top of page

Hasil pencarian

Cari di situs ini

10071 hasil ditemukan dengan pencarian kosong

  • Makanan Jiwa dari Sang Pematung

    Bagi sebagian besar warga Jakarta, patung Selamat Datang di bundaran Hotel Indonesia, patung Dirgantara di Pancoran, atau patung Pembebasan Irian Barat di Lapangan Banteng tentu tak asing lagi. Seniman Edhi Sunarso menjadi pelaksana penggarapan ketiga patung monumental tersebut. Lahir di Salatiga, 2 Juli 1933, perjalanan Edhi di dunia seni menyimpan kisah unik. Dalam katalog pameran “The Monumen”, digelar di Galeri Salihara, Agustus 2010, Edhi menceritakan, menjadi seniman tak pernah dia bayangkan sebelumnya.

  • Terowongan Neyama Romusha

    PADA 17 November 1942, Sungai Brantas meluap, merendam 150 desa dan 9.000 rumah di Kabupaten Tulungagung. Luapan air juga menghancurkan areal pertanian. Genangan air di daerah hilir membentuk tanah berawa yang luas, yang oleh penduduk setempat disebut “campur darat.” Untuk mengatasinya, pemerintah Karesidenan Kediri membangun sebuah terowongan melalui wilayah perbukitan untuk menguras air yang masih menggenangi rawa-rawa ke Samudra Hindia. Selain itu, diharapkan terowongan itu bisa menjaga tanaman padi, yang sedang diintensifkan Jepang untuk menyuplai pasokan makanan tentaranya di medan perang.

  • Kain Kulit Kayu

    SEHELAI kulit kayu ivo terentang di atas balok kayu kanore. Farida, berusia 54 tahun, memukulkan ike di genggaman tangannya ke lembaran kulit kayu itu. Irama pukulannya statis, layaknya sedang menumbuk padi. Terhantam ike, kulit kayu menipis dan melebar. "Ini baru tahap awal setelah pemotongan dan pengeratan kulit kayu dari tungkainya. Proses pemukulan dengan ike memakan waktu sehari," ujar Farida, seorang pengrajin kulit kayu asal Desa Pandere, Sulawesi Tengah, saat dijumpai di Museum Tekstil, Jakarta.

  • Si Putih yang Mendunia

    KEMEJA Arrow pernah bikin Sukarno dan Sjahrir bertengkar semasa sama-sama jadi tawanan Belanda. Peristiwa tersebut terjadi saat Sukarno meminta kemeja Arrow kepada penjaga tahanan. Karena jenggah, Sjahrir berucap: "Kamu ini kan presiden, kenapa minta-minta seperti itu? Jaga martabat, Bung!" Kisah tersebut memang hanyalah fiksi, tertulis dalam novel Presiden Prawiranegara garapan Akmal Nasery Basral. Meski demikian, kecintaan Bung Karno terhadap kemeja Arrow adalah sebuah kenyataan. Dalam Menyingkap Tirai Sejarah Bung Karno & Kemeja Arrow, sejarawan Asvi Warman Adam merujuk catatan Maulwi Saelan, ajudan Presiden Sukarno, yang menuliskan saat keluar istana Bung Karno meninggalkan banyak buku dan benda lainnya seperti arloji dan kemeja Arrow.

  • Gejolak Revolusi di Selatan Jakarta

    JEANETTE Tholense mengenangnya sebagai peristiwa kelam dalam hidupnya. Suatu siang Oktober 1945, segerombolan pemuda bersenjata menggeruduk rumah orangtuanya di Kerkstraat (kini Jalan Pemuda), Depok. Selain merampok, para pemuda prokemerdekaan itu membunuh salah seorang saudaranya, Hendrick Tholense. Merasa tak aman lagi, Jeanette dan keluarganya mengungsi ke rumah saudara di Jalan Bungur. Alih-alih terlindungi, mereka malah menjadi tawanan para pemuda. “Semua disuruh buka baju. Yang lelaki tinggal pakai celana kolor dan yang perempuan tinggal pakaian dalam saja. Kami digiring ke Stasiun Depok Lama,” ujar perempuan kelahiran Bandung, hampir 76 tahun lalu.

  • Berlayar Sampai Madagaskar

    Orang Indonesia adalah nenek moyang penduduk Madagaskar, demikian penelitian yang dimuat dalam jurnal Proceedings of the Royal Society B, 21 Maret 2012. Ahli biologi molekuler Universitas Massey Selandia Baru, Murray Cox, memimpin penelitian untuk menganalisis DNA mitokondria yang diturunkan lewat ibu dari 2.745 orang Indonesia yang berasal dari 12 kepulauan dengan 266 orang dari tiga etnis Madagaskar (Malagasi): Mikea, Vezo, dan Andriana Merina. Menurut Cox, seperti dikutip The Australian (21/3/2012), hasil riset tersebut menyimpulkan bahwa sekira 30 orang perempuan Indonesia menjadi pendiri dari koloni Madagaskar 1.200 tahun silam. Mereka disertai beberapa lelaki yang jumlahnya lebih sedikit.

