Hasil pencarian
Cari di situs ini
10054 hasil ditemukan dengan pencarian kosong
- Jika Gatot Soebroto Bilang Monyet
SUATU hari di tahun 1947. Dua perwira pertama dari Markas Besar TNI di Yogyakarta menghadap Kolonel Gatot Soebroto, Panglima Divisi II Sunan Gunung Djati. Salah satu misi mereka adalah menyerahkan sebuah surat penting dari Kolonel Tjokronegoro (Wakil Kepala Staf TNI). Alih-alih menerima surat berbahasa Belanda tersebut, Gatot malah memerintahkan salah seorang perwira itu untuk membacakannya. “Monyet! Bahasa Belandamu bagus juga ya!” komentar Gatot usai sang perwira pertama itu membacakan surat dari Kolonel Tjokronegoro. Adegan dalam film Kereta Api Terakhir (1981) itu bisa jadi hanya rekaan semata. Namun kata “monyet” yang keluar dari mulut Kolonel Gatot sudah dipastikan memang benar adanya. Menurut Laksamana Pertama (Purn) Iman Sardjono (91) yang sangat mengenal Gatot Soebroto, kata “monyet” yang keluar dari mulut mantan bintara KNIL itu merupakan hal positif.
- Nyai yang Berbahagia
BEGITU menerima gaji pertamanya, Kopral KNIL Piet Scholte amat senang. Dia buru-buru pulang untuk menyerahkan gajinya kepada Djemini istrinya. Setibanya di rumah, Piet mendapati Djemini sedang duduk-duduk. Sambil malu-malu, Piet lalu menaruh uang gajinya di pangkuan Djemini. “Uang ini harus saya apakan?” tanya Djemini. “Untukmu dan untuk belanja keperluan sehari-hari. Saya hanya butuh sebelas sen untuk beli tembakau dan kertasnya,” jawab Piet sambil menahan tawa. Kehidupan harmonis keluarga Piet-Djemini merupakan anomali di masa kolonial yang sarat diskriminasi rasial. Di tengah jamaknya perlakuan buruk dan sewenang-wenang pria kulit putih pada gundik mereka, Piet justru menganggap dan memperlakukan Djemini murni sebagai istri. Sejak awal menjalin hubungan, Piet tak pernah menganggap Djemini gundik, yang tugasnya semata sebagai teman tidur.
- Perubahan Wajah Manusia
WAJAH manusia masa kini telah berubah dari wajah milik spesies manusia lainnya yang telah punah. Pun dengan kerabat terdekat manusia secara evolusioner, seperti bonobos dan simpanse, wajah kita berbeda. Kenapa begitu? Arkeolog dari Universitas Flinders, Ian Moffat dalam The Conversation menulis spesies Homo erectus adalah nenek moyang pertama manusia yang secara fisik sudah mulai menyerupai manusia masa kini. Mereka lebih tinggi dan otak mereka lebih besar dari spesies hominin sebelumnya seperti Australopithecus sp. atau Homo habilis. Namun, mereka memiliki wajah yang agak berbeda dengan kita, yaitu datar dengan alis yang lebih menonjol,. Bukti fosil menunjukkan, wajah manusia telah banyak berubah dalam 20.000 tahun terakhir. Menurut Paul O’Higgins, profesor anatomi University of York di Inggris, pola makan, fisiologi pernapasan, iklim, dan lingkungan adalah faktor utama yang membentuk wajah.
- Bahaya Laten PKI hanya Halusinasi
PASCA 1965, nasib buruk tidak hanya menimpa orang-orang yang dituduh terlibat G30S. Anak dan cucu dari mereka yang bersinggungan dengan PKI atau organisasinya juga kena getahnya. Stigma pemberontak atau pengkhianat negara terus dilekatkan pada mereka yang bahkan ketika peristiwa kelam itu terjadi, masih berusia seumur jagung. Sejarawan Lembaga Ilmu Pengetahuan (LIPI) Asvi Warman Adam dalam dialog sejarah “Ngeri-Ngeri Kebangkitan PKI” live di saluran Facebook dan Youtube Historia.ID, Selasa 7 Juli 2020, menyebut bahwa stigma ini harus dihentikan karena “dosa” orang tua tidak seharusnya ditanggung oleh anak cucunya. “Jadi, ini yang seyogianya dipahami oleh masyarakat, kita tidak menganut dosa turunan. Jadi, kalau orang tuanya PKI atau anggota ormas kiri, anaknya tidak otomatis akan menganut ajaran komunis,” kata Asvi.
