Hasil pencarian
9796 hasil ditemukan dengan pencarian kosong
- Bandul Stigma yang Berbahaya
KELUARNYA Peraturan Presiden Nomor 7 tahun 2021 tentang Rencana Aksi Nasional Pencegahan dan Penanggulangan Ekstremisme Berbasis Kekerasan yang Mengarah pada Terorisme (Perpres Ekstremisme) menimbulkan kasak-kusuk publik di media sosial. Pasalnya Perpres Ekstremis itu dikhawatirkan bisa mencederai kehidupan berdemokrasi di tanah air. “Iktikadnya mungkin baik untuk menangani tindak terorisme atau belakangan ini sering terjadi juga tindakan-tindakan intoleransi. Namun ada hal-hal yang mengkhawatirkan dalam praktik berdemokrasi, seperti kebebasan berpendapat atau berorganisasi. Karena di dalam perpres itu orang bisa saling mencurigai lalu saling lapor. Lantas menimbulkan stigmatisasi terhadap mereka yang dianggap punya ideologi berbahaya,” ujar sejarawan Bonnie Triyana dalam diskusi live bertajuk “Politik Stigma dalam Sejarah Indonesia” di Instagram , Facebook, dan Youtube Historia.id , Jumat (29/1/2021) malam. Stigma, cap, label, atau stempel berulang-ulang terjadi seiring zaman. Bahkan acapkali masih bertahan sampai sekarang mesti kejadiannya sudah lewat jauh. Seperti stigmatisasi terhadap orang-orang kiri pasca-Peristiwa 1965. Selain para kader maupun simpatisan Partai Komunis Indonesia (PKI) dibunuh atau dipenjara tanpa proses hukum, mereka yang dicap kiri mengalami pengucilan akibat stigma itu. Pola itu cenderung bisa berulang dewasa ini. “Ada stigma, label yang diberikan kepada orang-orang. Kalau dulu dicap ekstrem kiri, kalau sekarang bandulnya melayang ke orang-orang yang dianggap ekstrem kanan. Situs sejarahnya pun ada. Untuk ekstrem kiri pengingatnya (museum) Lubang Buaya. Untuk ekstrem kanan pengingatnya di Museum Satria Mandala, karena di sana ada peninggalan sejarahnya tentang DI/TII (Darul Islam/Tentara Islam Indonesia). Ini semacam kutukan yang berlangsung polanya,” imbuhnya. Di zaman pergolakan 1950-an hingga 1960-an, belum ada kepastian hukum terkait hal itu. Penculikan, pembunuhan yang tersebar di berbagai tempat terjadi hanya lewat tuduhan tanpa bukti dengan motif beraneka macam. Lantas, dalam konteks saat ini, kekhawatiran terletak pada ancaman terorisme dan intoleransi yang meningkat. “Responnya kan ada satu aturan untuk mempersempit gerak ekstremisme agama yang selama ini membuat orang jadi intoleran. Tapi pada akhirnya ini seperti pola melabel lagi seperti dulu. Sebenarnya pokok permasalahannya bukan kepada idologi atau pemikiran politik tapi soal tindakan si orang-orang pengikutnya yang mestinya bisa ditindak secara hukum,” tambah Bonnie. Stigma dalam Aneka Zaman Stigma sudah hidup berabad-abad silam beriringan dengan peradaban manusia berada. Menurut Soe Tjen Marching, akademisi yang juga dosen di School of Oriental and African Studies (SOAS), University of London, mulanya stigma diberikan kepada golongan kriminal atau budak. Stigma lantas berkembang seiring perjalanan zaman dan dimanfaatkan untuk menimpakan suatu kesalahan kepada orang lain. “Makanya stigma dianggap jelek karena mereka (para kriminal dan budak) dianggap sebagai orang jelek. Itu stigmanya seumur hidup karena biasanya mereka diberi cap dengan besi panas. Lalu contohnya lagi dalam sejarah dunia ada kisah Kaisar Nero di tahun 64 Masehi kala terjadi kebakaran di Roma. Dia menimpakan kesalahannya kepada orang-orang Kristen karena mereka sebagai minoritas, distigmakan sebagai kafir atau atheis,” ujar Soe Tjen. Dalam perkembangannya, lanjut Soe Tjen, stigma lantas digunakan untuk menggalang dukungan demi menjatuhkan lawan politik. Perang Salib I (1096-1099) yang mulanya persaingan merebut tanah antara Kekaisaran Byzantium dengan Dinasti Seljuk, contohnya. “Kaisar Byzantium (Alexius I Comnenus) dan Paus Urban II kan khawatir akan penyebaran muslim. Takutnya daerah Kristen tambah sempit. Tapi kan enggak mungkin mengakui rebutan tanah. Jadi dipakai stigma bahwa orang-orang (muslim) itu kafir. Dengan begitu mereka dapat dukungan (kerajaan-kerajaan Eropa). Ya mereka itu (orang-orang muslim) ekstremis begitu ya, kalau bahasa sekarang,” tambahnya. Ilustrasi kebakaran kota Roma pada tahun 64 M, karya pelukis Hubert Robert tahun 1785 ( muma-lehavre.fr ) Hampir di setiap peristiwa sejarah kerap diawali stigma. Di Nusantara itu dapat dilihat kala terjadi peperangan antara Kesultanan Demak yang dipimpin Raden Patah dengan Majapahit yang dipimpin Prabu Brawijaya V yang tak lain ayah Raden Patah. “Dalam versi lain kisahnya dikatakan Raden Patah menyerang Majapahit setelah menuduh ayahnya dengan stigma kafir, mengingat ayahnya Hindu, sementara Raden Patah Islam. Jadi itulah bahayanya tuduhan ekstremis. Juga di zaman Belanda, Cultuurstelsel kan sistem kebudayaan bercocok tanam. Namanya indah sebenarnya. Jadi Cultuurstelsel ini pemerintah Belanda mengajari pribumi untuk lebih berbudaya dan cara bertanam, bukan tanam paksa bagi mereka. Di situlah definisi-definisi ini bisa menstigma. Menstigma para pejuang yang melawan kolonialisme sebagai ekstremis. Cultuurstelsel menguatkan stigma pemberontak penjajahan adalah ekstremis, makanya tanam paksa diberi topeng dengan penamaan Cultuurstelsel ,” tutur Soe Tjen. Dalam politik internasional modern, tambah Soe Tjen, kata ‘stigma’ dipopulerkan sosiolog dan psikolog Amerika Serikat Erving Goffman lewat bukunya Stigma: Notes on the Management of Spoiled Identity yang diterbitkan tahun 1963. Goffman menguraikan bahwa stigma adalah cara untuk melindungi identitas suatu kelompok ketika mereka bertindak di luar batas kewajaran. Selain itu, cara untuk mendiskreditkan kelompok atau individu yang tidak sejalan dengan mereka. Alhasil seperti yang terjadi di Indonesia, para eks-tapol atau yang bersimpati pada mereka distigmakan sebagai ekstrem kiri yang atheis hingga cap pembunuh ulama. Di masa sekarang, terutama sejak peristiwa 9 September 2001 (Tragedi “9/11”), semua orang muslim yang berjenggot dan bercelana cingkrang distigmakan sebagai teroris. “Kebetulan pada waktu kejadian ‘9/11’, saya masih kuliah di Australia. Teman saya orang Sikh yang pakai turban sampai dipersekusi. Di pinggiran kota dia diteriaki sama anak-anak: ‘ You moslem, go home! ’ Padahal dia Sikh dan bukan muslim, hanya karena dia pakai turban walau sebetulnya turban Sikh dan sorban muslim kan berbeda. Itu menjadi stigma yang salah alamat. Tapi karena mereka enggak mengerti, jadi melampiaskan emosi, menuduhnya ngawur,” ujar perempuan yang baru menerbitkan novel Dari Dalam Kubur itu. Dialog Live Historia bertajuk "Politik Stigma dalam Sejarah Indonesia" (Layar Tangkap Youtube Historia.id ) Yang berbahaya adalah ketika stigma dilontarkan tokoh-tokoh pemerintahan dan dihubung-hubungkan dengan perkara lain ibarat “cocoklogi”. Soe Tjen mencontohkan ketika pada 2016 