Hasil pencarian
Cari di situs ini
10060 hasil ditemukan dengan pencarian kosong
- Dedikasi Pelatih untuk Timnas Merah Putih
Keberhasilan sepak bola tidak hanya ditentukan kemampuan para atletnya, namun juga kualitas strategi yang disusun oleh pelatih.
- Poorwo Soedarmo, Bapak Gizi Indonesia
Poorwo Soedarmo dikenal dengan slogan Empat Sehat Lima Sempurna. Slogan ini merumuskan secara sederhana kandungan gizi dalam bahan makanan.
- Penanganan Stunting di Indonesia
Menurut WHO stunting adalah gangguan pertumbuhan dan perkembangan anak akibat kekurangan gizi kronis. Namun definisinya mengalami perubahan.
- Perjalanan Hidup Pramoedya Ananta Toer (Bagian 2)
Bagaimana kelanjutan perjalanan hidup Pramoedya Ananta Toer?
- Perjalanan Hidup Pramoedya Ananta Toer (Bagian 1)
Bagaimana perjalanan hidup Pramoedya Ananta Toer?
- Malabar Bubar di Tangan Laskar
BANDUNG, 5 Mei 1923. Pagi-pagi sekali Gubernur Jenderal de Fock beserta rombongan keluar dari penginapan di hotel Preanger. Iring-iringan kendaraan bergerak melintasi Dayeuhkolot ke arah perbukitan Bandung Selatan. Setelah melalui Banjaran dan Cimaung, sampailah mereka di kaki Gunung Malabar. Hari itu de Fock meresmikan pemancar radio Malabar, “stasiun radio pertama yang menghubungkan Belanda dan Hindia Belanda,” tulis Haryadi Suadi dalam Riwayat Radio Republik Indonesia. Pemancar Malabar dibangun Cornelius Johannes de Groot (1883-1927), alumnus teknik listrik dan rekayasa mekanis Delftse Polytechnische School, Karlsruhe, Jerman. “Dalam disertasi yang berjudul Radiotelegrafie In The Tropen, Groot mengemukakan perlunya hubungan radio secara langsung antara Nederland dan Hindia Belanda. Dia yakin, secara teknis hal itu bisa dilakukan,” tulis buku The Year-book of Wireless Telegraphy & Telephony terbitan Marconi Press Agency Limited, 1920.
- Islam di Asia-Afrika Mendukung Palestina
BERTEMPAT di Gedung Merdeka, Jalan Asia Afrika, Bandung, Presiden Sukarno membuka Konferensi Islam Asia Afrika (KIAA) I pada Sabtu, 6 Maret 1965. Setelah molor beberapa minggu dari yang direncanakan, konferensi penerus dari Konferensi Asia Afrika (KAA) yang diadakan satu dekade sebelumnya di tempat yang sama ini menjadi pernyataan sikap bersama kelompok-kelompok Islam di Asia dan Afrika dalam tata kehidupan global.
- Bung Karno Pahlawan Islam
SEDERET gelar kehormatan tersemat kepada Presiden RI ke-1 Sukarno. Mulai dari Bapak Proklamator Kemerdekaan Indonesia, Pemimpin Besar Revolusi, hingga Penyambung Lidah Rakyat. Dari sekian banyak gelar kehormatan, tak semua berkenan bagi Bung Karno. Seperti misalnya gelar Rimbawan Agung dari Departemen Kehutanan, yang mengingatkan orang kepada tarzan si manusia hutan. Atau gelar “nabi” pemberian kelompok Agama Djawa Asli Republik Indonesia (ADARI), yang tentu saja ditolak Bung Karno karena menjurus bid'ah.
- Sentuhan Eropa di Balik Kemunculan Tempura
KEBANYAKAN orang mengenal tempura sebagai makanan khas Jepang yang menjadi hidangan pendamping saat menyantap ramen ataupun donburi. Dibuat dari sayuran atau hasil laut seperti udang, ikan, dan cumi yang dibalut dengan adonan tepung, tempura sangat nikmat jika disantap saat hangat. Termasuk dalam kelompok agemono atau makanan yang digoreng, tempura biasanya dinikmati dengan saus cocol yang disebut tentsuyu. Namun, tak sedikit pula yang menyantapnya dengan saus sambal atau tomat.
- Konferensi Islam Asia Afrika Bikin Malaysia Senewen
RAPAT akbar berlangsung di Stadion Gelora Bung Karno yang penuh sesak. Hari itu, perhelatan akbar antar-bangsa-bangsa dunia dalam Konferensi Islam Asia Afrika (KIAA) memasuki acara penutupan. Presiden Sukarno tampil memberikan amanatnya. Puluhan ribu massa, termasuk delegasi negara peserta konferensi, takjub mendengar pidato Bung Karno yang menggetarkan.
