top of page

Hasil pencarian

Cari di situs ini

10052 hasil ditemukan dengan pencarian kosong

  • Chairil Anwar, Sang Binatang Jalang

    SUATU pagi di bulan November 1945. Suasana pertemuan di rumah Perdana Menteri Sutan Sjahrir itu berjalan begitu serius. Semua orang menyimak sungguh-sungguh semua perkataan orang ketiga di Republik Indonesia saat itu. Sekali-kali ada tanya dan perdebatan. Di tengah keseriusan tersebut, tetiba seorang pemuda berpakaian agak dekil memasuki ruangan rapat. Dalam gaya slengean, dia menuju meja Sjahrir dan mengambil beberapa batang cerutu. “Selamat pagi , Bapak Perdana Menteri. Ada yang sedang penting rupanya. Saya interupsi sebentar, cuma buat ini kok,” ujarnya seperti dikisahkan oleh Sjuman Djaya dalam bukunya yang berjudul Aku.

  • Koleksi Lukisan Hilang, Pegawai Museum Tak Sadar

    Lukisan berusia 500 tahun dicuri dari museum yang ada di bawah naungan Gereja San Domenico Maggiore di Napoli, Italia. Staf museum tak menyadari kalau lukisan bergambar potret Yesus Kristus itu sudah raib. Sebagaimana dilaporkan Reuters   lukisan cat minyak itu adalah replika lukisan “Salvator Mundi” yang dikaitkan dengan Leonardo da Vinci. Lukisan replika yang hilang itu diyakini merupakan karya murid Leonardo da Vinci, Giacomo Alibrandi dari awal 1500-an.   Salvator Mundi, penggambaran Kristus sebagai penyelamat dunia, memperlihatkan Yesus dalam pakaian Renaisans. Jari tangan kanannya membentuk tanda salib. Tangan kirinya memegang bola kristal transparan. Melansir The Art Newspaper , beberapa pers Italia mencatat berdasarkan pernyataan polisi, lukisan Salvator Mundi koleksi Museum San Domenico Maggiore telah dicuri dua tahun lalu. Namun, pihak museum menegaskan karya itu masih ada pada Januari 2020, ketika pameran di Roma ditutup. “Tidak ada laporan kehilangan. Kami yang menghubungi museum gereja untuk memberi tahu barang mereka telah dicuri,” kata Giovanni Melillo, jaksa Napoli, sebagaimana dikutip dari dw . Itu dinyatakannya usai lukisan replika Salvator Mundi akhirnya ditemukan kembali oleh petugas kepolisian di apartemen pinggiran kota di selatan Italia. Lukisan itu tersimpan di dalam sebuah lemari kamar tidur. Pemilik flat yang berusia 36 tahun pun ditangkap karena dicurigai menerima barang curian. Lukisannya pun lalu dikembalikan ke museum pekan lalu (18/1/2021). Katanya, pihak museum tak mengetahui koleksinya hilang karena ruangan tempat lukisan itu dipamerkan belum dibuka selama tiga bulan akibat pandemi virus corona. Adapun penemuan barang curian ini bermula dari informasi yang kepolisian dapatkan tentang adanya aksi penadah barang seni curian. Mereka kini masih menyelidiki bagaimana benda itu dicuri. Pasalnya tidak ada tanda-tanda pembobolan. “Siapa pun yang mengambil lukisan itu menginginkannya. Masuk akal bahwa itu adalah pencurian yang terhubung dengan organisasi yang bekerja di perdagangan seni internasional,” kata Melillo kepada The Guardian. The Art Newspaper menulis, ada sekira 20 replika Salvator Mundi yang masih ada. Karya-karya ini dikaitkan dengan murid dan pengikut Leonardo da Vinci. Versi Napoli yang dicuri dari museum, tadinya dibuat di Roma. Lalu Giovanni Antonio Muscettola, penasihat Charles V dan duta besar untuk istana kepausan, membelinya dan mebawa lukisan itu ke Napoli. Karya itu baru-baru ini kembali ke ibu kota Italia untuk dipamerkan dalam Leonardo in Rome 2019: Influences and Legacy. Lukisan Termahal Melansir Daily Mail , Salvator Mundi yang asli diperkirakan dilukis Leonardo da Vinci pada 1500-an untuk Louis XII. Ini tak lama setelah penguasa Prancis itu menaklukkan Milan dan mengambil alih Genoa. Karya asli Salvator Mundi adalah lukisan termahal yang pernah dijual dalam lelang. Pada 2017, karya ini dilepas dengan harga 450juta dolar AS atau setara dengan Rp6,335triliun (kurs Rp14.062,5). Diyakini pembelinya adalah Badr bin Abdullah bin Mohammed bin Farhan Al-Saud, seorang anggota keluarga Kerajaan Saudi. Penjualannya pun memecahkan semua rekor di balai lelang Christie, New York. Lukisan ini mestinya akan dipamerkan di Louvre Abu Dhabi pada September 2018. Namun, pameran itu ditunda tanpa batas waktu yang jelas. Sejak terjual, lukisan Salvator Mundi yang asli ini pun tak pernah muncul di hadapan publik. Beberapa ahli meragukan keasliannya. Sang maestro sendiri meninggal pada 1519. Sementara hingga kini hanya ada kurang dari 20 lukisan karyanya yang masih diketahui.

  • Ketika Belanda Mendirikan Denpasar

    UPAYA rakyat Bali mengusir kekuatan kolonial Belanda dari wilayahnya berakhir sudah. Pada 20 September 1906, rakyat memutuskan mengakhiri perlawanan. Kerusakan yang semakin meluas, serta gugurnya seluruh keluarga istana, membuat mereka terpaksa meletakkan senjata. Belanda pun keluar sebagai pemenang Puputan Badung. Pasca perang, pemerintah kolonial segera membangun kontrol atas wilayah barat dan selatan Bali, baik di lapangan politik, ekonomi, sosial, maupun budaya. Dalam menjalankan kontrol, pemerintah kolonial mendirikan pemerintahan sementara di bekas wilayah Kerajaan Badung. Mereka lalu memilih Puri Denpasar sebagai pusat pemerintahan sementara tersebut. Menurut Made Sutaba, dkk dalam Sejarah Perlawanan Terhadap Imperialisme dan Kolonialisme di Daerah Bali , puri itu juga menjadi pertahanan terkuat Belanda di Bali. Asisten Residen Swartz yang membawahi wilayah Afdeeling Zuid Bali , ditugasi menjaga tempat itu. Nama Denpasar cepat dikenal kalangan Belanda, terutama tentara yang ikut dalam pertempuran. Tidak hanya sebagai pusat pemerintahan kolonial, tetapi juga digunakan untuk menyebut wilayah bekas Kerajaan Badung. Lama kelamaan Denpasar dikenal luas sebagai nama sebuah kota, menggantikan Badung. Dijelaskan A.A. Gde Putra Agung, dkk dalam Sejarah Kota Denpasar 1945-1979 , berdasar laporan resmi seorang peneliti Belanda, Van Geuns, pada akhir 1906 diketahui bahwa Denpasar adalah sebuah kota yang terdiri dari rumah-rumah penduduk dengan keadaan jalan yang kurang menunjang. Laporan itu merupakan keterangan pertama Denpasar sebagai nama sebuah kota. “Dengan kenyataan ini nama Denpasar sebagai sebuah nama kota lahir pada tanggal 24 November 1906. Dan justru orang Belandalah yang memberikan julukan kepada tempat puputan ini dengan nama Denpasar,” kata Gde Putra Agung, dkk. Pemerintah Belanda membagi wilayah bekas kekuasaan Badung ke dalam lima kedistrikan, yakni Distrik Kota (Denpasar), Distrik Kesiman, Distrik Kuta, Distrik Abiansemal, dan Distrik Mengwi. Hal itu dilakukan demi mempermudah pengaturan di tempat tersebut. Distrik Kota menjadi pusat pemerintahan, dengan berbagai aktivitas sosial, politik, dan ekonomi. Pemerintahan Denpasar juga mengurusi wilayah yang cukup luas di selatan Bali, meliputi Badung, Tabanan, Gianyar, Klungkung, dan Karangasem. Mengingat peran penting tersebut, pemerintah Belanda melakukan banyak pembenahan di seluruh wilayah Denpasar. Pembangunan jalan, gedung-gedung pemerintahan, serta pusat perekonomian dikerjakan dalam kurun waktu yang singkat. Itu dilakukan agar kegiatan para kolonialis di Denpasar dapat cepat berjalan. Tidak hanya pembangunan di bidang formal, menurut Ni Made Yudantini, dkk dalam Sejarah dan Perkembangan Kota Denpasar sebagai Kota Budaya , pemerintah Belanda juga mendirikan permukiman, sekolah, pasar, dan museum. Infrastruksur jalan dan jembatan yang menghubungkan banyak tempat pun mulai dibangun. “Di samping jalan-jalan maka pemerintah kolonial telah pula mencoba menerapkan tata kota yang baru bagi Denpasar. Dalam tata kota ini antara lain menyangkut pembenahan, pelebaran, dan pembangunan baru sarana maupun prasarana Kota Denpasar seperti Pasar Badung yang merupakan pusat perbelanjaan bagi masyarakat,” ungkap Gde Agung Putra, dkk. Pemerintah kolonial merencanakan pula pembangunan kawasan industri, pemukiman, rekreasi, fasilitas kesehatan, dan perkantoran pelengkap administrasi seperti kantor urusan pajak di seluruh Denpasar. Di sektor industri, perkembangan pesat terjadi pada 1930-an dengan dibangunnya pabrik minyak kelapa dan penggilingan padi. Sementara di sektor rekreasi, kemajuan terjadi dengan sangat pesat. Seperti Pantai Kuta yang pada permulaan abad ke-19 ramai dilalui kepal-kapal dagang, mulai diperkenalkan sebagai tempat baru, yaitu sarana rekreasi. Di sana terdapat berbagai hiburan, tempat menginap, dan area bersantai. Pantai Kuta telah menjadi tempat orang-orang Eropa melepas penatnya. Mereka berencana menjadikan Denpasar sebagai sebuah kota besar, mendampingi Singaraja di utara Bali. Kehidupan di tempat itu pun menjadi semakin ramai di berbagai sektor. Penduduk dari desa-desa sekitar mulai memasuki kawasan Denpasar. Mereka membangun kehidupan baru di sana, baik sebagai buruh, pedagang, hingga pembantu orang-orang Eropa. Dampak urbanisasi memaksa pemerintah Belanda membangun tangsi militer di sekitar pusat kota. Tidak lupa didirikan juga gudang senjata, kantor kepolisian, kantor agrarian, dan rumah sakit umum. Pejabat tinggi pun mulai ditempatkan di sana, mengurusi berbagai keperluan administrasi dan pengawasan terhadap masyarakat bumiputera yang dari hari ke hari semakin ramai menempati wilayah Denpasar. “Namun demikian pemerintah telah menyadari akan masalah tersebut sehingga masalah-masalah seperti itu dapat ditangani dengan mudah. Pemerintah hanya bersikap memberikan petunjuk kawasan mana yang dapat dimukimi sesuai dengan rencana pemekaran Kota Denpasar. Perkembangan ini berlanjut sampai akhir pemerintahan kolonial Belanda di Bagi pada Maret 1942,” tulis Gde Agung Putra, dkk.*

