top of page

Hasil pencarian

Cari di situs ini

10071 hasil ditemukan dengan pencarian kosong

  • The Flying Dutchman Pertama

    PADA 18 Februari 1913, pesawat Fokker yang dikemudikan Jan Hilgers lepas landas dengan mulus, disambut gegap-gempita ribuan penonton. Pesawat terbang setinggi 600 meter dan berputar-putar di langit Surabaya selama 23 menit. Untuk kali pertama sebuah pesawat mengudara di langit Hindia Belanda. “Untuk pertama kalinya saya melihat bentang alam Hindia yang ternyata sangat berbeda dengan Eropa. Sampai-sampai saya khawatir apa yang akan terjadi jika mesin saya rusak dan terjatuh di sini,” ujar Hilgers dalam wawancara dengan koran Het Nieuws van Den Dag voor Nederlandsch-Indie, 5 Agutus 1920. Johan Willem Emile Louis Hilgers pria berdarah campuran (Indo). Lahir di Probolinggo, Jawa Timur, pada 19 Desember 1886. Pada usia 11 tahun, dia menempuh pendidikan teknik di Amsterdam, Belanda, sampai 1908. Dua tahun kemudian, dia bekerja di Verwey & Lugard, salah satu perusahaan penerbangan pertama di Belanda.

  • Sukarno, Gondang, dan Tor-tor

    PADA Juni 1948, untuk kali pertama sejak Indonesia merdeka, Presiden Sukarno berkunjung ke Sumatra. Pagi 12 Juni, Sukarno berpidato dalam rapat raksasa di Padang Sidempuan yang dibanjiri rakyat. Hujan tak menghalangi mereka untuk mendengarkan pidato Sukarno. Bahkan ada yang datang dari Labuhan Batu (Sumatra Timur-Selatan) dan Pasir Pengarayan (Riau Utara) dengan berjalan kaki menempuh jarak ratusan kilometer. Sorenya, Sukarno memberikan kursus politik. Di kota ini, rakyat mempersembahkan kain Batak (ulos) kepada Sukarno, berikut seekor kerbau sebagai bentuk penghormatan terhadap pahlawan. Setelah rampung, Sukarno menuju Sibolga. “Presiden Sukarno tiba di Tapanuli untuk menggembleng dan mengobarkan semangat persatupaduan rakyat di Kota Nopan, Padang Sidempuan, Sibolga, Tarutung, Balige dalam perjalanannya ke Kutaraja. Semua persatuan menjadi bertambah kuat,” tulis Abdul Haris Nasution dalam Sekitar Perang Kemerdekaan Indonesia: Periode Renville.

  • Perang Ayam

    Clifford Geertz tiba di sebuah desa kecil di Bali awal April 1958 bersama istrinya, Hildred Geertz. Sebagai antropolog, mereka bermaksud meneliti budaya dan masyarakat di sana. Pada hari ke-10 kunjungan, mereka pergi ke sudut desa yang tersembunyi. Di sana, puluhan orang telah berkumpul. Adu ayam tengah dihelat. Geertz dan istrinya menyaksikan dengan seksama. Tiba-tiba seseorang berteriak: “Polisi, polisi!” Orang-orang berlarian. Tak terkecuali Geertz dan istrinya. Geertz menuangkan pengalamannya dalam karyanya “Deep Play: Notes on the Balinese Cockfighting”, termuat dalam Intrepetation of Cultures. Karya itu mengupas aspek antropologis adu ayam (tajen) di Bali. Geertz mengungkapkan, bagi kebanyakan lelaki Bali, tajen menjadi simbol maskulinitas. “Pada arena adu ayam, yang terlihat bertarung memang ayam, tapi ayam-ayam tersebut merupakan perwakilan dari kaum pria di Bali,” tulis Geertz. Namun polisi beranggapan lain. Tajen adalah judi. Kriminal. Jauh dari tujuan awalnya.

  • Kesamaan Sukarno dan Diponegoro

    KISAH mengenai Sukarno selalu menarik dibicarakan, termasuk kisah kesehariannya. Salah satunya percekcokan Sukarno dengan Sjahrir saat mereka diasingkan ke Prapat, Sumatra Utara, semasa agresi militer II. Sjahrir mengumpat Sukarno dengan kata-kata kasar. Bagi sejarawan Asvi Warman Adam, hal itu sangat melecehkan Sukarno baik sebagai kepala negara maupun tokoh bangsa. Asvi menjadi pembicara dalam bedah buku karyanya Menyingkap Tirai Sejarah: Bung Karno dan Kemeja Arrow dan Bung Karno Dibunuh Tiga Kali di Museum Kebangkitan Nasional, Jakarta, 29 Mei lalu. Dia berbicara hanya fokus kepada sebagian kecil dari isi buku-bukunya yang merupakan bunga rampai itu.

