top of page

Hasil pencarian

Cari di situs ini

10059 hasil ditemukan dengan pencarian kosong

  • A Javanese in the French Foreign Legion

    IN the early 1920s, Semarang was known as a "red city", referring to the prominence of communism in the city. Situated in Central Java, the city housed many laborers and migrants coming from various regions in Java.

  • Revisiting the Narrative of "Flowers of Japan"

    THE Surabaya City Government has reopened Kya-Kya as a night culinary tourism area on Jalan Kembang Jepun (Flowers of Japan Street)in Surabaya, East Java. The reopening was also part of an effort to revitalize the Kembang Jepun area, which is rich in cultural heritage buildings. It is quite unfortunate that this area with exotic old buildings is left deserted at night despite its historical value and high economic value if managed properly. A good example of this is Malaysia’s Penang Island government, who has successfully transformed their old town area into a UNESCO heritage site that is popular worldwide and becomes a magnet for tourists.

  • Lembaga Survei Terkenal Salah Memprediksi Pilpres AS

    FOTO Harry S. Truman tersenyum lebar sembari memegang surat kabar Chicago Daily Tribune mencuri perhatian publik dan menjadi berita hangat di Amerika Serikat pada 1948. Foto itu viral karena tajuk utama surat kabar tersebut menuliskan “Dewey Mengalahkan Truman”. Padahal, hasil pemungutan suara pemilihan presiden AS, kandidat presiden dari Partai Demokrat itu mengalahkan Thomas Edmund Dewey dari Partai Republik. Tak hanya merusak reputasi Chicago Daily Tribune , kemenangan Truman juga mencoreng kredibilitas lembaga-lembaga survei ternama. Tiga lembaga survei, Crossley, Gallup, dan Roper, melakukan jajak pendapat nasional selama masa kampanye pada musim panas 1948. Hasilnya Dewey unggul atas Truman dengan selisih cukup jauh. Konsultan politik Dennis W. Johnson menulis dalam Democracy for Hire: A History of American Political Consulting , Crossley memperkirakan petahana akan mendapatkan suara 44,8%, Gallup 44,5%, dan Roper 37,1%. “Di sisi lain, ketiga jajak pendapat tersebut melebihkan suara populer Dewey (45,1%) masing-masing sebesar 4,8%, 4,4%, dan 7,1%,” tulis Johnson. Baca juga:  Awal Mula Lembaga Survei dan Jajak Pendapat Politik Tingginya elektabilitas Dewey dalam survei opini publik bahkan membuat Elmo Roper, salah satu pelopor di bidang riset pasar dan analisis opini publik, menyebut jajak pendapat lanjutan menjelang hari pemungutan suara tak perlu lagi dilakukan karena Dewey sudah pasti akan memenangkan pilpres. Roper juga mengatakan besarnya peluang Dewey untuk menang membuatnya tak dapat memikirkan hal lain yang lebih membosankan atau membodohi intelektual daripada bertindak seperti penyiar olahraga yang merasa harus berpura-pura menyaksikan perlombaan yang sangat ketat. “Pernyataan Roper memiliki arti khusus: ia telah menjadi lembaga survei yang paling akurat dari jajak pendapat utama pada tahun 1936, 1940, dan 1944, dan kini dia mengatakan kepada dunia bahwa jajak pendapat lebih lanjut tidak diperlukan lagi,” tulis Johnson. Kepercayaan diri Roper tentu beralasan. Survei Roper selama Pilpres 1940 dan 1944 terbukti paling akurat di antara lembaga-lembaga survei lain. Berdasarkan hal itu pula selama Perang Dunia II, Roper direkrut oleh William (Wild Bill) Donovan untuk menjadi wakil direktur Office of Strategic Services (OSS), yang ditugaskan mencari rekrutan terbaik untuk badan intelijen baru. Roper kemudian menjadi orang yang menghasilkan “dolar per tahun” untuk Kantor Informasi Perang, Kantor Manajemen Produksi, Angkatan Darat, dan Angkatan Laut, mensurvei masyarakat tentang isu-isu masa perang dan transisi menuju ekonomi masa damai. Setelah Perang Dunia II, Roper bekerja sama dengan George Gallup mendirikan Roper Center di William College. Baca juga:  Kennedy vs Nixon dan Awal Debat Calon Presiden di Televisi Melihat sepak terjang Roper, Gallup, dan Crossley dalam analisis opini publik, tak mengherankan bila masyarakat menjadikan hasil jajak pendapat ketiga lembaga survei itu sebagai acuan memprediksi pemenang Pilpres AS 1948. Sementara itu, menurut Mervin D. Field dalam “Political Opinion Polling in the United States of America”, yang termuat di Political Opinion Polling: An International Review publik telah dikondisikan oleh jajak pendapat untuk mengharapkan kemenangan Dewey dan hanya sedikit orang yang secara terbuka memberi Truman kesempatan untuk menang. “Sebagai contoh, sebuah surat kabar yang cukup dikenal luas, Kiplinger Letter , merasa cukup percaya diri untuk mencetak puluhan ribu eksemplar edisi baru sebelum hari pemungutan suara dengan sampul depan yang menggambarkan jenis pemerintahan seperti apa yang akan dipimpin oleh Dewey pada periode 1948–52,” tulis pendiri California Poll yang kemudian disebut The Field Poll itu. Tak hanya Kiplinger Letter , Chicago Tribune yang dikenal pro-Republik juga mencetak edisi malam pemilu yang menampilkan berita utama di halaman depan berjudul “Dewey Menang”. Publikasi itu menyebabkan banyak komentator radio tidak percaya dengan apa yang diberitakan karena pemungutan suara berlangsung ketat dan Truman memiliki peluang yang sama besar dengan Dewey untuk menang. “Sepanjang malam pemungutan suara, para komentator itu menyampaikan laporan mereka dengan kata-kata penyemangat seperti ‘ketika semua surat suara telah dihitung, kemungkinan besar Dewey akan menang’,” tulis Field. Baca juga:  Soeharto Nomor Tiga, Lembaga Survei Ditutup Faktanya, menurut Robert Shogan, jurnalis AS yang menulis Harry Truman and the Struggle for Racial Justice ,Truman justru keluar sebagai pemenang Pilpres AS 1948. Ia meraih suara sebesar 49,5% berbanding 45,21% untuk Dewey, dengan Thurmond dan Wallace masing-masing meraih suara sedikit di atas 2 persen. Selain itu, Truman juga sukses memenangkan electoral college dengan 303 suara, sedangkan Dewey mendapatkan 189, Thurmond 39, dan Wallace nol. Tak seperti yang digembar-gemborkan oleh tiga lembaga survei terkemuka, Crossley, Gallup dan Roper bahwa Dewey akan menang dengan mudah dari para pesaingnya, pemungutan suara Pilpres 1948 justru berlangsung sengit bagi Truman dan Dewey. Kisah menarik mengenai kesalahan Chicago Tribune diceritakan Mark Pack, pengarang yang juga politisi berkebangsaan Inggris, dalam bukunya Polling UnPacked: The History, Uses and Abuses of Political Opinion Polls . Ia mengisahkan, pada pukul 3 pagi, ketika surat kabar itu menyadari kesalahannya, para staf bergegas keluar untuk membeli semua salinan surat kabar yang bisa mereka temukan dari edisi dengan halaman depan yang memalukan tersebut. Dalam sebuah cerita yang mungkin apokrif (diragukan, red .), berita utama itu menjadi terkenal karena sebuah surat kabar saingan mengirimkan seseorang ke kantor Chicago Tribune dan mengambil salinan edisi yang kontroversial itu dari sana, di mana staf Tribune lupa menyingkirkannya. Tetapi karena banyak salinan lainnya yang telah terjual pada saat itu, hal ini mungkin lebih merupakan cerita yang menarik daripada kebenarannya. Baca juga:  Soeharto Nomor Tiga, Mendagri Murka pada Lembaga Survei Kritik dan cemoohan pun diarahkan pada sejumlah surat kabar dan lembaga-lembaga survei yang salah memprediksi hasil Pilpres AS 1948. Hasil jajak pendapat yang meleset itu menjadi bahan olok-olok di berbagai media massa dari surat kabar hingga radio. Field menulis, komedian Goodman Ace, yang memiliki program radio mingguan populer di AS, berkata “semua orang percaya pada jajak pendapat publik –semua orang, mulai dari orang biasa hingga Presiden Thomas E. Dewey.” Komedian lain yang juga dikenal sebagai penyiar radio, Fred Allen menyebut jajak pendapat publik seperti “orang yang menghitung butiran pasir di sangkar burung, lalu mencoba memberi tahu anda berapa banyak pasir yang ada di pantai.” Menurut Pack, kesalahan itu menyebabkan penurunan minat untuk sementara waktu pada jajak pendapat politik sehingga mempengaruhi bisnis para pembuat jajak pendapat politik. Meski begitu, seiring berjalannya waktu jajak pendapat politik di AS bangkit kembali dan terus berkembang menjadi semakin penting dalam politik AS pada dekade-dekade berikutnya.*