  • Jam Malam Mencekam di Negeri Oranye

    SUDAH tiga hari terakhir ini Amanda, seorang warga negara Indonesia (WNI) di Amsterdam, Belanda, tak bisa tenang. Kerusuhan saban malam pecah sejak pemerintah Belanda menarapkan lockdown  dan jam malam pada 23 Januari 2021. “Iya, di sini (Belanda) sedang ada jam malam dan jadi kacau keadaannya. Sejak kemarin sudah 240 orang ditangkap. Malam ini semakin buruk. Kerusuhannya bahkan sudah mendekat, kira-kira 200 meter dari apartemen saya,” ungkap WNI yang kuliah dan bekerja di Amsterdam sejak tiga tahun lalu itu via pesan singkat Telegram  pada Senin malam, 25 Januari waktu setempat (Selasa, 26 Januari dini hari WIB). Kerusuhan dahsyat pada Senin malam yang mencemaskan Amanda itu tak hanya terjadi di Amsterdam namun di hampir semua kota besar di Negeri Kincir Angin, seperti Rotterdam, Haarlem, Eindhoven, dan Den Bosch. Malam itu 70 perusuh akhirnya diamankan aparat kepolisian. Pihak KBRI Den Haag mengeluarkan imbauan resmi agar para WNI untuk menaati jam malam dan memantau situasi lewat laman resmi KBRI Den Haag, id.indonesia.nl , serta menghubungi mereka lewat tujuh  hotline  yang disediakan jika terjadi sesuatu. Himbauan dan fasilitas itu disediakan karena perusuh tak hanya menyasar aparat sebagai simbol pemerintah, melainkan juga sejumlah pertokoan dan pusat perbelanjaan yang turut dijarah sebelum dilempari kembang api dan bom molotov. “Ini tak ada hubungannya dengan protes, ini kekerasan yang sudah jadi tindak kriminal dan kami akan melakukan tindakan yang sepatutnya,” kata Perdana Menteri (PM) Belanda Mark Rutte mengecam, dikutip BBC , Senin 25 Januari 2021. Perdana Menteri Belanda, Mark Rutte, mengecam aksi kekerasan pengunjuk rasa. (Twitter @MinPres). Para pengunjuk rasa anti- lockdown berubah jadi beringas ketika berhadapan dengan aparat kepolisian kala sudah lewat jam malam. Rijksinstituut voor Volksgezondheid en Milieu (RIVM) atau Institut Kesehatan dan Lingkungan Umum, Kementerian Kesehatan Belanda, menerapkan jam malam antara pukul 9 malam hingga 4.30 pagi waktu Belanda. Bagi yang melanggar, bakal dikenakan sanksi denda 95 euro (Rp1,6 juta). Pemerintah Belanda juga menerapkan larangan penerbangan dari dan menuju Inggris dan Afrika Selatan sebagai langkah pencegahan lebih lanjut terhadap penyebaran varian baru COVID-19 atau virus corona Inggris yang dikabarkan 30 persen lebih mematikan. PM Rutte terpaksa menerapkannya karena peningkatan kembali kasus COVID-19 di “Negeri Oranye” hingga hari ini, Selasa, 26 Januari 2021 sudah mencapai lebih dari 950 ibu positif dan lebih dari 13 ribu di antaranya meninggal. Ini kali pertama masyarakat Belanda kembali mengalami pembatasan aktivitas lewat jam malam sejak 80 tahun silam di tengah pergolakan Perang Dunia II. Jam Malam Rezim Nazi Jauh sebelum Jerman mengobarkan Perang Dunia II dengan menginvasi Polandia pada 1 September 1939, Kerajaan Belanda sudah menyatakan diri sebagai negara netral. Namun, tak seperti Spanyol, Swiss, dan Swedia, nahas melanda Belanda karena tetap diserbu pasukan baja Jerman yang merangsek ke Benelux (Belgium, Netherlands, Luxembourg) di musim panas 1940. Tiga negara kecil itu pun kocar-kacir saat perbatasan mereka didobrak pasukan Jerman lewat Operasi “Fall Gelb”, dini hari 10 Mei 1940. Pasukan agresor berjumlah 750 ribu personil itu terbagi ke dalam 22 divisi dan diiringi lebih dari 700 panser serta dibantu 800 pesawat tempur dan pembom Luftwaffe (Angkatan Udara Jerman) sebagai bagian dari Heeresgruppe B (Grup Angkatan Darat Jerman B). Dari semua kota besar di Belanda, Rotterdam yang mengalami nasib paling nahas akibat tak dinyatakan sebagai kota terbuka. Ia dijadikan lautan api setelah dibombardir 25 pesawat pembom tukik Junkers Ju-87 “Stuka” dan 54 pembom Heinkel He-111. Total, Rotterdam dihujani 300 kilogram bom dari udara, ditambah pemboman dari darat oleh Divisi Panser AD ke-9 dan Divisi Panser SS (Schutzstaffel) ke-1 “Leibstandarte SS Adolf Hitler”. Kota Rotterdam yang luluh lantak setelah dibombardir Jerman. (NIOD). Hanya empat hari Belanda bertahan dan akhirnya bertekuk lutut. Namun sebelum negerinya dimasuki serdadu Jerman dan menyerah secara resmi pada 15 Mei, Ratu Wilhelmina telah kabur dengan membawa para pejabat pemerintahan darurat ke London, Inggris. Kekosongan pemerintahan akibat tak satu pun politikus Belanda mau jadi boneka Nazi-Jerman membuat Jerman membentuk pemerintahan sipil sendiri dan menunjuk Arthur Seyss-Inquart, petinggi Nazi Austria, sebagai pemimpin Reichskommissariat Niederlande. Sejak saat itulah kehidupan penuh tekanan terhadap warga Belanda dimulai. Dalam Altruistic Personality: Rescuers of Jews in Nazi Europe , Samuel P. Oliner menjelaskan bahwa Seyss-Inquart, sebagaimana pemerintahan boneka Nazi lain, mengimplementasikan garis besar kebijakan Gleichschaltung . Semua organisasi dan partai non-sayap kanan dilikuidasi dan masyarakat dikotak-kotakkan berdasarkan ras. Kaum Yahudi jadi sasaran represi. Namun, Seyss-Inquart paham bahwa masyarakat Yahudi dan Nasrani di Belanda punya ikatan kuat sejak berabad-abad. Oleh karena itu hingga Agustus 1940, pemisahan antara Yahudi dan non-Yahudi tak seberingas di Polandia dan Prancis yang ditempatkan khusus semacam ghetto . Tujuan penerapan kebijakan itu ialah untuk mengambil hati masyarakat Belanda lain, yang masih serumpun dengan orang Jerman. Reichskommissariat Niederlande, Arthur Seyss-Inquart. Untuk sementara, tak ada satu pun ghetto di Belanda. Para Yahudi baru sekadar diwajibkan mengenakan tanda lengan Yahudi dan dilarang datang ke rumah-rumah orang non-Yahudi. Aturan itu lalu diperketat dengan represi pencaplokan lahan-lahan tuan tanah Yahudi, pengusiran guru-guru Yahudi dari semua institusi pendidikan, dan pemecatan pegawai-pegawai Yahudi di pemerintahan lokal. “Meski Jerman bertindak hati-hati selama bulan-bulan pertama pendudukan, ketentraman (di Belanda) tak bertahan lama. Aturan anti-Yahudi diterapkan pada Agustus 1940. Orang-orang Yahudi diwajibkan mendaftarkan harta kekayaan dan yang menolak akan dijebloskan ke bui. Akhirnya terjadi protes yang berujung kerusuhan,” tulis Jack Fischel dalam The Holocaust. Untuk meredam protes massal orang Yahudi yang disokong sejumlah masyarakat Belanda lain, lanjut Fischel, Seyss-Inquart mencoba “merangkul” dengan membentuk Joodse Raad, dewan khusus Yahudi, pada Februari 1941. Namun tetap saja Joodse Raad belum bisa mencegah pelanggaran yang berbuah kekerasan tanpa ujung. “Pihak Nazi sampai memberi pelajaran kepada Yahudi, di mana pada 22 Februari mereka memblokade area pemukiman Yahudi di kota Amsterdam dan menangkapi 389 lelaki Yahudi. Mereka kemudian dideportasi ke (kamp konsentrasi) Buchenwald dan kemudian Mauthausen. Hingga perang usai, hanya satu di antara mereka yang masih hidup,” imbuhnya. Seruan mogok buruh Amsterdam pada Februari 1941. (NIOD). Tiga hari pasca-peristiwa itu, kelompok-kelompok buruh non-Yahudi di Amsterdam turun ke jalan dan melancarkan pemogokan umum. Polisi dan tentara baru dapat meredam aksi buruh mencekam itu tiga hari kemudian. Pada 12 Maret, Reichssicherheitshauptamt (Dinas Keamanan Jerman) pimpinan Obergruppenführer Reinhard Heydrich mengeluarkan keputusan semua orang Yahudi di negara-negara pendudukan akan dideportasi massal, termasuk di Belanda. Untuk memindahkan Yahudi asal Belanda, RSHA menempatkan semua organisasi Yahudi di bawah otoritas Joodse Raad dan menetapkan dekrit lanjutan untuk memisahkan Yahudi dari populasi Belanda. Pada Mei, jam malam mulai diaplikasikan untuk semua warga Belanda dari pukul 8 malam sampai 6 pagi. Jam malam itu rutin disiarkan lewat radio dan mobil-mobil dengan pengeras suara yang berkeliling kota. Pada musim dingin kemudian, jam malam diperpanjang satu jam jadi jam 9 malam sampai jam 7 pagi. “Orang-orang Yahudi juga hanya diizinkan berbelanja di pasar dari jam 3-5 petang. Yahudi juga dilarang berperjalanan jauh, dan dilarang menggunakan transportasi umum tanpa izin khusus. Aturannya bertambah pada Agustus 1941, di mana anak-anak Yahudi dilarang masuk sekolah umum. Menjadi tanggung jawab Joodse Raad untuk mengisi kekosongan pendidikan itu dengan membuka sekolah mereka sendiri,” tambah Fischel. Kolase razia Yahudi di Belanda selama pendudukan Nazi 1940-1945. (NIOD). Hukuman bagi pelanggar yang tertangkap basah keluar rumah lewat jam malam bukan lagi denda sebagaimana yang ditegaskan PM Rutte pekan sebelumnya. Lewat aturan baru, para pelanggar mesti siap diberangkatkan pasukan SS ke kamp konsentrasi atau dihadapkan ke barisan eksekutor. “Pelanggaran jam malam, baik disengaja atau tidak, pasti berakibat fatal. Pada tahun kedua masa pendudukan, Herman Wallenga, seorang Yahudi dari Leeuwarden, membeli sekantung apel saat sudah lewat lima menit dari jam malam. Ia ditangkap dan langsung dikirim ke Auschwitz, di mana dia dieksekusi beberapa pekan kemudian,” tulis Peter Romijn dalam “The Experience of the Jews in the Netherlands ” yang dimuat dalam Dutch Jewry: Its History and Secular Culture (1500-2000). Situasi bertambah mencekam saat memasuki tahun 1942. Razia untuk mencari Yahudi yang bersembunyi di rumah-rumah non-Yahudi mulai dilancarkan. Banyak orang Yahudi yang lantas mencoba menyelamatkan diri dengan beralih keyakinan menjadi Katolik, demi berlindung di balik jubah Uskup Agung Johannes de Jong. Namun, 201 di antara mereka tetap dijemput paksa Pasukan SS dan dikirim ke Kamp Konsentrasi Auschwitz. Hingga awal 1945, kereta-kereta barang hilir-mudik mengantar puluhan ribu Yahudi dari provinsi-provinsi Belanda ke kamp transit Westerbork, lalu dilanjut ke kamp-kamp konsentrasi seperti Auschwitz, Sobibor, atau Bergen-Belsen. Di kamp-kamp itulah mereka menemui ajal masing-masing. Kolase deportasi Yahudi dari Belanda ke kamp-kamp konsentrasi. (NIOD). Kenyataan pahit itu antara lain dialami keluarga Anne Frank, yang kisahnya kondang berkat diterbitkannya catatan harian Anne dengan tajuk Het Achterhuis. “Keluarga Frank dikirim ke Westerbork, dan dideportasi dari sana ke Auschwitz, di mana ibu Anne, Edith, meninggal. Sedangkan Anne dan kakaknya, Margot, dikirim ke Bergen-Belsen pada akhir Oktober 1944, di mana mereka tewas setelah menderita sakit typhus . Hanya sang ayah, Otto Frank, yang selamat sampai akhir perang,” sambung Fischel. Kisah Anne Frank yang ditemukan Miep Gies, eks pekerja bawahan Otto Frank, jadi gambaran umum bagaimana orang-orang Yahudi mati-matian menghindari deportasi dengan bergantung pada belas kasih teman maupun kenalan non-Yahudi mereka. Tak peduli bantuan itu cuma-cuma atau yang dengan pamrih. Hingga berakhirnya Perang Dunia II, tak terkira korban holocaust di seantero Eropa, termasuk Belanda. Fischel menyebutkan, dari sekira 140 ribu penduduk Yahudi di Belanda sebelum pendudukan Jerman, hanya 15 ribu yang selamat ketika Jerman angkat kaki dari Belanda.

