal karena Karmin berkhianat. Para pemberontakanpunharus mundur ke perbukitan dan hutan-hutan. Kengerian masa penjajahan Jepang yang kemudian melahirkan semangat anti-Jepang nampaknya mengilhami lahirnya novel Perburuan. Bagaimana tidak, hal itu dirasakan bahkan sejak baru beberapa hari Jepang memasuki kota kelahirannya, Blora. “Jepang mulai memperkosai wanita. Dua serdadu Jepang yang dihukum mati di alun-alun karena perkosaan tidak meredakan keresahan. Para wanita dari remaja sampai nenek pada berbedak jelaga,” ungkap Pram dalam buku Proses Kreatif Mengapa dan Bagaimana Saya Mengarang. Dua bulan Jepang berkuasa, ibu dan adik bungsu Pram meninggal dunia. Pram, yang kala itu masih berusia 17 tahun pergi ke Batavia. Di Batavia, kengerian penjajahan semakin jelas di mata Pram. Mulai dari penyiksaan terhadap penduduk hingga pembunuhan karena kejahatan kecil. Selain itu, ada satu kejadian sepele namun meninggalkan sakit hati bagi Pram. Suatu hari ketika Pram sedang mengayuh sepedanya di jalanan berlubang, tiba-tiba sebuah truk militer membunyikan klakson dari belakang. “Truk itu mengerem. Dari kabin truk meledak petir: Nan da kurah ! Dan mata melotot,” ingat Pram. Ban sepeda Pram lepas dan tergencet porok (garpu sepeda). Ketika seorang serdadu melompat turun, Pram memikul sepedanya dan melemparkannya ke pinggir jalan lalu lari. “Dari belakangku, meraung-raung dia: Bagero mae ! Genjumin ! Hanya rangkaian caci-maki. Sakit hati itu ternyata tak pernah lenyap,” kenang Pram. Sementara itu, Pram memang bekerja di kantor berita Domei milik Jepang. Ia harus memberitakan kemenangan, kebenaran dan kebajikan Jepang. “Keadaan di luar dan di dalam diri sudah tidak tertahankan, Domei kutinggalkan,” ungkapnya. Pram kabur ke Kediri, Jawa Timur. Di desa terpencil dan miskin bernama Tunjung, ia menumpang di rumah bekas kepala desa, seorang paman. Pada 23 Agustus 1945, Pram baru mendapat kabar seputar proklamasi. Lewat Surabaya, Pram pulang ke Blora. Di kota kelahirannya, saat itu sedang diadakan pertunjukan sandiwara “Indonesia Merdeka”. Namun Pram hanya menonton selama seperempat jam. “Pada waktu itu timbul tantangan dalam hati aku akan tulis berita yang jauh lebih baik dari ‘Indonesia Merdeka’ Blora ini, sebuah cerita yang bersemangat anti-Jepang, patriotik, ditutup dengan proklamasi kemerdekaan,” tegas Pram. Pram dan novel Perburuan Kebebasan dan Revolusi Keinginan untuk menulis cerita yang lebih baik dari sandiwara ‘Indonesia Merdeka’ itu terlaksana pada 1949. Namun, kala itu Pram sedang dipenjara di Bukit Duri oleh Belanda. Kerja paksa di luar penjara dengan upah 7,5 sen perhari dan kenyataan bahwa perang melawan Belanda belum kelihatan ujungnya membuat Pram putus asa. “Kubuka pesangon dari ibuku sebelum pergi ke alam baka: patiraga, yang hanya boleh dipergunakan di waktu krisis jiwa melanda tanpa dapat diatasi,” ungkap Pram. A Teeuw dalam tulisannya Revolusi Indonesia dalam Imajinasi Pramoedya Ananta Toer mengatakan bahwa pengalaman mistik Pram