Hasil pencarian
Cari di situs ini
10059 hasil ditemukan dengan pencarian kosong
- Pitting Tigers Against Death
ALTHOUGH it has long been declared extinct, some researchers believe the Javan tiger (Panthera tigris sondaica) still roams the Muria Mountains in Central Java. During their lifetime, they were forced to be fighting animals in royal performances in Java.
- Tradisi Membeli Baju Lebaran
Bagaimana perkembangan sejarah tradisi membeli baju Lebaran di Indonesia?
- Genderuwo yang Suka Menakut-nakuti
PRESIDEN Joko Widodo mengatakan banyak politikus yang pandai memengaruhi. Banyak yang tidak menggunakan etika dan sopan santun politik. Namun, politik propaganda yang menakutkan, membuat ketidakpastian, dan menjadikan masyarakat ragu-ragu. “Cara-cara seperti ini adalah cara-cara politik yang tidak beretika. Masak masyarakatnya sendiri dibuat ketakutan? Nggak benar kan? Sering saya sampaikan itu namanya politik genderuwo, nakut-nakuti,” kata Jokowi dalam acara pembagian sertifikat tanah untuk masyarakat Kabupaten Tegal, Jawa Tengah, Jumat (9/11), dikutip dari detik.com . Genderuwo merupakan salah satu jenis makhluk halus di Jawa. Namanya disebut dalam ensiklopedi hantu di Jawa, De Javaansche Geestenwereld karya H.A. van Hien yang terbit tahun 1896. “Tuan H.A. van Hien, seorang Belanda, menulis buku yang berisi tentang setan-setan yang khusus di Tanah Jawa. Tak terkecuali yang ada di Surabaya tentunya. Bertahun-tahun dia mengumpulkan cerita tentang alam gaib dari Dunia Lain. Lantas, dia menghimpunnya dalam sebuah buku. Tempo dulu, ternyata setan-setan di Tanah Jawa ini banyak sekali jenisnya. Tempat tinggalnya pun berbeda-beda. Begitu juga dengan kegiatannya. Tapi tak ada (seorang) hantu Belanda pun yang diceritakan oleh Tuan H.A. van Hien,” tulis Dukut Imam Widodo dalam Hikajat Soerabaia Tempo Doeloe, Volume 1 . Menurut Dukut, dalam De Javaansche Geestenwereld , diceritakan bahwa genderuwo adalah setan yang tidak jahat. Kerjanya hanya membuat takut manusia. Di siang hari, ia bisa berwujud sebagai macan, ular besar atau bajul (buaya). Ia bisa juga berupa burung alap-alap atau binatang buas lainnya. Jika malam hari, ia bisa berubah wujud menjadi lelaki ganteng yang suka mengganggu perempuan yang lewat di jalan sepi. "Konon, genderuwo bisa kawin dengan manusia. Genderuwo laki-laki akan kawin dengan perempuan. Begitu juga sebaliknya. Jika genderuwo perempuan bisa menikahi laki-laki. Jika genderuwo marah, ia melempari rumah dengan bebatuan tanpa diketahui darimana arah batu-batu itu," tulis Dukut. Sumber berikutnya yang menceritakan genderuwo adalah Abangan, Santri, Priayi dalam Masyarakat Jawa karya antropolog Clifford Geertz. Buku itu hasil penelitian di Mojokuto, Jawa Timur pada 1950-an. Di dalamnya terdapat bagian kepercayaan orang Jawa terhadap makhluk halus. Menurut Geertz genderuwo merupakan memedi (tukang menakut-nakuti) laki-laki yang paling umum – memedi perempuan disebut wewe . Pada umumnya, genderuwo lebih senang bermain-main daripada menyakiti dan suka mengerjai, seperti menepuk pantat perempuan (terutama saat sedang sembahyang), melemparkan pakaian orang ke kali, melempari atap rumah dengan batu, melompat dari pohon di kuburan dengan wujud besar dan hitam, dan sebagainya. “Ketika Pak Paidin jatuh dari jembatan selagi berjalan di sana, dia tahu bahwa genderuwo telah mendorongnya; karena ketika dia jatuh ke air, hantu itu membelenggu tangannya ke belakang dan berbicara kepadanya (dalam Bahasa sastra Jawa klasik; genderuwo selalu berbicara dengan kata-kata kuno, kata Paidin), menanyakan apakah dia tidak cedera. Jelas bahwa hantu itu tidak punya maksud buruk,” tulis Geertz. Wagini, anak genderuwo hadir di acara Bukan Empat Mata Trans7 Menculik dan Meniduri Istri Orang Namun, lanjut