top of page

Hasil pencarian

9741 hasil ditemukan dengan pencarian kosong

  • Merawat Kisah Nabi Yusuf

    BERALASKAN tikar, sejumlah orang duduk bersila, berjajajar, saling berhadapan. Sebuah kitab diletakkan di atas bantal. Lalu, secara bergiliran, dengan takzim mereka mendendangkan larik-larik puisi Yusuf dalam ragam tembang cara Osing. Ya ta rawuh Jabra'il, angucaping rasul ika, mawa surat Yusuf age, serawuhireng ayunan, tumulya tur peranata, punika jeng surat Yusuf. (Maka tibalah Jibril, berucap kepada Sang Rasul Muhammad, membawa surat Yusuf, setiba di hadapannya, lalu berhatur sembah, inilah surat Yusuf). Demikianlah petikan Lontar Yusuf, yang tertulis dengan aksara pegon dan berisi tentang kisah Nabi Yusuf. Di Banyuwangi, Jawa Timur, Lontar Yusuf bukan hanya disimpan tapi juga dibacakan atau ditembangkan ( mocoan ). Tradisi mocoan  Lontar Yusuf masih bertahan di desa-desa Osing, suku asli Banyuwangi, seperti Olehsari, Bakungan, Kemiren, Rejosari, dan Cungking. Biasanya dilakukan dalam prosesi selamatan yang berkaitan dengan daur hidup manusia seperti kelahiran, khitan, perkawinan atau ritual bersih desa dan tolak bala. Gunawan Suroto dalam “Dolan Menyang Blambangan”, dimuat majalah Kunthi , Juni 1973, menyebut mocoan  di Banyuwangi mirip dengan macapat  di Jawa Tengah dan mamaca  di Madura. Bahannya dari dongeng atau cerita-cerita yang tertulis dalam lontar, buku-buku babad Jawa, ataupun kisah para nabi. Membacanya bergiliran. “Tembangnya tembang Banyuwangi. Jika ditemukan ada tembang-tembang Jawa Tengahan, seperti Asmarandana , Durma , Pangkur , dan lain-lain, caranya juga menggunakan tembang atau cengkok Banyuwangi,” tulis Suroto. Kisah Nabi Yusuf Kisah Nabi Yusuf dalam bentuk tembang ditemukan di berbagai tempat di Jawa, Madura, Lombok, dan daerah lainnya. Jumlahnya mencapai tak kurang dari 1.000 naskah. Sebagian besar bersumber dari surat Yusuf dalam Al-Qur'an. Pigeaud, javanolog asal Belanda kelahiran Jerman, dalam Literature of Java  menduga kisah Nabi Yusuf merupakan hasil transformasi dari naskah Melayu yang dikreasi ulang berdasarkan teks asli Arab oleh para pujangga di Nusantara (Jawa). Siapa penulisnya tak diketahui. Mungkin seorang sarjana di komunitas keagamaan Muslim di Giri atau Gresik atau Surabaya pada abad ke-17. Namun Bernard Arps, ahli sastra Jawa dari Leiden, Belanda, menyebut asal-usul dan perkembangan yang tepat masih perlu diteliti. Ada beberapa versi kisah Nabi Yusuf yang terbit dan mirip dengan “teks Jawa Timuran lama”. Salah satunya ditransliterasi dan diterjemahkan Titik Pudjiastuti dan Hardjana HP dengan judul Kitab Yusuf  (1981). Titik dan Hardjana sendiri menyebut Lontar Yusuf Banyuwangi kemungkinan besar merupakan salinan tak langsung dari sebuah manuskrip dari Cirebon, yang disusun pada tahun Jawa 1555 (1633-1634 M). Tapi, di antara kedua naskah tersebut, terdapat perbedaan yang menonjol, terutama dalam hal pemilihan kosakata dan detil pengisahannya. Transliterasi dari manuskrip Cirebon itu juga mencantumkan toponim Karangpura. Dalam “Yusup, Sri Tanjung, and Fragrant Water: The Adoption of A Popular Islamic Poem in Banyuwangi, East Java”, dimuat Looking in Odd Mirrors suntingan V.J.H Houben dkk, Bernard Arps menduga Karangpura sebagai Karang kedhaton di Giri, salah satu tempat yang disebut Pigeaud. Yang berkuasa saat Kitab Yusuf  ditulis adalah Panembahan Kawis Tuwa atau Kawis Guwa. Namun, Lontar Yusuf mungkin dikenal di Blambangan –nama lama Banyuwangi– pada tahap awal. Mungkin pula sudah ada komunitas Muslim di Blambangan ketika Lontar Yusuf ditulis atau disalin di Karangpura. “Kemungkinan besar itu digunakan, sesuai dengan isinya, antara lain untuk mendukung pengenalan Islam,” tulis Bernard Arps. Di sisi lain, di Blambangan berkembang tradisi seni mocoan  kitab-kitab keagamaan. Maka, tradisi mocoan  Lontar Yusuf berkembang seiring menguatnya pengaruh Islam. Dipakai sebagai sarana menarik hati masyarakat yang umumnya beragama Hindu. Ini mirip dengan pengislaman ala Sunan Kalijaga; memadukan kebudayaan Islam dan lokal (Hindu). Tak heran jika mocoan  juga dilakukan dalam ritual adat di desa-desa Osing, suku asli Banyuwangi. “Di Banyuwangi, Lontar Yusuf merupakan satu-satunya naskah kuno yang hingga kini masih dirawat dan ‘hidup’ dalam masyarakat lokal, terutama di wilayah pedesaan, Banyuwangi,” tulis Wiwin Indiarti, yang mentransliterasi dan menerjemahkan naskah berangka tahun Jawa 1829 (1890-an M) dengan judul Lontar Yusup Banyuwangi  (2018). “Naskah-naskah kuno Banyuwangi lainnya, seperti Kidung Sritanjung  dan berbagai varian Babad Blambangan , hampir tidak pernah dibacakan lagi saat ini.” Merawat Tradisi Kegiatan mocoan  mirip sebuah pengajian. Para pembaca setianya rutin membaca seminggu sekali dari rumah ke rumah secara bergiliran. Pembacaannya tidak lengkap hingga 12 pupuh melainkan hanya 2-3 pupuh awal. Namun jika mau dibaca lengkap semua pupuh, mocoan  dimulai selepas Isya dan baru berakhir menjelang Subuh. Di sejumlah desa Osing, mocoan  Lontar Yusuf biasa digelar dalam prosesi selamatan terkait kelahiran, khitan, perkawinan. Mereka berharap limpahan berkah Nabi Yusuf menular dalam kehidupan mereka. Para orangtua berharap anak yang akan lahir memiliki wajah dan tabiat seperti Nabi Yusuf atau anak yang dikhitan tak merasakan sakit. Pasangan pengantin berharap rukun dan bahagia hingga akhir hayat. Mocoan  Lontar Yusuf juga mengiringi prosesi adat bersih desa dan tolak bala, sebagai ungkapan rasa syukur sekaligus doa agar terhindar dari segala bencana dan penyakit. Misalnya, ritual Ider Bumi , Tumpeng Sewu , dan Seblang Bakungan . Ritual-ritual adat tersebut masuk dalam agenda Banyuwangi Festival 2020; yang masing-masing digelar pada 25 Mei, 23 Juli, dan 9 Agustus. Namun, setua apapun sebuah tradisi atau budaya, ia akan punah jika tanpa regenerasi. Perlu sebuah gerakan kultural agar warisan leluhur tersebut tak tergerus arus zaman. Awal 2017, kaum muda Osing membentuk sebuah lembaga bernama Barisan Pemuda Adat Nusantara (BPAN) Osing. Salah satu programnya adalah merintis sekolah adat Osing. Mocoan  Lontar Yusuf merupakan salah satu materi pembelajaran di sekolah adat Osing tersebut. Mereka juga melakukan beragam bentuk kerja, dari pendokumentasian hingga pelatihan, untuk menjaga keberlangsungan mocoan  Lontar Yusuf. Dan semua usaha itu berbuah manis. Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan menetapkan Mocoan  Lontar Yusuf sebagai Warisan Budaya Tak Benda (WBTB) 2019. “Alhamdulillah, tahun ini budaya dan tradisi Banyuwangi kembali ditetapkan menjadi Warisan Budaya Tak Benda (WBTB), melengkapi tradisi lain yang telah ditetapkan sebelumnya. Selain apresiasi dari pusat, ini akan menambah semangat untuk terus lebih giat menjaga dan melestasikan tradisi luhur Banyuwangi,” kata Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas , Agustus 2019. Hal ini menambah daftar budaya tradisi Banyuwangi yang telah ditetapkan sebagai warisan budaya tak benda seperti Janger, Seblang Olehsari dan Bakungan, hingga Keboan Aliyan.*

