top of page

Hasil pencarian

Cari di situs ini

10055 hasil ditemukan dengan pencarian kosong

  • Penting Memahami Stunting

    ISTILAH stunting tiba-tiba menarik perhatian masyarakat setelah dibahas dalam Debat Calon Wakil Presiden, 17 Maret lalu. Masing-masing kandidat memaparkan strategi penanganan yang bakal diambil bila kelak menang. Stunting  merupakan bentuk gagalnya pertumbuhan anak akibat kekurangan gizi kronis, terutama pada 1.000 hari pertama kehidupan. Hal ini dicirikan dengan tinggi badan anak lebih pendek dari anak seusianya. Bukan hanya fisik, kecerdasannya juga terhambat. Ketika beranjak dewasa, si anak rentan terhadap penyakit, kegemukan, dan kurang berprestasi di sekolah. Kasus stunting  masih banyak dijumpai di Indonesia. Kementerian Kesehatan mencatat per 2018 sekitar 4 juta anak bawah dua tahun (baduta) Indonesia mengalami kondisi balita bertubuh pendek ( stunting ). Kondisi ini bisa mengancam bonus demografi yang akan dialami Indonesia dalam beberapa tahun mendatang. Karena itulah tahun lalu pemerintah mencanangkan Kampanye Nasional Pencegahan Stunting. Kampanye ini juga merupakan implementasi dari pidato kenegaraan Presiden Joko Widodo pada 16 Agustus 2018 yang menegaskan bahwa pembangunan sumber daya manusia diawali sejak dari kandungan. Menurut dokter spesialis Gizi Klinik Dermawan Claudina Nadeak Sp.GK, pemberian asupan gizi yang memadai pada 1000 hari pertama kehidupan memang amat menentukan. “Ibu yang gizi buruk akan melahirkan bayi yang gizi buruk juga. Bayi yang berat badan kurang akan tumbuh menjadi children yang stunted ,” katanya. Baca juga:  Infografis Riwayat Penanggulangan Stunting Upaya Perbaikan Gizi Pernah dengar lagu “Gang Kelinci”? Lagu ciptaan Titik Puspa itu dinyanyikan dan dipopulerkan oleh Lilis Suryani tahun 1963. Lagu itu mengisahkan tentang “aku” yang tinggal di Gang Kelinci, sebuah gang sempit yang padat penduduk di Jakarta. Kami semua hidup rukun dan damai Hanya satu yang aku herankan Badanku bulat tak bisa tinggi Persis kayak anak kelinci Menurut Agus Setiawan, pengajar Ilmu Sejarah Kesehatan Universitas Indonesia, sejauh ini belum ada studi historis-medis yang khusus membahas stunting di Indonesia. Namun, fenomena stunting di masa lalu bisa dilihat dari metafora yang terdapat dalam lirik lagu “Gang Kelinci”. “Bisa jadi, kalau melihat penyebabnya yakni gizi buruk, stunting sudah ada pada masa lalu,” ujar Agus. Masalah gizi sudah menjadi perhatian sejak era kolonial. Setelah pontang-panting mengatasi gizi buruk akibat krisis ekonomi pada 1930, pemerintah Hindia Belanda mendirikan Instituut Voor de Volkvoeding (IVV) pada 1934. Lembaga ini melakukan riset-riset terkait pengaruh gizi terhadap kesehatan serta mencari pangan alternatif. Beberapa di antara diterbitkan seperti Makanan jang Baik Dimasa Perang (1940) dan Makanan jang Moerah tetapi Baik (1941). Baca juga:  Stunting dan Sejarahnya di Indonesia Langkah pemerintah diikuti para ahli nutrisi dan gastronom. Konsultan pertanian untuk pendidikan GA van de Mol menulis Gezonde Voeding (Makanan Sehat) yang menyerukan agar keluarga Eropa di Hindia beralih ke pangan “pribumi”, yang lebih kaya sayuran dan buah-buahan ketimbang daging, sebagai alternatif. Tokoh perempuan-pejuang Chailan Sjamsu Datuk Tumenggung, lewat Boekoe Masak-Masakan (1940), mendorong masyarakat aktif memanfaatkan bahan-bahan makanan lokal seperti jagung, ketela, ubi, dan sagu.   “Maksud penerbitan buku pedoman itu untuk membentuk rumah tangga sebagai garda terdepan dalam menanamkan pengetahuan mengolah makanan yang murah atau sederhana tapi baik pada masa-masa sulit,” tulis Fadly Rahman dalam Jejak Rasa Nusantara . Perhatian pemerintah terhadap gizi dan kesehatan dibuktikan dengan Konfrensi Bandung, yang diinisiasi League of Nations Health Organisation (LNHO), pada 1937. Konferensi itu membahas masalah kesehatan pedesaan dari berbagai sudut disiplin ilmu, melibatkan tenaga medis dan petugas sanitasi, arsitek, ilmuwan, dan pakar pertanian. Namun, pendudukan Jepang menghancurkan upaya perbaikan itu. Wajib setor hasil pertanian membuat rakyat kekurangan pangan. “Karena bahan makanan dirampas, obat-obatan terbatas, akhirnya makin parah,” kata Agus. Gizi buruk melanda. Penduduk terpaksa bertahan hidup dengan makanan seadanya. Bekicot jadi pilihan populer sumber protein. Sebagai upaya menjawab masalah yang muncul akibat kebijakannya, pemerintah pendudukan Jepang memerintahkan rakyat mengkonsumsi sumber pangan alternatif pengganti beras. Sebagai tindak lanjut, diperkenalkan resep-resep baru untuk pelengkap seperti Bubur Perjuangan, Bubur Asia Raya, dan Roti Asia. “Resep-resep itu umumnya disebut menu ‘perjuangan’ oleh kaum propagandis,” tulis Aiko Kurasawa dalam Mobilisasi dan Kontrol . Baca juga:  Bubur Perjuangan dan Roti Asia Setelah merdeka, pemerintah Indonesia memberikan perhatian serius terhadap perbaikan gizi masyarakat. Dokter-politisi Johanes Leimena menyadari betul eratnya hubungan antara gizi dan kesehatan masyarakat. Pembangunan bangsa ( national building ) takkan berhasil tanpa kesehatan masyarakat yang baik. Faktanya, gizi buruk (malnutrisi) masih menjangkiti masyarakat. Sejumlah langkah pun diambil pemerintah. Pada 1950 pemerintah membentuk Lembaga Makanan Rakyat, sebagai pengganti Intituut Voor de Volkvoeding pada masa kolonial. Lembaga ini dipimpin Poorwo Soedarmo dan merintis berbagai program gizi nasional berupa penyuluhan gizi, pendidikan tenaga gizi, dan penanggulangan masalah gizi. Selain LMR, dibentuk pula Jajasan Bahan Makanan (BAMA) yang kemudian diubah jadi Jajasan Urusan Bahan Makanan (JUBM) dengan wewenang sebagai lembaga tunggal untuk pengadaan beras nasional. Lalu, untuk menyelaraskan kebijakan pangan dan gizi dibentuk Badan Perbaikan Makanan Rakyat yang kemudian ditingkatkan menjadi Dewan Makanan Rakyat. Bukan perkara mudah bagi LMR untuk menjalankan tugasnya. Selain kondisi perekenomian masih buruk, mayoritas penduduk Indonesia tak peduli gizi atau lebih tepatnya tak tahu gizi. Tugas LMR pun dimulai dari nol. “Dalam memperkembangkan Lembaga Makanan Rakyat saya mulai dengan pendidikan kader, karena saya berpendapat, perbaikan pelayanan makanan dalam masyarakat dan pemerintah hanya dapat dilaksanakan bila sudah ada kader,” ujar Poorwo dalam memoar berjudul Gizi dan Saya . Kebutuhan itu melahirkan Akademi Gizi. Lulusannya kemudian menjadi ujung tombak perbaikan gizi di masyarakat. Baca juga:  Tanam Paksa Dorong Penelitian Pangan Kendala lainnya: tak ada data statistik soal kesehatan masyarakat. Data itu penting sebagai dasar untuk membuat kategori “rata-rata orang Indonesia” dan konsumsinya. “Menentukan ‘rata-rata Orang Indonesia’ itu dan kebutuhannya akan makanan adalah suatu hal yang amat berbelit-belit. Akhirnya kita pun harus insyaf, bahwa sebagian besar rakyat belum mencapai berat dan tinggi badan yang semestinya, sehingga harus tersedia jumlah extra untuk mereka ini,” kata Poorwo. Sejalan dengan itu, pada 1952 Kementerian Kesehatan membentuk Biro Kesehatan Ibu dan Anak. Upaya lebih serius pemerintah membangun kesehatan masyarakat dilakukan pada 1955. Menteri Kesehatan Leimena pada 1955 menelurkan blueprint kesehatan holistik yang dikenal dengan Rencana Bandung untuk mencapai pengurangan drastis angka kematian ibu dan bayi dengan biaya serendah mungkin. Untuk mewujudkannya, langkah-langkah yang dianjurkan adalah peningkatan kondisi ekonomi masyarakat, dan mendidik ibu tentang nutrisi dan pencegahan penyakit. Untuk mempermudah masyarakat memahami gizi, Poorwo menciptakan kampanye dengan slogan “Empat Sehat Lima Sempurna”. Upaya tersebut membuahkan hasil karena keterlibatan perorangan, lembaga masyarakat atau partai politik yang juga melakukan gerakan memperbaiki kesehatan. “Antara tahun 1950 dan 1955, kemajuan kesehatan masayarakat Indonesia tampak menjanjikan. Selama periode ini, rencana berani telah dirumuskan dan sejumlah inisiatif menjanjikan telah diluncurkan,” tulis Vivek Neelakantan dalam disertasinya “Health and Medicine in Soekarno Era Indonesia”. Namun, semua itu berantakan pada paruh kedua 1950-an akibat ketegangan politik, koordinasi buruk pusat-daerah, dan korupsi. Baca juga:  Pangan Zaman Perang di Indonesia Untuk menghadapi kekurangan pangan, kelaparan dan  kekurangan gizi yang dikenal dengan "busung lapar", pada awal 1960 dilancarkan program diversifikasi pangan dengan nama Operasi Makmur sebagai upaya meningkatkan produksi pangan bukan beras. Lalu, diluncurkan pula gerakan mengganti beras dengan jagung sebagai bagian dari program Revolusi Makanan Rakyat (RMR). Gerakan ini didukung dengan penyuluhan gizi yang waktu itu disebut sebagai Operasi Buta Gizi. Secara simbolis, kampanye itu diluncurkan dalam jamuan makan di Istana Bogor pada 12 Juli 1964. Tak satupun menu yang disajikan dalam jamuan itu berbahan beras. “Kepada yang biasa makan nasi 2 sampai 3 kali sehari, saya serukan: ubahlah menumu, campurlah dengan jagung, ketela rambat, singkong, ubi, dan lain-lain,” kata Sukarno dalam pidato kemerdekaan, 17 Agustus 1964. Sebagai realisasi, pemerintah antara lain mengubah jatah natura pegawai menjadi 75 persen beras dan 25 persen jagung. Selain itu, Kementerian Kesehatan mendorong rakyat membuat makanan dari bahan nonberas dan membentuk Komando Operasi Pemberantasan Buta Gizi hingga ke tingkat kabupaten. Hasilnya, sejumlah daerah yang sebelumnya kerap kekurangan pangan, tidak lagi mengalaminya. Menurut Neelakantan, Operasi Buta Gizi awalnya dilaksanakan di provinsi Jawa Barat yang terkena dampak kelaparan pada 1964 dengan diperkenalkannya varietas jagung unggul. Sejak tahun itu, kasus kelangkaan pangan tak terjadi lagi. Bahkan distribusi butiran makanan di sana meningkat. “Tetapi, karena Revolusi Makanan Rakyat dilaksanakan selama konfrontasi dengan Malaysia, hanya sebagian yang berhasil,” tulis Neelakantan. Kemiskinan, inflasi yang tinggi, pertumbuhan penduduk dan turunnya produksi pangan menggagalkan upaya pemerintah. Penduduk pribumi sedang membaca tuntunan hidup bersih dan sehat, 1933. (Repro Dua Kota Tiga Zaman: Surabaya dan Malang Sejak Kolonial sampai Kemerdekaan) Terus Berjalan Pemerintahan Soeharto mewarisi bukan hanya program gizi tapi juga permasalahan gizi dari masa sebelumnya. Produksi pangan sebagai komoditas strategis yang mempengaruhi stabilitas ekonomi dan inflasi menjadi perhatian utama. Hal itu diatasi dengan program swasembada beras dan juga diversifikasi pangan. Upaya perbaikan gizi