top of page

Hasil pencarian

9740 hasil ditemukan dengan pencarian kosong

  • Kisah Para Deputi Jenderal Yani

    Setelah membaca artikel “ Jenderal Yani dan Para Asistennya ”, Letjen (Purn.) Sayidiman Suryohadiprodjo langsung memberikan tanggapan. Selain para asisten, menurutnya masih ada tiga jenderal lagi yang belum disebut perannya. Mereka adalah perwira tinggi yang menjabat sebagai deputi Menteri Panglima Angkatan Darat (Menpangad). “Para deputi juga punya saham penting dalam mutu tinggi SUAD Yani,” ujar sesepuh TNI AD Angkatan ‘45 itu kepada Historia . Para deputi yang dimakud ialah Mayjen Moersjid (Deputi I), Mayjen R. Soeprapto (Deputi II), dan Mayjen Mas Tirtodarmo Harjono (Deputi III). Ketiga deputi ini merupakan wakil Yani yang membawahkan beberapa asisten. Sementara pengangkatan asisten tidak terlepas dari rupa-rupa kompromi, namun tidak demikian halnya untuk para deputi. “Mereka semua memang pilihan Yani,” kata Sayidiman. Bersama trio deputinya, Yani membentuk Staf Umum Angkatan Darat (SUAD) yang solid dan cenderung intelektual. Rekam Jejak Dalam Siapa Dia Perwira Tinggi TNI-AD , Harsja Bachtiar mencatat Moersjid lahir pada 10 Desember 1924 di Jakarta. Namun menurut keluarganya, Moersjid lahir pada tanggal yang sama tahun 1925. Morsjid berasal dari Divisi Siliwangi. “Saya kenal Pak Moersjid sejak tahun 1950 di Siliwangi, sebagai senior yang tak terlalu beda umur,” tutur Sayidiman. Saat itu Moersjid menjadi komandan Resimen 11 Cirebon sedangkan Sayidiman komandan Batalion 309. Mereka sama-sama bertugas menumpas pemberontakan Darul Islam pimpinan Kartosoewiryo. Setelah itu, Moersjid mengikuti pendidikan lanjutan infantri di Fort Benning U.S. Army Infantry School, Georgia, Amerika Serikat. Pada 1958, Moersjid memimpin operasi “Merdeka” dengan misi menumpas Permesta di Sulawesi Utara. Di sana, Moersjid menjabat sebagai panglima Kodam Merdeka hingga 1959. Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD) Letjen Abdul Haris Nasution kemudian menarik Moersjid ke Jakarta. Dalam jabatannya sebagai Asisten II KSAD/Operasi, Moersjid sempat bertaruh nyawa di tengah samudra ketika menggelar operasi inflitrasi ke Irian Barat. Episode menegangkan itu terekam dalam “Pertempuan Laut Aru” pada 15 Januari 1962.   Moersjid sebagaimana ditulis Julius Pour dalam Konspirasi Di Balik Tenggelamnya Matjan Tutul , “terkenal sebagai perwira pemberani. Bahkan, anak buahnya memberinya sebutan ‘jagoan tempur’”. Sementara itu, Soeprapto tergolong perwira senior yang berasal dari Divisi Diponegoro. Dia lahir di Purwokerto, Jawa Tengah pada 24 Agustus 1920. Soeprapto memulai karier militernya sebagai jebolan Akademi Militer Belanda (KMA) di Bandung. Di masa revolusi, Soeprapto menjadi ajudan Panglima Besar Jenderal Soedirman. Sebelum menjadi deputi Yani, Soeprapto merupakan Deputi Nasution untuk urusan wilayah (Deyah) Sumatra. Dalam memoarnya, Nasution mengenang kedekatan dirinya dengan Soeprapto sedari zaman taruna KMA. Nasution merupakan senior pembimbing Soeprapto di KMA sehingga keduanya cukup akrab. Pada masa Jepang, keduanya menjadi instruktur pemuda dan mengikuti latihan Jepang bersama-sama. Bagi Nasution, Soeprapto orang yang berdedikasi dalam tugas dan berpembawaan sederhana. “Soeprapto adalah seorang pejabat, yang dapat dikatakan tidak punya musuh, hanya punya kawan,” tutur Nasution dalam Memenuhi Panggilan Tugas Jilid 6: Masa Kebangkitan Orde Baru .   Kemudian, Harjono lahir di Surabaya pada 20 Januari 1924. Kiprah kemiliteran Harjono jauh dari hingar-bingar pertempuran. Pada periode revolusi, Harjono banyak bertugas sebagai perwira penghubung ( liaison officer ). Pada 1948, Harjono menjadi Kepala Bagian Penerangan merangkap Juru Bicara Staf Angkatan Perang. Harjono dikenal sebagai perwira cerdas yang fasih beberapa bahasa asing, yakni bahasa Inggris, Belanda, dan Jerman. “Kepandaian menggunakan bahasa asing inilah yang dapat digunakan sebagai bekal dalam perundingan sebagai sekretaris dalam bidang militer pada Konferensi Meja Bundar tahun 1949 dan sebagai Atase Militer di negeri Belanda, tahun 1951,” tulis Brigjen dr. Soedjono dalam Monumen Pancasila Sakti . Sebelum menjadi deputi Yani, Harjono menjabat sebagai direktur Intendans AD dan kepala Seksi Bahan-bahan Strategis Komando Operasi Tertinggi (KOTI). Di luar dinas militer, Harjono punya hobi unik yang jarang digandrungi tentara pada umumnya, yakni bercocok tanam anggrek dan mendengarkan lagu klasik.    Deputi Pilihan Pada 23 Juli 1962, Presiden Sukarno mengangkat Ahmad Yani sebagai KSAD menggantikan Nasution. Ketika Yani memegang tampuk pimpinan Angkatan Darat, posisi wakil KSAD ditiadakan dan digantikan oleh dua deputi. Moersjid ditunjuk sebagai Deputi I/Operasi yang membawahkan Asisten I/Intelijen dan Asisten II/Operasi. Sementara itu, Soeprapto yang menjadi Deputi II/Administrasi yang membawahkan Asisten III/Personalia dan Asisten IV/Logistik. Dalam perkembangannya, menurut pengamat sejarah militer Universitas Pertahanan Donatus Donny A. Sheyoputra, peran sosial-politik TNI-AD kian menguat. Maka Yani memperluas organisasi Angkatan Darat dengan membentuk Asisten Teritorial, Kekaryaan, dan Keuangan. Untuk itu, para asisten tambahan tadi dipandang perlu untuk dipimpin oleh seorang deputi khusus. Dari sinilah cikal bakal Deputi III/Pembinaan. “Deputi inilah yang akhirnya membawahi asisten-asisten yang membidangi urusan sosial politik tadi. Maka dipilihlah M.T. Harjono,” ujar Donny kepada Historia . Secara resmi, pengangkatan Harjono sebagai Deputi III terjadi pada 1 Juli 1964.       Dari semua deputi, Moersjid merupakan perwira termuda. Meski paling “belia” secara usia, tapi soal pengalaman tempur, Moersjid-lah yang paling kenyang jam terbang. Sayidiman mengatakan, Moesjid yang paling muda namun dinamis. Tipikal komandan pasukan yang sukses dan dapat berpikir Barat. Moersjid punya ciri umum yang paling mirip dengan Yani. Oleh karena itu, menjadikannya sebagai Deputi I bidang operasi tentu pilihan yang wajar. Tapi sebagai deputi yang sehari-hari mengurusi operasional, Moersjid jauh dari kesan perwira pemikir. Citra sebagai perwira intelektual lebih tepat disandingkan terhadap Soeprapto dan Harjono. Keduanya merupakan tipikal pemikir, namun Soeprapto lebih berorientasi militer daripada Harjono Soeprapto lama berkecimpung sebagai perwira staf di Markas Besar Angkatan Darat (MBAD). Sebagai deputi yang memegang urusan administrasi, Soeprapto berpandangan visioner. Sebagaimana dituturkan Soedjono, Soeprapto berencana membangun rumahsakit bagi tentara yang setara dengan rumahsakit militer di Amerika Serikat. Selain itu, dia juga punya niatan mengubah bangunan MBAD dan Museum Angkatan Darat.      “Soeprapto, pendidikan dan sifat-sifatnya menjadikannya perwira staf yang brilian. Ini juga penting untuk staf umum,” kata Sayidiman. Sementara itu, Harjono punya pengalaman luas di kancah politik-ekonomi dan diplomasi. Menurut Rum Ali dalam Titik Silang Jalan Kekuasaan Tahun 1966 , Harjono merupakan salah satu perwira teras di Markas Besar Angkatan Darat yang akrab dengan orang-orang intelektual dari Partai Sosialis Indonesia (PSI). Haryono kerap berdiskusi tentang perpolitikan nasional dengan rekan-rekannya dari PSI seperti Soedjatmoko dan Rosihan Anwar.    “Harjono adalah seorang intelektual bermutu,” tutur Sayidiman, “Ini amat mengkompensasi kurangnya pengalaman sebagai militer lapangan.” Menuju Prahara Memasuki tahun 1965, suasana politik dalam negeri makin memanas. Rosihan Anwar menyebut masa itu diliputi segitiga kekuasaan antara Sukarno, Angkatan Darat, dan Partai Komunis Indonesia (PKI). Berawal dari desakan PKI soal pembentukan Angkatan Kelima untuk mempersenjatai buruh dan tani yang ditentang keras oleh Angkatan Darat. Pada bulan April 1965, Yani mengadakan seminar di Angkatan Darat. Tuan rumahnya adalah Seskoad tapi yang  menjadi ketua panitia seminar ialah Soeprapto. Dari seminar itu kemudian lahir suatu pemikiran “waspada musuh dari Utara” tanpa menyebut negara. “Ketika Bung Karno mendengar itu, dia mengkritik karena konotasi Utara itu selalu mengarah pada Tiongkok. Padahal, Bung Karno sedang membangun poros Jakarta-Peking,” kata Donny. “Bagi Sukarno musuh itu setiap yang mengancam kedaulatan negara seperti Nekolim. Kekuatan Nekolim itu bisa ada di Federasi Malaysia, Singapura, dan Austalia di Selatan.” Saling tebar isu pun bergulir. Muncul desas-desus Dewan Jenderal yang bertujuan mengoreksi kebijakan politik Presiden Sukarno. Rumor Dewan Jenderal itu melibatkan beberapa pucuk pimpinan Angkatan Darat. Selain Yani, para deputinya yang kritis seperti Soeprapto dan Harjono ikut kena sorotan. Soeprapto disebut-sebut bagian dari Dewan Jenderal sedangkan Harjono dianggap tidak loyal kepada Bung Karno. “Berita yang dibuat-buat Aidit tentang adanya Dewan Jenderal yang dibunga-bungai oleh Biro Chusus dan kemudian disebar-luaskan melalui berbagai saluran, terbukti merupakan sebuah berita disinformasi yang luar biasa efektif, yang dengan cepat menyebar ke seluruh negeri seperti api kebakaran hutan yang hebat,” tulis sejarawan Ceko Victor Miroslav Fic dalam Kudeta 1 Oktober 1965 .  Puncak dari prahara itu meletup dalam Gerakan 30 September 1965. Yani, Soeprapto, Harjono (bersama dua asisten Parman dan Pandjaitan serta seorang oditur Soetoyo Siswomihardjo) gugur di tangan para prajurit Tjakrabirawa yang tergabung dalam Gerakan 30 September. Sementara itu, Moersjid harus mengalami nelangsa dalam tahanan rezim Orde Baru selama empat tahun tanpa alasan yang jelas.

