Hasil pencarian
Cari di situs ini
10054 hasil ditemukan dengan pencarian kosong
- Lima Pesepakbola Tersubur di Pentas Internasional
REKOR demi rekor terus mengikuti karier emas megabintang Portugal, Cristiano Ronaldo. Sumbangan dwigolnya dalam kemenangan 3-0 Portugal atas Hungaria di laga pembuka Euro 2020 Grup F, Selasa (15/6/2021), mengantarkannya sebagai pendulang gol tersubur di putaran final Piala Eropa. Dengan 11 gol yang dicetaknya, Ronaldo melewati rekor sebelumnya yang dipegang Michel Platini (9 gol). Sebelumnya, Ronaldo juga memecahkan rekor pemain dengan catatan keikutsertaan di turnamen Piala Eropa paling banyak. Sejak membela timnas senior Portugal pada 2003 hingga kini, Ronaldo sudah lima kali tampil di Piala Eropa: 2004, 2008, 2012, 2016, dan 2020. Seumpama Ronaldo kembali mampu mengantarkan “ Seleção das Quinas ” (julukan Timnas Portugal) sampai ke final dan mencetak gol, ia bisa memecahkan rekor sebagai pemain tertua yang menorehkan gol di partai final. Ronaldo akan berusia 36 tahun 156 hari bila mencapai final 11 Juli 2021 nanti. Selama ini rekor pemain di atas usia 30 yang mencetak gol di final hanya dipegang Bernd Hölzenbein (30 tahun, 103 hari) dengan golnya di final Euro 1974 antara Jerman Barat vs Cekoslovakia. CR7 tinggal mengejar tiga gol lagi untuk menyamai perolehan gol Ali Daei sebagai pemain tersubur di pentas internasional (Twitter @EURO2020) Ronaldo sedikit lagi juga bakal menyalip rekor bintang legendaris Iran, Ali Daei, sebagai pencetak gol terbanyak di pentas resmi internasional. Ronaldo kini masih di posisi kedua dengan 106 gol atau empat gol di bawah rekor Daei (109). Berikut empat pemain tersubur dalam pentas sepakbola internasional selain Ronaldo. Siapa saja mereka? Ali Daei (109 Gol) Ali Daei bomber Timnas Iran periode 1993-2006 ( the-afc.com ) Nama Ali Daei masih bertahan sebagai pengoleksi gol terbanyak di pentas internasional dengan 109 gol dari 149 penampilan untuk Timnas Iran sepanjang 1993-2006. AFC (Konfederasi Sepakbola Asia) mencantumkannya di antara nama-nama pesepakbola Asia pertama yang masuk jajaran Asian Football Hall of Fame pada 2014. Pemain legendaris Team Melli (julukan Timnas Iran) itu mulai bersinar di klub Bank Tejarat FC pada 1990 dan Persepolis FC pada 1994. Pada 1993, pemain kelahiran Ardabil, 21 Maret 1969 ini mulai dipanggil ke timnas. Lima tahun kemudian, Daei tercatat jadi pemain Asia pertama yang tampil di Liga Champions bersama Bayern Munich. Di timnas, striker berpostur tinggi 192 cm ini mendulang gol perdananya ke gawang Taiwan dalam Kualifikasi Piala Dunia 1994 Zona AFC, 25 Juni 1993. Sedangkan gol terakhirnya di timnas dicetak Daei ke gawang Kosta Rika dalam laga persahabatan pada 1 Maret 2006. Daei berjasa mengantarkan Iran meraih medali emas Asian Games 1998 dan 2002. Mokhtar Dahari (89 Gol) Dato' Mohd. Mokhtar Dahari (Repro: Mokhtar Dahari: Legenda Bola Sepak Malaysia ) Indonesia boleh bangga jadi “Macan Asia” di era 1950-an sampai 1970-an. Namun negeri jiran Malaysia hampir selalu melahirkan pemain-pemain yang diakui dunia. Setelah Dollah Don di era 1950-an, yang pernah disanjung Presiden RI Sukarno, pada 1970-an “Harimau Malaya” melahirkan “Supermokh” Mokhtar Dahari yang diakui FIFA sebagai pencetak gol tersubur ketiga di pentas internasional. Pemain kelahiran Setapak, Kuala Lumpur pada 13 November 1953 ini mulai mengenakan seragam Timnas Malaysia pada 1972 bersamaan dengan karier seniornya di klub Selangor FC pada usia 19 tahun. Selama di timnas (1972-1985), ia mencetak 89 gol dari 142 caps. Gol perdananya dicetak ke gawang Sri Lanka dalam laga yang dimenangi Malaysia 3-0 di penyisihan Grup A Turnamen HUT Jakarta, 5 Juni 1972. Kebintangan “Supermokh” pun mulai menuai sanjungan. Ia turut berjasa dalam raihan dua medali emas cabang sepakbola di SEA Games 1977 dan 1979. “Saya masih ingat pengalaman kali pertama dipanggil bermain untuk Malaysia di Kejohanan Piala Jakarta 1972. Disebabkan teruja, saya tidak boleh lelapkan mata pada malam yang esoknya saya perlu melapor diri untuk latihan. Saya berimaginasi membayangkan diri saya menyarung jersi Malaysia dan turun bermain menggalas tanggung jawab negara. Harapan dan angan saya ketika itu ialah moga-moga suatu hari nanti, saya muncul sebagai wira negara,” kenang Mokhtar sebagaimana diberitakan New Strait Times edisi 8 Oktober 1985. Ferenc Puskás (84 Gol) Ferenc Puskás (kiri) di final Piala Dunia 1954 ( fifa.com ) Andaikata negerinya tak direcoki konflik di masa revolusi, megabintang Hungaria era 1950-an dan Real Madrid (1960-an) kelahiran Budapest, 1 April 1927 ini sangat mungkin bisa mengukir prestasi lebih tinggi dari posisi keempat status pencetak gol terbanyak di pentas internasional. Namun, sejarah tak mengenal “andaikata” atau “umpama”. Semasa memperkuat tim emas “ Magyars” (julukan Timnas Hungaria) dalam kurun 1945-1956, Puskás mendulang 84 gol dari 85 caps. Kala Revolusi Hungaria bergejolak pada 1956, Puskás bersama tim Budapest Honvéd sedang bertandang ke Spanyol untuk main di European Cup (kini Liga Champions) melawan Athletic Bilbao. Tim pun memutuskan menunda pulang dan menjalani tur dunia ke Spanyol, Portugal, Italia, dan Brasil tanpa persetujuan federasi sepakbola Hungaria maupun FIFA. Selepas tur dunia itu, banyak pemain Honvéd seperti Sándor Kocsis dan Puskás enggan pulang dan memilih cari klub baru di luar Hungaria. “Setelah itu Puskás memutuskan untuk membelot. Dengan menyesal FIFA memberinya sanksi larangan setahun bermain walau kemudian ia direkrut Real Madrid setelah sanksi itu berakhir,” ungkap Richard Witzig dalam The Global Art of Soccer . Selain melanjutkan kariernya bersama Real Madrid, Puskás juga berganti “kesetiaan” dengan membela Timnas Spanyol dalam empat kali penampilan selama setahun (1961-1962). Tiga dari empat penampilannya terjadi di Piala Dunia 1962 walau gagal sekalipun menambah catatan gol internasionalnya. Godfrey Chitalu (79 Gol) Godfrey Chitalu membela Timnas Zambia periode 1968-1980 (Repro: Godfrey 'Ucar' Chitalu ) Bomber asal Zambia ini memang tak sementereng Pelé apalagi Diego Maradona. Tapi jika urusan bikin gol, pemain kelahiran Luansyha, 22 Oktober 1947 ini boleh diadu. Maka sewaktu LionelMessi mengklaim diri sebagai pemain tersubur dalam setahun (di klub dan timnas) dengan 86 gol pada 2012, melewati rekor Gerd Müller (85 gol), FAZ (induk sepakbola Zambia) tak terima. Juru bicara FAZ Eric Mwanza mengatakan bahwa Chitalu punya catatan rekor gol yang melebihi Messi, yakni 107 gol dalam tahun 1972. Menurut Mwanza, 107 gol Chitalu itu ditorehkannya di liga domestik sekaligus kejuaraan antarklub Afrika bersama tim Kabwe Warriors, dan laga-laga tim nasional. “Kami punya catatannya di federasi tapi sayangnya tidak turut tercatat dalam sepakbola dunia. Bahkan saat mata dunia tertuju pada gol Messi memecahkan rekor Gerd Müller, debat dan diskusi terjadi di sini terkait mengapa gol-gol Godfrey tidak diakui,” kata Mwanza, dikutip Jerry Muchimba dalam biografi bertajuk Godfrey ‘Ucar’ Chitalu . Chitalu wafat pada 27 April 1993. Namanya diakui sebagai pesepakbola Zambia paling dihormati setelah pada 2006 CAF (Konfederasi Sepakbola Afrika) mencantumkan namanya di antara 200 pesepakbola terbaik “Benua Hitam” dalam 50 tahun terakhir. Di pentas internasional, Chitalu acap jadi predator bagi tim lawan sejak mengenakan seragam timnas dalam kurun 1968-1980. Selama membela “ Chipolopolo” atau “Peluru Tembaga” (julukan Timnas Zambia), Chitalu menorehkan 79 gol dalam 111 caps. Catatan itu menempatkannya sebagai pemain tersubur kelima di laga resmi internasional. Gol perdananya diukir dalam laga persahabatan kontra Uganda pada 4 Juli 1968, sementara gol terakhirnya dicetak ke gawang Kenya dalam Jamhuri Cup, 12 Desember 1980.