  • Soeharto Nomor Tiga, Mendagri Murka pada Lembaga Survei

    PRIA berparas rupawan itu memasuki ruang serbaguna di Hotel Indonesia, Jakarta, pada Jumat malam, 16 Juni 1972. Kehadirannya menarik perhatian tamu undangan dalam pesta meriah tersebut. Bukan hanya karena penampilannya yang necis dan gagah, tetapi karena namanya tengah menjadi perbincangan hangat di surat kabar. Pria itu adalah John M. di Gregorio, direktur perusahaan Survey and Business Research Indonesia (PT SUBURI), lembaga survei pertama di Indonesia yang didirikan pada akhir tahun 1960-an.

  • Soeharto Nomor Tiga, Lembaga Survei Ditutup

    “SEKARANG kami mohon sudilah Bapak memberi penilaian pada beberapa orang yang terhormat sebagai berikut tentang sifat-sifatnya dalam menjalankan kepemimpinan mereka, menilai pejabat tinggi tersebut dari 1 sampai 10. Dengan catatan 1 terendah dan 10 tertinggi.”

  • The Surinamese's Anti Colonialism Symbol

    JULY 13, 1929. Several young Indonesians who were members of Perhimpunan Indonesia (the Indonesian Student Association) were having a serious discussion at the Hollandaise Cafe in The Hague. They were deliberating ways to end Dutch colonialism over Indonesia. According to the Dutch intelligence service, around 50 people attended the meeting, three among whom were Europeans. A Surinamese also appeared to follow the discussion.