Geertz, betapapun senangnya dengan lelucon, genderuwo juga berbahaya. Sering kali mereka muncul dalam wujud orangtua, kakek, anak, atau saudara kandung sambil berkata: “Hei, ayo ikut aku.” Orang yang menuruti ajakannya tidak akan terlihat. Keluarga yang kehilangan akan mencarinya sambal memukul pacul, arit, panci, dan sebagainya. Suara gaduh itu akan mengganggu genderuwo lalu menawarkan makanan kepada si korban. Kalau korban memakannya, dia akan tetap tak terlihat; kalau menolak, dia akan tampak lagi dan keluarganya akan menemukannya. Kadang-kadang, menurut Geertz, genderuwo bertindak melewati batas. Dia menyamar jadi suami seorang perempuan lalu menidurinya. Maka, lahirlah anak yang menyerupai raksasa. “Di Mojokuto, ada seorang yang seperti itu –anak yang besar, hitam dan bentuknya aneh, yang hidup sampai usia 16 tahu, lalu meninggal,” kata Geertz. Lima tahun lalu pada 2013, Wagini yang mengaku anak genderuwo dari Alas Purwo, Banyuwangi, Jawa Timur, menjadi pemberintaan di berbagai media, seperti tampil di acara "bukan empat mata" di Trans 7 . Akhirnya, kata Geertz, walaupun genderuwo umumnya berpembawaan baik, tetapi tidak dapat disepelekan begitu saja. Malahan orang tak boleh bercakap tentang genderuwo –meski setiap orang membicarakannya– karena ada kemungkinan akan mendengarnya dan merasa tersinggung. “Tak seorang pun, anak-anak atau orang dewasa, dalam keluarga tempat saya dan istri menumpang, yang berani pergi ke kakus sendirian sesudah matahari terbenam, karena takut kepada genderuwo,” kata Geertz.*
- Lima Jersey Sepakbola Kontroversial
TERLEPAS dari isu dan ingar-bingar pro-kontra program naturalisasi PSSI yang berujung pada stempel “Timnas Hindia Belanda”, jersey baru kandang dan tandang timnas Indonesia jadi perbincangan tersendiri. Desain dan kualitas jersey yang baru dirilis 18 Maret 2024 itu mengundang kegaduhan hingga memicu tagar #BoikotErspo dari sebagian pecinta sepakbola Indonesia di linimasa X (sebelumnya Twitter ). Pertama , soal desain seragam baru timnas yang diproduksi apparel Erspo (Ergonomic Sporty Outfit). Sejumlah netizen “merujak” desain jersey kandang yang terlalu sederhana, meski pihak Erspo dan perancangnya dari pihak ketiga, Makna Creative, mengaku mengadopsi dan mengambil inspirasi dari seragam lawas timnas era 1981. Pun dari segi kualitas, baik jersey versi pemain maupun replikanya yang dijual untuk publik. Sehari pasca- launching , pelatih timnas Shin Tae-yong (STY) mengkritik kualitas jersey latihan yang dianggap kurang bisa menyerap keringat. Klimaksnya, review kualitasnya yang dilakukan komentator, pengamat, cum eks-pelatih timnas futsal Indonesia Justinus Lhaksana di beberapa program siniar Youtube pada Sabtu (30/3/2024). Sosok yang akrab disapa Coach Justin itu mengkritik bahan maupun bagian desain logo Garuda, hingga menilai jersey replikanya tidak pantas dibanderol Rp600 ribu. Baca juga: Pionir Sarung Tangan Kiper Akan tetapi kritik Coach Justin yang sedianya menjadi “penyambung lidah warganet” itu langsung direspons negatif oleh desainernya, Ernanda Putra dari Makna Creative. Dalam sebuah utas di akun X-nya, @ernandaputra, ia berkicau: “Justin yang gue tahu cuma Justin Hubner, Timberlake, dan Bieber. Siapalah dia tiba-tiba jadi ngomongin desain. Udahlah om lo urus saja hidupmu sendiri.” Respons Ernanda itu justru membuatnya “dikeroyok” warganet yang memihak pada Coach Justin. Sang desainer akhirnya minta maaf. Belakangan, Erspo juga melayangkan permintaan maaf resminya kepada publik sekaligus mengonfirmasi bahwa kerjasama Erspo dan Makna Creative sudah berakhir. Jersey latihan Timnas Indonesia ( pssi.org ) Hal itu juga kembali ditegaskan Muhammad Saddad, founder Erigo Store dan Erspo dalam siniar IntrigueRK di akun Youtube Prof. Rhenald Kasali , Senin (1/4/2024). Saddad dan timnya memilih untuk mendengarkan kritik dan saran setiap pihak dan akan melakukan perbaikan kualitas jersey -nya. “Saya mewakili tim juga minta maaf karena ramai sekali ya. Anginnya kencang sekali karena ekspektasinya besar, mengingat prestasi timnasnya. Kita akan buktikan dalam beberapa waktu ke depan dengan third jersey dan fourth jersey . Barusan masuk upcoming jersey dikirim dari tim setelah mendengar masukan-masukan,” ungkap Saddad. Ada benarnya, karena publik sepakbola tanah air sedang punya ekspektasi tinggi usai timnas Indonesia mencetak sejarah dengan lolos pertamakali dari fase grup Piala Asia 2023 dan kemenangan pertama atas Vietnam di kandang lawan dalam 20 tahun terakhir pada kualifikasi Piala Dunia zona AFC belum lama ini. Dalam catatan sejarah sepakbola pun, kegaduhan publik atas jersey kontroversial juga dialami sejumlah tim, baik timnas maupun klub. Berikut lima di antaranya: Baca juga: Kostum Nyentrik Jorge Campos Jersey Tandang Fiorentina 1992-1993 Kostum tandang Fiorentina yang menyiratkan simbol swastika ( sportbible.com ) Klub asal kota Firenze, Italia ini pernah mengundang kemarahan publik saat merilis seragam away -nya untuk kompetisi Serie A musim 1992-1993. Jersey kandangnya dianggap mempromosikan simbol swastika yang lekat dengan sejarah kelam Jerman Nazi di era Perang Dunia II. Apparel Lotto yang memproduksi jersey-nya mengeluarkan seragam tandang berwarna dasar putih dengan motif pola- pola bergaris ungu di bagian atas dada dan lengannya. Akan tetapi pola itu menimbulkan efek optik yang mencuatkan simbol swastika di bagian dekat leher dan kerahnya. Hal itu baru disadari publik dan fans Fiorentina menjelang akhir paruh pertama musim 1992-1993, yakni medio Desember 1992. Pihak klub dan apparel buru-buru menarik jersey tandang itu untuk tidak digunakan lagi oleh tim. “Fiorentina dan produsen, Lotto, ingin menggarisbawahi bahwa efek optik (lambang swastika) itu hanya kebetulan semata,” ujar klub dalam pernyataannya, dikutip The Guardian , 7 Maret 2012. Baca juga: Sepp Herberger dan Bayang-bayang Nazi Jersey Tandang Manchester United 1995-1996 Kostum away yang dibenci Sir Alexander Chapman 'Alex' Ferguson ( manutd.com ) Umbro sebagai apparel yang mensponsori Manchester United (MU) untuk menjalani Liga Inggris musim 1995-1996 merilis jersey tandang dengan warna dan motif yang bikin sial. Seragamnya didesain dengan motif-motif mikro berwarna abu-abu muda di bagian dada ke atas dan abu-abu tua di bagian dada ke bawah yang dipisahkan dua garis tebal horizontal hitam-merah. Sejak awal, pelatih Sir Alex Ferguson sudah mengkritik desainnya. Ia sampai harus merekrut seorang peneliti dan akademisi untuk merangkap tugas sebagai “pelatih mata”. Alasannya, seragam away itu membuat para pemain kesulitan melacak posisi rekan-rekannya karena efek optiknya membuat samar dengan kerumunan penonton. Alhasil MU kalah empat kali dalam lima laga dengan seragam itu. Klimaksnya terjadi saat bertandang ke The Dell Stadium, markas Southampton, 13 April 1996. Pada babak pertama saja, mereka keok 0-3. Saking muaknya, Sir Alex memerintahkan ofisial tim menggantinya dengan jersey ketiga bermotif putih-biru. Kesialan jersey sebelumnya makin terbukti karena sejak menggantinya dengan seragam ketiga di babak kedua, Gary Neville dkk. tak lagi kebobolan sampai laga berakhir. “Pelatih yang memerintahkannya (ganti seragam). Ia membenci seragam away itu. Sir Alex sampai harus mempekerjakan seorang profesor dari Liverpool University dan spesialis penglihatan, Gail Stephenson,” kenang Neville di laman resmi klub , 29 Agustus 2019. Baca juga: Bola-Bola Piala Dunia (Bagian I) Jersey Timnas Kamerun 2002 Seragam sleeveless Kamerun di Piala Afrika 2002 (X @CAF_Online) Pro dan