top of page

Hasil pencarian

Cari di situs ini

10059 hasil ditemukan dengan pencarian kosong

  • PPP Partai Islam Impian Orde Baru

    Pemilu 2024 telah usai. Komisi Pemilihan Umum (KPU) sudah mengumumkan hasil rekapitulasi Pemilu 2024 kemarin, 20 Maret 2024.

  • Momentum Bayer Leverkusen

    MENJELANG jeda jadwal internasional, Bayer Leverkusen mengukuhkan kedigdayaannya untuk memperbesar peluang meraih treble winners (juara di tiga kompetisi tak) sekaligus memecahkan rekor di musim 2023/2024. Hebatnya, itu dicapai klub yang acap dianggap medioker tersebut tanpa pemain bintang. Kemenangan laga tandang 3-2 atas tuan rumah SC Freiburg di pekan ke-26 Bundesliga pada Minggu (17/3/2024) membuat Leverkusen yang dibesut Xabi Alonso memetik kemenangan ke-22 di Bundesliga sekaligus mengukir rekor 38 laga tak terkalahkan di semua kompetisi musim ini: Bundesliga, DFB Pokal, dan UEFA Europa League. Sebelumnya, rekor 37 laga tanpa terkalahkan dipegang Bayern Munich saat ditukangi Hans-Dieter Flick pada 2020 dan 2021. Leverkusen meraihnya hanya dalam satu musim ini. Hasil gemilang itu juga kian membuka peluang juara Bundesliga. Hingga detik ini, Leverkusen mempertahankan keunggulan 10 poin di puncak klasemen dari tim raksasa Bayern Munich di urutan kedua dengan menyisakan delapan partai lagi. Leverkusen yang di kompetisi domestik acap di bawah bayang-bayang Bayern Munich dan Borussia Dortmund, terakhir kali mengecap titel juara Bundesliga pada musim 2010/2011. Baca juga: Penantian Partenopei dan Memori Maradona Selebrasi skuad Leverkusen usai menekuk Freiburg, 3-2 ( bayer04.de ) Meski begitu, Xabi Alonso belum jumawa. Eks-pemain bintang Liverpool, Real Madrid, dan Bayern Munich itu berharap para punggawa andalannya takkan “kehabisan bensin” saat comeback dari jeda internasional April mendatang. Terlebih klub berjuluk Die Werkself itu punya kans mengakhiri momentum gemilang musim ini dengan raihan treble . Lepas jeda internasional, April mendatang Leverkusen tinggal menyisakan delapan laga di Bundesliga, melakoni laga semifinal DFB-Pokal, dan perempatfinal Europa League. “Itu yang menjadi perhatian utama saya, bahwa para pemain semuanya bisa kembali fit (usai jeda internasional) dari tim nasional mereka masing-masing tanpa problem. Kami akan menghadapi April yang brutal dan kami akan siap menjalaninya,” tukas Alonso, dilansir Reuters , Senin (18/3/2024). Baca juga: Kisah Klopp dan Liverpool yang Klop Ilustrasi rekor Leverkusen di bawah besutan Xabier 'Xabi' Alonso Olano ( bundesliga.com ) Berawal dari Surat Dari sekian klub sepakbola Jerman, Bayer Leverkusen kondang dengan sejarah yang unik. Kisahnya mirip dengan sejarah klub bulutangkis PB Djarum di Indonesia. Leverkusen lahir 120 tahun lampau juga berawal dari keinginan para pekerja pabriknya agar hobi olahraga mereka diwadahi dan disponsori perusahaan industri kimia tempat mereka bekerja, Friedrich Bayer and Co. (kini Bayer AG). “Sejak lama Leverkusen dianggap (tim) aneh karena mereka satu dari sedikit klub Jerman yang terkoneksi secara langsung dengan perusahaan komersial,” tulis jurnalis olahraga senior Ulrich ‘Uli’ Hesse dalam Tor! The Story of German Football. Kisahnya, lanjut Hesse, berawal dari sebuah surat berisi petisi yang dibuat Wilhelm Hauschild, pekerja yang juga mantan sekretaris perkumpulan olahraga Wuppertal Gymnastics Association. Surat itu berisi tuntutan agar pihak perusahaan mau mensponsori perkumpulan olahraga bagi para buruhnya. Setelah ditandatangani 170 rekan pekerja, Hauschild mengirimkannya kepada dewan direksi Friedrich Bayer and Co. medio Februari 1903. Namun butuh waktu hingga 1 Juli 1904 pihak perusahaan menyetujuinya hingga berdirilah Turn- und Spielverein (TuS) Bayer 04 Leverkusen. Meski perkumpulan ini mewadahi berbagai cabang olahraga, tanggal tersebut –1 Juli 1904– kelak diakui sebagai momen kelahiran Bayern Leverkusen di kota Leverkusen, negara bagian Nordrhein-Westfalen. Baca juga: Sevilla Jawara Sepakbola dari Andalusia Tim Sportvereinigung Bayern 04 Leverkusen pada 1907 ( bayer04.de ) Menilik laman resmi klub , departemen sepakbola di internal TuS Leverkusen baru eksis pada 31 Mei 1907, usai rapat 23 pemain dan empat pendukungnya di Restoran Wiesdorfer Hof. Pada 8 Juni 1928, klub sepakbolanya baru benar-benar memisahkan diri dari TuS Leverkusen dengan menyandang nama Sportvereinigung Bayern 04 Leverkusen (SV Bayer 04). “Fakta bahwa SV Bayer 04 tetap disokong perusahaan swasta menjadi buah bibir di kalangan tradisionalis. Awalnya karena mereka menyebut diri mereka sebagai Bayer 04 dan sebutan itu terus melekat. Kelak baru pada 1980-an mereka mulai dikenal sebagai Bayer Leverkusen,” sambung Hesse. Sebagai Werkself atau “Tim