  • Awal Mula Lembaga Survei dan Jajak Pendapat Politik

    SELEPAS debat pertama calon presiden pada Selasa, 12 Desember 2023, sejumlah lembaga surveimerilis hasil jajak pendapat mengenai elektabilitas para kandidat capresdan cawapres. Hasil survei tersebut umumnya menjabarkan elektabilitas pasangan capres-cawapres dalam sejumlah kategori yang didasarkan pada umur, jenis kelamin hingga area tempat tinggal (perkotaan maupun pedesaan). Survei sudah dilakukan sejak lama. Nick Moon, praktisi terkemuka jajak pendapat di Inggris, dalam Opinion Polls: History, Theory and Practice menyebut kegiatan mengumpulkan opini masyarakat secara sistematis telah dilakukan sejak berabad-abad silam. Survei sosial, yang berkembang dari sensus penduduk, sudah dilakukan di Inggris sejak abad ke-11. “Inggris memiliki sensus yang terkenal, yang dicatat dalam Domesday Book tahun 1086, dan ada bukti sensus yang dilakukan di Venesia dan Florence selama Renaisans di Eropa pada abad ke-15. Sementara itu, pelaksanaan sensus seperti yang umum dilakukan di masa kini telah dimulai di Inggris pada 1801 dan di Amerika pada 1790,” tulis Nick Moon. Baca juga:  Iklan Kampanye dan Kemenangan Eisenhower dalam Pilpres AS Tokoh yang berperan besar dalam pengembangan statistik sosial adalah Charles Booth dan Henry Mayhew. Booth dikenal sebagai salah seorang yang pertama menggunakan survei wawancara untuk mengumpulkan data tentang kondisi sosial. Peneliti sosial yang lahir pada 30 Maret 1840 itu menuliskan hasil surveinya dalam karya klasik, The Life and Labour of the People of London tahun 1890-an. Lebih awal dari Booth, Mayhew mengambil langkah ke arah yang sama dengan karyanya London Labour and the London Poor tahun 1860-an. Meskipun sejumlah pihak mengkritik keandalan metodologi mereka, namun dasar dari karya-karya ini mirip dengan jajak pendapat yang terorganisir. “Yang paling penting, mereka memusatkan perhatian pada pentingnya pengumpulan data yang sistematis dan objektif,” tulis Moon. Bila survei sosial telah dilakukan sejak abad ke-11, lantas sejak kapan jajak pendapat politikmuncul setiap menjelang pemilu? Kebanyakan sejarawan sepakat bahwa pemilihan presiden AS pada 1824 menandai kemunculan jajak pendapat politik. Kala itu empat kandidat ambil bagian dalam kontestasi pilpres AS. Yang menarik, keempat capres itu berasal dari satu partai yang sama. Mereka saling bersaing memperebutkan suara publik meski tidak menentukan hasil pemilu. Sebaliknya, karena tidak ada kandidat yang memenangkan suara mayoritas di electoral college , keputusan diserahkan kepada Dewan Perwakilan Rakyat. Hasilnya, John Quincy Adams terpilih sebagai presiden AS. Baca juga:  Calon Presiden Saling Serang Lewat Iklan Menurut Mark Pack, pengarang yang juga politisi berkebangsaan Inggris, dalam Polling UnPacked: The History, Uses and Abuses of Political Opinion Polls , kemenangan Adams tak hanya menandai kemunculan jajak pendapat, tetapi juga berperan penting dalam perkembangan sistem kepartaian AS. “Partai Demokrat-Republik (jangan disamakan dengan Partai Demokrat atau Partai Republik yang muncul belakangan) telah menjadi dominan, dan pada pemilihan sebelumnya tahun 1820, kandidatnya, James Monroe, bahkan tidak menghadapi lawan yang berarti. Partai ini telah memberikan kekuasaan untuk memilih calon presiden kepada delegasi kongres. Dengan sedikit persaingan dari partai lain yang mengancam keberhasilan kandidat yang dipilihnya, itu berarti pemilihan presiden, pada dasarnya, telah menjadi pemilihan kecil dan tertutup oleh delegasi kongres saja,” tulis Pack. Pada 1824 terjadi pergeseran kekuasaan dari para pengambil keputusan elite.Negara-negara bagian semakin bergerak untuk memberikan suara kepada publik dalam pemilihan presiden. Sebelumnya, masing-masing badan legislatif negara bagian memilih anggota dewan pemilih nasional untuk memilih kandidat presiden. Namun kemudian makin banyak negara bagian yang mengizinkan suara publik menentukan susunan anggota electoral college . Bila di tahun 1800, hanya lima dari 16 negara bagian yang melakukan pemungutan suara seperti itu, maka pada 1824 jumlahnya meningkat menjadi 18 dari 24 negara bagian. “Ketiga faktor ini –kontes yang layak, terpecahnya kekuatan delegasi kongres Partai Demokrat-Republik; dan meningkatnya penggunaan suara rakyat untuk menentukan hasil di masing-masing negara bagian– berarti ada lebih banyak ketertarikan pada apa yang dipikirkan publik tentang para kandidat,” jelas Pack. Baca juga:  Kennedy vs Nixon dan Awal Debat Calon Presiden di Televisi Munculnya ketertarikan untuk mengetahui keputusan publik dalam pilpres AS tahun 1824, mendorong diadakannya jajak pendapat politik. Dalam beberapa kasus, guna mendapatkan responden dalam jumlah besar, lembaran kertas yang berisi pertanyaan mengenai para kandidat presiden diletakkan di tempat umumselama beberapa hari, dan orang-orang menulis pilihan mereka. Metode ini merupakan cara yang alami dan relatif mudah untuk menguji opini publik, namun bukan berarti tanpa celah. Menurut Nick Moon, pemungutan suara yang sering kali dilakukan dengan cara yang sangat serampangan, dengan sedikit pemahaman tentang prinsip-prinsip pengambilan sampel menyebabkan hasil jajak pendapat tersebut kurang representatif. Teknik jajak pendapat awal dikritik karena kurang mewakili para pemilih.Namun, survei opinipublik mengenai para kandidat yang berkontestasi dalam pemilu kian berkembang. Perkembangan signifikan terjadi pada akhir abad ke-19.Surat kabar Columbus Dispatch melatih para pewawancara dan mengirim mereka ke seluruh penjuru kota untuk mengumpulkan opini publik. Survei tersebut mempertimbangkan usia dan pekerjaan para responden agar hasilnya representatif. Baca juga:  Survei SMRC Membuktikan Mayoritas Orang Tidak Percaya PKI Bangkit Memasuki abad ke-20, minat mengukur opini publik bergeser dari skala lokal menjadi nasional. Majalah AS pertama yang melakukan jajak pendapat adalah Farm Journal . Pada pilpres AS berikutnya tahun 1916, Literary Digest sukses menghasilkan prediksi yang tepat sehingga memperoleh reputasi sebagai pemimpin dalam bursa jajak pendapat. Majalah ini kemudian berhasil memprediksi hasil pemilu tahun 1920, 1924, 1928, dan 1932, dengan menggunakan teknik pengiriman kuesioner dalam jumlah besar ke para responden yang terdaftar dalam daftar pelanggan telepon maupun registrasi mobil. Selain memprediksi pemenang pemilu, survei Literary Digest juga menyertakan pertanyaan-pertanyaan untuk mengukur opini publik mengenai topik-topik yang sedang hangat. Menyusul kepopuleran Literary Digest , lembaga-lembaga survei lain bermunculan tahun 1930-an, seperti American Institute of Public Opinion yang didirikan oleh George H. Gallup pada 1935, Crossley Poll dan survei Fortune, serta Roper Center yang dijalankan sebagian oleh Elmo Roper. “Ciri khas dari semua perusahaan ini, yang membedakan mereka dari jajak pendapat Literary Digest , adalah mereka mengandalkan jumlah responden yang relatif lebih kecil, dipilih secara sistematis, dan diwawancarai secara pribadi oleh pewawancara terlatih,” tulis NickMoon. Kehadiran Gallup, Crossley , dan Roper menandai dimulainya jajak pendapat modern di A S dan memicu lahirnya lembaga survei di berbagai negara di dunia. *

