Hasil pencarian
9797 hasil ditemukan dengan pencarian kosong
- Dari Bagelen ke Purworejo
DAHULU wilayah Kabupaten Purworejo lebih dikenal sebagai wilayah tanah Bagelen. Sejarahnya mewariskan ide-ide tentang pembangunan desa yang mampu memakmurkan rakyatnya. Para pelancong mencatat Purworejo sebagai kota yang bersih dan apik. Kota kecil dengan 12.000 penduduk pasca Perang Jawa itu telah dikelola dengan sangat baik. “Tidak berkembang begitu saja. Tapi berkembang dengan urban planning,” kata sejarawan Peter Carey dalam diskusi “Perspektif Baru Sejarah Purworejo: 190 Tahun Membangun” yang diadakan Dinas Komunikasi dan Informatika (Dinkominfo) Purworejo yang disiarkan lewat Youtube, Rabu (24/02/2021). Sebelum tahun 1831, Purworejo dikenal sebagai Brengkelan atau Kedung Kebo. Nama terakhir merujuk pada tangsi militer dan benteng Belanda yang didirikan pada awal Perang Jawa (1825–1830).
- Child 44, Teror Pembunuhan Berantai di Rezim Stalin?
SUATU hari di Moskow tahun 1953, Kapten Leo Demidov (diperankan Tom Hardy) berusaha menunggu dengan sabar di luar ruangan atasannya. Seraya menunggu, pikirannya melayang ke masa kecilnya yang penuh dinamika. Mulai dari masa dia lari dari panti asuhan semasa Holodomor (bencana kelaparan)hingga jadi pahlawan perang Uni Soviet yang mengibarkan bendera di atas Gedung Reichstag pada Perang Dunia II. Sebuah panggilan lantas membangunkan ke sadar an Leo dari ingatan itu. Di hadapan Mayor Kuzmin (Vincent Cassel), atasannya di polisi rahasia dari Kementerian Keamanan Negara ( MGB ) , Leo diberi tugas memburu dokter hewan bernama Anatoly Brodsky (Jason Clarke) yang menjadi mata-mata yang kerap memberi informasi kepada Kedutaan Inggris di Moskow. Bersama kedua rekan lamanya dari masa perang, Letnan Vasili Nikitin (Joel Kinnaman) dan Letnan Alexei Andreyev (Fares Fares), Demidov melacak dan menangkap Brodsky. Lewat investigasi brutal, Brodsky menyebut tujuh nama terduga mata-mata lain.Yang mengagetkan, salah satu nama terduganya adalah istri Leo, Raisa Demidova (Noomi Rapace). Baca juga: John le Carré di Antara Dunia Mata-mata dan Sastra Sementara itu, muncul kasus pembunuhan di Moskow yang korbannya adalah putra Alexei, sahabat Leo. Oleh Mayor Kuzmin kematian putra Alexei ditetapkan sebagai kecelakaan tertabrak kereta, bukan pembunuhan. Alexei dan keluarganya yang berduka diminta tutup mulut dan wajib mengakui laporan resmi Kuzmin. Dua kasus itu diparalelkan sineas Daniel Espinosa dalam membuka film thriller misterinya yang bertajuk Child 44 . Film ini diadaptasi dari novel laris berjudul sama karya Tom Rob Smith. Adegan Kapten Leo Demidov yang tak rela menyatakan istrinya sebagai terduga mata-mata (Summit Entertainment) Plot cerita beringsut pada pergulatan nurani Leo yang meminta Alexei tak meneruskan permintaannya untuk menginvestigasi kematian putranya. Pasalnya, pemimpin “Negeri Tirai Besi” Joseph Stalin berjargon bahwa pembunuhan adalah penyakit dari kapitalisme. “Kau harus ingat, Alexei. Tidak ada yang namanya pembunuhan di ‘surga’ (Soviet),” kataLeo mewanti-wanti. Baca juga: The Death of Stalin , Kematian Stalin dalam Banyolan Meski begitu, diam-diam Leo minta bagian forensik melakukan autopsi. Hasilnya mengungkapkan fakta bahwa putra Alexei meninggal karena dibunuh. Sial bagi Leo, hal itu tercium Kuzmin dan Vasili yang iri kepada Leo. Keduanya bersekongkol untuk menyingkirkan Leo. Di sisi lain, Leo menolak menyatakan istrinya terlibat kasus spionase Brodsky. Tetapi karena reputasi Leo sebagai pahlawan perang, ia dan Raisa urung dieksekusi. Keduanya hanya diasingkan dan didemosi dari MGB ke Militsiya (polisi rendahan di Volsk) di bawah pimpinan Jenderal Mikhail Nesterov (Gary Oldman). Adegan Leo Demidov yang sudah didemosi, menuntut dibukanya investigasi kasus pembunuhan berantai kepada Jenderal Nesterov (Summit Entertainment) Di Volsk, Leo menemukan sebuah kasus pembunuhan anak-anak yang anehnya, luka-luka pada bagian tubuhnya sama dengan yang ia temukan di jasad putra Alexei. Namun ketika Leo berasumsi bahwa itu adalah kasus pembunuhan berantai, Nesterov menolak menginvestigasi dengan alasan yang sama meski sudah lebih dari 44 anak jadi korban. “Pembunuhan adalah penyakit kapitalis,” kata Nesterov. Ketika Leo dan Raisa bertamu ke kediaman Nesterov dan istrinya pada suatu malam, Nesterov baru luluh. S ejak kasus pembunuhan berantai itu muncul, Nesterov pun tak lagi berani membiarkan anak-anaknya berangkat sekolah sendiri. Nesterov akhirnya mengizinkan Leo menginvestigasi kasus pembunuhan berantai itu, mulai dari Moskow hingga Rostov , dengan syarat Leo harus melakoni investigasinya secara diam-diam tanpa terendus MGB. Namun, Leo harus berkejaran dengan waktu. Vasili dan Kuzmin tahu Leo mencoba menginvestigasi kasus pembunuhan dan itu artinya Leo dianggap sebagai pengkhianat sehingga terus memburunya. Di tengah pemburuan itu,Leo akhirnya bisa melacak identitas pelakunya, Vladimir Malevich (Paddy Considine). Bagaimana upaya Leo menangkap Malevich dan kelanjutan investigasinya? Akan lebih seru jika Anda saksikan sendiri Child 44 di aplikasi MolaTV. Adaptasi Kisah Nyata Secara sinematografi, Child 44 digarap cukup apik oleh Espinosa yang dibantu editor Pietro Scalia dan Dylan Tichenor. Tone sejumlah adegannya sengaja dibuat muram untuk menggambarkan suasana di negeri komunis di masa jayanya. Suasana itu makin kuat memicu adrenalin pada adegan-adegan kala Leo diburu agen-agen MGB berkat iringan music scoring mendebarkan dari komposer Jon Ekstrand. Meski latarbelakang film dan sinematografinya cukup baik, Child 44 menuai banyak kritik. Pasalnya tak satupun aktor Rusia yang ditonjolkan Epinosa se hingga mengurangi greget nuansa Sovietnya . “Novel laris Tom Rob Smith diadaptasi lewat sebuah film yang berat untuk dicerna. Ditambah aktor-aktor berbahasa Inggris yang mencoba aksen berat Rusia, di mana tak satu pun dari mereka aktor Rusia. Tom Hardy memang sukses membawakan karakter Leo, namun aspek-aspek forensik dan psikisnya datar saja. Tidak ada yang istimewa dalam adegan-adegan pelacakan pelakunya,” tulis kritikus Peter Bradshaw di kolom The Guardian , 16 April 2015. Baca juga: Oliver Stone, Perang Vietnam, dan Pembunuhan JFK Faktor lain yang mendatangkan kritik adalah, Espinosa mengemas Child 44 dengan sejumlah adegan tambahan heroik yang tak terdapat dalam novel. Adegan yang diingat dalam pikiran Leo di masa Perang Dunia II, salah satunya. Dalam film, Leo dan Alexei digambarkan sebagai dua pahlawan Tentara Merah yang mengibarkan bendera di atas Reichstag yang telah direbut dalam Pertempuran Berlin, 2 Mei 1945. Padahal, faktanya dua pengibar bendera di atas Gedung Reichstag itu adalah prajurit Tentara Merah bernama Aleksei Kovalev dan Abdulkhakim Ismailov. Lebih runyam lagi, Smith tak pernah menyebut Leo dalam novelnya sebagai personel Tentara Merah. Dalam bab-bab awal novel, Smith menciptakansosok Leo sebagai anggota OMSBON, sebuah brigade bermotor khusus yang bertugas di garis belakang sebagai pasukan penyabotase. Brigade yang bernaung di bawah NKVD (polisi rahasia Soviet)itu lazimnya terdiri dari para atlet Soviet yang terpaksa meninggalkan gelanggang olahraga gegara perang. “Selama Perang Patriotik (Perang Dunia II, red. ), dia direkrut unit khusus, OMSBON. Anggotanya dipilih dari Institut Kesehatan Fisik dan Kebudayaan, di mana dia (Leo) jadi siswanya. Perekrutannya berdasarkan keunggulan fisik yang atletis dan dilatih di Kamp Mytishchi, kamp milik NKVD atau polisi rahasia sebelum MGB. Dia jadi pahlawan setelah muncul dalam sebuah foto dengan latar belakang sebuah tank Jerman yang sedang terbakar,” tulis Smith dalam novelnya. Adegan Leo Demidov jadi pahlawan perang dengan mengibarkan bendera di Reichstag (kiri) dan dokumentasi aslinya (kiri) (Summit Entertainment/archive.org)) Terlepas dari banyaknya kritik, Smith mengaku senang dengan hasil film garapan Espinosa yang diadaptasi dari novelnya itu. Smith jadi satu di antara sedikit orang yang ditunjukkan hasil akhir film tersebut oleh rumah produksi Scott Free Productions sebelum resmi dirilis pada April 2015. “Saya senang filmnya. Mereka melakukan pekerjaan yang hebat. Saya sendiri tercengang. Saya mengatakan ini bukan hanya karena saya tak pandai berbohong, tetapi karena saya juga tahu kerja keras mereka. Tidak hanya lega, saya juga merasa bangga,” aku Smith kepada jurnalis Deirdre Molumby yang dimuat di scannain.com . Baca juga: Kursk , Kisah Getir Angkatan Laut Rusia Terlepas dari beberapa fakta yang melenceng, Smith tetap senang karena inti dari cerita novelnya tetap tersampaikan dengan baik. Yakni, tentang sikap aparat hukumSoviet era Stalin yang menutup mata padakasus-kasus pembunuhan. Salah satu pendiaman aparat itu terjadi dalam kasus pembunuhan berantai yang dilakukan Andrei Chikatilo. Dalam novel dan film, Chikatilo digambarkan lewat sosok Malevich. “Kisahnya memang berdasarkan kasus nyata Andrei Chikatilo. Pembunuh berantai yang bertanggungjawab atas kematian puluhan anak-anak dan perempuan di Uni Soviet. Dia diadili dan didakwa atas 53 kasus pembunuhan. Mulanya dia lolos dari jerat hukum karena negara tempatnya tinggalmenolak adanya kasus pembunuhan. Saat dikonfrontir dengan bukti-bukti nyata kasus pembunuhan, pemerintah menuding orang-orang yang tak disukai sebagai pelakunya, seperti musuh politik, hingga kaum gay,” imbuh Smith. Pembunuh berantai Andrei Romanovich Chikatilo (kiri) yang digambarkan sebagai Vladimir