Pabrik”, SV Bayer 04 mulai ikut kompetisi kompetitif pada 1930 di kasta keempat atau liga Distrik Köln. Basis suporternya juga dipupuk dari kalangan sesama pekerja pabrik dengan markas pertamanya di Lapangan Dhünnaue di Leverkusen-Wiesdorf. Sebagaimana diuraikan dalam laman resmi klub , perubahan nama sempat terjadi kala Perang Dunia II (PD II), yakni menjadi Betriebssportgemeinschaft der I.G. Farbenindustrie AG. Itu terkait dengan merger Bayer AG dengan beberapa perusahaan lain sejak 1925 untuk membentuk industri besar IG Farben. Baru pada Januari 1943, “identitasnya” dikembalikan menjadi SV Bayer 04 lagi. Saat PD II pula kompetisi sepakbola terhenti. Sejumlah pemain Bayer lalu “dikaryakan” ke unit-unit meriam antipesawat meskipun mereka masih melakoni laga-laga persahabatan dan hiburan dengan tim lain. Baca juga: Sejarah di Balik Dongeng Tim Pasukan Rubah Skuad SV Bayer 04 era 1930-an ( bayer04.de ) Kutukan Neverkusen? Sejurus bergantinya penyebutan menjadi TSV Bayer Leverkusen e.V pada 1980-an setelah reunifikasi manajemen dengan perkumpulan olahraganya, klub mulai banyak berbicara soal prestasi. Uniknya, gelar pertama Leverkusen diraih di kompetisi Eropa, yakni UEFA Cup (kini UEFA Europa League) musim 1987/1988. Pada awal 1990-an pasca-reunifikasi Jerman, Leverkusen makin memupuk reputasi dari tim medioker menjadi salah satu penantang gelar juara karena sukses merekrut beberapa pemain bintang eks-Jerman Timur: Ulf Kirsten, Andreas Thom, dan Jens Melzig. Mereka bergabung bersama sejumlah punggawa andalan, seperti Cha Du-ri, Bernd Schuster, dan Rudi Völler. “Di era itu prestasi Leverkusen memang belum melimpah karena baru pada UEFA Cup (1988) mereka mengukir gelar pertama bagi klub dan kemudian German FA Cup (DFB-Pokal, red) pada 1993. Akan tetapi Leverkusen terus menjadi bagian vital dari bisnis perusahaan dan pada masa itu menjadi satu-satunya tim Bundesliga yang nama pemilik (perusahaan) terintegrasi di dalam tim,” tulis Gary Armstrong dalam Football Cultures and Identities. Di musim 2001/2002, Leverkusen jadi salah satu penantang gelar Bundesliga, memijak final DFB-Pokal, sekaligus partai puncak Liga Champions. Kala itu diperkuat pemain-pemain mentereng seperti Hans-Jörg Butt, Michael Ballack, Carsten Ramelow, Bernd Schneider, dan Oliver Neuville. Baca juga: Dua Kaki Andreas Brehme Tetapi sialnya, di akhir musim Leverkusen mesti gigit hari lantaran lemari gelar mereka tak satupun bertambah koleksi trofi. Selain pasrah menjadi runner-up Bundesliga, Leverkusen keok 2-4 dari Schalke 04 di final DFB-Pokal dan dibekap 1-2 oleh Real Madrid di final Liga Champions. Hasil itu kemudian melahirkan ejekan dari media-media dan publik sepakbola Jerman: Neverkusen . Lema itu merupakan plesetan dari Vizekusen alias Leverkusen tim spesialis juara dua. “Sebutlah Bayer Leverkusen Sisyphus -nya sepakbola Jerman. Ibarat mitos Yunani yang tamat di hadapan batu besar menjelang puncak gunung di Hades. Leverkusen dihabisi tiga batu besar di punggung gunung hanya dalam periode 12 hari di musim semi 2002. Selain gagal di DFB-Pokal dan Liga Champions, mereka juga masih belum mampu memenangi gelar Liga Jerman sepanjang sejarah klub,” ungkap Donn Risolo dalam Soccer Stories: Anecdotes, Oddities, Lore, and Amazing Feats. Leverkusen yang harus puas jadi runner-up Liga Champions 2001/2002 (X @bayer04fussball) Kutukan “ Neverkusen ” itu seolah terus melekat seiring sepakbola Jerman didominasi Borussia Dortmund dan Bayern Munich. Leverkusen lagi-lagi sekadar jadi spesialis runner-up DFB-Pokal pada musim 2008/2009 dan 2019/2020, serta juara kedua Bundesliga 2010/2011. Oleh karena itulah musim 2023/2024 ini jadi momentum tersendiri buat Leverkusen untuk mengenyahkan kutukan itu. Terlebih Xabi Alonso menghadirkan transformasi besar bagi klub secara mentalitas dan permainan. Ia mengombinasikan pengalamannya saat masih jadi pemain sebagai pemenang Piala Dunia dan dua kali pemenang Liga Champions plus pengalamannya diasuh banyak pelatih hebat seperti Rafael Benítez (Liverpool), José Mourinho dan Carlo Ancelotti (Real Madrid), Josep ‘Pep’ Guardiola (Bayern Munich), hingga Luis Aragonés dan Vicente del Bosque (timnas Spanyol). “Dari Rafa (Benítez) saya belajar taktik sepakbola tentang penyesuaian permainan. Pep mengajari: ‘mari kita bermain seperti ini dan hasilnya akan tercapai’. Dari Mourinho saya menyoroti kekuatan dan kecerdasannya dalam berkomunikasi. Dari Aragones saya memerhatikan keyakinan dan kemampuan untuk mendefinisikan apa yang Anda inginkan. Del Bosque mengajari saya untuk memberi perhatian pada hal-hal yang semestinya Anda perhatikan,” tukas Alonso, dikutip iNews , 29 Februari 2024. Baca juga: Bill Shankly dalam Kenangan

