Hasil pencarian
Cari di situs ini
10052 hasil ditemukan dengan pencarian kosong
- Soe Hok Gie dan Perploncoan di UI
PERPLONCOAN lazim dialami oleh mahasiswa baru di perguruan tinggi. Bahasa formalnya orientasi studi dan pengengalan kampus atau kerap disebut ospek. Kegiatan itu sudah jadi rutinitas ketika memasuki tahun ajaran baru. Namun, sederet stigma miring melekat kala mendengar kata “diplonco”. Mulai dari senioritas, intimidasi, hingga kekerasan kerap terjadi dalam perploncoan. Itulah yang terjadi baru-baru ini di Universitas Negeri Surabaya (Unesa). Walaupun pada masa pandemi seperti sekarang, perploncoan tetap dilaksanakan secara daring. Dalam sekejap, kegiatan itu menjadi sorotan publik lantaran terlihat beberapa senior membentaki juniornya. Aksi bentak-bentak itu muncul di media sosial, jadi viral, dan menuai banyak kecaman. Merentang ke belakang, perploncoan memang sudah menjadi tradisi dari masa-masa. Soe Hok Gie, aktivis mahasiswa terkemuka itupun pernah merasakannya. Dalam catatan hariannya Soe Hok Gie menuangkan pengalamannya diplonco bahkan dirundung oleh seniornya. Mahasiswa Jurusan Sejarah Pengumuman ujian selesai. Setelah menyandang predikat lulus, Soe Hok Gie pun resmi menjadi alumnus SMA Kanisius. Gie kemudian mengikuti seleksi masuk perguruan tinggi. Semula Soe Hok Gie diterima di Fakultas Keguruan Ilmu Pendidikan Jakarta (kini UNJ). Tapi, dia mencoba peruntungan juga di Universitas Indonesia. Pilihan pertamanya jurusan psikologi tapi gagal. Soe Hok Gie diterima pada pilihan kedua, yaitu jurusan sejarah. Resmilah Soe Hok Gie jadi mahasiswa Fakultas Sastra Jurusan Sejarah UI angkatan 1961. Kampusnya masih di Rawamangun. Sebelum mulai kuliah, diadakan masa perploncoan dari tanggal 27 September sampai 1 Oktober. “Ketika baru diplonco kami dibentak-bentak, ditendang tas kami dan dimaki-maki,” catat Soe Hok Gie tanggal 20 Oktober 1961 dalam catatan hariannya yang dibukukan Catatan Seorang Demonstran . Soe Hok Gie menyaksikan dirinya dan kawan-kawan seangkatan diperlakukan seperti binatang. Berbagai risakan terlontar dari lisan senior. Misalnya, “jelek lu”, “muka lu lihat dulu”, “gigi lu kuning”, dan sebagainya. Pada awalnya, Soe Hok Gie menganggap perploncoan itu sia-sia belaka tiada guna. Tetapi kemudian dia melihat sisi positifnya. Khususnya bagi "anak-anak borjuis" atau yang mereka tidak bepikiran dewasa. Ketika diplonco, Soe Hok Gie mengingat salah satu kawannya bernama Nurul Komari. Dia mendapat kesan bahwa kawannya itu seorang “anak mami” karena sangat tergantung dengan ibunya. Dalam perploncoan, dia menangis karena dimaki-maki. “Di sinilah adanya unsur positif dari perploncoan, setidak-tidaknya kita dicoba (biar cuma lima hari), untuk menghadapi situasi nyata atas beban sendiri,” kata Soe Hok Gie. Seorang anak, lanjutnya, mau tidak mau menjadi dewasa. Dia harus berani dan sadar untuk melepaskan diri dari pelindungnya, dalam hal ini orang tuanya. Menurut Soe Hok Gie, dalam perploncoan ada dua jenis manusia. Sebagian berani menghadapi kenyataaan dengan bersikap sesuai. Dia termasuk dalam golongan ini. Waktu diplonco, Soe Hok Gie ketawa-ketawa saja sehingga ada seniornya yang bilang kalau dia senang diplonco. Sebagian lagi marah-marah dan mendendam. Dalam keadaan demikian, perploncoan ibarat malapetaka bagi mereka. Mereka adalah orang-orang konyol, demikian tulis Soe Hok Gie dalam catatannya. Dalam perploncoan, Soe Hok Gie mendapat kawan-kawan senior yang menjadi akrab. (Richard Zakaria) Leirissa (sejarah tingkat II) seorang yang baik hati dan mau membimbing. Ong Hok Ham (sejarah tingkat II) seorang yang pandai dan berkata supaya Soe Hok Gie merasakan hidup kemahasiswaan yang sedalam-dalamnya. Di kemudian hari, R.Z. Leirissa dan Ong Hok Ham menjadi sejawaran beken Indonesia lewat karya-karya mereka. Plonco di Mapala Pada waktunya, Soe Hok Gie pun naik tingkat menjadi senior. Meski demikian, dia tidak ikutan memplonco anak baru. Dalam catatan hariannya tanggal 4 Oktober 1962, dia sebenarnya mengakui punya ketertarikan untuk ikut sebagai senior dalam masa perkelanan. Tujuannya semata-mata ingin mengetahui perangai mahasiswa baru dan memberikan pandangan postif bagi mereka. Tapi pada akhirnya, dia lebih memilih bergumul dengan alam dengan membentuk komunitas Mahasiswa Pecinta Alam (Mapala). Mapala UI didirikan pada 1964 sebagai organisasi internal mahasiswa UI. Kegiatannya berupa perkemahan, perjalanan, dan pendakian gunung, termasuk konservasi alam. Mapala juga menjadi penampungan bagi mahasiswa yang jenuh dari hiruk pikuk politik kampus yang melibatkan organisasi kampus dengan partai politik tertentu. Soe Hok Gie merupakan salah satu perintisnya di Fakultas Sastra. Sudah jadi tradisi pula jika calon anggota Mapala mesti “ditatar” terlebih dahulu sebelum resmi diterima sebagai anggota. Pada Desember 1969, Mapala melakukan pendakian ke Gunung Semeru, Jawa Timur. Dalam daftar rombongan, tercatat beberapa nama pentolan pencinta alam. Soe Hok Gie salah satu di antaranya. Saat itu, dia telah menjadi dosen muda di kampusnya. Selain itu, dia juga dikenal sebagai penulis, aktivis, dan tokoh pergerakan mahasiswa di zaman awal Orde Baru. Dalam kumpulan tulisan Soe Hok Gie Sekali Lagi, Rudy Badil mengenang waktu itu masih mahasiswa tingkat persiapan jurusan Antropologi Fakultas Sastra UI. Seingat Badil, Maman (ketua Mapala) dan Soe Hok Gie kemungkinan besar akan melantiknya dan diberi nomor anggota Mapala FS-UI kalau dirinya yang perilakunya dianggap pembangkang bisa perform lumayan. “Ingat, elo kami plonco di hutan gunung supaya lebih dewasa dan tidak ngotot dan melawan senior-senior, ya,” kira-kira begitu kata Soe Hok Gie sebagaimana dikisahkan Badil dalam artike “Antar Hok-Gie dan Idhan ke Atas”. Soe Hok Gie menasihati Badil supaya mengurangi sedikit perilaku hura-hura. Beberapa senior Mapala Fakultas Sastra kurang begitu menyukai Badil. Saat itu dia tergabung dalam Ikatan Mahasiswa Djakarta yang kerap diplesetkan Ikatan Mahasiswa Dansa yang katanya borjuis. Di sela-sela perjalanan, Soe Hok Gie pernah berujar, “Ingat Dil, elo harus punya kepribadian ya.” Wejangan Soe Hok Gie itu begitu membekas bagi Rudy Badil. Lelaki yang kemudian menjadi jurnalis itu tak menyangka jika pendakian itu menjadi kebersamaan terakhir mereka.*
- Siapa Sebenarnya Bangsa Indonesia?
Suatu hari, Truman Simanjuntak mengikuti seminar tentang Austronesia. Arkeolog senior yang banyak meneliti manusia prasejarah ini kemudian dirubung wartawan. Seorang wartawan mengajukan pertanyaan tak terduga: Siapa sebenarnya bangsa Indonesia? “Jawaban saya waktu itu rasanya kurang memuaskan. Ini lalu menjadi tantangan saya untuk menjawabnya,” kata Truman dalam bedah buku terbarunya, Manusia-Manusia dan Peradaban Indonesia yang diadakan Pusat Penelitian Arkeologi Nasional. Truman menilai arkeologi bisa menjawab pertanyaan itu. Ilmu ini bisa menggali masa lampau tanpa batas, selama ada interaksi manusia dengan lingkungan yang kemudian menyimpan data hingga kini. “Nilai-nilai yang tercermin itu kemudian menjadi pondasi masyarakat masa sekarang dan masa yang akan datang,” ujar Truman. Truman memerlukan waktu lima tahun untuk menyarikan semua temuannya menjadi jawaban pertanyaan wartawan itu. Ia tuangkan jawabannya dalam buku yang menjelaskan perjalanan Indonesia sejak dihuni manusia pertama hingga kini. Baca juga: Awal Kedatangan Manusia ke Nusantara Menurut Truman, ada empat kata yang mengantarkan Indonesia pada kondisi masa kini. “Ada proses migrasi, adaptasi, interaksi, kemudian berevolusi hingga pada Indonesia yang kita punyai kini,” katanya. Dari proses itu, kata Truman, Indonesia sarat dengan nilai-nilai dan capaian para leluhur. Misalnya, ada Homo erectus yang punya ide dalam menciptakan bentuk hiasan geometris pada cangkang kerang. Belum lagi gambar cadas tertua yang usianya puluhan ribu tahun, yang lawannya hanya ada di Spanyol. “Indonesia harusnya leading peradaban global,” tegas Truman. Ketika melakukan perjalanan ke pelosok Nusantara, Truman menemukan ilmu pengetahuan, kearifan lokal terutama dalam interaksi dengan lingkungan, keuletan, dan gotong royong. Inilah yang mestinya menjadi landasan dalam berbangsa dan bernegara. “Semua nilai itu dipres oleh para pendahulu kita menjadi Pancasila,” kata Truman.“Pancasila bukan begitu saja muncul pada sekitar kemerdekaan, perumusannya iya, tapi nilainya sudah ada jauh sejak ribuan tahun.” Kesadaran Multietnik Sementara itu, peneliti utama Balai Arkeologi Yogyakarta, Harry Widianto, mengungkapkan bahwa perjalanan evolusi Homo sapiens yang rumit menjadi awal terbentuknya populasi yang mendiami kepulauan Nusantara. Diaspora Sapiens atau manusia modern dimulai sejak pertama kali mereka keluar dari Afrika, kemudian menjangkau berbagai wilayah yang jauh, termasuk Indonesia. Setidaknya, sejak 70 ribu tahun lalu kepulauan Nusantara sudah disinggahi manusia modern awal. Ras Australomelanesid ini mendiami Indonesia bagian timur. Di antara mereka kemudian ada yang bermigrasi ke barat melalui Nusa Tenggara Barat dan Timur. “Perjalanan dimulai 40 ribu tahun lalu,” kata Harry. Jejak mereka kemudian bercampur dengan ras Mongoloid di wilayah NTT dan NTB. Ras Mongoloid inimengisi bagian barat, seperti Jawa, Kalimantan, dan Sumatra, juga Asia Tenggara. “Ini saudara kita datang dari utara menempati kepulauan Indonesia bagian barat,” kata Harry. “Manusia yang ketemu di NTT-NTB itu percampuran.” Baca juga: Leluhur Langsung Bangsa Indonesia dari Taiwan Menurut Harry, pengetahuan ini penting bagi kesadaran multietnik masyarakat Indonesia. Kendati berbeda secara fisik, tapi secara historis orang-orang di Indonesia bagian timur sangat dekat dengan masyarakat bagian barat. “Kita punya tiga warna, di timur, NTB-NTT, dan barat. Kita ini berangkai. Ini penting untuk memahami diversitas untuk kedamaian bangsa,” kata