top of page

Hasil pencarian

Cari di situs ini

10055 hasil ditemukan dengan pencarian kosong

  • Tayub yang Dilarang Sultan

    Guna mewujudkan rasa syukur dan menggali potensi budaya tradisional yang dimilikinya, masyarakat Dukuh Cempluk, Kelurahan Mangunan Kapanewon Dlingo, Bantul, Yogyakarta menggelar acara “ Merti   dusun”  (bersih-bersih dusun) September lalu. Dalam acara ritual tiga tahun-an yang dihelat Jumat Kliwon itu, dipentaskan pula tari Tayub Bayar Danyang. Ada tujuh penari –berbusana coklat muda dikombinasikan dengan kuning– yang membawakannya. Bersama-sama, mereka menari di panggung terbuka yang dibuat di batas tebing Watu Goyang, destinasi wisata yang ada di Dlingo. “Ini perwujudan rasa syukur masyarakat setelah pandemi dan berbagai kendala namun masyarakat masih bisa tetap panen,” kata Lurah Mangunan Aris Purwanto, diberitakan yogya.inews.id , 16 September 2022. Baca juga:  Memaknai Ulang Tari Jawa Kendati kian terpinggirkan, tayub, sebagaimana banyak seni tradisional lain, masih eksis di Yogyakarta. Kondisinya jelas berbeda dari masa lalu. Kisaran abad ke-19 hingga ke-20, pertunjukan tayub masih menjadi favorit masyarakat di Yogyakarta. Sebagai hiburan rakyat, tayub dapat ditemukan dengan mudah dari desa ke desa. Lantaran hiburan ini melibatkan banyak orang, tentu amat rawan terjadi kekacauan. Oleh karena itulah Sultan Hamengkubuwono VI membuat peraturan khusus untuk pergelaran tayub. Menurut Serat Angger Pradata Awal  hasil translitrasi Endah Susilantini, dkk., tidak seluruh masyarakat diizinkan mengadakan hiburan tayub. “Orang yang diijinkan Sultan menyelenggarakan pergelaran tayub hanyalah rakyat kesultanan Yogyakarta yang berpangkat bupati dan sejenisnya,” demikian kata Serat Angger Pradata Awal . Baca juga:  Tari Gambyong dari Jalanan ke Istana Hingga Pernikahan Modern Rakyat biasa diizinkan mengadakan pergelaran tayub namun hanya boleh pada siang. Keperluannya pun harus jelas, semisal untuk acara perkawinan anak, selamatan tujuh bulan kehamilan, khitanan, dan bagi orang yang memiliki nazar tertentu. Apabila dalam pergelaran tayub terdapat selisih paham antar-orang hingga menyebabkan timbul korban luka atau bahkan mati, maka orang yang mengadakan pergelaran tayub wajib bertanggung jawab. Nantinya patih pejabat Kesultanan Yogyakarta bergelar Adipati Danureja yang akan menetapkan hukuman. Ada ketentuan berbeda-beda terkait hukuman tersebut. Untuk rakyat kesultanan berpangkat Kliwon ke atas, hukumannya berupa denda sebesar 50 reyal. Rakyat yang berpangkat Mantri ke bawah, dendanya 25 reyal. Baca juga:  Tari Topeng Rasinah Melintasi Sejarah Sementara, apabila pergelaran mengakibatkan korban luka atau jiwa, ada aturan lebih lanjut. Apabila ahli waris orang yang menjadi korban tidak terima, maka dapat melanjutkan gugatannya ke perdata. Nanti akan ada dua penanggung jawab dari kesultanan yang menanganai perihal ini. Kasusnya akan diperiksa terlebih dahulu oleh abdi dalem bergelar Tumenggung Nitipraja. Hasilnya kemudian diserahkan ke pemerintah. Hukuman yang sesuai akan ditetapkan oleh Adipati Danureja. Hukuman bagi pelaku bisa berupa denda atau lecut (pecut, red. ) dan pembuangan. Denda bagi pelaku yang melukai tergantung pada kebijakan dan kejadiannya. Akan tetapi jika pelaku tidak dapat membayar, maka di- lecut sebanyak 300 kali lalu dibuang ke luar wilayah kerajaan. Ini berbeda dengan pelaku pembunuhan. “Orang yang membunuh diberi hukuman denda sebesar 500 reyal, jika tidak membayar denda, dilecut sebanyak 500 kali, lalu dibuang ke (hutan) Lodaya atau ke (hutan/pantai) Ayah,” kata Serat Angger Pradata Awal . Baca juga:  Memperingati Maestro Tari Topeng Mimi Rasinah Sejak awal, sultan tidak mengizinkan pergelaran tayub dilakukan pada malam hari tanpa sebab. Apabila ketahuan melanggar peraturan tersebut, penyelenggara akan dikenakan denda sebesar 25 reyal. Kemudian jika terjadi pertengkaran, maka keluarga korban tidak dapat menuntut. Meskipun ahli warisnya tidak terima, gugatan mereka pasti ditolak Tumenggung Nitipraja. Peraturan tersebut dilengkapi lagi dalam Serat Angger Pradata Akhir . Serat tersebut mengatakan agar tidak bergunjing bahkan sampai bertengkar jika ada orang meninggal saat pergelaran Tayub. Denda akan dilayangkan kepada siapapun yang memulai pertengkaran. “Siapa yang memulai akan didenda sepantasnya, jika itu diulangi lagi dalam pertengkaran diumpamakan sebagai anjing yang sedang kawin”, kata Serat Angger Pradata Akhir .

  • Mantiri Dikira Menteri

    Belum lama berdiri, Angkatan Udara Republik Indonesia (AURI) langsung bekerja. Dengan pesawat mereka, AURI harus wira-wiri ke berbagai tempat. Termasuk menjelang Perundingan Linggarjati, yang mana AURI mengirimkan Komodor Muda Abdul Halim Perdanakusuma, Opsir Muda Udara II Muhammad Sujono, dan Opsir Muda Udara III R.I. Mantiri. Mereka berangkat dari Yogyakarta yang sedang menjadi ibu   kota Republik Indonesia. Di Jakarta, mereka menginap di sebuah hotel. Mereka kemudian mengirim telegram ke Yogyakarta dengan mencantumkan nama pendek mereka bertiga. Tak lama datang wartawan yang ingin mewawancarai tentang pergantian kabinet. Mereka bertiga   bingung. Pergantian kabinet tentu urusan Presiden Sukarno atau Perdana Menteri Sutan Sjahrir. Mereka pun menyelidiki. Ternyata nama-nama pendek mereka ditulis sebagai: Perdana Menteri Sujono. Perdana dari Halim Perdanakusuma, Menteri dari Mantiri, dan Sujono dari Muhammad Sujono. Begitu cerita lucu tentang sejarah AURI yang dicatat majalah Angkasa  No. 1 Tahun XXV, 1975. Baca juga:  Enam Perintis TNI AU yang Meninggal Tragis Di lain waktu, Mantiri mengalami kejadian lucu lagi terkait namanya.Waktu itu,dia menjabat sebagai Komandan Pangkalan Udara Campur Darat di Tulung Agung, Jawa Timur. Dalam perjalanan ke Campur Darat dari Yogyakarta, rombongan Mantiri selalu mendapat sambutan istimewa dari para lurah. Mereka disuguhi ayam dan kambing, menu lezat dan mewah di zaman perang yang sulit. Tak hanya suguhan makanan, tenaga sukarela juga disediakan untuk membawa barang-barang rombongan. Rombongan AURI itu mendapat sambutan istimewa karena kurir yang mendahului mereka mengatakan kepada lurah-lurah yang dilaluinya bahwa “Bapak Menteri” dari Angkatan Udara akan melewati desa mereka. Ternyata yang datang “Mantiri” bukan “Menteri”. Dua kali nama Mantiri terbaca atau dikira sebagai Menteri. Mantiri sendiri adalah marga Minahasa. Dalam bahasa lokal di daerah asalnya, Mantiri diartikan sebagai pembuat benda halus. Jadi, Mantiri jelas bukan Menteri apalagi Mantri. Mantiri yang ini adalah Opsir Muda Udara III atau setara pembantu letnan. Baca juga:  Penerjunan Pertama Indonesia Mantiri, disebut Angkasa , juga seorang perwira AURI yang ikut menghadapi blokade udara Belanda. Suatu kali, ketika naik pesawat amfibi Catalina menuju Singapura, pesawat mereka berpapasan dengan pesawat Belanda. Mantiri nekat membuka pintu kokpit pesawat dan mengayun-ayunkan samurai ke arah pesawat musuh. Pesawat Belanda kemudian menghilangmungkin mengira samurai itu senapan mesin 12,7 yang menakutkan. Ketika berpangkat Kapten pada Oktober 1947, Mantiri menjadi saksi kekonyolan Belanda. Setelah Agresi Militer Belanda I pada 21 Juli 1947, Belanda mengklaim banyak daerah yang dikuasainya. Namun, sebuah pesawat Belanda yang membawa rombongan Komisi Tiga Negara (KTN) untuk meninjau wilayah yang dikuasai Belanda terpaksa mendarat di daerah yang dikuasai Republik Indonesia yaitu di Pameungpeuk, Garut . Buku Album Perjuangan Kemerdekaan, 1945–1950 dari Negara Kesatuan ke Negara Kesatuan menyebut ketika pesawat Belanda itu mendarat, Letnan Mantiri sedang berada di sana. Baca juga:  Iswahjoedi dalam Angkatan Udara Belanda Tidak banyak data tentang Mantiri. Benjamin Bouman dalam Van Driekleur tot Rood-Wit: De Indonesische officieren uit het KNIL 1900-1950 menyebut Mantiri pernah belajar di Vliegschool (Sekolah Penerbang) kolonial di Kalijati pada 1941, lalu pada 28 Oktober 1941 ditugaskan sebagai Milisi Pribumi pada Depot Batalion KNIL 1 di Bandung. Pada 9 Januari 1942, dia naik pangkat menjadi Kopral Milisi. Setelah Indonesia merdeka, Mantiri ikut serta berada di pihak Republik. Dia belajar terbang lagi kepada Komodor Muda Agustinus Adisutjipto hingga punya kemampuan terbang. Mantiri sempat menjadi perwira logistik AURI. Setelah Agresi Militer Belanda II, dia menjadi anggota Staf AURI di Jawa Timur. Baca juga:  Tragedi Kematian Magellan Setelah 1950, Kapten Penerbang Mantiri menjadi Komandan Pangkalan Udara Mandai. Sebelumnya, diamenjadi Inspektur Penerbangan Angkatan Udara Republik Indonesia Serikat (AURIS). Koran  Java Bode , 29 April 1950, menyebut Mantiri sudah berada di Makassar dan menyebut bahwa lapangan terbang itu masih cukup layak kondisinya. Java Bode , 2 Mei 1950, juga menyebut Mantiri pernah ikut melakukan kunjungan dengan pesawat yang kendarainya. Kapten Mantiri rupanya pecinta sejarah. Koran Het N ieuwsblad voor Sumatra , 7 November 1953, dan De V rije P ers , 4 November 1953, memberitakan bahwa Mantiri bersama A . W . F . de Rook telah merilis naskah sejarah berjudul De eerste wereldreis en het rijk Minahassa yang akan diterbitkan V an Hoeve Bandung. Di dalamnya disebut bahwa penjelajah Fernando de Magelhaens atau Ferdinand Magellan tidak tutup usia di Filipina tapi di Minahasa. Mantiri mengaku telah menyelidikinya selama 15 tahun. *

  • A Journey to Greatness: Chess in Indonesia

    ON the seventh floor of Nusantara I Building of the House of Representatives of the Republic of Indonesia (DPR RI) in Senayan area, Jakarta, Utut Adianto was welcoming a guest. In a room with a large oval table situated in the center, some of his colleagues were taking a lunch break. Utut himself chose to sit in the smaller adjacent room where he carried his day-to-day responsibility as the Floor Leader of Indonesian Democratic Party of Struggle.