  • Rin Tin Tin, Anjing Kandidat Oscar

    SUATU pagi, 15 September 1918, Lee Duncan, ahli mekanik senjata pada Aero Squadron 135 Amerika Serikat, memeriksa reruntuhan bangunan tempat tentara Jerman di Fluiry, barat laut Toul, Prancis. Dia melihat penangkaran anjing untuk perang. Diperkirakan 16 juta hewan seperti kuda, unta, anjing, keledai, dan merpati disebarkan dalam Perang Dunia I. Di Jerman, tempat sekolah anjing militer pertama di dunia didirikan pada 1884, menempatkan 30 ribu anjing, disusul Inggris dengan 20 ribu ekor, dan Prancis 7 ribu ekor. Setiap negara yang terlibat perang menggunakan anjing, kecuali Amerika Serikat.

  • Menyibak Subak

    KABAR gembira datang dari UNESCO, badan PBB yang menangani pendidikan dan kebudayaan. UNESCO menetapkan subak (organisasi pembagian air) dari Bali sebagai warisan budaya dunia. Keputusan ini menambah panjang daftar warisan budaya Indonesia yang diakui UNESCO. Sebelumnya, UNESCO mengakui keris, Candi Prambanan, angklung, dan karinding sebagai warisan budaya dunia. Kemunculan subak tak terlepas dari sistem pertanian yang diterapkan masyarakat Bali sejak berabad-abad lampau.

  • Kawan Penasihat dan Pelawak

    SUARA gamelan berhenti. Bagong masuk ke panggung menemui Petruk. “Truk, Gareng kini punya penyakit aneh. Suka menggigit pantat orang,” kata Bagong. Petruk percaya. Setelah itu, Bagong bertemu dengan Gareng. “Petruk kini berekor,” ujar Bagong mencoba membohongi. Seperti Petruk, Gareng percaya. Keduanya kemudian bertemu. Petruk waspada. Dia menutupi pantatnya dengan tangan. Penasaran, Gareng berusaha melihat pantat petruk. Keduanya berkejaran, hampir berkelahi. Beruntung, Semar datang menengahi. Mereka akhirnya tahu bahwa Bagonglah dalang keonaran ini. Semar berkata, “Membuat isu atau sas-sus itu tidak baik. Cuma bikin celaka orang dan kisruh.” Adegan-adegan ini terdapat dalam acara Ria Jenaka di TVRI pada 1980-an.­ Sebuah acara yang menjadi corong penguasa untuk menyampaikan pesan-pesan pembangunan melalui tokoh panakawan atau biasa disebut juga punakawan. Tokoh-tokoh wayang yang lekat dengan lawakan dan keanehan bentuk tubuh. Tak seperti awal kemunculannya.

  • Bubur Perjuangan dan Roti Asia

    Pada masa pendudukan Jepang, petani harus menyerahkan sejumlah besar padi yang mereka hasilkan. Padahal petani terbiasa menanam padi secukupnya untuk konsumsi sendiri, dan hanya sedikit yang mereka jual ke pasar. Mereka juga umumnya petani kecil, yang mengolah sepetak tanah sendiri atau sewaan kurang dari setengah hektar. Mereka menderita kemiskinan yang kronis dan hampir selalu terlilit utang dan terikat sistem ijon. Kelaparan pun melanda. Untuk menutupi kekurangan beras, menurut sejarawan Universitas Keio, Jepang, Aiko Kurasawa, Jepang mendorong masyarakat memakan jagung, singkong, atau kedelai. Bahkan tanaman yang sebelumnya tak pernah dimakan atau hanya jadi lalaban seperti bonggol pisang, pepaya, dan daun singkong. Sebagai sumber protein pengganti, bekicot jadi pilihan. Penduduk juga terpaksa memakan badur (semacam keladi), yang harus dipotong-potong dan direndam air asin dulu untuk menghilangkan getahnya yang beracun.

