top of page

Hasil pencarian

Cari di situs ini

10057 hasil ditemukan dengan pencarian kosong

  • The Final Moments of Kartosoewirjo

    ON June 4, 1962, a unit of the Kujang II Siliwangi battalion ambushed and captured the leader, or imam, of the Indonesian Islamic State (NII), Sekarmadji Maridjan Kartosoewirjo, and his followers in the Mount Sangkar and Mount Geber areas in West Java.

  • Serba-serbi di Balik Layar Repatriasi 472 Artefak Indonesia

    “BACK to the Future.” Begitulah motto ketua Tim Repatriasi Koleksi Asal Indonesia di Belanda, I Gusti Agung Wesaka Puja, untuk upaya repatriasi 472 artefak Indonesia yang akan dipulangkan dari Belanda. Motto yang mengutip tajuk film sci-fi komedi tahun 1985 yang dibintangi Michael J. Fox itu Lebih tepatnya ditujukan pada upaya kolaborasi para pakar Indonesia dan Belanda yang jadi sejarah baru dalam riset benda-benda bersejarah. “Proses (repatriasi) ini adalah proses yang bersejarah ya. Inilah yang disebut sebagai sejarah dalam sejarah, ketika proses repatriasi ini bisa kita realisasikan. Jadi ini motto saya sebenarnya dengan repatriasi ini adalah: back to the future ,” ujar Puja dalam sebuah obrolan yang cair di program “Dialog Sejarah: Ada yang Mau Pulang” di kanal Youtube Historia.id , Jumat (28/7/2023). Sebanyak 472 benda bersejarah Indonesia itu resmi diserahkan Menteri Muda urusan Kebudayaan dan Media Belanda Gunay Uslu kepada Dirjen Kebudayaan RI Hilmar Farid pada 10 Juli 2023 di Museum Volkenkunde, Leiden, Belanda. Ratusan benda yang terbagi dalam empat cluster itu meliputi sebilah keris Klungkung, empat arca Candi Singhasari, 132 Koleksi Pita Maha, dan 335 harta jarahan Ekspedisi Lombok tahun 1894. Diharapkan, benda-benda itu sudah akan sampai ke tanah air menjelang HUT RI ke-78, 17 Agustus 2023. Empat cluster itu baru sekadar pengawal karena menurut pengajuan Dirjen Kebudayaan RI via suratnya medio 2022, ada total delapan cluster benda bersejarah. Empat lainnya yang masih akan diproses lebih lanjut adalah tali kekang kuda milik Pangeran Diponegoro, koleksi fosil manusia purba Homo erectus temuan Eugène Dubois, Luwu Regalia, dan Al-Quran milik Teuku Umar. Baca juga: Resmi! Belanda Serahkan 472 Benda Bersejarah ke Indonesia Ketua Tim Repatriasi Koleksi Asal Indonesia di Belanda, I Gusti Agung Wesaka Puja ( Historia.id ) Seperti yang disampaikan Menteri Uslu dalam peresmian penyerahannya kala itu, ia sangat mengapresiasi kerja-kerja kolaboratif antara tim ahli Belanda, Commissie Koloniale Collecties yang dipimpin Lilian Gonçalves-Ho Kang You, dan Tim Repatriasi Indonesia yang diketuai Puja. Hasil kerjasama via provenance research (penelitian asal-usul) terhadap 472 benda yang dipulangkan itu membawa pengetahuan baru. “Jadi sebetulnya di balik repatriasi ini banyak hal lain yang terus berlangsung secara sinergi. Nah ini yang sangat menarik yang tidak terlihat dari kacamata publik. Yang terlihat kan hanya pengembalian saja. Tapi proses-proses itu juga patut kita beri perhatian penuh ya karena banyak menghasilkan hal-hal yang positif,” timpal sejarawan Universitas Indonesia, Bondan Kanumoyoso, secara virtual. Kolaborasi dalam provenance research itu jadi pembeda antara upaya repatriasi sekarang dan repatriasi-repatriasi sebelumnya. Upaya pemulangan sejumlah artefak dari Belanda sendiri sudah dirintis Menteri Pengajaran, Pendidikan dan Kebudayaan Mohammad Yamin sejak 1954, berlanjut pada beragam seminar yang digelar sejak 1968, serta pembentukan tim ahli yang diketuai Dirjen Kebudayaan Prof. Ida Bagus Mantra. Mengutip catatan “Memorandum Akhir Masa Jabatan Direktur Jenderal Kebudayaan Prof. Dr. Ida Bagus Mantra (1968-1978)” yang dirilis Ditjen Kebudayaan RI (1978), kesepakatan peresmian repatriasi benda-benda warisan Indonesia itu sudah sempat terjalin antara kedua negara pada 1968 yang hasilnya pemerintah Belanda pada 1972 menyerahkan naskah Negara Kertagama karya Mpu Prapanca dari abad ke-14. Kemudian atas saran pemerintah Indonesia, pada 1975 sama-sama dibentuk tim ahli Indonesia dan Belanda untuk merekomendasikan lagi beberapa benda lain yang akan dipulangkan berikutnya. “Komite (tim ahli) yang diketuai Prof. Ida Bagus Mantra itu kan baru bisa mengembalikan Pradnyaparamita, mahkota Lombok, dan benda-benda Pangeran Diponegoro. Yang masih pending sampai sekarang, sesuai list yang diajukan Komite 1975, belum tuntas semua. Atas dasar itu kita bawa lagi ke tahun 2022 untuk kita masukkan ke dalam list dengan beberapa tambahan baru, termasuk di situ patung Singhasari. (Koleksi) Pita Maha juga bukan yang termasuk list 1975,” sambung Puja. Baca juga: Koleksi Pita Maha Kembali ke Pangkuan Ibu Pertiwi Sejumlah patung kayu Koleksi