  • Jaminan Keselamatan Rakyat saat Melakukan Perjalanan

    Travelling sudah menjadi gaya hidup muda-mudi generasi milenial dan generasi Z. Work from Bali, misalnya, sempat gencar saat pandemi dan pembatasan kegiatan perkantoran. Para pekerja memanfaatkan momen ini untuk bekerja dari luar kota atau tempat-tempat wisata di daerah luar tempat tinggal mereka. Banyak pula masyarakat yang memiliki anggaran khusus untuk travelling. Fenomena tersebut pun dijadikan peluang usaha berbagai pihak. Banyak tempat wisata kini menyediakan penginapan, mulai dari hotel berbintang, cottage , villa, resor, hingga hostel. Bahkan,  warga yang memiliki rumah cukup besar dengan fasilitas lengkap akan menyediakan kamar tersendiri untuk disewakan kepada wisatawan, dikenal dengan homestay . Pendirian homestay saat ini diatur oleh Peraturan Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif No. 4 tahun 2021 tentang Standar Kegiatan Usaha. Sarana dan prasarana apa saja yang harus ada saat pendirian homestay (pondok wisata) ditentukan dalam peraturan tersebut. Baca juga:  Awal Mula Pariwisata di Indonesia Sejatinya, peraturan semacam itu bukan hanya ada di masa kini. Pada 1865, Sultan Hamengkubuwono VI menulis surat untuk Tumenggung Natapraja selaku jaksa hukum pradata, berisi tentang peraturan mengenai perundang-undangan tradisional. Peraturan tersebut digunakan untuk mengadili rakyat yang berselisih. Salah satu yang diatur adalah perihal menginap di perjalanan. Ada dua teks yang mengatur mengenai penginapan dan orang yang menginap ketika di perjalanan, yaitu Serat Angger Pradata Awal dan Serat Angger Pradata Akhir . Serat yang terakhirmerupakan penyempurna dari Serat Angger Pradata Awal . Pada Serat Angger Pradata Awal dikatakan apabila rakyat Kasultanan Yogyakarta melakukan perjalanan dan harus bermalam di desa-desa, maka pilihlah tempat menginap di rumah pembesar, perangkat desa, dan pemimpin agama. Ada perbedaan jaminan keselamatan bagi tamu dengan tujuan bekerja dan bukan. Jika tamu bertujuan bekerja, maka jaminan keselamatan diberikan selama ia perlu menginap. Sedangkan tamu dengan tujuan selain bekerja, jaminan keselamatan yang diberikan hanya satu hari satu malam. Jika tamu yang menginap mengalami kehilangan barang bawaan, keluarga yang diinapi harus mengganti rugi sebesar tiga kali lipat ( tribaga ). Selanjutnya akan ada sumpah antara tamu dan tuan rumah di hadapan seluruh warga desa. Apabila ditemui tanda-tanda pencurian dari pihak lain, ganti rugi akan dikembalikan. Baca juga:  Pesona Wisata Pulau Dewata Peraturan ganti rugi karena kehilangan ini berbeda apabila terjadi pada perangkat desa. Apabila perangkat desa mengalami kehilangan saat menginap di rumah rakyat kecil, maka tuan rumah tidak akan dituntut ganti rugi. Hal tersebut dianggap sebagai kesalahan pejabat perangkat desa itu sendiri. Oleh sebab itu, untuk perangkat desa yang sedang melakukan perjalanan, dianjurkan memilih rumah pejabat setempat untuk tempat menginap. Apabila rumah pejabat perangkat desa jauh, boleh di rumah rakyat kecil namun harus dijaga oleh semua orang di desa tersebut. Maka jika  tamu kehilangan, seluruh rakyat desa bertanggung jawab dengan mengganti rugi. Dalam hal ini jika pemilik rumah kecurian, hal pertama yang dilakukan adalah memberitahu pada tamu yang menginap. “Jika ditemukan bukti, barang yang hilang berada pada yang menginap atau pembantunya, yang menginap harus menggantinya seperti keadaan semula. Dalam hal itu yang kehilangan harus disumpah, barangkali ia angruba gini (memasang jebakan). Jika sudah ketahuan barang buktinya, orang yang kehilangan segera memberitahu kepada pemerintah, serta barang buktinya dipegang oleh pejabat kliwon ke atas,” demikian kata Serat Angger Pradata Awal . Lukisan Sultan Hamengkubuwono VI di Yogyakarta tahun 1963 karya Adolphe François. ( collectie.wereldculturen.nl ). Peraturan jaminan keamanan bukan hanya mengatur tentang benda-benda saja namun jiwa tamu juga dijamin. Penduduk desa yang diinapi harus bertanggung jawab jika terjadi pemukulan terhadap tamu. Apabila ada tamu yang menginap dipukuli hingga menderita luka, maka penduduk desa didenda 25 reyal dan bila meninggal, didenda 50 reyal. Denda dapat dikembalikan jika sudah diketahui pelaku pemukulan tersebut dan nanti pemerintah pusat yang akan mengurus perkaranya. Penjelasan lebih lanjut pada peraturan-peraturan sebelumnya ditulis kembali pada Serat Angger Pradata Akhir . Serat ini mengatur, ketika pejabat perangkat desa bermalam karena suatu perjalanan, di manapun pilihannya, di rumah rakyat kecil maupun rumah pejabat, tetap dijamin keamanannya. Jika tamu dengan titel pejabat desa kehilangan barang, maka si pemilik rumah harus mengganti. Jika dibegal dalam perjalanan, juga harus dilindungi dengan cara membunyikan kentongan di rumah terdekat untuk segera memburu pencuri. Baca juga:  Wisata Sumatra Era Kolonial Untuk rakyat yang memiliki kebutuhan bekerja dan berdagang, dalam peraturan awal diperbolehkan menginap sepanjang kebutuhan waktunya. Akan tetapi pada Serat Angger Pradata Akhir disarankan untuk bergantian dari satu rumah ke rumah lain dan salah satu rumahnya harus rumah lurah. “Apabila lurah sedang bepergian, maka kamituwa punya kewajiban untuk melindungi tamunya selama sehari semalam,” kata Serat Angger Pradata Akhir. Oleh sebab itu, jika terjadi kemalingan maka pemilik rumah harus mengganti tiga kali lipat. Kemudian apabila suatu hari si maling dapat ditangkap, harus diselesaikan dengan musyawarah. Demikianlah jaminan keselamatan rakyat saat melakukan perjalanan pada masa pemerintahan Sultan Hamengkubuwono VI.