Harry. Arkeolog Universitas Gadjah Mada, Daud Aris Tanudirjo, mengamini kalau keberagaman Indonesia telah ditunjukkan oleh populasi awal yang mendiaminya. Selain yang sudah dibahas dalam buku Truman, Daud menjelaskan bahwa hasil penelitian genetika terbaru semakin menunjukkan itu, bahwa Australomelanesid yang cukup lama mendiami kepulauan Nusantara rupanya memiliki ciri yang berbeda-beda. “Kalau saya membaca deskripsi Australomelanesid (dalam buku karya Truman, red. ) yang cukup lama tinggal di Indonesia memberi kesan jenis manusia ini mempunyai ciri yang sama di daerah-daerah huniannya. Penelitian genetika akhir-akhir ini, Australomelanesid punya ciri beda,” kata Daud. Baca juga: Dua Rute Migrasi Leluhur Nusantara Di wilayah barat, ras Australomelanesid tak memiliki genetika Denisovan, yaitu manusia Neanderthal yang pernah hidup di Asia Timur dan Eropa Timur. Genetika ini hanya ditemukan pada ras Australomelanesid yang mendiami wilayah timur Indonesia. “Bagaimana mereka masih menyimpan gen itu sampai sekarang? Ini bukti keunikan kepulauan Indonesia. Pembahasan ini akan memperkaya soal keragaman tadi,” kata Daud. Bagi Daud, evolusi budaya tak selalu berjalan linier dan sama di semua tempat. Proses perubahannya multilinier, bahkan ke segala arah. “Daya serap budaya luar maupun kemampuan dan kebutuhan berinovasi beda-beda, bergantung pada komunitas yang menjalaninya,” ujar Daud. Baca juga: Leluhur Orang Papua Contohnya sikap orang Baduy yang tidak ingin menyerap modernitas. Padahal, mereka berada tak jauh dari hingar bingar Jakarta. Komunitas pengguna kubur megalitik di Gunung Kidul dan pendukung kubur kalang di Bojonegoro diyakini masih eksis ketika Kerajaan Mataram Hindu mendirikan candi-candi megahnya. “Seakan tersisih padahal mereka bagian dari kerajaan itu. Mereka tetap teguh pada prinsipnya. Saya kira ini hampir terjadi di setiap perjalanan budaya di segala zaman,” kata Daud. Ini yang kemudian memunculkan bercak-bercak budaya di negara kepulauan Indonesia. Ini pula yang akan menambah keyakinan akan adanya keragaman. “Di Indonesia tidak pernah ada yang mendominasi. Selalu terjadi percampuran persamaan kebersamaan,” ujar Daud. Karakter Luhur Manusia Indonesia Hidup di wilayah kepulauan Nusantara memunculkan karakter masyarakat yang khas. Menurut Daud, lingkungan kepulauan akan membentuk budaya yang jarang ditemukan di wilayah lain. “Saya berharap kajian adaptasi lingkungan kepulauan dibahas lebih banyak di buku ini, walaupun di dalam buku sudah disebut kekhasan kita adalah kepulauan,” kata Daud . Nilai luhur manusia Indonesia, lanjut Daud, berpangkal pada proses adaptasi terhadap lingkungan kepulauan. Karenanya orang Indonesia lebih mengenal sebutan tanah air ketimbang mother land atau father land. Baca juga: Bukti Leluhur Austronesia Tertua di Taiwan dan Cina Selatan Ini yang menjadi ciri budaya Nusantara, bahwa masyarakatnya sangat menghargai perpaduan tanah dan air sebagai sumber kehidupan. “Makanya pasti ada inovasi yang muncul dalam lingkungan yang khas ini,” ujar Daud. Tinggal di lingkungan kepulauan juga memunculkan sifat keterbukaan. Para leluhur bangsa Indonesia terbiasa bertualang, singgah ke berbagai tempat, bertemu ragam manusia dan budaya yang berbeda. “Mereka selalu bertemu manusia dan hal baru di lingkungan yang baru. Jadi tidak mungkin jadi orang tertutup,” ujar Daud. Baca juga: Indonesia Penutur Austronesia Terbesar Kebiasaan bertualang mencari hal baru itu menumbuhkan kepercayaanpada kekuatan di luar dirinya. Misalnya, ketidakpastian di laut menyebabkan mereka lebih religius. “Mengapa Pancasila, sila pertama berbunyi Ketuhanan Yang Maha Esa?” tanya Daud. “Akarnya adalah perjalanan panjang para penghuni kepulauan yang penuh bahaya, lebih berisiko daripada kalau di daratan.” Sifat tak kenal menyerah untuk menemukan hal baru juga menjadi karakter orang kepulauan. Ini muncul dari tradisi leluhur untuk mengkoloni daerah baru, menjelajah dari satu pulau ke pulau lainnya. Baca juga: Manusia Indonesia adalah Campuran Beragam Genetika Peribahasa seperti bersakit-sakit dahulu, bersenang-senang kemudian, menurut Daud, juga mencerminkan jiwa para penutur Austronesia. “Tradisi mereka berlayar menentang angin dulu, susah dulu, tapi kalau tak menemukan tempat baru, mereka hanya akan kembali mengikuti arusnya, kembali pulang,” lanjut Daud. Daud menilai Truman telah menginisiasi upaya untuk tak hanya bercerita tentang masa lalu lewat data arkeologi. Tapi karya terbarunya ini telah merumuskan lebih jauh bagaimana nilai luhur yang berasal dari masa prasejarah ditransmisikan ke masa kini. Termasuk, bagaimana ciri keindonesiaan yang bineka tunggal ika terbentuk. “Pesan seperti itu jarang kita temui dalam buku arkeologi,” kata Daud.“Ini memberikan contoh kerja arkeologi yang bermanfaat lebih nyata, di mana kita bisa ikut membentuk kebangsaan kita.”
- The Old Guard, Misteri Ksatria Abadi dalam Lorong Sejarah
SEJAK awal, Andy (diperankan Charlize Theron) sudah punya perasaan tak enak. Ia ingin menolak karena pantang bagi kelompok mereka menerima misi dua kali dari orang yang sama. Namun Booker (Matthias Schoenaerts) meyakininya bahwa misi yang mereka terima betul-betul hanya mereka yang bisa menjalaninya. Misi itu datang dari mantan agen CIA James Copley (Chiwetel Ejiofor). Copley meminta bantuan Andy cs. untuk menyelamatkan sejumlah gadis yang disekap kelompok teroris di Sudan Selatan. Lantaran terenyuh mengetahui detail misi itu, Andy akhirnya setuju. Dua sisa rekannya, Nicky (Luca Marinelli) dan Joe (Marwan Kenzari), pun turut diterbangkan dari Maroko ke Sudan, lokasi misi. Namun di lokasi, alih-alih para korban penyekapan yang mereka temui, mereka malah bertemu sekelompok orang bersenjata yang menjebak. Seketika kuartet Andy-Booker-Nicky-Joe tumbang setelah bertubi-tubi diteembus timah panas. Tanpa dinyana, keempatnya bangkit. Mereka hidup lagi. Belasan kelompok tak dikenal itu pun jadi sasaran amuk. Copley pun jadi target balas dendam Andy dkk. Adegan dahsyat itu jadi pembuka film laga bertajuk The Old Guard. Film garapan Gina Prince-Bythewood dengan action yang penuh greget ini diadaptasi dari komik dengan judul serupa karangan Greg Rucka. Sang penulis komiknya juga terlibat dalam film sebagai penulis naskah. Alur maju-mundur yang diterapkan Prince-Bythewood seolah ingin membuat penonton mudah menikmati film dengan pengungkapan sejarah di balik keempat pahlawan super tanpa jubah itu. Andy alias Andromache of Scythia jadi yang tertua sekaligus pemimpin di kuartet pembunuh bayaran itu. Disebutkan, usianya sudah lebih dari enam ribu tahun. Nicky atau Nicolò dari Genoa dan Joe alias Yusuf al-Kaysani berasal dari era Perang Salib I. Mereka berasal dari dua pasukan bermusuhan namun akhirnya berteman dan bahkan saling mencintai sebagai sesama jenis. Lantas ada Booker atau Sebastian Le Livre yang berasal dari abad ke-19. Ia dulunya salah satu prajurit di pasukan Kaisar Prancis Napoléon Bonaparte yang turut dalam kampanye menaklukkan Rusia pada 1812. Dalam perjalanan memburu Copley, keempatnya mendapat tambahan kombatan. Yakni, Nile Freeman (KiKi Layne) yang prajurit marinir perempuan Amerika yang bertempur di Afghanistan. Yang menarik, kekuatan mereka tak serupa superhero kebanyakan. Mereka tak bisa terbang. Tak pula sanggup menahan peluru dengan biji mata bak Superman. Namun, seperti yang dikisahkan di intro The Old Guard , mereka tak bisa mati. Jika memang belum “waktunya”, mereka takkan mati. Walau ditembus peluru atau ditebas benda tajam pun, mereka akan hidup lagi. Mirip superhero Hancock atau Deadpool, kira-kira. Pertanyaannya, siapa mereka? “Mengapa mereka bisa terlahir seperti itu” jadi pertanyaan besar bagi keempatnya yang oleh Andy pun belum bisa dimengerti. Jawabannya akan mereka temukan seiring berjalannya di film. Oleh karenanya, saksikan saja sendiri. Aksi-aksi kerennya bisa disaksikan via daring di Netflix sejak film ini rilis pada 10 Juli 2020. Nile Freeman, anggota termuda dalam kumpulan kombatan "The Old Guard". ( skydance.com ). Mitos Perempuan Pejuang Untuk menunjang adegan-adegan laganya dengan tone gelap, The Old Guard memadukan music scoring klasik dan modern garapan komposer Volker Bertelmann dan Dustin O’Halloran. Kombinasinya kian meningkatkan sensasi yang bisa menghanyutkan perasaan penonton, utamanya dalam scene masa lalu sosok Andromache (Andy). Siapa sebenarnya Andromache? Bertolak dari mana Rucka dan ilustrator Leandro Fernández melahirkan karakternya? “(Komik) The Old Guard (bertolak, red .) dari ide tentang cerita-cerita hantu terkait prajurit yang tak bisa mati. Cerita-cerita itu ada di hampir semua budaya militer. Beberapa unsur mitologi juga muncul dalam ide itu, di mana ada seorang wanita yang secara usia sangat tua namun dia tak bisa mati dan menjadi pejuang yang berbahaya di dunia karena dia punya pengalaman bertempur selama tujuh ribu tahun,” tutur Rucka kepada Esquire , 12 Juli 2020. Rucka juga mengemukakan, alur kisahnya tentang ambisi seorang hartawan dan pemilik kerajaan teknologi. Dari masa ke masa orang-orang semacam itu, yang digambarkan Rucka dalam sosok antagonis Steven Merrick, selalu berhasrat untuk mencari rahasia untuk hidup abadi demi menikmati kekayaannya. “Saya cukup yakin bahaw pertamakali Homo sapiens mengetahui kematian, artinya segala urusan orang itu sudah berakhir. Pemikiran berikutnya adalah, apa yang terjadi jika mereka tidak mati? Kita, manusia, memimpikan keabadian sejak mengetahui apa itu kematian,” lanjutnya. “Kita hidup di era di mana kita hidup tidak sehat tapi ingin hidup lebih lama. Teknologi kemudian terlibat, dan bukan rahasia lagi beberapa konglomerat di planet ini mungkin sedang mencari cara untuk hidup selamanya. Kematian memang menakutkan tapi itulah siklus alam. Jika kita bisa hidup selamanya, muncul pertanyaan siapa yang berhak hidup abadi? Apakah