  • Dari Mława hingga Benteng Modlin

    PUKUL enam pagi Kamis, 28 September 1939. Kapten Tadeusz Dorant, komandan Batalyon ke-3, Resimen Legiun Infantri ke-2 Polandia, tengah menyiapkan sekira 200 pasukannya yang bertahan di Benteng I Zakroczym untuk menyerahkan diri. Ia tunduk pada perintah atasannya, Brigjen Wiktor Thommée, panglima Tentara Modlin yang berbasis di Kompleks Perbentengan Modlin, 50 kilometer di utara Warsawa, Polandia. Kala itu gencatan senjata sudah dicapai. Sehari sebelumnya, pertahanan Polandia di Modlin dikepung Armeekorps (Korps AD ke-2 Jerman) II pimpinan Generalobertst (kolonel jenderal) Adolf Strauss. Pasukan Strauss jadi bagian dari pasukan 4. Armee, Heeresgruppe Nord (AD ke-4, Grup AD Utara) yang dipimpinan Generaloberst Fedord von Bock. Gugus tempur itulah yang menyerang Polandia dari Prusia Timur dan Pomerania Barat sejak pembukaan Perang Dunia II, 1 September 1939. Dari pusat Benteng Modlin, Brigjen Thommée mengibarkan bendera putih untuk mengindikasikan keinginannya menegosiasikan penyerahan. Pasukannya diinstruksikan untuk menghentikan tembak-menembak, termasuk di Benteng I, kantong pertahanan Modlin di ujung barat yang dikomando Kapten Dorant. “Selama fase negosiasi, pasukan SS (Schutzstaffel, paramiliter Nazi) Resimen ‘Deutschland’, bagian dari Divisi Panser ‘Kempf’, memutuskan melanggar gencatan senjata dengan menyerang pasukan Polandia dekat Desa Zakroczym. Pasukan SS yang menyerang pada pukul 6.30 itu dengan mudah berpenetrasi karena pasukan Dorant sudah tak lagi bersenjata. Kapten Dorant tewas setelah dihanguskan pelontar api dengan kondisi mengangkat tangan,” tulis Robert Forczyk dalam White Case: The Invasion of Poland 1939. Sisa pasukan Dorant yang berusaha meraih senjata melakoni perlawanan seadanya. Serangan dadakan itu menewaskan 50 prajurit Polandia dan 15 prajurit SS. Nahasnya, 60 prajurit Polandia yang masih hidup lalu dikumpulkan untuk kemudian dieksekusi. Di hari yang sama dengan agresor yang sama, tragedi berlanjut di desa sekitar Benteng I Zakroczym. Penyerangan, penjarahan, hingga pembakaran rumah-rumah dilakoni Pasukan SS dan sejumlah anggota polisi militer AD Jerman. Setiap pasukan Polandia yang ditemui dan mengangkat tangan dilenyapkan pula oleh tembakan. Sekitar 100 jiwa warga sipil melayang oleh siksaan atau ledakan granat yang dilemparkan tentara Jerman saat sedang bersembunyi di ruang bawah tanah. Total, 600 jiwa prajurit dan sipil yang tercatat jadi korban pembantaian pertama terhadap tawanan perang sepanjang invasi Jerman ke Polandia. Dendam dari Mława Catatan pilu yang terjadi di Zakroczym tak lepas dari dendam kesumat para kombatan Divisi Panser “Kempf” –yang merupakan gabungan AD Jerman dan SS– pimpinan Generaloberst Werner Kempf. Mereka memendamnya sejak terjun ke pertempuran di Mława, salah satu kota di Provinsi Warsawa, 1-3 September 1939. Pada pembukaan pertempuran, siang bolong 1 September 1939, Jerman mengerahkan dua korps AD yang terdiri dari satu divisi lapis baja (Panzer-Division “Kempf”) dan empat divisi infantri dengan pucuk komandonya dipegang Panglima Tentara AD ke-3 Jenderal Artileri Georg von Küchler. Pihak Polandia yang bertahan hanya mengandalkan dua divisi infantri dan dua brigade kavaleri berkuda Tentara Modlin pimpinan Jenderal Emil Krukowicz-Przedrymirski. Ofensif Jerman di Mława selama tiga hari harus dibayar mahal. ( ushmm.org ). Meski dimenangkan Jerman, pertempuran sengit tiga hari itu memakan korban Jerman lebih banyak ketimbang Polandia. Jerman kehilangan 1.800 serdadunya, sedangkan Polandia 1.200. Yang lebih menumbuhkan dendam, Divisi Panser “Kempf” sebagai ujung tombak Blitzkrieg kehilangan 72 tank akibat heroiknya awak meriam anti-tank Armata kaliber 37 milimeter. Sementara Jenderal Krukowicz-Przedrymiski tertawan, sisa-sisa Tentara Modlin mundur 100 kilometer ke selatan menuju Benteng Modlin. Tampuk kepemimpinan dialihkan ke Jenderal Thommée yang sebelumnya mengomandani Grup Operasi “Piotrków”, bagian dari AD Łódź. “Tetapi pada dini hari 28 September, seorang opsir dari ibukota tiba (di Modlin), untuk mengabarkan bahwa Warsawa sudah menyerah. Dengan pertimbangan masak, Jenderal Thommée memutuskan sudah waktunya mengakhiri perlawanan. Dia memberi perintah menghentikan tembak-menembak dan mengirim utusan untuk memulai negosiasi penyerahan diri,” ungkap Roger Moorhouse dalam First to Fight: The Polish War 1939. Reruntuhan di salah satu sudut kota Mława usah tiga hari digempur Jerman. ( nac.gov.pl ). Thommée menganggap pasukannya yang tersisa akan sia-sia jika memberi perlawanan lanjutan setelah meladeni Jerman dalam Pertempuran Modlin (13-29 September 1939). Dari sekira 35 ribu serdadu, 20 ribu di antaranya yang tersebar di berbagai kantong pertahanan mengalami kekurangan suplai makanan dan amunisi. Belum lagi sekitar empat ribu lainnya yang terluka, sangat minim penanganan karena kekurangan obat-obatan. Namun, proses kapitulasi tak berjalan lancar akibat jalur komunikasi banyak yang sudah rusak. Akibatnya, meski dari Benteng Modlin sudah mengibarkan bendera putih, banyak unit militer Jerman yang tersebar kala mengepung Modlin mendapati kabarnya. Termasuk di markas Jenderal Strauss. Maka terjadilah Pembantaian Zakroczym yang menewaskan sekira 600 jiwa, serdadu maupun sipil Polandia. Pihak Jerman menyatakan peristiwa itu sekadar kesalahpahaman akibat sulitnya komunikasi dua pihak. “Seorang dokter militer (Polandia) bersaksi bahwa pembantaian itu dilakukan tanpa pandang bulu: ‘Di sebelah pemakaman Yahudi, lebih dari selusin serdadu (Polandia) ditembak meski sudah menyerah. Hal yang sama terjadi di Gałachy. Beberapa prajurit dibakar hidup-hidup. Saat melewati rubanah, di mana para lansia dan anak-anak bersembunyi, tentara Jerman melemparkan granat’,” lanjut Moorhouse. Sekira 35 ribu pasukan "Tentara Modlin" yang menyerah pada Jerman di Benteng Modlin (Foto: nac.gov.pl ) Setelah dibombardir meriam-meriam Howitzer 30,5 cm dan Mörser 21 cm, pada pagi 29 September kubu Polandia di Modlin secara resmi menyerah. Peresmiannya dilakoni Jenderal Thommée dengan bersua langsung dengan Jenderal Strauss di Kota Jabłonna. Thommée bersedia menyerahkan Kompleks Perbentengan Modlin dengan syarat 35 ribu anak buahnya disuplai makanan dan obat-obatan, serta mereka harus diperlakukan laiknya tawanan perang. Syarat itu disetujui Straus. Thommée juga menguraikan tentang peristiwa di Zakroczym yang merupakan pembantaian terhadap tawanan perang pertama yang tercatat dalam Perang Dunia II. Pihak Jerman menyatakan peristiwa itu hanya kesalahpahaman belaka, mengingat mereka sudah mengibarkan bendera putih. Juga tentang peristiwa pembantaian puluhan warga sipil 10 hari sebelum kapitulasi di Modlin. AD Jerman kemudian mengadakan penyelidikan mendalam soal tragedi 19 September itu kala Pertempuran Modlin masih berlangsung. “Peristiwa itu (pembantaian warga sipil) juga tercatat jadi yang pertama oleh unit SS selama kampanye Polandia. Pelakunya seorang prajurit SS bernama Ernst (anggota Resimen Artileri SS yang diperbantukan di Divisi Panzer ‘Kempf’) dan seorang polisi militer AD yang menggiring 50 Yahudi ke sebuah sinagog dan dieksekusi,” singkap George H. Stein dalam The Waffen SS: Hitler’s Elite Guard at War, 1939-1945. Kolase momen Brigjen Wiktor Thommée kala bersua Jenderal Adolf Strauss untuk meresmikan kapitulasi Benteng Modlin di Kota Jabłonna, 29 September 1939. ( iwm.org.uk / Twitter @Roger_Moorhouse ). Thommée kemudian kembali ke Benteng Modlin untuk mengabarkan ke seluruh anak buahnya perihal peresmian kapitulasinya. “Dalam beberapa jam saja dunia sudah berubah. Seorang manusia yang bebas menjadi seorang budak. Saya tak lagi bisa melakukan apapun, pertempuran sudah usai. Tiada hal yang membuat saya bahagia, semuanya membawa duka dan rasa malu. Tapi apakah itu bukan keadaan yang lebih baik ketimbang mati di balik tembok-tembok (benteng) ini?” ujar Thommée, dikutip Moorhouse. Menurut Stein, kedua pelaku pembantaian kemudian ditahan dan diajukan ke pengadilan militer. Si prajurit SS divonis hukuman tiga tahun penjara, sementara si polisi militer yang tak disebutkan namanya, diganjar sembilan tahun bui. “Namun opsir jaksa penuntut umum bersikeras terhadap tuntutan mereka sebelumnya, yakni hukuman mati dan membawa banding itu sampai ke Berlin. Di Berlin, seorang hakim militer senior justru memberi putusan vonis yang jauh lebih ringan bagi perwira SS menjadi satu tahun penjara dan sang opsir polisi militer menjadi tiga tahun penjara. Anehnya tak lama kemudian keduanya diberikan amnesti, hingga tak sehari pun dari mereka menjalani hukumannya,” tandas Stein.

  • Profil Pahlawan Revolusi: MT Haryono, Calon Dokter yang Memilih Jadi Tentara

    Sejatinya, Mas Tirtodarmo (MT) Haryono bercita-cita menjadi dokter. Namun, Perang Kemerdekaan memaksanya putar haluan menjadi tentara. Profesi inilah yang membingkai namanya menjadi Pahlawan Revolusi . MT Haryono lahir di Surabaya, Jawa Timur, pada 20 Januari 1924. Ayahnya, Mas Harsono Tirtodarmo, merupakan asisten wedana di Gresik pada masa penjajahan Belanda.  Pada 1924, Mas Harsono mendapatkan tugas menjadi jaksa di Sidoarjo. Ia pun memboyong istrinya, Alimah, yang sedang mengandung Haryono. Dalam perjalanan dari Gresik ke Sidoarjo itulah Haryono lahir. Sebagai anak bangsawan, Haryono mendapatkan kesempatan mengenyam pendidikan yang baik. Setelah menamatkan pendidikan di Hollandsch Inlandsche School (sekolah rendah Bumiputra), Haryono bersekolah di Eurospeesch Lagere School (setingkat sekolah dasar) dan kemudian Hoogere Burgerschool (sekolah tingkat kedua).  Semasa pendudukan Jepang, Haryono masuk sekolah kedoteran Ika Dai Gakko. Ia juga masuk ke dalam Peta. Haryono belum lulus ketika Jepang kalah perang pada 1945.  Setelah proklamasi kemerdekaan, Haryono melupakan cita-cita menjadi dokter dan berjuang mempertahankan kemerdekaan bersama pemuda-pemuda lainnya. Perjuangan itu membawa Haryono masuk Tentara Keamanan Rakyat (TKR).  Kemampuan bahasa Belanda, Jepang, dan Inggris yang didapatnya semasa di HBS membuat Haryono ditugaskan menjadi kepala Kantor Penghubung (1 September 1945) dan kemudian kepala Bagian Penerangan sekaligus juru bicara Staf Angkatan Perang RI. Kemampuan bahasa itu pula yang membuatnya dipercaya menjadi sekretaris Delegasi Militer Indonesia pada Konferensi Meja Bundar, di Den Haag, Belanda (23 Agustus-2 November 1949).  Usai pengakuan kedaulatan, karier Haryono terus menanjak. Dimulai dari atase militer RI di Den Haag (1950-1954), pada 1 Juli 1964 Haryono diangkat menjadi Deputi III Menteri/Panglima Angkatan Darat (Menpangad) dengan pangkat mayor jenderal.  Situasi perpolitikan saat Haryono menjabat sebagai Deputi III Menpangad sedang panas oleh Konfrontasi dengan Malaysia. Di dalam negeri, Angkatan Darat bersaing keras dengan PKI demi merebut pengaruh Sukarno dalam segitiga perpolitikan. Ketika isu Dewan Jenderal mulai santer, Haryono ditugaskan Menpangad Letjen A. Yani menjalin kontak dengan perusahaan-perusahaan minyak asing. Situasi panas tersebut membuat Haryono kerap ikut rapat dengan presiden atau rapat hingga larut malam di SUAD. Di luar yang formal, Haryono kerap berdiskusi tentang perpolitikan nasional dengan rekan-rekannya dari Partai Sosialis Indonesia seperti Soedatmoko dan Rosihan Anwar.  Untuk meredakan ketegangan akibat padatnya kerjaan, Haryono biasa mengatasinya dengan mendengarkan musik klasik sambil menata anggrek di halaman belakang rumahnya. Anggrek merupakan hobinya. Saking sukanya, Haryono pernah minta pada Brigjen Sumitro dibawakan anggrek pedalaman Kalimantan ketika Sumitro menjabat sebagai panglima Kodam Mulawarman. Namun, kebiasaan itu berubah menjelang Oktober 1965.  “Sungguh tak biasa, beliau duduk sendiri, melamun sambil mendengarkan musik klasik. Biasanya sambil mendengarkan musik klasik, Ayah sibuk menata tanaman bunga anggrek yang ada di halaman belakang dan selalu ditemani putri kecilnya, Enda, yang duduk di kursi kecilnya di samping beliau. Namun kelaziman itu sirna, ketika Enda mendekati untuk menemani ayahnya, ia justru disuruh menjauh. Kami merasakan kejanggalan tersebut dengan perasaan heran yang tertahan,” tulis putra-putri Haryono dalam Kunang-Kunang Kebenaran di Langit Malam . Kejanggalan tersebut menjadi tanda alam yang tak disadari keluarga Haryono. Pada dini hari 1 Oktober 1965, rumah Haryono digerebek pasukan Tjakrabirawa yang dipimpin Serma Boengkoes.  Jenazah Haryono dan lima perwira tinggi AD lain beserta satu perwira menengah lalu dibawa ke Lubang Buaya dan ditimbun di dalam sumur tua. Jenazah mereka baru dikeluarkan pada 4 Oktober 1965 dan dikuburkan di Taman Makam Pahlawan Kalibata, Jakarta, pada 5 Oktober 1965, bertepatan dengan Hari Jadi ABRI Ke-20. Presiden Sukarno menetapkan ketujuh korban pembunuhan itu sebagai Pahlawan Revolusi dan menaikkan pangkat masing-masing satu tingkat.