dalam hubungan dengan penciptaan perburuan, datang sebagai semacam pencerahan dan pembebasan ketika Pram mengalami krisis kejiwaan yang sangat parah. Pengalaman yang disebut Pram sebagai mistikum itu, lahirlah proses kreatif. Perburuan kemudian mulai ia tulis di dalam penjara, di bawah tekanan serdadu Belanda. “Ya, dilakukan pada waktu tidak terkena kerja paksa, duduk berjongkok di atas kaleng margarin dengan alas sepotong kecil papan, bermeja tulis ambin beton tempat tidur,” kata Pram. Jika dari dalam kamar terdengar langkah sepatu bot serdadu KNIL yang sedang meronda, Pram segera mengemas peralatan menulisnya. Lalu di malam hari, Pram hanya bisa menulis di bawah ambin beton sambil tengkurap dengan menggunakan lampu minyak. Karena jika tidak sembunyi, Pram bisa ketahuan karena pintu sel memiliki jendela sorong tempat para serdadu mengintip. “Minyak tanah dibeli dari teman-teman yang bekerja di dapur. Kertas di dapat dari sang pacar,” ungkap Pram. Meskipun dalam kondisi menulis yang sulit, Pram tetap berhasil menyelesaikan naskah itu. Pram merampungkan Perburuan hanya dalam waktu satu minggu. “Saya mengerjakan roman itu persis selama satu minggu. Waktu itu saya masih memiliki kekuatan alamiah saya,” kata Pram dalam wawancaranya dengan Kees Snoek yang terbit dalam Saya Ingin Lihat Semua Ini Berakhir. Naskah itu kemudian diselundupkan oleh Dr. Mr. G.J. Resink yang sering berkunjung ke penjara untuk menemui para mahasiswanya yang ditahan. “Resink menyerahkan naskah Perburuan kepada H.B. Jassin yang waktu itu sebagai redaktur Balai Pustaka,” tulis sastrawan Ajip Rosidi dalam Mengenang Orang Lain: Sebuah Obituari. Oleh Jassin, naskah Perburuan diikutkan sayembara tanpa sepengetahuan Pram. Novel itu menang dan kemudian diterbitkan Balai Pustaka pada 1950. A Teeuw mengatakan bahwa Pram adalah sastrawan yang mencuat tinggi dalam mencitrakan revolusi Indonesia baik dari jumlah karya maupun mutunya. “Segala aspek perjuangan rakyat Indonesia, di garis depan, di medan perang, di gerilya kota Jakarta, dalam penjara penjajah, di masa pasca revolusi, segala bentuk penderitaan dan pengorbanan rakyat, segala grandeur et misere (keagungan dan kemelaratan) rakyat dicitrakannya, dan berkat penguasaan bahasanya, kekuatan gayanya, keaslian imajinasinya, ia berkali-kali berhasil mentransformasikan kenyataan hulu revolusi dan perjuangan bangsa Indonesia yang sebagian besar dihayatinya dalam hidupnya sendiri menjadi epos, wiracerita,” tulis A Teeuw. Mengutip A Teeuw, novel Perburuan ditutup Pram dengan sebuah goro-goro . Ketika kabar Nippon kalah telah terdengar, tiba saatnya Hardo kembali. Namun, terjadi kekacauan di Kawilangan. Dada Ningsih, tunanganya, telah ditembus oleh peluru parabellum Jepang. Terbaring di hadapan Hardo yang gugup, Ningsih mengembuskan napas terakhirnya. Begitulah Pram mengakhiri ceritanya. Siang hari lewat jam dua, 17 Agustus 1945. Ketika hawa kota Blora sampailah pada puncak panasnya… panas yang mengganggang seluruh kota.
