top of page

Hasil pencarian

Search this site

9978 hasil ditemukan dengan pencarian kosong

  • New Normal ala Zaman Jepang

    New Normal . Istilah ini lagi populer di mana-mana. Dari belahan bumi Barat sampai ke bumi Timur. New Normal mengacu pada suatu tatanan hidup baru yang penuh protokol kesehatan dari pemerintah seiring perkembangan pandemi Covid-19. Cara orang bersekolah, bekerja, berbelanja, dan berinteraksi tidak akan lagi sama seperti sebelum Maret 2020. Di Indonesia, Hidup Baru kemungkinan mulai berlangsung pada Juni 2020. Pemerintah telah bersiap mengizinkan pembukaan mal, sekolah, kantor pemerintahan, dan sejumlah sektor usaha. Pemerintah berupaya mengkampanyekan Hidup Baru lewat berbagai corong media. Pengelola sekolah, manajemen perusahaan, mal, dan pusat keramaian tengah ikut membantu menjabarkan apa itu Hidup Baru. Istilah ini tampak menjadi sebuah gerakan bersama. Tapi Indonesia bukan kali pertama ini mengalami gerakan Hidup Baru. Mari mundur ke masa pendudukan Jepang. Masa ini memperlihatkan adanya persiapan masyarakat untuk menyongsong hidup baru. Memasuki 1945, posisi Jepang di Indonesia mulai keteteran. Ini berawal dari kekalahan mereka di palagan Pasifik sepanjang 1944. Jepang butuh dukungan rakyat Indonesia untuk mempertahankan kedudukannya di Asia. Caranya dengan melempar janji kemerdekaan oleh Perdana Menteri Koiso pada September 1944 dan mempropagandakan Gerakan Hidoep Baroe. Gagasan Gerakan Hidoep Baroe muncul dalam dialog antara Saiko Shikikan (Panglima Tertinggi) dengan sejumlah anggota dewan Chuo Sangi-In pada 20 Februari 1945. Panglima tertingg bertanya bagaimana caranya memenangkan peperangan. Para anggota dewan menjawab peperangan hanya bisa diraih dengan mewujudkan penghidupan baru bagi masyarakat Indonesia, yaitu kemerdekaan. Menurut anggota dewan, kemerdekaan berarti kebebasan dari luar dan dalam. Kebebasan dari luar berarti merdeka dari Amerika Serikat, Inggris, dan Belanda. Sedangkan kebebasan dari dalam adalah merdeka dari Jepang. Panglima tertinggi bertanya lagi tentang maksud penghidupan baru. Seorang anggota dewan menjawab bahwa penghidupan baru ialah “bagaimana memperbaiki pemerintah, baik melalui rohani maupun jasmani sehingga sesuai dengan panggilan zaman.” Demikian kutipan Asia Raja , 21 Februari 1945 . Kemudian dialog itu menjadi pembahasan serius dalam sidang ketujuh Chuo Sangi-In (Dewan Pertimbangan Pusat –semacam DPR masa Jepang) pada 21 Februari 1945. Mr. Soedjono dan R.H. Fathoerachman, anggota dewan, mengusulkan perlunya rakyat belajar menerapkan perilaku baru dan membuang semua sikap lemah pada masa penjajahan Belanda. Bangsa Indonesia akan memasuki zaman baru. Dan zaman baru harus laras dengan cara pandang dan perilaku baru. “Maka untuk mencapai tujuan di atas insaflah kita, bahwa suatu gerakan pembaruan penghidupan harus dilaksanakan, yang akan memberi dasar baru kepada budi-pekerti dan masyarakat rakyat yang dihidupkan oleh suatu jiwa baru. Dengan semangat yang menyala-nyala kita masukilah Gerakan Hidoep Baroe,” demikian pernyataan Chuuoo Sangi-In dalam Pandji Poestaka, No 5 Tahun Showa 2605 (1945). Gerakan Hidoep Baroe berisi 33 butir pedoman. Antara lain meliputi semangat berkhidmat kepada tanah air dan Asia Timur Raya, bersifat ksatria, beriman dan bertakwa kepada Tuhan, berdisiplin terhadap diri, menghormati orang tua, terbiasa hidup bersih dan sehat lahir dan batin, berhemat, giat bekerja, cinta ilmu pengetahuan, suka menanam, dan memuliakan kerja tangan. Semua butir pedoman termaksud merupakan gagasan anggota dewan dari berbagai kelompok bangsa Indonesia. “Program ini dapat dikatakan luar biasa, karena sama sekali tidak menguraikan ide-ide atau slogan-slogan Jepang,” catat Arniati Prasedyawati Herkusumo dalam Chuo Sangi-In: Dewan Pertimbangan Pusat pada Masa Pendudukan Jepang. Dalam pidato penutup sidang, Sukarno sebagai ketua dewan mengatakan Gerakan Hidoep Baroe ibarat udara segar bagi orang sakit. Dia memandang masyarakat di seluruh negeri sedang sakit. Mereka perlu terapi selekasnya. “Maka oleh karena itu, perlu maha-perlu, laksana udara buat napas kita, kita harus membongkar segala penyakit yang ada di dalam tubuh masyarakat kita itu, dan menegakkan satu Hidoep Baroe, yang sehat dan rasional,” kata Sukarno, termuat di Kan Po , No. 62 tahun 2605 (1945). Sukarno juga menegaskan, Gerakan Hidoep Baroe tidak cukup jadi jargon. Ia tidak boleh sekadar menjadi anjuran pemerintah atau pelajaran di sekolah. Ia mesti pula mewujud dalam tindakan. Dan beban itu pertama-tama terletak pada para pemimpin yang membuatnya. “Kita sebagai pemimpin wajib memberi contoh. Marilah kita menjadi pelopor rakyat, juga di atas lapangan pembaruan jiwa dan moral itu,” lanjut Sukarno. Pemerintah Jepang mengaku menerima isi Gerakan Hidoep Baroe. Mereka berjanji akan membantu mempropagandakan seluruh isi Gerakan Hidoep Baroe ke pelosok negeri. Kenyataannya, Jepang hanya berminat pada empat isi Gerakan Hidoep Baroe. Tentang penanaman, cinta tanah air, bakti Asia Timur Raya, dan memuliakan kerja tangan. Keempatnya berkaitan langsung dengan kepentingan Jepang. Sisanya tidak. Tapi anggota dewan meminta isi Gerakan Hidoep Baroe tetap disebarluaskan kepada seluruh bangsa Indonesia. Caranya beragam. Dari memuat selebaran di media massa, membikin poster, sampai membuat lagu. Perang soedah sampai di poentjak tingkatan Hidoep baroe lekaslah dilaksanakan… Oentoek menjoesoen negara Indonesia Jang pasti merdeka Begitu potongan lirik lagu “Hidoep Baroe” karangan R. Harta dalam suatu edisi Djawa Baroe tanpa keterangan waktu publikasi. Lagu itu diiringi komposisi musik karya Ismail Marzuki. Gerakan Hidup Baru terus bergaung ke antero negeri. Ia memperoleh tempat lapang di kalangan organisasi. Masyumi, melalui Soeara Moeslimin edisi 1 Maret 1945, memperlihatkan dukungannya pada Gerakan Hidoep Baroe. “Masyumi memandang sudah selayaknya ikut menggerakkan segala macam gerakan rakyat yang menuju perbaikan dasar-dasar negeri dan bangsa kita,” tulis Soeara Moeslimin seperti dikutip Lukman Hakiem dalam Biografi Mohammad Natsir. Jawa Hokokai , organisasi kebaktian Jawa, turut mempublikasikan secara luas Gerakan Hidoep Baroe. Sukarno sebagai ketua Jawa Hokokai berkeliling Jawa untuk mengajak rakyat melaksanakan Gerakan Hidoep Baroe. Rosihan Anwar, seorang jurnalis muda, menyaksikan langsung pidato Sukarno di Pati, Jawa Tengah, yang berisi anjuran melaksanakan Gerakan Hidoep Baroe. Dia berseberangan pendapat dengan sebagian besar kaum nasionalis. Dia berada satu kelompok dengan Sutan Sjahrir, pemimpin perlawanan kelompok non-kolaborator atau anti-Jepang. Rosihan menilai Gerakan Hidoep Baroe cuma propaganda murahan bikinan Jepang. “Terdesak akibat serangan tentara Sekutu di bawah Jenderal MacArthur,” tulis Rosihan dalam Sejarah Kecil “Petite Histoire” Volume 1. Sementara Sjahrir bersikap dingin terhadap Gerakan Hidoep Baroe. Dia lebih banyak membahas penderitaan rakyat ketimbang berbicara Gerakan Hidoep Baroe. Pada akhirnya, gaung Gerakan Hidoep Baroe mengecil. Ia tak pernah lagi didengung-dengungkan. Sebagian gagasannya lesap ke dalam pembahasan dasar negara, undang-undang dasar, dan naskah persiapan kemerdekaan Indonesia oleh BPUPKI sepanjang Mei-Juni 1945.