kaum kaya? Karena jika itu terjadi, dia hanya akan bertambah kaya,” sambungnya. Lukisan Andromache tengah meratapi kematian suaminya, Hector, karya Jacques-Louis David tahun 1783. (Louvre Museum). Rucka turut terinspirasi dari mitologi Yunani dalam menciptakan karakter utama Andromache. Dalam mitologi Yunani, setidaknya ada dua perempuan yang menyandang nama itu ribuan tahun silam, sebelum Masehi. Pertama adalah Andromache dari Troya. Ia adalah istri Hector, putra mahkota Kerajaan Troya, yang tewas dalam duel kontra petarung Yunani Achilles di Perang Troya (antara 1260-1180 SM). “Setelah Hector tewas, Troya direbut pasukan Yunani dan Astyanax, putra Andromache dan Hector dibunuh dengan dilemparkan dari tembok kota. Andromache kemudian dijadikan selir Neoptolemus, putra Achilles. Karakter Andromache merepresentasikan penderitaan para perempuan Troya selama dan setelah perang,” ungkap Luke dan Monica Roman dalam Encyclopedia of Greek and Roman Mythology. Selain kebajikannya, Andromache dikenal karena kesetiaannya. Meski kemudian menikahi Helenus, adik Hector pasca-kematian Neoptolemus, Andromache yang sudah menjadi Ratu Epirus membangun banyak monumen Hector. Di monumen Hector, setiap hari Andromache datang membawa persembahan sembari meratap hingga Andromache meninggal karena usia yang sudah renta. Karakter setia dan penuh lara Andromache di masa lalunya digambarkan Rucka dalam komik The Old Guard sebagai Andy yang juga punya kepedihan masa lalu. Andy hidup abadi namun kerap meratapi kekasihnya, Lykon, yang lebih dulu meninggal. Andromache kedua dalam mitologi Yunani yakni, ksatria perempuan Amazon. Rucka menjadikannya sebagai inspirasi untuk mendeskripsikan ketangkasan dan keperkasaan Andy dalam bertarung. Amazon yang dimaksud tentu bukan yang di Brasil, melainkan nama suku yang dalam mitologi Yunani berasal dari Asia Minor (Semenanjung Anatolia, Turki). Kisah Andromache asal Amazon ini tergambar dalam lukisan karya Timiades yang menghiasi sebuah bejana Thyrrenian kuno dari tahun 570 SM. Lukisan tersebut mengisahkan Perang Attic yang mempertemukan Andromache melawan Herakles alias Hercules, putra Dewa Zeus. “Lukisan di bejana itu menggambarkan Herakles tengah menggenggam tangan Andromache saat sang ksatria perempuan itu ingin menghindar. Dikisahkan walau bertarung dengan sengit, Andromache dikalahkan Herakles, walau dalam bejana itu digambarkan juga perempuan Amazon lainnya, Panariste, mengalahkan petarung Yunani lainnya,” tulis Emma Stafford dalam Herakles. Lukisan duel antara Andromache vs Herakles dalam bejana dari era 570 SM-560 SM (kiri) & penggambaran Andromache dalam film. (Perseus Digital Library/ netflix.com ). Sementara, soal “Scythia” di belakang nama Andy dalam The Old Guard merujuk pada suku bangsa nomaden asal Siberia Selatan di era sekitar abad ke-11 SM hingga abad ke-2 M. Seperti halnya bangsa Mongol, orang Scythia juga merupakan bangsa petarung yang biasa bertualang dari Siberia ke Stepa Eurasia hingga Pegunungan Carpathia. Dari mitos-mitos dan dongeng masa kuno itulah Rucka menciptakan latarbelakang Andy ketika merampungkan komik The Old Guard jilid pertamanya pada 2017. “Latar belakang Andy berakar jauh dalam sejarah, berdasarkan kisah-kisah petarung perempuan Amazon. Para petarung ini bermunculan dari wilayah Kaukasus dan mengembara ke mana-mana dari ujung utara Eropa hingga Mediterania, bahkan hingga Afrika Utara,” tandas Rucka. Namun, inti kisah The Old Guard bukanlah soal rahasia bisa hidup abadi, melainkan bagaimana kelima ksatria “abadi” itu bisa jadi kunci atas keseimbangan atas apa yang terjadi di dunia dari zaman ke zaman. Rucka menguraikannya lewat karakter Copley yang memantau aksi-aksi Andi cs. Setiap anak yang diselamatkan Andy cs. dalam peristiwa-peristiwa bersejarah terdahulu, ternyata jadi “juru selamat” bagi dunia. Mereka menjadi mesias melalui beragam cara, entah ketika dewasa menjadi dokter, penemu vaksin, ataupun relawan kemanusiaan yang menyelamatkan banyak nyawa. Data film Judul: The Old Guard | Sutradara: Gina Prince-Bythewood | Produser: Charlize Theron, David Ellison, Dana Goldberg, Don Granger, AJ Dix, Beth Kono, Marc Evans| Pemain: Charlize Theron, KiKi Layne, Marwan Kenzari, Luca Marinelli, Matthias Schoenaerts, Chiwetel Ejiofor, Harry Melling, Veronica Ngo | Produksi: Skydance Media, Denver and Delilah Productions, Marc Evans Productions | Durasi: 125 Menit | Rilis: 10 Juli 2020 (Netflix).
- Djatikusumo Bungkam Panglima RAF
Pada suatu hari di tahun 1958, Kolonel Djatikusumo dipanggil Presiden Sukarno ke Istana Merdeka. Oleh presiden, mantan KSAD itu diberi tugas yang di luar bidang profesinya. “Heh, Djati. Kamu mau saya jadikan Konjen di Singapura!” kata Sukarno. “Pekerjaan Konjen itu apa sih, Bung?” jawab Djati. “Tidak tahu!” “Lalu suruh apa?” “Tahu sendiri!” Itulah dialog Djati dengan presiden di Istana yang dituliskan Solichin Salam dalam biografi berjudul GPH Djatikusumo: Prajurit-Pejuang dari Kraton Surakarta . Djati akhirnya memenuhi permintaan tersebut. Dia menjabat sebagai konsul jenderal di Singapura merangkap konsul di Sarawak, Brunei dan Tawao dari 1958 sampai 1959. Selama masa jabatannya, Djati memainkan peran penting. Antara lain, sebagaimana yang dikatakan KSAD Nasution, membantu Lee Kuan Yew dalam memenangkan pemilihan umum. Bantuan itulah yang membuatnya dekat dengan Lee. Saking dekatnya, Djati sampai pernah mengadukan soal dijadikannya Singapura sebagai tempat penjualan senjata yang digunakan untuk kombatan PRRI dan itu merugikan Indonesia. “Singapura, ternyata dijadikan tempat penjualan senjata kalangan Barat untuk mensuplai senjata kepada gerakan separatis itu. Kepada Letjen Djatikusumo, konsul jenderal Indonesia di Singapura, Lee Kuan Yew mengatakan, bahwa kalau ia nanti berkuasa, para pedagang senjata ( arms dealers ) itu akan dikeluarkan dari Singapura,” tulis Sulastomo dalam Lengser Keprabon . Soal dijadikannya Singapura sebagai tempat penjualan senjata itu bahkan dipermasalahkan Djati sejak awal. Dia mengemukakannya kepada Mr. David, sekretaris Gubernur Singapura William A.C Goode, saat menyerahkan exequatur (surat resmi dari pemerintah Indonesia untuk meminta izin memulai tugas di negeri bersangkutan). Dalam pertemuan tersebut, David menanyakan Djati apa permasalahan Singapura-Indonesia yang bisa diselesaikan saat itu. Pertanyaan itu menjadi kesempatan buat Djati untuk mengutarakan kedongkolannya. “Itu ada penyelundup-penyelundup mbok ditindak. Itu ada teman-teman pemberontak, mbok itu jangan dikasih visa,” kata Djati menjawab pertanyaan David, dikutip Solichin. “Di sini tidak ada penyelundup, yang ada pedagang,” kata David. “Saya mengerti, orang Indonesia yang sudah meninggalkan perairan wilayah indonesia, di Singapura itu sudah orang dagang. Saya tahu, kembalinya mereka membawa senjata. Apa ini tidak bisa ditindak?” Permintaan Djati ditolak David lantaran pada prinsipnya Singapura tidak bisa menindak seseorang bila tidak melakukan sesuatu yang melanggar undang-undang. Singapura tak peduli bila orang itu melanggar aturan hukum di negeri asalnya. Pernyataan itu membuat Djati mencari akal. “Bolehkah saya ambil tindakan di wilayah Indonesia sendiri?” tanyanya. “Yah, itu hak Saudara,” jawab David. Jawaban David menjadi acuan Djati untuk mengambil tindakan terhadap pesawat-pesawat RAF yang digunakan untuk mendrop senjata ke kombatan PRRI. “Maka ia pun kirim surat kepada KSAD AH Nasution dan KSAU Suryadarma dengan permintaan, coba pasang mitraliyur ukuran 12,7 di pulau depan Singapura. Dengan pesan, kalau ada pesawat RAF terbang rendah, tembak! Tapi jangan sampai kena. Kalau kena, repot. Hanya sebagai peringatan saja, bahwa mereka telah melanggar wilayah Indonesia,” tulis Solichin. Tiga hari setelah mengirim surat kepada KSAD dan KSAU, Djati mendengar suara tembakan dari rumahnya ketika sedang makan siang. Saat kembali ke kantornya, dia mendapat telepon dari David dan diminta datang karena ada hal serius yang mesti dibicarakan. Djati pun menyanggupinya. David menginformasikan, dia ditelepon panglima RAF (AU Inggris) di Singapura Marsekal Udara Earl of Bandon dan diberitahu pesawat-pesawatnya ditembaki serdadu-serdadu Indonesia. David meminta Djati menanganinya karena RAF merupakan organisasi militer resmi, bukan gerombolan atau milisi. Mendengar keterangan David, Djati dengan enteng memberi jawaban. “Ya, memang begitu,” kata Djati yang membuat David bingung dan kesal. David pun kembali melontarkan pertanyaan mengapa bisa begitu tindakan yang diambil Indonesia. “Katanya kemarin saya boleh ambil tindakan di rumah saya sendiri. Dan sekarang ada pesawat terbang asing terbang rendah di wilayah kita, kita suruh tembak. Itu kan hak kita,” Djati menjawab. David yang kesal lalu menjelaskan bahwa pesawat RAF diizinkan terbang rendah di wilayah Indonesia sejak masa Hindia Belanda. Penjelasan itu menjadi blunder buatnya karena Djati langsung menjawab bahwa sepengetahuannya tidak ada perjanjian antara pemerintah Indonesia dan Inggris terkait izin terbang rendah pesawat RAF di wilayah Indonesia. Kegagalan David mengatasi masalah tersebut membuat panglima RAF di Singapura turun tangan menyelesaikannya. Dia mengundang Djati makan malam hari itu juga dan dipenuhi Djati. Pertanyaan kenapa pesawat-pesawat RAF ditembaki personil APRI langsung dikeluarkan tuan rumah. Djati menceritakan obrolannya dengan David siangnya, sebagai jawaban terhadap pertanyaan Bandon. Penjelasan Djati membuat panglima RAF itu menjadi paham. “Orang-orang sipil itu tidak mengerti apa-apa. Nanti saya urus. Tapi besok pagi, pesawat saya jangan ditembaki lagi!” ujar Bandon. Djati pun menyanggupi permintaan Bandon. Sejak keesokan harinya, tak ada lagi penembakan terhadap pesawat-pesawat RAF. Sebaliknya, penyelundupan senjata menggunakan pesawat-pesawat RAF juga tak ada lagi sejak itu.