- Insiden Mobil Kepresidenan Soeharto
SEWAKTU berkunjung ke Bali, Presiden Soeharto hendak menghabiskan waktu dengan main golf di kawasan wisata Bedugul. Soeharto ditemani Perdana Menteri Singapura Lee Kwan Yew. Karena kehadiran tamu negara penting itu, maka rombongan Presiden Soeharto disertai oleh Pasukan Pengamanan Presiden (Paspampres) termasuk tim teknisi mobil kepresidenan.
- Menangkap Pattimura
WAKTU Thomas Matulessy alias Kapitan Pattimura dan pasukannya menyerang Benteng Duurstede pada 16 Mei 1817 dan selama tiga bulan mendudukinya, Belanda sudah punya tentara yang terdiri dari warga setempat. Depot Ambonese Troepen namanya. Pasukan itu baru saja dibentuk karena Belanda berhasil berkuasa lagi di sana. Di dalam Depot Ambonese Troepen terdapat seorang letnan artileri bernama Mathij Jenni. Dia pernah berdinas dalam militer Inggris dan ditempatkan di sekitar Ambon ketika kekuasaan Belanda terganggu oleh Perang Eropa yang dipicu Napoleon Bonaparte. Dalam ketentaraan Inggris, pada 1810 Jenni seorang letnan artileri. Letnan Jenni dan pasukannya terlibat dalam penyerangan terhadap posisi kekuatan Kapitan Pattimura. Letnan Jenni mendarat di Pulau Saparua pada 9 November 1817 lalu menyerang Negeri Tiouw. Kala itu pasukannya melakukan serangan kilat sejak pukul delapan. Desa Tiouw dan Saparua pun lalu diduduki. Dalam pertempuran itu, Jenni terluka dan seorang Belanda, Letnan Frisschart, terbunuh. Atas jasanya, sebut Arsip Ridders Militaire Willemsorde 43 nomor 0987, Letnan Jenni mendapatkan bintang Militaire Willemsorde kelas 4 atas jasanya dalam perebutan Saparua dan sekitarnya itu. Perwira lain dari Depot Ambonese Troepen yang dianggap berjasa selain Letnan Matthij Jenni adalah Letnan Matheus Thomas Pietersz. Letnan infanteri ini besar pula jasanya dalam memungkas perlawanan Pattimura dkk. “Di antara perwira pribumi Letnan Pietersz paling menonjol sebagai perwira yang sangat terampil, cakap dan bijaksana, sangat berguna pengetahuannya yang mendalam tentang adat istiadat dan karakter kawan maupun lawan,” terang Kolonel Maurits Verhuell dalam Herinneringen aan een reis naar Oost-Indië. Letnan Pietersz ditugasi mendekati orang-orang Ambon yang bersembunyi setelah perlawanan Pattimura. Belanda tentu berusaha membujuk raja-raja atau kapitan di negeri sekitarnya untuk berpihak kepada mereka dan melawan kubu Pattimura. Negeri-negeri di Maluku adalah setara desa, dimana kepala desa itu disebut sebagai Raja di sana. Salah satu Raja Negeri yang kemudian berpihak pada Belanda adalah Raja Lilibooi. “Kampung Lilibooi, yang awalnya juga mendukung pemberontakan, dipaksa menyediakan pasukan bagi Belanda untuk menentang pemberontak,” catat Dieter Bartels dalam Di Bawah Naungan Gunung Nunusaku jilid 2. Menurut Bartels, Lilibooi yang terpaksa memihak Belanda ini bukan Lilibooi Saparua melainkan Lilibooi Ambon. Nama Raja Lilibooy itu adalah David Nussy. Letnan Pietersz, Raja Lilibooi mendarat di sekitar Negeri Siri Sori pada hari-hari penindakan Belanda ini.Keduanya mendarat bersama dua orang yang sering melintasi kepulauan itu. Keduanya mendengar bahwa Thomas Mattulesy (kadang ditulis sebagai Thomas Metulesie) alias Kapitan Pattimura berada di sebuah rumah penduduk di Siri Sori. “Dengan kekuatan bersenjata, mereka mengambil jalan memutar menuju rumah yang dimaksud. Letnan Pieterz memasuki rumah tanpa ragu-ragu dan berbicara kepada pemimpin pemberontak dan menyarankan dia untuk menyerah,” catat Verhuell. Namun ketika Kapitan Pattimura masih menimbang tiba-tiba masuklah Raja Lilibooi dan orang-orang bersenjata lainnya. Maka ditangkaplah Kapitan Pattimura pada 13 November 1817 dengan hatinya yang hancur. “Namun Pria Kristen yang teguh iman itu tetap tenang sampai akhir hayat,” kata Bartels. Setelah ditahan pada 16 Desember 1817 dengan perasaan tenang dengan berucap “selamat tinggal, Tuan-tuan” di sekitar Benteng Nieuw Victoria Kota Ambon. Letnan Pieterz kadang disebut sebagai Pierson dan lainnya. Bartels menyebut dia berdarah Indo-Eropa. Setelah aksinya di Siri Sori, Letnan Pieterz juga mendapat Bintang Ridders MIlitaire Willemsorde kelas 4 seperti Letnan Jenni.*




