  • Kenduri Massal di Kemiren

    BARONG-barong menari. Di sekelilingnya warga desa asyik menonton sembari mengarak barong. Dengan membawa obor berkaki empat, warga desa mengiringi rombongan barong sebagai bagian dari perayaan Tumpeng Sewu. Setiap rumah setidaknya mengeluarkan satu hidangan tumpeng untuk dimakan bersama-sama. Diterangi obor, orang-orang duduk bersila di depan rumah. Di hadapan mereka tersedia tumpeng yang ditutup daun pisang, lengkap dengan lauk khas Kemiren: pecel pitik dan sayur lalapan. Begitu doa selesai dipanjatkan, kenduri massal dimulai. Tumpeng Sewu adalah tradisi adat warga Desa Kemiren, Kecamatan Glagah, Kabupaten Banyuwangi. Disebut Tumpeng Sewu karena jumlah tumpeng yang disajikan amat banyak. Dalam kultur Jawa, kata “sewu” merupakan metafor untuk menggambarkan jumlah yang tak terhitung. Perayaan ini merupakan ritual bersih desa yang dilakukan satu tahun sekali seminggu sebelum Idul Adha. Tradisi ini sudah hidup di masyarakat Osing Desa Kemiren sejak berpuluh-puluh tahun. Buyut Cili Tumpeng Sewu merupakan upacara slametan warga Kemiren, yang ditetapkan sebagai Desa Wisata Osing, untuk mengungkapkan rasa syukur sekaligus selamatan tolak bala. Tradisi ini tak bisa dilepaskan dari keberadaan makam Buyut Cili, dhanyang atau pendiri Desa Kemiren. Sosok Buyut Cili hidup dalam tradisi lisan. Konon, Buyut Cili yang bernama asli Marjanah adalah seorang petani. Bersama istrinya, ia melarikan diri dari Kerajaan Macan Putih (kini letaknya di sekitar Rogojampi) agar tak dijadikan makanan bagi macan piaraan penguasa. “Dalam istilah Osing mereka menyingkir atau ngili ,” tulis Siti Maria dalam Komunitas Adat Using di Desa Kemiren, Kecamatan Glagah, Kabupaten Banyuwangi . Pelarian Marjanah berhenti di sebuah hutan lebat yang ditumbuhi pohon durian dan kemiri. Di situlah dia membabat alas, mengubah hutan jadi sebuah desa. Kini desa itu dinamakan Kemiren. “Karena ia pernah ngili , lantas masyarakat menyebutnya Buyut Cili atau Bo Cili,” tulis Siti Maria. Versi lain menyebut Buyut Cili semula seorang patih Mataram yang mengungsi ( ngili )ke Blambangan setelah terjadi geger Mataram. Setiba di Blambangan, ia mengabdikan diri di Kerajaan Macan Putih. Di kerajaan ini terdapat tradisi bahwa setiap tahun raja memakan manusia, khususnya perempuan bertubuh tinggi dan gemuk. Karena istrinya masuk daftar tumbal, Buyut Cili dan istrinya mengungsi. Varian dari cerita tutur menyebut Buyut Cili sebagai orang sakti Majapahit yang beragama Hindu, pendeta, atau begawan. Terlepas dari beragam versi itu, Buyut Cili dipercaya masyarakat Kemiren sebagai pendiri sekaligus penunggu desa. Untuk menghormatinya, warga Kemiren kerap berziarah ke makam Buyut Cili untuk meminta berkah. Begitu pula jika ada pesta atau selamatan desa seperti Barong Ider Bumi dan Tumpeng Sewu. Menurut Dwi Ratna Nurhajarini dalam “Selametan Desa Tumpeng Sewu” di buku antologi Satu Bendera Beda Warna , ritual Tumpeng Sewu belum lama hadir di masyarakat Kemiren. Semula masyarakat memiliki tradisi selamatan desa yang dilakukan setiap hari Kamis atau Minggu sore pada minggu pertama Bulan Besar atau Bulan Haji. Hari Kamis dan Minggu sore dalam perhitungan Jawa sudah masuk hari Jumat dan Senin. Selamatan dilakukan sebagai ucap syukur kepada Yang Kuasa, yang telah menjauhkan warga Kemiren dari segala marabahaya. Selamatan juga diniatkan sebagai persembahan kepada Buyut Cili yang telah menjaga desa. Semula kegiatan itu melibatkan warga satu lingkungan terdekat. Namun kemudian berubah menjadi ritual satu desa yang dilakukan serentak. “Acara yang semula hanya berupa selamatan pecel pithik yang digelar tiap lingkungan, kemudian dijadikan satu dan serentak dengan ruang utama di sepanjang jalan utama Desa Kemiren dan jalan-jalan kecil yang menghubungkan Kemiren dengan daerah lain,” tulis Dwi. Sarat Makna Persiapan acara dilakukan sejak dini hari. Pada pukul enam pagi, para lelaki di Desa Kemiren sibuk mengupas kelapa. Setelahnya para ibu mulai memasak dan menyiapkan hidangan untuk perayaan Tumpeng Sewu. Selain menyiapkan makanan, pada tengah hari warga desa menjemur kasur ( mepe kasur ) di halaman masing-masing. Tradisi ini diyakini bisa mengusir penyakit. Sebab, masyarakat Osing percaya sumber penyakit datangnya dari tempat tidur. Kasur warga Kemiren berbeda dari kasur di tempat lain karena warnanya yang unik, yaitu merah dan hitam. Warna merah menyimbolkan keberanian sementara warna hitam melambangkan ketenteraman atau kelanggengan. “Secara umum warna merah hitam merupakan perlambang agar orang yang berumah tangga berani menghadapi tantangan kehidupan dan menjaga ketenteraman rumah tangganya,” tulis Wiwin Indiarti dkk dalam penelitian yang dilakukan Lembaga Penelitian dan Pengabdian pada Masyarakat Universitas PGRI Banyuwangi tahun 2013. Keluarga kelompok barong yang akan tampil pada acara Tumpeng Sewu adalah pihak yang paling sibuk. Mereka harus menyiapkan sesaji sebagai syarat utama ritual. Masyarakat percaya sesaji yang kurang lengkap bisa berdampak buruk. Begitu tenda untuk perayaan Tumpeng Sewu dibangun, sesaji sudah siap di depan rumah dan gending Kebo Giro akan terus ditabuh hingga arak-arakan dilakukan. Pada siang hari, dengan membawa sesaji, keluarga kelompok barong berziarah ke makam Buyut Cili untuk meminta izin. Sesaji makam Buyut Cili dihidangkan sego gurih yang ditata di atas tampah beralas daun pisang. Di atasnya ditutup daun pisang untuk menaruh lauk, seperti gimbal jagung, telur dadar, sate aseman daging sapi, abon ayam, irisan mentimun, paha dan sayap ayam goreng masing-masing dua dan ditata dalam empat penjuru mata angin. Ada pula jeroan ayam goreng yang diletakkan di tengah dan kerupuk rambak. Semua hidangan ini ditutup lagi dengan daun pisang yang bagian pinggirnya disemat dengan lidi sehingga tertutup. Penataan ayam yang menghadap empat penjuru mata angin, menurut Wiwin Indiarti dalam “Makna Kultural: Ritual Hidangan Tumpeng Sewu di Kemiren” dalam buku antologi Jagat Osing , menyimbolkan keyakinan mengenai dulur papat lima pancer hang bareng lahir sedina. Maksudnya, manusia konon terdiri atas empat anasir, yakni getih abyang (api), getih putih (air), getih kuning (udara), dan getih cemeng (tanah). Dari situlah wujud kasar yang mewadahi sukma manusia dibentuk. Harapannya, orang yang memakan hidangan tersebut akan punya keharmonisan antara empat unsur tersebut dan sukma. Pada sore hari dilakukanlah arak-arakan barong mengelilingi desa. Setelah itu diadakan selamatan barong dengan menu utama tumpeng serakat yang bentuknya tak kerucut sempurna. Tumpeng ini dialasi daun ilalang, klampes, dan sriwangkat. Tiap daun mengandung pengharapan berbeda. Daun ilalang menjadi simbol doa agar warga Kemiren dapat mengatasi masalah dengan baik. Daun klampes bermakna agar tak mengalami apes . Dan daun Sriwangkat bermakna agar selalu mengalami keberhasilan. Tumpeng serakat yang habis dimakan warga juga dimaknai sebagai lenyapnya malapetaka. Sebab ada idiom ilango serakate kariyo selamete ( malapetaka hilang dan kita selamat). Puncak acara adalah selamatan Tumpeng Sewu setelah Maghrib. Setiap rumah mengeluarkan minimal satu tumpeng yang di letakkan di depan rumah. Lauk khasnya: pecel pitik. Bentuk tumpeng yang mengerucut punya makna pengabdian pada Sang Pencipta. Sementara pecel pitik punya arti “ ngucel-ucel barang sithik ”. Wiwin Indiarti menyebut, pecel pitik punya beragam makna yang hidup di masyarakat Osing. Ada yang mengartikannya sebagai meski hanya sedikit, orang harus senantiasa bersyukur dan berhemat. Ada pula yang memaknainya sebagai “mugo-mugo barang hang diucelucel dadio barang hang apik” (semoga segala yang diupayakan membuahkan hasil baik). Hidangan lain yang umum ditemui dalam peringatan Tumpeng Sewu ialah ayam kampung kuah lembarang, jenang merah putih, dan jajan pasar, seperti rengginang, peyek kacang, onde-onde, nagasari, dan lain-lain. Ritual Tumpeng Sewu, yang dulu dilakukan di lingkungan terbatas, sudah berubah penuh kemeriahan tanpa mengurangi makna ritual itu sendiri. Pada 2013, tradisi Tumpeng Sewu diangkat dalam agenda pariwisata Banyuwangi Festival. Sejumlah wisatawan baik asing maupun dalam negeri bisa ikut menikmati tradisi ini. Mereka berbaur dengan warga menikmati pecel pitik. Warga pun tak sungkan menyambut mereka dan mengajak makan bersama.

  • Merobohkan Memori San Siro

    STADION gagah berkapasitas terbesar Italia, Giuseppe Meazza, sejak dua bulan silam tak lagi disemarakkan suporter fanatik dua klub sekota, Internazionale Milan dan AC Milan. Pandemi virus corona membuat calcio (sepakbola) di negeri itu terhenti. Kini bak jatuh tertimpa tangga, masa depan stadion yang kondang dengan nama Stadio San Siro bakal punah. Stadion berusia 94 tahun itu hendak dirobohkan demi memberi lahan lebih luas untuk stadion anyar. Rencana pembangunan stadion baru di lokasi itu sejatinya sudah diajukan secara kompak manajemen Inter dan AC Milan sejak tahun lalu. Tetapi lantaran stadion itu milik pemerintah kota Milan, butuh waktu menunggu persetujuan walikota, Giuseppe Sala. Rencana itu mulai mendapat lampu hijau setelah pihak Dinas Kebudayaan Lombardia menyatakan stadion berkapasitas 80 ribu orang itu tak punya status “cagar budaya”. Alasannya, bentuknya sudah tak lagi sama dengan bangunan pada awal dibangun, tahun 1926, akibat berulang-kali direnovasi. “Properti atas nama ‘Stadion Giuseppe Meazza’ tak memiliki unsur budaya dan oleh karenanya tak memiliki ketentuan hukum yang melindunginya,” demikian pernyataan tertulis dinas kebudayaan itu, dilansir thelocal.it , 23 Mei 2020.  Pemerintah kota Milan pun mulai terbuka dengan proposal kerjasama dengan kedua tim. Untuk desain stadion baru pengganti San Siro, masih dalam tahap finalisasi oleh  firma arsitektur Populous dan Manica-Cmr Sportium. Yang pasti, kedua klub menginginkan lapangannya disisakan kalaupun stadion lama dirobohkan untuk pembangunan stadion yang lebih modern di sebelahnya, sehingga lapangan tetap bisa digunakan untuk kepentingan publik. Ada pula rencana untuk membangun museum di kompleks lahan di Distrik San Siro, enam kilometer sebelah barat pusat kota Milan, itu. Hingga kini belum pasti kapan stadion akan dirobohkan. Namun yang pasti, berjuta memori manis-pahit yang dialami Inter, AC Milan, dan timnas Italia tersimpan tak hanya di lapangannya tapi juga di bangunannya. Kuil Sepakbola yang Ikonik Sejak berdekade-dekade lalu, Milan selalu bersaing dengan Paris sebagai destinasi wisata favorit para elit Eropa. Beken dengan kuliner dan fesyennya, Milan menyempurnakannya dengan stadion ikonik: Stadio San Siro. “Bukan hal berlebihan untuk mengatakan bahwa sepakbola, selain bisnis kulier dan fesyen, merupakan faktor pendongkrak kepopuleran Milan. Kota itu jadi rumah bagi dua klub ternama dunia. Monumen warisan Piero Pirelli sejak 1920-an ini ibarat katedral beton, baja, dan kaca yang modern dan spektakuler,” tulis Dan Colwell dalam Milan and the Italian Lakes . Pirelli adalah sosok di balik hadirnya stadion megah itu. Ia supremo AC Milan kedua (1909-1928) setelah sebelumnya klub itu dinakhodai presiden asal Inggris Alfred Edwards. Sebelum masa kepemimpinannya berakhir, Pirelli ingin punya warisan tersendiri dan dicetuskanlah gagasan membangun stadion sendiri untuk menggantikan stadion kecil yang menjadi kandang lama klub, Campo di Viale Lombardia. Tak hanya Rossoneri yang didirikan oleh orang Inggris, Pirelli juga sosok penggemar sepakbola Inggris. Maka ia menginginkan stadion yang berbeda dari markas klub Italia kebanyakan, yakni stadion tanpa trek atletik seperti kebanyakan stadion di Inggris. Sebelum San Siro dibangun, hanya ada satu stadion tanpa trek atletik di Italia, yakni Stadio Marassi (kini Stadio Luigi Ferraris) milik klub Genoa CFC yang dibangun pada 1911. Diungkapkan Bo Kampmann Walther dalam “Sports History, Culture, and Practice in Europe” yang dimuat dalam Sports Around the World , stadion itu dibangun Pirelli dengan menelan dana lima juta lira. Pembangunannya dipercayakan pada arsitek Ulisse Stacchini dan insinyur teknik sipil Alberto Cugini. Pembangunannya memakan waktu 13 bulan (Agustus 1925-19 September 1926). “Stadionnya dinamai Nuovo Stadio Calcistico San Siro karena berlokasi di distrik San Siro, Milan, bersebelahan dengan arena pacuan kuda milik Pirelli. Mulanya stadion hanya punya kapasitas 35 ribu kursi,” tulis Walther. Nuovo Stadio Calcistico San Siro alias Stadion San Siro yang rampung dibangun pada 1926 (Foto: magliarossonera.it ) Rupa San Siro saat itu masih sangat tipikal stadion di Inggris. Selain tak ada trek atletik, yang berarti jarak penonton dan lapangan sangat dekat, stadion terdiri dari empat tribun terpisah bertingkat satu. Hanya salah satu tribunnya yang diberi atap. Beberapa fasilitas sederhana ditempatkan di masing-masing kolong tribun. Selain ruang ganti, ada kamar mandi, kantor manajemen, dan staf pelatih. Karena lokasinya sangat berdekatan dengan arena pacuan kuda milik Pirelli, lucunya beberapa area di kolong tribun pun dijadikan istal kuda dan gudang makanan kuda. Saat diresmikan pada 19 September 1926, laga perdana yang dihelat adalah derby AC Milan kontra Inter Milan. Tuan rumah kalah 3-6. Markas AC Milan ini kemudian jadi salah satu markas timnas Italia. San Siro terpilih jadi venue semifinalPiala Dunia 1934, 3 Juni 1934, di mana Italia berhasil mengalahkan Austria 1-0. Serangkaian Bedah Stadion Pada 1935, stadion itu dijual ke pemerintah kota Milan dengan nilai yang hingga kini belum diketahui. Sejak saat itu San Siro mengalami beberapkali renovasi besar. Pemerintah kota merenovasinya pada 1935 dengan menambah tribun tingkat kedua di dua sektor sisi lapangan, serta tribun tambahan di empat sudut stadion. Semua tribunnya pun menyatu. Total, San Siro bisa menampung hingga 55 ribu penonton. Mulai 1947, Inter Milan yang sebelumnya berkandang di Arena Civica, pindah ke San Siro. Hal itu menandai kedua tim sekota tersebut berbagi “rumah sewa”. Imbasnya, terjadi penambahan jadwal pertandingan. Jika sebelumnya pertandingan biasa digelar pada sore, bertambah ke malam hari. Pemerintah kota pun mesti menambah lampu tembak agar laga bisa dimainkan ketika matahari sudah terbenam. Setahun pasca-Inter Milan ikut berkandang di San Siro, bedah stadion kembali diajukan, berupa penambahan tingkat ketiga di semua sektor tribun. Desainnya dikerjakan arsitek Ferruccio Calzolari dan pembangunannya dikomandi insinyur Armando Ronca. Bagian luar stadion juga ditambahkan 12 baris beton berbentuk spiral sebagai aksen anyar sekaligus menjadi akses baru menuju tribun atas. “Rencananya stadion itu bisa menampung 150 ribu penonton. Tetapi dewan kota Milan menolak usulan proyek itu dan melarang kapasitas penonton yang melebihi 100 ribu penonton dengan alasan keamanan. Pada akhirnya renovasi baru berjalan pada 1955 dengan hanya dilakukan penambahan kapasitas di tribun tingkat kedua dengan total bisa menampung 85 ribu penonton,” sambung Walther. Stadio San Siro dengan wajah baru pasca-renovasi 1955 (Foto: magliarossonera.it ) Setelah bintang Inter dan AC Milan Giuseppe Meazza wafat pada 21 Agustus 1979 akibat penyakit pankreas, namanya diabadikan untuk menggantikan nama Stadio San Siro pada 2 Maret 1980. Tetapi meski nama resmi stadion sudah menjadi Stadio Giuseppe Meazza, publik Italia dan dunia masih sering menyebut stadion dengan San Siro. Tujuh tahun kemudian, stadion itu kembali dibedah. Kali ini untuk kepentingan Piala Dunia 1990, di mana Italia jadi tuan rumah untuk kedua kalinya. Proyek bedahnya menghabiskan dana 60 juta dolar Amerika. Pengerjaannya dipercayakan kepada duet arsitek Giancarlo Ragazzi dan Enrico Hoffer, dan pembangunannya di bawah pimpinan Insinyur Leo Finzi. Desain Ragazzi dan Hoffer mengubah total wajah stadion. Mereka menambahkan tribun tingkat ketiga di dua sudut stadion dan tribun sektor barat. Untuk menambah aksen dan memperkuat bangunan tribun tingkat tiga, Ragazzi-Hoffer menambahkan 11 menara penopang berbentuk silinder yang menyamai motif beton spiral di bangunan stadion. Empat dari 11 menara yang berada di masing-masing sudutnya juga berfaedah untuk menopang empat rangka atap baja raksasa menonjol berwarna merah. Stadio San Siro sejak renovasi 1990 hingga kini yang beken dengan atap baja melintangnya yang menonjol (Foto: fifa.com/archeyes.com ) San Siro pun bak benteng, ikonik, dan modern. Renovasi itu rampung pada 1990. Dengan kapasitas 80.018, ia menjadi stadion berkapasitas terbesar di Italia. Laga perdana di San Siro usai renovasi yakni partai pembuka Piala Dunia 1990, yang mempertemukan Argentina dan Kamerun. Partai pembuka Grup B itu dimenangi Kamerun 1-0. “Sejak saat itu atmosfer di San Siro begitu menggairahkan. Atmosfernya tercipta begitu intens dari fans yang berjarak sangat dekat dengan lapangan, sebagaimana di Inggris. Dari tribun teratas San Siro, Anda bisa melihat setiap sudut lapangan, ibarat permainan catur namun dengan intensitas yang kuat,” tandas John Foot dalam Calcio: A History of Italian Football.

  • Bertahan di Barat Jawa

    Awal Mei 1948, empat bulan setelah Divisi Siliwangi meninggalkan Jawa Barat. Senja mulai memasuki Curug Sawer yang dingin. Suara air terjun bergemuruh memerangi sunyi di kawasan yang termasuk wilayah Cianjur Selatan itu. Diapit tebing tinggi dan jurang menganga, iring-iringan konvoi militer Belanda merayap di jalan sempit. Beberapa serdadu bule di dalamnya nampak tegang, sebagian di antara mereka menghisap rokok untuk mengusir rasa takut. Senjata-senjata mereka siap ditembakkan. Begitu jip pengawal iring-iringan lewat, rentetan tembakan berhamburan dari atas tebing-tebing tinggi. Granat-granat melayang dibarengi teriakan nyaring yang membuat suasana semakin mencekam. Di balik sebuah pohon besar, Kopral BM. Permana menembakan stengun-nya. Begitu juga dengan pimpinan pasukan, Letnan Djadja Djamhari tak henti-henti menembakan pistol seraya memberi komando. Setengah jam lamanya pertempuran berlangsung “Mereka akhirnya lari dengan meninggalkan sebuah truk yang berisi sekitar 10 prajurit KL (Angkatan Darat Kerajaan Belanda) yang langsung kami hantam tanpa ada yang tersisa,” kenang lelaki kelahiran Kebumen, 95 tahun lalu itu. B.M. Permana adalah seorang prajurit muda dari Kompi IV Batalyon 2 Brigade Infanteri 2 Soerjakantjana Divisi Siliwangi. Berbeda dengan sebagian besar kawan-kawannya yang dikirim untuk berhijrah ke Yogyakarta akibat pemberlakuan Perjanjian Renville saat itu, dia justru ditugaskan untuk tetap bertahan di wilayah Cianjur Selatan. “Tentu saja kami kami tidak menggunakan nama Siliwangi lagi, tapi mengatasnamakan Kesatuan Patriot Bangsa. Belanda sendiri menyebut kami sebagai 'gerombolan liar',” kata B.M. Permana. Letnan M. Adnan dari Brigade Infanteri 2 Soerjakantjana menguatkan pernyataan BM. Permana.  Dia masih ingat, pada hari-hari menjelang hijrah, dirinya dipanggil oleh Letnan Kolonel A.E. Kawilarang (Komandan Brigif 2 Soerjakantjana) ke Sukabumi. “Saat bertemu Pak Kawilarang itulah, saya diperintahkan untuk tinggal di Jawa Barat untuk terus menghadapi tentara Belanda,” ujar M. Adnan seperti tertulis dalam dokumen Dewan Harian Cabang Angkatan 45 Cianjur berjudul Beberapa Catatan Tentang Sejarah Perjuangan Rakyat Cianjur dalam Merebut dan Mempertahankan Kemerdekaan Negara Kesatuan Republik Indonesia 1942-1949. Namun ada dua syarat yang wajib ditaati oleh pasukan-pasukan Siliwangi yang diperintahkan bertahan itu. Pertama, jika tertangkap oleh militer Belanda jangan pernah mengaku sebagai bagian dari Divisi Siliwangi dan saat beraksi dilarang keras menggunakan nama kesatuan asli. Kedua, seluruh anggota Divisi Siliwangi yang ditanam di Jawa Barat dilarang keras masuk ke wilayah-wilayah Republik Indonesia versi Perjanjian Renville. Jika ternyata tetap ada yang melarikan diri ke wilayah-wilayah tersebut, maka mereka akan langsung ditembak mati tanpa proses pengadilan. Soal “penanaman” pasukan itu diakui oleh pihak TNI. Itu terjadi karena  hasil kesepakatan Perjanjian Renville diterima dengan setengah hati oleh pihak tentara. Demikian menurut buku Siliwangi dari Masa ke Masa (ditulis oleh Sedjarah Militer Daerah Militer VI Siliwangi/Sendam VI Siliwangi pada 1968). Kendati pada akhirnya menerima keputusan untuk mengosongkan Jawa Barat, namun diam-diam Panglima Besar Jenderal Soedirman telah menugaskan Letnan Kolonel Soetoko untuk tetap mengkoordinasikan perlawanan bersenjata di tanah Pasundan. Lewat Soetoko-lah kemudian dibentuk Brigade Tjitaroem, sebagai induk perlawanan kaum Republik di Jawa Barat. Upaya tersebut sempat tercium oleh intelijen militer Belanda dan menyebabkan Soetoko dipenjarakan pada Agustus 1948. Namun tanpa Soetoko, kiprah Brigade Tjitaroem terus berjalan. Ada beberapa batalion dan kesatuan lasykar yang tergabung dalam organ tersebut. “Yang saya ingat di antaranya  adalah pasukan Mayor Soegih Arto di Cililin, pasukan Letnan Effendi di Gentong-Tasikmalaya, pasukan Letnan Tjoetjoe di Gunung Cikuray-Galunggung, pasukan Letnan Zakaria di Bekasi, dan sebagian anggota Brigade Infanteri Soerjakantjana di Cianjur-Sukabumi,” ungkap Letnan Kolonel (Purn.) Eddie Soekardi, sesepuh Divisi Siliwangi. Aksi rahasia yang dilakukan oleh TNI itu mendapat reaksi keras dari pihak militer Belanda. Guna mengantisipasi aksi-aksi yang dijalankan oleh “pasukan liar” tersebut, pihak militer Belanda memutuskan untuk menjalankan operasi-operasi pembersihan di daerah-daerah yang ditinggalkan oleh pasukan Siliwangi. Salah satu kawasan di Jawa Barat yang dinilai “corak republik”nya masih kental adalah Sukabumi. Di daerah itu, propaganda-propaganda pro-republik terus berlangsung. Bahkan, penyerangan terhadap pos-pos militer Belanda juga sering terjadi, kadang-kadang secara sporadis. Kekacauan-kekacauan itu tentu saja menimbulkan kemarahan pihak militer Belanda. Menurut salah seorang saksi sejarah bernama Atjep Abidin (95), tidak jarang usai terjadi penyerangan terhadap pos-pos militer Belanda, operasi pembersihan langsung dilakukan beberapa jam kemudian. “Rakyat sipil dikumpulkan. Setelah dintimidasi, beberapa kaum lelaki dari mereka diambil dan dimasukkan ke penjara militer Van Delden, yang terletak di Gunung Puyuh, Sukabumi,” ujar anggota Legiun Veteran Republik Indonesia (LVRI) Takokak ini. Menurut Atjep, operasi pembersihan yang paling sering dilakukan yaitu di kawasan Nyalindung dan Sagaranten. Kedua tempat tersebut memang dikenal sebagai basis fanatik kaum Republik. Selanjutnya dari Van Delden, secara berkala, orang-orang yang dinilai militer Belanda sebagai kaum Republik dibawa ke wilayah Takokak , nama suatu kawasan terpencil yang yang terletak kira-kira 25 km di utara Sukabumi. Salah seorang mantan gerilyawan di Sukabumi, Yusuf Soepardi (96) mengakui bahwa Takokak sebagai tempat eksekusi mati kaum Republik memang sudah santer di kalangan masyarakat Sukabumi dan Cianjur. “Kalau ada orang Sukabumi atau Cianjur dibawa oleh tentara Belanda ke sana, ya jangan berharap ia bisa pulang lagi ke rumah…” ujar veteran yang di masa-masa tuanya pernah menjadi kuli panggul di Pasar Induk Cianjur tersebut. Sepeninggal Divisi Siliwangi hijrah ke Jawa Tengah, sesungguhnya tak ada perubahan situasi yang berarti di Jawa Barat. Pertempuran tetap berlangsung dan penyerangan pos-pos militer Belanda tetap terjadi. Itu dilakukan baik oleh pasukan Siliwangi yang sengaja ditinggalkan di Jawa Barat, laskar-laskar maupun oleh pasukan Tentara Islam Indonesia (TII) yang secara resmi menentang Perjanjian Renville.  Kondisi tanpa stabilitas tersebut berlangsung hingga “para maung” Siliwangi pulang kembali ke Jawa Barat menyusul  hancurnya kesepakatan Renville pada 19 Desember 1948.

  • Barong Penjaga Desa

    PERAYAAN itu berlangsung sederhana. Dengan mengenakan masker dan menjaga jarak, belasan orang berjalan mengiringi barong keliling desa. Mereka dikawal beberapa petugas berpakaian APD (alat pelindung diri) lengkap yang mengingatkan warga agar menjaga jarak dan sesekali menyemprotkan disinfektan. Sejumlah warga hanya menonton di halaman rumah. Di tengah pandemi Covid-19, pemangku adat warga Desa Kemiren, Kecamatan Glagah, Kabupaten Banyuwangi memutuskan tetap melaksanakan ritual Barong Ider Bumi pada 25 Mei lalu. Ritual ini diadakan sebagai upacara tolak bala atau penolak penyakit, bencana, dan sebagainya. Pada tahun-tahun sebelumnya ritual digelar meriah. Ada acara seremoni, aneka hiburan, hingga tradisi makan tumpeng pecel pitik. Tapi pandemi Covid-19 memaksa mereka untuk memangkas prosesi untuk menghindari kerumunan orang. Tahun ini ritual hanya berupa arak-arakan barong dengan tetap memperhatikan protokol kesehatan. Makan bersama yang biasanya dilakukan seluruh warga di tengah jalan juga ditiadakan. Sebagai gantinya pelaku adat makan bersama di rumah pemangku adat selametan desa. “Semoga pandemi Covid-19 ini selesai. Tidak ada lagi Corona,” ujar Suhaimi, tokoh adat setempat, dikutip detikcom . Mengarak Barong Ritual Barong Ider Bumi adalah tradisi turun-temurun masyarakat Osing di Desa Kemiren. Tradisi ini dilakukan sebagai ungkapan rasa syukur atas keselamatan dan keamanan sekaligus upacara tolak bal yang diadakan setiap tanggal 2 bulan Syawal dalam kalender Hijriah. Sesuai namanya, unsur terpenting dalam ritual ini adalah barong, sosok binatang mitologi yang bisa dijumpai dalam masyarakat Jawa dan Bali. Keberadaannya diyakini memiliki kekuatan magis dan dianggap suci oleh masyarakat. Ia juga dipercara menjadi pelindung dari makhluk-makhluk jahat, penyakit, magi hitam, dan sebagai manifestasi kebaikan. Sebagai salah satu ikon seni tradisi Banyuwangi, barong dimiliki beberapa  desa yang dihuni masyarakat Osing. Namun yang paling terkenal dan melegenda adalah barong Kemiren. Ia berwujud hewan raksasa; bersayap empat dan bermahkota, dengan mata besar melotot, serta taring mencuat keluar. Mahkotanya kerucut dikombinasikan dengan hiasan pelengkap dan dandanan rambut berbentuk udang. Barong dimainkan dua orang yang bertugas di bagian kepala dan bagian ekor. Menurut Wiwin Indiarti dan Abdul Munir dalam “Peran dan Relasi Gender Masyarakat Using dalam Lakon Barong Kemiren-Banyuwangi” di jurnal Patrawidya , April 2016, barong Kemiren merupakan unsur terpenting dalam ritual Ider Bumi maupun upacara bersih desa Tumpeng Sewu. Di sisi lain, ia ditampilkan pada acara pernikahan, khitanan, penyambutan tamu, festival kesenian, dan acara lainnya. Barong Kemiren bertransformasi menjadi tontonan (hiburan), meski unsur spiritual magis tetap berperan. “Dengan kata lain, seni tradisi ini berfungsi sakral sekaligus profan,” tulis mereka. Menariknya, menurut Wiwin Indiarti dan Abdul Munir, kendati asal-usulnya selalu dikaitkan dengan Kemiren, pertunjukan barong berasal dari Dandang Wiring (sekarang daerah Perliman) di Banyuwangi yang saat itu dipimpin oleh Mbah Sukib. Mbah Sukib memiliki barong beserta perlengkapan musiknya. Pada 1920-an Mbah Sukib yang sudah mulai tua sepakat menjualnya kepada Mbah Salimah di bagian timur Desa Kemiren. Mbah Salimah adalah salah satu juru kunci makam dan perantara roh Buyut Cili, danyang desa tersebut. Suatu saat dia diminta roh Buyut Cili untuk membeli barong dari Mbah Sukib. Sayangnya, upaya Mbah Salimah gagal karena beberapa anggota kelompok barong dari Dandang Wiring enggan melepas barong itu. Berutung Mbah Sukib akhirnya mau membuat tiruannya. Sebagai ritual, ritual Barong Ider Bumi menjadi salah satu tradisi tertua di Banyuwangi. Menurut Mudjijono dan Christriyati Ariani dalam Komunitas Adat Using di Desa Kemiren, Kecamatan Glagah, Kabupaten Banyuwangi ,upacara adat ini awalnya dimaksudkan untuk menghilangkan pagebluk yang menyerang warga Kemiren. Menurut cerita tutur, Desa Kemiren dilanda wabah penyakit dan hama tanaman. Melihat kondisi desa yang sangat memprihatinkan, beberapa sesepuh desa memutuskan berziarah ke makam Mbah Cili. Mereka berdoa meminta petunjuk dan pertolongan guna mengembalikan keadaan desa seperti semula. Beberapa hari kemudian, para sesepuh mendapat wangsit dari Buyut Cili agar warga Desa Kemiren mengadakan upacara slametan dan arakan-arakan barong mengelilingi desa. Setelah melakukan ritual yang dimaksudkan, Desa Kemiren terbebas dari pageblug . “Di sini terlihat bahwa upacara adat dapat 'mengikat' penduduk Kemiren dalam satu tujuan yang sama, yakni keselamatan desa beserta warganya,” tulis Mudjijono dan Christriyati Ariani. Sosok Buyut Cili menjadi bagian penting dalam ritual Barong Ider Bumi. Masyarakat Using meyakini Buyut Cili selalu hadir di setiap pelaksanaan Barong Ider Bumi. Keyakinan itu telah ada sejak pelaksanaan ritual yang pertama; beberapa sumber menyebut tahun 1800-an, namun sumber lain menyebut awal 1900. Pada setiap ritual Barong Ider Bumi, barong selalu diletakkan pada urutan pertama dan diikuti kesenian-kesenian lain yang ada di Kemiren. Iring-iringan biasanya terdiri atas barong, pitik-pitikan (ayam-ayaman), macan-macanan dan para pemusik yang membawa alat musik berupa kethuk, gong, ceng-ceng, dan kendang. “Prosesi mengarak barong mengelilingi desa dalam ritual Ider Bumi merupakan bagian penting dan keharusan bagi masyarakat Kemiren,” tulis Wiwin Indiarti dan Abdul Munir. Pelaksanaan Ritual Selain barong, elemen lain yang tak kalah penting di dalam ritual Ider Bumi adalah sesajen. Ada tiga jenis sesajen yang disiapkan: sesajen di makam Buyut Cili, rumah barong, dan jalan desa. Sesajen di makam Buyut Cili dan jalan desa memiliki kemiripan menu, yakni tumpengan, pecel pitik, jenang merah dan putih, kemenyan yang dibakar, dan toya arum (air bunga kenanga). Sementara sesaji di rumah barong tak terlalu beragam  karena di tempat ini hanya dilaksanakan ritual kecil sebagai wujud permintaan izin. Di sana para pemangku adat melakukan penataan untuk segala keperluan arak-arakan, terutama pemasangan pernak-pernik barong serta alat musik sebagai pemandung iringan barong. “Menurut kepercayaan mereka, setelah pelaksanaan ritual di makam Buyut Cili, barong tersebut sudah dimasuki danyang desa tersebut, maka pendukung yang terlibat tidak berani memegang barong, yang diperbolehkan dan berani hanya pemiliknya,” tulis Sulistyani. Pelaksanaan ritual Barong Ider Bumi melibatkan seluruh warga Desa Kemiren. Persiapan dilakukan dengan melaksanakan upacara adat di makam Buyut Cili dan rumah barong untuk meminta izin agar ritual berjalan lancar dan keselamatan diberikan selama prosesi. Prosesi pemberangkatan iring-iringan barong dimulai dari sisi timur desa (Dusun Kedaleman) menuju sisi barat desa (Dusun Krajan). Di setiap sudut desa, sesaji diletakkan.  Setelah itu iring-iringan kembali lagi ke tempat pemberangkatan awal. Acara ditutup dengan doa bersama dan selametan yang hidangan utamanya bubur merah-putih (jenang abang-putih) dan tumpeng-pecel pitik. Menurut Sulistyani dalam “Ritual Ider Bumi di Desa Kemiren, Kecamatan Glagah, Kabupaten Banyuwangi” di jurnal Mudra tahun 2008, pelaksanaan dari timur ke barat ini sesuai keyakinan di dalam Islam, sebagai agama mayoritas masyarakat desa Kemiren bahwa kiblat berada di barat. “Dengan demikian tampak dengan jelas bahwa segala aktivitas masyarakat Using di Desa Kemiren selalu terdapat penggabungan antara agama yang dianut dengan warisan budaya yang masih dijalani,” tulis Sulistyani. Ritual Barong Ider Bumi sejatinya masuk dalam agenda wisata tahunan Banyuwangi Festival 2020. Namun pandemi Covid-19 membuat ritual ini digelar tanpa konsep festival. Toh, meski dilakukan di tengah keterbatasan, makna ritual tetap ada: sebagai penghilang pagebluk .

  • Cara Natsir Menghidupkan Pendidikan Islam

    MENJELANG Hari Raya Idulfitri tahun 1934 cobaan datang menghampiri Mohammad Natsir. Program Pendidikan Islam (Pendis) di Bandung yang dipimpinnya sedang dirundung masalah ekonomi. Hampir tidak ada pendapatan yang masuk. Sementara uang sewa tempat, buku, dan gaji para guru tiap bulan harus tetap berjalan. Keadaan itu terjadi karena banyak murid menunggak uang sekolah. Dikisahkan Lukman Hakiem dalam Biografi Mohammad Natsir: Kepribadian, Pemikiran, dan Perjuangan, orang tua mereka sibuk mempersiapkan perayaan lebaran. Sebab membeli baju kala itu menjadi suatu hal yang penting ketimbang keperluan pendidikan. Sebagai sekolah partikelir yang tidak mendapat subsidi dari pemerintah, uang dari para murid menjadi tumpuan Natsir menjalankan program pendidikannya ini. “Dalam pada itu, para guru justru sangat memerlukan gaji, karena mereka juga menghadapi bulan Ramadhan dan Hari Raya Idul Fitri,” tulis Lukman.

  • Kawin-Cerai di Ganda Campuran

    SEBAGAIMANA menjalani bahtera rumah tangga yang harmonis, prestasi manis bakal terus berbuah bagi seorang atlet ganda campuran di arena bulutangkis jika punya pasangan yang “nge-klik”. Jika pasangan sejiwanya sudah tak lagi di sisi, berapakalipun mencoba kawin, ujungnya cerai tiada arti seperti yang dialami Tontowi Ahmad. Sepanjang kariernya sejak 2010, pebulutangkis yang akrab disapa Owi itu begitu harmonis berpasangan dengan Liliyana Natsir (Butet) di berbagai ajang dan hasilnya pun manis. Raihan emas Olimpiade Rio de Janeiro 2016 jadi capaian tertinggi pasangan itu. Akan tetapi, semua itu berubah sejak Butet memutuskan pensiun pada Januari 2019. Prestasi Owi langsung menurun drastis hingga akhirnya memutuskan pensiun dari Pelatnas PBSI dan sebagai atlet profesional per 18 Mei 2020. Owi berlasan tak dihargai PBSI lantaran sejak Desember 2019 berstatus atlet magang. Mengklarifikasi Owi, Kepala bidang Pembindaan dan Prestasi PBSI Susy Susanti menyatakan di laman resmi PBSI , 19 Mei 2020, status itu lantaran Owi belum punya pasangan tetap. Sejak “cerai” dari Butet, Owi sempat dipasangkan dengan beberapa pemain putri lain seperti Winny Oktavina Kandow hingga Apriyani Rahayu. Bersama Winny sepanjang 2019, Owi gagal memenuhi ekspektasi lolos kualifikasi Olimpiade Tokyo 2020. Sementara Apriyani yang dijajal berpasangan dengan Owi pada awal 2020, akhirnya diputuskan PBSI untuk difokuskan pada sektor ganda putri bersama Greysia Polii karena keduanya sudah lolos kualifikasi olimpiade. Banyak pihak menyesalkan keputusan Owi. Salah satunya legenda ganda putra dan ganda campuran Christian Hadinata. Menurutnya, pengalaman Owi masih sangat dibutuhkan untuk jadi pengayom dan penjembatan tongkat estafet demi menyambung era kejayaan ganda campuran kepada para juniornya. Seperti duet Praveen Jordan/Melati Daeva Oktaviani, misalnya. Meski sempat bikin kejutan dengan menjuarai All England pada Maret 2020 lalu, keduanya belum semapan Owi/Butet karena masih mencari performa terbaik. Mundurnya Owi dikhawatirkan mengakibatkan terjadi kekosongan prestasi berkelanjutan di ganda campuran, nomor yang sejak 1970-an disebut sebagai sektor “buangan” namun berhasil dipatahkan Christian. Pasangan-Pasangan Christian Hadinata Meski Indonesia berlimpah prestasi dari ganda campuran, problem klasik “kawin-cerai” karena mengundurkan diri atau pensiun acap memengaruhi kontinuitasnya. Namun, hal itu tak berlaku buat Christian Hadinata. Meskipun pada 1970-an acap dibongkar-pasang oleh pelatihnya, ia nyaris tak pernah kering gelar. Di masa itu, secara tak tertulis semua pemain pelatnas diwajibkan untuk bisa main rangkap sektor. Pemain-pemain tunggal seperti Rudy Hartono atau Liem Swie King pun tak jarang turun di nomor tunggal putra dan ganda putra dalam satu ajang. Sementara pemain spesialis ganda putra seperti Tjun Tjun dan Christian sering merangkap ganda campuran. “Para senior saya di pelatnas juga biasanya yang tunggal putra selalu merangkap jadi ganda. Walau saat itu tidak ada secara spesifik pemain yang khusus berlatih di sektor itu, baik ganda putra maupun ganda campuran. Saya juga awalnya merangkap tunggal dan ganda. Akhirnya saya memilih di ganda putra dan campuran, sebenarnya strategi juga karena waktu itu di tunggal putra persaingannya hebat,” terang Christian kepada Historia. Christian Hadinata berbagi kisahnya membela Merah-Putih di sektor ganda campuran (Foto: Randy Wirayudha/HISTORIA) Di Pelatnas PBSI untuk ganda campuran, sejak 1971 Christian pernah dipasangkan dengan lima pemain putri: Retno Koestijah, Utami Dewi, Regina Masli, Imelda Wigoena, dan Ivana Lie. Lazimnya, pasangan-pasangan itu dipilih tim pelatih dengan melihat catatan performa si pemain putri sebelumnya, baik yang dari tunggal putri maupun ganda putri. “Pertamakali tampil di sektor itu (ganda campuran) di Kejuaraan Asia 1971. Selain ganda putra saya pasangan sama Ade Chandra, di ganda campuran saya berpasangan dengan Mbak Retno Koestijah dengan prestasi yang cukup baik, sehingga bisa kembali mewakili Indonesia di All England 1972,” kata Christian. Mengutip Rahasia Ketangguhan Mental Juara Christian Hadinata karya Dr. Monty P. Satiadarma, di Kejuaran Asia itu Christian/Retno sukses membawa pulang gelar juara, meski di All England mereka gagal. Christian hanya mendapat juara di ganda putra bersama Ade Chandra. Setelah itu, di ganda campuran Christian dipasangkan dengan Utami Dewi. Keduanya tampil di ajang demonstrasi cabang bulutangkis di Olimpiade Munich 1972 dan pulang dengan mengalungi medali perunggu. Setelah Utami Dewi menjadi warga negara Amerika Serikat, Christian “dikawinkan” dengan Regina Masli. Pasangan Christian/Regina sukses mendulang prestasi. “Di Asian Games 1974, saya berpasangan dengan Christian Hadinata. Kala itu, lawan paling kuat buat kita adalah wakil-wakil dari China. Yang terkuat itu Tang Xianhu/Chen Yuniang waktu ketemu di semifinal. Kita berdua senang sekali bisa menang straight set dari mereka waktu itu,” kata Regina kepada Historia , mengingat momen itu setelah kemudian mereka menyabet emas usai mengalahkan pasangan Indonesia lain, Tjun Tjun/Sri Wiyanti . Regina Masli selain di ganda putri juga merangkap ganda campuran bersama Christian Hadinata (Foto: Dok. Regina Masli) Setelah bersama Regina, Christian dipasangkan dengan Imelda. Selain menjuarai ajang-ajang turnamen terbuka, Christian/Imelda berjaya memenangkan All England 1979, Kejuaraan Dunia 1980, serta emas di SEA Games 1979 dan 1985. Terakhir berduet dengan Ivana Lie, Christian merebut emas Asian Games 1982 dan menjuarai Badminton World Cup 1985. Rangkaian prestasi tersebut menjadikan Christian spesialis ganda campuran, di luar ganda putra. Mengenai dua nomor berbeda yang ditekuninya sekaligus itu, Christian berkomentar. “Kalau di ganda putra kita lihat ada keseimbangan ya, dua-duanya ada tugas masing-masing untuk main di belakang dan di depan. Kalau ganda campuran lebih banyak meng- cover atau mem- back up putrinya. Karena biasanya yang diincar itu putrinya. Jadi bagaimana supaya saya memukul shuttlecock sedemikian rupa supaya pukulan lawan kalaupun mengarah ke partner saya, tidak jadi hal yang sulit. Partner putri saya yang lebih menguras konsentrasi. Apalagi di ganda putra, saya lebih sering main di depan. Di ganda campuran saya harus lebih banyak di belakang. Itu yang membedakan,” imbuhnya. Imelda Wigoena dan Christian Hadinata yang melegenda sebagai ganda campuran di era 1980-an (Foto: badmintonindonesia.org ) Dalam latihan pun Christian mesti memahami karakter pemain yang dipasangkan dengannya agar bisa menyesuaikan dengan taktik permainan. Dengan Retno Koestijah, misalnya, Christian harus paham bahwa partner srikandi Minarni Soedarjanto di ganda putri itu punya kelebihan bermain di depan tapi punya kelemahan ketika harus bermain di belakang. “Kalau dengan Regina agak unik. Dia bagus di depan maupun belakang. Smash dia cukup keras. Jadi kita tidak terpaku seperti ganda campuran pada umumnya, kita bisa rotasi. Sementara kalau Imelda, dia seperti Mbak Kus, spesialis di depan dan netting Imelda itu bagus,” tambahnya. “Dengan Ivana juga unik karena dia aslinya pemain tunggal putri, bukan ganda. Jadi kalau dia di belakang, saya tidak khawatir karena dia pemain tunggal pasti kuat di belakang. Drop shot- nya bagus, smash -nya ke pinggir bagus, jadi saya enggak khawatir walau saya di depan. Itulah keunikan partner-partner saya.”

  • Awal Praktik Keislaman di Indonesia

    Islamisasi sudah terjadi berabad-abad di Nusantara. Namun, bukan berarti praktik keislaman, khususnya salat dan puasa, sudah dilakukan bersamaan dengan proses itu secara masif. Jajang Jahroni, dosen Sejarah dan Peradaban Islam UIN Syarif Hidayatullah, mengatakan bukti-bukti Islamisasi paling tidak sudah muncul sejak abad ke-12 dan ke-13. Namun, ketika itu identitas keislaman masih terbatas pada syahadat, berkhitan, dan menghindari makan daging babi. Bukti Islamisasi dari nisan-nisan bertulisan Arab hanya menunjukkan bahwa sudah ada orang-orang yang dimakamkan secara Islam. "Harus dilihat sumber sejarah yang lain. Ketika melihat nisan,keislamannya seperti apa? Apakah salat dan sebagainya. Ini pertanyaan sulit," kata Jajang dalam diskusi "Tradisi dan Harmoni Ramadan pada Peradaban Nusantara" via zoom yang diselenggarakan Puslit Arkenaspada Rabu, 20 Mei 2020. Mengenal Islam Secara Bertahap Pada masa penyebaran Islam di Jawa, walisongo sudah mengenalkan aspek ketuhanan hingga syariat. Namun, itu baru dilaksanakan oleh beberapa kantung masyarakat muslim, khususnya di pesisir. "Ini masih proses konversi. Orang-orang Majapahit banyak yang masuk Islam dan menjadi santri walisongo. Yang melahirkan Demak itu kan orang-orang Majapahit juga," kata Jajang. Bagaimana dengan masyarakat yang belum menjadi sasaran dakwah? Jajang menduga mereka masih mempraktikkan agama lokal. "Orang masih campur-campur, saya kira," kata Jajang. "Semakin ke utara, di mana banyak walisongo berdakwah di sana semakin ortodoks." Jajang menyebutkan bahwa Islamisasi membutuhkan lembaga yang matang. Misalnya pendakwah. Kendati sudah ada pendakwah pada abad ke-13, jumlahnya masih terbatas. "Biasanya yang masuk Islam cukup rajanya saja. Raja masuk Islam rakyatnya ikutan. Raja itu makrokosmos. Raja pindah ke timur, semua pindah. Watak kerajaan sebelum Islam kan begini," kata Jajang. Sejumlah kesultanan Islam, kata Jajang, perlu dikecualikan. Kesultanan Banten adalah salah satu yang sudah menerapkan syariat Islam, termasuk berpuasa saat Ramadan walaupun masih terbatas. "Saat itu puasa masih elitis. Semakin jauh dari keraton , saya pikir orang tidak berpuasa," kata Jajang. Tubagus Najib, ahli arkeologi Islam, manambahkan bahwa pada awal Islam datang, yang didakwahkan bukan persoalan fikih yang syar'i. Namun tarekat yang banyak diminati masyarakat Nusantara. Di antara tarekat itu, kemungkinan rukun Islam belum dianggap perlu. Ketika itu, yang paling dianggap penting adalah pengenalan kepada Allah Swt. "Yang penting eling, ingat sama yang kuasa. Sunan Giri juga pernah menegur kenapa Sunan Kalijaga mengajarkannya begitu? Lalu dijawab oleh Sunan Kalijaga nanti ke depan ada yang meluruskan,” ujar Najib. Berpuasa karena Tuntutan Sosial Sejak kapan muslim Indonesia berpuasa secara masif? Menurut Jajang, salat lima waktu dan puasa Ramadan baru dilaksanakan secara masif pada abad ke-19 ketika pemahaman Islam sudah semakin mantap. "Jadi, baru 100 tahun lebih orang Islam Nusantara berpuasa secara masif. Belum lama," kata Jajang. Puasa Ramadan menjadi identitas keislaman yang penting. Berpuasa bukan hanya persoalan agama, tetapi juga budaya. Seakan ada kebutuhan orang muslim, bahwa ketika Ramadan, mereka akan berusaha untuk berpuasa. Entah itu hanya pada awal atau akhir Ramadan. "Ada tekanan sosial luar biasa. Jadi orang berpuasa karena mungkin merasa nggak enak sama orangtuanya atau nggak enak sama keluarga," kata Jajang. Sama halnya dengan hari raya Idul f itri, banyak orang yang terdorong untuk datang ke lapangan melaksanakan salat id. "Mungkin hari-hari biasanya dia nggak salat (lima waktu, red. )," kata Jajang. Hal itu diamati Snouck Hurgronjedi Aceh pada abad ke-19. Dalam catatannya, Orang Aceh: Budaya, Masyarakat, dan Politik Kolonial , ia menulis bahwa pada bulan puasa banyak orang bersemangat melaksanakan salat tarawih. Namun, mereka mengabaikan kewajiban agama sehari-hari. "Penilaian berlebihan yang populer mengenai tarawih ini dijelaskan melalui hubungannya dengan bulan puasa," tulis Snouck. Menurut Snouck, puasa memiliki tempat yang lebih luhur dalam penilaian masyarakat dibandingkan dalam penilaian hukum. Ada banyak orang yang tak pernah melakukan seumayang menjadi pelaku puasa yang taat. "Setiap ibadah yang secara khusus berkaitan dengan bulan penebusan ini, baik itu wajib maupun sunah, akan dengan penuh semangat dilakukan selengkap mungkin," tulis Snouck. Snouck menyebut di Jawa juga begitu. Mereka yang ikut tarawih berjamaah adalah orang yang tidak melaksanakan salah Jumat. Tidak pula melakukan salat wajib harian di masjid atau langgar. Jajang mengatakan penanda lain masifnya praktik keislaman adalah semakin banyaknya orang Nusantara pergi haji. "Ini butuh dana besar. Banyak orang Islam Jawa yang kaya, misalnya karena tanam paksa. Dia punya lahan disewakan ke Belanda. Dia pilih pergi haji,"  kata Jajang. Hal itu berhubungan dengan kemudahan lalulintas ke Timur Tengah. Semakin banyak orang Nusantara yang belajar Islam di Timur Tengah. Semakin banyak pula pesantren yang tumbuh, khususnya pada akhir abad ke-19 atau awal abad ke-20. "Akhir abad ke-19 terjadi Islamisasi besar-besaran. Banyak orang naik haji dan banyak yang studi Islam ke Timur Tengah terutama Makkah," kata Jajang. "Ulama-ulama besar di Nusantara produk pada periode itu, generasi abad ke-19 dan awal abad ke-20. Hasyim Asy’ari dan Ahmad Dahlan, misalnya." Kondisi itu berlanjut. Setelah abad ke-20 organisasi Islam bermunculan. Praktik keislaman menjadi lebih masif lagi. "Jadi, Islamisasi itu memiliki tahapan. Orang dulu belajar Islam terbatas, makanya ada tahap-tahap itu," kata Jajang. Hingga 1970-an, orang melaksanakan puasa Ramadan dengan cara yang bersahaja. Penuh dengan simbol-simbol budaya dan sosial. Berpuasa pada saat Ramadan adalah ajang mempererat silaturahim. Sementara puasa menjadi identitas baru terjadi pada dekade terakhir, yaitu pada 1980 dan 1990-an. Sebagian kelompok muslim tak ragu untuk mengedepankan simbol-simbol Islam di ruang publik. "Puasa tak pelak dijadikan simbol keislaman pada periode ini. Muncul jargon 'hormati orang yang berpuasa'," kata Jajang. "Waktu saya kecil nggak ada itu." Sekelompok Islam kemudian menjadikan Ramadan sebagai bulan amar makruf nahi munkar yang diwujudkan dengan menyeru kebaikan dan mencegah kemungkaran. "Mengg e ruduk tempat-tempat yang dianggap maksiat, karena dianggap menodai kesucian bulan Ramadan," kata Jajang. Terjadi pula kapitalisasi Ramadan. Misalnya, muncul banyak tayangan bertema Ramadan di televisi atau media lainnya. Pada akhirnya, Ramadan dan tradisi berpuasa telah menciptakan ruang kultur sosial yang baru. Misalnya, acara buka puasa bersama, perhelatan Ramadan Jazz, juga berbagai kuliner khas Ramadan. "Bukan cuma kalangan kaum muslim tapi nonmuslim juga," kata Jajang. "Ini memperkaya tradisi keislaman Nusantara." Tidak Merusak Tradisi Oleh karena itu, menurut Najib, anggapan ajaran Islam telah merusak tradisi lokal adalah salah besar. "Dalam pandangan orientalis memang seperti itu. Snouck mengatakan tradisi dan Islam, seakan tradisi ini lawan ajaran Islam. Ini salah besar," tegas Najib. Dalam pandangan Islam, kata Najib, tradisi pada dasarnya boleh kecuali yang dilarang. Sementara syariat pada prinsipnya tidak boleh kecuali yang dianjurkan. "Sesungguhnya tradisi Nusantara memiliki kecenderungan pada hal positif dan kreativitas," kata Najib. "Artinya tradisi kita selalu menerima hal-hal baik." Masuknya Islam ke Nusantara justru memunculkan harmoni di antara keduanya. Misalnya, kalimat syahadat yang harus diucapkan ketika seseorang masuk Islam telah melahirkan budaya sekaten. "Sekaten dari kata syahadatain yang dirayakan pada bulan Muharam di Jawa,"  kata Najib . Arsitektur masjid pun tak lepas dari bentuk-bentuk budaya lokal. Misalnya, bentuk atap masjid yang beratap tumpang. "Bentuk atap masjid yang tiga susun itu saya kira sejak sebelum Islam sudah ada. Waktu Islam datang ditafsirkan menurut Islam sebagai simbol iman, Islam, ihsan. Jadi pas. Tidak ada yang merasa tersinggung atau tersaingi," kata Jajang. Di manapun di Nusantara, Jajang melihat Islam dan budaya lokal selalu saling mengisi. Pun di negara-negara lain yang terdapat komunitas Islam. "Islam di mana-mana justru masuk ke budaya lokal, tidak menegasikan budaya lokal," kata Jajang. Kendati begitu proses seleksi juga terjadi. Budaya lokal yang cocok dan sesuai dengan ajaran Islam diambil. Sementara yang dianggap tak sesuai ditinggalkan. Itu pun dilakukan secara perlahan, sehingga masyarakat lokal lambat laun menerima kehadiran Islam dengan baik. "Ini melahirkan mozaik yang sangat cantik," ujar Jajang.

  • Dari Sekolah Liar hingga Anarkisme

    PARTAI Komunis Indonesia (PKI) tidak serta-merta berdiri. Lewat Sarekat Islam (SI), organisasi bumiputra terbesar saat itu, aktivis PKI bergerak dan melakukan konsolidasi anggota di tingkat basis. Pada kongres 1921, SI melarang keanggotaan rangkap. Akibatnya, para aktivis PKI mesti keluar. Organisasi terbagi menjadi dua: SI Putih dan SI Merah. SI Putih dipimpin Haji Agus Salim dan Abdoel Moeis (di Yogyakarta), sementara SI Merah dipimpin Semaoen dan Alimin (di Semarang).

  • Alfiah Muhadi, Pendakwah Perempuan yang Peduli Nasib Kaumnya

    ALFIAH Muhadi sedang hamil tua kala clash II terjadi di Yogyakarta. Lantaran tidak bisa ikut berjuang langsung, ia sebisanya membantu para gerilyawan dengan mengumpulkan bekal untuk bertahan di pedalaman. Bersama suami ia beberapakali menyamar sebagai penjual buah atau pedagang sayur. Namun karna rumahnya hanya berjarak 300 meter dari pos tantara Belanda, kegiatannya tercium. Rumah Alfiah digerebek, suaminya ditangkap dan ditahan bersama pejuang lain. Alfiah tak tahu di mana suaminya ditahan. Ia berusaha mencari tahu agar upaya pembebasan suaminya bisa dilakukan. “Namun usahaku sia-sia. Baru setelah Yogyakarta dapat direbut kembali dan suasana sudah tenang, kami dapat berkumpul kembali,” kata Alfiah dalam kumpulan memoar perempuan, Sumbangihku Bagi Ibu Pertiwi. Kebersamaan yang kembali terjalin itu hanya bertahan selama empat tahun. Pada 1953 suaminya meninggal. Alfiah lantas membesarkan anaknya seorang diri sembari terus aktif dalam gerakan perempuan. Memperjuangkan nasib perempuan menjadi ketertarikan Alfiah sejak kecil. Alih-alih mendaftar sebagai guru selulusnya dari Sekolah Guru Muhammadiyah (Mualimat) Yogyakarta pada 1937, perempuan kelahiran Karanganyar, Kebumen itu malah masuk organisasi perempuan Aisyiyah dan Pemuda Putri Indonesia (PPI). Kala itu, banyak perempuan masih buta huruf dan keadaan sosial-ekonomi mereka memprihatinkan. Menurut Alfiah, penjajahan yang begitu lama tidak memberi kesempatan bagi perempuan rakyat bawah untuk memperbaiki keadaan. “Hubungan antara perempuan kalangan biasa dengan perempuan kaum atas hampir tak ada. Kalaupun ada, hubungan itu bersifat feodal,” kata Alfiah. Alfiah menganggap kultur feodal itu juga membuat perempuan sulit mengembangkan diri. Ia pun berusaha menguarangi masalah ini. Alfiah kemudian bekerjasama dengan Wanita Taman Siswa untuk mengajar perempuan di Yogyakarta agar terbebas dari buta huruf dan sikap rendah diri akibat hidup di lingkungan feodal. “Sedikit demi sedikit terlihat hasilnya, meskipun tidak secara total. Yang penting pula timbul rasa menghargai antar sesama,” kata Alfiah. Kepeduliannya pada nasib perempuan juga ia suarakan kala mengisi pidato pada Kongres ke-28 Aisyiyah di Medan. Pidato Alfiah berjudul “Harapan Dunia Kepada Kaum Wanita”. Menurutnya, negara akan menjadi baik bila kaum perempuannya baik dan terdidik. Alfiah ditugasi Aisyiyah mengisi ceramah di cabang-cabang Aisyiyah, khususnya wilayah Kedu dan Banyumas. Pada 1939 ia pernah berdakwah di daerah Banyumas bersama Jendral Sudirman yang kala itu merupakan pemimpin Hizbul Wathon, organisasi kepanduan Pemuda Muhammadiyah. Didampingi istri Surdirman, beberapakali ia naik dokar keluar-masuk desa untuk memberikan ceramah. “Dakwahku di Banyumas seiring dengan keluarga Sudirman,” kata Alfiah. Untuk dakwahnya di daerah Kedu, Puworejo, dan Kutoarjo, Alfiah seringkali bersama Sarbini dan istrinya, Juffrow  Salami, yang bekerja sebagai guru di HIS Muhammadiyah Kutoarjo. Dalam setiap dakwahnya Alfiah selalu menyampaikan tentang kedudukan perempuan dalam Islam. Bahwasannya perempuan dan lelaki sama-sama hamba Allah yang hadir di muka bumi dengan tanggung jawab masing-masing. “Mengapa hal itu kutekankan, karena pada saat itu masyarakat mempunyai anggapan bahwa perempuan hanya menjadi kanca wingking , teman di belakang suaminya,” kata Alfiah. Selain aktif berdakwah dan terjun langsung dalam upaya pemberantasan buta huruf, Alfiah juga terlibat dalam mengelola majalah Suara Aisyiyah  bagian Karanganyar bersama rekannya Hayinah Mawardi. Namun aktivitas itu berubah semasa pendudukan Jepang lantaran semua organisasi perempuan yang ada harus dilebur dalam Fujinkai. Setelah kemerdekaan, Alfiah pindah ke Yogyakarta mengikuti suaminya. Mereka tinggal di Ngadiwinatan. Pada 1957, Alfiah bergabung dengan Balai Kesejahteraan Rumah Tangga di Yogykarta. Ia bertugas memberikan penyuluhan tentang perkawinan menurut ajaran Islam bahwa suami tidak semestinya berlaku sewenang-wenang terhadap istri dan anak merupakan tanggung jawab orang tua. Di samping itu, ia juga memberikan kursus keterampilan pada anak perempuan. Ketika Menteri Agama mendirikan Badan Penyuluh Pernikahan dan Penasihat Perceraian (BP4), Alfiah menjadi salah satu pengurus di Yogyakarta. Alfiah duduk sebagai seksi penerangan ketika Perkumpulan Keluarga Berencana (PKB) didirikan pada 1957. Meski beberapa golongan agama Islam menolak KB, Alfiah berusaha menjelaskan tiga faktor yang menentukan baik tidaknya KB, yakni niat penggunaan, alat yang dipakai, dan syarat penggunaannya. Ia terus duduk di posisi seksi penerangan hingga kemudian PKB berubah menjadi PKBI (Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia). Atas keaktifannya di bidang sosial, pemerintah menganugerahinya penghargaan Satya Lancana Kebaktian Sosial berdasarkan SK Presiden Republik Indonesia No. 120/TK/Tahun 1996. Suara Aisyiyah  Vol. 74 tahun 1997 menulis, penghargaan itu diserahkan Gubernur Kepala Daerah DIY Sri Pakualam VIII di Bangsal Kepatihan Komplek Kantor Gubernur DIY pada 15 Agustus 1997.*

  • Melacak Sejarah Halalbihalal di Masa Kolonial

    HALALBIHALAL adalah salah satu tradisi penting umat Islam Indonesia saat merayakan Idul Fitri. Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) daring mengartikan halalbihalal sebagai ‘hal maaf-memaafkan setelah menunaikan ibadah puasa Ramadan, biasanya diadakan di sebuah tempat (auditorium, aula, dan sebagainya) oleh sekelompok orang’. Menariknya, contoh kalimat yang dipakai untuk memudahkan pemahaman pembaca juga menekankan betapa Indonesianya tradisi ini bahkan dalam perspektif tradisi Muslim global: ‘--merupakan suatu kebiasaan khas Indonesia’. Walau dalam tata bahasa Arab istilah halalbihalal tidak dikenal, istilah ini sudah mengakar kuat di tengah masyarakat Indonesia dan berasosiasi dengan hari Lebaran.

  • Semaun Si Propagandis

    Sneevliet menemukan Semaun sebagai seorang pemuda berani yang berbakat memimpin kaum buruh. Dalam sebuah suratnya Semaun memanggil Sneevliet, “Mijn Goeroe” (guruku).

bg-gray.jpg
Tedy masuk militer karena pamannya yang mantan militer Belanda. Karier Tedy di TNI terus menanjak.
bg-gray.jpg
Dua anggota legiun Mangkunegaran ikut serta gerakan anti-Belanda. Berujung pembuangan.
bg-gray.jpg
Rumah Sakit Bethesda Yogyakarta merupakan buah kasih dokter misionaris Belanda bernama J.G. Scheurer yang dijuluki Dokter Tolong.
bg-gray.jpg
Rumah yang pernah digunakan untuk mendidik kesadaran politik rakyat. Kini sepi pengunjung.
bg-gray.jpg
Poligami dipraktikkan oknum tentara sejak dulu. Ada yang dapat hukuman karenanya.
bottom of page