top of page

Hasil pencarian

Search this site

9981 hasil ditemukan dengan pencarian kosong

  • Abdoel Moeis, Pembakar Semangat Rakyat Minang

    Peristiwa pemberontakan rakyat Toli-Toli, Sulawesi Tengah pada 1919 begitu menggemparkan. Rakyat menolak kerja rodi, yang berujung perlawanan fisik. Tercatat ada sejumlah pegawai bumiputra dan seorang controleur bernama De Kat Angelino, terbunuh. Rupanya keberanian rakyat itu muncul dari dorongan seorang anggota Sarekat Islam, yang juga dikenal sebagai sastrawan besar, Abdoel Moeis. “Kata-katanya di Toli-Toli pada Vergadering tahun 1919 telah membakar anggota Sarekat Islam di sana, dan setelah kepulangan beliau ke Jawa meledaklah peristiwia demonstrasi dan pemogokan, berujung pada pergolakan besar-besaran, yang gemanya sampai menggoyang seluruh Nusantara saat itu,” tulis Aji Dedi Mulawarman dalam Jang Oetama: Jejak dan Perjuangan HOS Tjokroaminoto . Akibat berulah di Sulawesi dan Jawa, pemerintah Hindia Belanda pun mengasingkan Abdoel Moeis ke Sumatera pada 1923. Namun itu bisa jadi kesalahan besar pemerintah kolonialis. Sebab Abdoel Moeis kembali menunjukkan kepandaiannya menggolakkan semangat perjuangan rakyat di Ranah Minang. Berdasar laporan Residen Sumatera Barat W.A.C. Whitlau kepada Gubernur Jenderal Fock tanggal 20 April 1923, Abdoel Moeis gelar Sutan Penghulu, mengadakan rapat SI di Padang pada 1 April 1923. Melalui selebaran undangan, dia meminta padoeka angkoe-angkoe mengirimkan perwakilannya untuk duduk bersama di dalam rapat. Kurang lebih begini isi undangannya: “Karena kita mesti mengambil suara bersama buat membantah rupa-rupa hal yang menindas kita punya penghidupan, yang mengambil kita empunya hak dan memijak kita punya adat,” tulis Residen Whitlau seperti dikutip Rosihan Anwar dalam Sejarah Kecil: Petite Historie Indonesia Jilid I . Rupanya rapat yang mendapat sambutan baik dari banyak kepala adat itu bukan yang pertama diadakan oleh Abdoel Moeis. Laporan Jaksa Agung Hindia Belanda D.G. Wolterbeek Muller, menyebut bahwa tanggal 31 Maret, Abdoel Moeis juga mengadakan pertemuan dengan kepada adat dari 18 tempat. Abdoel Moeis mencoba menyelesaikan tiga permasalahan utama yang dihadapi rakyat Minang kala itu: pajak yang dikenakan kepada rumah gadang, penentuan batas-batas hutan yang tidak adil, dan pajak tanah yang begitu menyengsarakan kehidupan rakyat. “Abdoel Moeis mengucapkan terima kasih atas kedatangan para penghulu itu karena mereka telah menunjukkan perhatian terhadap apa yang dirasakan oleh rakyat Minangkabau,” tulis Rosihan. Kehadiran Abdoel Moeis di Sumatera membuat pemerintah Belanda khawatir. Mereka kembali teringat peristiwa pemberontakan rakyat Toli-Toli dan pemogokan buruh pegadaian di Jawa. Meski sempat terjadi kericuhan, kedua peristiwa itu ditangani dengan cepat, sehingga tidak menimbulkan permasalahan besar. Namun aksi Abdoel Moeis di Minangkabau tidak bisa disamakan dengan dua peristiwa sebelumnya. Rakyat Minang diniliai terlalu sensitif menanggapi pergolakkan. Dikhawatirkan gejolak di tengah masyarakat akan membesar seperti Perang Padri dan Perang Belasting. Kegiatan-kegiatan di Sumatera Barat itu membuat Abdoel Moeis masuk daftar hitam pemerintah Hindia Belanda. Dia dicap sebagai sosok yang berbahaya. Dijelaskan Maman Mahayana dalam Akar Melayu , pemerintah Hindia Belanda segera mengeluarkan passenstelsel , larangan memasuki suatu daerah, untuk Abdoel Moeis. Dia tidak diizinkan tinggal di Sumatera Barat. Pemerintah HIndia Belanda juga melarang Abdoel Moeis mengunjungi semua daerah di luar pulau Jawa dan Madura. “Setelah ada larangan itu, Abdoel Moeis kemudian tinggal sebagai petani di Garut tahun 1924,” ungkap Maman. “Dia mengawali penulisan novelnya awal tahun 1927 saat dia sudah meninggalkan kegiatan politiknya dalam Sarekat Islam selama lebih dari satu dekade.” Setelah kegiatan politiknya di Sumatera Barat, Abdoel Moeis memutuskan lebih fokus mendalami kesusastraan. Pada 1928 dia berhasil menelurkan sebuah karya fenomenal Salah Asuhan . Novel itu diterbitkan oleh Balai Pustaka. Karyanya itu jugalah yang mendudukkan Abdoel Moeis ke dalam jajaran sastrawan nasional. Selain Salah Asuhan, dia juga menerbitkan banyak karya, di antaranya Pertemuan Jodoh, Surapati, Robert Anak Surapati, Kurnia, dan Hendak Berbakti . Di samping karya asli, Abdoel Moeis juga menerjemahkan novel-novel seperti Don Kisot de la Sancha , Sebatang Kara, dan Tom Sawyer. Abdoel Moeis wafat pada 17 Juni 1959 di Bandung, Jawa Barat. Tahun itu juga dia dikukuhkan sebagai Pahlawan Nasional oleh Presiden Sukarno. Tercatat sebagai yang pertama menerima gelar tersebut. Hari kelahirannya, 3 Juli, juga diperingati sebagai Hari Sastra Indonesia.

  • Pembelot India di Palagan Sumatera

    Suatu hari di awal tahun 1946. Kopral Abu Nawaz mendapat tugas untuk menghancurkan satu basis kaum pengacau di Medan. Adalah Letnan Kolonel Doli Loundly, salah seorang petinggi di British Indian Army (BIA), yang langsung memerintahkan Nawaz melakukan tugas tersebut. “Saya lantas membawa satu seksi pasukan menuju sasaran,” ungkap Nawaz kepada Muhammad TWH, jurnalis senior di Sumatera Utara. Begitu mencapai target penyerangan, betapa terkejutnya Kopral Nawaz dan anak buahnya. Basis kaum pengacau yang dikatakan oleh Loundy tak lain ternyata sebuah masjid, tempat ibadah orang-orang Islam seperti mereka. Namun sebagai bawahan mereka tak bisa menolak tugas tersebut. Dengan sedih, mereka meledakan Masjid Medan Timur (sekarang Masjid Perjuangan 45) itu. “Kami merasa ditipu. Awalnya, kami berpikir kedatangan kami ke Sumatera adalah untuk mengurus orang-orang Jepang yang sudah menyerah, tapi ternyata kami harus memusuhi orang-orang yang seagama dengan kami,” kenang lelaki kelahiran Jhelum (sekarang masuk dalam wilayah Pakistan) pada 1927 itu. Keterlibatan dalam “perbuatan laknat” itu menjadikan Nawaz dan kawan-kawan-nya sempat tidak bisa memaafkan diri mereka. Rasa sesal terus menghantui. Tetiba muncullah ide gila dari para prajurit muslim itu untuk melakukan perbuatan nekat: lari dari kesatuan dan bergabung dengan para pejuang Indonesia. Maka atas bantuan para pengelola Rumah Makan Fajar Asia (tempat biasa mereka makan), Nawaz dan 14 kawan-nya kemudian melakukan pembelotan. Hingga Perang Kemerdekaan berakhir, Nawaz tetap setia dengan jalannya untuk mengabdi Republik. Tercatat dia pernah bertugas di beberapa front Sumatera, salah satunya di Bukittinggi. “Tahun 1953 dia kemudian pulang ke Pakistan,” ujar Muhammad TWH yang kini mengelola secara pribadi Museum Perjuangan Rakyat Sumatera Utara. Pembelotan yang dilakukan oleh Nawaz dan kawan-kawannya, bukanlah kasus tunggal dalam sejarah perang kemerdekaan di Indonesia. Menurut buku 600 Gallant Pakistani Soldiers karya Allama Noor Quadri, sekira 600 prajurit India muslim (sekarang Pakistan) telah membelot ke kubu Republik Indonesia pada 1945-1946. “Itu meliputi Jawa dan Sumatera…” ungkap Quadri. Dalam suatu wawancara dengan Muhammad Jusuf (jurnalis The Indonesia Times ) di London pada awal Oktober 1979, eks Panglima Tertinggi Pasukan Sekutu di Sumatera Utara Brigadier (Purn) T.E.D. Kelly mengakui soal adanya praktek desersi di kalangan anak buahnya pada saat itu. Tetapi jumlahnya sangat kecil. “Semuanya prajurit biasa, (jadi) tidak ada satu pun perwira yang meninggalkan kesatuan kami (karena) itu adalah desersi dan bisa dihukum berat,” ujar Kelly. Apa yang dikatakan Kelly bisa jadi ada benarnya jika mengingat di seluruh Sumatera sendiri, para pembelot dari India/Pakistan itu hanya berjumlah 71 orang. Menurut Muhammad TWH dalam Sumatera Utara Bergelora , awalnya hampir sebagian besar para pembelot tersebut ditampung dalam Batalyon Putra Asia yang dipimpin oleh seorang Arab bernama Mayor Abdul Sattar al Quraisy (lebih dikenal sebagai Young Sattar). Karena pengalaman tempur dan ketrampilan militer sebagian besar anggotanya mumpuni, kesatuan multi etnik  itu kemudian berkembang menjadi suatu unit khusus yang terlatih. Begitu diseganinya hingga saat Wakil Presiden Mohammad Hatta berkunjung ke Pematang Siantar pada 27 Juli 1947, Yon Putra Asia didapuk menjadi pengawal khusus. Dua hari setelah mengawal Hatta, Yon Putra Asia kemudian terlibat dalam pertempuran brutal dengan para serdadu Belanda di wilayah Pantoan. Pertempuran tersebut berlangsung secara seru selama berjam-jam hingga peluru-peluru para petarung Putra Asia habis tak tersisa. Layaknya aturan dalam militer, usai peluru habis mereka langsung memasang bayonet masing-masing dan lantas terlibat pertarungan jarak dekat dengan para serdadu Belanda. “Setelah terkepung rapat, kekuatan mereka berhasil dihancurkan dengan korban 15 prajurit India muslim tewas. Mayor Sattar sendiri nyaris tertangkap namun berhasil meloloskan diri dari pembersihan militer Belanda dengan menyamar sebagai penjual bandrek,” ungkap TWH. Setelah Batalyon Putra Asia dibubarkan, para prajurit India muslim kemudian disebar ke seluruh palagan yang berkobar di Sumatera. Mereka kemudian ada yang melatih para gerilyawan Indonesia di Aceh atau menjadi komandan-komandan lapangan di Padang, Bukittinggi dan Palembang. Salah satu nama yang sempat dicatat oleh TWH adalah Nur Muhammad. Usai meninggalkan kesatuannya (Divisi ke-26 British Indian Army), Nur berperan sebagai “orang intel” yang tugasnya mempengaruhi para prajurit Sekutu untuk membelot ke kubu Republik. Setelah matang di front Medan Barat, Nur kemudian dipindahtugaskan ke Aceh sebagai instruktur pasukan TNI di Panjang Peureulak, Aceh Timur.