juga tak luput dari perhatian. Kampanye “Empat Sehat Lima Sempurna” masih dijalankan dan dikembangkan. Selain itu, pada 1970 hingga 1980-an, upaya perbaikan gizi dilakukan melalui kegiatan penyuluhan gizi masyarakat, gerakan sadar gizi atau program Usaha Perbaikan Gizi Keluarga (UPGK), pembinaan dan peningkatan keadaan gizi kelompok atau dikenal dengan Usaha Perbaikan Gizi Institusi (UPGI), upaya fortifikasi bahan pangan atau memperkaya mutu gizi bahan makanan (misal dengan garam yodium, vitamin A dan zat besi), serta peningkatan penerapan Sistem Kewaspadaan Pangan dan Gizi (SKPG) atau kegiatan pemantauan perkembangan keadaan gizi masyarakat. Pada 1986, pemerintah Presiden Soeharto mendirikan Pos Pelayanan Terpadu (Posyandu), yang kemudian dibangun di desa-desa untuk meningkatkan kesehatan perempuan dan anak-anak. Posyandu mempunyai lima program, yaitu Kesehatan Ibu dan Anak (KIA), keluarga berencana (KB), gizi, penaggulangan diare, dan imunisasi. Dalam perkembangannya Posyandu juga dimanfaatkan untuk pelayanan ibu hamil, lansia, serta promosi dan distribusi vitamin A, garam yodium, dan suplemen gizi lainnya. Baca juga:  Operasi Pemberantasan Buta Gizi Masa Sukarno Posyandu menjadi garda terdepan dalam upaya pengendalian dan pencegahan berbagai penyakit di masyarakat dengan imunisasi dan sosialisasi. Posyandu berperan memberikan vaksin dan makanan suplemen kepada bayi dan anak-anak. Posyandu juga menjadi deteksi dini terhadap kasus-kasus kekurangan gizi pada bayi dan anak-anak. Para praktisi kesehatan pemerintah maupun swasta terus mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan dan masalah gizi. Soekirman, wakil ketua Bappenas bidang Sosial-Budaya, misalnya, menghadiri Konferensi Pangan Sedunia yang dihelat Organisasi Pangan dan Pertanian Dunia (FAO) di Roma pada 1992. Dalam konferensi itu, gizi menjadi pembahasan penting. Pola yang dihadapi dunia telah berubah, banyak negara tak lagi menghadapi masalah anak kurus dan kurang gizi tapi justru obesitas. Maka, Konferensi pun menetapkan semua negara berkembang yang menggunakan pedoman sejenis “Basic Four” agar menyempurnakannya menjadi “Nutrition Guide for Balance Diet” atau Pedoman Gizi Seimbang (PGS). Rekomendasi konferensi itu belum diterapkan di Indonesia. Penyebabnya, saat itu pemerintah sudah mengeluarkan Program Makanan Tambahan Anak Sekolah (PMT-AS). Anak TK sampai SD mendapat makanan tambahan seperti bubur kacang hijau di sekolah. Sasaran program PMT-AS adalah anak SD di daerah miskin yang kurang gizi dan berprestasi rendah. Mereka diberikan bantuan dana untuk digunakan ibu mereka membeli bahan makanan. Dananya disalurkan lewat Bank Rakyat Indonesia dan Kantor Pos. Namun, program PMT-AS terkendala korupsi. Soekirman sendiri menyoroti kelemahan “Empat Sehat Lima Sempurna” yang digagas gurunya, Poorwo, yakni diabaikannya empat pilar penting yang meliputi: makanan harus beragam dan memenuhi kebutuhan, menjaga kebersihan, aktif bergerak atau berolahraga, dan pemantauan intensif berat badan ideal. “Program 4 Sehat 5 Sempurna itu sudah usang. Tidak ada ceritanya ada makanan yang utama. Semua itu harus dipadukan dengan pola hidup sehat. Seperti susu, itu kan sudah sama dengan ikan, sebagai unsur protein,” kata Soekirman kepada Historia beberapa tahun silam. Baca juga:  Sukarno dan Gerakan Makan Jagung Kondisi itu mendorong Soekirman memberanikan diri mengutarakan ide yang ditetapkan konferensi FAO lewat diskusi maupun tulisan. Upayanya membuahkan hasil. PGS dijadikan program perbaikan gizi oleh pemerintah pada 1993. Sosialisasinya dilakukan seperti sebelumnya, lewat penyuluhan dan penyebaran selebaran dan poster. Idealnya, dengan berbagai program tersebut, persoalan gizi sudah hilang atau minimal menurun. Faktanya, jumlah penderita stunting masih tinggi. Masalah stunting kian menjadi perhatian serius pemerintah. Sejak 2011 pemerintah ikut ambil bagian dalam gerakan global yang dinamai Scalling Up Nutrition Movement (SUN Movement) di bawah koordinasi sekretaris jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa. Bentuk keseriusan pemerintah antara lain ditandai dengan keluarnya Peraturan Presiden No. 42/2013 tentang Percepatan Perbaikan Gizi. Prioritas diarahkan pada 1.000 hari pertama kehidupan, yakni 270 hari selama kehamilan dan 730 hari dari kelahiran sampai anak usia 2 tahun, yang dikenal dengan sebutan Gerakan 1000 Hari Pertama Kehidupan atau disingkat Gerakan 1000 HPK. Fokusnya pada ibu hamil, ibu menyusui, dan anak usia 0-23 bulan. Poorwo Soedarmo, pencipta 4 Sehat 5 Sempurna. (Repro Memoar Poorwo, Gizi dan Saya ). Mengubah Perilaku Selama ini sebagian masyarakat salah kaprah mengenai stunting. Kondisi tubuh anak yang pendek seringkali dianggap sebagai faktor keturunan (genetik), sehingga orangtua hanya menerima tanpa berbuat apa-apa untuk mencegahnya. Padahal genetika merupakan faktor determinan kesehatan yang paling kecil pengaruhnya. Sebagian masyarakat juga menganggap stunting hanya terjadi pada anak dari keluarga miskin. Padahal stunting juga bisa terjadi pada anak keluarga kaya. Di kota maupun di desa. Untuk itulah pemerintah melakukan Kampanye Nasional Pencegahan Stunting. Ada berbagai program da aktivitas yang disiapkan pemerintah untuk mencegah stunting. Antara lain meningkatkan akses dan kualitas pelayanan kesehatan serta melatih para petugas kesehatan dan kader agar mampu mendidik masyarakat. Pencegahan stunting dilakukan melalui intervensi gizi spesifik, yakni kegiatan dalam jangka pendek dan terkait sektor kesehatan. Pemerintah telah merevitalisasi pos pelayanan terpadu (posyandu) sebagai sarana pendidikan gizi serta pemantauan ibu hamil dan tumbuh-kembang balita. Di posyandu pula dilakukan pemberian tablet tambah darah bagi ibu hamil serta vitamin A, obat cacing, dan imunisasi bagi balita. Selain itu, Kementerian Kesehatan melakukan kampanye gizi seimbang, bahkan membuka kelas ibu hamil. Sementara ibu menyusui dianjurkan melakukan inisiasi menyusui dini, memberikan air susu ibu (ASI) eksklusif hingga bayi usia enam bulan yang dilanjutkan hingga anak usia 2 tahun dengan disertai pemberian makanan pendamping ASI (MPASI). Baca juga:  Bidan Diciptakan Agar Angka Kematian Ibu dan Bayi Bisa Ditekan Menurut Dermawan, pemberian asupan gizi yang memadai pada 1.000 hari pertama kehidupan memang amat menentukan tumbuh-kembang anak. “Pada masa itulah kita kasih makanan yang baik ibunya, setelah itu bayinya. Karena periode itu girus-girus otaknya lebih banyak kalau makanannya bagus dibanding yang nggak,” ujarnya. Selain masalah gizi, stunting dipe­ngaruhi banyak faktor. Masalah kebersihan dan sanitasi ikut andil terjadinya stunting. Masih banyak orang yang mandi di sungai atau kesulitan mendapatkan akses air bersih. Polusi, asap rokok, penggunaan pestisida dan pencemaran lingkungan juga mempengaruhi tumbuh-kembang anak. “Bila dibiarkan, pertumbuhan akan terganggu dan menyebabkan kejadian stunting (pendek) yang semakin banyak. Dampak cemaran lingkungan harus terus diwaspadai,” tulis Trihono dkk. dalam Pendek (Stunting) di Indonesia, Masalah dan Solusinya . Untuk itu, pemerintah melakukan intervensi gizi sensitif, yakni kegiatan di luar sektor kesehatan murni. Keberhasilan intervensi gizi sensitif memerlukan peran dan keterlibatan lintas sektoral, bukan hanya Kementerian Kesehatan tapi juga kementerian dan lembaga terkait lainnya. Menteri Kesehatan Nilai F. Moeloek selalu menekankan bahwa stunting bukan hanya permasalahan di sektor kesehatan tapi juga permasalahan yang harus diselesaikan bersama. Melalui Peraturan Presiden No. 41 Tahun 2013 tentang Gerakan Nasional Percepatan Perbaikan gizi, pemerintah melibatkan 13 kementerian yang sesuai tugas pokok dan fungsinya melakukan pencegahan stunting. Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kem. Kominfo) ditunjuk menjadi koordinator kampanye nasionalnya. Direktur Informasi dan Komunikasi PMK, Ditjen IKP Kemenkominfo Wiryanta mengatakan bahwa Kementerian Kominfo sesuai amanat ratas sebagai koordinator kampanye nasional, telah melakukan kampanye menggunakan berbagai media, TV, Radio, media cetak, online, media sosial sampai pertunjukan rakyat dan forum. Pada 2018, pada cakupan wilayah pada daerah prioritas sekitar 100 Kabupaten/Kota. “Kita juga mempunyai gerakan sosial 3P (PEDULI, PAHAMI dan PARTISIPASI). Hal ini bisa membantu mengurangi keberadaan gizi buruk. PEDULI, mulai peduli lingkungan sekitar, lihat kondisi balita di keluarga atau lingkungan sekitar. PAHAMI, carilah informasi sebanyak mungkin, melalui media apapun tentang stunting atau kekurangan gizi kronik ini. Terakhir, BERPARTISIPASI, berikan informasi yang benar pada keluarganya dan edukasi mereka,” pungkasnya. Baca juga:  Hari Kesehatan Nasional dan Pemberantasan Malaria Untuk menciptakan generasi Indonesia bersih dan sehat serta bebas stunting, Ditjen Informasi dan Komunikasi Publik menginisiasi GenBest (Generasi Bersih dan Sehat). Program ini mendorong masyarakat, khususnya generasi muda, agar menerapkan pola hidup bersih dan sehat sehari-hari melalui situswebnya genbest.id dan media sosial @genbestid. GenBest menyediakan informasi seputar stunting, kesehatan, nutrisi, tumbuh kembang anak, dan sanitasi maupun kesehatan lingkungan dalam bentuk artikel, infografik, dan videografik.  Terakhir, Kemenkominfo menyiapkan aplikasi “Anak Sehat”. “Anak Sehat merupakan aplikasi mobile promotif edukatif yang dikembangkan oleh Kementerian Komunikasi dan Informatika untuk memantau kondisi ibu hamil dan baduta (bayi dibawah dua tahun). Pengembangan aplikasi ini diinisiasi karena belum adanya aplikasi terintegrasi milik pemerintah yang dapat digunakan untuk memantau tumbuh kembang anak dan kondisi ibu hamil guna menurunkan prevalensi stunting,” ujar Wiryanta.  Langkah-langkah yang diambil pemerintah menunjukkan hasil positif. Berdasarkan Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2018, angka stunting menurun menjadi 30,8 persen dari angka 37,2 persen pada Riskesdas 2013. Namun, ini masih di atas angka toleransi Badan Kesehatan Dunia (WHO), yakni 20 persen. Dalam acara Stunting Summit pada Maret 2018, Nila F. Moeloek mengingatkan kerugian yang akan ditanggung apabila masih ada stunting di Indonesia. “Sumber daya manusia yang berkualitas sangat diperlukan untuk membangun negeri ini. Untuk itu mari bersama kita menuntaskan permasalahan stunting secara holistik dan  terintegrasi,” ujarnya. Jadi, jangan anggap remeh stunting.*

