Hasil pencarian
9860 hasil ditemukan dengan pencarian kosong
- Perang Salib Zaman Revolusi
BUNG Hatta wakil presiden sekaligus perdana menteri resah dan jengkel. Para komandan militer di Tapanuli bikin ulah. Hatta mendapat kabar tersebut dari Gubernur Sumatra, Teuku Mohammad Hasan . “Aku menerima kawat dari Gubernur Teuku Hasan di Bukit Tinggi, meminta aku datang ke sana menyelesaikan persengketaan antara Mayor Malau dan Mayor Bejo, yang sudah terjadi sebagai perang utara-selatan,” tutur Hatta dalam memoarnya Untuk Negeriku: Sebuah Otobiografi . Ribut-ribut di Tapanuli sebenarnya sudah terdengar sejak September 1948. Mayor Liberty Malau, komandan Brigade Banteng Negara (termasuk laskar Naga Terbang dan Legiun Penggempur) memegang kawasan utara. Di selatan, terdapat Brigade B (termasuk laskar Harimau Liar) yang dipimpin Mayor Bejo. Beberapa pentolan laskar terkemuka tergabung di kedua pasukan itu. Entah sebab apa, pasukan Bejo dan Malau saling baku tembak, gempur-menggempur, dan lucut-melucuti. Panglima Komandemen Sumatra Jenderal Mayor Suhardjo Hardjowardoyo tidak sanggup menangani. Setiba di Bukit Tinggi, Hatta mengutus Letkol Alex Kawilarang membereskan situasi Tapanuli. “Selama hampir dua bulan perang antara Bejo dan Malau itu berkecamuk dengan hebatnya,” tulis Edisaputra dalam Sumatra dalam Perang Kemerdekaan . Kawilarang Dihadang Pada November 1948, Kawilarang berangkat ke Tapanuli. Para stafnya turut mendampingi, Mayor Ibrahim Adjie dan Letnan K. Hutabarat. Sekira 15 km di sebelah selatan Sibolga, rombongan Kawilarang dicegat sekelompok pasukan “Utara”. Melihat tanda pangkat Kawilarang, mereka memberi hormat. Pasukan itu mengawal Kawilarang sampai Sibolga. “Kepada Adjie saya sebut mereka crusades , karena mereka memakai sehelai kain ( lap ) yang diikatkan di kepalanya dengan memakai tanda palang. Maklumlah, provokasi agama sudah menyebar waktu itu,” kenang Kawilarang dalam otobiografi A.E. Kawilarang untuk Sang Merah Putih . Menurut Kawilarang perang saudara di Tapanuli itu bersoal pada kekuasaan belaka. Baik pasukan Bejo dan Malau semula sama-sama datang dari Sumatra Timur. Semuanya berteman baik sebagai rekan seperjuangan dalam front Medan Area hingga agresi Belanda pertama. Setelah Perjanjian Renville, semuanya berkumpul di Tapanuli yang di kemudian hari menimbulkan gesekan. Pertikaian dimulai dengan meletusnya provokasi-provokasi antara tentara dan eks laskar. Setelah hijrah ke Tapanuli, timbul pertentangan antara pasukan yang berasal dari Tapanuli dan pasukan pendatang. Malahan sampai muncul dikotomi antara “Batak Raya” dan kelompok yang berasal dari daerah lain. Sentimen agama pun turut terbawa-bawa dan semakin memperuncing keadaan. “Saya rasa provokasi-provokasi itu datang dari avonturir politik yang menghasut beberapa komandan untuk bermusuhan terhadap pasukan lain,” kata Kawilarang. Menurut Edisaputra, isu negara Batak Raya dihembuskan oleh Kol. Tituler Mr. Abas yang hendak memisahkan diri dari Republik Indonesia. Pembagian Sektor Sebagai utusan dari pemerintah pusat, Kawilarang bergerak untuk menengahi pihak yang bertikai. Dia menemui Residen Tapanuli Ferdinand Lumbantobing meminta keterangan. Kemudian menemui Malau lalu Bejo. Semuanya dilaporkan kepada Bung Hatta dan Panglima Komandemen Sumatra yang baru Kolonel Hidayat ketika mereka tiba di Sibolga. Pagi hari 28 November 1948, Hatta, Hidayat, Kawilarang, Ferdinand Lumbantobing, dan Bejo berkumpul urun rembug. Untuk mengatasi keributan di Tapanuli, Hidayat meminta saran Kawilarang. Menurut Kawilarang bukan perkara sulit. “Bubarkan brigade-brigade dan bentuklah sektor-sektor,” kata Kawilarang yang kemudian membagi sektor berikut komandannya. Sektor I komandannya Mayor Bejo, wilayah operasi meliputi Tapanuli Selatan. Sektor II komandannya Mayor Malau, wilayah operasi Tapanuli Utara. Sektor III komandannya Mayor Selamat Ginting, wilayah operasi Dairi . Sektor IV komandannya Kapten O. Sarumpaet, wilayah operasi Sibolga. Sektor S komandannya Mayor Husein Lubis, wilayah operasi pesisir Sibolga. Tiap pasukan sektor tidak diperkenankan melangkah ke batas kecuali ada keperluan penting. Itupun tanpa membawa senjata. Selain itu, pasukan-pasukan tiap sektor ditetapkan sedemikian rupa untuk memenuhi syarat melaksanakan perang gerilya. Demikian rencana Kawilarang. Bung Hatta menyetujui gagasan Kawilarang. Mulai hari itu juga, Kawilarang diangkat sebagai Panglima Sumatra Utara. Malau dan Bejo bertugas dan bertanggung jawab kepada Kawilarang. Bejo dan Malau, via Residen Lumbantobing menerima putusan itu. Pasukan ALRI yang ada di pantai Sibolga juga tunduk kepada Kawilarang. Polisi yang ada di Sibolga untuk sementara waktu juga demikian. “Akhirnya aku ucapkan bahwa putusan yang baru diambil itu harus dijalankan segera dengan taat,” ujar Hatta. Hatta lega, masalah di Tapanuli dapat terselesaikan. Tidak lupa dia mengucapkan selamat bertugas kepada Kawilarang seraya berharap supaya dia melaksanakan tugasnya dengan baik. Setelah Bung Hatta memungkasi titahnya, maka usailah episode "perang salib" di Tapanuli.
