top of page

Hasil pencarian

Cari di situs ini

10054 hasil ditemukan dengan pencarian kosong

  • Aksi Kapal Selam RI di Palagan Irian

    PERTENGAHAN 1962. Informasi intelijen itu bertiup kencang di kalangan para pejabat militer Republik Indonesia (RI). Sekira Juni, diperkirakan Kapal Induk Karel Doorman milik Angkatan Laut Kerajaan Belanda sudah memasuki perairan Irian. Misi mereka tentu saja untuk memperkuat pertahanan laut di wilayah Hollandia Barat, sebutan orang-orang Belanda untuk Irian Barat (sekarang Papua). Rumor itu langsung direspon secara cepat oleh Presiden Sukarno. Dia lantas memerintahkan jajaran angkatan bersenjata-nya (terutama ALRI) untuk menambah pembelian kapal selam kelas Whiskey dari Uni Sovyet: dari 6 menjadi 12. Permintaan itu langsung diamini pihak negara Beruang Merah. Maka dikirimlah kapal selam yang memiliki torpedo otomatis 533 mm yang merupakan senjata bawah air tercanggih di zamannya. Masalah muncul ketika ALRI tidak memiliki kru lagi untuk mengisi 6 kapal selam tambahan itu. Maka untuk mengantisipasi situasi itu, pemerintah RI “mengundang” ratusan kru kapal selam Angkatan Laut Uni Soviet untuk menjadi sukarelawan. Lagi-lagi Uni Sovyet mengabulkan permintaan RI tersebut. “Yang saya ingat, ada sekitar 300-an anggota Angkatan Laut Uni Sovyet hadir di Surabaya guna memperkuat 6 kapal selam yang belum memiliki kru Indonesia itu,” ungkap Laksda TNI (Purn) I Nyoman Suharta, eks awak kapal selam Korps Hiu Kencana angkatan pertama tersebut. . Menurut Suharta, semua anggota Angkatan Laut Uni Sovyet itu praktis melakukan aktifitas di Indonesia atas dasar sukarela. Maka dalam kegiatan sehari-hari, mereka menjalankan tugas tanpa menyandang jabatan resmi dan pangkat sama sekali. Untuk menghadapi manuver Belanda itu, ALRI kemudian menugaskan 6 kapal selam barunya untuk melakukan patroli sekaligus psywar (perang urat syaraf) di sepanjang pantai utara Irian Barat. Nama kapal selam kelas Whiskey itu masing-masing RI Widjajadanu, RI Hendradjala, RI Bramastra, RI Pasopati, RI Tjudamani dan RI Alugoro. Selain itu, 6 kapal selam tersebut memiliki tugas lain: “…Mengamankan operasi ampibi yang akan dilakukan oleh kesatuan-kesatuan (yang tergabung) dalam Operasi Djajawidjaja I, dari bahaya serangan mendadak bala bantuan asing yang datang dari utara…Mencegat dan menghancurkan sama sekali kapal-kapal perang Belanda yang akan melarikan diri ke utara,” demikian menurut buku Sewindu Komando Djenis Kapal Selam, 12 September 1967 yang diterbitkan oleh Seksi Buku Panitia HUT Sewindu Komando Djenis Kapal Selam. Tersebutlah Letnan Satu (P) F.X. Soeyatno. Dia merupakan salah satu alumni Akademi Angkatan Laut (AAL) angkatan ke-9 yang ditempatkan dalam kapal selam RI Tjudamani bersama para awak dari Rusia. Kendati berbeda bangsa dan negara, hubungan antara awak Rusia dengan awak Indonesia berjalan lancar. “Jauh hari kami memang sudah diajarkan bahasa dan budaya Rusia sehinga faktor perbedaan bangsa itu tidak menjadi masalah saat kami bekerjasama,” ungkap anggota ALRI yang mengakhiri karirnya sebagai kolonel itu. Kendati tidak sempat melakukan kontak senjata dengan kekuatan laut Belanda, namun tak urung kehadiran kapal-kapal selam ALRI itu membuat keder sang musuh. Terlebih, “monster-monster perang bawah laut” itu sering sengaja memunculkan diri di wilayah-wilayah Belanda. “Perang urat syaraf yang kami lakukan memang bisa dikatakan berhasil,” ujar Soeyatno. Satu lagi keberhasilan yang dituai armada kapal selam ALRI di Irian Barat adalah saat mereka melaksanakan Operasi Tjakra II (15—26 Agustus 1962). Operasi militer itu memiliki misi utama mendaratkan 3 tim khusus pasukan Resimen Para Komando Angkatan Darat (RPKAD) di Tanah Merah, suatu pantai dekat lapangan terbang Sentari. Para prajurit komando Angkatan Darat RI itu ditugaskan untuk melakukan sabotase terhadap obyek-obyek vital musuh. Mereka pun diharapkan bisa menyiapkan kolone ke-5, agar pada waktu pendaratan besar-besaran militer Indonesia nanti, rakyat setempat bisa ikut angkat senjata melawan musuh. “Tim khusus RPKAD untuk tugas sabotase akan didaratkan oleh RI Trisula dan RI Nagarangsang, sedang tim khusus RPKAD untuk tugas (membentuk) pemerintahan sipil (akan didaratkan) oleh RI Tjandrasa,” demikian menurut buku Sewindu Komando Djenis Kapal Selam. Dari ketiga kapal selam itu, hanya RI Tjandrasa yang berhasil mendaratkan 15 anggota RPKAD dan seorang sosiolog bernama Wijoso. Sedangkan RI Trisula dan RI Nagarangsang batal mendaratkan tim sabotase karena kedudukan mereka kadung diketahui oleh pihak militer Belanda. “Trisula dan Nagarangsang bahkan katanya sempat ditembaki secara gencar oleh pesawat Neptune dan kapal perusak Belanda,” ungkap Nyoman Suharta. Lantas bagaimana bisa operasi rahasia itu terketahui oleh pihak Belanda? Kapten (P) Assyr Mochtar, salah satu perwira di RI Nagarangsang, menduga itu terjadi karena pihak Belanda berhasil menyadap percakapan radio singkat yang dilakukan oleh atasannya. “Kalau memang mau operasi, kita harus ketat dengan radio silence . Tidak ada alasan untuk bicara dengan siapa pun,” ujarnya seperti dikutip Atmadji Sumarkidjo dalam bukunya, Mission Accomplished: Misi Pendaratan Pasukan Khusus oleh Kapal Selam Tjandrasa.

