Hasil pencarian
Cari di situs ini
10076 hasil ditemukan dengan pencarian kosong
- Babi Ngepet, Mitos, dan Krisis
FENOMENA “babi ngepet” kembali menggegerkan masyarakat. Seekor babi ditangkap warga Depok dan dianggap sebagai binatang jadi-jadian yang gemar mencuri uang. Belakangan terungkap bahwa kasus ini adalah rekayasa seorang ustad agar menjadi populer dan punya banyak pengikut. Alih-alih menjadi guyonan, fenomena babi ngepet sesungguhnya dapat menjadi diskusi menarik mengenai sejarah dan budaya masyarakat Indonesia. Bagaimana sebetulnya latar belakang kemunculan fenomena ini hingga mengapa binatang babi dipilih menjadi perwujudan praktik ilmu hitam?
- Mengorek Ngondek
KATA “ngondek” sempat trending topic setelah akun @malamtanpakata membuat utas soal dirinya yang menjadi korban seorang lelaki. Dia memposting foto lelaki itu yang dia sebut sebagai Tinder Swindler versi Indonesia. Istilah Tinder Swindler merujuk ke judul film dokumenter yang tayang di Netflix. Pelakunya, Simon Leviev yang mengandalkan paras ganteng dan mengaku kaya, telah menguras harta beberapa perempuan. Kata “ngondek” kemudian muncul setelah warganet melihat video pelaku yang diunggah akun @AsbiansaAbi. Dalam video itu, dia lari dan diteriaki pencuri oleh orang yang juga korbannya. Melihat gerak-geriknya dalam video itu, warganet pun menyebutnya “ngondek”. Kata “ngondek” belum ada dalam KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia). Saya menemukan kata “ngondhek” dalam Kamus Bahasa Madura-Indonesia karya Asis Safioedin yang artinya “menggoyang”.
- Selain Jadi Babi Ngepet
KASUS hoaks babi ngepet di Bedahan, Depok, Jawa Barat, menyedot perhatian orang. Bumbu mistis cerita babi ngepet ternyata masih punya daya tarik cukup kuat pada banyak lapisan masyarakat. Kasus itu berakhir antiklimaks. Polisi menemukan bahwa babi itu sengaja dibeli oleh seorang ustaz agar dirinya terkenal. Mitos babi ngepet telah tersebar lama di kalangan masyarakat Indonesia. Beberapa penulis Belanda dan anak negeri mencatatnya sejak 1920-an. Babi ngepet merupakan cara orang memperoleh kekayaan dengan bersekutu bersama makhluk gaib. Selain babi ngepet, mitos lain yang serupa juga berkembang di masyarakat kolonial.
- Mengungkap Sejarah Babi Ngepet
BABI hutan berwarna hitam muncul di permukiman di Depok, Jawa Barat. Warga menangkap dan melabelinya sebagai babi ngepet. Tapi polisi membongkar drama di balik kemunculan babi ini. Seorang ustaz menjadi tersangka penyebaran hoaks babi ngepet. Menurut polisi, dia membeli babi itu, menaruhnya di permukiman, dan menyebarkan isu. Motif ustaz menyebar hoaks babi ngepet itu ingin terkenal. Isu babi ngepet sempat muncul beberapa kali di sejumlah wilayah Indonesia. Peter Boomgaard, pakar sejarah ekonomi Indonesia, menyebut bahwa isu babi ngepet kadangkala tak melulu berkaitan dengan perubahan ekonomi seperti munculnya uang.
- Serba-serbi Politik Gentong Babi
MASIFNYA penggunaan instrumen kekuasaan untuk memenangkan Pemilu 2024 bukan sekadar mengutak-atik produk hukum namun juga menjadikan bantuan sosial (bansos) sebagai alat politik. Film dokumenter Dirty Vote menyuguhkannya lewat penjelasan politik “gentong babi” yang sudah eksis pada era perbudakan di Amerika Serikat. Dirty Vote yang digarap rumah produksi Watchdog dengan disutradarai Dandhy Dwi Laksono ditayangkan di akun Youtube Dirty Vote dan PSHK Indonesia sejak Minggu (11/2/2024). Dokumenter ini disajikan dengan pendekatan eksplanatori oleh tiga ahli hukum tata negara: Zainal Arifin Mochtar, Feri Amsari, dan Bivitri Susanti. Dalam dokumenter itu, Bivitri bicara perkara anggaran bansos yang acap meroket di setiap tahun pemilu legislatif dan pemilu presiden (pilpres). Tak ayal bansos begitu rawan jadi alat politik untuk menjangkau sebaran suara melalui aparat hingga pejabat negara untuk mengajak masyarakat penerima bansos memilih calon presiden (capres) tertentu.
- John Lie, Penyelundup yang Humanis
SUATU hari di sekitar tahun 1921. Laksamana Muda John Lie tak akan pernah melupakannya. Sebuah kapal eskader Angkatan Laut Belanda berlabuh di Manado. Ukurannya besar dan canggih. Banyak penduduk ingin melihat dari dekat dan menaiki kapal itu dengan membayar 10 sen. John Lie, yang masih berusia sekira 10 tahun, tak punya uang. Tak mau patah arang, ia bersama teman-temannya berenang menuju kapal. Berhasil. Di dekat kapal, ia berkata kepada teman-temannya, ”Nanti saya mau jadi kapten, suatu waktu akan pimpin kapal begini ini,” kenang Bian Loho sebagaimana disitir M. Nursam dalam Memenuhi Panggilan Ibu Pertiwi: Biografi Laksamana Muda John Lie.