  • Lima Petaka Mengerikan di Stadion Sepakbola

    MATA dunia tertuju kepada Indonesia. Ironisnya bukan karena prestasi, tapi tragedi. Peristiwa pahit di Stadion Kanjuruhan, Kabupaten Malang pada 1 Oktober 2022 masuk dalam catatan hitam tragedi terbesar di stadion sepakbola. Ia menempati urutan kedua setelah Petaka Estadio Nacional di Lima, Peru, 58 tahun silam. Dari beragam sumber disebutkan korban Tragedi Kanjuruhan mencapai 174 orang tewas sementara sekira 300 lainnya luka berat dan ringan. Sementara, versi Polri menyebutkan korban tewasnya 125 jiwa dan 325 luka-luka. Tragisnya, 33 di antara korban tewas masih anak di bawah umur. Banyak media mancanegara menyoroti tindakan represif aparat keamanan. Terutama, dalam penggunaan gas air mata yang penggunaannya dalam pengamanan suporter di dalam stadion dilarang dalam regulasi FIFA. Aksi solidaritas elemen Persija, Persib, Bali United dan Persis Solo yang berduka atas Tragedi Kanjuruhan. (Twitter @Persija_Jkt/@BaliUtd/@persisofficial/@persib). CBS News pada 2 Oktober melaporkan tragedi itu dengan tajuk “125 die as tear gas triggers crush at Indonesia soccer match”. Sementara, New York Times merilis dengan tajuk “Fans Fled as Police Fired Tear Gas, Causing Deadly Rush For Exits”. Reuters juga menyoroti hal yang sama lewat tajuk “Indonesia soccer stampede kills 125 after police use tear gas in stadium”. Kendati sebelumnya pihak kepolisian mengatakan penggunaan gas air mata sudah “sesuai prosedur”, upaya tersebut tetap melanggar  aturan FIFA yang dirilis pada 2012, yakni Stadium Safety and Security Regulations. Penggunakan senjata api dan gas air mata dalam prosedur pengamanan sama sekali tidak dibenarkan. Ada delapan poin terkait keamanan yang diatur regulasi tersebut: manajemen prosedur, stewards atau personil keamanan, kapasitas maksimal, antisipasi struktural dan teknis (stadion), crowd management , dan pelayanan darurat. “Dalam hal keamanan, para stewards harus dilatih secara reguler dalam hal prosedur-prosedur darurat, penggunaan peralatan darurat, prosedur-prosedur evakuasi, dan pemeriksaan pra-pertandingan,” tulis Eric C. Schwarz dkk. dalam Managing Sport Facilities and Major Events . Adanya pelanggaran prosedur pengamanan itu membuat pihak-pihak di luar dunia sepakbola pun ikut angkat bicara mengomentari Tragedi Kanjuruhan. Amnesty International salah satunya. “Kami mendesak pihak terkait melakukan investigasi yang independen dan menyeluruh menyoal penggunaan gas air mata di stadion dan memastikan mereka yang terlibat dibawa ke persidangan terbuka. Kami juga mendesak kepolisian meninjau kebijakan penggunaan gas air mata dan senjata lainnya untuk memastikan tragedi memilukan itu terulang lagi,” ujar Amnesty International di laman resminya , 2 Oktober 2022. Sejarah mengatakan, dari sejumlah petaka di dalam stadion yang terjadi di berbagai belahan dunia, semua tak lepas dari tindakan represif pihak keamanan. Termasuk lima petaka terparah berikut ini: Tragedi Stadion Mateo Flores Sisa-sisa insiden tragis di Estadio Mateo Flores. (tdifh.blogspot.com). Kondisi Stadion Mateo Flores (kini Estadio Nacional Doroteo Guamuch Flores) dan panitia pertandingan yang “mata duitan” jadi kombinasi menakutkan bagi suporter yang antusias ingin jadi saksi laga Grup 1 Kualifikasi Piala Dunia 1998 Zona CONCACAF (Amerika Tengah dan Karibia) antara tuan rumah Guatemala kontra Kosta Rika, 16 Oktober 1996. Panitia pelaksana (panpel) lokal mencetak tiket hingga 45.796, melebihi kapasitas stadion yang saat itu hanya bisa menampung 37.500 penonton. Stadion yang dibangun pada 1948 itu punya lima sektor tribun. Akan tetapi desain stadionnya nyaris tak berubah seiring bergulirnya zaman hingga tak berbanding lurus dengan meningkatnya antusiasme penonton. Alhasil akses keluar-masuk di masing-masing tribun sangat tidak laik. “Tragedinya terjadi saat masa pemanasan tim, di mana kerumunan suporter di tribun selatan bertumbangan, terdesak sampai ke pagar, dan terinjak-injak. Tercatat 83 orang dilaporkan meninggal (sumber lain menyebut 80-100 jiwa) dan antara 150-200 lainnya terluka. Kebanyakan korban tewas karena mengalami asphyxiation (kehabisan nafas, red .). Penyebabnya tak lain karena kelebihan kapasitas karena ribuan tiket tambahan tersebar secara ilegal,” ungkap John Nauright dan Charles Parrish dalam Sports Around the World: History, Culture and Practice. Laga Guatemala kontra Kosta Rika itu pun ditunda atas perintah langsung Presiden Guatemala, Álvaro Arzú, yang menyaksikan langsung dari tribun VIP. Selain menetapkan tiga hari berkabung, pemerintah Guatemala juga memerintahkan CDGA (Confederatión Deportiva Autonóma de Guatemala) menginvestigasi kasusnya didampingi tim evaluasi dari FIFA. Untuk sementara, Timnas Guatemala mesti menjalani laga kandang kualifikasinya di Amerika Serikat, tepatnya di Stadion Memorial Coliseum, Los Angeles. Di sisi lain, investigasi menghasilkan fakta bahwa terdapat 13 oknum panpel diketahui terlibat sindikat tiket ilegal, namun tak satupun yang kemudian diganjar hukuman. Dari evaluasi yang dilakukan, dikeluarkan keputusan yang mengharuskan pengelola stadion melakukan renovasi, khususnya di akses-akses keluar-masuk tribun. Untuk menghindari terulangnya tragedi, CDAG diharuskan mendesain ulang rencana evakuasi. Sementara FIFA melalui perwakilan Amerika Tengah, Rafael Tinoco, merekomendasikan stadionnya mesti dilakukan modifikasi untuk memenuhi standar keamanan yang ditentukan oleh komisi FIFA. “Infrastruktur (stadion) yang sudah berdiri sejak 1950 itu harus dimodel ulang. Sebagai langkah pertama, bagian eksternalnya (akses) harus dimodifikasi,” ungkap Rafael Tinoco, utusan FIFA untuk Amerika Tengah, dikutip Prensa Libre , 15 Oktober 2006. Tragedi Stadion Dasharath Rangasala Sejumlah suporter yang berupaya menyelamatkan diri dari kondisi cuaca angin topan dan hujan es di Kathmandu. ( Kathmandu Post , 12 Maret 1988) Stadion di ibukota Nepal, Kathmandu, yang dibangun pada 1956 itu jadi venue utama dalam setiap laga-laga Timnas Nepal maupun event - event bergengsi level klub. Termasuk event Tribhuvan Challenge Shield yang mempertemukan klub tuan rumah Janakpur Cigarette Factory kontra Mukti Joddha asal Bangladesh pada 12 Maret 1988. Namun, panpel agaknya kurang siap mengantisipasi faktor cuaca. Hujan deras yang turun di pagi harinya hingga membuat panpel ingin menunda pertandingan, berubah cerah pada siangnya. Panpel akhirnya memutuskan laga tetap digulirkan pada petang hari sesuai jadwal. Keputusan panpel itu namun justru jadi blunder. Cuaca cerah petang itu tiba-tiba berubah menjadi hujan es disertai angin topan. Tak ayal 30 ribu penonton yang menyesaki Stadion Dasharath panik lalu mencari tempat berlindung. Nahas bagi mereka, dari empat sektor tribun Stadion Dasharath, hanya tribun utama di sisi barat yang memiliki atap. Saat puluhan ribu penonton ingin memaksa masuk ke tribun utama, mereka dipukul mundur aparat keamanan. “Badai yang disertai petir, angin kencang, dan hujan es membuat panik 30 ribu fans. Sejumlah saksi mata menyatakan banyak penonton yang berteriak histeris saat berusaha menyelamatkan diri menuju delapan pintu keluar tapi ironisnya hanya satu yang terbuka (di tribun selatan, red .),” demikian diberitakan suratkabar Los Angeles Times , 13 Maret 1988. Puluhan ribu penonton itu pun berdesakan hingga saling menggencet di satu pintu keluar itu. Akibatnya, 93 orang tewas karena terinjak-injak dan kehabisan nafas dan lebih dari 100 lainnya terluka. Usai tragedi itu, mulai dari panpel hingga aparat keamanan saling lempar tanggung jawab. Sebuah komisi yudisial yang dibentuk pasca-tragedi itu kemudian memutuskan pemerintah memberi santunan sebesar 450 dolar kepada keluarga korban tewas dan 90 dolar kepada keluarga korban yang terluka. Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nepal, Keshar Bahadur Bista, dan Presiden ANFA (induk sepakbola Nepal) Kamal Thapa mengundurkan diri dari jabatannya. Tragedi Hillsborough Tugu peringatan Tragedi Hillsborough. (liverpoolfc.com). Alan Radford, pemuda kelahiran Liverpool, selalu tak nyaman bahkan geram bila bertemu angka 97. Ia punya memori kelam dengan angka 97. Pasalnya, angka itu merupakan jumlah korban dari sebuah tragedi yang juga dialaminya. “Jika saya melihat angka 97 di televisi, itu akan membuat saya marah. Hillsborough menewaskan lebih dari 97 orang. Saya yakin itu,” kata Radford kepada The Athletic , 15 April 2022. Hillsborough yang dimaksud Radford merupakan Tragedi Hillsborough yang terjadi di Stadion Hillsborough, Sheffield, Inggris pada 15 April 1989. Tragedi terjadi dalam helatan laga semifinal FA Cup yang mempertemukan Liverpool dan Nottingham Foreset. Saat laga, kericuhan terjadi hingga mengakibatkan 97 orang tewas dan 766 luka-luka. Radford jadi satu dari sekian penyintas yang masuk daftar pemeriksaan “Taylor Report”, sebuah investigasi yang dilakoni hakim agung Lord Taylor. Sebagaimana Radford, Richard Wilsonyang kelahiran Blackpool juga mengalami luka ringan saat berusaha menyelamatkan diri. Kendati luka fisiknya lekas sembuh, luka batinnya tetap belum hilang hingga ia acap menghindari kehidupan sosial karena tak ingin banyak mendapat pertanyaan dari keluarga dan kerabatnya. “Saya teringat tentang bagaimana saya bisa selamat. Rasa bersalah saya masih sama sebagaimana di tahun 1989. Di dalam hati saya bertanya: ‘Siapa orang yang saya injak?’ Saya tahu saat itu saya berdiri di atas tubuh dua orang. Saya berpikir: ‘Apakah berat tubuh saya membunuh seorang anak?’” kenang Wilson pahit. Baik Wilson maupun Radford di hari itu berada di tribun barat, lokasi tempat terjadinya desakan penonton terparah jelang laga dimulai. Sementara, dari luar, ribuan suporter lain memaksa masuk ke tribun barat meski panpel sudah mengatur fans Liverpool ke tribun utara dan barat. Tetapi karena keretaapi yang mengangkut massa Liverpool datang terlambat, para fans yang ikut telat itu mengalir secara spontan hanya ke tribun barat sebagai yang terdekat dari stasiun. Ribuan fans yang memaksa masuk itu mengakibatkan ribuan lainnya yang sudah di dalam terhimpit dan tergencet sampai ke pagar pembatas besi yang lantas roboh. Sejumlah fans yang tadinya tergencet di pagar pun bertumbangan dan terinjak-injak oleh fans lain di belakang. Kekacauan makin parah lantaran aparat kepolisian menghalau suporter dengan cara-cara represif. Tragedi itu kemudian jadi titik balik persepakbolaan Inggris setelah dilakukan transformasi lewat “Blueprint for the Future of Football” yang dikeluarkan FA (induk sepakbola Inggris). Selain peniadaan pagar pembatas di stadion-stadion, cetak-biru itu meneptakan penggencaran edukasi suporter oleh masing-masing klub, pengetatan pengawasan potensi hooliganisme lewat CCTV, dan penerapan prosedur pengelolaan dan pengamanan kerumunan suporter yang lebih humanis dengan mengandalkan stewards atau pihak keamanan masing-masing klub. Tragedi Stadion Ohene Djan Patung perunggu untuk memperingati Tragedi di Stadion Accra. (sportsauthority.gov.gh). Kombinasi antara panpel ceroboh, kondisi stadion buruk, dan tindakan brutal aparat keamanan sebagaimana yang terjadi di Guatemala pada 1996 terulang di Accra, Ghana, pada 9 Mei 2001. Hasilnya, hari itu Stadion Ohene Djan (kini Accra Sport Stadium) jadi saksi bisu momen terkelam sepakbola di Benua Hitam. Sebanyak 126 orang tewas dan ratusan lainnya mesti dirawat di rumahsakit. Petakanya bermula dari kekecewaan puluhan ribu suporter klub Asante Kotoko. Lantaran timnya kalah 1-2 dari Accra Hearts of Oak, mereka bertindak anarkis dengan melempar kursi dan botol ke lapangan. Tindakan itu kemudian diladeni aparat keamanan. Sejumlah akses keluar-masuk tribun sengaja dikunci aparat. “Polisi lalu mulai menembakkan gas air mata ke tribun-tribun. Yang menyelamatkan saya adalah, saya melepas baju untuk menutupi mulut saya,” kata Deputi Menteri Olahraga Ghana Joe Aggrey yang turut terdampak gas air mata di tribun utama, dikutip BBC , 10 Mei 2001. Tembakan gas air mata dan peluru plastik dari aparat kepolisian itu lantas menyebabkan panic attack para suporter di sejumlah tribun. Lantaran sejumlah pintu sudah dikunci, beberapa akses yang tersisa jadi sasaran mereka untuk keluar sehingga menimbulkan bottleneck. Para para suporter menumpuk, saling menggencet, dan terinjak-injak. Insiden pahit itu memicu keprihatinan Presiden Ghana, John Kufuor, yang lalu menetapkan tiga hari berkabung dan Premier League Ghana dihentikan selama sebulan. Pemerintah kemudian membentuk komisi independen untuk menginvestigasinya. Hasilnya, enam anggota kepolisian didakwa dengan pasal pembunuhan. Akan tetapi di persidangan, keenamnya dinyatakan tak bersalah. Jaksa gagal membuktikan gas air mata sebagai penyebab kematian 126 orang itu. Kematian mereka disebabkan karena terinjak-injak suporter lain. Tragedi Estadio Nacional Peru Ribuan suporter yang ditembakkan gas air mata pada Tragedi Estadio Nacional. (tvperu.gob.pe). Dalam satu kedipan mata, euforia yang membuncah dari puluhan ribu fans Timnas Peru yang memadati Estadio Nacional, Lima, Peru pada 24 Mei 1964 berubah jadi amarah. Gol striker Victor Lobatón di masa injury time ke gawang Argentina dianulir wasit Ángel Eduardo Pazos asal Uruguay. Padahal, saat itu Peru sedang tertinggal 0-1. Mereka hanya butuh hasil imbang untuk bisa lolos kualifikasi Zona CONMEBOL sehingga berhak berangkat ke Olimpiade Tokyo. Walau laga belum berakhir, Pazos terpaksa menghentikan pertandingan lantaran para suporter tuan rumah di beberapa tribun mulai bertindak anarkis. Beraneka macam benda berterbangan ke arah lapangan sebagai luapan emosi kekecewaan 45 ribu penonton. “Setelah para pemain kedua kesebelasan dikawal aparat ke ruang ganti, seorang suporter, Negro Bomba, menyusup ke dalam lapangan untuk menyerang wasit. Polisi menghalaunya dengan brutal dan memancing amarah suporter lainnya. Polisi sampai harus menggunakan tongkat dan menembakkan gas air mata untuk membendung massa suporter yang membanjiri lapangan,” ungkap Nauright dan Parrish. Tak hanya mengarah pada suporter yang menginvasi lapangan, polisi juga menembakkan gas air mata ke kerumunan suporter di tribun utara. Hasilnya, ribuan suporter di tribun itu panik. Sebagian besar gagal menyelamatkan diri lantaran akses pintu keluar yang terhubung dengan tangga terkunci. Tak ayal terjadi penumpukan mengerikan di beberapa tangga menuju pintu keluar. Tekanan dari himpitan ribuan orang itu akhirnya merobohkan pintu besi dan insiden saling menindih dan injak tak terelakkan. Petaka itu kemudian memakan korban jiwa hingga 328 orang dan 500 lainnya luka-luka. “Tidak selesai sampai di situ, massa yang berhasil keluar melakukan pengerusakan terhadap sejumlah kendaraan. Para polisi berseragam yang ditemui di jalan-jalan jadi sasaran amuk. Kerusuhan menjalar sampai seantero kota hingga memaksa pemerintah menerjunkan militer dan menetapkan status darurat serta jam malam,” tandas Nauright dan Parrish.*

