top of page

Hasil pencarian

9752 hasil ditemukan dengan pencarian kosong

  • Jenderal Hario "Tundukkan" Subandrio

    SUATU senja di RTM Budi Utomo, Jakarta tahun 1981. Mayjen (Purn.) Soehario Padmodiwirio atau yang akrab disapa Hario “Kecik”, mantan Pangdam IX/Mulawarman, kedatangan mantan Menteri/Panglima AU Omar Dani di tempat tahanannya. Dani datang untuk memastikan apakah Subandrio, mantan wakil perdana menteri I, baru saja mengunjunginya. “Iya, ia membawa berita yang saya sudah tahu. Saya dengarkan saja, berlagak seolah-olah seperti belum tahu,” kata Hario sambil tertawa, yang dituliskannya dalam Memoar Hario Kecik II . Subandrio datang memberitahu berita rencana pembebasan Hario dan dua jenderal lain yang ditahan di tempat sama oleh rezim Orde Baru. Mendengar keterangan Hario, Dani pun lega. Dani tahu betul karakter Subandrio, teman satu blok di tahanan itu, suka menguping dan kerap membuat kegaduhan dengan pernyataan-pernyataannya. Dani khawatir berita pembebasan Hario disalahgunakan Subandrio. Baca juga:  Omar Dani, Panglima yang Dinista Bukan rahasia bila Subandrio si mantan kepala Biro Pusat Intelijen (BPI) kerap mengeluarkan pernyataan yang menimbulkan kegaduhan dalam poltik. Pernyataan-pernyataannya juga kerap merugikan orang lain. Mantan Menteri Penerangan Sudibyo menyaksikan bagaimana pernyataan Subandrio merugikan Chairul Saleh, mantan wakil Perdana Menteri III, yang saat itu menjabat Ketua Periodik Front Nasional. “Yang sangat saya sesalkan adalah sikap Subandrio yang menuduh Chairul Saleh sebagai orang yang termasuk dinasti ekonomi. Serangan Subandrio begitu hebatnya, yang diikuti oleh kekuatan-kekuatan Kom, yang kira-kira senada. Di situ kelihatan bahwa Saudara Chairul Saleh selalu dipojok-pojokkan oleh Subandrio,” kata Sudibyo dalam kesaksiannya, termuat di Chairul Saleh Tokoh Kontroversial . Maka dari itulah Dani mendatangi Hario. “Waktu berita tentang akan dibebaskannya tiga Jendral, Pranoto, Rukman, dan selirane sampeyan (Anda, red .), diberitahukan oleh Overste (Tomo) itu, Pak Ban ikut nguping ,” kata Dani, dikutip Hario. Hario dan Dani pun tertawa bersama. Kedua mantan perwira tinggi itu sama-sama tahu karakter Subandrio sejak lama. Terlebih Hario, dia sudah lama kenal Subandrio. Dia merupakan teman Hurustiati, istri Subandrio, saat kuliah di jurusan kedokteran. Hario paham betul bagaimana cara menghadapi Subandrio. Hario pernah membuat Subandrio “takluk”. Kisah itu terjadi pada awal dekade 1960-an saat Hario masih menjabat sebagai Pangdam Mulawarman dan Subandrio sebagai menteri luar negeri. Karena suatu urusan, Hario datang ke Jakarta. Saat itulah di suatu pagi dia dipanggil Subandrio ke rumahnya. “Cik, kamu sekarang berangkat ke sini, ke rumah saya. Sudah jangan tanya untuk apa. Saya tunggu sekarang,” kata Subandrio. Baca juga:  Memburu Soebandrio Subandrio ternyata mengajak Hario ke Kompleks peristirahatan milik Mobil Brigade Kepolisian RI di Megamendung. Namun, perjalanan jauh itu bagi Hario seakan hanya buang-buang waktu saja. Subandrio ternyata hanya ingin memamerkan konsep pidato yang dibuatnya untuk pidato 17 Agustus Presiden Sukarno. Hario pun bingung apa tujuan Soebandrio mengajaknya ke Megamendung.   “Belakangan, setelah saya mengikuti pidato yang diucapkan Bung Karno lewat radio, ternyata berbeda isinya, tidak seperti yang saya baca di Megamendung,” kata Hario. Meski seperti dikerjai, Hario tak kecewa karena dia telah “menundukkan” Subandrio ketika mobil yang mereka naiki menuju Megamendung baru melintasi Cisalak. Di sanalah Hario meminta Subandrio untuk memerintahkan supir agar menghentikan mobil karena dia tak tahan ingin buang hajat. Permintaan itu membuat Subandrio kesal. “Kamu itu bagaimana, saya ini menteri lho. Mosok kamu suruh berhenti. Kurangajar kamu. Di mana kamu akan ngising ? Gendeng kamu, Cik. Sini bukan hutan-belantaramu Kalimantan!” kata Subandrio. Alih-alih menanggapi kemarahan Subandrio, Hario tak ambil pusing dan tetap meminta agar mobil dihentikan. Karena mobil masih tetap melaju, Hario akhirnya mengeluarkan ancaman sambil menyuruh supir menghentikan mobil. “Berhenti...berhenti, saya tidak kuat lagi menahan. Atau saya ngebrok di sini di dalam mobil,” kata Hario. Ancaman Hario pun mendorong Subandrio memerintahkan supir segera menghentikan mobil. Setelah Hario kembali dari menyelesaikan hajatnya, Subandrio pun kembali marah. “Tapi saya sendiri dalam hati merasa puas. Inilah suatu momen historis yang spektakuler,” kata Hario.

  • Dr. Soeharto dan Abdurachim Menemui Sosrokartono

    DR. SOEHARTO bertemu dengan Abdurachim saat menangani pasien pada 1937. Mereka berkenalan dan menjadi akrab. Abdurachim memiliki tempat pengobatan bernama Darul Annam di Petojo Selatan, Jakarta. Soeharto kemudian mengenalkan Abdurachim kepada Sukarno. Abdurachim pun menjadi salah satu guru spiritual Sukarno. "Kakak Abdurachim berasal dari Banten. Ia selalu memanggil saya dengan Dik. Dengan perantaraan saya, Bung Karno pun berkenalan akrab dengannya," kata Soeharto dalam memoarnya,  Saksi Sejarah . Soeharto menjadi dokter pribadi Sukarno dan Mohammad Hatta dari 1942 hingga 1966.

  • McDonald's Sarinah Akhirnya Punah

    Hari-hari belakangan ini media sosial diramaikan oleh berita tentang gerai McDonald’s (McD) di Gedung Sarinah, Jakarta. Gerai pertama McD di Indonesia itu tutup mulai 10 Mei 2020. Jutaan warga internet menanggapi penutupan ini sehingga membuatnya jadi salah satu trending topic  di twitter . Mereka mengangkat kisah nostalgia, sentimental, dan kenangan personalnya dengan restoran waralaba ini. McCafe yang tampak kosong. (Fernando Randy/Historia). Sebagai gerai McD pertama di Indonesia, McD Sarinah memiliki cerita cukup menarik dan berliku. McD Sarinah kali pertama dibuka pada 1991. Ia sempat berganti nama menjadi Tony Jacks karena konflik internal pemilik pada 2009. Tapi nama ini hanya bertahan dua tahun. Setelah itu, restoran ini kembali bernama McD. Para pengunjung berfoto di dalam gerai Mc Donalds Sarinah. (Fernando Randy/Historia). Para pengunjung menggunakan wastafel McDonalds Sarinah untuk terakhir kalinya. (Fernando Randy/Historia). Seorang pengunjung beribadah di musola McDonalds Sarinah. (Fernando Randy/Historia). McD Sarinah terletak di jantung bisnis kota Jakarta sehingga turut menentukan popularitasnya. Ia berada dalam gedung dan jalan bersejarah di Jakarta. Gedung Sarinah dan Jalan M.H. Thamrin, tempat di mana restoran ini berdiri, telah menjadi saksi beragam kisah demonstrasi dan parade festival tiap tahunnya. Misalnya demonstrasi anti-Sukarno pada 1966 sampai arak-arakan perayaan hari ulang tahun Jakarta. Para pengunjung membeli makanan di McD Sarinah untuk terakhir kalinya. (Fernando Randy/Historia). Suasana sepi di McD Sarinah. (Fernando Randy/Historia). Bagi banyak orang, McD Sarinah tempat tumbuhnya kenangan personal, sentimental, dan hal-hal yang sifatnya nostalgia. “McD Sarinah adalah salah satu tempat nongkrong yang bersejarah dalam hidup saya. Saat itu saya sedang mengalami kebuntuan dalam menulis skripsi di rumah. Tapi di sini ide mengalir dan akhirnya saya berhasil menjadi sarjana,” ujar Melly (22 tahun), pegawai di salah satu agensi periklanan, mengenang salah satu fase hidupnya. Para karyawan saat membersihkan gerai Mcd Sarinah. (Fernando Randy/Historia). Sementara itu, Danar (32), karyawan swasata, bertemu jodohnya di McD Sarinah, "ingat betul beberapa tahun lalu saya kenalan sama istri saya di sini. Saat itu kami sedang buka puasa bersama. Bisa dibilang kalau tidak ada McD Sarinah, mungkin saya tidak menikah dengan istri saya sekarang." Salah satu karyawan berpose sesaat setelah membersihkan McD Sarinah. (Fernando Randy/Historia). Setelah beroperasi selama 30 tahun, restoran yang mempunyai maskot badut bernama Ronald McDonald tersebut akan pamit. Gedung Sarinah akan dipugar demi keamanan bangunan. Seiring pemugaran, ada perubahan konsep, model, dan strategi bisnis gedung Sarinah. Pengelola ingin lebih menitikberatkan unsur ke-Indonesia-an dan keberpihakan pada Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) sebagaimana khitah gedung ini waktu pertama kali dibangun oleh Sukarno pada 1962. Maskot McDonalds yang ikonik, Ronald McDonald. (Fernando Randy/Historia). McD berasal dari Amerika Serikat dan kapitalisasi besar. Ia dinilai kurang cocok dengan konsep, model, dan strategi bisnis gedung Sarinah ke depannya. Sebenarnya pengelola memberikan syarat jika McD masih ingin beroperasi di Sarinah. McD harus menambahkan sajian Indonesia dalam menunya hingga mencapai 50 persen. Tapi manajemen McD telah bulat menutup gerainya.   Salah satu pelanggan menunggu pesanan datang di McD Sarinah. (Fernando Randy/Historia). McD Sarinah yang begitu dicintai oleh berbagai usia. (Fernando Randy/Historia). Penutupan McD Sarinah menyebabkan masyarkat berbondong-bondong ke sana untuk membeli, berfoto, dan menuliskan kesan mereka di papan yang disediakan oleh manajemen McD. Walaupun restoran McD masih bertebaran di berbagai sudut kota ini, berbagai kenangan sentimental, personal, dan nostalgia tak akan terganti. Para pembeli menikmati berbagai produk terakhir dari McD Sarinah. (Fernando Randy/Historia). Letaknya yang strategis turut mengangkat popularitas McD Sarinah. (Fernando Randy/Historia). Ronald McDonald yang begitu ikonik di McD Sarinah. (Fernando Randy/Historia ) Berbagai ucapan dari orang-orang yang mempunyai kenangan di McD Sarinah turut menghiasi hari terakhirnya. (Fernando Randy/Historia).