Pita Maha ( Balinese Art Treasures of the 1940s ) Proses Politik di Balik Provenance Research Medio 2015, Museum Nusantara Delft mengalami kebangkrutan. Akibatnya, sekitar 1.500 benda koleksinya yang asal Indonesia dipulangkan begitu saja melalui kesepakatan kedua negara. Pada November 2019, kesemua benda itu tiba di tanah air. Namun, rencana pemulangan ribuan benda selanjutnya dari Delft itu tidak dibarengi provenance research yang solid sehingga tiada pengetahuan soal tiap benda itu yang dihadirkan. Hal demikian ini yang tak diinginkan Hilmar pada proses repatrasi berikutnya. “Ketika Pak Hilmar ke Belanda tahun 2016-2017 itu kan tadinya Museum Delft mau tutup, bangkrut, karena pemerintah daerah Delft sudah enggak mampu lagi membiayai. Ada koleksinya 12 ribu lagi mau diserahkan saja ke Indonesia tapi Pak dirjen tegas bilang enggak mau: ‘Enggak begitu dong caranya. Masak you enggak butuh, sekarang mau dibuang lagi ke Indonesia?’ Jadi harus ada proses riset yang berkaitan dengan benda-benda tersebut. Ada-enggak aspek sejarahnya dan kulturalnya yang penting terhadap benda-benda tersebut,” imbuh Puja. Baca juga: Belanda Kembalikan Ribuan Benda Bersejarah Protes Hilmar itu, lanjut Puja, lantas memicu pihak Belanda untuk mulai menggagas sebuah pilot project , PROCE (Provenance Research on Objects of the Colonial Era). PROCE itu kemudian digawangi para pakar Rijksmuseum, Nationaal Museum van Wereldculturen, dan Nederlands Instituut voor Oorlogsdocumentatie (NIOD) yang diketuai Gonçalves. “Mereka mengeluarkan suatu rekomendasi dari riset yang dilakukan selama dua tahun namanya ‘Clues’ (Clues: Research into Provenance History and Significance of Cultural Objects and Collections Acquired in Colonial Situations, red ). Clues itu berkaitan dengan riset-riset terhadap 65 benda tapi bukan hanya dari Indonesia tapi juga dari Sri Lanka. Jadi menarik bahwa komite Belanda PROCE ini dibentuk karena justru yang men- trigger Pak Dirjen Hilmar Farid. Bahwa repatriasi tidak bisa hanya pengembalian begitu saja tapi harus ada tindaklanjutnya, harus ada aspek creation of knowledge- nya dan follow up -nya seperti beasiswa, riset (bersama),” urainya lagi. Keris Klungkung yang turut direpatriasi bersama 471 benda lainnya ( wereldculturen.nl ) Rekomendasi PROCE itu, tambah Duta Besar RI untuk Belanda periode 2015-2020 tersebut, kemudian dibawa ke Kementerian Kebudayaan dan Media Belanda. Bunyi rekomendasi PROCE itu yakni, sejumlah artefak –terutama yang state-owned objects – dihasilkan dari ketidakadilan sejarah alias rampasan kolonial, dikembalikan ke negara asalnya tanpa syarat. Di sinilah proses politiknya dimulai. “Rekomendasi Komite Gonçalves itu disetujui kementerian (Kebudayaan dan Media) Belanda dan akhirnya dimajukan ke parlemen. Di parlemen inilah terjadi perdebatan hangat, mengingat sensivitasnya. Tapi dari kementerian Belanda itu commit betul dan bertekad untuk menyetujui rekomendasi Komite Gonçalves. Kemudian dibentuklah komisi independen (Commissie Koloniale Collecties, red) yang diketuai juga oleh Gonçalves dan gayung bersambut, Indonesia pada Februari 2021 dengan SK Kemendikbud membentuk juga tim repatriasi ini,” terang Puja. Baca juga: Repatriasi Bukan Sekadar Memulangkan Benda Bersejarah ke Tanah Air Maka sejak 2021 itu pula para pakar Belanda dan Indonesia mulai berkolaborasi dan bersinergi untuk saling bertukar informasi. Utamanya mengenai rencana repatriasi terhadap delapan cluster benda-benda bersejarah Indonesia yang disebutkan di atas. “Kita juga untuk lebih mengedukasi masyarakat, di komite kita mulai ada forum discussion group (FGD), sampai ada tiga FGD dengan Universitas Sriwijaya, Universitas Gadjah Mada, dan Universitas Hasanuddin. FGD ini kita lakukan untuk mengedukasi and mengondisikan ke masyarakat, bahwa ini ada yang mau pulang, lho ,” tambahnya. Ketua Commissie Koloniale Collecties, Lilian Gonçalves-Ho Kang You (Arjan Onderdenwinjgaard/Historia) Selain FGD di negeri sendiri, “tektokan” antara para ahli Commissie Koloniale Collecties dan Tim Repatriasi Koleksi Asal Indonesia di Belanda dalam menggulirkan riset bersama itu pun digulirkan. Sayang prosesnya hanya bisa berlangsung secara virtual lantaran pandemi Covid. “Pihak Belanda sangat antusias ya, berdialog dengan kita. Karena saat ini tentu saja di Indonesia telah muncul ahli-ahli juga yang secara spesifik memahami berbagai benda bersejarah tadi yang sayangnya dulu mungkin di Belanda banyak ahli-ahli itu. Tapi sekarang kajian terhadap hal-hal yang terkait dengan budaya-budaya bekas jajahan Belanda itu menurun. Sehingga mereka sekarang menyimpan benda-benda itu tapi kehilangan pegangan dalam hal basis pengetahuannya. Hanya