  • Sambo Malu karena Kehilangan Kewibawaan

    Popularitas nama Sambo sedang tinggi belakangan ini. Datangnya dari Ferdy Sambo, mantan kepala Divisi Propam Polri yang terlibat dalam pembunuhan Brigadir Nofriansyah Yosua Hutabarat alias Brigadir J. Popularitas Sambo-Sambo yang lain pun terkubur oleh Sambo yang satu itu. Padahal, sejatinya nama Sambo tersua di banyak tempat. Dalam mitologi Jawa, ada Bathara Sambo. Ia  merupakan anak pertama dari Bathara Guru dan Dewi Umayi. Menurut Ensiklopedi Wayang Purwa,  Sambo berarti ambu  atau bahu. Ensiklopedi tersebut juga menerangkan lebih jauh tentang Sambo. “Sang Hyang Sambo mempunyai hak dipuja oleh para penganut agama Sambo (Hindu) dengan peraturan-peraturan tertentu,” kata ensiklopedi tersebut. Baca juga:  Wayang Penerang Bathara Sambo muncul pada lakon yang menceritakan dewa-dewa. Menurut dalang wayang kulit Ki Purbo Asmoro dalam laman YouTube- nya, Bathara Sambo berkuasa di khayangan Swilagringging atau Argamilah. “Menurut Paramayoga (serat/karya Sastra Jawa, red. ) istrinya ada dua, yaitu Dewi Susti, anak dari Sang Hyang Guruweda; dan yang kedua Dewi Suwayono, putri Sang Hyang Pancadewa,” kata Ki Purbo. Pernikahan Bathara Sambo dengan Dewi Susti menghasilkan empat anak: Sambosa, Sambawa, Sambujana, dan Sambodana. Anak terakhir, Sambodana, menurunkan raja-raja Lokapala. Baca juga:  Wayang Wahyu Melakonkan Kisah Injil Karier Bathara Sambo saat turun ke bumi cukup baik. Ia ahli dalam peperangan. Ia juga pernah menjadi raja di negara Medangprawa dengan gelar Sri Maharaja Maldewa . “Di dunia pewayangan gagrak Surakarta, Bathara Sambo menjadi tetunggul senapati para dewa dalam peperangan,” sambung Ki Purbo Asmoro. Sambo dalam Naskah Pustakaraja Dalam serat Pustakaraja Purwa karya Ki Padmasusastra tahun 1912, diceritakan keadaan ketika Sumatra, Jawa, Bali, dan Madura belum dihuni manusia. Saat itu, Sang Hyang Jagadnata (Bathara Guru) bersama Dewi Umayi yang memiliki lima putra mengutus kelima putranya turun ke bumi untuk membangun kerajaan. Sang Hyang Sambo (Bathara Sambo) termasuk yang diutus. Sang Hyang Sambo, dengan gelar Sri Maharaja Maldewa, turun di Gunung Rajabasa di Sumatra dan mendirikan Kerajaan Medang Prawa. Bertahun-tahun kemudian, Medang Prawa mendapat kunjungan dari Resi Atrakelasa ( Resi Acrakelasa ). Sang Resi kemudian diangkat menjadi patih oleh Bathara Sambo. Medang Prawa kemudian diserang Prabu Hiranyakasipu dan Prabu Hiranyawreka. Bathara Sambo melarikan diri ke Kerajaan Medang Gili. Kerajaan tersebut merupakan tempat kekuasaan Sri Maharaja Sunda Bathara Brahma, saudara kandung Bathara Sambo. Baca juga:  Mantra Sakti Sang Dalang Wayang Bathara Brahma kemudian memanggil tiga saudara lainnya: Bathara Wisnu, Bathara Indra, dan Bathara Bayu. Kelima bersaudara itu sepakat bekerjasama menghadapi Prabu Hiranyakasipu dan Prabu Hiranyawreka. Mereka berhasil mengalahkan Hiranyakasipu-Hiranyawreka. Kelima bersaudara tersebut lalu kembali ke kerajaan masing-masing. Mereka hidup rukun berdampingan hingga terjadi perselisihan yang dimulai dari perselisihan antara Kerajaan Medangpura, tempat Bathara Indra berkuasa, dan Kerajaan Medang Gili. Perselisihan tersebut mempengaruhi Kerajaan Medang Prawa, Medang Gana, dan Medang Gora. Akibatnya Agama Dewa yang diajarkan Bathara Guru terpecah menjadi lima: Agama Sambu, Agama Brahma, Agama Indra, Agama Bayu, dan Agama Wisnu. Perselisihan tersebut dapat didamaikan oleh para brahmana anak dari Bathara Ismaya. Kekuasaan mereka lalu dibagi-bagi berdasarkan jenis “rakyat”: Kerajaan Medang Prawa hanya diperbolehkan memimpin binatang terbang, gelar pemimpinnya yakni Sri Maharaja Kagapati; Kerajaan Medang Pura hanya boleh memimpin binatang air, gelar pemimpinnya yakni Sri Maharaja Matsyapati; Kerajaan Medang Gora hanya boleh memimpin binatang darat, gelar pemimpinnya Sri Maharaja Mregapati; Kerajaan Medang Gili hanya boleh memimpin manusia dan raksasa, gelar pemimpinnya Maharaja Prajapati; dan Kerajaan Medang Gana hanya boleh memimpin para resi (orang suci) dan jawata (dewa), gelar pemimpinnya Maharaja Surapati. Setelah mereka akur kembali, para brahmana kembali ke khayangan. Hanya satu brahmana yang tinggal, yaitu Brahmana Balika. Ia memiliki murid dan pengikut yang bertambah dari waktu ke waktu. Oleh karena itu, Brahmana Balika mengangkat dirinya sebagai raja bergelar Sri Maharaja Balya. Baca juga:  Cerita Sukarno dengan Dalang Wayang Kulit Kesayangannya Seiring bergulirnya waktu, para rakyat di Medang Prawa, Medang Pura, Medang Gora, dan Medang Gili lebih memilih menjadi pengikut Sri Maharaja Balya. Mereka menganggap Sri Maharaja Balya lebih bijak daripada panutan mereka. Sri Maharaja Matsyapati mempeloporinya dengan kembali ke Tanah Hindustan dan kembali menjadi Bathara Wisnu. Langkah tersebut diikuti oleh Sri Maharaja Kagapati, Sri Maharaja Prajapati, dan Sri Maharaja Mregapati. Mereka kembali menjadi Bathara Sambo, Bathara Brahma, dan Bathara Bayu. Sementara, Bathara Indra tetap di bumi karena rakyat Kerajaan Medang Gana adalah kaum resi dan jawata yang sudah tidak tertarik keinginan duniawi. Langkah Sri Maharaja Matsyapati kembali menjadi Bathara Wisnu disebabkan oleh rakyatnya yang banyak menaati Sri Maharaja Balya. Demikian pula dengan Bathara Sambo, Bathara Brahma, dan Bathara Bayu merasa kehilangan kewibawaan. Mereka malu sehingga memutuskan kembali ke Tanah Hindustan. “ Sang Hyang Wishnu bertahta di bumi selama 27 tahun , Medang Pura dihancurkan, tidak ada lagi raja di sana . Sang Hyang Sambo, Sang Hyang Brahma, dan sang Hyang Bayu juga bertahta selama 29 tahun , Medang Prawa, Medang Gili, Medang Gora dihancurkan, tidak ada raja yang berkuasa lagi,” kata Pustakaraja Purwa .

  • Kapolri Mengundurkan Diri

    DALAM perjalanan kariernya, Hoegeng Iman Santoso pernah bertugas di luar kepolisian. Pada 1960, dia menjabat Kepala Jawatan Imigrasi. Setelah itu, pada 1966 dia menjabat Menteri/Sekretaris Kabinet Inti atau Presidium Kabinet Dwikora yang Disempurnakan. Hoegeng tak lama menjadi menteri karena kepolisian membutuhkannya. Menteri/Panglima Angkatan Kepolisian (kini, Kapolri) Jenderal Polisi Soetjipto Joedodihardjo meminta izin kepada Presiden Sukarno untuk menarik Hoegeng kembali ke kepolisian. Sukarno mengizinkan dan terserah Hoegeng. Sebab, bila kembali ke kepolisian, maka jabatannya turun dari menteri menjadi deputi. Hoegeng menjabat Deputi Urusan Operasi. Masa-masa awal menjadi deputi, dia gunakan untuk mengenal kembali seluk-beluk dan situasi kepolisian. Maklumlah dia bertugas di luar kepolisian kurang lebih enam tahun sejak tahun 1960.

  • Netanyahu Bersaudara dalam Pasukan Khusus Israel

    Pesawat jet Air France Airbus A300 dibajak pada 27 Juni 1976. Pesawat itu mengangkut 248 penumpang. Pembajak berasal dari kelompok Popular Front for the Liberation of Palestine-External Operations (PFLP-EO) atas perintah Wadie Haddad. Pembajak menggiring pesawat tujuan Paris itu dari Athena ke Entebbe, Uganda. Penguasa Uganda, Idi Amin, membiarkan pembajak singgah. Sandera dipisahkan berdasarkan ras:   non-Yahudi dibebaskan sedangkan orang Yahudi ditahan hingga tuntutan dipenuhi.  Mereka menuntut pembebasan 40 milisi Palestina yang ditahan Israel di Tel Aviv. Pemerintah Israel tak mau berkompromi dengan pembajak dan menyiapkan operasi militer untuk membebaskan sandera. Israel Defense Forces (IDF) atau Angkatan Pertahanan Israel memiliki pasukan khusus bernama Sayeret Matkal. Baca juga:  Pembajakan Pesawat Pertama di Indonesia Brigadir Dan Shomron (1937–2008)mengawasi operasi itu dari dekat. Di bawahnya Letnan Kolonel Yonatan Netanyahu memimpin langsung pasukan khusus melaksanakan operasi pembebasan sandera. Yonatan alias Yoni sudah menjadi perwira di Sayeret Matkalsejak awal 1970-an. Yoni bergabung dengan IDF pada 1964. Mula-mula dia menjadi sukarelawan dalam Brigade Penerjun.Setelah pelatihan perwira, dia memimpin sebuah kompi pasukan penerjuan. Dia terlibat dalam beberapa misi termasuk dalam Perang Enam Hari dan Perang Yom Kippur. “Operasi untuk menyelamatkan sandera Israel di bandara Entebbe adalah operasi besar pertamanya sejak kembali ke unit,” tulis Bernard Reich & ‎David H. Goldberg dalam Historical Dictionary of Israel . Baca juga:  Anti Serangan Rudal Israel dalam Pesawat Kepresidenan Indonesia Setelah pelatihan simulasi penyerbuan, pasukan khusus Sayeret Matkal yang dipimpin Yoni naik pesawat ke Entebbe.Kebetulan bandara ini dibangun kontraktor Israel hingga seluk-beluknya bisa dipelajari. Pasukan khusus sampai di bandara Entebbe pukul 03.00 pada 3 Juli 1976. Mereka keluar dari pesawat dengan mobil Mercy agar tersamar sebagai pejabat negara yang baru saja mendarat. Mereka segera menyerbu tempat pembajak menyandera penumpang. Tembak-menembak menewaskan semua pembajak. Nahas, Yoni juga tewas. Orang Yahudi yang disandera dibebaskan dan dibawa ke Israel. Yoni meninggal pada 4 Juli 1976. Operasi pembebasan sandera yang bernama Operasi Thunderbolt disebut juga Operasi Yonatan. Yoni menjadi pahlawan Israel. Nama keluarga Netanyahu pun menjadi harum. Baca juga:  Theodor Herzl, Orang di Balik Negeri Zionis Yoni lahir pada 13 Maret 1946 dari pasangan Benzion Netanyahu (1910–2012) dan Tzila Segal. Benzion,profesor sejarah di Universitas Cornell, New York, adalah anak dari Nathan Mileikowsky (1879–1935). Selain rabi (pemuka agama Yahudi), Nathandikenal juga sebagai penulis dan pejuang Zionisme. Meski beda ideologi, Benzion dan ayahnya sama-sama pendukung negara Israel. Begitu juga anak-anak Benzion. Keluarga Benzion pernah tinggal di Amerika. Anak-anaknyaada yang kuliah di Amerika. Yoni punya adik bernama Benjamin Netanyahu yang biasa disapa Bibi. Dia lahir tanggal 3 Oktober 1949 dan masuk IDF pada 1967. “Bibi mengikuti jejak langkah saudaranya bergabung dalam Sayeret Matkal, tapi tidak pernah menjadi perwira senior,” tulis Neill Lochery dalam The Resistible Rise of Benjamin Netanyahu . Seperti abangnya, Bibi pernah ikut serta melawan pembajak pesawat maskapai Belgia, Sabena, di Bandara Lod, Tel Aviv pada 1972. Namun, dia hanya sampai pangkat kapten pada 1973. Baca juga:  Serangan Aktivis Kiri di Bandara Lod Israel Tak hanya Yoni dan Bibi, adik mereka, Iddo Netanyahu juga mantan anggota Sayeret Matkal. Iddo yang lahir tahun 1952 hanya sebentar di militer. Setelah lepas dari dinas militer, dia kuliah sains dan menjadi ahli fisika,belakangan menjadi penulis. Diantara anak-anak Benzion dan Tzila, yang akhirnya terkenal adalah Bibi. Setelah keluar dari dinas militer dan kuliah, diamenjadi ahli terorisme di Yonatan Netanyahu Anti-Terror Institute. Setelah sempat menjadi wakil Israel di PBB, Bibi dikenal sebagai politikus Partai Likud. Puncaknya, Bibi menjadi Perdana Menteri Israel pada 1996–1999 dan 2009–2021, serta terpilih kembali pada 2022 hingga kini.*

  • Ada Apa dengan Sepakbola India?

