Hasil pencarian
Cari di situs ini
10060 hasil ditemukan dengan pencarian kosong
- Sabotase Kampanye Golkar
PRAHARA mendera Partai Golkar setelah Ketua Umum Airlangga Hartarto mengundurkan diri. Menurut desas-desus, alasan pengunduran diri Airlangga lantaran tersandera kasus korupsi izin ekspor minyak sawit mentah. Partai berlambang pohon beringin itu disebut-sebut tengah digoyang penguasa. Andai kata Golkar partai gurem, tak jadi soal. Tapi, Golkar adalah partai besar yang sejak masa Orde Baru merupakan partai penguasa. Meski digdaya di masa Orde Baru, kampanye Golkar dalam Pemilu 1982 juga pernah direcoki hingga berujung kerusuhan. Insiden ini dikenal sebagai Peristiwa Lapangan Banteng 1982. Huru-hara di Lapangan Banteng ini tercatat sebagai peristiwa kelam dalam sejarah Golkar. “Panggung peralatan kampanye dan alat-alat musik dirusak dan dibakar, bendera Golkar dicabuti dan dirobek, yang paling menyedihkan bendera Merah Putih juga dirobek dan dibakar,” demikian dicatat dalam Kenang-kenangan Sekber Golkar: Sejarah Kepeloporan, Pembaruan dan Pembangunan Politik. Baca juga: Golkar Zaman Orba: Panas di Dalam, Adem di Luar Kampanye Golkar yang berlangsung pada 18 Maret 1982 semula berjalan aman dan lancar. Massa simpatisan Golkar berjubel-jubel memadati Lapangan Banteng, di sekitar Tugu Pembebasan Irian Barat. Apalagi penyanyi dangdut Elvy Sukaesih turut meramaikan kampanye, membuat suasana riang berdendang. Ditaksir, lebih dari sejuta orang datang ke Lapangan Banteng hari itu. Kekacauan mulai terjadi menjelang juru kampanye utama Golkar yang juga Menteri Penerangan Ali Murtopo naik ke atas panggung. “Namun, di tengah-tengah membanjirnya massa sejak jam 10.00--11.00 tengah hari, beberapa kelompok kecil orang sempat mengadakan aksi pengacauan,” lansir Berita Yudha , 19 Maret 1982. “Atas kejadian di Lapangan Banteng tersebut, Gubernur DKI Jakarta Raya minta maaf kepada seluruh keluarga besar Golongan Karya dan kepada calon (legislatif) tetap nomor satu DKI Jaya Ali Murtopo.” Menurut Sarwono Kusumaatmadja, anggota DPR Golkar yang saat itu ikut kampanye di Lapangan Banteng, pelaku perusakan dan pembakaran panggung adalah orang-orang yang berdiri di sekeliling panggung serta mengenakan jaket serta baret Angkatan Muda Pembaharuan Indonesia (AMPI, organ pemuda Golkar). Para petugas AMPI yang sedianya bertugas mengamankan panggung kecele. Mereka mengira bahwa yang datang belakangan itu sebagai kekuatan tambahan. Baca juga: Dari Lapangan Banteng untuk Indonesia Ketika kerusuhan pecah, Ali Murtopo segera diungsikan ke Hotel Borobudur. Para penjaga panggung gadungan yang menggunakan atribut AMPI tiba-tiba melepaskan jaket serta baret AMPI yang melekat. Yang kemudian banyak terlihat adalah kaus oblong bergambar Ka'bah, lambang Partai Persatuan Pembangunan (PPP). “Mereka lantas meneriakkan takbir dan menyerbu kendaraan di sekitar tempat kampanye, banyak di antaranya kendaraan pelat merah, baik mobil penumpang maupun bus. Suasana langsung kacau-balau. Vandalisme dan penjarahan pun menjalar cepat,” kenang Sarwono dalam Memoar Sarwono Kusumaatmadja: Menapak Koridor Tengah. Tiga hari sebelum kampanye Golkar, PPP lebih dulu melangsungkan kampanye di Lapangan Banteng. Harian Kompas , 16 Maret 1982 mencatat massa yang berkumpul pada kampanye PPP mencapai 500.000 orang. Selain Jakarta menjadi basis massa PPP, membludaknya orang yang datang karena kehadiran si raja dangdut Rhoma Irama beserta grup Sonetanya yang ikut mengisi acara kampanye PPP. Baca juga: Rebutan Rhoma Irama Kampanye PPP, menurut Ridwan Saidi yang waktu itu ketua kampanye PPP Jakarta, merupakan pukulan telak buat Golkar. Golkar pun menyiapkan balasan. Puluhan artis kondang dikerahkan untuk manggung pada giliran Golkar kampanye pada 18 Maret. Sayangnya, kampanye Golkar berakhir ricuh gara-gara diamuk oleh massa Golkar sendiri yang mengikuti kampanye. Sebanyak 318 orang ditangkap. Dari jumlah tersebut 274 orang dibebaskan karena diprovokasi untuk ikut-ikutan merusuh. Sebagian besar terdiri dari anak-anak pelajar sekolah. “Berita beredar kampanye Golkar bubar karena kekuatan involutif anak-anak STM yang tidak sudi dipaksa hadir dalam kampanye Golkar. Guru-guru STM mewajibkan siswa-siswanya untuk mengisi daftar hadir di Lapangan Banteng ini yang membuat siswa-siswa STM marah. Berita desas-desus yang disebarkan bahwa saya dalang peristiwa Lapangan Banteng 18 Maret 1982. Tragisnya segelintir orang-orang PPP juga ikut menyebarkan fitnah ini,” tutur Ridwan Saidi dalam Biografi Politikus dan Budayawan Ridwan Saidi yang ditulis Ridwan Saidi bersama Ali Akbar. Konon kata pakar politik militer Salim Said dalam Menyaksikan 30 Tahun Pemerintahan Otoriter Soeharto, unit intelijen Operasi Khusus (Opsus) bentukan Ali Murtopo membina kelompok kriminal Jawa Tengah yang dikenal sebagai Gali (Gabungan Anak Liar). Mereka kerap dipakai Opsus pada kampanye pemilu untuk meneror saingan-saingan politik pemerintah, terutama dari kalangan Islam politik. Kuat dugaan Ali Murtopo dan kelompok ini berada di balik sabotase kampanye Golkar yang bermuara pada kerusuhan di Lapangan Banteng. Baca juga: Ali Moertopo “Penjilat” Soeharto Sementara itu, aktivis Partai Rakyat Demokratik (PRD) Budiman Sudjatmiko menyebut kerusuhan dalam kampanye Golkar diprovokasi oleh massa bayaran Ali Murtopo yang dikirim dari Jawa Tengah. Ketika itu, Ali Murtopo menugaskan sebuah organisasi masyarakat untuk menyamar menjadi massa PPP. Dalam bentrokan, para provokator ini melancarkan aksi pelemparan batu dan memukuli massa simpatisan Golkar. “Insiden Lapangan Banteng membuat banyak aktivis ditangkap. Media massa berusaha mengungkap fakta di balik peristiwa itu. Akan tetapi akhirnya mereka dipaksa menandatangani surat pernyataan bersedia bekerjasama dengan pemerintah. Menteri Penerangan Ali Murtopo kemudian menugaskan media-media massa untuk mengeksploitasi peristiwa ini dengan sejumlah pemberitaan yang mendatangkan simpati kepada Golkar,” terang Budiman dalam Anak-anak Revolusi Jilid 1 . Majalah Tempo jadi media yang ditindak oleh pemerintah karena pemberitaan kritis menyoal Peristiwa Lapangan Banteng. Dalam artikel bertajuk “Huru Hara Lapangan Banteng”, Tempo menyebut kerusuhan di Lapangan Banteng tidak melibatkan PPP secara organisasi. Akibatnya, Tempo dilarang terbit selama dua pekan. Selain itu, kerusuhan dalam kampanye Golkar menjadi kali terakhir Lapangan Banteng dijadikan tempat kampanye. Setelah Pemilu 1982, Lapangan Banteng tidak digunakan lagi oleh partai politik sebagai lokasi pengarahan massa. Baca juga: Ali Moertopo Moncer di Banteng Raider