Malevich dalam film (Rostov Police Department/Summit Entertainment) Kasus Chikatiloterjadi di 1970-an. Diungkapkan Peter Conradi dalam The Red Ripper: Inside the Mind of Russia’s Most Brutal Serial Killer , korban pertama Chikatilo yang tercatat dalam investigasi kepolisianadalah gadis cilik berusia sembilan tahun bernama Yelena Zakotnova.Yelena dibunuh pada medio September 1978 di Shakhty. Tubuh korban baru ditemukan pada 24 Desember 1978 di kolong jembatan Sungai Grushevka. Seiring waktu , satu per satu korban berjatuhan . Aparat yang dipimpin Mayor Mikhail Fetisov baru membuka investigasinya pada Januari 1983 . Pada 20 November 1990 , Chikatilo berhasil diciduk di Novocherkassk. Setelah diadili pada 14 April 1992, Chikatilo dinyatakan bersalah atas 52 kasus pembunuhan dan lima kasus pelecehan seksual. Dia dijatuhi eksekusi mati pada 14 Februari 1994. Meski kasus pembunuhan berantai itu terjadi mulai 1970-an, Smith mengadaptasikannya ke era 1950-an ketika Soviet masih dipimpin Stalin. Smith beralasan, dia ingin menciptakan sebuah kontradiksi bagi karakter si pembunuh berantai. “Latar belakangnya adalah periode rezim yang paling berbahaya di negeri itu, di mana saya mencoba menciptakan sebuah counterpoint pada pembunuhnya. Karakter pembunuhnya tak sepenuhnya sama dengan Andrei Chikatilo. Dalam buku, pembunuhnya bekerja seperti sebuah alat untuk mengeksplorasi keadaan negeri itu pada masa itu (rezim Stalin), negeri yang membunuh jutaan orang,” tandas Smith. Data Film: Judul: Child 44 | Sutradara: Daniel Espinosa | Produser: Ridley Scott, Michael Schaefer, Greg Shapiro | Pemain: Tom Hardy, Noomi Rapace, Gary Oldman, Joel Kinnaman, Paddy Considine, Vincent Cassel, Jason Clarke, Charles Dance | Produksi: Scott Free Productions, Worldview Entertainment | Distributor: Summit Entertainment, Lionsgate, Entertainment One, Bontonfilm, Ro Image | Genre: Thriller Misteri | Durasi: 137 menit | Rilis: 17 April 2015, Mola TV Baca juga: Horor Chucky dalam Kehidupan Nyata
- Industri Gula Praja Mangkunagaran
DIBANDING gedung-gedung yang ada di sekitar, pabrik itu terlihat menonjol. Bukan saja ukurannya lebih besar, tingginya pun meyakinkan: sekitar sepuluh meter. Bangunan itu berbentuk persegi, didominasi warna putih, dan kokoh berdiri di atas tanah seluas 6,4 hektar, dengan 1,3 hektar di antaranya digunakan untuk bangunan utama pabrik. Begitu masuk ke dalam, berbagai ornamen lama pabrik tersaji dengan rapi. Terawat dengan baik, seolah-olah masih baru. Di bagian tengah bangunan menjulang sebuah cerobong asap. Sementara di bagian depan dan samping terhampar tanah lapang yang ditumbuhi pepohonan, berfungsi sebagai taman, tempat orang-orang duduk bersantai. Pada dinding sebuah bangunan terdapat tulisan “PG COLOMADU TAHUN 1861”. Pabrik gula Colomadu merupakan bangunan bersejarah di Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah. Lokasinya berada di Jalan Adi Sucipto, Malangjiwan, kecamatan Colomadu. Dilansir laman Kompas , rupa bangunan pabrik saat ini merupakan hasil revitalisasi tahun 2017 untuk keperluan situs cagar budaya dan wisata di daerah Jawa Tengah. Lantas bagimana pabrik tersebut bisa berdiri? Menurut sejarawan Wasino, pabrik gula Colomadu merupakan bisnis peninggalan Praja Mangkunagaran. Dalam acara Serial Seminar Nasional Sejarah “The Mangkunegara Sugar Industry and Road Infrastructure in The Surakarta Residency”, Jumat (19/02/2021), staf pengajar di Universitas Negeri Semarang itu menyebut jika pabrik didirikan pada 1860 oleh Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Arya Mangkunegara IV. Untuk mendirikan pabrik, pertama-tama Mangkunegara IV memilih tempat di desa Krambilan, Distrik Malang Jiwan, sebelah utara Kartosura. Pertimbangannya, tanah di tempat itu subur dan ketersediaan air melimpah. Ia lalu memerintahkan R. Kamp, seorang ahli tanaman tebu berkebangsaan Jerman untuk meneliti tanah di sana apakah cocok untuk ditanami tebu atau tidak. Setelah dinilai sesuai, serta mendapat persetujuan dari Residen Surakarta, Nieuwenhuiz, Mangkunegara IV memulai pembangunan pabriknya. Dalam tulisannya di Humaniora Vol. 17, No. 1 tahun 2005, “Mangkunegara IV, Raja-Pengusaha, Pendiri Industri Gula Mangkunagaran (1861-1881)”, Wasino mengatakan bahwa peletakan batu pertama pembangunan pabrik dilakukan pada 8 Desember 1861. Sementara biaya yang dihabiskan seluruhnya mencapai f 400.000, berasal dari pinjaman hasil keuntungan perkebunan kopi Mangkunagaran dan bantuan dari seorang Mayor Cina di Semarang Be Biauw Tjwan, teman dekat Mangkunegara IV. Setelah melalui pembangunan selama setahun, pada 1862 pabrik gula itu siap beroperasi. Dalam sebuah upacara pembukaan pabrik, Mangkunegara IV menamai pabrik pertamanya itu Colo Madu , suatu nama Jawa yang artinya “gunung madu”. “Tidak ada penjelasan resmi mengapa menggunakan istilah itu, tetapi jika dilihat dalam tradisi penguasa Jawa, maka nama itu mengandung suatu harapan agar kehadiran industri gula ini menjadi simpanan kekayaan Praja Mangkunagaran dalam bentuk butiran pasir berjumlah besar hingga menyerupai gunung,” jelas Wasino. Karena Colomadu merupakan perusahaan pribadi, pegelolaan kebun berada di bawah kontrol langsung Mangkunegara IV. Namun pengawasan sehari-hari dilakukan seorang administratur, yang untuk pertama kalinya dipercayakan kepada R. Kamp. Namun ia hanya memegang jabatan selama 8 tahun, karena pada 1870 Mangkunegara memberi tugas perombakan dan perluasan perkebunan kopi kepadanya. R. Kamp lalu digantikan oleh putranya, G. Smith sebagai administratur pabrik gula Colomadu. Berdasar arsip Praja Mangkunagaran, panen perdana pabrik Colomadu tahun 1862 mampu menghasilkan sebanyak 6000 pikul gula dari 135 bahu sawah yang ditanami tebu. Produksi itu menyamai rata-rata produksi gula per pikul di seluruh Jawa pada 1870. Hasilnya pun ketika itu tidak hanya untuk konsumsi lokal saja, tetapi sudah bisa dijual hingga ke Singapura dan Maluku. “Meskipun ini perusahaan pribumi tetapi jaringan perdagangannya tetap menggunakan jaringan-jaringan yang dibangun oleh perusahaan Belanda dan orang-orang Cina,” kata Wasino. Keberhasilan pabrik gula Colomadu mendorong Mangkunegara IV membangun pabrik keduanya, yakni PG Tasik Madu . Dikisahkan dalam Jalur Gula: Kembang Peradaban Kota Lama Semarang , terbitan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan bersama World Heritage Camp Indonesia, pabrik itu didirikan pada 1871. Lokasinya berada di Distrik Karang Anyar, sebelah barat lereng Gunung Lawu. Sama halnya dengan pabrik pertama, pabrik Tasikmadu juga dikelola secara langsung oleh Mangkunegara IV. Sistem pekerja di sana juga masih sama, yakni digarap oleh petani dari desa-desa sekitar pabrik secara cuma-cuma. Dengan kata lain para petani tebu itu dikenakan kerja wajib tanam tanpa dibayar sesuai dengan kebijakan dari Praja Mangkunagaran. Mulanya sistem produksi di Tasikmadu tidak teratur. Sebagian besar kegiatan produksi gula dilakukan tatkala perkebunan kopi mengalami penurunan keuntungan. Akan tetapi sejak ditandatanganinya kontrak dengan NHM (Nederland Handels Matschappij) di Semarang, produksi gula di Tasikmadu dilakukan secara teratur. Suntikan dana dari kamar dagang pemerintah Belanda itu membuat pabrik mengalami peningkatan jumlah produksi dan pemasaran. Tiap tahun jumlah permintaan gula dari kedua pabrik kian meningkat. Sejalan dengan itu, Praja Mangkunegaran juga segera melakukan perluasan lahan untuk tanaman tebu. Tidak hanya di distrik Karang Anyar, tetapi meluas ke wilayah lain. Selain itu, Praja Mangkunegaran pun dengan cepat membangun akses transportasi, utamanya jalur kereta api, guna memperlancar dan memperluas proses penyaluran hasil produksi. “Keberhasilan industri gula ini sangat membantu penghasilan Praja Mangkunegaran untuk melengkapi sumber pendapatan tradisionalnya dari pajak tanah. Keuntungan yang diperoleh dari pabrik gula sebagian digunakan raja untuk membayar gaji para bangsawan dan sebagian lagi dapat digunakan untuk menebus tanah lungguh yang belum selesai ditarik kembali,” ujar Wasino. Setelah Mangkunegara IV wafat, segala proses produksi di kedua pabrik gula dilakukan di bawah pimpinan Mangkunegara V.*
- Saat Pantai Barat Amerika Dibombardir Jepang