  • Melacak Jejak Ken Angrok

    INI bukan pemakaman biasa. Lokasinya di tengah kampung di Gang VIII Tlogomas, Lowokwaru, Kota Malang. Sebuah papan bertuliskan “Situs Karuman” terpancang di pintu masuk, menandakan situs ini sebuah cagar budaya. Warga sekitar menyebutnya Punden Aruman.

  • Sinterklas Terjun hingga Tumbang di Stadion

    KENDATI cuaca dingin yang berangin itu menusuk tulang menjelang Natal, Stadion Villa Park di Birmingham, Inggris pada Minggu malam, 13 Desember 1998 itu tetap disesaki penonton. Tetapi lebih dari 39 ribu penonton di kandang tim Aston Villa itu sempat terhenyak kala jadi saksi mata insiden penerjunan sinterklas 25 tahun lampau yang berujung getir itu. Kisahnya bermula dari laga Aston Villa menjamu juara bertahan Premier League (Liga Inggris), Arsenal, di matchday ke-17 musim 1998/1999. Tuan rumah sedang dalam tren positif, sementara “ The Gunners” (julukan) Arsenal justru sebaliknya: gagal menang dalam empat laga terakhir kendati masih mempertahankan rekor tak terkalahkan sejak musim sebelumnya. Sejatinya tim tamu besutan Arsène Wenger yang ingin bangkit dari tren stagnan itu tampil dominan sejak kick off . Mereka bahkan unggul lebih dulu lewat penyelesaian simpel tapi efektif dari Dennis Bergkamp di menit ke-14. Gol pembuka itu berawal dari umpan lambung kiper Arsenal David Seaman di lini belakang yang ter- deflect sundulan Freddie Ljungberg. Bola liarnya diolah Bergkamp dengan mengelabui dua bek Villa dan diakhiri tembakan keras mendatar dari garis kotak penalti yang tak mampu dihalau kiper Villa, Michael Oakes. Baca juga: Lima Gebrakan Revolusioner Wenger Papan skor di Stadion Villa Park lalu berubah lagi di menit ke-45, 2-0 untuk Arsenal. Golnya bermula dari penetrasi Nicolas Anelka di sisi kanan pertahanan Villa yang lalu memberi umpan datar ke jantung pertahanan lawan. Bola umpannya kemudian disontek Bergkamp dan merobek gawang Villa untuk kedua kalinya. Saat para pemain beralih ke ruang ganti waktu istirahat pertandingan, dihelatlah pertunjukan akrobatik terjun payung tiga anggota Angkatan Udara (AU) Inggris RAF. Sersan Nigel Rogoff, salah satu penerjun, dan kedua rekannya berparasut dengan mengenakan kostum sinterklas dan direncanakan mendarat di tengah-tengah lapangan Villa Park sebagai “hadiah” Natal untuk publik. “Nigel seorang penerjung payung yang sangat kompeten dengan pengalaman 10 tahun dan 6.000 penerjunan. Mereka terbang dan terjun dan sebenarnya pada awalnya segalanya berjalan sesuai rencana tapi saat mereka mulai mendekati daratan, Nigel menghadapi kesulitan,” aku salah satu koleganya, Sersan Paul Dunn, kepada suratkabar The Independent , 14 Desember 1998. Dennis Nicolaas Maria Bergkamp yang mencetak dua gol pembuka untuk Arsenal ( hitc.com ) Saat berkoordinasi dengan panitia pertandingan dan kru darat, laporan cuaca yang mereka dapatkan sudah sedikit mengkhawatirkan karena cukup berangin. Namun penerjunan tetap diberikan lampu hijau. “Kondisi cuaca cukup berangin tapi kru di darat mengatakan semuanya OK, kendati keputusan untuk tetap terjun dari pesawat sepenuhnya keputusan saya. Tidak ada yang memaksa. Saya tidak ingat apa yang salah. Kondisinya gelap dan berangin. Para penerjun lain berhasil mendarat tapi yang saya alami berbeda,” kenang Rogoff yang menuliskan pengalamannya di kolom The Guardian , 13 Desember 2008. Rupanya saat Rogoff mulai mendekat ke stadion, ia tersapu angin dan tak mampu mengendalikan parasutnya. Tubuh Rogoff kemudian membentur atap stadion di sektor Tribun Trinity Road. Ia kemudian jatuh ke lapangan dari ketinggian 100 kaki atau 30,5 meter. Baca juga: Tahun Baru Nahas di Stadion Ibrox Kebangkitan Usai Insiden Insiden pelik yang dialami Rogoff 25 tahun silam itu mengejutkan seisi Stadion Villa Park. Tak hanya para penonton, beberapa pemain yang mengetahui kabarnya turut terhenyak. “Saya ingat kala itu menjelang Natal dan (cuaca) cukup dingin dan seorang sinterklas yang terjun payung mengalami insiden. Saat itu kami sedang tertinggal 0-2 di babak pertama dan ketika kami berada di ruang ganti, terjadilah kecelakaan itu. Kami terpaksa tetap di ruang ganti lebih lama (dari 15 menit