Menteri Pertahanan Ryamizard Ryacudu menyangkut-pautkan komunis dengan isu LGBT (lesbian, gay, biseksual, transgender). “Dikatakan bahwa munculnya gerakan LGBT di kalangan muda sudah seperti perang proxy yang menimbulkan ancaman lebih besar dari pada perang nuklir. Lalu dia menghubungkan dengan gerakan komunis juga. Jadi dicocok-cocokkan. Itulah stigma, bisa ditempel-tempelkan begitu,” lanjutnya. Stigma jauh lebih berbahaya bila dipegang pihak penguasa untuk memengaruhi pola pikir masyarakat demi menjatuhkan lawan politik. Itu bisa memercikkan konflik horizontal. Mirisnya, efeknya bisa membuat suatu tindak kejahatan dianggap menjadi tindakan kepahlawanan yang mulia. “Karena adanya stigma, kejahatan bisa dianggap ‘ new normal ’ karena stigma bisa membuat korbannya tidak lagi netral. Korban tidak lagi dipandang sebagai manusia tapi sudah diperlakukan seperti hewan. Itulah bahayanya aturan ekstremisme itu yang bisa menormalkan kejahatan,” paparnya. Satu contohnya adalah tokoh Anwar Congo yang kisahnya diumbar via film dokumenter Jagal/The Act of Killing (2012). Ia menceritakan tanpa rasa bersalah menyembelih banyak orang, baik para anggota PKI maupun orang yang dituduh PKI. Yang ia lakukan diyakini adalah tindakan mulia atau kepahlawanan. “Itu stigmanya sudah direncanakan sejak lama dan dibantu negara-negara Barat secara bertahap dan masif. Soeharto tahu cara yang sangat efektif untuk membangun stigma itu dengan membangun pola pikir masyarakat. Kalau sudah dibentuk, maka mereka akan melakukan kejahatan yang dianggap sebuah kenormalan baru itu dengan sukarela,” terangnya lagi. Lantas, bagaimana agar Perpres Ekstremisme Nomor 7 tahun 2021 yang dikeluarkan Presiden Joko Widodo (Jokowi) itu tak menimbulkan stigma-stigma macam di atas? Terlebih, di era digital, hoaks begitu mudah merangsek ke otak masyarakat dan membentuk stigma-stigma negatif terhadap suatu kelompok tertentu tanpa bukti. “Penting untuk edukasi, political will , di mana stigma harus kita perangi dengan permulaan kita harus menyadari dulu stigma itu apa. Dengan semua edukasi, atau peraturan baru, atau dengan pergantian kekuasaan yang nantinya bisa terjadi pergantian sistem, semua harus menyeluruh karena kecenderungan manusia untuk membuat stigma itu sangat besar. Kenapa hoaks itu sangat mudah disebar? Karena manusia ini gampang membuat stigma, tapi mengeceknya betul atau tidak, butuh waktu,” tandas Soe Tjen. *Tulisan ini diralat pada 23 Februari 2021
- Chairil Anwar, Sang Binatang Jalang
SUATU pagi di bulan November 1945. Suasana pertemuan di rumah Perdana Menteri Sutan Sjahrir itu berjalan begitu serius. Semua orang menyimak sungguh-sungguh semua perkataan orang ketiga di Republik Indonesia saat itu. Sekali-kali ada tanya dan perdebatan. Di tengah keseriusan tersebut, tetiba seorang pemuda berpakaian agak dekil memasuki ruangan rapat. Dalam gaya slengean, dia menuju meja Sjahrir dan mengambil beberapa batang cerutu. “Selamat pagi , Bapak Perdana Menteri. Ada yang sedang penting rupanya. Saya interupsi sebentar, cuma buat ini kok,” ujarnya seperti dikisahkan oleh Sjuman Djaya dalam bukunya yang berjudul Aku.
- Koleksi Lukisan Hilang, Pegawai Museum Tak Sadar
Lukisan berusia 500 tahun dicuri dari museum yang ada di bawah naungan Gereja San Domenico Maggiore di Napoli, Italia. Staf museum tak menyadari kalau lukisan bergambar potret Yesus Kristus itu sudah raib. Sebagaimana dilaporkan Reuters lukisan cat minyak itu adalah replika lukisan “Salvator Mundi” yang dikaitkan dengan Leonardo da Vinci. Lukisan replika yang hilang itu diyakini merupakan karya murid Leonardo da Vinci, Giacomo Alibrandi dari awal 1500-an. Salvator Mundi, penggambaran Kristus sebagai penyelamat dunia, memperlihatkan Yesus dalam pakaian Renaisans. Jari tangan kanannya membentuk tanda salib. Tangan kirinya memegang bola kristal transparan. Melansir The Art Newspaper , beberapa pers Italia mencatat berdasarkan pernyataan polisi, lukisan Salvator Mundi koleksi Museum San Domenico Maggiore telah dicuri dua tahun lalu. Namun, pihak museum menegaskan karya itu masih ada pada Januari 2020, ketika pameran di Roma ditutup. “Tidak ada laporan kehilangan. Kami yang menghubungi museum gereja untuk memberi tahu barang mereka telah dicuri,” kata Giovanni Melillo, jaksa Napoli, sebagaimana dikutip dari dw . Itu dinyatakannya usai lukisan replika Salvator Mundi akhirnya ditemukan kembali oleh petugas kepolisian di apartemen pinggiran kota di selatan Italia. Lukisan itu tersimpan di dalam sebuah lemari kamar tidur. Pemilik flat yang berusia 36 tahun pun ditangkap karena dicurigai menerima barang curian. Lukisannya pun lalu dikembalikan ke museum pekan lalu (18/1/2021). Katanya, pihak museum tak mengetahui koleksinya hilang karena ruangan tempat lukisan itu dipamerkan belum dibuka selama tiga bulan akibat pandemi virus corona. Adapun penemuan barang curian ini bermula dari informasi yang kepolisian dapatkan tentang adanya aksi penadah barang seni curian. Mereka kini masih menyelidiki bagaimana benda itu dicuri. Pasalnya tidak ada tanda-tanda pembobolan. “Siapa pun yang mengambil lukisan itu menginginkannya. Masuk akal bahwa itu adalah pencurian yang terhubung dengan organisasi yang bekerja di perdagangan seni internasional,” kata Melillo kepada The Guardian. The Art Newspaper menulis, ada sekira 20 replika Salvator Mundi yang masih ada. Karya-karya ini dikaitkan dengan murid dan pengikut Leonardo da Vinci. Versi Napoli yang dicuri dari museum, tadinya dibuat di Roma. Lalu Giovanni Antonio Muscettola, penasihat Charles V dan duta besar untuk istana kepausan, membelinya dan mebawa lukisan itu ke Napoli. Karya itu baru-baru ini kembali ke ibu kota Italia untuk dipamerkan dalam Leonardo in Rome 2019: Influences and Legacy. Lukisan Termahal Melansir Daily Mail , Salvator Mundi yang asli diperkirakan dilukis Leonardo da Vinci pada 1500-an untuk Louis XII. Ini tak lama setelah penguasa Prancis itu menaklukkan Milan dan mengambil alih Genoa. Karya asli Salvator Mundi adalah lukisan termahal yang pernah dijual dalam lelang. Pada 2017, karya ini dilepas dengan harga 450juta dolar AS atau setara dengan Rp6,335triliun (kurs Rp14.062,5). Diyakini pembelinya adalah Badr bin Abdullah bin Mohammed bin Farhan Al-Saud, seorang anggota keluarga Kerajaan Saudi. Penjualannya pun memecahkan semua rekor di balai lelang Christie, New York. Lukisan ini mestinya akan dipamerkan di Louvre Abu Dhabi pada September 2018. Namun, pameran itu ditunda tanpa batas waktu yang jelas. Sejak terjual, lukisan Salvator Mundi yang asli ini pun tak pernah muncul di hadapan publik. Beberapa ahli meragukan keasliannya. Sang maestro sendiri meninggal pada 1519. Sementara hingga kini hanya ada kurang dari 20 lukisan karyanya yang masih diketahui.