  • Kontestasi Dua Narasi dalam Peristiwa 1965

    SETIAP menjelang peralihan September ke Oktober pasca-Reformasi, isu PKI jadi isu yang ramai diperbincangkan masyarakat. Setiap kali itu pula dua narasi yang hadir menemui tembok tebal. Narasi pertama adalah tentang kebiadaban Partai Komunis Indonesia (PKI) dalam penculikan, penyiksaan, dan pembunuhan perwira-perwira Angkatan Darat (AD) pada dini hari 1 Oktober 55 tahun lampau. Narasi kedua, kekerasan dan pembunuhan terhadap siapapun yang dicap PKI dari ujung barat hingga timur Indonesia. “Ada berbagai macam versi, tapi versi yang resmi, PKI ada di belakang ini semua. Diikuti dengan gelombang penangkapan, pembunuhan, pemenjaraan massal baik dengan atau tanpa pengadilan. Jadi menurut Bung Karno ada satu cerita prolog, nalog, ada epilog. Jadi ada tiga babak peristiwa dan yang lebih banyak diketahui orang, termasuk generasi kita, peristiwa ini berhenti di 1 Oktober, ketika para jenderal dibunuh,” ujar Pemimpin Redaksi Historia.id  Bonnie Triyana dalam dialog sejarah daring di Youtube  bertajuk “1965: Sejarah yang Dikubur”, Selasa (29/9/2020). Dialog Sejarah "1965: Sejarah yang Dikubur" secara daring di Youtube Historia.id . Penculikan dan pembunuhan para perwira AD serta dua korban dari eksesnya, Ade Irma Suryani (putri Jenderal AH. Nasution) dan Albert Naiborhu (kerabat Jenderal DI. Pandjaitan), tentu tak bisa dibenarkan. Namun, narasi lain tentang kekerasan yang terjadi setelahnya tidak hanya dikubur dalam-dalam sejak masa Orde Baru, namun juga dianggap semacam tindakan yang normal. Hal itu seperti yang ditemukan Grace Laksana, peneliti Peristiwa 1965 yang meraih gelar doktornya di Universitas Leiden, Belanda, dalam risetnya. Disertasinya yang bertajuk “Embedded Remembering: Memory Culture of 1965 Violance in East Java’s Agrarian Society” mengangkat tentang peristiwa kekerasan pasca-G30S di masyarakat Kecamatan Donomulyo, Kabupaten Malang, Jawa Timur. “Kasusnya di sini sebenarnya enggak jelas. Tentang bagaimana, siapa yang terlibat, siapa korbannya, siapa pelakunya, semua masih agak buram. Jadi sebelum saya bicara ingatan itu, saya terpaksa membicarakan dulu peristiwanya, mundur jauh sebelum 1965,” kata Grace dalam dialog daring itu. Dalam merekonstruksi peristiwa di Donomulyo, Grace berangkat dari meneliti kehidupan masyarakatnya sebelum peristiwa 1965 dan bagaimana perubahan yang terjadi setelahnya menggunakan pendekatan antropologis. Ia berupaya keluar dari narasi G30S pemerintah dan counter -narasinya yang muncul pasca-Reformasi dengan melihat konteks kekerasan yang terjadi dan ingatan yang terbangun. “Misalnya ingatan tentang apa yang terjadi di desa itu, bagaimana orang-orang yang dikatakan sebagai pelaku turut berperan membantu operasi pembersihan PKI. Penting sekali buat mereka mempertahankan narasi pemerintah Orde Baru karena berkaitan dengan posisi yang mereka dapatkan setelah kekerasan itu terjadi. Misalnya ada banyak dari mereka yang mendapat posisi menjadi sekretaris desa atau pamong desa yang sebelumnya posisi-posisi itu dikuasai (orang-orang) PKI di desa itu,” imbuhnya. Ilustrasi penangkapan orang-orang terduga PKI pasca peristiwa 1965. ( hrw.org ). Narasi resmi, menurut Grace, dipoles dengan begitu kuat dan terkesan overlap . Salah satu contohnya, dibangunnya sebuah monumen oleh kepolisian yang jadi korban Pemberontakan PKI Madiun tahun 1948. “Saya sulit memverifikasi peristiwa itu karena tak menemukan catatannya. Monumennya dibangun tahun 1972. Jadi sekian dekade sampai akhirnya monumennya dibangun di era Orde Baru, persis di masa-masa Pemilu pertama era Soeharto. Itu ilustrasi yang menunjukkan bagaimana Peristiwa 1948 selalu dikaitkan untuk meng- counter narasi-narasi tentang kekerasan 1965,” tambah Grace. Padahal, bagi Grace, Peristiwa 1948 dan 1965 berbeda dalam konteks dan skala peristiwanya. Peristiwa Madiun 1948 terjadi dalam situasi Perang Kemerdekaan, dua kubu yang bertarung sama-sama bersenjata. Lalu, skalanya tak sampai menjamah ke luar Pulau Jawa. Grace Leksana, peneliti peristiwa kekerasan 1965 dari Universitas Leiden. ( Historia.id ). Overlap soal isu 1965 juga disepakati sejarawan John Roosa. Namun sejarawan dari University of British Columbia, Vancouver, Kanada itu melihat setidaknya ada dua persamaan antara Peristiwa 1948 dan 1965. “Waktu 1948 orang-orang antikomunis di Indonesia, termasuk perwira-perwira tentara, mereka belajar sesuatu dari peristiwa itu. Kalau mereka menghajar PKI, membuktikan bahwa mereka antikomunis, mereka akan dapat imbalan dari Amerika Serikat. Misal, sesudah Peristiwa 1948 di Madiun, pemerintah Amerika mulai mendukung Republik supaya ada kemerdekaan dan tentara Belanda keluar dari Indonesia,” kata Roosa, penulis buku Pretext for Mass Murder: The September 30th Movement and Suharto’s Coup d’état in Indonesia, menimpali. “Di peristiwa 1965, kelompoknya Soeharto tahu kalau mereka membunuh orang-orang PKI, Amerika akan membantu dengan investasi, bantuan luar negeri, dan segala macam. Jadi ada konteks isu global karena saat itu sedang Perang Dingin,” lanjut sejarawan yang baru menerbitkan buku Buried Histories: The Anticommunist Massacres of 1965-1966 in Indonesia itu. Tuduhan PKI bagi Peneliti Kekerasan 1965 Hingga kini, banyak pihak tetap menjadikan kekerasan dalam pembersihan pasca-G30S baik berupa penahanan, penghilangan paksa, dan pembunuhan sebagai narasi pembenaran bahwa PKI di tahun 1948 juga melakukan pembunuhan. Pandangan tersebut bersumber pada propaganda Orde Baru. Padahal, di lapangan realitasnya tidak hitam-putih. Dari risetnya di Donomulyo, Grace menyingkap  bahwa masyarakat desa tersebut di masa itu tak banyak tahu tentang konflik yang terjadi pada 1948 dan 1965 lantaran separuhnya masih buta huruf. “Masyarakat di sana sebenarnya resilient juga. Artinya, seberapa jauh mereka termakan stigma atau seberapa jauh stigma itu bisa dikompori. Konflik agraria sebelum 1965 memang ada tapi tak setajam di daerah lain seperti di Kediri atau Jombang. Tapi mereka tak gampang termakan stigma itu karena separuh dari mereka buta huruf. Satu-satunya sumber berita mereka hanya tentara ketika masuk ke desa mereka,” sambung Grace. Penangkapan orang-orang yang diduga terlibat pemberontakan PKI di Madiun tahun 1948. ( nationaalarchief.nl ). Grace justru menemukan hal menarik bahwa meski stigmatisasi sudah digempurkan ke kepala masyarakat desa itu, mereka malah menyatakan informasi berbeda sesuai kenyataan yang mereka lihat. Dalam kasus penilaian terhadap penduduk desa yang ditangkap, misalnya, mereka menyatakan bahwa yang ditangkap bukan orang-orang PKI. Ketidakmudahan penduduk menerima kabar burung itulah yang meneyebabkan tidak terjadinya kekerasan dan pembunuhan di Donomulyo. “Jadi tidak ada pergerakan di masyarakat. Baru setelah tentara masuk, kekerasan itu terjadi. Antara pelaku dan korban banyak yang tetangga sendiri. Menariknya, setelah itu mereka tetap bisa hidup berdampingan,” tuturnya. Terkait propaganda, Roosa juga mengulasnya dalam bab “Operasi Mental” di buku barunya. Nama bab itu mengacu pada istilah militer Indonesia yang poluler saat itu. “Semua pers saat itu dikontrol pemerintah, tidak ada cerita lain yang bisa keluar. Bung Karno sendiri punya perspektif lain tapi perspektif dia sudah disaring oleh pers di bawah tangan tentara. Tapi kita harus ingat juga bahwa kalau orang baca koran, dengar radio, mereka tidak langsung ambil tindakan. Harus ada faktor lain yang mendorong pengorganisiran dan koordinasi supaya mereka siap dan bersedia melakukan kekerasan yang sangat keji,” sambung Roosa. Propaganda itulah yang jadi salah satu unsur yang membuat narasi resmi, yang hanya bicara soal pembunuhan para jenderal pada 1 Oktober, menjadi awet. Keawetan itu diperkuat dengan pemaksaan, khususnya terhadap pelajar, menonton film Pengkhianatan G 30 S/PKI (1984) di masa Orde Baru. Profesor John Roosa, sejarawan University of British Columbia di Vancouver, Kanada. ( Historia.id ). Faktor penting lain yang membuat narasi resmi menjdi awet ialah formalisasi narasi tersebut lewat buku-buku pelajaran, museum-museum, hingga beragam hari peringatan. Ditambah dengan pembungkaman counter -narasi di sisi lain, maka hasilnya adalah ketidakberimbangan dalam kontestasi narasi  yang mestinya sudah bisa dibicarakan secara terbuka. “Saya membayangkan kalau dulu sudah ada media sosial, orang bisa cepat meng- counter narasi itu. Tapi dulu media hanya radio dan media cetak yang menyebabkan histeria. Terjadi semacam mewajarkan tindakan pembunuhan karena lagi-lagi memori 1948 yang diciptakan, serta narasi yang dibuat setelah pembunuhan para jenderal,” tutur Bonnie lagi. Akibatnya, siapapun yang  menyuarakan narasi kekerasan pasca-G30S di ruang publik, maka harus siap dipersekusi, dituduh PKI, atau minimal dicap sebagai simpatisan PKI. “Padahal, misalnya, kalau saya menulis tentang Masyumi, saya tidak serta-merta dituduh membela Masyumi. Atau menulis Buya Hamka, tidak serta-merta dituduh membela Hamka. Tapi ketika mencoba menulis tentang Peristiwa 1965 dari cara pandang lain, langsung dituduh. Pola itu masih terjadi sampai sekarang di beberapa tempat, di mana kekerasan terjadi atas nama negara, atas nama apapun, seperti di Papua, di mana mestinya kekerasan itu bisa distop. Polanya berulang terus,” kata Bonnie. “Kita melihat ketidakseimbangan narasi. Kalau di riset 1965, membicarakan peristiwa ada pembunuhan massal yang mengikuti setelah pembunuhan para jenderal, dibalikkannya ke memori tentang 1948. Kontestasinya selalu seperti itu. Ada (ingatan) tentang 1965, ada 1948,” imbuhnya. Grace mengamini posisi dua narasi dalam kontestasi itu sangat tidak balans. Padahal, dua narasi itu akan selalu mengiringi ke mana bangsa ini melangkah hingga di masa depan, hingga membentuk masyarakat Indonesia saat ini. “Enggak mungkin salah satu narasi itu akan hilang, walau posisinya tidak berimbang. Narasi tentang kekerasan itu jauh lebih sedikit dibicarakan daripada narasi tentang G30S. Karena narasi tentang G30S itu sudah masuk ke ranah-ranah formal. Sekarang bagaimana narasi tentang kekerasan 1965 itu bisa terus dibicarakan lewat ranah-ranah formal atau diformalisasikan,” sambung Grace. Oleh karena itu, Roosa mengemukakan cara untuk penyelesaiannya mesti dari dasar, yakni berpegang pada perspektif kemanusiaan. Dengan begitu maka akan muncul kesadaran bahwa tindak kekerasan dalam bentuk apapun tidak bisa dibenarkan dan itu harus diingatkan lagi agar tak mengulang siklus sejarahnya. “Kalau ada represi terhadap satu kelompok, saya bisa paham kalau ada represi terhadap PKI karena ada yang tidak senang dengan mereka. Saya bisa paham itu terjadi. Yang tidak saya pahami adalah perspektif yang membenarkan penyiksaan, penghilangan paksa, penahanan massal dalam jangka panjang, itu semua enggak bisa ditolelir,” tandas Roosa.