  • Maqluba Tak Sekadar Hidangan Khas Palestina

    BULAN suci Ramadhan tahun ini begitu berbeda bagi penduduk Palestina, utamanya di Jalur Gaza. Tahun lalu kebahagiaan menjalani bulan puasa begitu terasa dengan segala persiapan dekorasi hingga persiapan kuliner untuk sahur dan berbuka puasa. Tahun ini kebahagiaan itu turut tertimbun di bawah puing-puing kehancuran Gaza. “Bulan suci Ramadhan telah dimulai. Muslim di seluruh dunia berpuasa, menghabiskan waktu bersama keluarga mereka dan mendedikasikan diri mereka untuk beribadah. Namun bagi kami, muslim Gaza, bulan suci ini dipenuhi kesedihan dan duka,” tulis jurnalis Gaza, Eman Alhaj Ali, di kolom Al Jazeera , 11 Maret 2024. Sudah lima bulan Israel meluluhlantakkan Gaza. Lebih dari 30 ribu nyawa warga Palestina melayang. Kelaparan mulai “mewabah”, terutama di Gaza Utara, hingga sejumlah anak-anak mulai menunjukkan tanda-tanda mengalami malnutrisi. Akan tetapi Israel yang didukung Amerika Serikat, Inggris, dan Jerman, peduli setan dengan bulan Ramadhan. Genosida terus mereka lancarkan. Baca juga: Yang Terpendam dalam Lagu "Atouna el Toufoule" Jangankan untuk makanan. Untuk air bersih saja jutaan warga Gaza masih kesulitan. Bantuan yang dijatuhkan via udara juga tidak mencukupi. Bahkan sempat terjadi “Pembantaian Tepung” pada 29 Februari lalu, di mana tentara zionis menembaki warga Gaza yang tengah berebut tepung bantuan yang dijatuhkan dari udara hingga menewaskan 118 orang dan melukai lebih dari 700 lainnya. Itu jelas berbeda dari suasana Ramadhan tahun lalu. Bagaimana segala persiapan maupun aktivitas keluarga, rekan-rekannya, hingga masyarakat Palestina untuk menyambut bulan yang suci bagi umat Islam tahun lalu, masih terkenang dalam ingatan Eman. “Banyak yang membutuhkan baju baru atau pakaian untuk ibadah. Tempat-tempat favoritnya adalah kota tua dan Pasar Tradisional Al-Zawiya. Di sana semua bahan makanan untuk Ramadhan bisa ditemukan: acar asam, kurma terbaik, buah zaitun yang lezat, rempah-rempah yang aromanya semerbak, pasta aprikot kering untuk membuat minuman qamar al-din , buah-buahan kering, hingga beraneka macam jus, di mana yang paling populer adalah (jus) kharoub,” ujarnya. Kondisi kekurangan makanan dan air bersih di Gaza seiring menyambut Ramadhan ( unrwa.org ) Hal serupa juga diungkapkan Salem Sbeta, warga kota Gaza lainnya yang mengungsi di Rafah. Bagi Sbeta dan kebanyakan masyarakat muslim Gaza, momen sahur dan berbuka puasa jadi momen kebersamaan paling dirindukan. Momen di mana mereka bisa menikmati beragam kuliner khas seperti qatayef atau panekuk manis dan molokhia atau semacam sayur dari daun yute. “Biasanya kami semua berkumpul, seluruh keluarga bersama saya. Sebelumnya kami memiliki listrik, air dingin, kulkas, jus-jus. Kami bahkan terbiasa membuat kopi dari biji kopi. Hari ini, seperti yang Anda lihat, tidak ada gas. Kami memasak seadanya dengan api yang bisa membakar tangan kami,” kata Sbeta yang sebelumnya berprofesi sebagai chef, dikutip NBC , 16 Maret 2024. Tetapi di antara kuliner khas Gaza yang paling dirindukan Sbeta, Eman, dan banyak masyarakat lainnya untuk berbuka puasa adalah maqluba –atau kadang disebut maklouba– yang bisa dinikmati banyak orang karena porsinya besar. Hidangan yang kini menjadi hidangan nasional Palestina itu awalnya khas masyarakat Syam atau Levant. “Ada kalanya kami menyiapkan makanan untuk buka puasa. Menjelang senja, segenap lingkungan kami akan dipenuhi oleh aroma berbagai makanan lezat. Dapur di setiap rumah disesaki orang-orang yang bekerja keras menyiapkan banyak makanan: ada molokhia, musakhan (ayam panggang), dan maqlouba (hidangan daging dengan nasi dan sayuran),” sambung Eman. Baca juga: Tabula Rasa yang Menggugah Selera Maqluba untuk Politik Maqluba lazimnya terdiri dari nasi, daging domba atau ayam, kembang kol, kentang, tomat, dan terong yang dimasak bersamaan dalam sebuah panci besar. Saat sudah matang, sebagaimana dikutip Daniel Jacobs dalam The Rough Guide to Jerusalem , pancinya akan dibalik ke wadah saji untuk memperlihatkan nasi dan bahan-bahan lainnya yang tampak bersusun-susun bak keik lapis, sebagaimana makna harfiah kata bahasa Arab maqluba yang berarti terbalik. Maqluba pertamakali disebutkan dalam sebuah buku kompilasi resep dan hidangan, Kitab al-Tabikh (terj. The Book of Dishes ) yang ditulis Muhammad bin Hasan al-Baghdadi pada 1226. Hidangan ini juga jadi salah satu dari sekian menu kuliner yang familiar di beberapa negara sesama wilayah Syam (kini Irak, Palestina, Suriah, Lebanon, Yordania, dan Mesir), seiring interaksi antar-masyarakatnya. Namun, terdapat juga beberapa klaim bahwa maqluba dianggap sebagai hidangan nasional Palestina karena transformasi dari hidangan lain yang diberi nama baru oleh seorang sultan yang memenangi Perang Salib di abad ke-12, Salahuddin al-Ayyubi alias Saladin. Salah satunya seperti yang diungkapkan Rashad Abu Daoud di kolom Arabi 21 , 17 Mei 2019, “Maqluba Salah al-Din”. “Saya mengulik dan meriset hingga menemukan nama ‘Maqlouba’ yang dikenal di masyarakat Yerusalem sebagai ‘Hidangan Kemenangan’ yang diberikan namanya oleh Salahuddin al-Ayyubi ketika ia menaklukkan Yerusalem pada tahun 1187,” tulis Abu Daoud. Baca juga: Pesan Bung Karno dan Rujak Diponegoro Sebelumnya, lanjut Abu Daoud, hidangan itu bernama baitenjaniyeh yang asal katanya dari “ baitenjan ”, yang dalam bahasa Arab artinya terong karena bahan utamanya adalah terong. Sementara, bahan utama maqluba adalah daging domba atau kambing, atau bisa juga daging ayam. “Disebut maklouba (maqluba, red. ) karena artinya ‘terbalik’ dalam bahasa Arab, di mana daging domba atau ayam dan sayurannya diletakkan di bagian bawah dari panci dan kemudian disajikan terbalik di piring sajinya hingga hasilnya nasinya ada di bagian paling bawah dan daging serta sayurannya ada di bagian atas,” imbuhnya. Dari Yerusalem, maqluba menyebar ke seluruh tanah Palestina, lalu Yordania, Lebanon, Suriah, hingga Mesir dengan penyesuaian bahan-bahan di wilayah masing-masing. Oleh karenanya dalam bidang kuliner, maqluba juga acap jadi simbol perlawanan Palestina terhadap pendudukan Israel selain juga buah semangka. Suguhan maqluba di halaman Kompleks Masjid Al-Aqsa (Twitter Nasser Atta) Inisiatif maqluba menjadi simbol perlawanan diprakarsai aktivis Palestina di Yerusalem Hanadi Halawani dalam aksi protes larangan memasuki Masjid Al-Aqsa oleh tentara Israel pada bulan Ramadhan 2015. Saat itu, ia mengorganisir rekan-rekan aktivis dan sekira 50 ribu orang warga Yerusalem untuk berkumpul di Gerbang Bab al-Silsila guna menyantap maqluba bersama-sama saat berbuka puasa untuk menantang tentara pendudukan zionis. Pada Desember 2017, warga Yerusalem juga menggelar santap bersama maqluba setiap hari Minggu di halaman kompleks Masjid Al-Aqsa. Hal itu digelar sebagai bentuk protes setelah Presiden Amerika Donald Trump memindahkan Kedutaan Besar Amerika untuk Israel dari Tel Aviv ke Yerusalem seiring pengakuan Yerusalem sebagai ibukota Israel. “Bagaimana penjajah Zionis dari Polandia, Jerman, Prancis, Inggris, Ethiopia dan negeri-negeri lainnya memahami pentingnya menyajikan hidangan Salahuddin di halaman Masjid Al-Aqsa oleh anak-cucu Salahuddin dan pasukannya yang membebaskan Al-Aqsa 800 tahun lalu? Masyarakat asli Yerusalem tidak hanya mewarisi budayanya tapi juga determinasi untuk membebaskan Al-Aqsa,” tandas Abu Daoud. Baca juga: Angkringan Punya Cerita