    GONJANG-GANJING sepakbola India mencapai klimaksnya pada 16 Agustus 2022 dengan keluarnya sanksi FIFA. Selain larangan tampil di pentas internasional bagi timnas putra dan putri di aneka jenjang umur, Piala Dunia Wanita U-17 yang terjadwal digelar di Bhubaneswar, Goa, dan Navi Mumbai pada 11-30 Oktober 2022 pun otomatis bubar jalan. FIFA membekukan AIFF (All India Football Federation) dengan alasan melanggar statuta FIFA soal campur tangan politis dalam kepengurusannya. Selain menunggu respons AIFF dan Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora) India, FIFA juga bakal membahas kemungkinan tuan rumah baru untuk perhelatan Piala Dunia Wanita U-17. “Biro Dewan FIFA mutlak memutuskan menjatuhkan sanksi kepada AIFF dengan alasan pengaruh dari pihak ketiga, di mana hal itu merupakan pelanggaran serius terhadap statute FIFA. Sanksinya akan dicabut seiring perintah pembentukan Committee of Administrator (CoA) dibatalkan dan AIFF kembali memegang kendali penuh akan kepengurusannya,” kata FIFA dalam pernyataan di laman resminya , 16 Agustus 2022. Baca juga: Jalan Panjang Piala Dunia Kaum Hawa Pihak ketiga yang dimaksud FIFA adalah CoA, yang eksistensinya dianggap kepengurusan di dalam kepengurusan. CoA dibentuk lewat mandat Mahkamah Agung (MA) India pada 18 Mei 2022 dan digawangi tiga anggota komite: Justice Anil Dave (eks-Hakim MA), Dr. SY Qureshi (eks-Ketua Komisioner Pemilu), dan Bhaskar Ganguli (eks-kapten Timnas India). “(CoA) bertujuan untuk menjalankan kepengurusan AIFF, untuk merekomendasikan amandemen konstitusi AIFF, dan menyelenggarakan pemilihan (Presiden AIFF) berikutnya yang dilandasi konstitusi baru di bawah pengawasan MA,” ungkap AIFF di laman resminya , 20 Juni 2022. Markas AIFF di Dwarka, Delhi, India ( the-aiff.com ) CoA mulanya diharapkan bisa membenahi benang kusut di internal AIFF. Krisis politis itu timbul gegara kursi kepresidenan AIFF tetap diduduki Praful Patel kendati masa jabatan maksimal 12 tahun sudah berakhir. Dengan adanya sanksi FIFA, Kemenpora India buru-buru mengajukan pembatalan mandat CoA ke MA. Praktis CoA resmi dibubarkan pada Senin (22/8/2022) dan mandatnya dicabut sehari sebelum deadline FIFA pada 23 Agustus 2022. Pemilihan presiden AIFF yang mulanya direkomendasikan CoA pada 28 Agustus 2022 sesuai rekomendasi CoA sebelumnya, diundur hingga sepekan ke depan. Majelis umum AIFF secara independen juga akan kembali jadi penanggungjawab pemilihannya. “Kami meminta pemerintah pusat (Kemenpora) proaktif dalam upaya penyelenggaraan Piala Dunia (Wanita) U-17 dan memfasilitasi pencabutan sanksi AIFF. Konstitusi AIFF akan direvisi menurut tuntutan FIFA dan Konfederasi Sepakbola Asia (AFC). Perkara ini akan disetujui Majelis Umum AIFF tanpa campur tangan pihak ketiga (CoA),” demikian bunyi pernyataan MA, dilansir NDTV , Senin (22/8/2022). Baca juga: Sepakbola Kaum Hawa Merentang Masa India berupaya untuk tetap jadi tuan rumah Piala Dunia Wanita U-17 2022 ( fifa.com ) Tiga Entitas Sanksi FIFA jadi ironi buat India yang merupakan salah satu pendiri AFC. Sejarah membuktikan India juga salah satu pionir sepakbola modern di Asia. Seperti juga kriket, sepakbola mulai diperkenalkan di India pada pertengahan abad ke-19 oleh para kolonialis dan serdadu Inggris yang bermain di barak-barak. Kala itu permainannya masih khusus untuk pedagang atau serdadu Eropa. Serdadu bumiputera dan rakyat di sekitarnya sekadar jadi penonton atau paling banter jadi pesuruh untuk mengambil bola saat bolanya tersepak jauh keluar arena. “Catatan mengenai muasal sepakbola memang masih diragukan dan banyak yang meyakini permainan itu warisan East India Company dan dimulai dari kalangan pejabat (kolonial), pebisnis, dan serdadu Eropa. Satu-satunya catatan otentik menceritakan sebuah pertandingan antara Calcutta Club of Civilians dan Gentlemen of Barrackpore pada pekan kedua April 1854 di Benteng William, Kalkuta,” demikian diberitakan mingguan The Sainik Samachar , 1 Maret 1970. Baca juga: Roman Sepakbola Negeri Jiran Sepakbola di India lebih berkembang di Benggala Barat, tepatnya di Kalkuta. Di kota itu pula lahir klub pertama, Calcutta FC, pada 1872 dari sebuah perkumpulan sepakbola dan rugby orang-orang Eropa. Klub-klub lain ikut berdiri kemudian baik di kalangan militer maupun institusi pendidikan. Antara lain Dalhousie Club, Howrah United Club, dan Naval Volunteers Club. “Presidency College, Calcutta Medical College, dan La Martiniere berperan signifikan dalam mempromosikan sepakbola di antara generasi muda di Kalkuta. Pada akhir abad ke-19 para kepala sekolah, guru, dan misionaris menggunakan sepakbola sebagai alat moral (modernisasi),” ungkap Kausik Bandyopadhyay dan Boria Majumdar dalam A Social History of Indian Football: Striving to Score. Nagendra Prasad Sarbadhikari, "Bapak Sepakbola India" ( ifawb.org ) Salah satu pionirnya adalah Nagendra Prasad Sarbadhikari. Sosok ini kemudian dikenang sebagai “Bapak Sepakbola India” lantaran ia yang merintis pengenalan sepakbola di kalangan pelajar. Ia memulainya di kalangan rekan-rekannya di Hare School Calcutta pada 1877 usai memerhatikan para serdadu Inggris memainkannya. “Nagendra Prasad jadi orang India pertama yang menyuarakan kritik terhadap diskrikimasi tak hanya terhadap kalangan Eropa tapi juga antarkasta dalam olahraga. Meski lahir dari keluarga Hindu ortodoks, ia memilih mengabaikan segala hambatan tingkatan kasta ketika menggagas sejumlah klub olahraga,” lanjut Bandyopadhyay dan Majumdar. Baca juga: Sepakbola Palestina dalam Pusaran Masa Seperti di berbagai tempat yang jadi koloni negeri-negeri Eropa, kaum bumiputera masih belum diperbolehkan bermain dengan kalangan Eropa. Diskriminasi rasial makin terasa ketika kalangan Eropa mendirikan Indian Football Association (IFA) pada 1893. IFA hanya mewadahi klub-klub yang eksis di Benggala Barat. Para pemimpinnya pun mutlak orang-orang Inggris. Mereka kemudian menghelat beberapa kompetisi pertama di India, yakni Trades Cup, Gladstone Cup, Cooch Behar Cup, IFA Shield, dan Calcutta Football League. Klub-klub yang berisi pemain bumiputera, yang terbiasa bermain tanpa sepatu, diperbolehkan berpartisipasi di semua kompetisi berformat turnamen, kecuali liga yang khusus kalangan Eropa. “Baru sampai tahun 1900 ada sebuah klub (bumiputera) India yang memenangkan salah satu trofinya. Adalah (tim) The National Association of South Calcutta, di bawah asuhan Manmatha Ganguly, memenangkan Trades Cup, mengalahkan tim Inggris, Shibpur Civil Engineering College di final. Koran The Indian Daily News melaporkan pada 11 Agustus 1900, ‘pertandingannya dihelat di Lapangan Shobhabazar kemarin malam dengan disesaki penonton.’ Manmatha Ganguly pula yang kemudian memperkenalkan konsep bermain dengan sepatu pada 1902 kepada para warga lokal,” tulis Shantanu Gupta dan Nikhil Sharma dalam India’s Football Dream. Tim Mohun Bagan yang memenangkan IFA Shield 1911 (wikipedia) Tim bumiputera India lain yang juga mencuat jadi kebanggaan lokal adalah Mohun Bagan. Dalam kurun 1906-1908, Mohun Bagan memenangkan Trades Cup tiga kali berturut-turut. Mohun Bagan lalu tampil dengan wajah “perlawanan” terhadap kalangan kolonial, utamanya kala tampil gemilang di IFA Shield 1911. “Sabtu sore yang hangat pada 29 Juli 1911 berubah jadi tensi politik tersendiri di Kalkuta. Fokus perlawanan ekstrem terhadap kolonialisme Inggris beralih ke pertandingan bola, di mana tim Inggris, East Yorkshire Regiment, melawan tim bumiputera di final. Partainya memancing nasionalisme 100 ribu orang yang menyesaki Lapangan Calcutta Football Club. Aspirasi seantero negeri terletak di pundak Mohun Bagan,” sambung Gupta dan Sharma. Tiga tahun lepas final yang dimenangkan Mohun Bagan 2-0 itu, klub tersebut jadi tim bumiputera pertama yang mentas di Calcutta Football League. Perlahan tapi pasti, kaum bumiputera diterima di kalangan Eropa. IFA bahkan membentuk tim berisi para pemain bumiputra India untuk jadi duta sepakbola dalam tur ke Australia, Jepang, Siam (kini Thailand), dan Hindia Belanda (kini Indonesia) pada 1920-an. Baca juga: Menggocek Sejarah Sepakbola Vietnam De Locomotief edisi 24 September 1929 memberitakan, dalam tur ke Hindia Belanda itu tim Britsch-Indisch bertamu ke Batavia (kini Jakarta) untuk menantang tim Oliveo dan Hercules. Kedua laga berkesudahan imbang 1-1. Selain IFA, India juga punya wadah sepakbola bernama Western India Football Association (WIFA). Organisasi yang berbasis di Bombay (kini Mumbai) itu didirikan pada 1902 oleh kalangan Eropa yang tertular semarak sepakbola dari Kalkuta. “Ketika kultur sepakbola di India sudah tersebar ke seluruh penjuru negeri, Liga Bombay sudah mulai digelar pada 1902 yang juga dikenal sebagai Harwood League. Edisi pertamanya diprakarsai Kolonel JG Harwood yang juga pendiri WIFA pada September 1902. Mulanya kompetisi itu juga didominasi tim-tim resimen Inggris dan tim bumiputera India pertama yang memenangkannya adalah tim Western India Automobile Association Staff bertahun-tahun kemudian pada 1942,” sambung Gupta dan Sharma. Sesuai namanya, WIFA hanya membawahi klub-klub asal bagian barat India (kini Negara Bagian Maharashtra). Selain Harwood League, WIFA juga mewadahi klub-klubnya di turnamen Rovers Cup. AIFF –yang kini terbelit sanksi FIFA– menjadi organisasi sepakbola India ketiga. Dibentuk pada 23 Juni 1937, AIFF digagas Raja Bahadur dari Darbhanga.  Baca juga: Qatar di Gelanggang Sepakbola Upaya promosi pembentukan badan berskala nasional sudah diprakarsai pada 1935 lewat dalam sebuah konferensi di Darbhanga. Namun konsensus tak tercapai karena banyak perbedaan pandangan. Usai perdebatan alot, para delegasi IFA, termasuk Presiden IFA Maharaja Santosh, protes sampai melakukan aksi walk-out (WO). Para peserta yang tak WO lalu bersekutu dan membentuk All-Indian Football Association (AIFA). Raja Bahadur didapuk jadi presidennya dan Rai Bahadur menjabat sekretaris jenderalnya. Pertikaian antara IFA dan AIFA kemudian dimediasi Brigadier VHB Majendine, Presiden Army Sports Control Board (ASCB). IFA dan AIFA dipertemukan di Markas Besar AD British India di Shimla pada Maret 1937. Dalam pertemuan yang juga mengundang lima asosiasi lain: ASCB, Uttar Pradesh, WIFA, Bihar Football Association, dan Delhi Soccer Association, konsensus untuk membuat suatu rancangan badan sepakbola nasional tercapai. Hasilnya, berdirinya AIFF pada 23 Juni 1937. IFA dan WIFA, dua organisasi tertua lain otomatis berafiliasi di bawah AIFF. Brigadier Majendine terpilih sebagai presiden pertamanya, sementara kursi sekretaris kehormatan diduduki Mayor A.C. Wilson (ASCB) dan bendahara kehormatannya oleh Pankaj Gupta (IFA). Setelah membentuk tim perintis nasional untuk melakoni tur ke Australia, Malaya, Burma (kini Myanmar), Afghanistan, dan Afrika Selatan, AIFF mengajukan diri jadi anggota FIFA kendati baru dikabulkan pada 1948. Baca juga: Selayang Pandang Sepakbola Afghanistan Timnas India yang dibentuk setahun pasca-berdirinya AIFF ( Sachitra Bharat , 2 Juli 1938) Masa Keemasan Timnas India mengecap masa kejayaannya sejak tampil gemilang di Olimpiade London 1948. FIFA bahkan mengundang India –sebagai pengganti para partisipan kualifikasi yang mengundurkan diri– untuk tampil di Piala Dunia 1950. Namun, bermacam faktor menggagalkan keikutsertaan itu. Faktor pertama, soal sepatu. Timnas India yang terbiasa main “nyeker” tak diperbolehkan FIFA tampil tanpa sepatu. Faktor kedua, karena ketiadaan ongkos. Faktor kedua sedianya sudah ditawarkan solusinya oleh tuan rumah Brasil dan FIFA sebagai pihak pengundang yang bersedia memberi ongkos. Faktor ketiga, soal prestis Piala Dunia. Kala itu India menganggap Piala Dunia bukanlah pentas yang sepenting Olimpiade. “Ketika itu kami belum mengerti tentang Piala Dunia. Seandainya kami tahu lebih banyak, kami akan mengambil inisiatif sendiri. Bagi kami saat itu, olimpiade adalah segalanya, lain tidak,” kenang Sailen Manna, kapten Timnas India era 1950-an, kala diwawancara jurnalis Sports Illustrated Arindam Basu, dikutip LA Times , 19 Juli 2011. Baca juga: Masalah Sepatu Gagalkan India di Piala Dunia Timnas India yang tampil tanpa sepatu di Olimpiade London 1948 ( the-aiff.com ) Sailen Manna cs. punya reputasi yang menyangi “Macan Asia” Indonesia pada 1950-an. Di Asian Games 1951 di rumah sendiri, India menggilas Indonesia 3-0 di perempatfinal. Di final, India mengalahkan Iran 1-0. Di Olimpiade Melbourne 1956, India menyingkirkan tuan rumah, Australia, 4-2 di perempatfinal. Namun timnas “anak benua” itu menyerah pada timnas Yugoslavia, 1-4 di semifinal. Kegagalan itu ditebus timnas India di Asian Games 1962 di Jakarta. Ketika tuan rumah tersandung hanya sampai babak grup, India kembali melaju sampai final dan pulang membawa medali emas pasca-memecundangi Korea Selatan 2-1 di Stadion Gelora Bung Karno. Baca juga: Jalan Panjang Panama ke Piala Dunia Timnas India di Olimpiade 1956 (kiri), Asian Games 1962 (kanan atas) & Piala Asia 1964 (kanan bawah) ( the-aiff.com ) Namun, memasuki 1970-an sepakbola India mengalami kemunduran drastis. Tim yang sempat dijuluki “Brasilnya Asia” itu akhirnya jadi raksasa yang tertidur hingga sekarang. Sepakbola di India tak bisa seperti olahraga impor dari Inggris lain, kriket, yang jadi olahraga paling populer. “Sampai Asian Games 2011 penampilan India memprihatinkan. Pada 2018 saja India kalah delapan kali dari 10 partai kualifikasi Piala Dunia 2018, termasuk kekalahn dari Guam dan hasil imbang dengan Nepal. Catatan itu memperburuk yang sudah-sudah, seperti di turnamen South Asian Football di mana India kalah 0-1 dari Pakistan, seri 1-1 dengan Sri Lanka dan kalah dari Bangladesh di semifinal,” tulis Shyam Sundar Ghosh dalam Kick-Off: Untold Stories of Indian Football . Dalam artikelnya, “Batting for the Flag: Cricket, Television and Globalization in India” yang tertuang dalam buku The Changing Face of Cricket: From Imperial to Global Game, Nalin Mehta mencatat bahwa pemerintah dan pihak swasta berangsur lebih perhatian kepada hoki dan kriket ketimbang sepakbola. Itu jadi faktor fundamentalnya. “Logisnya pasca-kemerdekaan, sepakbola bisa jadi olahraga nomor satu India karena lebih murah dan lebih melekat di masyarakat India dari desa ke kota. Tetapi dikotomi antara kepentingan nasional dan klub, sebagaimana juga kegagalan AIFF/Kementerian Olahraga untuk lebih menghargai pentingnya profesionalisme dan komersialisasi dalam sepakbola India turut berperan dalam kemunduran ini,” tandas Mehta. Baca juga: Badminton is Coming Home! Timnas India yang prestasinya menukik tajam pasca-era 1970-an ( the-aiff.com )