  • Masa Gemilang Pattimang

    DESA Pattimang sedang bersolek. Gerbang utama kompleks situs pemakaman Datu Sulaiman dan Andi Patiware dicat ulang. Di kiri-kanan jalan dihiasi walasuji atau bambu yang dirajut dengan indah, hingga terlihat seperti pagar. Di depan gerbang utama itu, penduduk mendirikan bangunan dari atap daun sagu, seakan membungkus badan jalan, sebagai tempat melakukan manre sappera atau makan bersama sepanjang 1 kilometer. Persiapan melakukan hajatan manre sappera itu berlangsung selama seminggu. Menghidangkan sekitar 110 jenis makanan tradisional dan dihadiri puluhan raja dari se-Nusantara.

  • Fifi Young, Indo Nan Jelita

    Siapa tak tertarik padanya. Hidung bangir, kulit putih, badan tinggi semampai, paras yang cantik. Plus kepandaian olah peran dan menari membuat Fifi Young tenar hingga ke Negeri Jiran, Malaysia. Sampai-sampai saat tampil di Kuala Lumpur, Gubernur Selangor yang kerap menonton pertunjukan grup sandiwara kenamaan Miss Riboet Orion memimpin seruan: “One, two, three, we want Fifi.” Nama aslinya Tan Kim Nio. Lahir di Sungai Liput, Aceh 12 Februari 1915, dari ayah Prancis dan ibu peranakan Tionghoa-Aceh. Sam Setyautama dan Suma Mihardja dalam Tokoh-tokoh Etnis Toinghoa di Indonesia menulis kalau Kim Nio tak pernah mengecap pendidikan formal. Di usai 14 tahun dia menikah dengan Njoo Cheong Seng, seorang penulis serbabisa –khususnya novel dan naskah sandiwara– yang juga aktif sebagai sutradara teater. Saat menikahi Fifi, Cheong Seng aktif di grup sandiwara Miss Riboet Orion.

  • Pengikat Angkatan Darat

    "SERANGAN kita sudah saya tetapkan tanggal 1 Maret subuh," kata Marcell Siahaan yang memerankan Letkol Soeharto dalam film komedi sejarah Laskar Pemimpi. Kata-kata itu mirip pernyataan Soeharto dalam otobiografinya, Pikiran, Ucapan, dan Tindakan Saya. Peristiwa Serangan Umum 1 Maret 1949 yang digambarkan dalam sejarah versi Orde Baru menyanjung Soeharto dan melupakan Sultan Hamengkubuwono IX sebagai konseptor dan Kolonel Bambang Sugeng sebagai pemberi perintah. Padahal Letnan Kolonel Soeharto hanyalah salah satu pelaksana operasi di lapangan.

  • Dari Pemujaan hingga Bisnis

    CALIGULA, Kaisar Romawi (37-47 M), pernah hampir menjadikan kudanya, Incitatus, sebagai konsul (salah satu pimpinan Kekaisaran Romawi). Caligula menyanjung kudanya lantaran beberapa kali menang balap chariot (kereta kuda). Balapan ini mulai diminati masyarakat Romawi dari semua kalangan sejak abad ke-6 SM. Beberapa Kaisar Romawi bahkan menggunakan ajang ini sebagai alat politik untuk mempertahankan kekuasaan. Pada 530 SM, Raja Lucius Tarquinis Superbus memerintahkan pembangunan Circus Maximus, arena khusus untuk balap chariot. Dia menginginkan kemegahan Kerajaan Romawi termanifestasi dalam salah satu amphiteater (arena) tertua dan terbesar di Roma ini. “Panjang bangunan ini 1800 kaki, lebarnya 600 kaki. Bentuknya seperti leter U panjang. Di tengah lapangan amphiteater ini terdapat semacam barikade panjang, disebut Spina,” tulis majalah Varia, 20 September 1961.

bg-gray.jpg
Tedy masuk militer karena pamannya yang mantan militer Belanda. Karier Tedy di TNI terus menanjak.
bg-gray.jpg
Pemilihan Augustine Magdalena “Tiene” Waworuntu sebagai walikota Manado menjadikannya walikota perempuan pertama pasca pembubaran RIS. Pemilihannya menimbulkan polemik daerah-pusat, hingga menyeret militer.
bg-gray.jpg
Dua anggota legiun Mangkunegaran ikut serta gerakan anti-Belanda. Berujung pembuangan.
bg-gray.jpg
Rumah Sakit Bethesda Yogyakarta merupakan buah kasih dokter misionaris Belanda bernama J.G. Scheurer yang dijuluki Dokter Tolong.
bg-gray.jpg
Rumah yang pernah digunakan untuk mendidik kesadaran politik rakyat. Kini sepi pengunjung.
bottom of page