- Ketika Belanda Mendirikan Denpasar
UPAYA rakyat Bali mengusir kekuatan kolonial Belanda dari wilayahnya berakhir sudah. Pada 20 September 1906, rakyat memutuskan mengakhiri perlawanan. Kerusakan yang semakin meluas, serta gugurnya seluruh keluarga istana, membuat mereka terpaksa meletakkan senjata. Belanda pun keluar sebagai pemenang Puputan Badung. Pasca perang, pemerintah kolonial segera membangun kontrol atas wilayah barat dan selatan Bali, baik di lapangan politik, ekonomi, sosial, maupun budaya. Dalam menjalankan kontrol, pemerintah kolonial mendirikan pemerintahan sementara di bekas wilayah Kerajaan Badung. Mereka lalu memilih Puri Denpasar sebagai pusat pemerintahan sementara tersebut. Menurut Made Sutaba, dkk dalam Sejarah Perlawanan Terhadap Imperialisme dan Kolonialisme di Daerah Bali , puri itu juga menjadi pertahanan terkuat Belanda di Bali. Asisten Residen Swartz yang membawahi wilayah Afdeeling Zuid Bali , ditugasi menjaga tempat itu. Nama Denpasar cepat dikenal kalangan Belanda, terutama tentara yang ikut dalam pertempuran. Tidak hanya sebagai pusat pemerintahan kolonial, tetapi juga digunakan untuk menyebut wilayah bekas Kerajaan Badung. Lama kelamaan Denpasar dikenal luas sebagai nama sebuah kota, menggantikan Badung. Dijelaskan A.A. Gde Putra Agung, dkk dalam Sejarah Kota Denpasar 1945-1979 , berdasar laporan resmi seorang peneliti Belanda, Van Geuns, pada akhir 1906 diketahui bahwa Denpasar adalah sebuah kota yang terdiri dari rumah-rumah penduduk dengan keadaan jalan yang kurang menunjang. Laporan itu merupakan keterangan pertama Denpasar sebagai nama sebuah kota. “Dengan kenyataan ini nama Denpasar sebagai sebuah nama kota lahir pada tanggal 24 November 1906. Dan justru orang Belandalah yang memberikan julukan kepada tempat puputan ini dengan nama Denpasar,” kata Gde Putra Agung, dkk. Pemerintah Belanda membagi wilayah bekas kekuasaan Badung ke dalam lima kedistrikan, yakni Distrik Kota (Denpasar), Distrik Kesiman, Distrik Kuta, Distrik Abiansemal, dan Distrik Mengwi. Hal itu dilakukan demi mempermudah pengaturan di tempat tersebut. Distrik Kota menjadi pusat pemerintahan, dengan berbagai aktivitas sosial, politik, dan ekonomi. Pemerintahan Denpasar juga mengurusi wilayah yang cukup luas di selatan Bali, meliputi Badung, Tabanan, Gianyar, Klungkung, dan Karangasem. Mengingat peran penting tersebut, pemerintah Belanda melakukan banyak pembenahan di seluruh wilayah Denpasar. Pembangunan jalan, gedung-gedung pemerintahan, serta pusat perekonomian dikerjakan dalam kurun waktu yang singkat. Itu dilakukan agar kegiatan para kolonialis di Denpasar dapat cepat berjalan. Tidak hanya pembangunan di bidang formal, menurut Ni Made Yudantini, dkk dalam Sejarah dan Perkembangan Kota Denpasar sebagai Kota Budaya , pemerintah Belanda juga mendirikan permukiman, sekolah, pasar, dan museum. Infrastruksur jalan dan jembatan yang menghubungkan banyak tempat pun mulai dibangun. “Di samping jalan-jalan maka pemerintah kolonial telah pula mencoba menerapkan tata kota yang baru bagi Denpasar. Dalam tata kota ini antara lain menyangkut pembenahan, pelebaran, dan pembangunan baru sarana maupun prasarana Kota Denpasar seperti Pasar Badung yang merupakan pusat perbelanjaan bagi masyarakat,” ungkap Gde Agung Putra, dkk. Pemerintah kolonial merencanakan pula pembangunan kawasan industri, pemukiman, rekreasi, fasilitas kesehatan, dan perkantoran pelengkap administrasi seperti kantor urusan pajak di seluruh Denpasar. Di sektor industri, perkembangan pesat terjadi pada 1930-an dengan dibangunnya pabrik minyak kelapa dan penggilingan padi. Sementara di sektor rekreasi, kemajuan terjadi dengan sangat pesat. Seperti Pantai Kuta yang pada permulaan abad ke-19 ramai dilalui kepal-kapal dagang, mulai diperkenalkan sebagai tempat baru, yaitu sarana rekreasi. Di sana terdapat berbagai hiburan, tempat menginap, dan area bersantai. Pantai Kuta telah menjadi tempat orang-orang Eropa melepas penatnya. Mereka berencana menjadikan Denpasar sebagai sebuah kota besar, mendampingi Singaraja di utara Bali. Kehidupan di tempat itu pun menjadi semakin ramai di berbagai sektor. Penduduk dari desa-desa sekitar mulai memasuki kawasan Denpasar. Mereka membangun kehidupan baru di sana, baik sebagai buruh, pedagang, hingga pembantu orang-orang Eropa. Dampak urbanisasi memaksa pemerintah Belanda membangun tangsi militer di sekitar pusat kota. Tidak lupa didirikan juga gudang senjata, kantor kepolisian, kantor agrarian, dan rumah sakit umum. Pejabat tinggi pun mulai ditempatkan di sana, mengurusi berbagai keperluan administrasi dan pengawasan terhadap masyarakat bumiputera yang dari hari ke hari semakin ramai menempati wilayah Denpasar. “Namun demikian pemerintah telah menyadari akan masalah tersebut sehingga masalah-masalah seperti itu dapat ditangani dengan mudah. Pemerintah hanya bersikap memberikan petunjuk kawasan mana yang dapat dimukimi sesuai dengan rencana pemekaran Kota Denpasar. Perkembangan ini berlanjut sampai akhir pemerintahan kolonial Belanda di Bagi pada Maret 1942,” tulis Gde Agung Putra, dkk.*
- Jam Malam Mencekam di Negeri Oranye
SUDAH tiga hari terakhir ini Amanda, seorang warga negara Indonesia (WNI) di Amsterdam, Belanda, tak bisa tenang. Kerusuhan saban malam pecah sejak pemerintah Belanda menarapkan lockdown dan jam malam pada 23 Januari 2021. “Iya, di sini (Belanda) sedang ada jam malam dan jadi kacau keadaannya. Sejak kemarin sudah 240 orang ditangkap. Malam ini semakin buruk. Kerusuhannya bahkan sudah mendekat, kira-kira 200 meter dari apartemen saya,” ungkap WNI yang kuliah dan bekerja di Amsterdam sejak tiga tahun lalu itu via pesan singkat Telegram pada Senin malam, 25 Januari waktu setempat (Selasa, 26 Januari dini hari WIB). Kerusuhan dahsyat pada Senin malam yang mencemaskan Amanda itu tak hanya terjadi di Amsterdam namun di hampir semua kota besar di Negeri Kincir Angin, seperti Rotterdam, Haarlem, Eindhoven, dan Den Bosch. Malam itu 70 perusuh akhirnya diamankan aparat kepolisian. Pihak KBRI Den Haag mengeluarkan imbauan resmi agar para WNI untuk menaati jam malam dan memantau situasi lewat laman resmi KBRI Den Haag, id.indonesia.nl , serta menghubungi mereka lewat tujuh hotline yang disediakan jika terjadi sesuatu. Himbauan dan fasilitas itu disediakan karena perusuh tak hanya menyasar aparat sebagai simbol pemerintah, melainkan juga sejumlah pertokoan dan pusat perbelanjaan yang turut dijarah sebelum dilempari kembang api dan bom molotov. “Ini tak ada hubungannya dengan protes, ini kekerasan yang sudah jadi tindak kriminal dan kami akan melakukan tindakan yang sepatutnya,” kata Perdana Menteri (PM) Belanda Mark Rutte mengecam, dikutip BBC , Senin 25 Januari 2021. Perdana Menteri Belanda, Mark Rutte, mengecam aksi kekerasan pengunjuk rasa. (Twitter @MinPres). Para pengunjuk rasa anti- lockdown berubah jadi beringas ketika berhadapan dengan aparat kepolisian kala sudah lewat jam malam. Rijksinstituut voor Volksgezondheid en Milieu (RIVM) atau Institut Kesehatan dan Lingkungan Umum, Kementerian Kesehatan Belanda, menerapkan jam malam antara pukul 9 malam hingga 4.30 pagi waktu Belanda. Bagi yang melanggar, bakal dikenakan sanksi denda 95 euro (Rp1,6 juta). Pemerintah Belanda juga menerapkan larangan penerbangan dari dan menuju Inggris dan Afrika Selatan sebagai langkah pencegahan lebih lanjut terhadap penyebaran varian baru COVID-19 atau virus corona Inggris yang dikabarkan 30 persen lebih mematikan. PM Rutte terpaksa menerapkannya karena peningkatan kembali kasus COVID-19 di “Negeri Oranye” hingga hari ini, Selasa, 26 Januari 2021 sudah mencapai lebih dari 950 ibu positif dan lebih dari 13 ribu di antaranya meninggal. Ini kali pertama masyarakat Belanda kembali mengalami pembatasan aktivitas lewat jam malam sejak 80 tahun silam di tengah pergolakan Perang Dunia II. Jam Malam Rezim Nazi Jauh sebelum Jerman mengobarkan Perang Dunia II dengan menginvasi Polandia pada 1 