- Menonton Indonesia dalam Film Berita
Pada awal kemerdekaan, ketika belum banyak media massa, pemerintah Indonesia menggunakan film berita sebagai salah satu media komunikasi. Karena dominan akan muatan agitatif dan politis, film berita sering dikatakan sebagai film propaganda. Sebelumnya, film berita juga telah diproduksi oleh pemerintah Jepang di Indonesia dan digunakan untuk propaganda militer yang diputar melalui layar tancap di desa-desa. Kemudian pasca Proklamasi 1945, kelompok Berita Film Indonesia mulai mengambil alih produksi film-film berita. Periode revolusi (1945-1949) menjadi tema utama film-film berita masa itu. Kelompok ini membuat tiga film berjudul Berita Film Indonesia No. 1-3. Produksi film berita berlanjut pasca penyerahan kedaulatan pada 1949. Perusahaan Film Negara (PFN) mulai memproduksi film berita bertajuk Gelora Indonesia , mulai 5 Januari 1951 hingga tahun 1976. Rekaman-rekaman Gelora Indonesia saat ini tersimpan di Arsip Nasional Republik Indonesia (ANRI). Berangkat dari hal itu, ARKIPEL Bromocorah – 7 th Jakarta International Documentary and Experimental Film Festival mengadakan pameran film berita bertajuk Kultursinema #6: Gelora Indonesia di Museum Nasional yang digelar selama tujuh hari, 18-25 Agustus 2019. Acara ini bekerja sama dengan Pusat Pengembangan Perfilman Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, ANRI, Perum Produksi Film Negara, dan Museum Nasional. Pameran ini menyajikan 61 edisi film berita Gelora Indonesia yang bertujuan untuk menunjukan salah satu media pemerintah pada era tersebut serta apa dan bagaimana informasinya disampaikan. Pengunjung dapat menyaksikan kembali narasi-narasi film berita yang buat sejak era Sukarno hingga Soeharto melalui enam layar proyektor serta beberapa layar LCD. "Karena keluaran pemerintah, mereka menyiarkan kira-kira, satu mungkin mereka bikin semacam laporan sebagai negara baru, apa-apa saja yang dilakukan di negara ini sekarang. Kemudian juga ada gambaran citra yang diberikan untuk membangkitkan semangat supaya punya cita-cita kolektif dan bersatu buat revolusi," kata Dini Adanurani, salah satu kurator pameran, kepada Historia . Pameran ini juga dibuat sebagai alternatif media pembelajaran sejarah yang selama ini didominasi oleh buku-buku pelajaran di sekolah. “Saya kira bakal sangat menarik dan edukatif buat masyarakat terutama anak-anak yang masih sekolah. Itu untuk bisa melihat secara langsung negara punya pesan apa dan medianya bagaimana serta bagaimana cara mereka menyampaikannya,” kata Dini. Pameran ini dikuratori oleh Mahardika Yudha, Afrian Purnama, Dini Adanurani, Luthfan Nur Rochman, Prashati Wilujeng Putri, Robby Ocktavian, dan Wahyu Budiman Dasta. Dini menyoroti konten Dunia Wanita dalam Gelora Indonesia. Melalui tajuk tersebut, Gelora Indonesia telah memberi ruang representasi khusus bagi perempuan. Hal ini berbeda dengan narasi sejarah Indonesia secara umum, terutama pada awal-awal pendiriannya, yang secara politis didominasi tokoh-tokoh laki-laki. Meski demikian, representasi perempuan dalam film berita, masih perlu dikaji lagi. Pasalnya, terutama pada Gelora Indonesia, meski orang di belakang layar adalah anonim, pada suara narator misalnya, hampir semua laki-laki. Dini hanya mendapati satu segmen dengan suara narator perempuan. Di mana dan bagaimana perempuan direpresentasikan kemudian menjadi penting untuk ditinjau. “Para perempuan di masa kebangkitan hanya diceritakan melalui mata dan mulut yang maskulin. Mereka tidak mendapat kesempatan untuk menjelaskan dirinya sendiri,” kata Dini. Berangkat dari hal itu, Dini membuat kompilasi fragmen-fragmen edisi Gelora Indonesia untuk menampilkan bias-bias narasi terhadap perempuan tersebut. Sementara itu, Afrian Purnama, membingkai ulang transisi-transisi visual yang digunakan sebagai jembatan antar rekaman peristiwa. Menurutnya, transisi membawa penonton Gelora Indonesia masuk dalam ruang di mana politik tidak tampak, tempat yang hanya berisi bentuk visual yang paling dasar; tanpa tokoh juga narasi propaganda sehingga keberadaannya mungkin bias juga dilihat untuk menempatkan penonton dalam kondisi default selama sementara waktu (kurang dari satu detik), menyelamatkan penonton dari kepungan visual dan narasi politik Gelora Indonesia . Kurator Prahasti Wilujeng Putri, menyajikan bagaimana Gelora Indonesia membingkai dan mengkoreografi massa. Dia juga menghilangkan suara narator untuk menunjukan bagaimana visual bekerja. Kurator Wahyu Budiman Dasta membahas bagaimana film berita Gelora Indonesia menampilkan narasi sepakbola dalam konten Olahraga, serta bagaimana sang narator bekerja untuk membawa pemirsa seperti menonton pertandingan aslinya. Produksi film berita Gelora Indonesia melewati dua periode pemerintahaan yakni era Sukarno dan Soeharto. Hal itu kemudian ditilik oleh Luthfan Nur Rochman melalui segmen pembangunan. Dia membandingakan bagaimana, baik Sukarno maupun Soeharto, menarasikan pembangunan. Propaganda film berita Gelora Indonesia juga dapat dilihat dari banyaknya pemberitaan mengenai kapal perang, pesawat tempur serta teknologi mutakhir pada masa itu. Hal ini menjadi perhatian Robby Ocktavian. Dia juga menunjukan bagaimana Gelora Indonesia , dengan alat rekamnya menampilkan hal-hal yang tidak dapat dilihat penonton pada satu waktu maupun kejadian yang tidak bisa diulang, seperti balap motor atau gedung runtuh.
- Abu Bakar, Gerilyawan Indonesia dari Jepang
GARUT, 13 Agustus 2019. Lelaki tua itu memandang tajam selembar foto berisi dua orang Jepang yang tengah ditawan tentara Belanda. Dahinya mengernyit. Tetiba matanya berubah sendu. Lama sekali dilihatnya kembali foto tersebut. “Ya ini dia Pak Abu Bakar, saya kenal dia sewaktu saya masih anak-anak di Desa Parentas,” ujar lelaki yang kerap dipanggil sebagai Haji Udin itu. Masih segar dalam ingatan Udin , bagaimana suatu siang Abu Bakar datang bersama sejumlah eks tentara Jepang lainnya ke Parentas (masuk dalam wilayah pegununungan di kaki Gunung Galunggung dan Gunung Dora di Kecamatan Cigalontang, Kabupaten Tasikmalaya). Mereka kemudian menempati sebidang tanah tinggi yang bernama Doragede lalu mendirikan 4 gubuk besar sebagai markas. “Saya ingat mereka kemudian bercocok tanam dan memelihara hewan ternak juga di sana,” kenang lelaki kelahiran Parentas 83 tahun lalu tersebut. Nyaris tiap senja datang, Abu Bakar turun gunung. Dengan menyandang senjata dan berselendang sarung Tjap Padi, dia memimpin anak buahnya menyusuri jalanan desa, menembus hutan lalu menyebrangi sungai-sungai untuk kemudian melakukan stelling di pinggir jalan raya Wanaraja-Garut. “Hai anak-anak! Doakan saya ya... Pokoknya kalau nanti terdengar ledakan, itu tandanya saya berhasil menghajar Belanda,” begitu Abu Bakar berkata tiap berpapasan dengan anak-anak seusia Udin di jalan. Beberapa jam usai kepergian mereka dari Parentas, selalu bunyi ledakan terdengar dari bawah. Itulah bunyi ledakan bom batok (sejenis ranjau darat berbentuk seperti batok kelapa) yang berhasil menghancurkan salah satu kendaraan militer Belanda: truk yang sedang mengangkut pasukan atau pun kendaraan lapis baja seperti tank, brancarrier dan panser. “Mereka biasanya pulang menjelang tengah malam, sambil membawa banyak rampasan senjata, peluru, pakaian atau makanan,” kenang Udin. Nama Abu Bakar tercatat dalam berbagai dokumen sejarah Perang Kemerdekaan di Indonesia (1945-1949). A.H. Nasution dalam Sekitar Perang Kemerdekaan Indonesia: Agresi MIliter Belanda II Jilid ke-9 menyebut Abu Bakar sebagai pemimpin gerilyawan Indonesia yang cukup piawai di wilayah Garut-Tasikmalaya. Demikian pula, nama lelaki bernama asli Masharo Aoki itu pun diabadikan dalam buku Siliwangi dari Masa ke Masa terbitan Sejarah Kodam Siliwangi. Aoki disebut-sebut bergabung dengan gerakan pembebasan Indonesia sekira 1946. Menurut Basroni, putra dari Mayor S.M. Kosasih (atasan langsung dari Aoki), lelaki Jepang itu awalnya adalah tawanan perang yang didapat oleh Pasoekan Pangeran Papak (PPP) dari sebuah pertempuran di Majalaya usai Peristiwa Bandung Lautan Api pada Maret 1946. “PPP pimpinan ayah saya, waktu itu menawan Aoki bersama sekitar 40 anak buahnya,” ungkap Basroni. Eks tentara Jepang yang di dalamnya juga terdapat orang-orang Korea itu kemudian dibawa ke Wanaraja dan diperlakukan sangat baik sebagai para tawanan perang. Merasa terkesan, Aoki kemudian menyatakan kepada Mayor Kosasih untuk masuk Islam sekaligus bergabung dengan PPP. Permintaan itu diamini oleh Kosasih dengan membawa Aoki ke hadapan guru spiritualnya Raden Djajadiwangsa, untuk diislamkan. “Kakek saya lalu memberi nama baru buat Aoki yakni Abu Bakar, sahabat utama dari Nabi Muhammad Saw,” ujar Raden Ojo Soepardjo (92), salah seorang cucu dari Raden Djajadiwangsa. Maka resmilah Aoki bersama sekitar 40 anak buahnya menjadi anggota PPP. Sesuai keahlian masing-masing, Kosasih lantas menempatkan mereka sebagai instruktur militer sekaligus komandan-komandan seksi. Ada pula yang ditempatkan sebagai tenaga medis karena memiliki latarbelakang sebagai dokter tentara, seperti Senya alias Ali. “Tapi mereka menolak untuk diberi pangkat,” ungkap Letnan Dua Raden Djoeana Sasmita (Wakil Komandan PPP) dalam selembar catatan hariannya. Sejak bergabungnya eks tentara Jepang, PPP seolah menjadi hantu yang menakutkan bagi militer Belanda. Berbagai operasi penyerangan, sabotase, dan penghadangan di sekitar Wanaraja dan kota Garut kerap mereka lakukan secara sporadis dan militan. Dua orang Korea, Guk Jae- man alias Soebardjo dan Yang Chil Sung alias Komarudin menjadi tulang punggung pasukan. Jika Jae-man mengkoordinasi operasi-operasi intelijen, maka Chil Sung bergiat sebagai koordinator Kelompok Putih, sebuah grup khusus sabotase dan penghadangan. Chil Sung kerap membuat gerah militer Belanda dengan aksi-aksi jebakannya. Misalnya, dia sering terlihat sendirian menggembala kambing lalu mengarahkan salah satu ternaknya yang sudah dipasang bom ke arah kendaraan tempur Belanda. “Tak jarang jebakan bom kambing Komarudin itu menimbulkan korban yang tak sedikit di pihak Belanda,” ungkap Odjo. Namun tak ada aksi PPP yang paling monumental selain penghancuran Jembatan Cinunuk, yang menghubungkan Wanaraja-Garut pada sekitar 1947. Suatu hari tim telik sandi yang dipimpin Soebardjo memberikan informasi bahwa dalam waktu dekat militer Belanda akan menyerang Wanaraja dan menguasainya. Berdasarkan laporan itu, suatu pagi Komarudin dan tim-nya bergerak ke Jembatan Cinunuk yang menjadi penghubung Wanaraja-Garut. Mereka kemudian meledakan jembatan tersebut sehingga tidak bisa dilewati. Maka gagallah upaya militer Belanda menguasai Wanaraja . Akibat kejadian itu, militer Belanda semakin berang. Mereka berpikir keberadaan eks tentara Jepang pimpinan Abu Bakar sebagai penghalang aksi mereka menghancurkan sistem gerilya kaum Republik di Garut. Maka dibuatlah rencana operasi perburuan dengan melibatkan satu tim elite buru sergap dari Yon 3-14-RI (Regiment Infanterie), sebuah batalion Angkatan Darat Belanda yang dipimpin Letnan Kolonel P.W. van Duin.*
- Medan Prijaji, Medan Laga Tirto Adhi Soerjo
PLANG nama bangunan itu terbaca jelas. “Yayasan Pusat Kebudayaan”. Hurufnya keperakan, timbul di atas kayu cokelat. Pintu dan jendela besarnya tertutup rapat. Bangunan di Jalan Naripan No 7—9, Bandung, Jawa Barat, ini peninggalan kolonial. Langgamnya arsitektur modern 1930-an. Sekarang menjadi tempat pertunjukan seni tari, lukis, dan teater. “Bangunan ini sempat mengalami perubahan bentuk. Awalnya tidak seperti ini. Tapi saya tidak tahu bahwa bangunan ini dulunya berfungsi sebagai percetakan Medan Prijaji ,” kata Lenny Muliawati, salahsatu pengurus Yayasan Pusat Kebudayaan (YPK). Buku informasi terbitan YPK berjudul Yayasan Pusat Kebudayaan Dari Masa ke Masa juga tidak memuat keterangan penggunaan bangunan ini sebagai percetakan Medan Prijaji . Buku ini langsung menginjak masa 1930-an saat bangunan ini digunakan untuk kongkow oleh kelompok Indo (anak hasil nikah orang Eropa dan orang tempatan). Bagian Medan Prijaji (MP )terlupakan. Begitu pula dengan sosok penggeraknya, Tirto Adhi Soerjo (TAS). Mungkin karena TAS sempat hilang dalam semesta sejarah Indonesia. Bahkan keturunan TAS pun mengenalnya melalui buku lebih dulu. “Baru kemudian diceritakan oleh orangtua,” kata R.M. Joko Prawoto Mulyadi alias Okky Tirto, cicit TAS dari garis istri pertama. MP merupakan pers buah karya TAS. Dalam novel Tetralogi Buru karya Pramoedya Ananta Toer dan film Bumi Manusia garapan Hanung Brahmantyo, TAS menjelma sebagai Minke. Seorang putus sekolah dari STOVIA atau Sekolah Pendidikan Dokter Hindia di Batavia. Dia lebih senang dengan dunia pers dan dagang. MP terbit kali pertama pada 1 Januari 1907 dalam format mingguan. Banyak orang yakin bahwa tempat terbit awalnya di Bandung. Keterangan ini diperoleh dari Parada Harahap, pewarta tenar 1930-an. “Seorang journalist toean R.M. Tirtohadisoerjo mengemudikan s.k. Medan Prijaji di Bandoeng,” kata Parada Harahap dikutip oleh Soebagio I.N. dalam Sebelas Perintis Pers Indonesia . Pramoedya Ananta Toer, sastrawan sekaligus sosok paling berjasa dalam mengembalikan TAS ke semesta sejarah Indonesia, tidak menyebut secara gamblang tempat terbit awal MP . Baik dalam novel Jejak Langkah (bagian ketiga dari Tetralogi Buru yang mengisahkan Minke mengembangkan bisnis dan gagasan medianya) maupun Sang Pemula (biografi TAS). Mendekati Priyayi Tapi apa yang jelas dari MP jauh lebih banyak. Antara lain peran, visi, pengaruh MP selama terbit, dan warisannya setelah kandas . Muhidin M. Dahlan, penulis sekaligus arsiparis, dan Iswara Raditya, sejarawan merangkap jurnalis, menyebut peran MP berbeda dari Soenda Berita ( SB ), pers lain buatan TAS di Cianjur pada 7 Februari 1903. “Lebih dari Soenda Berita yang cenderung berperan sebagai luapan otak dan pemikiran Tirto dengan sesekali memberikan cubitan kepada aparat kolonial, Medan Prijaji lebih meresapi lakonnya sebagai medan bertarung Tirto untuk membela rakyatnya dari penindasan, dan tujuan ini tidak main-main,” tulis Muhidin dan Iswara dalam Karya-Karya Lengkap Tirto Adhi Soerjo : Pers Pergerakan dan Kebangsaan . Ada juga kesamaan SB dengan MP . Keduanya bertumpu sekuatnya pada keyakinan bahwa kemajuan bangsa dapat tercapai melalui paduan pers dan dagang. TAS mengibaratkan pers sebagai matahari dunia dan memaklumatkan dagang menjadi laku kemandirian. Keduanya saling menyokong. Dia ikhtiarkan keduanya pada tiap pers bikinannya. Gagasan TAS tentang paduan pers dan dagang kian matang seiring tempo. Ini tampak dalam pembiayaan dan pemilihan isi MP . TAS mencari modal dari kantong anak negeri. Maka dia kunjungi sejumlah priyayi dan bangsawan di pelosok negeri. Hingga terpikirlah ide membentuk Sarikat Prijaji pada 1906. Lenny Muliawati, salah satu