HARI ini, 23 Februari, 79 tahun silam. Kapten Kozo Nishino, komandan kapal selam AL Jepang I-17, mendapat momen emas. Kilang minyak Ellwood Oil Field dekat Santa Barbara, California, Amerika Serikat sudah di depan mata, hanya satu mil dari kapal selamnya. Kesempatan itu tak ingin disia-siakannya untuk menjadikan kilang itu sebagai sasaran balas dendamnya. Nishino pun langsung mempersiapkan serangannya pada pembukaan malam itu. “Tepat setelah matahari terbenam pada 23 Februari 1942, Komandan Kozo Nishino, komandan I-17, memunculkan kapalnya di Santa Barbara Channel,” tulis Joseph Jeremiah Hagwood Jr. dalam Engineers at the Golden Gate . Sementara Nishino mempersiapkan serangannya, penduduk kota sedang serius di depan radio mereka. Mereka bersiap mendengarkan pidato radio Presiden AS Franklin D. Roosevelt petang itu. “Presiden belum berbicara kepada negara sejak (serangan Jepang terhadap, red .) Pearl Harbor. Selama beberapa minggu dia ingin menyampaikan Fireside Chat lagi, tetapi tekanan pekerjaan membuatnya tidak mungkin –persiapan untuk siaran sepenting itu membutuhkan penelitian selama berhari-hari dan pengulangan retoris,” Nigel Hamilton dalam The Mantle of Command: FDR at War, 1941-1942. Dalam pidatonya, Roosevelt menyinggung tentang Perang Pasifik yang baru dimulai kurang dari dua bulan sebelumnya sebagai Battleground for Civilization. Dia menyeru kepada semua bangsa yang tak ingin civilization mati agar bahu-membahu melawan negeri-negeri Poros. Dia menganalogikan posisi sulit Sekutu saat itu dengan posisi bertahan yang dilakukan Jenderal Washington di Lembah Forge sekira dua abad sebelumnya. Kendati sulit, itu dapat dilalui jika masing-masing memegang teguh komitmen. “Kita dari Bangsa-bangsa Bersatu setuju pada prinsip-prinsip luas tertentu dalam jenis perdamaian yang kita cari. Piagam Atlantik berlaku tidak hanya untuk bagian dunia yang berbatasan dengan Atlantik tapi juga untuk seluruh dunia; perlucutan senjata para agresor, penentuan nasib sendiri negara-negara dan rakyat mereka, dan empat kebebasan –kebebasan berbicara, kebebasan beragama, kebebasan akan keinginan, dan kebebasan dari rasa takut. Tirani, seperti neraka, sulit ditaklukkan; namun kita memiliki penghiburan bersama ini, bahwa semakin keras pengorbanannya, semakin mulia kemenangannya. Kita tahu bahwa jika kita kalah dalam perang ini, perlu beberapa generasi atau bahkan berabad-abad sebelum konsepsi kita tentang demokrasi dapat hidup kembali. Dan kita bisa kalah dalam perang ini hanya jika kita memperlambat usaha kita, atau jika kita membuang amunisi untuk saling menembak,” kata Roosevelt, dikutip Hamilton. Pidato Roosevelt itu berhasil menarik pendengar di dalam negeri sebanyak 61 juta orang. New York Times menjuluki pidato itu sebagai “salah satu yang terhebat dalam karier Roosevelt.” Namun, Roosevelt tidak tahu pada saat bersamaan di bagian barat negerinya sebuah kekuatan lawan sedang mempersiapkan serangan terhadap negerinya. Nishino memerintahkan awak kapal selamnya untuk mempersiapkan serangan ke kilang Ellwood. Serangan Nishino itu merupakan bagian dari serangan Armada Keenam Angkatan Laut Kekaisaran Jepang terhadap armada laut Amerika di Pasifik. Pada 10 Desember 1941, sembilan kapal selam Jepang diperintahkan mengejar kapal USS Enterprise . Sementara, beberapa kapal lain diperintahkan untuk mencapai pesisir barat Amerika Serikat. “Di sana, mereka akan mendirikan pos-pos patroli untuk menyerang kapal sipil dan militer. Secara khusus, mereka harus menenggelamkan setiap dan semua persediaan dan bala bantuan yang ditujukan untuk bantuan Pearl Harbor,” tulis Hagwood Jr. Kapal I-17 merupakan salah satu dari sekian kapal Jepang yang menuju pantai barat itu. Tugas tersebut dimanfaatkan Nishino untuk membalaskan dendamnya. “Dia telah berlayar ke Ellwood dengan kapal tanker Jepang beberapa kali sebelum Pearl Harbor untuk mengambil minyak mentah untuk armada Jepang. Kunjungan pertama Nishino pada akhir tahun 1930-an merupakan kunjungan yang memalukan,” tulis Robert E. Kallman dan Eugene D. Wheeler dalam Coastal Crude in a Sea of Conflict. Dalam kunjungan perdananya ke Ellwood, Nishino yang menjadi kapten kapal tangker Jepang terpeleset dan jatuh ke sepetak kebun kaktus pir ketika hendak mendatangi upacara penyambutannya oleh awak kilang. Akibatnya, dia ditertawakan oleh para awak kilang. Penertawaan yang memalukan itu amat membekas di benak Nishino. “Nishino, yang terhina oleh tawa itu, melihat kesempatannya untuk membalas dendam pada Februari 1942,” tulis Air Force Logistics Management Agency dalam Old Lessons, New Thoughts: Readings in Logistics, History, Technology, and Leadership . Maka begitu kilang Ellwood sudah tampak di depan mata, pada pukul 18.40 waktu setempat Nishino memerintahkan juru mudi untuk segera menaikkan kapal ke permukaan. Para awak meriam diperintahkannya di posisi mereka. “Sembilan orang awak senapan dek bergegas ke senjata mereka dan mulai menembak pada waktu yang hampir bersamaan ketika Presiden Roosevelt memulai pidato radionya Ini adalah pertama kalinya peluru artileri asing mendarat di Daratan AS sejak Perang 1812,” tulis Steve Horn dalam The Second Attack on Pearl Harbor: Operation K and Other Japanese Attempts to Bomb America in World War II. Tembakan meriam 5,5 inci pertama dari dek I-17 yang dimuntahkan pada pukul 19.07 itu membuat satu dari beberapa petugas penjaga kilang kaget. Mereka mengira suara meriam itu merupakan ledakan kilang sehingga bergegas mendatanginya untuk mengecek dan memperbaikinya. Namun belum sampai tempat yang dituju, mereka kembali dikagetkan suara ledakan lain. Mereka akhirnya sadar bahwa itu merupakan tembakan kanon. Kepastian bahwa kilang mereka diserang datang dari kesaksian salah seorang yang tak sengaja melihat kapal selam besar di lepas pantai. Mereka pun segera berlindung, sementara seorang petugas menghubungi kepolisian setempat. Tembakan I-17 terus berdatangan hingga sekira pukul 19.40. Namun, dari sekira 25 meriam yang ditembakkan itu, mayoritas meleset ke kaki bukit di belakang kilang dan perkebunan di sekitar kilang. Ketidakakuratan tembakan I-17 disebabkan antara lain oleh kesulitan menjaga agar meriam dek kapal selam tetap mengarah ke sasaran sementara kapal terus bergerak. Tak satu pun korban jiwa jatuh akibat serangan itu. Hanya seorang petugas kilang terluka akibat berusaha menjinakkan peluru yang tidak meledak. Kerusakan pada kilang terjadi di satu rig yang perbaikannya memakan biaya 500 dolar. Kendati secara militer serangan itu gagal akibat tak banyak kerusakan yang ditimbulkan, Nishino merasa cukup untuk menyudahi serangannya. Dia segera memerintahkan juru mudi menyelamkan kembali kapal selamnya. Upaya pengejaran oleh tiga pesawat Army Air Force yang datang kemudian tak berhasil mencapainya. Serangan Nishino itu sukses meneror warga California. “Komandan kapal selam Jepang Kozo Nishino memperoleh kepuasan pribadi dengan menembaki pantai California,” tulis buku berjudul Old Lessons, New Thoughts: Readings in Logistics, History, Technology, and Leadership.*
- Bagaimana Belanda Mengurus Banjir di Batavia?
SEPERTI awal tahun 2020 lalu, awal tahun 2021 Jakarta kembali dilanda banjir. Sejumlah wilayah, terutama di Jakarta Selatan, tergenang pada Sabtu, 20 Februari lalu. Banjir seakan-akan menjadi momok rutin tahunan bagi warga Jakarta dan tak kunjung terselesaikan sejak dulu. Bagaimana orang Belanda menangani banjir kala Jakarta masih bernama Batavia? Sejarawan Bondan Kanumoyoso menjelaskan dalam Dialog Sejarah “Banjir di Jakarta Riwayatmu Dulu” di saluran Youtube dan Facebook Historia , Selasa, 23 Februari 2021 bahwa karakteristik wilayah Jakarta sejak awal memang berpotensi banjir. Bukan hanya dari zaman kolonialisme Belanda, melainkan sudah sejak zaman Kerajaan Tarumanegara. Hal itu, sambung Bondan, mendorong Raja Purnawarman memerintahkan pembangunan sebuah bendungan untuk mencegah banjir. “Jadi banjir itu merupakan suatu hal yang terjadi sejak bahkan sebelum kota ini menjadi kota pelabuhan yang ramai. Ini karena karakteristik geologi dan geomorfologi dari Jakarta,” terang Bondan. Jakarta yang berdiri di atas delta sungai memang rawan banjir. Paling tidak ada 13 sungai yang melalui kota ini dan berpotensi meluap ketika hujan. Selain itu, tanah Jakarta juga tidak stabil dan cenderung cekung karena tanahnya merupakan tanah hasil sedimentasi. Ketika orang-orang Belanda tiba di Pelabuhan Sunda Kelapa, jelas Bondan, mereka sudah mengenali karakterisitik wilayah ini. Namun, orang Belanda telah terbiasa. Secara geografis, wilayah Jayakarta mirip dengan Belanda yang sebagian wilayahnya berada di bawah garis permukaan laut. Mereka menganggap wilayah yang berpotensi banjir ini bukan berarti tidak ideal untuk ditinggali. Di negeri asal, orang Belanda telah terbiasa merekayasa sistem irigasi dan kanal. Kenyataan-kenyataan itu membuat Jan Pieterszoon Coen menetapkan Jayakarta sebagai ibukota atau pusat kegiatan VOC di Asia. Coen kemudian meminta tolong pada arsitek Belanda bernama Simon Stevin untuk merancang kota dengan sistem kanal seperti kota-kota di Belanda. “Jadi bagi mereka situasi Batavia itu bukan sesuatu yang asing dan itu yang kemudian mereka coba terapkan teknologi yang mereka punya,” jelas Bondan. Upaya-upaya merekayasa kota dengan banyak sungai inipun dikerjakan. Misalnya, ada upaya untuk meluruskan sungai ciliwung dan menambahkan kanal-kanal agar luapan air dapat tersebar. Upaya ini cukup berhasil sampai sekitar tahun 1630-an. Namun ketika Gunung Salak meletus pada 1696, banjir besar kemudian mengikutinya. Material yang dihasilkan Gunung Salak terbawa banjir hingga ke Batavia. Akibatnya, garis pantai dilaporkan bertambah hingga 15 kilometer dalam satu tahun karena endapan lumpur. Mengetahui bahwa endapat lumpur menjadi salah satu penyebab banjir, setiap musim kemarau orang-orang dari pantau utara Jawa dipanggil untuk mengeruk lumpur. Sungai-sungai yang dangkal digali dan kanal-kanal dibersihkan dari sampah dan limbah industri gula. Bondan menyebut bahwa Belanda memilih mengeruk sungai karena air tidak bisa begitu saja menyerap ke dalam tanah. “Itu yang dilakukan Belanda. Dan itu ada ratusan orang tiap tahun yang ditugaskan untuk mengeruk sungai,” kata Bondan. VOC juga memiliki lembaga bernama Heemraden yang tugasnya khusus mengurusi masalah infrastruktur berkaitan dengan air. “Nah ini yang kita nggak pernah punya di kota-kota kita,” ujar Bondan. Bondan, yang telah meneliti lembaga ini, menyebut bahwa tak ada lembaga serupa di seluruh Asia kala itu. Heemraden hanya ada di Batavia dan mengurusi wilayah ommelanden yang sekarang sepadan dengan