waktu istirahat normal) tapi itu memberikan kami waktu untuk fokus menuju babak kedua,” kenang gelandang Aston Villa 1994-2003, Ian Taylor, disitat Planet Football , 18 Februari 2023. Jalannya babak kedua pun tertunda beberapa menit. Rogoff diberikan pertolongan pertama oleh dua penonton yang kebetulan berprofesi sebagai dokter bedah. Ia kemudian dilarikan menggunakan ambulans ke Birmingham City Hospital dengan cedera di bagian punggung dan kaki kirinya. “Seingat saya satu jam setelah (insiden) itu saya sudah berada di meja bedah. Sebanyak 177 kantong darah yang ditransfusikan pada saya malam itu. Saya tak pernah mendonorkan darah sepanjang hidup saya tapi saat itu ada 177 orang yang mendonorkan darahnya untuk menyelamatkan nyawa saya. Saya sangat berterimakasih kepada mereka,” sambung Rogoff. Baca juga: Lautan Manusia di Stadion Wembley Selepas Rogoff dibawa ke rumahsakit, laga pun dilanjutkan. Benar saja, tambahan waktu istirahat itu memantik kebangkitan tuan rumah. Aston Villa sanggup memperkecil kekalahan jadi 1-2 di menit ke-62 lewat gol yang dicetak Julian Joachim. Gol itu diawali umpan lambung Gareth Southgate dari lini pertahanan yang kemudian disundul Dion Dublin. Bolanya kemudian diteruskan Lee Hendrie yang menggocek Nelson Vivas. Joachim yang muncul dari lini kedua pun menerima umpan pendek Hendrie untuk kemudian menceploskan bola ke gawang Arsenal yang dikawal Seaman. Sepakan Julian Kevin Joachim yang membobol gawang Arsenal ( avfc.co.uk ) Stadion Villa Park kembali bergemuruh hanya tiga menit berselang. Di menit ke-65, papan skor berubah lagi jadi 2-2 setelah gol Dublin menyamakan kedudukan. Gol berawal dari bola liar hasil pantulan tendangan Alan Thompson yang mengenai punggung Lee Dixon. Dublin yang tak terkawal melancarkan tembakan first time yang tak mampu dibendung Seaman. Keadaan makin pahit buat Arsenal kala memasuki menit ke-83. Dublin menorehkan gol keduanya untuk membalikkan keadaan dengan sontekannya usai menerima umpan tendangan sudut Thompson. Skor 3-2 untuk kemenangan Aston Villa pun bertahan sampai wasit Steve Lodge meniup peluit panjang tanda berakhirnya laga. “Rekor tak terkalahkan Arsenal yang tadinya berlanjut sedari musim lalu pun berakhir pada 13 Desember 1998 itu ketika mereka kalah 3-2 dari Aston Villa,” tulis Jim White dalam Premier League: A History in Ten Matches. Baca juga: Aston Villa Punya Cerita Dengan kebangkitan itu, Aston Villa merangsek ke puncak klasemen Premier League untuk sementara. Mereka makin percaya diri masuk ke persaingan merebut gelar juara sekaligus mendobrak dominasi “Big Four” (Manchester United, Chelsea, Arsenal, Liverpool). “Saya percaya setelah pekan pertandingan di mana kami telah menghadapi Manchester United, Chelsea, dan Arsenal, ada lebih dari empat tim yang punya potensi menjadi juara (liga), termasuk kami,” cetus pelatih Aston Villa John Gregory kepada The Guardian , 14 Desember 1998. Dion Dublin yang jadi pahlawan kebangkitan Aston Villa atas Arsenal (Premier League Archive) Lantas bagaimana dengan kelanjutan nasib Rogoff si sinterklas malang tadi? “Saya beruntung bisa selamat. Saya sempat dirawat dengan ventilator selama tiga pekan dan saya baru siuman saat tahun sudah berganti. Saya juga menyadari kaki kiri saya memburuk dan harus membuat keputusan untuk mengamputasinya,” Rogoff berkata lirih. Rogoff tak ingin menyalahkan pihak manapun. Seperti halnya Aston Villa di laga itu, dirinya berusaha bangkit dan usahanya tak keliru. Di balik getir insiden itu, Rogoff juga mengalami titik balik kehidupannya. Meski kemudian pensiun, Rogoff tetap mendapat perawatan dan pemulihan di Birmingham Limb Centre dan dilanjutkan di Defence Services Medical Rehabilitation Centre. Tak disangka, di situ pula Rogoff menemukan pendamping hidupnya, Sarah, yang merupakan perawat di fasilitas pemulihan itu. “Sarah perawat di sana meski bukan ia yang menangani saya langsung. Hubungan kami berkembang di sana. Sekarang kami menikah dan memiliki anak kembar. Bertemu dengan Sarah menjadi titik balik kehidupan saya,” tandas Rogoff yang kini tinggal di Afrika Selatan. Baca juga: Getirnya Tragedi di Stadion Luzhniki