  • Mitos dan Fakta Kolera di Aceh

    KONON penyakit kolera ( ta’eun ) yang membuat masyarakat Aceh kalang kabut adalah akibat ulah perang jen (jin). Jin kafir menyerang jin muslim dengan panah. Mereka berlindung di antara manusia tanpa membedakan muslim atau bukan. Akibatnya, banyak manusia terkena panah itu yang menyebabkan penyakit kolera. Mitos muasal kolera itu disebut dalam buku De Atjehers  karya Snouck Hurgronje. Ia tinggal di Aceh dari 1857 hingga 1936. "Sebagaimana di Jawa," kata Snouck, "kekuatan-kekuatan gaib memainkan peran penting berkaitan dengan cacar dan kolera, meskipun konsepsi orang Aceh sangat berbeda rinciannya dengan konsepsi Jawa." Di balik mitos itu, ternyata epidemi kolera di Aceh berawal dari serangan Belanda yang bagi orang Aceh adalah perang sabil melawan kafir.  "Terhadap Belanda, rakyat Aceh sudah bertekad sabil, menang atau syahid," tulis Mohammad Said dalam Aceh Sepanjang Abad Jilid 2.   Perang Sabil Perang Aceh pecah pada April 1873, tak lama setelah Traktat Sumatra ditandatangani Belanda dan Inggris pada 1 November 1871. Tujuannya mengganti Traktat London 1824 yang menghormati kedaulatan Kerajaan Aceh. Kesepakatan baru itu memberi peluang kepada Belanda untuk menguasai Aceh. Serangan pertama Belanda berhasil dipatahkan pasukan Aceh. Belanda menderita banyak kerugian, bahkan panglima perangnya, Jenderal J.H.R. Kohler tewas. Serangan kedua dilancarkan pada 9 Desember 1873 di bawah komando Letjen Jan van Swieten yang sudah pensiun. Belanda menduduki keraton pada 31 Januari 1874. Sultan Mahmud Syah mengungsi ke Pagar Ayer, di mana ia meninggal dunia karena kolera. "Pada agresi yang kedua pihak Aceh tak akan keluar dari  dalam (istana raja)   jika bukan karena kolera. Lihat saja agresi Belanda yang pertama," tulis Said. Van Swieten segera memproklamasikan kemenangannya. Ia mengira seluruh wilayah Aceh akan menyerah. Ternyata, perlawanan malah semakin meningkat. Kolera yang Menyusup Belanda mengerahkan 8.500 serdadu, 4.300 pelayan dan kuli ke Aceh. Tak lama kemudian, 1.500 pasukan cadangan didatangkan dari Padang. Hampir separuh dari pasukan ini adalah serdadu bayaran, terutama yang dihimpun di Belanda. Mereka berasal dari kalangan sampah masyarakat dari berbagai negera di Eropa. "Kolera menjadi bagian yang menyusup di dalam ekspedisi pasukan terbesar yang pernah dikerahkan Belanda di timur," tulis sejarawan Anthony Reid dalam Asal Mula Konflik Aceh, dari Perebutan Pantai Timur Sumatra hingga Akhir Kerajaan Aceh Abad ke-19 . Kolera telah merajalela di Batavia pada November 1873. Kolera menyerang pasukan Belanda sehari setelah meninggalkan pelabuhan Batavia. Sedikitnya 80 orang tewas sebelum mendarat di Aceh pada 9 Desember 1873. Kolera yang dibawa serdadu Belanda menulari orang-orang Aceh. Kolera juga menyerbu masuk istana. Panglima Tibang, pembesar Aceh yang menyeberang ke pihak Belanda, menceritakan kala Belanda menyerang di saat itu pula pihak Aceh menghadapi serangan kolera di dalam istana. Setiap hari lebih dari 150 orang dimakamkan di pekarangan istana.  Van Swieten mengepung istana pada 24 Januari 1874. Pasukan Aceh secara diam-diam meninggalkan benteng yang telah terjangkit penyakit. Mereka mundur ke bukit-bukit. "Menurut Tibang, dia dan sultan yang terakhir kali menyingkir. Ketika itu kolera sudah menyerang tubuh sultan. Tibang sendiri pun merasa diserang oleh kolera, selama delapan hari dia menderita dan mengatasinya," tulis Said mengutip  Biografie van den Toekoe Panglima Maharadja Tibang  karya J.A. Vink. Sementara itu, pihak Belanda yang merasa sudah menang, terkepung di Kutaraja. "Orang Belanda tak mempercayai orang Aceh. Mereka tak berani keluar jauh-jauh dari kubu pertahanan. Akhirnya, mereka terpaksa mendatangkan semua bahan makanan dan perbekalan dari Penang," jelas Reid. Belanda kehilangan 1.400 serdadu terutama karena kolera. Korban terus bertambah sekira 150 orang setiap bulan sepanjang tahun. Korban orang Aceh jauh lebih besar. Berdasarkan surat dari Aceh ke Penang, diperkirakan 37.000 orang Aceh mati karena kolera dan pertempuran pada akhir 1874. Termasuk Sultan Mahmud Syah. "Kesulitan yang dihadapi Van Swieten bertambah besar lagi dengan meninggalnya Sultan Mahmud karena penyakit kolera pada 26 Januari 1874 tanpa meninggalkan pengganti yang jelas," tulis Reid. Sengaja Ditularkan Mohammad Said mencurigai Belanda sengaja menularkan kolera ke penduduk Aceh. Alasannya karena orang Belanda sudah tahu penyakit itu ada di kapal sejak di pelabuhan Priok, Batavia. Kapal itu lekas diberangkatkan untuk menjaga agar yang di darat tak sampai kena. "Kenapa mendadak saja orang di kapal kena jika bukan karena 'barang' ini disimpan di situ?" tulis Said. Alasan lain, kapal itu sengaja tak dikarantina dan terus berlayar menuju perairan Aceh tanpa singgah di pulau atau tempat manapun yang tak ada manusianya. Said menyebut bahwa menurut laporan di perairan Aceh, seluruh armada Belanda menaikkan bendera kuning. Ini tanda internasional untuk menunjukkan kapal perang sedang dihinggapi penyakit menular. "Tidak berani masuk pantai Aceh, berhubung sudah disiarkan di kapal dan di pantai-pantai Aceh penyakit itu sudah menjalar," tulis Said. Keanehan lainnya berkaitan dengan pensiunan tentara Italia di Mincio bernama Nino Bixio. Awalnya, ia ditawari menjadi nakhoda kapal pengangkut Maddaloni . Ia menjual kapal itu kepada Belanda setelah mendapat tawaran tinggi. Ternyata, ia menjadi korban penipuan Belanda. "Sungguh menjadi tanda tanya serius bagi orang luar ketika mendengar Nino turut menjadi salah seorang korban (kolera,  red. ). Padahal di kapal Maddaloni  itu tak diketahui ada orang lain yang menjadi korban," tulis Said. Said menduga, Nino sengaja dikorbankan menjadi sasaran kolera. Mayatnya dibuang ke darat di salah satu pantai Aceh. Orang Aceh segera menyingkirkan mayat itu. Namun, mayat itu sudah terlanjur berada di sana beberapa waktu. "Wabah kolera sudah sempat menjalari badannya. Itu pulalah yang menyebabkan wabah turut mendarat bersama dengan mendaratnya tentara agresi Belanda waktu itu," tulis Said. Tak akan ada yang mengetahui rahasia itu selain Van Swieten dan orang-orang kepercayaannya. "Rahasia seperti ini jika terbongkar akan menjatuhkan prestise Belanda," tulis Said. "Walau masih abad ke-19, tapi sudah dikenal juga hukum internasional yang melarang suatu bangsa menyerang bangsa lain dengan alat bengis seperti bibit kolera." Memang tak bisa dipastikan penyebab wabah kolera menyebar di Aceh. Namun dari kejadiannya, menurut Said, sudah cukup alasan untuk menuduh Belanda sebagai pihak yang sengaja menyebarkan kolera ke tengah masyarakat Aceh.*