- Wind River, Potret Kehidupan Pribumi Amerika
SUATU pagi di kawasan penampungan suku Indian Arapaho, Wind River Reservation, Wyoming. Cory Lambert (diperankan Jeremy Renner), pemburu FWS (Dinas Cagar Budaya Federal) mendapat laporan dari mantan mertuanya, Don Crowheart (Apesanahkwat), bahwa sapi-sapi ternaknya diserang singa gunung. Cory lalu melacaknya. Tetapi, Cory justru menemukan jasad gadis berusia 18 tahun. Natalie Hanson (Kelsey Chow) nama korban tersebut. Cory mengenalinya sebagai sahabat mendiang putrinya. Natalie ditemukan Cory tergeletak tak bernyawa dengan sejumlah luka dan bertelanjang kaki. Cory segera melaporkannya kepala polisi suku setempat, Ben Shoyo (Graham Greene). Tapi karena minimnya personel, Shoyo mengontak FBI (biro investigasi federal) untuk mengungkap kasus itu. Namun, FBI hanya mengirim Jane Banner (Elizabeth Olsen) dari cabang Las Vegas ke kawasan terpencil itu. Mengingat hanya dirinya seorang, Jane minta bantuan Cory yang lebih paham wilayah keras tersebut. Agen FBI Jane Banner (kanan) yang dikirim seorang diri ke Wind River Reservation (The Weinstein Company) Ditambah penggambaran suasana pegunungan dan salju yang membentang kawasan Wind River Reservation, adegan-adegan itu jadi pembuka film bertajuk Wind River garapan Taylor Sheridan. Film ini diracik berdasarkan rangkuman kejadian di wilayah buangan untuk Indian Arapaho sejak abad ke-19 itu dan jarang diperhatikan pemerintah Amerika Serikat. Scene bergulir ke adegan dilematis yang dihadapi Jane. Hasil otopsi dr. Randy Whitehurst (Eric Lange) menyatakan Natalie meninggal karena pendarahan paru-paru ( pulmonary hemorrhage ) dan beberapa bekas luka dari tindakan kekerasan seksual. Artinya, korban tewas karena kedinginan hingga paru-parunya terendam darahnya sendiri. Akibatnya, Jane tak bisa mengirim laporan ke kantor pusatnya sebagai kasus pembunuhan. Hal itu menyebabkan FBI tak bisa mengerahkan satu tim bantuan. Jane pun hanya bisa mengharapkan bantuan dari Cory dan Shoyo meski sangat mengharapkan tim bantuan FBI bisa didatangkan. Pasalnya, perkembangan investigasinya mengarahkan mereka pada para tersangka pelakunya ke sebuah situs pengeboran minyak. Masalahnya, situs pengeboran minyak itu dikawal sekelompok barisan keamanan eks militer dengan persenjataan lengkap. Bagaimana Jane dan Cory bisa menguak kasus rudapaksa dan pembunuhan itu dengan ancaman para personel keamanan partikelir tersebut? Untuk lebih serunya Anda bisa saksikan sendiri di aplikasi daring Mola TV. Kolase adegan pasukan keamanan partikelir yang mengancam investigasi FBI (The Weinstein Company) Realitas Kaum Indian Pribumi Sutradara Taylor Sheridan senantiasa memberi gambaran kehidupan keras kaum Indian di perkampungan terpencil di pegunungan bersalju itu dalam setiap adegan film racikannya. Iringan music scoring bertema tragedi dan teror garapan komposer Nick Cave dan Warren Ellis cukup bisa memicu rasa pilu penonton menyaksikan keadaan memprihatinkan serta adegan-adegan menegangkan dalam investigasi kasusnya. Kombinasi itu membuat Wind River sangat intim dengan kondisi kaum Indian di berbagai wilayah penempatan mereka. Mereka bertahan hidup dengan segala problema di lingkungan terisolir tak jauh dari orang-orang kulit putih dan Afro-Amerika di negara bagian yang sama dengan segala modernitasnya. Kaum Indian hanya bersahabat kondisi kemiskinan karena tingkat pengangguran generasi mudanya begitu tinggi dan berkelindan dengan tingkat kejahatan. Ya, kejahatan dan kondisi terbelakang kaum Indian jadi titik fokus Sheridan dalam Wind River . Adegan agen FWS Cory Lambert menemukan jejak mayat korban rudapaksa (The Weinstein Company) Sheridan menekankan isu tentang kasus-kasus orang hilang, kejahatan seksual, dan pembunuhan terhadap perempuan pribumi di awal dan akhir filmnya dengan pernyataan: “Sementara statistik orang hilang tercatat untuk setiap demografik lain, tidak satu pun tercatat perempuan pribumi Amerika”. “Filmnya memang berdasarkan ribuan cerita aktual. Isu kejahatan seksual terhadap perempuan di perkampungan sebenarnya sudah eksis sejak permulaan sistem penampungan itu sendiri. Tapi baru 15, 20 tahun belakangan kasusnya meledak dan tidak mendapat perhatian,” tutur Sheridan kepada National Public Radio , 5 Agustus 2017. Akar masalahnya dideskripsikan Sheridan dengan penggambaran bahwa kebanyakan orangtua korban jarang melaporkan kasus orang hilang ke pihak berwenang. Hal itu antara lain disebabkan kultur yang membebaskan anak di atas usia 18 tahun untuk hidup di luar rumah, hingga minimnya jumlah personel kepolisian di perkampungan itu. “Saya sendiri punya dua periset yang menghabiskan waktu tiga bulan untuk menemukan statistiknya, baik dengan mendatangi Kementerian Kehakiman atau organisasi yang terkait dengan catatan kriminal. Dan mereka kembali dengan mengatakan bahwa mereka tak menemukan satupun statistik. Tidak ada pihak yang pernah mencatat. Maka saya katakan, itulah statisik kita,” lanjutnya. Sutradara Taylor Sheridan di lokasi syuting Wind River (The Weinstein Company) Pemerintah federal sekadar punya persentase atau perkiraan. Menurut Coalition Lusa Brunner, direktur eksekutif LSM Sacred Spirits First National, setidaknya satu dari tiga perempuan pribumi Indian mengalami kejahatan seksual dan 67 persen di antara pelakunya adalah non-pribumi. “Yang terjadi dalam hukum federal Amerika dan kebijakannya adalah, mreka menciptakan wilayah yang terbebas dari hukuman ibarat taman bermain bagi pelaku rudapaksa dan pembunuh berantai dan anak-anak kami tak bisa dilindungi sama sekali,” ungkap Brunner, dikutip Sky News , 6 April 2015. Meskipun perkampungan Indian sudah eksis di berbagai wilayah Amerika sejak 1800-an, tidak ada satupun hukum federal yang bisa menjerat pelaku kejahatan non-pribumi. Baru pada 7 Maret 2019 –atau setelah lebih dari seabad– pemerintahan Donald Trump merevisi Undang-Undang Kekerasan terhadap Perempuan tahun 1994. Dengan demikian, sistem hukum lokal di masing-masing perkampungan Indian bisa mengadili pelaku kejahatan non-pribumi. Isu kedua yang diangkat Sheridan adalah realitas kehidupan pribumi Indian yang hidup terisolir dan terbelakang. Sheridan menggambarkannya dengan pemandangan mayoritas Indian Arapaho di perkampungan Wind River Reservation hidup di trailer-trailer lusuh. Bendera Amerika pun dikibarkan secara terbalik. Tiada lapangan pekerjaan layak selain beternak domba atau sapi. Lantaran bingung mesti ke mana menentukan masa depan, banyak generasi mudanya terjerumus kehidupan negatif dengan menjadi pemadat. “Perkampungan itu adalah tempat yang sangat sulit untuk ditinggali. Inilah realitasnya di mana hanya ada sedikit perubahan sejak perkampungan itu eksis. Perkampungan yang dibayangi pusat-pusat urban di negara bagian yang sama, di mana orang-orang yang tinggal di situ sama sekali tak pernah jadi perhatian. Dengan film ini saya ingin kita bercermin kembali dan berharap berdampak pada perubahan lebih jauh,” sambung Sheridan. Suasana perkampungan Indian di Wind River yang hanya dinaungi hening dan diselimuti salju (The Weinstein Company) Wind River Reservation yang terletak di antara Fremont County dan Hot Springs County, Wyoming adalah perkampungan pribumi Indian terbesar ketujuh. Dengan luas 8.903 kilometer persegi, perkampungan itu menampung dua suku: Shoshone Timur dan Arapaho Utara. Sebelum adanya penetapan perkampungan itu, wilayah tersebut dihuni suku Shoshonesejak 3.000 tahun ke belakang. Tetapi akibat serangkaian perang antarsuku pada 1700-an dan konflik dengan kaum kulit putih pada 1800-an, banyak suku lalu mengungsi. Seperti suku Crow, Cheyenne, Blackfeet, Lakota, dan Arapaho. “Lebih dari seribu tahun lalu, Arapaho tinggal di timur Sungai Missouri. Sekitar tahun 1700, Arapaho terpaksa meninggalkan tanah leluhur mereka karena serangan suku-suku musuh dan menetap di Great Plains yang membentang dari selatan Kanada sampai utara Texas, di antara Sungai Mississippi dan Pegunungan Rocky,” tulis Michael Burgan dalam The Arapaho. Pada 1800-an, lanjut Burgan, suku Arapaho terpecah menjadi Arapaho Utara yang tetap berhabitat di Great Plains dan Arapaho Selatan yang bermigrasi ke wilayah Kansas dan Colorado. Namun pada 1851, akibat konflik dengan para penambang emas kulit putih dan wabah cacar, suku Arapaho Utara berpindah lagi ke Fort Laramie, Wyoming di bawah naungan pemerintah federal. Namun, suku Arapaho Utara pun masih sulit hidup damai. Perang Sioux pada 1876 memaksa Kepala suku Wo’óoseinee’ alias Black Coal bernegosiasi dengan Angkatan Darat Amerika agar sukunya tak terlibat perang. Black Coal dan 700 pengikutnya memilih berpihak pada militer Amerika dengan menjadi pengintai. Sebagai imbalannya, Arapaho Utara diizinkan mencari tempat tinggal lain. Pada 1877, Black Coal menuntut wilayah di pinggiran Sungai Sweetwater, di sisi selatan wilayah Shoshone Indian Reservation atau perkampungan Suku Shoshone di Lembah Wind River. Suku Shoshone (kiri) dan Suku Arapaho (kanan) ( easternshoshone.org/Library of Congress) Tetapi area baru yang ditinggali suku Arapaho Utara itu masih berstatus penampungan sementara. Perjanjian mengenai status perkampungan tetap antara Black Coal dengan Jenderal Amerika George Crook tak jua terealiasi sampai sang jenderal mangkat pada 1890. Seiring perjalanan waktu, saling klaim tanah di Lembah Wind River pun terjadi antara pemerintah Amerika, suku Arapaho Utara, dan Shoshone. Puncaknya, sengketa itu masuk ke meja hijau pada 1938. Dalam putusannya, Mahkamah Agung Amerika menetapkan area Lembah Wind River dan segala kekayaan alam yang terkandung di dalamnya adalah hak milik suku setempat. Selain itu, ditetapkan juga Lembah Wind River menjadi kawasan tempat tinggal bersama suku Shoshone dan Arapaho Utara. Wilayah tersebut oleh Mahkamah Agung diberi nama Wind River Reservation untuk menggantikan Shoshone Indian Reservation. Meski begitu, penetapan itu tak jua membawa kesejahteraan bagi suku Shoshone maupun Arapaho. Mereka hidup di garis kemiskinan dengan bergantung pada peternakan dan turisme domestik. “Kebanyakan dari suku pribumi mengalami kesulitan ekonomi seiring transisi dari status yang independen ke status penampungan. Belum lagi dinamika terkait kerjasama politik antar dua suku yang secara historis bermusuhan, perampasan lahan, asimilasi paksa, penghancuran budaya, penggalian hasil bumi dari pihak kulit putih turut jadi faktor kemiskinan tersebut,” ungkap Thomas Biolsi dalam A Companion to the Anthropology of American Indians. Area perkampungan Indian di Wind River pada sebelum (kiri) dan setelah putusan Mahkamah Agung Amerika (kanan) ( windriver.edu.org ) Selama bertahun-tahun problema ini nyaris tak mendapat perhatian pemerintah federal. Kemiskinan itu turut melonjakkan tingkat kriminalitas dari tahun ke tahun. Ironisnya, sistem hukum federal tak berpihak pada kaum pribumi, utamanya perempuan sebagaimana yang digambarkan dalam film Wind River. Media massa juga jarang mengangkat permasalah kaum pribumi lantaran lebih banyak tercurah pada isu-isu rasis Afro-Amerika sejak 1960-an. “Saya sempat syok membaca naskah filmnya. Saya menemui sutradaranya dan bertanya benarkah kejadian-kejadian itu nyata? Karena saya tidak sepenuhnya paham bahwa isu seperti ini eksis di negeri yang sama dengan yang saya tinggali. Kaum pribumi itu adalah tetangga kita dan mereka juga banyak berdiam di negara-negara bagian yang pernah saya kunjungi,” tandas aktris Elizabeth Olsen yang memerankan agen FBI di film itu. Deskripsi Film: Judul: Wind River | Sutradara: Taylor Sheridan | Produser: Matthew George, Basil Iwanyk, Peter Berg, Wayne L. Rogers, Elizabeth A. Bell | Pemain: Jeremy Renner, Elizabeth Olsen, Graham Greene, Kelsey Chow, Apesanahkwat, Jon Bernthal, Julia Jones | Produksi: Acacia Entertainment, Savvy Media Holdings, Thunder Road Pictures, Voltage Pictures, Wild Bunch, Ingenious Media | Distributor: The Weinstein Company, STXinternational, Metropolitan Filmexport | Genre: Thriller-Kriminal | Durasi: 107 Menit | Rilis: 4 Agustus 2017, Mola TV
- Ketika Sukarno Mengecam Agresi Belanda
YOGYAKARTA, 21 Juli 1947. Empat pesawat tempur Belanda mengelilingi kota Yogyakarta pagi itu. Mereka bermanuver secara rendah selama lebih kurang 15 menit. Sebuah ancaman singkat yang sukses menebar teror di langit ibukota Republik Indonesia. Ancaman tersebut juga praktis membuat rakyat ketakutan. Hampir tidak ada seorang pun yang berani untuk keluar rumah mereka. Sekira pukul 7, pesawat tempur Belanda menjatuhkan bom di lapangan terbang Maguwo. Mereka juga menyasar lapangan-lapangan terbang lain, serta tangsi-tangsi militer Republik di sekitar Yogyakarta. Siangnya, lapangan Maguwo kembali mendapat gempuran. Kali ini mereka berhasil menjatuhkan delapan bom. Tidak cukup sampai di situ, pasukan infanteri Belanda mulai bergerak, menyasar pertahanan kaum Republik di dalam kota. Aksi militer Belanda itu merupakan buntut dari gagalnya pihak Republik dan Belanda mencapai kesepakatan. Bagi pihak Belanda, kaum Republik telah melanggar Perjanjian Linggarjati, dan menolak nota Belanda tertanggal 27 Mei 1947 yang meminta aksi tembak-menembak dihentikan. Pihak Republik juga dinilai masih terus melakukan perusakan-penusakan terhadap aset Belanda. Menanggapi sikap tersebut, Perdana Menteri Belanda Louis Beel memberi titah kepada Gubernur Jenderal Van Mook untuk melaksanakan aksi polisionil, dengan Yogyakarta sebagai target utamanya.
