Hasil pencarian
Cari di situs ini
10061 hasil ditemukan dengan pencarian kosong
- Pak Djarot Rebut Surabaya
DARI Pasukan Dalam (yang berisi beragam etnis, termasuk seorang Tionghoa) yang berada di dalam kota Surabaya yang diduduki Belanda, pasukan Republik Indonesia yang bergerilya di luar kota berhasil mendapatkan seragam tentara Koninklijk Nederlandsch Indisch Leger (KNIL). Dengan seragam itulah pasukan Republik di bawah pimpinan Mayor Djarot Subiantoro lalu bergerak. Mayor Djarot adalah perwira yang kala itu menjadi komandan sebuah batalyon di Surabaya. “Pasukan tersebut menyamar sebagai tentara KNIL masuk ke Surabaya. Sepanjang jalan iring-iringan truk berjalan lancar sampai masuk Kampung Patemon, Kedungdoro dan sekitarnya. Pasukan-pasukan dipencar tiap-tiap kampung di seluruh kota Surabaya,” catat Prayoga Kartomihardjo dkk. dalam Monumen Perjuangan Jawa Timur . “Pada waktu itu berlaku gencatan senjata, sentral 5 km TNI harus keluar dari markas Belanda. Adanya pasukan Djarot di dalam kota Surabaya telah dicium oleh pihak Belanda. Setelah 3 hari 3 malam pasukan Djarot ditangkapi oleh Belanda beserta senjatanya dirampas.” Pasukan Djarot menyusup sejak Rabu (10 Agustus 1949) malam ke Surabaya. Koran De Locomotief tanggal 13 Agustus 1949 menyebut, pasukan itu masuk kota dengan memakai truk-truk milik perusahaan minyak, Bataafsch Petroleum Maatschappij (BPM), yang mereka ambil dari Wonokromo. Mereka sudah bersiap masuk kota sekitar pukul 08.00 malam, sebelum jam malam diberlakukan. Koran-koran Belanda menyebut Mayor Djarot sebagai Pak Djarot. Setelah masuk ke dalam kota, Mayor Djarot mendatangi para pengamat militer asing dari Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) untuk urusan sengketa Indonesia-Belanda dalam United Nations Commission for Indonesia (UNCI). Kepada pengamat asing yang semestinya netral itu, Mayor Djarot melaporkan bahwa kota Surabaya berada dalam “kekuasaannya.” Sejak 3 Agustus 1949, sebenarnya Panglima Besar TNI Letnan Jenderal Soedirman sudah memberi perintah untuk melaksanakan gencatan senjata pada 11 Agustus 1949 untuk daerah Jawa serta 15 Agustus 1949. Namun keterbatasan sarana komunikasi membuat perintah panglima besar itu tak bisa langsung sampai kepada para komandan pasukan yang tersebar di daerah-daerah yang tidak bisa dengan cepat dijangkau oleh para kurir. Keterlambatan informasi umum terjadi. Apa yang dilakukan pasukan Djarot itu tentu membuat kondisi riil Indonesia diketahui oleh pihak luar yang tidak tahu duduk perkara sengketa Indonesia-Belanda, terutama pihak Belanda. Belanda kerap memanfaatkan keterbatasan di lapangan untuk menyudutkan posisi Indonesia secara politik. Salah satu koran di Negeri Belanda, Ons Noorden edisi 17 Agustus 1949, bahkan sampai menyebutnya “Pelanggaran Gencatan Senjata.” Pemberitaan macam itu tentu merugikan pihak Indonesia. Koran-koran Belanda tadi, termasuk Het Vrije Volk edisi 16 Agustus 1949, memberitakan bahwa ada dokumen yang ditemukan pihak Belanda berisi informasi bahwa pada 7 Juli 1949 sudah ada perintah dari petinggi tentara RI untuk diadakan serangan terhadap kota-kota yang diduduki Belanda. Adanya pemberitaan Belanda itu membuat militer Indonesia jadi terlihat ketinggalan informasi. Terkait serangan atas kota Surabaya seperti disebut dalam dokumen yang ditemukan Belanda, Mayor Djarot selaku orang yang memimpin pendudukan kota Surabaya akan dijadikan komandan militer kota Surabaya sekaligus Mojokerto dan Solo. Namun meski isu serangan-serangan atas Surabaya, Solo dan Mojokerto itu dimainkan koran-koran Belanda untuk menunjukkan seolah-olah pihak Indonesia tak taat pada perjanjian dan diplomasi, perundingan antara Indonesia dan Belanda terus berlanjut. Bahkan, Belanda kian terpojok dalam diplomasti. Konferensi Meja Bundar (KMB) akhirnya memutuskan tentara Belanda harus angkat kaki dari Indonesia dan kedaulatan Indonesia dipulihkan meski ada banyak utang Belanda yang harus ditanggung pemerintah Indonesia.*
- Politik Adu Domba Inggris
Sama seperti Belanda, Inggris juga menerapkan politik adu domba di beberapa koloninya.