  • Nekara Selayar dan Pelayaran Nusantara*

    SEKILAS, benda berbahan logam itu bentuknya mirip dandang. Namun, bila dandang memiliki bagian tertutup di bawah, benda ini bagian tertutupnya ada di atas. Ukurannya pun besar, diameternya sekira satu meter. Begitulah wujud benda yang berada di Kampung Matalalang, Desa Bontobangun itu. Benda itu ditemukan Sabura. Sabura hanyalah petani di wilayah Kerajaan Putabangun. Aktivitasnya tentu sebagian besar hanya dihabiskannya di sawah. Namun, sekitar tahun 1686, dia tak sengaja menemukan benda “asing” logam besar berbentuk seperti dandang. Dia lalu melaporkannya dan apa yang ditemukannya itu lalu menjadi milik raja Putabangun. Belakangan, logam besar yang ditemukan Sabura itu diidentifikasi sebagai Nekara Perunggu alias gendang perunggu. “Masyarakat Selayar menyebutnya sebagai: Gong Besar. Setelah ditemukan, nekara itu menjadi benda pusaka Kerajaan Putabangun dan disimpan sampai tahun 1760. Saat Kerajaan Putabangun berubah nama menjadi Bontobangun dan pusat kerajaan berpindah di Matalalang, nekara perunggu diserahkan kepada raja Bontobangun dan tetap menjadi benda pusaka kerajaan,” kata Andi Muhammad Said dkk dalam Direktori Potensi Wisata Budaya Pulau Selayar Sulawesi Selatan Indonesia . “Nekara di pulau ini juga diberi sesaji dan dianggap sebagai pusaka kerajaan sehingga tidak boleh dipindah-pindahkan,” tulis Nugroho Notosusanto dkk. dalam Sejarah Nasional Indonesia 1 . Baca juga:  Berlayar Bersama Dewaruci* Setelah gubernur jenderal Hindia Belanda mengeluarkan edaran kepada para pejabat untuk mengumpulkan data tentang benda-benda antik, sekitar tahun 1863, pejabat setempat melaporkannya. GA Schoulten lalu membuat gambaran tentang nekara ini dan sempat mengirimkan patung katak dari nekara ini sekitar tahun 1883. Pada bagian atas nekara perunggu itu terdapat hiasan berupa patung katak. Pada sisi samping terdapat gambar-gambar hewan berupa 16 ekor gajah, 54 burung, dan 18 ikan serta 11 helai daun sirih. Menurut cerita turun-temurun di Selayar, nekara itu dipercaya untuk memanggil hujan. Nekara besar di Selayar ini punya pasangannya di Vietnam. Nekara di Vietnam itu dianggap istrinya karena kataknya kecil. Nekara perunggu ini terkait dengan kebudayaan Dongson, yang antara 600 SM-300 Masehi terkenal dengan peninggalan logamnya. Dongson adalah sebuah desa di Vietnam. Sulit memastikan sejak kapan nekara ini hadir di Selayar. Namun pastinya sebelum agama Islam masuk dan pedagang Eropa yang memburu rempah-rempah datang, nekara raksasa ini sudah ada. Baca juga:  Jalur Kelapa Menuju Selayar* “Menurut legenda yang berkaitan dengan nekara perunggu, diceritakan saat Sawerigading bersama istrinya We Cuddai dan ketiga anaknya, La Galigo, We Tenri Dio dan We Tenri Balobo melakukan perjalanan dari Cina ke Luwuk dan singgah di Selayar, tepatnya di Putabangun dan membawa nekara perunggu besar,” demikian yang dicatat Sri Rahayu dalam 30 Cerita Rakyat Indonesia Tentang Asal-Usul Penamaan Suatu Daerah di Indonesia . Begituah folklore tentang nekara raksasa dari Selayar ini. Di luar dari folklore ini, faktanya Selayar adalah bagian dari jalur pelayaran Nusantara. Para pedagang dari barat harus melalui Selayar untuk tiba di bagian timur Nusantara. Berpindahnya nekara besar ini dari Dongson hingga ke Selayar tentu seiring dengan pemanfaatan jalur pelayaran. “Nekara dibawa oleh para pelaut dan pedagang saat mengarungi lautan. Orang-orang Dongson dikenal piawai mengarungi lautan Cina Selatan (Nanyang) hingga laut-laut di Selatan (laut Nusantara, red .). Merekalah yang membawa nekara itu. Tetapi, belum ada data tentang hubungan mereka dengan orang Selayar, apakah nekara dibarter atau sebagai hadiah kepada orang Selayar,” kata Pengajar UIN Raden Intan Lampung, Abdul Rachman Hamid, di seminar pada 30 November 2023 daalam rangka Festival Budaya Maritim dan Muhibah Jalur Rempah 2023. Baca juga:  Cerita di Balik Jangkar Raksasa* Letak Kepulauan Selayar yang berada di antara Laut Flores, Selat Makassar, Laut Banda, dan Laut Jawa amat strategis. Ia menjadi tempat persinggahan orang-orang dari barat untuk mencapai kepulauan Maluku sebagai pusat penghasil rempah. “Selayar pernah menjadi rute dagang menuju pusat rempah-rempah di Moluccan (Maluku). Di Pulau Selayar, para pedagang singgah untuk mengisi perbekalan sambil menunggu musim yang baik untuk berlayar,” catat Zainuddin Hakim dan Tadjuddin Maknun dalam Sintaksis Bahasa Laiyolo .  Jadi tidak mengherankan jika sejak lama ada interaksi antar bangsa dan budaya dari daerah yang jauh di Selayar. Alhasil ketika perniagaan rempah mencapai masa kejayaan, interaksi orang-orang dengan beragam etnis atau bangsa dengan tradisi budaya masing-masing di Selayar intensitasnya tinggi. Saling mempengaruhi tak mungkin dihindari. Nekara di Matalalang itu salah satu buktinya. Tulisan keempat serial Muhibah Jalur Rempah 2023