  • Pelajaran Berharga dari Tragedi Sepakbola

    TIDAK hanya jadi perhatian nasional, tragedi di Stadion Kanjuruhan, Kabupaten Malang, Jawa Timur (Jatim) pada Sabtu (1/10/2022) juga jadi perhatian dunia. Sebanyak 174 jiwa melayang sia-sia dan lebih dari 300 lainnya luka-luka. Peristiwa getir itu bermula selepas peluit panjang tanda berakhirnya laga Liga 1 antara Arema FC melawan Persebaya yang berkesudahan 3-2 untuk kemenangan tim tamu. Tak terima, sejumlah oknum Aremania (sebutan fans Arema FC) menumpahkan kekecewaan dengan menyerbu ke lapangan yang kemudian dipukul mundur aparat kepolisian. Bentrokan antara suporter dan aparat pun tak terelakkan. Aparat tak hanya menggunakan pentungan dan tameng, tapi kemudian menembakkan gas air mata. Bukan hanya untuk membubarkan suporter yang turun ke lapangan tapi juga ke beberapa tribun. Baca juga: Hilang Nyawa Suporter Bola Salah Siapa? Akibatnya, suporter yang memadati stadion yang dibangun pada 1997 dan diresmikan Presiden Megawati Soekarnoputri pada 2004 itu dilanda kepanikan. Di setiap pintu keluar sektor tribun terjadi penumpukan suporter yang serentak menyelamatkan diri dari gas air mata yang memedihkan mata dan menyesakkan nafas. Korban jiwa kemudian berjatuhan. Presiden Joko Widodo, yang prihatin, langsung memerintahkan Kapolri Jenderal Listyo Sigit mengusut kejadian itu dan meminta PSSI untuk sementara menyetop Liga 1 hingga evaluasi dan prosedur pengamanan pertandingan dirampungkan. Serupa dengan Presiden Jokowi, Presiden FIFA Gianni Infantino juga turun tangan. Sebuah tim investigasi dikirimkannya ke Malang. “Ini hari yang kelam bagi semua yang terlibat dalam sepakbola dan sebuah tragedi di luar pemahaman kita. Dari hati yang terdalam, saya turut berbelasungkawa kepada para keluarga korban yang kehilangan atas insiden tragis ini,” kata Infantino di laman resmi FIFA, Minggu (2/10/2022). Presiden FIFA Gianni Infantino menyampaikan duka mendalam untuk Tragedi Kanjuruhan ( fifa.com ) Apapun alasannya, penggunaan gas air mata dalam event sepakbola tidak dibenarkan dan melanggar aturan FIFA. Regulasinya tercantum dalam pasal 19 (b) FIFA Stadium Safety and Security Regulations yang berbunyi: “Pengendalian kerumunan oleh pihak keamanan tidak boleh menggunakan senjata api maupun gas air mata.” Jangankan di dalam stadion, di luar pun penggunaan gas air mata tetap dilarang. Di Eropa, aparat yang menembakkan gas air mata takkan lolos dari jerat hukum. Itu bisa dilihat misalnya pada kerumunan fans Liverpool di luar Stade de France, Paris, di akhir Mei 2022. Baca juga: Gas Air Mata Awalnya untuk Perang Saat itu, ribuan fans Liverpool berkerumun di luar stadion menunggu laga final Liga Champions antara Liverpool kontra Real Madrid. Untuk mengurai kerumunan yang berpotensi ricuh, Kepolisian Paris menembakkan gas air mata dan semprotan merica. “Saya sepenuhnya menyadari bahwa orang-orang yang punya niat baik, bahkan membawa keluarga, ditembakkan gas air mata. Dan saya meminta maaf atas kejadian itu walau harus saya tekankan lagi, tidak ada cara lain,” ungkap Kepala Kepolisian Paris Didier Lallement di hadapan Senat Prancis, dikutip USA Today , 9 Juni 2022. Lantas, ketika korban sudah berjatuhan, siapa yang mesti bertanggung jawab atas tragedi Kanjuruhan? Para pemain dan ofisial Arema FC melakukan doa bersama untuk para korban Tragedi Kanjuruhan (Twitter @AremafcOfficial) Pelajaran Tragis dari Inggris Puluhan ribu mil dari Malang, suasana kontras terjadi di London dan Manchester, Inggris pada 1 Oktober 2022. Kendati “panas”, dalam derbi big match Arsenal kontra Tottenham Hotspurs dan Manchester City kontra Manchester United itu keamanan dan kenyamanan tetap terpelihara. Kendati stadion-stadion Premier League tanpa pagar pembatas, puluhan ribu suporter Tottenham dan Manchester United sebagai pihak yang keok tetap pulang dengan tertib dan aman. Padahal, banyak dari mereka juga membawa keluarga. “Kami mendukung permainan (sepakbola) yang aman. Setiap level sepakbola di Inggris berkomitmen untuk memastikan anak-anak bisa bersenang-senang, dan memiliki pengalaman positif dan inklusif. Oleh karenanya kami mendukung ‘Play Safe’, sebuah kampanye sepakbola nasional yang aman,” ungkap operator Liga Inggris, Premier League di akun Instagram -nya, @premierleague , Minggu (1/10/2022). Baca juga: Perang Sepakbola dan Kemerdekaan Kroasia Akan tetapi, atmosfer sepakbola yang aman dan nyaman di Inggris bukan “jatuh dari langit”, apalagi sejak dulu Inggris dikenal dengan hooliganisme-nya yang anarkis dan barbar. Ada proses panjang dengan pengalaman pahit dan tragis yang jadi bahan ajarnya. Kunci utamanya, para stake holders di Inggris punya keberanian dan kemauan. Berbeda dari Indonesia yang menteri terkaitnya berharap Tragedi Kanjuruhan tak berbuah sanksi FIFA, di Inggris perdana menterinya pernah berani menarik semua level sepakbola negerinya dari glamornya pentas dunia. Pasca-Perang Dunia II, sepakbola Inggris memang bangkit lagi tapi sejak saat itu juga tak pernah sepi dari kejadian memilukan. Tragedi di Stadion Burnden Park, Bolton, pada 9 Maret 1946 contohnya. Saat itu, tuan rumah Bolton Wanderers menjamu Stoke City di babak keenam FA Cup yang berakhir imbang tanpa gol. “Stadionnya hanya berkapasitas 69.500 tapi pada laga itu yang menyesaki Burnden Park sampai 80 ribu gegara antusiasme sepakbola pasca-perang. Aksesnya juga menjadi masalah karena salah satu tribunnya masih digunakan Kementerian Penyediaan Perlengkapan (perang) untuk gudang dan depot,” tulis Paul Brown dalam Savage Enthusiasm: A History of Football Fans. Plakat peringatan Bencana Burnden Park ( bwfc.co.uk ) Saking sesaknya, dua pembatas stadion roboh. Para penonton yang saling berdesakan dan berhimpitan pun meluap ke dalam lapangan. Saling injak dan tindih satu sama lain tak terelakkan. Akibatnya, 33 orang tewas dan 400 lainnya terluka. Korban jiwa lebih banyak terjadi di Stadion Valley Parade, Bradford, pada 11 Mei 1985, kala Bradford City berhadapan dengan Lincoln City di partai terakhir Divisi Championship (kasta kedua Liga Inggris, red). Puntung rokok penonton memicu kebakaran di Tribun Blok G dan mengakibatkan kepanikan ribuan penonton yang berdesakan di pintu keluar. Sebanyak 56 orang menjadi korban jiwanya dan 265 lainnya luka-luka. Baca juga: Bencana di Stadion Ibrox Di tahun yang sama, terjadi peristiwa tragis yang jadi titik balik dalam sepakbola Inggris: Tragedi Heysel di Belgia. Momennya  terjadi dalam partai final Champions Cup (kini Liga Champions) yang mempertemukan Liverpool dan Juventus, 29 Mei 1985 di Stade du Heysel (kini Stade Roi Baudouin). Tragedi itu dipicu oleh tawuran antara suporter Liverpool dan Juventus di luar stadion yang bahkan sudah terjadi sejak petang sebelum laga dimulai. Bentrokan berlanjut ketika masing-masing kubu suporter berada di dalam stadion dan saling berbalas lemparan batu. Memorial Tragedi Heysel yang jadi salah satu petaka paling kelam dalam sepakbola dunia ( liverpoolfc.com ) Pagar-pagar pembatas didobrak dan dirobohkan, di mana perkelahian kedua kubu akhirnya bentrok juga dengan aparat kepolisian. Peristiwa brutal itu menyisakan duka lantaran menewaskan 39 orang dan dan melukai 600 lainnya. Tak hanya 14 suporter Liverpool yang diseret ke pengadilan dengan dakwaan pembunuhan, sejumlah perwira polisi yang bertindak brutal juga menghadapi dakwaan yang sama. Tragedi ini kemudian menjadi perhatian PM Margareth Thacther. “Wanita Besi” itu memerintahkan FA (induk sepakbola Inggris) untuk menarik klub-klub Inggris dari semua kompetisi Eropa seiring dilakukan evaluasi secara holistik usai pemberian sanksi kepada klub-klub Inggris oleh UEFA dan FIFA. “Kita harus membersihkan permainan (sepakbola) ini dari hooliganisme di negeri kita sendiri dan setelah itu mungkin baru bisa membolehkan sepakbola kita bermain di luar negeri lagi,” ujar Thatcher dikutip Jim White dalam A Matter of Life and Death. Baca juga: Lembaran Getir Tragedi Heysel Beberapa evaluasi dibicarakan sang PM dengan FA dan Football League sebagai operator liga. Hasilnya, pemberlakuan kartu pengenal bagi ofisial, dan pemasangan pagar serta CCTV. Namun lima bulan pasca-absen dari pentas Eropa dan gelaran liga sudah berjalan aman selama beberapa tahun, muncul Tragedi Hillsborough. Peristiwanya terjadi saat perhelatan laga semifinal FA Cup antara Liverpool dan Nottingham Forest di Stadion Hillsborough, 15 April 1989. Montase Tragedi Hillsborough yang jadi titik balik sepakbola Inggris ( contrast.org ) Tragedinya bermula dari penumpukan suporter di lorong dan pintu masuk yang sempit di Sektor 3 dan 4. Penonton memaksa masuk saat laga sudah berjalan. Hal itu mengakibatkan penumpukan di dalam tribun. Banyak suporter yang harus memanjat pagar pembatas lapangan hanya untuk menyelamatkan diri agar tak terinjak-injak atau tertindih ribuan suporter lain. Di hari nahas itu, total 97 orang tewas dan 766 lainnya terluka. Ratu Elizabeth II, Paus Yohannes Paulus II, hingga Presiden Amerika Serikat George H.W. Bush menyatakan duka cita. PM Margaret Thatcher langsung bertolak ke Hillsborough didampingi Menteri Dalam Negeri Douglas Hurd. “PM Thatcher merasakan kepedihannya saat melihat para korban meninggal dan terluka dan mendukung dibentuknya ‘Investigasi Taylor’ (Investigasi Hakim Agung Lord Taylor, red. ) yang dalam laporannya mengkritik cara kepolisian dalam mengendalikan massa,” ungkap Charles Moore dalam Margaret Thatcher: Herself Alone. Baca juga: Stigma Kekerasan Suporter Fanatik Investigasi Taylor itu secara tidak langsung jadi pendorong transformasi sepakbola Inggris. Pada 17 Juli, FA bersama klub-klub Inggris menyepakati sebuah perjanjian dan merilis sebuak cetak biru, “FA Blueprint for the Future of Football”, seiring lahirnya Premier League sebagai pengganti Football League. Isinya tak hanya pembagian komersialisasi yang layak tapi juga upaya membentuk mental suporter menjadi lebih baik. “Untuk melengkapi transformasi besar sepakbola Inggris, para suporternya juga mesti diperlakukan sebagai konsumen ketimbang sekadar fans biasa. Ini berkaitan dengan penyediaan fasilitas dan kualitas venue . Kebanyakan stadion di Inggris saat itu peninggalan era Edwardian yang tidak nyaman dan tanpa kualitas hiburan yang memadai,” tulis D. M. Webber dalam “Post-Crisis Football: The Great Transformation of the English Game” yang termaktub dalam buku Football and Supporter Activism in Europe: Whose Game Is It?. Semenjak itu, sesuai rekomendasi “Laporan Taylor”, setiap stadion di Inggris harus melepas pagar pembatas agar tak membuat suporter seperti tahanan perang dan menghindari Tragedi Hillsborough. Semua stadion diwajibkan menghilangkan tribun berdiri dan diganti all-seater stadia alias kursi individu. Dalam hal keamanan di dalam stadion, wewenangnya tak lagi diserahkan kepada kepolisian tapi kepada pihak keamanan masing-masing klub yang tentu tanpa senjata dan prosedur represif. “Pasca-Tragedi Hillsborough, pemerintah membentuk Football Licensing Authority di bawah Football Spectators Act. Fungsinya adalah mendesain alur keamanan lewat sejumlah dokumen pengamanan di stadion yang disebut ‘Pedoman Hijau’. Salah satu manifestasi dari kejadian Hillsborough dalam Laporan Taylor adalah penyerahan tanggungjawab keamanan di dalam stadion dari kepolisian ke steward (pihak keamanan) klub masing-masing,” ungkap Richard Cox, Dave Russell, dan Wray Vamplew dalam Encyclopedia of British Football. Baca juga: Akar Seteru Suporter Oranye dan Biru Para stewards di Inggris yang sudah punya prosedur pengamanan suporter yang mapan ( thefa.com )