- Kala Khalifah Umar jadi Korban Penusukan
PEMUKA agama Syekh Ali Jaber diserang seorang pemuda kala menghadiri pengajian dan wisuda Tahfidz Alquran di Masjid Falahudin, Bandar Lampung, Minggu (13/9/2020) sore. Syekh Ali Jaber ditusuk sebilah pisau oleh pemuda tak dikenal saat berbincang dengan dua jamaahnya di acara tersebut. Nyawanya masih utuh lantaran pisau pelaku terbenam di bahu sang ulama, bukan di bagian tubuh yang vital. Dengan demikian, penusukan Syekh Ali Jaber tak seperti yang dialami Khalifah bin al-Khattab 13 abad sebelumnya. Umar ditusuk berkali-kali pada 23 Dzulhijjah 23 Hijriah (6 Oktober 644 M) ketika tengah mendirikan shalat. Kisah Islam di bawah Kekhalifahan Umar, disebutkan Peter Crawford dalam The War of the Three Gods: Romans, Persians, and the Rise of Islam , adalah cerita permulaan kejayaan Islam. Di bawah Kekhalifahan Umarlah ajaran Islam menyebar ke luar Jazirah Arab. Utamanya ke barat dengan menaklukkan Romawi Timur dan ke timur lewat penaklukkan Persia. “Di bawah (Kekhalifahan) Umar ajaran itu menyebar ke hampir semua penjuru mata angin. Beliau juga bertanggungjawab atas kuatnya organisasi pemerintahan yang membuat kekhalifahan bisa mengonsolidasikan kekuasaannya di wilayah-wilayah baru yang telah ditaklukkan,” tulis Crawford. Wilayah-wilayah taklukan Umar di sepanjang Suriah, Palestina, Mesopotamia, dan Persia lalu dibagi menjadi provinsi. Tiap provinsi yang dikepalai gubernur pilihan Umar memiliki hierarki kepemimpinan masing-masing untuk menegakkan hukum dan keadilan, serta mengumpulkan pajak-pajak. “Di masa Umar pula pada tahun 639 ditetapkan penanggalan Islam dimulai dari peristiwa Hijrah, peristiwa kala Nabi Muhammad pindah dari Mekkah ke Madinah,” sambungnya. Upaya Pembunuhan Khalifah Umar Kendati Umar berusaha memerintah dengan seadil-adilnya menurut syariat Islam, tak semua orang senang terhadapnya. Terutama, orang-orang dari negeri yang ditaklukkan, semisal Persia. Piruz Nahavandi alias Abu Lu’lu’ah salah satunya. Dalam History of the Caliphs karya Rasul Ja’fariyan disebutkan, Abu Lu’lu’ah adalah pelaku tunggal pembunuhan terhadap Khalifah Umar. Motifnya adalah kejengkelan Abu Lu’lu’ah karena merasa ‘curhatnya’ terhadap Khalifah Umar terkait pajak yang membebaninya sebagai budak dari Al-Mughirah bin Syu’bah, Duta Besar Kekhalifahan untuk Persia, tidak mendapat jawaban yang memuaskannya. “Mulanya Umar tak mengizinkan orang non-Arab untuk masuk Madinah. Namun Mughira bersurat kepada Umar yang mengatakan bahwa ia punya budak yang juga seorang pelukis, pandai besi, dan tukang kayu handal dan akan berfaedah bagi rakyat di Madinah. Umar pun setuju Mughirah membawa Abu Lu’lu’ah ke Madinah,” tulis Ja’fariyan. Baca juga: Suatu Hari Khalifah Umar di Yerussalem Tetapi ketika bertemu Umar, Abu Lu’lu’ah komplain. Ia merasa terbebani dengan pajak dua dirham per hari yang mesti dibayarkannya sebagai budak kepada tuannya, Mughirah. Umar, sambung Ja’fariyan, lalu menjawab. “‘Apa pekerjaanmu?’ Abu Lu’lu’ah menjelaskan dia seniman, pandai besi, dan tukang kayu. ‘Mengingat pekerjaanmu, pajakmu tidaklah berat.’ Umar sejatinya berniat untuk membicarakannya pula kepada Mughirah. Namun Abu Lu’lu’ah sudah terlebih dulu memendam kedengkian.” Beberapa hari kemudian, Umar meminta Abu Lu’lu’ah membuatkannya kincir angin. Permintaan itu dijawab Abu Lu’lu’ah dengan mengatakan, dia akan membuatkan kincir angin yang akan dibicarakan semua orang di dunia. “Umar sebenarnya sudah mencium ancaman dari kata-kata itu, tetapi memilih untuk diam,” tambah Ja’fariyan. Penggambaran konspirasi membunuh Khalifah Umar berdasarkan kesaksian Abdul Rahman Abu Bakar (Foto: Tarikhuna bi-uslub qasasi) Abu Lu’lu’ah yang murka lalu mulai merencanakan untuk membunuh Umar dengan belati bermata dua yang ia buat sendiri dan ia lumuri dengan bisa ular. Pada 23 Dzulhijjah 23 H (31 Oktober 644 M), Abu Lu’lu’ah membulatkan tekadnya untuk menikam Umar saat memimpin shalat Subuh di Masjid Nabawi. “Abu Lu’lu’ah ikut salat persis di belakang Umar. Seperti biasa, setelah iqamah dilantunkan, Umar menasihati para makmum, ‘Luruskanlah barisan kalian!’ Saat Umar melakukan takbiratul ihram, Abu Lu’lu’ah menikam pundak Umar dari arah belakang dan merobek perutnya dengan belati bermata dua. Umar pun terjatuh,” tulis Prof. Dr. Ali Muhammad ash-Shallabi dalam Biografi Umar bin Al-Khathab. Abu Lu’lu’ah total menghujamkan senjata tajamnya enam kali ke tubuh Umar. Salah satunya ke arah pusar yang mengakibatkan luka fatal. Sembari berusaha kabur, Abu Lu’lu’ah menyempatkan membunuh 15 makmum, 12 makmum lain terluka. Abu Lu’lu’ah akhirnya terpojok di satu sudut di luar masjid. Enggan ditangkap dan diadili, dia memilih bunuh diri. Baca juga: Hagia Sophia dan Keteladanan Khalifah Umar Umar yang terluka lalu dirawat. Dalam sakitnya, ia masih mengeluarkan perintah agar digelar musyawarah di antara para sahabat nabi demi menentukan penggantinya. Sementara musyawarah masih digelar, Umar memberi mandat kepada Suhayb ar-Rumi sebagai khalifah sementara. Suhayb akan memimpin hingga putusan hasil musyawarah terkait siapa khalifah dikeluarkan. Umar juga melarang Said bin Zaid, sepupu sekaligus adik iparnya, ikut dalam musyawarah. Larangan itu terkait kebijakan Umar menolak penunjukan sosok pengganti pemimpin Islam yang masih punya hubungan darah, tak peduli meski orang itu punya kualifikasi yang laik. Tiga hari menjalani perawatan, Umar akhirnya wafat pada 26 Dzulhijjah 23 H (3 November 644 M). Sesuai wasiatnya, jenazahnya dikebumikan dekat Masjid Nabawi, berdekatan dengan makam Rasulullah SAW dan Khalifah Abu Bakar. Umar Korban Konspirasi? Penusukan Umar membuat putra bungsunya, Ubaidullah bin Umar, tak terima. Ia bikin perhitungan, ingin menghabisi semua orang Persia di Madinah. Hurmuzan, orang Persia yang jadi mualaf, jadi target pertama Ubaidullah. Target berikutnya adalah Jafinah (di beberapa sumber disebut Jufaina), orang Nasrani kawan Hurmuzan, dan seorang putri Abu Lu’lu’ah. Ubaidullah menyasarkan pembalasannya terhadap Hurmuzan bukan tanpa alasan. Disebutkan Tayeb el-Hibri dalam Parable and Politics in Early Islamic History , kesaksian Abdul Rahman bin Abu Bakar memunculkan kecurigaan besar bahwa Hurmuzan terlibat dalam konspirasi pembunuhan terhadap Umar yang dilakoni Abu Lu’Lu’ah. “Abdul Rahman dalam pernyataannya mengaku melihat pertemuan pada malam sebelum pembunuhan antara Hurmuzan, Abu Lu’lu’ah, dan Jafinah. Dikatakan bahwa dalam pertemuan itu, Hurmuzan tampak memeriksa belati bermata dua yang identik dengan yang dipakai pelaku untuk menusuk Umar. Saat memeriksanya, Hurmuzan menjatuhkan belatinya hingga kemudian ia sadar telah dipantau banyak orang,” tulis El-Hibri. Baca juga: Pesan Terakhir Nabi Rumor konspirasi itu, lanjut El Hibri, meluaskan kecurigaan lebih besar terhadap konspirasi orang-orang Persia di Madinah dan menciptakan pertikaian antara orang-orang Arab dan para mualaf non-Arab. Kecurigaan merujuk kepada para simpatisan Ali bin Abi Thalib, sepupu sekaligus menantu Nabi Muhammad SAW. Hurmuzan salah satu yang dicurigai. Hurmuzan seperti disebut oleh Mughirah sebelum status budak Abu Lu’lu’ah dialihkan kepadanya pasca-Persia takluk, merupakan gubernur Khuzestan, provinsi milik Kekaisaran Sasaniah yang menguasai Persia. Hurmuzan kemudian ditangkap dan ditawan pasca-Pertempuran Al-Qadisiyyah (636 M). “Hurmuzan sering berdebat dengan Umar tak hanya mengatasnamakan orang-orang Persia di Madinah, namun juga mengatasnamakan Ali. Hurmuzan sering membanding-bandingkan kebijakan Umar dengan Ali di antara kaum Anshar,” lanjutnya. Deskripsi Pertempuran Siffrin, salah satu pertempuran terbesar dalam Perang Saudara I (Foto: Smithsonian Institution) Fakta itu ditambah kesaksian Abdul Rahman membuat Ubaidullah membunuh Hurmuzan. Amuk Ubaidullah baru reda setelah dinasihati Gubernur Mesir Amr bin al-Ash. Umar yang sempat mendengar hal itu menjelang ajalnya, memerintahkan putra bungsunya itu dijebloskan ke penjara. Namun, perintah itu tak dilaksanakan Utsman bin Affan yang terpilih menjadi khalifah empat hari pasca-Umar wafat. Utsman pula yang menyarankan Ubaidullah pindah dari Madinah ke Kufa untuk menghindari utang “nyawa dibayar nyawa” akibat membunuh Hurmuzan, saat terjadi peralihan kekuasaan ke Khalifah Ali (656 M). Ubaidullah lalu terbunuh di hari kedua Pertempuran Siffin (26-28 Juli 657 M) sebagai bagian dari Perang Saudara I. Baca juga: Paman Rasulullah dan Masjidnya di China
- Pendiri Bangsa Cerita tentang Sepeda
