Hasil pencarian
Cari di situs ini
10052 hasil ditemukan dengan pencarian kosong
- Frank Lampard Legenda Bermental Baja
TRIBUN Stadion Stamford Bridge lengang. Tiada keriuhan fans seperti biasa ketika Chelsea menjamu lawan-lawannya. Hanya beberapa wartawan foto dan staf klub yang terlihat pada Sabtu, 6 Juli 2019, itu. Begitulah suasana kemunculan kembali Fran Frank Lampard ke markas klub yang pernah dibelanya selama 13 tahun itu. Lampard kembali muncul ke publik untuk diperkenalkan sebagai pelatih anyar Chelsea FC dengan durasi kontrak tiga tahun ke depan. Dia menggantikan Maurizio Sarri yang di depak di akhir musim lalu. Sepanjang kariernya sebagai pemain (2001-2014), Lampard menjadi anak emas kesayangan fans dan tim, mengungguli pemain senior lain semisal John Terry. Lampard juga jadi orang Inggris pertama yang menukangi The Blues, julukan Chelsea, sejak dua dekade silam.
- Di Balik Peringatan Hari Kesehatan Mental Sedunia
PEMBAHASAN mengenai kesehatan mental kini tidak asing bagi masyarakat. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyebut kesehatan mental merupakan kondisi kesejahteraan mental yang memungkinkan orang mengatasi tekanan hidup, menyadari kemampuan, belajar dengan baik dan bekerja dengan baik, serta berkontribusi pada komunitas. Dengan demikian, kesehatan mental merupakan hak asasi manusia, dan sangat penting bagi perkembangan pribadi, komunitas, serta sosio-ekonomi seseorang. Kesehatan mental berkaitkan dengan mental health yaitu kondisi kesejahteraan psikologis dan emosional seseorang. Selain itu, ada istilah mental hygiene yaitu ilmu yang berhubungan dengan proses mencapai kesehatan mental dan mencegah penyakit mental di masyarakat. Menurut Dashiel Geyen dalam “Mental Hygiene”, yang termuat di Cultural Sociology of Mental Illness - An A-to-Z Guide, istilah mental hygiene diciptakan pada 1843 oleh William Sweetzer, seorang dokter, penulis, dan advokat orang yang menderita penyakit mental. “Sejak awal, istilah ini mengandung gagasan optimis bahwa penyakit mental dapat dicegah dengan penanganan yang sesuai, meskipun secara tepat apa tindakan pencegahan ini dan bagaimana tindakan tersebut dapat mencegah penyakit mental tetap samar-samar sepanjang sejarah istilah ini,” tulis Geyen.
- Awas Cacar Monyet
UNTUK pertama kalinya terjadi kasus cacar monyet (monkeypox) di Singapura. Penderitanya seorang warga Nigeria yang tiba di Singapura pada 28 April 2019. Lelaki 38 tahun itu positif terjangkit virus cacar monyet pada 8 Mei. Sebelum ke Singapura, dia menghadiri pernikahan di Nigeria. Dia mungkin mengonsumsi daging hewan liar, yang bisa menjadi sumber penularan virus cacar monyet. “Bulan Mei 2019 dilaporkan seorang warga negara Nigeria menderita monkeypox, saat mengikuti lokakarya di Singapura. Saat ini pasien dan 23 orang yang kontak dekat dengannya diisolasi untuk mencegah penularan lebih lanjut,” kata dr. Anung Sugihantono, Direktur Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit, dalam rilis yang dimuat di depkes.go.id. Kementerian Kesehatan meminta masyarakat tidak panik dengan cacar monyet yang kemungkinan dapat masuk ke Indonesia. Meski demikian, masyarakat diimbau untuk waspada dan menjaga kebersihan.
- Upaya Memberantas Cacar
SAAT tiba di Jawa pada 1811, John Crawfurd, dokter berkebangsaan Inggris, disambut wabah cacar. Menurutnya, penyakit cacar telah menimbulkan kekacauan luar biasa di kalangan pribumi. Di Pekalongan, cacar menyerang tiap dua-tiga tahun sekali, sementara di Surakarta dan Yogyakarta cacar menjadi penyakit paling mengkhawatirkan sebelum 1820. Dari seluruh anak yang lahir di Yogyakarta pada 1820-an, 10 persen di antaranya meninggal karena cacar. Cacar sudah ditemukan di Jawa sejak awal abad ke-17. Pernyakit tersebut diperkirakan masuk ke Jawa melalui Batavia pada 1644. Kasus cacar kemudian makin parah dan mewabah lantaran belum mutakhirnya obat dan kelangkaan jumlah tenaga medis. Pada abad ke-18, penyakit cacar sudah menyerang Priangan, Bogor, Semarang, Banten, dan Lampung. Diperkirakan ada 100 penduduk Jawa terserang cacar pada 1781, 20 di antaranya meninggal dunia. Virus ini rentan menyerang bayi yang daya tahan tubuhnya masih rendah. Pada akhir abad ke-18 tingkat kematian bayi karena cacar di Bogor dan Priangan mencapai 20 persen.