  • Yang Terkubur Amukan Merapi

    HARI itu, tahun 1966, Arjo Wiyono pergi ke sawah seperti biasanya dan mengolah tanah milik Karyoinangun. Saat tengah memacul tanah, mata cangkulnya membentur batu. Ia tak mengira kalau itu batu berukir dan bagian dari reruntuhan sebuah kompleks candi. Penemuan yang tak disangka-sangka di Dusun Sambisari, Desa Purwomartani, Kalasan, Sleman, Yogyakarta itu pun segera ditindaklanjuti oleh Kantor Cabang I Lembaga Peninggalan Purbakala Nasional (LP2N) di Prambanan. Penggalian arkeologi menyusul kemudian dengan mengajak mahasiswa arkeologi dari Fakultas Sastra dan Kebudayaan Universitas Gadjah Mada. Pada 1970-an, penggalian arkeologi dilakukan kembali di situs yang kemudian dinamai Candi Sambisari. Terungkaplah kalau kompleks candi ini terdiri dari candi utama dan tiga candi pendamping ( perwara ). Candi-candi itu telah runtuh dan terkubur sedalam 6,5 m di bawah permukaan tanah. Penggalian selanjutnya, pada 1980-an, menampakkan pagar keliling halaman pusat. Terdapat juga teras dengan tangga naik di setiap sisinya. Selama ekskavasi dan pemugaran Candi Sambisari, ditemukan beberapa benda seperti keramik asing, gerabah, tulang, benda-benda dari perunggu, arca perempuan dari batu andesit, arca Bodhisatwa dari perunggu, lempengan emas bertulisan, serta yoni. Didapati pula kalau kawasan Candi Sambisari terdiri atas tiga halaman bertingkat yang masing-masing dikelilingi tembok. Candinya ada di halaman ketiga, yang merupakan halaman tertinggi. Candi induknya berisi lingga-yoni . “Ukurannya lingga-yoni yang besar tak sebanding dengan ukuran ruang candinya,” kata arkeolog Edi Sedyawati dalam Candi Indonesia Seri Jawa. Masing-masing ketiga dinding candi utamanya berisi arca. Arca Durga Mahisasuramardhini mengisi relung sebelah utara, Ganesha di timur, dan Agastya di selatan. Keberadaan lingga dan yoni ,juga arca-arca di candi itu menunjukkan bahwa Candi Sambisari berlatar Hindu, khususnya aliran Siwa. Lingga merupakan simbol Dewa Siwa. Sementara yoni melambangkan parwati ,pasangan Siwa. Di luar tubuh candi utama, ada lantai selasar yang dibatasi pagar. Pada lantai selasar terdapat 12 umpak, delapan bulat, dan empat persegi. “Umpak-umpak itu diperkirakan merupakan umpak tiang kayu sebagai penyangga konstruksi atap yang terbuat dari kayu,” jelas Edi. Ketiga candi perwara hanya tersisa bagian kaki dan pagar langkan (tembok penutup lorong yang dibangun di sekeliling candi). Ketiganya berderet di depan candi induk. Kompleks candi dibatasi tembok keliling. Tiap sisinya terdapat sebuah gapura. Candi ini memiliki empat gapura untuk masuk ke halaman candi. Namun orang hanya bisa melalui gapura di sisi barat. Sementara tiga gapura lainnya ditutup susunan batu. Penyelidikan lebih lanjut secara geologis diketahui kalau Candi Sambisari selama ini tersembunyi di bawah timbunan material muntahan Gunung Merapi. Dari Masa Klasik Tua Candi Sambisari dibangun pada era kekuasaan Mataram Kuno di Jawa bagian tengah. Namun, kapan pastinya dan siapa pembangunnya, belum ada data prasasti yang bisa menjawab. Waktu pembangunan Candi Sambisari bisa diperkirakan dengan melihat bentuk dan gaya bangunannya. Ottyawati dalam tugas akhirnya di arkeologi Universitas Indonesia tahun 1981 berjudul “Candi Sambisari” menjelaskan bahwa bentuk kaki candi yang berupa susunan batu polos tanpa hiasan mirip dengan Candi Gunung Wukir, Candi Badut, dan Candi Kalasan yang berasal dari abad ke-8 dan tergolong jenis candi tua. Sementara dari ragam hiasnya mirip candi-candi dari abad ke-9, yakni Candi Plaosan dan Candi Prambanan. Inskripsi pada keping emas di dalam kotak pripih juga bisa dijadikan acuan. Kotak pripih Candi Sambisari ditemukan di bawah batu pipih di lorong candi induk. Keping emas itu bertuliskan mantra om siwa sthana , yang diperkirakan berasal dari awal abad ke-9. “Kemungkinan Candi Sambisari berasal dari abad ke-8 dan diakhiri pembangunannya pada permulaan abad ke-9,” kata Ottyawati. Dalam mendirikan candi, sang arsitek biasanya punya desain awal yang sesuai dengan ketentuan. Namun rupanya terjadi perombakan bentuk rancangan yang dipaksakan dalam kasus Candi Sambisari. Dua gaya berbeda ditunjukkan pada arca-arca di Candi Sambisari. Arca Ganesha dan Mahakala dibuat dalam bentuk agak gemuk dan pahatan yang halus. Adapun arca Durga, Agastya, dan Nandiswara mempunyai bentuk lebih ramping, dibuat terbuat bahan yang mudah rusak, dan dengan pahatan yang kasar. “Apa yang menyebabkan adanya paksaan dalam perombakan arsitektur candi masih menjadi tanda tanya,” kata Ottyawati. Candi Sambisari pun agaknya belum selesai dibangun ketika ditinggalkan. Ada beberapa hiasan belum selesai diukir. Ditemukan juga batu-batu pipih yang belum selesai dibentuk menjadi bundar. Siapa yang punya proyek membangun Candi Sambisari? Soediman dalam “Candi Sambisari dan Masalah-masalahnya” yang dibahas dalam Pertemuan Ilmiah Arkeologi di Cibulan pada 1977 menyebut kemungkinan Rakai Garung. Dia berasal dari wangsa Sanjaya dan memerintah Kerajaan Mataram Kuno. Pembangunan Candi Sambisari tak bisa dilepaskan dari perkembangan politik kala itu. Selama permulaan abad ke-9, wangsa Sailendra berkuasa di daerah Jawa bagian tengah-selatan. Maka, yang dibangun pun kebanyakan candi Buddha seperti Kalasan, Sari, Lumbung, dan Sewu. Sekira tahun 832, terjadi pergantian kekuasaan. Hal ini ditandai dengan terbitnya Prasasti Gandasuli dari 832 M oleh Dang Karayan Patapan Pu Plar, yang diidentifikasi sebagai Rakai Garung. Terbitnya prasasti itu sekaligus menjadi proklamasi kekuasaan dan kedaulatan keturunan Sanjaya. Sejak inilah dibangun candi-candi beragama Siwa, seperti Candi Sambisari dan kompleks Candi Prambanan.   Diamuk Merapi Riwayat Candi Sambisari memang belum begitu jelas. Kisahnya seakan terkubur bersama bangunannya selama berabad-abad. Studi geografi modern kemudian menemukan bahwa materi erupsi Gunung Merapi sempat membuat candi ini terpendam. Di masa lalu Gunung Merapi sering erupsi. Ini menjadi berkah, karena berkat itu wilayah di antara lereng Gunung Merapi di utara, pegunungan kapur di selatan, lembang Sungai Bengawan Solo di timur dan Sungai Progo di barat menjadi dataran vulkanik yang subur. Tak heran kawasan ini pun dipilih sebagai lokasi pembangunan candi-candi Hindu dan Buddha, termasuk Candi Sambisari. Namun di balik berkahnya, bencana pun kerap mengancam. Letusan Merapi seringkali membuat daerah di sekelilingnya dilanda lahar dan pasir. Akibatnya banyak candi di sekitarnya rusak, tertimbun lahar dan pasirnya. Salah satunya Candi Sambisari. Luapan lahar dingin dari Kali Kuning yang tak jauh dari lokasi candi mengubur itu setinggi 6,5 m. Kali Kuning berhulu langsung di kawah Gunung Merapi. Ia adalah lintasan lahar ketika Merapi erupsi, sehingga menjadi ancaman bagi segala sesuatu yang ada di tepi alirannya. Letusan Merapi yang banyak dihubungkan dengan terkuburnya Candi Sambisari adalah yang diduga terjadi pada 1006. Sebagaimana yang ditulis Supriati Dwi Andreastuti dkk dalam makalah hasil penelitian berjudul “Menelusuri kebenaran Letusan Gunung Merapi 1006”, terbit di Jurnal Geologi Indonesia , Vol. 1 No. 4, Desember 2006, letusan 1006 merupakan letusan terawal Gunung Merapi. Namun catatan terperinci mengenai letusan itu tak diketahui. Karenanya kebenaran letusan besar pada tahun itu pun diperdebatkan. “Angka tahun letusan sesungguhnya masih dipertanyakan dan perlu penelitian tentang kebenarannya,” tulisnya. Asumsi terdahulu menyebut letusan Merapi tahun 1006 menyebabkan perpindahan Kerajaan Mataram Kuno dari Jawa Tengah ke Jawa Timur. Letusan Merapi yang dipicu gempa tektonik juga merusak dan menimbun banyak bangunan candi di sekitarnya. Pendapat ini merujuk pada Prasasti Kalkuta atau Prasasti Pucangan yang berangka tahun 963 Saka (1041 M). Prasasti ini menyebutkan adanya bencana besar (pralaya) pada 928 Saka (1006). Namun hal itu disanggah epigraf Boechari. Dalam makalahnya “Some consideration of the problem of the shift of Mataram’s center of government from Central to East Java in the 10th Century A.D.”, termuat di Melacak Sejarah Kuno Indonesia Lewat Prasasti ,Boechari mengatakan bahwa Mataram Kuno telah pindah ke Jawa Timur sejak 928 dan menetap di Delta Brantas, wilayah Jawa Timur sekarang. Pendapatnya dibuktikan dengan Prasasti Anjukladang yang dibuat Mpu Sindok, penguasa Mataram Kuno kala itu, pada 937. Pun di dalam Prasasti Pucangan disebutkan bahwa pralaya di Kerajaan Mataram yang terjadi pada 1016 disebabkan oleh serangan Raja Wurawari dari Lwaram. “Bukti-bukti ini menyimpulkan bahwa letusan besar Gunung Merapi pada 1006 tidak pernah terjadi,” jelas Supriati Dwi Andreastuti, dkk. Kemungkinan letusan Merapi cukup besar terjadi pada 765-911. Letusan ini mendorong Kerajaan Mataram Kuno pindah ke Jawa Timur. Selain itu, menghindar dari serangan Kerajaan Sriwijaya dan lokasi perdagangan yang lebih strategis di daerah Delta Brantas juga jadi pertimbangan perpindahan kerajaan. Setelah berabad-abad terkubur akibat letusan Gunung Merapi, Candi Sambisari ditemukan, digali, direkonstruksi kembali, dan kini bisa dinikmati kemegahannya. Jika tertarik berkunjung di candi unik ini, tak perlu ragu. Letak Candi Sambisari tak jauh dari pusat Kota Yogyakarta. Orang bisa menujunya lewat Jl. Raya Jogja-Solo hingga tiba di pertigaan Bandara Internasional Adisutjipto. Lalu ambil jalan lurus hingga sampai di sebuah pertigaan dan Gedung Balai Diklat Keuangan Yogyakarta. Dari sini, ambil arah kiri. Perjalanan setelahnya tak akan lama. Pintu gerbang kawasan Candi Sambisari akan segera terlihat. Namun candinya tersembunyi, berada di ketinggian yang lebih rendah dari permukaan tanah sekarang. Namun jika masih belum bisa berkunjung langsung ke Candi Sambisari, Anda bisa menikmati secara virtual di kanal youtube Siapdarling (Siap Sadar Lingkungan), sebuah gerakan yang diiniasi oleh Bakti Lingkungan Djarum Foundation. Candi Sambisari menjadi candi kelima yang dihijaukan oleh program Candi Darling (Candi Sadar Lingkungan) setelah Candi Prambanan, Candi Ijo, Situs Ratuboko, dan Candi Gedong Songo. Siapdarling menargetkan seluruh candi di tanah air dihijaukan hingga tahun 2025. Informasi selengkapnya mengenai Siapdarling bisa diakses melalui siapdarling.id .