  • Sejarah Vihara, Tempat Belajar Para Biksu

    MASYARAKAT memahami vihara sebagai tempat ibadah pemeluk agama Buddha yang identik dengan klenteng.   Tak banyak yang tahu kalau dulu vihara selain tempat ibadah juga tempat belajar, berkumpul, dan tinggal para biksu/biku. "Kini, vihara sering digunakan untuk menyebut kelenteng yang fungsi utamanya sebagai rumah ibadah Tridharma, di dalamnya ada pemujaan Konfusius, Buddha, dan Taoisme," kata Agni Sesaria Mochtar, arkeolog dari Balai Arkeologi Yogyakarta, dalam diskusi via aplikasi  zoom  tentang "Mengenal Vihara dan Pesantren sebagai Tempat Pembelajaran Agama dalam Perspektif Arkeologi" yang diselenggarakan oleh Balai Arkeologi Yogyakarta, Jumat, 8 Mei 2020. Agni menjelaskan pemahaman Buddha masa kini telah mengalami percampuran dengan kepercayaan Konghucu. Dalam konteks itu, vihara berfungsi sebagai pusat kegiatan agama dan kebudayaan. Kegiatan di dalam vihara adalah berdoa, bermeditasi, dan membaca  parrita.  Namun, pada masa Jawa Kuno, vihara punya arti berbeda. Bentuk Awal Vihara Tak mudah menggambarkan bentuk awal vihara pada masa Jawa Kuno karena tinggalannya hampir tidak ada. Hanya batur ganda di Kompleks Ratu Boko dan Candi Sari di Yogyakarta yang masih bisa diamati. Namun, relief Kharmawibhangga di kaki Candi Borobudur, Magelang, Jawa Tengah, memberikan petunjuk seperti apa tempat para biksu itu menuntut ilmu. Agni menunjukkan beberapa relief yang menggambarkan kompleks vihara dikelilingi pagar. Di dalamnya ada pendopo untuk berkumpul, kuil dengan konstruksi batu, dan tempat tinggal dengan konstruksi kayu. "Mungkin inilah mengapa tidak ditemukan sisanya sampai sekarang karena bahan kayu mudah lapuk," kata Agni. Selain dari relief, keberadaan vihara bisa ditelurusi lewat prasasti. Ada 21 prasasti dari abad ke-8 sampai ke-11 yang menyebut kata vihāra , bihāra , dan  wihāra . "Lokasi temuan prasasti yang paling barat dekat Pekalongan, paling timur di perbatasan Sidoarjo-Surabaya," kata Agni. Agni mendaftar 21 prasasti itu dalam "Vihara dan Pluralisme pada Masa Jawa Kuna Abad VIII-XI Masehi (Tinjauan Data Prasasti)" yang terbit dalam  Berkala Arkeologi (2015) , sebagai berikut: Abad ke-8: Prasasti Abhayagirivihāra menyebut Vihāra Abhayagiri dan Prasasti Kalasan menyebut Vihāra i Kalasa. Abad ke-9: Prasasti Kayumwungan menyebut kata vihāra ; Prasasti Abhayananda (826) menyebut Wihāra Abhayananda; Prasasti Kuti (840) menyebut Kuti; Prasasti Wayuku (854) menyebut Wihāra Abhayananda; Prasasti Wihāra (874) menyebut wihāra ; Prasasti Salimar IV (880) menyebut Wihāra i Kandang; Prasasti Kalirungan (883) menyebut Wihāra i Kalirungan; dan Prasasti Munggu Antan (887) menyebut Wihāra i Gusali. Abad ke-10: Prasasti Poh (905) menyebut Wihāra Waitanning Hawan; Prasasti Palepangan (906) menyebut Bihāra ing Pahai; Prasasti Sangsang (907) menyebut Wihāra i Hujung Galuh; Prasasti Wukajana menyebut Bihāra i Dalinan; Prasasti Guntur (907) menyebut Wihāra i Garung; Prasasti Wanua Tengah III (908) menyebut Bihāra i Pikatan; Prasasti Wutit menyebut Sang Hyang Wihāra; Prasasti Pling-Pling menyebut kata wihāra ; Prasasti Wurudu Kidul A (922) menyebut Wihāra i Halaran; dan Prasasti Hara-Hara (966) menyebut Sang Hyang Kuti. Abad ke-11: Prasasti Kelagen (1037) menyebut sebuah wihāra . Sebelum abad ke-8 tidak ditemukan prasasti yang menyebut vihara. Ini mungkin bisa dikaitkan dengan peristiwa kepindahan Rakai Panangkaran dari penganut Hindu menjadi Buddha pada abad ke-8. "Tidak berarti sebelum kepindahan Rakai Panangkaran ke Buddhisme tidak ada penganut Buddhisme di dalam masyarakat Jawa Kuno," tulis Agni. Buktinya, kata Agni dalam Prasasti Wanua Tengah III disebutkan Vihāra i Pikatan yang didirikan Rahyangta i Hara. Ia adalah adik Rahyangta i Mḍang yang ada sebelum masa pemerintahan Rakai Panangkaran. "Ini bukti bahwa sebelum Rakai Panangkaran sudah ada penganut Buddhisme," tulis Agni. Fungsi Awal Agni menyimpulkan keberadaan vihara memuncak pada abad ke-10. Asumsinya, mungkin ketika itu jumlah biksu sangat banyak. "Dapat disimpulkan Buddhisme di Jawa Kuno mengalami puncak perkembangan pada abad ke-10," kata Agni. Itu berkaitan dengan fungsi vihara pada masanya. Agni menerangkan bahwa dalam Prasasti Kalasan, Abhayagirivihara, dan Kayumwungan, digambarkan vihara adalah pusat pemujaan dan penyebaran agama Buddha oleh para biksu yang terpelajar. Menurut Agni, berdasarkan Prasasti Kalasan pula arkeolog Soekmono menggambarkan vihara sebagai sebutan untuk keseluruhan gugusan bangunan yang terdiri dari kuil dan asramanya. Ahli Jawa Kuno, P.J. Zoetmulder mendeskripsikan vihara sebagai biara atau candi yang aslinya merupakan serambi tempat para pendeta berkumpul atau berjalan-jalan. Sedangkan arkeolog UGM, Kusen pernah mendefinisikan vihara sebagai tempat tinggal atau tempat persinggahan dan tempat berkumpul mendiskusikan agama bagi para pendeta agama Buddha. "Dulu, utamanya vihara adalah tempat tinggal para biksu, untuk mereka berkegiatan sehari-hari mempelajari kitab suci. Di dalamnya ada bangunan khusus untuk melakukan ritual agama," kata Agni. Menurut Agni, pendirian Vihāra i Kalasa dalam Prasasti Kalasan berkaitan dengan bangunan yang kini dikenal sebagai Candi Kalasan di Yogyakarta. Pun dengan tempat tinggal bagi para biksu di dekatnya. "…Dengan perintah guru, sebuah bangunan suci untuk Tārā telah didirikan, dan demikian pula sebuah bangunan untuk para biksu yang mulia ahli dalam ajaran Mahāyana, telah didirikan oleh para ahli…," tulis prasasti itu. Agni menjelaskan, selama ini ada beberapa pendapat tentang bangunan vihara di dekat kuil Tara itu. Ada yang menyebut vihara itu adalah Candi Sari yang lokasinya tak sampai 1 km dari Candi Kalasan. "Salah satunya Bernet Kempers (ahli purbakala Belanda,  red .). Candi Sari kan bangunan bertingkat, lantai atas untuk biksu. Tetapi disadari juga oleh Kempers pada musim hujan akan sangat tidak nyaman tinggal di bangunan batu karena pasti akan lembab," jelas Agni. Karenanya, Agni sendiri cenderung setuju kalau ada kompleks vihara di dekat lokasi Candi Kalasan yang bisa menampung berbagai kegiatan. Kini lokasinya diperkirakan menjadi permukiman warga di sekitar Candi Kalasan. "Kalau kembali pada definisi vihara menurut Soekmono, Candi Kalasan itu kuil untuk ritualnya, lalu di dekatnya ada untuk tempat tinggalnya (para biksu,  red. )," kata Agni. Nyatanya, fungsi vihara pada masa lampau tak melulu soal agama. Dalam Prasasti Wurudu Kidul A diperoleh informasi kalau vihara terlibat pula dalam proses penetapan hukum. Ia menjadi saksi yang akan meneguhkan keputusan hukum terhadap seseorang. Kenyataan kalau raja-raja pada masa Jawa Kuno menetapkan  sima  bagi pendirian vihara, menurut Agni, juga bisa menjadi petunjuk adanya tujuan lain dari pembangunannya. Pasalnya, raja-raja yang menetapkan status  sima  untuk vihara ini tak selalu berkeyakinan Buddha. Mereka adalah raja-raja yang beragama Hindu. Misalnya, Rakai Watukura Dyah Balitung (899–911), yang mengembalikan status sawah di Wanua Tengah sebagai  sima vihara  di Pikatan. Padahal, ia beragama Siwa. Ia menyandang gelar pentahbisan sebagai titisan Siwa. Alasannya bisa sebagai penghormatan bagi para penganut Buddha. Bisa juga karena alasan politis. "Seorang raja yang ingin menguasai wilayah besar, perlu mengambil simpati semua golongan," kata Agni. Dalam perkembangannya seiring datangnya pengaruh Islam, Agni melihat adanya kesinambungan tradisi pengajaran di vihara dengan yang ada di pesantren tradisional. Sedangkan pengaruh Tiongkok yang masuk ke Nusantara lama kelamaan juga ikut mengubah  tradisi ritual di vihara. "Kita lihat kepercayaan Tridharma sangat kental pengaruh Tiongkok," kata Agni. "Itu kenapa bisa bergeser dari vihara ke klenteng."*