Semangat bersepeda menjalar ke kota-kota besar di Indonesia selama pandemi Covid-19. Permintaan sepeda melonjak. Pabrik sepeda kewalahan menyediakan sepeda. Rakyat jelata, selebritas, politikus, dan tokoh masyarakat gemar berfoto dengan sepeda dan mengunggah ke media sosial. Bersepeda memang menyenangkan. Para pendiri bangsa pun punya cerita tentang sepeda. Mulai dari Sukarno. Dia pernah gandrung dengan sepeda. Saat itu dia masih menjadi siswa HBS (setingkat sekolah menengah atas) di Surabaya pada akhir tahun 1910-an. Jarak rumah kosnya dengan sekolah sekira satu kilometer. Dia pergi ke sekolah dengan berjalan kaki atau membonceng sepeda temannya. “Setiap anak mepunyai sepeda. Aku sendiri yang tidak,” kata Sukarno kepada Cindy Adams dalam Bung Karno Penyambung Lidah Rakyat Indonesia. Sukarno kepingin juga punya sepeda seperti teman-temannya. Tapi uang di kantongnya tak cukup. Maka dia mulai menabung hari demi hari. Akhirnya dia berhasil membeli sepeda seharga delapan rupiah. “Kubeli fongers yang hitam mengkilat, sepeda keluaran Negeri Belanda,” lanjut Sukarno. Dia bangga sekali dengan sepedanya. Baca juga: Budaya Sepeda Orang Indonesia Fongers salah satu sepeda sohor masa Hindia Belanda. Sepeda buatan Belanda lainnya berjenama Batavus, Sparta, dan Gazelle. Sepeda dari Inggris juga ada. Antara lain Raleigh, Humber, dan Phillips. Secara kualitas, semuanya hampir mirip. Harganya tak beda jauh. Sangat mahal bagi kebanyakan orang. “Hampir sama dengan 1 ons emas. Oleh karena itu, masyarakat biasa hanya mampu membeli sepeda bekas atau menunggu harga sepeda turun,” sebut Hermanu dalam Seri Lawasan Piet Onthel . Dari semua merk tadi, Fongers memegang penjualan terbaik di Hindia Belanda. “Sangat digandrungi orang setelah sepeda merk Raleigh keluaran Inggris,” ungkap Hasyim Ning dalam Pasang Surut Pengusaha Pejuang . Baca juga: Aturan Bersepeda pada Masa Lampau Sukarno merawat sepeda Fongers hasil menabung itu sepenuh hati. Dia merawatnya bagai seorang ibu menyayangi anaknya. “Ia ku gosok-gosok. Ku pegang-pegang. Ku belai-belai,” kata Sukarno. Karena itu, Fongers miliknya selalu tampak kinclong dan memikat orang sekitar. Salah satunya Harsono, anak H.O.S. Tjokroaminoto, pemilik rumah kos. Harsono berusia 7 tahun, 10 tahun lebih muda dari Sukarno. Dia menggunakan Fongers diam-diam. Tapi nahas, dia kurang mahir bersepeda sehingga menabrak pohon. Fongers itu pun rusak. Sukarno marah besar mengetahui sepeda kesayangannya rusak parah. Sukarno menyepak pantat Harsono sampai membuatnya menangis. Tapi setelah itu, Sukarno justru merasa bersalah. Dia menabung lagi dan membelikan sepeda jenama lain seharga 8 rupiah untuk Harsono. Sepeda pertama milik Mohammad Hatta dipajang di Museum Kelahiran Bung Hatta. ( indonesiakaya.com ). Mohammad Hatta Tokoh penggemar sepeda lainnya ialah Mohammad Hatta. Dia gemar bersepeda sejak kecil. Sebuah foto dalam otobiografinya, Memoir , menampilkan Hatta ketika berusia 7 tahun memegang sepeda dengan diapit dua orang penunggang kerbau di kanan dan kirinya. Semasa bersekolah di Jakarta, Hatta kerap pergi kesana-kemari dengan sepeda. Padahal dia pemuda rantau. Kebanyakan pemuda rantau susah memperoleh sepeda. Uang mereka habis untuk kebutuhan hidup sehari-hari. Ditambah pula harga sepeda mahal untuk ukuran mereka. Tapi Hatta cukup beruntung. “Di Jakarta Hatta banyak mempunyai kaum keluarga yang menyayangi dan membantunya. Oleh karena itu tidak heran kalau ia mempunyai sepeda yang merupakan kendaraan yang penting dan terhormat waktu itu,” tulis Bahder Djohan dalam Bahder Djohan Pengabdi Kemanusiaan. Baca juga: Sejarah Lajur Khusus Sepeda di Indonesia Bahder Djohan adalah anak rantau dari Sumatra sekaligus pelajar Stovia (Sekolah Dokter Bumiputra). Dia sahabatan dengan Hatta di Jakarta. Mereka sering pergi menghabiskan waktu bersama-sama. Setelah mengantarnya pulang, Hatta pulang ke rumah dengan menggunakan sepeda. Kebiasaan Hatta bersepeda masih bertahan ketika dia sudah menjadi wakil presiden. “Di Yogya dan di Jakarta tiap pagi setelah sembahyang subuh, Bung Hatta berkeliling kota naik sepeda, sambil melihat keadaan kota dan untuk sport ,” beber Yus Sudarso dalam Pribadi Manusia Hatta: Hatta dan Sumpahnya . Haji Agus Salim Selain Sukarno dan Hatta, Haji Agus Salim juga punya cerita menarik yang berhubungan dengan fungsi dan hakikat sepeda. Dia adalah mentor bagi banyak pemuda pada masa pergerakan nasional seperti Mohamad Roem dan Kasman Singodimedjo. Suatu hari pada masa pergerakan nasional, Haji Agus Salim mendapat kunjungan dari para pemuda. Beberapa di antaranya menggunakan sepeda. Rumah Haji Agus Salim terletak di Tanah Tinggi, Batavia. Bila hujan tiba, tanah itu lembek dan debel (tanah lengket habis hujan). Itu membuat ban sepeda tak bisa berputar. Sehingga, Kasman Singodimedjo harus membopong sepedanyahingga ke hadapan Haji Agus Salim. Baca juga: Soeharto dan Sepeda Turangga “Saya ditunggangi sepeda,” kata Kasman seperti diceritakan kepada Mohamad Roem dalam “Memimpin Adalah Menderita: Kesaksian Haji Agus Salim”, termuat di Manusia dalam Kemelut Sejarah. Beberapa hari kemudian, Kasman dan kawan-kawannya datang bertamu lagi ke rumah Haji Agus Salim. Kali ini tanahnya kering. Dia bersepeda seperti biasa dan mudah melewati tanah tersebut hingga ke rumah Haji Agus Salim. Menyambut kedatangan mereka, Haji Agus Salim berkata, “Hari ini Anda datang secara biasa. Kemarin peranan sepeda dan manusia terbalik.” Cerita Haji Agus Salim masih relevan pada masa sekarang. Ketika orang-orang justru banyak “ditunggangi” sepeda dan mengubah fungsi serta hakikat sepeda. Orang-orang membelanjakan apa saja demi sepedanya. Sehingga benda justru memperbudak manusia. Bukan sebaliknya.
- Saat Jenderal Djati "Dikencingi"
Pertempuran Ambarawa dan Pertempuran Lima Hari Semarang memakan banyak korban dari kalangan pemuda-pelajar. Tenaga potensial bangsa itu meregang nyawa sia-sia karena tak memiliki pengetahuan memadai tentang militer. Hal itu membuat Jenderal Mayor –sebelum diturunkan menjadi kolonel dalam Re-Ra– Djatikusumo prihatin. “Beliau berpendapat bahwa sangat disayangkan para pelajar yang memiliki kemampuan yang potensial dan merupakan harapan bangsa yang baru memproklamasikan kemerdekaannya itu banyak menjadi korban dalam pertempuran karena hanya berbekal semangat berjuang yang besar,” tulis Himpunan Pas T Ronggolawe dalam Pasukan “T” Ronggolawe: Perjalanan Sejarah Sekelompok Pemuda Pelajar Semarang . Kenyataan pahit tersebut meyakinkan Djati akan perlunya memberi pendidikan militer kepada mereka. Dengan persetujuan Kepala Staf Markas Besar Oemoem (MBO) Letjen Urip Sumohardjo, Djati lalu mendirikan Sekolah Opsir Tjadangan (SOT) pada 1946 di Salatiga. SOT anggotanya merupakan pelajar dan guru di wilayah kekuasaan Divisi IV yang dipimpin Djati. Diharapkannya, setelah mengikuti pendidikan selama 18 bulan para taruna diharapkan dapat menjadi opsir sampai tingkat pemimpin kompi. Mereka akan disatukan dalam korps opsir cadangan. Oleh karena itu, para taruna diasramakan selama mengikuti pendidikan SOT. Mereka hanya diperbolehkan keluar asrama pada Sabto sore-Minggu. Pendidikan di SOT memadukan pendidikan dasar militer dan pendidikan umum SMP dan SMT. Pendidikan umum diberikan setelah para taruna selesai mengikuti pendidikan SOT tiap harinya. Kurikulumnya dibuat oleh Darsono (kepala Staf Intelijen yang mantan kepala Sekolah Guru), Soemarso (staf pribadi Djati), dan Sukamto (eks Peta) atas perintah Djati. Djati terjun langsung memegang pejaran-pelajaran khusus militer. Materi yang diberikan selain pelatihan beragam keterampilan adalah pengenalan senjata, ilmu persenjataan, taktik, dan strategi. Mengenai dua yang terakhir, Djati antara lain mendasarkan pengajaran pada buku karya Jenderal Prusia Carl von Clausewitz Vom Kriege (On War). Djati amat keras dalam mengajarkan disiplin. Suatu ketika, saat para taruna mengikuti latihan Operasi Kompi Kawal Depan, Djati sampai memarahi Peppy Adiwoso lantaran kedapatan mencuri buah coklat karena kehausan. Namun, pengalaman-pengalaman di SOT tak hanya melulu kedisiplinan, ketegangan ataupun hukuman. Pengalaman-pengalaman lucu pun menjadi bagian keseharian selama pendidikan. Seperti saat para taruna menjalani latihan pertempuran malam, misalnya. Lantaran menggunakan peluru hampa, mereka merasa tidak puas karena dianggap kurang seru. Maka, sebelum latihan dimulai mereka buru-buru membuat peluru mereka yang dapat bersuara layaknya peluru sungguhan dengan mengganti pelor ( bullet ) dengan sumbatan dari kertas koran. Alhasil, suara tembakan selama latihan pun terdengar seperti tembakan dalam pertempuran sungguhan. Namun ketika latihan usai, kelompok pasukan pertahanan tak juga melepaskan tawanan dari kelompok pasukan penyerang. Samudono, salah satu tawanan, bahkan di- bully kawan-kawannya dari pasukan pertahanan. Entah siapa yang melontarkan perkataan “tembak saja!”, Samudono pun kemudian ditembak bagian pantatnya sampai berteriak kesakitan. Celana dan celana dalamnya pun bolong terkena tembakan itu. Setelah semuanya dilepas, ternyata pantat Samudono berdarah. Pengalaman sial juga dialami Entjung Sadjadi saat mengikuti latihan penyerangan objek vital yang dilakukan pada malam. Dia ditugaskan sebagai komandan pasukan penyerang. Maka ketika telah memerintahkan anak buahnya menyerang, dia “beraksi” bak komandan sungguhan yang hilir-mudik mengawasi jalannya operasi sambil menenteng tongkatnya. Saat itulah dia melihat di kejauhan seorang peserta berjongkok di tepi jalan membuang air kecil. Entjung langsung mendatanginya sambil menepuk bahu orang itu menggunakan tongkat. “ Nguyuhbae (Kencing aja),” kata Entjung. Lelaki yang ditepuk Entjung pun kaget dan terbengong melihat orang yang menepuknya. Dalam kegelapan malam itu Entjung tak memperhatikan serius lelaki itu, dia terus berjalan dengan gagah. Dia tak sadar bila orang yang ditepuknya merupakan Jenderal Djati.
- Siapa Bachtaruddin Said Tokoh PKI Sumatera Barat?