- Kerajaan Kuno di Barat Kalimantan
Rajanya bernama Maha Mosa. Ia sombong dan tak tahu sopan santun. Suatu hari ketika seorang utusan Tiongkok datang, dia ditegur. Raja pun turun dari singgasana, membungkuk, dan menerima perintah kekaisaran. Ia disuruh kaisar mengirim upeti. Namun, ia beralasan baru saja dijarah Kerajaan Sulu sehingga mereka sedang lemah dan miskin. Tak mampu mereka memberi persembahan kepada kaisar di Tiongkok. Apalagi ketika itu kerajaannya adalah bagian dari Jawa. Penduduk Jawa mencegahnya mengirim upeti. Maha Mosa pun bimbang. “Sejak lama Jawa sudah mengakui dirinya sebagai bawahan dan membawa upeti. Mengapa engkau takut pada Jawa tetapi tidak pada Takhta Langit?” seru utusan itu akhirnya kepada sang raja. Maka, Maha Mosa pun menunjuk utusan untuk membawa sepucuk surat dan upeti. Isinya, mahkota bangau, penyu hidup, merak, kapur barus berbentuk butiran kecil, kamper bubuk, kain dari barat, dan berbagai barang lainnya. Maha Mosa bertakhta di Kerajaan Bu-ni yang tercatat dalam sumber Tiongkok sejak masa Dinasti Song (960-1279). Menurut W. P. Groeneveldt dalam Nusantara dalam Catatan Tionghoa, letaknya di pantai barat Kalimantan. Sedangkan Sejarah Dinasti Song mendeskripsikan kerajaan itu terletak di laut barat daya. Jarak berlayarnya dari Jawa 45 hari, dari San-bo-zhai (Palembang) 40 hari, dan dari Campa 30 hari. Itu pun kalau anginnya mendukung. Raja Pertama Pada masa Dinasti Song, Maha Mosa belum lahir. Raja pertama Bu-Ni atau Pu-Ni yang dicatat bernama Hiang-ta. Pada 977, sang raja mengutus tiga orang untuk membawa upeti kepada kaisar. Isinya satu kati kamper dalam potongan besar, delapan kati kamper kelas dua, sebelas kati kamper kelas tiga, 20 kati kamper butiran kecil, dan 20 kati kamper kualitas terendah. Satu kati kira-kira sama beratnya dengan 0,8 kg sekarang. Mereka juga membawa lima batang kayu kamper, 100 tempurung penyu, tiga nampan kayu cendana, dan enam gading gajah. “Semoga kaisar hidup 10.000 tahun dan Sri Baginda tak menolak keramahan sederhana negara kami yang kecil ini,” kata utusan itu ketika mempersembahkan upeti kepada kaisar. Itulah adalah kali pertama mereka datang ke Tiongkok. Dulunya belum ada utusan dari Pu-Ni yang dikirim ke sana. “Karenanya tidak pernah disebutkan dalam sejarah,” tulis catatan itu. Sejarah Dinasti Song merekam Pu-Ni sebagai sebuah kota yang dikelilingi dinding dari papan. Penduduknya sudah lebih dari 10.000 jiwa. Rajanya menguasai 14 tempat lainnya. Ia tinggal di bangunan beratap daun palem. Sementara rumah penduduknya beratap rumput. Raja dibantu para menteri. Singgasananya berupa dipan yang dibuat dari anyaman tali. Jika bepergian, raja diangkut oleh beberapa orang dengan selembar kain lebar mirip hammock zaman sekarang. Seabad kemudian, Pu-Ni kembali terekam mengirim upeti ke istana kaisar. Utusan itu disuruh oleh raja yang namanya ditulis Sri Ma-ja atau mungkin maksudnya Sri Maharaja. Setelah itu, catatan mengenai Pu-Ni tak lagi muncul. Baru ada lagi dalam rekaman Sejarah Dinasti Ming (1368-1643). Maha Mosa yang memulai kembali hubungan itu. Tiga puluh lima tahun setelah utusan Maha Mosa dikirim, raja di Pu-Ni sudah ganti. Tersebut Raja Maraja Ka-la memberangkatkan utusannya. Kala itu kelihatannya hubungan Pu-Ni dan Tiongkok sangat baik. Maraja Ka-la sampai datang ke istana kaisar. Ia membawa serta permaisurinya, adik laki-laki, dan adik perempuannya, putra, dan putrinya, juga sejumlah pejabat. Rupanya, sang raja merasa setelah diberi pengukuhan dan gelar dari kaisar kehidupan di kerajaannya kian berjaya. “Orang-orang tua di negara hamba semuanya mengatakan ini disebabkan oleh perlindungan Kaisar yang suci,” kata sang raja