  • Setelah Gerard van Daatselaar Ditawan

    SETELAH nyaris empat tahun absen, aktor kawakan Roy Marten dikabarkan kembali “naik layar”. Kali ini ia main bareng dengan Ari Tulang dan Yatti Surachman dalam film horor berjudul Dibalik Pintu. Selain merupakan film pertama Roy setelah Toko Barang Mantan (2020), Dibalik Pintu juga menjadi comeback -nya di genre horor setelah hampir separuh abad. Film horor terakhir Roy, PembalasanGuna-Guna Istri Muda , rilis pada 1978. Roy yang telah main di berbagai genre film itu namun namanya bukan melambung lewat film horor. Sejak terjun ke perfilman pada 1974, Roy lebih banyak membintangi film-film drama percintaan. Genre itulah yang mempopulerkan nama aktor tampan itu. Namun, drama-drama percintaan berbagai film yang dibintangi Roy mungkin tidak sedramatis kisah percintaan Gerard van Daatselaar dan Inem. Keduanya merupakan leluhur Roy. Gerard merupakan pria kelahiran Laren, Belanda pada 3 Maret 1899. Dia kemudian dikirim ke Hindia Belanda sebagai tentara. Sebelum Jepang datang, Gerard van Daatselaar adalah seorang sersan mayor kavaleri di tentara kolonial Koninklijk Nederlandsche Indische Leger (KNIL). Menurut kartu tawanan perang Jepang yang kemudian terhimpun di Arsip Nasional Belanda atas nama dirinya, Gerard punya keluarga di Progoweg 292 Salatiga. Selama di Salatiga, Gerard punya istri bernama Inem, perempuan kelahiran Jawa Tengah tahun1909. Percintaan laki-laki Belanda dengan perempuan Indonesia bukan hal luar biasa di zaman Hindia Belanda. Itu telah menjadi kebiasaan pria Belanda di koloninya sejak berabad-abad silam, sebelum adanya Terusan Suez. Dengan Inem, Gerard punya seorang anak perempuan bernama Johanna Nora van Daatselaar. Putri mereka itu lahir di Salatiga sekitar tahun 1927. Namun, kebahagiaan keluarga Gerard sirna begitu Jepang masuk dan menguasai Jawa pada 1942. Tak hanya menangkapi orang-orang Belanda dan sekutunya, balatentara Dai Nippon juga melarang semua hal berbau Belanda. Gerard sendiri tertangkap di sekitar Salatiga dan menjadi tawanan perang Jepang. Gerard mengalami banyak kemalangan sebagai tawanan perang Jepang. Selain jauh dari keluarganya di Salatiga, Gerard bahkan dibuang sampai ke Sumatra. Gerard dan umumnya tawanan Jepang dalam Perang Dunia II juga kekurangan makan dan kesehatan mereka tidak terjaga sehingga para tawanan perang Jepang umumnya kurus. Akibatnya, di dalam kamp, Gerard jatuh sakit. Dia terkena beri-beri pada 18 September 1944. Beberapa bulan menderita beri-beri, Gerard akhirnya gagal bertahan. Dia meninggal dunia pada 10 Desember 1944 di sanatorium kamp Melayu di Pekanbaru, Riau. Gerard dinyatakan meninggal karena beri-beri dan malaria. Begitu Perang Dunia II akhirnya rampung, makam Gerard pun dipindah. Gerard pernah disemayamkan di Changi, Singapura. Dia akhirnya disemayamkan di Leuwigajah, Jawa Barat. Lama setelah Gerard tutup usia, Inem jandanya pergi ke Belanda. Melalui program naturalisasi, Inem akhirnya menjadi warga negara Belanda. Sementara, Nora putrinya bertahan di Indonesia. Nora dinikahi oleh seorang tentara Republik Indonesia bernama Abdul Salam, yang belakangan mayor TNI. Keluarga multiras dan keyakinan ini tinggal di Salatiga. Perkawinan itu melahirkan beberapa anak, beberapa di antaranya laki-laki. Tiga di antara anak Nora dan Abdul Salam adalah Rudy Sutantio Abdul Salam, Wicaksono Abdul Salam alias Roy Marten, dan Chris Salam. Ketiganya termasuk aktor Indonesia yang sohor di perfilman Indonesia era 1970-an dan 1980-an. Di era 1990-an akhir, Roy dan Rudy Salam masih dikenal di jagat sinetron Indonesia, sementara Chris menjadi pengacara. Putra Roy Marten, Gading Marten, juga terjun ke dunia film meski filmnya tidak sebanyak ayahnya karena perfilman Indonesia sedang sepi. Gading sendiri lebih terkenal sebagai presenter acara. Nama Nora, ibu Roy Marten dan  nenek Gading, akhirnya disematkan pula kepada putri Gading, Gempita Nora Marten. *

  • A Step Forward for Indonesian Women

    A DOZEN women attended the first Boedi Oetomo congress in Yogyakarta on October 3, 1908. Although at that time they didn't have the chance to voice out their opinions, efforts to improve the status of women, especially through education, became one of the proposals of the Batavia branch of Boedi Oetomo.