- Sejarah Hari Lahir Pancasila
Mengapa 1 Juni diperingati sebagai Hari Lahir Pancasila?
- Pancasila Rawan Distorsi Bila jadi Alat Legitimasi
JIKA nilai-nilai Pancasila terus dihidupkan dan dipraktikkan oleh semua pihak, baik masyarakat maupun para elite politik hingga pejabat negara, sepertinya persoalan “Indonesia Gelap” maupun “Indonesia Terang” takkan jadi polemik di tengah kehidupan berbangsa sekarang. Terlebih, Indonesia juga punya pengalaman nilai-nilai Pancasila didistorsi jadi instrumen politik dan alat legitimasi.
- Tendang Bola Bisa Hilang Keperawanan?
PERSEPAKBOLAAN putri nasional mulai menggeliat lagi. Berawal dari gelaran Pertiwi Cup akhir 2017, sepakbola putri tanah air kini memiliki Asosiasi Sepakbola Wanita Indonesia (ASBWI) dengan ketuanya Papat Yunisal, eks-pemain Putri Priangan dan timnas era 1980-an. Kedua hal itu menjadi jawaban terhadap penelantaran sepakbola putri selama hampir 30 tahun. Bukan urusan gampang menggalakkan sepakbola di antara kaum hawa. Problemnya tak hanya di dalam, namun juga dari luar lapangan. Kritik yang mengiringinya mencakup banyak segi, mulai dari budaya ketimuran hingga soal kewanitaan (kesehatan perempuan). Banyak yang mengaggap sepakbola bisa menyebabkan kehilangan keperawanan. “Dulu itu memang masih banyak yang berpendapat kalau keperawanan itu bisa hilang kalau kita main bola. Karena gerakan kaki (hingga mengangkang) tendang bola,” kata Papat kepada Historia beberapa waktu lalu. Padahal, lanjut Papat, itu hanya mitos. “Soal keperawanan itu kalau dulu masih dimahkotakan orang, sampai sekarang juga. Ya masing-masing dalam pergaulannya harus dijaga sampai punya suami,” imbuhnya. Menjaga Naluri dan Feminisme Masyarakat juga percaya sepakbola sebagai olahraga agresif dan keras bisa mengubah kodrat perempuan dari feminim menjadi perempuan bernaluri jantan. “Kalau dipaksakan (bermain seperti pria), ia (pemain putri) akan jadi wanita jantan,” kata pakar kesehatan dr. Myrnawati dalam tulisannya yang dimuat Kartini edisi 11 Februari 1985, “Sepak Bola Wanita: Setuju dan Tidak Setuju”. Dampak dari latihan keras sepakbola juga bisa membuat tubuh perempuan meningkat kekar dan berisi. Belum lagi kulit yang jadi kusam dan hitam, bisa mengurangi kecantikan. Anggota Exco PSSI & Ketua ASBWI Papat Yunisal (tengah berkacamata hitam) bersama salah satu kontestan Pertiwi Cup 2017 (Foto: pssi.org) Padahal, pendapat itu tak sepenuhnya benar. Terlebih di mata Papat. “Saya kalau sosialisasi selalu bilang, jangan takut (kulitnya) hitam. Kan ada sunblock atau body lotion. Jangan takut enggak punya suami. Buktinya saya punya suami. Jangan takut tak punya anak. Toh anak saya sudah sepasang. Kita bisa tetap cantik dan feminim kok. Kalau di lapangan saya berharap mereka bermain seperti laki-laki. Habis itu keluar lapangan, ya jadi perempuan lagi,” tandas Papat. Siklus Menstruasi dan Hormon Para penentang sepakbola putri juga kerap mendasarkan penilaian pada perbedaan fisik lelaki dan perempuan. Purnawirawan ABRI (kini TNI) Midyanto, salah satunya. Menurutnya, sepakbola bisa menimbulkan risiko ginekologi dan masalah kesehatan di daerah kewanitaan. “Gerakan-gerakan dalam sepakbola