- Haji Engkar Meresahkan Jonggol
SEBELUM ada Ibukota Nusantara di Kalimantan Timur, Jonggol pernah diwacanakan menjadi ibukota Indonesia menggantikan Jakarta. Letaknnya tak terlalu jauh dari Jakarta. Selain itu, kecamatan luas di Kabupaten Bogor yang berbatasan dengan Bekasi di sisi utara dan Cianjur di sisi selatan ini dikenal sejuk hawanya dan reliefnya yang berbukit-bukit. Jonggol punya kawasan hijau yang agak sulit dijangkau kendaraan bermesin hingga kini. Di zaman “Gerombolan” alias Darul Islam/Tentara Islam Indonesia (DI/TII) 1950-an, Jonggol sempat dijadikan daerah gerilya pengacau keamanan. Sebelum menjadi basis gerilya gerombolan, daerah Jonggol merupakan daerah gerilya batalyon ke-3 Siliwangi yang dipimpin Mayor Hartono Rekso Dharsono semasa Perang Kemerdekaan. “Batalyon Dharsono di daerah Jonggol (sebelah timur Bogor), diperkuat oleh Kompi Oking,” sebut Abdul Haris Nasution dalam Sekitar perang kemerdekaan Indonesia: Perang Gerilya Semesta . Daerah Jonggol relatif aman untuk menghindari kejaran tentara Belanda. Namun sebaliknya, di masa kolonial Hindia Belanda, Jonggol sempat tidak aman bagi pemerintah. Het Dagblad edisi 18 Mei 1937 memberitakan, Geng Pa’i meresahkan di Jonggol sebelum pimpinannya ditangkap dan diadili kemudian. Setelah Indonesia merdeka, pada 1950-an, Jonggol kembali tidak aman. DI/TII menjadikannya sebagai daerah perlawanan. Ada seorang DI/TII yang begitu berpengaruh di sana, yakni Haji Engkar. Kemungkinan dia dan kelompoknya sudah beroperasi di Jonggol sejak sebelum pengakuan kedaulatan, sebagaimana Het Dagblad taggal 8 Maret 1948 memberitakan bahwa ada gerombolan di Bogor di bawah pimpinan Haji Engkar bin Haji Mangku yang tertangkap di Cipayung Bogor. Sama atau tidak, Haji Engkar adalah legenda Bogor. Mula-mula Haji Engkar diamanahi memimpin pasukan DI/TII di Jonggol. Menurut Cees van Dijk dalam Rebellion Under the Banner of Islam The Darul Islam in Indonesia, Haji Engkar membawahi sekitar 400-500 pengikut di kawasan sekitar Bogor dan Cianjur (baca: Jonggol). Jumlah pasukan Haji Engkar itu setara dengan satu batalyon kecil era 1940-an. Pada awal 1950-an, Haji Engkar adalah bahan pemberitaan koran Belanda. Nieuw Dagblad voor Sumatra tanggal 20 Maret 1951, misalnya, memberitakan Haji Engkar bisa bergerak ke Leuwiliang, Bogor Selatan dari Jonggol yang berada di Bogor Timur. Gangguan gerombolan Haji Engkar awalnya cukup kuat. Di Desa Cimapir, diberitakan De Preanger-Bode tanggal 18 Januari 1952, pada Senin, 14 Januari 1952 malam diserang Sapran dkk. Sapran dkk. merupakan bagian dari gerombolan Haji Engkar. Anggota gerombolan menembak serampangan dan melukai seorang perempuan. Gerombolan Sapran juga merampas uang senilai Rp5000,-. Namun setelah 1953 kekuatan gerobolan Haji Engkar melemah. Koran Java Bode tanggal 5 Agustus 1953 memberitakan, dia dikejar-kejar Tentara Nasional Indonesia (TNI) sejak sebelum 1950 hingga tahun 1953 Haji Engkar dan pengikutnya terdesak. Gerombolan Haji Engkar, sebagaimana diberitakan Indische Courant , 14 September 1953, dikejar pasukan Batalyon Infanteri 313 Siliwangi di kawasan Jonggol. Anak buahnya yan bernama Ropi bin Ardji, salah satu komandan peleton dalam TII, sampai meregang nyawa ditembak di Citeureup. Haji Engkar kian goyah. De Locomotief edisi 7 September 1953 sampai memberitakan salah satu komandan bawahannya, yakni Utji, dianggap lebih layak memimpin daripada sang haji. Panglima DI/TII Ahmad Sungkawa bahkan ingin mengambil alih komando dari Haji Engkar. Menurut pihak Siliwangi pada akhir 1953 itu, komando pasukan DI/TII terpecah dan rusak. Sulit bagi mereka menyaingi TNI. Apalagi TNI didukung oleh Mobil Brigade (Mobrig), pendahulu Brimob. “Pada akhir tahun 1952 berhubung dengan akan datangnya tamu negara dari Filipina yaitu Presiden Quirino di mana tamu tersebut akan bermalam di Istana Bogor dan akan berkunjung ke Bandung melalui jalan Bogor-Cipanas-Cianjur-Bandung, maka untuk pengamanan, Kepala Kepolisian Negara memerintahkan kepada Kepala Bagian Inspeksi Brimob PKB Moh. Jasin untuk membentuk satu Batalyon Brimob yang bertugas khusus. Adapun gerombolan-gerombolan yang seirng mengganggu keamanan di daerah Bogor itu adalah gerombolan DI/TII yang dipimpin oleh Haji Engkar, Ahmad Sungkawa, dan H. Makmun. Batalyon Pengejar ini dalam melaksanakan tugasnya di bawah koordinasi Dan Men VIII/TT III Jawa Barat Let.Kol Sambas Atmadinata,” tulis Memet Tanumidjaja dalam Sedjarah Perkembangan Angkatan Kepolisian . Hubungan antara Haji Engkar dan DI/TII pun memburuk pada 1954. Konflik Haji Engkar dengan Ahmad Sungkawa, tulis Cees van Dijk, hanya makin memperkuat posisi TNI. Haji Engkar akhirnya pecah kongsi dari DI/TII Kartosuwiryo. Koran Java Bode tanggal 26 Februari 1954 memberitakan Haji Engkar lalu membentuk pasukan sendiri, bernama Tentara Achli Sunah wal Djamaah. Hal itu membuat Kartosuwiryo berang lalu memerintahkan Djaelani untuk menghukum mati Haji Engkar serta menghancurkan tentaranya yang ingkar padanya. Belasan bulan kemudian, Haji Engkar kelelahan menghadapi perang segitiga antara kelompoknya dengan DI/TII dan di lain waktu berhadapan dengan TNI. Pada pertengahan 1955, Haji Engkar menyerah di Jonggol. Dia langsung disambut Bupati Bogor Abdoellah Natadipoera dalam upacara penyerahannya.