  • Ammana Gappa Mengatur Pelayaran

    Daerah Wajo termasuk daerah hunian etnis Bugis yang –dikenal sebagai bangsa pelaut– memiliki pesisir. Seperti Kerajaan Bone, Kerajaan Wajo termasuk kerajaan di Sulawesi Selatan yang menanamkan pengaruhnya hingga ke luar Sulawesi. Pengaruh Wajo salah satunya ada di Kabupaten Pasir, Kalimantan Timur. “Di Kota Pasir, yang terletak di tepi Sungai Kendilo, sekitar 45 mil dari pantai, terdapat pula permukiman orang Bugis. Thomas Forrest, yang mengunjungi kota ini pada 1772, mengatakan, Kota Pasir merupakan ‘tempat perdagangan besar’ dengan sekitar 300 rumah; kebanyakan didiami oleh pedagang Bugis dan penduduk Kesultanan Melayu,” tulis Edward L. Poelinggomang dalam Makassar Abad XIX: Studi tentang Kebijakan Perdagangan Maritim . Sebagai etnis Bugis, Wajo tentu memiliki pelaut-pelaut handal. Dengan perahu layar mereka berniaga ke berbagai bandar-bandar di Nusantara, termasuk Maluku sebagai pusat rempah. Namun setelah Perjanjian Bongaya (1667) antara Kerajaan Gowa-Tallo, Ternate, dan Verenigde Oost Indische Compagnie (VOC) Belanda, orang-orang Sulawesi Selatan dilarang melakukan perdagangan rempah-rempah dengan orang Maluku. Hanya Belanda saja yang boleh berdagang rempah dengan orang Maluku meskipun penyelundupan dari dan ke Maluku oleh orang-orang Sulawesi Selatan tetap ada. “Keadaan ini mengarahkan Makassar dan sekutu Bugis mereka Wajo mengalihkan perdagangan ke bagian barat Nusantara dan pantai Asia Tenggara daratan, terutama Tanah Melayu,” tulis Christian Pelras dalam Manusia Bugis . Seiring dengannya, migrasi orang Sulawesi Selatan ke arah barat meningkat. Emas, sagu, lilin dan budak menjadi komoditas dalam perdagangan ke arah barat tersebut. Titik pemberangkatan perdagangan dan pelayaran orang-orang Sulawesi Selatan tersebut tak hanya dari Makassar saja, tapi juga dari daerah Kalimantan Timur—seperti Pasir dan Berau– yang banyak orang Bugis dan Makassarnya, lalu Kalimantan Barat, Kalimantan Selatan, Sulawesi Tengah dan lain-lain. Berkembangnya pelayaran hingga jauh ke arah barat Sulawesi kemudian ikut pula melahirkan peraturan pelayaran orang-orang Bugis. “Amanna Gappa adalah Matoa orang Wajo di Makassar. Pada tahun 1676 ia memanggil beberapa Matoa Wajo di tempat lain berkumpul di Makassar untuk menyusun undang-undang pelayaran yang sangat dibutuhkan waktu itu, sehubungan dengan meningkatnya aktivitas laut dan pelayaran kerajaan Maritim Makassar,” catat Nasaruddin Koro dalam Ayam Jantan Tanah Daeng . Amanna Gappa, menurut Pelras, adalah kepala komunitas Wajo di Makassar antara 1697-1723. Undang-undang pelayaran Amanna Gappa mencakup bermacam hal terkait pelayaran, mulai teknis hingga non-teknis. Terdapat 21 pasal dalam undang-undang tersebut. “Hukum ini mengatur cara berlayar, berdagang, dan memimpin di laut,” ujar Abdul Rahman Hamid, peneliti sejarah maritim dan pengajar di UIN Raden Inten, dalam seminar pada 30 November 2023 yang dihelat dalam rangka Muhibah Jalur Rempah dan Festival Budaya Maritim di Selayar. Undang-undang Amanna Gappa juga membahas daftar ongkos sewa kapal antara daerah-daerah pemberangkatan ke daerah tujuan. Misalnya, ongkos sewa perahu dari Makassar ke Selayar di masa itu adalah 2,5 rial. Lalu, aturan soal modal pelayaran. Modal pelayaran menurut Amana Gappa tidak boleh disalahgunakan untuk berjudi, madat, melacur, kawin atau untuk kepentingan pribadi lainnya. Selain soal ongkos, ada juga aturan pembagian tugas nahkoda, juru mudi, dan lain-lain. Syarat-syarat untuk menjadi nahkoda yang memimpin pelayaran juga dibahas. Seorang nakhoda, kata Amanna Gappa, harus memiliki senjata, rajin, teliti, pandai berlayar, mampu mengawasi dan membela kelasinya, menerima nasihat, serta jujur, dan sabar. Soal kelasi juga diatur dalam undang-undang tersebut. Ada dua kategori kelasi di dalam kapal: kelasi tetap dan kelasi bebas. “Kelasi tidak boleh meninggalkan perahu selama pelayaran dan barulah boleh meninggalkan perahu mana kala sudah sampai tujuan,” catat Nasaruddin Koro dalam Ayam Jantan Tanah Daeng .