  • Pondok Pesantren dan Penyiaran Islam Tertua di Jawa

    Pondok pesantren merupakan lembaga pendidikan agama Islam tertua di Indonesia. Di Jawa, tradisi ini kemungkinan besar sudah dilakukan sejak Maulana Malik Ibrahim menjadi penyebar pertama Islam di Jawa. Masyhudi Muhtar, peneliti bidang arkeologi Islam di Balai Arkeologi Yogyakarta menjelaskan istilah pesantren sendiri didapat dari kata santri. Dalam bahasa Sanskerta, kata itu berasal dari kata cantrik , artinya murid padepokan atau murid. “Dalam bahasa Tamil, yang berarti guru mengaji . Dalam bahasa India istilah itu berasal dari kata Shastri , artinya orang yang tahu buku-buku suci agama Hindu,” kata Masyhudi dalam diskusi “Mengenal Vihara dan Pesantren sebagai Tempat Pembelajaran Agama dalam Perspektif Arkeologi” via aplikasi zoom yang diadakan Balai Arkeologi Yogyakarta. Sementara itu, kata “pondok” berasal dari bahasa Arab, funduuq yang artinya asrama, penginapan, dan hotel. Menurut Masyhudi, pada dasarnya pesantren terdiri dari pondok, masjid, pengajaran kitab klasik, santri, dan kiai. “Pondok pada dasarnya adalah asrama pendidikan Islam tradisional di mana santri tinggal bersama di bawah bimbingan seorang atau lebih guru yang dikenal dengan kiai,” kata Masyhudi. Secara arkeologis, Masyhudi menduga, Masjid Maulana Malik Ibrahim di Leran, Gresik adalah salah satu tempat yang pernah dipakai sebagai pesantren. Lokasinya 3-4 km lebih dari makamnya yang terkenal. “Malik Ibrahim ternyata pernah bermukim di situ dan melakukan aktivitas keilmuan di Leran. Salah satu peninggalannya adalah masjid. Sudah dipugar baru, tetapi masih tersisa tempat wudu yang dilestarikan dan tak dipakai lagi,” kata Masyhudi.       Baca juga:  Mempertanyakan Bukti Islam Tertua di Jawa Azyumardi Azra, guru besar sejarah UIN Syarif Hidayatullah, dalam Jaringan Ulama Timur Tengah dan Kepulauan Nusantara Abad XVII dan XVIII menulis kebanyakan serjana sepakat kalau di antara para penyebar pertama Islam di Jawa adalah Maulana Malik Ibrahim. Ia mengislamkan kebanyakan wilayah pesisir di utara Jawa. “Bahkan beberapa kali mencoba membujuk Raja Hindu-Buddha Majapahit, Vikramavaddhana (berkuasa 1386–1429) agar masuk Islam,” catat Azra. Menurut Masyhudi, tokoh ini dikenal sebagai ulama, yang pada masa kini mungkin akan dipanggil kiai. Dari tinggalannya bisa dinilai bahwa Maulana Malik Ibrahim pasti punya pengikut yang bisa dianggap sebagai santri atau murid. “Secara tertulis bukti pendukungnya sangat sulit kita peroleh. Ini bisa diinterpretasikan ternyata Malik Ibrahim itu tokoh ulama, yaitu ada pengikutnya,” kata Masyhudi. Lokasi lainnya yang mungkin pernah dijadikan sebagai pesantren pada awal perkembangan Islam adalah Langgar Bubrah di Kudus. Lokasinya di sebelah barat Masjid Sunan Kudus. Dalam Berita Penelitian Arkeologi No. 14A (1978) yang disusun oleh arkeolog Hasan M. Ambary, dkk. bangunan ini dapat dianggap sebagai temuan dari masa peralihan antara masa pengaruh Hindu dan masa pengaruh Islam. Baca juga:  Mempertanyakan Kembali Teori Islamisasi di Nusantara Langgar, kata Masyhudi, secara tradisional merupakan tempat untuk mencari ilmu agama. Pengajaran agama di suatu langgar dilakukan langsung antara kiai kepada santrinya. Tak jauh dari langgar itu ada bangunan bernama dalem yang juga digunakan sebagai tempat kegiatan keilmuan. “Tidak hanya di Jawa, kalau di Sumatra Barat itu surau. Di sebelah langgar ada bangunan memanjang sangat dimungkinkan untuk bermukim para santri. Bisa diinterpretasi kalau ada kegiatan keilmuan di tempat-tempat itu,” kata Masyhudi. Kendati mungkin, kata Masyhudi, jumlah santri masih terbatas. Penyampaian keilmuan pun belum seperti sekarang. Masyhudi menduga tokoh Walisongo lain, Sunan Ampel di Surabaya, juga memiliki tempat semacam pesantren untuk menyiarkan ajarannya. Seorang wali besar seperti dirinya pasti memiliki banyak murid. “Susah cari bekas pesantrennya. Sudah digusur jadi pasar. Informasinya di sekitar masjid itu ada tempat kegiatan keagamaan, barangkali pesantren,” kata Masyhudi. Masjid sebagai Tempat Pendidikan Dari peninggalan itu terlihat kalau masjid tak dapat dipisahkan dengan pesantren. Kawasan masjid dianggap sebagai tempat paling tepat untuk mendidik para santri. Ini terutama dalam praktik ibadah lima waktu, khotbah dan salat Jumat, serta pengkajian kitab klasik yang mulai berlangsung paling tidak pada abad ke-18-19. “Masjid Nabawi di Madinah misalnya waktu awal perkem b angan Islam di sana juga dijadikan tempat pendidikan,” kata Masyhudi. Baca juga:  Peran Ulama dalam Kerajaan Islam di Nusantara Di Bagelen, Purworejo, Jawa Tengah juga terdapat masjid semacam itu. Di masjid ini terdapat prasasti pada salah satu tiang yang kini sudah menyatu dengan tembok. “Bertuliskan huruf Arab. Ini pertanda kalau masjid ini dulunya pernah dipakai untuk kegiatan keilmuan,” kata Masyhudi. Menurut Masyhudi, prasasti itu mengungkapkan bahwa masjid dibangun di sebuah negeri yang besar, di mana waktu itu pemerintahan Mataram Islam sedang berlangsung. Masjid ini diberikan kepada Syekh Baidowi atas jasanya kepada istri Sultan Mataram. “Mungkin pernah menolong istri Sultan Mataram, tetapi tidak disebutkan pada masanya siapa. Artinya dipakai atas dasar pemberian keraton Mataram, sehingga sampai sekarang masjid ini tanahnya masih masuk tanah perdikan,” kata Masyhudi. Kitab Kuning Menurut Masyhudi, sejak tumbuhnya pesantren, pengkajian kitab klasik diberikan sebagai upaya meneruskan tujuan utama pesantren, yaitu mendidik calon ulama yang setia terhadap paham Islam tradisional. “Penyebutan kitab klasik dalam dunia pesantren lebih populer disebut kitab kuning, karena biasanya dulu dicetak dalam warna yang agak kuning, tulisan lebih jelas,” kata Masyhudi . Salah satunya sebuah naskah kuno dari 1347 yang ditulis dalam huruf Arab dan berbahasa Jawa. Isinya adalah ajaran tasawuf dalam bentuk tembang. “Sangat mungkin tua karena dibuat dengan bahan deluwang yang sangat asli. Tersimpan di Salatiga, disimpan oleh seorang kolektor,” kata Masyhudi. Baca juga:  Naskah Ajaran Islam Awal di Jawa Kitab-kitab kuning atau klasik biasanya dipelajari para santri di pesantren. Mereka ada yang sengaja datang dari jauh untuk tinggal dan bermukim di sana. Ada pula yang hanya datang belajar kemudian pulang ke tempat tinggalnya di desa sekitar pesantren. Pada awal perkembangannya, para satri biasanya belajar dengan metode sorogan. Dalam bahasa Jawa, sorog berarti menyodorkan. Santri bisa menyodorkan materi dan langsung bertatap muka dengan seorang ulama. “Sangat mungkin dengan sistem sorogan. Memberi pelajaran kepada murid harus dilakukan berhadap-hadapan, digurukan, agar tidak mengubah makna. Ini pentingnya metode sorogan ,” kata Masyhudi. Baca juga:  Benarkah Samudera Pasai Kerajaan Islam Pertama di Nusantara? Selain sorogan , metode lain adalah bandongan,  yaitupara santri menyimak penjelasan dari ulama atau kiai. Ini biasanya dilakukan dalam sebuah forum besar. “Lima sampai lima ratus santri mendengarkan kiai, mengulas buku-buku Islam dalam bahasa Arab. Metode ini berlaku pada masa awal perkembangan Islam di Nusantara, khususnya Jawa,” kata Masyhudi. Metode baru muncul setelah abad ke-20. Bentuknya lebih formal dengan membagi santri berdasarkan kelas, sebagaimana jenjang madrasah. Sejauh ini, kata Masyhudi, keberadaan awal pesantren di Jawa baru bisa ditarik sejauh hingga abad ke-16. “Dari data belum ada di bawah 1500-an. Adapun di luar Jawa, seperti di Aceh, makam-makam Islam dari abad ke-14 di sana juga sudah banyak,” kata Masyhudi.