Jabodetabek. Menjelang berakhirnya kekuasaan VOC, Batavia menjadi kurang terurus. VOC dilikuidasi dan dinyatakan bangkrut. Banyak lembaga pengurus kota yang kemudian tidak aktif sehingga pengerukan sungai juga berhenti. Kota terbengkalai. Beberapa keberhasilan VOC bukan berarti menunjukan bahwa orang Belanda telah melakukan pekerjaan sempurna. Bondan menyebut mereka hanya mengurusi wilayah dengan pemukim orang-orang Belanda. “Itu sebabnya di Jakarta ini centang-perenang gitu ya. Karena wilayah yang diatur dulu itu hanya wilayah yang dihuni oleh orang Eropa, khususnya Belanda. Jadi hanya di dalam kota. Di wilayah di luar itu mereka nggak mau urus,” sambungnya. Hal itu, kata Bondan, dikarenakan VOC merupakan perusahaan. Dalam setiap kebijakan yang dibuatnya tentu lebih mementingkan untung-rugi, bukan masalah kesejahteraan penduduk. Selain itu, sumber daya manusia saat itu juga masih terbatas. Masalah yang datang juga tidak hanya itu. Batavia dan Belanda barangkali mirip. Namun, kedua wilayah ini tidak serta-merta sama dan orang Belanda bisa menduplikasi Amsterdam ke sebuah delta sungai di Jawa. Yang paling kentara, misalnya, perbedaan curah hujan di Belanda dan Batavia. Jika di Belanda hujan turun setiap hari namun hanya gerimis, di Batavia curah hujan dan jumlah air yang tumpah begitu tinggi. Banjir lagi-lagi tak bisa dihindari. Pada awal abad-20, upaya menanggulangi banjir kembali dilakukan. Insinyur Herman van Breen adalah salah satu insinyur yang menyiapkan rancangan untuk mengatasi banjir. Ia membuat dua banjir kanal, yakni Banjir Kanal Barat dan Banjir Kanal Timur. Selain itu ia juga membuat beberapa pintu air. “Sebetulnya berhasil untuk mengatasi banjir pada masanya. Kalau sekarang, tentu perlu direvitalisasi, perlu ditingkatkan lagi, dan perlu dianalisa ulang karena kan daerah pemukiman dan tingkat daripada kepadatan penduduk dan juga karakteristik wilayah sudah berubah,” ungkap Bondan. Apa yang terjadi di Jakarta saat ini merupakan buah dari pemikiran orang-orang di dalamnya yang serba ingin moden sehingga meninggalkan kearifan lokal dan lebih cenderung eksploitatif. Menurut Bondan, sifat eksploitatif kita sebagian besar merupakan hasil dari mencontoh orang Belanda yang eksploitatif terhadap alam. Oleh karena itu, sebagai solusi untuk mengatasi banjir di Jakarta yang telah menjadi masalah sejak dulu, Bondan mengingatkan, bagaimana Belanda menangani banjir bisa menjadi satu rujukan dalam merancang kebijakan. Penanganan jangka panjang dan komprhensif perlu dilakukan dari hulu ke hilir. Bukan hanya melalui infrastruktur, melainkan juga menanamkan kembali hubungan manusia dengan alam yang harmonis dan tidak eksploitatif.*
- Misi Parman Melobi London
BRIGJEN TNI Soegih Arto, utusan Presiden Sukarno untuk berunding dengan Kementerian Luar Negeri Inggris transit di Prancis. Soegih Arto diterima oleh Kolonel Sumpono Banyuaji, Atase Militer (Atmil) Indonesia untuk Prancis. Sesampainya di kediaman Atmil, Soegih Arto kaget karena melihat atasannya Mayjen TNI S. Parman juga berada di tempat yang sama. “Baru lama kemudian, saya mengetahui bahwa Beliau mengemban tugas yang sama, hanya salurannya ke Markas Besar Angkatan Perang Inggris,” tutur Soegih Arto dalam otobiografinya Sanul Daca: Pengalaman Pribadi Letjen (Pur.) Soegih Arto . Keberadaan Parman di Paris sepertinya sudah berlangsung beberapa hari sejak Soegih Arto tiba disana. Menurut Soegih Arto, Parman punya misi yang sama dengan dirinya, yakni menyelesaikan konfrontasi dengan Malaysia melalui perantaraan Inggris. Bila Soegih Arto diutus ke Kementerian Luar Negeri Inggris, maka Parman punya jaringan ke pejabat tinggi kemiliteran Inggris. Keesokan harinya, Soegih Arto menyaksikan Parman dijemput oleh Atmil Indonesia untuk Inggris Kolonel Sasraprawira menuju ke London. Sebagai Asisten I Menteri Panglima Angkatan Darat (Menpangad) yang memegang bidang intelijen, Parman memiliki jaringan di mana-mana. Selain itu, Parman memang telah lama menjalin koneksi dengan pihak militer Inggris. Sebelum menjabat Asisten I/Intelijen Menpangad, Parman bertugas di Inggris sebagai Atmil selama tiga tahun (1959—1962). “Tugas yang dipikul S. Parman selama menjadi atase militer ini cukup berat,” tulis Sutrisno dalam Letnan Jenderal Anumerta Siswondo Parman . “S. Parman sering mengadakan pertemuan, jamuan, atau mengunjungi pejabat-pejabat tertentu di Inggris.” Menurut sejarawan Universitas Indonesia Linda Sumarti, Parman merupakan utusan Menteri Panglima Angkatan Darat Letjen Ahmad Yani sebagai peace feelers atau penjajak perdamaian dengan kemungkinan berunding dengan militer Inggris. Yani memilih jalur Departemen Pertahanan Inggris dengan pertimbangan, pihak Malaysia akan lebih mudah untuk diajak ke meja perundingan jika pemerintah Inggris sudah ikut dilibatkan. Jalur ini dipakai Ahmad Yani dengan mengirimkan asisten intelijennya, S. Parman. Berdasarkan dokumen arsip Kementerian Luar Negeri Inggris ( Foreign Office ), Parman tercatat mengadakan pembicaraan rahasia dengan Kolonel Berger, Atmil Inggris untuk Prancis di Paris pada 9 Oktober 1964. Pembicaraan lanjutan terjadi pada 10 dan 13 Oktober di Paris, kemudian pada 21 Oktober di Kementerian Pertahanan Inggris di London. Kepada Berger, Parman menjelaskan latar belakang penentangan Sukarno terhadap pembentukan negara Federasi Malaysia. Pertama , tindakan Tunku Abdul Rahman membentuk negara federasi dilakukan sebelum laporan komisi penyelidikan dari Perserikatan Bangsa-Bangsa. Kedua , keyakinan bahwa Inggris memaksa wilayah Kalimantan Utara (Borneo) masuk ke dalam negara federasi Malaysia. Ketiga , kehadiran tentara Inggris di Malaysia mengancam keamanan dan keselamatan Indonesia. Parman menerangkan masalah besar yang dihadapi Indonesia untuk menyelesaikan konfrontasi adalah soal menyelamatkan wajah pemerintah Indonesia di kancah internasional. Di samping syarat mengadakan pemungutan suara di Sabah dan Sarawak, Parman juga mengajukan permintaan supaya Inggris membuat penyataan bersedia menutup pangkalan militernya di Singapura dalam waktu tertentu. Langkah ini, menurut Parman sebagai cara terbaik untuk mengakhiri konfrontasi. Menanggapi tawaran Parman, Berger menyiratkan bahwa sangat tidak mungkin bagi Inggris untuk menerima tuntutan tersebut. “Tidak ada keharusan bagi pihak Inggris tentang penarikan diri dari Singapura. Orang-orang Indonesia sedang berseluncur di atas es tipis. Aktivitas mereka telah menghasilkan perasaan yang sangat keras di Inggris. Singkatnya, orang-orang Indonesia harus menghentikan agresi mereka sebelum tawaran mereka dapat dipercaya di sini,”demikian jawaban Berger sebagaimana dikutip Linda dari dokumen Foreign Office . “Pertemuan antara Mayjen S. Parman dan Kolonel Berger hanya berhenti sampai sebatas itu saja, tidak ada pembicaraan lebih lanjut,” kata Linda dalam disertasi yang dipertahankan di Universitas Indonesia berjudul “Penyelesaian Damai Konflik Indonesia Malaysia 1963-1966”. Misi Parman melobi London mentok dan tidak bersambut. Padahal, Sukarno terus saja menyerukan kampanye Ganyang Malaysia di dalam negeri. Meski demikian, upaya penyelesaian konfrontasi lewat operasi di balik layar tetap dijalankan. Ini bertujuan untuk menghindari Indonesia dari perang terbuka yang kemungkinan akan berhadapan dengan Inggris dan sekutunya. Di saat yang sama, Ahmad Yani juga memerintahkan Mayjen Soeharto dari Kostrad untuk menjajaki normalisasi hubungan antara Indonesia dan Malaysia tanpa melalui mediasi pihak ketiga. Soeharto dan rekan-rekannya kemudian membentuk operasi khusus menembus pihak-pihak penting di Malaysia. *
- Kisah Penyair Besar Prancis Jadi Serdadu di Salatiga
Plakat marmer itu terpasang kokoh pada salah satu dinding Rumah Dinas Walikota Salatiga. Warna abu-abunya mencolok di antara pilar-pilar putih rumah bergaya Indis yang pernah didiami oleh asisten residen Salatiga itu. Tulisannya berbunyi: Le poète français ARTHUR RIMBAUD (1854-1891) a séjourné à Salatiga du 2 au 15 août 1876. Memorabilia ini menandakan bahwa penyair besar Prancis, Arthur Rimbaud, pernah tinggal di Salatiga. Rimbaud menjalani hari-harinya di sini sebagai serdadu antara 2 hingga 15 Agustus 1876. Sebaris puisi Rimbaud juga disematkan dalam plakat itu. “Aux pays poivrés et détrempés (artinya: “Ke negeri rempah-rempah pedas dan basah”),” demikian bunyinya. Dari Prancis ke Jawa Pelabuhan Den Helder, Belanda pada 10 Juni 1876. Kapal Prins Van Orange menarik sauh untuk membawa pasukan yang hendak dikirim ke Jawa. Salah satu di antaranya ialah Arthur Rimbaud sang penyair besar Prancis. Rimbaud lahir di Charleville pada 24 Oktober 1854. Sejak usia remaja ia telah memenangkan berbagai perlombaan menulis syair. Beberapa karyanya sebelum berlayar ke Jawa antara lain Le bateau ivre (Kapal mabuk), Les illuminations (Pencerahan), dan Une Saison en enfer (Semusim di Neraka). Rimbaud menjadi salah satu penyair yang berpengaruh dalam sastra modern dunia. Baca juga: Saat Bajak Laut Prancis Menguasai Padang Rimbaud mulai gemar berkelana sejak 1874. Petualangannya merentang dari dari kota-kota di Eropa hingga ke benua hitam Afrika. Pada suatu ketika, Jawa menarik perhatiannya. “Van Dam (sejarawan militer Belanda –red. ) menduga, Arthur Rimbaud telah mendengar kisah-kisah tentang Hindia Belanda saat ia tinggal di Antwerpen, juga di Marseille, waktu ia bekerja sebagai kuli pelabuhan,” tulis Bernard Dorleans dalam bukunya Orang Indonesia & Orang Prancis, dari