  • Mengulik Gelar-gelar Akademik di Indonesia

    Video dialog Erdian Aji Prihartanto atau Anji dan Hadi Pranoto di youtube seputar klaim penemuan obat Covid-19 berbuntut panjang. Dua orang ini dilaporkan ke polisi atas dugaan penyebaran berita bohong. Anji berlakon sebagai pembawa acara dalam video itu, sedangkan Hadi Pranoto menjadi narasumber bergelar doktor (Dr.) dan menyebut dirinya profesor. Belakangan Hadi Pranoto meralat atribusinya. Dia bilang atribut doktor dan profesor cuma panggilan sayang dari teman-temannya. Padahal gelar doktor dan jabatan profesor atau guru besar tak bisa sembarangan dipakai. Ada ancaman pidana dalam pasal 69 ayat 1 UU Sistem Pendidikan Nasional Tahun 2003 terhadap pengguna gelar, sertifikat kompetensi, dan profesi palsu. Dalam sejarah negeri ini pun gelar akademik bukan perkara main-main. Gelar akademik menandakan adanya penguasaan seseorang dalam bidang keilmuan tertentu. Pemberian gelar akademik sepenuhnya menjadi wewenang perguruan tinggi. Di Hindia Belanda perguruan tinggi mulai berdiri pada 1920-an. Pendirian perguruan tinggi di Hindia Belanda berfokus pada tiga disiplin keilmuan. Sesuai dengan usulan J. Homan van der Heide, Direktur Pekerjaan Umum, kepada Gubernur Jenderal Idenburg. “Mengingat ke arah mana kemajuan Hindia Belanda bergerak, maka pada waktunya pendidikan tinggi akan masuk ke sini dan pertama-tama dalam bentuk pendidikan teknik, medis, dan juridis-administratif,” tulis Homan, seperti dikutip oleh S.L. van der Wal dalam Pendidikan di Indonesia 1900–1940 . Kebanggaan Bachtiar Rifai dalam Perguruan Tinggi di Indonesia menyebut pemerintah kolonial mendirikan tiga perguruan tinggi sepanjang 1920-an. Dua di Jakarta dan satu di Bandung. Perguruan tinggi di Jakarta bergerak di bidang keilmuan hukum (Rechtshogeschool) dan kedokteran (Geneeskundige Hogeschool), sedangkan di Bandung berfokus pada teknik dan arsitektur (Technische Hoogeschool, kemudian menjadi Institut Teknologi Bandung). Tiga perguruan tinggi ini membuka jenjang sarjana. Jika telah selesai masa pendidikan, lulusan perguruan tinggi itu berhak menyandang gelar meester in de rechten (Mr . ) untuk hukum, dokter (Arts.) untuk kedokteran, dan insinyur (Ir.) untuk teknik. Penamaan gelar ini mengikuti aturan di Negeri Belanda. Gelar akademik tersebut memberikan kebanggaan bagi para wisudawan. Selain karena tak banyak orang mampu mengecap pendidikan tinggi, gelar itu juga mengukuhkan keahlian tertentu pada dirinya sehingga bisa dipakai untuk melamar pekerjaan dengan gaji lumayan.    Pemerintah kolonial kemudian meluaskan pendirian perguruan tinggi. Selain itu, mereka juga membuka jenjang doktoral dan menambah disiplin ilmu dalam perguruan tinggi sepanjang 1930-an. Semasa pendudukan Jepang, aktivitas perguruan tinggi berhenti. Pemberlakuan kembali aktivitas perguruan tinggi terjadi pada masa revolusi oleh NICA (Pemerintahan Sipil Hindia Belanda) dengan membentuk Universiteit van Indonesie. Pemerintah Indonesia mengambil alih kembali perguruan tinggi dari administrasi NICA pada 1950-an. Bentuk perguruan tinggi juga berkembang menjadi universitas. Dari kebijakan ini muncullah aneka gelar akademik baru. “Gelar untuk kesarjanaan Mr., Ir., Drs., M.A., dan M.Sc. dengan catatan bahwa diantara gelar-gelar itu ada yang merangkap untuk beberapa cabang ilmu pengetahuan,” tulis Fanar Fuadi dalam “Gelar-Gelar Kesardjanaan di Indonesia” dalam Djaja , 24 November 1962. Dr. kependekan dari doctorandus . Gelar ini untuk lulusan ekonomi, sosial, politik, sastra, pendidikan, kepolisian, farmasi, psikologi, dan kedokteran tingkat V. Sementara gelar M.A. (Master of Arts) dan M.Sc. (Master of Science) saat itu masih untuk tingkat sarjana. Gelar-gelar tersebut pengaruh sistem pendidikan anglosaxon (Inggris, Amerika Serikat, Irlandia, dan Australia). Acara wisuda Universitas Indonesia. ( sekar.ui.ac.id ). Keliru Dokter dan Doktor Bersama itu pula, jumlah orang bergelar doktor (Dr.) mengalami peningkatan. Seringkali gelar ini menyaru dengan gelar dokter (Dr.). Padahal dokter sendiri bukanlah gelar akademik. Dokter merupakan sebutan untuk profesi seseorang yang telah menempuh pendidikan profesi kedokteran. Karena itulah Bahder Djohan, Menteri Pendidikan, Pengajaran, dan Kebudayaan Republik Indonesia bersurat pada presiden (sekarang rektor) universitas dan kepala perpustakaan negara agar menaruh perhatian terhadap masalah tersebut. “Penggunaan singkatan ‘Dr’ untuk perkataan ‘dokter’ itu, selain tidak teliti dan tidak pada tempatnya, pula dapat menimbulkan hal-hal yang tidak kita ingini,” tulis Bahder Djohan dalam surat No . 41726, 11 November 1952, koleksi A rsip N asional R epublik I ndonesia . Bahder menegaskan, singkatan Dr. hanya untuk pemegang gelar doktor sebagaimana berlaku di belahan dunia lainnya. “Ialah gelaran yang diberikan kepada seseorang, yang telah menempuh promosi atas kitab disertasinya ataupun karena penghargaan suatu universitet atas jasa-jasanya ( doctor honoris causa ),” terang Bahder. Soal gelar akademik juga kembali memperoleh sorotan pada 1960-an. Pada masa ini, Djaja menyebut orang Indonesia kian tergila-gila dengan gelar akademik. Mereka menaruh semua gelar akademiknya secara berentet. Dari tingkat sarjana sampai jenjang doktoral. “Sebagai dasar kebanggaannya di masyarakat,” catat Djaja . Gila Gelar Lazimnya, jika seseorang telah memperoleh gelar doktor dalam suatu bidang ilmu, gelar akademik yang lebih rendah tak perlu dipasang lagi. Sepanjang dia memperoleh gelar dalam satu bidang ilmu yang sama. Dia boleh mencantumkan gelar akademik yang lebih rendah jika gelar bidang keilmuannya berbeda.   Kegilaan pada gelar akademik dimanfaatkan segelintir orang untuk tujuan dan keuntungan pribadi. “Sering kita dengar penipuan-penipuan dengan berkedokan gelar sarjana. Berlagak sebagai Mr. Pelan sebagai Nyonya Drs. Anu dalam menggaruk keuntungan. Banyak korban sudah karena pengelabuan semacam ini,” catat Djaja . Pelaku penipuan gelar itu antara lain Djokosutomo. Dia menyematkan atribusi profesor di depan namanya dan menambah M.A. di belakang namanya. Ternyata M.A itu kependekan dari Marto Atmodjo, nama panjangnya. Berdasarkan kejadian-kejadian tadi, Prof. Budi Susetyo sebagai Wakil Presiden Universitas Airlangga mengusulkan untuk menghapus semua gelar akademik tingkat sarjana. “Hal ini sebagai tantangan terhadap sifat gila-gilaan pemuda kita sekarang untuk memperoleh gelar kesarjanaan dari suatu perguruan tinggi,” terang Budi dalam Djaja . Tapi Kementerian Perguruan Tinggi dan Ilmu Pengetahuan (pecahan dari Kementerian Pendidikan, Pengajaran, dan Kebudayaan) menolak usulan Budi Susetyo. Kementerian berjanji akan mengatur dan menertibkan ulang semua gelar akademik sesuai dengan perkembangan masyarakat Indonesia. Tapi aturan itu baru keluar 30 tahun setelahnya. Fuad Hassan, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, mengeluarkan Keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI Nomor 036/U/1993 tentang Gelar dan Sebutan Lulusan Perguruan Tinggi. Keputusan ini merumuskan ulang aturan dan penyebutan gelar-gelar akademik. Juga ancaman pidana bagi pencantuman gelar yang tidak sesuai aturan.