  • Ruang Penyimpanan Koleksi Museum Sulawesi Tenggara Dibobol Maling

    Sejumlah benda koleksi Museum Provinsi Sulawesi Tenggara (Sultra) hilang dicuri. Hal itu terjadi usai maling membobol dua lapis pintu, pintu kayu jati dan besi, yang mengamankan ruang penyimpanan museum ( storage ). Peristiwa ini diketahui oleh staf museum pada Selasa subuh (26/1/2021). “Memang yang dibobol gudang, bukan gedung koleksi pameran. Karena kalau ruang pameran ada di gedung lain,” kata Asrun Lio, Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Sultra kepada Historia melalui sambungan telepon, Rabu (27/01/2021), sekaligus membenarkan peristiwa pencurian itu. Asrun mengaku belum mendapat laporan rinci benda apa saja yang hilang. Pasalnya, kurator museum masih melakukan pendataan. Namun, dia menjelaskan, barang yang dicuri merupakan perolehan dari tahun 1980-an dan sebagian lainnya dari 1990-an. “Asalnya lokal sini, yang diambil yang kecil-kecil, ringan, terbuat dari kuningan. Ada juga perak, samurai. Banyaknya koleksi asesoris pakaian adat. Jadi, mungkin ini dikira [perhiasan] emas,” ujarnya. Tak jauh dari ruang penyimpanan yang berada di bagian belakang kompleks museum, staf juga menemukan beberapa benda koleksi tercecer, gagal dimaling. “Jumlah yang hilang sementara ini sedang dihitung. Untuk nilai barangnya tak sebanding dengan nilai sejarahnya yang hilang,” ujar Asrun. Keamanan Tak Memadai Asrun mengakui, museum yang terletak di Jalan Abunawas, Kota Kendari itu memang tak dilengkapi perangkat keamanan yang memadai. Pencurian ini memaksa mereka memperketat keamanan. Para pekerja museum diberi tugas tambahan untuk jaga malam secara bergilir. Kamera pengawas atau CCTV dipasang di area penyimpanan. Sebelumnya, CCTV hanya memantau bagian gedung pamer museum. “Keamanan belum baik. Tidak ada satpam. CCTV baru pasang kemarin karena kejadian itu. Dengan ada kejadian ini kami perketat keamanan,” kata Asrun. Asrun mengungkapkan bahwa sebelumnya museum pernah hampir kemalingan. “Ruang kerja staf pernah dibobol,” katanya. Asrun mengimbau masyarakat agar tidak membeli, menerima, dan menyimpan barang-barang yang hilang dari museum ini. “Benda-benda itu masih ada labelnya. Ada nomor registrasinya,” katanya. Pihak museum telah melaporkan pencurian ini ke polisi. “Sejauh ini kami belum pernah mencatat adanya penjualan barang ilegal di wilayah Sultra,” kata Asrun. Gambaran Buruk Sebuah Museum Menurut Yasni dalam tugas akhir di jurusan arkeologi Universitas Haluoleo Kendari, Sultra tahun 2019, yang berjudul “Konservasi Wadah Kubur (Soronga) di Museum Provinsi Sultra”, museum ini memuat 5.339 benda koleksi. Ribuan koleksi itu terbagi ke dalam 10 golongan, yakni koleksi geologi, biologi (kerangka ikan paus sepajang 12 meter), etnografi, arkeologi, historis (foto mantan raja/sultan), numismatik (bentuk alat tukar yang pernah digunakan), filologi (naskah ajaran agama Islam dan Al-Qur’an tertua), keramik, seni rupa dan koleksi teknologi. “Gedung penyimpanan berfungsi sebagai bangunan penyimpanan benda koleksi yang tidak ditampilkan dalam gedung pameran Museum Provinsi Sultra,” tulis Yasni. Koleksi unggulannya berupa soronga atau peti jenazah berusia 400 tahun. Ada juga keramik Tiongkok, perabot logam, dan naskah-naskah Buton. Menurut buku Katalog Museum Indonesia yang terbit tahun 2018, cikal bakal Museum Provinsi Sultra mulai berdiri sejak 1978/1979. Pada 1991, Museum Sultra resmi menjadi Museum Provinsi Sultra sebagai Unit Pelaksana Teknis (UPT) Direktorat Jenderal Kebudayaan. Namun, seiring berlakunya Undang-Undang Otonomi Daerah, museum ini pun dilimpahkan ke pemerintah daerah.Ia menjadi UPT Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Sultra. “Menurut saya memang pengamanan dari museum sangat kurang,” ujar Sandy Suseno, arkeolog Universitas Haluoleo, ketika dimintai pendapat soal hilangnya sejumlah koleksi museum melalui pesan singkat. “Dalam konteks kejadian di Museum Sultra, standar keamanan mungkin sudah memenuhi untuk lingkup gedung dengan pintu dua lapis, tetapi untuk lingkup ruang sangat tidak memenuhi,” lanjut Sandy. Itu seperti ketiadaan kamera pengawas dalam ruang penyimpanan museum. Pun dari foto-foto yang beredar, kata Sandy, koleksi di dalam ruangan itu hanya ditata dalam rak-rak tanpa ada perlindungan. “Koleksi hanya dibungkus koran untuk melindungi dari debu,” kata Sandy “Artinya secara umum, apabila dikatakan keamanan museum sudah sesuai, menurut saya sangat tidak sesuai.” Sandy menambahkan, dalam penanganan museum, koleksi yang ada di ruang pamer koleksi dan yang ada di ruang penyimpanan seharusnya diperlakukan sama. Bukan cuma keamanan, seperti keberadaan CCTV, tetapi juga cara mengatur koleksi. “Begitu banyak variasi koleksi, semua harusnya dibagi-bagi. Koleksi yang memiliki tingkat kerapuhan yang lebih besar, perawatannya harus lebih intensif,” kata Sandy. Untuk koleksi berbahan logam misalnya, perlu juga menilai bahan logam itu. Kata Sandy, di beberapa museum besar biasanya benda dengan nilai tinggi disimpan dalam brankas besi. “Topeng emas di Museum Sonobudoyo misalnya tersimpan di brankas besi, tetapi tetap hilang juga. Apalagi ini yang hanya disimpan di ruangan dengan gembok yang bisa dipotong,” katanya. Sandy berpendapat, sulit untuk menyalahkan pihak museum. Tak banyak staf museum yang memang secara khusus memiliki kapabilitas di bidang museum. Menurutnya peristiwa semacam ini terjadi salah satunya juga akibat perhatian pemerintah daerah yang minim terhadap museum. “Salah satu bukti adalah penggabungan manajemen museum dengan taman budaya. Ini yang membuat museum tidak dapat berkembang,” jelas Sandy. Museum sebagai institusi dinamis seharusnya berkembang bersama zaman. Untuk itu, mereka butuh kewenangan. Membutuhkan pula sumber daya, baik materi maupun tenaga manusia. “Potret Museum Sultra benar-benar mirip gambaran buruk museum yang pamerannya tidak berubah, kotor, tidak perhatian dengan koleksi, konservasi seadanya, tidak ada tenaga ahli yang benar-benar siap bekerja di museum,” ujar Sandy. Sandy menyoroti perlunya dibentuk tim khusus dari pemerintah Provinsi Sultra untuk melakukan inventarisasi koleksi museum. Ini termasuk pengelolaan museum dan pengawasannya. “Ini terdiri dari orang-orang independen. Komunitas bisa masuk berkontribusi di sana, seperti contoh kasus yang dilakukan Museum Snobudoyo dulu,” lanjut Sandy. Sinergi dengan lembaga-lembaga adat pun dibutuhkan. Pun kampanye lewat media untuk bisa memberi perhatian lebih terhadap warisan budaya di museum. Sandy juga menyayangkan berbagai peristiwa terkait warisan budaya di wilayah Sultra yang terus terjadi. Di kanal Youtube misalnya, marak video pencurian barang antik di Sultra.   “Misalnya pengrusakan situs pekuburan gua di Kolaka dengan menggunakan detektor logam. Artinya kejadian-kejadian ini sebenarnya tamparan untuk pemimpin daerah karena di saat kebijakannya terlalu sibuk memoles tatanan kota, justru pembangunan kebudayaan dilupakan,” tegasnya.

  • Melawan Kolera dengan Vaksinasi Massal

    PEMERINTAH Indonesia mulai memberikan vaksinasi Covid-19 kepada masyarakat luas sejak pertengahan Januari 2021. Vaksinasi bertujuan untuk menekan tingkat penularan, mengurangi gejala berat, dan mencegah ambruknya layanan kesehatan. Setelah beberapa hari, dampak vaksin akan terlihat. Vaksin pernah terbukti ampuh mengurangi wabah penyakit di Hindia Belanda. Ini terjadi ketika kolera menyerang Batavia pada dekade 1910-an. Kasus kolera kali pertama tercatat pada 1821. Penderita kolera mengalami gejala muntah, lebih sering buang air besar berbentuk cairan seperti air beras. Penyakit ini tersebar lewat feses penderita yang mengkontaminasi air tanah dan lalat pembawa bakteri kolera yang hinggap di makanan. Kolera meluas tersebab sanitasi buruk, pengetahuan tentang penyakit ini sangat minim, dan orang masih sering minum air tanpa memasaknya lebih dulu.