  • Peter Carey: Tak Ada Bantuan Turki untuk Diponegoro

    PANGERAN Diponegoro memiliki beberapa nama dalam hidupnya. Lahir di Keraton Yogyakarta pada 11 November 1785, ia diberi nama Raden Mas Mustahar. Menginjak dewasa, berusia dua puluh tahun, ia menyandang nama Raden Ontowiryo. Ketika berziarah ke Pantai Selatan, Diponegoro menyandang nama Syekh Ngabdurahim. Berasal dari bahasa Arab, Syekh 'Abd al-Rahim, nama ini mungkin disarankan oleh penasihatnya di bidang agama, barangkali oleh Syekh al-Ansari di Tegalrejo. Diponegoro kemudian mengubah nama Ngabdurahim menjadi Ngabdulkamit. Menurut sejarawan Peter Carey, penulis biografi Diponegoro, Kuasa Ramalan , perubahan nama dari Ngabdurahim ke Ngabdulkamit mempunyai makna penting. Ngabdulkamit adalah nama yang disandang oleh Diponegoro selama Perang Jawa dan yang disenyawakan dalam gelarnya sebagai raja, yakni Sultan Erucokro. Diponegoro juga menggunakan nama Ngabdulkamit di Manado. Setelah tiba di pengasingan itu, ia meminta dipanggil hanya dengan nama Pangeran Ngabdulkamit bukan Pangeran Diponegoro, gelar yang diteruskannya kepada putranya yang sulung. Di Makassar, ia juga menggunakan nama Abdulkamit dalam karya-karya tulis keagamaannya. Nama Ngabdulkamit begitu penting bagi Diponegoro karena nama itu merujuk kepada nama sultan Turki, bangsa yang dikaguminya. 'Abd al-Hamid I, sultan Turki Usmani (bertakhta 1773–1787). (Wikimedia Commons). Menurut sejarawan M.C. Ricklefs, pilihan nama itu mungkin berkaitan dengan 'Abd al-Hamid I, sultan Turki Usmani akhir abad ke-18 (bertakhta 1773–1787), raja Turki pertama yang mengaku memiliki kewenangan sebagai khalifah, pelindung kaum muslim di seluruh dunia. Diponegoro mengetahui tentang aneka upaya Sultan 'Abd al-Hamid I dalam memperbarui tentara Turki Usmani dan pendakuannya sebagai khalifah dari mereka yang pulang dari naik haji. "Lagi pula banyak orang Jawa kagum dengan Kemaharajaan Turki Usmani waktu itu sebagai benteng kekuasaan Islam di Timur Tengah dan sebagai pelindung terhadap meluasnya kekuatan Eropa yang Kristen," tulis Peter Carey. Kekaguman Diponegoro ditunjukkan dengan menyalin sejumlah pangkat dan nama-nama resimen yang digunakan dalam kemiliteran Turki Usmani. Pasukan kawal elitenya yang mengenakan sorban aneka warna dan panji-panji resimen berlambang ular, bulan sabit, dan ayat-ayat Alquran, ditata dalam kompi-kompi dengan nama seperti Bulkio, Turkio, dan Arkio. Nama resimen itu meniru nama-nama Bölüki (dari bölüki , satu regu), Oturaki, dan resimen kawal para sultan Turki Usmani, Janissar Ardia. Dalam waktu yang sama, panglima tentaranya yang terkemuka, Sentot yang baru berusia 17 tahun, menerima gelar Ali Basah, yang mungkin diambil dari istilah Turki 'Ali Pasha ('al-Basha al-'Ali/Pasha Yang Mulia) atau dari nama Muhammad Ali Pasha, penguasa Mesir, gubernur atau wakil (pasha) terkemuka Kesultanan Turki Usmani awal abad ke-19. Para pangeran dan pejabat tinggi Yogyakarta yang berjuang di pihak Diponegoro juga menggunakan nama dan gelar Turki Usmani, seperti Basah dan Dullah. "Diponegoro juga menyebut dalam babad karyanya teladan sultan Turki Usmani sebagai penguasa tertinggi di Mekah," tulis Peter Carey. "Panji perang pribadi Diponegoro sendiri pola layar segitiga hijau dengan bulatan matahari di tengah dan panah bersilang mungkin juga diilhami oleh tradisi militer Turki Usmani." Meskipun mengagumi Turki Usmani, menurut Peter Carey, Diponegoro tidak mendapatkan balabantuan langsung dari Turki Usmani dalam Perang Jawa. "Ketika mengajukan Babad Diponegoro sebagai warisan dunia, kami ditanya apakah pentingnya naskah ini bagi dunia," kata Peter Carey dalam live instagram@historiadotid tentang "Sisi Lain Kehidupan Pangeran Diponegoro" pada Kamis, 16 April 2020, pukul 12.00 WIB. Untuk menjawab pertanyaan itu, Peter Carey menanyakan kepada koleganya Ismail Hakki Kadi , sejarawan muda Turki dan penulis buku Ottoman–Southeast Asian Relations: Sources from the Ottoman Archives , apakah ada hubungan atau dukungan Turki Usmani kepada Diponegoro dalam Perang Jawa. "Sayangnya, tidak ada. Jika ada akan menguatkan pengusulan Babad Diponegoro sebagai warisan dunia," kata Peter Carey. Meskipun demikian, pada 21 Juni 2013, UNESCO (organisasi PBB untuk pendidikan, ilmu pengetahuan, dan budaya), tetap menetapkan Babad Diponegoro sebagai Warisan Ingatan Dunia ( Memory of the World ). “Meski menetapkan busana dan memberikan pangkat Turki Usmani seperti Ali Basah (Pasha Tinggi) buat para panglima tertingginya, Diponegoro bukanlah pembaru Islam," tulis Peter Carey. "Sebaliknya, ia seorang muslim Jawa tradisional yang tidak mengenal pertentangan antara dunia kerohanian Jawa dan keanggotaannya dalam umat internasional yang pusat kerohanian serta budaya politiknya adalah Hejaz (Arab Saudi sekarang ini) dan Turki Usmani."*

  • Kehidupan di Tangsi KNIL yang Kumuh

    Setelah lulus sekolah pendidikan perwira cadangan, resmilah Abdul Haris Nasution menjadi tentara Hindia Belanda (KNIL). Nasution tergolong perwira rendahan. Pangkatnya masih pembantu letnan satu. Bersama Kartakusumah, rekannya sesama bumiputra, Nasution ditempatkan dalam Batalion X, Kompi Jawa di bilangan Senen, Batavia. “Kehidupan dalam tangsi ‘kompeni’ adalah merupakan pengalaman baru, terutama di mana terasa diskriminasi antara suku, Kompi I adalah Belanda, Manado, dan Kompi III adalah Jawa. Skala gaji dan menu makanan juga tidaklah sama,” kenang Nasution dalam memoarnya Memenuhi Panggilan Tugas Jilid 1: Kenangan Masa Muda .    Nasution menuturkan kegiatan sehari-hari para serdadu adalah baris-berbaris di Lapangan Banteng, di depan kediaman Panglima Divisi I KNIL. Ada kalanya latihan luar lapangan atau latihan menembak di Sunter. Sesekali Nasution ikut komandan kompi meninjau persiapan perbentengan di Cilincing. Dalam tugas lapangan, disiplin dijunjung tinggi sebagaimana lumrahnya dunia militer yang keras. Namun ketika kembali ke tangsi, Nas mengalami kehidupan sosial yang sangat berbeda. Menjaga ketertiban bukan perkara gampang. Pada siang hari, kamar-kamar mesti dikosongkan dan diinspeksi oleh petugas piket.   “Di Batalion X inilah saya mengalami kehidupan ‘kompeni’, yang melahirkan sebutan ‘anak kolong’,” ujar Nasution. “Kiranya sulit memelihara privasi dalam asrama demikian. Dan anak-anak pun sudah banyak yang tahu.” Nasution tidak mengungkapkan secara gamblang seperti apa anak kolong yang dimaksud. Namun menurut Misbach Yusa Biran, seniman yang sering nongkrong di kawasan Senen, anak dari serdadu berpangkat prajurit disebut sebagai “anak kolong”. Istilah ini muncul karena tentara berpangkat prajurit diharuskan tinggal dalam tangsi. Mereka hanya diberi satu kamar sempit untuk satu keluarga sehingga anak-anak terpaksa tidur di kolong ranjang. Misbach juga menyebut, kawasan sekitar Batalion X tempat Nasution bernanung ini menjadi wilayah yang sangat “angker”. Pribumi yang lewat dekat sana sering dicap pro-Indonesia dan akan disiksa, termasuk oleh anak kolong. Maka tidak heran kalau kelompok anak kolong dikenal karena kenakalannya.   “Mereka sering berkelahi dengan anak kampung, orang kelas bawah. Anak serdadu menghina anak kampung dan sebaliknya mereka dikatai sebagai anak kolong,” tulis Misbach Yusa Biran dalam  Kenang-kenangan Orang Bandel . Menurut Tineke Hellwig dalam Citra Kaum Perempuan di Hindia Belanda,  dalam lingkungan tentara kolonial, pergundikan dan pelacuran merupakan bagian dari realitas sehari-hari. Serdadu pribumi dan Eropa hidup bersama dalam tangsi-tangsi prajurit. Para istri dan anak-anak prajurit pribumi mempunyai tempat tersendiri dalam tangsi. Sementara itu, serdadu-serdadu Eropa hidup bersama nyai  (gundik) mereka. Sepertinya kenyataan miris itulah yang disebut Nasution dengan “sulitnya memelihara privasi.” Menurut Nasution, pagi hari menjadi waktu yang paling merepotkan dalam kehidupan tangsi. Keluarga serdadu (anak dan istri) harus lekas membersihkan tempat dan pergi. Suara menangis anak-anak selalu ramai. Bocah-bocah ini pun kadang tidak sempat buang hajat ke kakus. Kartakusumah sewaktu bertugas jadi komandan piket pernah diuji kesabarannya karena menyakiskan seorang anak yang berak sembarangan di pekarangan. “Namun demikian kehadiran keluarga-keluarga ini ada pula segi enaknya. Kami selalu dapat memesan nasi pecel dari dapur bersama,” ujar Nasution berkelakar. Demikianlah pengalaman Nasution di tangsi Belanda dalam masa awal bertugas sebagai tentara jauh sebelum menjadi jenderal dalam ketentaraan Republik Indonesia.