  • Korupsi di Perguruan Tinggi

    KOMISI Pemberantasan Korupsi (KPK) menetapkan Rektor Universitas Lampung Prof. Dr. Karomani sebagai tersangka kasus suap penerimaan mahasiswa baru jalur mandiri. KPK menyebut Karomani menerima sekitar Rp5 miliar dari hasil suap. Korupsi bisa terjadi di mana saja dan dilakukan siapa saja termasuk oleh seorang rektor perguruan tinggi yang mestinya menjadi institusi yang menghasilkan orang-orang yang berintegritas. Dalam sejarah, kasus korupsi pernah terjadi di Universitas Trisakti. Perguruan tinggi swasta ini awalnya Universitas Res Publica yang didirikan Baperki (Badan Permusjawaratan Kewarganegaraan Indonesia). Pada 1965, kampus ini dihancurkan massa karena Baperki dianggap berorientasi kiri.

  • Pekatnya Riwayat Cokelat

    Tak hanya disukai anak-anak, cokelat juga digemari orang dewasa. Belum lama ini cokelat menjadi sorotan lantaran kasus pencurian cokelat di Alfamart Sampora, Cisauk, Kabupaten Tangerang, yang ramai diperbincangkan publik. Cokelat memiliki sejarah yang panjang. Mengutip Britannica , pohon kakao dibudidayakan lebih dari 3.000 tahun yang lalu oleh suku Maya, Toltec, dan Aztec. Bahkan, suku Maya menganggap cokelat sebagai makanan para dewa. Adrianna Morganelli dalam The Biography of Chocolate  menjabarkan proses pembuatan cokelat yang dilakukan Suku Maya. Mulanya biji kakao difermentasi dan dikeringkan, setelah itu dipanggang di atas api. Selanjutnya kacang digiling menjadi pasta cokelat dengan cara dihancurkan menggunakan batu kecil yang disebut mano  pada permukaan batu yang disebut metate . “Mereka juga menambahkan air, cabai, rempah-rempah, madu, dan vanila ke dalam pasta lalu menuangkan adonan campuran itu bolak balik dari cangkir ke panci sampai buih tebal terbentuk di atasnya,” tulis Morganelli. Baca juga:  Sosok di Balik Alfamart Seperti suku Maya, orang-orang Aztec juga menganggap cokelat sebagai benda penting. Mereka kerap membuat minuman cokelat berbusa seperti suku Maya. Tak jarang mereka menambahkan tepung jagung dan wine ke dalam minuman yang disebut chocolatl tersebut. Namun, kondisi wilayah yang kering membuat mereka kesulitan menanam pohon kakao. Oleh karena itu,mereka membelinya dari suku Maya. Tak hanya mengolah biji kakao menjadi minuman, mereka juga menggunakannyasebagai mata uang. Cokelat sampai ke Eropa setelah diperkenalkan oleh Christopher Colombus. Dia membawa segenggam biji cokelat ketika kembali ke Spanyol dari pelayaran terakhirnya di Kepulauan Karibia pada 1502. Meski begitu minuman cokelat belum populer di Spanyol. Minuman itu baru tersohor 20 tahun kemudian setelah conquistador Hernán Cortés mempopulerkan minuman cokelat pahit Montezuma. Pada 1528, Cortés kembali ke Spanyol dan menunjukkan biji kakao kepada raja Spanyol. Ia menjelaskan proses pembuatan minuman cokelat yang diolah dari biji kakao. Tak butuh waktu lama untuk cokelat menjadi minuman populer di Spanyol. “Selama hampir 100 tahun Spanyol merahasiakan sumber cokelat karena besarnya keuntungan yang didapat Spanyol sebagai satu-satunya pemasok cokelat ke Eropa,” tulis Morganelli. Awalnya orang-orang Spanyol mengolah cokelat sebagai minuman dingin. Mereka menggunakan metode pembuatan cokelat yang dilakukan orang Mesoamerika dengan menggunakan alat kayu berukir yang disebut molinillo . Seiring berjalannya waktu, orang-orang Spanyol mulai menyajikan minuman cokelat panas. Mereka menambahkan gula ke dalam minuman untuk mengurangi rasa pahit. Pada masa itu, biji kakao dan gula merupakan komoditas impor yang mahal. Oleh karena itu hanya orang-orang kaya yang dapat membelinya. Selain gula, orang-orang Spanyol juga menambahkan vanila, rempah-rempah, jeruk hingga kayu manis ke dalam minuman cokelat untuk menambahkan rasa. Sebagai negara pertama di Eropa yang mengenal cokelat, Spanyol juga menjadi negara pertama yang mengontrol perdagangan kakao antara Eropa dengan Amerika. Baca juga:  Membuat Roti, Kemampuan Dasar dalam Sejarah Manusia Cokelat merambah negara-negara Eropa lain seperti Italia, Austria, dan Belanda padaabad 17. Pada 1615, saat pernikahan putri Spanyol,Putri Anne dari Austria dengan Raja Prancis Louis XIII,biji kakao diperkenalkan kepada orang-orang Paris. Cokelat juga sampai ke Inggris. Ditandai dengan dibukanya toko cokelat pertama di London pada 1657. Tempat yang disebut rumah cokelat itu menjadi primadona di kalangan orang-orang kaya. Rumah cokelat kemudian banyak berdiri dan populer karena pengunjung tak hanya menikmati cokelat panas, tetapi juga dapat bermain kartu, makan, bersosialisasi, hingga mendiskusikan politik. Setelah harga biji kakao lebih terjangkau, minuman cokelat lambat laun dapat dinikmati oleh para pedagang dan warga biasa. Inilah yang membuat cokelat menyebar ke berbagai lapisan masyarakat. Cokelat Masuk Indonesia Orang-orang Eropa sangat menyukai cokelat. Namun,karena Spanyol mengontrol perdagangan biji kakao di Eropa dan Amerika,negara-negara di Benua Biru mulai mencari tahu dari mana cokelat berasal. Mereka ingin mempunyai perkebunan kakao sendiri sehingga tak perlu membeli dari Spanyol. Morganelli menulis, pada 1560 pelaut Belanda membawa pohon kakao dari Venezuela ke wilayah koloni mereka di Sulawesi, Indonesia. Pada 1620-an, Belanda telah memiliki perkebunan kakao di daerah lain di Indonesia, Venezuela, serta koloni mereka di Karibia. Sementara itu, Inggris memiliki perkebunan kakao di Ceylon (Sri Lanka) dan mengirimkannyake negara-negara Eropa. Prancis juga mulai menanam pohon kakao di St. Lucia yang berada di Karibia dan Madagaskar di wilayah Afrika. Baca juga:  Dari Kopi hingga Anggur Kegiatan eksplorasi dan kolonisasi yang dilakukan negara-negara Barat membuat penyebaran cokelat kian luas. Ross F. Collins dalam Chocolate: A Cultural Encyclopedia menulis, salah satu pabrik cokelat pertama di dunia dibuka di Dorchester, Massachusetts, Amerika Serikat, pada 1765. Menurut Britannica , pembangunan pabrik pembuatan cokelat itu dibiayai oleh James Baker. Pabrik pembuatan cokelat itu kemudian dioperasikan oleh John Hannon, seorang imigran Irlandia yang dikenal sebagai pembuat cokelat. Pabrik tersebut menggunakan tenaga air untuk menggiling biji cokelat. Setelah revolusi industri, bisnis cokelat berkembang pesat. Dalam Dark Chocolate Healing karya Pangkalan Ide, disebutkan produksi cokelat terus bergeliat di wilayah Eropa. Francois Louis Cailler salah satunya. Pelopor pembuatan cokelat Swiss ini membuka pabrik cokelat yang beroperasi menggunakan mesin yang ia ciptakan sendiri di dekat Vevey di Danau Geneva pada 1819. Baca juga:  Gula dari Tulang-Belulang Prajurit di Waterloo Sebelumnya minuman cokelat diberi gula atau kayu manis untuk menambahkan rasa dan mengurangi rasa pahit. Pada 1828, Coenraad van Houten, ahli kimia dan produsen cokelat di Amsterdam, Belanda mematenkan penemuannya yang mengubah cokelat dari minuman menjadi permen atau manisan. “Dia menemukan proses membuat bubuk cokelat dengan menggunakan tekanan hidrolik untuk memindahkan hampir setengah mentega cocoa dari cairan cokelat. Ini mengurangi kandungan lemak dari 50 persen menjadi 25 persen, dan membuat adonan keras yang bisa dibuat bubuk,” tulis Pangkalan Ide. Untuk membuat bubuk lebih mudah dicampur dengan air hangat, Van Houten menambahkan garam alkali yang juga membuat warnanya menjadi lebih gelap dan menghilangkan sedikit rasa pahit. Proses ini kemudian dikenal dengan sebutan dutching . Menurut Britannica , pada 1847 perusahaan Inggris Fry and Sons mulai memproduksi cokelat manis dengan menggabungkan mentega kakao dengan cairan cokelat dan gula. Di tahun itu pula cokelat batang pertama di Inggris dijual oleh Fry and Sons. Kehadiran cokelat batangan kian meramaikan bisnis cokelat di Eropa. Collins menyebut setelah cokelat batang mulai dijual pada 1847, seorang pengusaha Swiss,Daniel Peter,menggunakan susu bubuk buatan Henry Nestle untuk mengembangkan cokelat susu batangan pertama. Baca juga:  Makanan Kemanusiaan Memasuki abad ke 20, bisnis cokelat masih menjadi primadona. Makin banyak perusahaan yang memasarkan beragam produk cokelat, seperti Cadbury, Hershey, dan Nestle. Cokelat juga berperan dalam Perang Dunia II. Collins menyebut Mars, perusahaan pembuat gula-gula dan berbagai produk makanan asal Amerika Serikat, mengenalkan M&M tahun 1941. Produk cokelat ini hanya tersedia untuk militer hingga setelah Perang Dunia II berakhir pada 1945. Menurut Pangkalan Ide, pemerintah Amerika Serikat menyadari peranan cokelat terhadap pemeliharaan gizi tentara. Potongan cokelat dapat memberi energi bagi para prajurit di medan perang hingga makanan tambahan bisa diperoleh. Ribuan tahun sudah sejak suku Maya dan Aztec mengolah biji kakao menjadi minuman cokelat. Bila dulu cokelat dianggap makanan para dewa dan hanya dikonsumsi oleh kaum elite dan orang kaya, kini cokelat dapat dinikmati siapa saja.*