di hadapan kaisar. Setelah raja wafat, putranya, Xia-wang namanya kalau dalam lafal Tiongkok, naik takhta. Raja yang baru ini sempat minta bantuan kepada kaisar. Mereka ingin bebas dari kewajiban membayar upeti sebanyak 40 kati kapur barus kepada Jawa. Upeti itu untuk selanjutnya akan dikirim ke istana kaisar. Sepertinya permohonan itu dikabulkan. Kaisar memerintahkan Jawa agar tak lagi meminta upeti kepada Pu-Ni. Letak Kerajaan Hingga tahun 1425 utusan negara ini terus datang ke Tiongkok. Seabad kemudian semakin jarang. “Kedatangan orang Frank (Portugis, red. ) pada Tarikh Zhengde (1506-1521) dan pengaruh buruk yang mereka sebarkan melalui kekerasan membuat pengiriman upeti berhenti,” catat Sejarah Dinasti Ming. Ditambah lagi kemudian raja Pu-Ni mangkat tanpa penerus. Keluarganya pun berperang hebat. Mereka berebut singgasana. Semua yang bertikai lalu terbunuh. Tinggalah sang putri raja yang kemudian diangkat jadi ratu. Sejak itu, tak ada lagi utusan ke Tiongkok. Kendati begitu, hubungan dagang kedua negara terus berlanjut. Meski menyamakan Pu-Ni dengan wilayah di barat Kalimantan, Groeneveldt mengakui kalau posisi pasti Pu-Ni tak begitu jelas. “Deskripsi negara ini tidak jelas dan tak bisa digunakan untuk menentukan lokasi sebenarnya,” katanya. Sementara itu, Slamet Muljana dalam Tafsir Sejarah Nagarakrtagama, lebih menghubungkan daerah ini dengan Brunei. “Pu-ni biasa disamakan dengan Brunei, di bagian barat Kalimantan,” tulisnya. Sebagaimana yang disebutkan Nagarakrtagama , Brunai atau Barune masuk ke dalam Pulau Tanjungpura yang telah terpengaruh Majapahit. Selain yang dicatat Prapanca, Tanjungpura berulangkali juga disebut dalam sumber-sumber tertulis Jawa lainnya. Dalam Masa Akhir Majapahit, arkeolog Hasan Djafar menyebut letak Tanjungpura sebenarnya belum bisa dipastikan. “Namun demikian, oleh para sarjana dihubungkan dengan daerah di Kalimantan,” kata dia.
- Proklamasi Kemerdekaan Rakyat Maluku
PERINGATAN kemerdekaan Indonesia hanya tinggal menunggu hari. Berbagai persiapan pun telah dilakukan untuk menyambut peristiwa yang menegaskan posisi Indonesia sebagai bangsa merdeka yang anti penjajahan. Namun tak banyak orang Indonesia tahu, lebih dari satu abad sebelumnya (1817), proklamasi kemerdekaan pernah digaungkan di Maluku. Adalah Thomas Mattulesi alias Kapitan Pattimura yang menjadi ujung tombak dari perlawanan rakyat terhadap Belanda hingga berhasil membuka jalan menuju penyusunan akta keberatan akan keberadaan Belanda di Maluku. Proses Mencapai Kemerdekaan Kabar rencana keberangkatan pasukan Belanda pimpinan Mayor Beetjes menuju basis kekuatan peralawanan rakyat Maluku di Pulau Saparua, Maluku Tengah cepat tersebar. Sebanyak 300 tentara, terdiri dari pasukan infanteri dan marinir, dijadwalkan berangkat pada siang 17 Mei 1817 dari Pulau Seram. Sumber lain menyebut tentara yang berangkat berjumlah 1073 orang. Sementara David Matulessy dalam bukunya, Pattimura-Pattimura Muda Bangkit Memenuhi Tuntutan Sejarah , menyebut perwira yang berangkat ada 500. Di dalam rombongan pasukan Belanda itu turut ikut raja Sirisori Serani. Ia dipercaya dapat meredakan perlawanan kelompok Thomas Mattulesi yang terus membuat pening pemerintah Belanda. Sehari sebelumnya, para pembesar Belanda di Ambon menerima kabar jika orang-orang Eropa di Saparua terancam oleh rakyat yang mulai melawan. M. Sapija dalam buku Sedjarah Perdjuangan Pattimura menyebut jika residen Ambon segera menanggapi kabar itu dengan rapat kilat bersama pemimpin militer Belanda. “Dengan susah payah komisaris Belanda harus membentuk ekspedisi ini untuk memadamkan pemberontakan yang sudah meletus.” Berita penyerangan itu akhirnya terdengar