itu berat dan tidak cocok dengan naluri kodrat kewanitaan. Penuh risiko bagi kesehatan. Lari yang dipaksakan, tendangan yang keras, belum lagi rentan kecelakaan,” ujarnya dimuat Majalah Kartini edisi 11 Februari 1985. Namun, pakar kesehatan dr. Myrnawati memaparkan fakta berbeda. Merujuk hasil riset beberapa peneliti di Eropa tentang siklus datang bulan dan hormonal, Myrna menulis, “Dr. Schelle dari Sittard meneliti 111 pemain (bola putri secara acak) dengan hasilnya: hanya 26 persen yang menyatakan menstruasi jadi gangguan saat bermain, delapan persen mengaku dapat menunda datang bulan, 51 persen merasa kurang enak menggunakan tampon, dan 20 persen (memilih) menggunakan tablet (penunda mens).” Hasil riset itu sejalan dengan pengalaman beberapa pesepakbola putri. “Saya ketika itu tidak terganggu (jadwal menstruasi) kok. Malah keluarnya semakin deras dan cepat bersih,” kata Muthia Datau, mantan kiper Buana Putri dan timnas putri PSSI era 1980-an. Soal pengaruh sepakbola pada hormonal dan peningkatan gairah seksual juga menjadi bahasan riset tadi. Sebanyak 65 persen pesepakbola putri, kata riset itu, mengaku kegiatan seksualnya tak terganggu. Sementara 25 persen responden lain mengaku sepakbola justru membuat birahi mereka meningkat. Jurnal Health and Fitness for the Female Football Player: A Guide for Players and Coaches yang diterbitkan Komite Medis FIFA pada 2007 juga mengungkap fakta serupa. Menurut jurnal yang membahas cedera dalam sepakbola dan pengaruh hormonal serta menstruasi yang ditimbulkan sepakbola itu, berkegiatan sepakbola faktanya bisa mengurangi gejala PMS (pra-menstruasi), hingga meringankan keram perut dan nyeri datang bulan. Hasil survei jurnal menyatakan 80 persen pesepakbola putri tetap bisa tampil normal di lapangan atau malah lebih baik saat menstruasi. Sebuah tim putri dari Paraguay tengah berlatih, gambaran bahwa di negeri Amerika Latin pun segala persoalan sepakbola putri diperhatikan, termasuk soal kesehatan (Foto: fifa.com) Soal kesuburan, kata jurnal FIFA, kelebihan maupun kekurangan latihan bisa menghambat perkembangan ovum (sel telur). “Porsi latihan harus disesuaikan dengan tepat untuk meningkatkan potensi kehamilan. Jika porsinya tepat, wanita bisa lebih cepat hamil dan melahirkan,” tulis jurnal itu. Namun, jurnal itu menyarankan agar sepakbola tak dimainkan oleh ibu hamil karena mempengaruhi kenormalan detak jantung. Sementara untuk pasca-melahirkan, disarankan mengikuti anjuran dokter tentang kapan boleh merumput lagi. “Dua pekan setelah melahirkan, saya sudah mulai latihan dan bermain lagi lima bulan pasca-melahirkan. Namun memang sulit menyisihkan waktu untuk menyusui ketika latihan dan pertandingan,” aku Martina Voss, mantan pemain timnas putri Jerman dalam jurnal itu. Fakta-fakta itu yang mestinya disosialisasikan sehingga para gadis yang ingin bersepakbola tak perlu takut terhadap mitos-mitos yang beredar. “Itu yang dulu jadi salah kaprah. Kesannya wanita tidak boleh kerja berat. Terus gimana dengan olahraga lain? Tinju, gulat, angkat besi. Apa tidak (rentan) merusak tubuh (wanita) juga?” tandas Papat. Baca juga: Totalitas Srikandi Lapangan Hijau Ikon Sepakbola Putri Indonesia Sepakbola Kaum Hawa Merentang Masa Main Bola Bukan untuk Pamer Paha