  • Menyelamatkan Awak Kapal Selam

    SETELAH lebih dari empat hari pencarian untuk menyelamatkan kapal selam (kasel) KRI Nanggala (402) berikut awaknya tak membuahkan hasil, Panglima TNI Marsekal Hadi Tjahjanto dengan berat hati mengubah status Nanggala  dari submiss  (hilang) menjadi subsunk  (tenggelam). Perubahan status itu diambil setelah ditemukannya beberapa puing yang diyakini milik Nanggala  yang dilaporkan berada di kedalaman 850 meter di perairan utara Bali. “Saya atas nama Panglima TNI menyampaikan rasa prihatin yang mendalam. Kita bersama-sama mendoakan supaya proses pencarian ini terus bisa dilaksanakan dan bisa mendapatkan bukti-bukti kuat. TNI AL bersama Kepolisian, Basarnas, KNKT, serta negara sahabat telah berupaya semaksimal mungkin untuk mencari keberadaan KRI Nanggala-402 ,” ungkap Marsekal Hadi di laman resmi TNI AL , Sabtu (24/4/2021). Nanggala  dilaporkan hilang kontak pada Rabu (21/4/2021) dini hari dalam rangka gladi resik latihan menembakkan torpedo. Upaya pencarian dan penyelamatan pun dilakukan berpacu dengan waktu. TNI AL tak segan meminta bantuan negara-negara sahabat seperti Singapura, Malaysia, India, Australia, dan Amerika Serikat, mengingat TNI AL belum memiliki satu pun alutsista penyelamat yang mumpuni. Sejumlah puing yang diyakini berasal dari KRI Nanggala (402).  ( tnial.mil.id ). Kelima negara itu datang memberi pertolongan sebagai lima dari 15 anggota s ystem rescue ISMERLO (International Submarine Escape and Rescue Liaison Office) yang terdekat secara geografis dengan Indonesia. Namun mengingat Nanggala dinyatakan subsink , upaya TNI AL dibantu negara-negara sahabat itu bukan lagi misi penyelamatan, melainkan misi pencarian kasel. Oleh karena begitu dalamnya posisi Nanggala , dibutuhkan peralatan canggih yang sementara ini hanya dimiliki Singapura. Berpegang pada Pakta Perjanjian Kerjasama dan Bantuan Penyelamatan Kasel antara TNI AL dan AL Singapura pada 2012, AL Singapura mengirim MV Swift Rescue -nya dalam misi pencarian bersama KRI Rigel (933) itu. Dilengkapi Deep Search and Rescue 6 (DSAR 6), sejenis Deep Submergence Rescue Vehicle (DSRV) atau kasel penolong yang bisa disambungkan ke palka penyelamat kasel yang hendak ditolong, MV Swift Rescue jadi pendukung utama misi pencarian itu. Namun, sejarah mencatat DSRV belum sekali pun pernah berhasil menyelamatkan awak kasel nahas di masa damai. Salah satu alat penyelamat bawah laut tercanggih itu bahkan gagal menyelamatkan para prajurit kasel nuklir Rusia Kursk K-141 di dasar Laut Barents pada 12 Agustus 2000. MV Swift Rescue milik Angkatan Laut Singapura. ( ismerlo.org ). Penyelamatan yang Berhasil Mengutip Nick Stewart dalam “Submarine Escape and Rescue: A Brief Histori” yang dimuat dalam seri jurnal AL Australia, Semaphore , edisi 7 Juli 2008, nyawa kru kasel dalam situasi genting bisa ditolong lewat dua metode. Pertama , metode menyelamatkan diri dengan sejumlah alat selam. Metode ini tentu hanya bisa dilakoni para kru jika kaselnya tenggelam di perairan dangkal. Kedua , metode penyelamatan dengan melibatkan pihak kedua menggunakan alat atau kapal selam penolong. “Fokus utama pada masa awal kasel modern adalah metode menyelamatkan diri. Escape system -nya sudah muncul sejak 1910 yang terinspirasi dari alat pernafasan para penambang batubara. Sistem itu berhasil untuk pertamakali (menyelamatkan) kru saat tenggelamnya kasel U3 pada 1911 dengan menggunakan alat pernafasan Dräger,” tulis Stewart. Alat pernafasan Dräger (kiri) & kasel SM U-3 Jerman (tengah). ( draeger.com /Library of Congress). Sistem menyelamatkan diri itu lantas diadopsi negara-negara lain yang mengoperasikan kasel, termasuk Inggris dan Amerika Serikat, mulai tahun 1929. Sistem ini bertahan sampai era 1990-an seiring perkembangan Submarine Escape Immersion Equipment (SEIE), sebuah body suit yang bisa diubah menjadi rakit darurat. SEIE bisa melindungi tubuh awak kasel dari tekanan air sehingga bisa menyelamatkan diri di kedalaman antara 183-185 meter. “Tetapi kru rentan dengan kondisi alam ketika di permukaan, seperti yang terjadi pada (kru kasel) Komsomolets K-278 (7 April) tahun 1989. Dari 69 kru, 34 di antaranya sempat mampu naik ke permukaan tetapi kemudian semua tewas karena hypothermia, gagal jantung atau tenggelam tersapu ombak,” imbuhnya. Kendati begitu, motode penyalatan tersebut merupakan salah satu capaian dari sejarah pengembangan metode penyelamatan sejak 1920-an. Di era awal kasel modern itu alat penyelamat kru kasel baru Kapsul McCann Rescue Chamber (MCRC) atau kapsul penyelamat yang dikaitkan dengan tali atau rantai ke kapal penyelamat di permukaan. Kapsul MCRC yang terinspirasi dari diving bell (bel selam) dikembangkan pada 1929 oleh Mayor Laut Allan R. McCann, Mayor Laut Charles B. Momsen, Letnan Laut Carlton Shugg, dan Sersan Clarence Tibbals. Hingga saat ini, Kapsul MCRC masih jadi satu-satunya alat yang tercatat pernah berhasil menyelamatkan kru kasel, kendati perkembangan DSRV telah pesat. Kasel Amerika Serikat, USS Squalus (S-11)  di pangkalan New Hampshire. ( navy.mil ). Keberhasilan penyelamatan menggunakan Kapsul MCRC itu terjadi pada 23 Mei 1939. Kala itu sejak 12 Mei dua kasel Amerika, USS Squalus dan USS Sculpin, tengah melakoni serangkaian uji selam usai perbaikan besar-besaran di Portsmouth, New Hampshire. Tetapi setelah melakukan 18 kali penyelaman, pada 23 Mei pagi Squalus hilang kontak di Kepulauan Shoals. “Pada 23 Mei pagi di koordinat 42°53′ Utara, 70°37′ barat Squalus mengalami masalah pada katup induksi utama yang menyebabkan ruang torpedo buritan, dua kompertemen mesin dan kabin kru bocor dan kebanjiran. Sebanyak 26 krunya langsung meninggal di tempat,” ungkap Clay Blair Jr. dalam Silent Victory. Squalus beruntung karena saat uji selam kasel itu tetap didampingi Sculpin sehingga titik lokasinya cepat ditemukan. Squalus tenggelam di kedalaman 74 meter. Sculpin pun mengirim komunikasi darurat ke kapal penyapu ranjau dan penyelamat kasel, USS Falcon. Dari informasi Sculpin dan telephone marker buoy atau pelampung komunikasi, para penyelam dari Falcon segera menemukan lokasi Squalus. Setelah dapat kepastian lokasi pada 24 Mei malam, Falcon menurunkan MCRC untuk menyelamatkan sisa 33 kru Squalus yang masih hidup dan diawasi langsung oleh Mayor Laut Charles B. Momsen. “Kapsul itu mirip lonceng atau bel baja besar yang diturunkan dari kapal penyelamat dan bisa dikaitkan ke palka penyelamat kasel. Setelah terkait, kapsul itu bisa mengurangi tekanan udara dan membuka palka demi membebaskan para kru yang terperangkap,” sambung Stewart. Kapsul penyelamat McCann (baris kiri) & upaya penyelamatan kru USS Squalus.  ( navy.mil / mohmuseum.org ). Setelah diturunkan, kapsul penyelamat itu dituntun penyelam William Badders, Orson L. Crandall, James H. McDonald, dan John Mihalowski kemudian disambungkan dengan palka penyelamat di Squalus. “Dengan dipimpin perwira medis senior Dr. Charles Wesley Shilling, keempat penyelam melakukan metode heliox diving schedule untuk mencegah gejala gangguan kognitif saat penyelaman yang dalam,” imbuh Blair Jr. Hasilnya, lewat empat kali misi, ke-33 kru Squalus sukses dipindahkan ke kapsul penyelamat itu dan dinaikkan ke Falcon. Squalus akhirnya juga bisa ditarik ke pelabuhan. Setelah diperbaiki, pada 9 Februari 1940 kasel itu berganti nama menjadi USS Sailfish.

  • Tari Kecak Mencoba Terus Menari Kala Pandemi

    Bali, pulau yang ketenarannya bahkan melebihi Indonesia itu sendiri, dikenal bukan hanya karena keindahan alam, tetapi juga seni dan budaya. Tari kecak adalah salah satu kesenian yang dikenal luas dan menjadi identitas Bali. Tari kecak adalah pertunjukan drama-tari yang dimainkan oleh puluhan laki-laki. Ciri khas tari ciptaan Wayan Limbak dan pelukis Walter Spies ini adalah para penari duduk melingkar dalam beberapa sap dan menyerukan “cak” secara berulang-ulang seraya menggerakkan tangan ke atas. Para penari saat mementaskan kecak di Uluwatu Bali. (Fernando Randy/ Historia.id ). Kecak bukan hanya tentang pertunjukan kesenian biasa, namun berkaitan dengan ritual sanghyang dan kisah Ramayana, yaitu ritual tradisi di mana para penarinya tidak dalam kondisi sadar dan diyakini berkomunikasi dengan Tuhan atau roh leluhur. Karena keunikannya, kecak menjadi agenda pentas seni di Uluwatu. Berdiri di atas anjungan batu karang yang terjal dan tinggi bersanding dengan keindahan pemandangan pantai Pecatu, Uluwatu menjadi destinasi wisata yang semakin lengkap dengan pementasan kecak. Uluwatu, salah satu tempat pentas kecak hingga kini. (Fernando Randy/ Historia.id ). Para pengunjung pura di Uluwatu. (Fernando Randy/ Historia.id ). Bagi warga Uluwatu, keterampilan menari Kecak didapat dan dipelajari secara turun menurun. Inilah alasan mengapa kecak menampilkan penari dari berbagai tingkat usia, dari yang muda hingga yang sudah lanjut.  Pandemi Covid-19 yang melanda Indonesia setidaknya sejak Maret 2020 menyurutkan pariwisata Bali, termasuk pementasan tari kecak. Bangku-bangku penonton pertunjukan kecak yang biasa ramai menjadi lengang akibat pandemi. Tato yang menghiasi tubuh salah satu penari kecak. (Fernando Randy/ Historia.id ). Tari kecak yang terus berjuang untuk berkarya kala pandemi. (Fernando Randy/ Historia.id ). Seorang anak saat menyaksikan pertunjukan tari kecak di Uluwatu. (Fernando Randy/ Historia.id ). Namun, para pelaku seni tari kecak tidak berdiam diri. Mereka terus berlatih dan menyesuaikan diri dengan kebiasaan baru. Kini, para penari kecak sudah kembali tampil, dengan masker, pelindung wajah, dan jumlah penonton yang tidak seramai dulu. Kecak kembali hidup dengan semangat dan bentuk berbeda.  “Saya sendiri sebenarnya sedih dan bahagia melihat kecak sekarang. Dulu kan penonton penuh, sementara sekarang agak sepi begini. Di sisi lain, saya bahagia karena mereka tetap berusaha menari dan menghibur," ujar Tiqa (33), salah satu pengunjung asal Aceh. Dalam gelap, kecak menyalakan api kecil untuk wajah sendiri. Tidak utuh tapi penuh. Kepada jagat, seruan kecak terdengar lamat-lamat membawa pesan" "Kami hidup". Pertunjukan tari kecak yang digelar di Uluwatu. (Fernando Randy/ Historia.id ). Tampak tato yang menghiasi tubuh salah seorang penari kecak. (Fernando Randy/ Historia.id ). Para penari saat mempertunjukan tari kecak. (Fernando Randy/ Historia.id ). Seorang penari bersantai usai pertunjukan kecak di Uluwatu. (Fernando Randy/ Historia.id ). Hanoman salah satu karakter yang sangat ikonik dalam tari kecak. (Fernando Randy/ Historia.id ). Uluwatu yang tak lagi ramai karena pandemi. (Fernando Randy/ Historia.id ).