berupa literatur-literatur dan bacaan-bacaan,” ungkap Bondan. Baca juga: Empat Versi Al-Quran Milik Teuku Umar di Belanda Sementara, imbuh Bondan, di Indonesia pengetahuan tentang benda-benda itu hidup dan terus berkembang lantaran berakar dari masyarakat Indonesia sendiri dan masih jadi praktik budaya dan dilakukan dalam kehidupan sehari-hari. Di sisi lain, para pakar Indonesia tak kalah antusias karena tim Belanda sangat terbuka dalam sharing informasi terkait arsip-arsip yang tersimpan di Belanda untuk kemudian dikaji bersama. “Nah inilah yang kemudian menyebabkan kenapa kita sangat antusias juga karena pengetahuan yang ada di dalam diri kita sebagai bangsa Indonesia, bertemu dengan benda dengan representasi itu semua yang selama ini mungkin menghilang dari kita. Kita seperti di- refresh kembali. Kita juga pengin lihat, kayak apa sih produk budaya yang pernah dihasilkan masyarakat kita yang saat ini mereka (Belanda) simpan? Karena enggak semua peneliti kita kan beruntung bisa pergi ke Belanda dan mengakses itu semua,” jelasnya. Sejarawan UI cum  anggota tim repatriasi Bondan Kanumoyoso ( Historia.id ) Proses saling bertukar informasi dan saling belajar inilah yang jadi sejarah baru atau sejarah dalam sejarah, seperti yang diungkapkan di atas. Dialog semacam itu takkan terbayangkan di era 1950-an saat repatriasi dirintis. Kala itu hubungan bilateral kedua negara masih “tegang” akibat soal Papua. Proses riset bersama ini, lanjut Bondan, juga jadi produk yang intangible karena dilakukan dalam semangat yang setara hingga mengasilkan produk provenance research yang positif dan konstruktif. “Isu ini di tahun 1950-an, bisa dibayangkan itu resistensi akan sangat kuat ya. Rasa kecewa karena mereka kehilangan koloni Indonesia yang mereka sebut sebagai gorde van smaragd ya, Zamrud Khatulistiwa lewat peristiwa atau rangkaian kejadian yang menciptakan suatu trauma. Nah muncul generasi baru, tidak hanya di Belanda tapi juga di Indonesia yang sudah siap dengan satu pengetahuan yang lebih matang dan mantap,” tutur Bondan lagi. Baca juga: Menanti Fosil Java Man Kembali dari Belanda Setelah kemudian muncul hasil risetnya, barulah proses politik kembali berperan dalam hal menyiapkan berbagai dokumen yang jadi “payungnya”. Di antaranya dokumen acknowledgment of transference untuk sama-sama diteken Menteri Uslu dan Dirjen Hilmar Farid. Salah satu poinnya dokumen itu adalah pengembalian delapan cluster koleksi itu ke Indonesia diongkosi Belanda. “Dokumen itu detail berkaitan dengan aspek legalnya, transportasinya, komitmen dari Belanda untuk membiayai seluruh pengembalian benda-benda tersebut. Juga yang berkaitan dengan ke depannya yang disebut dengan knowledgeproduction , riset, kerjasama-kerjasama teknis, penguatan kapasitas, penguatan museum/staf museum, program S2-S3 (pascasarjana-doktoral). Itu sudah diatur dalam naskah dokumen yang ditandatangani 10 Juli lalu,” jelas Puja. Menteri Gunay Uslu (kiri) dan Dirjen Hilmar Farid usai menandatangani dokumen "acknowledge of transference" (Riyono Rusli) Produk kemitraan dan kerjasama yang intangible antara tim pakar Indonesia dan Belanda ini juga kemudian, timpal Bondan, menjadi perhatian dunia, terutama sejumlah negara eks-kolonialis yang juga hendak merepatriasi benda-benda bersejarah hasil jarahan di negara jajahan masing-masing. Ke depan, masih sangat mungkin model ini diterapkan pemerintah Indonesia lagi, seandainya mulai mewacanakan repatriasi benda-benda bersejarah Nusantara lainnya yang masih tersimpan di Inggris, Amerika Serikat, Rusia, hingga Jerman. “Dengan negara lain pasti beda strateginya karena background hubungan kita dengan negara-negara lain juga berbeda. Tetapi jelas ini bisa jadi model. Bagaimana cara kita berkolaborasi, bersinergi. Ini kan bisa dikembangkan. Artinya ini menjadi titik awal atau modal untuk membangun saling kesepahaman tentang bagaimana proses (repatriasi) ini harus dijalankan,” ujar Bondan. Baca juga: Tantangan Mengembalikan Prasasti dari Inggris Puja pun sependapat. Kemitraan dan kerjasama antar-para pakar dalam repatriasi 472 benda Indonesia ini seperti permulaan baru sebuah pilot project yang mungkin bisa diterapkan lagi terhadap negara lain. “Saya juga banyak diminta wawancara oleh teman-teman museum dari Jerman, Inggris, tentang bagaimana sih prosesnya? Mereka juga mau belajar. Mudah-mudahan ini bisa sebagai pilot project jadi kita ke depannya tidak perlu lagi re-invent the wheels , istilahnya membuat roda baru lagi. Jadi rodanya sudah ada, tinggal menggerakkan gerbongnya saja ke depan seperti apa dan mau ke mana,” tandas Puja. Koleksi jarahan Lombok yang juga akan direpatriasi dari Belanda (Riyono Rusli/Historia)