  • Tajir Melintir Teuku Markam

    Sebastian Tanamas baru sebulan tinggal di Jakarta. Ia meninggalkan ketentaraan dengan pangkat terakhir Letnan. Sebastian kemudian jadi orang pelarian, ke Jepang, karena bergabung dengan Pemerintahan Revolusioner Republik Indonesia (PRRI). Selama lima tahun di Jepang, Sebastian mengerjakan berbagai profesi. Mulai dari fotografer, wartawan, hingga penyiar radio Nihon Hoson Kyokai  (NHK). Pada Mei 1963, Sebastian memutuskan pulang ke Indonesia. “Dari Jepang, waktu itu saya membawa sebuah mobil sedan merek Dodge,” kenang Sebastian Tanamas dalam otobiografinya Tak Menggantang Asap: Otobiografi Seorang Pejuang dan Pengusaha Industri Kerajinan. Sekali waktu, Bastian hendak menjumpai seorang kawan di Jl. Sudirman. Namun, sewaktu melintas di dekat Jembatan Semanggi, mobilnya tertabrak sedan yang dikemudikan seorang wanita cantik. Bastian sendiri selamat dari kecelakaan tersebut. Tapi mobilnya ringsek karena terbalik hingga menghantam sebatang pohon. Baca juga:  Masa Lalu Orang Kaya Baru Bastian termangu di pinggir jalan, tak mempedulikan polisi yang sibuk mengukur-ukur tempat kejadian peristiwa kecelakaan. Tiba-tiba datanglah sebuah sedan mewah. Dari mobil itu keluar sesosok pria berbadan tegap mengenakan celana pendek. Dalam hati Bastian, kalau bukan orang kaya tentulah seorang penggede. Lelaki itu menghampiri perempuan yang menabrak mobil Bastian. Rupanya, perempuan itu adalah sekretarisnya. Sejurus kemudian, dengan suara lantang ia bertanya siapa pemilik mobil yang ringsek. “Saya, Pak,” jawab Bastian. “Sekarang Saudara mau apa? Mau diperkarakan atau mau damai,” ujar si lelaki setengah menggertak. Mendengar lagaknya, darah Bastian mendesir. Tapi, dia masih bisa menahan diri. Bastian melihat lelaki itu bertolak pinggang sambil menghisap rokok. Lantas, ia minta rokok. Lelaki itu mengulurkan tangan kirinya seraya mencabut sebatang rokok. Tak lupa dinyalakannya korek api buat Bastian. Baca juga:  Apakah Aidit Seorang Perokok? “Mau damai boleh, mau diperkarakan juga tidak apa-apa,” kata Bastian setelah dua isapan rokok. Semula Bastian mengira dia merasa ditantang. Nyatanya tidak. Dia langsung berteriak keras pada polisi yang lagi mencermati TKP, “Sudah! Kami damai. Kalian pergi saja, tak ada persoalan,” teriaknya. Kepada Bastian, ia lantas berbicara dengan nada rendah. “Dik, sekarang bawa saja mobilmu ke bengkel saya. Berobatlah dulu setelah itu datang ke kantor saya,” katanya sembari menyerahkan selembar kartu nama. Dari kartu nama itu, Bastian mengetahui identitas lelaki yang dihadapinya:  Kapten Teuku Markam . Markam dikenal sebagai pengusaha karet ternama, pemilik perusahaan PT Karkam (Kulit Aceh Raya Kapten Markam). Sementara wanita sekretaris itu, seperti disebut Kompas 20 Maret 1968, bernama Ratna Kartika Markam alias Ellen Tan Eng Lan yang belakangan menjadi istri Markam. Markam juga dikenal luas sebagai orang dekat Presiden Sukarno. Sejumlah proyek mercusuar yang digagas Bung Karno didanai oleh Markam. Di antaranya Gelanggang Olahraga Senayan dan pucuk emas Monumen Nasional (Monas). Baca juga:  Galang Dana Dwikora ala Sukarno Mobil Sebastian Tanamas akhirnya diderek ke bengkel di Jl. Medan Merdeka Utara. Lokasinya berdekatan dengan Istana Negara. Sekarang, di lokasi bengkel itu berdiri bangunan kantor Mahkamah Agung RI. Keesokan hari, Bastian datang bersama istrinya ke kantor Markam. Anak buah Markam melayani pasangan suami-istri itu dengan hangat. Markam menawarkan dua pilihan: mobil direparasi atau diganti dengan yang baru. Tawaran untuk reparasi diterima Bastian karena mesin mobilnya masih bagus. Markam langsung membuat perhitungan dengan Bastian. “Adik tentu bekerja dan butuh uang untuk transportasi. Untuk itu, saya beri ongkos taksi untuk 8 jam sehari selama tiga bulan,” katanya. Markam memanggil stafnya untuk mencari informasi ongkos taksi di Jakarta per jamnya. Baca juga:  Ongkos Diplomasi  $250 dari Bung Karno Total ongkos taksi yang diberikan Markam sebesar Rp500 x 8 jam x 90 hari. Jadi, semuanya berjumlah Rp480.000. Uang sejumlah itu di tahun 1963 sudah banyak. Padahal, Bastian saat itu masih belum mendapat pekerjaan. Markam bahkan kasih tawaran untuk memodali Bastian usaha studio foto di salah satu rumahnya, di Jl. Sambas, atau tokonya di Senen. Namun, setelah menilik relasi Markam yang dekat dengan Sukarno, Bastian menolaknya. Meski demikian, uang dari Markam ada pula hikmahnya buat Bastian. Bukannya dipakai untuk ongkos sewa taksi, uang itu malah jadi modal Bastian untuk mengontrak rumah di Pejompongan, Jakarta Pusat. Bastian memboyong istri dan kelima anak pindah ke sana. Tadinya mereka menebeng di kediaman orang tua Bastian di bilangan Kebayoran Baru, Jakarta Selatan. Setelah mendapat tempat menetap, barulah Bastian mendapat pekerjaan sebagai guru bahasa Jepang di sebuah sekolah. “Ternyata Markam begitu baik. Saya tak menduga sebelumnya akan mendapatkan ‘uang taksi’ untuk tiga bulan lamanya,” kenang Sebastian Tanamas.    Baca juga:  Mengatasi Kisruh Taksi Markam memang dikenal sebagai pengusaha yang royal. Keroyalan itu juga diceritakan oleh jurnalis kawakan Rosihan Anwar.  Ia mengisahkan tentang Kolonel Hidayat Martaatmadja, mantan Panglima Teritorium Sumatra, yang tak punya rumah sewaktu memasuki zaman Republik (1950-an). Melihat ada rumah “potensial” di Jl. Cik di Tiro, Menteng, Jakarta Pusat, Hidayat melapor kepada Menteri Negara Stabilisasi Ekonomi Kolonel Suprayogi. “Ibu (Ratu Aminah, istri Hidayat) belum punya rumah,” kata Rosihan dalam Petite Histoire Indonesia Jilid 3. Mengetahui hal itu, Markam tergerak. “Harga rumah itu Rp 40.000, dan dengan pertolongan pengusaha Markam yang memberi uang, rumah bisa dibeli,” ungkap Rosihan.     Tapi, pundi-pundi Markam tak selalu mempan untuk membeli apa saja yang diinginkannya. Aliran dananya mandek ketika membentur “tembok” bernama Hoegeng Iman Santoso. Suatu ketika, Markam butuh paspor diplomatik untuk bepergian ke luar negeri. Ia pun mengupayakannya. Namun, permintaan itu ditolak oleh Kepala Jawatan Imigrasi Hoegeng. Pasalnya, Markam bukan diplomat. Hoegeng hampir saja menendang Markam ke luar pintu ruangan kantornya lantaran disuguhkan sejumlah uang oleh Markam. Baca juga:  Ketika Hoegeng dan Teuku Markam Bersitegang “Ia gelagapan juga. Maklumlah postur tubuh saya besar juga. Melebihi tinggi rata-rata orang Indonesia,” kata Hoegeng dalam biografinya yang disusun Ramadhan KH dan Abrar Yusra Polisi: Idaman dan Kenyataan . Hoegeng yang menjadi Kapolri periode 1968—1971, memang dikenal sebagai polisi jujur yang anti-suap.