- Sajak Pukulan Rotan
Suatu hari di tahun 1933. Chalid Salim tengah bertugas menginspeksi selokan bersama seorang dokter ketika seorang kopral datang menghampiri mereka. Atas perintah komandan kamp, kopral itu meminta sang dokter untuk menyaksikan pelaksanaan hukuman pukulan rotan seorang tapol. Chalid dan sang dokter pun segera pergi ke tempat eksekusi. Di sana, seorang tapol telah ditelanjangi dengan kaki dan tangan terikat pada sebuah tiang. Hanya sepotong karung goni yang menutupi bagian kemaluannya. Namanya Idroes. “Sungguh keji pemandangan melihat seorang kawan sebangsa diperlakukan secara nista begitu,” kenang Chalid Salam dalam Limabelas Tahun Digul . Tak jelas musabab tapol itu sampai harus dihukum. Tapi, disebutkan tapol itu telah melanggar peraturan dan harus dihukum 15 kali pukulan rotan. Sang dokter kemudian mengajukan protes terhadap hukuman yang mirip pertunjukan gaya abad pertengahan itu. Namun, peraturan tetap peraturan. Algojo yang bertugas memberi hukuman adalah seorang sersan Indo-Belanda bertubuh kekar. Menurut Chalid, sersan itu tampak dengan sukarela menjalankan tugas kejam itu. Cemeti rotan tebal pun telah disiapkannya. “Maka sebelum kami menyadarinya, rotan itu sudah mengayun, lalu dengan kerasnya dipukulkan kepada pantat bugil si narapidana. Karena sersan itu dengan sengaja menghela rotannya, kulit si korban terkoyak di sana-sini. Dan sekalipun si korban membungkuk kesakitan, ia tidak pernah terpekik ataupun mengeram,” tulis Chalid. Tapol yang telah berlumuran darah itu kemudian di bawa ke rumahsakit. Luka-lukanya kemudian diberi balutan dengan salep. Ia diberi sebungkus rokok meski hal ini melanggar peraturan. Oleh dokter, ia diberi surat istriahat selama seminggu dan setiap hari diberi rokok. Kekejaman kamp Digul sebenarnya rahasia umum. Bahkan, laporan-laporan dari Digul telah sampai ke negeri Belanda. Penyair Belanda Jef Last (1898-1972) adalah salah satu penyair yang kerap memprotes keberadaan kamp ini dalam sajak-sajaknya. Menurut Harry A. Poeze dalam “Jef Last and his revolutionary poetry on Indonesia” yang termuat dalam Pramoedya Ananta Toer 70 Tahun , sajak-sajak Last tak diterbitkan lagi selama bertahun-tahun karena tersingkir dari sejarah sastra Belanda. Poeze kemudian mengumpulkan ulang sajak Last dan menerbitkannya pada 1994 dengan judul Liedjes op de aat van de rottan (Lagu berirama pukulan rotan) . Hukuman pukulan rotan bagi para tapol Digul tampaknya telah diterapkan sejak awal. Liedjes op de aat van de rottan ditulis Last pada 1928. Last juga beberapa kali menerbitkan beberapa buku kecil puisi, antara lain berjudul Partai Komoenis Indonesia , Digoel-Wilhelmus , dan De poenale sanctie . “Setiap buklet dijual hanya dengan sepuluh sen, ‘agar orang miskin dapat membelinya’,” tulis Rudolf Mrazek dalam Sjahrir, Politics and Exile in Indonesia . Kala itu Last merupakan anggota Sociaal Democratische Arbeiders Partij (SDAP) atau Partai Sosial Demokrat Belanda. Ia bersahabat dengan Henriette Roland Holst, Mohammad Hatta, Sjahrir hingga Maria Ullfah. Last memiliki minat menulis tentang Partai Komunis Indonesia, pengasingan Boven Digul, serta eksploitasi kuli di perkebunan di Sumatera. Di Digul, para tapol wajib menyanyikan lagu kebangsaan Belanda “Wilhelmus”pada hari ulang tahun ratu. Namun, sebagian tapol menolak. Akibatnya, mereka kemudian diasingkan ke kamp yang lebih “berat” di Tanah Tinggi. “Kejadian-kejadian ini mendorong Last menulis apa yang disebut versi Digoel dari Wilhelmus ,” tulis Gerard A. Persoon dalam Merenungkan Gema: Perjumpaan Musikal Indonesia-Belanda. Menurut Chalid, Last juga merupakan salah satu aktivis yang juga mengkritik teman-teman aktivis Belanda yang tak melakukan aksi nyata untuk membubarkan kamp Digul. Aksi nyata yang dimaksud Chalid ialah pawai demonstrasi, pemogokan, atau menduduki perusahaan-perusahaan penting. “Jika ada diadakan aksi demikian, kamp tawanan kami tentu cepat akan dibubarkan. Namun mereka... tidak berbuat sesuatu apa!” tulis Chalid. Berangkat dari kenyataan itu, Last kemudian menggubah sajak berjudul Digoel-Digoel. Berikut adalah tiga bait pertama puisi Last yang diterjemahkan oleh Chalid Salim. Apa sebab aku tulis tentang Indonesia, dan bukan tentang tanah air sendiri? Di sana tubuh kawan-kawan dijadikan bulan-bulanan bagi senjata di tangan penjajah. Di sana mengayun tongkat rotan, sel penjara penuh sesak karena mereka menegakkan Bendera Merah. Kita kagum dan kita memuji bangga, tapi apakah yang kita perbuat? Perduli apa jika mereka mampus di neraka celaka kamp Digoel? Bila Sri Ratu memerintah genap tiga dasawarsa, keadaan dunia konon dianggap normal saja.
- Ketika Sri Sultan Berterimakasih
Serangan Umum 1 Maret 1949 di Yogyakarta menjadi salah satu titik balik perjuangan rakyat Indonesia semasa Perang Kemerdekaan. Berkat peristiwa itu, seluruh dunia menyadari bahwa Republik Indonesia (RI) masih ada dan sekaligus otomatis mempersulit posisi Belanda yang selalu mangkir untuk maju ke meja perundingan. Pada akhirnya mereka mau tidak mau harus bersedia melakukan dialog dengan pihak RI. Peristiwa yang dimotori TNI itu juga sedikit banyaknya telah membangkitkan semangat rakyat Yogyakarta untuk tetap bertahan dan berjuang. Setelah bertahun-tahun hidup dalam teror militer Belanda, mereka akhirnya bisa sedikit bernafas lega. Tekanan orang-orang Belanda lambat laun mulai berkurang hingga akhirJuni 1949, sebagaimana disebutkan A.H. Nasution dalam Sekitar Perang Kemerdekaan Indonesia , rakyat Yogyakarta bisa merasakan kembali kebebasan. M.C. Ricklefs dalam Sejarah Indonesia Modern 1200-2007 , menyebut begitu Belanda pergi, pemerintah RI segera menjalankan kembali aktivitas kenegaraan di Yogyakarta. Mereka mulai mengupayakan jalan diplomasi dengan pihak Belanda demi mencapai kemerdekaan seutuhnya. Begitu juga rakyat, sedikit demi sedikit memulai kembali kegiatan mereka sehari-hari seperti berdagang. Meski sekilas terlihat baik, rakyat masih diselimuti kekhawatiran akan munculnya tekanan dari pihak Belanda. Mereka belum sepenuhnya yakin para penjajah itu telah pergi dari tanah air mereka. Maka pada suatu kesempatan, Sri Sultan Hamengkubuwono IX memberikan suatu pidato yang disiarkan Radio Yogyakarta. Selain menyampaikan kondisi terkini di Yogya, HB IX juga memberikan ucapan penghargaan atas perjuangan rakyat. “Paduka Yang Mulia Presiden telah mempercayakan kepada saya untuk sementara waktu menjelaskan keberesan pekerjaan negara di masa peralihan sekarang. Bersama-sama itu juga saya ucapkan selamat kepada saudara-saudara sekalian atas peristiwa yang penting ini. Yogyakarta sudah kembali, adalah berkah keuletan saudara-saudara sekarang baik yang bersenjata maupun yang tidak, dalam menghadapi segala kesulitan hidup sekian lamanya itu,” kata HB IX, seperti dikutip Daerah Istimewa Jogjakarta terbitan Kementerian Penerangan RI. “Dan penderitaan itu saudara-saudara sanggup alami, karena terdorong oleh cita-cita kita yang suci, cita-cita mencapai keadilan dan kesempurnaan hidup, yang sudah barang tentu mendapat lindungan Yang Maha Esa,” lanjutnya. Dalam pidatonya itu, HB IX sadar jika perjuangan rakyatnya tidak mudah. Ada begitu banyak kemalangan yang menimpa mereka. Kehilangan sanak saudara, hidup dalam rasa sakit, cacat fisik sepanjang hidup, hingga hidup dalam kemiskinan. Ada begitu banyak keluarga yang menjual semua harta bendanya demi dapat bertahan dalam perjuangan kemerdekaan. Ada juga para kaum terpelajar, imbuh HB IX, yang menolak hidup sejahtera di bawah kaki Belanda agar dapat menyaksikan dan merasakan sendiri kembalinya Yogya di tangan bangsa Indonesia. “Saudara-saudara, apakah artinya kembalinya Yogyakarta di tangan Republik lagi? Ini berarti, bahwa perjuangan kita bangsa Indonesia harus dilanjutkan. Bertimbun-timbun lah pekerjaan yang kita hadapi. Sudah barang tentu dari tiap-tiap warga negara diharapkan iuran dan sumbangsihnya yang sebesar-besarnya untuk menyempurnakan pekerjaan kita itu,” ujar Menteri Pertahanan ke-3 RI itu. Pada kesempatan tersebut , HB IX juga mengajak seluruh daerah bersatu memperjuangkan kemerdekaan. Cita-cita kemerdekaan tidak akan tercapai jika tidak dilakukan bersama-sama. Dia mengatakan kalau persatuan di antara bangsa harus ditanamkan, utamanya mereka yang sudah masuk dalam lindungan bendera Sang Merah Putih, daerah yang dikuasai oleh Pemerintah RI. Perjuangan baru, imbuh HB IX, tidak bisa lagi dilakukan seperti di masa lalu, di mana tenaga rakyat dikerahkan oleh masing-masing kepentingan. Gerakan yang terpecah belah itu akan menjadi terbuang percuma. Dia mengingatkan bahwa kepentingan negara harus ditaruh di atas kepentingan golongan atau partai. Semakin terpecahnya bangsa, makin bergembiralah pihak-pihak yang menghendaki keruntuhan Republik Indonesia. HB IX meminta semua warga negara Indonesia bersatu. Negara menjamin adanya hak demokrasi. Setiap orang memiliki hak untuk mengeluarkan suara, menentang apa yang tidak disetujui. Tetapi haru dilakukan melalui jalan-jalan yang sah, dengan tidak perlu mempertaruhkan keamanan negara untuk kepentingan golongan masing-masing. Selanjutnya soal keamanan negara, seluruh komando akan dipusatkan di bawah TNI. Hal itu dilakukan demi menghindari kesalahpahaman di antara golongan yang dikhawatirkan akan menimbulkan perpecahan, dan mengurangi kemungkinan provokasi yang tiap waktu dapat mengancam. Sebagaimana perintah dari presiden, rakyat sipil bisa membantu menjaga keamanan di kampung-kampung, dan membantu seperlunya. “Perlu juga di sini saya tegaskan lagi, bahwa barang siapa mulai saat ini masih mau mengacau, saya tidak segan-segan untuk mengambil tindakan yang setimpal. Teranglah bahwa kewajiban masing-masing sebagai warga negara Republik masih berat. Tapi soal yang berat ini akan terasa ringan, kalau dikerjakan bersama-sama,” kata HB IX. “Marilah kita percepat usaha untuk mencapai kesempurnaan dan kebahagiaan bersama itu. Selamat berjuang! Sekali Merdeka, tetap Merdeka!” ujar HB IX mengakhiri pidatonya.