pengurus gedung YPK Bandung Sarikat Prijaji bertujuan memperbaiki pengajaran di kalangan anak negeri. Caranya dengan menghimpun dana dari priyayi dan bangsawan. Dana itu juga untuk penerbitan media berkala milik organisasi. TAS menyeleksi priyayi dan bangsawan. Mana yang sejalan dengan gagasannya, mana yang tidak. Banyak priyayi dan bangsawan terpikat dengan gagasan, kepribadian, dan tulisan TAS di pers sebelum SB dan MP . Mereka memutuskan ikut mendukung Sarikat Prijaji dan penerbitannya. Dari pembentukan Sarikat Prijaji, TAS menerima bantuan dua orang besar untuk memodali MP . Mereka adalah R.A.A Prawiradiredja, Bupati Cianjur dan Oesman Sjah, Sultan Bacan, sebuah negeri di wilayah timur Hindia. Selain dari priyayi dan bangsawan, TAS memperoleh dana dari calon pelanggan MP . Target pasar MP jelas : kalangan terdidik, priyayi, dan bangsawan. Mereka berpenghasilan lebih dari cukup untuk hidup enak selama satu bulan. Jika mereka ingin berlangganan MP , TAS mensyaratkan pembayaran di muka untuk masa per kwartal, semester, atau tahun. Kebijakan TAS tadi tak lazim dalam segi niaga pers sezaman di Hindia Belanda. “Pada masanya, dalam kehidupan perniagaan Pribumi, langkah yang diambilnya dengan berani itu merupakan sesuatu yang sama sekali baru,” ungkap Pramoedya dalam Sang Pemula . Dengan begitu, selesailah urusan pembiayaan. Berikutnya mengenai isi MP . TAS telah punya gambarannya sebelum MP terbit. “Memberi informasi, menjadi penyuluh keadilan, memberikan bantuan hukum, tempat orang tersia-sia mengadukan halnya, mencari pekerjaan bagi mereka yang membutuhkan pekerjaan di Betawi, menggerakkan bangsanya untuk berorganisasi atau mengorganisasi diri, membangunkan bangsanya, dan memperkuat bangsanya dengan usaha perdagangan,” catat Pram dalam Sang Pemula . Gambaran itu benar-benar diejawantahkan oleh TAS dalam tiap terbitan MP . Karena itu, MP telah menarik garis pemisah dari pers semasa. Ia tak hanya pers niaga, melainkan juga pers kebangsaan. Bangsa Terprentah Melalui MP, TAS mengajukan konsep kebangsaan. Itu terpampang jelas dalam jargon halaman muka MP terbitan tahun-tahun awal. “Swara oentoeq sekalian radja-radja, bangsawan asali, bangsawan fikiran, prijaji-prijaji, dan kaoem moeda dari bangsa priboemi serta bangsa jang dipersamahken dengannja di seloeroeh Hindia Olanda”. Jargon ini bersulih bunyi kala MP mulai terbit harian sejak 1910. Masa itu pula percetakannya mengambil lokasi di Jalan Naripan, Bandung. TAS menambahkan konsep ‘bangsa jang terprentah’ dalam jargon MP . Maksudnya, “Bahwa suatu bangsa tidak didasarkan pada status sosial, kasta, terlebih ras,” terang Okky Tirto. Bangsa harus didasarkan pada satu simpul bersama yang melampaui hal-hal termaksud. TAS melihat ikatan tersebut berupa keadaan terperintah oleh kolonialisme asing dan feodalisme lokal. ‘Terprentah’, inilah simpul pertemuan beragam golongan di Hindia. Tidak peduli dia Bumiputera, Indo, Tionghoa, Arab, saudagar, priyayi, atau jelata. “Selama dia memiliki perhatian dan keterlibatan bersama dengan orang-orang ‘terprentah’, selama itulah dia termasuk bangsa kami,” lanjut Okky. Dari kredo itulah MP bergerak membela golongan ‘Terprentah’. Mulai penjual ikan pindang dan kering di pasar, bupati, sultan-sultan di luar Jawa dan Madura, sampai pejuang Aceh terbuang di Bandung. TAS sangat menikmati masa-masa ini. Dia begitu leluasa menggebuk kuasa kolonial dan feodal tersebab punya cukup pengaruh di pucuk pemerintahan dan massa arus bawah. TAS membangun hubungan baik dengan Gubernur Jenderal J.B. van Heutsz (1904—1909). Dia angkat topi untuk kebijakan van Heutsz. “Karena ketegasannya dalam melakukan perombakan besar dalam kebijaksanaan pemerintahan, pembukaan mata pencarian baru bagi penduduk, kekerasan dan ketanganbesiannya dalam mempersatukan seluruh Hindia,” catat Pramoedya. Sri Baginda Ratu Belanda mengetahui perubahan kebijakan di negeri koloni. Dia mempercayakan semua halnya kepada van Heutsz. Berbekal kepercayaan inilah van Heutsz juga merombak cara menyensor pers. Dari sensor preventif ke sensor represif. Ini membuat hidup pers lebih bebas. Halaman muka Medan Prijaji. Terpampang slogan bangsa jang terprentah. Foto: Wikipedia TAS pernah lolos dari sengketa dengan pejabat pemerintah Hindia Belanda semasa van Heutsz berkuasa. Kasus itu berpangkal dari tulisan TAS tentang penyelewengan wewenang pejabat Eropa dan anak negeri. Pejabat termaksud merasa terhina dan mengadukan TAS ke pengadilan atas delik umpatan. Untuk kasus ini, warga desa pun turut menjadi pembela TAS dan MP. Mereka semua sebarisan, melawan laku lancung pejabat pemerintah. Dalam masa pemerintahan van Heutsz pula MP bisa tumbuh dan menyebar luas dengan kritik tajamnya terhadap ketidakberesan pemerintahan. Badan hukum, kantor cabang, dan percetakan MP berdiri di sejumlah wilayah : Buitenzorg (Bogor), Batavia, Bandung, Jawa Tengah, dan Negeri Belanda. Tirasnya sempat mencapai 2.000 eksemplar. Cukup besar untuk pers semasa. Sebagai bentuk terimakasih kepada sikap longgar Sri Baginda Ratu dan van Heutsz, TAS menulis seperti berikut di MP Tahun III, 1909. “Saya akan memanah hingga mati pengrusak-pengrusak kepercayaan Sri Baginda Ratu.” Pailit dan Dibuang ke Ambon Tapi kekuasaan tidak pernah abadi. Masa van Heutzs berakhir. Dan TAS ternyata tak pernah menyadari ikhtiarnya menuai dua hal berlawanan : buah simpati sekaligus benih permusuhan. Pada masa setelah van Heutsz, benih-benih dendam dan perlawanan balik pejabat kolonial dan feodal tumbuh lebih cepat dan besar daripada MP . Pertumbuhannya turut dipupuk oleh Gubernur Jenderal A.W.F Idenburgh (1909—1916). Dia lebih keras kepada pers. Kloplah formasi ini. Pertama-tama, mereka melepaskan anak panah balasan ke arah TAS. TAS mengalami pembuangan selama dua bulan ke Teluk Betung, Lampung, pada 18 Maret 1910. “Saya telah dibuang karena mengusik kelakuan seorang aspirant controleur (calon pengawas atau pejabat Hindia Belanda-Red.)dengan menggunakan kalimat menghinakan,” kata Tirto, seperti dikutip oleh Muhidin dan Iswara. Kasus ini pada masa van Heutsz sebenarnya sudah masuk peti es, tetapi dibuka lagi pada masa Gubernur Jenderal Idenburgh. Anak panah berikutnya melesat ke MP pada 1911. Tertancap tepat sasaran ke jantung MP, yaitu organ finansialnya. Mereka kelimpungan setelah banyak perusahaan besar batal pasang iklan di MP . Beberapa priyayi dan bangsawan sengaja menunggak pembayaran uang langganan MP. Sirkulasi uang perusahaan penaung MP pun terhambat. Bagian dalam percetakan Medan Prijaji sudah berubah. Pers ini tutup buku pada 22 Agustus 1912. (Foto: Fernando Randy/Historia) Keuangan perusahaanmenipis sehingga terpaksa berutang. Sedikit-sedikit, lalu menjadi bukit. MP tak sanggup membayarnya. Terbitan MP pun terhenti sejak Januari 1912. Pengadilan lalu memutus perusahaan penaung MP telah pailit. Kantor cabang MP di beberapa wilayah dan percetakannya disita. MP habis riwayat pada 22 Agustus 1912. Bagaimana nasib TAS? Dia turut terseret gugatan pengadilan lantaran perkara tunggakan utang. Hukumannya lagi-lagi pembuangan. Dia berangkat ke pembuangannya di Ambon pada akhir 1913. “Semua yang telah dibangunnya runtuh. Juga nama baiknya,” tulis Pram. Bahkan percetakan MP di Jalan Naripan, Bandung, pun tak kelihatan lagi. Berganti bangunan baru. Tapi Pram mengingatkan bahwa sejatinya TAS dan MP masih bersemayam. “Yang tinggal hidup adalah amal dan semangatnya.”