  • Kegamangan Sukarno Mengganyang Malaysia

    Sekali waktu, Presiden Sukarno mengundang Brigjen Soegih Arto ke Istana Merdeka. Sang tamu istana merupakan duta besar Indonesia untuk Birma yang dikenal baik oleh presiden. Dengan nada kesal Bung Karno menyatakan betapa konfontasi dengan Malaysia telah membawa akibat yang kurang menguntungkan bagi Indonesia. “Beliau terlihat sangat serius. Jarang saya melihat Bung Karno seperti ini,” kenang Soegih Arto dalam Sanul Daca: Pengalaman Pribadi Letjen (Pur.) Soegih Arto .    Kepada Soegih Arto, Sukarno mengeluarkan unek-uneknya. Presiden berkata bahwa konfrontasi dengan Malaysia sangat menguras tenaga pemerintah Indonesia. Sudah saatnya segala usaha harus dilakukan untuk menghentikan konfrontasi secara terhormat. Untuk itu, Sukarno menunjuk Soegih Arto melakukan penjajakan damai lewat "pintu belakang". Misi terhadap Soegih Arto kian menantang lantaran dirinya bukan ditugaskan ke Malaysia, melainkan ke Inggris. Seperti diketahui, Inggris merupakan negara yang mensponsori pembentukan negara Federasi Malaya. Dalam penugasan ke Inggris, Sukarno mengintruksikan dua hal kepada Soegih Arto. Pertama , supaya pemerintah Inggris memberikan indikasi seolah-olah mereka kewalahan dengan konfrontasi itu. Kedua , mengusulkan agar terjalin perundingan antara Inggris dan Indonesia mengenai penghentian konfrontasi. Sukarno menekankan indikasi penyelesaian sengketa harus datang dari Inggris. Soegih Arto menyebut misi penugasannya ke Inggris sebagai formula Sukarno untuk menyelamatkan citra Indonesia yang terbelit konfrontasi. Sebelum berangkat, Soegih Arto diberikan blangko mandat untuk menjanjikan apa saja kepada pihak Inggris. Andai kata Inggris meminta semua asetnya yang dinasionalisasi, melalui perantaraan Soegih Arto maka pemerintah Indonesia akan menyanggupi. Setelah mafhum dengan tugasnya, Soegih Arto pun permisi dan undur diri. Tidak lupa Bung Karno memberinya sangu untuk ongkos jalan. Soegih Arto berangkat ke London melalui Paris, Prancis. Ketika singgah di kediaman Atase Militer Indonesia untuk Prancis Kolonel Sumpono Banyuaji, Soegih Arto bertemu dengan Mayjen S. Parman. Soegih Arto agak terkejut mengapa Parman berada di Paris namun segan bertanya lebih lanjut. Soegih Arto kemudian mengetahui bahwa Parman sedang melakukan operasi intelijen untuk tujuan yang sama. Hanya saja, koneksi mereka yang berbeda. Bila Soegih Arto diutus ke Departemen Luar Negeri Inggris, maka Parman punya saluran ke Markas Besar Angkatan Perang. Penunjukan Parman tidak lepas dari kapasitasnya sebagai Asisten 1/Intelijen Menpangad. Selain itu, Parman juga pernah menjadi atase militer Indonesia di Inggris sehingga kenal baik dengan beberapa pejabat tinggi di kemiliteran Inggris. Keesokan harinya, Soegih Arto menyaksikan Atase Militer Indonesia untuk Inggris Kolonel Sastraprawira menjemput Parman. “Rupanya Bung Karno mengutus beberapa orang untuk menjajaki kemungkinan menghentikan konfrontasi, tanpa harus menderita malu,” tutur Soegih Arto.  Dalam otobiografinya yang terbit tahun 1989, Soegih Arto mengakui kalau tidak banyak orang yang mengetahui kisah penugasannya ini. “Cerita ini mungkin sukar dipecayai, karena kejadian-kejadian kemudian, tidak mendukungnya,” kata Soegih Arto. Namun, Sukarno sendiri dalam otobiografinya agaknya menyiratkan memang adanya misi rahasia tersebut. “Aku tidak ingin membiarkan konfrontasi ini berlarut-larut. Aku menyadari, bahwa kita sekarang tersangkut dalam rentetan reaksi yang tak ada ujungnya dan disatu saat ia harus dihentikan,” kata Sukarno kepada Cindy Adams dalam Bung Karno: Penyambung Lidah Rakyat. Kebenaran cerita misi rahasia Soegih Arto dikaji oleh peneliti politik Hidayat Mukmin dalam disertasinya di Universitas Gadjah Mada. Menurut Hidayat, lobi Soegih Arto ke London merupakan upaya tersembunyi dari Bung Karno untuk mengakhiri konfontasi. “Operasi khusus” Sukarno itu berlangsung pada pertengahan tahun 1964 bersamaan dengan Menpangad Letjen Ahmad Yani menugaskan Mayjen Soeharto menjajaki kemungkinan rujuk dengan Malaysia. Hidayat juga mencatat, pemerintah Indonesia bersedia memberikan kompensasi yang mahal, antara lain pengembalian tanah partikelir milik Inggris di sekitar Ciasem dan Pamanukan yang telah diambil oleh Indonesia.   “Apa yang telah dilakukan Soegih Arto tentunya bukan rekaannya sendiri, karena kenyataannya ia telah melakukan misi itu dan ini merupakan kenyataan sejarah,” kata Hidayat Mukmin dalam disertasinya yang dibukukan TNI Dalam Politik Luar Negeri: Studi Kasus Penyelesaian Konfrontasi Indonesia-Malaysia. Operasi intelijen yang dijalankan Mayjen S. Parman pun bukan isapan jempol semata. Sejarawan Universitas Indonesia Linda Sunarti membenarkan adanya usaha-usaha rahasia dari pihak Indonesia untuk menghubungi pihak Inggris (dan juga Malaysia). Sepanjang bulan Oktober 1964, terdapat sekurang-kurangnya sembilan penjajak perdamaian ( peace feelers ) dari pihak Indonesia yang menjalankan misi penyelesaian konfrontasi. “Tujuan para peace feelers ini adalah berusaha untuk mengakhiri konfrontasi melalui 'jalan belakang', karena perundingan-perundingan formal yang dilakukan tidak berhasil meredakan konflik, bahkan konflik kedua negara mulai mengarah pada konflik terbuka,” tulis Linda dalam disertasi di Universitas Indonesia berjudul “Penyelesaian Damai Konflik Indonesia Malaysia 1963--1966”.    Bukti-bukti adanya usaha dari militer Indonesia menemui Inggris, kata Linda, tercantum dalam dokumen-dokumen milik Foreign Office (Departemen Hubungan Luar Negeri) di London. Diperkirakan, pengiriman misi-misi rahasia tersebut dipengaruhi oleh kekhawatiran pihak militer Indonesia mengenai kemungkinan Inggris akan melakukan serangan besar-besaran setelah pemilihan umum di Inggris tanggal 15 Oktober 1964. Bagaimana kelanjutannya misi Soegih Arto maupun penjajak rujuk lainnya? Nantikan di artikel berikutnya. (Bersambung)

  • Pejuang Belakang Layar

    Berjuang tak harus angkat senjata dan maju ke medan pertempuran. Adalah Bu Ruswo, orang yang berperan penting pada masa revolusi fisik di Yogyakarta. Ia berjuang di belakang layar, menyediakan pengisi perut serta kebutuhan logistik para prajurit.