DI tengah makin gawatnya persoalan pandemi virus corona , isu politik tentang Sumatera Barat (Sumbar) menyembul di publik. Setelah perkara pernyataan Ketua DPR RI Puan Maharani soal provinsi itu bikin heboh, muncul isu anggota DPR RI dan politikus PDIP Arteria Dahlan yang disebut punya kakek pendiri Partai Komunis Indonesia (PKI) di Sumbar. Isu bermula dari penjelasan budayawan Minang Hasril Chaniago dalam forum Indonesia Lawyers Club (ILC) pada Selasa (8/9/2020) terkait demokrasi di tanah Minang. Hasril memaparkan bahwa meski orang Minang berbeda ideologi politik, hubungan personal dan silaturahimnya tak putus. Seperti di keluarga Arteria, contohnya. Keluarganya Masyumi namun ada Bachtaruddin Said, kakek Arteria, yang PKI. Arteria membantah pernyataan Hasril. Walau sama-sama asal Maninjau, Sumbar, Arteria mengaku tak punya hubungan darah dengan Bachtaruddin. “Tidak benar saya cucu tokoh PKI. Kakek-nenek, orangtua saya berasal dari Maninjau, Kabupaten Agam, Sumbar. Memang ada tokoh PKI dari Maninjau bernama Bachtaruddin. (Tetapi) tidak ada hubungan kekeluargaan antara Bachtaruddin dengan kakek-nenek saya,” aku Arteria dalam keterangan tertulis kepada Historia . Dalam silsilah keluarganya, Arteria menguraikan bahwa kakek dari pihak ibu, H. Wahab Syarif, seorang pedagang tekstil di Tanah Abang sejak 1950. Neneknya, Hj. Lamsiar, ibu rumahtangga semata. Ibunya, Hj. Wasniar, seorang guru di Perguruan Cikini. Adapun dari pihak ayah, kakeknya bernama H. Dahlan bin Ali, juga pedagang. Sedangkan neneknya, Hj. Dahniar Yahya, tokoh Masyumi. Pernyataan Hasril, menurut sejarawan asal Minang Profesor Asvi Warman Adam, bisa berbuntut urusan hukum. “Ternyata kan Arteria sudah membantah itu. Bahkan diklarifikasi ibunya bahwa nenek dan kakeknya (Arteria) dari pihak ibu dan ayahnya bukan Bachtarudin. Artinya kalau tidak benar, Arteria kan bisa menuntut itu Hasril bahwa dia menuduh, dan ternyata kakek Arteria bukan Bachtarudin itu,” ujar Asvi kepada Historia. Satu Suku Satu Keluarga Bachtarudin merupakan saudara tiri –satu ayah lain ibu– akvitis perempuan yang pada 1974 digelari pahlawan nasional, HR. Rasuna Said. Bedanya, Rasuna Said sejak kecil diberi pendidikan secara Islam, sementara Bachtarudin menerima pendidikan Barat. “Bachtarudin sekolahnya di HIS dan MULO di Jakarta. Lalu bekerja di pemerintahan kolonial Hindia Belanda. Di zaman Jepang, bekerja sebagai polisi Jepang,” sambung Asvi. Pasca-kemerdekaan, Bachtaruddin keluar dari kepolisian untuk terjun ke politik sebagai eksponen kiri. Menurut sejarawan Fikrul Hanif Sufyan, keputusan itu dipengaruhi ketokohan Datuk Haji Batuah, pentolan Sarekat Rakyat di Padang Panjang yang ditahan pemerintah kolonial di Boven Digul. “Sebelumnya, hampir semua pentolan PKI di Indonesia, termasuk Sarekat Rakyat Padang Panjang, umumnya masih diasingkan di Australia. Artinya ada semacam benang merah yang terputus soal perkembangan komunis setelah mereka di-Digul-kan. Lalu ada perkembangan pemerintah kolonial mengurangi interniran yang dianggap sudah tak berbahaya ke kampung halamannya, termasuk Haji Datuk Batuah,” tutur Fikrul, penulis buku Menuju Lentera Merah: Gerakan Propagandis Komunis di Serambi Mekah 1923-1949, saat dihubungi Historia. Sementara itu, PKI di Sumbar sudah kembali berdiri pada Oktober 1945 setelah keluar Maklumat Nomor X tahun 1945 tentang berdirinya partai-partai. Bachtaruddin memanfaatkan momen tersebut dengan mendirikan partai. “Di zaman kemerdekaan, (Bachtaruddin, red .) membentuk PKI dengan tiga orang kawannya di Sumatera Tengah,” kata Asvi. PKI jadi partai politik pertama yang eksis di Tanah Minang dan ketuanya adalah Bachtaruddin. “Setelah Haji Datuk Batuah dipulangkan dari Australia, tampuk kepemimpinan (PKI) dikembalikan Bachtaruddin kepada Haji Datuk Batuah. Jadi ada peralihan kepemimpinan di sini, walau Bachtaruddin tetap menjadi kader PKI,” sambung Fikrul. Haji Datuk Batuah (kedua dari kanan) (Foto: Repro "Menuju Lentera Merah") Pada 1946, mengutip buku Propinsi Sumatera Tengah terbitan Departemen Penerangan tahun 1953, Bachtaruddin sebagai perwakilan PKI turut dalam Dewan Perwakilan Sumatera (DPS) yang dibentuk pemerintah pusat pada 17 April 1946. Bachtaruddin termasuk anggota DPS untuk Sumatera Barat bersama sejumlah tokoh politik Minang lain seperti Chatib Sulaeman, Aziz Chan, dan saudara tirinya, Hj. Rangkayo Rasuna Said. “Menariknya, sosok Bachtaruddin ketika ada pergolakan (pemberontakan, red .) di Madiun pada 1948, waktu itu Muso meminta PKI cabang Sumbar untuk menyatukan visi mereka di Madiun yang membentuk FDR (Front Demokrasi Rakyat) dan ingin mendirikan negara Soviet. Muso meminta Bachtaruddin melakukan hal yang sama di Sumatera Barat. Namun Bachtaruddin menolak permintaan Muso,” tambah Fikrul. “Alasannya, karena menurut Bachtaruddin apa yang dilakukan Muso sudah di luar jalur. Di sisi lain, setelah penolakan itu, sebelum PDRI (Pemerintahan Darurat Republik Indonesia) berdiri, Bachtaruddin juga turut memimpin revolusi kemerdekaan di Pasukan Temi, pasukan laskar para eks-Sarekat Rakyat Padang Panjang. Bersama Natar Zainuddin, Bachtaruddin di pasukan Temi ikut gabung dengan beberapa laskar lain di Front Pertahanan Nasional (FPN).” FPN dibentuk dari sejumlah laskar onderbouw partai-partai yang ada atas permintaan Wakil Presiden Mohammad Hatta. Pembentukan itu bertujuan membangun sinergi kekuatan bersama Tentara Keamanan Rakyat (TKR) untuk menghadapi Agresi Militer Belanda. FPN yang dalam rapat musyawarahnya dipimpin Haji Datuk Batuah, mengambil keputusan mendaulat Datuk Indomo Abdul Malik Karim Amrullah alias Buya Hamka dari Masyumi sebagai ketuanya. Selepas masa revolusi fisik, Bachtaruddin masuk DPR sebagai Wakil Ketua I Fraksi PKI lewat Pemilu 1955. Namun, dia hanya menjabat setahun lantaran pada 1956 wafat pada 24 Juni. Namanya kemudian diabadikan oleh partai menjadi Akademi Ilmu Politik Bachtaruddin. Kakek Arteria Dahlan? Benarkah Arteria Dahlan tak punya hubungan keluarga dengan Bachtiaruddin? Baik Asvi maupun Fikrul tak bisa memastikan kebenaran pernyataan Hasril maupun sanggahan Arteria. “Kemungkinan Arteria punya versi sendiri, juga Bang Hasril. Kalau dalam perspektifnya Arteria, barangkali dia mengambil langsung silsilah keluarganya ke atas tanpa melihat silsilah yang lainnya. Tapi dalam budaya Minang (silsilah keluarga) itu bersifat komunal,” jelas Fikrul. “Di Minang itu kalau di dalam sebuah suku (marga, red. ) ada dua orang bergelar Datuk, dia dianggap masih dalam satu keturunan. Misalnya suku Chaniago, di mana di dalam nagari ada dua orang datuk. Nah di dalam silsilahnya orang Minang, dia tidak hanya mengakui hanya pada satu jalur datuknya saja tapi kepada jalur datuk yang lain,” lanjutnya. Klarifikasinya Hasril Chaniago di Youtube Hersubeno Point , Kamis (10/9/2020), senada dengannya. Menurut Hasril, ketika ia mewawancarai Fauzi Makruf, paman Arteria, disebutkan ia masih punya hubungan kekerabatan dengan Bachtaruddin. “Dia (Fauzi) menanggapi wawancara kita sebelumnya. Dikatakan dia, jadi kami (Fauzi) itu sebenarnya masih punya hubungan dengan Bachtaruddin. Begitulah uniknya. Pak Fauzi itu tokoh masyarakat Minang asal Maninjau di Jakarta dengan gelar Datuk Gunuang Ameh. Katanya, beliau dari keluarga Masyumi tapi Bachtaruddin dari PKI dan secara pribadi hubungan mereka biasa-biasa saja,” ujar Hasril. Anggota DPR RI Arteria Dahlan membantah Bachtaruddin, tokoh PKI Sumbar adalah kakeknya (Foto: dpr.go.id ) Ketika bersua Fauzi, Hasril mengingat bahwa mereka membicarakan Arteria yang dianggapnya kurang sopan terhadap orang yang lebih tua. Utamanya kala anggota DPR RI dapil Jawa Timur itu membentak sambil menunjuk-nunjuk Profesor Emil Salim di talkshow Mata Najwa, 10 Oktober 2019. “Saya bilang Pak Fauzi karena beliau tokoh Minang asal Maninjau juga. Tolong diajari dia. Katanya, ‘Oh, dia keponakan saya.’ Kalau begitu tepat betul untuk mengingatkan dia. Di Minang tidak ada stratifikasi sosial, tidak ada pangkat, jabatan. Orang hanya menghormati karena umur. Yang muda harus santun pada yang tua. Dia jadi kontroversial karena menunjuk-nunjuk Pak Emil Salim. Itu tidak sopan bagi adat Minang,” sambungnya. Hasril memberi contoh bahwa di masa republik masih bayi, Hatta sebagai orang Minang yang lebih muda selalu menghormati Tan Malaka yang lebih tua dan lebih dulu memperjuangkan kemerdekaan, meski Tan seorang oposan. “Ketika di ILC (Selasa, 8 September 2020), Arteria datang. Ketika rehat, dia saya panggil untuk mengingatkan hal itu. Saya puji dia karena hebat sebagai orang Minang tapi tak berebut 14 kursi (DPR) dari dapil Sumbar. Lalu saya sebut, saya berteman dengan Fauzi Makruf. Katanya, ‘Oh, dia ungku saya.’ Ungku itu mamak atau paman yang sudah bergelar Datuk.” Jika dilihat generasi itu, sambung Hasril, Bachtarudin adalah generasi kakek Arteria dari segi umur. Seandainya Hasril asal bicara dalam forum ILC itu, mestinya Arteria sudah langsung membantah. Pasalnya, Hasril menguraikan maksudnya itu bukan dalam hubungan biologis, melainkan komunal seperti yang juga diterangkan Fikrul di atas. “Kalau dia merasa saya tuduh, pastinya dia bantah saat itu juga. Apalagi dia pengacara hebat. Cuma setelah itu muncul isunya di medsos karena mungkin ada yang nggak suka sama Arteria. Dari medsos masuk media mainstream . Padahal sistem kekerabatan Minang itu terlalu luas. Saya juga saat itu sedang menjelaskan, inilah contoh berdemokrasi di Minangkabau,” tandas Hasril.