  • Nasution dan Lubis Akur, Gatot Subroto Senang

    DEMI bisa melihat upacara pelantikan suaminya, Kolonel AH Nasution, menjadi KSAD untuk kali kedua, di Lapangan Banteng pada 1 November 1955, Johana Sunarti terpaksa menumpang pada seorang kenalan suaminya, Kadir. Dari rumah Kadir yang berada di pinggir Lapangan Banteng itulah Johana bisa leluasa melihat upacara pelantikan itu. “Beda dengan protokol masa Orde Baru (Orba), maka di masa liberal itu sang isteri pejabat tidak masuk protokol, jadi tidak diundang, kebiasaan dari masa perjuangan 1945-50 masih dihayati,” kata Nasution dalam otobiografinya,  Memenuhi Panggilan Tugas Jilid 3 . Upacara pelantikan itu juga berbeda dari pelantikannya sebagai KSAD saat pertamakali (1949) dan pelantikan-pelantikan para petinggi militer lain sebelumnya. “Sejak 1945 baru kali inilah pelantikan pejabat tinggi TNI dilakukan di depan pasukan. Sejak dulu pelantikan dilakukan di Istana Presiden. Prakarsa ini datang dari Kolonel Z. Lubis, yang menganggap lebih tepat di depan pasukan daripada di Istana. Saya sependapat dengan beliau,” sambung Nasution. Kolonel Lubis yang dimaksud Nas, sapaan akrab Nasution, merupakan Zulkifli Lubis “bapak intelijen Indonesia” yang saat itu menjadi Pejabat KSAD. Dalam status keluarga, Lubis dan Nas merupakan sepupu. Sama dengan Nas, Lubis juga Muslim taat yang hidup sederhana, anti-korupsi, dan anti-Komunis. Namun, hubungan keduanya tak akrab dan bahkan justru lebih banyak bertentangan. “Kebetulan kalau dengan saya, tidak pernah cocok. Saya termasuk yang diinteli terus,” kata Nas. Penyebab utama pertentangan itu yakni latar belakang pendidikan, di mana Nas mantan KNIL dan Lubis mantan Peta.“Memang sejak masa Yogyakarta sementara orang mengetahui bahwa kami seringkali bertentangan dalam pembawaan diri. Rupanya ia melihat saya sebagai militer profesional ala dunia Barat. Memang pula saya merasakan pembawaannya sebagai seseorang yang punya latar belakang pendidikan intel Jepang,” kata Nas. Pertentangan keduanya bahkan ikut mewarnai perpolitikan nasional era 1950-an. Setelah Peristiwa Oktober 1952, di mana Nas menjadi pemimpin gerakan dan Lubis berada di kubu kontra-gerakan, Nas kehilangan jabatan KSAD-nya dan Lubis diangkat menjadi wakil KSAD. Puncak konflik keduanya terjadi justru ketika keduanya berpasangan memimpin AD sejak akhir 1955. Penolakan KSAD Nas terhadap usul Wa-KSAD Lubis (Wa-KSAD) agar KSAD lebih memfokuskan urusan luar sementara Wa-KSAD mengurus internal AD, membuka puncak konflik itu. Eskalasi Konflik meningkat saat Lubis akan digeser menjadi panglima Teritorium I Sumatra Utara dalam rencana mutasi yang dibuat Nas untuk memperbaiki organisasi AD.   Berkelindan dengan gejolak politik nasional di mana sejumlah daerah menuntut keadilan kepada pemerintah pusat dan beberapa panglima daerah menuntut Nas dicopot, sebuah upaya kudeta rancangan Lubis –dinamakan Nas sebagai “Peristiwa Lubis”– yang gagal akhirnya menabuh gong perang antara Nas dan Lubis. Nas, tulis Peter Kasenda dalam Kolonel Misterius di Balik Pergolakan TNI AD , “memberhentikan Lubis dari TNI AD dan membatalkan pengangkatannya menjadi Panglima Divisi Bukit Barisan.” Lubis akhirnya buron dan kemudian bergabung bersama para panglima daerah bergejolak dan politisi anti-Komunis mendirikan Pemerintah Revolusioner Republik Indonesia (PRRI). Lubis lalu dipenjara begitu PRRI dihancurkan pemerintah pusat. Keduanya baru akur ketika sudah sama-sama “menganggur” setelah Orde Baru berdiri. Nas hanya menjadi penulis dan pengisi ceramah di kampus-kampus usai MPRS yang dipimpinnya dibubarkan Presiden Soeharto. Sementara, Lubis berwiraswasta setelah dibebaskan dari tahanan pada 1966. Keakuran keduanya di masa aktif dalam militer jadi hanya terjadi sesaat, yang dimulai saat Nas diangkat kembali menjadi KSAD. Usai dilantik di Lapangan Banteng, Nas melakukan serah terima dengan Lubis di aula Mabes AD. “Setelah kami berdua menandatangani piagam serah-terima itu, maka saya bacakanlah order harian saya,” kata Nas. Prosesi serah-terima itu berjalan lancar dalam suasana akrab. KSAD Nas dan Wa-KSAD Lubis pun bisa tertawa bersama. Keakuran itulah yang mengundang kelakar dari Kolonel Gatot Subroto, yang di kemudian hari dipilih Nas untuk menggantikan Lubis sebagai wakilnya. “Kita aman kalau kedua saudara dari Mandailing ini tidak berkelahi,” kata Gatot, dikutip Nas.

  • Dalam Keadaan Sakit, Aliarcham Tetap Melawan

    Ketika akhirnya dipindahkan ke Kamp Tanah Tinggi, Aliarcham mulai mengalami batuk-batuk. Kondisinya menjadi semakin parah dan diketahui ia mengidap penyakit Tuberkulosis (TBC). Kian hari badannya semakin kurus. Mukanya pucat dan matanya juga cekung. Sukimah adalah istri Aliarcham yang pada 1926 ikut dalam pembuangan ke Okaba. Ia turut pula ketika Aliarcham dipindahkan ke Tanah Merah dan kemudian ke Tanah Tinggi. Anak laki-laki mereka yang bernama Aneksimander juga ikut dalam pengasingan ini. Di Tanah Tinggi ketika Aliarcham mulai sakit, istrinya diminta kembali Jawa. Sukimah yang saat itu tengah mengandung diminta pulang agar melahirkan di Jawa. Lagi pula akan sangat berbahaya jika penyakit Aliarcham menular ke keluarganya. “Bulan Juli 1929, dengan hati yang pilu, bertentangan dengan perasaannya dan atas desakan yang kuat dari suaminya, akhirnya Sukimah terpaksa berangkat dan meninggalkan suaminya di pembuangan,” tulis penyusun buku Aliarcham, Sedikit tentang Riwayat dan Perjuangannya . Sementara itu, keadaan Aliarcham makin buruk. Kawan-kawannya menganjurkan supaya ia berobat ke Tanah Merah. Namun Aliarcham menolak karena ia yakin bahwa pemerintah kolonial tidak akan mengobatinya karena sangat membencinya. Setelah terus didesak oleh kawan-kawan, akhirnya Aliarcham akhirnya sempat berobat di Tanah Merah dan kemudian kembali lagi ke Tanah Tinggi. Aliarcham ternyata memilih mati dikelilingi kawan-kawan daripada harus berobat hingga sembuh kepada pemerintah kolonial. Aliarcham memang keras pendirian. Padahal di Tanah Tinggi, mengidap penyakit seperti penyakit paru-paru atau malaria tanpa pengobatan berarti kematian. Seorang sersan penjaga di Tanah Tinggi bercerita kepada Chalid Salim bahwa selama berminggu-minggu Aliarcham terus batuk pada malam hari. Kemudian setiap pagi jam enam ia terlihat berjalan-berjalan di depan rumahnya untuk berjemur dengan berkalung handuk. “Tak pernah ia minta tolong. Sungguh orang luar biasa!” katanya, seperti dikutip Chalid Salim dalam Lima Belas Tahun Digul. Dokter Schoonheyt yang sempat mengobati Aliarcham di Tanah Merah memberitahu Sukimah melalui sepucuk surat. Ia menganjurkan Sukimah agar kembali ke Digul karena penyakit suaminya sudah parah. “ Saya melihat sesuatu yang luar biasa kuatnya pada diri suami nyonya, yaitu pendirian politiknya yang tak pernah kendor melawan pemerintah. Dan sebagai manusia, saya sangat menghormati akan keteguhan hati ini,” tulis Schoonheyt. Sukimah segera mengirim surat untuk Aliarcham. Ia mengatakan akan kembali ke Tanah Tinggi untuk merawatnya. Namun, keinginan sang istri ditolak Aliarcham. “Sakit saya hanya sedikit dan kalau kau datang penyakit ini takkan sembuh. Dan kau pasti tinggal saja terus di Jawa mendidik anak-anak. Dan saya pasti sembuh,” kata Aliarcham dalam surat balasannya. Sukimah tentu saja khawatir. Namun sebelum ia sempat mengabarkan terkait kepastian keberangkatannya ke Tanah Tinggi, kabar kematian suaminya justru datang lebih dulu. Pada 1 Juli 1933, Aliarcham meninggal dunia di atas perahu menuju Tanah Merah.