- Pengemis di Makkah dan Orang Jawa
JAMAAH haji Indonesia umumnya punya reputasi sebagai sosok dermawan di kota Makkah. Para petugas kebersihan yang memunguti sampah di Makkah, baik di tempat umum maupun di hotel-hotel, pun sangat suka berdekatan dengan para jamaah haji Indonesia. Bahkan, mereka membiarkan sampah di tempat lain berserakan dan memilih mendekati jemaah orang Indonesia yang melintas di dekat mereka. Mereka berharap mendapat 5 real (setara Rp22.500) dari orang Indonesia. Tak hanya pengemis berkedok petugas kebersihan, setiap Jumat di musim haji supir bus gratis pembawa jamaah pun minta sedekah 2 real dari para penumpangnya. Begitulah gambaran pengemis di Makkah hari ini. Tidak terlihat seperti pengemis, lantaran mengenakan seragam pegawai kebersihan. “Harap diketahui, bahwa di Makkah-Arafah-Mina cukup banyak para peminta-minta. Bahkan di dalam Masjid Nabawi juga ada yang minta sedeqah dari kita. Namun, golongan ini segera menghindar jika ada askar yang mengawasi dan mengusirnya,” catat Abdul Cholik dalam Dahsyatnya Ibadah Haji.
- Alasan Indonesia Mendukung Pakistan daripada India
INDONESIA dan Pakistan menjalinan persahabatan yang erat dan bertahan selama lebih dari enam dekade. Bahkan ketika Pakistan tengah bertikai dengan India pada 1965, Presiden Sukarno dengan tegas mendukung Pakistan ketimbang India. Padahal, Indonesia dan India juga punya ikatan sejarah penting di masa revolusi kemerdekaan sampai menggagas Konferensi Asia Afrika dan Gerakan Non-Blok. Alasan Sukarno berada di belakang Pakistan karena sesama negara dengan mayoritas penduduk Muslim. Pada masa revolusi kemerdekaan, ratusan orang Pakistan yang tergabung di Divisi British India sebagai pasukan Sekutu membelot dari kesatuannya dan enggan berhadapan dengan kombatan Indonesia. Alasan lain adalah kebijakan luar negeri India yang membela Malaysia ketika Indonesia terlibat konfrontasi dengan Malaysia. Hal ini karena India bagian dari Commonwealth atau negara-negara persemakmuran Kerajaan Inggris.
- Perseteruan India-Pakistan di Priangan
SETELAH konflik yang menyebabkan beberapa jet tempur India ditembak jatuh beberapa waktu lalu, konflik India-Pakistan memasuki babak baru. Kedua negara bertetangga yang sama-sama memiliki nuklir itu kini terlibat pertempuran udara menggunakan pesawat nirawak (drone). “Insiden atau perang drone terjadi pada 8 Mei 2025, sekitar pukul 20.00 waktu setempat. Suar merah terlihat melesat di langit malam di atas Kota Jammu, India utara, ketika sistem pertahanan udara India menembakkan rudal untuk mencegat drone yang dikirim dari wilayah Pakistan. Selama empat hari bentrokan, India dan Pakistan yang selama ini mengandalkan jet tempur, rudal konvensional, dan artileri, mulai menguji kekuatan armada drone mereka,” demikian kompas.com, 27 Mei 2025, memberitakan. Pertempuran udara menggunakan drone itu seakan memutakhirkan konflik kedua negara yang telah muncul sejak keduanya merdeka hampir 80 tahun silam. Setidaknya empat kali (1947-49, 1965, 1971, 1999) kedua negara bertetangga itu terlibat perang sejak merdeka pada 1947.