  • Hidup di Kapal Selam Whiskey

    JULI 1962. Angkatan Laut Republik Indonesia (ALRI) baru saja melengkapi armada tempurnya dengan 12 kapal selam kelas Whiskey (W). Kapal selam buatan Uni Sovyet itu merupakan salah satu perangkat tempur bawah laut tercanggih di zaman-nya. Selain dilengkapi dengan homing torpedo  tipe SAET-50 yang mampu mencari sasaran secara otomatis, kapal selam itu juga dilengkapi meriam penangkis serangan udara kembar 25 mm, radar, sonar pasif dan snorkel . Menurut jurnalis militer Atmadji Sumarkidjo, kala itu hanya Indonesia (tentunya di luar Uni Sovyet) yang memiliki kapal selam kelas W lengkap dengan torpedo canggih-nya tersebut. Dengan merelakan Indonesia untuk memilikinya, sepertinya pimpinan Blok Timur itu ingin menguji keunggulan produk mereka di palagan Irian Barat. “Bila memang dioperasikan, jelas pihak Belanda akan kewalahan, karena torpedo demikian akan mampu melakukan hit  terhadap kapal perang atas air,” ungkap Atmadji dalam bukunya Mission Accomplished: Misi Pendaratan Pasukan Khusus oleh Kapal Selam Tjandrasa. . Setelah menjadi milik Indonesia, 12 kapal selam W itu pun diberi nama sesuai tradisi ALRI: RI Tjakra (401), RI Nanggala (402), RI Nagabanda (403), RI Trisula (404), RI Nagarangsang (405), RI Tjandrasa (406), RI Alugoro (407), RI Tjumandani (408), RI Widjajadanu (409), RI Pasopati (410), RI Hendradjala (411) dan RI Bramastra (412). Syahdan, seorang jurnalis dari harian Berita Yudha bernama Sunario Sunarsal. Dia pernah mengikuti 3 operasi bawah laut yang dilakukan oleh RI Nanggala pada Desember 1961, KRI Tjudamani pada Agustus 1963 dan KRI Bramastra pada Juni 1966. Pengalaman Sunario selama bergabung dengan 3 kapal kelas W tersebut pernah dituliskannya dalam buku Sewindu Komando Djenis Kapal Selam, 12 September 1967 yang diterbitkan oleh Seksi Buku Panitia HUT Sewindu Komando Djenis Kapal Selam. Menurut Sunario, kendati memiliki peralatan canggih, sejatinya kapal-kapal selam kelas W itu tidak dirancang untuk beroperasi di wilayah tropis yang panas. Karena itu wajar jika di dalam lambungnya, alih-alih pendingin udara, yang ada justru alat pemanas (dari listrik hingga uap). Tentunya suasana gerah sangat terasa sekali, kendati putaran kipas angin sudah diarahkan fokus ke tubuh para penumpangnya. “Peluh tetap mengalir deras seperti kain cucian yang diperas,” ungkap Sunario. Jangan pernah berharap bisa mandi di kapal selam W itu. Ketika para prajurit mendapat tugas berlayar selama sebulan, maka sebulan pula mereka harus siap tidak mandi sama sekali. Air tawar sangat dihemat dan khusus untuk minum dan memasak makanan saja. Kadang-kadang kalau tidak kebagian air, kumur-kumur pun dilakukan dengan secangkir teh atau kopi. Mandi secara “normal” baru bisa dilakukan ketika kapal selam naik ke permukaan laut. Itu pun kalau di laut tengah turun hujan. Tak jarang saat “mandi” itu para awak kapal selam harus menahan tamparan keras angin laut. Di atas anjungan itu pula, kesenangan sejenak bisa didapat oleh para awak. Mereka bisa bebas merokok atau melakukan aktifitas (termasuk salat) tanpa harus dibatasi atap yang pengap. Tepat di bawah anjungan terletak ruangan toilet untuk sekadar buang air kecil dan air besar. Semuanya serba “otomatis” karena langsung disalurkan ke laut. “Untuk membersihkan sehabis buang hajat cukup mengambil lidah ombak yang menampar dari arah kiri,kanan dan bawah,” kenang Sunario. Karena sebagian besar keperluan hajat menggunakan air laut, para awak menjuluki diri mereka sebagai “ikan asin”. Terlebih jika mereka tidak pernah mandi selama berminggu-minggu. Pengaruh garam dari air laut pun sangat terasa dan menimbulkan aroma yang seperti bau ikan laut. Namun karena sudah biasa, hal-hal tersebut sama sekali tak diindahkan. Lalu bagaimana dengan tidur mereka? Di dalam kapal selam kelas W, tidur bisa dilakukan di mana saja. Kecuali bagi komandan yang ditempatkan khusus di sebuah kabin kecil ukuran 1,5x2 meter. Biasanya para awak akan tertidur di tempat di mana mereka tengah ditugaskan. Asal badan bisa diletakan meskipun kaki tidak bisa berselonjor. “Tak jarang para awak tidur di gang-gang antar ruangan, bahkan para awak yang melayani torpedo, mereka bisa tidur lelap sambil memeluk senjata-senjata kesayangannya,” tutur Sunario. Yang paling bermasalah selama di dalam kapal selam adalah soal makanan. Kendati itu merupakan hiburan satu-satunya, namun makanan kadang diolah seadanya, bahkan kadang tak jelas rasanya. Hal tersebut masih enak jika persediaan makanan segar (buah-buahan, sayur mayor dan daging) masih tersedia. Namun jika sudah ludes, maka yang ada semua makanan serba instan. “Pokoknya perut diisi tidak peduli bagaimana rasanya, yang penting jangan lupa minum pil vitamin,” ungkap Sunario. Apabila ada perintah menyelam, maka semua pintu kedap ditutup. Setiap komando dan pemeriksaan dilakukan dengan menggunakan interkom, telepon lokal dan pipa suara. Berpindah dari satu ruangan ke ruangan lain tidak bisa dilakukan seenaknya, harus seizin komando sentral. Kalau sudah ada dalam posisi tempur, dilarang keras untuk berbicara kecuali komandan dan mereka yang bertugas untuk melaporkan data-data kapal musuh yang tengah diburu dan diintai. Hebatnya, semua “penderitaan” itu dijalankan secara tulus oleh semua awak kapal selam. Tak ada satu pun dari mereka yang mengeluh terlebih frustasi. Semua tugas mereka jalankan dengan berpegang teguh kepada motto Korps Hiu Kencana: Tabah sampai akhir!

  • Di Balik Berdirinya Kesultanan Banjar

    Tome Pires, penjelajah asal Portugis, mencatat hampir semua yang tinggal di Kalimantan adalah orang-orang Pagan. “Hanya pulau utamanya yang ditinggali orang Moor, belum lama sejak rajanya menjadi orang Moor,” catat Pires dalam Suma Oriental . Menurut Muhammad Azmi, sejarawan Universitas Mulawarman, dalam “Islam di Kalimantan Selatan pada Abad ke-15 sampai Abad ke-17” yang terbit dalam  Yupa: Historical Studies Journal , 1 (1), 2017, catatan Tome Pires tentang “raja yang menjadi seorang Moor” merujuk pada raja yang baru saja memeluk Islam. Raja yang dimaksud kemungkinan besar adalah Pangeran Samudera yang masuk Islam setelah memenangkan perselisihannya dengan Negara Daha. Dia lalu menjadi raja pertama Kesultanan Banjar.  Berdirinya Kesultanan Banjar menjadi awal mula bagi tegaknya pengaruh Islam di Kalimantan Selatan. Tanpa Penaklukkan Sebelum Islam masuk ke Kalimantan Selatan, wilayah ini mendapat pengaruh Hindu. Dalam Hikayat Lambung Mangkurat atau Hikayat Banjar disebutkan bahwa di Kalimantan Selatan berdiri kerajaan bercorak Hindu bernama Negara Dipa yang dilanjutkan dengan Negara Daha. Negara Daha masih kerajaan Hinduhingga abad ke-14-15. Tak diketahui pasti kapan Islam mulai masuk ke Kalimantan Selatan. Azyumardi Azra, Guru Besar Sejarah UIN Syarif Hidayatullah, dalam Jaringan Ulama Timur Tengah dan Kepulauan Nusantara Abad XVII dan XVIII , menyebutkan bahwa Islam masuk ke Kal imantan Sel atan pada masa jauh lebih belakangan dibanding, misalnya Sumatra Utara atau Aceh. Kendati begitu diperkirakan telah ada sejumlah muslim di wilayah itu sejak awal abad ke-16. Menurut Yusliani Noor, sejarawan Universitas Lambung Mangkurat Banjarmasin, dalam Islamisasi Banjarmasin (Abad ke-15 Sampai ke-19) , terbentuknya komunitas Islam di Kalimantan Selatan adalah dampak dari terhubungnya jalur perdagangan Kalimantan dengan jaringan perdagangan Nusantara. Keberadaan mereka menjadi pintu masuk pertama Islamisasi.  Kendati begitu, kata Yusliani, penyebaran Islam secara lebih luas tak serta merta terjadi. Karenanya terbentuknya Kesultanan Banjar sangat bermakna bagi penerimaan agama itu di Banjarmasin. Namun, adanya kesultanan bukan berarti proses masuknya Islam bisa disamakan dengan pengislaman. Konsep ini, Menurut Yusliani, bernada militeristik dan tak natural.Apa yang terjadi di Banjarmasin berbeda dengan di kawasan Timur Tengah, khususnya pada era sesudah Khulafaur Rasyidin. Penaklukan wilayah memang menjadi ciri Islamisasi di Timur Tengah. Tapi di Banjarmasin tak pernah ada penaklukkan oleh kesultanan manapun.  Syarat dapat Bantuan Semua itu diawali oleh Pangeran Samudera yang menolak tunduk pada Kerajaan Negara Daha. Pangeran Samudera meminta bantuan kepada Kesultanan Demak untuk menyelesaikan perselisihannya dengan Pangeran Tumenggung, penguasa Negara Daha.  Sultan Demak mengabulkan permohonan Pangeran Samudera . S yaratnya , Pangeran Samudera harus masuk Islam. Sang pangeran sepakat. D ia pun mendapat bantuan 1.000 pasukan, senjata, ditambah seorang penghulu untuk mengislamkannya. Menurut Yusliani, kisah dalam Hikayat Banjar itu mengisyaratkan bahwa kekuasaan Islam telah memiliki posisi tawar ( bargaining position ) bagi terbentuknya jaringan kuasa di kawasan yang labil akibat pergolakan internal. “Sekaligus juga adaptasi kerajaan Hindu dan Buddha dalam menghadapi arus perubahan yang dibawa para pedagang Islam,” tulisnya.  Pangeran Samudera menjadi raja pertama Kerajaan Banjar dengan gelar Sultan Suriansyahsekaligus raja pertama yang masuk Islam pada 1526. Inilah momentum bagi perkembangan Islam di Kalimantan Selatan. Pilihan raja memeluk Islam diikuti kerabat, elite, sampai rakyat jelata. Berjalan Lambat Meski Islam sudah menjadi agama kerajaan, namun kaum muslim masih minoritas di kalangan penduduk. Azra mencatat, pemeluk Islam umumnya terbatas pada orang-orang Melayu-Islam. Islam hanya mampu masuk secara sangat perlahan ke kalangan Suku Dayak. “Bahkan di kalangan kaum muslim Melayu, kepatuhan kepada Islam sangat minim dan tak lebih dari pengucapan syahadat,” jelas Azra. Di bawah para sultan yang turun-temurun, lanjut Azra , jelas tidak ada usaha serius untuk memajukan kehidupan Islam. Memang ada usaha dari para dai yang keliling me nyebarkan Islam, namun kemajuan nya tetap tak banyak. Yusliani mengungkapkan bahwa birokrasi pemerintahan Kesultanan Banjar pada abad ke-16 hingga pertengahan abad ke-18 belum secara langsung berfungsi dalam Islamisasi. “Upaya Tuan Penghulu, Khatib Dayyan dan Khatib Banun membangun berbagai masjid memberikan bukti kiprah kesultanan dalam membangun komunitas muslim,” tulis Yusliani. Dorongan Islamisasi paling nampak setelah kiprah Muhammad ‘Arsyad bin ‘Abd Allah al-Banjari (1710-1812), ulama terkenal kelahiran Martapura, Kalimantan Selatan. Dia belajar sekira 30 tahun di Makkah dan lima tahun di Madinah. Sekembalinya ke Kalimantan Selatan, dia mendirikan lembaga pendidikan Islam. Dia juga memperbarui administrasi peradilan di Kesultanan Banjar. “Dia juga memprakarsai jabatan mufti, yang bertanggung jawab mengeluarkan fatwa mengenai masalah keagamaan dan sosial,” jelas Azra. Ulama lain adalah Muhammad Nafis bin ‘Idris bin Husayn al-Banjari. Dia hidup pada periode yang sama dengan Muhammad ‘Arsyad. Dia lahir di Martapura dari keluarga bangsawan Banjar. Berbeda dengan Muhammad ‘Arsyad yang me rintis pusat pendidikan Islam, Muhammad Nafis mencurahkan hidupnya pada Islamisasi wilayah pedalaman Kalimantan Selatan. Orang Dayak kemudian makin banyak menerima Islam. Menurut Yusliani, mereka melakukan adaptasi, difusi, asimilasi, dan akulturasi kebudayaannya, daur hidupnya, dengan ajaran-ajaran Islam. “Menghasilkan format pribumisasi Islam,” lanjutnya. Orang-orang Dayak juga ikut membangun Kesultanan Banjarmasin. Sebagiannya masuk dalam lingkungan kesultanan, baik karena perkawinan maupun statusnyasebagai pemangku adat Dayak. Dengan proses yang tak serta merta, maka menurut Yusliani, ini menunjukkan Islamisasi Banjarmasin berlangsung secara natural, damai, tanpa paksaan. “Dukungan rakyat Banjarmasin menjadi faktor utama lahirnya Kesultanan Banjarmasin,” tegasnya.