  • Eric Carmen dan "All By Myself"

    SEBELUM internet diakses banyak orang seperti sekarang, lagu ini kerap diputar di banyak stasiun radio niaga, termasuk di Indonesia. Versi Celine Dion –yang di Indonesia diingat karena menyanyikan sound track film Titanic –lebih dikenal di Indonesia. Selain Celine Dion, Frank Sinatra juga menyanyikan lagu ini. Lagu ini bercerita tentang seseorang yang kesepian ketika masa mudanya mulai berlalu. Sebelumnya dia merasa tak membutuhkan siapa pun dan bercinta baginya hanya bersenang-senang, sampai akhirnya dia merasakan kesepian dan tak satu pun kawannya bisa dihubungi. Begitulah lagu “All By Myself” yang ditulis Eric Carmen lebih dari empat dekade silam. “Saya mendengarkan musik favorit saya yaitu Rachmaninoff. All By Myself memasukkan melodi dari konser piano keduanya sebagai syairnya,” aku Eric Carmen di laman pribadinya, ericcarmen.com/eric/interviews.htm . Baca juga:  Lagu untuk Pattie Boyd “All By Myself” dirilis awal bulan Desember 1975 di bawah lebel Arista. Kendati waktu peluncurannya berbarengan dengan musim lagu bertema Natal berkumandang, tak butuh waktu lama lagu tersebut menjadi juara di beberapa tangga lagu pop. Kurang dari dua minggu lagu itu sudah didengar banyak orang. “All By Myself” pernah berada di urutan ke-2 tangga lagu Billboard Hot 100, juga nomor 1 Top 100 Singles Cash Box serta nomor 3 di tangga lagu Kanada. Berkat “All By Myself”, yang menunjukkan kepiawaiannya bermain piano klasik, album Eric Carmen terjual jutaan copy. “All By Myself” merupakan single perdana Eric Carmen sebagai penyanyi solo. Kala itu dia baru saja keluar dari Raspberries. Band ini mempopulerkan “Go All The Way”, lagu yang ditulis Eric ketika masih 21 tahun. Di band tersebut, Eric bermain gitar, piano, dan bernyanyi. Eric Carmen lahir dari keluarga imigran Yahudi-Rusia pada 11 Agustus 1949 di Cleveland, Ohio. Di Negara bagian itu pula dia belajar musik dan mulai main di beberapa band sebelum masuk Raspberries. Baca juga:  Aretha Franklin dan Hegemoni Maskulinitas Musik Rock Eric adalah lelaki putus sekolah pada usia 6 tahun namun pada usia 11 tahun dia mendalami piano klasik di sebuah institut musik di Ohio. Eric menjadi pendengar musik pop macam The Beatles sejak 15 tahun. Setelahnya dia belajar main gitar lalu bermain band. Selain Beatles, Eric juga memperhatikan lagu-lagu Beach Boys dan Byrds. Brian Wilson, otak dari lagu-lagu Beach Boys, adalah “guru” dalam membuat lagu bagi Eric. “Brian memperkenalkan saya pada ide untuk menulis jembatan untuk sebuah lagu yang sebenarnya tidak ada hubungannya dengan bait dan refrainnya,” aku Eric, yang ketika menulis lagu berusaha memilah bagian-bagian menarik yang ingin didengar orang. Baca juga:  Cerita di Balik Lagu Jingle Bells Setelah “All by Myself” sukses, Eric terus berkiprah di dunia rekaman. Sekitar satu dekade setelah “All by Myself” dirilis, Eric diminta John Kalodner untuk membuat lagu lagi. "Tulislah lagu Go All The Way lagi untukku,” kata John. "John, saat menulis lagu itu, aku berusia 21 tahun, dan itu mungkin bisa dipercaya saat itu. Tapi saya tidak bisa membayangkan bagaimana di usia 35 tahun saya bisa menulis lagu dengan pendekatan remaja seperti itu," kata Eric. “Kamu bisa melakukannya.” Eric melakukannya. John menyarankan dengan kord yang berbeda dari “Go All The Way”. Namun, Eric malah memakai kord yang sama. Maka lahirlah “You Took Me All The Way”. Antara “You Took Me All The Way” dengan “Go All The Way” ada kemiripan. John menyukainya. Lagu itu pun dirilis. Kini, nyaris 40 tahun usia lagu itu. Tentu usia si penulisnya lebih tua. Kemarin, 11 Maret 2024, Eric Carmen meninggal dunia dalam tidurnya pada usianya 74 tahun.*