- Kopral KNIL yang Bunuh Pribumi Dihukum Mati Belanda
SEBAGAI serdadu dari pihak yang kalah perang, Andre Pierre Hubert Orval harus rela dikirim ke tempat-tempat yang jauh dari tanah kelahirannya, Semarang. Sebab, setelah Maret 1942 dia hanyalah tawanan perang Jepang. Bersama banyak tawanan perang lain, dirinya dibawa ke mana saja oleh tentara Jepang, termasuk daerah yang mesti menyeberangi lautan luas. Pria Belanda asal Semarang ini, menurut kartu tawanan perang atas nama dirinya, adalah serdadu berpangkat prajurit dua milisi dengan nomor stamboek 79722. Dia bertugas pada pada kompi II zeni Koninklijke Nederlandsche Indische Leger (KNIL) Cimahi. Sebelum menjadi milisi, pria kelahiran Semarang, 18 Mei 1922 ini bekerja di pabrik senjata. Setelah Jepang menduduki dan menerima penyerahan tanpa syarat Hindia Belanda pada 1942, bukan hanya Andre yang jadi tawanan perang tapi juga ayahnya ELA Orval. Ketika itu keluarganya tinggal di Gempol Wetan, Bandung.
- Perkembangan Paskibraka
Sejarah Paskibraka dimulai pada HUT Kemerdekaan pertama tanggal 17 Agustus 1946. Paskibraka kemudian mengalami beberapa kali perubahan formasi sejak awal terbentuk.
- Takhta Sultan Dermawan Raib Dicuri Orang
KEMALINGAN merupakan hal tak mengenakkan. Terlebih bila yang dicuri adalah benda bernilai historis dan pemilik benda yang dicuri merupakan seorang raja. Sungguh keterlaluan si maling. Tapi itulah nasib yang dialami Yang Dipertuan Besar Syarif Kasim Abdul Jalil Saifuddin atau lebih dikenal sebagai Sultan Syarif Kasim II dari Siak, Riau pada paruh kedua 1960-an. Sultan Syarif Kasim II, yang lahir pada 1 Desember 1893, merupakan sultan Siak ke-12. Dia naik takhta pada 3 Maret 1915, menggantikan ayahnya, Syarif Kasim I. Syarif Kasim adalah keturunan Sultan Djalil Rahmat Sjah Radja Ketjil yang pernah memerintah Johor, Malaysia namun pindah ke Riau pada 1719 sebagai penguasa Siak. Syarif Kasim I, disebut Marleily Rahim Asmuni dkk. dalam Sejarah Kebangkitan Nasional Daerah Riau , menggalakkan pertanian dan perkebunan di wilayah kerajaannya. Pada 1884, dia memberi konsesi tiga pabrik penggergajian kayu di Sungai Rawa kepada maskapai dagang F Kehding. Dua tahun kemudian, dua konsesi perkebunan diberikannya kepada orang Belanda. Kekayaan Siak membuat raja bisa memberikan putra-putranya hal-hal modern, termasuk pendidikan Barat. Syarif Kasim II mengenyam pendidikan hingga perguruan tinggi di Batavia dengan bidang hukum. Syarif Kasim II juga punya selera musik yang modern. Dia pernah punya band dan koleksi piringan musik klasik Barat. Setelah menjadi sultan, Syarif Kasim II yang dermawan amat memperhatikan kesejahteraan rakyatnya. Oleh karenanya, dia memperhatikan betul pendidikan rakyatnya dengan mendirikan banyak sekolah di wilayah kekuasaannya. “Sultan Syarif Kasim II banyak mendirikan sekolah-sekolah di Siak dengan bahasa pengantar Melayu dan Belanda. Ia juga memberikan beasiswa bagi anak-anak Siak yang cerdas dengan mengirimkannya ke Batavia maupun Medan,” tulis Gamal Komandoko dalam AtlasPahlawanIndonesia . Semua pembiayaan ditanggung oleh sultan. Selain dari pertanian dan perkebunan, kekayaan Siak di masa Syarif Kasim II juga berasal dari pertambangan minyak bumi. “Pada 1930, Standard Oil Company of California membentuk anak perusahaan di Indonesia, Nederlandsche Pacific Petroleum Maatschappij (NPPM), tetapi tidak dapat memperoleh konsesi minyak hingga tahun 1936, ketika perusahaan tersebut diberi wilayah di Sumatera Tengah dan wilayah lainnya di Jawa Barat. Pada tahun itu, Standard of California menjalin kemitraan bersama dengan Texas Oil Company (Caltex). Perusahaan tersebut memulai pekerjaan prospeksi yang ekstensif di wilayah konsesi mereka, dan pada 1939 memulai sumur eksplorasi pertamanya di Sumatera Tengah. Produksi komersial dimulai tepat sebelum pecahnya Perang Pasifik,” tulis Ooi Jin Bee dalam The Petroleum Resources of Indonesia . Sebagai raja, Syarif Kasim II giat berdiplomasi. Dia aktif berpergian ke banyak tempat. Koran Het Nieuws van den dag voor Nederlandsch Indie tanggal 7 Maret 1940 memberitakan bahwa Syarif Kasim II datang ke Sumatra Timur ketika Gubernur Jenderal Hindia Belanda Tjarda van Starkenborgh Stachouwer juga mengunjungi daerah tersebut. Karena kunjungan itu, rencana perayaan naik tahtanya ke-25 terpaksa diundur jadi tanggal 24 Mei 1940 dari yang direncanakan semula 4 Maret 1940. Setelah Indonesia merdeka, Syarif Kasim II mantap berdiri di belakang Republik Indonesia (RI). “Selain Sri Sultan Hamengku Buwono IX dari Yogyakarta yang langsung menegaskan bahwa wilayah kekuasaannya merupakan bagian dari Indonesia segera setelah Indonesia menyatakan kemerdekaannya, Sultan Siak pun menyatakan hal yang sama. Baginya, wilayah kekuasaannya di Siak –kini wilayah di provinsi Riau– itu adalah bagian tak terpisahkan dari Negara Kesatuan Republik Indonesia,” tulis Gamal Komandoko. Dukungan Syarif Kasim II terhadap RI itu tak diberikannya secara alakadar. Sultan tak hanya melakukannya mengibarkan bendera merah putih di lingkungan istananya, namun juga aktif mengajak raja lain di Sumatra Timur untuk mendukung RI. Lebih dari itu, tulis Suwardi Mohammad Samin dalam Sultan Syarif Kasim II Pahlawan Nasional Dari Riau, “Sultan Syarif Kasim II menyerahkan kepada Republik Indonesia kekayaan pribadi sejumlah f13.000.000. Jumlah yang cukup besar karena nilai kurs gulden waktu itu masih tinggi sehingga nilainya, milyaran rupiah.” Namun, setelah kemerdekaan, Siak yang dulu kaya dan menyumbang dana besar bagi perjuangan Indonesia terus menurun statusnya di bawah RI. Mulanya sebagai kewedanaan, kemudian turun lagi menjadi hanya kecamatan saja di Kabupaten Bengkalis. Syarif Kasim II sendiri –yang akhirnya diangkat menjadi pahlawan nasional– tak seberkuasa sebelumnya. Selain makin sepuh , Syarif Kasim II juga nyaris seperti orang kebanyakan yang tidak punya kekuasaan. Hingga 1950-an dia seperti orang tak bertakhta lagi. Kondisi tersebut “dikukuhkan” dengan sebuah kejadian yang membuat takhta sang sultan itu hilang secara fisik dalam arti yang sebenarnya. Koran Angkatan Bersendjata pada awal September 1967 memberitakan bahwa singgasana atau kursi takhta yang berlapis emas milik Syarif Kasim II dan Kesultanan Siak hilang dicuri. Kabar hilangnya singgasana emas itu kemudian sampai ke luar negeri. Dua koran berbahasa Belanda di Curacao, Amigoe (12 September 1967) dan Tubantia (9 September 1967), memberitakan bahwa sultan yang kala itu berusia lebih dari 72 tahun itu menjelaskan bahwa kursi takhta emas tersebut telah tiga generasi dimiliki keluarganya. Selama tiga generasi itu, menurut Syarif Kasim II, tampaknya kursi takhta itu tidak menarik perhatian maling meski tak dijaga. Bahkan, di zaman revolusi 1945-1949 yang kacau dengan banyak penjarahan, kursi takhta tidak dijaga itu juga tidak hilang. Jadi bila takhta dalam artian kekuasaan, Sultan Syarif Kasim II sudah tak punya lagi setelah Riau menjadi bagian wilayah RI. Maka pada awal September 1967 Sultan Syarif Kasim II pun tak punya takhta dalam artian simbolis (baca: singgsana) karena hilang dicuri maling di masa negeri yang dia turut perjuangkan sudah merdeka.*