  • Menengok Sejarah Glodok

    Belum lama ini publik dikejutkan dengan penemuan jembatan Glodok kuno di lokasi proyek MRT Jakarta fase 2A Glodok–Kota. Jembatan itu ditemukan satu meter di bawah persimpangan Jalan Pinangsia Raya dengan Pintu Besar Selatan dan Pancoran. Sejarawan Alwi Shahab dalam Batavia Kota Banjir  menyebut pada masa lalu kawasan Glodok dan Pancoran dihubungkan oleh sebuah kanal. Oleh karena itu dibangun jembatan untuk menghubungkan kedua daerah tersebut. Namun, pada awal abad ke-20 kanal di kawasan Pancoran ditutup dan kini merupakan bagian dari jalan raya dan pertokoan. Sementara jembatan Glodok yang menghubungkan kawasan Glodok dan Pancoran dibongkar. Ketika Belanda menduduki Batavia, Glodok merupakan salah satu kawasan yang tak pernah sepi dari aktivitas masyarakat. Kawasan ini juga dikenal sebagai salah satu pecinan tertua di Indonesia. Baca juga:  Pembantaian Orang Tionghoa dari 1740 Hingga 1998 Sejarah kawasan ini berkaitan dengan peristiwa pembantaian orang-orang Tionghoa di Batavia pada 1740. Kedatangan orang Tionghoa dalam jumlah besar menyebabkan dibukanya wilayah di sekitar Batavia. Mereka membuka perkebunan gula yang menjadi satu-satunya ekspor asli Batavia pada abad ke-17 dalam bentuk gula mentah maupun arak. Perkembangan komunitas Tionghoa itu membuat VOCkhawatir.Karena sulit mengawasi orang Tionghoa di luar tembok kota, VOC pun mengeluarkan peraturan yang semakin lama semakin keras. Mulanya VOC menetapkan kuota orang Tionghoa yang diizinkan diangkut dengan kapal jung. Namun, aturan ini diakali dengan mendaratkan para tenaga kerja di luar pelabuhan Batavia, kemudian mereka diselundupkan ke dalam kota. Gesekan antara VOC dengan orang Tionghoa di sekitar Batavia kian terlihat setelah VOC menurunkan harga dan kuota produksi gula yang dialokasikan untuk penggilingan tebu di sekitar Batavia. Kebijakan itu diambil VOC sebagai dampak melimpahnya persediaan gula di pasar dunia. Kebijakan VOC itu menyebabkan banyak kuli Tionghoa kehilangan pekerjaan. Kondisi itu meningkatkan angka kriminalitas karena sejumlah kuli membentuk gerombolan pencuri. Untuk menangani hal itu, VOC merencanakan pemindahan paksa para migran yang tidak terdaftar ke pos-pos terdepan Belanda di wilayah Ceylon (kini Sri Lanka). Di sisi lain, kekhawatiran muncul di kalangan orang-orang Tionghoa yang berada di wilayah Batavia. Tersiar kabar bahwa rencana pemindahan para migran merupakan kedok untuk membuang mereka ke laut. Baca juga:  Saksi Bisu Kerusuhan Mei 1998 di Glodok Sejarawan Susan Blackburn dalam Jakarta: Sejarah 400 Tahun menyebut pada 1740 wilayah sekitar Batavia menjadi saksi pemberontakan petani Tionghoa. Mereka berbaris menuju pusat kota Batavia sembari membawa senjata buatan sendiri. Meski orang Tionghoa yang tinggal di kota terhitung sedikit atau tak pernah melakukan kontak dengan orang Tionghoa di luar dinding kota, beredar isu bahwa orang-orang Tionghoa di dalam dinding kota Batavia berencana membantu para pemberontak. “Ketika gerombolan orang Cina yang bersenjata seadanya ini menyerang kota pada 8 Oktober, mereka dapat diusir dengan mudah, tapi orang Cina yang tinggal di dalam kota tidak luput dari kekerasan,” tulis Susan. Imbas pemberontakan tersebut ribuan rumah orang Tionghoa dijarah dan dibakar. “Kemungkinan korbannya lebih dari 1.000 orang Cina,” tulis Susan. Menurut Alwi Shahab, ketika pembantaian ini terjadi, perkampungan orang Tionghoa berada kira-kira di sebelah utara Glodok, di kawasan Kali Besar. VOC kemudian membangun perkampungan baru untuk mereka yang berlokasi sedikit di luar tembok kota yang kini dikenal dengan nama Glodok. Budayawan Rachmat Ruchiat dalam Asal-Usul Nama Tempat di Jakarta menyebut ada sejumlah kisah mengenai asal-usul kata Glodok. Pertama, kata itu disebut berasal dari kata grojok yang mengacu pada bunyi suara kucuran air dari pancuran. Pada 1670, di area itu terdapat semacam waduk penampungan air yang dikucurkan dengan pancuran kayu dari ketinggian sekitar 10 kaki. “Kata grojok diucapkan oleh orang-orang Tionghoa totok, penduduk mayoritas kawasan itu zaman dulu. Kemudian berubah menjadi glodok sesuai dengan lidahnya,” tulis Rachmat. Sumber lain menyebut kata Glodok berawal dari jembatan bernama Jembatan Glodok. Jembatan itu melintas di atas Kali Besar yang berada di kawasan tersebut. Menurut Rachmat, yang mengutip Frederik de Haan, jembatan itu dinamai demikian karena dahulu di ujungnya terdapat tangga-tangga yang menempel pada tepi kali yang dibuat pada 1643. Kala itu tangga tersebut biasa digunakan untuk mandi dan mencuci oleh penduduk sekitar. Tangga semacam itu dalam bahasa Sunda disebut golodok , sama seperti sebutan bagi tangga rumah. Baca juga:  200 Tahun, Pasar Baru Terus Melaju Sementara itu, Alwi Shahab dalam Betawi: Queen of The East mencatat, kawasan itu mulanya adalah tempat pemberhentian kuda-kuda penarik beban untuk diberi minum. Masih di sekitar Glodok terdapat pula kawasan Pancoran yang dahulu merupakan tempat penjernihan air. “Nama Pancoran digunakan karena di tempat ini dulu ada air mancur. Para penduduk siap antri selama beberapa jam untuk mengambil air dari kali Molenvliet (Ciliwung) yang telah disaring terlebih dahulu,” tulis Alwi. Air dari penampungan itu juga disalurkan ke kawasan kastil melalui Pintu Besar Selatan. Konsep menyalurkan air dengan menggunakan saluran itu telah dikembangkan sejak masa pemerintahan Gubernur Jenderal Durven (berkuasa 1728–1732). Meski begitu proses menyalurkan air ini baru dilaksanakan pada masa kepemimpinan Gubernur Jenderal van Imhoff (berkuasa 1743–1750). Saluran air yang terbuat dari kayu itu berbentuk balok persegi empat yang dilubangi kemudian disambung satu sama lain dengan direkatkan menggunakan timah. Saluran air itu kemudian disalurkan ke air mancur yang berada di halaman balaikota atau Stadhuis (kini Museum Sejarah Jakarta), untuk memenuhi kebutuhan air warga di dalam tembok kota. Seiring berjalannya waktu , aktivitas perekonomian di kawasan Glodok terus berkembang hingga sekarang . Sebagai salah satu pusat perekonomian yang sibuk di Jakarta, kawasan ini bahkan sempat menjadi pusat perdagangan gelap uang dolar sampai pertengahan tahun 1960-an. *