Abad XVI sampai dengan Abad XX. Rimbaud lalu mendaftar jadi serdadu Hindia Belanda. Usianya saat itu baru 22 tahun. Alasan Rimbaud mendaftar sebagai prajurit Belanda masih menjadi perdebatan. Jamie James menyebut dalam Rimbaud in Java, The Lost Voyage bahwa perjalanan Rimbaud ke Jawa merupakan kisah paling tidak jelas dalam riwayat Rimbaud. Yang pasti, Jawa adalah titik terjauh dari perjalanan penyair yang gandrung berpetualang ini. Plakat marmer untuk mengenang Rimbaud dipasang pada 1997 oleh Duta Besar Prancis Thierry de Beaucé. (Andri Setiawan/ Historia.id ). Kapal yang membawa Rimbaud menurunkan jangkar di Batavia pada 22 Juli 1876. Setelah beberapa hari di Batavia, Rimbaud mendapat pos di Salatiga. Dari Batavia ia kembali berlayar selama dua hari dengan kapal uap Fransen van de Putte menuju Semarang. Dari Semarang, para serdadu melanjutkan perjalanan dengan kereta api. “Mereka naik kereta, yang memiliki satu gerbong yang didedikasikan untuk orang sakit, menuju suatu tempat bernama Kedung Jati; di sana mereka pindah ke kereta yang lebih kecil untuk perjalanan singkat ke desa Tuntang,” tulis James. Baca juga: Mohammad Hatta di Prancis (1) Perjumpaan Pertama dengan Eropa Tuntang-Salatiga berjarak delapan kilometer. Rimbaud dan rombongan jalan kaki selama dua jam untuk sampai ke barak yang berada dekat alun-alun Salatiga. Di dekat barak terdapat bungalow berpilar tempat asisten residen tinggal. Kini alun-alun itu menjadi bundaran tugu jam dan rumah asisten residen digunakan sebagai Rumah Dinas Walikota Salatiga. Menurut James, Rimbaud bukan orang Prancis satu-satunya di garnisun Salatiga. Ia datang bersama lima rekannya: Louis Adolphe Brissonet, Emile Nicolas Dourdet, Louis Durant, Auguste Michaudeau, dan Léon Prothade Monnin. Namun, Michaudeau meninggal begitu sampai di Salatiga. Dua Pekan Nan Menjemukan Hari-hari Rimbaud sebagai tentara diisi dengan pelatihan militer. Selain itu, menurut Jean-Marie Carre dalam A Season In Hell, The Life Of Arthur Rimbaud, Rimbaud juga mengerjakan penggalian tanah, membersihkan hutan, dan pekerjaan-pekerjaan yang membosankan. Jamie James mencatat, kamp militer di lereng Gunung Merbabu itu membawa Rimbaud berkenalan dengan berbagai macam orang, termasuk pribumi. “Untuk pertama kalinya Rimbaud berhubungan langsung dengan tentara pribumi, kebanyakan orang Jawa dan Maluku, yang merupakan tiga perempat jumlah infantri,” tulis James. Kamp militer Salatiga tidak memiliki disiplin yang ketat. Para serdadu dapat memperoleh opium dengan mudah di toko-toko milik Tionghoa. Mereka juga aktif mengkonsumsi alkohol untuk membantu pencernaan dan menahan rasa lapar. Alun-alun Salatiga yang kini menjadi bundaran tugu jam. ( Rimbaud in Java, The Lost Voyage ). Para serdadu juga dapat dengan mudah membawa gadis-gadis ke dalam kamar. Oleh karena itu, satu dari tiga tentara Eropa di Hindia Belanda, jelas James, menderita penyakit menular seksual. “Rimbaud tidak termasuk di antara mereka; kisah tentang ini baru datang kelak, di Afrika,” sebut James. Rimbaud tak mau berlama-lama tinggal di kamp militer. Ketika misa pengangkatan pendeta Yesuit De Bruyn digelar di kapel Dionysos Salatiga pada 15 Agustus 1876, Rimbaud telah raib. Sehari sebelumnya, ia masih absen pagi dan sore. James menduga Rimbaud menyelinap pada 14 Agustus malam. Karena pencarian baru dilakukan pada 16 Agustus, Rimbaud punya waktu sekitar 36 jam untuk melarikan diri. Baca juga: Petualangan Pelaut Prancis di Nusantara Rimbaud tak membawa banyak barang. Ia meninggalkan sepasang fourragères (peghargaan militer) berlapis emas, jubah, tiga dasi, dua kemeja, dua pasang celana dalam, sepasang pakaian dalam militer, dua pasang celana panjang, dua tunik, sepasang sepatu Eropa, perlengkapan mandi, dan sebuah kotak kayu. Barang-barang itu lalu dijual seharga satu florin delapan puluh satu sen dan hasilnya disumbangkan ke sebuah panti asuhan di Salatiga. “Untuk pelariannya, Rimbaud pasti mengenakan rompi ?anel dan celana putih, seperti yang dikenakan seorang mufti kolonial, yang akan membuatnya tidak mencolok sebagai orang Prancis di Jawa Tengah,” tulis James. Rumah Dinas Walikota Salatiga dulu merupakan rumah asisten residen Salatiga. (Andri Setiawan/ Historia.id ). Pelarian Rimbaud tentu merupakan sebuah pelanggaran berat. Jika tertangkap, ia akan dikerangkeng dengan rantai yang diberi bandul bola besi. Tapi, Rimbaud beruntung tak tertangkap dan tak ada yang mengetahui keberadaannya selama beberapa bulan. Jean-Marie Carre menyebut Rimbaud kecewa dengan Timur. Dia merasa tertahan oleh disiplin dan membenci para perwira bintara Belanda. Sementara menurut Dorleans, “Apapun alasan desersinya jelas Arthur Rimbaud tidak memiliki temperamen yang cocok untuk kehidupan militer.” Kabar tentang Rimbaud baru terdengar lagi pada 31 Desember 1876. Penyair besar itu telah berada di rumah ibunya di Charleville, Prancis. Rambaud tampak berkulit kecoklatan dan berjenggot. Ernest Delahaye yang bertemu Rimbaud pasca-pelariannya, seperti dikutip James, mencatat bahwa dari Jawa, Rimbaud melewati Tanjung Harapan, St. Helena di Antlantik, Azores di Portugal, Irlandia, Liverpool, Paris lalu sampai di Charleville. Kisah Rimbaud di Jawa memang kurang mendapat perhatian para sejarawan dibanding kisahnya di jazirah Arab atau Afrika. Plakat marmer yang dipasang oleh Duta Besar Prancis Thierry de Beaucé pada 1997 menjadi pengingat penting potongan sejarah hidup Rimbaud dan juga Kota Salatiga.
- Gotti, Mafia Flamboyan yang Dicinta dan Dibenci
JOHN Gotti Junior (diperankan Spencer Lofranco) mulai gelisah di sebuah ruang tunggu Penjara Federal Springfield, Missouri pada suatu hari tahun 1999. Sebuah kamera DLSR di balik cermin kamuflase sudah siap merekam semua yang ada di ruangan itu. Sosok yang ditunggu Junior akhirnya tiba. Dikawal tiga sipir, John Gotti (John Travolta) datang dengan tangan dan kaki dibelenggu. Wajahnya sudah semarak oleh kerutan. Kepalanya sudah tak lagi bermahkota rambut. Suaranya pun mulai parau akibat kanker tenggorokan. Tetapi kharisma dan wibawa Gotti tak pernah luntur. Pada pertemuan itu, Junior mengungkapkan kepada sang ayah bahwa dia ingin mengajukan pernyataan dirinya bersalah atas sejumlah dakwaan pemerintah federal terhadapnya. Selama ini Junior terlibat atas semua dakwaan yang berhubungan dengan aktivitas dunia hitam keluarga mafia Gambino yang pernah dipimpin ayahnya. Baca juga: Lantai Dansa John Travolta Adegan John Gotti di masa senjakalanya dalam hukuman bui seumur hidup. (Vertical Entertainment). Gotti mengerti bahwa putra sulungnya itu punya niat untuk melindungi keluarganya. Namun, Gotti berusaha membulatkan hati Junior untuk tidak menundukkan kepala meski hukuman bui belasan tahun mengancamnya. Gotti ingin Junior belajar tentang kekuatan karakter seseorang, sebagaimana Gotti yang selalu berusaha menegakkan kepala, kendati sudah dibui dengan hukuman seumur hidup. Adegan mengenai hari-hari terakhir Gotti menjelang ajalnya itu jadi pilihan sineas Kevin Connolly untuk membuka biopik tokoh kriminal bertajuk Gotti . Connolly ingin memperlihatkan sosok gembong mafia ternama itu tetap bertahan dengan prinsipnya meski “dunianya” sudah lama tenggelam. Prinsip itu selama ini berperan besar membuat Gotti bisa menjadi “Godfather”. Baca juga: Melihat Lebih Dekat Dunia Mafia Lewat The Godfather Alur cerita lalu mundur ke tiga dekade sebelumya. Gotti mulai mendaki tangga “kariernya” di organisasi mafia Gambino sejak 1972. Dia mulai jadi soldato (tukang pukul) yang dimentori underboss Aniello ‘Neil’ Dellacroce (Stacy Keach). Sejak saat itu hingga di era 1980-an, perlahan tapi pasti Gotti naik kelas dari soldato hingga menjadi caporegime. Selama itu juga Gotti kerap ditangkap, diadili, hingga keluar-masuk penjara. Meski di dalam organisasi selalu jadi sosok yang dingin dan brutal, di luar organisasi Gotti justru jadi sosok yang dicinta. Tidak hanya oleh sang istri Victoria (Kelly Preston) dan anak-anaknya, namun juga warga proletar di area yang dikuasainya. Adegan John Gotti saat bersama mentornya, Aniello 'Neil' Dellacroce. (Vertical Entertainment). Kecintaan mereka muncul karena besarnya perhatian Gotti. Ketika sebuah sasana tinju disegel pemerintah karena tak punya uang untuk bayar pajak, Gotti bersedia menanggungnya demi anak-anak muda di lingkungannya jauh dari dunia hitam. Lalu ketika beberapa lansia miskin tak punya biaya untuk ke rumahsakit, Gotti dengan tulus menanggung biaya perawatan mereka. Namun memasuki 1985, gonjang-ganjing terjadi di dalam tubuh Gambino. Sang boss , Paul Castellano, juga mulai dibenci Gotti karena dianggap sosok pemimpin lemah di antara lima keluarga mafia New York. Yang paling bikin Gotti murka adalah, Castellano ingin merombak internal organisasi, termasuk kelompok yang selama ini dipegang Gotti. Baca juga: The Godfather: Part II dan Seluk-Beluk Organisasi Mafia Bersama rekan terdekatnya, Angelo Ruggiero (Pruitt Taylor Vince), Gotti merencanakan penyingkiran Castellano. Neil yang selama ini jadi mentor Gotti, paham keadaannya dan mendukung. Dia bahkan memberitahu apa tindakan selanjutnya jika Gotti ingin mematangkan rencana membunuh Castellano dan siapa saja orang yang harus didekati. Di antaranya adalah mendekati beberapa capo di organisasi mafia Gambino lain, seperti Frank DeCicco (Chris Mulkey) dan Sammy ‘Bull’ Gravano (William DeMeo), serta melakukan pendekatan kepada lima keluarga mafia di Staten