  • Nusantara dalam Kitab Tiongkok

    SEJARAH kuno Indonesia tak bisa dilepaskan dari sumber-sumber Tiongkok. Selama ini, sejarah ditulis berdasarkan sumber Tiongkok yang dihimpun oleh W.P. Groeneveldt dalam Notes on Two Malay Archipelago and Malacca Compiled from Chinese Resources (1880), yang baru-baru ini diterjemahkan menjadi Nusantara dalam Catatan Tionghoa. Berdasarkan buku ini pula disusunlah buku babon Sejarah Nasional Indonesia II: Zaman Kuno (1975 dan 1984). Dibanding karya Groeneveldt, buku karya Prof Liang Liji ini, menggunakan sumber-sumber primer yang lebih kaya, yaitu kitab-kitab sejarah Tiongkok kuno.

  • Operasi Pelikaan Ditolak, Gagak Bertindak di Ibukota Republik

    KETENANGAN di Pangkalan Udara (Lanud) Angkatan Udara Republik Indonesia (AURI) Maguwo, Yogyakarta sekira pukul 6 pagi, 19 Desember 1948, itu mendadak berganti kegaduhan. Alarm peringatan meraung-raung seiring mulai menyalaknya meriam-meriam anti-udara. Tetapi perlawanan pasukan pangkalan itu segera dijinakkan pesawat-pesawat tempur P-40 Kittyhawk dan P-51 Mustang dari Skadron ke-18 Commando Java Koninklijke Luchmaacht (Angkatan Udara Kerajaan Belanda Komando Jawa).

  • Hetairai, Pelacur Athena

    SOCRATES, filsuf ternama asal Athena, Yunani, memilih mati minum racun ketimbang hidup mengingkari kebenaran. Pengadilan mendakwanya menyebarkan ajaran yang merusak generasi muda. Sebelum mati, masa hidupnya (470 SM-399) sebagian besar dihabiskan untuk bertanya kepada orang-orang untuk membantu orang lain memperoleh wawasan dan pengetahuan yang benar dengan mencari dan mendapatkannya sendiri. Karenanya metode filsafatnya disebut seni kebidanan (maieutika). Dari kesenangannya bertanya-tanya, dia tak disukai sebagian orang, tapi punya banyak kawan. Salah satu kawan akrabnya, Theodote, seorang hetairai atau pelacur kelas atas masa peradaban Yunani Kuno.

  • Sentuhan Mewah ala Prancis

    Hermes seolah memiliki magnet tersendiri bagi pecinta dunia mode, terutama kaum hawa dari kalangan sosialita. Hermes jadi salah satu penunjuk status sosial. Kisah Hermes berawal ketika Thierry Hermes, kelahiran kota Krefeld (Jerman) pada 1801, bermigrasi ke Prancis pada usia 27 tahun. Trampil mengerjakan benda-benda berbahan kulit, pada 1837 Thierry membuka sebuah toko berlabel "Hermes" di The Grands Boulevards of Paris untuk segmen bangsawan Eropa.

  • Meleburkan Seks dan Mistik

    SERAT Centhini, yang dianggap karya terbesar dan terindah dalam kesusastraan Jawa, ditulis pada abad ke-19. Dia lahir dari rahim keraton Solo. Pangeran Adipati Anom, seorang putra Susuhunan Pakubuwana IV, menginginkan pengetahuan lahir dan batin masyarakat Jawa dikumpulkan. Tiga pujangga keraton ditunjuk untuk membantunya. Kerja keempatnya menghasilkan karya setebal 4.000 halaman lebih yang terbagi atas selusin jilid. Beberapa jilid di antaranya memuat ajaran erotika yang dibalut dengan mistisisme Islam dan Jawa. Inilah yang menarik minat Elizabeth D. Inandiak, seorang Prancis yang menggubah dan menerjemahkan Serat Centhini ke Bahasa Indonesia. "Saya tak pernah membayangkan sama sekali bahwa seks bisa bergabung dengan mistik," katanya dalam kuliah umum "Erotika Nusantara: Serat Centhini" di Teater Salihara, Jakarta, 10 Maret 2012.

  • Mengulik Sejarah Pemantik

    TIGA lelaki terkurung dalam sebuah goa dengan "pasangan" masing-masing. Lelaki pertama ditemani perempuan-perempuan cantik, lelaki kedua minuman keras, lelaki ketiga ratusan pak rokok. Siapakah yang masih hidup 10 tahun kemudian? Ternyata lelaki ketiga yang masih sehat wal afiat. Pasalnya, dia terkurung bersama ratusan pak rokok tanpa korek api. Kisah di atas memang hanya banyolan yang beredar di tengah masyarakat. Namun apa artinya rokok tanpa korek api? Bagi perokok berat, ini seperti kiamat.

bg-gray.jpg
Tedy masuk militer karena pamannya yang mantan militer Belanda. Karier Tedy di TNI terus menanjak.
bg-gray.jpg
Pemilihan Augustine Magdalena “Tiene” Waworuntu sebagai walikota Manado menjadikannya walikota perempuan pertama pasca pembubaran RIS. Pemilihannya menimbulkan polemik daerah-pusat, hingga menyeret militer.
bg-gray.jpg
Dua anggota legiun Mangkunegaran ikut serta gerakan anti-Belanda. Berujung pembuangan.
bg-gray.jpg
Rumah Sakit Bethesda Yogyakarta merupakan buah kasih dokter misionaris Belanda bernama J.G. Scheurer yang dijuluki Dokter Tolong.
bg-gray.jpg
Rumah yang pernah digunakan untuk mendidik kesadaran politik rakyat. Kini sepi pengunjung.
bottom of page