- Kisah Tengkorak Bersin
KETIKA berpangkat kapten, Soegih Arto ditugaskan untuk memimpin Batalyon 22 Brigade XIII Divisi Siliwangi. Wilayah wewenangnya meliputi Cililin, Gunung Halu dan sebagian Cianjur (Ciranjang). Di Cililin, Yon 22 berhadapan langsung dengan KST (Kors Pasukan Khusus) yang bermarkas di Batujajar (sekarang menjadi pusat pendidikan latihan Kopassus). Begitu militer Belanda melancarkan aksi polisional ke-1 (dalam sejarah Indonesia dikenal sebagai aksi Agresi Militer Belanda I) pada Juli-Agustus 1947, Yon 22 terdesak sampai ke pedalaman. Tentu saja situasi tersebut memutlakan mereka untuk melakukan perang gerilya terhadap kedudukan pasukan Belanda. “Kami jadinya sering melakukan patroli dan berbagai penghadangan terhadap konvoi mereka di sepanjang jalan raya,” ujar Soegih Arto dalam Saya Menulis Anda Membaca (Sanul Daca), Pengalaman Pribadi Letjen (Purn) Soegih Arto . Suatu hari sepulang dari patroli, satu seksi pasukan Yon 22 kemalaman di jalan. Terpaksalah mereka harus menginap di satu lapangan kosong bekas kuburan. Pasukan yang kelelahan itu, setelah mengatur giliran jaga sebagian besar langsung "terkapar". Saat mau tidur inilah, seorang prajurit bernama Holil menemukan tengkorak manusia di salah satu sudut lapangan. Pagi-pagi sekali, seluruh seksi telah dibuat panik karena mendengar suara orang berteriak-teriak histeris. Ketika disambangi nampak Holil sedang memegang tengkorak tersebut sambil menjerit-jerit. Setelah ditenangkan, dia baru bisa menceritakan mengapa dia begitu ketakutan. “Secara iseng, begitu bangun dia menggelitiki hidung tengkorak itu,” tulis Soegih Arto. Tanpa diduganya, tetiba tengkorak itu langsung “bersin”: Hachiiiiisss!!! Mendengar cerita itu, alih-alih menjadi takut seluruh seksi malah menyambutnya dengan tawa terbahak-bahak. Hanya Holil yang berwajah serius dan berkali-kali meyakinkan kawan-kawannya bahwa dia sedang tidak bercanda. Menanggapi cerita Holil, Soegih sendiri hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala. Di lain kesempatan, prajurit Holil lagi-lagi membuat cerita. Namun kali ini kendati kisah itu lucu namun menjadi musibah bagi dirinya. Ceritanya saat pulang patroli rutin, pasukan Yon 22 beristirahat di bawah sebatang pohon besar. Guna mengantisipasi kedatangan musuh secara mendadak, Soegih memerintahkan Holil untuk mengawasi keadaan sekitar dari atas pohon tersebut. Entah karena lelah atau memang bawaan suasana sejuk dengan angin sepoi-sepoi, di atas pohon Holil tertidur dan dilupakan kawan-kawannnya yang begitu merasa cukup beristirahat langsung bergerak lagi menuju markas mereka di wilayah Gunung Halu. Tak terasa waktu pun berlalu. Menjelang sore, sepasukan tentara Belanda yang juga baru pulang berpatroli tiba di bawah pohon tersebut dan memutuskan untuk istirahat. Saat itulah Holil yang sedang terlelap di atas pohon tetiba terbangun dan langsung kaget begitu melihat pasukan Belanda ada di bawahnya. Begitu kagetnya, Holil lantas meluncur dan jatuh tepat di tengah-tengah pasukan Belanda tersebut. Kontan seluruh pasukan Belanda yang sedang berleha-leha itu buyar dan kabur ke segala arah. Bisa jadi mereka mengira Holil adalah hantu penunggu pohon yang marah karena mereka menempati wilayahnya tanpa permisi. Namun setelah mengetahui yang terjatuh itu adalah anggota TNI, pasukan Belanda langsung mengepung Holil dan menangkapnya. Jadilah Holil sebagai tawanan pertama dari pihak Yon 22. Lantas dari mana Soegih mendapatkan kisah lucu namun sial itu? “Saya mengetahui cerita ini dari Holil secara langsung waktu kami sama-sama menjadi penghuni Penjara Banceuy di Bandung,” kenang Soegih. Memang beberapa bulan setelah kejadian yang dialami Holil, Soegih Arto bersama beberapa anak buahnya berhasil dijebak oleh pasukan Belanda. Seperti biasa, penangkapan itu melibatkan pula mata-mata dari kalangan bumiputera sendiri yang menurut Soegih tak lain adalah orang terdekatnya sendiri. Soegih mendekam di Penjara Banceuy hingga akhir 1949, usai Belanda mengakui kedaulatan pemerintah Republik Indonesia.
- Berkunjung Lagi ke Masa Lalu
SEJUMLAH orang bergerombol, sebagian membentuk antrean di pelataran Hall B3 Jakarta International Expo, Kemayoran, Jakarta Pusat pada Sabtu 17 Agustus 2019. Di antara antrian itu ada seorang perempuan yang terlihat sangat antusias. Terasa cukup kontras dengan orang-orang di sekitarnya. Adalah Meka Triani (29), karyawati di salah satu perusahaan swasta di Jakarta, yang mengaku telah berada di sana sejak pukul 14.00. “Agak lama sih, panas juga, tapi enggak apa-apa yang penting nanti happy ,” ucap ibu dua anak tersebut kepada Historia . Menurut Meka, sedari siang puluhan bahkan mungkin ratusan orang telah memadati area itu, menunggu gerbang hitam yang membentang di hadapan mereka terbuka. Apa gerangan yang ditunggu Meka dan orang-orang hingga mereka rela berdiri di bawah matahari yang cukup terik siang itu? Rupanya Ismaya Live bersama Generasi 90an kembali menggelar acara nostalgia untuk anak generasi tahun 90an, yakni Festival Mesin Waktu. Gelaran yang pertama kali diselenggarakan pada 2017 itu menyajikan penampilan musik, film, makanan, hingga berbagai jenis permainan yang lazim ditemukan pada era 1990 hingga 2000. Masih mengusung tema dekade 90-an, Festival Mesin Waktu 2019 memberikan konsep baru yang tentunya tidak kalah meriah dengan edisi pertamanya. Berbeda dengan sebelumnya, Festival Mesin Waktu 2019 ini terselenggara dalam suasana yang spesial karena bertepatan dengan HUT ke-74 Republik Indonesia. Panitia penyenggara pun meracik nuansa nostalgia di acara tersebut dalam balutan khas hari kemerdekaan, di antaranya upacara bendera dan perlombaan-perlombaan yang semakin meramaikan acara Festival Mesin Waktu 2019. Dalam rilisnya, pihak penyelenggara menyebut jika mereka memang telah melakukan persiapan untuk acara di Festival Mesin Waktu 2019 dengan menyediakan tiang bendera di samping kiri panggung utama dan mengundang anggota Paskibra Jakarta Selatan 2018 sebagai pasukan upacara bendera. Selain upacara bendera, pihak panitia juga mempersiapkan lomba-lomba sebagai bagian dari rangkaian HUT RI. Ada lomba makan kerupuk, lomba balap karung, lomba memindahkan kelereng, hingga lomba memasukkan pensil ke dalam botol. Para pengunjung yang hadir sangat antusias menikmati aneka lomba tersebut, utamanya anak-anak. Area Festival Mesin Waktu sendiri dibagi menjadi 5 zona, yaitu Zona Musik, Zona Nonton, Zona Museum, Zona main, dan Zona Jajan. Namun tahun ini pihak penyelenggara kembali melakukan inovasi dengan menambah dua zona baru, yakni Zona Nyaman dan Zona Karaoke. Tren Hiburan Tahun 90-an Zona Nonton disajikan dalam suasana yang sangat nyaman. Para pengunjung bisa menikmati film tanpa batasan. Mereka boleh duduk bersila, berdiri, bahkan rebahan di bean bag sekalipun. Film-film yang diputar pun merupakan tontonan yang ramai pada era 90an. Pada Festival Mesin Waktu 2019 ada empat film yang diputar, yaitu Lupus , Olga Sepatu Roda , Saras 008 , dan Keluarga Cemara . Lupus menjadi film pembuka di Zona Nonton. Karakter fiksi yang pertama kali diperkenalkan tahun 1986 dalam novel Lupus: Tangkaplah Daku Kau Kujitak ini menjadi pujaan bagi anak 90-an. Dengan permen karet yang selalu terkunyah di mulutnya, gaya hidup Lupus menjadi tren di kalangan siswa SMA kala