  • Hukuman Bagi Pelanggar Karantina di Hindia Belanda

    Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) akhirnya diberlakukan di Jakarta mulai Jumat, 10 April 2020. Aturan tentang PSBB ini tertuang dalam Peraturan Gubernur (Pergub) Nomor 33 Tahun 2020 sebagai upaya memutus penyebaran virus korona. Kegiatan perkantoran dan sekolah diliburkan. Hanya beberapa sektor yang diizinkan beroprasi, seperti sektor kesehatan, pangan, energi, komunikasi, keuangan, logistik, dan penyediaan kebutuhan sehari-hari. Transportasi umum tetap beroperasi namun hanya dari pukul 06.00 WIB sampai 18.00 WIB dan kapasitasnya dibatasi menjadi 50 persen. Pembatasan kapasitas angkut ini juga berlaku untuk mobil pribadi. “Dalam satu kendaraan, jumlah penumpang yang bisa naik bersamaan dibatasi. Bila jumlah kursinya untuk enam orang maka maksimal hanya tiga orang, dan semua di dalam mobil wajib pakai masker," kata Gubernur Anies Baswedan seperti dikabarkan Kompas.com. Kebijakan tersebut diberlakukan hingga 23 April 2020 namun bisa pula diperpanjang. Masyarakat yang terbukti melanggar aturan PSBB bisa dihukum 1 penjara atau denda hingga Rp100 juta. Pemberlakuan hukuman bagi para pelanggar karantina kesehatan juga pernah terjadi di era kolonial. De Sumatra Post 20 Juli 1910 memberitakan, karantina kesehatan diberlakukan di Deli. Seluruh biaya karantina untuk orang yang membutuhkan dibayar oleh pemerintah. Namun, bagi mereka yang melanggar aturan pada kesempatan pertama akan langsung mendapat hukuman berupa denda f 2000 atau dua tahun penjara bagi orang Eropa dan dua tahun kerja paksa bagi pribumi. “ f 2000 akan menjadi jumlah yang sangat besar bagi orang pribumi,” kata Liesbeth Hesselink, penulis buku Healers on the Colonial Market, kala dihubungi Historia. Pada tahap akhir penjinakan pes, seperti dikisahkan Martina Safitry dalam tesisnya, “Dukun dan Mantri Pes”, hukuman dan denda juga diberlakukan bagi para pelanggar aturan. Besluit No. 4064/52 tanggal 25 April menerangkan bahwa setiap orang harus menjaga kebersihan pekarangan, rumah, dan lingkungannya agar terhindar dari sarang tikus. Bambu utuh dan kotor dilarang digunakan untuk perkakas rumah. Barang-barang harus ditata dengan rapi dan beraturan. Barang siapa yang melanggar peraturan tersebut, akan dihukum berdasar artikel II dalam Staatsblad no. 484 tahun 1916 yakni denda sebanyak f 100 atau hukuman penjara 1-6 hari bagi pribumi maupun Eropa. Kala wabah influenza menyerang Hindia Belanda, aturan karantina beserta hukumannya juga diberlakukan. Dalam Staatsblad tahun 1920 nomor 723 disebutkan wewenang untuk karantina diberikan kepada pejabat kesehatan setempat. Orang dari daerah terjangkit dilarang keluar atau memasuki daerah yang dinyatakan masih sehat. Bila aturan tersebut dilanggar, hukuman pidana sudah menanti. Setiap orang yang menolak pengawasan dan tindakan karantina diancam kurungan maksimal enam hari atau denda uang maksimal f 50. Kepala sekolah atau pengelolanya yang tidak meliburkan sekolah juga akan dijatuhi hukuman serupa. Kontrol rutin terhadap kondisi kesehatan masyarakat juga digalakkan, khususnya terhadap korban-korban penyakit influenza. Lantaran penyakit ini berasal dari luar negeri, aturan ketat pada kapal-kapal di pelabuhan pun diterapkan. Orang-orang dari kapal dilarang turun dari kapal karena dikhawatirkan menulari penduduk di pelabuhan dan menyebarkan penyakit di darat. Setiap penumpang kapal yang turun harus menunjukkan bukti bahwa mereka bebas dari influenza. Bila tidak, mereka diperintahkan untuk tetap berada di kapal (bila transit) atau dikarantina terlebih dahulu sebelum diizinkan melanjutkan perjalanan. Mengingat kapal berada di bawah tanggungjawab nahkoda (kapten kapal), maka pengawasan menjadi tugasnya. Apabila ada penumpang yang melanggar, nahkoda wajib menghukum pelanggar; bila tidak, nahkoda itu sendiri yang akan dihukum pemerintah karena dianggap melalaikan tugas. Kepala Dinas Kesehatan Rakyat dokter de Vogel, yang tercatat dalam karya Priyanto Wibowo berjudul Yang Terlupakan Pandemi Influenza 1918, merupakan orang yang mengusulkan aturan hukuman bagi pelanggar aturan karantina pada Gubernur Jenderal Johan Paul van Limburg Stirum. Seorang nahkoda kapal yang didapati melalaikan tanggung jawab terkait karantina kesehatan akan dihukum kurungan maksimal setahun atau denda uang maksimal f 2000. Pandangan de Vogel itu segera menuai protes dari direksi Perusahaan Pelayaran Kerajaan (Koninklijk Paketvaart Maatschappij, KPM). Mereka keberatan bila nahkoda dimintai tanggung jawab untuk mengawasi penumpang atau awak kapal yang turun tanpa izinnya. Terlebih, aturan karantina yang disebutkan de Vogel bukan bagian dari tugas seorang nahkoda, melainkan tugas petugas kesehatan atau bahkan pemerintah setempat. Pihak KPM kemudian mengusulkan agar tanggung jawab dalam peraturan karantina seharusnya diberikan oleh kepala pelabuhan. Mereka juga menyebut kebijakan tersebut bukan hanya menyulitkan nahkoda dan penumpang tetapi juga akan mematikan aktivitas perekonomian di sekitar pelabuhan. De Voogel tetap pada pendiriannya. Dalam laporannya kepada Gubernur Jenderal, dia mengatakan bahwa alasan direksi KPM tentang hambatan aktivitas ekonomi terlalu dibesar-besarkan. Namun dari aturan karantina kala pandemi influenza tersebut, hanya kalangan pendidikan, perkapalan, dan masyarakat umum yang diancam hukuman apabila tidak mematuhi aturan. “Ancaman seperti itu tidak berlaku bagi dinas kesehatan atau kepala pemerintah daerah yang lalai dalam melaksanakan tugasnya,” tulis Priyanto dalam bukunya.

  • Menggali Akar Anarkisme di Indonesia

    NARASI tentang anarkisme sebenarnya sudah eksis bahkan jauh sebelum Indonesia merdeka. Hanya saja ketika membicarakannya pada hari-hari ini, seolah-olah ia menjadi sebentuk barang baru dari dunia Barat. Anarkisme adalah ideologi yang tak memiliki tanah air. Ia hanya tampak sebagai paham impor dari Eropa hanya karena dari sana bermula ideologi ini diartikulasikan, elemen-elemen dasarnya diformulasikan, diperbincangkan hingga paham ini terus mengada di antara paham-paham besar lainnya yang juga dilantangkan dari sana.