  • Sejarah di Balik Dongeng Pasukan Rubah

    HANYA enam menit papan skor di King Power Stadium, markas Leicester City FC, bertahan dengan angka 0-0. Di menit enam itulah bola liar hasil tendangan sudut dikonversi menjadi gol oleh Wilfred Ndidi lewat tembakan first time  keras dan sedikit mengenai tiang sebelum menyentuh jala gawang Chelsea yang dijaga Edouard Mendy. Skor 1-0 untuk tuan rumah. Tetapi itu tak jadi momen bersorak kegirangan kali terakhir buat pelatih Leicester, Brendan Rodgers. Empat menit jelang turun minum, tercipta lagi peluang emas dari through pass  Marc Albrighton. James Maddison yang posisinya tak terkawal langsung menyambutnya dengan mendorong bola ke sudut kiri gawang Mendy. Skor 2-0 itu bertahan hingga laga matchday  ke-19 Liga Inggris, Selasa (19/1/2021) malam itu usai. “Anda telah melihat  spirit tim yang sebenarnya malam ini. Penampilan dan kedewasaan tim diperlihatkan sangat memuaskan. Saya mengerti kami bermain melawan tim penuh talenta (Chelsea) dan kami tak boleh melakukan kesalahan,” ungkap Rodgers pascalaga, dikutip Daily Mail , Rabu (20/1/2021). Tiga poin yang diraih “TheFoxes”, julukan Leicester, itu meroketkan posisinya ke puncak klasemen Liga Inggris musim 2020-2021. Dengan 38 poin, mereka untuk sementara unggul satu angka dari Manchester United di posisi kedua. Para pendukung “The Foxes” pun mulai berharap sejarah “dongeng Cinderella” terulang sebagaimana musim 2015-2016. Di musim itu, publik Inggris terhenyak dan terheran-heran melihat tim medioker itu keluar sebagai juara di bawah asuhan Claudio Ranieri. Pelatih Leicester City, Brendan Rodgers menyemangati para pemainnya daam laga kontra Chelsea ( lcfc.com ) Kendati demikian, Rodgers belum ingin berpikir ke arah situ. Musim ini masih panjang dengan 19 partai tersisa. Terlebih beberapa tim lain macam Tottenham Hotspur dan Chelsea juga sempat dininabobokkan asa serupa saat memuncaki klasemen sementara beberapa pekan sebelumnya. “Jangan lupakan kualitas Manchester City, Liverpool sang juara bertahan, dan Manchester United yang penampilannya juga hebat. Bagi Leicester berada di atas tim-tim dengan level luar biasa seperti itu saja sudah membuat saya senang. Tentu akan jadi tantangan besar memuncaki klasemen namun kami dengan senang hati menghadapi tantangan itu,” sambung eks pelatih Liverpool dan Glasgow Celtic itu. Sebagaimana tim-tim medioker lain di Liga Inggris, Leicester kerap dipandang sebelah mata. Reputasinya tak pernah setara dengan klub mapan macam Arsenal, Chelsea, Liverpool, serta dua tim sekota: Manchester City dan Manchester United. Akan tetapi pandangan itu berbalik 180 derajat kala tim-tim adidaya itu terpuruk dan tanpa dinyana Jamie Vardy dkk. mengangkangi mereka dengan merebut titel lima musim lalu. Padahal sejak berdirinya 137 tahun lampau, Leicester acap kesulitan bertahan di kompetisi teratas Inggris. Jatuh-Bangun Leicester Fosse Football Club, begitu sebutan awal klub ini kala didirikan sekumpulan pemuda Wyggeston School di kota Leicester pada 1884. Sebutan “Fosse” diambil dari nama areal tempat lapangan mereka biasa bermain, Fosse Road. Adalah Joseph Johnson dan Frank Gardner, dua dari lima pendiri klub, yang membentuk satu komite untuk mengembangkan manajemen klub yang bermula dari swadaya para pemainnya. “Para pemain menyumbangkan sedikit uang dan seorang tukang kayu lokal dipercayakan untuk membuat dua set gawang menjelang pertandingan pertama klub di lapangan dekat Fosse Road. Pertandingan pertama mereka adalah melawan Syston Fosse yang berkesudahan 5-0 untuk Leicester. Para pencetak gol pertamanya adalah Hilton Johnson (dua gol), Arthur West (2), dan Sam Dingley,” sebut David Clayton dalam Leicester City FC Miscellany: Everything You Ever Needed to Know about The Foxes. Pertandingan pertama yang dihelat pada 1 November 1884 itu namun belum tercatat sebagai laga kompetitif resmi karena Leicester Fosse baru mengajukan diri dan diterima sebagai anggota The Football Association (FA, induk sepakbola Inggris) pada 1890. Leicester baru memainkan laga kompetisi pertamanya pada musim 1891-1892 di Midland League, kompetisi semi pro di bawah Division Two. Menukil laman resmi klub , Leicester mulanya bermain dengan seragam atas hitam bercorak garis horizontal biru dan celana putih. Saat pertamakali tampil di Midland League pada 1891, warna itu diubah menjadi atasan cokelat dan celana biru. Baru setelah naik ke Division Two pada 1903 Leicester mengubah warna kostumnya jadi biru-putih yang bertahan hingga kini. Stadion Filbert Street & King Power Stadium (atas) serta emblem klub dulu dan kini (bawah) ( lcfc.com ) Markas tim juga sempat beberapa kali pindah. Dari Fosse Road ke Victoria Park, lalu Balgrave Road, County Cricket Ground, hingga Filbert Street yang bertahan sejak 1891. Bersamaan dengan rampungnya pembangunan King Power Stadium berkapasitas 32 ribu penonton pada 2002, Filbert Street pun ditinggalkan klub. Pun dengan logo klub. Sejak 1884 hingga lebih setengah abad, Leicester belum punya logo resmi alias hanya sekadar menyematkan logo kota Leicester berupa perisai “Gules” dengan seekor naga di atasnya. Baru pada 1948 Leicester memiliki logo berupa kepala rubah di tengah perisai putih di seragamnya. Rubah sebagai hewan cerdik dan lincah dijadikan sebagai logo, maskot, dan julukan karena wilayah Leicestershire kondang dengan perburuan rubah. Sayangnya, dari masa ke masa Leicester Fosse acap jatuh-bangun di Divisi Two. Capaian terbaik mereka hanya sekali bertengger sebagai runner-up musim 1907-1908. Sisanya berakhir di papan tengah maupun papan bawah, hingga sempat bangkrut pada 1919 saat Football League hendak dihidupkan lagi setelah absen sepanjang Perang Dunia I (1914-1918). Sempat mati suri, klub lantas diambil alih pemerintah kota pada 1919. Perubahan nama klub dilakukan, menjadi Leicester City Football Club dan bertahan hingga kini kendati sejak 2010 klub sudah dibeli konsorsium Asia Football Investments. Di Balik