- Langkah Gencar Menanggulangi Cacar
PADA 1804, kapal Elisabeth tiba di Jawa. Kapal itu mengangkut salah satu barang terpenting yang didatangkan pemerintah Hindia Belanda. Vaksin, nama barang itu, didatangkan pemerintah sebagai salah satu cara untuk menganggulangi wabah cacar di kepulauan. Karena jumlahnya sedikit, mulanya vaksin hanya diberikan pada para pekerja perkebunan yang terjangkit cacar dan orang pribumi yang sehari-hari berhubungan dengan orang Eropa. Tiga tahun setelah vaksin dibawa ke Batavia, penyebarannya di Jawa tidak mengalami perkembangan lantaran jumlah vaksin dan dokter tidak memadai. Vaksinasi besar-besaran baru dilakukan ketika Thomas Stamford Raffles berkuasa pada 1811-1816. Dari yang semula hanya menjangkau Surabaya, Semarang, dan Batavia, Raffles memperluas daerah operasi vaksinasi ke Jepara, Surakarta, Yogyakarta, Priangan, dan Bogor. Vaksinasi cacar juga dilakukan di Gresik, Pasuruan, Bangil, Probolinggo, Besuki, dan Banyuwangi pada 1812.
- Mula Cacar Menyebar
DI masa kini, cacar bukanlah penyakit menakutkan. Orang bisa dengan tenang menghadapinya lantaran akses layanan kesehatan sudah terjangkau dan makin mutakhir. Paling banter, orang akan merisaukan bekas lepuhan yang berubah jadi koreng lantaran sulit hilang. Kerisauan akan penyakit ini cenderung rendah sekarang. Hal itu berbeda jauh dari zaman dulu. Mereka amat menakutinya. Sebelum masyarakat mengetahui cacar, mereka menganggap kemunculan cacar akibat ulah makhluk halus yang datang dari laut. Penduduk Pulau Buru bahkan sampai punya kepercayaan untuk menghindari pantai dan laut. Untuk mencegah cacar masuk ke desa, mereka melakukan ritual dengan membangun rakit kecil untuk melarung penyakit ke tempat asalnya. Di Kubu, Sumatera dan orang Dayak di Borneo percaya untuk menghindari cacar mereka dilarang pergi ke dataran rendah dan berada di sekitar orang asing. Bila harus melakukan transaksi, mereka akan melakukan barter bisu, melakukannya dari jarak jauh, dan menghindari dataran rendah. Kebiasaan itu berhasil menghindarkan orang Kubu dari epidemi cacar. Dalam seabad, tercatat hanya tiga kali Kubu terserang wabah cacar, jauh lebih sedikit dibanding daerah lain.
- Serba-serbi Senjata Biologis
SEJAK pengumuman kasus positif corona di Depok, Jawa Barat oleh Presiden Joko Widodo pada Senin (2/3/2020), pemberitaan virus corona mendominasi pemberitaan nasional. Kasus corona bahkan memicu kepanikan masyarakat dengan memborong masker dan sembako. Virus corona yang sebelumnya bernama “Flu Wuhan”, pernah diprediksi Dean Koontz dalam novelnya terbitan 1981, The Eyes of Darkness. Konon virus itu merupakan buah pikiran para ilmuwan China untuk kemudian dijadikan senjata biologis. Dalam novelnya, Koontz mengisahkan virus itu bernama “Wuhan-400” lantaran dikembangkan sebagai senjata yang sempurna di laboratorium dekat kota Wuhan. Kengerian itu lalu dibocorkan seorang ilmuwan China.
- Gelegar Senjata Biologis Cacar
SEBELUM vaksinnya ditemukan, penyakit cacar amat mematikan. Daya mematikannya makin bertambah karena virusnya mudah menyebar. Wabah cacar pun menjadi teror mengerikan bagi penduduk. Kengerian inilah yang dimanfaatkan para komandan perang untuk melemahkan pasukan lawan. Pada awal abad ke-14, tentara Tartar melempari musuhnya dengan mayat penderita cacar untuk melemahkan lawan. Praktik ini jadi salah satu contoh penggunaan cacar sebagai senjata biologis untuk membunuh sebagian besar populasi. Dalam “Smallpox: a Disease and a Weapon”, fisikawan Rusia Dr. Ken Alibek menyebut cacar dijadikan senjata biologis dalam perang antara Prancis dan Inggris di Amerika Utara (kini Kanada) pada 1754-1767. Sebagian penduduk Indian di Amerika Utara berada di pihak Prancis. Banyaknya pasukan dari pihak Prancis membuat Inggris putar otak untuk mencari siasat.