- Akhir Tragis Menteri Surachman
Suasana hutan Tumpak Kepuh (terletak di kawasan Desa Sumberdadi, Blitar Selatan) masih remang-remang. Pagi baru saja tiba, ketika seorang lelaki hampir paruh baya melintasi jalan setapak hutan tersebut. Langkahnya yang terburu-buru dan cepat mengundang perhatian Peltu Jatimin dan beberapa anak buahnya dari Kompi C Batalyon 521 Kodam Brawijaya. Tanpa pikir panjang Jatimin berteriak memerintahkan lelaki itu untuk menghentikan langkahnya. Alih-alih dituruti, yang diperintah malah menjalankan langkah seribu. Tembakan peringatan pun dilontarkan tiga kali. Tetap tak digubris. Sebagai jalan terakhir, Kopral Dua Soepono terpaksa mengarahkan senapannya. Dor! Dor! Dor! Terjungkallah lelaki itu seketika. Saat didekati, nampak pangkal pahanya nyaris putus. Namun lelaki itu masih hidup. Dalam kondisi sakratul maut, dia masih menyebut namanya sebagai “Gunawan”. Beberapa detik kemudian nyawanya pun lepas. Ketika memeriksa tas hitam yang yang dibawanya, nampaklah sehelai sarung usang berwarna hijau. Kain itu membalut sebuah radio transistor kecil dan sebuah buku berjudul Kaum Buruh Sedunia Bersatulah! karya pemimpin komunis Tiongkok, Mao Zedong. Dua hari kemudian yakni pada 17 Juli 1968, Wakil Komandan Satuan Tugas Operasi Trisula (operasi khusus memburu sisa-sisa anggota PKI di wilayah Blitar Selatan) Letnan Kolonel Sasmito membuat pengumuman yang mengejutkan: lelaki itu ternyata adalah Ir. Surachman, Menteri Irigasi Kabinet Dwikora II sekaligus Sekretaris Jenderal Partai Nasional Indonesia (PNI) yang sejak Februari 1966 menjadi buronan karena dituduh sebagai anggota PKI. Demikian pernyataan Sasmito dalam buku Operasi Trisula Kodam VIII Brawijaya karya Semdam VIII Brawijaya. Hampir setahun kemudian, peran politik Surachman sebagai “orang PKI yang diselusupkan” ke tubuh PNI dikuatkan oleh Kusnun alias Abdullah, anggota verfikasi CC PKI urusan Kalimantan. Dalam sidang hari ke-4 pengadilan subversi terhadap terdakwa Sardjono dan Florentinus Suharto pada 30 Mei 1969, Kusnun menyebut bahwa Ir. Surachman (PNI) dan Karim DP merupakan para infiltran PKI. Tetapi ketika ditanya tentang bukti administratif mengenai keberadaan para anggota PKI yang berada di partai-partai lain itu, Kusnun menjawab soal tersebut sulit dihadirkan di pengadilan. “Karena untuk kepentingan security , maka bukti-bukti itu biasanya dimusnahkan,” kata Kusnun seperti dikutip oleh Abadi , 31 Mei 1969. Pendapat Surachman sebagai orang komunis yang menyelundup di tubuh PNI semakin kuat ketika Profesor Soenarjo S.H (salah seorang pendiri PNI) menyebut dalam bukunya Banteng Segitiga , Surachman sebagai anggota PNI yang lebih pandai mengekor PKI. Namun benarkah semua tuduhan itu? Satya Graha, mantan wakil pemimpin redaksi Suluh Indonesia (koran milik PNI), menyatakan ketidakpercayaannya terhadap tuduhan itu. Sebagai seorang yang pernah mengenal insinyur pertanian lulusan UGM itu (1961), dia tidak yakin bahwa tokoh muda PNI tersebut sebagai orang PKI. “Saya kira karena dia loyalis Bung Karno yang sangat radikal, lantas musuh-musuh politik Bung Karno mem-PKI-kan-nya setelah Peristiwa Gestok (Gerakan Satu Oktober),” ungkap Satya. Keyakinan Satya Graha berkelindan dengan pendapat ahli sejarah politik Indonesia J. Eliseo Rocamora. Dalam bukunya, Nasionalisme Mencari Ideologi: Bangkit dan Runtuhnya PNI 1946-1965 , Rocamora menyebut tuduhan itu tidak memiliki dasar sama sekali. “Tulisan-tulisan panjangnya di koran PNI Suluh Indonesia tidak menyingkapkan sedikit pun gaya penulisan atau pemikiran PKI,” ungkapnya. Jikalau pendiriannya terlihat lebih cenderung kepada hal-hal yang dikeluarkan oleh PKI (soal pembentukan Angkatan Kelima misalnya) dan sikap-sikapnya terkesan mendua terhadap insiden-insiden aksi sepihak yang dilakukan oleh banyak kader PKI, itu bisa dimaklumi. Sebagai seorang loyalis Sukarno, Surachman tentunya akan mengacu kepada sikap junjungannya itu yang menurut Rocamora sikapnya terhadap kedua isu tersebut juga mendua. Rocamora pun bisa memahami jika di tengah “ketidakpastian” dan aksi Letnan Jenderal Soeharto menangkapi menteri-menteri-nya Sukarno pasca Gerakan 30 September 1965, Surachman jadi berpaling kepada musuh Soeharto yakni PKI. Ketika sisa-sisa PKI melancarkan aksi gerilya di Blitar Selatan, Surachman membuat keputusan cepat untuk bergabung dengan para pemberontak. Terlebih baginya Malang Selatan dan Blitar Selatan adalah dua tempat yang tidak asing, mengingat sebagai anggota Tentara Republik Indonesia Pelajar (TRIP) pada era Perang Kemerdekaan (1946-1949), dia pernah bergerilya melawan Belanda di wilayah tersebut. Namun upaya cari selamat itu ternyata tak berbanding lurus dengan suratan takdirnya. Gegara tembakan seorang kopral, pelariannya itu malah mempercepat kematiannya. Maka berakhirlah hidup sang menteri dengan membawa sejumlah misteri yang tak pernah terjawab pasti hingga kini.
- Andi Mappanyuki, Jago dari Sulawesi
Aristokrat dari Sulawesi yang getol menyerang Belanda. Enggan bekerja sama dengan penjajah hingga akhir hayat.
- Adik Jadi Korban Prinsip Tak Kompromi Kolonel Djati
Sebagai salah seorang pemikir militer Indonesia, Kolonel Djatikusumo sejak awal memiliki konsep tentang bagaimana organisasi militer semestinya dibangun. Salah satu faktor terpenting dari konsepnya ialah, harus ada pendidikan militer profesional. Bertolak dari kosenp itulah Djati kemudian menggagas berdirinya Sekolah Opsir Tjadangan (SOT) di Salatiga. “Keputusan mengadakan Sekolah Opsir Tjadangan didasarkan atas prakarsa Jenderal Mayor Djatikusumo, untuk membentuk satu korps opsir (perwira) cadangan, yang anggotanya dibentuk dari guru-guru dan pelajar pejuang yang kebetulan sudah berada di dalam jajaran komandonya. Gagasan ini timbul setelah melihat kenyataan ketika pertempuran-pertempuran di front Ambarawa dan Semarang, banyak anak pelajar yang gugur,” tulis Himpunan Pas T Ronggolawe dalam Pasukan “T” Ronggolawe: Perjalanan Sejarah Sekelompok Pemuda Pelajar Semarang . Kepedulian pada pendidikan itu membuat Djati terjun langsung dalam pengajaran maupun ujian. Selain itu, Djati biasa menyertakan para taruna ke dalam pertempuran sungguhan meski sering ditentang banyak perwira senior. “Ia justru berpendapat bahwa para kadet ini perlu ikut berperang secara aktif, sebab perang ini merupakan kesempatan yang bagus bagi para calon perwira untuk memperoleh pengalaman bertempur dalam arti yang sebenarnya. Suatu kesempatan yang belum tentu bisa diperoleh di masa-masa mendatang. Kalau toh nanti jatuh korban, itu risiko,” kata Moehkardi dalam buku Akademi Militer Yogya dalam Perjuangan Fisik 1945 sampai dengan 1949 . Meski berat, para taruna tak pernah mengeluhkan konsep pendidikan seperti itu. Para taruna sama seriusnya seperti personil-personil lain dalam operasi militer. Seperti yang dialami Mardihadi, anggota Pasukan Tjadangan Ronggolawe yang ditempatkan di Bungah, Kawedanan Sedayu (Front Ronggolawe I: Surabaya Barat dan Utara) untuk mengawasi gerak-gerik musuh dan mata-mata musuh. “Di kota Bungah ini, makan sehari-hari hanya telur bebek diceplok, diolesi petis sedikit lombok dan gereh (ikan asin). Memang adanya hanya itu-itu saja. Hiburan hampir tidak ada, satu-satunya hiburan sebagai selingan adalan nonton gadis-gadis yang andi di Bengawan Solo, sekadar untuk menghilangkan kejenuhan yang berkepanjangan (istilah Pasukan T: nonton gitar kecemplung),” Himpunan Pas T Ronggolawe. Jauh setelah itu, penerjunan langsung ke dalam pertempuran juga dirasakan manfaatnya oleh taruna Atekad Try Sutrisno (kelak menjadi wakil presiden) saat diikutsertakan Djati dalam menangani PRRI. “Praktik lapangan yang paling berkesan adalah pelibatan para taruna Atekad dalam tugas operasi Sumatera Barat. Dari situ kami para taruna dapat menerapkan ilmu dan seni kepemimpinan prajurit, maupun merasakan dan menghayati secara langsung dinamika pelaksanaan operasi, dalam situasi dan kondisi yang sebenarnya. Penugasan operasi semasa taruna di dalam periode kepemimpinan Pak Djati merupakan pengalaman langka dan sangat berharga,” kata Try dalam testimoni berjudul “Pak Jati di Mata Saya”. GPH Haryo Mataram (kelak menjadi rektor pertama Universitas Negeri Surakarta), adik tiri Djati (satu ayah beda ibu), juga amat merasakan manfaat pola pendidikan yang diterapkan Djati sejak awal kemerdekaan. Dia menyadari kemudian bahwa pendidikan oleh Djati sebagai motivasi tak langsung kepada para taruna. Namun, Haryo ingat Djati amat profesional dalam pekerjaannya. Alih-alih mendapat keistimewaan, Haryo justru mendapat perlakuan lebih keras dibanding yang diterima teman-temannya dari Djati. Itu dialaminya saat ujian terakhir di Akademi Militer Yogyakarta dengan mata pelajaran taktik. Djati yang turun langsung menguji bersama Letkol Ismail, justru membebankan Haryo dengan ujian lebih berat. “Justru pertanyaan yang ditujukan kepada saya adalah yang paling sulit, dan kepada saya dikejar terus dengan berbagai pertanyaan-pertanyaan,” kata Haryo dalam testimoninya di biografi Djati berjudul GPH Djatikusumo, Prajurit-Pejuang dari Kraton Surakarta . Ketagasan Djati dirasakan Haryo sejak awal, ketika Haryo dan sejumlah taruna diperbantukan ke Divisi Ronggolawe yang dipimpin Djati sebelum Agresi Pertama. Ketika Haryo melaporkan kedatangan pasukannya, Djati menolak. Upaya itu terjadi hingga beberapa kali. “Mengapa ditolak? Karena ternyata kancing baju saya dan beberapa teman taruna Akademi Militer tidak tertutup (terbuka). Sehingga hanya karena kurang rapi saja laporan saya ditolak,” kata Haryo.