  • Kamus Sejarah Indonesia Jilid I Segera Direvisi

    Setelah menuai kontroversi terkait kealpaan lema KH Hasyim Asy’ari dalam Kamus Sejarah Indonesia Jilid I , Kemendikbud RI menyatakan akan segera melakukan revisi. Semua buku terkait sejarah modern juga akan ditarik untuk disempurnakan. “Untuk memastikan isu ini tidak berlarut, saya sudah instruksikan untuk menurunkan semua buku yang terkait sejarah modern sampai ada penyempurnaan yang lebih cermat,” kata Direktur Jenderal (Dirjen) Kebudayaan Kemendikbud Hilmar Farid dalam siaran pers yang diterima Historia.id , Kamis, 22 April 2021. Hilmar juga menegaskan bahwa tim pengkoreksi akan dibentuk dengan melibatkan berbagai organisasi yang turut membangun negara termasuk Nahdlatul Ulama (NU). Hal ini dilakukan untuk meminimalisir adanya narasi sejarah yang luput dimasukan dalam kamus. Sementara itu, Profesor Susanto Zuhdi yang menjadi salah satu editor kamus tersebut mengatakan bahwa draf Kamus Sejarah Indonesia Jilid I  memang belum sempurna. “Tahun 2017, draf buku kamus ini memang kami simpulkan belum sempurna,” jelas Zuhdi. Guru Besar Sejarah Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia itu menambahkan, “Nama KH. Hasyim Asy’ari ada pada uraian pendirian tokoh Nahdlatul Ulama. Bagaimana mungkin kita melupakan tokoh ini ketika berbicara pendirian Nahdlatul Ulama?” Hilmar kembali menegaskan bahwa tidak ada upaya untuk membelokkan atau menghapus sejarah. Meski tidak cermat dan luput memberikan lema tersendiri untuk KH Hasyim Asy’ari, namun namanya disebut dalam beberapa halaman di lema NU dan lema tokoh-tokoh lain. Secara teknis, lanjut Hilmar, meski belum selesai pada 2017, draf kamus tetap dilaporkan karena tahun anggaran telah berakhir. Hal inilah yang membuat kamus tersebut masih banyak kekuarangan termasuk belum dimasukannya lema KH Hasyim Asy’ari. “Penyusunan dimulai tahun 2017 namun belum selesai karena begitu panjangnya perjalanan sejarah Indonesia sejak 1900. Karena pada saat itu tahun anggaran sudah berakhir, sebagai pertanggungjawaban kami tetap melaporkan draf naskah yang belum selesai tersebut dalam format pdf ,” terangnya. Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nadiem Anwar Makarim juga telah mengunjungi kantor Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Jakarta, Kamis, 22 April 2021, untuk meminta maaf. Nadiem diterima langsung oleh Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj dan mengatakan akan segera merevisi total kamus tersebut. “Kami memohon maaf atas ketidaknyamanan yang terjadi. Kami sudah membentuk tim untuk merevisi total kamus tersebut,” kata Nadiem seperti dikutip Nu.or.id. Sekjen PBNU HA Helmy Faishal mengatakan telah memberi kritikan dan masukan terkait beberapa hal yang lalai dalam kamus sejarah tersebut. Selain KH Hasyim Asy’ari, yang juga tak tercantum dalam kamus ialah nama KH Abdurrahman Wahid atau Gus Dur, Presiden ke-4 RI. “PBNU menyampaikan kritikan dan masukan yang sangat luas sekali kepada Mas Menteri bahwa sejarah berdirinya Indonesia tidak lepas dari peran para kiai dan ulama NU dalam konteks membangun dan merintis berdirinya NKRI,” ucap Helmy. Sementara itu, Direktur Wahid Foundation Yenny Wahid mengapresiasi niat baik Mendikbud untuk segera merevisi kamus tersebut agar tidak menyebabkan distorsi dalam sejarah. “Kami mengapresiasi Mas Menteri Nadiem yang sudah responsif walaupun peristiwa pembuatan kamus tersebut bukan terjadi di zaman beliau, tapi beliau menunjukkan komitmen untuk memperbaiki dan merevisi,” kata Yenny.

  • Kesalahan Teknis dalam Kamus Sejarah Indonesia Jilid I

    Tidak dicantumkannya nama KH Hasyim Asy’ari dalam  Kamus Sejarah Indonesia Jilid I yang disusun Kemendikbud RI memunculkan diskusi baru mengenai pembuatan kamus sejarah. Kamus yang dibuat pada 2017 ini memiliki beberapa kesalahan teknis dan terkesan disusun secara buru-buru. Sejarawan Ayang Utriza Yakin dalam Dialog Sejarah “Kisruh Kamus Sejarah” di saluran Youtube  dan Facebook Historia, Jumat, 23 April 2021 menyebut bahwa Kamus Sejarah Indonesia Jilid I  tidak dibuat dengan dengan metodologi sejarah yang ketat. Selain itu, kamus juga tidak ditulis oleh orang yang ahli pada tiap-tiap lema. “Artinya karena ini berbicara mengenai sejarah, seharusnya juga disusun, ditulis oleh para ahli di bidangnya masing-masing. Secara sederhananya kamus ini menunjukkan satu: keterbatasan pengetahuan para penulis, penyusun, dan penyunting,” kata Ayang. Ayang juga menyoroti perihal teknis penulisan kamus. Pertama, sampul kamus cenderung membingungkan karena menggunakan dua bahasa, yakni bahasa Indonesia dan bahasa Inggris. Judul Kamus Sejarah Indonesia Jilid I, Nation Formation (1900-1950) menimbulkan pertanyaan apakah kamus ini disusun untuk pembaca berbahasa Inggris atau Indonesia. Kesalahan kedua terletak pada ketidakjelasan periode dan tema sejarah dalam kamus. Penyusun tidak menjelaskan mengapa tertulis periode 1900 hingga 1950. Padahal, lanjut Ayang, sejarah Indonesia dimulai antara abad ke-4 dan 5 sesuai dengan temuan bukti tertulis dari Kerajaan Tarumanegara dan Kutai Kertanegara. Selain itu, lanjut Ayang, penyebutan Indonesia pada kamus ini juga menjadi pertanyaan. Jika merujuk pada Indonesia sebagai sebuah negara-bangsa, sejarahnya baru dimulai sejak Proklamasi 17 Agustus 1945. Bahkan jika merujuk pada kata “Indonesia” yang digunakan dalam organisasi sebelum Indonesia merdekapun, tidak dimulai pada tahun 1900. “Terlihat tidak ada metodologi ilmu sejarah dalam penyusunan ini secara ketat,” ujar profesor tamu Kajian Islam Ghent University Belgia itu. Menurut Ayang, kesalahan teknis juga meliputi bentuk kamus itu sendiri yang lebih menyerupai ensiklopedia. Pertama , kamus biasanya lebih singkat dan padat. Sementara ensiklopedia lebih panjang dan lengkap materinya sehingga bisa menjadi rujukan penulis. Lema dalam kamus juga memiliki informasi yang berdiri sendiri. “(Dalam kamus) tidak ada yang namanya saling rujuk atau bahasa Inggrisnya cross references . Kalau di ensiklopedia itu ada saling rujuk atau cross references ,” terangnya. Kemudian, kamus harus memiliki jumlah kata yang pasti dalam setiap lema-nya. Misalnya dijelaskan bahwa setiap lema hanya terdiri dari 25 sampai 50 kata. Sementara dalam Kamus Sejarah Indonesia Jilid I , jumlah kata tiap lema tidak memiliki aturan pasti. “Ada tokoh yang ditulis cuma lima baris, enam baris, satu halaman. Ada tokoh yang ditulis sampai lima halaman,” ungkap Ayang. Kamus biasanya juga hanya satu jilid, berisi lema-lema dari abjad A hingga Z. Hal ini karena kamus hanya bersifat sebagai referensi singkat mengenai topik yang hendak dicari seseorang. Sementara informasi lebih lengkap bisa merujuk pada ensiklopedia maupun buku-buku terkait. “Jadi kamus itu hanya pengantar,” jelas Ayang. Ayang menambahkan bahwa kekurangan lain dalam penyusunan kamus sejarah ini dan penulisan sejarah Indonesia pada umumnya adalah kecenderungan berfokus pada sejarah tokoh, organisasi, dan peristiwa politik. Sementara, sejarah kehidupan orang biasa di berbagai daerah di Indonesia jarang sekali dituliskan. “Lagi-lagi, kamus sejarah atau yang ditulis sejarah itu isinya cuma tokoh, organisasi, peristiwa. Rakyat di mana?” kata Ayang. Menurut Ayang, daripada merevisi kamus sejarah yang telah menjadi polemik ini, lebih baik Kemendikbud membuat kamus baru. Kamus baru diharapkan dapat mengangkat sejarah kehidupan orang biasa. Penyusunannya hendaknya juga melibatkan Masyarakat Sejarawan Indonesia (MSI), Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), jurusan sejarah lintas kampus serta sejarawan-sejarawan dari berbagai daerah di Indonesia.  “Saran saya satu, harus dilakukan penulisan ulang kamus sejarah ini,” ujarnya.