- Secuplik Kisah Salah Tangkap Sengkon dan Karta
DUGAAN salah tangkap kembali terjadi pada kasus perampokan dalam persidangan di Pengadilan Negeri (PN) Kayuagung, Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI) Sumatera Selatan pada Selasa (30/7/2024) dengan terdakwa Hajidin (47). Seorang saksi yang dihadirkan justru mengaku sebagai pelaku aslinya. Hajidin disidang dalam kasus perampokan terhadap korban, Wagirin, di Mesuji Makmur, OKI, medio Januari 2024. Hajidin ditangkap aparat kepolisian sebulan berselang dan kini duduk di kursi pesakitan. Tetapi kemudian dalam persidangan, Sutikno (38, dalam beberapa sumber dituliskan Sutekno) yang hadir sebagai saksi, justru memberi pengakuan bahwa dialah yang merampok Wagirin. “Saya pribadi meminta maaf kepada keluarga Pak Hajidin. Karena ulah saya, Pak Hajidin menanggung permasalahan ini,” aku Sutikno, disitat IDN Times , Jumat (2/8/2024). Polres OKI yang menetapkan tersangkanya tetap meyakini Hajidin pelakunya. Sementara, pihak keluarga terdakwa berharap majelis hakim membebaskannya dari segala dakwaan. Dugaan salah tangkap memang kerap kali terjadi. Sebelumnya, Pegi Setiawan juga jadi korban salah tangkap atas “Kasus Vina Cirebon”. Belakangan, dengan desakan warganet, Pegi dibebaskan pasca-memenangkan gugatan praperadilan pada awal Juli 2024. Sejarah juga pernah mencatat kasus salah tangkap yang menggemparkan pada 1970-an, yakni kasus perampokan dan pembunuhan seorang pedagang bernama H. Sulaiman di Bekasi dengan terpidana Sengkon dan Karta. Jika kasus dugaan salah tangkap Hajidin masih berproses di persidangan, pengungkapan kebenaran akan Sengkon dan Karta baru terjadi saat keduanya sudah bertahun-tahun mendekam di penjara. Baca juga: Lika-liku Peninjauan Kembali Sengkon-Karta hingga Kasus Vina Bersua Pelaku di Penjara Pada malam Jumat, 21 November 1974, kediaman pasutri H. Sulaiman dan Siti Haya di Bojongsari, Kabupaten Bekasi, disatroni perampok. Tak hanya kehilangan harta, pasutri korban itu juga meregang nyawa. Mengutip Tim Lindsey dalam artikel “Reconsidering Reform: The Supreme Court and Indonesia’s Extraordinary Legal Measure” yang termaktub dalam buku Crime and Punishment in Indonesia, seorang saksi yang mengaku ikut berusaha melarikan korban ke rumahsakit, mendengar bahwa H. Sulaiman dalam keadaan sekarat membisikkan nama Sengkon dan Karta. “Nama Sengkon (dan Karta) yang merupakan petani setempat diduga dibisikkan sang korban yang sedang sekarat saat hendak dibawa ke rumahsakit. Sebuah sandal miliknya (Sengkon) juga ditemukan dekat tempat kejadian perkara,” tulis Lindsey. Baca juga: Ada Oknum dalam Pembunuhan Berencana Marhaenis Atas dasar itulah kemudian aparat kepolisian yang menginvestigasi kasusnya menciduk Sengkon dan Karta, lalu menjadikan keduanya tersangka. Dalam interogasi, Sengkon dan Karta membantah tapi dipaksa mengaku sebagai pelakunya. “Polisi menangkap Sengkon bin Jakin dan Karta Al (alias) Karung Al Encep bin Salam dengan tuduhan kasus tersebut. Keduanya menolak mengaku sebagai pelaku. Setelah mengalami siksaan polisi, akhirnya keduanya menandatangani Berita Acara Pemeriksaan (BAP, red. ),” tulis Yerry Wirawan dalam artikel “Kekacauan Hukum di Indonesia: Kasus Sengkon dan Karta” di buku Menolak Hukuman Mati: Perspektif Intelektual Muda. Meski begitu, baru pada Oktober 1977 Sengkon dan Karta menghadapi persidangan di PN Bekasi. Dari beberapa saksi yang dihadirkan, tiga di antaranya menguatkan pembelaan kedua terdakwa dengan mengatakan di waktu kejadian, Karta sedang terbaring sakit. Nahas, ketua majelis hakim Djurnetty Soetrisno menolak pernyataan saksi dan pembelaan kedua terdakwa. Djurnetty lebih mendasarkan keputusannya pada BAP kepolisian dan tuntutan Jaksa Penuntut Umum (JPU). Baca juga: Perjalanan Johny Indo, Perampok Cerdik dan Licin Sengkon dan Karta akhirnya dijatuhi vonis penjara. Sengkon dihukum 12 tahun, sementara Karta divonis lebih ringan, 7 tahun penjara. Melalui kuasa hukumnya, Sengkon mengajukan banding ke Pengadilan Tinggi (PT) Bandung namun ditolak. Sedangkan Karta memilih pasrah menerima vonisnya. “Putusan Pengadilan Negeri Bekasi Nomor 1/KTS/Bks/1977 yang dikuatkan oleh Putusan Tinggi Bandung Nomor 38/1978/Pid/PTS, Sengkon (tetap) dihukum selama 12 tahun penjara dan Karta dihukum selama 7 tahun penjara atas tindak pidana pembunuhan dan perampokan,” ungkap D. Y. Witanto dalam H ukum Acara Praperadilan dalam Teori dan Praktik: Mengurai Konflik Norma dan Kekeliruan dalam Praktik Penanganan Perkara Praperadilan. Sengkon dan Karta pun makin pasrah. Bertahun-tahun mereka mendekam di Lembaga Pemasyarakatan (Lapas/LP) Cipinang. Baca juga: Para Penguasa Penjara Cipinang Legendaris Pada medio 1980, tetiba saja ada seorang tahanan lain bernama Gunel yang dibui karena kasus pencurian. Beberapa sumber lain menyebutkan namanya “Genul”, dan disebutkan pula ia masih kerabat dari Sengkon. Gunel merasa iba pada Sengkon pasalnya kondisi Sengkon sedang parah terkena TBC. Gunel mengaku bahwa dia dan teman-temannyalah yang merampok dan membunuh H. Sulaiman dan Siti Hayaistrinya. “Dengan jujur dan merasa berdosa ia minta maaf kepada Sengkon yang harus mendekam di penjara karena perbuatan yang tidak dilakukannya. Pengakuan Gunel itu akhirnya diketahui media massa,” tulis advokat Bachtiar Sitanggang dalam kolom hukum di majalah Mimbar Kekaryaan ABRI edisi Maret 1997, “Hakikat Peninjauan Kembali Atas Suatu Perkara Pidana”. Berkat pemberitaan media massa besar-besaran, DPR, Kejaksaan Agung, hingga Mahkamah Agung (MA) pun “turun tangan”. Gunel dan teman-temannya lantas kembali disidang di PN Bekasi pada Oktober 1980 atas kasus perampokan dan pembunuhan H. Sulaiman dan Siti Haya. “Berdasarkan Putusan Pengadilan Negeri Bekasi Nomor 6/1980/Pid/PN Bks dan Putusan Nomor 7/1980/Pid/PN Bks, Gunel, Elly, dkk dinyatakan terbukti bersalah,” sambung Witanto. Gunel sendiri menerima vonis 12 tahun penjara. Sementara, Sengkon dan Karta dipulihkan statusnya dengan menghidupkan kembali mekanisme Peninjauan Kembali (PK) yang sempat mati suri. Dengan mendasarkan Peraturan Mahkamah Agung No. 1 tahun 1980, Sengkon dan Karta diperiksa ulang dan dinyatakan tidak bersalah. Lalu karena alasan kesehatan, pada 3 November 1980 Sengkon dan Karta akhirnya menghirup udara bebas untuk segera dilakukan perawatan intensif, walau penetapan resmi pembebasannya baru keluar pada 4 November 1980. Baca juga: R. Soeprapto, Jaksa Agung Perintis Reformasi Hukum
- The Revenge of a Dutchman from Klaten
HIS old age in the Netherlands was filled with misfortune. He still couldn't get over a reality that happened during his youth: the sovereignty of the Republic of Indonesia over Nusantara, which was formerly known as the Dutch East Indies.