- Serba-serbi Maskot Piala Eropa
DI mana ada perhelatan akbar olahraga, di situ ada maskot. Termasuk di Piala Eropa 2020 kali ini. Pada Piala Eropa (Euro) ke-16 ini, UEFA menghadirkan Skillzy, maskot ke-11 dalam sejarah Piala Eropa. Kendati Euro sudah dihelat pada 1960, baru dua dasawarsa kemudian panitia penyelenggaranya menghadirkan maskot. Sebagai bagian dari branding perhelatan itu, maskot mesti aktual, relatable, dan ramah bagi semua usia. Skillzy didesain UEFA dengan sosok yang lebih humanis dan intim dengan passion generasi muda. Skillzy terinspirasi dari pesepakbola jalanan dan freestyler yang belakangan ini nge -tren di seantero dunia. Ia digambarkan sebagai sosok humanoid berambut stylish , bermata besar, berjaket biru dengan logo Euro 2020 serta bersepatu merah dan membawa bola. Skillzy menyapa dunia pertamakali di Johan Cruijf ArenA, Amsterdam, Belanda pada 24 Maret 2019 dalam sebuah aksi trik-trik menimang bola bersama dua freestyler kondang, Liv Cooke dan Tobias Becs. “Kami ingin meninggalkan maskot tradisional yang kita lihat dalam gelaran-gelaran Euro sebelumnya demi menciptakan sebuah simbol yang bisa berinteraksi lebih dekat dengan fans sepakbola lintas benua. Penting bagi UEFA mendekatkan diri pada fans semua usia dan dengan menciptakan maskot yang secara fisik bisa memainkan permainan yang kita semua cintai agar bisa menginspirasi generasi muda dari Dublin (Irlandia) sampai Baku (Azerbaijan),” ujar Marketing Director of UEFA Events SA, Guy-Laurent Epstein, di laman UEFA , 24 Maret 2019. Skillzy melanjutkan kehadiran maskot di era sepakbola modern. Namun di sisi lain, ia juga menandai sejarah baru lantaran ke-10 maskot Euro sebelumnya berupa karakter-karakter tradisional yang menyimbolkan masing-masing tuan rumah. Berikut 10 maskot pendahulu Skillzy: Pinocchio (Euro 1980) Karakter "Pinocchio" yang jadi identitas Italia sebagai tuan rumah Piala Eropa 1980 ( uefa.com ) Euro 1980 di Italia jadi pijakan pertama gelaran Euro yang lebih modern. Di turnamen inilah untuk pertamakalinya diterapkan sistem penyisihan grup yang menggantikan sistem gugur. Selain itu, untuk lebih menyamai sistem di Piala Dunia, di Piala Eropa 1980 inilah pertamakali maskot dihadirkan, yakni Pinocchio. Karakter bocah dari buku Le Avventure di Pinocchio karya – yang paling banyak dicetak dengan multi-bahasa selain Alkitab dan Alquran– Carlo Collodi itu dianggap induk sepakbola Italia, FIGC, paling pas sebagai simbol yang mewakili Italia sebagai tuan rumah. Bedanya dari pinocchio yang ada di buku atau seri televisi, Pinocchio maskot Euro 1980 digambarkan sebagai boneka kayu tanpa jari kaki dan tangan tanpa mengenakan busana apapun. Ia sekadar sosok berhidung panjang yang diwarnai hijau-putih-merah sebagaimana warna bendera Italia mengenakan topi putih bertuliskan “Europa 80” sambil mengapit bola di sisi kanan. Mengutip Mondiali , 1 Mei 2021, maskot itu mulai diperkenalkan FIGC pada Oktober 1979 walau kala itu Presiden UEFA dan FIGC Artemio Franchi belum mau menyebut nama “Pinocchio” karena mengira hak atas nama Pinocchio masih dipegang Walt Disney. Tetapi pada momen drawing , 16 Januari 1980, nama Pinocchio akhirnya bisa dipakai maskot setelah Fondazione Nazionale Carlo Collodi memastikan hak atas buku Pinocchio yang dipegang Walt Disney telah habis kontraknya sejak 50 tahun sebelumnya. Péno (Euro 1984) La Coq Gaulois yang jadi simbol keberuntungan Prancis dan dijadikan maskot bernama Péno ( uefa.com ) Sebagaimana logo induk sepakbola dan tim nasionalnya, Prancis sebagai tuan rumah Euro 1984 menghadirkan sosok ayam jantan dalam versi antropomorfik. Maskot ayam jantan itu dinamai Péno. Nama Péno, sebagaimana dimuat laman UEFA, diserap dari kata “gaul” Prancis untuk menyebut penalti. Le Coq Gaulois (ayam jantan Gaul) jadi bagian sejarah Prancis sejak era Renaissance di abad ke-14. Ia diserap dari tradisi budaya yang menganggap ayam jantan sebagai hewan keberuntungan. “Ayam jantan jadi simbol bagi republik dan bagi perwakilan di olahraga dunia. Tim nasional Prancis mengenakan kostum dengan logo ayam jantan sejak 100 tahun lebih. Mereka pun menggunakannya sebagai maskot di banyak perhelatan olahraga demi menginspirasi keangkuhan dan keberuntungan orang Prancis,” tulis Margo Lestz dalam Berets, Baguettes, and Beyond: Curious Histories of France. Péno digambarkan sebagai seekor ayam jantan putih yang mengenakan kaus biru, celana putih, dan kaus kaki merah (seragam timnas Prancis) serta dilengkapi sepasang sepatu bola besar. Di bagian dada kirinya dicantumkan angka 84, merujuk tahun perhelatan. Péno seolah membawa keberuntungan buat Prancis. Di event itu, tuan rumah Prancis keluar sebagai juara. Berni (Euro 1988) Berni si Kelinci Paskah dijadikan harapan Jerman jelang unifikasi ( uefa.com ) Jika Prancis punya ayam jantan, Jerman Barat punya kelinci paskah ( Osterhaus) kartun sebagai simbol yang mewakilinya sebagai tuan rumah Euro 1988. Berni, nama kelinci itu, dihadirkan DFB, induk sepakbola Jerman sekaligus panitia penyelenggara, sebagai hewan kelinci enerjik mengenakan jersey hitam dengan logo Euro 1988, celana merah, kaus kaki kuning –menyimbolkan bendera Jerman– serta ikat kepala dan gelang tangan sporty putih. Osterhaus berbulu cokelat gelap itu punya makna kelahiran kembali bagi masyarakat Jerman. Kelahiran kembali yang dimaksud adalah kelahiran masyarakat Jerman yang bersatu di ambang unifikasi antara Jerman Barat dan Jerman Timur menjelang peruntuhan Tembok Berlin. Nama “Berni” sendiri merujuk pada nama kota Bern di Swiss, kota di mana UEFA bermarkas dan Jerman (Barat) untuk pertamakali meraih Piala Dunia (1954) lewat “Keajaiban Bern”. Maka, Berni sebagai maskot jadi pengingat akan awal kejayaan sepakbola Jerman serta harapan akan persatuan negeri mereka lewat sepakbola. “DFB dalam pernyataan resminya mengungkapkan, ‘Berni adalah penggemar sepakbola yang tampan, antusias, dan menyimbolkan sisi positif dari olahraga paling populer di dunia’,” tulis suratkabar Zeit , edisi 10 April 1987. Rabbit (Euro 1992) Swedia menyontek Jerman untuk maskot Euro 1992 ( uefa.com ) Swedia seperti tidak siap jadi tuan rumah Euro 1992. UEFA memilihnya ketimbang Spanyol, yang juga mengajukan diri, lebih karena Spanyol belum lama menggelar dua event besar. Bujet Swedia untuk jadi tuan rumah pun pas-pasan. “Swedia dipilih komite eksekutif UEFA sebagai tuan rumah mengalahkan Spanyol karena Spanyol adalah tuan rumah pameran dunia (Expo 1992) dan Olimpiade. Putaran finalnya akan digelar di Stockholm, Gothenburg, Malmoe, dan Norrkoeping,” tulis suratkabar New Strait Times , 18 Desember 1988. Alhasil, Swedia seperti tidak mempersiapkan maskotnya dengan matang. Dilansir laman UEFA, Euro 1992 menghadirkan maskot bernama Rabbit, nama yang diambil mentah-mentah dari kata bahasa Inggris yang berarti kelinci. Pihak Swedia sama sekali tak punya ide orisinil. Selain nama maskot, wujud Rabbit juga meniru maskot Euro sebelumnya, Berni. Rabbit ibarat kloningan Berni. Perbedaannya hanya bulu Rabbit lebih terang dan kostumnya kuning-biru warna bendera Swedia. Goaliath (Euro 1996) "Goaliath" si singa yang jadi simbol Inggris sebagai tuan rumah Euro 1996 ( uefa.com ) Seperti Prancis dengan ayam jantannya, Inggris juga gemar menonjolkan singa sebagai identitasnya. Setelah Willie si anak singa jadi maskot Piala Dunia 1966, di Euro 1996 Inggris mengulanginya dengan menghadirkan maskot singa bernama Goaliath. Goaliath didesain FA (induk sepakbola Inggris) sebagai singa antropomorfik berwajah ramah berseragam Timnas Inggris, putih-biru, dan mengapit bola bermotif klasik hitam-putih di lengan kanannya. Nama Goaliath sendiri dipetik dari perpaduan kata “Goal” (gol) dan “Goliath”, musuh David yang terdapat dalam kitab Perjanjian Lama. Sebagaimana Willie pada 1966, Goaliath juga dijadikan memorabilia Euro 1996 yang tersebar di seantero Inggris. Penyerang Inggris Robbie Fowler dalam otobiografinya, My Life in Football, Goals, Glory & the Lessons I’ve Learnt, mengenang: “Histeria Euro 96 berubah jadi demam sepakbola. Di setiap suratkabar, stasiun pengisian bahan bakar, supermarket selalu berhias merchandise si singa ‘Goaliath’. Seantero negeri menggila dan berharap sepakbola (gelar juara) kembali ke rumahnya.” Sayangnya Inggris harus gigit jari. Goaliath “gagal” memberi keberuntungan. Di rumah sendiri, Timnas Inggris harus terhenti langkahnya di semifinal gegara kalah adu penalti dari Jerman. Benelucky (Euro 2000) Benelucky si maskot hybrid singa-setan merah (Twitter @EURO2020) Euro 2000 yang menjadi Euro pertama yang digelar di dua negara menghadirkan maskot hasil perpaduan simbol tuan rumah Belgia dan Belanda. Maskotnya berupa makhluk hibrid singa bertanduk dan ekor setan dengan rambut berwarna hitam-kuning-merah-putih-biru sebagai kombinasi bendera Belgia dan Belanda. “Maskotnya dinamai ‘Benelucky’. Sesosok setan yang justru mirip singa tanpa leher. Sosok setan diambil dari julukan (timnas) Belgia, Red Devil , dan singanya merupakan simbol Timnas Belanda,” tulis Michael Graf dalam Fussballmaskottchen. Untuk menentukan namanya, UEFA untuk pertamakalinya sampai menggelar jajak pendapat lewat sejumlah suratkabar Belanda dan Belgia. Dari enam ribu usulan yang masuk, nama “Benelucky” yang diusulkan Jurrian Reurings, pelajar asal Utrecht, diputuskan juri UEFA sebagai pemenangnya. Nama itu merupakan bahasa gaul dari perpaduan tiga negara serumpun, Benelux (Belgium, the Netherlands, Luxembourg) sekaligus penyatuan dua lema bahasa latin “Bene” dan bahasa Inggris “Lucky” yang berarti semoga beruntung. Kinas (Euro 2004) Kinas mempelopori maskot yang lebih humanis di Euro 2004 ( uefa.com ) Setelah Benelucky di Euro 2000, UEFA tak pernah lagi menampilkan desain maskot berupa hewan antropomorfik. Euro 2004 di Portugal dengan maskot “Kinas”-nya mempelopori penggunaan desain maskot lebih modern dan humanis. Dikutip dari laman UEFA , 31 Maret 2003, nama Kinas diambil dari penggalan kata “Bandeira das Quinas” yang bararti bendera nasional Portugal. Menariknya, Kinas bukan didesain UEFA atau panitia penyelenggara, melainkan oleh Warner Bros. Kinas digambarkan sebagai anak muda muda atraktif dan enerjik yang mengenakan seragam Timnas Portugal. Maskot yang lebih ramah terhadap generasi muda itu diperkenalkan pemerintah Portugal pada 29 Maret 2013 di auditorium Casa Serralves, Porto. “Menjadi penting bahwa maskot haruslah atraktif dan mesti bisa mewakili martabat negara. Saya menikmati reaksi publik saat maskotnya diluncurkan. Sambutannya sungguh hangat dan bagus,” ujar Menteri Pemuda dan Olahraga Portugal Herminio Laoureiro. Trix dan Flix (Euro 2008) Si kembar "Trix and Flix" mewarnai Euro 2008 (Twitter @EURO2020) Seperti Kinas di Euro 2004, maskot untuk Euro 2008 di Austria-Swiss pun didesain Warner Bros. Karena digelar di dua negara, maskot yang dihadirkan pun berupa anak kembar bertopeng dengan warna kombinasi merah dan putih. Untuk menunjukkan tahun gelaran, satu anak mengenakan kaus bertuliskan angka “20” dan anak yang lain mengenakan kaus nomor “08”. Maskotnya juga diberi sentuhan gaya rambut spike yang mencerminkan Pegunungan Alpen. Untuk menentukan namanya dan terus menyambung interaksi kepada fans, UEFA menggelar jajak pendapat dari 27 September-8 Oktober 2006. Panitia meminta puluhan ribu fans untuk memilih satu dari tiga opsi nama: Zigi dan Zagi, Flitz dan Bitz, serta Trix dan Flix. Dari 67 ribu lebih suara yang masuk, nama Trix dan Flix mendapat suara terbanyak dengan 36,3 persen. Nama itupun resmi disandang maskot kembar hasil desain Warner Bros tersebut saat peluncurannya pada April 2007. “Seperti ketika orangtua mengumumkan kelahiran seorang anak. Nama anak itu memang tak disukai semua orang tapi faktanya dari hasil pemungutan suara 67.406 fans sepakbola Austria dan Swiss, nama itu (Trix dan Flix) paling populer,” ujar direktur penyelenggara Euro 2008 Christian Mutschler, disitat laman UEFA. Slavek dan Slavko (Euro 2012) Identitas Polandia dan Ukraina yang diwakili Slavek dan Slavko ( uefa.com ) Warner Bros (WB) kembali mendesain maskot untuk Euro 2012 yang dihelat di Polandia dan Ukraina. Mirip dengan Trix dan Flix, bedanya maskot kembar kali ini tanpa topeng. Masing-masing anak di maskot menonjolkan warna kebesaran yang jadi identitas tuan rumah. Satu figurnya mengenakan seragam dan warna rambut putih-merah khas Polandia, sedangkan satunya lagi perpaduan kuning-biru khas Ukraina. Nama maskot kembar itu juga merupakan hasil pemungutan suara yang diadakan UEFA. Dari tiga opsi nama: Slavek dan Slavko, Siemko dan Strimko, serta Klemek dan Ladko, Slavek-Slavko menang 56 persen suara dari total 39.233 fans. Maskot itu mulai diperkenalkan kepada publik di Teater Warsawa pada November 2010. “Kedua maskot merepresentasikan upaya dan komitmen bersama dua negara untuk menyukseskan penyelenggaraan Euro 2012. Kami berbagi gagasan yang sama dan kami sangat menantikan keceriaan dalam turnamennya. Satu-satunya yang memisahkan maskot itu adalah masing-masing dari mereka mendukung tim berbeda,” ujar Presiden FFU (induk sepakbola Ukraina) Grigoriy Surkis di laman UEFA . Super Victor (Euro 2016) "Super Victor" si bocah ajaib sebagai maskot Euro 2016 ( uefa.com ) Prancis sebagai penyelenggara Euro 2016 memilih mendesain sendiri maskotnya. Dengan konsep berupa karakter anak berkekuatan super setelah menemukan jubah, sepatu, dan bola ajaib, desain maskot pun dihadirkan berupa anak berseragam Timnas Prancis berikut sayap belakang dan bola. Pada 18 November 2014, panitia penyelenggara sudah meluncurkan maskotnya walau belum menentukan nama. Penamaannya dipercayakan kepada fans sepakbola dengan memilih satu dari tiga opsi: Driblou, Goalix, dan Super Victor. Dari total 107.790 suara yang masuk, nama Super Victor paling digemari dengan mendapatkan 51.781 suara. UEFA pun kemudian merilis hasil itu dan menetapkan nama Super Victor untuk maskotnya pada 30 November 2014. Lucunya, nama maskot itu persis nama merk alat bantu seksual perempuan buatan Amerika Serikat. UEFA pun menyatakan kesamaan nama itu hanya kebetulan belaka tanpa adanya unsur kesengajaan. “Yang bisa kami katakan adalah, barang-barang (mainan seks) itu bukan diproduksi UEFA. Nama Super Victor berdasarkan gagasan yang merujuk pada kekuatan super bocah kecil yang menemukan jubah, sepatu, dan bola magis,” kata UEFA .