kontra publik timbul ketika timnas Kamerun mengenakan jersey kandang dan tandang yang terlalu unik untuk turnamen Piala Afrika 2002. Bak tim basket, jersey- nya sleeveless alias tanpa lengan. Puma selaku produsen merilis jersey kandang dengan warna dasar sebagaimana seragam sebelumnya, yakni atasan hijau dengan motif kuning-merah, serta celana merah, dan kaos kaki kuning. Hanya saja kit atasannya begitu mencolok karena bagian lengannya dihilangkan. Pun dengan seragam kandang berwarna dasar putih dengan motif garis hijau-merah-kuning di bagian ketiak yang lagi-lagi tanpa lengan. Memang kemudian jersey itu “membawa tuah”. Kamerun sukses merebut trofi Piala Afrika usai menang adu penalti atas Senegal di partai final. Akan tetapi saat hendak tampil di Piala Dunia 2002, FIFA melarang seragam tanpa lengan itu dan memaksa federasi sepakbola Kamerun bersama Puma menambahkan lengan berwarna hitam pada seragamnya. “Timnas Kamerun bereksperimen dengan seragam tanpa lengan bergaya tim basket pada Piala Afrika 2002, di mana mereka menang setelah mengalahkan Senegal di final. Akan tetapi FIFA menyatakannya ilegal dan melarang Kamerun menggunakannya di Piala Dunia 2002,” tulis Richard Witzig dalam The Global Art of Soccer. Baca juga: Anomali Kamerun yang Menggegerkan Dunia Jersey Timnas Kamerun 2004 Kostum onesie Kamerun di 2004 yang dilarang FIFA (X @CAF_Online) Dua tahun setelah kegaduhan seragam tanpa lengan, Kamerun dengan apparel Puma lagi-lagi bikin heboh dengan seragam “onesie” alias jersey dan celana yang menyatu bak bodysuit. Mereka lagi-lagi mengenakannya saat mengikuti Piala Afrika 2004 di Tunisia. “Seragam Kamerun onesie atau leotard skintight , tergantung bagaimana Anda melihatnya, eksis pada debutnya di Piala Afrika 2004. Konon katanya didesain demikian karena untuk mengurangi hawa panas atau memang benar-benar murni inovasi terbaru,” tulis Johnny Morgan dalam The Joy of Football: For Those Who Love the Beautiful Game. Bedanya, kali ini seragam onesie itu “tak bertuah” bagi Samuel Eto’o dkk. Tampil sebagai juara bertahan, tim berjuluk The Indomitable Lions itu terhenti langkahnya di perempatfinal setelah dibekuk Nigeria, 1-2. “FIFA sebenarnya sudah melarang Kamerun untuk menggunakannya untuk Piala Afrika dan Kualifikasi Piala Dunia. Akan tetapi Kamerun tetap mengenakannya. Akhirnya FIFA memberi hukuman denda 155 ribu dolar kepada Afrika dan sanksi pengurangan 6 poin di kualifikasi Piala Dunia. Puma sebagai produsennya kemudian merilis kits yang sesuai dengan legalitas FIFA,” sambung Witzig. Baca juga: Bola-Bola Piala Dunia (Bagian II – Habis) Jersey Eropa Athletic Bilbao 2004-2005 Kostum Athletic Bilbao yang dihujat sebagai kostum "Saus Tomat" ( athletic-club.eus ) Untuk merayakan pencapaian klub yang akan tampil di pentas Eropa, UEFA Cup (kini Europa League) musim 2004-2005, Athletic Bilbao ingin para pemainnya mengenakan jersey kandang khusus versi Eropa. Artinya, jersey ini hanya digunakan di laga-laga UEFA Cup, bukan untuk pentas domestik: La Liga dan Copa del Rey. Khusus musim 2004-2005, manajemen klub merilis jersey produksinya sendiri ( in-house) . Untuk pentas domestik, seragam tandangnya masih bermotif serupa: motif bergaris putih-merah. Akan tetapi khusus versi kompetisi Eropa, klub merekrut seniman Darío Urzay untuk mendesain baru. “Bagi saya Athletic adalah klub yang mengantarkan serangkaian mimpi dan harapan. Dan menemukan jersey (Eropa 2004-2005) di museum Athletic Club adalah hal yang sangat memuaskan,” kenang Urzay dalam potongan video “A Museum of Legends: Dario Urzay” di akun Youtube resmi klub , 5 Oktober 2021. Kendati begitu, jersey desain Urzay itu langsung direspons dengan kritik dan hujatan dari pihak fans. Urzay mendesainnya dengan corak unik berwarna merah yang