  • Deklarasi Perang Soviet Terhadap Jepang

    PADA 8 Agustus 1945, beberapa jam menjelang pergantian hari menuju 9 Agustus, Uni Soviet mengejutkan Jepang. Menteri Luar Negeri Vyacheslav Molotov menyatakan kepada Duta Besar Jepang Naotake Sato bahwa Uni Soviet menyatakan perang kepada Jepang. Pernyataan itu membuat harapan Jepang bertahan di sisa kekuatannya selama Perang Dunia II runtuh. Dua hari sebelumnya, Jepang telah kehilangan Hiroshima karena dibom atom Amerika Serikat. Dengan kekuatan yang tersisa Jepang terpaksa menghadapi dua front sekaligus: di timur-selatan melawan Amerika Serikat (AS) dan front di utara-barat melawan Soviet.   Pernyataan perang Soviet itu juga mencederai kesepakatan tak saling serang yang dibuat kedua negara pada 1941. Meski sejak Jepang mendirikan pemerintahan Manchukuo di Manchuria militer kedua negara kerap terlibat pertempuran di perbatasan sebagai akibat dari persaingan Rusia-Jepang sejak akhir abad ke-20, Soviet dan Jepang di Perang Dunia II sepakat berdamai karena ingin fokus terhadap perang masing-masing: Soviet di barat melawan Jerman-Nazi dan Jepang di Pasifik melawan AS. Pada akhirnya perkembangan di lapanganlah yang membuat sikap kedua negara meninjau ulang sikap masing-masing. Jepang tetap berharap perjanjian dengan Soviet dipertahankan, demi kelancaran proyek Asia Timur Raya-nya. Sebaliknya, Soviet jadi merasa perlu memperhatikan ke timur setelah mampu bangkit dari keterpurukan setelah Pertempuran Stalingrad. Namun, perhatian untuk wilayah timur Soviet itu masih sebatas angan-angan. Bagaimanapun Soviet masih terikat perjanjian tak saling serang (Pakta Netralitas) dengan Jepang. Dalam Konferensi Tehran (1943), pemimpin Soviet Joseph Stalin sampai harus mengambil jalan tengah ketika PM Inggris Winston Churchill dan Presiden AS Franklin D. Roosevelt menyatakan harapan agar Soviet mau terjun ke Perang Pasifik. Jalan tengah Stalin yakni, Soviet baru akan terjun ke Pasifik bila Jerman sudah dikalahkan. Dengan begitu, Stalin akan mendapatkan dua hal sekaligus: terhindar dari perang dua front sekaligus dan angan-angannya untuk memperluas wilayah maupun pengaruh di timur lebih mudah dicapai. Baru pada Konferensi Yalta (Februari 1945) Soviet menegaskan kesediaannya untuk ikut serta dalam Perang Pasifik. Itupun setelah diberi jaminan oleh Roosevelt bahwa Soviet akan diberikan kembali wilayahnya yang hilang. “Pada Januari-Februari 1945 para pemimpin Sekutu --Franklin D. Roosevelt, WInston Churchill dan Joseph Stalin– bertemu di Yalta di Krimea dan setuju untuk ‘mentransfer’ Kuril dan ‘mengembalikan’ Sakhalin Selatan ke Uni Soviet, sebagai persyaratan untuk partisipasi Soviet dalam perang melawan Jepang. Perjanjian Yalta berbeda sifat dari perjanjian internasional lainnya, karena merupakan perjanjian rahasia antara Uni Soviet dan pihak ketiga –AS dan Inggris– tanpa partisipasi Jepang, yang saat itu merupakan pemilik sah wilayah tersebut. Pulau-pulau itu tidak lain adalah irisan yang menguntungkan bagi AS untuk menjamin partisipasi Rusia dalam perang di Pasifik,” tulis Kimie Hara dalam Japanese-Soviet/Russian Relations Since 1945: A Diffiicult Peace . Pulau Sakhalin dan Kepulauan Kuril merupakan wilayah persengketaan Jepang dengan Rusia. Pada Perang Ruso-Jepang tahun 1905, keduanya direbut Jepang. Jaminan AS membuat Soviet kian gencar mengirim pasukannya ke timur guna memperkuat upaya yang sudah dirintis sebelumnya dengan sembunyi-sembunyi. Soviet berupaya membangun 90 divisi di timur. Yang lebih penting, pada April 1945 Soviet memberitahu keinginannya untuk tidak memperpanjang perjanjiannya dengan Jepang. Meski begitu, Moscow tetap berupaya meyakinkan Tokyo bahwa perjanjian tersebut masih berlaku hingga 12 bulan ke depan dan Moscow akan menjalankan semua keputusan dalam perjanjian tersebut. Keterikatan pada dua pakta (Pakta Netralitas dengan Jepang dan Pakta Yalta dengan Sekutu) itu membuat Stalin bimbang. Sejak Yalta, Jepang makin intens mengirim utusan ke Soviet untuk membujuk agar Soviet mau memperpanjang pernjajian tidak saling serang. Kebingungan Stalin memuncak ketika pada akhir Juni Jepang mengajukan proposal. Isinya mengundang Soviet untuk memperpanjang pakta Netralitas dan merundingkan permintaan Jepang agar Soviet menjadi mediator dalam perdamaian di Timur Jauh yang diinginkan Jepang, berikut tawaran konsesi teritori menarik sebagai imbalan atas kesediaan Soviet. Stalin amat berminat namun terlanjur terikat Pakta Yalta. Maka sebagai respon, Soviet terus menunda memberi jawaban. Usai Konfernesi Potsdam, Soviet akhirnya menjawab permintaan Jepang dengan menarik semua staf kedutaannya di Jepang pada 24 Juli 1945. Pada 8 Agustus, Soviet mempertegas sikapnya terhadap Jepang dengan deklarasi perang yang disampaikan Menlu Molotov kepada Dubes Sato. Keputusan Soviet berangkat dari perkembangan situasi bahwa setelah Jerman kalah, Jepang satu-satunya negara yang masih berperang melawan Sekutu karena menolak untuk menyerah tanpa syarat sebagaimana diminta AS-Inggris-China. Untuk itu Soviet menerima tawaran Sekutu untuk bergabung melawan agresi Jepang demi mempersingkat durasi perang, mengurangi jumlah korban, dan memfasilitasi pemulihan perdamaian universal lebih cepat. "Pemerintah Soviet menganggap bahwa kebijakan ini adalah satu-satunya cara yang dapat membawa perdamaian lebih dekat, membebaskan rakyat dari pengorbanan dan penderitaan lebih lanjut dan memberikan kemungkinan kepada rakyat Jepang untuk menghindari bahaya dan kehancuran yang diderita Jerman setelah penolakannya untuk menyerah tanpa syarat. Mengingat hal di atas, Pemerintah Soviet menyatakan bahwa mulai besok, yaitu mulai 9 Agustus, Pemerintah Soviet akan menganggap dirinya berperang dengan Jepang," demikian keputusan Soviet yang diberikan kepada Dubes Sato,sebagaimana dimuat  jewishvirtuallibrary.org. Meski Sato berjanji menyampaikan kabar itu kepada Tokyo secepat mungkin agar bisa dilakukan perbaikan, Soviet tak peduli lagi. Beberapa saat setelah masuk tanggal 9 Agustus, lebih dari 1,5 juta serdadu Soviet di bawah pimpinan Marsekal Aleksandr Vasilevsky menyerbu Manchuria, Korea, dan Kepulauan Kuril. Perlawanan gigih Jepang tak berhasil membendung serangan itu. Bersama bom atom yang dijatuhkan AS di Nagasaki pada hari yang sama (9 Agustus), serbuan itu mempercepat kapitulasi Jepang. Perang Dunia II pun berakhir.*