September 1939, Kerajaan Belanda sudah menyatakan diri sebagai negara netral. Namun, tak seperti Spanyol, Swiss, dan Swedia, nahas melanda Belanda karena tetap diserbu pasukan baja Jerman yang merangsek ke Benelux (Belgium, Netherlands, Luxembourg) di musim panas 1940. Tiga negara kecil itu pun kocar-kacir saat perbatasan mereka didobrak pasukan Jerman lewat Operasi “Fall Gelb”, dini hari 10 Mei 1940. Pasukan agresor berjumlah 750 ribu personil itu terbagi ke dalam 22 divisi dan diiringi lebih dari 700 panser serta dibantu 800 pesawat tempur dan pembom Luftwaffe (Angkatan Udara Jerman) sebagai bagian dari Heeresgruppe B (Grup Angkatan Darat Jerman B). Dari semua kota besar di Belanda, Rotterdam yang mengalami nasib paling nahas akibat tak dinyatakan sebagai kota terbuka. Ia dijadikan lautan api setelah dibombardir 25 pesawat pembom tukik Junkers Ju-87 “Stuka” dan 54 pembom Heinkel He-111. Total, Rotterdam dihujani 300 kilogram bom dari udara, ditambah pemboman dari darat oleh Divisi Panser AD ke-9 dan Divisi Panser SS (Schutzstaffel) ke-1 “Leibstandarte SS Adolf Hitler”. Kota Rotterdam yang luluh lantak setelah dibombardir Jerman. (NIOD). Hanya empat hari Belanda bertahan dan akhirnya bertekuk lutut. Namun sebelum negerinya dimasuki serdadu Jerman dan menyerah secara resmi pada 15 Mei, Ratu Wilhelmina telah kabur dengan membawa para pejabat pemerintahan darurat ke London, Inggris. Kekosongan pemerintahan akibat tak satu pun politikus Belanda mau jadi boneka Nazi-Jerman membuat Jerman membentuk pemerintahan sipil sendiri dan menunjuk Arthur Seyss-Inquart, petinggi Nazi Austria, sebagai pemimpin Reichskommissariat Niederlande. Sejak saat itulah kehidupan penuh tekanan terhadap warga Belanda dimulai. Dalam Altruistic Personality: Rescuers of Jews in Nazi Europe , Samuel P. Oliner menjelaskan bahwa Seyss-Inquart, sebagaimana pemerintahan boneka Nazi lain, mengimplementasikan garis besar kebijakan Gleichschaltung . Semua organisasi dan partai non-sayap kanan dilikuidasi dan masyarakat dikotak-kotakkan berdasarkan ras. Kaum Yahudi jadi sasaran represi. Namun, Seyss-Inquart paham bahwa masyarakat Yahudi dan Nasrani di Belanda punya ikatan kuat sejak berabad-abad. Oleh karena itu hingga Agustus 1940, pemisahan antara Yahudi dan non-Yahudi tak seberingas di Polandia dan Prancis yang ditempatkan khusus semacam ghetto . Tujuan penerapan kebijakan itu ialah untuk mengambil hati masyarakat Belanda lain, yang masih serumpun dengan orang Jerman. Reichskommissariat Niederlande, Arthur Seyss-Inquart. Untuk sementara, tak ada satu pun ghetto di Belanda. Para Yahudi baru sekadar diwajibkan mengenakan tanda lengan Yahudi dan dilarang datang ke rumah-rumah orang non-Yahudi. Aturan itu lalu diperketat dengan represi pencaplokan lahan-lahan tuan tanah Yahudi, pengusiran guru-guru Yahudi dari semua institusi pendidikan, dan pemecatan pegawai-pegawai Yahudi di pemerintahan lokal. “Meski Jerman bertindak hati-hati selama bulan-bulan pertama pendudukan, ketentraman (di Belanda) tak bertahan lama. Aturan anti-Yahudi diterapkan pada Agustus 1940. Orang-orang Yahudi diwajibkan mendaftarkan harta kekayaan dan yang menolak akan dijebloskan ke bui. Akhirnya terjadi protes yang berujung kerusuhan,” tulis Jack Fischel dalam The Holocaust. Untuk meredam protes massal orang Yahudi yang disokong sejumlah masyarakat Belanda lain, lanjut Fischel, Seyss-Inquart mencoba “merangkul” dengan membentuk Joodse Raad, dewan khusus Yahudi, pada Februari 1941. Namun tetap saja Joodse Raad belum bisa mencegah pelanggaran yang berbuah kekerasan tanpa ujung. “Pihak Nazi sampai memberi pelajaran kepada Yahudi, di mana pada 22 Februari mereka memblokade area pemukiman Yahudi di kota Amsterdam dan menangkapi 389 lelaki Yahudi. Mereka kemudian dideportasi ke (kamp konsentrasi) Buchenwald dan kemudian Mauthausen. Hingga perang usai, hanya satu di antara mereka yang masih hidup,” imbuhnya. Seruan mogok buruh Amsterdam pada Februari 1941. (NIOD). Tiga hari pasca-peristiwa itu, kelompok-kelompok buruh non-Yahudi di Amsterdam turun ke jalan dan melancarkan pemogokan umum. Polisi dan tentara baru dapat meredam aksi buruh mencekam itu tiga hari kemudian. Pada 12 Maret, Reichssicherheitshauptamt (Dinas Keamanan Jerman) pimpinan Obergruppenführer Reinhard Heydrich mengeluarkan keputusan semua orang Yahudi di negara-negara pendudukan akan dideportasi massal, termasuk di Belanda. Untuk memindahkan Yahudi asal Belanda, RSHA menempatkan semua organisasi Yahudi di bawah otoritas Joodse Raad dan menetapkan dekrit lanjutan untuk memisahkan Yahudi dari populasi Belanda. Pada Mei, jam malam mulai diaplikasikan untuk semua warga Belanda dari pukul 8 malam sampai 6 pagi. Jam malam itu rutin disiarkan lewat radio dan mobil-mobil dengan pengeras suara yang berkeliling kota. Pada musim dingin kemudian, jam malam diperpanjang satu jam jadi jam 9 malam sampai jam 7 pagi. “Orang-orang Yahudi juga hanya diizinkan berbelanja di pasar dari jam 3-5 petang. Yahudi juga dilarang berperjalanan jauh, dan dilarang menggunakan transportasi umum tanpa izin khusus. Aturannya bertambah pada Agustus 1941, di mana anak-anak Yahudi dilarang masuk sekolah umum. Menjadi tanggung jawab Joodse Raad untuk mengisi kekosongan pendidikan itu dengan membuka sekolah mereka sendiri,” tambah Fischel. Kolase razia Yahudi di Belanda selama pendudukan Nazi 1940-1945. (NIOD). Hukuman bagi pelanggar yang tertangkap basah keluar rumah lewat jam malam bukan lagi denda sebagaimana yang ditegaskan PM Rutte pekan sebelumnya. Lewat aturan baru, para pelanggar mesti siap diberangkatkan pasukan SS ke kamp konsentrasi atau dihadapkan ke barisan eksekutor. “Pelanggaran jam malam, baik disengaja atau tidak, pasti berakibat fatal. Pada tahun kedua masa pendudukan, Herman Wallenga, seorang Yahudi dari Leeuwarden, membeli sekantung apel saat sudah lewat lima menit dari jam malam. Ia ditangkap dan langsung dikirim ke Auschwitz, di mana dia dieksekusi beberapa pekan kemudian,” tulis Peter Romijn dalam “The Experience of the Jews in the Netherlands ” yang dimuat dalam Dutch Jewry: Its History and Secular Culture (1500-2000). Situasi bertambah mencekam saat memasuki tahun 1942. Razia untuk mencari Yahudi yang bersembunyi di rumah-rumah non-Yahudi mulai dilancarkan. Banyak orang Yahudi yang lantas mencoba menyelamatkan diri dengan beralih keyakinan menjadi Katolik, demi berlindung di balik jubah Uskup Agung Johannes de Jong. Namun, 201 di antara mereka tetap dijemput paksa Pasukan SS dan dikirim ke Kamp Konsentrasi Auschwitz. Hingga awal 1945, kereta-kereta barang hilir-mudik mengantar puluhan ribu Yahudi dari provinsi-provinsi Belanda ke kamp transit Westerbork, lalu dilanjut ke kamp-kamp konsentrasi seperti Auschwitz, Sobibor, atau Bergen-Belsen. Di kamp-kamp itulah mereka menemui ajal masing-masing. Kolase deportasi Yahudi dari Belanda ke kamp-kamp konsentrasi. (NIOD). Kenyataan pahit itu antara lain dialami keluarga Anne Frank, yang kisahnya kondang berkat diterbitkannya catatan harian Anne dengan tajuk Het Achterhuis. “Keluarga Frank dikirim ke Westerbork, dan dideportasi dari sana ke Auschwitz, di mana ibu Anne, Edith, meninggal. Sedangkan Anne dan kakaknya, Margot, dikirim ke Bergen-Belsen pada akhir Oktober 1944, di mana mereka tewas setelah menderita sakit typhus . Hanya sang ayah, Otto Frank, yang selamat sampai akhir perang,” sambung Fischel. Kisah Anne Frank yang ditemukan Miep Gies, eks pekerja bawahan Otto Frank, jadi gambaran umum bagaimana orang-orang Yahudi mati-matian menghindari deportasi dengan bergantung pada belas kasih teman maupun kenalan non-Yahudi mereka. Tak peduli bantuan itu cuma-cuma atau yang dengan pamrih. Hingga berakhirnya Perang Dunia II, tak terkira korban holocaust di seantero Eropa, termasuk Belanda. Fischel menyebutkan, dari sekira 140 ribu penduduk Yahudi di Belanda sebelum pendudukan Jerman, hanya 15 ribu yang selamat ketika Jerman angkat kaki dari Belanda.