  • Tragedi Bunuh Diri Massal

    KEHENINGAN sebuah desa di Texas, Amerika Serikat, pecah pada akhir Februari 1993. Baku tembak antara polisi dan anggota Branch Davidian, sekte sempalan Gereja Advent hari ketujuh, meletus. Sekte ini dipimpin David Koresh sejak 1987. Selama enam tahun, dia mengumpulkan pengikut dan menceramahi mereka tentang kekacauan besar di dunia. Bersiap menghadapi kekacauan itu, Koresh membekali anggotanya dengan senjata dan latihan militer.

  • Antara Waktu dan Kenangan

    ARLOJI bukan sekadar penunjuk waktu. Ia juga penanda akan sebuah kenangan. Ibnu Hisyam, pria berusia 62 tahun, meyakininya ketika memutuskan untuk mengoleksi arloji antik. Mulanya dia ingin memiliki sebuah arloji bermerek untuk aksesoris sehari-hari. Di daerah Tanah Abang, pada 1974, dia memutuskan membeli arloji Rolex tipe Oysterdate seharga Rp500 ribu. Setelah itu dia malah keranjingan mengoleksi arloji antik dan berkelas. Mulailah dia berburu.

  • Kisah Soehoed Usai Ditawan Belanda

    Serangan Umum 1 Maret 1949 membuat tentara Belanda kembali dengan pasukan yang lebih banyak. Pembersihan kota Yogyakarta dari para tentara Republik Indonesia (RI) lebih ketat dijalankan Belanda, termasuk dengan penangkapan. Ahmad Raoef Soehoed, seorang perwira Angkatan Udara Republik Indonesia (AURI), termasuk yang kena ciduk tentara Belanda. Soehoed dibawa ke markas IVG di belakang Istana Gedung Agung. Namun tak semua tentara Belanda jahat padanya. Seorang sersan mendatanginya. Namanya Vodegel, anak seorang pengelola Ballroom Dancing (Ruang Dansa) di Kosambi, Bandung. Rupanya adik Vodegel adalah teman main Soehoed. Vodegel, yang juga kawan kuliah Soehoed di zaman Hindia Belanda itu, juga mengenali Soehoed. “Soehoed, kenapa kamu di sini?” tanya Vodegel. Sembari duduk di lantai sebagaimana tahanan-tahanan lain, Soehoed hanya menjawab, “kamu lihat sendiri, saya kan duduk di sini.” “Kamu tertangkap ya?” “Ya begitulah.” “Kamu mau keluar dari sini?” Tak menjawab, Soehoed hanya mengangguk setuju. “Nanti saya carikan jalan,” kata Vodegel. Soehoed juga ditanyai Kapten Jansen dari IVG mengenai apa yang dilakukannya setelah bebas. Termasuk ditawari apakah mau bergabung ke batalyon federal. “Saya ingin menyelesaikan dahulu studi saya di Bandung,” jawab Soehoed. “Ya sudah kalau begitu nanti saya catat. Tunggu saja berita,” kata Kapten Jansen. Akhirnya Soehoed benar-benar berada di Bandung. Dia tak khawatir lagi dengan orangtuanya di Yogyakarta yang setia kepada RI, karena Sultan Hamengkubuwono IX menolong keluarganya. Soehoed pun kembali kuliah di Technisch Hogeschool (Sekolah Tinggi Teknik) di Bandung, yang kini menjadi Institut Teknologi Bandung (ITB).  Baca juga:  ITB Rayakan Seabad TH Bandung Begitulah kisah Abdoel Raoef Soehoed semasa revolusi kemerdekaan yang dituangkan dalam biografi berjudul AR Soehoed Menyertai Setengah Abad Perjalanan Republik . Dia terkesan sikap kawan-kawan Belandanya kepadanya yang tidak membiarkan dirinya dalam kesulitan. Semasa kuliah lagi di Bandung, Soehoed dapat pekerjaan sebagai asisten dari Ir. Begemann di Laboratorium Tanah Pekerjaan Umum. Di tahun terakhir kuliahnya di Bandung itu, seorang perwira navigasi Jawatan Udara Belanda mendatanginya. Perwira itu bukan Belanda totok atau Indo-Belanda, tapi orang Jawa. Namanya Soegito. Dalam data para perwira Indonesia yang dicatat Benjamin Bouman dalam Van Driekleur tot Rood-Wit. De Indonesische Officieren uit het KNIL 1900-1950 (1995:399), Soegito tercatat sebagai letnan Militaire Luchvaart (ML) alias Jawatan Udara Militer Koninklijk Nederlands-Indische Leger (KNIL) dengan nama lengkap Raden Soegito Djajengminardo. Bergabung dengan KNIL sebelum 1943, Soegito merupakan sersan milisi penerbangan yang ditugaskan belajar di Sekolah Penerbangan dan Navigasi di Australia. Sejak 15 Juli 1944 dia menjadi Letnan Kelas Dua Cadangan yang ditugaskan ke dinas khusus, bukan di skuadron tempur udara. Setelah 1945, dia tetap berdinas di KNIL. Umumnya, anggota KNIL di Australia jauh dari jangkauan nasionalisme Indonesia. Baca