  • Di Balik Topeng Betawi

    Selain ondel-ondel, kesenian khas Betawi adalah Topeng Betawi. Seni tradisi ini melintasi zaman berhadapan dengan modernisasi di ibu kota DKI Jakarta. Ini berkat para penggiat yang menjaga warisan leluhurnya. Topeng Betawi bertahan hingga sekarang karena kesenian ini diwariskan dari generasi ke generasi. Sebagaimana disebut dalam buku Topeng Betawi terbitan tahun 1979, kesenian ini merupakan warisan secara turun-temurun . T okoh-tokoh kesenian Topeng Betawi dari berbagai per kumpulan mengetahui kesenian yang mereka geluti dari orang tua mereka. Orang tua mereka sendiri mewarisi dari kakek ( engkong ) mereka. Pada masa lalu, banyak di antara pemain Topeng Betawi terdiri dari seorang suami, istri, dan anak-anaknya. Dalam suatu pertunjukan Topeng Betawi sering membawa anakkecil. Hal ini disebabkan seluruh anggota keluarga ikut menjadi anggota Topeng Betawi, sehingga tidak ada orang yang bisa menjaga anaknya di rumah.Dengan demikian terjadilah proses pengenalan seni dalam diri anak kecil yang ikut dalam rombongan. Salah satu penggiat Topeng Betawi adalah Andi Supardi (62), pemimpin sanggar Kinang Putra yang biasa pentas di Setu Babakan. “Tarian topeng ini diperkenalkan oleh Mak Kinang dan Kong Djiun pada tahun 1918, hingga sekarang tarian ini sudah dilestarikan oleh tiga generasi,” ujar Bang Andi, cicit dari Mak Kinang binti Kinin dan Djiun bin Dorak. Baca juga:  Tari Topeng Rasinah Melintasi Sejarah Mak Kinang dan Djiun memiliki tiga anak, yaitu Bokir, Dalih, dan Kisam. Sejak kecil mereka sering ikut orang tuanya mengamen Topeng Betawi. Mereka kemudian mendirikan sanggar Topeng Betawi masing-masing: Setia Warga (Bokir), Kinang Putra (Dalih), dan Ratna Sari (Kisam). Selain sebagai seniman Topeng Betawi, H. Bokir terkenal sebagai aktor dan pelawak. “Dalam kenyataannya pada kumpulan-kumpulan Topeng Betawi yang hidup sekarang, para anggota pemainnya masih ada hubungan kerabat antara satu dengan yang lain,” sebut buku Topeng Betawi. Menurut Sal Murgiyanto, kritikus tari, dalam Tradisi dan Inovasi: Beberapa Masalah Tari di Indonesia , Topeng Betawi berasal dari Cirebon masuk ke Jakarta lewat Indramayu dan Karawang. Bekas-bekas pengaruh Topeng Cirebon pada Topeng Betawi tampak pada gerak tari, bentuk topeng, dan pakaiannya, sedangkan lagu-lagu pengiringnya menggunakan lagu Sunda. Instrumen pengiring terdiri atas rebab, kromong tiga, gendang, kecrek, dan pertunjukannya terdiri atas tiga bagian. Pertama, lagu-lagu instrumental dan vokal yang diikuti dengan dua fragmen tari: topeng kedok dan kembang topeng dengan bodoran. Kedua, lakon Topeng Betawi biasanya dilakukan semalam suntuk. Ketiga, tambahan lakon Jantuk, yaitu tokoh tua bertopeng hitam sembab –seperti tokoh Temben di Jawa Tengah– yang biasanya memberi nasihat-nasihat mengenai masalah perkawinan dan kehidupan rumah tangga. Dalam perkembangannya, bagian kedua yang memaparkan cerita tentang kehidupan sehari-hari lebih ditonjolkan sehingga sering terjadi hanya bagian ini saja yang dipentaskan tanpa memakai topeng. Baca juga:  Memperingati Maestro Tari Topeng Mimi Rasinah “ Oleh karena itu, istilah ‘topeng’ di Jakarta tidak selalu berarti sebuah tontonan dengan para pelaku memakai topeng, tetapi sebagai ‘tarian’ atau ‘drama rakyat’ yang lebih menekankan pada unsur humor,” tulis Sal Murgiyanto. Hal ini dapat dipahami mengingat di Losari, Cirebon, juga ada kebiasaan beberapa lakon topeng yang dipertunjukkan tanpa topeng. Dalam Topeng Betawi, Sal Murgiyanto menambahkan, bahasa yang digunakan adalah bahasa Betawi pinggiran atau Betawi Ora yang sedikit berbeda dengan bahasa Betawi di Jakarta Pusat. Pakaian yang dipergunakan para pemainnya adalah pakaian sehari-hari.Pentas yang dipakai berbentuk arena dengan sebuah tiang lampu minyak bersumbu tiga di tengahnya. Andi Supardi (62) tengah melatih anak-anak gerakan Tari Topeng Betawi. (Melan Eka Lisnawati/ Historia.ID ).  Ragam Tari Topeng Betawi Saat ini ada beberapa jenis Tari Topeng Betawi antara lain Topeng Kedok atau Topeng Tunggal, Lipet Gandes, Enjot-enjotan, dan Ronggeng Topeng. Bang Andi menjelaskan, T ari T openg tunggal diperankan oleh tokoh Panji, Samba, dan Jingga . Ketiga tokoh tersebut menari dengan gerakan yang berbeda sesuai karakter yang diperankan. Panji mem ainkan peran sebagai tokoh yang lemah lembut, Samba berkarakter centil dan ceria, sedangkan Jingga ber peran gagah dan lebih terlihat kelaki-lakian. “Tari Topeng Betawi ini tidak berkaitan dengan cerita Ramayana ataupun Panji yang sering dikaitkan dengan topeng. Tarian topeng lebih menitik beratkan pada sifat manusia,”kata Bang Andi. Baca juga:  Kebaya Encim, Busana Tradisional Betawi yang Melintasi Zaman Menurut Bang Andi, dahulu garakan Tari Topeng Betawi langsung dipraktikkan di atas panggung. Namun, sejak tahun 1980-an pola Tari Topeng Betawi disamakan sehingga seluruh sanggar di Jakarta pola tariannyamemiliki kesamaan. Gerakan Tari Topeng Betawi mengandalkan ketahanan kaki. Penari akan menurunkan badan hingga kaki menopang badan. Penari harus luwes dalam memutar bagian tangan di beberapa bagian gerakannya. Penari juga menggerakkan bagian pinggul yang menimbulkan teriakan atau siulan dari penonton. Selain itu, gerakan lainnya adalah goyang , gibang , pablang , kewer , dan lain-lain. Ada tiga syarat menjadi penari Tari Topeng Betawi, yaitu ajer artinya penari harus riang dan ceria apapun yang akan terjadi di panggung; penari tidak boleh menunjukkan wajah murung atau sedih dihadapan penonton; dan gendes artinya penari dituntut lemah gemulai dalam melakukan gerakan tari sehingga dapat menari dengan lepas tanpa beban. Baca juga:  Cinta Mati Batik Betawi Tema yang dibawakan dalam pertunjukan Tari Topeng Betawi beragam tentang kehidupan di masyarakat, cerita legenda, kritik sosial, dan cerita klasik lainnya. Kostum penari biasanya tergantung pada tema yang dipentaskan. Namun, tidak akan lepas dari kostum adat khas Betawi. Seiring perkembangan zaman, pertunjukan Tari Topeng Betawi tidak hanya dikampung-kampung, tetapi juga di acara-acara penting di pusat kesenian, upacara resmi kenegaraan danmancanegara. Saat ini Tari Topeng Betawi telah ditetapkan sebagai cagar budaya yang dilindungi oleh Dinas Kebudayaan DKI Jakarta. Melestarikan Budaya Betawi Topeng Betawi telah berusia lebih dari seabad. Kesenian khas Betawi ini dapat bertahan berkat kepedulian berbagai pihak. “Peran penting dari keturunan, seniman, hingga para pemangku jabatan dibutuhkan untuk bersama-sama menjembatani dan melindungi kekayaan budaya Betawi, salah satunya Tari Topeng Betawi,” kata Bang Andi. Bang Andi juga berharap para orang tua mau mengenalkan kesenian khas Betawi sehingga kepedulian tertanam sejak dini. Dari kepedulian inilah akan timbul rasa cinta terhadap kebudayaan sendiri. Baca juga:  Mencegah Kemusnahan Bahasa Betawi “Apalagi terjadi kolaborasi di ranah pendidikan. Misalnya mewajibkan setiap sekolah di DKI Jakarta untuk memiliki ekstrakurikuler tari. Serta hotel-hotel di Jakarta setiap mengadakan acara, harus yang pertama ditampilkan adalah tarian Betawi karena kita ini tuan rumah,” kata Bang Andi. Selain itu, Bang Andi mengingatkan, generasi sekarang jangan sampai kacang lupa kulitnya. “Boleh suka dengan budaya luar, tapi jangan sampai budaya sendiri dilupakan. Orang luar negeri bahkan banyak yang tertarik dengan budaya kita sehingga mereka berani mengularkan kocek sendiri untuk mempelajari budaya Indonesia,”kataBang Andi.* Penulis adalah mahasiswa magang dari Politeknik Negeri Jakarta.