Island, Bronx, Brooklyn, Queens, dan Manhattan. Namun, Neil tak bisa membiarkan Gotti membunuh Castellano selama Neil masih hidup. Sebab, pembunuhan sesama satu organisasi merupakan aib bagi dunia mafia. Gotti pun terpaksa menuruti dan menunggu hingga tiba hari kematian Neil karena usia tuanya. Gotti kian bertekad membantai Castellano setelah tahu sang bos tertinggi itu tak hadir di prosesi pemakaman Neil. Maka, Castellano pun dibunuh oleh orang-orang suruhan Gotti di depan restoran Sparks Steak House di Manhattan, beberapa hari sebelum perayaan Natal 1985. John Gotti Junior (kanan) yang mengikuti jejak ayahnya masuk "Cosa Nostra". (Vertical Entertainment). Gotti kemudian merayakan tahun baru 1986 sebagai pemimpin Gambino. Tak seperti bos mafia lain, Gotti nan flamboyan justru menikmati sorotan publik. Berbagai media cetak menjulukinya “The Real Godfather”, “The Dapper Don”, atau “The Teflon Don” karena selalu lolos dari jerat hukum berkat pengacara handal. Ia pun mengajak serta Junior yang baru lulus Akademi Militer New York untuk “dibaptis” sebagai soldato. Sayangnya tak ada yang abadi. Masa kejayaan Gotti yang bergelimang harta dan popularitas itu perlahan tenggelam. Penyebabnya, rekan terdekatnya, Ruggiero, keceplosan bicara banyak tentang aktivitas mafia dan terekam alat penyadap FBI. Gotti pun kembali berurusan dengan hukum. Lebih runyam ketika beberapa mantan anak buahnya “bernyanyi” di muka sidang. Bagaimana Gotti mencoba menghindari jeratan hukum itu dan apa yang membuat Gotti bertahan dengan prinsipnya dan enggan tunduk meski masa depan pahit sudah siap menyambutnya? Baiknya Anda saksikan sendiri Gotti di aplikasi daring Mola TV. Sisi Lain Gotti Gotti dikemas dengan tone film yang cukup apik sepanjang tiga dekade riwayat bos mafia flamboyan itu. Editor Jim Flynn bahkan menyelipkan beberapa footage pemberitaan televisi terhadap sosok Gotti di era 1980-an dan 1990-an, termasuk video pemakaman sang “Godfather” usai menghembuskan nafas terakhirnya pada 10 Juni 2002. Biopik ini kian “gurih” karena diiringi music scoring yang berwarna. Mulai dari ritme retro untuk mengiringi adegan-adegan Junior dan Gotti di era 1980-an hingga efek scoring yang membangun nuansa ketegangan kala mengiringi adegan-adegan sadis. Hanya saja, Gotti justru gagal meledak di pasaran. Sejumlah kritik, salah satunya dari kritikus Jordan Mintzer, menyasar pada penulisan alur cerita. “Filmnyanya ditulis dengan buruk, minim scene menegangkan dan sisanya sangat biasa saja. Cerita tentang ayah dan anak sama sekali tak berhasil. Gotti terlalu lama menghabiskan waktu menggambarkan emosi setelah kematian Frank (anak ketiga Gotti). Inti cerita tentang karakter utamanya justru kurang berkesan,” tulis Mintzer di kolom The Hollywood Reporter , 15 Mei 2018. Baca juga: The Godfather: Part III dan Skandal Vatikan Connolly sang sutradara beralasan bahwa ia memang sengaja mengemasnya cenderung kepada cerita drama, bukan action kriminal. Ia ingin penonton bisa melihat sisi lain Gotti yang selama ini dikenal publik hanya dari luar via pemberitaan televisi maupun media cetak. Meski tangan Gotti “berlumuran darah” oleh aktivitas pemerasan dan pembunuhan, toh di mata masyarakat kelas menengah-bawah ia justru dianggap pahlawan. “Ibu dan ayah saya berasal dari kelas pekerja. Ayah saya seorang sopir truk, namun ironisnya selalu ada sesuatu tentang Gotti yang membuatnya terkesan. Gotti seperti tokoh anti-kemapanan yang dipuja masyarakat kelas pekerja. Saya ingat ayah saya senang terhadap sosoknya dengan mengatakan, ‘Lihatlah orang ini, ia mengacungkan hidungnya terhadap pemerintah.’ Jadi, ya, dia semacam pahlawan lokal bagi kelas pekerja,” ujar Connolly, dikutip Men’s Journal . Aktor utama John Joseph Travolta (kiri) & sosok asli John Joseph Gotti Gotti (Vertical Entertainment/Majalah New York , 19 Februari 1990). Di bagian penutup film, Connolly pun menggambarkan Gotti lewat footage komentar beberapa warga tentang Gotti usai ribuan orang meratapi konvoi kereta jenazahnya di pinggir jalan. “Lingkungan tempat tinggal kami selalu lebih aman ketika Gotti masih berkuasa. Ketika dia dipenjara, tingkat kriminalitas naik drastis karena jalanan mulai dikuasai berandal jalanan,” tutur seorang responden. Baca juga: Robert De Niro Bicara tentang The Godfather: Part II Sama seperti Connolly, Travolta yang memerankan Gotti awalnya juga heran mengapa seorang bos mafia justru disanjung masyarakat kelas menengah dan golongan bawah. Padahal saat sedang disorot publik dan media, Gotti senantiasa tampil perlente dengan jas dan mantelnya yang –atas izin keluarga mendiang Gotti juga dipakai Travolta selama syuting– elegan bak kaum elite. “Mulanya saya tak mengerti karakter Gotti, kenapa dia sangat dicintai dan populer? Jadi saya meriset sendiri dan menemukan bahwa yang dilakukannya: Bisnis ilegal apapun yang dilakoninya, dia akan mengelolanya menjadi dana subsidi (untuk masyarakat) dan mengembalikannya menjadi legal. Jadi dia menjadi sekutu dan nyaris seperti sebuah asuransi keamanan,” ungkap Travolta kepada Phoenix New Times , 15 Juni 2018. Seperti Al Capone, John Gotti gemar jadi media darling. (Mingguan People , 27 Maret 1989/ The New York Daily News , 11 Juni 2002). Seperti yang digambarkan dalam film, Gotti perhatian kepada lingkungan tempat tinggalnya dan lingkungan tempatnya berkuasa sejak masih jadi capo hingga menjadi bos besar. Gotti kerap berderma pada masyarakat kelas bawah. “Dia orang yang murah hati di lingkungannya. Jika dia melihat beberapa petinju potensial tetapi sasananya ditutup, dia akan membuka kembali sasana itu untuk mereka. Bila sebuah keluarga kesulitan biaya medis, dia akan menanggung tagihan rumahsakitnya. Jadi dia orang yang perhatian. Karena saya tak ingat Al Capone, (John) Dillinger, atau bahkan Whitey (Bulger) dicintai banyak orang. Jadi karena itulah Gotti dicintai dan menjadi sangat berkuasa,” sambungnya. Baca juga: Francis Ford Coppola dan Trilogi The Godfather Menurut Jeffrey Sussman dalam Big Apple Gangsters: The Rise and Decline of the Mob in New York , popularitas dan kecintaan kelas menengah dan bawah terhadap Gotti merupakan pelampiasan ketidakpuasan mereka terhadap banyak kebijakan pemerintah di era 1980-an yang tidak pro-rakyat. Gotti pun diusung sebagai sosok idola anti-kemapanan, terlepas ia acap nongol di media-media dengan jas mewah seharga dua ribu dolar dan sepatu impor Italia yang banderolnya tak pernah kurang dari 400 dolar. “Sejak eranya Al Capone, tak pernah ada lagi gangster yang jadi media darling karena semuanya memilih low-profile. Dan John Gotti dan media punya hubungan simbiosis mutualisme dalam hal itu. Dia selalu tampil necis, selalu menegur publik dengan ramah. Saat pejalan kaki menyapa, ‘Hai, John,’ dia akan merespon dengan lambaian tangan dan senyum lebar. Saat makan di restoran pun dia bersedia meladeni permintaan tandatangan fansnya,” tulis Sussman. Kolase iring-iringan jenazah John Gotti yang wafat di usia 61 tahun yang turut diselipkan dalam film Gotti. (Vertical Entertainment). Gotti juga selalu menghadapi persidangan dengan kepala tegak. Termasuk ketika dimejahijaukan atas kasus pemerasan dan lima pembunuhan dalam kurun Desember 1990-April 1992. Dalam persidangan itu Gotti tak bisa berkelit lagi karena beberapa eks-anak buahnya berkhianat dengan memberi kesaksian berlawanan. Selain didenda 250 ribu dolar, Gotti pun divonis hukuman penjara seumur hidup. Vonis itu membuat ratusan fans Gotti mengamuk di luar gedung pengadilan New York. “Ratusan fans Gotti yang berkumpul di luar gedung pengadilan terhenyak. Mereka merusuh, membalikkan sejumlah mobil, tawuran dengan polisi, dan melantangkan teriakan dukungan kepada Gotti untuk menuntut pembebasannya. Aparat Kepolisian New York sampai harus menurunkan personel dari seluruh polresnya untuk meredam kerusuhan,” tambah Sussman. Setelah Gotti wafat, jenazahnya tak hanya diiringi rombongan keluarga dan kerabat, namun juga para fans-nya. Justru tak satupun perwakilan organisasi mafia yang ikut mengantar Gotti ke peristirahatan terakhirnya. “Gotti dikuburkan di St. John’s Cemetery. Sekitar 20 mobil limo ikut iring-iringan jenazahnya, ditambah ratusan mobil penggemarnya bak sedang mengantar seorang bintang film atau pahlawan penakluk. Ketiadaan utusan keluarga mafia lain diinterpretasikan sebagai penghinaan kepada figur yang berani menantang aparat hukum pemerintah. Iring-iringan itu tak hanya jadi salah satu konvoi paling berwarna dalam sejarah gangster di New York, namun juga menandai permulaan tenggelamnya organisasi mafia Gambino,” tandas Sussman. Data Film: Judul: Gotti | Sutradara: Kevin Connolly | Produser: Randall Emmett, George Furla, Michael Froch, Marc Fiore | Pemain: John Travolta, Spencer Lofranco, Kelly Preston, Stacy Keach, Pruitt Taylor Vince, Willam DeMeo, Chris Mulkey | Produksi: Highland Film Group, EFO Films, Fiore Films | Distributor: Vertical Entertainment | Genre: Biopik Kriminal | Durasi: 110 menit | Rilis: 15 Mei 2018, Mola TV Baca juga: Diego Maradona dalam Pangkuan Mafia
- Penerbangan Gelap Nan Mengerikan dr. Soeharto
DOKTER R. Soeharto, dokter pribadi Bung Karno dan Bung Hatta, senang bukan kepalang. Perjalanan berbahaya yang mempertaruhkan nyawa baru saja diselesaikannya. Perjalanan itu ialah menyertai Bung Karno, Bung Hatta, dan dr. Radjiman Wedyodiningrat menghadap Jenderal Hisaichi Terauchi, panglima tertinggi Jepang di Asia Tenggara, di Dalat, Vietnam.