  • Orang Nusantara di Kapal Belanda

    JAGAT media sosial tanah air kembali geger. Sebuah rekaman video memperlihatkan kapal ikan Tiongkok sedang melarung jenazah ABK Indonesia ke tengah laut. Sontak hal itu mengundang marah masyarakat Indonesia. Banyak yang mempersoalkan sikap para awak kapal Long Xin 629 itu dan menganggapnya tidak manusiawi. Masyarakat menuntut kejelasan dalam kasus tersebut. Peristiwa ABK Indonesia dilarung pertama kali diberitakan oleh MBC (sebuah media terkemuka di Korea Selatan) dan sempat menjadi pembicaraan di negara itu. Pemerintah Indonesia pun segera bergerak mengusut tuntas persoalan tersebut. Dikutip Kompas , Menteri Luar Negeri Retno Marsudi memberikan keterangan terkait kasus tersebut. “Dari informasi yang diperoleh KBRI, pihak kapal telah memberi tahu pihak keluarga dan mendapat surat persetujuan pelarungan di laut dari keluarga tertanggal 30 Maret 2020. Pihak keluarga juga sepakat menerima kompensasi kematian dari kapal Tian Yu 8,” kata Retno, Kamis (7/5/2020). Dalam sejarah, banyak orang Indonesia (saat itu masih disebut sebagai Hindia Belanda atau Nusantara) pernah hidup (sementara) di kapal milik pemerintah Hindia Belanda. Selain karena statusnya sebagai budak, ada sejumlah orang yang tinggal karena memang tengah mengadakan perjalanan ke Belanda. Mereka  yang mendapat undangan resmi dari pemerintah Belanda itu sempat merasakan hidup di atas kapal selama berbulan-bulan. Tamu Resmi Sejumlah orang yang pernah secara resmi diberi kesempatan berpetualang di atas kapal Belanda adalah para utusan dari Aceh. Mereka diundang oleh Pangeran Maurits untuk berkunjung dan melihat negerinya. Selama berbulan-bulan para utusan ini mengarungi lautan, bergaul dengan para awak kapal Kerajaan Belanda. Sejak pertama kali menaruh minat terhadap Kepulauan Nusantara, pandangan Belanda langsung tertuju kepada Aceh. Wilayah di Sumatra itu menjadi pilihan utama bagi hubungan perdagangan yang ingin dibangun Belanda. Mereka tahu bahwa Aceh telah menjalin hubungan diplomatik yang sangat luas dengan Persia, India, dan Timur Tengah. Bahkan musuh bebuyutannya, Portugis, telah merangsak masuk ke sana. Belanda pun memutuskan segera menjalin hubungan baik dengan penguasa Aceh. Pada 1599, Belanda mengirim dua kapal, Leeuw dan Leeuwin , ke daratan Aceh. Kapal-kapal itu mengangkut bala tentara dan sejumlah pejabat Belanda di bawah pimpinan dua bersaudara Cornelis dan Frederick de Houtman. Namun usaha itu mengalami kegagalan karena kurangnya kepercayaan penguasa Aceh terhadap Belanda yang tersohor memiliki sifat buruk. Pada 1601 usaha lain dilakukan Belanda. Diceritakan Cees van Dijk dalam “Utusan, Budak, Seorang Pelukis, dan Beberapa Siswa” dimuat Di Negeri Penjajah: Orang Indonesia di Negeri Belanda 1600-1950 , empat buah kapal, Zeelandia, Middelborgh, Sonne, dan Langhe Barcke , lengkap dengan sepucuk surat dari Maurits beserta hadiah diberangkatkan dari Kerajaan Belanda. Usaha kali ini membuahkan hasil. Penguasa Aceh bersedia mengirim tiga utusan –duta besar Aceh Tuanku Abdul Zamat (Abdul Hamid), Laksamana Raja Seri Mohmat (Sri Muhammad), dan seorang kemenakan sultan Meras San (Mir Hasan)– untuk melihat sendiri keadaan Negeri Belanda sebelum memutuskan untuk menjalin suatu hubungan bilateral. Para utusan itu juga didampingi beberapa orang pembantu, pedagang Arab, dan penerjemah. “Sejarah tidak mencatat bagaimana kesan-kesan mereka dan apakah menurut mereka orang Belanda itu beradab. Namun kita mengetahui bagaimana perjalanan mereka berlangsung, dan bagaimana mereka disambut di Negeri Belanda,” tulis Cees. Pada Agustus 1601, kapal Zeelandia dan Langhe Barcke  memulai pelayarannya. Hampir setahun kemudian, dua kapal pengangkut perutusan itu tiba di Zeeland. Selama berada di perjalanan, kata Cees, para perutusan sudah menyaksikan model peradaban Barat dari para awak kapal. Bahkan tentang pergaulan ala Eropa zaman itu yang tidak mereka kenal pun tersaksikan dengan jelas. Pada 1602, setelah melewati Tanjung Harapan petaka menimpa dua kapal perutusan itu. Di dekat Pulau Sint Helena, mereka mendapat hadangan dari kapal Portugis (sumber lain menyebut Spanyol). Pertempuran pun tidak terhindarkan. Setelah kejar-kejaran selama beberapa hari, kapal itu pun berhasil ditahan. Kondisi perutusan terjaga baik. Meski kondisi Abdul Zamat, yang sebelumnya sakit, semakin memburuk. “Dalam perjalanannya orang-orang Aceh itu mencicipi pengalaman berada di tengah peperangan orang Eropa dan di tengah pemberontakan daerah-daerah Belanda terhadap penjajahan Spanyol,” tulis Cees. Para perutusan Aceh berhasil tiba dengan selamat di Belanda. Namun belum lama menginjakkan kaki di sana, pada 9 Agustus 1602 dalam usia 71 tahun, Abdul Zamat menghembuskan nafas terakhirnya. Para pejabat, atas persetujuan Perserikatan Dagang Hindia, sepakat memakamkannya di Gereja Sint Piters dengan mengikuti syariat Islam. Sementara perutusan lain berhasil menemui Pangerang Maurits, dan setelah beberapa saat tinggal mereka akhirnya kembali ke Aceh. Selain para perutusan Aceh, bangsawan dari Ambon, Maluku, dan beberapa penguasa Jawa juga pernah mendapat undangan serupa. Dari Ambon, tiga orang pangeran muda yang berusia antara 10 dan 12 tahun diajak berkeliling Belanda pada 1607. Mereka berangkat menumpang beberapa kapal Kerajaan Belanda. Perjalanan panjang mengarungi lautan itu menjadi pengalaman berharga mereka dalam mengenal kebudayaan Barat. Keselamatan mereka tentu menjadi jaminan juga. Derita Terjajah Nasib berbeda dirasakan para budak dan rakyat terjajah. Jika para bangsawan mendapat berbagai kemewahan di dalam percobaannya tinggal di kapal pemerintah Belanda, para budak mendapat perlakuan lain. Statusnya sebagai budak membuat kehidupan mereka di kapal tidak kalah menyengsarakan dengan kehidupan perbudakan di daratan. Keadaan itu dirasakan rakyat di beberapa daerah, terutama tempat-tempat pemasok budak seperti Bali dan Maluku. Menurut I.O. Nanulaitta dalam Kapitan Pattimura, di Maluku banyak laki-laki dewasa yang dikirim ke Batavia sebagai budak. Perjalanan laut yang mereka lalui untuk sampai ke pusat pemerintah Hindia Belanda itu begitu menyengsarakan. Bahkan banyak berita yang menyebut tidak semua rakyat Maluku bisa selamat sampai tujuan. “Dengan kekerasan pemerintah itu hendak memisah semua laki-laki dari anak isterinya,” tulis Nanulaitta. Cerita tentang kondisi para budak juga digambarkan Harry A. Poeze dalam bukunya Di Negeri Penjajah: Orang Indonesia di Negeri Belanda . Pada permulaan abad ke-18 banyak berita tentang budak Hindia yang dibawa ke Negeri Belanda oleh para pedagang sebagai bukti status sosial. Di antara banyak kasus, ada satu laporan yang cukup mengejutkan tentang seorang budak perempuan yang menerima perlakuan tidak wajar dari majikannya selama di kapal. Usia budak itu antara 4-5 tahun. “Cerita lain adalah tentang budak perempuan milik Aaltje Barnards. Aaltje Barnards melakukan pelayaran dengan kapal Waarden , dengan nakhoda Adriaan Geleijnsz. Sampai di Negeri Belanda, Aaltje dan nakhoda itu dituduh berzinah; tapi tudahan itu tak penting di sini; yang lebih penting adalah bahwa Aatje telah mengajarkan kepada gadis budak kecil berusia empat-lima tahun itu “semua lagu bordil yang jorok-jorok”, sehingga nakhoda dan Aaltje tertawa terbahak-bahak,” tulis Poeze.*

  • Filantropi Masa Resesi Ekonomi

    DIDI Kempot, seniman campursari kesohor, telah berpulang pada 5 Mei 2020 setelah mengalami kelelahan manggung di mana-mana. Dia sempat menggelar konser amal untuk penanganan pandemi Covid-19. Hasilnya Rp7,8 miliar terkumpul dan disalurkan kepada mereka yang membutuhkan. Praktik filantropi pada masa krisis semacam ini seringkali tersua dalam sejarah Indonesia.