oleh Mattulesi dan pasukan perlawanan Maluku di Hulaliu. Pada 18 Mei, Mattulesi segera menggerakan seluruh rakyat untuk mengatur penyerangan dan pertahanan saat Beetjes tiba. Tak lupa ia juga menempatkan sejumlah mata-mata di Pelauw, sebelah utara Hulaliu, agar kedatangan pasukan Belanda dapat diketahui dengan cepat. Dalam buku Kapitan Pattimura , I.O. Nanulaitta menuturkan betapa pentingnya peran mata-mata pada pasukan Mattulesi. Berkat merekalah berita kedatangan pasukan Belanda tersebar dengan cepat ke khalayak. “Pada waktu arombai (perahu) mulai dikumpulkan di Pelau, pengamat-pengamat rakyat segera berlari menuju ke Hulaliu untuk memberitahukan hal itu kepada para kapitan di sana.” Tanggal 20 Mei, armada Beetjes telah sampai di Halaliu. Mattulesi kemudian mengarahkan sebagian besar pasukannya ke Saparua. Sementara yang lainnya berjaga di sekitar Halaliu. Ada sekitar 1.000 pasukan rakyat Maluku yang sudah siap menerima perintah Mattulesi di sepanjang pesisir Saparua. Genderang perang yang riuh semakin mempertinggi semangat rakyat untuk bertempur. Kapal-kapal Beetjes yang telah tiba berusaha mengecoh rakyat dengan berputar-putar di laut. Rakyat berlarian mengikuti arah kapal agar mereka tidak dapat berlabuh. Ombak yang besar pun semakin mempersulit Beetjes untuk mendaratkan pasukannya. Akhirnya para kompeni itu menemukan tempat merapatkan kapalnya, namun di tengah hutan bakau yang sangat menguntungkan pejuang Maluku. “Pasukan rakyat ini mempunyai tugas untuk menyerang pasukan Beetjes dari belakang, memotong jalan mereka kembali ke laut,” tulis Nanulaitta. Setelah Beetjes melihat kesunyian di pantai, yang sebenarnya telah direncakan oleh Mattulesi, pasukan Belanda didaratkan. Saat kaki mereka menginjak tanah, Matulessi memberikan aba-aba menembak dari balik pohon. Korban pun berjatuhan dari pihak Belanda. Beetjes berusaha terus maju dan memberi perintah menembak. Namun kondisi senjata yang basah membuat mesiu tidak mau terbakar. Posisi Belanda benar-benar tidak diuntungkan. Beetjes memutuskan menarik mundur tentaranya. Namun terlambat karena jalan menuju laut telah ditutup oleh ratusan pejuang. Pasukan Belanda pun menerobos sekuat tenaga berharap dapat mencapai laut dengan perahu mereka. Sedangkan Beetjes sendir tewas di tengah pertempuran. Laporan pemerintah Belanda di Ambon menyebut hanya ada empat perahu yang dapat kembali. Satu tiba tanggal 21 Mei, membawa kira-kira tiga belas orang. Beberapa hari kemudian tiba lagi satu perahu berisi dua puluh orang tentara. Sementara satu perahu berisi makanan, mesiu, dan senjata berhasil kembali, namun segera diamankan karena para penumpangnya dituduh melarikan diri tanpa sebelumnya turut bertempur. “Hanya 30 orang tentara berhasil menyelamatkan diri. Mereka melarikan diri ke Ambon dan membawa berita malapetaka ini kepada pembesar-pembesar mereka,” tulis David. Walau begitu, bukan berarti pihak Mattulesi mengalami kerugian yang kecil. Banyak pejuang yang terluka, dan meninggal. Meskipun jumlahnya tidak sebanyak Belanda. Detik-detik Proklamasi Kemenangan membawa kegembiraan di seluruh negeri. Rakyat bersuka ria menyambut para pahlawan mereka. Semalam suntuk rakyat menari dan bernyanyi merayakan keberhasilan menghalau penjajahan dari tanah Saparua. Mampu memimpin para pejuang melawan Belanda, tidak membuat Mattulesi larut di dalamnya. Ia segera mengumpulkan para pemimpin pejuang untuk membicarakan langkah setelahnya. Ada tiga rencana penting yang dibicarakan, dan dalam waktu singkat harus dijalankan. Pertama, tanggal 26 Mei, pemimpin rakyat dari seluruh negeri di Maluku akan dikumpulkan di Haria, salah satu daerah di Saparua. Hal itu dilakukan