- Kisah Perseteruan Ajengan Yusuf Tauziri vs Kartosoewirjo (2)
DESEMBER 1948, Belanda memutuskan untuk tidak lagi terikat dengan Perjanjian Renville. Keputusan tersebut diikuti dengan aksi penyerangan militer mereka ke Yogyakarta hingga menguasai ibu kota RI itu. Sukarno-Hatta dan para menterinya pun ditawan. Militer Indonesia merespon penyerangan tersebut dengan Perintah Kilat yang dikeluarkan oleh Panglima Besar Jenderal Soedirman. Salah satu turunan dari perintah itu adalah memulangkan Divisi Siliwangi ke Jawa Barat guna mengobarkan kembali perang semesta melawan Belanda. Menurut Syarif Hidayat, Ajengan Yusuf Tauziri sudah memperkirakan Belanda akan mengingkari Perjanjian Renville dan Divisi Siliwangi akan dipulangkan kembali ke Jawa Barat. Karena itu, dia kemudian memerintahkan kepada para pengikutnya untuk bersiap menyambut kedatangan mereka. Akhir Januari 1949, rombongan Batalyon Rivai yang berjumlah kurang lebih seribu orang (termasuk perempuan dan anak-anak) tiba di Pesantren Darussalam. Mereka yang datang dari perjalanan panjang ( long march ) dengan berjalan kaki dari Magelang datang dalam kondisi sangat menyedihkan. Selain kelaparan, nyaris pakaian mereka tak berbentuk lagi. “Pakaian mereka compang-camping hingga bagian-bagian tubuh mereka yang terlarang sudah kelihatan,” ungkap Hajah E. Kuraesin dalam biografi Mohamad Rivai, Tanpa Pamrih Kupertahankan Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus 1945 . Menurut adik perempuan Ajengan Yusuf Tauziri itu, kedatangan para anggota Divisi Siliwangi dan keluarganya tersebut disambut sangat ramah dan penuh haru oleh orang-orang Cipari. Para perempuan (beberapa ada yang sedang hamil) dan anak-anak langsung dirawat dan pakaian mereka lantas diganti dengan yang lebih baik. “Semua wanita yang berada di Darussalam menyumbangkan pakaiannya kepada keluarga Batalyon Rivai yang berjumlah kurang lebih 500 orang,” ujar Kuraesin. Atas perintah Ajengan Yusuf, selanjutnya para perempuan dan anak-anak itu disebar ke seluruh keluarga yang ada di sekitar Pesantren Darussalam. Mereka disamarkan sebagai bagian dari keluarga orang-orang Cipari. Sedangkan rombongan inti Batalyon Rivai yang terdiri dari prajurit-prajurit melanjutkan perjalanan ke arah markas besar mereka di Bandung sehari kemudian. “Pak Rivai mempercayakan nasib anggota keluarga batalyon-nya kepada Ajengan Yusuf,” ungkap Syarif Hidayat yang saya wawancarai pada Mei 2017. Beberapa jam usai prajurit-prajurit Rivai meninggalkan Cipari, bada magrib terjadilah kegemparan. Rupanya gerilyawan DI/TII yang sudah mencium kedatangan Batalyon Rivai datang untuk menghabisi rombongan anggota Divisi Siliwangi itu. Satu persatu rumah-rumah orang-orang Cipari digeledah. Sambil menembakan senjata-senjata ke udara, mereka berteriak-teriak: “Mana Si Rivai haram jadah ?! Jangan kalian sembunyikan!” Para santri hanya terdiam. Mereka coba menahan amarah dan tidak melakukan perlawanan karena jumlah kekuatan sangat tidak berimbang. Sementara itu Ajengan Yusuf berhasil diamankan oleh para pengawalnya. “Kenapa kalian kasih makan pasukan Si Rivai!” tanya salah seorang pimpinan gerilyawan DI/TII. “Kami hanya menuruti perintah Mama Ajengan,” jawab salah seorang kepala santri. “Mana sekarang dia?” “Tadi siang berangkat ke Bandung.” “Bilang sama Ajengan kalau sudah datang, lain kali kalau ada rombongan tentara kafir lewat ke sini, jangan sekali-kali dikasih makan! Kalau dikasih juga, kami tidak akan menjamin keselamatannya,” teriak sang komandan gerilyawan DI/TII sambil diiringi tembakan yang dilepaskan anak buahnya ke atas. Beberapa hari kemudian, datang surat dari Kartosoewirjo yang ditujukan langsung kepada pimpinan Ajengan Yusuf Tauziri. Isinya sebuah ultimatum yang mengatakan: jika dalam tempo 7x24 jam Ajengan Yusuf belum bisa menentukan sikap (berdiri di pihak DI/TII atau RI) maka Pesantren Darussalam akan diratakan dengan tanah! * Tiga bulan kemudian. Lewat magrib, Cipari dibekap sunyi mencekam. Rumah-rumah dibiarkan gelap karena para penghuninya sudah mengungsi ke Masjid As-Syuro yang terletak di tengah-tengah komplek Pesantren Darussalam. Sayup-sayup terkabarkan bahwa malam Jumat itu, Cipari akan diserang oleh para gerilyawan DI/TII. “Kami mendengar pasukan DI.TII sudah mendekati Cipari menjelang isya,” kenang Kuraesin dalam tulisan ilmiah karya Iim Imadudin. Menjelang jam 19, dari arah selatan terlihat lidah api menjulur ke angkasa. Suara kentongan bersahutan ditingkahi suara tembakan gencar, membentuk gelombang bunyi yang mengerikan. Para santri bersiap. Ajengan Yusuf bergegas ke atas menara Masjid As-Syuro dengan membawa Luger Paraballum, sejenis pistol semi otomatis buatan Jerman. Dia diikuti oleh Rizal (salah seorang putranya) yang memanggul satu peti granat. “Saat itu para santri hanya memegang 7 pucuk senjata: lima karaben Jepang dan dua senjata dorlok tua untuk berburu binatang. Memang ada dua peti granat pemberian dari TNI. Tapi itu pun dibagi dua dengan Ajengan dan Rizal yang bertahan di atas menara,” tutur Syarif Hidayat. Pasukan DI/TII yang diwakili Resimen Kalipaksi dan Sapujagat masuk melalui pertigaan jalan raya menuju Cibatu, lalu bergerak ke jalan perkampungan Desa Cimaragas dan mengarah ke Kampung Cipari. Jumlah mereka sekitar 3.000 orang. Sambil bergerak, mereka menyebar teror dengan membakari rumah-rumah penduduk. Begitu mencapai Pesantren Darussalam kontak senjata pun langsung dimulai, di tengah jerit tangis para perempuan dan anak-anak. Dari atas menara, suara senjata milik Ajengan Yusuf terdengar begitu menyeramkan. Sesekali sang ajengan dan Rizal melemparkan granat tangan ke arah barisan pasukan DI/TII yang tengah melakukan gerakan pengepungan. “Dalam kobaran api yang menghanguskan rumah-rumah, bayangan tubuh mereka terlihat dari kejauhan seperti wayang kulit yang bergerak-gerak di layar,” ungkap Kuraesin seperti dikutip Iim Imadudin dalam tulisannya. Pertempuran memang berlangsung tidak seimbang. Namun karena diringi semangat yang tinggi, para santri dengan menggunakan taktik “hanya menembak musuh yang mendekat” melakukan aksi secara efektif. Dalam situasi seperti itu, senjata yang dipegang Oyoh, salah seorang pengawal Ajengan Yusuf, tiba-tiba macet. Tanpa mengenal putus asa, dia kemudian menenteng dua granat tangan dan melangkah keluar masjid. Dengan gagah berani, dilontarkannya granat-granat itu ke kubu para gerilyawan DI/TII. Namun malang, saat berbalik arah untuk kembali ke masjid sebutir peluru menghantam tubuhnya. Oyoh pun terjengkang dan tewas seketika. Pertempuran baru berhenti menjelang shalat subuh. Merasa tak akan mampu menjebol benteng yang dibentuk oleh santri-santri Darussalam, para gerilyawan DI/TII melakukan gerakan mundur dari Cipari dengan meninggalkan 13 mayat rekan-nya di kolam-kolam ikan dan sawah-sawah milik penduduk. Dari pihak Darussalam sendiri 11 orang telah menemui ajalnya. “Tembak menembak itu berlangsung sampai pukul 3 pagi dan berhenti menjelang shalat subuh,” ungkap peneliti sejarah Hiroko Horikoshi dalam Kiyai dan Perubahan Sosial. * Insiden 17 April 1952, bukanlah serangan terakhir bagi Pesantren Cipari. Hingga 1958, sudah sekitar 50 kali gerilyawan DI/TII berupaya menjebol Masjid As-Syuro, namun selalu berhasil dipukul mundur. “Meskipun terus diintimidasi oleh DI/TII, Ajengan Yusuf dengan bantuan santri-nya dan penduduk Cipari tak pernah sekalipun mau menyerah,” ujar Syarif Hidayat. Pada 4 Juni 1962, Kartosoewirjo berhasil ditangkap oleh Batalyon 328/Kudjang II di Gunung Geber, Priangan Tengah. Bulan September dalam tahun yang sama, dia kemudian dihukum mati di Pulau Ubi, Kepulauan Seribu. Ajengan Yusuf sendiri terus memimpin Pesantren Darussalam sampai tahun 1966. Lepas dari Pesantren Cipari, dia kemudian didapuk sebagai pembina di bagian perawatan rohani Kodam III Siliwangi. Tepat 20 tahun setelah kematian Kartosoewirjo, sang ulama kharismatik dari Garut itu menghembuskan nafasnya yang terakhir. Jasadnya dimakamkan di sekitar Pesantren Darussalam, tempat yang dulu dipertahankannya mati-matian bersama para santri dan penduduk Cipari.*
- Kisah Perseteruan Ajengan Yusuf Tauziri vs Kartosoewirjo (1)