itu. Setelah menonton Lupus , para pengunjung di Zona Nonton diajak mengenang masa-masa tahun 90-an bersama Irfan Ramli, Ruben Adrian, dan Marchella FP, penulis buku best seller “Generasi 90an”. Setelah menonton Olga Sepatu Roda (diproduksi tahun 1991), dan Saras 008 (diproduksi tahun 1998), acara utama di Zona Nonton ditutup dengan film Keluarga Cemara (produksi tahun 2019). Salah satu sinetron yang begitu laris pada era 90an ini dibuat berdasarkan cerita bersambung karya Arswendo Atmowiloto. Keluarga Cemara menjadi sinetron yang waktu penayangannya sangat panjang, terhitung sejak 6 Oktober 1996 sampai 28 Februari 2005. Hanyut dalam Kenangan Zona musik menjadi area terbesar, sekaligus tempat berdirinya panggung utama acara Festival Mesin Waktu 2019. Seluruh agenda inti dilangsungkan di Zona Musik ini. Mulai dari kuis Family 100, senam SKJ, upacara bendera, hingga puncaknya konser musik. Kuis Family 100 diadaptasi dari acara kuis asal Amerika Serikat, Family Feud dan Family Fortunes. Family 100 menjadi salah satu program kuis tersukses di Indonesia karena berhasil tayang sebanyak lebih dari 2.500 episode. Acara yang pertama kali mengudara pada 1996 itu telah diproduksi oleh banyak stasiun tv, termasuk ANTV dan Indosiar sebagai yang pertama memproduksi acara ini. Setelah acara Family 100, agenda disambung dengan Senam Kesegaran Jasmani (SKJ). Senam yang sempat diwajibkan pada era Orde Baru selama tahun 80-an dan 90-an itu biasa dilakukan hanya satu hari dalam seminggu, yakni Jumat pagi. SKJ diperkenalkan pada awal 1984, perubahan dari Senam Pagi Indonesia (SPI) pada akhir 70-an. Senam ini biasanya diiringi lagu berirama dengan gerakan yang cukup mudah diikuti. Sekira pukul 18.30, Rida Sita Dewi (RSD) naik ke atas panggung. Trio asal Bandung yang memulai karir kemusikan sejak 1994 itu membawakan 11 lagu dari 4 album yang telah mereka lahirkan. Lagu-lagu seperti ‘Masih Ada’, ‘Datanglah’, dan ‘Ketika Kau Jauh’ berhasil membawa para penonton hanyut dalam kenangan masa lalu. Setelah RSD, aksi panggung P-Project yang jenaka membawa minggu malam itu semakin meriah. Kelompok komedi asal Bandung yang dibentuk oleh sejumlah mahasiswa pada 1982 ini menampilkan musik parodi sebagai sajian panggung utama mereka. Penampilan Joe dan kawan-kawan mampu mengajak penonton untuk ikut berdendang, sambil diselingi candaan yang membawa gelak tawa di ruangan yang besar itu. Glenn Fredly membuka penampilannya dalam balutan kemerdekaan yang sangat kental. Ia masuk dengan membawa bendera Merah Putih sambil diiringi lagu ‘Zamrud Khatulistiwa’ karya Chrisye. Memulai karir musik tahun 1995, Glenn pernah dikenal sebagai penyanyi R&B Soul dengan lagu hitsnya ‘Kau’ dan ‘Cukup Sudah’. Dengan penampilan dan suaranya yang khas, lagi-lagi Glenn selalu dapat menghanyutkan para penonton dalam suasana sendu. Penampilan malam itu ditutup Glenn dengan salah satu hits andalannya, ‘Kasih Putih’. Permainan Masa Lalu Selain penampilan musik, para pengunjung Festival Mesin Waktu 2019 juga dimanjakan dengan permainan-permainan yang ada di Zona Main. Console Game menjadi sajian utama di zona permainan digital ini. Para pengunjung dibuat anteng memainkan permainan dari kaset-kaset yang disediakan. Beberapa buah Console Game merek SEGA dan PlayStation disiapkan untuk membunuh kebosanan para pengunjung di sana. SEGA pertama kali diperkenalkan di Indonesia sekitar tahun 1995. Consolegame ini dengan cepat digandrungi oleh remaja-remaja kala itu. Walau harganya terbilang mahal, tetapi keberadaannya mampu menjadi opsi baru bagi permainan anak-anak tahun 90-an. Setelah SEGA, muncul PlayStation generasi 1 tahun 2000-an, yang semakin memberi keragaman bagi permainan digital di Indonesia.*
- Api di Jawa Merembet ke Papua
MAHASISWA Papua di Surabaya diteriaki kata "monyet" karena dituding melecehkan bendera Merah Putih. Umpatan tersebut dilontarkan seorang oknum TNI di depan asrama mahasiswa Papua dan terekam dalam video yang kini menjadi viral. Buntutnya jadi panjang: Kantor DPRD Manokwari dibakar. Kerusuhan pun mulai menjalar ke Abepura, satu-satunya jalan menuju ke Kabupaten Jayapura. Belajar dari sejarah, kerusuhan serupa juga pernah terjadi, bahkan berujung jadi huru-hara. Pada 1996, kota Abepura mencekam. Peristiwa ini tidak dapat dilepaskan dari tokoh Papua bernama Thomas Wapai Wanggai. Siapa dia? Thomas Wanggai disebut-sebut sebagai Nelson Mandela-nya orang Papua. Lahir pada 5 Desember 1937, Thomas mendapat pendidikan tinggi bidang administrasi pemerintahan dari Okayama University dan Florida State University. Lantas dia berkidmat sebagai pengajar di Universitas Cenderawasih. Pada 18 Desember 1988, Thomas mendeklarasikan berdirinya Republik Melanesia Barat yang wilayahnya meliputi Papua. Upacara proklamasi itu dilakukan di Stadion Mandala – stadion sepakbola terbesar di Jayapura. Pemerintah Indonesia tidak tinggal diam. Thomas ditahan oleh aparat keamanan. Pengadilan Negeri Jayapura memvonis Thomas hukuman penjara selama 20 tahun. Thomas sendiri sebagaimana diberitakan Forum Keadilan, 8 April 1996 merasa geram dengan putusan hakim. Dari Lembaga Pemasyarakat Jayapura, dia kemudian dipindahkan ke penjara Cipinang, Jakarta Timur. Pada 13 Maret 1996, Thomas meninggal di penjara Cipinang secara tidak wajar. Keluarga dan kerabat curiga kalau Thomas dibunuh. Mereka menuduh Kepala Lembaga Cipinang Jakarta terlambat mengirimkan Thomas Wanggai yang sedang sakit keras ke pihak Palang Merah Internasional (ICR). “Mereka juga menuduh soal hilangnya jenazah dari lemari kamar mayat di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo Jakarta tanpa sepengetahuan keluarga,” tulis Decki Natalis Pigay dalam Evolusi Nasionalisme dan Sejarah Konflik Politik di Papua . Sementara itu, laporan Dennis Blair dan David Philips dalam Peace and Progress in Papua menuliskan penyebab kematian Thomas karena keracunan makanan. Tapi dugaan itu masih belum terbukti secara pasti. Pemerintah Indonesia pun memberikan keterangan yang samar. Kabar meninggalnya Thomas menyebabkan pergolakan di Papua. Pengiriman jenazah Thomas ke Jayapura pada 18 Maret 1996 disambut dengan aksi kerusuhan massa. Menurut Saurip Kadi dalam TNI-AD Dahulu, Sekarang, dan Masa Depan , aparat menolak keinginan sekelompok warga yang ingin menyemayamkan jenazah Thomas di Kampus Universitas Cendrawasih. Penolakan ini memantik kemarahan masyarakat. Kerusuhan meletus di sepanjang jalan Sentani-Abebura. Sejumlah toko dan kios di pasar Abepura habis dilalap api. Massa melemparkan bom molotov. Ada yang menyobek bendera Merah Putih serta ada pula yang menaikan bendera Bintang Kejora. Decki Pigay mencatat, 4 orang tewas dalam kerusuhan Abepura dari pihak TNI (saat itu bernama ABRI) dan pendatang. Selain itu, sebanyak 25 mobil, 15 sepeda motor, dan puluhan bangunan yang rusak. Untuk mengamankan Abepura, militer terpaksa turun tangan. Pasukan pemukul Kostrad yang beroperasi di wilayah eksplorasi Freeport didatangkan. ABRI mengerahkan kekuatan tambahan meliputi pasukan Batalion 751 Kodam Trikora, Kodam Siliwangi sebanyak 330 personel, Kopassus, dan kesatuan anti huru-hara yang didatangkan dari Makassar. Kodam Trikora yang dipimpin Kepala Staf Brigjen Joni Lumintang mengadakan pertemuan dengan 42 orang tokoh masyarakat dan pejabat setempat. Sedikitnya, 100 orang ditahan, sebanyak 20 orang terbukti sebagai dalang kerusuhan. Sejak itu setiap malam berlaku perintah tembak di tempat bila ada yang keluar di atas pukul 22.00. “Kematian misterius itu meninggalkan luka di hati bangsa Papua hingga kini,” tulis Tabloid Jubi , 27 Mei 2011.*