ia akui terinspirasi dari bercak-bercak darah. Hanya saja bagi fans, jersey itu diejek sebagai jersey “saus tomat” karena mirip baju putih yang terkena noda-noda saus tomat. Menanggapi banjir kritik, pihak klub bertindak. Jersey itu batal digunakan secara resmi dan hanya sekali tampak di publik ketika dikenakan dalam sebuah laga persahabatan. “Saya tahu akan menjadi hal yang kontroversial dan hanya diterima oleh sedikit orang. Tapi setidaknya jersey itu menjadi perhatian banyak orang, termasuk orang-orang yang tidak mendukung Athletic,” tukas Urzay. Baca juga: Serba-serbi Maskot Piala Eropa
- Conquering the World Stage of Boxing (Part II-End)
NICO Thomas's physical fitness remains exceptional. His body is still firm despite his 57 years of age. He spends some of his time teaching "members" privately, sometimes around the Gelora Bung Karno Main Stadium (GBK), and sometimes in other places, as requested.
- Sejarah Petasan
Petasan tiba di Indonesia pertama kali ketika dibawa para pedagang Cina ke Nusantara. Bagaimana perkembangan sejarahnya?
- Kibuli Raden Paku
Kendati usianya baru dua dekade, nama Melawi sejak dulu sudah sering disebut-sebut. Kabupaten di Kalimantan Barat yang sebelumnya menjadi bagian dari Kabupaten Sintang dan pernah berada di bawah Kesultanan Banjarmasin ini pernah di- blacklist pemerintah Hindia Belanda. Antara 1863 hingga 1867, Melawi dan Sintang dianggap daerah yang rusuh oleh pemerintah kolonial. Melawi dan Sintang termasuk daerah yang melawan pemerintah kolonial Hindia Belanda. Algemeen Handelsblad (6 Maret 1896) menyebut dalam perlawanan itu dua kepala suku di pedalaman Melawi melakukan perlawanan. Salah satu kepala suku tersebut, namanya Regam, lalu berpihak kepada pemerintah kolonial pada Juli 1866. Di balik ketulusannya, Regam ternyata hendak membalas dendam atas pemerasan yang dilakukan Mas Nata Widjaja yang menjadi pemimpin pemberontakan. Atas kerja kerasnya meredam perlawanan di Sintang, maka Penembahan Sintang Regam —yang berkuasa di daerah Melawi dan Sintang— diberi penghargaan dan gelar Raden Paku Jaya pada Mei 1867. Regam adalah orang Dayak yang pernah menjadi kepala di Nanga Serawai di Melawi Hulu. Selama bertahun-tahun Regam hidup damai. Namun setelah 1880-an, ketenangan di daerah kekuasaannya sirna. De Locomotief tanggal 3 Februari 1896 menyebut Regam alias Raden Paku melanggar janjinya untuk tidak menguasai Melawi Hulu. “Bertentangan dengan janjinya tidak pernah lagi memasuki Melawi Atas, tindakannya telah mengganggu kelancaran urusan, berkali-kali menimbulkan kesulitan bagi aparat,” demikian Militair Weekblad , 19 Maret 1896, memberitakan. Berkali-kali dia bertindak melawan pemerintah. Kelakuan Raden Paku jadi kurang lebih sudah mirip seperti Teuku Umar di Aceh: Setelah dipercaya malah berontak. Malam 10 November 1895, Raden Paku telah berada di Serawi, pedalaman Melawi. Sepak terjangnya tak bisa dicegah lagi, bahkan oleh aparat bersenjata kolonial sekalipun. Setidaknya 11 polisi bersenjata dikirim untuk mengatasi Raden Paku. Situasi itu kemudian sampai ke telinga residen Kalimanan Barat. Alhasil, pada 12 Desember 1895 sebanyak satu pasukan militer dikirim ke Melawi Hulu. Seorang kontrolir bernama Louis Constant Westenenk (1872-1930) harus bekerja untuk menyelesaikan perlawanan tersebut. Dia datang ke Kalimantan Barat pada 1893 sebagai pegawai negeri sipil Belanda. Sebelumnya dia pernah tinggal di sana. Sang pegawai yang berusia 24 tahun jelang akhir Maret 1896 itu tak cuma duduk di balik meja. Westenenk turun ke lapangan bersama pasukan militer. Deli Courant tanggal 10 April 1933 menyebut dia bergerak bersama 34 orang pasukannya. Di antara mereka hanya 17 orang yang bersenjata api Beaumont dan 17 bersenapan kuno. Westenenk meniru Jenderal Van