  • Upaya Mencegah Kartosoewirjo Memproklamasikan Negara Islam

    PADA awal Agustus 1949, Mohammad Natsir, ketua komisi untuk menyelesaikan masalah DI/TII, datang ke Bandung. Dia diutus Mohammad Hatta untuk membujuk S.M. Kartosoewirjo agar mengurungkan niat mendirikan Negara Islam atau Darul Islam. Hatta sendiri sudah membujuknya tapi tak berhasil. Sementara itu, pada 6 Agustus 1949, dia bertolak ke Belanda untuk menghadiri Konferensi Meja Bundar. Sebelumnya, Kartosoewirjo bertemu Mohammad Hatta di Yogyakarta untuk membicarakan keadaan Jawa Barat setelah pasukan TNI hijarah akibat Perjanjian Renville; dan tidak mau ikut Negara Pasundan. Hatta memberi bantuan supaya Kartosoewirjo bisa mendinginkan orang-orang Jawa Barat yang merasa ditinggalkan oleh Republik. "Kalau Kartosoewirjo ke Yogya minta begroting (anggaran), secara tidak resmi Bung Hatta memberi bantuan dalam bentuk makanan atau keperluan sosial untuk orang-orang yang di hutan," tulis Lukman Hakiem dalam Biografi Mohammad Natsir: Kepribadian, Pemikiran, dan Perjuangan.

  • Sukarno Tak Terbiasa Berolahraga

    Apabila diamati sepintas, Bung Karno memiliki tubuh yang  lumayan atletis, tegap dan gagah. Posturnya pun tergolong ideal untuk rata-rata orang Indonesia.  Dalam berbagai potret tampak sosoknya yang penuh daya pesona. Apalagi kalau sedang berada di atas podium menyampaikan pidato yang berapi-api. Kendati demikian, Bung Karno bukanlah seorang yang terampil berolahraga. Sukarno dalam otobiografinya mengakui dirinya tidak menonjol dalam hal olahraga. Pada masa kecilnya di Mojokerto, Sukarno memang jago bermain sumpit dan memanjat pohon. Tapi Sukarno tidak dapat unjuk kebolehan dalam bermain bola. “Bagaimanapun juga, ada permainan di mana seorang anak bangsa Indonesia dari jamanku tidak dapat menunjukkan keahliannya. Misalnya perkumpulan sepakbola,” kata Sukarno dalam Bung Karno Penyambung Lidah Rakyat karya Cindy Adams. Dalam perkumpulan sepakbola, kata Sukarno, “Aku bukan hanya tidak bisa menjadi ketuanya bahkan aku tidak dapat lama menjadi anggotanya.”  Menurut Sukarno keterbatasannya dalam olahraga disebabkan kelakuan anak-anak orang Belanda yang usil. Sukarno enggan bermain bola lantaran olok-olok anak Belanda yang suka merundung anak-anak pribumi seperti dirinya. Baginya, perkumpulan sepakbola itu merupakan pengalaman pahit yang membikin hati luka di dalam. “Anak-anak yang berambut jagung itu menjaga kedua sisi dari pintu masuk sambil berteriak, ‘hei kau Bruine . Hei anak kulit coklat goblok yang malang. Bumiputra, inlander, anak kampung. Hei, kamu lupa memakai sepatu,’” kenang Sukarno dalam otobiografinya.  Pada masa pergerakan nasional, Sukarno boleh jadi orator yang tiada duanya. Tapi soal main bola, Bung Karno kalah dari Hatta dan Sutan Sjarir, koleganya sesama orang pergerakan. Hatta dan Sjahrir bahkan membentuk kesebelasan sepakbola waktu diasingkan ke Boven Digul, Merauke pada 1935. Hatta menjadi bek kanan sedangkan Sjahrir menempati posisi gelandang kiri.   Cerita lain mengenai kebiasaan olahraga Bung Karno disaksikan oleh sesepuh TNI Letjen (Purn.) Sayidiman Suryohadiprodjo. Pada 1946, Sayidiman masih menjadi taruna Akademi Militer (AM) Yogyakarta. Saat itu, Bung Karno yang sudah menjabat presiden Republik Indonesia meminta Suwardi, gubernur AM agar mencarikan beberapa taruna untuk memberinya latihan gimnastik. Sayidiman bersama dua taruna lain ditunjuk sebagai pelatih yang akan melatih Bung Karno bergerak badan. Setiap pagi Sayidiman dan rekannya dijemput ke Gedung Agung untuk mengajari Bung Karno. “Tetapi Bung Karno tidak konsisten dalam menjalankan latihan olahraga. Setelah empat kali sudah tidak ada panggilan lagi,” kata Sayidiman dalam otobiografinya Sayidiman: Mengabdi Negara sebagai Prajurit TNI . Dalam laman pribadinya, Sayidiman lebih gamblang lagi menuturkan pengalaman olahraga bersama Bung Karno. Kata Sayidiman, orang yang biasanya kita lihat sebagai pemimpin yang gagah beruniform dan berpeci hitam, terlihat sebagai orang yang mulai gendut perutnya dengan rambut yang menipis.  Dengan rajin Bung Karno dan para pembantunya mengikuti petunjuk taruna pelatih dalam melakukan gerak-gerak gimnastik. “Akan tetapi setelah 4 bulan kami memberikan latihan Bung Karno rupanya menghadapi pekerjaan yang makin banyak. Dan beliau menghentikan latihan gimnastik itu,” tutur Sayidiman dalam sayidiman.suryohadiprojo.com .  Meskipun kerap lalai latihan senam, ketika menjabat kepala negara, Sukarno menaruh perhatian yang besar terhadap perkembangan olahraga nasional. Di masa Sukarno, Indonesia pernah menghelat pesta olahraga yakni Asian Games pada 1962 dan Ganefo pada 1963. Dalam kompetisi olahraga bertaraf internasional itu, Indonesia menjadi tuan rumahnya. Untuk itu semua, Bung Karno memprakarsai pembangunan gelanggang olahraga raksasa yang dinamai sesuai namanya: Gelora Bung Karno (GBK). Mulai dibangun sejak 1959, pembangunan GBK menghabiskan biaya sebesar 12.5 juta dollar yang berasal dari bantuan pemerintah Uni Soviet. Setelah rampung, GBK menjelma sebagai stadion termegah di Asia dengan kapasitas 100.000 penonton. Pada Asian Games 1962, Indonesia berhasil meraih status finalis (peringkat 2) di bawah Jepang. Itu merupakan prestasi terbesar Indonesia di dunia olahraga. Sementara itu di kancah Ganefo, Indonesia menempati peringkat ke-3 di bawah Republik Rakyat Tiongkok dan Uni Soviet. Tidak hanya mengejar medali, Sukarno menggunakan  Ganefo untuk mempersatukan negara Asia dan Afrika sebagai suatu kekuatan baru dunia. “Di mata Sukarno, olahraga sama membanggakannya dengan politik. Olahraga adalah cara wicara lewat kekuatan raga untuk menarasikan kekuatan negara,” tulis Muhidin M. Dahlan dalam Ganefo: Olimpiade Kiri di Indonesia. Mengenai prestasi, atlet Indonesia di masa Sukarno tergolong unggul. Untuk level Asia, sepakbola Indonesia masih cukup diperhitungkan. Sementara itu, Indonesia begitu disegani pada cabang olahraga bulu tangkis yang pernah menjuarai turnamen bergengsi seperti Thomas Cup. Pada 1964, Sukarno punya mimpi besar proyeksi olahraga di Indonesia. Dalam sebuah kesempatan pidato,  dia menyerukan bahwa Indonesia dalam sepuluh tahun mendatang, rakyat Indonesia akan menduduki tempat paling tinggi di lapangan olahraga. Sayangnya, mimpi itu tidak sempat terwujud lantaran Bung Karno lengser pada 1967.