- Timur Pane Si Jenderal Bohongan
Sekali waktu, anak buah Naga Bonar berembuk. Mereka membincangkan strategi untuk menghadapi Belanda. Besok hari, mereka akan merundingkan pembatasan garis demarkasi. “Untuk berunding dengan tentara Belanda, masing-masing kita harus punya pangkat, supaya mereka segan,” kata Lukman si juru bicara markas. Tidak tanggung-tanggung, pimpinan mereka Naga Bonar diberikan pangkat tertinggi: Marsekal Medan. Alasannya, Marsekal Medan ( field marshal ) itulah pangkat yang disandang para panglima besar dalam Perang Dunia II. Tapi, dalam kenaifannya Naga Bonar menolak dan salah pengertian. Dia minta pangkatnya ditambahkan menjadi Marsekal Medan-Lubuk Pakam. Lukman yang sekolahnya paling tinggi itu mengatakan pangkat demikian tidak ada. Naga Bonar jadi emosi. “Kalau tak ada, dibikin!” hardik Naga Bonar dengan logat Medannya yang kental. Akhirnya disepakati, Naga Bonar menjadi jenderal. Murad jadi kolonel, Pardjo jadi letnan kolonel, dan Lukman jadi mayor. Sementara itu, Bujang, asistennya Naga Bonar diberi pangkat kopral. Begitulah rapat kepangkatan itu diputuskan secara kilat seperti tersua dalam film Naga Bonar (1987) besutan sineas Asrul Sani. Fragmen di atas memang rekaan Asrul Sani semata. Begitu pula dengan sosok Naga Bonar. Hanya saja perkara menaikan pangkat diri sendiri dalam sekejap memang jamak terjadi di masa revolusi. Kisah paling beken barangkali menyangkut sosok Timur Pane, tokoh laskar legendaris dari Medan. Dari kiprah Timur Pane inilah Asrul Sani disebut-sebut terinpirasi menciptakan karakter Naga Bonar. Timur Pane, menurut catatan wartawan Antara Muhammad Radjab adalah seorang pedagang jengkol dan sayur-sayuran yang sekaligus berprofesi sebagai pencopet di kota Medan. Badannya pendek kecil, mukanya separuh bagian bawah kebiru-biruan, sorot matanya liar. Orang-orang mengenalnya memiliki nyali besar. Sewaktu terjadi Pertempuran Medan Area, Timur Pane menghimpun pasukannya dalam “Laskar Naga Terbang” yang terdiri dari para kriminal. Di kawasan Sumatra Timur, Timur Pane seorang figur yang terkenal dan menggelisahkan. “Katanya, ia sendiri sudah banyak menyembelih orang di medan pertempuran. Kenekatan inilah yang menjadikannya terkemuka, ditakuti, dan namanya terkenal,” tutur Radjab dalam Tjatatan di Sumatra . Uniknya, Timur Pane selalu melekatkan pangkat jenderal mayor pada namanya. Entah darimana si mantan copet ini memperoleh pangkat yang sekarang setara perwira tinggi bintang dua itu. Demi mengesankan citra diri sebagai perwira tinggi, Timur Pane punya lagak khas. Sebagaimana dituturkan Maraden Panggabean dalam otobiografinya Berjuang dan Mengabdi , Timur Pane gemar sekali memasang bendera kuning ala Jepang pada kendaraannya. Di masa pendudukan Jepang, bendera kuning yang melekat pada kendaraan menandakan bahwa penumpang di dalamnya adalah seorang perwira tinggi, setingkat jenderal. Menurut Kementerian Penerangan dalam Republik Indonesia: Provinsi Sumatra Utara, kekuatan pasukan Timur Pane makin diperhitungkan setelah dia berhasil meleburkan beberapa barisan laskar ke dalam “Tentara Marsose”. Disitulah Timur Pane mendaulat dirinya sebagai jenderal mayor. Secara sepihak, Timur Pane menyatakan dirinya telah menjadi Tentara Republik Indonesia. Seluruh pasukannya, mulai dari komandan sampai kepada anak buah diberikan tanda pangkat militer. Untuk mendapatkan pengakuan resmi dari pemerintah pusat, Timur Pane banyak bikin ulah. Pada pertengahan 1947, Timur Pane serta pasukan pengawalnya mendatangi S.M. Amin selaku gubernur muda Sumatra Utara. Tanpa basa-basi, Timur Pane mendesak Amin agar pasukan Marsose diterima sebagai tentara republik. Namun yang lebih mencengangkan, Timur Pane meminta anggaran belanja untuk pasukannya sebesar 120 juta gulden setiap bulannya. Selain itu, aksi Timur Pane melalui Tentara Marsosenya menyebabkan friksi dengan TRI Divisi X Sumatra yang dipimpin oleh Kolonel Husein Jusuf dan kepala stafnya Letkol Hopman Sitompul. Seperti disebutkan Jenderal Abdul Haris Nasution dalam Sekitar Perang Kemerdekaan Indonesia Jilid 6: Perang Gerilya Semesta I , pasukan Timur Pane kerap melucuti TRI dan polisi negara yang ada di wilayahnya. Kendati demikian, pimpinan TRI Divisi X Sumatra maupun Komandemen Sumatra tidak dapat berbuat apa-apa. Timur Pane sendiri, kata Nasution awalnya diberi pangkat kolonel. Karena pengaruhnya begitu besar di kalangan kelompoknya, pimpinan Markas Besar Tentara (MBT) di Yogyakarta terpaksa merestui pangkat jenderal mayor kepada Timur Pane secara sementara. Itu diusulkan Residen Sumatra Timur Mr. Abu Bakar Jaar. Maka resmilah Tentara Marsose diakui Komandemen Tentara Sumatra sebagai kesatuan perang dengan nama Legiun Penggempur. Kendati demikian, kejenderalan Timur Pane itu hanya omong kosong. Ketika Belanda melancarkan agresi militer yang pertama pada akhir Juli 1947, pasukan Timur Pane kocar-kacir. Padahal dia telah sesumbar kepada Wakil Presiden Mohammad Hatta akan merebut kembali kota Medan dari tangan Belanda. Pasukan Legiun Penggempur akhirnya dibubarkan setelah Hatta menetapkan kebijakan Reorganisasi dan Rasionalisasi Angkatan Perang. Dengan sendirinya, Timur Pane dicopot dari kedudukan militernya. Gelar jenderal mayor kebanggaannya pun tanggal begitu saja.
- Jayakatwang Mengakhiri Hegemoni Singhasari
Jayakatwang bimbang ketika menerima surat dari Arya Wiraraja. Di sana tertulis inilah saat yang tepat untuk menyerang Kertanagara. Singhasari sedang lemah karena para punggawa dan pasukan teladannya pergi menunaikan misi politik ke seberang lautan. Patihnya mendorong raja Glang-Glang itu supaya tak melewatkan kesempatan itu. “Ingatlah paduka, pendahulu paduka adalah raja terakhir di Kadiri, tetapi kemudian dikalahkan dan dijadikan bawahan pendahulu Kertanagara,” ujar sang patih. Jayakatwang pun memutuskan untuk menyerang Singhasari dengan mengirim dua pasukan.Pasukan pertama lewat utara untuk membuat keributan. Sedangkan pasukan kedua menyerang dalam diam, tersembunyi, melintasi hutan-hutan di wilayah selatan. Tak banyak yang memprediksi serangan itu. Mungkin hanya Mpu Ragananta, mantan patih tua yang dalam Pararaton disebut sebagai macan ompong. Peringatannya tak pernah didengar Kertanagara. Jayakatwang merupakan sepupu Kertanagara. D ia juga menjadikan adik Kertanagara, Turukbali, sebagai permaisuri. Putranya, Ardharaja, d ia nikahkan dengan salah satu putri Kertanagara. Dia juga mendapat kepercayaan Kertanagara untuk lungguh di tanah leluhurnya di Daha. Maka, wajar jika Jayakatwang membuat Kertanagara lengah. Maharaja Singhasari itu merasa jasanya telah cukup membuat Jayakatwang tak berhasrat pada kekuasaan yang lebih besar. “Tidak mungkin Jayakatwang berbuat begitu kepadaku karena dia mendapat kesenangan dari saya,” ujar Kartanegara, sebagaimana dicatat Serat Pararaton. Ternyata, perkiraan Kertanagara salah. Serangan Jayakatwang berhasil menumbangkannya. Sehingga, Kidung Harsawijaya menyebutnyamenjadi penguasa di seluruh Pulau Jawa. Pengkhianat Singhasari Semula Jayakatwang adalah raja bawahan yang berkedudukan di Glang-Glang. Wilayah kekuasaannya meliputi seluruh Bhumi Wurawan. Itu semua berkat pernikahannya dengan Turukbali, putri Singhasari. Pada 1271, pusat pemerintahannya pindah ke Daha. Kekuasaan Jayakatwang jadi bertambah meliputi Bhumi Wurawan dan Kadiri. Itulah mengapa Prasasti Kudadu, Kakawin Nagarakertagama, Serat Pararaton, Kidung Panji Wijayakrama dan Kidung Harsawijaya mencatat Sri Jayakatwang sebagai penguasa Daha. Begitu pula berita Cina, Sejarah Dinasti Yuan , yang melaporkan pusat kekuasaannya berada di Da-ha. “Walaupun istana pusat pemerintahan telah berganti di Daha, ternyata Jayakatwang masih disebut sebagai Raja Glang-Glang, ” tulis Novi Bahrul Munib dalam skripsinya di Jurusan Sejarah Universitas Negeri Malang yang berjudul “Dinamika Kekuasaan Raja Jayakatyǝng di Kerajaan Glang-Glang Tahun 1170-1215 Çaka: Tinjauan Geopolitik”. Jayakatwang memperoleh kekuasaan atas wilayah Kadiri karena penguasa sebelumnya, Kertanagara, pindah jabatan. Sepupunya itu naik takhta menjadi maharaja di Singhasari. Prasasti Mula Malurung (1255) mencatat, saat masih menjadi putra mahkota, Kertanagara berkedudukan di Daha. Bhumi Kadiri dengan pusatnya di Daha agaknya menjadi tempat penggojlokan sebelum dia mewarisi takhta ayahnya. Karenanya, kata epigraf Boechari dalam Melacak Sejarah Kuno Indonesia Lewat Prasasti, tak berlebihanlah jika Jayakatwang kemudian sering diingat sebagai pengkhianat dan pengingkar janji. Seperti Mpu Prapanca menuliskannya dalam Kakawin Nagarakrtagama , “Raja bawahan bernama Jayakatwang, berwatak terlalu jahat, berkhianat karena ingin berkuasa di wilayah Kadiri...Raja Kadiri Jayakatwang membuta dan mendurhaka.” Prasasti Kudadu (1294) pun mencatat bahwa Jayakatwang telah bertindak seperti musuh. Tindakannya buruk. Dia mengkhianati sahabat dan melanggar perjanjian karena telah mengharapkan runtuhnya Sri Kertanagara di Tumapel (Singhasari). Namun, menurut Boechari, sikap membelot Jayakatwang itu bukanlah hal yang tiba-tiba terjadi. Jayakatwang sudah lama memendam rasa tak puas dan sakit hati terhadap trah Kertanagara. Secara turun-temurun leluhur Jayakatwang memegang kekuasaan di Daha yang meliputi seluruh Bhumi Kadiri. Tapi, berdasarkan Nagarakrtagama , sejak Raja Kadiri Kertajaya jatuh pada 1222 M oleh Ken Angrok, raja-raja yang memerintah wilayah itu terus berada di bawah kendali Tumapel (Singhasari). Boechari berpendapat, mungkin itu yang menjadi sebab mengapa Jayakatwang memberontak. Dia merasa tak senang, wilayah kekuasaan moyangnya, Kadiri diambil oleh raja untuk diberikan kepada putra mahkota. “Sementara dia hanya dijadikan menantu dan mendampingi istrinya sebagai penguasa Glang-Glang,” jelas Boechari. Kendati begitu, dengan menjadi adik ipar sekaligus besan Kertanagara, Jayakatwang sadar dirinya telah diikat perjanjian damai dengan penguasa Singhasari itu. “Hubungan perkawinan dahulu merupakan upaya politik untuk menjamin loyalitas raja bawahan yang kuat, juga perjanjian persahabatan,” jelas Boechari. Maka, sejak Kertanagara masih bertakhta di Kadiri selama 38 tahun, Jayakatwang menahan diri. Sampai akhirnya pada 1292, dia tuntaskan rasa sakit hatinya dalam serbuan tiba-tiba ke Singhasari. “Demi menunggu saat yang tepat,” tulis Boechari. Mengembalikan Kejayaan Kadiri Tindakan Jayakatwang dianggap pengkhianatan oleh Singasari, tapi sebaliknya bagi Glang-Glang dan Daha. Bagi mereka peristiwa itu adalah pembebasan. Prasasti Kudadu mencatat bendera merah putih berkibar ketika kemenangan di tangan pasukan Jayakatwang. Menurut Novi Bahrul Munif dalam “Kajian Sejarah Nagara Glang-Glang di Bumi Wurawan” yang terbit dalam Bhumi Wurawan, pengibaran bendera merah dan putih oleh pasukan Jayakatwang itu merupakan simbol kemerdekaan pengikut Jayakatwang atas hegemoni Kerajaan Singhasari. Sebagaimana disebutkan KakawinNagarakrtagama , yang diinginkan Jayakatwang adalah kekuasaan di Bhumi Kadiri, bukan di Tumapel (Singhasari). “Sebagai salah satu keturunan raja-raja yang pernah bertakhta di Kadiri, Sri Jayakatwang berupaya mengembalikan kedaulatan Kadiri sebagai pusat kerajaan,” jelas Novi dalam skripsinya. Dari sisi geopolitik pun, dibandingkan Tumapel, pusat pemerintahan Singhasari, Daha sebagai pusat Kadiri lebih menguntungkan. “Tumapel berada jauh dari pelabuhan, sungai maupun laut,” tulis Novi. Perpaduan antara Gunung Kampud (Kelud) yang aktif dan aliran Brantas beserta anak sungainya menjadikan Kadiri sebagai daerah subur yang cocok untuk bermukim. “Pertimbangan kesuburan tanah itu dimanfaatkan Sri Jayakatwang untuk menghimpun kekuatan logistiknya,” jelas Novi. Proses distribusi hasil bumi juga menjadi lebih mudah. Pasalnya, Daha dilalui Sungai Brantas yang lebar dan dalam. Bisa dibilang, dengan menguasai Bengawan Brantas berarti Jayakatwang juga telah menguasai urat nadi perekonomian Jawa. Karenanya seperti pendapat arkeolog Bambang Sulistyanto dalam “Prolog Editor: Melacak Jejak Kerajaan Glang-Glang” yang terbit dalam Bhumi Wurawan , bahwa Jayakatwang sama sekali bukan pengkhianat bagi rakyat Kadiri. Dia justru merupakan pahlawan. Berbeda dengan padangan rakyat Singhasari yang menudingnya sebagai musuh negara. “Begitulah yang namanya sejarah politik. H akikat kebenaran itu tak ada. Yang ada adalah kebenaran berdasarkan kepentingan,” tulis Bambang.