- Menyasar Sejarah Peluru
ASAL-usul ini mengetengahkan perkembangan peluru, yang diawali dari peluru bulat yang terbuat dari besi, hingga selongsong peluru yang lengkap dengan proyektil, dan ditembakkan dengan senapan otomatis. Sekira abad ke 10 M, bangsa Cina menemukan bubuk hitam yang bisa meledakkan sesuatu. Kemudian di Arab, orang menembakkan panah dari bambu, diperkuat dengan logam, yang sudah dibubuhi serbuk hitam. Proses perkembangan peluru menemukan momentumnya saat orang menemukan meriam tangan. Baca juga: Membidik Sejarah Senapan Abad 15 Sekira abad 15, dengan penemuan senapan arquebus , peluru besi tercipta sebagai amunisinya. Peluru besi ini dibuat untuk mampu menembus baju besi yang digunakan lawan. Peluru yang berbentuk bulat ini belum memiliki sistem aerodinamika yang baik, sehingga keakuratannya menyusut jika objek berada lebih dari 45–69 meter. Peluru besi ini mengalami kesulitan produksi sebab memerlukan suhu tinggi untuk melelehkannya. Selain itu, peluru besi ini seringkali merusakkan laras senapan.Akurasi tembakan peluru sedikit lebih baik setelah August Kotter, pakar senjata dari Jerman, pada 1520 membuat goresan melingkar dari dalam laras senapan ( rifled ). Baca juga: Asal-Usul Pistol Peluru besi bulat yang diduga digunakan dalam Perang Naseby tahun 1645. (Lee Hutchinson/Wikimedia Commons). 1600 Sulitnya memproduksi peluru besi, orang kemudian beralih mencari logam yang memiliki titik didik rendah. Timah pun dilirik. Prajurit atau pemburu dapat mencetak peluru mereka sendiri hanya dengan ikut dibakar di api unggun saat mereka makan malam. Peluru timah ini sifatnya lebih ringan dan tidak merusak laras senapan. Para prajurit yang berperang di Naseby-Inggris pada 14 Juni 1645, banyak menggunakan senapan laras panjang dengan peluru timah bundar semacam ini. Baca juga: Menembak Sejarah Pistol Glock Henry-Gustave Delvigne. (Louis Figuier/Wikimedia Commons). 1830 Henry-Gustave Delvigne, perwira tentara Prancis, membuat terobosan bentuk peluru timah, dari yang semula seperti bola menjadi kerucut. Ukurannya juga lebih kecil dari diameter laras. Delvigne mulanya hanya menyederhanakan proses pengisian peluru dengan membuat kamar mesiu lebih kecil dari ukuran laras dan dihubungkan dengan ceruk seukuran diameter bola peluru. Hentakan dari pelantak membuat peluru berubah bentuk menjadi pipih dan tidak aerodinamis. Dari pengalamannya, Delvigne beralih menggunakan peluru berbentuk kerucut yang ternyata mampu terulir efisien dalam laras tanpa mengurangi efektivitasnya di udara. Ditambah, energi propelan bukan lagi serbuk hitam yang meninggalkan banyak asap ketika ditembakkan, diganti dengan nitroselulosa yang tak berasap banyak. Baca juga: Benarkah Kalashnikov di Balik Lahirnya AK-47? Claude-Etienne Minie. (Wikimedia Commons). 1847 Kreasi peluru berbentuk kerucut semakin baik saat Claude-Etienne Minie, perwira tentara Prancis, membuat peluru yang dinamakan peluru minie . Peluru minie memiliki ceruk di bagian bawahnya. Akibatnya, saat mesiu meletus, bagian bawah akan mengembang akibat panas dan akan menyekat energi mesiu secara sempurna sehingga menambah kecepatan dan jarak tembak. Bukan hanya itu, putaran peluru semakin efektif dan akurat. Dalam peperangan, peluru minie memiliki efek tembakan yang menghancurkan obyek. Dengan kecepatan yang sedemikian besar, peluru minie dapat merusakkan jaringan otot dan tulang, sehingga hanya dapat ditolong dengan cara amputasi. Baca juga: Senjata dalam Prahara 1965 Peluru minie. (Mike Cumpston/Wikimedia Commons). 1882 Permukaan timah pada peluru ditembakkan, ternyata dapat meleleh karena suhu tinggi dan gesekan pada senapan. Eduard Rubin, direktur di Laboratorium Swiss Army, kemudian bereksperimen dan menemukan peluru yang terselubung tembaga. Tembaga, yang keras dan memiliki titik lebur tinggi, tidak meleleh saat ditembakkan dengan kecepaan tinggi. Peluru rancangan Rubin ini digunakan pertama kali oleh senapan model French Mle 1886 Lebel. Baca juga: Isu Senjata Benny Moerdani untuk Kudeta 1901 Desaleux, dikenal sebagai “Balle D”, seorang perwira di angkatan perang Prancis, mengembangkan peluru yang dikenal dengan spitzer . Kaliber lebih kecil, dan dengan model boat-tail , energi peluru makin besar dengan jangkauan yang jauh pula. Peluru ini digunakan pertama kali untuk senapan French Lebel Model 1886. Peluru karet yang digunakan pasukan perdamaian PBB di Somalia, 1996. (Andrew W. Mcgalliard/US Department of Defense/Wikimedia Commons). Baca juga: Gas Air Mata Awalnya untuk Perang 1970 Pemerintah Inggris mengembangkan peluru karet, utamanya digunakan untuk menghalau pemrotes dari Irlandia Utara. Peluru ini memakai tenaga gas sebagai pelontar. Pada perkembangannya, peluru karet diganti menjadi berbahan plastik ( polyvinyl chloride ), untuk mengurangi luka serius pada sasaran.* Tulisan ini telah dimuat di m ajalah Historia No. 23 Tahun II 2015
- Amuk Pengikut Sun Yat Sen di Sanga-sanga