  • Menak Jingga yang Ganteng

    RIBUAN orang memadati pingir jalan protokol di jantung kota Banyuwangi. Mereka begitu terkesima menyaksikan parade kostum etnik modern nan megah dari pagelaran Banyuwangi Ethno Carnival (BEC) 2019 yang mengangkat tema “The Kingdom of Blambangan”. Sajian apik lainnya, yang membuka BEC 2019, tak kalah memukau penonton: sedratari Amuke Satria Blambangan . Ia  mengisahkan perang antara Kerajaan Blambangan dan  Kerajaan Majapahit, yang akhirnya dimenangkan Menak Jingga, adipati Blambangan yang kemudian jadi raja Blambangan. Sendratari dibuka dengan fragmen kemegahan prajurit Blambangan yang melakukan olah kanuragan. Sekira 20 orang dengan kostum dominan hitam melakukan gerak silat ala Banyuwangi, diiringi gending gaya Banyuwangi yang rancak. Lalu masuklah tokoh Menak Jingga. Dia beserta para senapatinya menerima tamu dari Majapahit yang membawa undangan paseban agung ke Majapahit. Menak Jingga pun berangkat beserta keluarga dan prajurit pilihan, meski hal itu sudah dicegah oleh senapatinya. Baca juga:  Perlawanan Jagapati sebagai Hari Jadi Banyuwangi Sesampai di Majapahit, dia disambut pasukan di bawah pimpinan Wikramawardhana dan Kencanawungu. Raja Majapahit ini menuduh Menak Jingga datang ke paseban diiringi pasukan pilihan itu hendak menyerbu Majapahit. Menak Jingga tak terima dengan tuduhan itu. Dia mengamuk sejadi-jadinya dengan membawa senjata gadanya. “Lewat BEC penonton diajak menyelami sejarah dengan cara yang menyenangkan. Tidak hanya menampilkan pawai kostum saja, tapi juga disertai narasi sejarah dan tradisi lokal yang menambah wawasan. Inilah yang menjadi keunikan dari BEC,” kata Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas, dikutip dari laman banyuwangikab.go.id . Satria Menak Jingga Kisah Menak Jingga dikenal di seantero Jawa. Tokoh dari Blambangan –sekarang Banyuwangi– dikisahkan sebagai kubu antagonis dalam persaingan antara Majapahit dan Blambangan. Dalam banyak cerita, Menak Jingga memiliki karakter mudah marah. Penggambaran ini membuat resah beberapa tokoh budaya Banyuwangi. Salah satunya Hasnan Singodimayan. “Dibilang Banyuwangi ini nenek moyangnya Menak Jingga. Berwajah merah. Marah-marah saja sama Majapahit. Keturunannya cantik-cantik, sanghyang wedari gandrung, selendangnya merah,” ujar Hasnan dalam tayangan di laman YouTube. Menak Jingga merupakan tokoh sentral dalam sejarah Blambangan, yang ditempatkan sebagai seorang ksatria atau pemimpin kebanggaan Wong Osing, suku asli Banyuwangi. Sebaliknya, dalam sejarah Majapahit, Damarwulan menjadi tokoh utama karena dapat membunuh Menak Jingga. Blambangan sebagai sebuah negara adalah sebuah kenyataan sejarah. Serat Pararaton menuliskan perluasan kekuasaan Majapahit ke ujung timur Jawa, termasuk Blambangan. Saat pemerintahan Hayam Wuruk, wilayah Blambangan diserahkan kepada anaknya yang bernama Bhre Wirabumi. Baca juga:  Temu Legenda Banyuwangi Setelah Hayam Wuruk mangkat, tahta Majapahit diserahkan kepada Wikramawardhana, menantu lelaki Hayam Wuruk. Sepuluh tahun Wikramawardhana berkuasa, tahta Majapahit diberikan kepada anak perempuannya yang bernama Dewi Suhita. Bhre Wirabhumi menolak pengangkatan Suhita dan menginginkan Blambangan lepas dari Majapahit. Majapahit dan Blambangan pun berkonflik (1404-1406) yang berakhir dengan kehancuran Bhre Wirabumi. Lehernya ddipenggal lalu kepalanya dipersembahkan kepada Ratu Majapahit. “Sejarah kematian Bhre Wirabumi mirip dengan salah satu cerita yang dituturkan dalam epik Jawa terkenal Serat Damarwulan . J. L. A. Brandes mengasosiasikan Bhre Wirabumi dengan Raja Menak Jingga, seorang figur antagonis dalam epik tersebut,” catat sejarawan Sri Margana dalam artikel “Jatuhnya Blambangan 1768”. Brandes adalah filolog berkebangsaan Belanda Ada lagi Babad Blambangan yang menceritakan bahwa Menak Jingga adalah anak petapa dari Tengger bernama Ajar Guntur Geni. Atas kesaktiannya mengusir musuh Majapahit, petapa ini memperoleh nama baru dari raja Majapahit: Pamengger. “Guntur Geni yang telah mematahkan serangan di pantai Jawa Timur; serangan yang dilancarkan oleh musuh-musuh raja Majapahit dari seberang laut. Penyerang-penyerang itu adalah orang-orang Siyem (Siam), Kaboja (Kamboja), dan Sukadana (Kalimantan),” tulis H.J. de Graaf dan Th.G. Thomas Pigeaud dalam Kerajaan-Kerajaan Islam di Jawa . Baca juga:  Metamorfosis Hadrah Kuntulan Pamengger tak memiliki anak. Dia hanya memiliki seekor anjing. Dia mengubah wujud anjing itu menjadi manusia yang tak sempurna karena masih berkepala anjing. Dia menamainya Menak Jingga. Akhir kisah babad ini juga berujung pada kekalahan Menak Jingga dari Damarwulan. “Bhre Wirabumi, Pamengger, dan Menak Jingga, semua tokoh ini barangkali merujuk pada satu figur yang sama. Jika yang pertama diterima sebagai figur yang lebih historis, maka dua yang terakhir mestinya merupakan personifikasi dari yang pertama,” tulis Sri Margana. Kisah legenda Menak Jingga dan Damarwulan kemudian diadaptasi dalam sejumlah karya sastra. Misalnya, Serat Damarwulan yang ditulis R. Ng Selawinata tahun 1885 atau pada masa Sultan Hamengkubuwana VII. Kisah legenda itu juga diadaptasi dalam seni pertunjukan seperti Langendriyan yang berkembang di Yogyakarta, ketoprak dengan lakon Damarwulan-Menak Jingga, dan Janger di Banyuwangi. Dekonstruksi Selama bertahun-tahun Menak Jingga dalam seni pertunjukan digambarkan sebagai antagonis yang sadis. Namun seniman-seniman Banyuwangi mencoba mendekonstruksi imej Menak Jingga sebagai tokoh buruk rupa, baik postur tubuh, wajah, suara, maupun sifatnya. “Menak Jingga adalah seorang ksatria, tinggi besar, gagah berani, dan merupakan tokoh yang menjadi ikon dalam cerita itu dan sekaligus sebagai pahlawan Blambangan/Banyuwangi,” ujar Adi Purwadi dari Lembaga Masyarakat Adat Using, dikutip dari artikel Novi Anoegrajekti berjudul “Janger Banyuwangi dan Menak Jingga: Revitalisasi Budaya” di jurnal Literasi Volume 4 Juni 2014. Baca juga:  Di Balik Ritual Keboan Citra baru Menak Jingga muncul dalam perhelatan BEC 2019. Menak Jingga tidak digambarkan berkaki pincang, berwajah anjing, dan memiliki perut buncit. Namun dia berbadan tegap, berparas layaknya manusia, serta menjadi pemimpin yang dekat dengan rakyat dan prajuritnya. “Ketika melihat opening BEC, itulah Menak Jingga tampilan Blambangan. Orang lain tidak boleh sakit hati, sebagaimana kami tidak sakit hati melihat gambaran Menak Jingga bertahun-tahun yang jelek. Kita membalik bahwa Menak Jingga itu gagah, bijaksana dan tampan,” ujar Abdullah Fauzi dari Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Banyuwangi di akun BTD channel di saluran daring YouTube.

  • Djamila Bouhired Srikandi Aljazair

    Monumen Sukarno telah berdiri di pusat kota Algiers, Aljazair. Monumen yang didesain oleh Ridwan Kamil dan Dolorosa Sinaga itu merupakan permintaan pribadi Gubernur Algiers sebagai penghormatan Aljazair pada Sukarno. “Bung Karno sangat dihormai di Aljazair. Karena inspirasi Bung Karno, juga karena semangat Dasa Sila Bandung di KAA 1955 yang memberikan inspirasi bagi para pendiri Aljazair untuk merebut kemerdekaan dari penjajah di sana. Ini merupakan kehormatan nama Indonesia di mata dunia,” ujar Ridwan Kamil di akun twitter -nya, 6 Mei 2020. Hubungan Indonesia dengan Aljazair memang sudah cukup lama terjalin. Sejak Konferensi Asia Afrika yang pertama, Indonesia juga beberapa kali memberi bantuan kepada negara-negara yang belum merdeka termasuk Aljazair. Baca juga:  Sokongan Indonesia untuk Kemerdekaan Afrika Utara Dalam pidato Sukarno berjudul To Build The World Anew misalnya Sukano juga menyinggung perjuangan kemerdekaan Aljazair secara khusus di depan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). Kemudian Panitia Pembantu Perjuangan Kemerdekaan Afrika Utara juga dibentuk dan Indonesia mengusahakan kantor bagi utusan dari Aljazair, Tunisia dan Maroko di Jakarta. Hubungan baik dengan Aljazair ini mengingatkan Indonesia pada salah satu tokoh revolusi Aljazair yakni Djamila Bouhired. Namanya sempat terkenal di Indonesia pada akhir 1950-an hingga awal 1960-an ketika Aljazair berada di puncak perlawanan terhadap penjajahan Prancis. Djamila Bouhired merupakan pejuang kemerdekaan Aljazair yang lahir dari kelas menengah dan mendapat pendidikan di sekolah Prancis. Ketika berusia 22 tahun, Djamila bergabung dengan Front de la Libération Nationale (FLN), kelompok nasionalis yang dibentuk pada 1954. Baca juga:  Membebaskan Tjakrabirawa di Aljazair Pada 1957, Bouhired ditangkap bersama beberapa pejuang lainnya atas tuduhan pengeboman sebuah kafe di Algiers. Ia disiksa di penjara dan dijatuhi hukuman mati. Dukungan terhadap pembebasan Djamila Bouhired mengalir dari berbagai kalangan. Georges Arnaud dan Jacques Verges, dua simpatisan komunis, membelanya di depan umum. “...dan mereka menggunakan kisah-kisahnya sebagai simbol keinginan Aljazair untuk merdeka,” tulis Erika Kuhlman dalam A to Z of Women in World History. Akhirnya, hukuman mati tak dilaksanakan dan Djamila Bouhired dipindahkan ke Rheims, Prancis. Pada Mei 1959, El-Moudjahid , media FLN, menyatakan Djamila Bouhired sebagai wanita paling terkenal di Aljazair. Sementara itu, ia tetap dipenjara di Prancis dan baru bebas pada 1962 bersama banyak tahanan Aljazair lainnya. Kisah Djamila Bouhired diangkat ke layar lebar pada 1958. Kabar itu sampai ke telinga sutradara Usmar Ismail yang sebelumnya juga tertarik dengan sosok Djamila Bouhired. Usmar Ismail kemudian menonton film itu ketika mengunjungi Mesir. Tak lama setelah itu, perusahaan film milik Usmar Ismail, Perfini, menyediakan film berjudul Djamila Bouhired itu untuk penonton di Indonesia. Baca juga:  Sumbangsih Indonesia untuk Asia-Afrika Menurut Hairus Salim H.S. dalam “Indonesian Muslim and Cultural Networks” yang termuat dalam Heirs to World Culture, Being Indonesian 1950-1965 kisah Djamila Bouhired sebelumnya memang sudah populer di Indonesia melalui serial di surat kabar. Jurnalis Rosihan Anwar adalah orang yang menyusun serial itu di halaman harian Pedoman dari Februari hingga Maret 1958. Kisah berjudul Djamila Srikandi Alzajair itu disukai banyak pembaca dan meningkatkan sirkulasi Pedoman yang dipimpin Rosihan. “Menurut Rosihan, cerita ini ditulis oleh Lakdar Brahimi, yang menjadi perwakilan FLN di Jakarta dan didasarkan pada apa yang ia baca di surat kabar seperti Le Figaro dan l'Humanité . Lakdar menulis ceritanya dalam bahasa Inggris, yang kemudian diterjemahkan oleh Pedoman ,” tulis Hairus. Baca juga:  Alkisah Cenderamata Lekra Mochtar Embut, musisi Lembaga Kebudayaan Rakyat (Lekra), juga terinspirasi oleh Djamila Bouhired. Ia membuat lagu berjudul Djamila yang terkenal setelah dinyanyikan oleh paduan suara Lekra. Liriknya tentu saja berangkat dari perjuangan Djamila Bouhired dan rakyat Aljazair. Lagu ini dibuat sebagai bentuk solidaritas dan dukungan terhadap perjuangan negara-negara Asia-Afrika. Lagu Djamila juga direkam dalam piringan hitam bersama lagu Pudjaan Kepada Pantai, Persahabatan Tiongkok-Indonesia, Asia Afrika Bersatu, Nasakom, Dari Rimba Kalimantan Utara, Lagu Perjuangan, Api Cubana serta beberapa lagu daerah . Piringan hitam tersebut kemudian menjadi cenderamata Lekra dalam rangka misi kebudayaan ke Tiongkok pada 1963. Djamila Bouhired kini masih hidup dan telah berusia 84 tahun. Pada Maret 2019, ia bahkan masih hadir dalam demonstrasi besar di Aljazair yang memprotes upaya Presiden Abdelaziz Bouteflika menjabat untuk yang kelima kalinya.