GARUT, 17 April 1952. Kengerian membekap Pesantren Darussalam Cipari malam itu. Ribuan bayangan berkelebat, seolah hantu-hantu pencabut nyawa yang tengah memburu mangsanya. Di tengah suara tembakan gencar yang membahana, terdengar jerit ketakutan para perempuan dan anak-anak. “Saya ingat sekitar 3 batalyon gorombolan DI (Darul Islam) menyerang pesantren kami selepas jam 7 malam. Di bawah pimpinan langsung Mama Ajengan Yusuf (Tauziri) kami melawan mereka sebisanya” kenang Syarif Hidayat, saksi hidup peristiwa tersebut. Penyerangan sekitar 3000 gerilyawan DI tersebut merupakan puncak perseteruan politik antara pimpinan Pesantren Darussalam Cipari Ajengan Yusuf Tauziri dengan imam DI Sekar Maridjan Kartosoewirjo. Menurut Syarif Hidayat, sejak tahun 1949—1958 sudah sekitar 50 kali pesantren yang terletak di kawasan Wanaraja itu diserang para pengikut Kartosoewirjo. “Kejadian pada 1952 itu merupakan penyerangan yang terparah karena menimbulkan korban nyawa di kedua belah pihak,” ujar salah satu keponakan Ajengan Yusuf Tauziri yang lahir pada 1934 itu. Sejatinya, Ajengan Yusuf merupakan kawan dekat Kartosoewirjo sejak masa pergerakan. Menurut Hiroko Horikoshi dalam Kyai dan Perubahan Sosial , kedekatan Yusuf dengan Kartosoewirjo terjalin kala dedengkot DI itu aktif di Dewan Sentral PSII (Partai Sarekat Islam Indonesia) pada 1931-1938. Bahkan bisa dikatakan, Yusuf merupakan penasehat Kartosoewirjo. Soal kedekatan itu memang diakui oleh Syarif. Malahan menurutnya, hubungan organisasi itu dikuatkan dengan terciptanya relasi yang sangat baik antara adik-adik perempuan Ajengan Yusuf dengan istri Kartosoewirjo yakni Dewi Siti Kalsum. Mereka sering saling kunjung-mengunjungi dan berbagi kabar. Lantas apa yang menjadi musabah hubungan kedua-nya seolah dua musuh bebuyutan? Peneliti sejarah Iim Imadudin menyebut ada tiga hal yang menjadikan Ajengan Yusuf berselisih jalan dengan Kartosoewirjo: taktik melawan Belanda, konsepsi Negara Islam dan sikap politik terhadap Perjanjian Renville. Soal taktik perlawanan terhadap Belanda, Yusuf melihat Kartosoewirjo tidak lugas dan lebih mengandalkan sikap “hantam kromo”. “Sementara, K.H. Yusuf Tauziri tahu benar bagaimana memanfaatkan keahlian lawan untuk pada akhirnya menghancurkan lawan,” ungkap Iim dalam tulisannya, "Peranan Kiyai dan Pesantren Cipari Garut Menghadapi DI/TII (1948-1962)" di jurnal Patanjala Vol. 2, No. 1, Maret 2010. Kendati tak menyetujui Perjanjian Renville yang dia anggap terlalu merugikan pihak RI, Yusuf pada akhirnya “menerima” kesepakatan Indonesia-Belanda tersebut dengan kebesaran jiwa dan sikap loyal kepada kepemimpinan Sukarno-Hatta. Termasuk dengan merestui Lasykar Darussalam pimpinan salah seorang putranya (Saep Darmawan) untuk hijrah ke Yogyakarta. Namun Yusuf menjalankan siasat pula kala bersikap seperti itu. Diam-diam dia menyimpan sebagian besar kekuatan Lasykar Darussalam dan membiarkan pasukan pesantren itu dilatih kemiliteran oleh tentara Belanda selama Jawa Barat secara resmi ditinggalkan kaum Republik. Dengan mengikuti pelatihan militer tersebut, sang ajengan berharap kemampuan dan pengalaman para santri-nya semakin mumpuni. Kelak semua keahlian militer tersebut akan digunakan untuk melawan Belanda sendiri dan menjaga diri dari gangguan para gerilyawan DI. Demikian pemikiran yang tersirat di kepala Yusuf. Tentu saja taktik cerdas itu tak disukai oleh pihak DI/TII. Alih-alih memakluminya, Kartosoewirjo yang juga menolak mentah-mentah Perjanjian Renville dan hijrah ke Yogyakarta, menilainya sebagai suatu bentuk pengkhianatan dari kawan sejawat. “Maka setiap kali DI/TII menyerang Darussalam, mereka selalu berteriak ”yeuh mantega ti Wihelmina (nih mentega dari Wihelmina!)” sambil melontarkan bom,” ungkap Iim. Terkait konsep negara Islam versi DI, Yusuf menyebutnya sebagai bughat (pembangkangan terhadap pemerintah yang sah). Berbeda dengan Kartosuwirjo yang strukturalis, bagi Yusuf yang terpenting adalah bagaimana mengislamkan masyarakatnya, bukan mengislamkan negaranya. “Ajengan Yusuf sering bilang kepada kami adalah tidak dibenarkan seorang Muslim ‘membuat rumah di dalam rumah’,” ujar Syarif Hidayat. Karena itu meskipun sama-sama menolak Perjanjian Renville, Yusuf mengecam sikap Kartosoewirjo yang menganggap RI sudah tidak ada dengan langsung membentuk DI/TII. Baginya, yang dilakukan sang imam seperti menusuk RI dari belakang. Ketika DI/TII memberlakukan aturan penarikan pajak (mereka sebut sebagai infaq) di seluruh Jawa Barat, kemarahan Yusuf semakin bertambah. Terlebih ketika pemunggutan pajak itu dijalankan lewat cara kekerasan, itu menurutnya hanya semakin menambah beban penderitaan rakyat di tengah situasi perang.*
- Kisah Romansa Masa Lalu
KISAH romansa yang muncul pada suatu zaman bisa menunjukkan situasi sosial politik yang sedang berlangsung. Romansa adalah bagian dari situasi politik yang berdampak pada kisah percintaan. “Kita bisa lihat bagaimana romansa merupakan cerminan konstruksi politik, maskulinitas, feminisme juga,” kata sastrawan Seno Gumira Ajidarma dalam diskusi “Romansa dalam Peradaban Nusantara” yang diadakan Pusat Penelitian Arkeologi Nasional di kanal Youtube , Kamis (18/02/2021). Seno mengambil contoh cerita Sitti Nurbaya: Kasih Tak Sampai karangan Marah Rusli. Novelnya dirilis pada 1922 dan sangat populer. Kisahnya menunjukkan bagaimana ide perjodohan oleh orangtua ditolak. “Kamu tidak boleh menikah dengan siapapun pilihanmu, kecuali pilihan kami. Ini antara hormat pada orangtua dan kebebasan manusia, menjadi dilema. Ini menarik dalam proses modernisasi,” kata Seno. Pada masa Orde Baru ada dua tonggak dari karya sastra populer. Pertama, novel Karmila karya Marga T . Kisahnya tentang seorang perempuan yang diperkosa kemudian menikah dengan pemerkosanya. Dia bersedia dengan pertimbangan etis, bahwa ini adalah anak orang itu. “Konflik batin luar biasa,” kata Seno. Kedua , trilogi karya Ashadi Siregar berjudul Cintaku di Kampus Biru , Kugapai Cintamu , dan Terminal Cinta Terakhir . “Ashadi dengan sadar, dalam setiap diskusi selalu mengatakan, ini menyimbolkan orangtua merupakan gambaran kekuasaan,” ujar Seno. “Ingin menyadarkan orang akan adanya kekuasaan yang bisa berlangsung keliru atas nama adat.” Pada masa Reformasi, kata Seno, seolah terjadi pembebasan dengan karya-karya dari Ayu Utami dan Djenar Mahaesa Ayu. Misalnya soal seksualitas tak hanya merupakan ungkapan cinta, tapi juga penindasan dan penyiksaan. Tanda-tanda itu juga bisa ditangkap dari karya-karya kesusastraan pada masa Jawa Kuno. Misalnya pada kisah Ramayana dan Panji. Ramayana dan Kritik Terhadap Kuasa Lelaki Seno mengadaptasi cerita Ramayana dalam karya Kitab Omong Kosong. Ia menandai tiga momen kunci dalam kisah romansa itu. Ketiganya mewakili kritik terhadap pola kekuasaan. Momen pertama ketika Hanoman, sang kera putih, diutus Rama ke Alengka menemui Sita yang diculik Rahwana. Ia menemui Sita dengan membawa cincin Rama sebagai bukti sekaligus untuk menguji kesetiaan Sita. “Kalau cincinya pas ketika dipakai Sita artinya masih setia. Jadi kalau nggak setia nggak cinta lagi gitu? Ini namanya cinta bersyarat dan juga menunjukkan kepentingan lelaki,” ujar Seno. Momen kedua setelah Rama memenangkan peperangannya melawan Rahwana. Sita masih harus membuktikan lagi kesuciannya di hadapan Rama. Caranya dengan membakar diri. “Kalau mati bagaimana? Hanya demi cintanya Rama itu?” ujar Seno. Momen ketiga rupanya Rama masih kurang puas dengan kenyataan itu. Rama terus ragu dengan kesucian Sita. Maka, ketika Sita melahirkan putra kembarnya, Lawa dan Kusya, Rama mempertanyakan asal-usul keduanya. “Saya kira Valmiki [pencipta Ramayana] luar biasa, jauh-jauh hari, berabad lalu menunjukkan kritik terhadap kuasa laki-laki dan dia memenangkan perempuan,” ujar Seno. Kisah itu berakhir dengan pembuktian Sita yang paripurna. Sita bersumpah kepada Rama, jika ia tak suci, sebagaimana diduga Rama, maka bumi pun takkan sudi menerimanya. Bumi pun terbelah. Sita pun ditelan, diterima oleh bumi. Panji dan Keberagaman Seksual Sementara itu, keterbukaan pada pluralitas seksual terbaca dalam kisah Panji. Mulanya dari cerita lisan, paling tidak sejak 1400 M. Secara garis besar, kisahnya merupakan kumpulan cerita tentang kepahlawan Raden Inu Kertapati dan kisah cintanya dengan Dewi Sekartaji atau Galuh Candra Kirana. Cerita Panji punya banyak versi yang menyebar luas di kawasan Nusantara dan Asia Tenggara dan telah dikisahkan ke dalam 13 bahasa. Bentuknya pun beragam. Ada wayang, teater, tarian, lukisan, sastra lisan, tulis, variasi bahasa, bahan, dan variasi ceritanya. Hikayat cinta Inu Kertapati dengan Galuh Candra Kirana yang paling terkenal. Mereka diceritakan sempat berpisah dan harus mengatasi banyak rintangan luar biasa hingga akhirnya bersatu kembali. “Pada waktu pengelanaannya itu yang kemudian banyak berkembang versinya,” ujar Titi Surti Nastiti, arkeolog Pusat Penelitian Arkeologi Nasional. Di dalam pengelanaannya, Panji dan Candra Kirana kerap kali menyamar. Candra Kirana bahkan dikisahkan menyamar sebagai laki-laki. “Ini adegan rawan. Dia tertarik pada Candra Kirana ketika masih berwujud lelaki tanpa tahu ini samarannya,” ujar Seno. “Ini kode tentang pluralitas seksual.” Karenanya, menurut Seno, semua yang kini bisa ditemukan di dalam karya sastra kontemporer, nyatanya sudah ditemukan di dalam sastra lisan Nusantara. “Tema ketersamaran gender ini kembali dan menyeruak,” kata Seno. Panji dan Rama dalam Relief Candi Pada masa Jawa Kuno, kisah Ramayana dan Panji terpahat dalam bentuk relief di candi-candi utama Jawa. Relief kisah Rama dan Sita bisa ditemukan di Candi Siwa dan Brahma di Kompleks Candi Prambanan dari abad ke-9 dan relief candi utama di Kompleks Candi Panataran, Blitar dari masa Majapahit. Sementara cerita Panji muncul pada banyak candi dari era Majapahit akhir, misalnya Candi Gambyok, Candi Panataran, Candi Gajah Mungkur, Candi Yuddha, dan Candi Sakelir. Kisah Ramayana pada Candi Siwa di Kompleks Candi Prambanan dimulai dari adegan Rama mengikuti sayembara untuk mendapatkan Sita. “Adegan percintaan dalam relief-relief candi dari abad ke-8 hingga ke-10 masih sangat sopan, hanya duduk berdua di kamar. Tapi pada masa yang lebih kemudian adegannya lebih berani, mangku memangku,” kata Titi. Menurut peneliti kisah Panji dari Jerman, Lydia Kieven dalam Menelusuri Figur Bertopi pada Relief Candi Zaman Majapahit , kenikmatan erotis yang beragam diungkapkan dalam cerita Panji. Pertemuan seksual sering digambarkan dengan cara yang sangat romantis dan realistis. “Pelukisan adegan atau perilaku erotis, emosi, hasrat, keinginan dan kerinduan, cinta seksual, semuanya dimaksudkan agar menimbulkan efek rasa asmara pada penonton,” kata Lydia. “Penonton akan diharu-biru emosi erotis.”*





