  • Seputar Deklarasi Balfour

    SOSOK berkumis putih dan rambut berwarna senada itu duduk dengan bangganya sembari memegang sebuah buku besar di pangkuannya. Penampakannya begitu parlente dengan setelah jas hitam dan jubah merah darah. Dialah Lord Arthur James Balfour yang diabadikan dengan cat minyak di atas kanvas berdimensi 184 x 143 centimeter oleh pelukis Yahudi asal Hungaria, Philip Alexius de László. Karya László bertajuk “Arthur James Balfour, 1st Earl of Balfour, KG, OM, PC, Prime Minister and Philosopher” dari tahun 1914 itu sebelumnya terpampang di dinding Trinity College di kompleks Universitas Cambridge, Inggris. Akan tetapi pekan lalu, 8 Maret 2024, menjadi sasaran vandalisme. Lukisan potret Lord Balfour itu dirusak dengan cat semprot merah dan disobek dengan benda tajam oleh salah satu aktivis pro-Palestina dari kelompok Palestine Action. Aksi mereka, kata laman mereka pada tanggal yang sama, didorong oleh serangkaian genosida yang dilakukan Israel sejak Oktober 2023 yang hingga lebih dari 150 hari menewaskan sekitar 30 ribu warga Palestina di Jalur Gaza dan Tepi Barat. Baca juga: Kanvas Kehidupan Fathi Ghaben, Maestro dari Jalur Gaza Lukisan Balfour disasar karena dianggap tokoh itu berperan besar dalam memberi karpet merah bagi berdirinya negara zionis Israel lewat Deklarasi Balfour pada 1917. Mereka juga memprotes karena pemerintah Inggris terus memberi lampu hijau bagi supplier senjata Inggris, Elbit Systems, untuk terus menyuplai senjata pada Israel sekaligus menjadikan warga Palestina sebagai korban percobaan senjata baru mereka. “Arthur Balfour yang saat itu menteri luar negeri (Inggris) mengeluarkan deklarasi yang menjanjikan pembentukan tanah nasional bagi orang Yahudi di Palestina, di mana mayoritas penduduk aslinya bukanlah Yahudi. Ia memberikan tanah Palestina, tanah yang tak semestinya ia serahkan. Sementara Inggris ikut membakar desa-desa penduduk asli, melakukan pembunuhan, penyiksaan, hingga pembersihan etnis demi memenuhi janjinya kepada kaum zionis,” bunyi potongan pernyataan mereka di laman resminya , 8 Maret 2024. Lukisan Lord Balfour karya László yang menjadi sasaran vandalisme ( palestineaction.org ) Di Balik Deklarasi Balfour Di atas secarik kertas dengan kop surat “Foreign Office” (Kementerian Luar Negeri Inggris) itu, tertulis surat deklarasi dengan mesin ketik tertanggal 2 November 1917. Dari kalimat pembukanya begitu terang bahwa surat itu ditujukan kepada pemimpin komunitas Yahudi Inggris, Lord Walter Rothschild, sebagai bentuk simpati dan dukungan formal terhadap aspirasi zionis. “Pemerintah kerajaan mendukung pembentukan di Palestina sebuah rumah (tanah, red) nasional untuk orang-orang Yahudi, dan akan memberikan upaya terbaiknya untuk memfasilitasi pencapaian tujuan ini, sudah menjadi jelas untuk dimengerti bahwa tidak akan ada hal yang dilakukan yang menimbulkan prasangka terhadap hak beragama komunitas non-Yahudi yang ada di Palestina, atau hak dan status politik orang Yahudi di negeri lain,” bunyi inti surat deklarasi itu yang ditutup dengan tanda tangan Lord Balfour. Surat yang kemudian dikenal sebagai Deklarasi Balfour itu menjadi dasar para penyokong zionisme seperti Chaim Weizmann si Presiden Organisasi Yahudi Dunia atau Keluarga Rothschild mendirikan fondasi negara zionis Israel, kendati baru terwujud pada 1948. Deklarasi Balfour juga menjadi milestone tersendiri dalam dukungan Inggris terhadap eksistensi komunitas Yahudi di tanah Palestina sejak 1840-an yang diawali inisiatif Menlu Inggris Lord Henry Palmerston. Baca juga: Theodor Herzl, Orang di Balik Negeri Zionis Semasa Perang Dunia I (1914-1918), Weizmann turut mendukung upaya Inggris berperang melawan Kesultanan Turki Utsmaniyah yang kebetulan sudah empat abad menguasai tanah Palestina dan Mesir. Melalui anggota kabinet Inggris yang juga simpatisan sekular Yahudi, Herbert Samuel, keluarlah memorandum “The Future of Palestine” pada Februari 1915 sebagai dukungan awal gerakan zionisme. “Lalu pada Perjanjian (Rahasia) Sykes-Picot yang digagas diplomat Prancis dan Inggris, Mark Sykes dan François George-Picot pada 1916, di mana perjanjiannya berisi pemisahan wilayah Arab ke pemerintahan kolonial Inggris dan Prancis apabila mengalahkan Turki Utsmaniyah dalam Perang Dunia I,” tulis Fred John Khouri dalam The Arab-Israel Dilemma. Pada Februari 1917, kelompok gerakan zionis