  • Scarecrow Press, Penerbit Kamus Sejarah Indonesia

    Kamus Sejarah Indonesia  terbitan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan memancing perdebatan panjang lebar. Kamus itu tak memuat lema K.H. Hasyim Asy’ari, pendiri Nahdlatul Ulama. Karuan orang-orang NU protes keras. Sejumlah pihak juga menganggap pembuatan kamus itu kurang transparan dan melibatkan masyarakat. Dalam rilisnya, Masyarakat Sejarawan Indonesia (MSI), organisasi profesi sejarawan, meminta Kemdikbud menarik kamus itu. Mereka juga mendorong Kemdikbud segera merevisi kamus tersebut dengan melibatkan komunitas kesejarahan, media, leksikografer, dan akademisi. Di sisi lain, MSI mengapresiasi inisiatif pembuatan kamus sejarah. “Langkah penting dalam memajukan pengetahuan sejarah di Indonesia,” tulis MSI. Di Indonesia, penerbit Komunitas Bambu menerjemahkan Kamus Sejarah Indonesia  karya Robert Cribb, sejarawan asal Australia, dan Audrey Kahin, sejarawan asal Amerika Serikat, pada 2012. Kamus ini merupakan bagian dari proyek besar penerbit Scarecrow Press, Amerika Serikat. Didirikan oleh Ralph Robert Shaw pada 1950, penerbit swasta ini mengambil ceruk pasar akademisi dan perpustakaan. Buku-buku yang diterbitkan tak terlalu menarik dari sisi estetika dan tata letak, tapi sangat berbobot dari segi isi. “Kebijakan Scarecrow ketika itu adalah tampilan buku tidak penting... Tak ada sampul hardcover untuk melindungi buku dari debu   karena buku ditujukan terutama untuk pasar perpusatakan. Dan pegawai perpustakaan selalu rutin membersihkan debu dari buku,” catat Anthony Slide dalam “ A Publishing Phenomenon That Begins and Ends With Scarecrow Press” , termuat dalam Film History , Volume 22 Nomor 3, September 2010. Ralph seorang kutu buku yang lebih mementingkan isi ketimbang bentuk. Dia juga tak mau pusing soal biaya tambahan penerbitan. Menurutnya, buku bagus harus terbit walau hanya terjual sebanyak 500 eksemplar. Dia lebih berminat pada distribusi ilmu ketimbang bagaimana memperoleh uang dari terbitan itu. Karena itu Ralph mencari cara agar tak perlu mengeluarkan banyak biaya. Dia enggan mengeluarkan uang untuk sewa kantor, iklan, dan pengeluaran tak penting lainnya. Jumlah stafnya pun sangat minimalis. Staf pertamanya adalah istrinya sendiri. “Inilah Scarecrow,” kata Ralph. Ralph menerbitkan buku dari ruang bawah tanah tempat kerjanya di Universitas Rutgers. Buku-buku terbitan Ralph ternyata jauh lebih bermutu daripada buku terbitan universitas atau lembaga resmi lainnya. Ketika penerbit ini mulai berkembang, Ralph berpikir untuk menerbitkan seri pengetahuan sejarah umum tentang negara-negara di dunia yang bisa dinikmati banyak kalangan. Inilah apa yang kemudian disebut seri kamus sejarah Scarecrow. Ralph Robert Shaw, pendiri penerbitan Scarecrow Press yang menerbitkan Historical Dictionary  of  Indonesia  karya Robert Cribb yang kemudian diterjemahkan menjadi  Kamus Sejarah Indonesia  terbitan Komunitas Bambu. ( en.wikipedia.org ) Penerbit itu telah menerbitkan kamus-kamus sejarah untuk banyak negara sejak 1967. Tze-chung Li dalam Social Science Reference Sources menyebutseri pertama penerbitan itu adalah kawasan Amerika Latin. Kemudian pada 1970-an menyusul kamus sejarah Afrika, Asia, Eropa, dan Oseania. Khusus untuk kawasan Asia, penerbitan kamus sejarah itu dieditori oleh Jon Woronoff. Dia mengungkapkan pembuatan kamus sejarah seri Asia itu dimulai “dengan kronologi, daftar akronim dan pendahuluan, dan diakhiri dengan lampiran yang berkaitan dengan ekonomi, pemerintahan, daftar raja, presiden, dan sebagainya,” tulis Woronoff dalam “Scarecrow Press: The Asian Historical Dictionary Series”, yang termuat dalam International Institute for Asian Studies News Letter 7, 1996. Bagian utama kamus itu berisi penjelasan tiap entri yang disusun dalam urutan abjad. Entri-entri yang masuk berhubungan dengan sejarah, politik, ekonomi, masyarakat, dan budaya di tiap negara. “Mereka mencakup orang-orang penting, tempat, peristiwa, institusi, dokumen-dokumen dasar, ideologi, dan kebijakan,” lanjut Woronoff. Penjelasan entri tersebut ditekankan pada hal-hal aktual dari masa lalu sehingga masih relevan pada hari ini. “Meskipun ada upaya juga untuk kembali melacak ke asal-usulnya,” lanjut Woronoff. Setiap kamus sejarah itu punya rumusan dasar: “Entri-entri masa lalu yang dekat dengan hari ini adalah entri yang paling banyak dimasukan dan dijelaskan”.    Woronoff menyadari aturan itu membuat kamus-kamus sejarah ini kelihatan kurang menyejarah bagi sebagian orang. Tapi Woronoff menyatakan, kamus-kamus sejarah semacam ini akan sangat berguna bagi para ilmuan politik, jurnalis, guru, dan siswa sekolah. Pada bagian akhir tiap kamus, ada daftar pustaka utama. Tiap sumber penulisan diklasifikasikan berdasarkan subjek. Sumber rujukan itu menyita sekira 50-100 halaman di tiap buku. Satu kamus sejarah bisa memiliki tebal 500-600 halaman. Woronoff kemudian mengisahkan, penentuan subjek kamus dan pedoman kerja jauh lebih mudah daripada pencarian penulisnya. Untuk seri Afrika, Scarecrow Press menghabiskan 25 tahun untuk mencari penulis yang cocok bagi tiap jilidnya. Mengingat saat itu tak banyak orang punya pengetahuan, minat, dan keahlian mendalam tentang Afrika. Historical Dictionary of Indonesia  edisi pertama karya Robert Cribb. Kamus ini merupakan bagian kecil dari proyek penerbitan kamus-kamus sejarah negara di Asia, Afrika, Amerika, dan Oseania. ( goodreads.com ). Woronoff mengakui, pencarian penulis lebih mudah untuk kamus sejarah kawasan Asia. Tapi Scarecrow Press tak mau kamus itu asal jadi. “Tujuannya bukan hanya untuk menghasilkan buku. Kualitas juga harus diperhatikan dan ini berarti hanya penulis dengan pengetahuan yang mendalam dan luas tentang negara itu yang dapat menunaikannya,” terang Woronoff. Ketika kamus-kamus sejarah itu terbit di tiap negara, tak sedikit cendekiawan setempat menguliti habis-habisan. Ini terungkap dalam David C. Tambo, pakar sejarah perbudakan Afrika dalam “African Historical Dictionaries in Perspective” yang termuat dalam African Studies Association , Volume 6, 1980. Tambo merangkum sejumlah kritik yang berkisar pada kekurangcermatan penjelasan, keseimbangan penulisan, metodologi pemilihan entri, kekurangan referensi silang, dan salah ketik. Woronoff juga mengakui beberapa kelemahan kamus sejarah ini. Tiap kamus ini hanya ditulis oleh satu orang yang punya kemampuan mendalam tentang negara yang bersangkutan. Karena itu, penulisan akan memakan waktu lama. Dan tetap saja kesalahan sangat mungkin terjadi. Menyadari kritik-kritik demikian, Scarecrow kemudian menerbitkan edisi revisi kamus-kamus tersebut. “Tak hanya isinya yang diperbarui, tetapi juga diperluas, guna memberikan informasi tentang periode terakhir dan juga mengisi celah yang telah dilihat oleh pembaca,” tulis Woronoff. Revisi juga bertujuan menjaga kamus sejarah tetap aktual. “Karya tersebut menua dan akhirnya menjadi usang. Kami tak bisa berbuat apa-apa untuk penuaan. Tapi kami dapat menyegarkan buku kami secara berkala,” lanjut Woronoff. Beberapa kamus sejarah yang telah direvisi itu, termasuk Historical Dictionary of Indonesia  karya Robert Cribb dan Audrey Kahin, kemudian diterjemahkan ke dalam bahasa setempat dan telah mendorong orang-orang setempat untuk membuat kamus serupa. Scarecrow hingga sekarang masih menerbitkan kamus-kamus khusus lain terkait ilmu pengetahuan di luar sejarah. Para penulisnya biasanya hanya terdiri dari satu atau dua orang, tapi merupakan pakar di bidangnya masing-masing.