  • Kasus Bank Vanuatu di Indonesia

    Dragon Bank International Ltd. yang berbasis di Vanuatu membuka cabang di Jakarta pada awal Januari 1996. Bank ini membuat kejutan dengan mengumumkan akan menangani dua proyek bernilai miliaran dolar dengan mitra Indonesia dan Malaysia. George Junus Aditjondro, dosen sosiologi korupsi di Universitas Newcastle, Australia, menyebut bahwa Vanuatu adalah negara kepulauan yang juga dikenal sebagai tax haven  (tempat wajib pajak mengurangi atau menghindari kewajiban membayar pajak, red .) dan pusat pencucian uang di Samudra Pasifik. "Di sinilah tempat kedudukan Dragon Bank International Ltd., lembaga keuangan milik PT. Harapan Insani, yang pada gilirannya bernaung di bawah Yayasan Harapan Kita [yang didirikan oleh Ibu Tien Soeharto]," tulis George dalam tulisannya "Mencermati Misi Muladi-Ghalib" di majalah Tempo , 30 Mei 1999. Dalam tulisannya yang lain, "Yayasan-Yayasan Soeharto" di  Tempo Interaktif , 14 Mei 2004, George menguraikan proyek ambisius Dragon Bank dan PT. Harapan Insani bernilai lebih dari US$7 miliar. Rinciannya adalah bisnis telekomunikasi senilai US$4 miliar bekerja sama dengan Ghuangzhou Greatwall Electronic & Communication Co., Ltd. dari Republik Rakyat China, dan pembangunan satu gedung pusat perdagangan setinggi lebih dari 101 lantai di Arena Pekan Raya Jakarta, Kemayoran, senilai US$3 miliar. Selain di Indonesia, menurut George, kongsi Dragon Bank dan PT Harapan Insani juga menandatangani rencana kerja sama dengan Mara Holding Sdn. Bhd, satu perusahaan di bawah partai pemerintah Malaysia, UMNO, untuk membangun proyek perumahan dan hotel bernilai Rp200 miliar di resor pariwisata Pulau Langkawi, Malaysia. Richard Borsuk dalam laporannya di wsj.com , 31 Mei 1996, menyebutkan bahwa Dragon Bank, sebuah bank tidak terkenal yang berbasis di Vanuatu, mengumumkan bahwa pihaknya menandatangani perjanjian dengan dua perusahaan di Kuala Lumpur mengenai rencana untuk membangun sekitar 68 vila eksklusif di Pulau Langkawi, pulau lepas pantai barat laut Semenanjung Malaysia. Nilai proyek ini sebesar US$80 juta hingga US$85 juta. Namun, rencana itu gagal karena Dragon Bank tersandung masalah. Standard Chartered Bank cabang Jakarta membekukan rekening salah satu perwakilannya karena dicurigai setorannya sebesar US$1,1 juta terkait dengan penipuan kredit sebesar US$42 juta di Hongkong and Shanghai Bank cabang Jakarta. Sementara itu, George menyebut kasusnya adalah Dragon Bank tak mampu membayar utangnya kepada Standard Chartered Bank, padahal berlagak mau membangun berbagai megaproyek berharga jutaan bahkan miliaran dolar di Jakarta dan Langkawi, Malaysia. Setelah diprotes Standard Chartered Bank dan Hongkong and Shanghai Bank, dua orang Taiwan (Yee Mei Mei dan Wang Zhi Ying) pengelola Dragon Bank diusir dari Jakarta. "Protes oleh bank asing membuat pemerintah Indonesia menutup kantor perwakilannya pada Juni 1996," tulis George dalam Korupsi Kepresidenan . Menteri Investasi/Ketua BKPM mencabut izin operasi Dragon Bank di Jakarta melalui surat No. 577/A.1/1996 tanggal 14 Juni 1996. Setelah itu, menurut George, bos PT. Harapan Insani, Ibnu Widojo, diumumkan akan diperiksa oleh Mabes Polri. Siapakah Ibnu Widojo? Harian Neraca  (18 Juli 1996) menyebut Ibnu Widojo adalah adik dari seorang pejabat tinggi pemerintahan Indonesia. Harian Sydney Morning Herald  pada hari yang sama secara eksplisit mengatakan bahwa Ibnu Widojo adalah seorang ipar Presiden Soeharto. Majalah bisnis Warta Ekonomi  (1 Juli 1996) lebih jelas lagi bahwa Ibnu Widojo adalah adik kandung Ibu Tien Soeharto. "Setelah Ibnu Widojo, adik Nonya Tien Soeharto (alm.) yang jadi direksi PT. Harapan Insani, mulai diperiksa aparat kepolisian di Jakarta, mendadak kasus itu dipetieskan," tulis George. "Ibnu Widojo jelas-jelas tidak pernah diajukan ke depan meja hijau (pengadilan, red .)." George menyebut bahwa setelah itu mendadak berita-berita tentang Dragon Bank lenyap, sama misterius dengan kedatangannya. Uang yang konon disalurkan oleh bank itu, lewat Vanuatu, juga lenyap tak berbekas. Pertanyaannya apakah betul Dragon Bank dan partnernya, PT. Harapan Insani, terlibat dalam pencucian uang, dan kalau betul, milik siapa uang yang mau dicuci itu, belum terjawab.*

  • Bambang Sugeng Cegah Kapal Induk Belanda Berlabuh di Jepang

    Berita akan singgahnya kapal induk Belanda HNLMS Karel Doorman ke Jepang membuat Duta Besar (dubes) Indonesia untuk Jepang Bambang Sugeng berang. Saat itu Indonesia sedang berkonflik dengan Belanda soal Irian Barat. “Dalam logika pemikiran Bambang Sugeng, kalau Jepang mengizinkan kapal induk Belanda Karel Doorman mendarat di Pelabuhan Tokyo, berarti Jepang berserikat dengan Belanda musuh Indonesia,” tulis Edi Hartoto dalam Panglima Bambang Sugeng . Bambang menjabat sebagai dubes di Jepang sejak 1960 hingga 1964. Presiden Sukarno mempercayakan tugas itu kepadanya lantaran Bambang dianggap berhasil ketika menjabat sebagai dubes untuk Vatikan. Di sana, mantan KSAD itu berhasil memperkenalkan Pancasila dan membuka pintu persahabatan RI-Vatikan. Di Jepang, Bambang membawa misi agar memperkenalkan kebudayaan Indonesia dan misi khusus mengupayakan dukungan Jepang terhadap Asian Games 1962 di Jakarta. Misi utama yang diemban Bambang adalah menyelesaikan soal pampasan perang yang telah –dimulai sejak paruh pertama 1950-an– dicapai kesepakatannya oleh Presiden Sukarno dan PM Nobusuke Kishi. “Presiden Sukarno sendiri yang bertandang langsung ke Jepang untuk urusan harta pampasan perang. Ia tidak sendirian, tetapi membawa rombongan yang untuk ukuran masa itu tergolong banyak bagi sebuah kunjungan kenegaraan,” tulis M. Yuanda Zara dalam Sakura di Tengah Prahara: Biografi Ratna Sari Dewi Sukarno . Jumlah pampasan perang yang didapatkan Indonesia sebesar 223 juta dolar Amerika tidak seluruhnya dibayarkan dalam bentuk uang. Sebagian dibayarkan dalam bentuk beasiswa pendidikan untuk pemuda-pemudi Indonesia di Jepang. Pampasan perang oleh pemerintah Indonesia digunakan untuk membiayai pembangunan nasional. Selain itu, pampasan perang juga dipakai untuk membiayai urusan Irian Barat. Sehubungan dengan isu Irian Barat itulah Dubes Bambang Sugeng berang begitu mendengar rencana HNLMS Karel Doorman akan lego jangkar di perairan Tokyo. Karel Doorman berangkat dari Rotterdam pada akhir Mei 1960 bersama dua kapal pemburu kapal selam, satu kapal kargo jet tempur, dan sebuah kapal tanker. Perjalanan armada Belanda itu tersendat lantaran adanya upaya-upaya sabotase dari pihak Indonesia di berbagai tempat. Di Mesir, lobi-lobi Indonesia berhasil meyakinkan Presiden Gamal Abdel Nasser menutup Terusan Suez bagi armada KarelDoorman . Hal senada juga dilancarkan pemerintahan negara Afrika lain. “Merasa tidak enak dengan konsekuensi terlihat mendukung Belanda, pemerintah di Madagaskar membatalkan kunjungan yang direncanakan. Serikat pekerja bongkar muat di Freemantle, Australia, tempat Karel Doorman dijadwalkan berlabuh, menolak untuk memberikan bantuan kapal tunda. Hanya dengan menggunakan mesin jet tempur untuk menciptakan gaya dorong lateral, kru dapat menggerakkan kapal induk ke tempat berlabuh,” tulis Danilyn Rutherford dalam Laughing at Leviathan: Sovereignty and Audience in West Papua . Dari Australia, Karel Doorman melanjutkan perjalanan ke Jepang untuk menghadiri perayaan 350 Tahun Hubungan Jepang-Belanda. Hal ini membuat Bambang Sugeng kecewa. Selesai mengepak barang-barangnya dan memerintahkan ajudannya mengirim barang-barang itu ke Indonesia, Bambang langsung ke Departemen Luar Negeri Jepang dan menghadap Menlu Aiichiro Fujiyama untuk menyampaikan protes. “Yang mulia Menteri Luar Negeri, saya sudah siap membungkus barang-barang saya untuk segera kembali ke Indonesia, bila Pemerintah Jepang membiarkan Karel Doorman mendarat di Tokyo. Saya anggap itu tindakan permusuhan terhadap negara saya, negara Indonesia. Kalau demikian misi saya sebagai Duta Besar RI di Jepang telah gagal. Saya sekarang juga meninggalkan Tokyo, Jepang dan kembali ke Indonesia. Percuma saya di sini,” kata Bambang, dikutip Edi. Pernyataan protes Bambang membuat kaget sang menteri. Saat itu juga dia memberi jaminan bahwa Karel Doorman tidak akan berlabuh. Sementara pernyataannya membuat Bambang membatalkan kepulangannya, pemerintah Jepang mencari cara untuk tidak mengecewakan baik pemerintah Indonesia maupun pemerintah Belanda. Pelabuhan untuk Karel Doorman akhirnya dipindahkan ke Yokohama.   Rencana pemindahan itu pun tetap menuai protes dari pemerintah Indonesia yang juga menggerakkan mahasiswa-mahasiswanya di Jepang. “Indonesia menekan pemerintah Jepang, dan serikat pekerja di Yokohama mengancam akan menggunakan kekerasan untuk mencegah kapal berlabuh,” tulis Rutherford. Pemerintah Jepang kebingungan dibuatnya. “Tinggal satu minggu lagi untuk kedatangan kapal induk di Yokohama. Sementara kritik pejabat di Indonesia meningkat,” tulis pakar Asia Timur dari Jawaharlal Nehru University KV Kesavan dalam Japan’s Relations with Southeast Asia, 1952-60: With Particular Reference to the Philipines and Indonesia . Hingga awal September 1960, pemerintah Jepang belum memberi kepastian kapan Karel Doorman diizinkan lego jangkar. “Pada 3 September, sumber Kedutaan Besar Belanda di Tokyo mengatakan bahwa ‘sesuatu sedang dilakukan, tetapi kunjungan belum dibatalkan sejauh ini,’” sambung Kesavan. Baru dua hari kemudian pemerintah Jepang memberi kepastian. Keputusannya adalah, menunda kunjungan Karel Doorman hingga waktu yang belum ditentukan. Upaya Indonesia berhasil. Hingga masalah Irian selesai, Karel Doorman tidak pernah kembali ke perairan Jepang.