- Strategi Perang Jayakatwang Tumbangkan Kertanagara
Bendera merah putih berkibar. Musuh mendekat, terlihat di timurnya Haniru. Tentara Ardharaja kocar-kacir. Pasukan Wijaya pun tercerai berai. Kedua menantu Raja Kertanagara itu tak mengira kedatangan pasukan musuh dari arah berbeda. Peristiwa itu menjadi awal tercerai berainya pasukan Wijaya. Begitulah Prasasti Kudadu mencatat pengalaman Wijaya, yang nantinya mendirikan Majapahit, ketika menghadapi serangan pasukan Sri Jayakatwang pada 1214 Saka (1292 M). Arkeolog Bambang Sulistyanto dalam “Melacak Jejak Kerajaan Glang-Glang” yang terbit dalam Bhumi Wurawan menjelaskan dikibarkannya bendera merah putih adalah tanda dimulainya perang besar yang meluluhlantakkan pasukan Singhasari dan menewaskan raja terakhirnya, Sri Maharaja Kertanagara, raja yang bahkan tak takut melawan ancaman kaisar Mongol, Kubilai Khan. Serangan Mendadak Serangan datang tiba-tiba. Bahkan , Kertanagara sendiri tak percaya kalau tentara Jayakatwang sudah menggasak desa-desa di perbatasan utara negara Singhasari. “Tidak mungkin Jayakatong berbuat begitu kepadaku karena dia mendapat kesenangan dari saya,” ujar Kertanagara sebagaimana dicatat Serat Pararaton. Kertanagara baru percaya ketika dia melihat banyak orang menangis, berteriak, dengan tubuh penuh luka, membanjiri ibukota. Mereka adalah penduduk dari utara yang desanya telah diratakan tentara Jayakatwang. “Pasukan membawa bendera dan alat bunyi-bunyian. Rusaklah orang-orang yang melawannya,” catat SeratPararaton . Terkejut dengan apa yang dia disaksikan, Kertanagara mengutus menantunya yang masih muda dan kurang pengalaman, Wijaya untuk menghalau pemberontak di utara ibukota Singhasari. Tak ada pilihan lain, personel yang lebih berpengalaman sudah dia kirim ke misi di seberang laut dalam ekspedisi Pamalayu . Prasasti Kudadu mencatat, Ardharaja, menantu Kertanagara lainnya sekaligus putra Jayakatwang, dikirim juga untuk ikut menghadang serangan. Serat Pararaton bercerita, para aryya terkemuka pun disuruh membantu. Mereka adalah Banyak Kapuk, Rangga Lawe, Pedang, Sora, Dangdi, Gajah Pagon, Nambi, Peteng, dan Wirot. “Mereka [para aryya terkemuka] itu prajurit terbaik yang melawan pasukan Jayakatwang dari utara,” tulis Novi Bahrul Munif, pelestari sejarah-budaya Kadhiri, dalam “Kajian Sejarah Nagara Glang-Glang di Bumi Wurawan” yang terbit dalam Bhumi Wurawan. Sewaktu rombongan Wijaya dan Ardharaja berangkat ke utara, pasukan Jayakatwang telah tiba di Jasun Wungkal. Sesampainya di Desa Kdungpluk, Wijaya bertemu musuh dan menang dalam pertarungan pertamanya itu. Pasukan Wijaya melanjutkan perjalanan ke Lembah, tapi tak menemukan musuh di sana. Mereka lalu bergerak lagi melewati Batang. Sesampainya di Kapulungan, mereka bertemu lagi dengan musuh. Wijaya berperang di sebelah barat Kapulungan dan kembali mengalahkan musuh. Pasukan Wijaya bergerak lagi. Sampailah mereka di Rabut Carat. Tak lama musuh datang dari barat, tapi tak sanggup melawan pasukan Wijaya hingga lari terbirit-birit. Tapi sesaat kemudian mereka menyadari ada iring-iringan bendera merah dan putih melambai-lambai dari sebelah timur Haniru. Itu bukan bendera pasukan Singhasari, melainkan milik musuh. Melihat bendera-bendera itu, Ardharaja dan prajurit bawahannya balik arah, mundur melarikan diri. Mereka menuju Kapulungan. Ada serangan pasukan lain yang tak mereka ketahui. Yang mana serangan ini lebih fatal. Bendera-bendera yang melambai tinggi itu seakan memberitakan kemenangan sudah di tangan musuh. Serangan Tipuan Kemenangan mudah dan sementara yang didapat Wijaya sebelumnya bukannya tanpa alasan. Pasukan penyerang yang dikirim ke Singhasari dari utara memang bukanlah tentara unggulan. Di tengah keributan yang dibawa pasukan dari utara, tentara Jayakatwang lainnya sudah siap menyergap dari selatan. Menurut Pararaton, pasukan Jayakatwang yang menyerang dari selatan, tak seperti tentara dari utara, mereka datang dengan mengendap-endap dari tepi Sungai Aksa ke Lawor menuju Singhasari. Yang menjadi prajurit utama dari tentara selatan ini adalah Patih Daha Kebo-Mundarang, Pudot, dan Bowong. “Secara samar kesuksesan serangan Jayakatwang dari selatan dapat dilihat pada saat berkhianatnya Ardharaja setelah melihat bendera berwarna merah dan putih berkibar-kibar,” tulis Novi. SeratPararaton dan Kidung Harsawijaya menyebutkan bahwa Batara Siwa-Buddha atau Kertanagara sedang minum tuak bersama patihnya ketika pasukan selatan menyerbu masuk ke istana. Tapi sebenarnya bukan minum tuak untuk berpesta. Menurut Suwardono, sejarawan Malang yang menulis buku Kertanagara dan Misteri Candi Jawi ,Kertanagara sedang melaksanakan upacara untuk mendatangkan Dewi Heruka, kekuatan feminim yang bersifat tantris. Tapi dia terlambat. Upacaranya tak selesai. Dia dan bawahannya keburu tewas di tangan pasukan raja bawahannya sendiri. Sebagai penganut Tantrayana yang taat, inilah usaha terakhir Kertanagara menyelamatkan negaranya. Strategi Makara-Wyuha Menurut Bambang Sulistyanto, strategi perang Jayakatwang itu kemudian terkenal dengan sebutan makara-wyuha . Maksudnya, serangan mendadak dengan membagi pasukan dari dua arah yang berlawanan dari utara dan selatan. “Pasukan menyerang dari utara sebagai siasat agar pasukan Singhasari keluar dari keraton dan mengerahkan seluruh kekuatannya,” jelas Bambang. “Padahal kekuatan penuh berada pada pasukan di sebelah selatan.” Epigraf Boechari dalam Melacak Sejarah Kuno Indonesia Lewat Prasasti, menjelaskan soal jalan yang ditempuh oleh pasukan Jayakatwang waktu menyerang Singhasari. Sumber-sumber sastra yakni Pararaton, Kidung Panji Wijayakrama, dan Kidung Harsawijaya, semua bercerita tentang bagaimana pasukan Jayakatwang menyerang dari dua jurusan. Pasukan dari utara berhenti di Memeling, lalu menjarah desa itu. Penjelasan yang lebih rinci dari Kidung Harsawijaya mengatakan bahwa setelah tujuh hari perjalanan, pasukan utara sampai ke Jurang Angsoka, daerah jajahan Singhasari. Sore harinya mereka tiba di Kali Turan. Di sini mereka berkemah. Baru keesokannya mereka menyerang Memeling. Sedangkan pasukan yang menyerang dari selatan, ketiga sumber mengatakan pasukan itu melewati Lawor dan Sridahabhawana. Dari sana langsung masuk ke kota Singhasari. Dalam Pararaton ditambahkan informasi bahwa sebelum sampai di Lawor, mereka melewati Pingiraksa. Menurut Boechari, masuk akal jika pasukan Jayakatwang menyerang dari Glang-Glang atau daerah Madiun sekarang. Jalur utara yang diambil, bisa dibayangkan kalau sekarang pasukan itu melewati Nganjuk, Kartosono, Jombang, Prigen, dan Lawang. Sementara yang dari selatan melalui Tulungagung, Blitar, Wlingi, dan Malang (Singhasari). Begitulah kehancuran Kertanagara dan kerajaannya, Singhasari. Kejatuhannya rupanya bukan disebabkan Kubilai Khan, kaisar Mongol penguasa Dinasti Yuan yang ambisinya telah membuat Kertanagara waspada dan bersiap sedia. Kekuasaan Kertanagara justru binasa gara-gara serangan tak terduga dari raja bawahan sekaligus besannya sendiri, Jayakatwang.