- Jejak Langkah Kapolri Pertama
Raden Said Soekanto Tjokrodiatmodjo, sang Kapolri pertama Indonesia.
- Desukarnoisasi
Desukarnoisasi terjadi pada masa Orde Baru. Upaya ini untuk mengecilkan bahkan menghilangkan peran Sukarno dalam sejarah Indonesia.
- Kerusuhan Rasial Terhadap Tionghoa
PADA 1813, tuan tanah kaya Han Ti Ko di Probolinggo dibunuh dan menimbulkan kekacauan sosial lebih luas ke kabupaten sekitarnya. Penduduk sekitar menyebutnya Ketoebroek Tjina atau serangan terhadap Cina. Encyclopaedia van Nederlandsch Indie menyebutnya Keproek Tjina ! Ini bukan kasus pertama dan terakhir. Sejarah mencatat betapa kerusuhan rasial bak api dalam sekam. Dipicu masalah sepele hingga prasangka yang sudah berurat-akar sedari dulu, kerusuhan bisa meledak. 1740 Pemberontakan terhadap VOC yang berujung pembantaian rasial terhadap orang Tionghoa di Batavia. Di Semarang, mereka mengepung pos VOC, dan kemudian jadi sekutu Pakubuwana II. Namun, pasukan VOC akhirnya memukul mundur dan membunuh semua orang Tionghoa. 1813 Kerusuhan sosial di Probolinggo, Panarukan, Besuki, Lumajang, Puger, dan Bondowoso akibat dominasi politik dan ekonomi para pengusaha Tionghoa. 1825 Pembantaian pertama yang dilakukan orang Jawa terhadap penduduk Tionghoa menjelang Perang Jawa. 1912-1918 Karena sentimen dagang, kerusuhan anti-Tionghoa meledak di Surabaya dan Solo, kemudian meluas ke Bangil, Tuban, Rembang, Cirebon, dan Kudus. 1945-1949 Di masa revolusi, terjadi kerusuhan rasial di sejumlah daerah: Surabaya, Tangerang, Bagansiapiapi, Palembang, dan sebagainya. 1963 Bermula dari keributan di kampus Institut Teknologi Bandung, pecah kerusuhan di Cirebon yang merembet ke tempat lain di Jawa Barat (Bogor, Cianjur, Sukabumi, Garut, Cipayung, dan terparah di Bandung) dan ke daerah lain seperti Tegal, Slawi, Yogyakarta, Malang, Surabaya, dan Medan. 1965-1968 G30S mengakibatkan penangkapan, pembunuhan, serta pengrusakan toko dan rumah orang Tionghoa di sejumlah daerah. 1970 Kerusuhan rasial di Manado. 1973 Pengrusakan terhadap toko Tionghoa karena menggunakan kertas bertuliskan huruf Arab sebagai pembungkus di Palu dan serempetan mobil dengan gerobak di Bandung. 1974 Pengrusakan di Jakarta sebagai dampak Peristiwa Malari. 1980 Pengrusakan rumah dan toko akibat kasus majikan-pembantu di Ujung Pandang serta perkelahian di Medan dan Solo. 1986 Pengrusakan mobil dan toko akibat masalah pembantu-majikan di Surabaya. 1995 Pengrusakan karena kasus penamparan di Purwakarta dan penghinaan agama Islam di Pekalongan. 1996 Tak bisa menonton konser Iwan Fals, terjadi pengrusakan toko di Bandung. 1997 Pengrusakan rumah dan toko karena percekcokan di Rengasdengklok dan pembacokan di Ujung Pandang. 1998 Berangkat dari krisis moneter, kerusuhan rasial di Jakarta, Solo, Medan, Surabaya, dan sejumlah daerah.*





