juga:  Sikap Australia Terhadap Kemerdekaan Indonesia Namun anehnya, Soegito membawa pesan yang bukan dari atasannya di KNIL sewaktu mendatangi Soehoed. “Siap-siap untuk menerima perintah selanjutnya,” kata Soegito kepada Soehoed. Soehoed yang tak paham pun bertanya. “Ini pesan dari siapa?” “Perintah langsung dari Kepala Staf Suryadarma di Bangka,” jawab Soegito. KSAU Komodor Suryadi Suryadarma berada di Bangka karena ikut ditangkap dan dibuang Belanda bersama beberapas pejabat teras RI sejak 19 Desember 1948. Bersama Bung Hatta, Mr. Asaat, dan Mr. AG Pringgodigdo, Suryadarma ditahan langsung di Bangka sementara Bung Karno, Sjahrir, dan Agus Salim terlebih dulu dibuang ke Parapat. Setelah pengakuan kedaulatan RI oleh Kerajaan Belanda, Soehoed aktif kembali ke AURI. Pada periode inilah Soehoed memainkan peran penting dalam tubuh AURI, yang dikenal sebagai “Suyono Affair”. Baca juga:  Panglima AURI pilihan Sukarno Suyono Affair merupakan konflik antara KSAU Suryadarma dan sekelompok perwira teras AURI di bawah pimpinan Komodor Muda Udara Suyono yang pernah menjadi KSAU Pemerintah Darurat Republik Indonesia. Konflik dipicu oleh kritik Suyono cs. terhadap kebijakan personel KSAU yang dinilai lebih mengutamakan kesamaan ideologis dan pandangan politik ketimbang kapabilitas dan integritas profesional dalam proses perekrutan sejumlah posisi di pucuk pimpinan AURI. Lalu, KSAU dianggap lebih mementingkan pembentukan Pasukan Gerak Tjepat (PGT), intel, dan pengawasan internal personel dibanding membangun profesionalisme para penerbang. Suyono yang mengetahui konflik kian meruncing, berinisiatif mengumpulkan sejumlah perwira di kelompoknya untuk mencari solusi pemecahan pada 30 Oktober 1952. AR Soehoed termasuk yang diundang. Mereka lalu mengirimkan surat pernyataan kepada KSAU yang berisi permintaan agar kondisi yang ada ditinjau bersama secara mendalam dan diambil langkah-langkah perbaikan. Belakangan, surat itu mendapat dukungan dari mayoritas penerbang senior. Maka ketika KSAU hendak menggelar operasi udara menumpas pemberontakan Daud Beureuh, para penerbang menolak terbang. Mereka hanya mau melaksanakan operasi apabila KSAU telah memberi tanggapan terhadap surat Suyono cs. KSAU yang berang menganggap aksi para penerbang itu gerakan pembangkangan. Tindakan tegas segera diambilnya. Baca juga:  Persahabatan Suryadarma dan Perwira Belanda “Lima perwira senior AURI yang dianggap sebagai konseptor surat tadi; Komodor Muda Udara H. Suyono, Komodor Muda Udara A.R. Soehoed, Komodor Muda Udara Wiweko Soepono, Komodor Muda Udara Roeslanudanurusamsi dan Komodor Muda Udara Sutardjo Sigit dikenai sanksi tahanan rumah. Puncaknya, keluar Surat Keputusan KSAU yang menetapkan pembebasan tugas kelima perwira AURI tersebut terhitung tanggal 5 Oktober 1953. Keputusan KSAU itu kemudian disebarluaskan, mungkin sebagai peringatan bagi yang lain. Tetapi yang muncul justru reaksi sebaliknya, sekitar 30 penerbang dan perwira teknik mengajukan pengunduran diri dari AURI,” tulis Subdisjarah Diswatpersau dalam Sejarah TNI Angkatan Udara: 1950-1959 . Lantaran konflik di tubuh AURI itu sampai ke pemerintah pusat, penyelesaiannya pun menjadi lama. Terlebih, pergantian kabinet dari Ali Sastroamidjojo ke Burhanuddin Harahap membawa sikap beda dari kedua pemerintahan tersebut. Soehoed yang –menjabat sebagai Asisten Perwira Staf Teknik di Komando Teknik AURI  dengan pangkat mayor udara– mengetahui dirinya masuk ke dalam golongan yang dipermasalahkan, akhirnya memilih mundur dari AURI. Dia lebih memilih memanfaatkan ilmunya di sipil ketimbang di angkatan yang sedang dilanda “kisruh”. Keputusannya tak salah. ia akhirnya menjadi pakar teknik sipil yang dipercaya memimpin berbagai proyek –seperti pembangunan Bendungan Asahan – hingga dipercaya Presiden Soeharto menjadi Menteri Perindustrian di Kabinet Pembangunan III. “Sebetulnya, ia dapat meneruskan karir militernya, tapi, ia minta berhenti, dan permintaannya dipenuhi Presiden RI dengan SK No. 67/Tahun 1956,” tulis Dharmasena edisi Februari 1997.