  • Parikan, Puisi Jawa dengan Berbagai Makna

    Nama Jaka Tingkir menjadi trending  seiring munculnya lagu “Joko Tingkir Ngombe Dawet” yang dipopulerkan oleh penyanyi-penyanyi dangdut terkenal di Indonesia. Kepopuleran ini mengundang banyak pihak berkomentar, mulai dari kiai, anggota DPRD, hingga MUI. Jaka Tingkir telah memiliki citra positif di masyarakat Jawa. Ia dianggap sebagai tokoh yang berjasa pada penyebaran agama Islam. Tentu tidak ada hubungan antara tokoh tersebut dengan tokoh pada lagu “Joko Tingkir Ngombe Dawet”. Jika ditelaah, lagu “Joko Tingkir Ngombe Dawet” bisa digolongkan sebagai puisi Jawa, yaitu Parikan. Dalam kesusastraan Indonesia, Parikan sama dengan pantun. Pigeud dalam  Javaansche Volksvertoningen  berpendapat bahwa istilah “ Parikan ” berasal dari kata pari . Pari  (padi) dalam bahasa krama  berarti pantun. Baca juga:  Siapa Jaka Tingkir? Ada kemungkinan sejarah Parikan berasal dari pantun Melayu. Hal itu diutarakan ahli susastra Karsono H. Saputra. “Dugaan ini masuk akal jika ditilik bahwa pada tahun-tahun tersebut intensitas pergaulan antar budaya Melayu sangat tinggi,” kata Karsono dalam Puisi Jawa Struktur dan Estetika. Sastra wayang dan cerita panji di sastra Melayu menjadi pertanda pengaruh sastra Jawa. Sebaliknya, ada pula sastra Jawa yang terpengaruh sastra Melayu. Selain Parikan, ada Singir (syair) serta berbagai serat seperti Serat Tajusalatin . Baca juga:  Jaka Tingkir dan Kekuasaan Demak Parikan dalam Seni Pertunjukan Parikan sering digunakan dalam seni pertunjukan rakyat. Ia berkembang di tengah-tengah masyarakat Jawa. “Setiap orang Jawa dapat mengucapkan sekaligus menciptakan parikan,” kata Karsono. Oleh karena itu, wajar jika jenis Parikan tertentu akhirnya tidak diketahui penciptanya. Pun dengan lagu “Joko Tingkir Ngombe Dawet” dalam tayangan Youtube Cak Nan dan Happy Asmara, pencipta liriknya hanya tertulis NN. Sebelum lagu “Joko Tingkir Ngombe Dawet”, sudah ada lagu-lagu lain, seperti dangdut dan campursari, yang menggunakan Parikan. Antara lain”Randha Kempling” dan ”Jambu Alas”. Masuknya parikan dalam dangdut campur sari disebabkan oleh dinamika masyarakan saat ini. Supriono dalam makalah berjudul Marginalisasi dan Revitalisasi Parikan di Era Kelisanan Sekunder pada International Symposiumon Urban Studies 2010 mengatakan, “Campursari telah menjelma sebagai ikon kultur populer dalam kemasan budaya massa dan budaya urban. Berbeda dari tembang (klasik, red .) Jawa, lagu-lagu campursari hampir selalu mengandung parikan.” Baca juga:  Duel God Bless vs Soneta Group Parikan hadir bukan hanya sebagai hiburan namun lebih ke sarana komunikasi antara penampil dan penonton. Isi cerita dalam parikan dapat berupa nasihat, sindiran, senda gurau, dan lain sebagainya. Karsono berpendapat bahwa tema parikan beragam sesuai dengan situasi ketika wacana tersebut dihadirkan. Akan tetapi pada lagu-lagu campursari, Supriono memiliki pandangan bahwa parikan tidak lagi alami sebagai sarana komunikasi langsung. “ Banyak unsur yang hilang, seperti unsur spontanitas, interpolasi, keterlibatan rasa (emosi) dalam interaksi partisipatoris antar penikmat,” tulis Supriono. Apabila saat ini parikan dengan lirik “ Joko Tingkir ngombe dawet, Jo dipikir marai mumet ” hadir di pertunjukan dangdut campur sari, zaman dahulu parikan sering hadir pada pertunjukan ludruk. Tim ludruk biasanya tampil berpindah-pindah tempat. Baca juga:  Dua Legenda Ludruk Indonesia Salah satu tokoh fenomenal yang pernah menyindir menggunakan parikan adalah Cak Gondo Durasim. Dalam kelompok ludruknya ia memiliki parikan yang banyak digunakan dalam setiap pentas. " Bekupon omahe dara, dijajah Nipon tambah sengsoro, Kentang karo gubis, Jepang menang wong Jawa ngemis, " demikian salah satu parikan Cak Gondo yang artinya “Kandang rumahnya burung dara, dijajah Jepang tambah sengsara, Kentang dan kol, Jepang menang orang Jawa menangis.” Parikan tersebut muncul saat penjajahan Jepang sekitar tahun 1943-1944. Hingga kini, belum ada yang dapat menentukan tujuan penciptaan lagu “Joko Tingkir ngombe dawet ”. Kemungkinannya: entah ada wacana tertentu yang ingin disindir, nasihat, atau hanya sekedar senda gurau belaka.

  • Kucing Malang Masa Perang

    BRIGJEN TNI NA, anggota organik Sekolah Staf dan Komando TNI, dikecam karena telah menembak enam kucing dengan senapan angin pada Selasa siang, 16 Agustus 2022. Dia mengakui perbuatannya dengan alasan menjaga kebersihan dan kenyamanan di lingkungan tempat tinggal dan tempat makan Perwira Siswa Sesko TNI dari banyaknya kucing liar. Menindaklanjuti perintah Panglima TNI Jenderal TNI Andika Perkasa, Tim Hukum TNI telah mengambil tindakan hukum kepada Brigjen TNI NA. Pada masa revolusi kemerdekaan, kucing-kucing juga bernasib malang. Tak hanya dibunuh, tapi juga dimakan untuk bertahan hidup. Penganjurnya seorang jenderal. Hal itu terungkap dalam buku Akademi Militer Yogya dalam Perjuangan Fisik 1945–1949  karya Moehkardi, pensiunan dosen sejarah di Akabri (Akademi Angkatan Bersenjata Republik Indonesia), yang mewawancarai Mayjen TNI (Purn.) dr. Moestopo. Pada suatu hari di tahun 1946, Jenderal Mayor TNI dr. Moestopo mengajak rombongan Kepala Staf Umum TNI Letnan Jenderal TNI Oerip Soemohardjo meninjau pos terdepan yang terpencil, tempat para kadet Militer Akademi (MA) bertugas. Sementara para peninjau sedang mewawancari para kadet, perhatian Oerip tertuju pada sebidang tanah di mana terdapat beberapa gundukan yang masing-masing terpancang sebatang kayu nisan sederhana sebagai tanda pemakaman. “Itu makam?” tanya Oerip. “Ya Jenderal!” jawab seorang kadet. “Jadi, banyak korban di sini?” tanya Oerip dengan nada serius. “Ya, ya Jenderal,” jawab kadet itu agak gagap. “Tetapi, maaf Jenderal. Itu bukan makam manusia!” “Lha? Terus makam apa?” tanya Oerip keheranan. “Anu Jenderal. Itu hanya kuburan… ayam, kambing, kucing dan lain-lain yang menjadi korban santapan kami,” kata kadet itu. Moehkardi menjelaskan, para kadet MA itu dikirim dari Yogyakarta ke front Subang dalam dua gelombang, masing-masing kurang lebih satu kompi. Gelombang pertama berangkat Juli 1946, sedangkan gelombang kedua berakhir tugas pada pertengahan Oktober 1946. Mereka bertugas kurang lebih dua bulan. Para kadet MA ditempatkan di bawah Jenderal Mayor TNI dr. Moestopo, komandan Pasukan Teratai yang terdiri dari Barisan Maling dan Barisan Pelacur. Dr. Moestopo merangkap sebagai Kepala Staf Komando Sektor Bandung Utara-Timur di bawah Letnan Kolonel Sukanda Bratamanggala. Para kadet MA yang ditempatkan di staf Bratamanggala, jelas terjamin makanannya. Mereka yang ditempatkan di pos-pos terdepan ada yang masih dijamin makanannya oleh dapur umum. Namun, mereka yang ditugaskan di pos-pos terpencil, dibiarkan tanpa jaminan makanan. Mereka harus mencari sendiri makanan di sekitarnya. “Mungkin hal itu memang sengaja oleh dr. Moestopo untuk melatih fisik dan mental para kadet agar tetap bisa bertahan dalam kondisi bagaimana pun juga,” tulis Moehkardi. Sejarawan Robert Cribb dalam Gejolak Revolusi di Jakarta, 1945–1949 Pergulatan Antara Otonomi dan Hegemoni , menyebut dr. Moestopo adalah perwira yang eksentrik namun imajinatif. Misalnya, ia memiliki gagasan untuk mengolesi ujung bambu runcing dengan kotoran kuda agar dapat menimbulkan tetanus pada musuh yang tertusuk.   “Ia pula yang menganjurkan anak buahnya untuk memakan daging kucing agar mampu melihat dalam gelap,” tulis Cribb. Moestopo lahir di Ngadiluwih, Kediri, 13 Juni 1913. Dia seorang dokter gigi lulusan School Tot Opleiding van Indische Tandartsen (STOVIT) di Surabaya. Pada masa pendudukan Jepang, dia menjadi perwira Peta (Pembela Tanah Air). Setelah Indonesia merdeka, dia masuk tentara Republik Indonesia dan   berpangkat Jenderal Mayor pada masa revolusi kemerdekaan. Dr. Moestopo berperan penting dalam Pertempuran Surabaya pada November 1945. Dia pernah dianggap sebagai Menteri Pertahanan Ad Interim di Surabaya. Meski secara resmi namanya tidak masuk dalam Kabinet Sutan Sjahrir. Menurut Nugroho Notosusanto dalam Pertempuran Surabaya ,   sebagai Menteri Pertahanan dan pimpinan TKR (Tentara Keamanan Rakyat) Jawa Timur, tindakan dr. Moestopo telah menunjukkan hasil yang gemilang dan sangat menguntungkan dalam rangka menegakkan kedaulatan Republik Indonesia serta menerima penyerahan kekuasaan dan senjata serta mendapatkan keuangan untuk biaya revolusi. Setelah masa revolusi kemerdekaan, dr. Moestopo sempat menjabat Kepala Bagian Bedah Rahang di Rumah Sakit Angkatan Darat Jakarta. Dia kemudian terjun ke dunia pendidikan. Mula-mula mengadakan kursus tukang gigi pada 1950-an. Namanya diabadikan pada Universitas Prof. Dr. Moestopo (Beragama) yang berdiri pada 1961 di Jakarta. Dia pensiun dengan pangkat Mayor Jenderal TNI.*

  • Sosok di Balik Alfamart

    VIDEO pegawai Alfamart tengah meminta maaf kepada seorang wanita yang mencuri cokelat viral di media sosial. Video itu kian menjadi sorotan karena pegawai itu diancam UU ITE dan pihak Alfamart dianggap kurang melindungi pegawainya. Akhirnya, setelah pihak Alfamart menggandeng pengacara kondang Hotman Paris, perempuan itu meminta maaf dan mengakui perbuatannya. Alfamart merupakan salah satu perusahaan ritel terbesar di Indonesia. Gerainya tersebar di mana-mana, bahkan tak jarang ada gerai yang berdekatan. Sosok di balik kesuksesan Alfamart adalah Djoko Susanto alias Kwok Kwie Fo. Pria yang lahir pada 9 Februari 1950 ini merupakan pemilik PT Alfa Retailindo Tbk. Ia memulai bisnis ritelnya dari sebuah gudang di Jalan Lodan No. 80, Jakarta pada 1989.