  • Upaya Menggali Inspirasi Lewat Film Kadet 1947

    PERJUANGAN kemerdekaan negeri ini tak melulu berisi kisah-kisah heroisme dari peperangan di darat. Ada pula para pemuda di masa itu bertaruh nyawa di udara. Epos pemboman yang dilakukan para kadet Angkatan Udara Republik Indonesia (AURI, kini TNI AU) 73 tahun lampau itulah yang bakal diangkat ke layar lebar dengan tajuk Kadet 1947. Adalah Temata Studios yang menggarap petite histoire (sejarah kecil) yang tak pernah atau jarang tertera di buku pelajaran sejarah zaman kiwari itu. Film yang juga didukung TNI AU itu bakal dikemas dengan drama berlabel “ inspired by true story ” oleh duet sineas muda Rahabi Mandra dan Aldo Swastia. “Cerita ini memang berdasarkan zaman Agresi Militer Belanda (pertama). Serangan dilakukan para kadet yang notabene masih amatir. Tapi semangat ini yang ingin kita bagikan. Ini semacam untold story karena kisah mereka ini bukan cerita yang besar seperti cerita-cerita Jenderal Sudirman, tetapi kisah mereka dapat membangkitkan semangat bagi gerakan-gerakan (perjuangan) yang lain,” kata produser Celerina Judisari dalam konferensi pers virtual via platform video conference Zoom, Rabu (15/4/2020). Para kadet disebut amatir karena saat melakukan pemboman udara pertama Indonesia itu masih berstatus taruna AURI. Jangankan melakukan misi tempur, jam terbang mereka pun masih nol alias belum pernah terbang. Kendati faedah misi mereka kecil jika ditilik arti strategisnya, seperti dikatakan KSAU Komodor Suryadarma, pengaruhnya begitu berarti. Enam dari tujuh kadet AURI dalam misi pemboman dari kiri ke kanan: Suharnoko Harbani, Sutardjo Sigit, Mulyono, Kaput, Dulrachman, dan Sutardjo (Foto: Repro "Sejarah Pendidikan Perwira Penerbang: Periode: 1945-1950") Misi pemboman mereka pada 29 Juli 1947 dengan sasaran sarang-sarang militer Belanda di Salatiga, Semarang, dan Ambarawa itu adalah misi balas dendam terhadap Agresi Militer I (27 Juli 1947) Belanda dua hari sebelumnya. Misi itu diusulkan kadet-kadet AURI di Pangkalan Maguwo (kini Lanud Adisucipto) seperti Kadet Sutardjo Sigit, Kadet Kaput, Kadet Sutardjo, Kadet Suharnoko Harbani, Kadet Mulyono, Kadet Doelrachman, dan Kadet Bambang Saptoadji. “Rupanya anak-anak (kadet) itu merasa gemas. Apalagi kemudian banyak sekali yang hancur akibat serangan udara (Belanda) itu. Lantas dianggapnya kekuatan Indonesia sudah tidak ada lagi. Semangat anak-anak amatiran itu yang ingin kita angkat,” tambahnya. Darah muda mereka bergolak ketika melihat efek Agresi Militer Belanda I yang turut menghancurkan beberapa pesawat AURI bekas Jepang di Pangkalan Maguwo.  Dengan pesawat-pesawat yang tersisa seperti pesawat latih Cureng (Yokosuka K5Y), pesawat tempur Hayabusa (Nakajima Ki-43), dan pembom tukik Guntai (Mitsubishi Ki-51), mereka lalu melakukan perhitungan dengan sepengetahuan KSAU Komodor Suryadi Suryadarma (KSAU) dan Deputi Operasi KSAU Komodor Muda Halim Perdanakusuma. Meski sempat mengalami sedikit problem teknis di udara, misi itu sukses bikin Belanda panik. Belanda tak menyangka Operatie Product (Agresi Militer) yang dilancarkannya dibalas Indonesia lewat pemboman udara dua hari kemudian. Kejengkelan Belanda itulah yang mendorongnya balas dendam. Di hari yang sama, Belanda menembak jatuh pesawat angkut Dakota C-47 Indonesia dan menewaskan beberapa tokoh penting AURI seperti Komodor Muda Udara dr. Abdulrachman Saleh, Komodor Muda Udara Agustinus Adisutjipto, dan Opsir Muda Udara Adisumarmo Wiryokusumo. Di kemudian hari, tragedi Dakota itu oleh Indonesia diperingati sebagai Hari Bhakti TNI AU. Inspirasi Spirit Kadet-Kadet Pemberani Semangat menggebu tim produksi sayangnya mesti menunda proses penggarapan film akibat pandemi SARS-Cov-2 (virus corona ). Dari rancana 40 hari proses syuting yang dilakoni sejak awal Maret 2020, baru berjalan tiga hari. Padahal, rencana awal film ini akan tayang pada Agustus 2020 sebagai “kado” HUT ke-75 RI. Jadwal pun bergeser. Rencananya, produksi akan digulirkan lagi pada Juni 2020, sementara jadwal tayang yang belum ditentukan. Namun bukan berarti tim produksi berkecil hati karena bencana global ini. “Film ini tentang bagaimana anak-anak muda berjuang di masa itu. Kalau ditarik konteksnya zaman sekarang, saat ini sekarang kita lagi dijajah oleh COVID-19. Kita terbelenggu enggak bisa ke mana-mana. Tapi bagaimana caranya kita tetap ‘bersatu’ walau tidak dengan bersatu. Tentang bagaimana survival kita sebagai bangsa, tentang semangat harus terus maju mempertahankan hidup kita,” ujar Aldo Swastia. Pesawat pembom tukik Guntai alias Mitsubishi Ki-51 yang digunakan Kadet Mulyono dalam misi pemboman (Foto: Repro "Sejarah Pendidikan Perwira Penerbang Periode 1945-1950") Oleh karena kisah itu dilakoni kadet-kadet muda dan untuk menggaet minat milenial sebagai sasaran audiens Kadet 1947 , tim produksi pun memilih para aktornya yang juga seusia dengan tokoh yang mereka perankan. Selain Kevin Julio yang memerankan Kadet Mulyono, ada Baskara Mahendra sebagai Kadet Sutardjo Sigit, Ajil Ditto sebagai Kadet Suharnoko Harbani, Samo Rafael sebagai Kadet Bambang Saptoadji, Wafda Saifan sebagai Kadet Sutardjo, Chicco Kurniawan sebagai Kadet Dulrachman, dan Fajar Nugra sebagai Kadet Kaput. Mereka bakal beradu akting dengan beberapa aktor berpengalaman seperti Ibnu Jamil yang memerankan Halim Perdanakusuma, Mike Lucock sebagai Suryadi Suryadarma, Indra Pacique sebagai Jenderal Sudirman, dan Ario Bayu sebagai Presiden Sukarno. Para aktor kawakan ini diharapkan bisa mendongkrak animo publik mengingat genre film drama sejarah minim peminat dan epos para kadet sendiri masih belum banyak diketahui publik. “Bicara genre film sekarang top of the list -nya ya drama, komedi, dan horor. Tapi bagaimana kami bisa menyiasatinya untuk bisa membawa kisah sejarah ini bisa dinikmati generasi muda dengan dijiwai juga. Sehingga sejarah yang kita kemas di sini bisa jadi inspirasi generasi sekarang,” ujar produser Tesadesrada Ryza. Pesawat latih Cureng alias Yokosuka K5Y yang diterbangkan Kadet Sutardjo Sigit & Suharnoko Harbani selepas misi pemboman (Foto: Repro "Sejarah Pendidikan Perwira Penerbang Periode 1945-1950") Meski disebutkan sang produser bahwa jika bicara statistik film-film bertema sejarah berada di bawah, mereka optimis kemasan epos yang didramatisir ini bakal punya daya tarik bagi generasi milenial. Bukan hanya karena dimainkan aktor-aktor yang juga milenial, namun pesan, inspirasi, dan semangat para kadet itu juga masih relevan untuk digali dan diamalkan generasi kekinian. Diharapkan juga, lanjut Ryza, film Kadet 1947 bisa menghidupkan semangat kadet-kadet itu untuk membuka mata generasi muda agar bangga akan sejarah yang sudah diukir. Betapa spirit pantang menyerah, semangat kolaboratif dan gotong-royong bisa jadi inspirasi orang-orang muda di masa sekarang. “Kalau kita enggak kenal sejarah dan apa yang sudah dilakukan pejuang-pejuang Indonesia di masa lampau, kita enggak akan pernah bisa mengucap terimakasih. Kita enggak tahu seberat apa perjuangan mereka. Makanya dalam Kadet 1947 ini wajib kita hidangkan suguhan bervitamin buat rasa nasionalisme yang menurut gue, semakin lama semakin menipis,” tandas Ibnu Jamil yang memerankan tokoh Halim Perdanakusuma.

  • Ketika Asisten Pribadi Presiden Soeharto Berkuasa

    Presiden Joko Widodo membuat kejutan ketika mengangkat beberapa staf khususnya dari kalangan milenial. Namun belum sempat menorehkan prestasi mentereng, salah satu dari mereka telah membuat blunder fatal. Andi Taufan Garuda Putra, staf khusus presiden bidang Usaha Mikro Kecil Menegah (UMKM) ketahuan menyurati camat se-Indonesia agar menggunakan jasa relawan PT Amartha Mikro Fintek dalam program penanggulangan Covid-19. Amartha  merupakan perusahaan dimana Taufan duduk sebagai kepala eksekutifnya.