  • Ulah Komunis Jepang di Kuala Lumpur

    Kuala Lumpur, 4 Agustus 1975. Robert S. Dillon, petugas Foreign Service di Kedutaan besar Amerika Serikat (AS) di Kuala Lumpur, pagi itu sibuk di lantai 11 Gedung AIA (American International Assurance) di Jalan Ampang, Kuala Lumpur. Saking sibuknya, dia sampai kerap hilir-mudik dari mejanya ke tempat lain. Kesibukan juga terjadi di kantor Kedutaan AS maupun empat kedutaan negara lain yang semua menempati lantai 9 gedung AIA itu. Di lantai dasar, para petugas keamanan sibuk mengawasi situasi gedung dan hilir-mudik orang-orang. Para petugas keamanan gedung tak menyadari sedang dijadikan sasaran oleh lima orang bersenjatakan pistol, senapan mesin, granat, dan bom rakitan yang berada tak jauh dari sana. Salah seorang petugas keamanan langsung roboh begitu terkena peluru yang dimuntahkan dari senapan mesin kelima orang di luar gedung tadi beberapa saat kemudian. Kesibukan membuat tak seorang pun waspada pada keadaan di gedung tersebut, termasuk Dillon. Ketika akan kembali ke mejanya melewati meja tempat telegram, dia dikagetkan oleh suara asing yang tak pernah muncul di gedung tersebut. “Tiba-tiba, saya mendengar tembakan senjata kecil –tembakan pistol 9mm. Saya berlari ke pintu; ada orang-orang di luar berkeliaran sambil bertanya-tanya apa yang sedang terjadi. Kami cepat mengenali bahwa penembakan terjadi di lantai 9. Jadi kami bergegas menuruni tangga untuk melihat apa yang sedang terjadi,” ujar Dillon, dikutip adst . org dalam “Terror on the 9th Floor – The Kuala Lumpur Hostage Crisis. Para teroris mulai beraksi di lantai 9. Mereka meledakkan aula dan menembak ke segala arah. Situasi kacau. “Masih ada beberapa penembakan yang terjadi. Kami bisa melihat pintu lift terbuka dan salah seorang Melayu penjaga lift ditembak oleh seseorang di koridor. Penjaga itu terkena peluru tepat di bawah mata dan jatuh kembali ke lift. Pintu kemudian ditutup dan kami berhasil mengeluarkan pria itu di lantai berbeda dan (membawanya, red .) ke rumah sakit. Kemudian seorang penjaga lain muncul dan dia ditembak melalui dagu — peluru keluar melalui rahang,” sambungnya. Para teroris lalu menyandera lima pegawai Kedubes AS, termasuk Konsul AS Robert C. Stebbins, dan sekira 45 pekerja di berbagai kantor yang ada di lantai 9. Perbuatan mereka mengundang Penasihat Administrasi Kedutaan Besar Australia Robert A. Jackson, Petugas Keamanan Regional Wayne W. Algire, dan Staf Keamanan dari Marinir AS Eric D. Boyd bergegas turun ke lantai 9 untuk memeriksa keadaan. Namun begitu baru hendak mencapai aula, mereka seketika kembali mundur karena para teroris melempaskan empat tembakan ke arah mereka. Para teroris merupakan anggota Japanese Red Army (JRA). Organisasi tersebut, menurut pakar terorisme Sara Dissanayake dalam “Japan” yang termuat di buku  Handbook of Terrorism in the Asia-Pasific , merupakan organisasi ultra-kiri pecahan Red Army Faction (FAR) yang didirikan Fusako Shigenobu. FAR beroperasi dengan tujuan menggulingkan pemerintah dan monarki di Jepang serta menggerakkan revolusi di dunia.” Setelah penangkapan besar-besaran aktivis kiri dilakukan pemerintah Jepang pada awal 1970-an akibat berbagai tindak kriminal mereka, para aktivis kiri yang dipimpin Shingeobu menyingkir ke Lebanon dan pada 1974 mendirikan JRA. Mereka bahu-membahu dengan Popular Front for the Liberation of Palestine (PFLP) yang punya tujuan sama, melenyapkan kolonialisme. Perjuangan mereka lakukan dengan beragam tindakan, mulai dari perampokan hingga meneror. “ Merebut kedutaan dan pesawat tampaknya menjadi cara paling efektif untuk mendapatkan uang dan membebaskan kawan-kawan, tulis William Andrews dalam Dissenting Japan: A History of Japanese Radicalism and Counterculture from 1945 to Fukushima . Dengan landasan itulah maka lima anggota JRA, termasuk Okudaira, Wako, dan Toshihiko Hidaka, menyerang Gedung AIA dan menyandera orang-orang di dalamnya pada Agustus 1975. Mereka melakukannya untuk menuntut pembebasan segera tujuh radikalis yang dipenjara, meliputi dua aktivis JRA, dua aktivis Sekigun yang ditangkap karena perampokan tahun 1971, mantan tentara Reng Sekigun dan mantan suami Hiroko Nagata, Hiroshi Sakaguchi; veteran Asama - sans dan Sekigun- ha Kunio Bando; dan Norio Sasaki yang mantan anggota Higashi Ajia Hannichi Buso Sensen. Begitu penyanderaan dimulai, Doreen Sharifah Rahman segera menyambungkan hubungan telepon antara Richard (Dick) Jackson, pejabat Urusan Ekonomi Kedubes, dengan para teroris. Setelah memperkenalkan diri, teroris mengutarakan tuntutannya. Negosiasi pun dimulai. Penyanderaan itu juga mendorong Don Hackl, petugas keamanan teknis yang sedang berkunjung, bersama Sersan Marinir AS Juan Gonzales segera menutup lantai 9 guna mengisolasi para teroris. Sementara, di lantai dasar kepolisian Malaysia mengevakuasi para pegawai di lantai-lantai lain dan menutup lantai 9 guna mengisolasi para teroris. Sambil terus menambah jumlah sandera, di antaranya Dubes Swedia Fredrik Bergenstahle, para teroris terus menegosiasikan tuntutan mereka dengan pemerintah Malaysia dan Jepang. Tuntutan bertambah dengan permintaan disediakan pesawat JAL dari Jepang untuk membawa mereka keluar Malaysia. Menteri Dalam Negeri Malaysia Ghazali Shafie yang saat itu berada di Jakarta, berperan aktif menjadi negosiator. Dillon sendiri bergabung dengan Dawson Wilson (penasihat Urusan Ekonomi), Donn Heaney (pejabat Urusan komersial), L. Richard (Dick) Jackson (pejabat Urusan Ekonomi), Stanley R. Ifshin, Edwin A. Brubaker, dan Paul V. Stack (pejabat Urusan Politik), dan Sekretaris Susan L. Dashnaw yang telah membentuk “satuan tugas” sementara yang menangani pos-pos penghubung di berbagai bagian gedung tersebut. “Satgas” itulah yang membuat perkembangan informasi penyanderaan dan negosiasi terus bisa diberitakan ke luar. Negosiasi berjalan alot sehingga penyanderaan masih berjalan hingga hari keempat meski secara berangsur para teroris melepaskan sandera-sandera. Pada akhirnya, kata Dillon, “Jepang setuju untuk menukar beberapa tahanan JRA yang mereka tangkap sebagai sandera kami. JAL terbang ke Kuala Lumpur. Kemudian krisis lain terjadi. Salah satu dari empat narapidana JRA, yang seharusnya dibawa dari Jepang, menolak menjadi bagian dari pertukaran. Para teroris tidak mempercayainya. Pertukaran diperpanjang. Akhirnya, kami berhasil menutup telepon dari gedung kami ke penjara tempat anggota JRA keempat ini ditahan.” Para teroris menang banyak ketika kesepakatan dicapai. Mereka mendapat tuntutannya plus mendapat 15 sandera untuk dijadikan penukar dengan lima aktivis dari Jepang yang pertukarannya dilangsungkan di atas pesawat. Mereka juga mendapat empat pejabat (dua pejabat pemerintah Malaysia dan dua Jepang) sebagai penjamin pelarian mereka hingga tempat tujuan akhir, Libya –negeri yang bersedia menerima pendaratan pesawat JAL pembajak. Dua pejabat Malaysia yang dijadikan penjamin itu Wakil Menteri Transportasi Dato' Ramli Omar dan Sekretaris Jenderal Kementerian Dalam Negeri Tan Sri Osman Samsuddin Cassim. Sebelum pesawat lepas landas dari Bandara Subang, beberapa sandera dibebaskan. Di antaranya Konsul Stebbins. Pesawat lepas landas pada pukul 11.18 waktu Kuala Lumpur dan tiba dengan selamat keesokan harinya setelah transit di Colombo. Pada 10 Agustus, dua pejabat Malaysia yang dijadikan penjamin tiba dengan selamat di Kuala Lumpur.

  • Sukarni Takut Kenpeitai

    KAMIS, 16 Agustus 1945. Sedan itu meluncur cepat dari arah Bekasi menuju Jakarta. Memasuki wilayah Klender, Jakarta Timur tetiba mobil berplat nomor Jakarta itu memelankan lajunya. Rupanya perhatian para penumpangnya tertuju kepada asap yang mengepul tebal di kejauhan. Sukarni, tokoh pemuda Menteng 31, meloncat dari tempat duduknya. Sementara tangan kanannya masih memegang sepucuk pistol. “Lihatlah! Itu lihat sudah mulai. Revolusi sedang berkobar persis seperti yang kita harapkan. Jakarta mulai terbakar. Lebih baik kita cepat-cepat kembali ke Rengadengklok!” teriaknya seperti dikisahkan oleh Sukarno dalam Bung Karno Penjambung Lidah Rakjat Indonesia karya Cindy Adams. Tidak mengacuhkan kata-kata pemimpin “penculikan” dirinya dan Mohammad Hatta, Sukarno malah memerintah sopir untuk terus melaju ke arah Jakarta. Begitu mendekati sumber asap tersebut, mobil berhenti. Mereka yang ada di kendaraan semuanya turun untuk menyaksikan lebih jelas pemandangan di depan mata. Selidik punya selidik, asap api itu ternyata berasal dari tumpukan jerami yang tengah dibakar seorang petani. Dengan tersenyum mesem, Sukarno lalu berpaling ke arah Sukarni.