  • Televisi Masuk Desa

    MENTERI Negara Bidang Ekuin (Ekonomi, Keuangan, dan Industri) merangkap Ketua Bappenas Widjojo Nitisastro melantik Astrid Susanto sebagai penasihat Bappenas pada 1974. Ahli komunikasi itu mendapat tugas meluaskan layanan televisi. Dia pun memberikan laporan pendek yang mencakup perlunya keseimbangan persyaratan teknis dan pertimbangan politis terkait persatuan nasional dan keamanan.

  • Serba-serbi di Serambi

    BERCENGKERAMA di serambi rumah menjadi kegiatan rutin penduduk Batavia pada zaman kolonial Belanda. Kebiasaan ini dilakukan karena kebanyakan rumah penduduk, khususnya orang-orang Eropa, memiliki teras atau serambi. Di masa-masa awal Batavia berdiripada abad ke-17, orang-orang Belanda membangun dan menata kota baru tersebut berdasarkan ingatan mereka akan negara asalnya. Tak heran bila sejumlah kanal dibangun di wilayah itu. Susan Blackburn dalam Jakarta: Sejarah 400 Tahun menyebut seperti di Belanda, para imigran itu juga ingin tinggal di tepi kanal karena lebih nyaman dan lebih bergengsi. “Perumahannya sangat menyerupai Belanda, bangunannya berlantai satu atau dua dengan dinding samping yang menempel dengan bangunan sebelahnya,” tulis Blackburn. Baca juga:  Rumah-Rumah Bikinan VOC Selain itu, orang Eropa juga menyukai area terbuka di depan rumah.Namun, karena tidak ada halaman depan, rumah-rumah orang Eropa memiliki serambi di depannya yang dipisahkan dari trotoar dengan pagar. Menurut Cor Passchier dalam “Arsitektur Kolonial di Indonesia” yang termuat dalam Masa Lalu dalam Masa Kini: Arsitektur di Indonesia , di sepanjang bagian depan rumah tersebut terdapat semacam panggung kecil untuk keluarga sendiri yang disebut stoep dan memiliki lebar kira-kira satu setengah meter. “ Stoep adalah sesuatu yang lazim di negeri Belanda, yang sering dipisahkan dari daerah publik menggunakan pilar-pilar dari batu biru kemudian dihubung-hubungkan dengan rantai dari besi yang dicat,” tulis Passchier. Stoep yang juga dapat disebut serambi terkadang ditutup dengan atap kedua atau dengan memanjangkan ujung atap utama. Keduanya disangga dengan pilar-pilar kayu. Serambi semacam ini secara arsitektur dipandang sebagai cikal bakal beranda depan yang belakangan khas dijumpai di berbagai rumah Indis pada abad ke-19. Baca juga:  Pamer Kekayaan di Rumah Indische Woonhuis Di serambi inilah, penduduk Batavia mulai dari orang Eropa, mardijker , hingga penduduk asli, melewatkan waktu senggangnya untuk sekadar duduk-duduk maupun bercengkerama membicarakan berbagai peristiwa hingga menggunjingkan kelakuan orang-orang di sekitarnya. Posisinya yang strategis membuat serambi diibaratkan semacam pos pengawasan kehidupan sosial. Hal ini umumnya terjadi di sepanjang jalan sempit dimana rumah-rumah berhimpitan satu dengan yang lain. “Emperan yang satu menyambung dengan emperan di sebelahnya sehingga apa yang terjadi di sebuah rumah juga jelas didengar dan diketahui di sepanjang jalan. Apabila di depan sebuah rumah terdengar suara yang tidak lazim, sertamerta jendela depan rumah-rumah lain langsung dibuka dan sederatan kepala melongok ke luar, saling bertanya gerangan apa yang terjadi,” tulis Hendrik E. Niemeijer dalam Batavia: Masyarakat Kolonial Abad XVII . Meski serambi dipandang sebagai pusat kehidupan sosial, tempat ini juga merupakan bagian kehidupan pribadi pemilik rumah yang tak boleh diterobos begitu saja. Apabila seorang tetangga melontarkan gurauan atau pernyataan yang menghina, tak jarang yang merasa tersinggung berteriak dari serambinya dan menantang lawan bicaranya itu untuk berkelahi di jalan.Pada masa itu berkelahi di serambi dianggap pelanggaran daripada berkelahi di jalan. Baca juga: Pernikahan dengan Sarung Tangan Umpatan dan caci maki pun seringkali terlontar akibat hal-hal sepele, seperti meludah sirih melewati pagar tetangga atau budak dipukul tetangga akibat lupa membersihkan got di depan emperan. “Udara di serambi zaman itu memang sering kental dengan awan emosi yang setiap saat dapat tumpah ruah sebagai badai percekcokan soal pembantu, ulah para budak atau lontaran penghinaan spontan kepada yang kebetulan lewat,” sebut Niemeijer. Seperti pertikaian antara Catharina de Clerck, yang dikenal sebagai janda Coeymans, denganPieter de Kok, pembuat kue pastel yang juga seorang mardijker . Pertikaian berawal ketika budak laki-laki Catharina yang sedang membersihkan saluran air di depan rumah majikannya ditempeleng oleh de Kok. Pertikaian itu semakin besar karena budak-budak de Kok turut membantu dan beberapa budak Catharina ikut adu jotos untuk membela kawannya. Sementara para budak itu berkelahi, de Kok kian mengobarkan permusuhan dengan memaki Catharina dan putrinya dalam bahasa Portugis. Dalam kasus ini, bukan hanya de Kok yang memiliki reputasi kurang baik di kawasan tersebut,kedua wanita yang menjadi sasaran sumpah serapahnya juga kerap menjadi gunjingan orang-orang di sekitarnya karena di serambi rumah mereka sering terjadi keributan dan perkelahian. Baca juga:  Ambisi Jan Pieterszoon Coen Membangun Koloni di Batavia Menurut Niemeijer, Pieter de Kok dan Catharina saling memahami batas-batas yang harus diperhatikan. Keduanya hanya saling memaki sementara adu jotos dilakukan para budak mereka. “Mereka paham, kalau hanya mencacimaki, mereka tidak akan sampai diseret ke meja hakim,” ungkap Niemeijer. Sementara itu, dalam kasus perselisihan antara Nyonya Francina Stil, istri kepala jurumudi di kapal VOC, dengan seorang ahli bedah, Abraham Poele, menunjukkan bahwa konflik bisa muncul dari kelompok sosial yang sama. Francina membawa dua istri kepala jurumudi lain sebagai saksi ketika mengadukan tetangganya, Abraham Poele dan induk semangnya karena dari serambi rumah mereka selama berhari-hari menghina Francina sebagai “binatang betina yang apabila jantannya tak ada di rumah selalu mengundang jantan lain masuk ke dalam rumahnya”. Segregasi warna kulit yang melahirkan sentimen di kalangan penduduk Batavia juga tak jarang memicu konflik, khususnya di antara para wanita. Beberapa nyonya dari kalangan mardijker , yang berkat menikah dengan warga Eropa dan menjadi anggota gereja telah mencapai kedudukan sosial yang agak tinggi, selalu berusaha menunjukkan bahwa mereka berbeda dari tetangga mereka yang berkulit hitam. Sikap para nyonya itu dipandang negatif oleh wanita lain yang memiliki suami atau ayah Eropa dan tidak pernah menjadi budak. Baca juga:  Flexing Masa VOC di Batavia Contoh sikap mantan budak naik kelas itu dapat dilihat dari perselisihan antara Messia Gerritsz, budak perempuan yang dibebaskan dan menikah dengan warga Belanda, Theunis Gerritsz, dengan Nyonya Busson dan Nyonya Bollaert yang tinggal di kawasan mardijker . Messia yang merupakan mantan budak Nyonya Bollaert datang berkunjung ke rumah wanita itu. Ia sengaja bertamu ke kalangan bekas majikannya untuk menunjukan bahwa status sosialnya sudah sama dengan mereka. Namun, mantan majikan Messia tak bersedia menerimanya sebagai tetangga sederajat meski ia sudah menikah dan menyandang nama keluarga suaminya. Para nyonya itu tetap memandang rendah Messia dan mencacimakinya, serta memerintahkan para budak mereka untuk menghina wanita itu bila ia melintas di depan rumah. Perselisihan tak hanya terjadi di antara tetangga.Serambi juga menjadi saksi pertengkaran rumah tangga yang umumnya dipicu rasa cemburu nyonya rumah terhadap suaminya. Misalnya, seorang lelaki berdarah campuran, Hendrick Theunisz memarahi istrinya, Margareta Riebalt, dengan suara nyaring di serambi rumah karena kasus perselingkuhannya diungkit oleh sang istri. D emikian lah, berbagai peristiwa dan konflik sosial yang terjadi di serambi rumah , seperti gunjingan, pertengkaran rumah tangga hingga fitnah yang berujung keributan , menjadi potret kehidupan masyarakat koloni al . *

  • Gunung Tua Warisan Dunia

    JAM delapan pagi, Edy sudah menanti di depan pintu masuk Machu Picchu. Dia mengenakan kemeja putih lengan panjang dan jins biru. Dia masih muda, taruhan usianya masih di bawah kepala tiga. Dia mengibarkan bendera warna hitam.