- Ruang Penyimpanan Koleksi Museum Sulawesi Tenggara Dibobol Maling
Sejumlah benda koleksi Museum Provinsi Sulawesi Tenggara (Sultra) hilang dicuri. Hal itu terjadi usai maling membobol dua lapis pintu, pintu kayu jati dan besi, yang mengamankan ruang penyimpanan museum ( storage ). Peristiwa ini diketahui oleh staf museum pada Selasa subuh (26/1/2021). “Memang yang dibobol gudang, bukan gedung koleksi pameran. Karena kalau ruang pameran ada di gedung lain,” kata Asrun Lio, Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Sultra kepada Historia melalui sambungan telepon, Rabu (27/01/2021), sekaligus membenarkan peristiwa pencurian itu. Asrun mengaku belum mendapat laporan rinci benda apa saja yang hilang. Pasalnya, kurator museum masih melakukan pendataan. Namun, dia menjelaskan, barang yang dicuri merupakan perolehan dari tahun 1980-an dan sebagian lainnya dari 1990-an. “Asalnya lokal sini, yang diambil yang kecil-kecil, ringan, terbuat dari kuningan. Ada juga perak, samurai. Banyaknya koleksi asesoris pakaian adat. Jadi, mungkin ini dikira [perhiasan] emas,” ujarnya. Tak jauh dari ruang penyimpanan yang berada di bagian belakang kompleks museum, staf juga menemukan beberapa benda koleksi tercecer, gagal dimaling. “Jumlah yang hilang sementara ini sedang dihitung. Untuk nilai barangnya tak sebanding dengan nilai sejarahnya yang hilang,” ujar Asrun. Keamanan Tak Memadai Asrun mengakui, museum yang terletak di Jalan Abunawas, Kota Kendari itu memang tak dilengkapi perangkat keamanan yang memadai. Pencurian ini memaksa mereka memperketat keamanan. Para pekerja museum diberi tugas tambahan untuk jaga malam secara bergilir. Kamera pengawas atau CCTV dipasang di area penyimpanan. Sebelumnya, CCTV hanya memantau bagian gedung pamer museum. “Keamanan belum baik. Tidak ada satpam. CCTV baru pasang kemarin karena kejadian itu. Dengan ada kejadian ini kami perketat keamanan,” kata Asrun. Asrun mengungkapkan bahwa sebelumnya museum pernah hampir kemalingan. “Ruang kerja staf pernah dibobol,” katanya. Asrun mengimbau masyarakat agar tidak membeli, menerima, dan menyimpan barang-barang yang hilang dari museum ini. “Benda-benda itu masih ada labelnya. Ada nomor registrasinya,” katanya. Pihak museum telah melaporkan pencurian ini ke polisi. “Sejauh ini kami belum pernah mencatat adanya penjualan barang ilegal di wilayah Sultra,” kata Asrun. Gambaran Buruk Sebuah Museum Menurut Yasni dalam tugas akhir di jurusan arkeologi Universitas Haluoleo Kendari, Sultra tahun 2019, yang berjudul “Konservasi Wadah Kubur (Soronga) di Museum Provinsi Sultra”, museum ini memuat 5.339 benda koleksi. Ribuan koleksi itu terbagi ke dalam 10 golongan, yakni koleksi geologi, biologi (kerangka ikan paus sepajang 12 meter), etnografi, arkeologi, historis (foto mantan raja/sultan), numismatik (bentuk alat tukar yang pernah digunakan), filologi (naskah ajaran agama Islam dan Al-Qur’an tertua), keramik, seni rupa dan koleksi teknologi. “Gedung penyimpanan berfungsi sebagai bangunan penyimpanan benda koleksi yang tidak ditampilkan dalam gedung pameran Museum Provinsi Sultra,” tulis Yasni. Koleksi unggulannya berupa soronga atau peti jenazah berusia 400 tahun. Ada juga keramik Tiongkok, perabot logam, dan naskah-naskah Buton. Menurut buku Katalog Museum Indonesia yang terbit tahun 2018, cikal bakal Museum Provinsi Sultra mulai berdiri sejak 1978/1979. Pada 1991, Museum Sultra resmi menjadi Museum Provinsi Sultra sebagai Unit Pelaksana Teknis (UPT) Direktorat Jenderal Kebudayaan. Namun, seiring berlakunya Undang-Undang Otonomi Daerah, museum ini pun dilimpahkan ke pemerintah daerah.Ia menjadi UPT Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Sultra. “Menurut saya memang pengamanan dari museum sangat kurang,” ujar Sandy Suseno, arkeolog Universitas Haluoleo, ketika dimintai pendapat soal hilangnya sejumlah koleksi museum melalui pesan singkat. “Dalam konteks kejadian di Museum Sultra, standar keamanan mungkin sudah memenuhi untuk lingkup gedung dengan pintu dua lapis, tetapi untuk lingkup ruang sangat tidak memenuhi,” lanjut Sandy. Itu seperti ketiadaan kamera pengawas dalam ruang penyimpanan museum. Pun dari foto-foto yang beredar, kata Sandy, koleksi di dalam ruangan itu hanya ditata dalam rak-rak tanpa ada perlindungan. “Koleksi hanya dibungkus koran untuk melindungi dari debu,” kata Sandy “Artinya secara umum, apabila dikatakan keamanan museum sudah sesuai, menurut saya sangat tidak sesuai.” Sandy menambahkan, dalam penanganan museum, koleksi yang ada di ruang pamer koleksi dan yang ada di ruang penyimpanan seharusnya diperlakukan sama. Bukan cuma keamanan, seperti keberadaan CCTV, tetapi juga cara mengatur koleksi. “Begitu banyak variasi koleksi, semua harusnya dibagi-bagi. Koleksi yang memiliki tingkat kerapuhan yang lebih besar, perawatannya harus lebih intensif,” kata Sandy. Untuk koleksi berbahan logam misalnya, perlu juga menilai bahan logam itu. Kata Sandy, di beberapa museum besar biasanya benda dengan nilai tinggi disimpan dalam brankas besi. “Topeng emas di Museum Sonobudoyo misalnya tersimpan di brankas besi, tetapi tetap hilang juga. Apalagi ini yang hanya disimpan di ruangan dengan gembok yang bisa dipotong,” katanya. Sandy berpendapat, sulit untuk menyalahkan pihak museum. Tak banyak staf museum yang memang secara khusus memiliki kapabilitas di bidang museum. Menurutnya peristiwa semacam ini terjadi salah satunya juga akibat perhatian pemerintah daerah yang minim terhadap museum. “Salah satu bukti adalah penggabungan manajemen museum dengan taman budaya. Ini yang membuat museum tidak dapat berkembang,” jelas Sandy. Museum sebagai institusi dinamis seharusnya berkembang bersama zaman. Untuk itu, mereka butuh kewenangan. Membutuhkan pula sumber daya, baik materi maupun tenaga manusia. “Potret Museum Sultra benar-benar mirip gambaran buruk museum yang pamerannya tidak berubah, kotor, tidak perhatian dengan koleksi, konservasi seadanya, tidak ada tenaga ahli yang benar-benar siap bekerja di museum,” ujar Sandy. Sandy menyoroti perlunya dibentuk tim khusus dari pemerintah Provinsi Sultra untuk melakukan inventarisasi koleksi museum. Ini termasuk pengelolaan museum dan pengawasannya. “Ini terdiri dari orang-orang independen. Komunitas bisa masuk berkontribusi di sana, seperti contoh kasus yang dilakukan Museum Snobudoyo dulu,” lanjut Sandy. Sinergi dengan lembaga-lembaga adat pun dibutuhkan. Pun kampanye lewat media untuk bisa memberi perhatian lebih terhadap warisan budaya di museum. Sandy juga menyayangkan berbagai peristiwa terkait warisan budaya di wilayah Sultra yang terus terjadi. Di kanal Youtube misalnya, marak video pencurian barang antik di Sultra. “Misalnya pengrusakan situs pekuburan gua di Kolaka dengan menggunakan detektor logam. Artinya kejadian-kejadian ini sebenarnya tamparan untuk pemimpin daerah karena di saat kebijakannya terlalu sibuk memoles tatanan kota, justru pembangunan kebudayaan dilupakan,” tegasnya.