mulai melancarkan negosiasi-negosiasi yang lebih formal dengan pemerintah Inggris. Pasalnya, masih terdapat beberapa penolakan terhadap tuntutan-tuntutan kaum zionis dari pihak Amerika, Prancis, dan Italia. Akan tetapi Inggris bersikeras mendukung zionisme. Hingga keluarlah Deklarasi Balfour yang dirumuskan bersama oleh Lord Balfour, Lord Rothschild, dan Weizmann, di mana sepekan kemudian deklarasi itu mulai dipublikasikan kepada media-media massa Inggris. Salinan Deklarasi Balfour (kiri) & pemimpin komunitas Yahudi Inggris, Lord Lionel Walter Rothschild Sejumlah reaksi dari berbagai pihak pun mengudara. Terutama setelah terjadi palagan-palagan menentukan di front Palestina Selatan yang dimenangi Inggris, seperti Pertempuran Beersheba (31 Oktober 1917), Pertempuran El Mughar (13 November 1917), dan Pertempuran Yerusalem (17 November-30 Desember 1917). “Pemerintah Inggris, termasuk (Menteri Perang, Winston) Churchill menegaskan bahwa deklarasi itu tidak berniat mengubah segenap (tanah) Palestina menjadi tanah nasional Yahudi melainkan sebuah rumah nasional yang dibentuk di dalam Palestina. Emir Faisal, Raja Suriah dan Irak membuat kesepakatan tertulis dengan Weizmann, di mana mereka akan berupaya menjalin sebuah hubungan damai antara masyarakat Arab dan Yahudi di Palestina,” ungkap Jay Sekulow dalam Unholy Alliance: The Agenda Iran, Russia, and Jihadists Share for Conquering the World. Sementara itu, komunitas Muslim dan Kristiani lokal menolak Deklarasi Balfour, terlepas kemudian tanah Palestina dikuasai Inggris lewat Pemerintahan Mandat Palestina. Saat massa Komisi Zionis menggelar parade dalam rangka perayaan setahun Deklarasi Balfour dengan mengusung panji putih berikut simbol Bintang Daud berwarna biru, Musa al-Husayni yang mewakili delegasi Asosiasi Muslim-Kristiani memprotes deklarasi itu kepada sejumlah komisioner pemerintahan mandat dan gubernur militer Roland Storrs. “Kemarin kami menyaksikan massa Yahudi mengusung spanduk-spanduk di jalan-jalan yang menyakiti hati dan jiwa. Mereka mengklaim bahwa Tanah Suci leluhur kami yang didiami bangsa Arab selama berabad-abad dan mempertahankannya dengan nyawa, sekarang diakui sebagai rumah nasional mereka. Kami bangsa Arab, baik muslim dan Kristiani selalu bersimpati atas persekusi yang dialami orang-orang Yahudi di banyak negara tapi ada perbedaan antara simpati dan menerima klaim tanah nasional mereka,” bunyi protes Al-Husayni, dikutip Bernard Wasserstein dalam The British in Palestine: The Mandatory Government and Arab-Jewish Conflict, 1917-1929. Baca juga: Pangeran William, Putri Diana, dan Palestina Dari sejumlah protes dan reaksi negatif terhadap deklarasi itu, pemerintah Inggris akhirnya membentuk Komisi Palin untuk Persoalan Palestina pada Mei 1920 yang dipimpin Mayjen Sir Philip Palin. Komisi itu mencatat sejumlah keresahan penduduk Arab di Palestina terhadap arogansi dan provokasi-provokasi para pendatang Yahudi dari Eropa. Namun, rangkuman laporannya pada Agustus 1920 tak pernah dipublikasikan. Terlepas beragam konflik pendatang Yahudi dengan masyarakat Arab yang kemudian terjadi dan hingga Perang Dunia II pecah, “tujuan” Deklarasi Balfour akhirnya tercapai. Dua tahun pascaperang, Inggris menyerahkan pemerintahan mandat Palestina kepada Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). Pada sidang Majelis Umumnya bulan November 1947, PBB menghendaki tanah Palestina dibagi menjadi dua negara: untuk bangsa Arab Palestina dan para imigran Yahudi. Namun pada pada 14 Mei 1948, David Ben-Gurion mendeklarasikan berdirinya negara Israel secara sepihak. Langkah tersebut didukung dan diakui Amerika Serikat dan Uni Soviet. Ketika Liga Arab menolaknya, pecahlah Perang Arab-Israel (15 Mei 1948-10 Maret 1949). Seiring itu pula tanggal 15 Mei dikenal sebagai permulaan Hari Nakba, di mana ratusan ribu penduduk Palestina terusir dari tanah tempat tinggal mereka. Menurut Benny Morris dalam Israel’s Border Wars, 1949-1956: Arab Infiltration, Israel Retaliation, and the Countdown to the Suez War , di hari pertama saja, 15 Mei, sebanyak 250-300 ribu orang Arab-Palestina harus terusir ke Mesir, Lebanon, Suriah, dan Yordania. Sejak saat itu pula, tanah Palestina dijajah Israel dan terus diduduki meski kemudian negara Palestina mendeklarasikan kemerdekaannya pada 15 November 1988. Baca juga: Di Balik Kabut Deklarasi Kemerdekaan Palestina