- Mencetak Generasi Pertama Ahli Biologi Indonesia
DI awal kemerdekaan, pemerintah Indonesia hendak membangun tradisi ilmiah baru yang nasionalis. Pemerintah menasionalisasi lembaga-lembaga ilmiah yang telah berdiri sejak masa kolonial dan menyingkirkan para administrator ilmiah Belanda pada 1950-1951. “Dan saat itu para ilmuwan Indonesia bertanggung jawab atas upaya penciptaan berbagai disiplin ilmu pengetahuan Indonesia,” tulis Andrew Goss dalam Belenggu Ilmuwan dan Pengetahuan: Dari Hindia Belanda sampai Orde Baru. Salah satu bidang yang menjadi titik mula pengembangan sains adalah biologi. Tokohnya Koesnoto Setyodiwiryo, sarjana pertanian dari Wageningen University, Belanda. Semasa pendudukan Jepang dia menjabat Kepala Biro Penelitian Pertanian dan pada medio 1950 menjabat Direktur Kebun Raya Bogor. Dialah yang berinisiatif bahwa disiplin biologi profesional harus dikembangkan oleh ahli biologi Indonesia sendiri.
- Tanggung Jawab Soeharto dalam Penembakan Misterius
APARAT keamanan memiliki standar operasional prosedur dalam menggunakan senjata api ketika akan meringkus penjahat. Peluru dilepaskan bila penjahat melawan atau melarikan diri. Sasarannya pun biasanya kaki, meski sering juga mengenai anggota tubuh lain yang membuatnya mati. Namun, pada 1983, rezim Orde Baru menerapkan kebijakan yang ditakuti para penjahat bahkan preman: tembak mati. Mereka bisa mati kapan saja oleh penembak misterius sehingga disebut petrus. Selama beroperasi, petrus telah menghabisi ribuan korban jiwa. Komisi untuk Orang Hilang dan Tindak Kekerasan (Kontras) mendata puncak tertinggi korban petrus terjadi pada 1983 dengan 781 orang tewas.
- Aksi Jerman Barat Merebut Hati Presiden Sukarno
KURANG dari setahun sebelum peristiwa Gerakan 30 September 1965, sejumlah pejabat tinggi Jerman Barat, termasuk Duta Besar Jerman Barat untuk Indonesia Dr. Luitpold Werz, bertemu di Bonn pada Desember 1964. Pertemuan itu salah satunya membahas arah politik Indonesia, termasuk sikap pemerintah Sukarno terhadap negara-negara komunis seperti Tiongkok dan Jerman Timur. Sikap pemerintah Indonesia yang berupaya netral dalam Perang Dingin membuat gelisah Jerman Barat. Bagi Jerman Barat, yang beraliansi dengan Amerika Serikat, sikap tersebut tidak hanya membuat Indonesia target strategis penyebaran komunisme di Asia Tenggara, yang dikhawatirkan meluas hingga Australia, tetapi juga berpotensi mendukung keberadaan dua negara Jerman. Jerman Barat mengumumkan Doktrin Hallstein untuk menangkal pengakuan hukum internasional terhadap Republik Demokratik Jerman atau Jerman Timur. Kebijakan itu diambil dari nama Walter Hallstein, Sekretaris Negara Kementerian Luar Negeri Jerman (1951–1958) dan presiden pertama Komisi Masyarakat Ekonomi Eropa. Doktrin itu menganggap hubungan diplomatik negara-negara Dunia Ketiga dengan Jerman Timur sebagai tindakan tidak bersahabat karena berpotensi memperdalam perpecahan Jerman.
- Lambatnya Penanganan Pandemi Flu Spanyol di Hindia Belanda
PEMERINTAH penting sekali memahami pandemi di masa lalu. Pengalaman menghadapinya dapat dijadikan pelajaran berharga dalam menangani pandemi Covid-19. Khususnya pengalaman ketika pandemi Flu Spanyol melanda dunia termasuk Indonesia ketika berada di bawah pemerintah kolonial Hindia Belanda. "Banyak yang bisa dipelajari, dampaknya juga luar biasa. Kalau sudah pernah mengalami, sudah ditulis dengan bagus, banyak sumber yang bisa dipelajari kemudian disebarluaskan, kita tak perlu mulai dari zero. Kita hidup dalam pandemi justru harus takut kalau tidak tahu apa-apa," kata Herawati Supolo Sudoyo, peneliti dari Lembaga Biologi Molekuler Eijkman, dalam dialog sejarah "Riwayat Pandemi dari Masa ke masa" yang disiarkan langsung di Youtube Historia.ID, Kamis, 24 September 2020. Hera mengatakan, waktu Flu Spanyol menyerang pada awal abad ke-20, sudah muncul ide dan pemikiran bahwa kerumunan akan menyebarkan penyakit. "Ketika itu pun ada larangan untuk berkumpul," ujar Hera.





