  • Lima Sirkuit Paling Menantang di MotoGP

    DARI Malaysia, tes pramusim MotoGP 2023 bakal langsung balik ke Eropa. Dorna Sports menetapkan tes pramusim pada Februari 2023 mendatang hanya akan digelar di Sirkuit Sepang, Malaysia dan Sirkuit Portimão, Portugal. Mengutip laman MotoGP , 5 Agustus 2022, Dorna Sports dan FIM menetapkan kalender pramusim kelas MotoGP, yakni di Sepang untuk shakedown test  pada 5-7 Februari 2023 dan tes resmi pramusim pada 10-12 Februari 2023. Lepas itu tesnya dilanjut di Portimão pada 11-12 Maret 2023. Adapun tes pramusim untuk kelas Moto2 dan Moto3 hanya dihelat di Portimão pada 17-19 Maret 2023. Sirkuit Mandalika tak lagi mendapat kehormatan sebagai tuan rumah para pembalap menjajal trek dan motor anyar mereka masing-masing. Tes pramusim tanpa Mandalika disebabkan karena pihak MGPA yang menaungi Sirkuit Mandalika tak mengajukan lagi sirkuit di Nusa Tenggara Barat (NTB) itu masuk kalender tes pramusim. Alasannya, sirkuit yang baru dibangun pada 2019 itu belum memiliki sertifikasi Homologasi A. Adapun tes pramusim 2022 yang digelar pada Februari 2022 adalah dalam rangka pengenalan trek lantaran Mandalika untuk pertamakali masuk kalender musim. Terlepas dari itu, GP Indonesia di Sirkuit Mandalika pada 20 Maret 2022 meninggalkan banyak kesan bagi para pembalap dunia. Selain panoramanya yang sedap dipandang mata, kesan itu datang dari lay out  dan karakter treknya yang cukup menantang. Menyitat Motosport , 11 Februari 2022, pembalap tim Repsol Honda Pol Espargaró menyatakan, sirkuit sepanjang 4,3 kilometer itu punya karakter lengkap dan menyajikan tantangan tersendiri. “Treknya menyenangkan. Memiliki kelokan-kelokan cepat, (lalu) tikungan lambat di akhir trek. Treknya punya karakternya sendiri dan berbeda dari yang lain,” ujar Espargaró. Pembalap tim KTM Brad Binder punya pandangan beda. “Treknya,” ujar Brad, “sedikit tricky  dan sedikit aneh. Ada banyak tikungan cepat dan Anda memerlukan  throttle  yang baik saat berganti arah. Tetapi saya menikmati treknya.” Trek di Mandalika termasuk menantang karena belum familiar buat banyak pembalap. Di samping Mandalika, ada empat sirkuit lain yang dikenal “angker” buat para pembalap. Berikut ini empat sirkuit itu. Red Bull Ring Chicane  ala F1 yang ditambahkan di Sirkuit Red Bull Ring. (redbullring.com). Seri ke-13 musim ini pada 21 Agustus 2022 di Sirkuit Red Bull Ring akan terasa berbeda. Pasalnya trek Österreichring di kaki Pegunungan Styria, Spielberg, Austria sudah dimodifikasi lagi. Di Kelokan 2, pihak sirkuit mengubah lay out  dengan menambahkan chicane  (kurva ganda berbentuk huruf “S”) yang pembangunannya dilakukan Januari-Maret 2022. Sektor itu jadi yang paling “angker” buat para pembalap. Pada musim 2020, Johann Zarco (Avintia Ducati) dan Franco Morbidelli (Petronas Yamaha) bertabrakan di sana hingga kedua motor mereka sampai melayang dan nyaris menimpa dua pembalap Yamaha Factory: Valentino Rossi dan Maverick Viñales. Kecelakaan kembali terjadi pada 2021, menimpa Dani Pedrosa (KTM) dan Lorenzo Savadori (Aprilia Racing). “Untuk urusan safety , tentu saja ( chicane ) itu membuat treknya lebih baik. Karena Anda selalu punya momen singkat di Kelokan 2 dan momentum seperti itu tidak bagus di tikungan ini. Yang utama adalah keselamatan dan chicane  seperti apapun yang dibuat dari lintasan straight  tak jadi masalah bagi saya,” kata pembalap Yamaha Factory Fabio Quartararo, dilansir The Race , 31 Maret 2022. Österreichring sudah beberapa kali dimodifikasi sejak dibangun pada 1968. Sirkuit baru itu dibangun untuk menggantikan Fliegerhorst Hinterstoisser (Sirkuit Pangkalan Udara Zeltweg) yang sudah menghelat sejumlah event  balap motor dan mobil sejak 1959. “Pada 27 Juli 1969, setelah pembangunan selama 11 bulan, Österreichring dibuka. Dua pekan kemudian, 10 Agustus, treknya mendapat status Kejuaraan Dunia untuk bisa jadi tuan rumah seri ke-10 International Championship (World Sportscar Championship),” tulis Jörg Thomas Födisch dkk dalam Porsche 908: The Long Distance Runner. Mulanya panjang treknya 5,9 kilometer dengan total 16 kelokan. Tetapi berturut-turut pada 1977 dan 1988 modifikasi dilakukan pasca-sejumlah kecelakaan fatal. Pada 1977 treknya ditambahkan chicane  “Hella-Licht”. Sementara pada 1988 trek menurun menjelang Tikungan Bosch dibuat lebih landai. Namun hal itu tidak cukup. Pembalap F1 Mark Donohue sampai meregang nyawa di Österreichring pada Agustus 1975. Ban mobil March 751 miliknya bermasalah saat mencoba melalui Tikungan Vöest Hügel, mobilnya pun terlempar ke pagar trek. Di ajang Superbike, Hans Peter Klampfer juga mengalami nasib sama. Dia tewas setelah kecelakaan di Tikungan Bosch pada Juli 1993. Tak ingin reputasi Österreichring menyamai “keangkeran” Nürburgring, pihak sirkuit kemudian merombak total lintasan pada 1996. Lewat Hermann Tilke, selain lay out  Österreichring diubah, treknya pun diperpendek menjadi 4,3 kilometer. Ia lalu dinamai A1-Ring dan mulai 2011 diubah lagi namanya jadi Red Bull Ring seiring untuk tuan rumah sejumlah ajang bergengsi, termasuk MotoGP dan F1. Phillip Island Sirkuit Phillip Island di pesisir Teluk Cunningham. (motogp.com). Selain Mandalika dan Red Bull Ring, Sirkuit Phillip Island yang jadi tuan rumah GP Australia juga dikenal sebagai salah satu trek paling sulit dan menantang di MotoGP. Lay out  treknya asimetris dengan karakter dari kebanyakan sirkuit di Eropa. Sejak dibangun pada 1951, desain trek sirkuit yang menawarkan panorama pesisir Teluk Cunningham itu tak banyak berubah. Mark Lindemann dalam The Total Motorcycling Manual  mencatat, sirkuitnya mulai dibangun pada 1951 baru berupa trek tanah dan pasir. Lintasan aspal berangsur-angsur dibangun Phillip Island Auto Racing Club (PIARC) pada 1952 sampai 1956. Sejak itu ia acap dijuluki kawah candradimuka ajang balapan di Negeri Kanguru lantaran banyak ajang balap yang sebelumnya dihelat di sirkuit jalanan semi-permanen dipindah ke Phillip Island. Sebagaimana banyak sirkuit lain, Phillip Island mulanya juga diperuntukkan buat ajang balap mobil. Armstrong 500, Australian Motorsport Magazine Trophy Race, Formula Libre, hingga Phillip Island Trophy Race merupakan ajang balap mobil yang pernah dihelat di sirkuit sepanjang empat kilometer itu. Phillip Island beberapa kali ganti kepemilikan, dan diikuti beberapa perbaikan. Pebisnis cum  mantan pembalap Len Lukey mengakuisisinya dari PIARC pada 1964, lalu Placetac Pty Ltd pada 1985, dan Linfox Group pada 2006. Ajang MotoGP mulai masuk kalendernya pada 1989, sementara Superbike mengikuti setahun kemudian. Tantangan utama Phillip Island terletak pada sembilan dari 12 tikungan berkarakter cepatnya. Para pembalap harus punya strategi matang untuk menghemat ban belakang mereka lantaran ada enam tikungan yang bisa dilintasi dalam kecepatan 180 km/jam dan tiga lainnya dengan kecepatan 200 km/jam. “Kelokan 3 jadi favorit saya dari seluruh sirkuit yang ada di dunia. Saya nyaris bisa menggeber penuh gear  lima di situ dan itu kelokan yang sangat cepat hingga membuat darah Anda mengalir kencang,” kenang dua kali jawara MotoGP Casey Stoner, dikutip Drive , 25 Oktober 2012. Masaryk (Brno) Automodrom Brno atau Sirkuit Masaryk di Republik Ceko. (motogp.com). Sirkuit Masaryk atau yang kondang disebut Sirkuit Automodrom Brno di Republik Ceko juga dianggap sebagai satu dari sedikit sirkuit paling sulit, menantang, dan berbahaya bagi para joki kuda besi MotoGP. Pasalnya para pembalap tak hanya dihadapkan pada lintasan bergelombang, tapi juga jalur menanjak hingga 73 meter di lintasan sepanjang 5,4 kilometer itu. Sirkuit Masaryk sudah eksis sebagai sirkuit jalanan untuk ajang-ajang lokal sejak 1930. Dengan perpaduan aspal dan bebatuan di sepanjang 29 kilometer lintasannya, rute sirkuit melewati Bosonohy, Kamenny, kampus Universitas Bohunice, pedesaan Libusino dan Žebětín, lalu kembali lagi ke Bosonohy. “Gagasannya berawal dari penggemar otomotif Dr. Otakar Brittman yang mengajukan rancangan sirkuit dekat kampung halamannya di Brno. Meski ditentang para petinggi Autoklub Republiky Čekoslovenské, pada 1929 Kementerian Pekerjaan Umum setuju untuk mengongkosi sirkuit sementara. Dimulai pada awal April 1930, sirkuitnya rampung lima bulan kemudian. Sirkuitnya mengabadikan nama Presiden (Tomáš) Masaryk yang juga menjadi donatur ajang balap mobil di momen peresmian sirkuitnya,” tulis Aleš Norský dalam Grand Prix Racing at the Masaryk Circuit . Modernisasi dengan trek aspal seluruhnya baru menghampiri Sirkuit Masaryk pada 1964, di mana lintasannya juga disunat menjadi 13,9 kilometer. Berbarengan dengan renovasi pada 1987, Masaryk pun berganti status dari sirkuit jalanan menjadi sirkuit permanen. Sejak saat itu ajang balapan internasional mulai dihelat di Masaryk, mulai World Sports Car Championship, A1 Grand Prix, Superbike, hingga MotoGP. Namun, sirkuit tertua kedua di ajang MotoGP setelah Sirkuit Assen di Belanda ini dua tahun terakhir ditinggalkan Dorna Sports dan FIM sampai waktu yang belum ditentukan. Selain karena kendala finansial gegara pandemi, juga lantaran faktor safety- nya. Masaryk punya beberapa trek menanjak yang langsung beralih menurun sehingga menghasilkan blind spot  yang membahayakan. Para pembalap juga mengeluhkan permukaan trek yang bergelombang. “Saya memang hanya pembalap tapi bagi saya balapan di sini sangat tidak direkomendasikan. Sangat jauh dari level (standar) MotoGP. Permukaan lintasannya tak lain adalah bencana,” tutur pembalap Aprilia, Aleix Espargaró, kepada Asphalt & Rubber , 2 Februari 2021. Rekan Aleix, Jack Miller juga mengeluhkan hal serupa. “Lebih mudah menunjuk sektor lintasan yang tidak keriting. Kami sudah komplain sejak saya terjun ke MotoGP dan ya, keadaannya justru makin memburuk dari tahun ke tahun.” Assen Assen, sirkuit tertua yang masih digunakan ajang MotoGP. (ttcircuit.com). Sirkuit Assen di Belanda yang dibangun pada 1925 masih jadi sirkuit tertua yang menghelat MotoGP. Mulanya, ia juga merupakan sirkuit jalanan yang rutenya melewati pedesaan Rolde, Boger, Schoonloo, dan Grolloo. Lintasan berupa perpaduan bata dan aspal sepanjang 28,57 kilometer. “Trek yang lebih formal dengan panjang lintasan 7,7 kilometer kemudian dibangun lagi pada 1955 tak jauh dari sirkuit pertamanya. Tetapi seiring beberapa perubahan dan desain ulang, garis finis treknya sama sekali tak pernah berubah posisi,” sambung Lindemann. Sirkuit berjuluk “The Cathedral” itu sudah menghelat GP Belanda sejak 1949 dan tak pernah absen hingga kini. GP Belanda sendiri jadi satu-satunya yang menggelar sesi race pada hari Sabtu, di mana yang lain Minggu. Lintasan sempit ditambah tikungan-tikungan cepat Assen membuat para pembalap tertantang untuk “melahap” setiap kelokan yang total berjumlah 23 dan tikungan melingkarnya dengan kecepatan tinggi. “Kuncinya adalah membuat motornya menari dan mengalir di sepanjang tikungan dan chicane -nya karena tidak banyak terdapat lintasan lurus. Itu membuat para pembalap merasa selalu dalam keadaan menikung. Mereka nyaris tak punya waktu mengambil nafas!” kata Manuel Cazeaux, teknisi tim Suzuki, di  laman resmi tim . Pembalap Petronas Yamaha Franco Morbidelli mengakui Assen salah satu  venue  favoritnya di sepanjang musim. “Assen trek yang sangat mengalir, lebih daripada Sachsenring (GP Jerman). Salah satu trek bersejarah seperti Mugello. Sirkuitnya  tricky dengan perubahan arah lintasan di kecepatan tinggi tapi di saat yang sama sangat menyenangkan,” ujarnya disitat GPOne , 22 Juni 2021.*