  • Desersi Jepang Masa Perang Kemerdekaan

    Di Dampit 27 tahun yang lalu, orang-orang mengenal lelaki sepuh itu sebagai Soekardi. Dia dikisahkan bertubuh tidak tinggi namun kekar, dengan sepasang mata sipit yang menyorot tajam. Tak ada orang di desa yang masuk dalam wilayah Kabupaten Malang itu yang paham asal usul Soekardi secara pasti kecuali dia adalah mantan pejuang yang dulu pernah berperang melawan tentara Belanda. Soekardi tidak memiliki pekerjaan tetap. Namun sekali-kali dia terlihat menjadi sejenis pesuruh di Lembaga Permasyarakatan Dampit. Lama tinggal di Dampit, tiba-tiba lelaki tua itu hilang dari peredaran. Tak ada satu pun warga Dampit yang tahu hingga kini di mana Soekardi berada. Menurut Rahmat Shigeru Ono salah seorang zanryu nihon hei (serdadu Jepang yang tetap tinggal dan memilih berjuang untuk Indonesia) Soekardi adalah Nagamoto Sugiyama, zanryu nihon hei yang pernah bergerilya bersama pejuang-pejuang Indonesia di hutan-hutan sekitar Malang Selatan dan Blitar pada 1948-1949.   Baca juga:  Hantu Jepang di Kaki Semeru Nama Soekardi dalam sumber-sumber Sekutu tercatat sebagai eks anggota Kempeitai (Polisi Militer Angkatan Darat Jepang) dan berstatus penjahat perang. Salah satunya disebutkan Fred L. Borch dalam Military Trials of War Criminals in the Netherland East Indies 1946-1949 . Dituliskan, Nagamoto merupakan buronan berbahaya yang berhasil kabur dari Penjara Cipinang, Jakarta pada 1946. “Memang benar, setelah kabur dari Cipinang, Nagamoto dicari-cari pasukan Inggris dan Belanda,”ujar Shigeru. Shigeru dan Nagamoto adalah anggota Pasukan Gerilya Istimewa (PGI). Itu adalah nama unit khusus beranggotakan 28 eks tentara Jepang yang ada di bawah komando Brigade Surachmad. Awalnya PGI dipimpin oleh Mayor Arif (Tomegoro Yoshizumi). Namun karena sakit-sakitan (kemudian meninggal pada 10 Agustus 1948), Mayor Arief diganti  oleh Mayor Abdul Rachman (Tatsuo Ichiki).    Pergantian itu diprotes oleh sebagian anggota PGI pimpinan Hasan (Toshio Tanaka). Mereka menyebut Abdul Rachman tak layak memimpin PGI karena dia bukan seorang militer tulen. Di ketentaraan Jepang, Abdul Rachman hanyalah seorang penerjemah. “Soal ini menjadi sebab utama pecahnya PGI di kemudian hari, sehingga menyebabkan 10 kawan kami mengundurkan diri dan lebih senang bergabung dengan TNI di Jawa Tengah”ujar Shigeru Ono. Kendati tinggal 18 orang, PGI tetap menjadi pasukan andalan TNI di wilayah gerilya sekitar Gunung Semeru. Jumlah yang sedikit membuat mereka bisa bergerak secara leluasa dan menerapkan disiplin keras. Tak aneh jika kemudian PGI ditakuti oleh para serdadu Belanda. Salah satu  penyerangan PGI yang sukses terjadi saat bersama pasukan dari Brigade XIII menghancurkan markas tentara Belanda di Pajaran pada 31 Agustus 1948. Akibatnya 20 prajurit Belanda tewas dan puluhan senjata mereka ikut hancur. Sukses di Pajaran, mereka ulangi pula di Poncokusumo pada 18 September 1948. Lewat suatu serangan fajar, PGI kembali berhasil menghabisi tanpa ampun posisi pasukan Belanda. “Penyerangan di Poncokusumo juga berhasil secara gemilang: serdadu musuh semua tewas, sedang di pihak kami tak ada satu pun jatuh korban. Bisa dikatakan kami terus menuai kemenangan sejak itu” kata Shigeru. Awal 1949, PGI dilebur dalam sebuah kesatuan baru bernama Pasoekan Oentoeng Soerapati 18 (POS 18). Para zanryu nihon hei yang tergabung di dalamnya tetap meneruskan perjuangan hingga Belanda mengakui kedaulatan Indonesia pada 27 Desember 1949.  Shigeru Ono (Rahmat), Toshio Tanaka (Hasan), Nagamoto Sugiyama (Soekardi), Syoji Yamaguchi (Husin), Goro Yamano (Abdul Majid) dan prajurit-prajurit eks PGI lainnya memutuskan untuk menjadi warga negara Indonesia. * Majalaya, Maret 1946. Pertempuran antara tentara Jepang dengan para pejuang Indonesia dari kesatuan Pasukan Pangeran Papak (PPP) itu hanya berlangsung sebentar. Alih-alih melakukan perlawanan sengit, pimpinan tentara Jepang yang bernama Masharo Aoki  bersama 40 anak buahnya malah menyerahkan diri kepada komandan PPP, Mayor S.M. Kosasih. “Mereka tadinya mau dibunuh semua, tapi dicegah oleh ayah saya karena dia berpikir tenaga pasukan Jepang itu akan berguna saat melawan tentara Belanda,”ungkap salah seorang putra dari Kosasih. Eks tentara Jepang yang di dalamnya juga terdapat orang-orang Korea itu kemudian dibawa ke Wanaraja (Garut) dan diperlakukan sangat baik sebagai para tawanan perang. Merasa terkesan, Aoki kemudian menyatakan kepada Mayor Kosasih untuk masuk Islam sekaligus bergabung dengan PPP. Permintaan itu diamini oleh Kosasih dengan membawa Aoki ke hadapan guru spiritualnya Raden Djajadiwangsa, untuk diislamkan. “Kakek saya lalu memberi nama baru buat Aoki yakni Abu Bakar, sahabat utama dari Nabi Muhammad SAW,” ujar Raden Ojo Soepardjo, salah seorang eks anggota PPP. Baca juga:  Abu Bakar, Gerilyawan Indonesia dari Jepang Maka resmilah Aoki bersama sekitar 40 anak buahnya menjadi anggota PPP. Sesuai keahlian masing-masing, Kosasih lantas menempatkan mereka sebagai instruktur militer sekaligus komandan-komandan seksi. Ada pula yang ditempatkan sebagai tenaga medis karena memiliki latarbelakang sebagai dokter tentara, seperti Senya alias Ali. “Tapi mereka menolak untuk diberi pangkat…” ungkap Letnan Dua Raden Djoeana Sasmita (Wakil Komandan PPP) dalam catatan hariannya. Nama Abu Bakar tercatat dalam berbagai dokumen sejarah Perang Kemerdekaan di Indonesia (1945-1949). A.H. Nasution dalam Sekitar Perang Kemerdekaan Indonesia: Agresi MIliter Belanda II Jilid ke-9 menyebut Abu Bakar sebagai pemimpin gerilyawan Indonesia yang cukup piawai di wilayah Garut-Tasikmalaya. Sejak bergabungnya eks tentara Jepang, PPP seolah menjadi hantu yang menakutkan bagi militer Belanda. Berbagai operasi penyerangan, sabotase, dan penghadangan di sekitar Wanaraja  dan kota Garut kerap mereka lakukan secara sporadis dan militan. Dua orang Korea, Guk Jae- man alias Soebardjo dan Yang Chil Sung alias Komarudin menjadi tulang punggung pasukan. Jika Jae-man mengkoordinasi operasi-operasi intelijen, maka Chil Sung bergiat sebagai koordinator Kelompok Putih, sebuah grup khusus sabotase dan penghadangan. Baca juga:  Drama di Gunung Dora Chil Sung kerap membuat gerah militer Belanda dengan aksi-aksi jebakannya. Misalnya, dia sering terlihat sendirian menggembala kambing lalu mengarahkan salah satu ternaknya yang sudah dipasang bom ke arah kendaraan tempur Belanda. “Tak jarang jebakan bom kambing Komarudin itu menimbulkan korban yang tak sedikit di pihak Belanda,” ungkap Odjo. Namun tak ada aksi PPP yang paling monumental selain penghancuran Jembatan Cinunuk, yang menghubungkan Wanaraja-Garut pada sekitar 1947. Suatu hari tim telik sandi yang dipimpin Soebardjo memberikan informasi bahwa dalam waktu dekat militer Belanda akan menyerang Wanaraja dan menguasainya. Berdasarkan laporan itu, suatu pagi Komarudin dan tim-nya bergerak ke Jembatan Cinunuk yang menjadi penghubung Wanaraja-Garut. Mereka kemudian meledakan jembatan tersebut sehingga tidak bisa dilewati. Maka gagallah upaya militer Belanda menguasai Wanaraja.  Pasca perang, orang-orang Jepang yang tergabung dengan PPP kemudian membubarkan diri. Ada yang kembali ke Jepang, namun ada pula yang memilih untuk menjadi warga negara RI. Abu Bakar sendiri gugur ditembak mati militer Belanda pada 21 Mei 1949. * Baca juga:  Kode Bahaya Masa Perang Kemerdekaan Berbeda dengan kelompok eks tentara Jepang di Malang dan Garut yang memilih bergabung dengan gerakan pembebasan Indonesia, di wilayah Banyumas justru ada eks tentara Jepang memilih menjadi petualang yang kerjaannya merampok. Dikisahkan dalam Met de TNI op Stap karya Ant.P. de Graaff, pada 1948-1949 sekelompok eks anggota Kaigun (Angkatan Laut Kekaisaran Jepang) berkeliaran di wilayah sekitar Wonosobo. Mereka pura-pura menjadi bagian dari TNI dan mengaku sering terlibat dalam berbagai pertempuran dengan tentara Belanda. “Tapi nyatanya kerjaan mereka hanya merampok harta rakyat di desa-desa, terutama merampas kuda dan bahan makanan,” ungkap Iman Sardjono, eks anggota Tentara Pelajar di Banyumas. Sebagai kesatuan TNI yang bertanggungjawab di wilayah Banyumas, Pasukan “T” Ronggolawe tidak membiarkan aksi mereka. Pada suatu kesempatan dirancanglah pengepungan terhadap pasukan eks tentara Jepang tersebut. Namun sayang, sebelum dilucuti, mereka sudah kabur ke arah komplek Gunung Sumbing. Selanjutnya tak pernah terdengar lagi bagaimana kiprah mereka.