Heutsz. Mereka mengejar tanpa henti dan tidak memberi waktu kepada lawan beristirahat barang setengah hari pun. Pada barisan Westenenk tersebut, Kopral Suka dari kesatuan polisi bersenjata adalah yang terdepan. Kopral Suka kemudian berhasil menemukan Raden Paku dan sekitar 100 orang pengikutnya yang –banyak yang bersenjata api– bertahan di dalam sebuah rumah panjang. Karena tidak punya banyak amunisi, Kopral Suka jadi menerapkan taktik mengulur waktu agak tidak segera dilumpuhkan pasukan Raden Paku yang jumlahnya lebih banyak. Pasukan Westenenk lain juga diam-diam bergerak di bawah kolong. Kopral Suka memulai tembakan ke dua arah, membuat pengikut Raden Paku kebingungan lalu merasa terkepung. Kopral Suka dan kawan-kawannya lalu mengambil posisi. Pengikut Raden Paku ditakuti dengan tabung dinamit dan diancam jika tidak menyerah dalam waktu 15 menit, maka dinamit akan dilemparkan ke mereka. Orang Dayak pengikut Raden Paku bukan sudah tahu dinamit. Mereka tahu itu bisa untuk menangkap ikan. Mereka tahu dinamit benda berbahaya. Keheningan terjadi sejenak. Raden Paku berusaha untuk keluar dari situasi yang tidak menyenangkan itu dengan keluar dari sebuah rumah. Tapi dia kemudian dilucuti. Raden Paku dan pengikutnya merasa kesal karena ternyata pasukan yang mengepung mereka jumlahnya sangat sedikit. Raden Paku dan pengikutnya kemudian dibuang. Koran Java Bode tanggal 4 Januari 1897 menyebut Raden Paku bersama 3 orang pengikutnya dibuang ke Ternate. Selain ke Ternate, ada pula pengikutn Raden Paku yang dibuang ke Banyuwangi, Bukittinggi, dan Manado.
- Sehimpun Riwayat Giyugun
Tidak seperti kebanyakan pemuda sepantarannya, Soedirman lolos seleksi pasukan Pembela Tanah Air (PETA) di Bogor tanpa melalui pemeriksaan fisik. Soedirman yang sebelumnya berprofesi sebagai guru sekolah Muhammadiyah itu dianggap cukup berpendidikan. Setelah digembleng beberapa bulan, Soedirman menjadi komandan batalion ( daidancho ) PETA di Banyumas. Selain Soedirman, ada Kasman Singodimendjo yang kemudian menjadi daidancho di Jakarta. “Soedirman dan Kasman masuk PETA tanpa pemeriksaan badan, tapi ditunjuk oleh Jepang,” kata sejarawan Aiko Kurasawa dalam peluncuran bukunya Giyugun: Tentara Sukarela pada Pendudukan Jepang di Jawa dan Sumatra di Kompas Institute kemarin (25/3). PETA adalah tentara sukarela bumiputra yang dibentuk Jepang pada masa pendudukannya di Jawa. Dalam bahasa Jepang tentara sukarela disebut Giyugun . Penyebutan Giyugun tetap digunakan untuk merujuk tentara sukarela bentukan Jepang yang ada di Sumatra. Baca juga: Cerita dari Museum PETA Pada 1970-an, historiografi tentang pendudukan Jepang di masa Perang Dunia II mulai mendapat tempat sebagai objek penelitian di kalangan sejarawan. Itu pula yang memantik Aiko Kurasawa dalam penelitiannya di Cornell University tentang PETA (1974) dan Giyugun Sumatra (1976). Penelitian Aiko ini kemudian diterbitkan secara stensilan oleh Seknas Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) dengan judul Lahirnya Pembela Tanah Air . Sementara itu, sejarawan Indonesia Nugroho Notosutanto baru menerbitkan disertasi tentang PETA pada 1979 berjudul The PETA Army During the Japanese Occupation of Indonesia. Sejarawan Aiko Kurasawa dalam peluncuran bukunya Giyugun: Tentara Sukarela pada Pendudukan Jepang di Jawa dan Sumatra di Kompas Institute kemarin, 25 Maret 2024. Foto: Historia/Martin Sitompul. Dalam meneliti tentang PETA dan Gyugun Sumatra, Aiko menyandarkan risetnya dari hasil wawancara pelaku sejarah. “Sembilan puluh sembilan persen didasarkan atas wawancara,” ungkap Aiko. Aiko cukup beruntung. Saat itu, dia masih bisa mendapatkan banyak narasumber baik di Jepang maupun Indonesia. Dia mewawancarai sejumlah eks perwira PETA, Giyugun Sumatra, maupun eks instruktur