  • Makanan Kesukaan Sultan Yogyakarta

    Keluarga bangsawan Yogyakarta punya tradisi menyajikan makanan kesukaan raja-raja pada peringatan hari lahir atau wafatnya. Misalnya, sugengan haul dalem  Sri Sultan Hamengkubuwono VII setiap malam Jumat Kliwon. Haul Hamengkubuwono VIII setiap bulan puasa tanggal 9 malam Minggu Kliwon. Haul Hamengkubuwono IX setiap malam Senin Wage 21 Sapar. Dan haul K.G.P.A.A Mangkubumi, adik kandung Hamengkubuwono VII, setiap malam Senin Kliwon 2 Jumadilakhir. “Memperingati hari lahir atau wafat sesepuhnya melalui doa disertai kegiatan memasak dan menghidangkan masakan kesukaan para raja itu. Misalnya keturunan Hamengkubuwono VII akan menyajikan kersanan dalem  HB VII, begitu juga keturunan raja lainnya,” kata Murdijati Gardjito, Guru Besar Ilmu dan Teknologi Pangan Universitas Gadjah Mada dalam webinar “Budaya Rempah-rempah dalam Khazanah Kuliner di Daerah Istimewa Yogyakarta” yang diadakan BPCB DIY melalui kanal Youtube. Kebiasaan itu membuat kuliner tradisional bangsawan di Yogyakarta dapat terjaga. “Jadi, mengapa budaya kuliner Yogya di lingkungan masyarakat keraton masih eksis, itu karena keturunannya memelihara apa yang disuka para leluhurnya,” kata Murdijati. Murdijanti menambahkan, masakan kegemaran para sultan itu biasanya dibuat dari bahan berkualitas prima kalau tidak bermuatan filosofis. Ini berbeda dengan makanan raja pada era Jawa Kuno yang bisa dibilang aneh dan tak biasa bagi orang sekarang. Hanya untuk Raja Arkelog UGM Tjahjono Prasodjo menjelaskan, pada era Jawa Kuno dikenal istilah rajamangsa , artinya makanan yang khusus disediakan untuk raja. Berdasarkan data prasasti, rakyat bisa mencicipi masakan VIP itu jika mendapat anugerah berupa hak istimewa dari raja. Tjahjono menyebut rajamangsa banyak jenisnya. Namanya aneh-aneh, seperti wdus gunting . “Ada yang mengatakan ini seekor kambing yang belum keluar ekornya, ada yang bilang kambing yang sudah dikebiri. Ada juga asu tugel . Aneh-aneh namanya,” kata Tjahjono. Dalam Prasasti Rukam (907 M), Prasasti Sarwwadharmma dari masa Singhasari (1269 M), dan Prasasti Gandhakuti (1043 M) disebutkan nama-nama rajamangsa ,yakni badawang, wdus gunting , karung pulih , dan asu tugel. Menurut arkeolog Universitas Indonesia, Kresno Yulianto Sukardi, karung pulih adalah babi hutan aduan. Sedangkan menurut arkeolog dan dosen sejarah UNM, Dwi Cahyono, karung pulih adalah babi yang dikebiri. “Ini yang membuat kita susah menerjemahkan istilah kuliner dari Jawa Kuno yang kita dapat dari data prasasti dan naskah,” kata Tjahjono. Kuliner Asli dan Akulturasi Yogyakarta memiliki kuliner asli dan hasil akulturasi dengan budaya lain, seperti pengaruh kuliner Belanda, Tionghoa, dan Timur Tengah. “Bakpia Yogya yang terkenal, warung-warung sate gulai tongseng kambing, ini salah satu contoh pengaruh kuliner Tionghoa dan Timur Tengah,” kata Murdijati. Kuliner hasil akulturasi juga nampak pada kuliner di lingkungan keraton. “Makin ke arah sekarang makin banyak pengaruh Eropa,” kata Murdijati . Murdijati menyontohkan makanan asli Jawa adalah dendeng age . Cara membuatnya daging berkualitas primadicincang, ditata di atas jepitan dari bambu, lalu diguyur santan yang berbumbu bawang putih, bawang merah, ketumbar, dan daun salam. “Ini berkali-kali dilakukan. Kemudian dipanggang, diturunkan, ditambah bumbu terus menerus sampai bumbunya sangat meresap,” kata Murdijati. Makanan asli lain seperti blebet bebek , glendoh piyik , dan tolo tawon alias sarang lebah yang masih ada larvanya. Makanan ini bernilai tinggi untuk kesehatan. “Coba lihat propolis dari lebah , satu tetes harganya berapa, tapi dulu disajikan sebagai makanan istimewa untuk raja,” kata Murdijati. Menu utama kegemaran para raja adalah dhahar ijem , yakni nasi yang ditanak dengan ekstrak daun pandan; dan bethak ayam , yakni nasi yang ditanak dengan bawang merah, daun salam, dan ayam. Untuk memenuhi makanan di lingkungan keraton, termasuk untuk sultan dan keluarganya, keraton Yogyakarta memiliki empat dapur ( pawon ) yang masih aktif hingga kini. Yaitu Pawon Gebulen dan Pawon Sekulanggen digunakan secara bergantian untuk menyediakan kebutuhan sesaji. Pawon Ageng Prabeya menyediakan masakan khusus untuk raja atau disebut dhahar dalem . Makanan wajib untuk dhahar dalem adalah lodeh kluwih . “Kenapa lodeh kluwih selalu dimasak dan disajikan. Masyarakat keraton punya filosofi sayuran itu dinamakan kluwih karena hanya pantas disajikan kepada poro linuwih atau yang punya kelebihan, yang linuwih ya sang raja,” kata Murdijati. Menu ini selalu dihidangkan setiap hari bersama teh yang disajikan di dalam cangkir di atas baki berlapis emas. Upacara ini masih berjalan hingga hari ini setiap pukul 11.00. Pawon Gedhong Patehan menyediakan minuman untuk rajasetiap hari dan menyediakan teh bagi semua abdi dalem . Makanan Sultan Jadi Makanan Rakyat Beberapa kuliner keraton tak dikenal oleh masyarakat luar keraton, seperti dendeng age . Namun, banyak juga makanan yang akhirnya merembes keluar keraton. Menurut Murdijati, 61 persen dari makanan yang tadinya hanya dimasak untuk raja juga beredar di masyarakat Yogyakarta. Salah satunya gudeg Yogyakarta, makanan favorit Hamengkubuwono IX. “Ini hidangan luar keraton yang masuk keraton. Lalu brongkos, ini juga kesukaan HB IX,” ujar Murdijati. Kemudian sayur lodeh yang memiliki riwayat legendaris. Berdasarkan catatan Murdijati, menu ini menjadi kersanan dalem Sultan Hamengkubuwono VIII. Di sisi lain, lodeh punya arti tolak bala. “Kenapa? Karena sayur lodeh luwes. Secara ekonomis apa saja bisa dimasak jadi sayur lodeh. Berapa pun uangnya bisa jadi sayur lodeh,” jelas Murdijati. Murdijati menyayangkan nihilnya catatan kuliner di lingkungan keraton. “Untungnya masih ada narasumber yaitu anggota keluarga keraton, antara lain keturunan Hamengkubuwono VI, VII, VIII, dan IX,” katanya. Ketiadaan pencatatan tradisi kuliner ini juga terjadi pada masa Jawa Kuno. Menurut Tjahjono, dalam prasasti dan naskah kesusastraan kuno tak ada yang secara khusus menjelaskan soal kuliner maupun bumbu-bumbu masakan. “Tak ada penjelasan seperti resep masakan misalnya,” kata Tjahjono. Jikapun ada prasasti yang menyebut soal makanan, itu hanya data sampingan. Biasanya disebutkan pada bagian pesta dalam upacara Sima. “Itu pun banyak istilah kuliner dan rempah yang belum diketahui pandangan dan artinya,” kata Tjahjono. Menurut pakar kuliner Indonesia, Bondan Winarno dalam kata pengantar buku Warisan Kuliner Keraton Yogyakarta karya menantu Sultan Hamengkubuwono IX, Nuraida Joyokusumo, sebenarnya masih banyak abdi dalem di Pawon Ageng Keraton yang punya resep masakannya. Namun, mereka tak mencatat. Kenyataan ini membuktikan bahwa selama ini seni boga tak pernah dianggap sebagai suatu yang serius. “Keraton yang merupakan pusat budaya Jawa pun tidak memiliki catatan tentang seni boga,” kata Bondan. Karenanya hanya sedikit resep kesukaan Hamengkubuwono VII dan VIII yang berhasil dicatat. “Hal yang sama juga terjadi di keraton-keraton Nusantara lainnya, yakni absennya catatan resep masakan keraton masa lalu,” kata Bondan.