- Sarina, Potret Keluarga Indo Setelah Keruntuhan Hindia Belanda
SARINA hanya bisa pasrah. Pada 1942, suaminya ditahan di kamp Jepang. Sarina terpaksa berpisah dengan orang yang dicintainya itu. Bukan hanya itu, rumah mereka pun diambil paksa. Sarina lalu hidup menggelandang. Pendudukan Jepang dengan semboyan “Asia untuk Orang Asia” membuat orang-orang Eropa ditangkapi lalu dimasukkan ke kamp. Putihnya kulit tidak lagi jadi kebanggaan tapi justru membawa kesialan. Tak terkecuali bagi keluarga ras campur. Para perempuan pribumi yang tinggal bersama lelaki Eropa harus terpisah dengan keluarga mereka. Asal-usul keturunan memainkan peran besar bagi selamat-tidaknya seseorang karena politik rasial digunakan Jepang dengan orang Asia (Jepang) berada di strata tertinggi. Jepang menciptakan perbedaan besar antarkelompok masyarakat khususnya orang Eropa, campuran, dan Asia. Untuk bisa membedakan antara Belanda murni dan campuran, Jepang mengadakan wajib pencatatan. “Di sini status si ibu yang pribumi punya peran besar dalam keselamatan si anak yang tadinya berstatus Eropa,” kata Reggie Baay, penulis Nyai dan Pergundikan di Hindia Belanda , kepada Historia. Karena berdarah Asia, para nyai tidak diusik dan dibiarkan berada di luar kamp. Keberadaan nyai mendadak jadi sangat penting untuk anak-anak dari hubungan ras campur. Berkat ibu pribumi mereka, anak-anak indo mendapat asal-usul, yaitu bukti bagi keturunan Asia yang dikeluarkan melalui arsip negara. Dengan begitu anak Indo ini tidak dianggap sebagai golongan Eropa. Beberapa anak indo yang berhasil lolos dari penangkapan tetap tinggal di rumah atas perlindungan ibu pribuminya. Status pribumi inilah yang digunakan Nyai Saila, gundik seorang Belgia bernama Eduard, untuk menyelamatkan anak-anaknya yang berstatus Eropa. Kendati Eduard sudah meninggal semasa pendudukan Jepang, Saila tidak lepas hubungan dengan anak-anak indo-Eropanya. Berkat Saila-lah anak-anaknya memiliki asal-usul pribumi dan dibolehkan tinggal di luar kamp. Namun pada praktiknya, pencatatan ini menimbulkan kekacauan lantaran kriteria yang digunakan amat rancu dengan penerapan yang sembarangan. Anak-anak yang lahir dari pasangan campur yang sama, misalnya, bisa dimasukkan dalam kategori yang berbeda. Akibatnya, tak jarang seorang kakak masuk golongan Eropa dan tinggal di kamp sementara adiknya masuk golongan pribumi dan tetap tinggal bersama ibunya. Kemerdekaan juga membawa dampak bagi keluarga ras campur. Sukarno meminta semua orang Belanda secepatnya meninggalkan Indonesia. Bernard Dorleans dalam Orang Indonesia dan Orang Perancis menceritakan kebingungan warga sipil Belanda yang diusir dari bekas negeri jajahannya. Bekas pemilik perkebunan, importir yang izin usahanya dibekukan, mantan kepala kantor beserta anak buahnya, berkumpul di bar-bar yang masih buka di Jakarta. Ada yang berencana melanjutkan hidup di Australia, Amerika, dan sebagaian kembali ke kampungnya di Belanda. Gelombang repatriasi orang-orang Belanda dimulai sejak 1950-an. Pemulangan dibagi dalam tiga tahap sesuai prioritas: steuntrekkers (golongan tidak memiliki pekerjaan), middenstanders (kalangan menengah), dan vakspecialisten (kalangan tenaga ahli). Dalam pengiriman kembali itu, banyak lelaki Eropa membawa serta pasangan pribumi mereka meski ada juga yang ditinggalkan di Indonesia. Reggie Baay dalam bukunya Nyai dan Pergundikan di Hindia Belanda memperkirakan, pada 2008 ada 600 ribu orang indo di Belanda punya garis keluarga dengan perempuan pribumi. “Ada yang melanjutkan hidup di Belanda. Dari merekalah asal-usul Indo di Belanda,” kata Reggie Baay. Sarina salah satu yang ikut pindah ke Belanda pasca-pengakuan kedaulatan. Dia akhirnya berhasil kumpul kembali dengan sang suami setelah perang usai. Suaminya menemukan Sarina dalam keadaan serba kekurangan. Dengan segala upaya mereka membangun ulang hidup. Pada 1955, Sarina dan suaminya berangkat ke Belanda. Mereka tinggal di Desa Bilthoven, Provinsi Utrecht. Sepeninggal suaminya, Sarina hidup dalam kesunyian di dunia yang amat asing. Tak ada yang memahami Sarina karena hanya bisa berbahasa Sunda. Ia lebih sering bercengkrama dengan anjing dan burung parkit peliharaannya dibanding cucu-cucunya.*
- Saat Suara Bung Karno Berkumandang di Los Angeles
ANGIN di Los Angeles State Historic Park, Amerika Serikat hari itu tengah bersahabat. Embusannya nan sepoi-sepoi mengibarkan tiga bendera dwiwarna, Merah-Putih yang tengah diusung 17 anak Indonesia di atas panggung. Lantas sayup-sayup lagu kebangsaan “Indonesia Raya” syahdu terdengar dinyanyikan Niki membuka penampilannya. Sekira 25 ribu penonton Head in The Clouds Festival di Los Angeles, Sabtu (17/8/2019) jadi saksi. Bagaimana Niki, salah satu performer 88 Rising asal Indonesia begitu bangga pada negerinya yang tengah berulangtahun ke-74 di hari itu. Memang Niki tak menyanyikannya lengkap, namun setidaknya 25 ribu fans di Negeri Paman Sam itu menjadi sangatsadarakan sebuah negeri di belahan bumi lain yang tengah berulang tahun. Penghayatannya lebih terasa saat nyanyian “Indonesia Raya” dari Niki itu dibarengi rekaman suara pembacaan teks proklamasi Sukarno. Niki juga tampil dengan busana stylish , seksi, namun sangat “Indonesia” dengan perpaduan warna merah dan putih. Tidak hanya Niki bintang asal Indonesia yang tampil di panggung utama festival, ada Rapper Rich Brian yang tak mau kalah unjuk identitas ke-Indonesia-annya. Rich Brian tampil menutup puncak acara dengan tembang-tembang andalannya. Di lagu terakhir, Rich Brian menampilkan sejumlah cuplikan kehidupan di Jakarta. Tak lupa sebelum berpamitan dengan penonton, ia menampilkan sang dwiwarna di videotron raksasa yang jadi latar panggung utama. Rich Brian di penutupan Head in the Clouds Festival Festival itu sendiri diprakarsai 88Rising yang selama ini juga menaungi sejumlah musisi Indonesia, seperti Niki dan Rich Brian. Selain keduanya, sedianya 88Rising juga memberi panggung pada empat musisi muda lainnya, meski tak di panggung utama: Devinta, Moneva, Arta dan Marcello. Tampilnya mereka tak lain buah kerjasama 88Rising dengan Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf) RI yang meluncurkan program akselerasi ICINC (Indonesia Creative Incorporated): Indonesia Rising. Melihat reaksi 25 ribu penonton yang “khusyuk” kala “Indonesia Raya” berkumandang dan heboh ketika dwiwarna nongol di videotron, nampak pengusungan indentitas kebangsaan cukup berhasil. Pasalnya selain para musisi Indonesia, Head in the Clouds Festival ini juga memberi panggung untuk tampilnya sejumlah musisi mancanegara lain: Jepang, China, Korea Selatan dan Malaysia. Memang hanya para penampil Korea (iKON) dan China (Higher Brothers) yang berani membawa musik dengan bahasa sendiri. Para musisi lain tampil membawakan musik dengan bahasa Inggris tanpa menampilkan visual identitas negeri mereka. Namun hanya para musisi Indonesia yang berani turut menampilkan visual dan bahkan lagu kebangsaannya sendiri di festival bertaraf internasional itu.