  • Pinisi Tak Asli Negeri Ini Tapi Banyak Jasa Buat Indonesia*

    MESKI lahir di Temi, Seram Barat, Maluku Tengah, Abdul Rahman Hamid bukanlah orang Ambon Lease. Orangtuanya berasal dari Buton, Sulawesi Tenggara. Sebagai ahli sejarah pelayaran Indonesia yang mengajar di UIN Raden Intan, Bandar Lampung, dia merupakan bagian penting dalam pelayaran Muhibah Jalur Rempah 2023 bersama KRI Dewaruci . Penulis buku Sejarah dan Budaya Maritim Indonesia ini begitu bersemangat berdiskusi soal pelayaran Indonesia tempo dulu. Salah satunya tentang perahu pinisi. “Phinisi, atau pinisi, adalah kapal layar bertiang dua yang terbuat dari kayu, yang dulu dan sekarang masih digunakan orang Bugis dan Makasar untuk pengangkutan ikan dan kargo keliling Nusantara,” tulis Sarah Ann Wormald, seorang pakar selam,dalam Diving in Indonesia: The Ultimate Guide to the World’s Best Dive Spots: Bali, Komodo, Sulawesi, Papua, and More . Di zaman dirinya masih bocah, pernah beredar uang pecahan Rp.100 warna merah bergambar perahu pinisi. Uang tersebut punya peluang untuk membuat kebanyakan orang Indonesia meyakini bahwa perahu tersebut adalah produk budaya asli Indonesia. Padahal, menurutnya dan beberapa sejarawan lain, pinisi tak benar-benar asli Indonesia atau asli Sulawesi. “Jauh sebelum dikenal perahu Pinisi pada akhir abad ke-19, para pelaut Sulawesi (Makassar, Bugis, dan Mandar) menggunakan perahu dagang Padewakang antara abad ke-18 hingga pertengahan abad ke-20,” kata Abdul Rahman Hamid pada Historia . Baca juga:  Berlayar Bersama Dewaruci* Padewakang bukan satu-satunya jenis kapal yang dipergunakan pelaut Sulawesi bagian selatan. Ada pula perahu jenis Palari. Perahu ini dipergunakan pada abad ke-19 sampai pertengahan abad ke-20. Menurutnya, pinisi baru mulai dikenal akhir abad ke-19 dan ramai digunakan pada abad ke-20. Dalam Ayam Jantan Tanah Daeng , Nasaruddin Koro menulis bahwa ada cerita yang menyebut bahwa pinisi dibuat oleh Raja Tallo ke-7, Imanyingarang Daeng Makillo. Saudara dari Karaeng Pattingaloang ini hidup pada abad ke-17. Di zamannya, pengaruh Eropa sudah masuk ke Sulawesi Selatan. “Konstruk awal Pinisi dari perahu Palari (dengan 7-9 layar). Namun, ada ahli lain yang mengatakan pinisi mendapat pengaruh teknologi kapal Eropa,” kata Abdul Rahman Hamid. Pengaruh itu, sambung Nasaruddin Koro, dibuktikan antara lain dari catatan yang mengisahkan perahu pinisi mulai tampak di Nusantara pada 1840-an. Diperkirakan, model ini dibuat oleh Martin Perrot, orang Eropa yang tinggal di Trengganu, Malaysia. Nama “pinisi” sendiri ada yang menyebut berasal dari kata pinasse (yang kemungkinan dari bahasa Perancis atau Jerman) dan dieja orang Melayu sebagai “Pinas”. Ada pula yang menyebut Pinisi berasal dari kata picurru, artinya contoh baik, dan binisi yang artinya ikan kecil yang tegar di permukaan air. Sedangkan dari jenisnya, pinisi memiliki dua varian. “Ada dua tipe umum pinisi lamba atau lambo –bertubuh panjang dan ramping, memiliki buritan lurus, yang saat ini masih bertahan dalam versi bermotornya; dan palari –tipe tua dengan buritan dan lunas melengkung, biasanya lebih kecil dari lamba,” tulis Dhani Irwanto dalam Sundaland: Tracing The Cradle of Civilizations . Baca juga:  Jalur Kelapa Menuju Selayar* Terlepas dari asal-usul dan jenisnya, pinisi telah menjadi bagian dari sejarah pelayaran bangsa Indonesia. Pinisi tak hanya berjasa dalam perekonomian Nusantara di zaman Hindia Belanda saja, tapi juga semasa revolusi kemerdekaan Indonesia. “Dalam masa revolusi, perahu phinisi dan lambo menjadi angkutan pergerakan pasukan dari Sulawesi Selatan ke Yogyakarta, melalui Probolinggo, Situbondo dan Tuban di Jawa Timur,” catat Nasaruddin Koro. Mereka berlalu-lalang antara Jawa dengan Sulawesi Selatan dengan naik berbagai jenis perahu “Lete” (berarti perahu kecil). Banyak kombatan Republik asal Sulawesi yang berjuang di Jawa. Dipelopori Kahar Muzakkar, mereka antara lain M. Jusuf –yang belakangan menjadi Panglima ABRI– dan Maulwi Saelan –belakangan menjadi wakil komandan Resimen Tjakrabirawa. “Kita modal nekat saja, menyeberang ke Jawa pakai perahu rakyat,” kenang mendiang Maulwi Saelan. Kehandalan pinisi mengarungi lautan telah dibuktikan sejak lama. Kapal tersebut tak hanya mampu menyeberangi perairan antarpulau tapi bahkan samudera. “Pinisi terbukti berlayar dari Muarabaru, Sulawesi Selatan ke Vancouver, Kanada melalui Samudera Pasifik, jarak sekitar 11.000 kilometer (7.000 mil), dalam Ekspedisi Pinisi Nusantara 1986 untuk mengikuti Vancouver Expo,” tulis Dhani Irwanto. Besarnya jasa pinisi bagi Republik Indonesia membuatnya diabadikan di uang Rp100 keluaran tahun 1992. Baca juga:  Cerita di Balik Jangkar Raksasa* Hingga hari ini, perahu pinisi tak hanya masih berlayar tapi juga masih dibuat di Bira dan Tanah Beru, Kabupaten Bulukumba, Sulawesi Selatan. Harga perahu layar itu bervariasi, bisa mencapai lebih dari Rp.8 milyar –ini sudah harga utuh, termasuk generator listrik dan mesin. “Itu tergantung dari speknya,” terang Azwir, salah satu pembuat kapal di Tanah Beru Selain ukuran, faktor yang menentukan harga kapal pinisi adalah kualitas bahannya. Bila bahan yang digunakan mutunya tinggi, harga sebuah pinisi bisa mencapai Rp.10 milyar. Itu masih belum termasuk biaya interior kapal. Biasanya, sebuah pinisi dibuat selama setahun dengan mengandalkan 6 orang. Tradisi membuat pinisi berkembang di sekitar Bulukumba. Banyak pemuda di sekitar sentra pembuatan perahu di Bulukumba lebih suka belajar membuat perahu daripada kuliah. Azwir, salah satunya. Pria 45 tahun ini mengaku sudah membuat pinisi sejak usia 17 tahun. Ia belajar membuat pinisi dari ayahnya. Sang ayah juga belajar membuat kapal ini dari ayahnya (kakek Azwir). Dari pemuda-pemuda macam Azwir inilah keterampilan dan teknologi membuat perahu tradisional kini masih terjaga di belahan timur Indonesia. Tulisan keempat serial Muhibah Jalur Rempah 2023

bg-gray.jpg
Tedy masuk militer karena pamannya yang mantan militer Belanda. Karier Tedy di TNI terus menanjak.
bg-gray.jpg
Pemilihan Augustine Magdalena “Tiene” Waworuntu sebagai walikota Manado menjadikannya walikota perempuan pertama pasca pembubaran RIS. Pemilihannya menimbulkan polemik daerah-pusat, hingga menyeret militer.
bg-gray.jpg
Dua anggota legiun Mangkunegaran ikut serta gerakan anti-Belanda. Berujung pembuangan.
bg-gray.jpg
Rumah Sakit Bethesda Yogyakarta merupakan buah kasih dokter misionaris Belanda bernama J.G. Scheurer yang dijuluki Dokter Tolong.
bg-gray.jpg
Rumah yang pernah digunakan untuk mendidik kesadaran politik rakyat. Kini sepi pengunjung.
bottom of page