  • Nanggala dalam Armada Indonesia

    KAPAL selam TNI AL KRI Nanggala  (402) dilaporkan hilang kontak saat melakoni gladi resik latihan di perairan utara Pulau Bali, Rabu (21/4/2021) pagi. Segenap upaya pencarian dilakoni TNI AL, termasuk dengan menurunkan tim penyelam. Mengutip Kumparan , Rabu (21/4/2021), Kadispenal Laksma Julius Widjojono menyebutkan bahwa Nanggala  yang dikomandani Letkol Laut Heri Oktavian mulanya akan turut serta dalam agenda latihan TNI AL pada Kamis (22/4/2021). Nanggala  akan melakoni demonstrasi penembakan torpedo di siang harinya. “Setidaknya terdapat 53 awak di dalam kapal selam tersebut. Sampai saat ini tim masih mencari keberadaan awak kapal selam. Akan tetapi titik koordinat hilangnya kapal selam telah ditemukan di 95 kilometer dari utara Pulau Bali. Dua kapal selam telah diturunkan melakukan pencarian,” ungkap Laksma Julius. Nanggala Kedua Nanggala merupakan kapal selam bertenaga listrik yang dipasok mesin diesel buatan Jerman. Mengutip Jane’s Fighting Ships: 2009-2010 , Nanggala (402) merupakan satu dari dua kapal selam kelas Cakra pesanan TNI AL. Alutsista ini dikembangkan desainer Ulrich Gabler dari Ingenieur Kontor Lübeck pada awal 1970-an sebagai kapal selam Type 209. Gabler mendesainnya bertolak dari desain kapal selam sebelumnya, Type 206. Bedanya, Type 209 dilengkapi beberapa perangkat terbaru, salah satunya adalah baterai berkapasitas tinggi GRP dan baterai pendingin Wilhelm Hagen AG. Kolase  KRI Nanggala  (402). (Facebook Satselhiukencana). Di masanya, Type 209 jadi salah satu kapal selam paling laris dioperasikan di dunia. Uniknya, AL Jerman sendiri tak punya satu pun lantaran pembatasan militernya pasca-Perang Dunia II. Sebelum Indonesia, kapal selam Type 209 lebih dulu dimiliki Argentina, Brasil, Cile, Kolombia, Ekuador, Mesir, Yunani, dan India. “Type 209 adalah kapal selam paling sukses diekspor dari Eropa Barat, walau tak dioperasikan di armada Jerman. Desainnya berdasarkan kapal selam Jerman sebelumnya (Type 206) dengan beberapa komponen yang lebih andal. Type 209 punya layout yang lebih baik dari ruang torpedo sampai kompartemen-kompartemen mesin. Baterai berkapasitas tingginya membolehkan Type 209 punya jarak jelajah dan kecepatan menyelam lebih baik,” ungkap Paul E. Fontenoy dalam Submarines: An Illustrated History of Their Impact. Nanggala (402) dipesan bersamaan dengan Cakra (401) oleh Indonesia pada 2 April 1977. Pembangunannya dipercayakan kepada Howaldtswerke-Deutsche Werft di Kiel, Jerman Barat. Pada 10 September 1980, pembangunannya rampung. Nanggala dan Cakra dikirimkan ke tanah air pada 6 Juli 1981 dan resmi dioperasikan TNI AL pada 21 Oktober 1981. Nanggala punya spesifikasi panjang 59,5 meter dan lebar 6,2 meter serta bobot 1.285 ton saat di permukaan dan 1.390 ton kala menyelam. Dipasok empat mesin diesel MTU yang masing-masing berkekuatan 2.400 tenaga kuda, Nanggala bisa dipacu dalam kecepatan maksimal 11 knot di permukaan dan 21,5 knot saat menyelam. Dilengkapi empat mesin alternator Siemens yang menopang empat mesin diesel di atas, Nanggala punya daya jelajah hingga 8.200 mil laut dan berlayar nonstop selama 50 hari sebelum re-supply . Sistem radar Thomson-CSF dan sonar Atlas Elektronik CSU 3-2 jadi mata dan telinganya untuk mencari dan menghindari musuh. Jika terpaksa bertempur, Nanggala siap dengan delapan tabung torpedo kaliber 21 inci. KRI Cakra  (401) yang juga merupakan kapal selam Kelas Cakra kembaran KRI Nanggala  buatan Jerman. ( tnial.mil.id ). Dalam peresmiannya oleh Menteri Pertahanan dan Keamanan/Pangab Jenderal M. Jusuf pada 21 Oktober 1981, kapal selam 402 itu diberi nama “Nanggala” sebagaimana sebutan senjata sakti milik Prabu Baladewa dalam kisah pewayangan Jawa. Senjata tersebut berbentuk tongkat sependek lengan orang dewasa yang selalu disandang saudara kandung Prabu Kresna. “Yang luar biasa dari tongkat (Nanggala) ini adalah, berpadu dengan kesaktian Baladewa dengan genggamannya, bisa mengeluarkan sinar berbentuk ular naga. Sinar ular naga yang dapat menjulur sangat panjang dan memagut apa saja sesuai kehendak tuannya, Prabu Baladewa. Setiap benda apa saja yang dipagut sinar naga ini serta merta bisa berkeping-keping hancur. Sedangkan bila mengenai manusia, dalam sekejap bisa terbakar menyala dan langsung jadi abu,” tulis Pitoyo Amrih dalam Baratayuda: Kisah Kabut Merah di Atas Tanah Bersimbah. Sebelum dilaporkan hilang kemarin, Nanggala sudah pernah beberapakali overhaul . Sekali di Kiel pada 1989 dan tiga kali (2004, 2006, dan 2009) di Daewoo Shipbuilding & Marine Engineering (DSME), Korea Selatan. Pada perbaikan terakhirnya (2009), Nanggala dimodernisasi perangkat sonarnya dari Atlas Elektronik ke sistem sonar LOPAS 8300. Nanggala dari Orde Lama Namun, Nanggala (402) yang hilang kontak di perairan Bali itu faktanya merupakan kapal selam kedua TNI AL yang dinamakan dengan senjata mitos pewayangan itu. Di masa Orde Lama, ALRI punya satu kapal selam Nanggala pula. Kapal selam itu buatan Uni Soviet dan didapat Indonesia pada 1959 dari tangan ketiga, Polandia. Nanggala itu kelas Whiskey yang merupakan kelanjutan program pengembangan kapal selam Soviet setelah kapal selam kelas S pada 1946. Cetak biru kapal selam kelas Whiskey ini sangat dipengaruhi kapal selam canggih Jerman Nazi Type XXI Elektroboot. Selain dioperasikan AL Soviet, kapal selam kelas Whiskey juga dijadikan andalan negara-negara Pakta Warsawa, termasuk Polandia yang menjual dua miliknya ke Indonesia pada September 1959. “Indonesia menjadi negara Asia Tenggara pertama yang mengoperasikan kapal selam dengan dua kapal selam kelas Whiskey yang dibeli dari Uni Soviet melalui Polandia pada 1959, RI Tjakra (S-01) dan RI Nanggala (S-02). Baru pada 1962 sepuluh kapal selam kelas Whiskey menyusul seiring modernisasi TNI AL sepanjang 1950-an sampai 1960-an,” ungkap Collin Koh Swee Lean dalam Naval Modernisation in Southeast Asia, Part Two. KRI Pasopati, kapal selam sesama Kelas Whiskey buatan Uni Soviet. (Twitter @monkasel). RI Nanggala (S-02) dengan panjang 76 meter dan lebar 6,3 meter mampu berlayar dengan kecepatan 18,25 knot di permukaan dan 13,1 knot di bawah permukaan dengan ditenagai dua mesin diesel listrik. Kelengkapan tempur Nanggala dilengkapi enam tabung torpedo 21 inci, satu meriam AA 25 mm, serta sepasang meriam AA 57 mm. Dalam catatan operasinya, Nanggala jadi bagian dari Komando Depan Al Mandala (KOPANALA) dalam rangka konflik Irian Barat dengan Belanda. Pada 1972, seiring penyingkiran alutsista-alutsista buatan Uni Soviet di Indonesia, Nanggala dipensiunkan lalu dibesituakan. Yang tersisa hanya kapal selam sejenis, yakni RI Pasopati, yang kemudian dijadikan museum di Surabaya.