Jepang. “Semua senang diwawancarai,” kenang Aiko. “Saya diterima dengan senang hati dan mereka sangat terbuka.” Hasil wawancara itu direkam Aiko dalam kaset tape yang sekarang sudah didigitalisasi dan dapat diakses siapa saja. Baca juga: Balada Seorang Instruktur Tua Meski menyebut dirinya tentara sukarela, menurut Aiko, Giyugun lahir karena Jepang butuh tentara lebih banyak untuk mengamankan daerah jajahannya. Apalagi untuk kawasan seluas Jawa dan Sumatra, Jepang kekurangan kekuatan militer. Di Jawa saja, Jepang hanya memiliki 10.000 prajurit. “ Jepang mengatur pembentukan PETA ini seolah-olah atas keinginan dari pihak Indonesia. Jadi, sebenarnya Jepang yang ingin mendirikan PETA, tetapi mendorong seorang tokoh nasionalis bernama Gatot Mangkoepradja agar memberikan permohonan atau petisi pembentukan tentara sukarela,” terang Aiko. Pada awal pembentukannya tahun 1943, PETA terdiri dari 35 daidan (batalion). Pada 1944, ditambah 20 daidan . Dan pada 1945, ditambah lagi sebanyak 11 daidan . Hingga berakhirnya pendudukan Jepang terdapat 66 daidan PETA di Jawa atau sekira 30.000 prajurit. Dengan demikian, pasukan PETA tersebar di seluruh karesidenan di Pulau Jawa. Baca juga: Jimat Perang Tentara Sukarela Di Sumatra, Jepang membentuk Giyugun secara lebih lugas, tanpa polesan “sandiwara” seperti di Jawa. Persebarannya juga hanya di sebagian wilayah Sumatra meliputi titik-titik penting pertahanan. Mulai dari pesisir timur, Aceh, pesisir barat, Bukittinggi, Sumatra Selatan, dan wilayah pertahanan lapangan udara. Sementara itu, di bagian timur Indonesia, tentara sukarela tidak dibentuk. Wilayah itu dikuasai oleh Angkatan Laut Jepang. Berbeda dari Angkatan Darat, Angkatan Laut lebih khawatir apabila kaum bumiputra dipersenjatai maka suatu saat bakal melancarkan perlawanan. Ibarat “digigit oleh anjing sendiri,” demikian diumpamakan Aiko. Dalam menggembleng tentara sukarela, menurut Aiko, instruktur militer Jepang lebih banyak melatih taktik gerilya. Hal ini dimaksudkan sebagai cara bertahan andaikata Sekutu datang menyerang. Kelak, taktik gerilya ini pula yang menjadi andalan dalam menghadapi tentara Belanda pada Perang Kemerdekaan Indonesia. Dalam perang gerilya, tersebutlah nama Soedirman –perwira jebolan PETA, yang menjadi panglima tertinggi militer Indonesia selama Perang Kemerdekaan. Baca juga: Jenderal Soedirman Tak Selalu Ditandu Menurut sejarawan Didi Kwartanada, tentara sukarela bentukan Jepang berperan penting dalam pembentukan Tentara Nasional Indonesia (TNI) di kemudian hari. Tengok saja dari para jenderal yang menjadi Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD) dari masa revolusi hingga 1983. Kecuali Abdul Haris Nasution yang lulusan KMA Bandung, semua adalah jebolan PETA dan Giyugun. Mereka adalah: Djatikusumo, Bambang Soegeng, Bambang Utoyo, Ahmad Yani, Pranoto Reksosamodra, Soeharto, Maraden Panggabean, Umar Wirahadikusumah, Surono, Makmun Murod, Raden Widodo, dan Poniman. “PETA dan Giyugun adalah salah satu cikal bakal TNI,” ulas Didi Kwartanada. Senada dengan Didi, Aiko juga mengungkapkan PETA dan Giyugun Sumatra merupakan inti dari TNI pada awal masa revolusi. Terlepas dari apakah tentara sukarela ini menjadi boneka Jepang semasa pendudukan, terjawab setelah memasuki era kemerdekaan Indonesia. Banyak dari eks PETA dan Giyugun kemudian melancarkan perlawanan terhadap Jepang; merebut senjata Jepang, dan meleburkan diri ke dalam Badan Keamanan Rakyat (BKR). Baca juga: Boyke Nainggolan, Tragedi Opsir Terbaik Namun, bertahun-tahun setelah kemerdekaan, nasib prajurit TNI jebolan Giyugun Sumatra jauh lebih miris. Pada 1960, banyak dari mereka harus menanggalkan seragam TNI lantaran kecewa. Apa sebab? “Eks Giyugun banyak yang meninggalkan TNI karena terlibat PRRI,” tutup Aiko.