- Melawan Kolera dengan Vaksinasi Massal
PEMERINTAH Indonesia mulai memberikan vaksinasi Covid-19 kepada masyarakat luas sejak pertengahan Januari 2021. Vaksinasi bertujuan untuk menekan tingkat penularan, mengurangi gejala berat, dan mencegah ambruknya layanan kesehatan. Setelah beberapa hari, dampak vaksin akan terlihat. Vaksin pernah terbukti ampuh mengurangi wabah penyakit di Hindia Belanda. Ini terjadi ketika kolera menyerang Batavia pada dekade 1910-an. Kasus kolera kali pertama tercatat pada 1821. Penderita kolera mengalami gejala muntah, lebih sering buang air besar berbentuk cairan seperti air beras. Penyakit ini tersebar lewat feses penderita yang mengkontaminasi air tanah dan lalat pembawa bakteri kolera yang hinggap di makanan. Kolera meluas tersebab sanitasi buruk, pengetahuan tentang penyakit ini sangat minim, dan orang masih sering minum air tanpa memasaknya lebih dulu.
- Kegamangan Sukarno Mengganyang Malaysia
Sekali waktu, Presiden Sukarno mengundang Brigjen Soegih Arto ke Istana Merdeka. Sang tamu istana merupakan duta besar Indonesia untuk Birma yang dikenal baik oleh presiden. Dengan nada kesal Bung Karno menyatakan betapa konfontasi dengan Malaysia telah membawa akibat yang kurang menguntungkan bagi Indonesia. “Beliau terlihat sangat serius. Jarang saya melihat Bung Karno seperti ini,” kenang Soegih Arto dalam Sanul Daca: Pengalaman Pribadi Letjen (Pur.) Soegih Arto . Kepada Soegih Arto, Sukarno mengeluarkan unek-uneknya. Presiden berkata bahwa konfrontasi dengan Malaysia sangat menguras tenaga pemerintah Indonesia. Sudah saatnya segala usaha harus dilakukan untuk menghentikan konfrontasi secara terhormat. Untuk itu, Sukarno menunjuk Soegih Arto melakukan penjajakan damai lewat "pintu belakang". Misi terhadap Soegih Arto kian menantang lantaran dirinya bukan ditugaskan ke Malaysia, melainkan ke Inggris. Seperti diketahui, Inggris merupakan negara yang mensponsori pembentukan negara Federasi Malaya. Dalam penugasan ke Inggris, Sukarno mengintruksikan dua hal kepada Soegih Arto. Pertama , supaya pemerintah Inggris memberikan indikasi seolah-olah mereka kewalahan dengan konfrontasi itu. Kedua , mengusulkan agar terjalin perundingan antara Inggris dan Indonesia mengenai penghentian konfrontasi. Sukarno menekankan indikasi penyelesaian sengketa harus datang dari Inggris. Soegih Arto menyebut misi penugasannya ke Inggris sebagai formula Sukarno untuk menyelamatkan citra Indonesia yang terbelit konfrontasi. Sebelum berangkat, Soegih Arto diberikan blangko mandat untuk menjanjikan apa saja kepada pihak Inggris. Andai kata Inggris meminta semua asetnya yang dinasionalisasi, melalui perantaraan Soegih Arto maka pemerintah Indonesia akan menyanggupi. Setelah mafhum dengan tugasnya, Soegih Arto pun permisi dan undur diri. Tidak lupa Bung Karno memberinya sangu untuk ongkos jalan. Soegih Arto berangkat ke London melalui Paris, Prancis. Ketika singgah di kediaman Atase Militer Indonesia untuk Prancis Kolonel Sumpono Banyuaji, Soegih Arto bertemu dengan Mayjen S. Parman. Soegih Arto agak terkejut mengapa Parman berada di Paris namun segan bertanya lebih lanjut. Soegih Arto kemudian mengetahui bahwa Parman sedang melakukan operasi intelijen untuk tujuan yang sama. Hanya saja, koneksi mereka yang berbeda. Bila Soegih Arto diutus ke Departemen Luar Negeri Inggris, maka Parman punya saluran ke Markas Besar Angkatan Perang. Penunjukan Parman tidak lepas dari kapasitasnya sebagai Asisten 1/Intelijen Menpangad. Selain itu, Parman juga pernah menjadi atase militer Indonesia di Inggris sehingga kenal baik dengan beberapa pejabat tinggi di kemiliteran Inggris. Keesokan harinya, Soegih Arto menyaksikan Atase Militer Indonesia untuk Inggris Kolonel Sastraprawira menjemput Parman. “Rupanya Bung Karno mengutus beberapa orang untuk menjajaki kemungkinan menghentikan konfrontasi, tanpa harus menderita malu,” tutur Soegih Arto. Dalam otobiografinya yang terbit tahun 1989, Soegih Arto mengakui kalau tidak banyak orang yang mengetahui kisah penugasannya ini. “Cerita ini mungkin sukar dipecayai, karena kejadian-kejadian kemudian, tidak mendukungnya,” kata Soegih Arto. Namun, Sukarno sendiri dalam otobiografinya agaknya menyiratkan memang adanya misi rahasia tersebut. “Aku tidak ingin membiarkan konfrontasi ini berlarut-larut. Aku menyadari, bahwa kita sekarang tersangkut dalam rentetan reaksi yang tak ada ujungnya dan disatu saat ia harus dihentikan,” kata Sukarno kepada Cindy Adams dalam Bung Karno: Penyambung Lidah Rakyat. Kebenaran cerita misi rahasia Soegih Arto dikaji oleh peneliti politik Hidayat Mukmin dalam disertasinya di Universitas Gadjah Mada. Menurut Hidayat, lobi Soegih Arto ke London merupakan upaya tersembunyi dari Bung Karno untuk mengakhiri konfontasi. “Operasi khusus” Sukarno itu berlangsung pada pertengahan tahun 1964 bersamaan dengan Menpangad Letjen Ahmad Yani menugaskan Mayjen Soeharto menjajaki kemungkinan rujuk dengan Malaysia. Hidayat juga mencatat, pemerintah Indonesia bersedia memberikan kompensasi yang mahal, antara lain pengembalian tanah partikelir milik Inggris di sekitar Ciasem dan Pamanukan yang telah diambil oleh Indonesia. “Apa yang telah dilakukan Soegih Arto tentunya bukan rekaannya sendiri, karena kenyataannya ia telah melakukan misi itu dan ini merupakan kenyataan sejarah,” kata Hidayat Mukmin dalam disertasinya yang dibukukan TNI Dalam Politik Luar Negeri: Studi Kasus Penyelesaian Konfrontasi Indonesia-Malaysia. Operasi intelijen yang dijalankan Mayjen S. Parman pun bukan isapan jempol semata. Sejarawan Universitas Indonesia Linda Sunarti membenarkan adanya usaha-usaha rahasia dari pihak Indonesia untuk menghubungi pihak Inggris (dan juga Malaysia). Sepanjang bulan Oktober 1964, terdapat sekurang-kurangnya sembilan penjajak perdamaian ( peace feelers ) dari pihak Indonesia yang menjalankan misi penyelesaian konfrontasi. “Tujuan para peace feelers ini adalah berusaha untuk mengakhiri konfrontasi melalui 'jalan belakang', karena perundingan-perundingan formal yang dilakukan tidak berhasil meredakan konflik, bahkan konflik kedua negara mulai mengarah pada konflik terbuka,” tulis Linda dalam disertasi di Universitas Indonesia berjudul “Penyelesaian Damai Konflik Indonesia Malaysia 1963--1966”. Bukti-bukti adanya usaha dari militer Indonesia menemui Inggris, kata Linda, tercantum dalam dokumen-dokumen milik Foreign Office (Departemen Hubungan Luar Negeri) di London. Diperkirakan, pengiriman misi-misi rahasia tersebut dipengaruhi oleh kekhawatiran pihak militer Indonesia mengenai kemungkinan Inggris akan melakukan serangan besar-besaran setelah pemilihan umum di Inggris tanggal 15 Oktober 1964. Bagaimana kelanjutannya misi Soegih Arto maupun penjajak rujuk lainnya? Nantikan di artikel berikutnya. (Bersambung)
- Pejuang Belakang Layar
Berjuang tak harus angkat senjata dan maju ke medan pertempuran. Adalah Bu Ruswo, orang yang berperan penting pada masa revolusi fisik di Yogyakarta. Ia berjuang di belakang layar, menyediakan pengisi perut serta kebutuhan logistik para prajurit.