SAM Kok yang ini tidak ada kaitannya dengan Kisah Tiga Kerajaan Dinasti Han di Tiongkok daratan tempo dulu. Sam Kok yang ini bahkan tak tinggal di daratan Tiongkok. Sam Kok yang lahir sekitar tahun 1890 dan berasal dari Kanton ini tinggal jauh dari tanah leluhurnya. Dia berada di sebuah tempat bernama Sanga-sanga, Kalimantan Timur. Dia adalah Sam Kok Lin. Sam Kok Lin sehari-harinya adalah seorang pedagang yang mengelola toko di Sanga-sanga, begitu laporan koran De Indisch Courant tanggal 2 April 1928. Di sana, Sam Kok Lin berkawan dengan Tang Seng alias Tan Kin Wai. Dia berasal Sam Soey, dekat Kanton dan lahir sekitar 1895. Tang Seng bekerja di perusahaan minyak Bataafsche Petroleum Maatschappij (BPM) Sanga-sanga. Sanga-sanga menjadi kota yang berkembang cepat sejak minyak ditemukan BPM sejak 1896 dan dieksplorasi kemudian. Industri minyak dengan sendirinya mendatangkan bermacam kebutuhan yang –awalnya untuk pegawai kolonial BPM, seperti perumahan dan sekolah– tak dikenal sebelumnya ke Sanga-sanga. “Minyak telah diproduksi secara komersial di Kutai sejak Miosen bawah sejak tahun 1906, terutama di sepanjang antiklin Sanga Sanga pada apa yang disebut Kubah Sanga Sanga di Konsesi Louise; di kubah yang tidak disebutkan namanya di hulu Delta Mahakam di Konsesi Muara; dan di Kubah Semboja di Konsesi Nonny yang berbatasan dengan Konsesi Louise di barat daya,” tulis United States Federal Oil Conservation Boarddalam Report of the Federal Oil Conservation Board to the President of the United States Part 2-3 . Baca juga: Sekilas Riwayat Minyak di Sanga-sanga Seiring dengan kemajuan industri minyak tersebut, berbagai kuli untuk tenaga kasar pun didatangkan atau berdatangan dari berbagai daerah untuk mencari peruntungan di Sanga-sanga. Selain orang Jawa, kuli-kuli itu banyak yang orang Tionghoa baik yang berasal dari daerah lain di Nusantara ataupun langsung datang dari Tiongkok. Tang Seng jelas bukan satu-satunya pekerja Tiongkok di Sanga-sanga. Koran De Locomotief tanggal 26 Mei 1928 menyebut, pekerja BPM Tiongkok lain adalah: Lay Sam (kelahiran Singapura, 1894), Tam Kiang Po alias Tang Nam (kelahiran Kanton, 1880), Auw Hong alias Auw Man Hong (kelahiran Kanton, 1877), Lay Sin Poeng alias A Ting sebagai teknisi (kelahiran di Hay Lam, 1887), Wong Pan (kelahiran Makau, 1905), Lo Nang sebagai pandai besi (kelahiran di Kanton, 1884), Kwam A Tjo (kelahiran Kanton, 1886); dan Poe Khou alias Pang Tjie (kelahiran 1882). Selain mereka, ada pula seorang Tionghoa pembuat sepatu bernama Go Tjin Thoy (kelahiran Hong Ciu, 1889) dan juga pedagang obat bernama Tjhong Yat Min alias Tjiang A Boey (kelahiran Kanton, 1860). Kuo Min Tang Kaltim Di Balikpapan, sekitar 75 km dari Sanga-sanga, ada Tjiauw Soe Kai alias Tjioe Sioe Djin (kelahiran Kanton, 1880) yang bekerja sebagai penjahit dan fotografer. Begitu juga di Samboja, sekitar 50 km dari Sanga-sanga, ada kawan mereka bernama Teng Giok Tin alias Teng Giok Sm alias Tan A Heng. Pria asal Hongkong ini juga bekerja di BPM. Di Samarinda, juga ada orang-orang Tionghoa seperti mereka. Kebanyakan mereka berasal dari Kanton. Kendati jauh dari tanah air, mereka tak lupa pada perjuangan mereka sebagai bagian dari Partai Nasionalis Tiongkok, Kuo Min Tang. Alhasil selama berada di Kalimantan Timur mereka masih berserikat dan sering berkumpul meskipun berbeda-beda tempat tinggal dan cara mencari makan. Kendati angkutan antara Balikpapan, Samboja, Sanga-sanga, dan juga Samarinda kala itu hanya ada kapal, mereka tak merasa terhalang oleh keterbatasan itu. Mereka sebagai Kuo Min Tang pernah berkumpul pada 5 Desember 1926 di Samarinda. Dalam pertemuan itu, De Locomotief edisi 26 Mei 1928 melaporkan, mereka bersepakat hendak membangun semacam Kuo Min Tang cabang Kalimantan Timur yang terpusat di Balikpapan. Baca juga: Pencarian Minyak di Kutai Kartanegara Pada 19 Desember 1926, mereka kembali berkumpul. Kali ini di Balikpapan. Wakil Kuo Min Tang dari Sanga-sanga, Samboja, dan Samarinda hadir di sana. Kuo Min Tang cabang Balikpapan pun berdiri. Pada 1 Januari 1927, pengurusnya dilantik. Tam Kiang Po alias Tang Nam salah satu anggota pengurusnya. Kuo Min Tang, yang didirikan pada akhir abad ke-19, diperkirakan sudah ada di Kalimantan sejak dekade kedua abad ke-21. Koran De Locomotief tanggal 6 Oktober 1927 menyebut bahwa mereka sudah ada di Kalimantan Timur sejak Agustus 1915. Mereka hadir sebagai Balikpapan Communicatie Instituut der Chineesche Revolutionnaire Partij. Organisasi ini didirikan oleh 13 orang Kuo Min Tang. Di sekitar Balikpapan, Samboja, Sanga-sanga dan Samarinda, yang semuanya tumbuh pesat dari industri minyak anggota mereka sekita 200-an orang. Habis Dilarang May Day May day tiap 1 Mei adalah perayaan penting bagi kaum buruh sedunia. Para buruh minyak BPM yang sejatinya adalah anggota Kuo Min Tang di Balikpapan pun mementingkan perayaannya di tahun 1927 itu. Hong Ie Lin bekerja keras menyebarkan surat edaran untuk aksi mereka. Sebagaimana diberitakan Koran Bataviaasch Nieuwsblad tanggal 8 Juni 1927, ada rencana bahwa pada 1 Mei 1927 itu beberapa ribu orang Tionghoa akan mengadakan parade ke sekitar rumah-rumah orang Eropa di Balikpapan untuk berdemonstrasi. Namun, lebih banyak orang Tionghoa menahan diri untuk tidak berdemontrasi. Terlebih, keinginan untuk parade atau demonstrasi buruh minyak itu dihalangi oleh pemerintah kolonial di Balikpapan. Esoknya, 2 Mei 1927, sekitar pukul 20.00 waktu setempat, kontrolir Balikpapan mendapat kabar dari kawannya di Balikpapan bahwa seorang agitator Tiongkok yang terlibat dalam demonstrasi tersebut berada di Sanga-Sanga. Sang kontrolir langsung memerintahkan penangkapan dan penggeledahan di Sanga-sanga. Sang kontrolir sendiri berangkat ke Sanga-sanga dengan diantar Letnan Tionghoa (Pemuka masyarakat sipil Tionghoa) dan seorang perwira polisi. Mereka tiba di Sanga-sanga sekitar pukul 0.30 dini hari. Baca juga: Orang Tionghoa di Tambang Timah dan Emas Orang yang mereka cari ternyata tinggal di atas ruang sekolah Tionghoa di Sanga-sanga. Orang itu merupakan agitator. Ternyata, agitator itu adalah Sam Kok Lin. Aparat pemerintah langsung menangkap Sam Kok Lin. Selain menyeret Sam Kok Lin, aparat pemerintah juga menyita barang-barang yang bersifat politik. Setelah Sam Kok Lin dan Tang Seng ditahan polisi di Sanga-sanga, kawan-kawan buruh BPM sesama