- A Private War, Perang Batin si Wartawati Perang
RUANG redaksi The Sunday Times di suatu pagi tahun 2001 ramai dengan rutinitas para awaknya. Suasana tersebut justru bikin koresponden perang Marie Colvin (diperankan Rosamund Pike) uring-uringan. Ia tak betah, sampai menyebutnya “Ruangan Horor”. Ketersiksaan Marie kian bertambah dengan transisi teknologi yang mulai marak dipakai para jurnalis saat itu. Marie yang masih gaptek merasa keteteran. Ia kadung terbiasa dengan alat perekam, pena, notes, dan telepon satelit untuk mendiktekan beritanya dari lapangan ketimbang membongkar-pasang sambungan internet ke laptopnya. Maka ketika bertemu editor kanal internasional, Sean Ryan (Tom Hollander), Marie memohon untuk kembali ke lapangan ketimbang di belakang meja redaksi. Marie bersikeras ingin terbang ke Sri Lanka lantaran di sana ada perang saudara antara milisi Macan Tamil dengan militer pemerintah yang sudah bertahun-tahun tak terliput media manapun. Namun sayangnya, setelah berhasil menemui pemimpin pemberontak Macan Tamil di sebuah desa di Vanni, Marie dan beberapa milisi pemberontak yang mengawalnya tepergok patroli pasukan pemerintah. Maria pun berinisiatif menunjukkan jati dirinya sebagai orang Amerika dan wartawan. Dalam momen itulah sebuah RPG (Rocket-Propelled Grenade) meledak di dekatnya hingga membuatnya tumbang, lalu ditawan pasukan pemerintah hingga berakhir di sebuah rumahsakit. Selain mengalami luka di dada, Marie kehilangan mata kirinya. Marie Colvin di Sri Lanka sebelum kehilangan mata kirinya (Aviron Pictures) Tetapi kejadian yang membuat Marie mengalami PTSD ( post-traumatic stress disorder ) itu baru sekadar pembuka drama biopik bertajuk A Private War yang disutradarai Matthew Heineman. Biopik yang merangkum 11 tahun terakhir (2001-2012) aktivitas jurnalistik Marie di sejumlah zona konflik itu diadaptasi dari artikel karya Marie Brenner yang dimuat Vanity Fair , 18 Juli 2012 bertajuk “Marie Colvin’s Private War”. Scene berganti ke adegan Marie sudah pulih dan sedang meyakinkan Ryan bahwa dia belum akan menanggalkan rompi wartawannya. Meski begitu, baru dua tahun kemudian ia bertugas lagi ke lapangan, tepatnya Irak, karena ia masih butuh waktu untuk mengatasi PTSD-nya yang membuatnya sering bermimpi buruk dan makin kecanduan alkohol. Meski dicemaskan Rita Williams (Nikki Amuka-Bird) sahabatnya dan David Irens (Greg Wise) mantan suaminya, Marie tetap mengepak alat perekam, pena, buku catatan, telepon satelit dan tak ketinggalan buku Face of War , kumpulan pengalaman wartawati perang Martha Gellhorn yang diperlakukannya sebagai jimat keberuntungan. Di markas pasukan koalisi di Irak, Marie ditandem dengan wartawan yunior Kate Richardson (Faye Marsay) dan bereuni dengan Norm Coburn (Corey Johnson), fotografer kenalan lamanya sejak konflik di Timor Timur. Kala para wartawan di- briefing tentara Amerika Serikat di markas militer itu, Marie juga bersua bekas perwira artileri Inggris yang beralih jadi fotografer lepas, Paul Conroy (Jamie Dornan). Saat Richardson dan Coburn digiring mengikuti militer Amerika, Marie mengajak Conroy untuk meliput cerita lain, sebuah kuburan massal rahasia di sebelah barat Baghdad. Keduanya pun menyelinap bersama Mourad (Fady Elsayed), wartawan Irak yang merangkap penerjemah, untuk melacak kuburan massal itu dekat Danau Habbaniyah. Para janda korban pembantaian rezim Saddam Hussein yang diwawancara Marie Colvin (Aviron Pictures) Benar saja. Saat operator ekskavator sewaan mulai menguruk lokasi sesuai informasi yang didapat Marie, ditemukan tulang-belulang yang masih terbungkus pakaian yang membusuk. Mereka adalah 600 tahanan politik yang dibantai rezmi Saddam Hussein sejak 1991 dan baru terungkap pada 2003 itu oleh Marie. Saking herannya, Richardson menghampiri Marie dan bertanya mengapa ia sampai nekat melakukan jurnalisme investigatif itu di tengah situasi yang membahayakan. “Karena yang kita lakukan adalah draf kasar dari sebuah sejarah. Kau harus bisa menemukan kebenaran dari apa yang kita lihat. Jika kau kehilangan itu, maka kau tak membantu siapapun di sini,” kata Marie. Setelah ke Irak, Marie absen lama dari lapangan. Selain terus mengalami mimpi buruk karena PTSD-nya, dia mulai sering berpesta. Di satu pesta yang diadakan temannya, ia bertemu pebisnis berstatus duda, Tony Shaw (Stanley Tucci). Berbeda dari mantan suaminya, Shaw menganggap tempat Marie adalah di lapangan, bukan di balik meja redaksi. Marie akhirnya kembali ke zona konflik. Kali ini ke Libya di masa “Arab Spring” (2011). Ia bahkan bisa kembali mewawancarai langsung Muammar Gaddafi sebelum pemimpin flamboyan itu ditemukan tewas di pipa saluran limbah. Tetapi di Libya itu juga mentalnya kembali terpukul usai melihat kawan lamanya, Norm Coburn, tewas. Marie Colvin sempat mewawancarai Muammar Gaddafi sebelum sang diktator tewas (Aviron Pictures) Perang mulai membuat batinnya berkecamuk. Di satu sisi dia ingin terus memberitakan kebenaran dari zona konflik demi mata dunia bisa terbuka. Di sisi lain, ia makin menderita kecanduan alkohol dan rokok dan dihantui mimpi buruk akibat PTSD. Ia selalu bermimpi melihat seorang gadis Palestina berusia 12 tahun, Safa Abu Seif, yang tampak cantik tapi berlumuran darah. Bagaimana ia tetap bisa bertugas dalam kondisi trauma dan di bawah dentuman roket dan meriam serta desingan peluru di Homs (Suriah) pada Februari 2012 bersama Conroy? Saksikan kelanjutan A Private War di aplikasi daring Mola TV . Dramatisasi dan Fakta Historis Music scoring dipadu efek suara desingan peluru dan gelegar meriam cukup berhasil mengiringi adegan-adegan menegangkan, trauma, dan teror yang mendominasi petualangan Marie di berbagai medan konflik. Perpaduan itu cukup mengaduk-aduk perasaan penonton, bahkan serasa tersayat ketika diperlihatkan suasana horor perang yang dialami karakter Marie dan Conroy melalui kameranya. Maka ketika dirilis pada 2 November 2018, biopik ini menuai respon positif para kritikus film. Kritikus Neil Pollack sampai merekomendasikan A Private War diputar di kampus-kampus yang punya jurusan jurnalistik. Pasalnya sutradara cukup berhasil menggambarkan bagaimana para jurnalis di garis depan acap bertaruh nyawa demi memberitakan kebenaran di samping menunjukkan betapa kehidupan mereka juga selalu diteror trauma saat kembali ke kehidupan normal. “Sebagaimana yang digambarkan dengan terang dalam film, Colvin menjadi salah satu orang yang paling kacau hidupnya akibat jalan hidup yang ia pilih sendiri. Colvin melaporkan kebenaran sampai ia terbunuh. A Private War mestinya bisa diputar dan ditonton minimal sekali di sekolah-sekolah jurnalisme,” tulis Pollack di kolom Book and Film Globe , 16 November 2018. Namun, seyogyanya penonton mesti bisa menempatkan diri agar tak terjebak ke dalam perasaannya. Pasalnya, biopik ini dikemas dalam drama sehingga sutradara tak sepenuhnya menggambarkan kisah Marie sesuai fakta. Sosok Kate Richardson dalam film, misalnya, itu adalah karakter gabungan para wartawati muda yang mengagumi dan pernah dibimbing Marie. Pun tokoh Norm Coburn, merupakan karakter gabungan para kolega Marie di lapangan yang menjalin persahabatan erat meski kantor berita mereka bersaingan. “Kami merasa perlu memfiksikan karakter itu demi kebutuhan cerita dan menjaga sensitivitas bagi mereka yang masih berkabung akan kematian Colvin. Ada beberapa karakter juga yang memaksa kami untuk menjadikannya sebagai satu karakter gabungan. Tanpa mengurangi rasa hormat orang-orang yang pernah terlibat, kami juga mesti melakukannya demi durasi dan membuatnya jadi lebih masuk akal,” ujar Heineman, disitat Time , 5 November 2018. Sutradara Matthew Heineman (kanan) di lokasi syuting A Private War (Aviron Pictures) Heineman mencoba memberi gambaran cukup detail lewat pribadi Marie. Hal-hal seperti pakaian dalam mahal La Perla yang acap dikenakan di balik kemeja dan rompi wartawan, atau mantel nilon merk Prada yang dikenakan Marie demi menyamarkan diri di Homs karena pasukan pemerintah Suriah menargetkan wartawan, ditampilkan Heineman dengan perfect . Namun, Heineman justru “terpeleset” dalam beberapa hal fundamental tentang Marie karena melenceng dari fakta historisnya. Soal pertemuan Marie dengan Conroy, contohnya. Di film, Marie bertemu Conroy saat tiba di Irak pada 2003 dan sejak saat itu Conroy selalu mendampingi Marie di Irak, Libya, hingga Suriah. Faktanya, setelah Marie dan Conroy bertemu di Irak di tahun itu, keduanya hanya beberapa kali bertemu dan sejak saat itu tak pernah lagi bertatap muka hingga tujuh tahun kemudian. Dalam artikelnya di Vanity Fair yang jadi dasar adaptasi film ini, Brenner menceritakan bahwa Marie mendengar nama Conroy karena tertarik akan kelakuan Conroy membuat rakit demi bisa menembus perbatasan Suriah-Irak. “Selama berhari-hari para jurnalis berkemah, tidur di kursi plastik di kantor konsul terdekat di perbatasan. Itu pertamakali saya melihat sosoknya. Saya melihat dia masuk ke sebuah ruangan tapi kemudian berbalik dan keluar dari pintu,” kata Conroy kepada Brenner. Marie Colvin dan Paul Conroy digambarkan sudah bertandem sejak Perang Irak (Aviron Pictures) Saat itu, medio Maret 2003, banyak jurnalis berusaha mendapatkan visa untuk bisa masuk ke Irak demi meliput Perang Irak (2003-2011). Saking tak sabaran menunggu, Conroy bersama seorang stringer dari The New York Times membuat rakit di kamar hotelnya, lalu meluncurkannya ke sungai dekat hotel. Namun, mereka tepergok tentara Suriah dan baru dilepaskan setelah ditahan beberapa jam. “Colvin yang mendengar cerita itu lalu mencari saya. ‘Kau membuat sebuah perahu? Saya suka itu! Semua orang di sini terlihat seperti mayat tak berdaya. Mari berlayar!’” kata Conroy mengenang obrolan pertamanya dengan Marie. Setelah itu mereka hanya melanjutkan obrolan sembari menenggak alkohol di bar hotel dan baru bertemu lagi tujuh tahun kemudian. Baru pada 2011 Marie dan Conroy bekerjasama sebagai koresponden-fotografer lepas meliput Arab Spring di Misrata, Libya. Sosok asli Paul Conroy (kiri) dan Marie Catharine Colvin semasa bertandem sejak di Libya ( rorypecktrust.org ) Fakta lain yang juga melenceng adalah kebiasaan merokok Marie. Sampai menjalani tugas terakhir pada masa hidupnya di Homs pada 2012, Marie digambarkan masih kerap menyulut rokoknya sembari menulis berita. Padahal, faktanya Conroy mengklaim bahwa Marie sudah berhenti merokok penuh saat masih di Libya setahun sebelumnya. “Di Libya kami terpaksa diet. Tidak ada roti, tidak ada minuman keras. Terkadang hanya ada kurma kering dan tuna kaleng. Lebih sering Marie bertahan dengan (keripik) pringles, air mineral, dan pernah satu kali dia mendapatkan telur dari toko. Marie benar-benar berhenti merokok. Dia sudah kehilangan semua giginya. Setiap kali saya mau menyalakan rokok, dia akan bilang: ‘Hembuskan asapnya untuk aku, Paul. Aku sangat merindukannya’,” imbuh Conroy. Trauma Gadis Palestina Kisah Marie sedikit-banyak menyerupai kisah idolanya, Martha Gellhorn. Di mana ada perang, di situlah Gellhorn berada. Itu membuat Marie selalu membawa dan menjaga buku Face of War karya Gellhorn di setiap tugas lapangannya. Marie mengikuti jejaknya dengan jadi koresponden konflik di Timur Tengah pada 1986 serta Chechnya, Kosovo, Sierra Leone, Zimbabwe, dan Timor Timur pada dekade 1990-an. Namun, pengalaman-pengalamannya itu hanya disinggung sedikit dalam film A Private War. Pasalnya, sang sutradara ingin memfokuskan pada 11 tahun terakhir Marie saja, dari Sri Lanka hingga Suriah. Tetapi ada satu trauma yang senantiasa ditampilkan Heineman, yakni Marie dalam mimpi buruknya selalu dihantui ingatan akan kematian seorang gadis Palestina. Kendati dalam film identitas gadis itu diganti dengan dinamai Safa Abu Seif dan berusia 12 tahun, Marie melihatnya sendiri ketika nyawanya melayang di kamp pengungsian di Beirut, Lebanon. “Safa Abu Seif, gadis Palestina 12 tahun, tewas dengan timah panas menembus jantungnya. Aku menyaksikan bagaimana orangtuanya terus memeluk jasadnya yang berlumuran darah. Dia