  • Alan Budikusuma Terpuruk di Kuala Lumpur, Berjaya di Barcelona

    SETELAH Olimpiade Tokyo 2020, turnamen bulutangkis bergengsi Thomas dan Uber Cup tahun ini juga terpaksa diundur ke tahun 2021 gegara pandemi virus corona . Thomas dan Uber Cup 2020 sebelumnya dijadwalkan digelar di Aarhus, Denmark, 3-11 Oktober 2020. Pandemi membuat lima dari 16 negara pesertanya satu per satu mengundurkan diri. Dipelopori Thailand, Australia, China Taipei (Taiwan), Korea Selatan, dan Indonesia mengikuti. Induk bulutangkis dunia BWF  pun pada 15 September 2020 memutuskan menunda turnamen dengan jadwal yang belum ditentukan. Thomas Cup merupakan salah satu lambang supremasi bulutangkis internasional. Indonesia sebagai pengoleksi terbanyak sudah 18 tahun atau delapan edisi puasa gelar. Kenyataan itu turut disayangkan legenda tunggal putra Alan Budikusuma. Pasalnya, Thomas Cup punya kenangan tersendiri di lemari ingatannya. Alan menjadi bagian dari pahit-getir perjuangan tim Indonesia dalam Thomas Cup 1992 di Kuala Lumpur. Arek Suroboyo Jagoan Tepok Bulu Kisah Alan adalah bukti sahih memanen prestasi untuk negeri dari keringat dan air mata. Di tengah masih kencangnya isu diskriminasi rasial kala meniti karier di arena bulutangkis, pantang buat Alan yang ber- spirit “arek-arek Suroboyo” untuk patah arang. Sifat tersebut sudah tinggal dalam diri pria bernama lahir Goei Ren Fang itu sejak memilih bulutangkis sebagai jalan hidupnya. Kesukaan Alan, yang lahir di Surabaya pada 29 Maret 1968, pada bulutangkis dimulai setelah dikenalkan olahraga tersebut oleh orangtuanya. “Orangtua saya, Arya Wiratama dan Veronika, hobi bulutangkis. Dari usia enam tahun sering diajak mereka ke tempat latihan. Keduanya lumayanlah, sering jadi juara se-Jatim (Jawa Timur),” kata Alan mengenang, kepada Historia. Alan Budikusuma semasa di PB Djarum dan Pelatnas PBSI. (Repro Setengah Abad PB Djarum: Dari Kudus Menuju Prestasi Dunia ). Dari main-main, Alan mulai menseriusi bulutangkis sejak duduk di bangku kelas III SD dengan masuk klub tempat kedua orangtuanya bernaung, Rajawali, kemudian Suryanaga. Namun saat pindah ke PB Djarum pada 1986, Alan baru mendapat suntikan motivasi besar lantaran bisa berlatih bersama salah satu idolanya, Liem Swie King. “Dulu memang awalnya idola saya Pak Rudy Hartono. Tapi memang usia kita jauh ya. Kalau dengan Pak Liem sempat latihan bersama. Itu yang membuat saya lebih senang lagi ketika latihan. Dengan Pak Liem di Djarum dan Pelatnas (PBSI), saya belajar banyak tentang latihannya, cara memukul, smes, dari caranya melatih kekuatan fisik,” tambahnya. Di PB Djarum, Alan ditempa pelatih berwatak keras Anwari dan Johan Wahyudi. Setelah masuk Pelatnas PBSI, ia diasuh Tong Sinfu dan Rudy Hartono. PBSI pada medio Januari 1990 menggulirkan proyek besar untuk Olimpiade Barcelona 1992. Musyawarah Nasional PBSI di Manado, 18 Desember 1989, memutuskan M.F. Siregar , kepala Bidang Pembinaan dan Prestasi PBSI, sebagai pimpinan proyek tersebut. “Pak Siregar, saya minta bantuan Bapak untuk menjadi pimpinan proyek Olimpiade. You langsung pegang pasukan tempur,” kata Ketua PBSI Jenderal Try Sutrisno kepada Siregar, dikutip Brigitta Isworo Laksmi dan Primastuti Handayani dalam biografi M.F. Siregar, Matahari Olahraga Indonesia . Alan berkisah tentang kerasnya latihan di Pelatnas PBSI jelang Olimpiade 1992 (Foto: Dok. Historia) Selain itu, PBSI juga memanggil pulang dua pelatih yang “mengasingkan diri”, Tong Sinfu dan Liang Tjiu Sia . Alan jadi satu di antara “prajurit tempur” yang dimaksud. Di tunggal putra, Alan punya waktu dua tahun untuk mendaki peringkat delapan besar dunia. Tak hanya bersaing dengan para jagoan raket negara lain, Alan pun harus bersaing dengan empat kompatriot di Pelatnas: Joko Supriyanto, Ardy B. Wiranata, Hermawan Sutanto, dan Hariyanto Arbi . “Di zaman (kepemimpinan) Pak Siregar, semua dikumpulkan satu tim. Sebelumnya latihan di masing-masing klub. Pelatihnya juga satu orang bisa untuk ramai-ramai. Di zaman Pak Siregar sistemnya berubah, lebih fokus per sektor. Saya dilatih Pak Rudy (Hartono) dan Tong Sinfu. Dia sangat disiplin. Kalau datang latihan telat satu menit atau kelihatan kurang tidur, disuruh pulang. Banyak aturannya sama dia. Keras memang tapi terbukti yang dia latih berhasil semua,” sambung Alan. Bangkit dari Kubur Memasuki awal 1992, Alan bersama Ardy B. Wiranata dan Hermawan Sutanto sudah masuk peringkat delapan besar dunia, sehingga bisa turut dalam tim persiapan akhir untuk Olimpiade. Namun sebelum berangkat ke Barcelona pada Juli 1992, mereka  masih menyisakan satu ajang “pemanasan” lagi yang kalibernya bukan “kaleng-kaleng”, yakni Thomas Cup di Kuala Lumpur, 5-16 Mei 1992. Di awal turnamen, tim Indonesia lolos Grup A sebagai runner - up . Indonesia hanya kalah sekali, dari China, 1-4. Di semifinal, Indonesia sukses mengalahkan Korea Selatan. Namun Indonesia mengalami antiklimaks di partai puncak saat berhadapan dengan tuan rumah, Malaysia. Tim Malaysia meraih gelar kelima Thomas Cup-nya usai menundukkan Indonesia di final. ( New Sunday Times , 17 Mei 1992). Alan menanggung beban sebagai pemetik poin. Sebab, di tunggal lain, Ardy kalah dari Rashid Sidek usai pertarungan sengit tiga set. Adapun tunggal lainnya, Joko Supriyanto, menang mudah atas Kwan Yoke Meng. Sementara pasangan Rudy Gunawan/Eddy Hartono menang dari Razif Sidek/Jalani Sidek dan pasangan Ricky Subagdja/Rexy Mainaky kalah dari Cheah Soon Kit/Soo Beng Kiang. Penentuan ada di pundak Alan yang meladeni Foo Kok Keong. Namun, Alan gagal mewujudkan harapan. Dia kalah dengan angka mencolok, 6-15 dan 12-15, walau di set kedua ia nyaris menang. “Foo Kok Keong tertinggal 6-9 di gim kedua, namun ajaibnya ia mendapat ‘ second wind ’ dan membalikkan keadaan setelah menyamakan skor 10-10 dan kemudian menang di angka 15-12. Malaysia mengubur tim Indonesia yang selalu jadi hantu atas kekalahan di tahun 1970. Pembalasan dendam yang manis,” demikian potongan berita suratkabar New Sunday Times , 17 Mei 1992. “Saya pribadi merasa gagal karena ditargetkan PBSI mengambil satu poin tapi ternyata saya tidak bisa. Sempat seminggu saya tidak latihan. Stres, depresi. Sempat berpikir keras karena sebentar lagi Olimpiade,” ujar Alan. Alan Budikusuma di Olimpiade 1992 Barcelona. (BWF). Beruntung bagi “pasukan” Indonesia karena saat kembali ke tanah air, Try maupun Siregar bersikap bijak dalam merespon frustrasinya tim. Mengingat tak lama lagi Olimpiade, Siregar berusaha membangkitkan semangat Alan dkk. “Olimpiade kurang dari 2,5 bulan tapi saya mainnya kayak gini. Performa saya kurang baik. Saya kecewa dan hampir putus asa. Dengan keadaan seperti ini, bagaimana ini? Itu yang saya tanyakan pada diri saya. Tapi puji syukur, ada dukungan orangtua, Pak Siregar, dari Susy, bahwa kamu bisa. Karena tidak selalu semuanya pada hari itu main akan jelek terus. Yang penting bagaimana bangkit, latihan lebih giat dan fokus habis-habisan untuk Olimpiade,” imbuhnya. Wejangan dari Siregar membuat Alan menolak patah arang walau sebelumnya jadi sasaran kemarahan pelatih Rudy Hartono dan Indra Gunawan. “Keduanya marah besar pada Alan. Mereka menimpakan penyebab kekalahan tim Indonesia ke pundak pemuda kelahiran Surabaya tersebut. Siregar lalu berkata pada Alan yang masih syok: ‘Kamu harus latihan setengah mati. Datang lebih awal dan pulang paling akhir’,” tulis Brigitta dan Primastuti. Selain melanjutkan program yang sedikit berbeda untuk Olimpiade, Alan dan Susy Susanti yang saat itu sudah menjalin asmara, berkomitmen untuk memprioritaskan diri di lapangan dan mengesampingkan urusan percintaan mereka. Alan pun harus mau menjalani pra-Olimpiade bersama Sarwendah Kusumawardhani. Ardy Bernardus Wiranata, kompatriot Alan di final Olimpiade 1992 (Foto: pbdjarum.org ) Dari situ, Alan mulai paham bahwa pada Olimpiade 1992 ia hanya akan berstatus “ underdog ”. Andalan PBSI dijatuhkan ke pundak Ardy. Pasalnya Ardy tak diminta hal serupa untuk berangkat ke pra-Olimpiade. Siregar pun mengakui bahwa Alan tak masuk hitungan berpeluang meraih medali. “Jujur saja, ketika itu saya sudah menargetkan yang membawa pulang medali ada pada Susy, Ardy, dan ganda putra Rudy Gunawan dan Eddy Hartono. Tapi saat masyarakat mulai menonjolkan Ardy, saya tidak memberi komentar,” aku Siregar. Diposisikan bukan sebagai andalan justru membuat Alan bisa mengambil hikmahnya saat bertarung di Barcelona. Ia menjalani babak demi babak tanpa beban. Sedari babak pertama, nyaris tiada lawan yang sulit untuk disisihkannya di seksi 3 tunggal putra. Sementara, Ardy di seksi 2 maupun Hermawan di seksi 1 harus saling “bunuh” di semifinal. Alan baru menemui lawan tangguh di semifinal, Thomas Stuer-Lauridsen. Meski begitu, Alan sukses menang dua set langsung atas andalan Denmark itu. Alan pun bersua Ardy sang andalan di final. “Perasaan saya biasa saja dulu. Kita ketemu di final (dengan Ardy). Bagi saya semua teman-teman sama. Saya enggak berpikir untuk melihat sisi (kelemahan dan kekuatan) Ardy. Fokus diri sendiri saja,” kenang Alan. Walau tak diunggulkan, Alan justru di luar dugaan meraih emas Olimpiade 1992. (Repro Setengah Abad PB Djarum: Dari Kudus Menuju Prestasi Dunia ). Di atas kertas, Ardy lebih diunggulkan karena juara dunia dan All England 1991. Namun di luar dugaan, Alanlah yang berdiri di podium tertinggi saat upacara penyerahan medali setelah menang dua set langsung, 15-12 dan 18-15. Bagi Ardy, pengalaman itu jelas tak terlupakan. “Itu pengalaman yang paling pahit. Tapi jangan salah tanggap, saya juga bangga bisa menyumbang medali perak untuk Indonesia. Bagi saya tidak peduli siapa lawan saya, sesama pemain Indonesia atau negara lain. Waktu final Alan bermain lebih bagus dari saya. Kecewa itu pasti. Bohong kalau saya bilang tidak kecewa. Tapi saya tetap bangga mendapat perak buat Indonesia,” tutur Ardy yang sejak 1998 melanglang buana ke Amerika Serikat dan Kanada, via surat elektroniknya. Kepahitan Ardi menjadi manis bagi Alan. Capaian manisnya merupakan buah dari proses mati-matiannya untuk bangkit pasca-Thomas Cup 1992. Menjelang Olimpiade, Alan saban hari mesti melakoni enam jam latihan di tangan pelatih “diktator” Tong Sinfu. Dia juga mesti mengenyampingkan ego pribadinya, pacaran dengan Susy, untuk fokus pada Olimpiade. “Memang dari sisi masyarakat kan melihat Ardy performance -nya lebih baik. Saat itu saya posisinya underdog . Jadi pikiran saya, kalaupun kalah di final ya kalahnya sama teman sendiri. It’s okay . Saya enggak ada beban, rileks. Ternyata saat main saya lebih oke (hasilnya),” tandas Alan.

  • Aryono, Ayutthaya, dan Adelaide: Testimoni untuk Aryono

    Pagi itu, Selasa, tanggal 15 September, berita sedih yang dikirim dari Bonnie Triyana muncul di telepon saya, yang memberitahu tentang meninggalnya teman baik, Aryono, yang juga seorang periset arsip andal dan ulung dari Historia.id  di Jakarta. Berita ini membuat saya meneteskan air mata dan menambah jumlah kepergian menjadi tiga belas teman di Indonesia yang mendahului kita semua di masa pandemi ini. Terakhir, pada bulan Desember 2019, saya bertemu dengan Aryono di Le Chocolat Lounge di lobby Hotel Pullman di Jakarta, sambil menitipkan oleh-oleh dari Adelaide untuk dia dan Bonnie. Sebetulnya, pertemuan saya yang lebih intensif dengannya terjadi ketika ia dan Bonnie mengunjungi Adelaide selama sepuluh hari pada bulan September 2019 untuk melakukan riset arsip tentang pemberontakan Tiga Daerah milik sejarawan Anton Lucas  yang diwakafkan di Perpustakaan Flinders University, Adelaide, Australia Selatan. Di antara kesibukannya melihat dan meneliti arsip sejarah revolusi sosial di wilayah Pantura, Jawa Tengah, saya juga berdiskusi panjang dengan Aryono, Bonnie, dan Wahyu Susilo (yang juga berada di Adelaide untuk konferensi) mengenai jejak-jejak masa lalu jalur perdagangan antara kota tua Ayutthaya di Muangthai dengan pusat perdagangan yang lainnya di kepulauan Nusantara atau Hindia Belanda saat itu, seperti Banten, Batavia, Lasem, dan Makassar. Dalam diskusi dengan teman-teman ini, saya bertanya mengapa tidak ada ahli sejarah atau sejarawan dari Indonesia yang sudah belajar dan studi sejarah Muangthai secara serius, khususnya tentang sejarah jalur perdagangan masa lalu antara, misalnya, Ayutthaya dan Batavia? Jika tidak ada, perlukah kita mempersiapkan studi tour ke Ayutthaya dengan membawa sejarawan muda dari Historia.id  atau peneliti muda sejarah Asia Tenggara dari Indonesia? Bangunan bersejarah peninggalan Ayutthaya. (Dok. Priyambudi Sulistyanto). Ketertarikan saya dengan Ayutthaya ini bermula setelah saya mengunjungi kota bersejarah ini lebih dari lima kali sejak kunjungan pertama di akhir tahun 1990 dan yang paling terakhir kalinya adalah bulan Desember 2018 yang lalu. Ayutthaya berada sekitar 90 kilometer disebelah utara Bangkok. Dalam sejarahnya, Ayutthaya adalah bekas ibukota kedua (setelah Sukothai) di Muangthai dan berdiri tahun 1350 dan mengalami zaman keemasan dari abad 14 hingga 18 dimana Ayutthaya menjadi pusat peradaban Hindu dan Buddha, menggantikan posisi keberadaan peradaban Angkor di Kamboja yang mulai runtuh pada abad 13. Di samping itu , Ayutthaya juga menjadi pusat perdagangan maritim yang penting di Asia Tenggara. Dengan lokasinya yang strategis yaitu di sebuah pulau kecil di tengah tiga sungai yang mengelilinginya , yaitu Chao Praya, Lopburi , dan Pasak, Ayutthaya didatangi oleh para pedagang dari Asia Tenggara, Cina, India, Arab dan juga belakangan, dari Eropa. Sayangnya, Ayuthaya dihancurkan hingga luluh lantak oleh serangan tentara dari pihak Burma tahun 1767. Dengan segala warisan sejarah yang unik dan kaya inilah yang hingga kini, Ayutthaya juga diakui sebagai salah satu kota bersejarah yang penting di dunia oleh UNESCO . Pengakuan dari UNESCO inilah yang mengundang banyak perhatian dari para sejarawan Muangthai sendiri untuk kembali melakukan penelitian arsip-arsip mengenai Ayutthaya yang berada di Cina, Portugis, Inggris, Prancis, dan juga didalam negeri. Sejarah masa lalu yang gemilang ini mengundang banyak perdebatan bagi para sejarawan di Muangthai. Salah satu tokoh sejarawan Muangthai yang gigih mengajak sejarawan muda lainnnya untuk meriset kembali Ayutthaya sebagai pusat perdagangan maritim yang terpenting di Asia Tenggara adalah Charnvit Kasetsiri. Ia menerbitkan bukunya yang berjudul The Rise of Ayudhya (Kuala Lumpur: Oxford University Press, 1976) dan buku ini merupakan hasil dari disertasi doktoral di Cornell University, Amerika Serika, pada 1973. Buku ini sangat berpengaruh bagi sejarawan Muangthai dan Barat yang ingin melakukan riset tentang pentingnya jalur perdagangan maritim di Asia Tenggara. Peninggalan VOC di Ayutthaya. (Dok. Priyambudi Sulistyanto). Pada 2017, terbit juga buku baru yang berjudul A History of Ayutthaya , yang ditulis oleh dua akademisi/sejarawan yaitu Chris Baker dan Pasuk Phongpaichit. Buku ini memperkuat gagasan sebelumnya yang mengatakan bahwa ketika itu, Ayutthaya, bisa disetarakan sebagai “Venice” di Asia Tenggara. Bahkan bisa dikatakan Ayutthaya merupakan pusat perdagangan maritim terbesar di Asia Tenggara dari abad 14 hingga 18 yang menghubungkan Cina, Asia Tenggara, dan Eropa. Setelah berkali-kali mengunjungi Ayutthaya, saya selalu tertarik dengan aneka ragam kuliner dan adanya kampung Islam/Makassar. Beragam kuliner di Ayutthaya juga dipengaruhi cita rasa dari India, Cina, Melayu, Portugis, Jepang,dan Belanda. Beberapa contoh kuliner tersebut adalah foi tong, gulai gaeng, gulai masaman dan juga sup tahu, dan panggang babi dan bebek. Keberadaan kampung Islam/Makassar juga masih nampak unik dimana menunjukkan nenek moyang mereka yang datang dari Arab, Persia, India dan juga Makassar (yang berasal dari pelaut Bugis dan elitenya yang merantau atau lari setelah Perang Makassar di abad 17). Seperti yang saya diskusikan dengan Aryono, Bonnie , dan Wahyu, namun yang paling unik dan penting dari kunjungan terakhir saya ke Ayut t haya adalah menemukan dan mengunjungi Baan Hollanda yang terletak di pinggiran sungai Chao Praya. Lokasinya adalah tanah bekas didirikannya kantor perwakilan VOC ( Venerigde Oost-Indische Compagnie ) di Ayut t haya yang mulai beroperasi di tahun 1608. Menurut buku yang ditulis oleh Baker and Pasuk (2017:120-121) Ayutthaya mulai berkembang pesat dibawah kepemimpinan Raja Ekathotsarot (1605–1620) dimana ia mengundang banyak perwakilan perdagangan maritim asing untuk beroperasi dan berdagang rempah dan komoditas lainnya secara besar-besaran. Di kota tua inilah perwakilan VOC memperkuat dominasi dan kekuataan perdagangan maritim di Asia Tenggara. Jejak-jejak masa lalu Muangthai dan Nusantara inilah yang saya bisa pelajari dan teliti ketika saya mengunjungi Baan Hollanda yang juga menyajikan informasi dan arsip lama dari Belanda secara padat namun juga interaktif. Para pengunjung diajak masuk ke berbagai ruang dengan disertai peta dan informasi lengkap mengenai sejarah berdirinya perwakilan VOC di Ayutthaya ( baanhollanda.org ). Semua informasi tersaji dengan detail dan runtut mengikuti runtutan abad dan peristiwa-peristiwa penting yang menjadikan perwakilan VOC berperan penting dalam pertumbuhan ekonomi perdagangan maritim di Muangthai ketika itu. Priyambudi Sulistyanto, dosen senior Flinders University, dan Wahyu Susilo, Direktur Eksekutif Migrant Care, di depan patung gajah di Museum Nasional hadiah Raja Chulalongkorn. (Dok. Priyambudi Sulistyanto). Yang paling penting untuk saya adalah mengapa para sejarawan Indonesia belum atau tidak tertarik melakukan studi atau riset arsip tentang hubungan perdagangan maritim antara Muangthai dan Nusantara? Sebaliknya, sejarawan muda Muangthai, Kannikar Sartraprrong, menerbitkan bukunya yang berjudul A True Hero, King Chulalongkorn of Siam’s visit to Singapore and Java in 1871 (Bangkok: Institute of Asian Studies, Chulalongkorn Univeristy, 2008). Buku ini menceritakan mengenai kunjungan Raja Chulalongkorn (1868-1910) dari Muangthai ke Pulau Jawa (Batavia, Bogor, Yogya, Semarang , dan Surabaya) berkali-kali yaitu tahun 1871. Dari kunjungan ini, Raja Chulalongkorn bertemu dengan pihak Belanda dan raja-raja di Jawa dengan misi untuk belajar dan studi mengenai aspek perdagangan, pemerintahan, budaya, kuliner, dan bahasa. Sebagai apresiasinya, Raja Chulalongkorn memberikan hadiah patung gajah ke pemerintah Hindia Belanda dan sekarang masih berada di depan gedung Museum Nasional di Jakarta. Sebagai ketertarikan atau langkah strategis, Raja Chulalongkorn mengunjungi Nusantara lagi pada 1891 dan 1901. Semoga tulisan singkat ini yang merupakan sebuah testimoni pendek untuk Aryono bisa mengingatkan kita semua dan juga mendorong generasi sejarawan Indonesia untuk mau membuka kembali lembaran sejarah lama yang gemilang dan unik yang menghubungkan Muangthai dan Nusantara. Salam hangat dari Adelaide, 23 September 2020. Dr. Priyambudi Sulistyanto adalah dosen senior Flinders University,  Adelaide, Australia Selatan .