- Conquering the World Stage of Boxing (Part I)
"I want to be like Muhammad Ali," said young Ellyas Pical in one of the scenes of the Ellyas Pical biopic series. Muhammad Ali was indeed a legend in the world of boxing. However, Ellyas Pical is also the idol of many Indonesian boxers since the 1980s until now, including Nico Thomas.
- Revising the Colonial Image of Javanese Women
RATU Kencono Wulan was only the third consort of Sultan Hamengkubuwono II, but thanks to her beauty and intelligence, she became very powerful in the sultanate of Yogyakarta in the early 19th century.
- Bumi Pertiwi Hampir Mati
SELAMA perjalanannya ke Kepulauan Malaya, Alfred Russel Wallace mampir ke Jawa pada 19 Juli 1861. Dia tinggal selama tiga setengah bulan. Dan dia begitu terkesan. “Dilihat secara keseluruhan dan diteliti dari berbagai sudut pandang, Jawa bisa dianggap sebagai pulau tropis paling indah dan menarik yang ada di dunia,” tulisnya dalam The Malay Archipelago. “Binatang yang ada, terutama jenis burung dan serangga, sangat cantik dan beragam, serta memiliki banyak hewan berbentuk unik yang tidak bisa ditemukan di manapun di dunia. Tanah di seluruh pulau ini sangat subur dan semua tumbuhan tropis serta sejumlah tanaman dari daerah beriklim sedang bisa dibudidayakan dengan baik di pulau ini.” Sejak lama, negeri ini sohor dengan kekayaan alamnya. Namun, kolonialisme perlahan merenggutnya. Isu pelestarian lingkungan belum mendapat perhatian. Kalah oleh kepentingan komersial. Lalu hutan rusak. Banjir mengancam. Terjadi anomali cuaca. Flora dan fauna terancam punah. Selama berabad-abad, pembangunan dan industrialisasi mengancam lingkungan hidup. Hingga kini. Hutan hujan tropis Indonesia, dengan keanekaragaman hayatinya, yang begitu dibangga-banggakan mungkin hanya akan menjadi sejarah. Dalam kongres Serikat Boeroeh Kehoetanan seluruh Jawa dan Madura di Selecta, Malang pada 27 September 1946, Presiden Sukarno mengatakan: “Pertahankan hutan, jangan menebang hutan. Menebang hutan berarti menebang bangsa sendiri. Mempertahankan hutan berarti mempertahankan hidup.” Menyambut Hari Kehutanan Sedunia (20 Maret), Hari Air Sedunia (22 Maret), dan Hari Bumi (22 April), kami menurunkan laporan khusus soal sejarah lingkungan di Indonesia. Lingkungan dalam Kungkungan Tarik-Ulur Soal Lingkungan Yang Lokal yang Lestari Hutan Tak Lagi Perawan Polusi Tanpa Henti Tak Kuasa Mencegah Punah Liur yang Lezat Mangkuk Malapetaka Hiu Penyu Menopang Bumi Haus Berburu Paus Jejak Harimau di Dunia Merampog Harimau Sarimin (Tak) Pergi ke Pasar
- Lagu Ramadan yang Tak Termakan Zaman
Apa saja lagu-lagu yang kerap disenandungkan ketika bulan Ramadan?





