  • Gaji Presiden Republik Indonesia

    Mulai dari Sukarno hingga Joko Widodo, berapa gaji para Presiden Republik Indonesia?

  • The 1947 Tambun Angke Massacre

    THE elderly woman spoke in a sorrowful tone. With a soft and trembling voice, she recounted a massacre that happened back then in her village, Tambun Sungai Angke. Around 70 years ago, in an area that is now known as Pahlawan Setia Village (situated in Tarumajaya District, Bekasi Regency), death claimed the lives of dozens of its residents. "Including Kopang, my mamang (uncle) who was a community leader here," said Gerot, one of the elderly residents.

  • Kombatan Minahasa dalam Serangan Umum

    Demi masa depan, Herman Nicolaas Sumual alias Ventje Sumual rela meninggalkan kenyamanan hidup dan berpisah dari keluarga serta jauh dari kampung halamannya. Kampung halamannya adalah Minahasa, dearah di utara Sulawesi yang tanahnya subur. Selain menjamin kebutuhan pangan, tanah subur membuat orang-orang Minahasa makmur. Namun, makan bukan satu-satunya kebutuhan pemuda Minahasa. Sejak lama kebanyakan orang Minahasa sadar bahwa dunia itu luas dan bukan cuma kampung halaman mereka saja. Orang Minahasa, menurut Roger Allan Kembuan, pengajar sejarah Universitas Sam Ratulangie, ingin sekali "melihat dunia dan mencari nama." “Bolah kalah nasi tapi tidak boleh kalah aksi,” ujar Roger menyebut istilah yang umum dalam diri orang Minahasa yang berarti “Boleh lapar tapi tak boleh berdiam diri saja.” Pandangan hidup itu mendorong mereka untuk merantau dan menyebar ke banyak tempat, bahkan hingga ke benua lain seperti Eropa dan juga Amerika. Selain bersekolah, salah satu jalan merantau adalah menjadi tentara kolonial Koninklijk Nederlandsch Indische Leger (KNIL). Kesempatan itulah yang terbuka bagi mereka, sama seperti terbuka kepada orang-orang Ambon, Jawa dan etnis-etnis lain. Ventje, yang merupakan anak seorang guru, memilih masuk Sekolah Pelayaran di Makassar yang dikelola militer Jepang. Namun suatu ketika setelah bertugas di kapal, dia memukul seorang Jepang dan kabur dari kapal. Dia akhirnya terdampar di Jakarta. Dia sering berkumpul dengan pemuda Minahasa lain di sana dan terus menjalani hidup hingga menemukan jatidirinya. Banyak orang Minahasa di Jakarta dan berbagai tempat merupakan keturunan serdadu KNIL. Banyak serdadu KNIL asal Minahasa dahulu yang menikahi gadis di tempat tugas kemudian beranak-pinak dan beberapa keturunannya hidup tanah rantau. Waktu zaman berubah di tahun 1945, banyak orang Minahasa yang berdiri di belakang Republik Indonesia (RI). Meski ada orang Minahasa yang dicelakai sebagian pemuda yang mengaku pendukung RI hanya karena dicurigai berpihak kepada Belanda, tetap banyak orang Minahasa setia kepada RI. Badan perjuangan bernama Kesatuan Rakjat Indonesia Sulawesi (KRIS) salah satu buktinya. Banyak pemuda Minahasa, karena latar belakang keluarga atau pengalaman militer sendirinya sebelum 1945, kemudian menjadi militer RI yang dianggap cakap. "Kebanyakan mereka anak-anak kolong," ujar Roger Kembuan. Anak kolong adalah sebutan untuk anak-anak serdadu bawahan yang masa kecilnya mengalami hidup di tangsi militer dan berpindah mengikuti ayah mereka. Ada masa orang Minahasa dianggap orang Ambon juga. Bahkan anak Minahasa bersama anak Ambon boleh belajar di Ambonsche School, sebuah sekolah yang dekat dengan dunia tangsi. Tentu saja banyak pemuda Minahasa macam Ventje namun dengan pengalaman berbeda. Ada Jacob Frederik Warouw yang pernah menjadi serdadu zeni KNIL bagian lampu sorot. Ketika Pertempuran 10 November 1945 pecah di Surabaya, dia ikut terjun dengan memimpin orang-orang Minahasa. Lalu, ada Adolf Lembong yang sempat jadi KNIL dan menjadi tawanan perang ketika Hindia Belanda kalah. Waktu jadi pembantu tentara di Filipina, Lembong kabur dari “cengkeraman” Jepang dan bersama orang Filipina dan Amerika di Pulau Luzon bergerilya melawan Jepang. Gustaaf Kamagi lain lagi ceritanya. Dia pernah belajar di sekolah yang sama dengan Soeharto di Gombong. Kamagi adalah anggota KNIL yang berperang melawan tentara Jepang di Timor. Dia sempat dilatih sebagai pasukan komando di Australia sebelum dikirim pada misi-misi di Papua. Setelah Perang Dunia II selesai, Kamagi memimpin pemberontakan serdadu KNIL di Australia. Juga ada pemuda bekas calon perwira AL Belanda bernama Hein Wurangian di Surabaya. Sambil menanti ayahnya pulang, dia ikut berjuang di pihak RI. Banyak pemuda Minahasa pada 1948 berada di Yogyakarta. Di antaranya tentara dari Brigade XII, yang kebanyakan mantan KRIS. Warouw dan Lembong pernah menjadi komandannya, serta Ventje Sumual pernah menjadi kepala stafnya. Setelah Agresi Militer Belanda II, 19 Desember 1948, brigade tersebut tersebar. Ada yang di Jawa Timur di bawah Letnan Kolonel Warouw dan di sekitar Yogyakarta ada Mayor Vintje Sumual. Bahkan ada sebuah sektor TNI di sisi barat Yogyakarta yang disebut Sektor Ventje Sumual, meski dirinya bukan satu-satunya mayor yang memimpin di sana. Soeharto, yang menjadi komandan Brigade Mataram, pernah mengunjungi sektor tersebut sekitar akhir Februari 1948. “Malam itu saya bergerak ke barat, menyusun sektor di daerah itu. Yang ada di sana waktu itu Mayor Ventje Sumual. Maka saya tunjuk dia menjadi pimpinan di sektor barat dengan tugas menghimpun, mengkonsolidasi semua pasukan yang bersenjata di daerahnya,” kenang Soeharto dalam Soeharto, Pikiran Ucapan dan Tindakan Saya . Persiapan dilakukan anak buah Sumual dengan melakukan pengintaian dan mempersiapkan diri dalam rangka melakukan penghadangan tentara Belanda di sana. Ventje ditugasi memimpin serangan dari sektor barat, atau dari arah Godean. Sektor yang dipimpin Ventje itu kemudian ketambahan kekuatan dari anak buah Soeharto yang lain, yakni Kompi 100 yang dipimpin Kapten Abdul Latief. Pasukan ini sebelumnya berada di sisi selatan lalu bersusah payah pindah ke sisi barat. “Dari tempat itulah Serangan Umum 1 Maret 1949 saya mulai dan tinggal melewati Sungai Kalinongo dalam waktu 25 menit sudah sampai di Malioboro,” aku Abdul Latief dalam manuskripnya yang tak diterbitkan, “Riwayat Hidup Singkat dalam Usaha Merebut Kemerdekaan dari Tangan Penjajah serta Pengabdian terhadap Negara, Bangsa dan Tanah Air Indonesia. Selama di sektor itu, pasukan Latief bersama pasukan Kapten Fritz Rondonuwu. Selain pasukan dari orang-orang Minahasa, ada pula pasukan yang perwiranya berasal dari Sulawesi Selatan, yakni Mayor Andi Mattalata. Serangan 1 Maret 1949 yang melibatkan pejuang dari luar Jawa itu sukses menguasai kota Yogyarta selama 6 jam dan secara diplomasi, sukses membuktikan eksistensi republik. Kehadiran para kombatan asal Minahasa menegaskan bahwa perjuangan merebut Yogyakarta bukan perjuangan orang Jawa tengah semata, tapi juga orang-orang dari daerah lain.

  • Peringatan Hari Perempuan Sedunia di Indonesia Era Masa Lalu

    Perempuan selalu disubordinasi dalam kehidupannya. Lahirnya hari perempuan sedunia ini, menjadi perayaan oleh perempuan untuk menyuarakan keresahannya.

bg-gray.jpg
Tedy masuk militer karena pamannya yang mantan militer Belanda. Karier Tedy di TNI terus menanjak.
bg-gray.jpg
Pemilihan Augustine Magdalena “Tiene” Waworuntu sebagai walikota Manado menjadikannya walikota perempuan pertama pasca pembubaran RIS. Pemilihannya menimbulkan polemik daerah-pusat, hingga menyeret militer.
bg-gray.jpg
Dua anggota legiun Mangkunegaran ikut serta gerakan anti-Belanda. Berujung pembuangan.
bg-gray.jpg
Rumah Sakit Bethesda Yogyakarta merupakan buah kasih dokter misionaris Belanda bernama J.G. Scheurer yang dijuluki Dokter Tolong.
bg-gray.jpg
Rumah yang pernah digunakan untuk mendidik kesadaran politik rakyat. Kini sepi pengunjung.
bottom of page