- Sukarno dan Trauma PRRI
UNTUK kesekian kalinya sentimen terkait Pemberontakan Pemerintahan Revolusioner Republik Indonesia (PRRI) di Sumatera Barat mengorbit lagi. Disebutkan budayawan Minang Edy Utama yang dikutip BBC News Indonesia , Selasa (8/9/2020), luka lama itu menganga setelah Presiden Sukarno memerintahkan pasifikasi militer lewat “Operasi 17 Agustus”. Implikasinya hingga sekarang merembet kepada Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP), parpol penguasa pemerintahan saat ini yang dianggap representasi dari Sukarno. Ketua umum PDIP Megawati Soekarnoputri dalam pengarahan pasangan calon Pilkada, 2 September 2020, masih mempertanyakan mengapa rakyat Sumbar (Sumatera Barat) belum menyukai PDIP. Namun, kerunyaman muncul setelah muncul pernyataan Ketua DPP PDIP yang merangkap Ketua DPR RI Puan Maharani di hari yang sama. “Semoga Sumatera Barat bisa menjadi provinsi yang mendukung negara Pancasila,” kata Puan. Sontak sejumlah nada sumbang dari para aktivis dan politisi Minang menerjang PDIP. Hal tersebut membuat PDIP Sumbar memutuskan urung terjun ke pertarungan pemilihan gubernur (pilgub) Sumbar. Pernyataan Puan jadi bola liar lantaran tak disusul klarifikasi langsung. Ia membangkitkan lagi trauma PRRI yang disebutkan Edy berawal dari operasi militer yang dikerahkan Sukarno. Pernyataan Edy mendorong kita pada pertanyaan, benarkah luka lama PRRI itu gara-gara operasi militer perintah Sukarno? Baca juga: Kemenangan "Tentara Sukarno" di Hari Lebaran Sejarawan cum peneliti senior LIPI Profesor Asvi Warman Adam mempertanyakan fakta yang terkesan memojokkan Sukarno tersebut saat dihubungi Historia . “Saya ingin mempertanyakan kenapa semua kesalahan ditimpakan pada Sukarno? Mereka kan ditangkap itu dengan surat penangkapan dari (Jenderal AH) Nasution. Di sini ada PKI yang membuat (permainan politik) dan ada Angkatan Darat juga. Jadi jangan semua ditimpakan bahwa Hamka ditangkap Sukarno. Ada juga pihak-pihak yang bermain di bawahnya, kekuatan politik lain seperti Angkatan Darat dan PKI,” ujar Asvi . Pernyataan Asvi menunjukkan detail-detail dalam politik nasional era 1950-an tidak banyak diketahui publik saat ini. Akibatnya, opini yang berkembang di masyarakat cenderung “pukul rata” bahwa semua kesalahan ada di pundak Sukarno. “Tapi memang mereka bersikap negatif terhadap Sukarno. Memang PRRI berdampak sampai ketika orang-orang Sumbar tak punya kesempatan memimpin di Sumbar. Menimbulkan trauma bagi orang di Sumbar dan jelas kemarahan terhadap pemerintah pusat diidentikkan dengan Sukarno. Saat kecil, saya juga merasakan hal itu, bahkan dikatakan Jawa dan Sukarno adalah pemerintah pusat yang menghancurkan PRRI,” imbuh Asvi yang kelahiran Bukittinggi 65 tahun lampau itu. Kolonel Ahmad Husein (pojok kiri) dengan para petinggi Dewan Banteng, Desember 1956 (Foto: nationaalarchief.nl ) Senada dengan Asvi, George McTurnan Kahin dalam Subversion as Foreign Policy: The Secret Eisenhower and Dulles Debacle in Indonesia menyatakan, keputusan mengerahkan kekuatan bersenjata untuk meredam PRRI di bawah Kolonel Achmad Husein sejatinya adalah hasil dari percampuran permainan politik pihak-pihak di sekitar Sukarno. Keputusan memilih opsi penggunaan militer sebagai solusi non-kompromis terhadap PRRI adalah buah dari tekanan Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD) Jenderal AH Nasution dan Perdana Menteri (PM) Djuanda Kartawidjaja. “Sukarno berada di bawah tekanan dari beberapa penasihat terdekatnya dan dari para pemimpin PKI untuk tak mengambil jalan kompromi. Baik PM Djuanda dan KSAD Nasution juga meninggalkan cara-cara untuk rekonsiliasi dan mendesak aksi militer terhadap PRRI,” ungkap Kahin. Baca juga: Utusan Presiden RI Dikerjai Kala Berupaya Ambil Hati Pemimpin PRRI Kesaksian bahwa opsi militer dalam penyelesaian PRRI tidak pernah dikeluarkan Sukarno juga dikatakan pengusaha asal Minang Hasjim Ning. Hasjim, yang merupakan keponakan Bung Hatta sekaligus sahabat Sukarno, dua kali diutus Sukarno ke Padang untuk menemui Ahmad Husein. Namun dua upayanya itu semua gagal. Oleh karena itu, sehari sebelum memulai safari luar negerinya pada Februari 1958, Bung Karno menyempatkan mampir ke rumah Bung Hatta untuk mendiskusikan penyelesaian kasus PRRI. Menurut Hasjim, Hatta menyarankan agar penyelesaian PRRI hendaknya tidak dilakukan dengan penggunaan kekerasan dan itu dituruti Sukarno. “Pada hari keberangkatannya, Bung Karno menyampaikan pidato agar sepeninggalnya tidak ada tindakan kekerasan dilakukan, harus diupayakan agar tidak ada pertumpahan darah,” kata Hasjim dalam otobiografi berjudul Pasang Surut Pengusaha Pejuang. PM Djuanda, yang dituntut mundur kabinetnya oleh PRRI, mengambil tanggung jawab aksi militer setelah upaya damai pemerintah pusat berbalas proklamasi berdirinya PRRI pada 15 Februari 1958, sebagai perwujudan ultimatum dalam Piagam Perjuangan untuk Menyelamatkan Negara. Ultimatum berisi: pemerintah pusat didesak dalam lima hari sejak 10 Februari agar PM Djuanda mengembalikan mandat kabinetnya kepada Sukarno dan agar Sukarno membentuk sebuah Zaken Kabinet Nasional yang bersih dari unsur-unsur anti-Tuhan. Ultimatum itu, lanjut Kahin, seolah jadi penolakan menohok bagi upaya-upaya Sukarno mendinginkan persoalan lewat cara persuasif. Dikatakan PM Djuanda kepada Duta Besar Amerika Serikat Howard P. Jones, ultimatum itu sebagai penolakan PRRI menjadikan Sukarno pasrah menyetujui langkah represif sebagaimana desakan pihak-pihak di sekitarnya. Baca juga: Pesawat CIA dalam PRRI/Permesta Di sisi lain, manuver PRRI di Sumatera juga dibekingi Amerika Serikat. Oleh KSAD Nasution, fakta tersebut dicap sebagai pemberontakan, bukan sekadar gejolak daerah yang menuntut otonomi lebih luas. “Ada ultimatum, ada pergerakan bersenjata. Bahwa gerakan besenjata itu ada ditambah bantuan asing dari Amerika, itu jelas pemberontakan, tidak bisa dibantah lagi. Di situ juga ada perwira militer, ada Achmad Husein, ada Dahlan Djambek juga dan dibentuk Dewan Banteng. Jadi bahwa ada juga persoalan antara pimpinannya tentara di daerah dengan di pusat,” sambung Asvi. Nasihat Ninik-Mamak Tak Didengar Ultimatum PRRI membuat KSAD mengerahkan Angkatan Perang Republik Indonesia (APRI) untuk memadamkan pergolakan tersebut pada 17 April 1958 lewat “Operasi 17 Agustus” yang dikomandani Kolonel Ahmad Yani. Klimaks perang saudara di Sumatera Tengah itu disesalkan banyak tokoh pendiri bangsa asal Minang seperti Sutan Sjahrir dan Mohammad Hatta. Sjahrir sempat mengingatkan Sumitro Djojohadikusumo agar tak keliru mengambil sikap dalam mendukung PRRI. Sementara, Hatta sejak awal menentang opsi pasifikasi secara militer. Hal itu diwanti-wantinya kepada Jenderal Nasution. “Saya tidak setuju, bahwa tentara bisa melancarkan serangan terhadap para pemberontak. Itu adalah langkah yang salah,” kata Hatta, dikutip Dubes Howard Jones dalam bukunya, Indonesia, The Possible Dream. Hatta sendiri dua kali mengirim utusan untuk membujuk Husein agar tidak melanjutkan gerakannya itu. Dalam pandangannya, apa yang dilakukan Husein adalah keliru. “Tindakan Husein itu sama dengan putsch militer. Itu sangat berbahaya bagi negara dan demokrasi. Penyelesaiannya mesti dengan penyelesaian politik. Bukan militer,” kata Hatta sebagaimana dikutip Hasjim Ning yang meminta masukan sesaat sebelum berangkat ke Padang diutus Presiden Sukarno menemui Husein. Pasukan Angkatan Perang Repubik Indonesia (APRI) dalam pasifikasi militer terhadap PRRI (Foto: Perpusnas RI) Sebagaimana Hasjim yang dua kali gagal membujuk Husein, dua utusan Hatta –yakni Baharudin Datuk Bagindo dan Bujung Djalil– pun semua gagal. Djalil bahkan sempat ditahan pasukan Husein. Sementara, Bachtar Lubis yang diutus KSAD Nasution justru berbalik mendukung PRRI. Akibatnya, pemerintahan Djuanda-KSAD Nasution memilih opsi militer dalam penyelesaian soal PRRI. “Orang Minangkabau, biasanya sebelum berbuat apa-apa, bertanya kepada ninik - mamak (nenek-ibu). Tetapi apa yang dilakukan Ahmad Husein dan kawan-kawannya? Kata dan nasihat mamak sendiri tidak didengar, tetapi justru mamak Sumitro, mamak Syafruddin (Prawiranegara, PM PRRI), mamak (Kolonel Zulkifli) Lubis dan mamak (Kolonel Maluddin) Simbolon yang didengar. Inilah akibatnya,” kata Hatta menyesali penggunaan aksi militer untuk menumpas PRRI, dalam suratnya kepada Wakil KSAD Jenderal Gatot Subroto, dikutip Deliar Noer dalam Mohammad Hatta: Biografi Politik. Baca juga: Kesaksian Hasjim Ning tentang Penyelesaian PRRI Surat Hatta tertanggal 2 Mei 1962 itu turut menggambarkan situasi, stigma, dan trauma yang melekat di masyarakat Minang sebagai imbas berdirinya PRRI dan aksi militer penumpasannya. Selain mengakibatkan penangkapan beberapa tokoh yang dianggap terlibat, penguasa militer di Sumbar mengetatkan aturan militer. Bahkan, ekses dari penumpasan PRRI menimpa orang-orang Minang di perantauan seperti yang dialami Hasjim. “Perang yang berlangsung di tanah kelahiranku menimbulkan banyak ekses yang macam-macam terhadap putra daerah Minangkabau yang menetap di Jakarta. Banyak di antara mereka yang ditahan dan diperiksa karena ada sangkaan bahwa mereka pendukung PRRI. Ada tindakan itu yang mempunyai dasar. Tapi banyak juga karena alasan dendam pribadi. Kejadian-kejadian tersebut menimbulkan juga berbagai persoalan bagiku. Banyak di antara mereka atau keluarga mereka yang datang mengadu kepadaku agar mengupayakan perlindungan. Sebaliknya, aku terkena juga oleh ejekan dan senda gurau yang memerahkan telingaku. Teman-teman yang bersimpati pada PRRI datang membawa ejekan,” kata Hasjim. Walau kemudian aturan-aturan militer itu perlahan hilang, sentimen dan trauma yang dialami orang Minang tidak seketika musnah. Sentimen dan trauma yang mengendap itu, menurut Asvi, kemudian ditimpakan kepada Sukarno dan di masa kini kepada PDIP sebagai representasi Sukarno. Solusi Menurut Asvi, jasa-jasa besar orang Minang terhadap berdirinya republik menjadi sejarah tersendiri yang tak bisa ditawar. Tan Malaka, misalnya, sudah menerbitkan buku tentang republik meski sedang terasing di luar negeri. Sutan Sjahrir dan Moh. Hatta turut membidani kelahiran republik dan merawatnya ketika masih bayi lewat partisipasinya dalam kabinet dan parlemen. Namun, jalannya sejarah itu kemudian berubah. “Titik baliknya memang sejak 1956 ketika Hatta mundur sebagai wakil presiden dan dua tahun kemudian meletus PRRI. Mereka kemudian lebih banyak di luar pemerintahan, menjadi oposisi. Ketika Prabowo menjadi calon presiden (capres) tahun 2014 dan 2019, trauma PRRI itu dibangkitkan lagi. Prabowo anak Profesor Sumitro, tokoh PRRI. Dua kali orang Minang di Sumbar itu kalah. Kalau terantuk di lubang jangan sampai dua kali,” sambung Asvi. Baca juga: Meriam PRRI yang “Bikin Ngeri” A. Yani Solusinya, kata Asvi, orang Minang mesti terlibat di pemerintahan dan harus melepas stigma dan trauma PRRI itu. “Penting untuk menghilangkan trauma PRRI ketimbang memelihara atau bahkan menghidupkan kembali seperti kasus Prabowo waktu ikut Pilpres dua kali berturut-turut. Saya sendiri melakukan otokritik sebagai orang Minang yang tak berdomisili di Sumbar. Kenapa dua kali kalah dengan menggunakan sentimen PRRI?” paparnya. “Ketika Hatta mundur, praktis orang-orang Minang keluar dari pemerintahan. Mestinya orang Minang masuk kembali, jangan hanya jadi pemilik rumah makan (Padang). Jadi harus ikut kembali di pemerintahan, di partai politik yang besar. Jangan di luar yang bisanya hanya mencemooh,” tandas Asvi.





