  • Palagan Terakhir di Eropa

    PERAYAAN “VE Day” ( Victory Europe ) atau Hari Kemenangan Perang Dunia II di Eropa ke-75 terasa begitu berbeda pada Jumat (8/5/2020). Tak ada parade maupun festival mengenang heroisme Sekutu mengenyahkan Nazi di Eropa. Jalan-jalan kota London, Inggris yang biasanya disesaki lautan manusia, kini sunyi mengingat negeri Ratu Elizabeth II itu masih bergelut dengan pandemi virus corona. Perayaan VE Day tetap bergulir sesuai protap-nya. Pada pukul 08.40 pagi waktu Inggris, papan-papan iklan di Piccadilly Circus memajang poster-poster VE Day. Pesawat-pesawat tempur RAF (AU Inggris) tetap beratraksi di langit kota Edinburgh hingga Cardiff City. Setelah meletakkan karangan bunga di Westminster Hall pada pukul 11 pagi, Ketua Parlemen Sir Lindsay Hole tetap membacakan kembali pidato Perdana Menteri Winston Churchill 75 tahun lampau. Rangkaian prosesi perayaan itu bakal ditutup pidato Ratu Elizabeth II di Istana Windsor pada pukul 9 malam sebagaimana yang dilakukan ayahnya, Raja George VI, di tempat dan waktu yang sama via radio. PM Boris Johnson mengungkapan rasa syukur dan terimakasihnya lewat surat. “Pada perayaan kali ini, kita menghadapi perjuangan baru melawan virus corona yang menuntut spirit dan ketahanan nasional yang sama seperti yang Anda (para veteran PD II) alami 75 tahun lalu. Kita tidak bisa memberi penghormatan dengan parade dan selebrasi di jalan-jalan seperti sebelumnya. Namun izinkanlah kami sebagai kompatriot Anda yang bangga, menjadi orang pertama yang berterimakasih dari hati yang paling dalam. Anda semua akan selalu dikenang,” ungkap Johnson, dikutip Daily Mail , Jumat (8/5/2020). Pesawat-pesawat tempur RAF beratraksi di atas kota London dalam perayaan ke-75 VE Day (Foto: raf.mod.uk ) VE Day 8 Mei 1945 menandai berakhirnya PD II di Eropa (9 Mei untuk Uni Soviet/Rusia dan negara-negara Eropa Timur). Momen itu ditandai dengan dihentikannya aksi tembak-menembak baik oleh pihak Sekutu maupun Jerman Nazi, menyusul ditandatanganinya penyerahan tanpa syarat pada pukul 02.42 siang CET (Waktu Eropa Tengah) di sebuah gedung sekolah yang dijadikan markas SHAEF (Pasukan Ekspedisi Sekutu di Reims), Prancis. Dalam dokumen penyerahan yang ditandatangani Generaloberst (Jenderal-Kolonel) Alfred Jodl (kepala Staf Umum Angkatan Bersenjata Jerman), Jenderal Walter Bedell Smith (kepala Staf Pasukan Ekspedisi Sekutu), Jenderal Ivan Susloparov (wakil Markas Komando Tinggi Soviet), dan Mayjen François Sevez (Prancis) itu dinyatakan semua unit bersenjata Jerman wajib menghentikan tembak-menembak dan memancang bendera putih mulai 8 Mei pukul 11.01 malam CET. Namun, implementasinya di lapangan berbeda. Di Jerman sendiri di mana Sekutu dan Soviet sudah menjepit Jerman-Nazi, pertempuran masih terjadi. Yang tak banyak diketahui publik saat itu, sebuah palagan masih terjadi hingga 20 Mei di Texel, salah satu pulau di Kepulauan Wadden, utara Belanda. Pembantaian Serdadu Jerman Yang dimaksud adalah Pertempuran Texel atau Pemberontakan Georgische Legion (Legiun Georgia), 5 April hingga 20 Mei. Diungkapkan Steven J. Zaloga dalam The Atlantic Wall: Belgium, The Netherlands, Denmark and Norway, volume 2 , mulanya Pulau Texel dijadikan Jerman sebagai salah satu bagian dari kantong pertahanan “Tembok Atlantik”. Sejak September 1943, pulau itu ditempati 800 personil Jerman beretnis Georgia dalam unit Batalyon ke-882 “Königin Tamara” (Ratu Tamar). Batalyon dengan perwira tertinggi etnis Georgia, Letnan Shalva Loladze, itu dibentuk di Kruszyna, Polandia pada Juni 1943. Personilnya direkrut dari eks Tentara Merah beretnis Georgia yang jadi tawanan perang sebagai imbas kesuksesan Jerman di awal Operasi Barbarossa atau invasi ke Uni Soviet. “Mereka pasukan dari Republik Sosialis Soviet Georgia yang ditawan di front timur. Kemudian diberi pilihan, antara tetap jadi tawanan perang untuk kemudian disiksa dan dibiarkan mati kelaparan atau ikut ‘membebaskan diri’ dari cengkeraman Uni Soviet dengan membelot angkat senjata untuk Jerman,” sebut Zaloga. Pembentukan Legiun Georgia pada 1943 (Foto: Repro "Gebirgsjäger im Kaukasus: Die Operation Edelweiß, 1942/43" Mereka pilih menyelamatkan diri dengan berganti seragam. Selain 800 personil beretnis Georgia, batalyon yang dipimpin Mayor Klaus Breitner itu juga diperkuat 400 prajurit asal Jerman. Sempat diikutkan dalam upaya Jerman membasmi perlawanan Partisan Yugoslavia, batalyon lantas ditarik ke front barat dan ditempatkan di Pulau Texel pada Januari 1945. Mereka turut menemani ratusan kru artileri pantai di dua baterai pada masing-masing pesisir utara dan selatan Pulau Texel. “Ini yang jadi titik persoalannya, di mana sebenarnya banyak dari mereka menolak ditarik dari front timur karena tujuan mereka dibentuk dan dijanjikan Jerman adalah untuk melawan pasukan Soviet dan memerdekakan Georgia,” tulis Alexander Mikaberidze dalam Historical Dictionary of Georgia. “Alhasil, moril unit itu anjlok dan kemauan untuk berperang di bawah rezim Nazi hilang seketika. Ditambah dengan jalannya perang di mana mulai awal 1945 Jerman sudah jadi pihak yang defensif, pasukan Legiun Georgia di Pulau Texel memutuskan untuk memberontak,” lanjutnya. Rencana pemberontakan lahir dari kepala Letnan Loladze, opsir tertinggi beretnis Georgia. Ia merancang gerakannya pada malam 5 April lantaran pada 6 April  mereka mendapat bocoran informasi bakal “dimutasi” lagi ke front barat untuk menghadang Sekutu yang sudah masuk ke Prancis. Bocoran info itu mereka dapatkan dari sejumlah anggota resistance ( gerakan bawah tanah) Belanda yang bersembunyi di pemukiman dan peternakan penduduk lokal di pulau itu. “Pada malam 5 April-6 April (dini hari), para pasukan Georgia dipimpin Letnan Loladze berontak dengan membunuhi sekira 400 prajurit asli Jerman. Kebanyakan mereka disembelih dengan belati dan bayonet saat sedang terlelap, atau ditembak begitu saja di antara prajurit Jerman yang sedang berjaga,” sambung Mikaberidze lagi. Mayor Klaus Breitner sebagai danyon ke-882 "Königin Tamara" (Foto: Repro "Night of the Bayonets"/ comtourist.com ) Dibantu sejumlah anggota resistance Belanda, termasuk submarkas batalyon di Den Burg, kota terbesar di Pulau Texel, mereka berhasil menguasai hampir segenap pulau itu pada pagi 6 April. Namun beberapa dari prajurit Jerman bisa melarikan diri dari barak-barak mereka dan mengungsi ke baterai artileri pantai di sisi utara maupun selatan Pulau Texel. Sembari mengirim berita adanya pemberontakan ke daratan utama Belanda yang masih dikuasai Jerman, moncong-moncong artileri pantai di dua sisi itu saling menyalak sebagai perlawanan balik terhadap pemberontakan itu. Dan yon Mayor Breitner, yang bermarkas di daratan utama Belanda, terkejut ketika menerima telegram dari Pulau Texel. “Kami tak pernah mencium apapun tentang sabotase atau rencana pemberontakan. Kami bahkan tak pernah berpikiran sampai ke situ, mengingat prajurit Georgia itu mengenakan seragam Jerman,” kata Breitner, dikutip Dick van Reeuwijk dalam Sondermeldung Texel: The Georgian Rebellion on Texel . Laporan itu sampai ke kuping Der Führer Adolf Hitler di Berlin. Jawaban dari Hitler lugas: “Likuidasi semua pasukan (etnis) Georgia sesegera mungkin!” Titah itu direalisasikan Breitner dengan mengirim pasukan berkekuatan dua ribu prajurit dari Resimen Infantri Laut ke-163 yang berbasis di Steenwijk, Belanda. Pasukan Georgia dengan pimpinan tertinggi dari etnisnya, Letnan Shalva Loladze (Foto: comtourist.com ) Setelah mencapai pesisir, pasukan yang dipimpin Kapten Carl Hollweg itu melancarkan serangan balasan. Berangsur-angsur segenap wilayah pulau berhasil direbut kembali, kecuali di mercusuar yang jadi basis pertahanan terakhir pasukan pemberontak Georgia. Baru pada 22 April mercusuar itu bisa direbut. Ratusan pemberontak Georgia yang tertawan dipaksa menggali kuburnya sendiri. Sebelum dieksekusi, mereka diperintahkan melucuti seragamnya lantaran para pasukan Jerman enggan menembak mati pasukan yang seragamnya serupa dengan mereka. Meski begitu, jalannya Palagan Texel sebagai pertempuran terakhir di tanah Eropa belum tuntas. Beberapa eks Batalyon ke-882 berhasil melarikan diri sebelum mercusuar itu direbut. Mereka kebanyakan bersembunyi di rumah-rumah atau peternakan yang biasanya milik keluarga anggota resistance. Kolase eks-Batalyon 882 yang bergerilya dibantu kaum resistance Belanda (Foto: nationaalarchief.nl/niod.nl ) Tembak-menembak berskala kecil juga tak berhenti. Gerilya para pemberontak itu terus bergulir selama dua pekan kendati tersiar kabar bahwa Jerman telah menyerah pada Sekutu pada 8 Mei 1945. Breitner enggan berhenti berburu dengan motif balas dendam atas penyembelihan 400 prajuritnya. Mereka yang ketahuan menyembunyikan para pelarian, nasibnya sudah terang-benderang, rumah atau peternakan mereka dibakar, sementara penghuninya menemui maut lewat moncong senjata. Intelijen Inggris sudah tahu terjadinya pemberontakan oleh eks-Legiun Georgia ini pada 6 April karena mencegat siaran pesan Jerman yang dienkripsi mesin kode Enigma dengan mesin pemecah kode Ultra. Marsekal Bernard Law Montgomery, jenderal jago tank Inggris yang mengusir jenderal flamboyan Erwin Rommel di Afrika Utara, baru mengetahui info itu pada 24 April. Kala itu, Montgomery merupakan panglima tertinggi Inggris di wilayah Rhine, utara Jerman yang berdekatan dengan Belanda. “Pada 27 April ketika pemberontakan itu mulai dihancurkan dan Jerman merebut kembali pulaunya serta melakukan pembersihan para anggota resistance , Montgomery akhirnya bertindak. Ia memerintahkan Korps II Kanada pimpinan Letjen Guy Simmonds untuk merebut seluruh Kepulauan Wadden,” ungkap Eric Lee dalam Night of the Bayonets: The Texel Uprising and Hitler’s Revenge, April-May 1945. Mercusuar Cockdorp di utara Pulau Texel sebagai pertahanan terakhir pemberontak Georgia (kiri) dan sisa-sisa eks Batalyon ke-882 yang diselamatkan kedatangan Sekutu (Foto: nationaalarchief.nl ) Tetapi bukan hal gampang merebut kepulauan itu, termasuk Texel, pulau terbesar di kepulauan itu. Perlawanan Jerman masih sengit. Permintaan tambahan bantuan satu brigade komando elit Inggris Simonds ditolak Montgomery. Pasalnya, pasukan itu masih dibutuhkan Montgomery untuk menyisir sisa pasukan musuh di utara Jerman hingga penyerahan diri pasukan Jerman di Rhine, Denmark, dan Belanda pada 4 Mei atau empat hari sebelum kapitulasi Jerman di Reims. Baru pada 20 Mei 1945 sisa-sisa pemberontak yang masih bernyawa dan bersembunyi terselamatkan dengan kedatangan pasukan Resimen Intai Artileri ke-1 Kanada. Breitner terpaksa menghentikan operasi-operasi pembersihan, mengingat dirinya juga turut dievakuasi untuk dipulangkan ke negerinya yang telah kalah perang. “Batalyon saya sejak saat itu dianggap tidak ada lagi. Sisa-sisa pasukan saya kumpulkan untuk menghancurkan berkas-berkas dan dokumen. Kami juga membakar benderal batalyon ‘ Königin Tamara ’ sebagai pelampiasan terhadap pemberontakan orang-orang Georgia itu,” tandas Breitner.