- Perubahan Peran Perempuan di Nusantara
PENELITIAN genetis menunjukkan kemungkinan migrasi Austronesia ke kepulauan Nusantara hingga Oceania didominasi oleh masyarakat yang menganut paham matrilineal. Ini menyiratkan bahwa perempuan berperan besar dalam kependudukan di kawasan itu. "Mereka sepertinya telah sangat mendominasi migrasi pada masa lalu. Sistem kekerabatan matrilokal atau matrilineal pun diduga mendukung fenomena itu," ujar Marlin Tolla, peneliti Balai Arkeologi Papua dalam diskusi via zoom, yang diadakan Pusat Penelitian Arkeologi Nasional (Puslit Arkenas). Kesimpulan itu berdasarkan sampel data DNA mitokondria yang ditemukan pada penduduk Papua. DNA mitokondria diwarisi lewat garis ibu, sedangkan DNA kromosom diwarisi dari garis ayah. Karenanya data DNA mitokondria itulah yang kemudian bisa menunjukkan adanya kontribusi perempuan dalam menciptakan dinamika demografi di wilayah persebaran para penutur Austronesia.
- Bandul Stigma yang Berbahaya
KELUARNYA Peraturan Presiden Nomor 7 tahun 2021 tentang Rencana Aksi Nasional Pencegahan dan Penanggulangan Ekstremisme Berbasis Kekerasan yang Mengarah pada Terorisme (Perpres Ekstremisme) menimbulkan kasak-kusuk publik di media sosial. Pasalnya Perpres Ekstremis itu dikhawatirkan bisa mencederai kehidupan berdemokrasi di tanah air. “Iktikadnya mungkin baik untuk menangani tindak terorisme atau belakangan ini sering terjadi juga tindakan-tindakan intoleransi. Namun ada hal-hal yang mengkhawatirkan dalam praktik berdemokrasi, seperti kebebasan berpendapat atau berorganisasi. Karena di dalam perpres itu orang bisa saling mencurigai lalu saling lapor. Lantas menimbulkan stigmatisasi terhadap mereka yang dianggap punya ideologi berbahaya,” ujar sejarawan Bonnie Triyana dalam diskusi live bertajuk “Politik Stigma dalam Sejarah Indonesia” di Instagram, Facebook, dan Youtube Historia.ID, Jumat (29/1/2021) malam. Stigma, cap, label, atau stempel berulang-ulang terjadi seiring zaman. Bahkan acapkali masih bertahan sampai sekarang mesti kejadiannya sudah lewat jauh. Seperti stigmatisasi terhadap orang-orang kiri pasca-Peristiwa 1965. Selain para kader maupun simpatisan Partai Komunis Indonesia (PKI) dibunuh atau dipenjara tanpa proses hukum, mereka yang dicap kiri mengalami pengucilan akibat stigma itu. Pola itu cenderung bisa berulang dewasa ini.
- Cinta dan Kebahagiaan Sejati dalam Kamasutra
KAMASUTRA karya penulis India, Vatsyayana, banyak dipahami sebagai teks yang berisi tentang seksual belaka. Lebih dari itu, karya ini memuat cara mencapai kesempurnaan kama, yakni salah satu dari empat tujuan hidup manusia (Catur Purusa) dalam Hinduisme. Riley Winters dalam “The Kama Sutra: Setting the Record Straight” terbit di Ancient Origins menjelaskan kama dalam arti kata yang paling umum dapat merujuk pada kasih sayang, cinta, rangsangan estetika, atau keinginan. “Tidak selalu berhubungan dengan seksualitas,” jelasnya. Kamasutra menjadi karya yang memiliki pengaruh luar biasa dalam kesusastraan umum dan kehidupan artistik India. Ia menjadi dasar bagi banyak tulisan India pada periode berikutnya mengenai cinta. Termasuk di antaranya puisi cinta sanskerta.
- Leluhur Langsung Bangsa Indonesia dari Taiwan
RIBUAN tahun lalu bangsa Indonesia pernah disatukan oleh akar tradisi yang sama: bahasa Austronesia. “Kita semua memang berbeda, tetapi kita memiliki kesamaan yang dirangkai melalui Austronesia sebagai benang merahnya,” ujar Harry Truman Simanjuntak, arkeolog senior Pusat Penelitian Arkeologi Nasional (Puslit Arkenas). Hingga kini, para ahli sepakat bahwa para penutur Austronesia yang datang dari Taiwan adalah leluhur langsung bangsa Indonesia. Dari segi fisik, penutur Austronesia tergolong ras Mongoloid Selatan. Dalam perkembangannya, penampilan fisik memang menjadi sangat beragam. Kemampuan beradaptasi penutur Austronesia terhadap lingkungan baru mendorong terciptanya keragaman etnis. Pengaruh lainnya datang dari interaksi bologis antarkelompok atau dengan pendatang lainnya yang menyebabkan terjadinya percampuran gen.