untuk mempertegas keberatan rakyat atas seluruh tindakan Belanda dan memberitahu alasan Mattulesi bersama pasukannya mengangkat senjata. Kedua, mengamankan pulau Haruku, yang digunakan oleh tentara Belanda saat penyerangan ke Saparua. Mattulesi ingin membersihkan pulau itu dari sisa-sisa pasukan Belanda sebelum mereka melakukan serangan balasan. Ketiga, membangun benteng pertahanan di seluruh area Saparua dengan membuat parit-parit yang berisi bambu runcing. “Minggu itu berjalan sangat sibuk, pasukan-pasukan dari segenap penjuru membajiri Halaliu. Di situ didirikan markas komando pertahanan rakyat,” terang Nanulaitta. Untuk menambah daya serang pasukan rakyat, Mattulesi mengangkat Lukas Selano sebagai komandan. Sementara dua tokoh lainnya, Lukas Lisapaly dan Pattisaba, bertugas membantu seluruh persiapan dalam pertahanan dan penyerangan. Sembari mempersiapkan kekuatan tempur, musyawarah tanggal 26 Mei tetap berjalan sesuai rencana. Para pemimpin berkumpul, didampingi tetua adatnya masing-masing. Mattulesi bersama stafnya turut hadir dalam acara besar itu. “Kita telah bersatu untuk tidak tunduk lagi kepada perintah-perintah residen, disebabkan oleh karena mereka menindas dan memaksa rakyat atas bermacam-macam cara, sedangkan rakyat tidak mendapat imbalan untuk segala pekerjaan yang dipaksakan kepada mereka,” ucap Mattulesi dikutip dalam buku karya Sapija. Setelah melalui dua hari proses panjang dalam suasana yang terkadang tegang dan panas, akhirnya seluruh pemimpin tiba pada satu pandangan yang sama. Kesimpulannya tertuang dalam 14 poin berisi keberatan atas keberadaan Belanda di Maluku, dan dibubuhi tanda tangan 21 orang pemimpin rakyat yang hadir. Tepat pada 29 Mei, Mereka mengumumkan hasil musyawarah besar itu, yang kemudian dikenal sebagai “Proklamasi Haria”. Poin-poin keberatan itu mencakup seluruh bidang kehidupan, mulai dari agama, ekonomi, politik, hingga keluarga. Misalnya dalam bidang agama, Belanda dianggap mengganggu tatanan kepercayaan rakyat Maluku yang waktu itu mayoritas menganut Kristen. Sementara kebijakan Belanda yang paling ditentang adalah kerja paksa dan pengiriman laki-laki Maluku ke Batavia. "Dengan kekerasan pemerintah itu hendak memisah semua laki-laki dari anak isterinya," tulis Nanulaitta. Selain itu, semua orang setuju mengangkat Thomas Mattulesi menjadi ‘panglima perang tertinggi Maluku’ yang memimpin Honimua, Nusalaut, Haruku, Ambon, Seram, dan seluruh negeri. Mattulesi pun kemudian menggunakan gelar ‘Kapitan Pattimura’, mewarisi gelar moyangnya terdahulu. Segera setelah persiapan selesai dilakukan, naskah Proklamasi Haria disalin dan disebarkan ke seluruh Maluku agar dapat dibaca oleh rakyat. Di tiap daerah kemudian diangkat seorang kapitan yang bertanggung jawab atas pertahanan di wilayahnya. Pattimura mencurahkan seluruh tenaganya untuk persiapan pertempuran yang lebih besar melawan Belanda. “Di atas pundak Kapitan Pattimura terletak sekarang seluruh tanggung jawab untuk memimpin rakyat dalam perang kemerdekaan ini,” kata Nanulaitta.*
- Beda Cara PSI dan Masjumi
MASYUMI (Majelis Syuro Muslimin Indonesia) dan PSI (Partai Sosialis Indonesia) serupa tapi tidak sama. Keduanya adalah partai yang berada di belakang Pemerintahan Revolusioner Republik Indonesia (PRRI) melawan pemerintah pusat. Sama-sama menentang rezim Sukarno dan anti-PKI. Tetapi dalam menjalankan oposisinya, dua partai ini punya cara yang berbeda. Masyumi berjuang di dalam negeri yang pusatnya di Sumatera Barat sedangkan pentolan PSI bergerak di mancanegara. Sejak PRRI diproklamasikan 15 Februari 1958, PSI dan Masyumi getol melancarkan subversi. Namun menurut Ganis Harsono, saat itu menjabat juru