- John Lie Mendukung Republik
Menembus blokade Belanda butuh mental baja dan taktik sempurna. John Lie adalah pemuda Tionghoa yang bersedia bertaruh nyawa.
- Ada John Lie di Jalur Rempah
GEMERLAP lampu-lampu di daratan Malaysia terlihat indah dari geladak kapal KRI Dewaruci 19 Juni 2024 malam. Dalam pelayaran di Selat Malaka itu, Dewaruci yang dinahkodai Letnan Kolonel Rhony Lutviadhani kerap bertemu kapal-kapal niaga besar. Selat Malaka saat ini masih jalur pelayaran antar-bangsa yang sangat ramai. Mulanya, laut cukup tenang dirasakan dari atas Dewaruci yang terus meluncur ke arah utara. Namun, hujan kemudian datang hingga subuh. Bahkan, dini-hari 20 Juni 2024 badai terasa di kapal. Hujan dan badai sudah berlalu pada 20 Juni 2024 pagi. Matahari perlahan muncul menggantikan gelap. Dewaruci makin menjauh dari perairan Kerajaan Malaysia dan mendekat lagi pada daratan Sumatra.
- John Lie di Kapal Sekutu
LIE Tjeng Tjoan pernah sekolah di Hollandsch Inlandsch School (HIS) di kota Manado, Sulawesi Utara. Laki-laki kelahiran 21 Maret 1911 itu tak menghabiskan sebagian besar hidupnya di toko. Tapi sebagian masa mudanya dihabiskan di laut. Ketika usianya belum genap 20 tahun, dia sudah meninggalkan Manado dan sempat jadi buruh pelabuhan sebelum melamar jadi pelaut. “Terjun dalam dunia pelaut bukan karena asuhan keluarga, tapi karena keinginan sendiri. Ia menjadi pelaut pada 1929 sewaktu berumur 18 tahun karena tekanan penghidupan dan didorong oleh kemauannya sendiri,” tulis M. Nursam dalam Memenuhi Panggilan Ibu Pertiwi: Biografi Laksamana Muda John Lie.
- Daendels Hukum Mati Pelaku Korupsi
PRESIDEN Joko Widodo memilih menghadiri peringatan Hari Anti Korupsi Sedunia pada 9 Desember 2019 di SMKN 57 Jakarta. Dalam sesi tanya jawab, seorang siswa bertanya mengapa negara tidak berani menghukum mati koruptor? Jokowi menjawab bahwa kalau masyarakat berkehendak, hukuman mati bagi koruptor dapat diakomodasi dalam revisi UU No. 20 Tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor). Sebenarnya hukuman mati sudah ada dalam UU Tipikor, yaitu Pasal 2 ayat (2) bahwa pidana mati dapat dijatuhkan bila korupsinya dalam “keadaan tertentu.” Dalam penjelasannya diterangkan bahwa maksud “keadaan tertentu” adalah tindak pidana korupsi yang dilakukan pada waktu negara dalam keadaan bahaya, terjadi bencana alam nasional, atau negara dalam keadaan krisis ekonomi dan moneter. Selama ini memang belum ada koruptor yang dihukum mati. Terlebih hukuman mati menjadi perdebatan terutama di kalangan pegiat hak asasi manusia. Dalam hal korupsi, mirisnya, pemerintah malah memberikan grasi (keringanan hukuman) kepada para koruptor.
- Hamzah Haz, Wakil Presiden Pilihan MPR
WAKIL Presiden RI ke-9, Hamzah Haz, wafat pagi tadi (24/7) di kediamannya di Tegalan, Matraman, Jakarta Timur dalam usia lanjut 84 tahun. Sepanjang hidupnya, Hamzah dikenal sebagai politisi sekaligus ketua umum Partai Persatuan Pembangunan (PPP), kemudian menteri di era kepresidenan Habibie dan Abdurrahman Wahid. Puncak kariernya ketika Hamzah terpilih sebagai wakil presiden mendampingi Presiden Megawati Sukarnoputri (2001-2004). “Saya diangkat menjadi Wapres di saat bangsa sedang dilanda krisis multidimensi dengan banyak persoalan yang sulit terutama di bidang ekonomi, politik, hukum, keamanan, dan moralitas bangsa,” kata Hamzah dalam pidato pelantikannya dikutip Harian Waspada, 27 Juli 2001.
- Pengusaha Israel Masuk ke Indonesia
SEBAGAI bentuk komitmen dukungan kepada Palestina, Indonesia hingga kini tidak memiliki hubungan diplomatik dengan Israel. Namun, dalam bidang lain, seperti militer, intelijen, dan bisnis, kerjasama terjalin secara rahasia. Indonesia pernah membeli pesawat bekas Israel, Skyhawk, lewat perantaraan Amerika Serikat. Intelijen Indonesia juga pernah mendatangkan pelatih intelijen dari Israel. Bahkan, intelijen Israel beroperasi di Indonesia dengan kedok kegiatan bisnis. Masukanya pengusaha Israel ke Indonesia pernah difasilitasi oleh Duta Besar Luar Biasa dan Berkuasa Penuh Republik Indonesia untuk Republik Singapura Laksamana Madya TNI (Purn.) Soedibyo Rahardjo. Mantan Kepala Staf Umum ABRI itu mengungkapkannya dalam biografinya, The Admiral.





