  • Kisah Rempah dan Kuliner Khas Yogyakarta

    Sebanyak 135 ragam rempah digunakan di seluruh Indonesia. Sejauh ini kuliner Aceh paling banyak menggunakan jenis rempah, yakni 129 macam. Disusul kuliner Yogyakarta yang memakai 119 macam rempah, dan Sumatra Utara yang memakai 96 ragam rempah. “Yogyakarta daerah kuliner yang memiliki banyak ragam rempah. Karenanya Yogyakarta termasuk daerah kuliner yang hidangannya kaya rasa,” kata Murdijanti Gardjito, Guru Besar Ilmu dan Teknologi Pangan Universitas Gadjah Mada dalam webinar “Budaya Rempah-rempah dalam Khazanah Kuliner di Daerah Istimewa Yogyakarta” yang diadakan BPCB DIY melalui kanal Youtube. Yogyakarta mengenal bumbu khas yang sangat jarang dipakai di daerah lain, yakni tempe semangit dan pete rese . Tempe  semangit , atau sering disebut tempe  bosok, dan pete rese  biasanya dipakai dalam masakan sayur lodeh. Adapun tempe semangit muncul dalam masakan sayur bobor yang biasa disajikan bersama sambel jenggot. Bumbu terpenting dalam kuliner khas Yogyakarta adalah bawang putih, bawang merah, gula, daun salam, dan lengkuas. “Sehingga rasa kuliner Yogya itu gurih, legit, ada rasa gurih yang manis, ini kaitannya dengan cita rasa khas Yogya,” kata Murdijati. Sementara itu, Indonesia Timur yang dikenal sebagai sumber rempah, kulinernya justru tak begitu mengenal banyak ragam rempah. NTT, Papua, dan Maluku menggunakan rempah lebih sedikit, yakni antara 31-61 ragam rempah saja. “Ini sulit dipikirkan mengapa begitu,” kata Murdijati. “Apa mungkin karena Aceh berada di jalur rempah dari timur ke barat dan menjadi tempat persinggahan jadi lebih banyak rempah yang dikenal?” Tak Cuma Makanan Orang Yogyakarta tak hanya mengenal rempah sebagai penyedap masakan. Beberapa jenis minuman juga menggunakan bahan baku rempah-rempah. Jamu adalah minuman dari rempah yang terkenal. Kendati banyak pula penggunaan jamu yang tak diminum, tetapi dioles. “Ini unggulan yang sulit ditandingi di dunia,” ujar Murdijati. Jamu sangat erat dengan budaya masyarakat keraton dalam membangun kesehatan, kebugaran, dan kecantikan. “Mereka bahkan bikin peralatan khusus minum jamu dengan seremoni menarik,” jelas Murdijati. Peralatan minum jamu disebut sumbul . Bentuknya seperti separuh batok kelapa yang diukir indah dan terbuat dari logam. “Ini untuk disuguhkan bagi putri keraton,” kata Murdijati. Selain jamu, ada juga bir Jawa yang terbuat dari ekstrak serutan kayu secang berwarna merah muda. Jika ditetesi air perasan jeruk nipis, ia berubah cokelat. Selain sari jeruk nipis, minuman ini terdiri dari jahe, sereh, cengkeh, kayu manis, pala, merica, mesoyi, dan kemukus. “Minuman yang ceritanya sangat penting, mengandung cerita bersejarah,” ujar Murdijati. Ceritanya, pada akhir abad ke-19 dan era abad ke-20 bir masih diimpor dari Belanda menggunakan kapal laut. Pengirimannya membutuhkan waktu sebulan. Jadi, harganya mahal sekali. Bir Jawa memiliki warna yang persis dengan warna bir Eropa. Bir ini selalu disajikan setiap keraton mengadakan pisowanan ageng yang dihadiri oleh perwakilan pemerintah Belanda. “Dampaknya apa? Orang Belanda mengira keraton Jogja kaya sekali, jadi masih bisa memberi bir pada semua yang ada di pisowanan agung ,” jelas Murdijati . Padahal, kata Murdijati, bir yang sebenarnya hanya disuguhkan bagi raja, tamu, dan para pangeran. Sedangkan para abdi dalem kebagian bir Jawa. “Abdi dalem yang ditanya oleh salah seorang tamu: ‘kamu tadi minum apa?’ akan menjawab: ‘bir Jawi’,” kata Murdijati. “Tapi ‘Jawi’-nya diucapkan dengan pelan. Ini cerita nenek saya yang masih mengalami masa itu.” Secara umum, budaya rempah di Yogyakarta terbukti dari masyarakatnyayang memiliki wadah rempah atau bothekan , berupa almari atau laci-laci berisi puluhan rempah untuk keperluan sehari-hari. “Masyarakat awam juga punya, tapi di kalangan bangsawan mereka sangat mengenal apa yang disebut bothekan ,” jelas Murdijati. Tak Tercatat Kendati rempah-rempah begitu melekat dengan orang Jawa, khususnya orang Yogyakarta, tetapi tak banyak ditemukan catatan mengenai tradisi rempah dan kuliner. Bahkan, kata arkeolog Universitas Gadjah Mada, Tjahjono Prasodjo, dalam prasasti dan naskah kesusasteraan kuno pun tak ada yang secara khusus menjelaskan soal kuliner maupun bumbu-bumbu masakan dari rempah. “Tak ada penjelasan seperti resep masakan misalnya,” kata Tjahjono. Jika pun ada prasasti yang menyebut soal makanan, itu hanya data sampingan. Biasanya disebutkan pada bagian pesta dalam upacara Sima. “Itu pun banyak istilah kuliner dan rempah yang belum diketahui artinya,” jelas Tjahjono. Khususnya rempah-rempah, kata Tjahjono, lebih banyak ditemukan di dalam naskah kesusasteraan. Misalnya,istilah trikatuka atau tiga rempah utama, yakni lada hitam, cabe Jawa, dan jahe. Ini agaknya mendapat pengaruh dari India. Tiga rempah ini sering digunakan. Semua rasanya pedas. Sering dipakai untuk pengobatan. Naskah juga menyebutkan pemakaian ketumbar. Disebut dengan istilah tumbara. “Mungkin ketumbar maksudnya,” kata Tjahjono. Murdijati pun menyayangkan nihilnya catatan kuliner tradisional di lingkungan keraton. Untungnya di kalangan keraton, tradisi kuliner Yogyakarta masih terjaga. “Untungnya masih ada narasumber yaitu anggota keluarga keraton, antara lain keturunan Hamengkubuwono VI, VII, VIII, dan IX,” kata Murdijati. Dari mereka diketahui bahwa keluarga bangsawan Yogyakarta memiliki kebiasaan unik. Mereka masih menyediakan makanan kesukaan raja-raja terdahulu setiap peringatan haulnya. Misalnya, keturunan Hamengkubuwono VII akan menyajikan kersanan dalem Hamengkubuwono VII, begitu juga keturunan raja lainnya. “Jadi mengapa budaya kuliner Yogya di lingkungan masyarakat keraton masih eksis, itu karena keturunannya memelihara apa yang disuka para leluhurnya,” kata Murdijati. Bagaimana rempah-rempah yang tak berasal dari wilayah Jawa bisa melekat dengan orang Yogyakarta? “Tentu ini intrepretasi lagi,” jawab Tjahjono.Namun, yang jelas, pada masa Jawa Kuno pun perdagangan antarwilayah sudah ramai. Pun pelabuhan di pantai utara Jawa. Pada periode kekuasaan kerajaan di Jawa Timur, pelabuhan Jawa menjadi tempat transit. “Rempah didatangkan dari Indonesia Timur, transit di sana, lalu diperdagangkan ke wilayah barat,” kata Tjahjono. “Dari India dan Tiongkok produk mewah itu datang ke pelabuhan Jawa, disebarkan ke seluruh Nusantara atau mungkin di Jawa sendiri.” Karenanya, menurut Tjahjono, tak heran kalau di Yogyakarta, atau bahkan Aceh, ditemukan beragam jenis rempah-rempah dari berbagai tempat. “Itu karena ada perdagangan,” jelasnya. “Kalau komoditas yang dari Jawa sendiri adalah beras dan lada, ini perdagangan utama dari Jawa pada periode Jawa Timur.”