bicara Departemen Luar Negeri, persekutuan PSI-Masjumi sarat keganjilan. Dalam gerakan perlawanannya, pembagian tanggung jawab duo partai tersebut berat sebelah. “Masyumi mempertaruhkan segala-galanya, dan telah kehilangan segala-galanya pula di tengah hutan-hutan Sumatera Barat. Sebaliknya, PSI tidak menampilkan seorang pun untuk dilibatkan dalam hutan Sumatera, ataupun dalam hutan Sulawesi Utara, akan tetapi membiarkan dalang-dalangnya tinggal di luar negeri tanpa memberi sokongan yang berarti bagi jalannya pemberontakan,” kata Ganis Harsono dalam memoarnya Cakrawala Politik Era Sukarno. Soal ketimpangan itu, Ganis mendapat bocoran dari Abdullah Nazir, kawan masa kecilnya. Nazir tahu banyak soal Masjumi karena bekerja sebagai wartawan koran Masumi, harian Abadi . Dia menggambarkan ironi perjuangan yang dilakoni PSI dan Masyumi dengan kata “aneh dan menggelikan”. “Kalau pemimpin-pemimpin Masyumi seperti Mohammad Natsir dan Sjafruddin Prawiranegara tekun sembahyang lima waktu sehari semalam, mohon doa kepada Tuhan agar membantu perjuangan mereka di tengah-tengah hutan di sekitar Bukittinggi,” ujar Nazir. Sementara itu, “Pemimpin-pempin PSI enak-enak bersantai di meja judi di Jenewa, Roma, Monte Carlo, dan Beirut.” Salah seorang tokoh PSI yang wara-wiri di luar negeri adalah Sumitro Djojohadikusumo. Selama sepuluh tahun, Sumitro hidup berpindah dari satu negara ke negara lain. Dia bertualang mulai dari Singapura, Hongkong, Malaya, Swiss, Inggris, hingga Thailand. Meski terbilang sebagai buronan negara, Sumitro memiliki banyak pendukung yang sehaluan dengannya. Dalam biografinya, Sumitro disebutkan punya koneksi di berbagai negara. Dia rapat dengan kalangan intelijen Malaysia dan Inggris yang ikut memusuhi Sukarno. Di Jepang, Sumitro juga menjalin hubungan dengan aktivis mahasiswa Indonesia yang antikomunis. Kawan-kawan yang membantunya tersebar pula di Amerika, Belanda, Prancis, Polandia, hingga Polandia. Yang unik, mereka tidak pernah berkumpul lebih dari empat orang. “Bagaimana Sumitro bisa memiliki jaringan begitu luas agak sukar dijelaskan prosesnya satu demi satu. Pada umumnya hanya dapat dikatakan bahwa hubungan bermula dari rasa simpati terhadap perjuangan Sumitro,” tulis Aristides Katoppo, dkk dalam Jejak Perlawanan Begawan Pejuang: Sumitro Djojohadikusumo. Selain Sumitro, orang PSI lainnya yang menonjol di luar negeri adalah Sutan Mohammad Rasjid. Berbeda dengan Sumitro yang banyak menghasilkan bantuan materi. Perjuangan Rasjid lebih banyak dalam bidang non-materi. Rasjid merupakan duta besar berkuasa penuh PRRI di kawasan Eropa. Secara gigih, dia menyebarluaskan dan memberikan pemahaman kepada dunia internasional tentang gerakan PRRI. Menurut Gusti Asnan, sejarawan Universitas Andalas, keberhasilan PRRI mendulang bantuan asing tidak lepas dari lobi-lobi Sumitro dan Rasjid. Mereka berperan dalam menyukseskan pertemuan antara pihak PRRI dengan petinggi negara asing. Diantaranya seperti menteri luar negeri Belanda, beberapa duta besar negara Barat hingga anggota kongres dan senat Amerika Serikat. “Dalam hal ini, nama Sumitro Djojohadikusumo dan Sutan Mohammad Rasjid tidak bisa diabaikan,” tulis Gusti Asnan dalam Memikir Ulang Regionalisme: Sumatera Barat Tahun 1950-an . Kendati demikian, geliat orang PSI di luar negeri tidak mampu menyelamatkan PRRI. Pada 1961, Pasukan PRRI-Permesta menyerah kalah terhadap TNI yang dipimpin Jenderal A.H. Nasution. Riwayat Masjumi dan PSI pun tamat lantaran dibubarkan pemerintah. Natsir dan Sjafruddin masuk penjara rezim Sukarno. Sementara Sumitro dan Rasjid tetap jadi pelarian di negeri orang sampai era Orde Baru terbit menjelang.






