Dongeng Cinderella Jatuh-bangun mengiringi datang dan perginya pemain dan pelatih Leicester. Pernah menjejakkan kaki di liga teratas, namun sebentar. Itu terjadi pada tahun 1954, setelah juara Division Two Leicester berhak promosi ke Division One. Namun semusim kemudian Leicester terdegradasi lagi. Catatan terlama “Pasukan Rubah” bertahan di Division One terjadi pada musim 1957-1969 saat diasuh Dave Halliday. Sisanya Leicester kembali “wara-wiri” antara kasta kedua dan kasta teratas. Maka ketika Leicester melesat bak meteor pada 2016, semua mata penikmat Liga Inggris terbelalak. “Dongeng Cinderella” itu dimulai kala manajemen klub merekrut Ranieri. Pelatih kelahiran Italia berjuluk “Tinkerman” itu pernah melatih Napoli, Atlético Madrid, Chelsea, Juventus, AS Roma, dan Inter Milan. Dalam “Leicester City’s Title Triumph: The Inside Story of an Extraordinary Season” yang dimuat The Guardian , 3 Mei 2016, kolumnis senior Stuart James menguraikan kunci sukses Ranieri menggoreskan sejarah baru bagi Leicester. Menurutnya, semua berawal dari presentasi Ranieri pada awal Juli 2015 sebelum direkrut sebagai calon pengganti Nigel Pearson yang dipecat. “Ranieri adalah Ranieri: berkharisma, sangat bergairah, dan berwawasan luas. Ada sebuah perasaan yang “nge-klik” antara dia dan (wakil ketua klub, Aiyawatt) Srivaddhanaprabha, saat Ranieri mengungkit nama Francesco Totti dan Gabriel Batistuta yang pernah dilatihnya. Seketika, antusiasme pelatih asal Italia itu meninggalkan kesan mendalam bagi para anggota dewan direksi klub,” ungkap James. Searah jarum jam, Skuad Leicester tahun 1889, 1891, 1898, dan 1913 ( lcfc.com ) Hasilnya, pada 13 Juli 2015 Ranieri resmi diumumkan sebagai arsitek anyar Leicester. Ia dikontrak selama tiga tahun. Keputusan Leicester itu menuai banyak kritik. Banyak pihak meragukan kapasitas Ranieri karena ia pecatan Timnas Yunani setelah kalah memalukan dari tim gurem Kepulauan Faroe. Salah satunya dari Pearson, pelatih Leicester yang digantikan Ranieri. “Jika Leicester menginginkan seseorang yang ramah, mereka sudah mendapatkannya. Tetapi jika mereka menginginkan pelatih yang bisa membuat mereka bertahan di Premier League, maka mereka memilih orang yang salah,” kata Pearson menyindir, dikutip The Guardian , 14 Juli 2015. “Anjing menggonggong, kafilah berlalu,” begitu kata pepatah. Sembilan bulan kemudian, Ranieri membungkam para pengkritik dengan persembahan gelar juara Premier League 2015-2016. Di musim sebelumnya (2014-2015), “The Foxes” di bawah Pearson hanya bisa bertengger di urutan 14 klasemen akhir setelah mati-matian bertahan agar tak terdegradasi. “Kesuksesan Leicester di bawah Ranieri tercatat sebagai salah satu pencapaian paling menakjubkan dalam olahraga manapun. Jangankan pihak luar, di internal klub pun mulanya tak percaya dan seolah masih dalam alam mimpi ketika melihat momen Wes Morgan mengusung trofi Premier League seberat 25 kilogram tinggi-tinggi ke udara,” lanjut James. Claudio Ranieri membungkam para pengkritiknya dengan "keajaiban" ( lcfc.com ) Musim 2015-2016 memang jadi musim yang berat bagi tim-tim top macam Manchester United dan Liverpool. Di akhir musim, Liverpool hanya mampu menempati urutan delapan dan Manchester United di spot kelima meski tetap gagal lolos ke Liga Champions. Di tengah keterpurukan tim-tim mapan itulah Ranieri membawa Leicester melesat ke posisi puncak. Dari total 38 laga, Leicester hanya tiga kali menderita kekalahan. Apa kuncinya? Salah satunya, imbuh James, terletak pada jasa Steve Walsh, asisten pelatih dan kepala perekrutan klub. Walsh turut andil dalam proses mempermanenkan Robert Huth, Shinji Okazaki, dan Christian Fuchs. Ketiganya sebelumnya berstatus pinjaman dari Stoke City, Schalke 04 dan Mainz 05. Lalu untuk menopang serangan yang mengandalkan Jamie Vardy, Walsh mendesak Ranieri untuk mendatangkan gelandang berprospek cerah dari klub Caen (Prancis), N’Golo Kanté. “Kanté adalah pemain kuncinya dan Ranieri, sebagaimana yang ia akui, awalnya tak begitu mengenal pemain ini. Ranieri seperti para pelatih top Premier League lain, tak pernah mendeteksi eksistensi Kanté dalam radarnya. Tetapi setelah melihat sendiri, Ranieri setuju membawanya ke Leicester dengan mahar 5,6 juta poundsterling. Selebihnya bisa dilihat sendiri hasilnya,” sambung James. Figur-figur lain yang tak kalah besar andilnya adalah barisan tim pelatih: Craig Shakespeare, Paolo Benetti, Andrea Azzalin, Matt Reeves, dan Mike Stowell. Mereka menggarap data statistik mentah yang kemudian dijadikan bahan evaluasi setiap pemain oleh Ranieri. Termasuk beberapa pemain yang di musim sebelumnya sering dicadangkan Pearson, seperti Danny Drinkwater, Gökhan İnler, Jeffrey Schlupp dan Marc Albrighton. Mereka inilah yang justru dijadikan pilar kunci oleh Ranieri. Momen Leicester City dalam perayaan gelar juara Liga Inggris 2015-2016 ( lcfc.com ) Kunci sukses lain Ranieri yakni pendekatan berbeda kepada para pemainnya di ruang ganti. Ranieri tak seperti Pearson yang dingin dan melulu serius. “Ranieri sosok yang hangat dan sering menyelipkan humor saat berbicara. Saat Boxing Day , Ranieri memberi bel yang terpahat namanya ke semua pemain sebagai kado Natal. Di sisi lain, ketika di tengah musim sudah mencatatkan 40 poin dan asa juara disuarakan media, Ranieri mengutip slogan Presiden Amerika: ‘Saya ingin bilang: Ya kita bisa! Tetapi saya bukan (Barack) Obama’,” tandas James. Sayang kesuksesan Ranieri hanya seumur jagung. Semusim setelah membawa Leicester juara, ia dipecat. Meski membawa Leicester mencapai babak 16 besar Liga Champions, Ranieri membuat Leicester terpuruk di liga. Saat masih tersisa 13 laga, Leicester terjerembab di papan bawah dengan bertengger satu posisi di atas zona degradasi. Maka ketika ia dipecat pada 23 Februari 2017, banyak pihak menyesalkan. Termasuk para suporter yang membentangkan sebuah spanduk di pertandingan pertama tanpa Ranieri bertuliskan: “ Grazie Claudio” (“terima kasih, Claudio”).