  • Jenderal Yani dan Para Asistennya

    Sepekan setelah memegang tampuk kepemimpinan Angkatan Darat, Letjen Ahmad Yani meresmikan susunan stafnya.  Tiga perwira tinggi  diangkat sebagai deputi. Mereka antara lain: Deputi I/Operasi Mayjen Moersjid, Deputi II/Admistrasi Mayjen Soeprato, dan Deputi III/Pembinaan Mayjen Harjono Mas Tirtodarmo. Ketiganya merupakan wakil Yani yang membawahkan beberapa bidang. Untuk membantu kinerjanya, Yani dibantu oleh sejumlah asisten. Asisten I/Intelijen Mayjen Siswondo Parman, Asisten II/Mayjen Djamin Gintings, Asisten III/Personel Mayjen Pranoto Reksosamudro, Asisten IV/Brigjen Donald Isaac Pandjaitan. Selain itu, Yani menambah tiga asisten lagi yang di masa Nasution belum ada. Asisten V/Teritorial Brigjen Soeprapto Sokowati, Asisten VI/Kekaryaan Brigjen dr. Soedjono, dan Asisten VII/Keuangan Brigjen Ashari yang kemudian digantikan oleh Alamsyah Ratu Prawiranegara. Seorang Oditur Militer dijabat oleh Brigjen Soetoyo Siswomihardjo. Nama-nama para perwira itu dipublikasi pada 30 Juni 1962, seminggu setelah serah terima komando Angkatan Darat dari Jenderal Abdul Haris Nasution kepada Ahmad Yani.  “Menurut saya yang paling cerdas Asisten I Mayjen S.  Parman,” kata sesepuh TNI Letjen (Purn.) Sayidiman Suryohadiprodjo kepada Historia . Perwira Lingkaran Dalam Pada 1963, Letkol Sayidiman bertugas sebagai perwira menengah pembantu (Paban) Organisasi di Staf Umum Angkatan Darat (SUAD) 2. Lembaga itu berada di bawah Asisten II Mayjen Djamin Gintings. Dalam tugasnya merumuskan konsep organisasi Angkatan Darat, Sayidiman kerap kali berurusan dengan semua asisten dan deputi. Tandatangan dan persetujuan mereka mesti diperoleh terlebih dahulu agar konsep dapat diajukan kepada Yani.   Menurut Sayidiman, Parman adalah asisten yang paling menonjol. Meski terlahir sebagai wong Wonosobo tetapi Parman banyak mengecap pendidikan Barat. Jadi sekalipun gaya bicaranya Jawa sekali alias medok, cara berpikirnya lebih mengarah kepada Barat, yaitu rasional dan logis. Kecerdasan Parman, kata Sayidiman, kerap terlihat dalam rapat staf umum. Sayidiman senang sekali apabila Gintings menugaskannya dalam rapat staf umum mewakili Asisten II. Pada kesempatan itulah Sayidiman dapat menyaksikan dari dekat para asisten Yani bekerja. “Karakter masing-masing tentu tidak sama tapi dalam kebersamaan bermutu,” ujar Sayidiman. Selain Parman, Pandjaitan merupakan sosok asisten Yani yang juga menonjol. Membidangi urusan logistik, Pandjaitan dikenal cakap lagi teliti. Menurut Sayidiman, Pandjaitan memang pintar dan penuh energi. Sebagai orang Batak, Pandjaitan tajam dalam mengkritisi sesuatu bahkan keras. Kendati demikian, dia mudah menerima argumen yang rasional dan logis. Oleh karena itu, Pandjaitan selalu menghargai hasil pekerjaan yang baik.    Dalam otobiografinya Mengabdi Negara sebagai Prajurit TNI , Sayidiman juga membagikan kesannya terhadap asisten yang lain. “Bos” nya Djamin Gintings disebutnya suka berterus terang dan sosok yang dekat dengan anak buah. Pranoto tipikal Jawa yang halus dan tidak suka menonjolkan diri. Sokowati yang orang Madiun tidak sehalus orang Solo tapi tidak pula sekasar orang Surabaya dan agak sulit ditemui. Dengan Soedjono tiada kesulitan yang berarti namun dia suka memberikan uraian khusus tentang ideologi. Sementara itu, Ashari merupakan sosok paling alot dan sukar menerima pendapat yang bertentangan dengan pikirannya.      Siapa Pilihan Yani? Dalam menentukan siapa saja perwira yang duduk di SUAD, Yani punya kriteria sendiri. Yani seperti dituturkan anaknya Amelia Yani dalam Profil Seorang Prajurit TNI , memilih orang-orang yang dia anggap cakap menurut penilaiannya. Selain itu, perwira tersebut tentunya dapat dipercaya dan sudah dikenal dengan cukup baik.    Sementara itu, menurut Donatus Donny A. Sheyoputra, pengamat sejarah militer dari Universitas Pertahanan, Yani cenderung memilih perwira yang punya pengalaman pendidikan di luar negeri atau setidaknya pernah jadi atase militer. Dengan kata lain, Yani lebih suka perwira yang cara berpikirnya rasional ala Barat. “Mereka yang pernah menjadi atase militer ialah Pandjaitan di Jerman, Parman di London, kemudian Harjono di Belanda. Ashari juga pernah jadi atase militer di Amerika Serikat. Sementara yang pernah mendapatkan pendidikan luar negeri ialah Pandjaitan dan Alamsyah Ratu Prawiranegara,” ujar Donny kepada Historia . Parman tergolong perwira yang paling senior. Pada 1951, sebagaimana dicatat Harsja Bachtiar dalam Siapa Dia? Perwira Tingggi TNI-AD , Parman sempat mengikuti pendidikan Associate Military Company Officer School di Georgia, Amerika Serikat (AS). Kemudian pada 1959, Parman bertugas di London sebagai atase militer Indonesia untuk Kerajaan Inggris. Sebelum Parman menempati posnya di London, Soetoyo telah lebih dahulu berada di sana sebagai asisten atase militer periode 1956—59. Sepulangnya ke Indonesia, Soetoyo menjabat sebagai Inspektur Kehakiman/Oditur Jenderal TNI-AD    Yani sendiri juga mengecap pendidikan Command and General Staff College (setara Seskoad) di Forth Leavenworth, Kansas, AS pada 1958. Sementara itu, Pandjaitan menjabat sebagai atase militer Indonesia untuk Jerman Barat pada 1956. Setelah diangkat menjadi Asisten IV, Pandjaitan mengikuti pendidikan staf dan komando di tempat yang sama dengan Yani pada 1963. Perwira yang turut menimba ilmu bersama Pandjaitan ialah Alamsyah Ratu Prawiranegara yang kemudian menjadi Asisten VII. Jadi, Yani, Pandjaitan, dan Alamsyah sama-sama sealumni jebolan Forth Leavenworth.      Kendati demikian, tidak semua perwira SUAD merupakan pilihan Yani. Beberapa perwira yang kurang sesuai dengan kriteria Yani tetap dipertahankan sebagai wujud kompromi. Menurut Amelia Yani, Gintings dan Sokowati merupakan figur yang lebih dekat dengan Nasution. Mereka diharapkan dapat menjembatani hubungan antara Yani dan Jenderal Nasution yang saat itu mulai merenggang.    Sementara itu, pengangkatan Pranoto dalam SUAD terbilang kontroversial. Menurut Saleh As'ad Djamhari dan tim editor buku Malam Bencana 1965 Dalam Belitan Krisis Nasional bagian 3: Berakhir dan Bermula yang menunjuk Pranoto sebagai Asisten III bukanlah Yani, melainkan Istana. Presiden Sukarno disebut-sebut yang menyodorkan nama Pranoto. Yani yang taat kepada Panglima Tertinggi akhirnya menerima usulan itu. “Pranoto adalah pribadi yang di mata Sukarno termasuk disayang. Selain kalem dan tidak ambisius, kecocokan Pranoto dengan Bung Karno adalah sama-sama pecinta wayang,” ujar Donny. Demikianlah Yani dan para asistennya yang punya karateristik beragam. Mereka sebagai perwira SUAD menjalankan tugas dalam bidang masing-masing. Selain solid, Sayidiman mengenang, tingkat intelektual SUAD pada era kepemimpinan Yani tidak dapat ditandingi. Perwira seperti Parman dan Pandjaitan disebutnya punya pandangan intelektual yang luas dan tajam. Apalagi di masa Yani, Angkatan Darat menghadapi masa-masa genting, misalnya program konfrontasi ganyang Malaysia dan persaingan dengan Partai Komunis Indonesia (PKI). Komposisi SUAD itu terus berjalan hingga pecahnya Gerakan 30 September 1965. (Bersambung)

  • Kala Benny Moerdani Kerjai Kolonel Djarot

    Mayor Benny Moerdani bergerak cepat. Begitu mengetahui Menhan Malaysia Tun Abdul Razak akan singgah di Bangkok sepulang dari kunjungannya ke Burma (kini Myanmar) pada pertengahan Juli 1965, Benny bersama Letkol Ali Murtopo, atasannya di Opsus (Operasi Khusus), organ intelijen di bawah Kostrad, langsung ke Bangkok untuk mendapatkan kontak Razak. Upaya Benny itu merupakan kelanjutan dari upaya membuka pintu normalisasi hubungan Indonesia-Malaysia yang sedang panas akibat Konfrontasi. Sebelumnya, Benny telah melakukan pertemuan penjajakan dengan wakil Malaysia Ghazali Shafie, kepala Intelijen Keamanan Nasional (kelak menjadi menteri dalam negeri dan menteri luar negeri Malaysia), dan Des Alwi, anak angkat Sutan Sjahrir yang tinggal di Malaysia selepas PRRI-Permesta. “Langkah mengakhiri konfrontasi sudah dimulai bahkan sejak konfrontasi itu muncul,” kata Mindra F dalam “Normalisasi RI-Malaysia Tak Ada Yang Menang, Apalagi Kalah”, dimuat dalam Warisan [Daripada] Soeharto . Malaysia membuka upaya normalisasi pada pertengahan 1964 lewat Ghazali Shafie yang menemui Menpangad A. Yani di Hongkong. Sementara, Indonesia lewat utusan yang dikirim Presiden Sukarno. Menurut Harry Tjan Silalahi, intelektual CSIS yang dekat dengan Benny, upaya normalisasi dari pihak Indonesia diupayakan bukan hanya oleh satu pihak. “Masing-masing kirim utusan. Presiden Sukarno kirim, Ahmad Yani kirim, Soeharto kirim. Presiden mengirim agar mendapat cara penyelesaian konfrontasi tanpa kehilangan muka,” ujarnya kepada Historia  pada 2013. Namun, semua utusan itu tak membawa hasil. Upaya normalisasi dari Indonesia baru makin serius ketika AD makin terang-terangan menentang konfrontasi. “Belakangan Yani dan stafnya merekrut Soeharto untuk memainkan peranan rahasia yang penting dalam usaha mereka untuk menggembosi konfrontasi, kampanye anti-Malaysia Sukarno,” tulis John Roosa dalam Dalih Pembunuhan Massal . “Barangkali Yani dan kepala intelijennya, S. Parman, mempercayakan kepada Soeharto tugas yang peka ini sehingga mereka bisa dengan tenang mengingkarinya seandainya komplotan mereka terbongkar,” sambung Roosa. Di bawah Soeharto, upaya normalisasi berjalan lebih serius dan kontinyu. Dia menugaskan Ali Murtopo yang kemudian memerintahkan Benny sebagai pelaksana lapangan. Meski memakan waktu panjang dan melelahkan, Benny-Ali akhirnya mendapat kontak Razak lewat Des Alwi. Dari Razak, Opsus pun akhirnya berhasil masuk ke PM Tunku Abdul Rahman. Untuk membuktikan keseriusan pihak Indonesia, Benny lalu mengusulkan agar Indonesia mengirim delegasi resmi ABRI ke Malaysia. Usul itu disampaikannya ketika pulang ke Jakarta menghadap Pangkostrad Mayjen Soeharto, dan Soeharto menyetujuinya. Namun, bukan perkara mudah untuk mengirim delegasi resmi secara sembunyi-sembunyi menggunakan pesawat AURI. Apabila pers mencium, Presiden Sukarno bisa marah. Sementara bila sembunyi-sembunyi, risiko pesawat AURI ditembak pasukan Inggris amat besar. Tapi Benny tak terlalu ambil pusing untuk urusan yang di Malaysia karena yakin Razak dan Shafie pasti sudah mengatasinya. Benny akhirnya terbang ke Bangkok untuk meminta bantuan Kolonel Sugeng Djarot, atase militer Indonesia di Bangkok, sehari sebelum delegasi ABRI bertolak ke Kuala Lumpur. Djarot langsung “diculik” Benny ke Bandara Don Muang. Tentu saja upaya Benny membuat Djarot bingung sehingga dia menanyakan akan dibawa ke mana. “Sudahlah, pokoknya kita rekreasi,” jawab Benny, dikutip Julius Pour dalam Tragedi Seorang Loyalis . Mendengar jawaban Benny, Djarot pun senang. Namun kesenangannya hanya sesaat karena pengumuman awak kabin menginformasikan bahwa pesawat yang ditumpanginya akan bertolak ke Kuala Lumpur. Seketika, wajah Djarot langsung pucat. Makanan yang disajikan awak kabin tak disentuhnya. Esok paginya, Djarot yang masih bingung diajak Benny ke Bandara Subang. Setelah diberitahu bahwa mereka akan menyambut rekan dari militer Indonesia dan disarankan, Djarot mengenakan seragam TNI-AD lengkap. Namun begitu tahu di bandara hanya dia sendiri yang mengenakan seragam militer Indonesia, Djarot kembali kaget. “Ben, kalau nati ada apa-apa, nanti bagaimana?” tanya Djarot dalam bahasa Jawa. “Yah, kalau Bung Karno besok tahu yang ditangkap nanti kan Anda,” jawab Benny juga dengan bahasa Jawa. “Diancuk...” kata Djarot.

bottom of page