  • Masa Kecil Si Lebah Kecil

    Semua bermula dari kepindahan Maria Dolores dos Santos Viveiros dan José Dinis Aveiro dari daratan Portugal ke Funchal di Pulau Madeiro pasca Revolusi Anyelir, kup militer untuk menjatuhkan rezim totalitarian Estado Novo pada 1974. Di Funchal, mereka menempati sebuah rumah kecil di Jalan Quinta do Falcão No. 27A, Desa Santo António. Ekonomi keluarga hanya ditopang Dinis. Dari berdagang ikan, Dinis kemudian menjadi pemecah batu, tukang kebun, lalu staf peralatan di sebuah klub CF Andorinha de Santo António. Pada pertengahan 1984, Dolores mengandung anak keempatnya. Dengan ekonomi pas-pasan, kehamilan itu menjadi masalah buatnya sehingga dia memutuskan mengambil tindakan nekat. “Usia Dolores saat itu 30 tahun dan kehamilannya sama sekali tak direncanakan. Tidak ada cukup makanan untuk semua orang di rumah itu. Faktanya dia pernah mencoba untuk aborsi. Seorang tetangga menyarankan dia minum bir hitam yang direbus dan berlari sampai dia pingsan,” tulis Guillem Balague, jurnalis sepakbola, dalam Cristiano Ronaldo: The Biography . Upaya tersebut gagal. Dolores pun mendatangi dokter. Namun, tidak satu   pun dokter yang mau membantunya aborsi. Akhirnya, dia menyadari tidak ada alasan untuk menggugurkan kandungannya. “Kehamilan ini akan jadi kebahagiaan di rumah kami,” kenang Dolores, dikutip Balague. Baca juga:  Lima Pesepakbola Tersubur di Pentas Internasional DNA Afrika Dolores melahirkan bayi bungsunya pada 5 Februari 1985. Dolores menamainya Cristiano Ronaldo dos Santos Aveiro. Nama “Ronaldo” diambil dari Ronald Reagan. Presiden ke-40 Amerika Serikat ini merupakan figur pujaan Dolores dan Dinis sejak Reagan masih seorang aktor. Menurut Balague, di dalam tubuh Ronaldo mengalir DNA nenek moyang asal Afrika. Darah itu mengalir dari garis ayahnya. “Nenek buyut Cristiano dari garis ayah adalah Isabel Rosa Piedade yang lahir di Praia, ibukota Cape Verde (negara kepulauan di barat Afrika) tahun 1864. Saat 16 tahun dia bermigrasi ke Funchal, di mana dia menikahi José Aveiro. Isabel dan Jose punya putra bernama Humberto (Cirílo Aveiro) yang tak lain ayah dari José Dinis dan kakek Cristiano,” sebut Balague. Balague menambahkan, silsilah Afrika itu yang mungkin jadi penjelasan tentang bawaan lahir kemampuannya sebagai pesepakbola. Singkatnya, serat-serat otot yang lazim dimiliki para sprinter kulit hitam (serat putih, tipe II, untuk kontraksi cepat yang memproduksi ledakan energi tanpa memerlukan oksigen) juga dimiliki Ronaldo sejak lahir. Baca juga:  Para Bintang yang Disanjung Standing Ovation Kehadiran Ronaldo menghadirkan kebahagiaan bagi keluarga Dinis-Dolores. Dua kakak Ronaldo yang masih sekolah bekerja sebagai pelayan restoran. Dolores sendiri bekerja di sebuah hotel di kota Funchal. Ronaldo menggemari sepakbola, terutama setelah usia lima tahun dia bisa menonton tayangan sepakbola di televisi. Ayah dan ibunya masing-masing punya tim idola sama-sama dari Pulau Madeira. “Tim favorit Dinis adalah Maritimo. Tim Primiera Liga lain di Madeira adalah (CD) Nacional yang jadi favorit ibunya. Sang ibu juga fan Sporting Lisbon, salah satu klub terbaik Portugal. Suasana di rumah jadi penuh tensi setiapkali terjadi Derby Madeira,” tulis Michael Part dalam Cristiano Ronaldo: The Rise of a Winner . Karena masih terlalu muda dibanding beberapa anak di lingkungannya, Ronaldo jarang diajak main bola bareng. Dia hanya menendang-nendang bola dari kaus kaki yang ia bentuk seperti bola kecil. Melihat itu, sang ayah membawakan bola bekas dari CF Andorinha. Baca juga:  Dulu Menjegal Portugal, Kini Maroko Gagal Sejak saat itu, Ronaldo diajak main bareng oleh anak-anak di lingkungannya. “Saya biasa bermain di jalanan karena saat saya kecil tidak ada lapangan bola dekat rumah. Ketika saya berusia lima atau enam tahun dengan teman-teman biasa bermain di tengah jalan menggunakan dua pasang batu sebagai gawangnya. Kami pun harus berhati-hati dengan lalulintas jalannya. Kami juga harus mengambil batunya jika ada bus yang mau lewat dan meletakkannya lagi setelah itu. Begitu seterusnya,” kenang Ronaldo dalam Cristiano Ronaldo karya Gail B. Stewart. Di sekolah,Ronaldo termasuk anak yang mudah menyerap pelajaran. Mata pelajaran kesukaannya kala duduk di bangku kelas lima sekolah dasar adalah Ilmu Alam. “Pulau saya, Madeira, adalah pulau volkanik yang punya banyak varietas tumbuhan yang bisa berubah menjadi taman mempesona. Kelas-kelas Ilmu Alam begitu membuat saya tertarik dan semua perhatian saya terfokus pada pelajaran-pelajaran itu,” kata Ronaldo dikutip Stewart. Memilih Sepakbola Namun, kecintaan Ronaldo pada sepakbola lebih besar. Dia pun sering bolos sekolah. “Saya menyesal tak belajar lebih rajin, namun saya harus membuat pilihan dalam hidup saya,” kata Ronaldo yang memilih putus sekolah. Ibunya memaklumi. Melihat bakat putra bungsunya, Dolores tak ambil pusing dengan protes guru-gurunya soal seringnya Ronaldo bolos sekolah. Dolores paham bahwa sepakbola yang akan jadi jalan hidup putranya di masa depan. Di usia tujuh tahun, Ronaldo mulai diasah di CF Andorinha, klub amatir tempat ayahnya bekerja. Di sini, Ronaldo mulai punya julukan: Abelhinha alias Si Lebah Kecil. “Julukannya karena dia bisa men- dribble bola secara cepat dengan langkah-langkah zig-zag dan karena dia punya tubuh yang kurus dan kecil. Hal ini yang membuatnya sempat gusar karena rekan-rekan setimnya mulai tumbuh besar, sementara badannya tetap kurus dan kecil. Hal ini juga yang menurut para pelatihnya jadi kelemahannya saat menghadapi pemain lawan yang lebih besar dan kuat,” tulis Stewart. Baca juga:  Kontroversi Ballon d’Or Selain mampu membawa bola dengan cepat, kelebihan lain Ronaldo adalah intuisi dan refleksnya. Kelebihan ini sudah dia latih secara mandiri sejak sering bolos sekolah. “Ketika teman-temannya menolak bolos sekolah untuk main bola, dia selalu menemukan cara melatih skill -nya sendiri. Dekat rumahnya ada sebuah sumur dengan tembok besar, sekitar 20 meter persegi. Itu sempurna untuk berlatih menendang bola ke tembok. Karena bola dengan cepat kembali mengarah padanya, dengan sendirinya refleksnya terlatih untuk mengontrol bola, seperti yang kemudian dia praktikkan terhadap lawan dalam pertandingan,” tulis Stewart. Soal fisik, Ronaldo mengakalinya dengan meminta porsi makanan dua kali lipat dari sang ibu. Tapi bukannya tambah besar, tubuhnya malah meninggi. Buah dari semua kedisiplinan itu membuat karier Ronaldo terus menanjak.  Pada 1995, dia pindah ke CD Nacional, klub profesional idola ibunya, untuk lebih mengembangkan sayapnya. Tiga tahun dia berkostum CD Nacional. Dari sinilah titik balik karier sepakbolanya terjadi. Tiga hari trial yang dilakoni Ronaldo membuat dua pelatih akademinya, Paulo Cardoso dan Osvaldo Silva, terkesan. “Saya menoleh ke Osvaldo dan bilang, ‘Yang ini berbeda. Dia punya sesuatu yang istimewa’. Dan kami bukan satu-satunya yang berpikiran sama. Di akhir sesi, semua peserta trial mengerubunginya. Mereka sudah tahu dia yang terbaik,” kata Cardoso, dikutip Luca Caioli dalam Ronaldo: The Obsession for Perfection . Baca juga:  Pahit-Manis Kisah Martunis Direktur Akademi Sporting Clube de Portugal Aurélio Pereira juga menilai Ronaldo bisa bermain dengan kedua kakinya, luar biasa sangat cepat dan saat di lapangan, bola ibarat menyatu dengan tubuhnya. “Tapi yang membuat saya sangat terkesan adalah determinasinya. Kekuatan karakternya sangat kentara. Dia berani, tak kenal takut oleh pemain yang lebih tua. Bahkan dia sudah punya kualitas kepemimpinan dan hanya para pemain hebat yang memilikinya,” kata Pereira. Pada usia 12 tahun, Ronaldo direkrut Sporting Clube de Portugal (Sporting Lisbon). Mulai 17 April 1997,dia memulai petualangan sepakbola profesionalnya. Dia terpaksa meninggalkan keluarganya. Tekad kuat plus kerja keras membuat Ronaldo akhirnya menjadi megabintang. Selain dipinang berbagai klub besar dan jadi andalan timnas Portugal, berbagai gelar individu juga telah diraihnya.

bg-gray.jpg
Tedy masuk militer karena pamannya yang mantan militer Belanda. Karier Tedy di TNI terus menanjak.
bg-gray.jpg
Pemilihan Augustine Magdalena “Tiene” Waworuntu sebagai walikota Manado menjadikannya walikota perempuan pertama pasca pembubaran RIS. Pemilihannya menimbulkan polemik daerah-pusat, hingga menyeret militer.
bg-gray.jpg
Dua anggota legiun Mangkunegaran ikut serta gerakan anti-Belanda. Berujung pembuangan.
bg-gray.jpg
Rumah Sakit Bethesda Yogyakarta merupakan buah kasih dokter misionaris Belanda bernama J.G. Scheurer yang dijuluki Dokter Tolong.
bg-gray.jpg
Rumah yang pernah digunakan untuk mendidik kesadaran politik rakyat. Kini sepi pengunjung.
bottom of page