  • Anarkisme dalam Perang Sipil Spanyol 1936

    KETIKA Perang Sipil Spanyol bergejolak (1936-1939), berbagai gerakan kiri di Spanyol bersatu melawan pemberontakan militer yang dipimpin oleh Fransisco Franco. Kaum anarkis, yang telah lama aktif dalam gerakan buruh Spanyol memiliki peranan penting dalam pertempuran itu. Perang ini diawali ketika para jenderal Spanyol memulai pemberontakan militer pada Juli 1936. Sejak itu pula, para pekerja dan petani Spanyol telah merespon mereka dengan revolusi sosial. Sebagian besar revolusi sosial inipun bersifat anarkis. Murray Bookchin dalam To Remember Spain: The Anarchist and Syndicalist Revolution of 1936 , menyebut selama beberapa bulan pertama pemberontakan militer, pekerja sosialis di Madrid juga sering bertindak secara radikal seperti yang dilakukan para pekerja anarko-sindikalis di Barcelona. “Mereka mendirikan milisi mereka sendiri, membentuk patroli jalanan, dan mengambil alih sejumlah pabrik strategis, menempatkan mereka di bawah kendali komite pekerja. Demikian pula, para petani sosialis di Castile dan Estramadura membentuk kolektif, banyak di antaranya sama libertariannya dengan yang diciptakan oleh petani anarkis di Aragon dan Levante,” tulis Bookchin. Bahkan menurut Bookchin, yang membuat Revolusi Spanyol unik adalah kontrol buruh dan kolektifnya yang telah diadvokasi selama hampir tiga generasi oleh gerakan libertarian besar-besaran. Revolusi ini juga menandai puncak dari 60 tahun lebih agitasi dan aktivitas anarkis di Spanyol sejak awal 1870-an, ketika Giuseppi Fanelli seorang anarkis Italia memperkenalkan ide-ide Bakunin kepada kelompok-kelompok pekerja dan intelektual di Madrid dan Barcelona. David Porter dalam Vision on Fire: Emma Goldman on the Spanish Revolution bahkanmenyebut bahwa gerakan anarkis terorganisir di Spanyol menjadi lebih besar dan lebih kuat pada 1930-an dibanding ‘kapanpun dan di manapun di dunia’. Pada September 1936, Largo Caballero, pemimpin Partai Sosialis Spanyol membentuk pemerintahan ‘kiri’. Ia memobilisasi para pemimpin sosialis, anarko-sindikalis, dan komunis untuk melawan tentara. Pemerintahan ini kemudian diisi menteri-menteri yang mewakili serikat pekerja sosialis UGT (Unión General de Trabajadores) dan serikat pekerja anarko-sindikalis CNT-FAI (Confederación Nacional del Trabajo dan Federacien Anarquista Ibe'rica). Menurut Peter Marshall dalam Demanding the Impossible, A History of Anarchism empat pemimpin CNT kemudian menjadi menteri dalam pemerintahan sosialis Largo Caballero. Dua nama, Juan L ó pez dan Juan Peir ó masing-masing menjadi Menteri Perdagangan dan Menteri Industri. Sedangkan militan FAI Garcia Oliver menerima jabatan Menteri Kehakiman. Oliver kemudian memperkenalkan beberapa reformasi liberal, tetapi dikurangi menjadi membela kamp kerja bagi tahanan politik. Federica Montseny berpidato pada pertemuan bersejarah CNT di Barcelona pada 1977, pertama kalinya setelah 36 tahun kediktatoran di Spanyol. (Wikimedia Commons). Sementara itu, intelektual anarkis Federica Montseny menjadi Menteri Kesehatan. Montseny adalah orang yang selalu percaya bahwa 'negara tidak dapat mencapai apa pun, bahwa kata ‘pemerintah’ dan ‘otoritas’ berarti meniadakan kemungkinan kebebasan bagi individu dan masyarakat. Keputusan ini menuai kontroversi karena dianggap telah mematahkan tradisi terhormat pantang dari semua bentuk politik parlementer. CNT juga selalu tegas dalam penolakan terhadap negara dan intrik politik serta independen dari partai politik dan berkomitmen untuk revolusi melalui aksi langsung. Surat kabar CNT Solidaridad Obrera menyatakan, ketika para pemimpinnya bergabung dengan Caballero, pemerintah 'sebagai instrumen pengatur organisme negara, telah berhenti menjadi kekuatan penindas terhadap kelas pekerja , sama seperti negara tidak lagi mewakili organisme yang membagi masyarakat ke dalam kelas’. Sementara itu, Emma Goldman feminis anarkis yang juga anggota CNT-FAI menyebut pilihan masuk ke dalam pemerintahan adalah konsesi paling tidak ofensif. Emma tidak mengubah sikapnya terhadap ‘pemerintah sebagai kejahatan’. Ia masih menganggap negara adalah monster yang dingin dan melahap semua orang dalam jangkauan. “Saya mungkin harus lebih waspada terhadap masa depan CNT-FAI. Tetapi dengan Franco di gerbang Madrid, saya hampir tidak dapat menyalahkan CNT-FAI karena memilih partisipasi yang lebih tidak jahat dalam pemerintahan daripada kediktatoran, kejahatan paling mematikan.,” sebutnya seperti termuat dalam Vision on Fire: Emma Goldman on the Spanish Revolution. Pemerintahan ‘kiri’ itu ternyata hanya bertahan beberapa bulan. Perombakan-perombakan selanjutnya yang dilakukan pemerintah melangkah ke arah ‘kanan’. Partido Obrero de Unificación Marxista (POUM, Partai Buruh Marxis Bersatu) menjadi yang pertama diusir. CNT dan UGT menyusul tak lama setelah itu. Meski demikian revolusi masih berjalan. George Orwell dalam Homage to Catalonia mengisahkan pada Desember 1936 – Januari 1937 kaum anarkis masih mengendalikan Katalonia dan Barcelona menjadi kota yang mengejutkan ketika orang mengira periode revolusioner telah berakhir. “Itu adalah pertama kalinya saya berada di sebuah kota di mana kelas pekerja berada di pelana,” tulis Orwell. Setiap bangunan, lanjut Orwell, telah direbut oleh para pekerja dan dibalut dengan bendera merah atau bendera merah hitam kaum anarkis. Setiap tembok digambar palu arit dan inisial partai-partai revolusioner. Dan setiap toko dan kafe telah menjadi milik bersama. Sayangnya, serangkaian kekalahan dalam pertempuran terjadi hingga awal 1939. Sementara itu kaum anarkis terus direpresi. Kemudian pada April 1939, pasukan fasis sepenuhnya mengambil alih Spanyol.