  • Kembalinya Berlian Lombok dari Belanda

    MUSEUM Nasional Etnologi (Museum Volkenkunde) di Leiden, Belanda tak berkilau lagi. Sejak Selasa, 4 Juli 2023, sebuah etalase di museum ini kehilangan pesona, setelah berlian Lombok 75 karat, dipindahkan ke gudang untuk segera dikirim ke Indonesia. Permata ini melekat di bros berbahan emas. Benda yang menjadi objek favorit dari seluruh harta rampasan perang Lombok 1894 yang selama ini dipajang di Belanda. Pemerintah Belanda akan mengembalikan 478 objek museum kepada pemerintah Indonesia. Benda-benda yang dijarah selama penjajahan Belanda di Indonesia itu,ratusan diantaranya berasal dari koleksi Museum Volkenkunde. Sebagian kecil masih dipamerkan sampai sekarang. Selain harta karun Lombok, ada keris upacara dari Klungkung, Bali, dan empat arca Singhasari. Penandatanganan serah terima repatriasi telah dilakukan pada Senin, 10 Juli 2023 di Leiden. “Intan Lombok pergi sedikit lebih awal, karena akan memiliki peran seremonial saat serah terima pada hari Senin (10/07/2023),” tulis Merijn van Nuland dalam “Van de befaamde Lombok-diamant is in de Leidse vitrine alleen nog het pinnetje over”, trouw.nl , 7 Juli 2023. Menurut sejarawan Belanda Ewald Vanvugt, berlian Lombok berukuran 21 x 19,3 milimeter tersebut salah satu batu gemerlap paling terkenal dan terbesar di dunia. “Diperkirakan pada tahun 1985, murni berdasarkan beratnya, tanpa menilai kekunoannya, nilainya sebesar 750.000 gulden,” terang Ewald Vanvugt dalam Het Dubbele Gezicht van de Koloniaal . Baca juga:  Resmi! Belanda Serahkan 472 Benda Bersejarah ke Indonesia Ali Baba di Sarang Penyamun Memasuki lokasi etalase berlian Lombok berikut rampasan perang Lombok lainnya, bukan perkara mudah. Pengunjung dibatasi 15 orang per jam. Masuknya melalui pintu samping yang dijaga ketat aparat bersenjata. Di bawah pengawalan bersenjata pengunjung masuk ke lift. Di lantai atas, seorang pegawai museum dengan sarung bahu menunggu di aula yang remang-remang. Pengunjung memasuki ruangan gelap melalui pintu lebar. Ketika pintu ditutup, ruang menjadi gelap gulita. Lalu tiba-tiba lampu menyala terang, berkelap-kelip. Di situlah letak tempat pemajangan harta karun Lombok. “Ratusan permata dan ribuan batu berharga bersinar di sekeliling ruangan. Anda langsung merasa seperti Ali Baba di sarang penyamun. Puluhan keris, ratusan cincin, segala macam kendi emas dan benda-benda berharga ditumpuk di sini dalam etalase antipeluru, tampak seperti permata di department store . Sebuah keris berkilauan, bilahnya bertatahkan emas, sarungnya berhias 120 berlian, tergantung di seutas benang, tampak bergerak mengikuti aliran udara AC,” tulis Vanvugt menggambarkan lokasi penyimpanan benda-benda bernilai tersebut. Berlian (kiri bawah) dan benda-benda berharga lainnya dari Lombok yang dikembalikan ke Indonesia. (Riyono Rusli/Historia.ID) Benda-benda paling indah dipajang di sepanjang dinding museum, disertai foto-foto tokoh-tokoh terkemuka Belanda. Di atas berlian Lombok, misalnya, tergantung potret Jan Laurens Andries Brandes, seorang filolog, kolektor barang kuno, dan leksikografer Belanda. Sosok ini populer lantaran menemukan salinan keropak Negarakertagama di Puri Cakranegara, Lombok. Harta Lombok yang dirampas Belanda terdiri dari 230 kilogram uang emas, 7.199 kilogram koin perak, perhiasan, dan lebih dari 1.000 macam benda berbahan emas. Sebagian besar harta ini dikirim ke Belanda dalam 75 peti. Sebagian lagi dilebur. Sedangkan benda-benda yang bernilai sejarah dan budaya menjadi koleksi museum. Baca juga:  Repatriasi Bukan Sekadar Memulangkan Benda Bersejarah ke Tanah Air Laman kunsthal.nl menyebut harta tersebut pernah dipamerkan pihak museum selama tiga bulan, sejak 16 September sampai 10 Desember 1995. Ewald Vanvugt terlibat dalam pameran sebagai kurator tamu. Setahun sebelumnya, Vanvugt secara khusus menulis harta Lombok dalam buku berjudul De schatten van Lombok . Lokasi pameran bertajuk “The Treasure of Lombok” itu berada di tengah aula seni seluas 1.000 meter persegi. Pameran eksotik dengan iringan instrumentalia dari kecapi Yahudi. Di seluruh ruangan merebak aroma cengkeh dan kayu manis. Pameran tersebut dicatat Frank Eckardt dalam Rotterdam Konturen einer globalisierten Stadt . Ia juga menyinggung berlian Lombok. “Berlian 75 karat, sebesar buah aprikot dengan segi tak terhingga, dalam bingkai selebar dua sentimeter yang terbuat dari emas yang ditempa secara artistik,” tulisnya. Baca juga:  Rampasan Belanda yang Dikembalikan ke Sri Lanka Ihwal kondisi pasca menghilangnya harta karun Lombok dari Museum Etnologi Leiden juga dibahas Merijn van Nuland. Museum ini terancam kosong. Namun, pengunjung setia museum tidak akan terkejut. “Permintaan restitusi Indonesia tentu sudah diketahui berbulan-bulan. Sebagai pengelola museum, kami siap untuk itu, dan saya pikir bahkan peminat terhebat pun sekarang telah mengucapkan selamat tinggal pada objek favorit mereka,” tulis Merijn van Nuland mengutip Marieke van Bommel, direktur Museum Nasional Budaya Dunia (National Museum of World Cultures). Museum yang berasal dari masa kolonial, “taman bermain” bagi para kolektor dan ilmuwan Barat itu, disebut-sebut akan didesain ulang dalam waktu dekat. Bahwa pandangan dunia tentang Eurosentris sudah ketinggalan zaman. Untuk itu, sebuah museum mesti tetap relevan dengan perubahan zaman.* Penulis p ernah menjadi wartawan di beberapa media cetak dan daring. Kini sebagai p enulis lepas dan menulis beberapa buku di antaranya De Ampenan (2019), Satria Bongancina (2021), dan Layar Nasib (2022).