Kuo Min Tang tak tinggal diam sebagai bentuk solidaritas. Gerakan mereka dikenal sebagai Samseng, barangkali diambil dari nama depan Sam Kok dan nama belakang Tang Seng. Lay Sam, Lo Nang, dan lainnya bergerak. Pada 3 Mei 1927, kerusuhan di Sanga-Sanga pun pecah. Ketika Massa Kuo Min Tang Sanga-sanga itu bergerak, aparat hukum kolonial melihat Sam Kok dan Tang Seng sama sekali tak menghentikan gerakan kawan-kawan Kuo Min Tang mereka. Sam Kok malah meminta Go Kok Ning untuk menghimpun pasukan yang terdiri dari orang Tionghoa Sanga-sanga. Pasukan itu diperkirakan bisa mencapai 150 orang. Pemerintah kolonial lalu memilih memakai cara kekerasan dengan menggerakkan pasukan bersenjatanya. Pertumpahan darah pun terjadi. Pemerintah lalu melakukan penahanan besar-besaran terhadap orang-orang Kuo Min Tang yang merusuh di Sanga-sanga. Baca juga: Kontes Kuasa Alam di Kalimantan Ketika penangkapan terjadi, banyak orang di sekitar mereka marah lalu berkumpul. Di antara massa itu ada yang membawa senjata tajam. Mereka lalu melempari botol, batu, dan kayu ke udara ketika tahu yang ditahan dinaikkan ke atas kapal. Dua polisi bahkan ditembak oleh massa. Polisi langsung melepaskan tembakan ke udara. Cara kekerasan diambil untuk mengatasi kekerasan massa. Massa yang berkumpul itu akhirnya mundur. Mereka yang ditangkapi di Sanga-sanga itu lalu ada yang ditahan di Samarinda. Sam Kok dkk. sendiri dideportasi dari Hindia Belanda dengan alasan mereka tak lahir di Hindia Belanda. Satu detasemen kecil – berisi tak lebih dari 20 orang– tentara kolonial yang dipimpin seorang sersan lalu ditempatkan di Sanga-sanga. “Mereka telah terbukti membahayakan bagi ketentraman dan ketertiban umum dan oleh karena itu ada alasan untuk menerapkan kepada mereka, karena mereka tidak lahir di Hindia Belanda, pasal 35 Konstitusi Hindia Belanda,” demikian De Nieuwe Vorstenlanden tanggal 4 April 1928 memberitakan.*
- Lini Masa Wacana Pemindahan Ibukota
Pemerintah Indonesia pernah memindahkan ibukota negara dan pemerintahan dari Jakarta ke Yogyakarta karena keadaan darurat perjuangan mempertahankan kemerdekaan melawan Belanda. Gagasan memindahkan ibukota kemudian muncul di setiap pemerintahan hingga akhirnya kini menjadi kenyataan.
- Pilih Cabai atau Lada?
CABAI atau cabe bukan satu-satunya bahan makanan yang menghasilkan rasa pedas. Lada, salah satu rempah terpenting di masa lalu, juga menghasilkan pedas. Karena itulah orang Eropa dulu sangat membutuhkan lada. “Lada menghangatkan perut dan menghilangkan lendir-lendir dingin perut,” kata Willard Anderson Hanna dalam Hikayat Jakarta 1 . Dari kebutuhan itulah perdagangan lada berkembang pesat abad ke-17. Nusantara menjadi salah satu penghasil terpentingnya. Namun kendati sebagai penghasil, di Nusantara lada kurang dipakai sebagai bumbu masak. Lada hanya menjadi komoditas yang membuat raja dan pedagang lada menjadi kaya. Orang pribumi tentu tidak membeli lada, jika bisa mereka menjualnya. Sebab pedagang asing akan membelinya untuk dijual lagi dengan harga jauh lebih mahal ke Eropa. Jika orang pribumi tak menginginkannya, orang Eropa tentu berharap lada mudah didapat dengan harga murah. Baca juga: Pedasnya Cabai, Sedapnya Sambal Beberapa orang asing sampai heran dengan tidak dijadikannya lada sebagai bumbu penting masakan di Nusantara. Termasuk di Sumatra yang makanannya tergolong kaya rempah itu. “Agak mengherankan, lada biasa yang dihasilkan sebagai komoditas utama di Sumatra tidak pernah terkomposisi dalam makanan. Mereka menganggap lada membuat darah panas,” catat William Marsden, pegawai Inggris di Bengkulu dari 1771-1779, dalam History of Sumatra . Sejak lama orang Sumatra lebih mengandalkan cabai untuk mendapatkan rasa pedas. Marsden sendiri punya pengalaman menikmati cabai yang tidak memanaskan darah itu. Kala itu, kata Marsden, nasi adalah makanan utama orang Sumatra. Lalu, daging fungsinya sebagai pendamping nasi (lauk) kendati dimakan lebih banyak daripada yang lainnya. Bahkan, seringkali daging dimakan tanpa pendamping selain garam dan cabai. Baca juga: Lampung Tanam Lada Gegara Banten Jualan Thomas Stanford Raffles (1781-1826), yang ke Nusantara jauh setelah Marsden dan pernah menjadi Letnan Gubernur Jenderal Inggris di Jawa (1811-1816) dan Bengkulu (1818-1824), juga melaporkan hal yang sama. Pedas dalam masakan Sumatra juga masih bukan berasal dari lada. “Lada hitam jarang dipakai untuk memberi rasa pedas pada masakan, seperti juga pada orang Melayu. Bumbu yang paling sering dipakai untuk memberi rasa pedas adalah lombok (sebutan lain cabai), yang apabila ditumbuk dengan garam dinamakan sambal,” catat Thomas Raffles dalam History of Java . Seperti di Jawa, orang Sumatra juga mengenal sambal. Rasa pedas cabai dari dulu hingga kini sudah menjadi kebutuhan banyak orang sehingga sambal tetap menjadi pemandangan umum dalam setiap sajian makan hingga kini. Baca juga: Cabai dari Amerika ke Nusantara Padahal, di masa lalu cabai adalah bahan makanan yang harganya mahal seperti daging. Lalu, asal tanamannya pun dari luar meski pohon cabai tumbuh di banyak tempat di Nusantara. “Jelas, sensasi pedas cabai yang notabene dibawa dari benua Amerika sejak abad ke-16 telah menggeser pedas lada yang dirasa penduduknya pribumi lebih membuat darah panas,” tulis Fadly Rahman dalam dalam Jejak Rasa Nusantara: Sejarah Makanan Indonesia . Cabai adalah tanaman baru yang sukses mempengaruhi kuliner di Nusantara, setidaknya Jawa dan Sumatra. Cabai mampu menggeser lada yang pedasnya sampai perut. Nusantara yang panas tropis tentu tak membutuhkan panas sampai perut. Pedas atau panas cukup di lidah saja. Pedas cabai dianggap menyegarkan. Itulah yang membuat orang-orang Sumatra menggemarinya. Hubert Joseph Jean Lambert Ridder de Steurs, residen Padang periode 1824-1829, pernah mendengar dari orang Padang soal perbedaan pedas lada hitam dan cabai. “Pedas di mulut, nyaman di lambung, tapi yang hitam (lada) membuat panas mulut dan perut,” begitu kata orang pribumu yang didengar Steurs.*