  • Natural History, Ilmu yang Mendorong Penjelajahan Bangsa Eropa

    JACOBUS Bontius senang bukan kepalang. Pembuka jalannya untuk meraih gelar profesor terbuka bersamaan dengan datangnya penunjukan dirinya oleh direksi VOC (Heeren XVII) untuk menangani segala urusan medis kapal selama pelayaran ke Asia pada Agustus 1626. Bontius antusias menerima proyek ini. Bontius menjadi satu dari sekian ilmuwan yang terkena "wabah" revolusi saintifik. Harold J. Cook dalam tulisannya “Global Economies and Local Knowledge in the East Indies” menyebut, kala itu dalam dunia ilmu pengetahuan sedang muncul semangat “revolusi saintifik” dengan kebangkitan kembali natural history. Ilmu inilah yang mendorong orang Eropa melakukan penjelajahan dunia untuk mencari rempah-rempah dari sumbernya. Pada mulanya, kebangkitan ilmu natural history  sebatas mengkaji teks-teks lama. Setelahnya, orang-orang merasa perlu untuk terjun ke lapangan guna megamati langsung dengan tetap berpegang pada teks lama. “Di sinilah (kebangkitan natural history, red .) yang mendorong mereka melakukan penjelajahan ke Amerika dan dunia timur,” kata Dr. Gani A. Jaelani, sejarawan Universitas Padjajaran, dalam webinar “Rempah-Rempah, Pengetahuan Medis, dan Praktik Kesehatan di Indonesia”, Selasa, 5 Mei 2020. Gani menjelaskan, natural history  merupakan bidang ilmu yang mendeskripsikan alam. Para peneliti Eropa abad pertengahan membaca kembali karya-karya natural history  seperti milik Pliny the Elder (Gaius Plinius Secundus) yang hidup pada 23-79 SM. Pliny menyusun ensiklopedi alam, astronomi, botani, farmakologi, dan manifestasi pengetahuan kuno yang ada di alam semesta. Naturalis lain yang karyanya dikaji ulang ialah Dioscarides, hidup sezaman dengan Pliny. Ia meluncurkan buku De Medica Materia  dengan 550 entri jenis tumbuhan yang punya manfaat untuk kesehatan.  Pengkajian karya lama ini kemudian memunculkan pengetahuan baru. Naturalis abad pertengahan Conrad Gesner berpendapat bahwa akal dan pengalaman merupakan pilar ilmu pengetahuan. Akal berasal dari Tuhan dan pengalaman berasal dari manusia. Ilmu pengetahuan merupakan perpaduan keduanya sehingga perlu dilakukan observasi di lapangan. Natural history  kemudian berkait erat dengan kolonialisme. Para pegawai kolonial dan naturalis melakukan ekspedisi dalam rangka mengumpulkan informasi demi kepentingan perdagangan dan keilmuan. “Mereka mencari tahu tumbuh-tumbuhan apa saja yang memiliki nilai ekonomis di pasar Eropa. Para dokter punya peran penting dalam penyelidikan manfaat tumbuhan bagi kepentingan ekonomi dan kesehatan,” kata Gani. Para apoteker yang bekerja di kongsi dagang Hindia Timur, VOC, lalu diinstruksikan untuk membawa sampel tumbuhan, mulai daun, biji-bijian, cengkeh, hingga kayumanis sekembalinya menjelajah. Profesor Carolus Clusius dari Universitas Leiden juga menginstruksikan para apoteker yang menjelajah untuk menelusuri produk alam di belahan dunia lain. Salah satu dokter dan naturalis yang ikut ke nusantara ialah Bontius. Setelah penunjukan oleh direksi VOC, Bontius berangkat dengan kapal yang membawa Jan Pieterzoen Coen dan tiba pada 1627 di Maluku. Tinggal selama beberapa bulan di sana, ia melakukan pengamatan tentang penyakit, tumbuhan, dan pengobatan tradisional dengan banyak melakukan wawancara pada warga lokal. Pengamatannya kemudian ia tuliskan setelah pindah ke Batavia pada awal 1628. Karya Bontius diterbitkan tahun 1642 dalam bahasa Latin, De medicina Indorum . Terjemahan bahasa Inggrisnya muncul seabad kemudian. Peneliti lain ialah Georg Eberhard Rumphius. Ia menyusun Het   Amboinsche Kruid-Boek , berisi khasiat tanaman obat di Ambon berserta deskripsi cara orang Ambon menggunakan tanaman tersebut. Buku Rumphius dirahasiakan oleh VOC untuk mencegah bangsa Eropa lain datang ke Nusantara. “Selesai ditulis pada 1702, setengah abad setelahnya baru diterbitkan,” kata Gani. Dari Amerika, ada dokter Thomas Harsfield yang datang ke Hindia Belanda pada 1801 dan tinggal hingga 1819. Sepanjang 1804-1812, ia melakukan perjalanan ke Jawa. Laporan ekspedisinya tentang tanaman obat yang digunakan orang Jawa dikirim ke Bataviaasch Genootshap der Kursten en Wetenschappen. Karyanya kemudian diterbitkan pada 1816 dengan judul Short Account on the Medical Plants of Java . Semangat penelitian di negeri ini didorong oleh kepercayaan bahwa obat sebuah penyakit bisa ditemukan di tempat penyakti itu muncul. Dalam periode ini, para dokter Eropa masih takjub pada pengetahuan lokal terkait obat-obatan. Mereka mengumpulkan informasi dengan menyerap pengetahuan dari penduduk lokal. “Bontius dan Rumpihius melaukan wawancara pada pembatu di tempat mereka tinggal,” kata Gani. Namun demikian, setelah abad-19 muncul paradigma baru dalam dunia kedokteren yang menggusur ilmu pengetahuan kedokteran lokal. “Louis Pasteur, Robert Koch menginisiasi pemahaman bakteriologi, bahwa penyakit disebabkan oleh bakteri patogen. Pengobatan dilakukan dengan membunuh patogen penyebab penyakit,” kata Gani. Sejak itu, pola penelitian kesehatan bergeser dari observasi lapangan dan menjelajah alam ke penelitian laboratorium. Hal ini membuat penelitian tanaman obat yang dilakukan dokter Eropa menjadi berkurang. Pada masa ini pula peran perempuan sebagai pengguna dan pemilik ilmu pengetahuan tanaman obat berjasa dalam membantu para peneliti. Pada 1880-an, ada setidaknya 300-an dokter terlatih Eropa di Hindia Belanda. Mayoritas dari mereka bekerja di rumah sakit militer dan hampir semuanya terkonsentrasi di pusat-pusat kota. Di pedesaan dan khususnya di luar Jawa, layanan dokter hampir tak terjangkau. Penduduk di daerah harus menyediakan perawatan medis mereka sendiri. Maka, istri pemilik perkebunan jadi penanggung jawab kesehatan pekerja pribumi. Dengan kata lain, perawatan medis di Hindia disediakan di rumah oleh perempuan. Pada 1888, Chemisch Pharmacologisch didirikan. Di dalamnya terdapat laboratorium yang khusus meneliti kandungan kimiawi dalam tanaman obat. Menurut Hans Pols dalam artikelnya “European Physicians and Botanists, Indigenous Herbal Medicine in the Dutch East Indies, and Colonial Networks of Mediation”, perempuan Indo-Eropa punya peran penting sebagai mediator antara peneliti Eropa dan warga pribumi, pemilik ilmu tanaman obat lokal. Buku pedoman medis yang biasanya dipegang para perempuan, merujuk pada bahan-bahan yang dapat diperoleh dengan mudah di sekitar tempat tinggal. Sebagian besar obat di Hindia adalah obat domestik yang sering digunakan sebagai bumbu masak, sehingga para perempuan amat mudah mengenali dan mengaksesnya. “Obat herbal, yang memanfaatkan tanaman dan buah-buahan yang sering digunakan dalam memasak juga merupakan obat yang paling umum di koloni,” tulis Hans Pols. Banyak perempuan indo-Eropa suka mencatat resep favorit mereka. Pada 1870-an, dua buku catatan perempuan indo-Eropa diterbitkan setelah penulisnya meninggal. Buku pertama ialah buku catatan milik Emelie van Gent-Detelle, perempuan indo-Eropa dari keluarga pemilik perkebunan yang tinggal di dekat Yogyakarta. Kakek Emelie merupakan ahli bedah Jerman untuk VOC bernama Joseph Thomas Coenraad. Selama hidupnya, reputasi Emelie dikenal karena pengetahuannya tentang pengobatan herbal. Buku kedua yang diterbitkan ialah milik Johanna Wilhelmina Gunsch-van Blokland, yang tinggal di Surabaya. Catatan Johanna bersumber dari kumpulan resep yang dikumpulkan ayahnya. Para perempuan indo-Eropa yang paham tentang tanaman medis lokal ini punya posisi terhormat sebagai perantara budaya medis Eropa dan Jawa untuk wawasan medis. Mereka umumnya bisa berbicara bahasa Belanda, Jawa, Sunda, Melayu, atau bahasa lokal lain. Dengan begitu, mereka dapat dipahami oleh banyak kelompok etnis. “Ada pergeseran, penelitian tanaman obat tidak lagi diteliti oleh para dokter, tapi pertanian, atau tak punya latar beakang medis sama sekali,” kata Gani.*

bg-gray.jpg
Tedy masuk militer karena pamannya yang mantan militer Belanda. Karier Tedy di TNI terus menanjak.
bg-gray.jpg
Dua anggota legiun Mangkunegaran ikut serta gerakan anti-Belanda. Berujung pembuangan.
bg-gray.jpg
Rumahsakit Bethesda Yogyakarta yang masih berdiri hingga kini merupakan buah "kasih" dr. Belanda bernama JG Scheurer.
bg-gray.jpg
Poligami dipraktikkan oknum tentara sejak dulu. Ada yang dapat hukuman karenanya.
bg-gray.jpg
Depok terkenal dengan sambaran petirnya. Banyak memakan korban, sedari dulu hingga hari ini.
bottom of page