  • Mangoenatmodjo, Penyebar Gerakan Islam Abangan

    Selama masa kolonial, sejumlah aliran kepercayaan lokal berkembang. Beberapa ajarannya cenderung mencari kedamaian sehingga dibiarkan oleh pemerintah kolonial. Tetapi sebagian lagi, dianggap cukup konfrontatif terhadap pemerintah dan berbahaya. Salah satunya gerakan Islam Abangan Mangoenatmodjo di Klaten, Jawa Tengah, pada 1920-an. Mangoenatmodjo adalah petani dari desa Karangwungu, Klaten. Pendidikan formalnya hanya setahun bersekolah swasta bumiputra di Surakarta. Tapi dia pandai menulis. Anggitannya, Serat Kalabrasta,  terbit di surat kabar sohor masa itu, Darma Kanda pada 1910 .   Tulisan Mangoenatmodjo tentang interpretasi atas Serat Kalatida karya  Ranggawarsita, pujangga masyhur keraton Surakarta. Karena terbitan itu, dia menjadi terkenal di kalangan pembaca kota. Bersama keterkenalan itu pula, dia mulai menyebarkan ajaran Islam Abangan di kelompok kecil masyarakat desanya. “Menurut keterangan yang diperoleh, ajaran Islam Abangan itu berlandaskan ajaran Seh Siti Djenar, salah seorang Wali pada jaman Kerajaan Demak yang dibunuh oleh Wali Sanga, karena dianggap murtad,” catat surat A.H. Neys, Asisten Residen Klaten kepada A.J.W. Harloff, Residen Surakarta, seperti termuat dalam Laporan-Laporan Tentang Gerakan Protes di Jawa pada Abad XX. Syekh Siti Jenar tak pernah meninggalkan catatan tertulis tentang ajarannya. Lalu bagaimana Mangoenatmodjo mengklaim dasar ajarannya dari Siti Jenar? Menurut Takashi Shiraishi dalam Zaman Bergerak: Radikalisme Rakyat di Jawa 1912–1926 , itu karena dia pernah membaca Serat Siti Djenar anggitan R. Pandji Nataraja. Mangoenatmodjo mengklaim Islamnya sebagai Islam yang sejati. Dia berupaya menyingkap esensi Ketuhanan. “ Gusti Allah punika: embuh. Nanging embuhipun punika boten ateges: ora weruh, katah leregipun dateng ora ana (Bahwa Allah itu: tidak tahu. Tetapi ketidaktahuan itu tidak berarti: tidak lihat, artinya cenderung ke ‘tidak ada’: bahwa Allah itu tidak dapat ditangkap oleh pancaindra dan karenanya tidak ada),” sebut Mangoenatmodjo seperti dikutip Shiraishi. Mangoenatmodjo juga menyatakan semua kitab suci itu palsu. Adanya kitab suci hanya untuk menguasai dan menindas rakyat dengan mudah. Selain itu, dia menyamakan kehidupan setelah mati para nabi, wali, ratu, dan bajingan. “Sesudah mati mereka habis, tidak ada yang tersisa,” lanjut Shiraishi. Tak ada pula hari pengadilan sesudah kematian. Pemerintah kolonial mengendus aktivitas ini. Tapi mereka belum menganggap ajarannya ini membahayakan. Kebijakan pemerintah kolonial cukup terbuka terhadap perkembangan aliran kepercayaan lokal selama tak ada muatan melawan hukum dan mengganggu ketenteraman dan ketertiban umum. Tapi ajaran Mangoenatmodjo berubah konfrontatif pada akhir 1910-an. Mangoenatmodjo mulai mendirikan paguyuban gotong royong bernama Roekoen Desa. “Tindakan ini untuk mendobrak praktik ijon dan menembus benteng perantara dengan memberikan kredit petani yang dibayar dengan hasil panenan padi dan menjual padi itu langsung kepada pedagang dan pemilik lumbung padi Tionghoa di Delanggu,” tambah Shiraishi. Delanggu adalah pusat lumbung beras dan ekonomi di Jawa Tengah. Kala itu harga beras naik, tapi keuntungan dari kenaikan itu tak pernah jatuh ke petani. Keuntungan hanya berputar di pembeli ijon. Ijon artinya membeli padi sewaktu padi masih berwarna hijau. Tindak tanduk Mangoenatmodjo tak disukai oleh para pembeli padi ijon. Sebab itu akan mengikis keuntungan mereka. Penguasa setempat juga meminta Mangoenatmodjo berhenti menolak pembelian padi secara ijon. Tapi dia menolaknya. Akibat penolakan itu, jabatannya sebagai kamituwa (kepala desa) dicabut. Para pengurus tiga organisasi pergerakan nasional (Sarekat Hindia, Sarekat Islam, dan Boedi Oetomo) memuji tindak tanduk Mangoenatmodjo. Mereka pun berusaha mendekati Mangoenatmodjo agar mau masuk ke organisasinya. Mangoenatmodjo memilih bergabung ke Sarekat Islam. Di sini dia menjadi ketua Sarekat Islam cabang Delanggu dibantu oleh dua asistennya: Mangoensoebroto dan Ronowaskito. Dalam rapat-rapat Sarekat Islam Delanggu, Mangoenatmodjo menyampaikan pokok-pokok ajaran Islam Abangan yang berbeda dari sebelumnya dan lebih agitatif terhadap pemerintah. “Mangoenatmodjo berpikiran bahwa ‘Jawa itu sebenarnya milik orang-orang Jawa’,” tulis Zainul Munasichin dalam Berebut Kiri. Ucapannya itu ditujukan untuk mengingatkan pemerintah kolonial. Jauh sebelum Belanda datang, tanah itu dikelola dan dikuasai oleh masyarakat setempat.   Pokok ajaran lainnya juga bermuatan menyerang pemerintah. Laporan Asisten Residen Klaten menyebut ada delapan poin ajaran lain. Di antaranya penolakan taat kepada penguasa dan polisi jika tak adil; konsepsi tentang kepemilikan bumi, langit, dan air; tuntutan kenaikan upah buruh tani; penolakan terhadap pajak; dan anjuran untuk tak takut mati. “Islam Abangan itu artinya ‘prajurit yang berani’. Islam = prajurit dan Abangan = bendera merah sebagai tanda keberanian,” catat Asisten Residen. Ajaran-ajaran baru ini menarik banyak orang. “Karena ajaran-ajaran Mangoenatmodjo dan teman-temannya itulah pada tanggal 10 Juni 1920, 600 orang petani di wilayah perkebunan Ceper Afdeeling Pangkalan berani mengadakan demonstrasi menuntut kenaikan upah bagi kerja wajib mereka,” lanjut Asisten Residen. Polisi bergerak. Mereka menangkapi pelaku demonstrasi. Tapi Mangoenatmodjo terhindar dari penangkapan karena tak terbukti ikut berdemonstrasi dan menggerakkan massa. Tapi namanya masuk dalam pengawasan pemerintah kolonial. “Demi kepentingan ketenteraman dan ketertiban umum Asisten Residen mengusulkan agar 3 orang tokoh Islam Abangan, yang dianggap berbahaya itu dan kalau keadaan memang mendesak, ditindak atas dasar pasal 47 R.R.,” sebut Asisten Residen. Pasal 47 R.R. ( Regelings Reglement) memuat ketentuan hak istimewa gubernur jenderal untuk menangkap dan membuang seseorang yang dianggap berbahaya. Selama pengawasan itu, Mangoenatmodjo justru berhasil mengumpulkan pengikutnya hingga sekira 12 ribu orang. Para pengikutnya mengidentifikasi diri mereka sebagai pengikut Sarekat Abangan dan mengangkat Mangoenatmodjo sebagai presidennya. Tapi sesungguhnya, Sarekat Abangan bersifat cair. Tak ada keanggotaan resmi, iuran, dan hierarki ketat. “Itulah yang benar-benar menjadi kekuatan sesungguhnya,” singgung Shiraishi. Perkembangan pesat pengikut Mangoenatmodjo mendorong pula pertambahan kasus pemogokan petani. Pemerintah kolonial akhirnya menangkap Mangoenatmodjo dan dua pembantunya pada Mei 1920. Tapi dia lalu dibebaskan karena tak terbukti bersalah. Setelah itu, dia kembali ditangkap, lalu dibebaskan lagi. Berulang-ulang sampai 1921. “Akhirnya tenggelam tanpa aktivitas,” sebut Shiraishi. Hayat Mangoenatmodjo berakhir di Boven Digul, tempat pembuangan di Papua untuk para tahanan politik, pada 1927. Dia hilang di sungai. Terbawa buaya saat sedang mandi.

  • Kapal Selam Mini Masa Revolusi

    Kapal selam milik TNI Angkatan Laut, KRI Nanggala-402 hilang kontak saat latihan menembakan torpedo di laut Bali pada Rabu, 21 April 2021. Kapal selam buatan Jerman ini membawa 53 prajurit TNI. Indonesia telah meminta bantuan Singapura, Malaysia, dan Australia untuk membantu pencarian kapal selam itu. Indonesia memesan kapal selam Nanggala-402 bersamaan dengan kapal selam Cakra-401 kepada Jerman pada 2 April 1977. Pembangunannya selesai pada 10 September 1980, dikirimkan pada 6 Juli 1981, dan resmi dioperasikan TNI AL pada 21 Oktober 1981. Dalam sejarah revolusi kemerdekaan, Kementerian Pertahanan pernah memesan “senjata rahasia” berupa sebuah kapal selam mini yang mampu menenggelamkan kapal perusak Belanda. Para teknisi Indonesia mengerjakannya di pabrik besi Watson di Yogyakarta. Pabrik itu bernama NV Constructie Atelier der Vorstenlanden (CAV) milik George Watson karenanya lebih dikenal sebagai pabrik Watson. Pada zaman kolonial, pabrik ini beroperasi sebagai bengkel reparasi untuk mesin-mesin pabrik gula. “Pemilik perusahaan ini meninggalkan Indonesia semasa perang dan tidak berniat untuk melanjutkan usahanya. Semasa pendudukan Jepang, pabrik ini dikuasai oleh Jepang dan dilengkapi mesin perkapalan,” tulis Farabi Fakih, dkk. dalam Bersinergi dalam Keistimewaan: Peran Bank Indonesia dalam Pembangunan Ekonomi Yogyakarta. Setelah Jepang kalah, pabrik Watson direbut serikat buruh. “Setelah merdeka, pabrik Yogyakarta CAV yaitu pabrik Watson kembali ke tangan pemiliknya. Tetapi karena kondisi revolusi, maka CAV menjual pabriknya kepada pemerintah Yogyakarta seharga 3 juta rupiah,” tulis Farabi. Baha Uddin, dkk. dalam Masyarakat Pedesaan dan Revolusi Kemerdekaan di Daerah Istimewa Yogyakarta  menyebut bahwa gedung [pabrik] ini pada masa agresi militer Belanda II hingga Serangan Umum 1 Maret 1949 digunakan sebagai tempat untuk merakit dan memproduksi senjata. "Perakitan dilakukan di gedung ini karena memiliki beberapa peralatan teknis yang mendukung pembuatan dan modifikasi senjata," tulis Baha Uddin. Adalah Prof. Herman Johanes, salah satu akademisi yang merakit senjata di gedung itu, antara lain granat tekbom, detonator, dan alat peledak. Dia ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional pada 2009. Pabrik Watson berubah menjadi Perbedij (PT Perusahaan Besi Daerah Istimewa Jogjakarta). (Repro  Daerah istimewa Jogjakarta ). Selain membuat senjata itu, Kementerian Pertahanan memesan “senjata khusus” berupa kapal selam mini. “Kapal selam mini ini cukup dikendalikan oleh seorang awak kapal saja dan bisa membawa sebuah torpedo yang digantung di bawah tubuh kapal selam tersebut,” tulis Moehkardi dalam Akademi Militer Yogya dalam Perjuangan Fisik 1945 sampai dengan 1949. Moehkardi menyebut perancang kapal selam mini ini adalah J. Ginangan, seorang perwira muda ALRI, tamatan Angkatan Laut Den Helder Belanda. Selama perang, dia menjadi Marinir Belanda lalu pulang setelah Indonesia merdeka. Percobaan pertama kapal selam mini dilakukan di Kalibayem, sebelah barat kota Yogyakarta. Kapal selam yang digerakkan oleh mesin truk ini berhasil bergerak mengapung dan menyelam. Namun, ketika torpedo dilepaskan handel pengikatnya tidak mau lepas sehingga torpedo tetap terikat. “Akibatnya, kapal selam mini itu terseret oleh torpedonya sendiri, sehingga misi untuk menenggelamkan kapal perusak Belanda untuk sementara mengalami kegagalan,” tulis Moehkardi. Kapal selam mini kemudian diperbaiki. Namun, belum selesai perbaikan, tentara Belanda menyerbu Yogyakarta. Kapal selam mini itu pun jatuh ke tangan Belanda. Sementara itu, pemerintah daerah Yogyakarta mengubah pabrik Watson menjadi PT Perusahaan Besi Daerah Istimewa Jogjakarta (Perbedij). Perbedij pernah menjadi bengkel mesin ketiga terbesar di Indonesia. Namun, Perbedij kemudian menghadapi beragam masalah yang akhirnya berhenti beroperasi. Bekas gedungnya kini menjadi Hotel Melia Purosani.

bg-gray.jpg
Tedy masuk militer karena pamannya yang mantan militer Belanda. Karier Tedy di TNI terus menanjak.
bg-gray.jpg
Pemilihan Augustine Magdalena “Tiene” Waworuntu sebagai walikota Manado menjadikannya walikota perempuan pertama pasca pembubaran RIS. Pemilihannya menimbulkan polemik daerah-pusat, hingga menyeret militer.
bg-gray.jpg
Dua anggota legiun Mangkunegaran ikut serta gerakan anti-Belanda. Berujung pembuangan.
bg-gray.jpg
Rumah Sakit Bethesda Yogyakarta merupakan buah kasih dokter misionaris Belanda bernama J.G. Scheurer yang dijuluki Dokter Tolong.
bg-gray.jpg
Rumah yang pernah digunakan untuk mendidik kesadaran politik rakyat. Kini sepi pengunjung.
bottom of page