  • Derita Hidup Seorang Gundik

    DI zaman kolonial Belanda, pergundikan kerap dipandang sebagai solusi untuk lepas darikemiskinan maupun meningkatkan status sosial. Tak heran bila sejumlah wanita memutuskan menjadi gundik bagi orang-orang Eropa maupun warga bebas ( mardijker ). Meski ada yang menganggap tabu dan melanggar norma, praktik pergundikan marak terjadi. Laki-laki imigran Eropa tidak ada kendala untuk mengambil seorang wanita lokal sebagai gundik. Terlebih, menurut Tineke Hellwig dalam Citra Kaum Perempuan di Hindia Belanda dalam Era VOC , laki-laki Eropa yang hendak melakukan pernikahan harus mendapat persetujuan terlebih dahulu dari pemerintah VOC. “Karena keadaan itu, banyak laki-laki yang tak pernah mengawini perempuan Asia, melainkan hidup dengannya sebagai gundik atau nyai,” sebut Tineke. Hubungan pergundikanumumnya tak didasari cinta, melainkan kebutuhan dilayani dan melayani. Atas dasar itu, para wanita lokal–umumnya masih berusia muda– yang menjadi pengurus rumah tangga pada praktiknya tergiring pada pergundikan. Baca juga:  Nyai Ontosoroh dan Kisah Pergundikan di Hindia Belanda Namun, harapan mendapatkan hidup lebih baik melalui pergundikan sering kali hanya mimpi belaka. Kekerasan, pelecahan hingga perlakuan sewenang-wenang justru harus diterima para wanita yang terjerat pergundikan. Salah satu contohnya ditulis Hendrik E. Niemeijer dalam Batavia: Masyarakat Kolonial Abad XVII , yang mengisahkan perlakuan sewenang-wenang seorang warga mardijker bernama Abram Dias kepada gundiknya yang membuatnya dijatuhi hukuman berat pada 1691. “Abram Dias dijatuhi hukuman cambuk berat yang dilaksanakan di belakang balai kota akibat yang bersangkutan nyaris setiap hari mencaci maki, mengancam, dan memukul perempuan kulit hitam, Sada, yang pernah menjadi gundiknya tetapi kemudian dicampakannya,” tulis Niemeijer. Nasib buruk juga menimpa Jubika van Batavia, gundik seorang warga mardijker bernama Francis de Koes. Selama sepuluh tahun menjadi gundik, Jubika kerap mendapatkan perlakuan kasar dan kejam dari De Koes. Perempuan malang itu bersama anak-anaknya sering mengungsi ke rumah kenalan setiap De Koes yang pemabuk dan penjudi membuat ulah. Namun, setiap kali Jubika pulang, ia harus menerima kekejaman yang lebih berat. Baca juga:  Nyai dalam Kekuasaan Patriarki Kasus-kasus kekerasan tersebut menunjukkan bagaimana posisi seorang gundik dalam hubungan dengan sang tuan. Menurut Reggie Baay dalam Nyai & Pergundikan di Hindia Belanda , meski seorang gundik menjalani kehidupan dengan tuannya –mengatur urusan rumah tangga, tinggal bersamanya, makan dengannya, menemaninya, dan tidur bersamanya–, ia kerap dipandang tidak memiliki derajat yang sama seperti tuannya. Oleh karena itu, menjadi seorang gundik juga dapat diartikan menjadi pekerja maupun komoditas yang nasibnya ditentukan oleh sang tuan. Sepanjang abad ke-19, banyak orang Eropa yang terus menggunakan julukan-julukan yang menghina secara terang-terangan. Julukan paling halus yang umumnya dikatakan adalah indlandse huishoudster atau pembantu rumah tangga pribumi. “Penambahan kata pribumi sebenarnya sudah aneh dan tidak perlu. Pada waktu itu, jelas tidak ada pembantu rumah tangga Eropa di dalam koloni,” tulis Reggie. Baca juga:  Perempuan dalam Cengkraman Pergundikan Di samping itu, para gundik juga kerap disebut dengan meubel (perabot) atau inventarisstuk (barang inventaris). Sebutan ini dapat diartikan secara harfiah karena dalam pelelangan yang dilakukan orang Eropa yang akan pindah atau kembali ke negeri asalnya, para gundik juga ikut dilelang sebagai bagian dari inventaris mereka. Para gundik juga tidak memiliki hak secara resmi, dengan demikian ia tidak bisa menuntut kemana-mana. Selain itu, ia juga tidak bisa menuntut hak atas anak-anak yang lahir dari pergundikan. Menurut Reggie , peraturan i tu ditetapkan secara hukum dalam P asal 40 dan 354 Kitab Undang-Undang Hukum Perdata tahun 1848. Di dalam peraturan tersebut juga dicantumkan bahwa seorang gundik tidak dapat menuntut perwalian apabila “suaminya” meninggal. Dengan demikian , bila tiba saatnya untuk pergi, maka ia akan pergi dalam keadaan yang sama ketika pertama kali datang, yaitu dengan tangan hampa. Kecuali jika sang laki-laki bersedia untuk membuat perjanjian dengannya. *

  • Kisah dalam Sepotong Roti

    SEKIRA pukul setengah tujuh, seorang lelaki muda membuka pintu naik-turun (rolling door) sebuah toko di Jalan Cikin Raya, Jakarta Pusat. Saat daun pintu tergeser penuh, dia mengatakan kepada seseorang yang sudah menunggu di luar: “Toko baru buka pukul delapan.” Pada kaca toko tertulis “Tan Ek Tjoan, Roti Kue, Oven Fresh”.

  • Pawai Kematian di Sandakan

    LYNETTE Silver masih ingat ketika seorang perempuan mendatanginya di tahun 1993. Perempuan itu memintanya menulis tentang peristiwa tragis di Sandakan, kota pelabuhan di pantai timur Kalimantan Utara, yang dikenal dengan sebutan Sandakan Death March atau Pawai Kematian Sandakan. Perempuan itu ingin ada yang mencatat kisah pilu itu, yang memakan ribuan korban jiwa, termasuk kakaknya.

bg-gray.jpg
Tedy masuk militer karena pamannya yang mantan militer Belanda. Karier Tedy di TNI terus menanjak.
bg-gray.jpg
Pemilihan Augustine Magdalena “Tiene” Waworuntu sebagai walikota Manado menjadikannya walikota perempuan pertama pasca pembubaran RIS. Pemilihannya menimbulkan polemik daerah-pusat, hingga menyeret militer.
bg-gray.jpg
Dua anggota legiun Mangkunegaran ikut serta gerakan anti-Belanda. Berujung pembuangan.
bg-gray.jpg
Rumah Sakit Bethesda Yogyakarta merupakan buah kasih dokter misionaris Belanda bernama J.G. Scheurer yang dijuluki Dokter Tolong.
bg-gray.jpg
Rumah yang pernah digunakan untuk mendidik kesadaran politik rakyat. Kini sepi pengunjung.
bottom of page