mengenakan anting mutiara. Mungkin dia mengira bisa terlihat cantik hari itu,” kata Marie dalam satu adegan. Marie Colvin memberitakan kebenaran sampai akhir hayatnya ( mariecolvin.org ) Gadis bernama asli Haji Achmed Ali dan berusia 22 tahun itu tewas dalam sebuah baku tembak di Kamp Pengungsi Bourj el-Baranjneh, Beirut Barat pada 1987. Marie melihatnya saat bersama fotografer Tom Stoddart meliput Perang Saudara Lebanon (1975-1990) untuk United Press International mulai medio April 1987. Menurut Lindsey Hilsum dalam In Extremis: The Life of War Correspondent Marie Colvin , momen getir itu terjadi pada pagi 5 April 1987 kala Achmed Ali membeli bahan makanan dan persediaan air minum untuk keluarganya di luar kamp. Saat itu sedang terjadi baku tembak antara milisi Amal dengan PLO. Akibatnya, Achmed Ali harus berlari menghindari desingan peluru untuk bisa kembali ke kamp dengan menenteng belanjaannya. Nahas, dua butir peluru penembak runduk milisi Amal menembus kepala dan dadanya menjelang gerbang kamp. Saat Achmed Ali tumbang, nyaris tiada seorangpun yang berani mengevakuasi tubuhnya yang berlumur darah dan debu. “Tetapi ada dua perempuan pemberani yang berlarian membawa tandu sambil melindungi diri dari tembakan untuk mengambil (tubuh) Ali dari tanah dan membawanya ke tempat aman. Dia (Ali) sempat terjatuh dari tandu dan kemudian dibawa ke kamp dengan diseret. Mereka adalah perempuan yang jengah dengan para lelaki penakut,” ujar Marie dalam laporannya yang dikutip Hilsum. Ali langsung dibawa ke klinik di dalam kamp namun nyawanya tak terselamatkan. Marie menyaksikan bagaimana orangtuanya sedih saat jasad Ali dimandikan sebelum dimakamkan. “Walau rambutnya masih berlumur darah, Haji Achmed Ali kini terlihat lebih muda. Ia sedang dimandikan. Tubuhnya begitu lembut dan cantik. Dia mengenakan sepasang anting emas kecil. Tampak seseorang mencoba membuka kepalan tangannya yang menggenggam butiran debu berlumur darah, sisa rasa sakit yang jadi saksi bisu menjelang ajalnya,” sambung Marie. Bersama Marie, Stoddart turut menjadi saksi. Lensa kameranya bahkan mengabadikan prosesi sejak Achmed Ali masih coba diselamatkan tim dokter sampai dinyatakan tewas. Film hasil rekaman itu disimpan Marie dalam sebuah kaleng yang disembunyikannya di balik pakaian dalamnya bersama dengan surat Dr. Pauline Cutting, dokter Inggris yang ingin minta ratu Inggris ikut bertindak. Film dan surat itu lantas dibawa Marie dan Stoddart keluar Beirut menggunakan feri menuju Siprus. Baru ketika di Siprus, ia mengirim berita via faksimil dan rekamannya dikirimkan kemudian. Kisah itu lantas dijadikan headline di suratkabar The Sunday Times dengan tajuk “Snipers Stalk Palestinian Women on the Path of Death”. Deskripsi Film: Judul: A Private War | Sutradara: Matthew Heineman | Produser: Matthew Heineman, Matthew George, Charlize Theron, Marissa McMahon, Basil Iwanyk | Pemain: Rosamund Pike, Jamie Dornan, Tom Hollander, Stanley Tucci, Faye Marsay, Corey Johnson, Nikki Amuka-Bird, Greg Wise | Produksi: Acacia Filmed Entertainment, Thunder Road Pictures, Denver and Delilah Productions | Distributor: Aviron Pictures | Genre: Drama Biopik | Durasi: 110 menit | Rilis: 2 November 2018, Mola TV
- Bung Karno Pecinta Sambal Pecel
Mungkin tak ada makanan yang paling disukai di dunia ini oleh Presiden Sukarno selain sambal pecel. Kemana pun Si Bung Besar pergi, hampir selalu dia meminta para pelayannya menyediakan saus kacang tanah itu. Termasuk ketika dia sedang melakukan kunjungan ke luar negeri. Kolonel (Purn) Bambang Widjanarko, salah seorang mantan ajudan Bung Karno (1960-1965), menjadi saksi betapa gandrungnya sang presiden akan pecel. Bahkan jika di luar negeri tak tersedia sayuran khusus untuk pecel seperti daun papaya muda, tauge, daun kenikir dan kacang panjang, dia cukup puas hanya dengan menikmati sambal pecelnya saja (yang selalu dibawa kemanapun pergi). “Biasanya Bapak mengoleskannya ke roti sebagai selai pengganti keju atau mentega,” ungkap Bambang dalam bukunya Sewindu Dekat Bung Karno . Kesaksian Bambang dikuatkan oleh Muslih bin Risan. Lelaki berusia 73 tahun itu menyatakan Bung Karno akan “blingsatan” jika di meja makannya tidak tersediamenu pecel sayur atau sambal pecel. “Kalau enggak ada, pasti Bapak menanyakan,” uja bekas pelayan pribadi keluarga Sukarno tersebut. Sambal pecel selalu menemani santap siang Sukarno, biasanya disajikan bersama lele plus lalapan daun singkong dan daun pepaya. Sukarno akan mencomot langsung dari cobekan dan menyantapnya dengan tangan zonder sendok dan garpu. “Kalau lagi makan pecel lele, Bapak seperti ‘tidak ingat sekitarnya’,” kata Muslih sambil terkekeh. Dikisahkan jika setiap mudik ke Blitar, Sukarno tak mau melewatkan kesempatan menikmati pecel Blitar yang terkenal itu. Dia akan mencari Mbok Rah, penjual nasi pecel keliling favoritnya, untuk melahap 2-3 pincuk pecel di pagi hari. Menurut Guruh Sukarno dalam Bung Karno & Kesayangannya , Sukarno jadi pelanggan Mbok Rah sejak 1950. “Wah kalau Bapak sedang menikmati (pecel sayur) , walaupun yang namanya revolusi Indonesia berhenti, pasti Bapak tidak akan ambil pusing!” ungkap Guruh. Pulang ke Jakarta, bumbu pecel Mbok Rah dibawanya serta. Bumbu itu pula yang menemani Sukarno dalam lawatan ke mancanegara. Terutama jika tak satu pun makanan di suatu negara cocok di lidahnya. Misalnya di Mongolia di mana semua makanan selalu dicampur susu kuda. “Di sana setiap harinya bapak selalu makan roti dengan sambal pecel saja. Kadang-kadang juga dengan kecap,” ujar Guruh. Kalau sedang berkunjung ke negara-negara Eropa dan Amerika Serikat, Sukarno biasanya minta disediakan salad segar tanpa saus kepada manajemen hotel tempat menginap atau kepala rumah tangga istana di sana. Sebagai pengganti sausnya, Sukarno mencairkan sambal pecel yang dibawanya. Jadilah Indonesia salad yang lezat dan siap disantap. Selain Mbok Rah, Sukarno juga keranjingan pecel Mbok Pin alias Rukiyem. Setiap Mbok Pin datang, wajah Sukarno akan terlihat sumringah lantas berjongkok sembari menunjuk daun-daun yang digemarinya. “Saya sampai hafal berapa banyak harus memberi sambalnya dan daun apa saja yang menjadi kesukaa Bung Karno,” kata Mbok Pin kepada Anjar Any, penulis buku Menyingkap Tabir Bung Karno . Sadar suaminya penggemar berat pecel, istri-istri Sukarno selalu membuat dan menyediakan bumbu pecel di rumah. Dalam Suka Duka Fatmawati Sukarno karya Kadjat Adra’i, Fatmawati yang orang Sumatra juga berupaya keras mempelajari cara membuat sambal pecel. “Belajarnya bisa dari siapa saja, misalnya dari bakul pecel ketika masih di Bengkulu,” ungkap Fatmawati. Muslih ingat kalau sepulang dari Istana menuju Kebayoran (rumah Fatmawati), pas di Pasar Tenabang, Fatmawati kerap menyuruh Dalimin Ronoatmodjo (salah satu anggota pengawal keluarga Presiden Sukarno) untuk membeli cabe rawit dan terasi buat bikin sambal pecel. Selain Fatmawati, istri yang lain yakni Hartini juga belajar membuat sekaligus menikmatinya demi memenangi perhatian sang suami. “Walaupun sebenarnya Hartini kurang menyukai makanan itu,” ungkap Anjar Any. Kalau sudah ketemu makanan kesukaannya itu , Sukarno dengan lahap akan menghabiskannya tanpa menoleh kanan-kiri. “Ia bersantap seperti dikejar setan,” ungkap Howard P. Jones, eks Duta Besar Amerika Serikat di Indonesia seperti dikutip Anjar Any.
- Ketika Para Perwira Mengkritik Penampilan Sukarno
Jenderal Abdul Haris Nasution punya kesan tersendiri terhadap penampilan Presiden Sukarno. Menurutnya, Bung Karno senang terlihat modis dan perlente. Hingga sekali waktu, Nasution memberanikan diri menanyakan sesuatu yang sifatnya agak pribadi. “Mengapa selalu pakai dasi, mengapa tidak dengan kemeja kerja saja?” tanya Nasution kepada Bung Karno. “Ah, nanti saya masuk angin,” jawab Bung Karno sekedarnya seperti dikisahkan Nasution dalam memoar Memenuhi Panggilan Tugas Jilid 4: Masa Pancaroba Kedua . Sudah jadi rahasia umum kalau Sukarno memang gemar bersolek. Dari atas ke bawah, Sukarno piawai memadukan kombinasi busana rancangannya sendiri. Seragam kepresidenan bergaya militer lengkap dengan atribut acap kali membalut tubuhnya. Kemudian, Sukarno suka pakai peci khas yang memahkotai kepalanya. Tidak luput, kaca mata hitam dan tongkat komando sebagai aksesoris. Kepiawaian Bung Karno dalam mengenakan itu semua diakui sendiri oleh putra sulungnya, Guntur Sukarnaputra. “Dari sekian banyak kepala negara atau kepala pemerintahan,” kata Guntur dalam Bung Karno dan Kesayangannya , “Bapak terkenal sebagai salah satunya yang berpakaian secara dandy (rapih) dan mentereng.” Meski demikian, perkara gaya berpakaian Sukarno menjadi sorotan bagi sejumlah perwira militer. Soalnya, Sukarno yang orang sipil itu suka tampil dengan uniform militer ke mana-mana. Nasution mengatakan bahwa Sukarno amat teliti dalam berpakaian. Penampilan Nasution sendiri bahkan tidak luput dari koreksi Sukarno. “Saya berkali-kali diingatkan karena kurang teliti berpakaian, bahwa taille baju saya tidak tepat dan sebagainya,” kenang Nasution. Kritik yang tajam pernah disampaikan Brigjen Surachman, panglima Divisi Brawijaya. Masih dalam tuturan Nasution, ketika Sukarno berkunjung ke Jawa Timur, Surachman turut menyambut di lapangan terbang. Di sela-sela sambutan itu, Surachman menyisipkan pesan langsung kepada Sukarno. Begini kata Surachman, “Rakyat akan lebih senang melihat Presiden berpakaian sederhana, daripada dalam seragam militer gemerlapan.” Sontak saja perkataan itu bikin Sukarno marah. Kejadian itu membuat Sukarno tidak mau bicara. Surachman pun dicuekin. Masukan yang paling menohok bagi Sukarno barangkali datang dari Jenderal Mayor Tahi Bonar Simatupang. Ketika menjabat Kepala Staf Angkatan Perang (KSAP), Simatupang pernah terang-terangan meminta Sukarno agar jangan lagi memakai seragam militer. Dalam Percakapan dengan Dr. T.B. Simatupang , Simatupang mengenang “kelancangannya” kala menasihati Bung Karno itu terjadi saat dirinya masih perwira muda berusia 29 atau 30 tahun. “Bung Karno”, kata Simatupang, “Saya sebagai Kepala Staf Angkatan Perang memakai uniform dan memberikan hormat kepada Bung Karno yang tidak memakai uniform , sehingga dengan demikian masyarakat melihat bukan yang memakai uniform itu yang tinggi, tapi yang tidak pakai uniform .” Menurut Simatupang, presiden dapat memberikan contoh yang sangat baik dengan mengenakan pakaian sipil pada upacara militer. Dengan begitu, Sukarno memperoleh penghormatan sebagai panglima tertinggi bukan karena uniform- melainkan karena yang bersangkutan adalah kepala negara. Alih-alih menerima saran, Sukarno malah tersinggung dengan ucapan Simatupang. Namun, dia hanya memendam jengkel tanpa mau membicarakannya. Simatupang kemudian mendengar dari orang lain betapa marahnya Sukarno sehingga beredar rumor kalau Simatupang melarang Sukarno memakai uniform . Bagi Sukarno, seperti diungkap Walentina Waluyanti de Jong, gaya dan penampilannya lebih pada soal insting, selera, kesadaran, dan pemahamannya tentang estetika. Jauh sebelum menjadi pemimpin bangsa, penampilannya selalu terjaga apik. Kecenderungan Sukarno untuk selalu tampil representatif memang sudah jadi bakat alamiah. “Pada zaman Jepang yang serba susah pun, tetap saja Sukarno tampil flamboyan bak model saat tampil pada sampul majalah Djawa Baroe ,” tulis Walentina dalam Tembak Bung Karno Rugi 30 Sen . Soal penampilan, Sukarno sendiri dalam otobiografinya yang disusun Cindy Adams Bung Karno: Penyambung Lidah Rakyat mengatakan seragam dan peci hitam adalah tanda pengenal dirinya. Menurutnya itu adalah pakaian yang patut dikenakan bagi presiden selaku panglima tertinggi. Penampilan dengan uniform militer itu juga jadi suatu tanda yang dapat mengangkat kepercayaan diri, tidak hanya bagi diri Sukarno tetapi juga untuk rakyatnya. “Setelah kemerdekaan Indonesia aku proklamirkan, aku harus bisa memberikan kepada mereka sebuah citra, suatu kebanggaan. Maka aku selalu memakai seragam,” kata Sukarno kepada Cindy Adams dalam My Friend the Dictator .





