  • Pasang Surut Hubungan Lebanon-Israel

    Dunia kembali berduka. Selasa (4/8/2020), ledakan besar mengguncang Beirut, Lebanon. Bak bom atom, ledakan itu memporak-porandakan sebagian besar kota. Bangunan-bangunan di sekitar pelabuhan pun hampir seluruhnya rata dengan tanah. Dilansir CNBC , setidaknya ada 70 orang tewas, dan ribuan orang yang terluka. Diutarakan Kepala Keamanan Abbas Ibrahim, ledakan itu terjadi di area pelabuhan, tempat menyimpan bahan peledak hasil sitaan pemerintah Lebanon bertahun-tahun lalu. Diketahui, di gudang penyimpanan itu juga terdapat 2.750 ton amonium nitrat, bahan mudah terbakar untuk kebutuhan pupuk dan peledak. Perdana Menteri Hassan Diab segera mengeluarkan perintah darurat nasional. Dia bersumpah akan mengusut tuntas kasus ledakan itu dan meminta pertanggungjawaban mereka yang terlibat. PM Diab juga meminta dunia internasional membantu pemulihan pasca bencana untuk Lebanon. “Saya mengirim permohonan mendesak ke semua negara yang berteman dan bersaudara dan mencintai Lebanon, untuk berdiri di sisi kami dan membantu kami, mengobati luka yang dalam ini,” ucap dia. Banyak negara mulai memberikan bantuan kepada Lebanon. Dari sekian banyak negara, penawaran bantuan dari Israel lah yang cukup disorot publik. Seperti diketahui, hubungan Lebanon-Israel tidak cukup baik. Keduanya sering terlibat konflik di daerah perbatasan. Bahkan beberapa pekan terakhir, ketegangan kedua negara dari bangsa Kanaan itu sedang memuncak setelah Israel menuduh adanya upaya serangan teroris dari Lebanon. Diberitakan Kompas , meski terjadi ketegangan, melalui Perdana Menteri Benjamin Netanyahu, pihak Israel telah mengontak utusan PBB Timur Tengah Nickolay Mladenov terkait pemberian bantuan untuk Beirut. Tawaran bantuan itu dapat disalurkan melalui perantara internasional berupa bantuan medis, bantuan kemanusiaan, dan bantuan kegawatdaruratan. “Kami berbagi kepedihan dengan rakyat Lebanon dan dengan tulus menawarkan bantuan kami pada saat yang sulit ini,” kata Presiden Israel Reuven Rivlin. Lantas bagaimana sebenarnya hubungan Lebanon-Israel di masa lalu? Helikopter mencoba memadamkan api di sekitar ledakan pelabuhan Beirut, Lebanon. ( BBC ). Hubungan Awal Hubungan Lebanon-Israel tidak pernah baik-baik saja. Keduanya kerap terlibat pergolakan bersenjata, terutama setelah terlibat perang. Tetapi di antara negara liga Arab lain, Lebanon menjadi yang pertama menandatangani perjanjian gencatan senjata dengan Israel. Bahkan Lebanon tidak ambil bagian dalam perang tahun 1967 dan 1973. Sampai wilayah yang disebut Switzerland of the East itu dianggap sebagai yang paling tenang. Dicatat Kristen E. Schulze dalam Israel’s Covert Diplomacy in Lebanon , sepanjang tahun 1950-an Lebanon banyak terlibat kerja sama dengan Israel. Di saat banyak negara Arab berkonflik dengan Israel, Lebanon disebut sebagai sekutu terdekat. Banyak juga negara yang menyebutnya sebagai pendukung Israel. Lebanon pernah juga memberi dukungan militer untuk menghentikan konflik di Suriah. Dampak hubungan itu membuat pertumbuhan orang-orang Yahudi di Lebanon cukup pesat terjadi. Mereka menempati beberapa wilayah di Lebanon. Tercatat juga, rute penerbangan langsung yang menghubungkan Beirut di Lebanon dan Yerusalem di Israel pernah dibuat. “Meskipun banyak dari laporan ini masuk ke dalam kategori konspirasi tradisonal, tapi beberapa pernyataan nyaris mengungkap kebenaran,” ujar Schulze. Kepulan asap hitam membumbung tinggi di lokasi ledakan. ( BBC ). Konflik Palestina Sejak Israel mengumumkan pendirian negara merdeka tahun 1948, gejolak konflik di Timur Tengah seakan tidak pernah berhenti. Dimulainya perang Arab-Israel tahun tersebut, membuat negara-negara di sekitarnya mau tidak mau ikut terlibat. Lebanon, sebagai salah satu negara terdekat, mendapat dampak konflik itu. “Lebanon selalu menarik perhatian negara-negara besar di kawasan Timur Tengah. Negeri itu sudah lama menjadi barometer konflik antara Israel dan negara-negara Arab yang tak kunjung usai. Bahkan wilayah Lebanon Selatan dapat disebut sebagai medan terbuka untuk memulai konflik antara Israel dan negara-negara Arab, yang sampai saat ini masih belangsung secara diam-diam,” tulis Ari Yulianto dalam Lebanon: Pra dan Pasca Perang 34 Hari Israel vs Hizbullah . Wilayah Palestina yang terus tergerus oleh keberadaan Israel, memaksa penduduknya pergi mencari tempat perlindungan aman. Ratusan ribu dari mereka memilih pergi ke Lebanon, membentuk komunitas baru di wilayah perbatasan sebelah selatan. Data PBB menunjukkan lebih dari 300.000 warga Palestina di Lebanon, menumbuhkan generasi Palestina baru di Lebanon. Dan di sana jugalah dibentuk barisan perlawanan terhadap pasukan Israel. Konflik terbuka, dipercaya sebagai yang pertama, antara Lebanon dan Israel terjadi pada 1978. Dijelaskan Ehud Yaari dalam Israel’s Lebanon War , gerakan pembebasan Palestina di Lebanon, PLO (Palestine Liberation Organization) kerap meluncurkan roket ke wilayah sipil Israel dari wilayah Lebanon. Sebagai tindakan balasan, Israel melancarkan operasi militer besar pada Maret 1978. Diceritakan Nino Oktorino dalam Konflik Bersenjata: Korps Lapis Baja Israel , operasi militer Israel itu berlangsung selama tujuh hari. Dikenal juga sebagai operasi terbesar sejak Perang Yom Kippur. Sekira 7.000 orang prajurit yang didukung kendaraan lapis baja, dan persenjataan lengkap pergi menyerbu wilayah selatan Lebanon. “Operasi menyebabkan puluhan pejuang PLO tewas atau ditangkap, dan sebuah jalur selebar 10 km di wilayah sepanjang perbatasan diduduki pasukan Israel. Semua instalasi PLO dihancurkan secara sistematis,” ungkap Nino. Lelah dengan konflik di negaranya, pemerintah Lebanon meminta Dewan Keamanan PBB mengeluarkan Resolusi 425. Mereka mendesak pasukan Israel agar keluar dari wilayah Lebanon. Demi membantu mengamankan keadaan, PBB membentuk badan pengawas pelaksanaan resolusi tersebut, yakni UNIFIL (United Nations Interim Force in Lebanon). Namun meski setuju untuk keluar dari Lebanon, Israel tidak sepenuhnya percaya UNIFIL dapat mencegah PLO menyerang wilayah utara Israel. Maka zona keamanan milik Israel dibentuk, dengan Sa’ad Haddad sebagai pemimpinnya. Semakin lama konflik antara pejuang Palestina dan Israel berkembang menjadi lebih masif. Israel terus menargetkan daerah-daerah di Lebanon, yang mereka percaya terdapat PLO di dalamnya. Bahkan pada 1982, Israel kembali melancarkan operasi besar, dinamai Operation Peace for Galilee, ke wilayah Lebanon. Operasi itu dilancarkan menyusul serangan roket PLO ke daerah Galilee di utara Israel. Thomas Davis dalam 40 km Into Lebanon: Israel’s 1982 Invasion , mencatat operasi Israel itu memakan korban jiwa yang sangat besar, bahkan di Beirut saja tercatat ratusan jiwa dari kalangan sipil tewas. Tujuan operasi Galilee itu, selain menghancurkan PLO, memperluas wilayah Israel sebanyak 40 km ke arah Lebanon. Sehingga Isreal mencatut wilayah selatan Lebanon. Dari tahun ke tahun konflik di Lebanon hampir tidak ada habisnya. Serangan demi serangan terus dilancarkan kedua pihak. Tahun 2006 menjadi yang terbesar di abad ke-21. Kerusakan dan korban jiwa akibat perang sangat besar. “Israel berdalih bahwa selama Lebanon menjadi basis perlawanan bagi orang-orang Palestina, perdamaian Timur Tengah tidak akan pernah tercapai. Israel ingin mengontrol upaya perlawanan kelompok gerilyawan garis keras dengan menginvasi Lebanon,” tulis Abdar Rahman Koya dalam Hizbullah: Menentang Zionisme .