- Pudarnya Pesona Hostel Pertama di Jakarta
Di Jakarta ada satu nama jalan yang unik. Biasanya nama jalan berasal dari nama pahlawan, tokoh setempat, atau tetumbuhan. Tapi jalan yang satu ini diberi nama dari profesi : Jalan Jaksa. Nama ini mengacu pada orang-orang yang pernah tinggal di jalan ini. Sebagian besar mahasiswa Rechts Hogeschool atau Sekolah Tinggi Hukum Batavia. Mahasiswa itu hampir tiap hari mengikuti kuliah di Koningsplein atau sekarang wilayah Monumen Nasional. Banyak diantaranya berasal dari luar Batavia. Mereka mencari penginapan murah yang tak terlalu jauh dari kampusnya. Pilihannya jatuh pada wilayah Gondangdia. Seni mural yang bertuliskan Welcome To Jalan Jaksa terpampang di salah satu tembok jalan legendaris tersebut. (Fernando Randy/Historia.id). Para turis berpose di depan Wisma Delima sekitar tahun 1970. (Fernando Randy/Historia.id). Citra murah ini berlanjut sampai Indonesia merdeka. Penginap di Jalan Jaksa bukan lagi mahasiswa, tapi para pelancong dalam dan luar negeri. Selain penginapan murah, Jalan Jaksa juga sohor karena kafe dan tempat hiburan murahnya sehingga sangat ideal bagi para pelancong berkantong cekak dengan tas ransel ( backpacker ). Salah satu penginapan murah yang tertua di Jalan Jaksa bernama Wisma Delima. Penginapan dengan fasilitas sederhana ini didirkan oleh Nathanael Lawalata, lelaki asal Maluku. “Nama itu berasal dari jumlah keluarga kami saat itu : Papa, Mama, dan tiga anaknya termasuk saya. Ada lima dan pas juga nomor rumah kami nomor lima,” ujar Boy Lawalata (66) putra ketiga Nathanael yang kini mengelola Wisma Delima kepada Historia . Pendiri Wisma Delima Nathanael Lawalata dan istri. (Fernando Randy/Historia.id) Boy ingat awal mula mereka merintis hostel yang didominasi warna coklat ini. Awalnya masih sepi peminat. Terus seperti itu sampai 1971. Padahal tarifnya sangat murah hanya 200 rupiah atau setara dengan 1 dolar saat itu. Berbagai cara pun ditempuh oleh semua keluarga agar Wisma Delima bisa diketahui oleh turis. “Dulu kami itu setiap hari nongkrong di Bandara Kemayoran untuk cari turis. Kami naik becak kesana. Pulang-pergi,” kata Boy. Tiap turis yang bersedia menginap di Wisma Delima akan diantar menggunakan becak. Jaraknya sekira 6.8 kilometer dengan jarak tempuh becak sejam. Boy Lawalata dan foto salah satu kamar di Wisma Delima. (Fernando Randy/Historia.id). Ibu Ning istri Boy Lawalata yang juga bertugas menyediakan sarapan bagi para tamu. (Fernando Randy/Historia.id). Tapi tamu masih sedikit. Keadaan berubah ketika Nathanael mendaftarkan Wisma Delima pada International Youth Hostel Federation (IYHF) pada 1972. Sejak itu tamu berdatangan. Wisma Delima juga tercantum dalam buku panduan wisata sekelas Lonely Planet. Masa kejayaan Wisma Delima merentang dari 1979 hingga 1990. Pemasukan dari tamu diputar untuk menambah kamar, dari 12 menjadi 14. Juga ada tambahan 2 kamar bertipe khusus untuk rombongan enam orang atau dikenal kamar tipe dormitory. “Setiap musim liburan di Eropa, kamar penuh terus. Bahkan sampai ke lantai. Mereka tidur hanya dengan kantong tidur. Dan kita juga akhirnya mengontrak rumah tetangga kanan-kiri sini buat turis. Karena disini sudah tidak muat lagi,” lanjut Boy. Pak Yanu karyawan yang sudah bekerja sejak 1985 di Wisma Delima. (Fernando Randy/Historia.id). Berbagai sudut di Wisma Delima saat ini. (Fernando Randy/Historia.id). (kiri) Salah satu hiasan ayam di sudut Wisma. (kanan) Moses Lawalata yang bertekad menjadi penerus untuk Wisma Delima. (Fernando Randy/Historia.id). Seiring perkembangan zaman, tantangan Wisma Delima pun berubah. Wisma Delima mulai sepi dari tahun 2014. Saat itu ada kebijakan dari pemerintah kota Jakarta tidak boleh parkir di trotoar. Orang jadi malas kemari karena tidak ada gedung parkir. Selepas itu, pandemi Covid-19 melanda Indonesia. Di tengah berbagai polemik, Boy berupaya menjaga Wisma Delima dengan sekuat tenaga. Apalagi penginapan yang kini bertarif 200 ratus ribu semalam tersebut sudah menjadi bagian dari sejarah pariwisata di Indonesia. “Saya akan menjaga Wisma Delima agar terus berdiri di Jakarta,” tutupnya. Foto sang pendiri Wisma Delima Natanael Lawalata. (Fernando Randy/Historia.id).
- Intelijen Indonesia Kebobolan Agen CIA
PRESIDEN Sukarno mengunjungi Mesir sebanyak enam kali. Roeslan Abdulgani, mantan menteri penerangan, ikut dalam kunjungan terakhir pada 1965. Di ruang besar hotel tempat rombongan menginap, Roeslan didekati seorang perempuan Amerika Serikat yang menanyakan apakah dia dapat berkenalan dengan Sukarno.
- Anzio, Palagan Sengit Merebut Roma
DARI anjungan kapal USS Biscayne , Mayjen John P. Lucas merapal doa dalam hati. Pukul dua dini hari 22 Januari 1944, Panglima Korps ke-6 Tentara ke-5 Angkatan Darat Amerika Serikat (AD AS) itu lantas memelototi binokularnya untuk mengecek keadaan pasukannya yang baru beringsut dari kapal-kapal pendarat menuju kota pantai Anzio, Italia. Operasi Shingle yang jadi tanggung jawab Jenderal Lucas itu pun dimulai. Dua gugus tugas pasukan Sekutu yang terdiri dari Divisi Infantri ke-3, Korps ke-6 AD AS, dan Divisi Infantri ke-1 AD Inggris dengan total 36 ribu personel berangsur-angsur mulai diangkut dengan 16 landing craft , delapan landing ship infantry, 84 landing ship tank, 96 landing craft infantry, dan 50 landing craft tank dari ratusan kapal dalam konvoi yang berangkat dari Pelabuhan Napoli pada 21 Januari malam. Lucas bersyukur. Di luar dugaan, sekira 20 ribu serdadu Sekutu yang menggelar pendaratan amfibi itu tak sekalipun memicu tembakan meriam maupun senjata lain dari pihak musuh. Unsur pendadakan Operasi Shingle telah tercapai. “Apa yang kami capai boleh dibilang merupakan salah satu kejutan paling komplit sepanjang sejarah. Biscayne lepas jangkar 3,5 mil di lepas pantai dan saya tak bisa mempercayai apa yang saya lihat ketika berdiri di anjungan dan tak satupun senapan mesin atau tembakan lain terlontar ke pantai,” tulis Jenderal Lucas dalam buku hariannya, dikutip Martin Blumenson dalam Anzio: The Gamble that Failed. Mayor Jenderal John Porter Lucas (kiri) dan skema pendaratan Sekutu di Pantai Anzio. (US War Department). Sejatinya Jerman bukan tanpa pertahanan. Di wilayah pantai dan kota saja menumpuk 20 ribu serdadu Jerman. Namun memang pendaratan Sekutu itu gagal terdeteksi sejak awal. Panglima Grup C AD Jerman Generalfeldmarschall Albert Kesselring baru mendapat kabar Pantai Anzio diserang pada pukul 3 dini hari atau sejam setelah pendaratan dimulai. “Satu-satunya perlawanan datang dari sedikit artileri pantai dan unit anti-pesawat. Dua baterainya menembak ke arah pantai secara sporadis selama beberapa menit sebelum matahari terbit, hingga akhirnya dibungkam meriam-meriam kapal (Sekutu),” imbuh Blumenson. Namun Kesselring sama sekali tak panik. Ia sudah punya serangkaian strategi kontingensi untuk mengatasi serangan mendadak semacam itu. Kuncinya ada pada unit reaksi cepat yang mobile dan senantiasa disimpannya untuk menangkal dan memberi waktu pasukan yang lebih besar mengonsolidasikan pertahanan kuat. Saat Sekutu sibuk merampungkan pendaratan, Kesselring memanggil para jenderalnya. Operasi Shingle Sekutu itu akan ia ladeni dengan Operasi Richard. Modalnya adalah 20 ribu personil yang ia kumpulkan dari unit reaksi cepat Divisi Linud ke-4 dan