  • Vaksin Wabah Penyakit

    Di masa pandemi, vaksin dipercaya menjadi salah satu pencegahan penyakit yang paling efektif. Berikut beberapa wabah penyakit di Nusantara yang berhasil dicegah dengan menggunakan vaksin.

  • Penghubung CIA dan Badan Intelijen Indonesia

    KESATUAN Aksi Pengganyangan Gerakan 30 September (KAP Gestapu) didirikan sehari setelah peristiwa Gerakan 30 September 1965. Front aksi sipil ini dibentuk oleh Angkatan Darat untuk menghadapi PKI. Ketuanya Subchan Z.E. dari Nahdlatul Ulama, Sekretaris Jenderal Harry Tjan Silalahi dari Partai Katolik, dan pemimpin pelaksana Jusuf Wanandi.

  • Durán dan Leonard, dari Lawan jadi Kawan

    TAHUN baru, resolusi baru. Bagi petinju Roberto Durán, resolusinya pada Januari 2002 adalah gantung sarung tinju. Keputusan itu diambil setelah ia nyaris tewas beberapa bulan sebelumnya dalam kecelakaan mobil. Kecelakaannya terjadi kala ia berperjalanan ke Argentina dalam rangka promosi rekaman musik salsanya pada Oktober 2001. “Jadi, pada Januari 2002 saya pensiun. Saya tak menyesal meninggalkan tinju dengan keadaan seperti ini karena sebelum kecelakaan, saya tak pernah punya pikiran pensiun, bahkan beberapa bulan sejak saya kalah dari Héctor ‘Macho’ Camacho. Faktanya, kondisi saya yang baik saat melawan Camacho mungkin jadi faktor yang menyelamatkan saya dari kecelakaan maut,” tulisnya dalam, I Am Durán: The Autobiography of Roberto Durán . Total sudah 119 pertarungan ia lakoni sepanjang 33 tahun kariernya dengan 103 kemenangan (70 KO) dan 16 kali kalah. Dua dari 16 kekalahannya didapat dari seteru abadinya, Sugar Ray Leonard. Rivalitas Durán dan Leonard mendapat tempat tersendiri dalam sejarah tinju sebagaimana era Max Schmeling-Joe Louis di 1930-an, Muhammad Ali-Joe Frazier pada 1960-an, Mike Tyson-Evander Holyfield, dan Manny Pacquiao-Floyd Mayweather Jr. Maka kisah mereka acap diabadikan dalam berbagai medium, termasuk layar lebar. Setidaknya sudah tiga film yang mengangkat kisah dua dari jajaran “Four Kings” (empat raja tinju: Durán, Leonard, Thomas Hearns, dan Marvin Hagler) pada era emas terakhir tinju 1980-an itu. Selain serial dokumenter ESPN berjudul 30 for 30: No Más  (2013), ada drama biopik Hands of Stone  (2016) dan dokumenter I Am  Durán (2019). Sugar Ray Leonard (kiri) & Roberto Durán menjalin persahabatan erat di masa senja. ( sugarrayleonard.com ). Seperti para pendahulunya, pada akhirnya Durán dan Leonard menjelma dari lawan jadi kawan. Kala Leonard ikut dalam proyek serial dokumenter 30 for 30: No Más ke Panama, Durán saban malam menjemput Leonard dari hotel untuk makan malam bersama. “Hal yang tak bisa dipercaya. Kami berkendara menjelajahi Panama dan semua orang yang melihat kami membunyikan klakson dan melambaikan tangan pada kami. Saya duduk di samping Roberto Durán di mobilnya dan saya berpikir: ‘Ini takkan terjadi 20, 30 tahun lalu.’ Kami adalah saingan yang saling membenci,” kata Leonard kepada Philly Voice , 26 Agustus 2016. Perang Urat Syaraf Saling benci yang dimaksud Leonard disulut oleh aksi-aksi provokatif Durán jelang duel pertama mereka, 20 Juni 1980 di Olympic Stadium, Montréal, Kanada. Pertarungan bertajuk “The Brawl in Montréal” itu memperebutkan gelar dunia kelas welter versi WBC. Kedua petinju sama-sama tengah berada di masa puncak. Durán belum lama naik dari kelas ringan ke welter dengan catatan 71-1 (8-0 di kelas welter), sementara Leonard belum terkalahkan dalam 27 pertarungan sebelumnya, termasuk dalam beberapa laga mempertahankan gelar WBC yang didapatnya pada Desember 1979. Durán punya ambisi untuk merobohkan Leonard sebagai simbol Amerika yang dibencinya sejak kecil. Sementara Leonard sang anak emas Amerika ingin membuktikan bahwa dia tak hanya petinju flamboyan yang sering nongol di beragam iklan, namun juga mampu berduel dengan petinju beringas seperti Durán. Pertarungan besar itu dipropagandakan secara kolosal oleh promotor kondang Bob Arum dan Don King. Seperti diberitakan suratkabar The Washington Post , 10 Mei 1980, seluruh 75 ribu tiketnya, dengan kursi ringside alias di pinggir ring yang dibanderol 500 dolar, ludes terjual. Leonard sebagai juara bertahan dalam kontraknya dibayar 8,5 juta dolar, sementara Durán sebagai penantang diganjar 1,5 juta dolar. Ketimpangan pendapatan ini jadi salah satu dari beragam faktor Durán menyulut provokasi. Sugar Ray Leonard bersama istrinya, Juanita (kiri) dan pelatihnya, Angelo Dundee yang dihina Durán. (Majalah Jet , 10 Juli 1980/ sugarrayleonard.com ). Dalam konferensi pers jelang laga, Leonard memberi komentar diplomatis, “Saya berada dalam kondisi hebat dan saya yakin Durán juga akan berada dalam kondisi yang sama. Pertarungan ini akan jadi pertarungan luar biasa.” Namun Durán via penerjemah enggan memberi komentar senada. “Saya tak ingin banyak bicara seperti dia. Urusan saya hanya bertarung. Tapi saya rasa ini akan jadi kali pertama Leonard benar-benar harus bertarung seperti pria sesungguhnya,” ujarnya. Namun “ribut” Duran-Leonard tak hanya berlangsung di konferensi pers. Jurnalis Christian Guidice mengungkapkan dalam biografi Hands of Stone: The Life and Legend of Roberto Durán , ketika di hotel yang sama beberapa hari sebelum pertarungan, Durán berpapasan dengan Leonard yang tengah ditemani istrinya, Juanita, dan pelatihnya, Angelo Dundee. Leonard ingin tetap bersikap ramah dan mencoba menyapanya dengan senyum lebar. Alih-alih direspon dengan ramah pula, Durán justru melontarkan ejekan, cacian, dan sejumlah kata-kata hinaan. “Durán datang menghampiri kami dan mulai memberi cacian kepada Ray dan Juanita. Katannya (Durán): ‘Saya akan membunuh suami Anda.’ Ray tak menduga Durán begitu kasar di depan istrinya. Padahal dia juga pria yang sudah berkeluarga,” kenang Dundee dikutip Guidice. Roberto Durán vs Sugar Ray Leonard jilid I yang dimenangkan Durán. ( wbcboxing.com ). Jauh setelah itu, Leonard baru sadar bahwa itu hanya trik dalam perang urat syaraf yang dilancarkan Durán untuk mengacaukan pikirannya di atas ring. Pasalnya ketika pertarungan berlangsung, Leonard benar-benar hanyut dalam emosinya untuk memberi perhitungan kepada Durán. Leonard tak bertarung sebagaimana biasanya dan tak mengindahkan segala strategi yang dilontarkan Dundee. “Dia mengejek saya. Dia menghina dan mengutuk ibu, anak-anak, dan istri saya. Dia mengatakan hal-hal yang tak bisa saya percaya dan saya membiarkan hal itu merasuki pikiran saya,” aku Leonard. Bukannya bertarung sesuai arahan pelatihnya untuk menjaga jarak dan mewaspadai pukulan keras Durán, Leonard justru terseret gaya bertarung Durán yang gemar jual-beli pukulan dari jarak dekat. Walau pertarungan 15 ronde berlangsung sengit, Leonard harus rela kehilangan gelarnya setelah juri memutuskan Durán menang angka. No Más! Sementara Leonard bertekad bangkit dari keterpurukan, Durán justru menjalani kesuksesannya dengan foya-foya. Nahas bagi Duran, tanpa persetujuannya, sang manajer Carlos Eleta dan Don King sepakat menghelat pertarungan ulang. Dalam deal itu, duel Durán vs Leonard II bertajuk “The Super Fight” akan digelar di Louisiana Superdome, New Orleans, Amerika Serikat, 25 November 1980. Durán sama sekali tak siap secara fisik maupun mental untuk naik ring lagi dalam waktu lima bulan. “Saya tidak siap untuk pertarungan itu. Saya tahu bahwa kelak akan ada rematch , namun saya tak menduga akan secepat itu. Berat badan saya naik drastis, hampir 190 pounds (86 kilogram, sementara batas kelas welter maksimal 154 pounds/70 kg, red. ). Itu semua salah manajer (Carlos Eleta). Karena sangat sulit buat saya mengurangi berat badan secepat itu,” ungkap Durán. Eleta berdalih kesepakatannya dengan Don King begitu cepat dibuat karena dia tak senang Durán kembali ke gaya hidup indisipliner dan berpesta saban malam. Baginya, kesepakatan itu demi kebaikan Durán sendiri. Apalagi kesepakatannya sangat menguntungkan Durán. Sang juara bertahan diganjar 8 juta dolar. “Saya menyepakati perjanjian pertarungan ulang itu dalam tiga bulan karena dia mulai sering minum-minum hingga mabuk. Saya khawatir jika akhirnya dia bertarung lagi (dalam tenggat waktu lama), dia justru akan kehilangan reputasinya sebagai petinju unggulan,” aku Eleta kepada Guidice. Sugar Ray Leonard membalas kekalahan di duel jilid II setelah momen " No Mas !" Roberto Durán. ( wbcboxing.com ). Dalam duel Durán-Leonard jilid II itu, Leonard tak lagi terpengaruh apalagi termakan provokasi Duran. Leonard 100 persen fokus untuk kembali pada gaya bertarungnya: meloncat sana-sini, menghindar, dan bergerak bak berdansa seperti kupu-kupu seperti halnya Muhammad Ali. “Sepanjang pertarungan saya bergerak dan terus bergerak. Dan voom ! Saya mengenai kepalanya dengan jab . Voom ! Saya menghantamnya lagi. Dia berusaha mendesak saya ke tali ring namun saya mengelak dan pow ! Saya memukulnya lagi dengan telak,” kenang Leonard. Sementara, kondisi fisik Duran tak 100 persen bugar akibat usaha keras menurunkan berat badan. Durán yang sama sekali tak siap bahkan mengalami keram perut saat pertandingan baru lima ronde. Ditambah gestur-gestur provokatif Leonard, Durán memilih berhenti bertarung di ronde kedelapan. Saat itulah disebutkan Durán menyatakan “ No Mas !” alias tak mau lagi bertarung kepada wasit Octavio Meyran. Hingga sekarang pernyataan itu jadi aib yang tak pernah hilang dari Durán, tak peduli berapa kali pun Durán menyanggahnya. Dalam pembelaannya pada konferensi pers pasca-pertarungan, bukan “No Mas!” yang dikatakan Durán, melainkan “ Ni Sigo, no sigo ,” yang artinya saya tak bisa melanjutkan karena mengalami keram perut. Leonard tak mendengar detail perkataan itu. Baginya bisa membuat Durán menyerah sudah cukup memuaskan hatinya. Gelar WBC kelas welter pun kembali ke pelukan Leonard setelah diputuskan ia menang TKO. “Saya memaksanya menyerah. Untuk bisa membuat seorang petinju menyerah, lebih lagi seorang Roberto Durán, adalah hal yang lebih baik ketimbang membuatnya KO,” cetus Leonard. Rekonsiliasi Sejak saat itu, Durán dan Leonard tak pernah lagi bertatap muka hingga tiga tahun berikutnya. Durán sempat terpuruk dan butuh waktu lama untuk bangkit kala menang atas Davey Moore dalam perebutan kelas super welter versi WBA, 16 Juni 1983. Tanpa dinyana, pascalaga itu Leonard mendatangi Durán dan memberi ucapan selamat. Momen itu mengubah perseteruan Durán dan Leonard menjadi persahabatan. “Malam itu sungguh ajaib. Saya tak ingat berapa banyak yang datang dan mengucapkan selamat, namun yang saya kenang betul adalah Larry Holmes dan Muhammad Ali mendatangi saya. Bahkan teman dan musuh lama saya Sugar Ray Leonard juga datang dan memberikan selamat dengan memeluk saya. Dia bilang: ‘Saya ikut senang dengan kemenangan Anda,’” sambung Durán di otobiografinya. Persahabatan terjalin sejak 1983 meski kemudian kembali naik ring dalam duel jilid III pada 1989. ( boxingrec.com / sugarrayleonard.com ). Kendati mulai berteman, bukan berarti keduanya tak pernah lagi adu otot di atas ring. Durán dan Leonard melakoni pertarungan terakhir mereka, untuk memperebutkan gelar menengah super versi WBC, di The Mirage, Las Vegas, Amerika, 7 Desember 1989. Pertarungannya tak sesengit jilid I atau II. Leonard kembali menang angka setelah melalui 12 ronde. Di luar ring, keduanya tetap berteman dan makin dekat hingga mengakui saling respek dan saling sayang sebagai sahabat. Seiring bertambah usia, keduanya sudah bijak kala mengingat perseteruan pahit mereka, termasuk soal kontroversi “No Mas!”. “Saya mencintai Roberto terlepas apapun yang terjadi dalam pertarungan ‘No Mas!’, entah dia benar-benar mengatakannya atau tidak, namun hal itu meninggalkan cela dalam warisannya. Tetapi saya dan Durán akan selalu saling menghormati. Sejak pertarungan ketiga kami selalu berhubungan. Di mana pun saya bertemu, kami saling mengungkapkan rasa cinta. Selalu jadi hal yang spesial setiap kali bersua dengannya,” tandas Leonard.

bg-gray.jpg
Tedy masuk militer karena pamannya yang mantan militer Belanda. Karier Tedy di TNI terus menanjak.
bg-gray.jpg
Pemilihan Augustine Magdalena “Tiene” Waworuntu sebagai walikota Manado menjadikannya walikota perempuan pertama pasca pembubaran RIS. Pemilihannya menimbulkan polemik daerah-pusat, hingga menyeret militer.
bg-gray.jpg
Dua anggota legiun Mangkunegaran ikut serta gerakan anti-Belanda. Berujung pembuangan.
bg-gray.jpg
Rumah Sakit Bethesda Yogyakarta merupakan buah kasih dokter misionaris Belanda bernama J.G. Scheurer yang dijuluki Dokter Tolong.
bg-gray.jpg
Rumah yang pernah digunakan untuk mendidik kesadaran politik rakyat. Kini sepi pengunjung.
bottom of page