- Leluhur Kasta Tertinggi India pada Orang Indonesia
ARYATAMA Nurhasyim membuka amplop berisi hasil tes DNA-nya. Dalam diagram lingkaran, ia melihat komposisi genetika leluhur Asia Timur paling dominan. Ia punya 80,85 persen gen leluhur dari wilayah Tiongkok, Korea, Hongkong, Taiwan, dan Jepang. Sementara sebanyak 18,81 persen adalah DNA moyang orang-orang Asia Timur yang menjelajah ke Amerika utara. Lalu 0,02 persen DNA leluhur Timur Tengah. Sisanya, 0,32 persen menunjukkan jejak genetis leluhur dari India-Brahmana. “Lumayan mengejutkan. Menarik yang Brahmin ini,” kata Arya. Sebelum tes DNA, Arya sudah tahu asal-usul leluhurnya memang gado-gado. Ia lahir di Jakarta. Ayahnya berasal dari Kabupaten Bima, Nusa Tenggara Barat. Ibunya orang Riau, Kabupaten Indragiri Hulu.
- Leluhur Orang Papua
ADA dua ras berbeda yang mendiami Kepulauan Nusantara. Ras Mongoloid menempati bagian barat dan utara. Sementara di timur dan selatan ditinggali ras Australomelanesid. Secara fisik, keduanya dengan mudah dapat dibedakan. Orang Papua mewakili ras Australomelanesid. Sementara orang Melayu mewakili ras Mongoloid. Namun, leluhur orang Papua yang tertua tiba di Nusantara. Keberadaannya bisa ditarik mundur sampai masa Homo sapiens atau manusia yang secara anatomis modern, bermigrasi keluar dari Afrika. Harry Widianto, kepala riset Balai Arkeologi Yogyakarta, menjelaskan berdasarkan bukti paleoantropologis, sampai kini benua Afrika masih dipercaya sebagai sumber asal dan tempat evolusi hominid. Homo sapiens diperkirakan mulai menyebar keluar dari benua itu sejak 100.000-300.000 tahun yang lalu. Dengan menyusuri garis pantai dari Afrika, mereka berjalan kaki hingga kawasan Asia Tenggara. Secara berkelompok mereka menyusuri garis pantai dari Afrika sampai Nusantara dengan memanfaatkan jembatan darat yang menggabungkan Sumatra, Kalimantan, dan Jawa. Mereka lalu bergerak ke Halmahera sampai ke wilayah Papua. Merekalahyang kemudian disebut ras Melanesia.
- Dua Rute Migrasi Leluhur Nusantara
PENUTUR Austronesia yang diyakini bermigrasi dari Taiwan bukan satu-satunya populasi ras Mongoloid yang pernah mendiami Nusantara. Ada kelompok lain yang diperkirakan lebih dulu bermigrasi ke Nusantara, bergerak dari Asia Daratan, melewati rute barat. Austronesia adalah istilah yang diberikan ahli linguistik untuk menyebut rumpun bahasa yang dituturkan oleh orang di Kepulauan Indo-Malaysia dan kawasan Oceania. Rumpun bahasa Austronesia terdiri dari 1.200 bahasa dan digunakan oleh sekira 270 juta penutur. Sebelum masa kolonialisme Eropa, persebaran bahasa Austronesia mencapai lebih dari separuh belahan dunia. Penuturnya meliputi Madagaskar di ujung barat hingga Kepulauan Paskah di ujung timur Pasifik, serta dari Taiwan-Mikronesia di batas utara hingga Selandia Baru di batas selatan.
- Bukti Leluhur Austronesia Tertua di Taiwan dan Cina Selatan
BAHASA merupakan warisan utama penutur Austronesia untuk populasi seluas setengah bola dunia, khususnya yang ada di Nusantara. Selain bahasa, jejak mereka juga terlacak lewat warisan biologis dan budaya lainnya. Rumpun bahasa Austronesia bisa jadi terbesar di dunia. Ada sekira 1.200 bahasa dan sekitar 270 juta penutur. Menurut Peter Bellwood dalam “The Austronesians in History: Common Origins and Diverse Transformations”, termuat di The Austronesians, Historical and Comparative Perspectives, itu berkisar dari bahasa dengan puluhan juta penutur, seperti Melayu, Jawa, Tagalog, hingga sejumlah besar bahasa dengan hanya sedikit penutur, yaitu ratusan. “Yang terakhir ini sangat lazim di Oceania,” catat dosen arkeologi di School of Archaeology and Anthropology Australian National University itu. Orang-orang yang skeptis mungkin mempertanyakan apakah 270 juta penutur itu berbagi leluhur budaya dan biologis yang sama? Lalu bagaimana orang-orang yang berbicara bahasa dalam rumpun Austronesia saat ini tidak identik secara fisik?





