  • Empat Jenis Jarahan Inggris dari Keraton Yogyakarta

    WACANA pengembalian benda jarahan Inggris dari Keraton Yogyakarta usai Geger Sepehi pada Juni 1812 tengah ramai diperbincangkan. Yang paling bikin gempar, keturunan Sultan Hamengkubuwono II menyebut ada 57.000 ton emas yang diambil dari keraton. Dalam dialog sejarah “Repatriasi Benda Bersejarah dari Negeri Penjajah” live di saluran Youtube dan Facebook Historia, Rabu, 5 Agustus 2020, sejarawan Peter Carey menyebut ada empat jenis benda yang dijarah Inggris dari Keraton Yogyakarta. Jenis pertama adalah manuskrip atau naskah-naskah kuno dari keraton. Ada 45 naskah yang diambil oleh Thomas Stamford Raffles. Hal ini diketahui dari surat sekretaris Raffles yang menyebut naskah-naskah ini.

  • Misi Zending dan Reaksi Umat Islam di Hindia Belanda

    MEMASUKI abad ke-19, misi zending atau pekabaran injil di negeri kolonial semakin gencar digalakan pemerintah Belanda. Sebagai salah satu program kolonialisasi, para wakil gereja melakukan misi penyebaran ajaran Kristen di tengah masyarakat. Namun bukan perkara mudah menjalankannya. Para zending mendapat hambatan besar dari orang-orang Islam. Menurut M. Natsir dalam Islam dan Kristen di Indonesia , tidak ada satu agama yang amat menyusahkan para zending dan misionaris dalam pekerjaan mereka menyebarkan agama Kristen daripada Islam. Maka setiap mendapat kesempatan melakukan konferensi besar, perbincangan soal reaksi dunia Islam itu selalu menjadi pembahasan yang hangat. Begitu pula yang terjadi pada konferensi zending di Amsterdam, Belanda pada 25 Oktober 1938. Pertemuan para penyebar ajaran Kristen yang dihadiri Perdana Menteri Hendrikus Colijn itu mendapat perhatian besar pemerintah Belanda, terutama setelah beberapa tahun terakhir banyak upaya perlawanan di Hindia Belanda yang dimotori oleh golongan ulama. Maka satu pokok pembicaraan yang menjadi perhatian semua orang adalah “sikap Islam di Indonesia sekarang ini”. “Orang Islam yang berada di bawah pemerintah asing lebih konservatif memegang agama mereka daripada negeri-negeri yang sudah merdeka,” tulis Hendrik Kraemer dalam The Christian Message in a Non Christian World . Peristiwa Perang Jawa, Perang Aceh, Perang Kamang, dan beberapa pemberontakan lain, penggeraknya adalah orang Islam. Bagi para zending, berbagai peristiwa perlawanan itu terjadi karena umat Islam di Indonesia memiliki keinginan kuat untuk menjalankan ajaran agamanya dengan tenang. Masuknya Belanda tentu mengancam hal tersebut. “Tetapi di Indonesia agama Islam belum masuk benar ke dalam masyarakat sedalam-dalamnya. Masih ada keinginan hendak menyesuaikan adat istiadat dan kepercayaan lama dengan ajaran-ajaran yang dibawa oleh agama Islam,” lanjut Kraemer. Celah itu yang coba digunakan para zending untuk menyebarkan ajarannya, dan melemahkan ajaran Islam. Seperti yang dilakukan Nederlandsche Zendingsvereeniging (NZV) di Jawa Barat. Dijelaskan Th. Van den End dalam Sumber-Sumber Zending tentang Sejarah Gereja di Jawa Barat 1858-1963 , orang-orang NZV menerjemahkan Alkitab ke dalam bahasa Sunda untuk mendekati masyarakat Sunda. Pendekatan lain yang coba dilakukan para zending untuk melemahkan ajaran Islam di Indonesia adalah dengan pendidikan dan kebiasaan-kebiasaan ala Barat. Pengetahuan baru diyakini dapat menggantikan kebiasaan lama, yang pada akhirnya akan dapat melepaskan orang-orang dari genggaman Islam. Pengetahuan Barat yang liberal dijadikan senjata utama pendekatan terhadap umat Islam. Namun persoalan itu rupanya menjadi kekhawatiran tersendiri bagi Natsir. Di dalam Pandji Islam tahun 1938, anggota Partai Islam Indonesia itu menyebut jika ikatan ajaran Islam antara generasi tua dan muda masih sama-sama lemah. Generasi tua terlalu terkekang dengan berbagai kepercayaan adat, sementara kaum muda terlalu mudah terpengaruhi oleh perubahan baru. Permasalahan yang menjadi penyakit kaum muslimin di Indonesia. “Sudah bukan barang yang mustahil lagi apabila sekarang terjumpa anak-anak kita orang Islam yang telah sampai ke sekolah-sekolah menengah yang belum pernah membaca Fatihah  seumur hidupnya, dan hanya belajar mengucapkan kalimah Syahadat  dengan bersusah payah diwaktu akan mengakadkan nikah di muka penghulu,” ungkap Natsir. Sama seperti Natsir, para zending juga memiliki kekhawatirannya sendiri dalam menjalankan misi agama mereka. Dalam konferensi, para zending menyarankan agar misi penyebaran ajaran Kristen dilakukan secepat mungkin, dengan cara-cara yang lebih baik. Sebab, dalam beberapa tahun kedepan, dikhawatirkan bangsa Indonesia akan lebih susah dimasuki oleh agama Kristen. Pengaruh Islam yang kuat sudah mulai terlihat dengan kehadiran organisasi-organisiasi berbasis keislaman, baik di bidang politik, sosial, ekonomi, hingga budaya. Konferensi zending Amsterdam menyepakati beberapa poin yang disetujui pemerintah Belanda, melalui keputusan PM Colijn. Pertama , setiap kegiatan zending di Hindia Belanda akan mendapat tambahan bantuan. Kedua, setiap zending akan mendapat jatah uang setiap bulan untuk kehiduan mereka. Ketiga, menambah jumlah surat izin penyebaran agama Kristen untuk para zending baru. ”Dan kita hanya dapat berseru kepada penganjur-penganjur kita, terutama dalam pergerakan muslimin di Indonesia,” imbuh Natsir.*

  • Sepak Terjang KSK dari Bosnia hingga Afghanistan

    TIDAK sampai seperempat abad usianya, satu kompi terelit Kommando Spezialkräfte (KSK) atau pasukan elit Angkatan Darat (AD) Jerman dibubarkan. Menteri Pertahanan Annegret Kramp-Karrenbauer menghapuskan pasukan elit itu dari Bundeswehr (Angkatan Bersenjata Jerman) pada 30 Juli 2020. Kompi ke-2 KSK dihapuskan karena sudah terlampau disusupi para simpatisan Neo-Nazi. Isu itu sudah merebak sejak Desember 2019. Pada Mei 2020, Militärischer Abschirmdienst (Badan Kontra-Intelijen Militer Jerman) bersama GSG 9 (pasukan elit kepolisian) menggerebek kediaman seorang anggota KSK berpangkat sersan mayor yang terduga sebagai simpatisan Neo-Nazi. Diberitakan   The New York Times , 3 Juli 2020, di kediaman terduga ekstrimis sayap kanan itu ditemukan dua kilogram peledak sintetis PETN beserta sumbu dan detonatornya, sepucuk senapan serbu AK-47, dan ribuan butir amunisi yang diyakini dicuri dari gudang senjata militer Jerman. Penemuan itu diperkuat oleh penemuan sebuah buku kumpulan lagu-lagu mars SS (Schutzstaffel/pasukan paramiliter Nazi di Perang Dunia II) dan 14 eksemplar majalah beredisi para mantan prajurit SS. “Dia (sersan mayor KSK) punya sebuah rencana. Dan dia bukan satu-satunya,” tutur Komisioner Parlemen Jerman Eva Högl kepada The New York Times. Menteri Pertahanan Jerman Annegret Kramp-Karrenbauer membubarkan KSK. ( bmvg.de ). Neo-Nazi bukan isu anyar yang menghantui Jerman pasca-Perang Dunia II. Selain di politik, virus Neo-Nazi beberapa kali menjangkiti institusi militernya. “Saya tak tahu apakah memang ada tentara bayangan (simpatisan Nazi, red. ) di Jerman. Tetapi saya khawatir. Tidak hanya sebagai komandan KSK, namun juga sebagai warga negara, di mana pada akhirnya hal seperti itu memang eksis dan mungkin rakyat kami juga bagian darinya,” kata Komandan KSK Brigjen Markus Kreitmayr. Brigjen Markus Kreitmayr, komandan terakhir KSK. ( bundeswehr.de ). MAD sendiri masih dalam proses menginvestigasi 600 prajurit, di mana 20 di antaranya anggota KSK. Tetapi Menhan Kramp-Karrenbauer menuntut hasil lebih dari MAD sesegera mungkin. “Kasus ini tidak hanya sebuah kemungkinan kasus yang terisolasi di internal militer namun sudah ada koneksi dan jaringan yang jelas dan mesti diinvestigasi lebih luas. Pekerjaan MAD belum memuaskan dan belum cukup,” ujar Kramp-Karrenbauer. Mula KSK Sejak berdirinya Bundeswehr sebagai pengganti Wehrmacht pada 1955, militer Jerman nyaris zonder pasukan elit. Pasukan setaraf komando pertama baru dimiliki Bundesmarine (AL Jerman) pada 1958, yakni Kampfschwimmer (kini Kommando Spezialkräfte Marine), sejenis komando pasukan katak. AD Jerman baru muncul Fernspäher (pasukan intai) yang hanya berjumlah satu kompi dan fungsinya sebagai pasukan intai jarak jauh. Kedua unit elit itu belum meliputi spesialisasi kontra-terorisme. Kebutuhan akan pasukan elit dengan fungsi yang lebih komplit baru dirasa ketika terjadi penyanderaan warga Jerman di luar negeri, seperti kasus penyanderaan sejumlah warga Jerman kala berlangsungnya Genosida di Rwanda pada 1994. Para sandera berhasil dievakuasi dari Rwanda bukan oleh militer Jerman, melainkan oleh pasukan Brigade Para-Komando Belgia. Saat itu Jerman tak punya pasukan elit untuk beroperasi di luar negeri. Pasukan komando kepolisian GSG 9 berdasarkan regulasi hanya beroperasi di dalam negeri. “Insiden di Rwanda itu jadi dorongan pembentukan KSK pada 1996, sebuah unit dengan fungsi penuh untuk operasi-operasi pengintaian, operasi pembebasan sandera, dan bantuan operasi senyap pasukan reguler. Dalam hal kontra-terorisme, KSK punya pengecualian untuk bisa beroperasi di luar perbatasan Jerman dan di zona-zona konflik,” tulis Leigh Neville dalam The Elite: The A-Z of Modern Special Operations Forces . “KSK diorganisir menjadi empat kompi komando, masing-masing (kompi) terdiri dari empat peleton patroli dan satu kompi komando khusus yang bertanggungjawab atas persenjataan elektronik. Pembagiannya merujuk pada pasukan khusus SAS (Special Air Service, pasukan khusus AD Inggris),” sambungnya. Kommando Spezialkräfte  berdiri pada 1996 dan diaktifkan pada 1997 lewat bantuan Inggris dan Amerika. ( bmvg.de ). SAS dijadikan rujukan lantaran pembentukan KSK pada 1996 dibantu SAS, GSG 9, dan Detasemen Operasi Khusus ke-1 AD Amerika Serikat (Delta Force). Lantaran KSK akan difungsikan di semua operasi di darat, laut, maupun udara, perekrutannya diambil dari matra darat, laut, dan udara dengan syarat dan kualifikasi tertentu. Ketika lahir pada 20 September 1996, KSK sudah memiliki personil yang ditempa dengan beragam pelatihan ekstra keras di semua kompinya. Namun KSK baru aktif setelah 1997 dengan basisnya di Calw. Saat diaktifkan, KSK dipimpin Brigjen Fred Schulz. Bosnia hingga Afghanistan Ujian pertama KSK datang setahun berselang. Mereka dikirim ke Bosnia sebagai bagian dari pasukan Jerman yang diperbantukan di bawah payung NATO (Pakta Pertahanan Atlantik Utara). Sejak 1996 pasca-Perang Bosnia, Jerman menyokong SFOR (Stabilization Force) dengan tiga ribu personilnya. Salah satu aktivitas SFOR adalah menggelar operasi-operasi senyap memburu para penjahat perang yang bersembunyi di Bosnia, Serbia, maupun Kroasia. Saat itu pemerintah Serbia dan Kroasia menolak mengekstradisi para penjahat perang yang masuk dalam daftar International Criminal Tribunal for the former Yugoslavia. KSK beberapakali diterjunkan bersama pasukan khusus negara lain seperti Sajeret Matkal (Israel), SAS (Inggris), Commandement des Opérations Spéciales (COS, Prancis), dan US Army Special Forces “Green Berets”. Mengutip How Western Soldiers Fight: Organizational Routines in Multinational Missions karya Cornelius Friessendorf, operasi pertama KSK di Bosnia adalah menggerebek dan menciduk Milorad Krnojelac pada 15 Juni 1998 di Foča, Serbia (kini Bosnia dan Herzegovina). Krnojelac merupakan penjahat perang yang menjalankan kamp interniran Bosnia dan dituduh atas pembunuhan terhadap 29 orang dan penyiksaan terhadap 59 lainnya di kamp interniran. “Penangkapannya dibantu pasukan khusus Prancis, di mana persiapan operasinya sudah dilakukan setengah tahun sebelumnya. Mereka mulanya memantau aktivitas Krnojelac dan mencegat percakapan telepon untuk mencatat kebiasaan-kebiasaannya. Bahkan tiruan rumah Krnojelac dibuat di Jerman untuk latihan,” tulis Friessendorf. “Setelah ditangkap, Krnojelac langsung dibawa ke kendaraan lapis baja dan diterbangkan dengan helikopter ke Zagreb, dan dari sana diterbangkan ke ICTY di Belanda, di mana dia menerima vonis 15 tahun penjara,” lanjutnya. Tersangka penjahat perang yang diburu KSK, ki-ka: Milorad Krnojelac, Radomir Kovač & Janko Janjic. (ICTY). Setelah sukses melewati ujian pertamanya, KSK kembali diterjunkan untuk menangkap penjahat perang lainnya, Radomir Kovač. Sebagaimana Krnojelac, Kovač yang mantan komandan paramiliter Serbia dengan kejahatan perang pemerkosaan dan perbudakan seks para wanita muslim Bosnia, juga ditangkap di Foča lewat misi klandestin 250 kombatan KSK pada tengah malam antara 1-2 Agustus 1999. Pada 20 Agustus 1999, KSK ditugaskan bersama pasukan Belanda ke Orahovac di Kosovo untuk menjemput paksa tiga tersangka penjahat perang guna dibawa ke markas pasukan perdamaian PBB di Pristina. Dari sana, KSK kembali ditugaskan ke Foča. “Pada 12 Oktober 2000 dalam misi menangkap Janko Janjic di Foča, sempat menimbulkan insiden. Dalam operasinya, KSK menggerebek rumahnya pada malam hari dengan meledakkan pintu depan. Walau di dalam rumah juga terdapat keluarganya, KSK tak kesulitan mengidentifikasi Janjic lewat tato tengkorak di kelopak matanya,” ungkap Friessendorf. “Saat tengah dikepung, Janjic menyatakan dia memilih meledakkan diri ketimbang tertangkap. Ia lalu mengambil sebutir granat dari sabuk pinggangnya: ‘Aku sudah mati sejak lahir!’ teriak Janjic sebelum meledakkan dirinya. Tubuhnya hancur dan tiga anggota KSK terluka,” tambahnya. Dua bulan pasca-serangan 9/11 oleh Al-Qaeda di New York, Amerika Serikat (11 September 2001), Jerman sebagai bagian dari NATO ikut mengirim pasukan ke Afghanistan. Menukil Nigel Cawthorne dalam Warrior Elite: 31 Heroic Special-Ops Missions from the Raid on Son Tay to the Killing of Osama bin Laden , KSK terlibat Pertempuran Tora Bora bersama Delta Force, SAS, SBS (Special Boat Service, pasukan khusus AL Inggris), dan pasukan Aliansi Utara Afghanistan melawan Taliban dan Al-Qaeda, 6-17 Desember 2001. “Tora Bora diduga menjadi kompleks gua tempat persembunyian Osama bin Laden. KSK turut terlibat mengawal serangan di sisi sayap,” tulis Cawthorne. Ilustrasi pasukan elit Jerman di Afghanistan. ( deutschesheer.de ). Meski secara taktis pertempuran itu dimenangkan pasukan koalisi Amerika, secara strategis pertempuran itu jadi blunder. Milisi Taliban dan Al-Qaeda masih bisa bergerilya, ditambah Osama bin Laden berhasil kabur meski pemerintahan Taliban di Afghanistan yang melindungi Al-Qaeda ambruk. KSK jadi alat negara yang dibanggakan dalam beragam operasi mancanegara. Namun, KSK jadi duri dalam daging di dalam negeri karena tersusupi simpatisan Neo-Nazi. Bukannya jadi salah satu garda pelindung demokrasi Jerman, KSK justru jadi ancaman dari dalam. “Jika orang yang mestinya melindungi demokrasi kita malah berkomplot melawan kita, maka kita menghadapi masalah besar. Bagaimana kita bisa menemukan mereka?” kata Kepala Badan Intelijen Negara Bagian Thuringia, Stephan Kramer, dikutip The New York Times . “Mereka adalah orang-orang yang ditempa dengan pengalaman pertempuran dan paham bagaimana caranya menghindari pemantauan karena mereka sendiri dilatih melakukan pengintaian. Yang kita hadapi adalah musuh dari dalam,” tandasnya.

bg-gray.jpg
Tedy masuk militer karena pamannya yang mantan militer Belanda. Karier Tedy di TNI terus menanjak.
bg-gray.jpg
Dua anggota legiun Mangkunegaran ikut serta gerakan anti-Belanda. Berujung pembuangan.
bg-gray.jpg
Rumah Sakit Bethesda Yogyakarta merupakan buah kasih dokter misionaris Belanda bernama J.G. Scheurer yang dijuluki Dokter Tolong.
bg-gray.jpg
Rumah yang pernah digunakan untuk mendidik kesadaran politik rakyat. Kini sepi pengunjung.
bg-gray.jpg
Poligami dipraktikkan oknum tentara sejak dulu. Ada yang dapat hukuman karenanya.
bottom of page