  • Mula Rok di Jawa

    New York Fashion Week 2022 baru saja digelar di New York, Amerika Serikat (AS) pada 9-14 September 2022. Salah satu yang trending dalam pagelaran busana tersebut adalah busana rok. Para desainer mencoba mengulang kembali ketenaran gaya busana era 1950-an. Rok dan gaun dari bahan kulit dan jeans terlihat membalut tubuh model dengan panjang yang beragam, mulai dari di atas lutut hingga semata kaki. Namun, bukan hanya para model yang mengenakannya.  “Di New York Fashion Week, kami melihat para desainer dan pengunjung pameran mengenakan rok denim sepanjang betis atau lebih panjang dipadukan dengan kemeja putih, kardigan rajut, dan jaket denim,” demikian dilansir fashionista.com 23 September 2022. Beberapa pengamat fashion memprediksi, gaya seperti ini akan nge -tren di tahun 2023. Tren masa lalu akan kembali dianggap keren. Baca juga:  Celana Superpendek yang Menggoda Pada 1950-an, Amerika Serikat sedang “dilanda” gaya busana vintage. Ciri-cirinya gaya pakaian perempuan lebih feminin dan didominasi warna-warna soft . Tren seperti ini mulai mendunia sejak tahun 1920. Meski saat itu Paris masih menjadi kiblat mode Hindia Belanda, geliat busana gaya Amerika sudah mulai bersaing melalui majalah-majalah yang memuat bintang film Amerika. Kala itu, di Jawa perempuan masih menggunakan busana tradisional seperti jarik dan kebaya. Akan tetapi, fesyen ala Barat sudah mulai masuk. Gaya yang dianggap kosmopolitan ini ditandai dengan kemeja safari dan celana panjang untuk laki-laki, kemeja perempuan dan rok panjang untuk perempuan. Rok dibawa oleh perempuan Eropa yang datang ke Jawa. Kala itu kaum perempuan Eropa juga menggunakan pakaian Jawa seperti kebaya dan kain batik (jarik), namun pakaian-pakaian tersebut hanya digunakan saat di dalam rumah. Peraturan dari pemerintah Hindia Belanda, saat keluar rumah perempuan-perempuan Eropa di Jawa harus tetap menggunakan pakaian layaknya di negeri asal. Peraturan ini dibuat sebagai penanda kontrol pemerintah Hindia Belanda penduduk di Jawa. Gadis sekolah di Jawa. ( digitalcollections.universiteitleiden.nl ). “Biasanya, perempuan Eropa memiliki langganan tukang jahit,” tulis peneliti BPNB Yogyakarta Dwi Ratna dalam makalah berjudul “Kain Kebaya dan Rok Pakaian Perempuan Yogyakarta Awal Abad ke-20”. Panjang rok yang digunakan perempuan Eropa juga menandai aktivitas yang sedang dilakukan. Japon sebutan untuk rok panjang digunakan untuk acara-acara resmi. Kemudian rok yang lebih pendek digunakan untuk aktivitas harian yang lebih santai. Baca juga:  Awas, Ada Busana Seksi! Penggunaan rok kemudian diadopsi perempuan bumiputra lewat sekolah-sekolah dengan penggunaan seragam. Awalnya, hanya putri-putri dari keraton yang dapat memakai pakaian Barat mengingat sarana pendidikan terbatas hanya untuk anak pegawai Eropa dan anak bangsawan. Kemudian, penggunaan rok menyebar ke kalangan lebih luas menyusul penerapan Politik Etis yang memungkinkan kalangan bangsawan rendahan mengenyam pendidikan dasar. “Gadis-gadis Jawa yang belajar di sekolah-sekolah Belanda mulai memakai baju terusan pada tahun 1920-an . Secara umum, para perempuan Jawa tidak memakai baju terusan gaya Barat sampai setelah masa kemerdekaan. Mereka yang memakai baju terusan sebelum tahun 1940 adalah gadis-gadis usia sekolah, putri-putri kaum bangsawan yang mengenyam pendidikan di sekolah-sekolah bagi orang Eropa di Jawa,” kata Jean Gelman Taylor dalam tulisannya, “Kostum da Gender di Jawa Kolonial tahun 1800-1940”, yang termuat di buku Outward Appearances suntingan Henk Schulte Nordholt dan Imam Aziz. Baca juga:  Revolusi Celana Seksi Penggunaan rok semakin masif lantaran sekolah dari jenjang pendidikan dasar hingga menengah atas mewajibkan murid-murid putri menggunakan seragam rok. Memasuki tahun 1930, rok dengan setelan atasan dan bawahan, dilengkapi sepatu, kaos kaki, dan ikat pinggang, identik dengan gadis sekolah. Setelan kemeja dan rok semakin eksis ketika kegiatan kepanduan mulai dilakukan murid-murid sekolah. Para siswa wajib menggunakan seragam yang telah ditentukan saat mengikuti kepanduan. Murid sekolah di Pendopo Jawa 1932. ( digitalcollections.universiteitleiden.nl ). “Seorang ibu yang saat itu mengikuti kegiatan kepanduan menyebutkan, bahwa biarpun untuk pergi ke sekolah pada hari-hari biasa dia tidak memakai pakaian Barat dan sepatu karena tidak punya, namun untuk kegiatan kepanduan ia akan meminta orang tuanya membelikan meskipun barang bekas,” tulis Dwi Ratna Nurhajarini . Rok dan dress kemudian dikenakan oleh para perempuan dewasa pribumi yang telah sadar akan peran-peran baru mereka. Pemakaian rok menyebar ke perempuan-perempuan yang bekerja di sektor agama dan kesehatan. Gadis non-bangsawan yang menggunakan dress dan rok adalah perempuan-perempuan yang terdaftar sebagai siswa sekolah keagamaan. Mereka merupakan calon suster atau biarawati. Selain itu, rok juga dikenakan perempuan yang bekerja sebagai perawat. Uniknya, seragam perawat digunakan sebagai pakaian luar saja sementara di dalamnya mereka tetap menggunakan kebaya. Baca juga:  Kronik Rok Mini Rok dan dress bisa didapatkan pada jual beli di pasar. Sejak pertengahan abad ke-20, toko-toko sepanjang Malioboro mulai menjual pakaian jadi untuk perempuan seperti kemeja, baju terusan, dan rok panjang maupun pendek. Kain-kain lembaran juga dijual oleh orang-orang India yang kondang sebagai “toko Bombay”. Seiring perjalanan waktu, rok, dress , dan kemeja untuk perempuan mulai menjamur ke gaya busana perempuan. Di tempat-tempat publik seperti kawasan wisata, perlahan mulai ditemukan perempuan pribumi menggunakan rok. Pakaian perempuan ala Barat menjadi penanda awal perempuan dapat beraktivitas secara setara dengan laki-laki di ruang publik pada masa kolonial.

  • Peanuts, Sugar, and A Man from Fukien

    HIS name was Khoe Tjong Hok. After going through a grievous divorce from his wife, he departed his home in Semarang, Central Java, leaving behind his wealthy father and an infant son. On foot, he embarked on a journey northeast.

  • Miss Riboet Memadukan Seni dan Olahraga

    Deretan toko menghiasi sisi jalan kawasan pertokoan Blok M, Jakarta Selatan. Toko-toko itu menjual berbagai kebutuhan masyarakat, mulai dari kopi, makanan, hingga obat-obatan. Ada pula toko yang menjual alat musik dan olahraga. Keberadaan toko ini bukan hal baru di Jakarta dan berbagai daerah. Bagaimanakah awal mulanya? Tokoh yang berperan dalam munculnya toko alat musik dan olahraga adalah Miss Riboet, penyanyi dan aktris layar lebar yang populer tahun 1920-an. Lagu-lagu yang dinyanyikannya menjadi tren di kalangan masyarakat. Beberapa lagunya yang terkenal di antaranya “Koki Naik Taxi”, “Rudjak Uleg”, dan “Mina Mana Kondemu”. S uara Miss Riboet juga kerap terdengar di radio Nirom (Nederlandsch-Indische Radio Omroep Maatschappij). Miss Riboet menjelma menjadi primadona. Tak sedikit label rekaman yang mengajaknya bekerja sama, salah satunya Beka. Denny Sakrie dalam 100 Tahun Musik Indonesia menulis Miss Riboet merekam sekitar 188 lagu pada label asal Jerman tersebut. Ketenaran dan kesuksesan lagu-lagu yang dinyanyikan Miss Riboet bahkan membuatnya disebut sebagai artis rekaman tersukses di Indonesia pada masanya. “Siapa yang mempunyai mesin bicara (gramofon) tentu tidak senang kalau tiada mempunyai pelat Miss Riboet, sebab pertama suaranya merdu serta terang, dan amat menyenangkan kepada yang mendengarnya pendek saja hati yang sakit bisa dihiburkannya,” tulis surat kabar Bintang Hindia , 21 Juli 1928, sebagaimana dikutip Fandy Hutari dalam Para Penghibur . Baca juga:  Siong Vo, Legenda Sepatu Bola Menurut Fandy, sebelum terkenal, Miss Riboet sudah enam tahun bermain opera. Ia pun terus mengasah kemampuannya dalam bernyanyi dan akting. Pertemuan Miss Riboet dengan Tio Tek Djien, yang kemudian menjadi suaminya, mendorong lahirnya Miss Riboet Orion. Misbach Yusa Biran dalam Sejarah Film 1900–1950 Bikin Film di Jawa menyebut Tio Tek Djien yang berpendidikan tinggi jatuh cinta pada primadona bernama Miss Riboet, kongsinya bermain di Taman Hiburan Orion, Pekalongan, milik orang tua Tio. Tio kemudian menikah dengan Miss Riboet dan mendirikan kongsi sendiri yang dinamai seperti nama sang primadona di tahun 1925. Miss Riboet. ( Pinterest ). Bersama suaminya, Miss Riboet memimpin rombongan sandiwaranya hingga berkembang menjadi besar setelah Nyoo Cheong Seng bergabung dalam rombongan tersebut. Menurut Misbach, Nyoo yang pernah berprofesi sebagai wartawan tahu betul pentingnya publisitas. Ia menggunakan pers untuk mempropagandakan Toneel Melajoe . Sementara itu, Miss Riboet yang populer di kalangan masyarakat ambil bagian dalam pementasan sandiwara yang ditampilkan grupnya. Kelihaiannya dalam memainkan anggar membuatnya kian tersohor. “Ia sangat menonjol ketika berperan menjadi perampok perempuan, dalam ‘Juannita de Vega’ karya Antoinette de Zema,” tulis Fandy. Kepiawaian Miss Riboet bermain anggar berkaitan erat dengan visi grup operanya yang tak hanya menjadi perkumpulan seni tetapi juga olahraga, sesuatu yang jarang pada masa itu. Remy Sylado dalam Ensiklopedi Musik Jilid II menulis Miss Riboet membuat tradisi baru dalam dunia kesenian, yakni setiap seniman musik dan teater yang ingin bergabung dalam grup seninya tak hanya harus menguasai seni tetapi juga sepakbola. “Untuk diterima dalam Miss Ribut rupanya harus bisa segala; sandiwara, musik, dan sepakbola. Malahan yang tidak bisa sepakbola jangan melamar!” tulis Amir Pasaribu dalam Analisis Musik Indonesia . Baca juga:  Sepakbola Seniman Panggung Para pemain sandiwara grup Miss Riboet Orion harus bisa bermain sepakbola bukan tanpa alasan. Selain menampilkan pertunjukan sandiwara, para pemain juga kerap mengikuti pertandingan sepakbola di berbagai kota yang disinggahinya. Keikutsertaan grup Miss Riboet Orion dalam kompetisi sepakbola menjadi cara untuk menarik minat penonton agar menyaksikan pertunjukan mereka. Tak jarang surat kabar mengumumkan jadwal maupun hasil pertandingan sepakbola yang diikuti tim sepakbola Miss Riboet Orion. Misalnya, dalam surat kabar Bataviaasch Nieuwsblad , 6 Mei 1931, diumumkan tim sepakbola Miss Riboet Orion akan bertanding melawan Voetbalbond Batavia en Omstreken (VBO) atau Persatuan Sepakbola Batavia dan Sekitarnya di lapangan UMS. Lambat laun tak hanya Miss Riboet Orion yang menggabungkan pertunjukan seni dan olahraga. Kelompok tonil Dardanella yang didirikan A. Piedro juga turut menjajal dunia sepakbola. Perpaduan antara seni dan olahraga yang dipelopori Miss Riboet Orion mendorong lahirnya ide menjual alat musik bersamaan dengan peralatan olahraga.Sehingga, pengunjung yang datang ke toko hendak membeli pianika atau suling, di lain waktu datang untuk membeli raket bulutangkis atau bola tenis.*

bg-gray.jpg
Tedy masuk militer karena pamannya yang mantan militer Belanda. Karier Tedy di TNI terus menanjak.
bg-gray.jpg
Pemilihan Augustine Magdalena “Tiene” Waworuntu sebagai walikota Manado menjadikannya walikota perempuan pertama pasca pembubaran RIS. Pemilihannya menimbulkan polemik daerah-pusat, hingga menyeret militer.
bg-gray.jpg
Dua anggota legiun Mangkunegaran ikut serta gerakan anti-Belanda. Berujung pembuangan.
bg-gray.jpg
Rumah Sakit Bethesda Yogyakarta merupakan buah kasih dokter misionaris Belanda bernama J.G. Scheurer yang dijuluki Dokter Tolong.
bg-gray.jpg
Rumah yang pernah digunakan untuk mendidik kesadaran politik rakyat. Kini sepi pengunjung.
bottom of page