- Superhero Indonesia dari Komik ke Jagat Sinema
Jagat Sinema Bumilangit telah resmi diumumkan oleh Bumi Langit Studios, Minggu, 18 Agustus 2019. Tokoh-tokoh superhero dalam Jagat Sinema Bumilangit diadaptasi dari komik-komik Indonesia dari karya Ganes TH hingga Wid NS. Sutradara Joko Anwar, mengungkapkan bahwa film-film ini akan berbeda dengan garapan studio seperti Marvel maupun DC. “Ciri khasnya, latar belakang ceritanya sesuai dengan kondisi Indonesia saat ini; kegelisahan dan topik-topik yang sedang dihadapi rakyat Indonesia. Indonesia banget ,” kata Joko. Joko Anwar juga mengatakan bahwa dia tidak berperan sebagai sutradara untuk semua film tersebut. Tiap film akan mempunyai sutradara dan penulis skenario sendiri. Namun, dia akan tetap turut berperan sebagai creative producer . “Saya akan terus jadi creative producer di semua film tersebut. Akan tetap menjaga kesinambungan cerita, karakter dan plot,” jelas Joko. Beberapa film tersebut merupakan Jilid 1 dari Jagat Sinema Bumilangit yang terdiri dari dua era yakni era Jawara dan Patriot. Sri Asih diperankan Pevita Pearce . (Twitter Joko Anwar). Era Jawara berisi tiga judul yaitu Sri Asih, Mandala Golok Setan, dan Si Buta dari Gua Hantu . Sri Asih merupakan tokoh karya R.A. Kosasih yang terbit tahun 1954. Pahlawan perempuan yang bisa terbang iniakan diperankan oleh Pevita Pearce. Sedangkan Mandala Golok Setan berangkat dari komik karya Mansyur Daman dan pernah difilmkan dengan judul Golok Setan pada 1983. Dalam cerita perebutan pedang sakti kuno ini, Mandala akan diperankan oleh Joe Taslim . (Gambar 2 29780539870541119348) Mandala diperankan Joe Taslim. (Twitter Joko Anwar) Sementara itu, Si Buta dari Gua Hantu , pendekar silat karya komikus Ganes TH yang terbit pada 1967 masih dirahasiakan pemainnya. Era Patriot yang telah diawali Gundala, akan diramaikan oleh Godam & Tira yang akan diperankan oleh Chicco Jerikho dan Chelsea Islan. Godam merupakan karya komikus Wid NS dan pertama kali muncul pada 1969. Sedangkan Tira, karya Nono GM pertama muncul pada 1975. Godam diperankan Chicco Jerikho. (Twitter Joko Anwar) Aktor dan aktris lain yang tergabung dalam Jagat Sinema Bumilangit Jilid 1 antara lain, Tara Basro (Merpati), Bront Palarae (Pengkor), Lukman Sardi (Ridwan Bahri), Asmara Abigail (Desti Nikita), Hannah Al Rashid (Camar), Kelly Tandyono (Bidadari Mata Elang), Vanesha Prescilia (Cempaka), Della Dartyan (Nila Umaya), Nicholas Saputra (Aquanus), Dian Sastro Wardoyo (Dewi Api), Tatjana Saphira (Mustika Sang Kolektor), Zara JKT48 (Virgo), Daniel Adnan (Tanto Ginanjar) dan Aryo Bayu (Gani Zulfam). Beberapa superhero kemungkinan akan tergabung dalam dua film lain yakni Patriot Taruna dan Patriot . Sedangkan ke depan, Gundala mendapat satu judul lagi yakni Gundala Putra Petir. Soal film perdana, Abimana Aryasatya, pemeran Gundala, mengatakan bahwa tantangan film ini adalah soal bagaimana memenuhi ekspektasi beberapa generasi soal Gundala. Gundala diperankan Abimana Aryasatya. (Twitter Joko Anwar). “Gundala itu melewati beberapa generasi, mulai dari generasi komiknya, tahun 60-an, 69 ke 70, generasi film dari 81 ke 82 yang punya mazhab berbeda lagi soal Gundala, dan generasi milenial yang harus dijelaskan ulang soal Gundala. Jadi tanggung jawabnya gede ,” jelas Abimana. Abimana menambahkan, hal itu menjadi salah satu prioritas dan dia enggan membuat banyak pihak kecewa. “Jangan sampai mengecewakan mereka. Karena yang di tahun 60, 80, pasti punya memori soal Gundala. Yang sekarang, mereka pengen punya superhero sendiri yang punyanya mereka. Jagoan punya mereka,” kata Abimana.
- Tirto Adhi Soerjo di Sudut Ingatan
BUTUH satu helaan nafas nan berat dari mulut Okky Tirto saat mengisahkan masa-masa akhir buyutnya, Raden Mas Tirto Adhi Soerjo nan tragis. Cicit dari garis istri pertama, Siti Suhaerah itu mengibaratkan Tirto bak Tan Malaka dan Sukarno, di mana kedua tokoh itu juga mengalami masa-masa pengasingan yang memilukan. Mengutip biografi Tirto yang dijahit Pramoedya Ananta Toer dari beragam sumber bertajuk Sang Pemula , Tirto setidaknya dua kali diasingkan ke Teluk Betung, Lampung (1909) dan Pulau Bacan (1912). Tirto dibuang pemerintah kolonial tak lain lantaran beragam tuduhan, hasil dari tajamnya pena Tirto yang menguak borok pejabat-pejabat kolonial lewat suratkabar miliknya, Medan Prijaji dan Soeloeh Keadilan . “Dia pulang ke Jawa dalam keadaan banyak tuduhan akibat dikriminalisasi. Nah , alhasil…dia enggak punya hak jawab dan patah arang saat di pengasingan,” terang Okky kepada Historia . Lanjut cicit yang punya nama asli RM Joko Prawoto Mulyadi itu, sekembalinya ke Batavia Tirto tak lagi bisa bersinar seperti sediakala. Ia bak dijadikan tahanan rumah di salah satu kamar Hotel Medan Prijaji di Jalan Kramat Raya, jelang mengembuskan nafas terakhirnya. “Dia disediakan satu kamar di hotel itu. Kalau di bukunya Pram (Sang Pemula), kemudian hotel itu dirampas anak buahnya sendiri, Raden Goenawan. Pengkhianatan. Sendiri dia (menghadapinya, red. ). Tragis ya. Tirto ini kan (nasib akhirnya) mirip Tan Malaka. