top of page

Hasil pencarian

Cari di situs ini

10052 hasil ditemukan dengan pencarian kosong

  • Dihantam Pandemi Bali bak Kota Mati

    Sudah hampir delapan bulan virus corona melanda dunia. Selama itu pula semua berjibaku mengatasi virus yang pertama kali terdeteksi di Wuhan, Tiongkok, pada akhir 2019. Hampir semua sektor kehidupan terhantam corona. Salah satunya pariwisata. Ini bikin repot negara yang mengandalkan pariwisata sebagai sumber devisa seperti Indonesia.  Hingga saat ini, Bali menjadi primadona industri pariwisata di Indonesia. Tiap tahun, jutaan wisatawan datang ke Bali. Saking terkenalnya, para wisatawan asing lebih mengenal Bali daripada Indonesia. Deretan kafe dan toko yang tutup di kawasan Kuta, Bali. (Fernando Randy/ Historia.id ). Deretan kafe dan toko yang tutup di kawasan Kuta, Bali. (Fernando Randy/ Historia.id ). Sebuah gang yang tampak sepi di sekitar Legian, Bali. (Fernando Randy/ Historia.id ). Daya tarik Bali adalah fenomena lampau. Provinsi yang juga terkenal dengan kopinya ini sudah menjadi primadona sejak dulu kala. Pintu masuk bagi orang asing terbuka lebar saat Bali dikuasai oleh Belanda pada awal abad ke-20. Kapal Dagang Belanda (Koninklijke Paketvaart Maatschappij) yang berlayar dengan rute Surabaya singgah ke pelabuhan Buleleng, Bali, dengan membawa rombongan turis dari Eropa. Karena permintaan untuk berlayar ke Bali meningkat, maka jalur pelayaran diubah menjadi Bali Express. Mereka juga membangun perwakilan resmi untuk pariwisata pertama di Bali bernama Official Tourist Buerau pada 1924. Pemandangan etalase toko yang tutup di kawasan sekitar Legian, Bali. (Fernando Randy/ Historia.id ). Seorang warga yang duduk di depan deretan toko yang tutup di kawasan Kuta, Bali. (Fernando Randy/ Historia.id ). Deretan kafe dan toko yang tutup di kawasan sekitar Seminyak, Bali. (Fernando Randy/ Historia.id ). Deretan toko yang tutup di kawasan Seminyak, Bali. (Fernando Randy/ Historia.id ). Deretan kafe dan toko yang tutup di kawasan Kuta, Bali. (Fernando Randy/ Historia.id ). Para pelancong dari negeri Barat lekas terkesan dengan panorama alam Bali dan kehidupan masyarakatnya. Buat mereka, Bali jadi surga yang jatuh di bumi Timur. Begitu tenteram dan eksotik. Ritme kehidupan berjalan lambat. Setiap saat adalah ritual. Sesuatu yang tak mereka dapatkan di Eropa. Kesan itu kemudian cepat menyebar ke seluruh dunia. Para pelancong lain pun berdatangan. Seniman, pelukis, penulis dan sutradara film menyinggahi Bali untuk merasakan berkarya dan berlibur di Bali. Mereka menikmati keindahan dan keunikan alam Bali, kemudian turut serta mempromosikan Bali. Begitulah pesona Bali terus mengalir. Deretan toko yang tutup di kawasan Legian, Bali. (Fernando Randy/ Historia.id ). Deretan toko yang tutup di kawasan Kuta, Bali. (Fernando Randy/ Historia.id ). Seorang warga melintas di antara kafe dan toko yang tutup di kawasan Kuta, Bali. (Fernando Randy/ Historia.id ). Deretan toko yang tutup di kawasan sekitar Seminyak, Bali. (Fernando Randy/ Historia.id ). Namun, Bali saat ini ibarat putri cantik yang tertidur. Bali ikut terhantam Covid-19. Pariwisata rontok. Kafe dan restoran tutup. Bandara I Gusti Ngurah Rai yang menjadi gerbang utama dan selalu ramai, kini tampak sepi. Jalan Legian yang biasanya begitu padat, saat ini berubah lengang. Keadaan serupa pun tampak di Seminyak. Sepanjang jalan Kuta yang biasanya dipenuhi oleh ribuan wisatawan asing dan lokal, kini kosong. Pedagang merugi. Toko-toko buka, tapi tak ada pembeli. Pengusaha ambruk. Hotel mengobral tarif menginap, tapi kamar-kamar jauh dari penuh. Bahkan tak jarang hanya menyisakan petugas keamanan untuk menjaganya. Suasana sepi di Bandara I Gusti Ngurah Rai, Bali. (Fernando Randy/ Historia.id ). Para petugas porter barang yang biasanya sibuk kini tak tampak lagi. (Fernando Randy/ Historia.id ). Suasana sepi di Bandara I Gusti Ngurah Rai, Bali. (Fernando Randy/ Historia.id ). Pemandangan sepi di sebuah hotel kawasan Sunset Road, Bali (Fernando Randy/ Historia.id ). “Wah ini sudah hampir 75 persen ruginya. Penjualan toko saya, tak pernah sampai separah ini,” ujar Wayan (48), seorang warga yang membuka toko baju khas Bali di pinggir jalan raya Kuta. Walau pernah diguncang terorisme, Bali tak pernah tidur lama seperti ini. Para wisatawan asing yang terpaksa tetap tinggal di Bali pun merasakan kesulitan keuangan. “Yang sekarang mulai banyak itu ‘bule’ makan di warung-warung, tidak di tempat mahal-mahal lagi,” ujar Kadek (35), sopir transportasi daring yang biasa mengantar turis asing. “Untuk saat ini, bisa makan saja sudah bagus di Bali,” lanjutnya. Orang-orang di sana berharap pandemi segera berakhir agar semua kembali seperti sediakala. Ekonomi pulih dan putri cantik itu bisa terjaga lagi. Seorang warga melintas di deretan kafe dan toko yang tutup di kawasan Kuta, Bali. (Fernando Randy/ Historia.id ). Deretan kafe dan toko yang tutup di kawasan Kuta, Bali. (Fernando Randy/ Historia.id ). Deretan kafe dan toko yang tutup di kawasan Kuta, Bali. (Fernando Randy/ Historia.id ). Sejumlah pedangang bermain ponsel di kawasan Kuta, Bali yang sepi. (Fernando Randy/ Historia.id ). Seorang pedagang baju khas Bali saat menunggu pembeli di kawasan Kuta, Bali. (Fernando Randy/ Historia.id ).

  • Dari 'Cacat' sampai 'Disabilitas'

    Setelah mendapat penolakan dari berbagai elemen masyarakat, Omnibus Law kini mendapat kritikan dari para aktivis disabilitas. Musababnya, terdapat beberapa pasal dalam Undang-Undang Cipta Kerja yang menggunakan kata "cacat". Ketua Aliansi Australia Indonesia Disability Reseach and Advocacy (AIDRAN) Slamet Thohari menyebut bahwa penggunakan kata "cacat" akan berimplikasi pada paradigma mengenai disabilitas. “Bahwa sebenarnya penyandang disabilitas itu tidak mampu, maka segala yang dilakukan oleh perusahaan atau korporat di dalam melaksanakan investasi di Indonesia itu adalah kebaikan. Ujungnya adalah charity  nanti,” kata Thohari kepada Historia . Menggunakan kata "cacat" tentu berbeda dengan "disabilitas". "Cacat" berkonotasi pada ketidakmampuan karena kekurangan seseorang baik secara fisik maupun mental. Sementara ‘disabilitas’ ialah orang yang tidak mampu karena diskriminasi serta tidak diberikan akses dan akomodasi. Sementara dalam UU Cipta Kerja, menurut Thohari, tidak memberikan berbagai prasyarat aksesibilitas dan akomodasi yang layak bagi penyandang disabilitas pada perusahaan-perusahaan yang hendak berinvestasi di Indonesia. “Itu mencangkup perspektif dan perspektif itu bisa berimplikasi pada kebijakan dan kebijakan itu pasti nanti ujungnya adalah charity . Bukan lagi menjadi kewajiban seseorang (perusahaan,  red. ) memberikan aksesibilitas dan akomodasi yang layak bagi mereka,” jelas Thohari. Menghapus "Cacat" Kata ‘cacat’ kemungkinan telah digunakan oleh masyarakat Indonesia sejak sebelum kemerdekaan. Namun pada 1954, pemerintahan Sukarno mulai mencoba menghilangkan istilah cacat dan memperkenalkan istilah baru yakni "orang yang dalam kekurangan jasmani atau rokhani". Menurut Suharto, Pim Kuipers, dan Pat Dorsett dalam “Disability Terminology and The Emergence of ‘Diffability’ in Indonesia” yang termuat dalam jurnal Disability & Society , perubahan ini merupakan konsekuensi dari rezim Sukarno yang sangat dipengaruhi oleh budaya Jawa yang menghargai kehalusan. Rezim Sukarno memang banyak menggunakan eufemisme untuk melunakkan nilai sesuatu yang dianggap kasar atau tidak sopan. Cara serupa juga digunakan untuk mengganti kata "gelandangan" dengan "tunawisma" dan "pelacur" diganti dengan "tunasusila". “Eufemisme ini juga diterapkan pada terminologi terkait disabilitas yang mengalami trial and error ,” tulis Suharto, Kuipers, dan Dorsett. Meski demikian, istilah "orang yang dalam kekurangan jasmani atau rokhani" ternyata masih terstigma sebagai aneh dan tidak berguna. Stigma ini terus berlanjut hingga masa Orde Baru berkuasa. Bahkan, mereka diasosiasikan dengan gangguan atau ketidakmampuan bertahan hidup. Pada masa ini, istilah "cacat" juga kadang-kadang muncul kembali dengan imbuhan "penderita" sehingga menjadi "penderita cacat". Pada 1992, kata "penyandang" muncul menggantikan kata "penderita". Namun masih digunakannya istilah "cacat" menggagalkan upaya menghilangkan stigma negatif dan melanggengkan gagasan kerusakan. “Pendukung disabilitas menganggap terminologi ini ofensif dan menstigmatisasi, karena ia menyamakan manusia dengan objek, seperti kursi yang rusak. Hal ini kemudian memicu ketidakpuasan banyak advokat disabilitas, terutama di Yogyakarta, yang kemudian mendorong pencarian terminologi baru yang lebih inklusif,” tulis Suharto, Kuipers dan Dorsett. Ratifikasi CRPD JIka sebelumnya perubahan kata lebih menggunakan eufemisme, kali ini transformasi sosial menjadi alasan perlunya terminologi baru. Para aktivis disabilitas kemudian mulai mencari istilah baru untuk menghapus istilah "cacat" yang diskriminatif. “Kalau orang-orang memberikan kita label buruk, itu akhirnya kita menjadi buruk. Padahal sebenarnya itu tidak ada. Itu hanya konstruksi sosial yang dibangun oleh masyarakat. Maka kemudian teman-teman tahun 90-an hingga tahun 2000an perlahan-lahan mulai mengganti penyebutan dengan 'difabel', differently abled people ,” terang Slamet Thohari. Reformasi dan kemudian terpilihnya Abdurrahman Wahid sebagai presiden keempat membuka peluang baru. Hak asasi manusia menjadi pendekatan baru dalam pembangunan nasional. Hal ini memberi angin sejuk bagi advokasi hak-hak disabilitas terutama terkait akses terhadap layanan dasar dan partisipasi dalam pembangunan nasional. Melalui Undang-Undang No. 19 Tahun 2011, pemerintah Indonesia melakukan ratifikasi Convention on The Rights of Persons with Disabilities (CRPD) atau Konvensi Hak-Hak Penyandang Disabilitas. Sejak itu, istilah "cacat" dihapus dan diganti dengan "penyandang disabilitas". “Akhirnya istilah itu disepakati menghapus semua kata 'cacat'. Semua undang-undang, turunan maupun undang-undang setelahnya akan menggunakan istilah 'penyandang disabilitas',” jelas Thohari. Istilah "disabilitas" diharapkan dapat mengubah stigma bahwa mereka bukan orang yang tidak normal, tidak mampu, kekurangan, lemah dan sebagainya. “Jadi disabilitas itu bukan kecacatan tapi hanya sesuatu yang menjadi bagian dari identitas. Seperti people with glasses, people with long hair dan seterusnya,” terang Thohari. Terkait UU Cipta Kerja, Thohari telah mengirimkan surat kepada Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) hingga ke Kementerian Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan. Namun, hingga artikel ini terbit, ia belum mendapat respon apapun.

  • Persahabatan Omar Dani-Sri Mulyono Herlambang

    Ketika diajak semobil oleh Presiden Sukarno keliling Bogor, sekitar 8 Oktober 1965, Menpangau Laksdya Omar Dani duduk bersebelahan dengan Menteri Negara Laksda Sri Mulyono Herlambang. Di Istana Batu Tulis, tempat perjalanan itu berakhir, Dani dan Herlambang teringat rencana lama yang gagal.  "He, lahan di sebelah itu kan tanah yang tidak jadi kita beli karena harganya terlalu tinggi itu kan?" kata Dani membuka obrolan. "Ya...ya...! Untung tidak jadi. Kalau jadi, kan kita menjadi tetangga Presiden," jawab Herlambang sebagaimana dikutip Benedicta A. Surodjo dan JMV Soeparno dalam Tuhan, Pergunakanlah Hati, Pikiran dan Tanganku: Pledoi Omar Dani . Kisah santai seperti itu yang menjadi bagian dari persahabatan Dani-Herlambang hilang setelah G30S pecah. Dani maupun Herlambang sejak itu lebih sering berurusan dalam soal serius. Keduanya lalu sama-sama menjadi pesakitan. Dani dan Herlambang bersahabat sejak keduanya sama-sama menjadi bagian dari 60 calon penerbang dan navigator AURI yang dikirim untuk mengikuti pendidikan di Taloa Academy of Aeronautics (TAA) di Bakersfield, California, pada 1950. Karier keduanya terus menanjak selulusnya dari TAA. Dani bahkan belum 40 tahun ketika dipilih Presiden Sukarno menjadi panglima Angkatan Udara menggantikan Laksamana Udara Suryadi Suryadarma. Posisi tersebut membuat Dani makin leluasa mendorong Herlambang mengembangkan kariernya. “Sejak Omar Dani ditunjuk oleh Presiden untuk menggantikan Laksamana Udara Suryadarma sebagai Men/KSAU pada Januari 1962, Omar Dani berhasrat untuk meng-‘ groom’ , mempersiapkan S.M. Herlambang untuk menggantikannya empat tahun kemudian,” tulis Benedicta-Soeparno. Ketika Dani meminta Herlambang menjadi Deputi Operasi-nya, Herlambang menolak karena merasa belum siap. Dani lalu mempercayakan tugas-tugas politik kepada Herlambang. Selain ikut dalam perundingan tingkat atas dengan Belanda soal Irian Barat, Herlambang diikutsertakan dalam berbagai urusan diplamasi, termasuk ketika Waperdam I Soebandrio safari ke Afrika. “Sewaktu Bung Karno menghadiri peringatan 10 tahun Konferensi Asia Afrika pada tahun 1965 di Aljazair, Pak Herlambang dan Pak Boediardjo juga ikut ke sana,” kata Dani, dikutip Aristides Katoppo dkk. dalam Menyingkap Kabut Halim 1965 . Herlambang akhirnya menerima jabatan Deputi Operasi Menpangau setelah malang-melintang di urusan politk. Jabatan itu baru dilepaskannya ketika dia diangkat Presiden Sukarno menjadi Menteri Negara, Mei 1965. Di posisi inilah Herlambang menjadi “jembatan” antara Dani dan presiden karena menurut Dani, sejak Juni 1965, untuk menemui presiden sangat sulit. “Saya dengar, misalnya dari Bambang Soepeno sewaktu menjabat di Kotrar (Komando Retooling Aparatur), dia juga merasa begitu. Tetapi untung masih ada Pak Herlambang di sana,” kata Dani, dikutip Katoppo dkk. Maka segala urusan AURI yang berkaitan dengan presiden Dani percayakan kepada Herlambang. Termasuk ketika Dani mengajukan pengunduran diri karena situasi politik memburuk akibat G30S dan AURI dipojokkan, surat pengunduran dirinya disampaikan melalui Herlambang. Herlambang pula yang membawa jawaban presiden bahwa permohonan mundur Dani ditolak. Pada 13 Oktober 1965, keduanya bersama beberapa petinggi AURI berdiskusi dalam “Musyawarah AURI” untuk mencari pemecahan atas permasalahan yang ada. Keduanya sama-sama menginap di Tanah Abang Bukit, Mabes AURI, malam setelah musyawarah itu. Dalam obrolan sebelum tidur di ruang tamu Menpangau, Dani sempat mengutarakan perasaannya. “Kok saya merasa akan disuruh ke luar negeri oleh Bung Karno. Kalau benar, saya kira kau yang akan dipilih Bung Karno untuk mengganti saya,” kata Dani, dikutip Benedicta-Soparno. “Masak, saya kan sudah menteri?” kata Herlambang. “Soalnya bukan itu. Bung Karno sudah mengenalmu sejak kau dan Santo jadi VIP pilot pribadi Bung Karno pada pesawat ‘Dolok Martimbang’, dan Bung Karno percaya padamu, maka dijadikan Menteri Negara Diperbantukan pada Presiden. Aku yakin kaulah yang akan dipilih untuk menggantikanku.” Apa yang dikatakan Dani terbukti. Herlambang esoknya memberitahu Dani bahwa surat perintah pergi ke luar negeri untuk Dani telah ditandatangani presiden. Keesokannya, 15 Oktober 1965, Herlambang ditunjuk menjadi Menpangau ad interim . Atas upaya Herlambang, Dani diperkenankan presiden untuk berpamitan. Upacara pelepasan Dani, 19 Oktober 1965, juga diadakan oleh Herlambang. Namun setelah itu, keadaannya berbeda. Tak ada lagi tawa Herlambang dalam hari-hari Dani.  Sepulang dari Kamboja, negeri terakhir yang dikunjungi Dani dalam “safari” luar negerinya, Dani langsung dikenai tahanan rumah di Cibogo. Sementara, Herlambang juga ditahan selepas jabatan Menpangaunya diserahkan kepada Rusmin Nuryadin pada Maret 1966. Keduanya baru bertemu tanpa bisa bicara di Instalasi Rehabilitasi Nirbaya. Dani lebih dulu menjadi penghuni Nirbaya (24 Mei 1966). Saat di Nirbaya itulah pada suatu sore di awal Juni 1966, Dani dikagetkan dengan kedatangan sebuah sedan AURI. Sedan itu menuju Blok Nusa, blok paling selatan di kamp penahanan itu. Jaraknya sekitar 100 meter dari Blok Amal yang ditempati Dani. Antara Blok Nusa dan Amal terdapat Blok Bakti. Dani tak tahu siapa gerangan orang AU yang mengikutinya menjadi tahanan politik di Nirbaya itu. Namun setelah berupaya keras mengenali penghuni baru berbaju penerbang yang jaraknya amat jauh itu mendekat ke arahnya, Dani akhirnya yakin penghuni baru itu adalah Herlambang. Dani yang gembira sekaligus trenyuh langsung melambaikan tangan dan mendapat balasan lambaian tangan Herlambang. Sebagai tahanan yang diisolasi, Dani langsung diperintahkan oleh CPM penjaga kamp agar kembali ke kamarnya begitu kepergok melambaikan tangan kepada Herlambang. Komunikasi jarak jauh tanpa lambaian tangan yang Dani lakukan dengan Herlambang setiap jam 9 pagi mulai esoknya pun akhirnya diketahui penjaga. Tak lama kemudian, petugas memasangi kawat pembatas blok dengan anyaman bambu. Pandangan matapun tak bisa menembusnya.  “Maka setelah itu, Omar Dani tidak bisa melihat kawannya, Sri Muljono Herlambang lagi. Jadi terbentuklah Omar Dani yang sepi. Isolasi tersebut telah membuat kidung sunyi itu menjadi semakin menyayat,” Benedicta dan Soeparno.

  • Orang Utan dalam Catatan Masa Silam

    Kapal Eagle Galley berlayar dari Inggris ke Pulau Borneo (Kalimantan). Kapten Daniel Beeckman memimpin ekspedisi yang ditugaskan oleh Serikat Dagang Inggris (EIC). Tujuan perjalanan itu membuka kembali perdagangan Inggris dengan Kesultanan Banjarmasin untuk komoditas lada maupun produk tropis lainnya Pada 29 Juni 1714, rombongan Beeckman berlabuh di Banjarmasin di pesisir selatan Kalimantan. Selain lada, Beeckman juga menyaksikan banyak hewan khas wilayah tropis. Monyet, kera, dan babon ditemukan dalam berbagai jenis dan bentuk. Tetapi yang paling luar biasa adalah primata yang disebut “ Oran-ootan ” alias orang utan yang dalam bahasa penduduk lokal berarti manusia hutan. Dalam amatan Beeckman, panjang tubuh orang utan bisa mencapai enam kaki. Mereka berjalan tegak lurus, memiliki lengan yang lebih panjang ketimbang manusia. Giginya besar, tidak memiliki ekor maupun rambut, kecuali yang tumbuh di daerah tertentu. Baca juga:  Sarimin (Tak) Pergi Ke Pasar “Mereka sangat gesit dan kuat. Mereka akan melempar batu besar, tongkat dan kayu besar ke arah orang yang mengganggunya,” tutur Beeckman sebagaimana ditulis sejarawan University of Malaya Chin Yoong Fong dalam A Voyage to and from the Island of Borneo, in the East Indies. Penduduk setempat mengisahkan banyak cerita mengenai orang utan. Mereka percaya jika orang utan adalah keturunan manusia tetapi berubah menjadi binatang karena menghina Tuhan. Karena penasaran, Beeckman membeli seekor orang utan seharga enam dolar Spanyol. Orang utan itulah yang menemani Beeckman selama setahun ekspedisi dagangnya di Borneo. Penemuan Orang Utan Jauh sebelum kedatangan Beeckman, seorang dokter Belanda bernama Jacobus Bontius memberi nama “orang utan” pada hewan yang secara anatomi ini mirip manusia ini. Nama latinnya adalah Pongo pygmaeus . Sejak ditemukan tahun 1630 itulah orang utan jadi incaran. Bontius sendiri kemudian dikenal sebagai pelopor pengobatan tropis. Bobot tubuh orang utan pun hampir menyerupai manusia. Orang utan jantan bisa mencapai bobot 65 kg sedangkan betina 35 kg. Bagi orang utan jantan dewasa di Borneo, di wajahnya tampak berkelepak seperti sayap. Kelepak ini sebagai tonjolan ke samping kulit muka yang berisi jaringan lemak. Jadi dengan kelepak di pipi, wajah orang utan jadi tampak seram. Kapten Beeckman dalam laporan perjalanannya menuturkan rupa-rupa kecerdasan orang utan piaraannya. Meski tergolong masih kanak-kanak, orang utan itu sering membuka lemari berisi minuman keras, mengeluarkan sebotol lalu meminumnya banyak-banyak. Setelah puas meneguknya, ia kembali memasukannya ke tempat semula dengan sangat hati-hati. Ketika tidur, si orang utan berbaring seperti manusia dengan satu tangan di bawah kepalanya. Ia juga bisa mempelihatkan emosi dan bertingkah jenaka. Jika marah, ia akan mendesah, merajuk, dan menangis sampai mau dibujuk untuk berdamai.    Lukisan tentang orang utan di kebun binatang pribadi Pangeran Belanda Wilem V yang sedang memetik buah apel, 1777. ( Cultural Heritage Agency of the Netherlands ). Pada 1776, seekor orang utan betina dibawa ke Belanda untuk dipelihara di kebun binatang pribadi Pangeran Oranye (Willem V). Penanganannya yang masih amatiran menyebabkan hewan itu mati. Beruntung orang utan ini sempat dianalisis oleh ahli anatomi bernama Petrus Camper. Catatan lebih lengkap mengenai orang utan ditelaah oleh naturalis asal Inggris Alfred Russel Wallace. Pada Maret 1855, Wallace mengadakan penelitian ke tambang Batubara di Simunjan, Sarawak, Borneo Utara. Ketika menengadah, Wallace melihat seekor hewan besar berbulu merah, bergantung dari dahan ke dahan dengan tangannya. Ia bergerak dari pohon ke pohon dan menghilang di hutan yang penuh rawa-rawa. Bersama orang suku Dayak pengiringnya, Wallace mulai memburu orang utan –yang bagi orang pribumi disebut “mias”- untuk diawetkan kemudian diteliti. Baca juga:  Mengapa Wallace Kalah Populer Dibandingkan Darwin? Dalam karya monumentalnya The Malay Archipelago (Kepulauan Nusantara) Wallace mencatat, orang utan betina punya kebiasaan melempar dahan dan ranting untuk bertahan dari ancaman. Sementara itu, orang utan jantan lebih percaya diri dengan kekuatan tubuh ataupun taringnya. Selain di Borneo, Wallace juga mencatat bahwa habitat orang utan terdapat pula di Pulau Sumatra tetapi populasi paling besar ada di Borneo.   “Agaknya suatu hutan perawan dan luas menjadi habitat yang cocok bagi mias (orang utan). Hutan sejenis membuat mereka bebas berkelana ke berbagai jurusan dengan aman,” tulis Wallace. Potret awal orang utan, 1922. Sumber: The Outline of Science/J. Arthur Thomson. Jadi Buruan Dengan keunikan anatomi maupun perilakunya, kehadiran orang utan semakin memikat perhatian manusia. Banyak dari para ilmuwan maupun zoologi yang menghubungkan anatomi orang utan dengan teori evolusi Charles Darwin. Orang utan maupun kawanan primata lainnya menjadi kajian untuk menguak teori asal-usul manusia. Hal ini menjadi celaka bagi populasi orang utan karena mereka menjadi buruan manusia. “Dengan penemuan yang agak kontroversial itu, berbagai kebun binatang di segala penjuru dunia minta agar koleksi hewannya bertambah dengan tamu yang lain dari yang lain ini,” tulis majalah Warnasari , No. 144, Januari 1991. Sejak tahun 1931, orang utan masuk kategori satwa yang dilindungi. Namun dari waktu ke waktu, perburuan orang utan meliputi banyak kepentingan. Mulai dari bahan penelitian, koleksi kebun binatang, hingga menjadi dagangan berharga tinggi di pasar gelap. Selain itu, bagi masyarakat tertentu yang menganggapnya berkhasiat, daging orang utan dicari sebagai konsumsi. Belum lagi kasus pembalakan hutan yang menyebabkan habitat asli orang hutan menjadi terancam.    “Musuh terbesar mereka ialah manusia,” tulis Wildan Yatim dalam Mengenal Orang Utan . Baca juga:  Orang Utan di Ambang Kepunahan Indonesia tercatat sebagai negara dengan populasi orang utan terbesar. Akan tetapi, populasi orang utan di hutan-hutan Indonesia kian susut. Di Sumatra, habitat orang utan Sumatra menghilang dengan sangat cepat. Sementara itu pada 2016, status orang utan Kalimantan telah berpindah dari klasifikasi “terancam punah” menjadi spesies “kritis terancam punah”. Peralihan status ini memperlihatkan bahwa populasi orang utan menuju ambang kepunahan sudah diambang pintu. (Bersambung).

  • Pertempuran Alot di Pantai Utara Papua

    SUDAH 75 tahun berlalu, Perang Dunia II masih menyisakan “pekerjaan rumah” bagi pemerintah Amerika Serikat (AS). Per 16 Oktober 2020, data DPAA (Dinas Pencarian Prajurit yang Hilang) Kementerian Pertahanan (Kemhan) Amerika menyebut, 47.163 serdadu AS yang malang di front Pasifik belum ditemukan. Beberapa dari jumlah itu berada di wilayah Indonesia. Selain di Biak, tercatat 41 personil masih dalam status MIA ( missing in action ) di area yang kini menjadi Kabupaten Sarmi. Mereka hilang dalam Pertempuran Lone Tree Hill (Bukit Pohon Tunggal), 23 Mei-1 September 1944. Upaya pencarian prajurit Amerika yang hilang itu  jadi salah satu poin yang disepakati Menhan RI Prabowo Subianto dengan Menhan Amerika Mark Esper. Kesepakatan itu dituangkan dalam Memorandum of Intent (MOI) yang ditandatangani keduanya di Pentagon, 16 Oktober lalu. Lone Tree Hill di pesisir utara Papua (Repro  The War in the Pacific: The Approach to the Philippines ). Terseretnya wilayah Indonesia dalam Perang Pasifik merupakan imbas langsung dari strategi leapfrogging (loncat kodok) Jenderal Douglas MacArthur, panglima Sekutu Area Pasifik Barat Daya (SWPA). Strategi itu sebagai cara MacArthur mencari jalan untuk kembali merebut Filipina. Filipina dijadikan titik transit untuk mencapai Jepang. MacArthur bersaing dengan Panglima Area Samudera Pasifik Laksamana Chezter W. Nimitz yang punya strategi island-hopping (loncat pulau), untuk mencapai Jepang lebih dulu. Selain itu, leapfrogging sekaligus untuk memenuhi janjinya, “I Shall Return”, yang diucapkan kala menyingkir dari Filipina, 11 Maret 1942. Untuk itu mencapai Filipina itulah dia melancarkan kampanye di Papua Barat dengan dukungan kekuatan darat, laut, dan udara Inggris, Belanda, serta Australia. Baca juga: Yang Tercecer dari Pertempuran Biak Kampanye dimulai 22 April dengan pendaratan di Aitape. Dari sana, pasukan MacArthur loncat untuk merebut Hollandia (kini Jayapura) pada 6 Juni 1944, lalu ke Pulau Biak, Morotai, dan akhirnya Filipina. Dengan leapfrogging itu, MacArthur hanya menyasar titik-titik kekuatan Jepang yang dianggap paling lemah. Titik yang kuat akan dilewati. Untuk bisa merebut Biak, MacArthur butuh sejumlah lapangan terbang untuk basis pesawat-pesawat pembomnya. Untuk itu ia mempercayakan pada Panglima Tentara Angkatan Darat (AD) ke-6 Amerika Letjen Walter Krueger. Diungkapkan Kevin C. Holzimmer di artikelnya “Walter Krueger, Douglas MacArthur, and the Pacific War: The Wakde-Sarmi Campaign as a Case Study” dalam The American Experience in World War II , Krueger lalu membentuk Tornado Task Force (Gugus Tugas Tornado) dalam rencana Operasi Wakde-Sarmi. Operasi Wakde-Sarmi, kata Holzimmer, dipimpin Brigjen Jens A. Doe dan bertulangpunggungkan Resimen ke-163. Mereka menginvasi Pulau Wakde dan lapangan terbangnya. Sementara, Brigjen Edwin D. Patrick dengan Resimen ke-158 bergerak untuk merebut Bukit Pohon Tunggal dekat Lapangan Terbang Maffin di pesisir Sarmi. Letjen Walter Krueger (tengah) Panglima Tentara ke-6 AD Amerika. ( navy.mil ). Pertempuran Lone Tree Hill Lone Tree Hill (Bukit Pohon Tunggal) merupakan dataran setinggi 1.800 meter di atas permukaan laut di pesisir Teluk Maffin. Dataran itu disebut Bukit Pohon Tunggal oleh tentara Amerika lantaran di puncak bukitnya tampak sebuah pohon besar dikelilingi rerimbunan hutan tropis. “Di bawah bukit terdapat formasi batu karang dan gua yang dimanfaatkan (Jepang) sebagai halang rintang dan pertahanan alam. Sedangkan Pulau Wakde berada di sekitar 1000 yard sebelah barat (Teluk Maffin),” tulis Holzimmer. Baca juga: Gedoran Corregidor Kekuatan dua resimen Amerika dalam Operasi Wakde-Sarmi sekitar 10 ribu personil. Jumlah itu lebih besar dari kekuatan Jepang yang mempertahankan area Wakde-Sarmi. “Seksi intelijen MacArthur (G-2) memperkirakan area itu dipertahankan 6.060-6.750 serdadu dari Resimen Infantri ke-224 dan 225. Sayangnya laporan intelijen itu keliru karena nyata kemudian pasukan Jepang mencapai 11 ribu. Laporannya berdasarkan penafsiran semata terhadap hasil foto-foto pengintaian udara. Pasalnya jika dilakukan pengintaian darat, dikhawatirkan pihak Jepang akan tersadar niat dan sasaran Sekutu,” lanjut Holzimmer. Jenderal Jenderal Hatazō Adachi (kiri) & posisi pasukan Jepang di Lone Tree Hill. (Repro  The Second World War Volume III The Japanese War 1941–1945 ). Dua resimen pasukan Jepang yang dipimpin Letjen Hachiro Tagami di Wakde-Sarmi itu adalah sisa pasukan Divisi ke-36 pimpinan Jenderal Hatazō Adachi yang mundur dari Hollandia. Dari 11 ribu personil, 800 di antaranya jadi pasukan pertahanan di Pulau Wakde, sementara sisanya di sekitar Bukit Pohon Tunggal mengawal lapangan terbang Maffin. “Seperti di Pulau Wakde, di Sarmi pasukan Jepang selain memanfaatkan sistem terowongan di gua-gua sebagai sarang-sarang senapan mesin dan mortir, juga mengandalkan sejumlah pillbox dan parit yang disamarkan. Sistem pertahanan ini dipersiapkan sedemikian rupa hingga mampu bertahan meski digempur pemboman via udara maupun laut,” imbuhnya. Baca juga: Gedoran Jepang di Corregidor Pasukan Resimen ke-136 Amerika mendarat dan memulai Pertempuran Pulau Wakde pada 17 Mei. Dari Arare, Jenderal Patrick menggerakkan batalyon di Resimen ke-158 menuju Bukit Pohon Tunggal pada 23 Mei. Gerakan ofensif mereka tak menemukan perlawanan frontal. Perlawanan hanya berasal dari beberapa penembak runduk Jepang yang bersembunyi di rimbunnya hutan. “Di hari pertama saja Batalyon ke-3 sudah kehilangan delapan personil tewas, 12 terluka dan satu hilang, sementara mereka juga menewaskan enam serdadu Jepang dan satu yang ditawan,” tulis Robert Ross Smith dalam The War in the Pacific: The Approach to the Philippines. Pendaratan pasukan Resimen ke-158 di tepi Sungai Tor. ( navy.mil ). Dalam perjalanan menuju Bukit Pohon Tunggal, pasukan AS dibuat lelah oleh raid-raid dari unit-unit kecil Jepang. Akibatnya, mereka baru sampai di kaki bukit akhir Mei. Perlawanan Jepang terus berlanjut kala bukit itu direbut, hingga akhirnya Resimen ke-158 yang kelelahan harus digantikan pasukan Divisi ke-6. “Setiap hari kami terlibat baku tembak sejak bergerak hingga digantikan pasukan Divisi ke-6 pada Juni. Kebanyakan operasi kami dihabiskan untuk merebut sebuah lokasi bernama Bukit Pohon Tunggal,” kenang Letnan Harold Braun, komandan Kompi C, Batalyon ke-1, Resimen ke-158 dalam memoarnya, Braun’s Battlin’ Bastards. “Bukitnya menjadi sarang terowongan dan sarang senapan mesin yang membuatnya hampir mustahil untuk diserang karena sekelilingnya juga dilindungi hutan lebat. Kami harus merebutnya karena bukit itu jadi penghalan besar menuju lapangan terbang Maffin, salah satu target utama kami,” tambahnya. Urgensi Pasukan Pengganti Tiga hari setelah memulai ofensifnya, 26 Mei, resimen ke-158 menemui perlawanan paling sengit ketika sudah mendekati kaki bukit. Mereka gagal merebutnya meski telah menewaskan lebih dari 900 serdadu Jepang dan hanya kehilangan 70 nyawa pasukannya. Dua hari berselang, Jenderal Patrick mundur untuk sementara. Namun pada pada malam 30 Mei, resimen ke-158 mundur teratur setelah sebuah perimeternya dibanjiri ratusan pasukan bunuh diri Jepang. Dalam pertarungan brutal itu tak hanya senapan mesin yang meramaikan, namun juga pertarungan jarak dekat antar serdadu. Pasukan bunuh diri Jepang itu kemudian bisa dihancurkan. “Saat Patrick berharap bisa menyerang lagi setelah mundur, Jenderal Krueger justru membutuhkan pasukannya untuk operasi Biak dan Numfoor di kemudian hari. Maka Krueger menunjuk pasukan Divisi ke-6 di bawah Mayjen Franklin Sibert untuk menyelesaikan (Pertempuran Bukit Pohon Tunggal). Ofensif Divisi ke-6 dimulai pada 18 Juni yang juga mendapati perlawanan alot,” singkap Stanley Sandler dalam World War II in the Pacific: An Encyclopedia. Baca juga: Kudeta Seumur Jagung di Istana Kaisar Jepang Pasukan Silbert melanjukan ofensif untuk merebut Bukit Pohon Tunggal dengan jalur tepi barat Sungai Tirfoam. Dia memecah pasukannya untuk mengapit bukit seraya menyisir gua-gua di rangkaian batu karang di bawah bukit. Setelah melalui hari-hari berat mengandaskan pertahanan ulet Jepang, dua batalyonnya berhasil mencapai puncak bukit pada 24 Juni. Sisa pasukan Jepang lalu mundur ke arah Gunung Saksin di selatan bukit yang menjadi markas pusat Jenderal Tagami. “Hingga tiba malam mulai tampak perlawanan Jepang di sektor utara bukit melemah dan pada tengah malam 24-25 Juni tidak ada lagi serangan balik berskala besar, meski posisi Batalyon ke-3 (Divisi ke-6 Amerika) di puncak bukit tetap diganggu serangan mortir, granat, dan senapan yang sporadis,” sambung Smith. Pasukan Divisi ke-6 yang menggantikan Resimen ke-158 di Pertempuran Bukit Pohon Tunggal. (United States Army Center Of Military History). Pasukan Amerika tetap mengejar pasukan Jepang yang mundur ke Bukit 225, Bukit 265, dan Gunung Saksin lantaran lokasi itu masih jadi penghalang Amerika untuk menguasai lapangan tebang Maffin. Lapangan terbang itu akhirnya direbut pada awal 9 Juli. Tugas pengawalan perimeter dan patroli kemudian dialihkan oleh Jenderal Krueger, dari Divisi ke-6 ke Divisi ke-31 pimpinan Mayjen John C. Persons pada 18 Juli. Divisi ke-6 kemudian dijadikan pasukan pelindung dan cadangan jelang invasi ke Morotai oleh Krueger. Baca juga: Suara Titisan Dewa Mengakhiri Perang Pasifik Tugas patroli di perimeter barat dan timur lapangan terbang serta memburu sisa-sisa pasukan Jepang di pedalaman dilakukan Divisi ke-31 hingga Operasi Wakde-Sarmi dinyatakan berakhir oleh Krueger pada 1 September. Divisi ke-31 mengalami kerugian 39 personil tewas, 195 terluka, dan tiga lainnya hilang. “Selama periode 17 Mei-1 September, sebanyak 3.870 serdadu Jepang tewas dalam pertempuran dan 51 ditawan. Ribuan sisanya dari jumlah awal 11 ribu, meninggal karena sakit, kelaparan, atau terkubur di gua-gua yang dihancurkan Amerika di bawah Bukit Pohon Tunggal,” tambahnya. Sementara, Amerika baik dari pasukan Resimen ke-158, Divisi ke-6, maupun Divisi ke-31, mengalami kerugian total 400 personil tewas, 1.500 terluka, dan 41 serdadu dinyatakan hilang hingga saat ini.

  • Pembangkangan Sipil Warga Kampung di Surabaya

    PENGESAHAN Undang-Undang Cipta Kerja (UU Ciptaker) atau Omnibus Law pada 5 Oktober 2020 memancing protes keras di berbagai penjuru Indonesia. Bentuknya demonstrasi maraton di antero Indonesia. Tak jarang itu berujung pada kerusuhan, kekerasan, dan represi aparat. Bentuk protes lainnya ialah seruan pembangkangan sipil.

  • Mengingat Lagi Muarajambi

    Selama lima abad Kompleks Percandian Muarjambi ramai oleh pendatang. Para biksu dari berbagai tempat datang untuk belajar ajaran Buddha. Tiba-tiba ditinggalkan dan terlupakan. Tak berpenghuni selama ratusan tahun,situs Muarajambi di Muaro Jambi, Jambi itu baru ditemukan pada 1823 oleh S.C. Crooke. Ia adalah Perwira Angkatan Laut Inggris yang bertugas mengumpulkan data di wilayah Jambi. Ia kemudian melaporkan reruntuhan bangunan kuno dari bata dan arca-arca batu di Desa Muaro Jambi. Menurut Asyhadi Mufsi Sadzali, ketua Program Studi Arkeologi Universitas Jambi, baru pada 1970-an masyarakat kembali bermukim di sekitar percandian itu. "Perkampungan itu malah ada di seberangnya, di sisi lain Sungai Batang Hari. Artinya, wilayah ini yang punya sebaran candi begitu banyak itu sempat ditinggalkan ratusan tahun," kata Asyhadi dalam dialog sejarah "Jejak Sriwijaya di Bumi Jambi"  live di kanal Youtube dan Facebook Historia.id , Selasa, 20 Oktober 2020. Makanya, kata Asyhadi, jurang pemisah antara masyarakat hari ini dengan apa yang mereka lihat di Muarajambi lebih karena wilayah itu sudah terlalu lama ditinggalkan. "Bukan persoalan agama, tapi ada missing link ," kata Asyhadi. Oleh karena itu, Asyhadi menyebut hanya 40 persen masyarakat di sekitar situs yang peduli dengan bangunan-bangunan kuno itu. Ini terlihat dari bagaimana mereka ikut menjaga kebersihan dan keikutsertaan dalam pengelolaan pariwisata dan pelestarian. "Ini bukan semata-mata kesalahan masyarakat,"kata Asyhadi. "Rasa memilikinya saja yang belum tumbuh." Muarajambi Ramai Dikunjungi Retno Purwanti, peneliti Balai Arkeologi Sumatra Selatan, mengatakan berdasarkan analisis penanggalan karbon yang sampelnya diambil dari Candi Kedaton dan sebelah timur Kolam Telago Rajo, percandian ini digunakan sejak abad ke-9-10. Penanggalan ini sesuai dengan banyaknya temuan keramik Tiongkok dari masa Dinasti Tang dan Sung. Khusus di Candi Kedaton, ada juga tulisan pendek yang terbaca pada permukaan bata. Secara paleografi, gaya tulisan ini pun berasal dari abad ke-9-10. "Inskripsi yang ditemukan di Candi Gedong, Tinggi, Kembar Batu juga dari abad ke-9-10. Tapi memang ada inskripsi di atas lembaran emas yang ditemukan di sumuran Candi Gumpung, paleografinya abad 8-9," kata Retno. Kendati demikian, Muarajambi kerap dihubungkan dengan Mahavihara yang didatangi I-Tsing sewaktu singgah ke Mo-lo-yeu pada abad ke-7. Dalam catatannya, dia menyebut bahwa ribuan biksu tinggal dan belajar ajaran Buddha di Mahavihara . Di dalam candi-candi Muarajambi, khususnya Candi Kedaton, terdapat halaman yang dibagi ke dalam ruang-ruang. Terdapat pula sumur dan berbagai temuan penyerta, seperti kuali dan pecahan-pecahan keramik. "Saya simpulkan Kedaton ini sebagai sebuah vihara, bukan hanya tempat beribadah tapi juga belajar," kata Retno. Namun, menurut Retno, ada sebagian yang tak sepaham dengan mereka yang mengidentifikasi Mo-lo-yeu sebagai Melayu di Jambi. Mereka menghubungkannya dengan Semenanjung Melayu di Kedah. "Apakah Melayu di situ sama dengan di Jambi? Ini sama dengan perdebatan di mana letak pusat Sriwijaya, di Jambi atau di Palembang. Nah, ini harus beradu bukti," kata Retno. Sementara itu, I-Tsing pun tak spesifik menyebut nama tempatnya belajar ketika singgah di Mo-lo-yeu. Tapi yang jelas, pada kali kedua ke Melayu (685), biksu asal Tiongkok ini menyebut wilayah itu sudah menjadi bagian dari Sriwijaya. "Sriwijaya itu seperti negara, ibu kotanya misalnya di Jakarta, pusat pendidikan bisa di Yogyakarta," kata Retno. Selain tempat beribadah dan belajar, temuan keramik Tiongkok di Muarajambi menunjukkan keramaian di sana kemungkinan berhubungan dengan komunitas pedagang. " Mahavihara di India pun lebih banyak yang didirikan oleh para saudagar dibandingkan oleh raja. Kalau di Muarajambi katakanlah lebih ramai, mungkin para pedagang lebih menguntungkan di sana," kata Retno. Penemuan keramik Tiongkok juga menjadi petunjuk penurunan keramaian di Muarajambi. Keramik yang paling sedikit ditemukan berasal dari masa Dinasti Ming. Artinya, kemungkinan sekira abad ke-14, Muarajambi mulai ditinggalkan. "Muarjambi yang dulunya ramai tiba-tiba ditinggalkan oleh pendukung budayanya. Itu dilihat dari kepadatan temuan keramik dari Dinasti Sung, dari Dinasti Yuan mulai tipis, Ming jarang ditemukan," kata Asyhadi. Namun, menurut Asyhadi, Muarajambi ditinggalkankemungkinan besar karena ikut hancur akibat serangan Kerajaan Cola ke Sumatra. Raja Rajendracola dari India Selatan mengirim armada laut untuk menginvasi Semenanjung Malaka dan Sumatra. "Rajendracola pernah menyerang Sumatra," kata Asyhadi. "Mungkin salah satunya yang dihancurkan Muarajambi."

  • Kisah Prabowo dan Gadis-gadis Inggris

    Di masa kanaknya, Prabowo Subianto mesti hidup berpindah dari satu negara ke negara lain. Sang ayah, Soemitro Djojohadikusumo menjadi buronan pemerintah RI karena terlibat dalam gerakan Pemerintahan Revolusioner Republik Indonesia (PRRI). Berturut-turut, Prabowo bermukim di Singapura selama dua tahun, di Hongkong setahun, di Malaysia dua tahun, di Swiss dua tahun, dan di Inggris dua tahun.

  • Sepuluh Masjid yang Diubah jadi Gereja (Bagian II – Habis)

    LAZIMNYA, festival budaya Islam tahunan rutin digelar setiap Oktober di sebuah bangunan kuno di puncak sebuah bukit kota Almonaster La Real, Provinsi Huelva, Spanyol. Namun pandemi COVID-19 membuat hajatan Jornadas de Cultural Islamica itu sementara dibatalkan. Bangunan yang dimaksud adalah Mezquita de Almonaster la Real alias Masjid Kastil Almonaster. Dinamakan Masjid Kastil Almonaster lantaran masjidnya berada di dalam kastil yang strukturnya tersusun dari sisa-sisa bebatuan era Romawi Kuno. Masjid itu dibangun di era kekasaan Abd al-Rahman III dari Kekhalifahan Qurtuba (Córdoba). Kala itu kotanya bernama Al-Munastir, berada dalam wilayah Andalusia. Pasca- Reconquista atau perebutan kembali Semenanjung Iberia (kini Spanyol dan Portugal) dari tangan Islam ke Katolik (711-1492 Masehi), masjid itu dijadikan kapel di bawah pengelolaan Gereja Nuestra Señora de la Concepción. Seperti halnya Masjid Agung Córdoba, Masjid Al-Munastir juga didirikan di atas bekas bangunan gereja. Baca juga: Sepuluh Masjid yang Diubah jadi Gereja (Bagian I) Diungkapkan Roger Collins dalam Spain: An Oxford Archaelogical Guide , kastilnya sendiri dibangun antara abad kesembilan dan ke-10 Masehi di atas bekas aula kemiliteran Romawi. Situs itu merupakan bekas biara yang dibangun orang-orang Visigoth (Jermanik Kuno) di abad keenam. “Nama Arab Al-Munastir menyiratkan eksistensi bangunan sebelumnya, yakni sebuah biara Kristen ( monasterio ) di zaman orang-orang Visigoth. Fragmen-fragmen bebatuan Romawi dan Visigoth di bangunannya jadi saksi tersendiri fase-fase situsnya,” tulis Collins. Sisi dalam Masjid Al-Munastir. ( mezquitadesevilla.com ). Masjid itu terletak dekat gerbang utama kastil, ditandai dengan adanya menara masjid yang tersusun dari batu-bata. Bentuk bangunannya sedikit berbeda, bukan kotak melainkan trapesium. Kemungkinan untuk mengatasi fondasi bangunan yang tanahnya berbukit. “Pertanda dibangunnya masjid adalah tembok batu-bata di bagian mihrab (tempat imam) dan pilar-pilar gaya Romawi yang menopang ruang shalat dengan lima saf . Terdapat penambahan struktur lengkung dari batu-bata di atasnya,” imbuhnya. Setelah dijadikan kapel pada abad ke-13, situs Almonaster La Real tak lagi difungsikan jadi rumah ibadah sejak 1931 lantaran dinyatakan sebagai monumen nasional. Sempat direnovasi dalam kurun 1970-1973, situs itu sejak 1999 rutin menggelar konferensi Islam dan festival Jornadas de Cultural Islamica setiap Oktober. Isu masjid yang dijadikan gereja sempat jadi pembenaran bagi Presiden Turki Recep Tayyip Erdoğan kala memfungsikan kembali Hagia Sophia menjadi masjid. Erdoğan berdalih bahwa di Portugal dan Spanyol banyak masjid yang dijadikan gereja. Menyambung artikel sebelumnya, lima bangunan di Iberia berikut ini dibangun pertama kali sebagai masjid namun kemudian diubah menjadi gereja: Masjid Benteng Jerez de la Frontera Sisi luar dan interior masjid i kompleks Alcázar de la Frontera. ( andalucia.org ). Sebagaimana Masjid Al-Munastir, masjid ini dibangun di dalam Kompleks Benteng Alcázar di kota Jerez de la Frontera, Andalusia, Spanyol. Bentengnya dibangun pada abad ke-11, kala kota itu berada di bawah kekuasaan Taifa (kepangeranan) Arkasy, kepanjangan tangan dari Kekhalifahan Almohad. Nama Alcázar berakar dari bahasa Arab, al-Qasr , yang berarti benteng atau istana. Karakter masjid era Almohad, seperti dituturkan Collins, bercirikan bentuk kubahnya oktagonal (segi delapan). Luas masjid ini sekira 10 meter persegi. Baca juga:  Masjid Sukarno di Rusia “Pintu masuk masjidnya ada di bagian barat laut benteng yang lorongnya terdapat tiga bangunan lengkung dari batu-bata yang mengarah ke halaman kecil yang terdapat sebuah kolam air mancur dengan dasar keramik, serta sebuah menara masjid di sudut utara. Di sisi selatan aula shalat terdapat mihrab berbentuk persegi panjang yang atapnya berbentuk kubah,” tulis Collins. Benteng Jerez de la Frontera ini direbut Panglima Kerajaan Castilla Nuño González I de Lara pada 1261. Oleh Raja Castilla Alfonso X, masjid di dalam bentengnya kemudian diubah menjadi Kapel Santa Maria del Alcázar. Masjid Tórtoles Masjid Tórtoles yang eksterior bangunannya masih terpelihara. ( patrimonioculturaldearagon.es ). Terletak di kawasan Tórtoles, kota Tarazona, Zaragoza, Spanyol, sebuah masjid berbentuk persegi dengan struktur batu-bata jadi saksi bisu kelahiran kembali masyarakat Islam di tengah kota yang dikuasai mayoritas Nasrani. Kisah masjid ini berkelindan dengan dinamika politik yang melingkupinya. Disebutkan dalam laman resmi Fundación Tarazona Monumental, masjid itu  dibangun pada awal abad ke-15 dan diperluas dalam kurun 1447-1455 oleh Mahora Almorabid. Masyarakat muslim di Tarazona sudah berkembang sejak abad kedelapan. Mereka terusir pasca-dikuasainya daerah tersebut oleh Raja Alfonso I dari Aragon pada 1119. Kaum muslim Tarazona lantas mengungsi ke kawasan Tórtoles yang merupakan kota terbuka alias bebas dihuni siapapun. Tarazona lalu dijadikan kota militer. Baca juga: Hagia Sophia: Dari Gereja menjadi Masjid Masjid yang dibangun pada abad ke-15 itu terbilang kecil, hanya dapat menampung tiga saf shalat. Tanpa dilengkapi menara, masjid tersebut langit-langitnya berhias ukiran bergaya mudejar . Seiring meningkatnya jumlah populasi Nasrani di Tórtoles, masjid itu diambil paksa oleh kaum Nasranidan dikonversi menjadi Gereja de la Anunciación de la Virgen. Pada abad ke-17, gereja tersebut ditinggalkan sehingga bangunannya dijadikan gudang jerami hingga 1987. Bangunannya kemudian dijadikan situs cagar budaya. Pemerintah kota Tarazona dan Departemen Budaya dan Pariwisata Spanyol merestorasinya pada 1987, 1991-1995, dan 2016. “Bangunan ini penting karena hanya ada sedikit contoh yang tersisa dari masjid-masjid yang dibangun di masa Kristen,” tutur Kepala Perencanaan Strategis Pariwisata Tarazona Javier Bona, dikutip Heraldo , 7 April 2015. Masjid Al-Ta’ibin Kolase Alminar de San Juan de los Reyes, menara yang tersisa dari Masjid Al-Ta'ibin. ( albaicin-granada.com ). Menara San Juan de los Reyes yang menempel pada Gereja Nuestra Señora de la Encarnación di kota Árchez, Provinsi Málaga, Spanyol itu masih berdiri dengan tegap hingga kini. Tingginya 15 meter dengan bentuk persegi. Menara dengan beberapa ukiran khas bergaya Almohad dari periode Nasrid itu punya arsitektur berbeda dari gerejanya. Pasalnya ia awalnya adalah menara adzan dari sebuah masjid yang kemudian tak lagi eksis. Kisahnya mirip dengan Menara La Giralda yang jadi bagian Masjid Agung Sevilla. “Gerejanya dibangun pada 1520 namun tetap mempertahankan menara era abad ke-13 dari Masjid Al-Ta’ibin, di mana gereja itu menjadi gereja Kristen pertama di kawasan Granada,” ungkap Litellus Russel Muirhead dan John Hooper Harven dalam Southern Spain: With Gibraltar, Ceuta & Tangier. Baca juga: Teror di Masjid Al-Noor Kota Árchez sejak tahun 711 berada di bawah kekuasaan Kekhalifahan Umayyah yang setelah keruntuhannya (abad ke-11) diteruskan Taifa Granada, lalu Emirat Granada sebagai kepanjangan tangan Dinasti Nasrid. Namun, tiada catatan kapan Masjid Al-Ta’ibin dibangun. Hanya menaranya saja yang diketahui dibangun pada masa Dinasti Nasrid (abad ke-13). Masjid Al-Ta’ibin kemudian dihancurkan pasca- Reconquista . Di situsnya kemudian dibangun gereja. Masjid San Juan Córdoba Menara yang bertahan dari sisa sebuah masjid di San Juan, Córdoba. ( tuttocordoba.com ). Di kawasan Córdoba yang jadi jantung Kekhalifahan Qurtuba semasa diperintah Khalifah Abd ar-Rahman III (pertengahan abad ke-10) tentu terhampar banyak masjid baru. Namun pasca- Reconquista , masjid-masjid itu berubah jadi reruntuhan. Sedikit peninggalannya yang tersisa adalah Alminar de San Juan atau Menara Masjid San Juan. Antonio Jesús García Ortega dalam Transformations of Mosques into Churches: Formalizing and Tracing in the Restructuring Processes of Toledo and Córdoba menyebut, menara itu bagian dari sebuah masjid yang juga dibangun dalam abad ke-10, sekira tahun 930 Masehi. Pada 1236 ketika Reconquista , masjidnya diratakan dengan tanah hingga tak menyisakan catatan tentang bentuk asli masjidnya. Baca juga:  Doa Silaban Ketika Merancang Masjid Istiqlal Gereja yang berdiri di sebelah menara itu sedikit-banyak menyerupai bentuk masjidnya. “Letak menaranya sendiri berada di sudut timur laut dan diperkirakan letak masjidnya berada di sisi selatan. Keberadaan gereja yang sekarang merupakan hasil dari rekonstruksi (masjid) yang tak bisa ditentukan tahun pendiriannya,” tulis Ortega. Meski tak dapat dipastikan, struktur masjid sedikit-banyak bisa dilihat dari struktur menaranya yang masih berdiri. Dibangun dari bebatuan persegi dengan berhias jendela berbentuk tapal kuda dari bahan batu-bata. Sejak 1236, sisa reruntuhan masjidnya dibangun Gereja San Juan de los Caballeros. Masjid Al-Ulya Minarete de Loulé, sisa peninggalan Masjid Al-Ulya. ( museumwnf.org ). Tidak seperti di Spanyol, menara bekas masjid yang dikonversi jadi menara lonceng gereja di Portugal merupakan hal langka. Salah satu yang masih bertahan adalah Minarete de Loulé di Provinsi Algarve. Menara setinggi 22,7 meter itu dipercaya sebagai bagian dari rumah ibadah umat muslim yang kini sudah lenyap, Masjid Al-Ulya, merujuk penamaan kota Loulé dalam bahasa Arab, al-Ulya . Diungkapkan Cláudio Torres dkk. dalam In the Lands of the Enchanted Moorish Maiden: Islamic Art in Portugal , Al-Ulya atau Loulé mulai dijamah masyarakat muslim sejak abad kedelapan. Pada abad ke-11, Al-Ulya dijadikan kota benteng oleh Kerajaan Niebla, salah satu kerajaan pecahan Kekhalifahan Córdoba (akhir abad ke-11 hingga awal abad ke-12). Baca juga: Kala Khalifah Umar jadi Korban Penusukan “Kota bentengnya dibangun seluas lima hektar dan menunjukkan bahwa pusat kota Al-Ulya merupakan kota penting selama periode Niebla dan masjidnya dibangun dekat tembok kota sisi selatan,” ungkap Torres dkk. Diyakini, masjid itu dibangun di masa yang sama dengan dibangunnya kota benteng Al-Ulya. Pada 1249, kota benteng itu direbut Raja Portugal Afonso III. Masjid Al-Ulya pun diratakan dengan tanah yang lantas dibangun Igreja Matriz de São Clemente.

  • Aksi Aneh Tjipto Mangoenkoesoemo

    PADA 1899, kegembiraan datang menghampiri keluarga Mangunkusumo. Putra mereka, Tjipto Mangoenkoesoemo, dinyatakan lolos masuk ke Stovia (Sekolah Dokter Jawa) di Batavia. Sebagai anak dari kalangan rakyat biasa, terdaftar di sekolah bangsawan merupakan sebuah kebanggan. Keluarga Mangunkusumo pun menutup abad itu dengan kebahagian. Di Stovia, Tjipto termasuk golongan siswa terbaik. Dia memiliki ketajaman berpikir, keterampilan, serta pembawaan diri yang baik. Berkat kecintaannya kepada buku, Tjipto memiliki wawasan yang luas dan senang berdebat. Para guru pun mengakuinya. Namun dia juga dikenal sebagai seorang yang suka kebebasan dan benci dikekang. Berkat sifatnya itu Tjipto pernah meringkuk di ruang tahanan siswa –para siswa menyebutnya “kamar tikus”.

  • Mayjen Sutoyo Siswomiharjo, Murid Gatot Soebroto yang Toleran terhadap Anak Buah

    PAHLAWAN Revolusi Mayor Jenderal (Anumerta) Sutoyo Siswomiharjo lahir di Kebumen, Jawa Tengah, pada 28 Agustus 1922. Sebelum pendudukan Jepang pada 1942, Sutoyo menjalani pendidikan di HIS dan AMS di Semarang. Pada masa pendudukan Jepang, Sutoyo mengikuti pendidikan di Kenkoku Gakuin atau Balai Pendidikan Pegawai Negeri di Jakarta. Ia kemudian menjadi Pegawai Menengah/III di Kabupaten Purworejo. Namun, Sutoyo mengundurkan diri pada 31 Maret 1944. Karier kemiliteran Sutoyo diawali pada masa perjuangan kemerdekaan dengan bergabung ke Badan Keamanan Rakyat. Setelah BKR bertransformasi menjadi Tentara Keamanan Rakyat (TKR) pada 5 Oktober 1945, Letda Sutoyo di dalam TKR memilih bergabung dengan Polisi Tentara.

  • Cristiano Ronaldo, Lebah Kecil dari Madeira

    CRISTIANO Ronaldo, megabintang Juventus berpaspor Portugal, dilaporkan positif terjangkit Covid-19 (virus corona). Tak hanya mengagetkan publik sepakbola internasional, kasus tersebut seolah membenarkan pendirian politikus Italia Vincenzo De Luca. Sebelumnya, De Luca membela keputusan Napoli yang tak hadir di jadwal Serie A kontra Juventus, 5 Oktober 2020, dengan harapan mencegah lebih banyak pemain tertular Covid-19. “Tidak ada yang berterimakasih kepada kami karena mencegah Cristiano Ronaldo dari tertular virusnya. Coba bayangkan jika Napoli datang dengan beberapa kasus positif di skuad mereka seperti Genoa. Jika Ronaldo tertular sepekan kemudian, kami akan mendapat kecaman dari semua halaman depan surat kabar,” ujar De Luca, di laman resmi  Juventus, Minggu (11/10/2020). FPF, induk sepakbola Portugal, mengabarkan dalam situs resminya , Selasa (13/10/2020), megabintang berusia 35 tahun itu mendapati hasil positif pada tes Covid-19 pascalaga penyisihan Grup 3 UEFA Nations League kontra Prancis (0-0) di Stade de France. “Cristiano Ronaldo dibebastugaskan dari tim nasional setelah mendapatkan hasil positif pada tes Covid-19, jadi dia takkan tampil menghadapi Swedia. Kondisi dia dalam keadaan baik, tanpa gejala, dan berada dalam isolasi,” demikian pernyataan FPF. Banyak yang mengharapkan pesepakbola berjuluk “CR7” itu bisa pulih sesegera mungkin sebagaimana sejumlah bintang lain, semisal Zlatan Ibrahimović (Swedia/AC Milan), yang sempat positif Covid-19 namun kini dinyatakan sembuh. Optimisme para penikmat bola bertolak dari gaya hidup sehat Ronaldo dan kondisi fisiknya yang di atas rata-rata pemain seusianya. Menukil Sport Bible , 5 Februari 2020, saat Ronaldo dibeli Juventus pada 2018, hasil pemeriksaan medisnya menyatakan di dalam tubuh Ronaldo terdapat tujuh persen lemak tubuh, 50 persen massa otot, dan overall kondisi fisik seperti pemain yang baru berusia 20 tahun. Ia bahkan bisa melompat lebih tinggi dari rata-rata para pemain NBA (kompetisi basket Amerika). Terbukti pada Desember 2019 lampau ia mampu menantang gravitasi. Ia mencetak gol fenomenal lewat sundulannya ke gawang Sampdoria. Gol itu ia ceploskan setelah melompat setinggi 2,56 meter di atas permukaan tanah. Bermodal fisik bugar laiknya pemain usia 20 tahun, diharapkan CR7 bisa lekas sembuh dari Covid-19. (Twitter @Cristiano). Bintang ber-DNA Afrika yang Sempat Tak Diinginkan Kebintangan Ronaldo bukanlah hasil dari usaha semalam. Ia merupakan hasil dari tempaan keras bertahun-tahun. Semua bermula dari kepindahan Maria Dolores dos Santos Viveiros (ibunya) dan José Dinis Aveiro (ayahnya) dari daratan Portugal ke Funchal di Pulau Madeiro pasca-Revolusi Anyelir, kup militer untuk menjatuhkan rezim totalitarian Estado Novo pada 1974. Di Funchal, mereka menempati sebuah rumah kecil di Jalan Quinta do Falcão nomor 27A, Desa Santo António. Ekonomi keluarga hanya ditopang Dinis. Dari berdagang ikan, Dinis kemudian menjadi pemecah batu, tukang kebun, lalu staf peralatan di sebuah klub divisi semenjana CF Andorinha de Santo António. Pada pertengahan 1984, Dolores mengandung anak keempatnya. Dengan ekonomi pas-pasan, kehamilan itu menjadi masalah buatnya sehingga dia memutuskan mengambil tindakan nekat. “Usia Dolores saat itu 30 tahun dan kehamilannya sama sekali tak direncanakan. Tidak ada cukup makanan untuk semua orang di rumah itu. Faktanya dia pernah mencoba untuk aborsi. Seorang tetangga menyarankan dia minum bir hitam yang direbus dan berlari sampai dia pingsan,” tulis jurnalis sepakbola Guillem Balague dalam Cristiano Ronaldo: The Biography . CR7 bersama sang ibu, Maria Dolores dos Santos Viveiros. (Twitter @Cristiano). Upaya tersebut gagal. Dolores pun mendatangi dokter. Namun, Tidak satupun dokter yang ia datangi mau membantunya aborsi. Akhirnya dia melihat tidak adanya alasan untuk menggugurkan kandungannya. “Kehamilan ini akan jadi kebahagiaan di rumah kami,” kenang Dolores, dikutip Balague. Dolores pun melahirkan bayi bungsunya pada 5 Februari 1985. Dolores menamainya Cristiano Ronaldo dos Santos Aveiro. Nama “Ronaldo” diambil dari Ronald Reagan, presiden ke-40 Amerika Serikat (1981-1989), yang merupakan figur pujaan Dolores dan Dinis sejak Reagan masih seorang aktor. Menurut Balague, di dalam tubuh Ronaldo mengalir DNA nenek moyang asal Afrika. Darah itu mengalir dari garis ayahnya. “Nenek buyut Cristiano dari garis ayah adalah Isabel Rosa Piedade yang lahir di Praia, ibukota Cape Verde (negara kepulauan di barat Afrika) tahun 1864. Saat 16 tahun dia bermigrasi ke Funchal, di mana dia menikahi José Aveiro. Isabel dan Jose punya putra bernama Humberto (Cirílo Aveiro) yang tak lain ayah dari José Dinis dan kakek Cristiano,” sebut Balague. “Silsilah Afrika itu yang mungkin jadi penjelasan tentang bawaan lahir kemampuannya sebagai pesepakbola. Singkatnya, serat-serat otot yang lazim dimiliki para sprinter kulit hitam (serat putih, tipe II, untuk kontraksi cepat yang memproduksi ledakan energi tanpa memerlukan oksigen) juga dimiliki Ronaldo sejak lahir,” imbuhnya. José Dinis Aveiro, ayah Cristiano Ronaldo yang mengalirkan DNA Afrika dari neneknya. (Instagram @cristiano/@katiaaveiroofficial). Metamorfosis Lebah Kecil Kehadiran Ronaldo perlahan menghadirkan kebahagiaan di keluarga Dinis-Dolores. Dua kakak Ronaldo yang masih sekolah diterima bekerja sebagai pelayan restoran. Dolores sendiri diterima bekerja di sebuah hotel di kota (Funchal). Tiada satupun dari mereka kekurangan makan sejak itu. Ronaldo menggemari sepakbola, terutama setelah beranjak usia lima tahun dia bisa menontong tayangan sepakbola di televisi. Ayah dan ibunya masing-masing punya tim idola sama-sama dari Pulau Madeira. “Tim favorit Dinis adalah Maritimo. Tim Primiera Liga lain di Madeira adalah (CD) Nacional yang jadi favorit ibunya. Sang ibu juga fan Sporting Lisbon, salah satu klub terbaik Portugal. Suasana di rumah jadi penuh tensi setiapkali terjadi Derby Madeira,” tulis Michael Part dalam Cristiano Ronaldo: The Rise of a Winner . Karena masih terlalu muda dibanding beberapa anak di lingkungannya, Ronaldo jarang diajak main bareng. Dia hanya menendang-nendang bola dari kaus kaki yang ia bentuk seperti bola kecil. Melihat itu, sang ayah membawakan bola bekas dari CF Andorinha untuknya. Sejak saat itu Ronaldo diajak main bareng oleh anak-anak di lingkungannya. “Saya biasa bermain di jalanan karena saat saya kecil tidak ada lapangan bola dekat rumah. Ketika saya berusia lima atau enam tahun dengan teman-teman biasa bermain di tengah jalan menggunakan dua pasang batu sebagai gawangnya. Kami pun harus berhati-hati dengan lalulintas jalannya. Kami juga harus mengambil batunya jika ada bus yang mau lewat dan meletakkannya lagi setelah itu. Begitu seterusnya,” kenang sang bintang dalam Cristiano Ronaldo karya Gail B. Stewart. Di sekolah ia termasuk anak yang mudah menyerap pelajaran. Mata pelajaran kesukaannya kala duduk di bangku kelas lima sekolah dasar adalah Ilmu Alam. “Pulau saya, Madeira, adalah pulau volkanik yang punya banyak varietas tumbuhan yang bisa berubah menjadi taman mempesona. Kelas-kelas Ilmu Alam begitu membuat saya tertarik dan semua perhatian saya terfokus pada pelajaran-pelajaran itu.” kata Ronaldo, dikutip Stewart. Namun, kecintaan Ronaldo pada sepakbola lebih besar. Ia pun sering bolos sekolah. “Saya menyesal tak belajar lebih rajin, namun saya harus membuat pilihan dalam hidup saya,” sambung Ronaldo yang akhirnya memilih putus sekolah. Ibunya memaklumi. Melihat bakat putra bungsunya, Dolores tak ambil pusing dengan protes guru-gurunya soal seringnya Ronaldo bolos sekolah. Dolores paham bahwa sepakbolalah yang akan jadi jalan hidup putranya di masa depan. CR7 "si Lebah Kecil" saat masih mengasah sepakbolanya di CF Andorinha (Repro Cristiano Ronaldo  oleh Gail B. Stewart/ museucr7.com ). Di usia tujuh tahun, Ronaldo mulai diasah di CF Andorinha, klub amatir tempat ayahnya bekerja. Di sini, Ronaldo mulai punya julukan “Abelhinha” alias si Lebah Kecil. “Julukannya karena dia bisa men- dribble bola secara cepat dengan langkah-langkah zig-zag dan karena dia punya tubuh yang kurus dan kecil. Hal ini yang membuatnya sempat gusar karena rekan-rekan setimnya mulai tumbuh besar, sementara badannya tetap kurus dan kecil. Hal ini juga yang menurut para pelatihnya jadi kelemahannya saat menghadapi pemain lawan yang lebih besar dan kuat,” sambung Stewart. Selain mampu membawa bola dengan cepat, kelebihan lain Ronaldo adalah intuisi dan refleksnya. Kelebihan ini sudah ia latih secara mandiri sejak sering bolos sekolah. “Ketika teman-temannya menolak bolos sekolah untuk main bola, dia selalu menemukan cara melatih skill -nya sendiri. Dekat rumahnya ada sebuah sumur dengan tembok besar, sekitar 20 meter persegi. Itu sempurna untuk berlatih menendang bola ke tembok. Karena bola dengan cepat kembali mengarah padanya, dengan sendirinya refleksnya terlatih untuk mengontrol bola, seperti yang kemudian dia praktikkan terhadap lawan dalam pertandingan,” lanjutnya. Soal fisik, Ronaldo mengakalinya dengan meminta porsi makanan dua kali lipat dari sang ibu. Tapi bukannya tambah besar, tubuhnya malah meninggi. Buah dari semua kedisiplinan itu membuat karier Ronaldo terus menanjak.  Pada 1995, dia pindah ke CD Nacional, klub profesional idola ibunya, untuk lebih mengembangkan sayapnya. Tiga tahun ia berkostum CD Nacional. Dari sinilah titik balik karier sepakbolanya terjadi. Tiga hari trial yang dilakoni Ronaldo membuat dua pelatih akademinya, Paulo Cardoso dan Osvaldo Silva, terkesan. “Saya menoleh ke Osvaldo dan bilang, ‘Yang ini berbeda. Dia punya sesuatu yang istimewa.’ Dan kami bukan satu-satunya yang berpikiran sama. Di akhir sesi, semua peserta trial mengerubunginya. Mereka sudah tahu dia yang terbaik,” kenang Cardoso, dikutip Luca Caioli dalam Ronaldo: The Obsession for Perfection . “Dia bisa bermain dengan kedua kakinya, luar biasa sangat cepat dan saat di lapangan, bola ibarat menyatu dengan tubuhnya. Tapi yang membuat saya sangat terkesan adalah determinasinya. Kekuatan karakternya sangat kentara. Dia berani, tak kenal takut oleh pemain yang lebih tua. Bahkan dia sudah punya kualitas kepemimpinan dan hanya para pemain hebat yang memilikinya,” timpal Direktur Akademi Sporting CP Aurélio Pereira. Setelah itu, Ronaldo yang berusia 12 tahun direkrut Sporting Clube de Portugal (Sporting Lisbon). Mulai 17 April 1997 itulah Ronaldo memulai petualangan sepakbola profesionalnya. Ronaldo terpaksa meninggalkan keluarganya. CD Nacional jadi klub kedua CR7 kala meniti kariernya. ( maisfutebol.iol.pt / cdnacional.pt ). Di Balik Imej Arogan Tekad kuat plus kerja keras membuat Ronaldo akhirnya menjadi megabintang. Selain dipinang berbagai klub besar dan jadi andalan timnas Portugal, berbagai gelar individu telah direngkuhnya. Namun, tiada gading yang tak retak. Imej arogan jadi isu yang acap diusung para haters -nya. Predikat yang lekat pada dirinya hingga kini itu mulai eksis sejak ia berseragam Manchester United (MU). Sejatinya, Ronaldo seorang “family man”. Baginya keluarga nomor satu. Terhadap ayahnya yang pecandu minuman keras pun dia memberi perhatian. Sejak berkarier di MU, berulang kali ia membawa ayahnya ke rumahsakit untuk mengatasi kecanduannya. “Tapi pada akhirnya tak ada yang bisa ia lakukan. Kondisi ginjal ayahnya terus memburuk. Saat kualifikasi Piala Dunia medio September 2006, ia mendapat kabar ayahnya wafat. Pelatih menyarankannya untuk pulang. Ronaldo menolak. ‘Ayah saya pasti ingin saya tetap bermain. Dia sudah melakukan segalanya dalam hidupnya agar saya bisa bermain sepakbola,” kata Ronaldo, dikutip David Fischer dalam Cristiano Ronaldo: International Soccer Star. Trauma akibat meninggalnya sang ayah membuat Ronaldo disiplin dalam gaya hidup sehat. Dia menjauhkan diri dari minuman keras. Kebajikan yang diajarkan sang ayah juga ikut membentuk karakter Ronaldo. Kecintaannya pada kemanusiaan merupakan salah satu kebajikan itu. Salah satu bukti tingginya rasa kemanusiaan Ronaldo adalah ketika dia mendengar kisah bocah Martunis yang jadi korban tsunami Aceh pada 2004. Ronaldo terharu mendengarnya dan setahun berselang datang ke Aceh lalu mengangkat Martunis sebagai anak. “Ayah saya mengajarkan bahwa saat Anda menolong orang lain, Tuhan akan membalasnya dua kali lipat. Dan itu yang terjadi pada saya,” cetus Ronaldo soal jamaknya kegiatan amal yang ia lakoni, dikutip Brian Doyle dalam Cristiano Ronaldo: World-Beater. Demi kemanusiaan itu pula Ronaldo rela menjual trofi Ballon d’Or yang diperolehnya tahun 2012. Hasil 1,5juta euro yang didapatnya lalu didermakannya. “Dia menggunakan uangnya untuk membantu membiayai sebuah sekolah di Jalur Gaza, Palestina. Sikap Ronaldo dalam donasinya bukan untuk membuat pernyataan politik terkait pihak mana yang ia dukung; dia hanya ingin membuat hidup anak-anak di Gaza lebih baik,” tandas Doyle.

bg-gray.jpg
Tedy masuk militer karena pamannya yang mantan militer Belanda. Karier Tedy di TNI terus menanjak.
bg-gray.jpg
Pemilihan Augustine Magdalena “Tiene” Waworuntu sebagai walikota Manado menjadikannya walikota perempuan pertama pasca pembubaran RIS. Pemilihannya menimbulkan polemik daerah-pusat, hingga menyeret militer.
bg-gray.jpg
Dua anggota legiun Mangkunegaran ikut serta gerakan anti-Belanda. Berujung pembuangan.
bg-gray.jpg
Rumah Sakit Bethesda Yogyakarta merupakan buah kasih dokter misionaris Belanda bernama J.G. Scheurer yang dijuluki Dokter Tolong.
bg-gray.jpg
Rumah yang pernah digunakan untuk mendidik kesadaran politik rakyat. Kini sepi pengunjung.
bottom of page