Divisi Panser “Hermann Göring”. Generalfeldmarschall Albert Kesselring (tengah) yang bertanggung jawab atas semua kekuatan Poros di Italia. (Allgemeiner Deutscher Nachrichtendienst). Bukan untuk menemui Sekutu di pantai, Operasi Richard juga untuk mengamankan jalur-jalur dari pantai menuju kota Anzio sepanjang Perbukitan Alban, Campoleone, dan Cisterna. Itu diharapkan cukup untuk menahan laju Sekutu sampai permintaan pasukan tambahannya direstui Komando Tinggi Militer Jerman (OKW). Saat pagi menjelang, hampir seluruh 36 ribu personil Sekutu beserta 3.200 kendaraan tempur beraneka jenis sudah mengamankan beachhead (pijakan) pantai. Divisi ke-1 Inggris merebut Dermaga Anzio dan mengamankan perimeter sejauh tiga kilometer dari bibir pantai, sementara Divisi ke-3 AS merebut Dermaga Nettuno dengan perimeter lima kilometer. Perlawanan yang mereka temui sekadar memakan korban 13 serdadu Sekutu dan 200 pasukan garnisun pantai Jerman ditawan. Namun, Jenderal Lucas menyetop ofensifnya untuk lebih dulu mengonsolidasikan pasukannya dengan membuat kubu-kubu pertahanan sembari menanti pasukan tambahan. Melihat rintangan alam di sekitar pantai, Lucas tak ingin mengambil risiko lebih besar. Padahal, Perdana Menteri (PM) Inggris Winston Churchill, yang melahirkan konsep Operasi Shingle, menuntutnya bergegas menuju Roma yang jadi target utama operasi. Friksi Amerika-Inggris Sejak Operasi Shingle digaungkan Churchill pada 1943, ia acap ditentang para jenderal Amerika. Salah satu faktor utamanya karena kondisi alam di sekitar Pantai Anzio mayoritas adalah rawa dan dikelilingi Pegunungan Laziali. Selain rawan serangan balik dari daratan tinggi, lokasinya juga rentan memicu wabah malaria. Selain itu, ketersediaan kapal-kapal pendarat amat minim. Terlebih, Sekutu sebelumnya juga mencanangkan Invasi ke Normandia (D-Day) yang direncanakan pada Juli 1944. Amerika enggan mendisposisi kapal-kapalnya dari Inggris ke Italia karena dikhawatirkan akan berdampak pada penundaanrencana D-Day. Berulang kali operasi itu ditentang, namun setiap kali itu juga Churchill bersikukuh sehingga menimbulkan friksi dengan sekutunya sendiri. Terlebih pada 17 Januari 1944, Sekutu masih direpotkan dengan Pertempuran Monte Cassino untuk mendobrak pertahanan Jerman di Gustav Lini, selatan Anzio. “Pihak Amerika menganggap pendaratan ke Anzio malah akan memecah konsentrasi dalam menembus pertahanan Jerman di Monte Cassino. Juga dikhawatirkan jika Monte Cassino tak mampu direbut, pasukan di Anzio justru bakal terperangkap. Tetapi karena (panglima Sekutu) masih berkonsentrasi pada rencana Operasi Overlord (Invasi Normandia, red. ), keputusan soal Anzio diserahkan kepada Churchill dengan catatan, waspada pada kekuatan Jerman yang belum terprediksi,” tulis Rick Atkinson dalam The Day of Battle: The War in Sicily and Italy, 1943-1944. Ratusan personel garnisun pantai Jerman yang menyerah (kiri) oleh pasukan Inggris di Anzio. ( iwm.org.uk ). Di pihak Jerman, lanjut Atkinson, dilema juga melanda Marsekal Kesselring. Pasukan AD ke-10 Jerman masih mati-matian menahan laju AD ke-5 Amerika dan AD ke-8 Inggris di Gustav Lini. Andai ia menarik pasukannya dari Monte Cassino ke Anzio, Gustav Lini akan ambruk. Tetapi jika tidak, Roma akan lebih mudah direbut Sekutu dan otomatis jalur komunikasi pasukannya di Italia Tengah dan Italia Utara bakal terputus. Namun di garis depan, Jenderal Lucas dengan persetujuan atasannya, Panglima AD ke-5 Amerika Letjen Mark W. Clark, pilih menanti pasukan tambahan meski Churchill mendesak untuk terus maju memanfaatkan unsur pendadakan. Baginya, jika harus menuruti perintah resmi menyerang Perbukitan Alban sebagai pijakan menuju Roma, ia butuh setidaknya dua korps pasukan bantuan. “Mereka ingin saya mendarat dengan jumlah pasukan yang tidak laik dan berpotensi jadi bencana. Kalau begitu kejadiannya, siapa yang akan disalahkan? Aroma (bencana) Gallipoli sangat terasa dan sepertinya sosok amatir yang sama (Churchill, red. ) masih jadi penanggungjawabnya,” sambung Lucas di buku hariannya. Kolase Marsekal Kesselring menginspeksi pasukannya di garis depan front Italia. (Bundesarchiv). Sementara pasukan Sekutu bertahan di pantai, waktu yang terbuang dimanfaatkan Kesselring untuk mengonsolidasikan pasukannya. Permintaannya akan pasukan tambahan dijawab OKW dengan mengirim enam divisi dari Prancis, Yugoslavia, Jerman, dan Italia Utara. Sebagian pasukan AD ke-10 yang bertahan di Monte Cassino pun dikirim ke Anzio. Di lain pihak, Jenderal Lucas mendapat pasukan tambahan dari Divisi Infantri ke-45 dan Divisi Lapis Baja ke-1 Amerika pada akhir Januari. Total ia mengomando 69 ribu personil, yang akan berkofrontasi dengan 71 ribu personil Kessering. Dengan tambahan pasukan itu, Sekutu melanjutkan gerak ofensifnya pada 30 Januari dengan menargetkan Campoleone dan Cisterna. Di hari pertama Februari, Kesselring mendapat tambahan Korps Linud ke-1 dan Korps Panser ke-76 sehingga total personilnya berjumlah 100 ribu. Sementara, Sekutu kekuatan bertambah menjadi 76 ribu personil lewat kedatangan Divisi Infantri ke-56 Inggris. Bentrok dua kekuatan besar itu berlangsung pada 3 Februari malam ketika Jerman melancarkan serangan balik ke Campoleone. Namun hingga 23 Februari, pergerakan Sekutu tak mencapai harapan karena kuatnya pertahanan Jerman. Letnan Jenderal Mark Wayne Clark (kiri) mengambil alih Operasi Diadem. ( army.mil / iwm.org.uk ). Akibatnya, Jenderal Lucas dibebastugaskan. Komando diambilalih Jenderal Clark. Ofensif diperbarui dengan menggelar Operasi Diadem yang menargetkan Campoleone, Albano, lalu Roma. Pasukan tambahan kembali diundang. Puncaknya, Sekutu punya 150 ribu serdadu. Sementara, pasukan Jerman yang berkekuatan 135 ribu personil dipusatkan Kesselring di Caesar C Lini, kubu defensif terakhir sebelum kota Roma. Sepanjang Maret hingga Mei, garis pertahanan itu makin menipis akibat serangan bertubi-tubi Sekutu. Adolf Hitler yang khawatir itu akan terjadi Stalingrad kedua, pada 2 Juni memerintahkan Kesselring meninggalkan pertahanan kota Roma. Dengan sisa-sisa pasukannya, Kesselring mundur ke utara kota Roma dan membentuk kubu pertahanan “Roman Switch Line” di dekat pantai Laut Thyrrenian. Kota Cisterna yang jadi puing-puing (kiri) & Kota Roma yang berhasil direbut Sekutu (kanan). ( iwm.org.uk ). Pada dini hari 4 Juni, pasukan Jenderal Clark memasuki kota Roma dan sehari berikutnya mengumumkan pembebasan “kota abadi” itu dari Jerman Nazi. Walau berakhir dengan kemenangan, Sekutu dipaksa Kesselring membayarnya dengan harga sangat mahal. Lloyd Clark dalam Anzio: The Friction of War, Italy and the Battle for Rome 1944 mengungkapkan, selain friksi internal petinggi Inggris dan Amerika meruncing sejak Hari-H yang kemudian berlangsung 136 hari, membuat Sekutu kehilangan tujuh ribu nyawa prajuritnya atau dua ribu lebih banyak ketimbang pihak Jerman. Itu belum termasuk 36 ribu serdadu yang terluka atau hilang. Sementara, Jerman menderita 30 ribu personil terluka atau hilang. “ Blunder yang dilakukan (pasukan) Anglo-Amerika terletak pada keputusan mereka mengulur waktu. Pasukan pendaratnya juga lemah, hanya berkekuatan satu atau dua divisi utuh tanpa kawalan lapis baja. Di situlah letak kesalahan mendasar mereka,” tandas Kesselring, dikutip Clark.





