- Sekilas Riwayat Minyak di Sanga-sanga
DARI Belanda, Jacobus Hubertus Menten (1832-1920) datang ke Hindia Belanda mencari cuan. Itu dilakukannya sekeluarnya dari Politeknik Delft, Belanda, sekitar 1860. Menten, yang beristri Mathilde Louise Charlotte de Wal, bekerja di Bangka yang kaya timah. Waktu di Muntok, putrinya lahir dan dinamai Mathilde Louise Charlotte Menten. Setelah di Bangka, Menten lalu ikut menggali batubara di wilayah Kutai. Setelah pensiun pada 1882, dia tertarik mencari minyak bumi di wilayah Kutai. Pada 1895, seperti diberitakan De Locomotief tanggal 24 Mei 1895, Menten menandatangani perjanjian konsesi dengan sultan Kutai untuk ekstraksi minyak bumi. Menten lalu menemukan minyak di Balikpapan dan Sanga-sanga. Kedua sumur itu dinamai dengan nama istri dan putrinya. Sumur Balikpapan yang ditemukan pada 1895 dinamai Mathilde dan di Sanga-sanga yang ditemukan setahun berikutnya, dinamainya Louise. Baca juga: Pencarian Minyak di Kutai Kartanegara “Minyak telah diproduksi secara komersial di Kutei sejak Miosen bawah sejak tahun 1906, terutama di sepanjang antiklin Sanga Sanga pada apa yang disebut Kubah Sanga Sanga di Konsesi Louise; di kubah yang tidak disebutkan namanya di hulu Delta Mahakam di Konsesi Muara; dan di Kubah Semboja di Konsesi Nonny yang berbatasan dengan Konsesi Louise di barat daya. Sedikit minyak telah diperoleh dari konsesi lain di sepanjang Sungai Mahakam dan di sekitar Teluk Balikpapan,” tulis United States Federal Oil Conservation Boarddalam Report of the Federal Oil Conservation Board to the President of the United States Part 2-3 . Di Sanga-sanga, Louise tak hanya menjadi nama sumur, tapi juga menjadi nama perumahan. Nama Louise bagi orang Belanda belakangan bahkan tak hanya merujuk pada nama sumur, tapi juga untuk menyebut daerah tambang minyak Sanga-sanga. Tak lama setelah penemuannya, jalur rel antara sungai dengan sumur dibangun. Koran HetVaderland tanggal 26 November 1897 menyebut selama beberapa bulan mereka memasang jalur rel kereta sepanjang beberapa kilometer. Baca juga: Merawat Ingatan tentang Pangkalan Brandan Awalnya, putra Menten adalah satu-satunya orang Eropa di sana. Kemudian, ada 26 teknisi Inggris yang datang bekerja di sana. Koran Dagblad van Zuid-Holland Den Haag tanggal 14 April 1899 memberitakan, sekitar tahun 1899 minyak dari Sanga-Sanga telah diekspor ke Hongkong dan India. Minyak itu awalnya hanya bisa digunakan untuk bahan bakar ketel uap. Kala itu perusahaan Menten mulai membangun kilang di dekat laut di Teluk Balikpapan, sekitar 75 km dari Sanga-Sanga. Minyak di Sanga-Sanga awalnya diusahakan oleh perusahaan Samuel & Co. Kemudian setelah Shell Transport and Trading Company –perusahaan yang didirikan orang Inggris Marcus Samuel untuk perdagangan kerang dan rempah-rempah lalu transportasi dan pengeboran minyak– bergabung dengan Royal Dutch Petroleum Company pada 1907, Bataafsche Petroleum Maatschappij (BPM) selaku anak perusahaan Royal Dutch Shell ditunjuk menjadi pemegang pertambangan minyak di Sanga-sanga ini. Baca juga: Hikayat Minyak Bumi di Pangkalan Brandan Berkat minyak, Menten dan keluarganya jadi kaya-raya. Tak hanya itu, instalasi tambang, dermaga, kantor, juga hunian bermunculan setelah pertambangan berjalan dan menghasilkan minyak. Selain rumah-rumah orang Belanda, perkampuangan para pekerja tambang juga bermunculan. Di Sanga-sanga, hingga saat ini ada kawasan yang disebut Kampung Jawa. Kuli-kuli dari Jawa berdatangan mencari penghidupan di sini sejak lama. Selain mereka, kuli dari Tiongkok pun banyak datang ke daerah ini. Bahkan, seperti diberitakan Koran De Locomotief tanggal 26 Mei 1928, ada beberapa anggota partai nasionalis China pimpinan Sun Yat Sen, Kuo Min Tang, yang bekerja di BPM antara 1926 hingga 1927. Namun mereka dideportasi dari Hindia Belanda karena kerusuhan 3 Mei di Sanga-sanga pasca-dilarang berparade dalam Hari Buruh di Balikpapan, 1 Mei 1927. Baca juga: Datu Adil, Raja Tarakan yang Melawan Belanda d Berkembangnya kota kecil Sanga-sanga, yang diikuti bertambahnya jumlah orang Eropa, maka sekolah modern pun didirikan di kota ini. Pertengahan tahun 1928, seperti diberitakan De Locomotief edisi 6 Desember 1927, direktur Pendidikan dan Pelayanan Keagamaan memutuskan akan membuka sekolah dasar untuk anak Eropa (Europe Lager School/ELS) di Louise (Sanga-Sanga Dalem). Pendiriannya bersamaan dengan pembukaan SD serupa di Tarakan dan Majalengka. Namun sewaktu Perang Dunia II pecah, instalasi minyak di Sanga-sanga rusak karena sengaja dirusak Belanda. “Salah satu target utama invasi Jepang ke Asia Tenggara dalam Perang Dunia II adalah Indonesia yang kaya akan sumber daya alam, khususnya minyak bumi yang dibutuhkan Jepang untuk menggerakkan mesin-mesin perangnya. Pemerintah kolonial Belanda menyadari bahwa mereka tidak akan mampu mempertahankan koloni mereka dari Jepang, dan akibatnya berusaha untuk mencegah mereka mendapatkan fasilitas minyak dengan mengikuti kebijakan bumi hangus. Kilang minyak dibakar, sumur-sumur ditutup dengan semen, dan jaringan pipa diledakkan, tetapi karena sifat pekerjaan yang terburu-buru dan cepatnya invasi Jepang, beberapa fasilitas dibiarkan tidak tersentuh,” tulis Ooi Jin Bee dalam The Petroleum Resources of Indonesia.





