  • Riwayat Blitzkrieg, Serbuan Kilat ala Nazi

    MENTARI belum lama mengintip dari ufuk timur pada 15 Mei 1940 ketika pesawat telefon di kamar kerja Winston Churchill tak berhenti berderinghingga sang perdana menteri Inggris itu akhirnya angkat gagang telefon. Dari seberang, terdengarsuara penelepon bergetar hebat dan ketakutan. Panik. Lawan bicara Churchill itu tak lain adalah PM Prancis Paul Reynaud. Suasana hatinya masih begitu kacau ketika menginformasikan Churchillbahwa mereka, Sekutu, yang pada Perang Dunia I menundukkan Jerman, kini telah keok . Blitzkrieg alias perang kilat yang dilancarkan Jerman Nazi sejak 10 Mei 1940 telah meluluhlantakkan kekuatan gabungan Prancis, Inggris, dan Belgia. Manuver dengan kecepatan tinggi itu bikin Maginot Lini –garis pertahanan perbatasan Belgia hingga selatan Prancis dengan Jerman sepanjang 500 kilometer– ambruk meski di atas kertas Sekutu punya lebih banyak serdadu dan panser/tank ketimbang Jerman. Untuk menenangkan hati koleganya, Churchill terbang ke Paris menemui Reynaudsekaligus Menhan Prancis Edouard Daladierdan Panglima militer Prancis Jenderal Maurice Gustave Gamelin pada 16 Mei. Saat dijabarkan peta pertahanan, Churchill terperangah lantaran Prancis tak punya satu unit pun pasukan cadangan untuk menambal kebocoran-kebocoran garis pertahanan Sekutu, baik di front Belgiamaupun Prancis. Meski jumlah serdadu dan kendaraan tempur (ranpur) lapis baja Sekutu lebih besar, kekuatannya disebar sepanjang Maginot Lini. Sementara, Jermanmemfokuskan pasukan lapis bajanya sebagai ujung tombak hanya ke beberapa titik pertahanan terlemah Sekutu. Salah satunya, di Hutan Ardennes. B arisan korps panser Jenderal Heinz Guderian menerobos hutan Ardennes yang sebelumnya dianggap Sekutu takkan bisa dilewati pasukan musuh, lal u berpenetrasi ke kota Sedan. P ertahanan Sekutu pun kocar-kacir. Setelah tertembus, banyak kubu pertahanan Sekutu yang terkepung dan hancur. Guderian pula yang mengejar ratusan ribu pasukan Inggris (British Expeditionary Force) hingga ke Dunkirk di pesisir Prancis. Namun jago tank Jerman itu hanya bisa geleng-geleng kepala ketika Kanselir Jerman-Nazi Adolf Hitler menyerukan penghentian serbuan. Begitulah inti konsep Blitzkrieg (serangan kilat) yang gemilang. Konsep itu sudah digulirkan kala Jerman menginvasi Polandia, 1 September 1939. Namun Blitzkrieg pada 10 Mei yang berbuah penaklukkan Eropa Barat (Belanda menyerah 14 Mei, Belgia 28 Mei, dan Prancis 25 Juni) yang begitu cepat membuat pasukan baja Jerman kian naik pamor. Siapa Otak di Balik Blitzkrieg? Sebagai konsep operasi militer, Blitzkrieg bersifat lugas dan tak berbelit-belit. Inti Blitzkrieg adalah serangan terkonsentrasi menggunakan ranpur sebagai penggebrak, infantri gerak cepat untuk mencegah musuh mengorganisir ulang pertahanan, dan dukungan kekuatan udara. “Strategi Blitzkrieg adalah strategi terbaik sampai detik ini untuk mengalahkan pertahanan musuh. Hanya saja butuh peralatan perang dan teknologi yang mumpuni untuk membuatnya bekerja maksimal. Juga air support (dukungan udara). No air support, no Blitzkrieg ,” tutur pemerhati militer Jerman-Nazi Alif Rafik Khan kepada Historia . Pesawat-pesawat Junkers Ju 87 "Stuka" atau pembom tukik milik Luftwaffe (AU Jerman) yang aktif menyokong Blitzkrieg (Foto: Bundesarchiv) Dalam beberapa sumber, konsep dan manuver serupa tapi tak sama dengan Blitzkrieg sudah dilahirkan para juru taktik sejumlah negara Eropa yang “berkelahi” di Perang Dunia I. Di kubu Jerman, misalnya, terdapat teori perang Vernichtungsschlacht, yakni manuver pasukan dalam jumlah besar dan terkonsentrasiuntuk mengepung posisi musuh untuk memberi pukulan menentukan dalam suatu babak peperangan. Strategi itu, diungkapkan Bryan Perrett dalam A History of Blitzkrieg , merupakan buah pikiran jenderal Prussia yang sohor dari abad ke-19, Carl von Clausewitz. Pada Perang Dunia I, teori perang itu lantas dimodifikasi seiring dengan perkembangan teknologi persenjataan masing-masing negara. “Manuver itu berkembang secara terpisah, secara independen masing-masing mengembangkan konsepnya. Kalau Jerman asal-usulnya dari Bewegungskrieg (taktik manuver) yang dirancang (Marsekal Alfred) Von Schlieffen,” lanjut Alif yang juga penulis buku 1000 + Fakta Nazi Jerman itu. Di Prancis, manuver menggunakan tank-tank yang terkonsentrasi juga sudah digunakan sejak 1918 oleh Kolonel Charles de Gaulle yang kelak jadi panglima tentara Prancis. Menurutnya, setelah Perang Dunia I dibutuhkan operasi-operasi yang lebih mobil dan tak hanya terpaku pada parit-parit perlindungan (perang pasif). Gagasan itu kemudian diabaikan para seniornya. Konsep serupa juga pernah digagas Jenderal Alexei Brusilov di Rusiapada 1916. Esensi dari konsep itu yakni, unsur pendadakan dan infiltrasi dengan tank sangat vital untuk memukul mundur posisi musuh. Namun, gagasan Brusilovtak dijadikan prioritas lantaran kekuatan ranpur mekanis lapis baja Rusia masih terbatas. Generaloberst Heinz Wilhelm Guderian (kanan) perwira penting dalam taktik lincah tank-tank Jerman untuk manuver Blitzkrieg (Foto: Bundesarchiv) Sementara, di Inggris gagasan serupa dilontarkan juru taktik John Fuller dan Liddell Hart. Menariknya, para jago tank Jerman seperti Guderian dan Marsekal Erwin Rommel “berguru” pada kedua perwira Inggris yang gagasannya itu tak didengar para pejabat teras militer Inggris. “Memang Guderian bukan murid dari bangku sekolah dengan Hart sebagai gurunya, melainkan buku-buku yang sebelum perang (dunia II) ditulis oleh Hart. Kata Guderian dalam tahun 1950: ‘Liddell Hart adalah guruku yang pertama mengenai taktik perang tank.’Bahkan Marsekal Erwin Rommel pun dapat disebut murid Liddell Hart,” ungkap P. K. Ojong dalam Perang Eropa, Volume 1 . “Bersama dengan Jenderal Fuller , juga seorang Inggris, Liddell Hart adalah men of vision , orang yang bisa melihat jauh ke depan. Setelah Perang Dunia I berakhir, mereka melahirkan strategi dan taktik tank baru, yaitu konse n trasi tenaga tank sebagai pendobrak pertahanan lawan. Dan ini hanya mungkin jika sengaja dibentuk divisi tank, divisi panser tersendiri,” tambahnya. Mirisnya, sambung Ojong, hingga 1940 pun Inggris belum punya divisi tank. Ketika ide Hart-Fuller dipelajari Guderian danRommel pada 1939 kala menginvasi Polandia, Prancis, dan Benelux (Belgia, Belanda, dan Luksemburg), di Inggris ide Fuller dan Hart tak pernah didengar. Sebaliknya, ketika mulai menginvasi Prancis dan Benelux pada 10 Mei 1940, Jerman sudah punya lebih dari 10 divisi tank. Sedikit-banyak itu adalah jasa Guderian yang sejak 1922 sudah mulai meracik taktik dan metode operasi mobil. Ia merangkumnya dalam buku bertajuk Achtung Panzer! terbitan 1937. “Jika tank-tank berhasil, maka kemenangan tinggal menunggu waktu,” tulisnya di salah satu bab buku itu. Namun, sejatinya konsep besar Blitzkrieg Jerman, utamanya dalam invasi Eropa Barat ( Westfeldzug ) yang sohor, merupakan buah pikiran Marsekal Erich von Manstein, atasan Guderian. “Von Manstein yang merancang strategi penyerbuan ke Prancis dengan memodifikasi Schlieffen-Plan (Rencana Schlieffen). Dalam Westfeldzug , Guderian sendiri sekadar jadi komandan korps (XIX Armeekorps ), sementara Rommel baru mencoba jadi komandan divisi (7 Panzerdivision ),” kataAlif lagi. Rancangan Blitzkrieg dalam invasi ke Prancis yang diracik Generalfeldmarschall Fritz Erich Georg Eduard von Manstein (Foto: Narodowe Archiwum Cyfrowe) Schlieffen-Plan sendiri adalah cetak-biru yang dilahirkan Marsekal Alfred von Schlieffen yang intinya, mobilisasi kekuatan militer pada satu titik serangan menggunakan semua perangkat yang dimiliki, termasuk unit logistik sebagai salah satu kuncinya. Manstein memodifikasinya menjadi Fall Gelb ( Operation Case Yellow ), tentunya dengan pembaruan kekuatan alutsista yang dimiliki Jerman saat itu. Singkatnya, rancangan Manstein berupa strategi pengalihan oleh Grup AD B ke Belanda dan jika Sekutu sudah teralihkan, giliran Grup AD A berpenetrasi ke hutan Ardennes dengan lebih dulu menyeberangi Sungai Meuse. Serangan Blitzkrieg ala Manstein tentuberupa kombinasi antara kekuatan darat dan udara. Di darat, Grup AD A Jerman yang dikomando Jenderal Gerd von Rundstedt menerjunkan 45 divisi infantri untuk mendukung tujuh divisi panser. Sementara di udara, Luftwaffe (AU Jerman) menyokong dengan lebih dari tiga ribu pesawat, termasuk pembom medium dan pembom tukik yang efektif menghancurkan musuh di darat. Kendati serangan kilat ke Eropa Barat itu sukses besar, tak pernah ada penyebutan resmi menggunakan kata “ Blitzkrieg ” dalam arsip-arsip operasi Jerman. Hitler sendiri mengaku benci istilah itu. “Saya tak pernah mau menggunakan kata Blitzkrieg , karena itu adalah istilah yang bodoh,” katanya ketusdalam pidatomedio November 1941, dikutip Karl-Heinz Frieser dalam The Blitzkrieg Legend: The 1940 Campaign in the West. Istilah Blitzkrieg justru dipopulerkan media-media Barat . Salah satunya , The New York Times edisi Agustus 1940 lewat headline bertajuk “Nazis Intensify Air Raids on Britain As 500 Planes Pound at Strongholds: Blitzkrieg On, London Press Warns”.

bottom of page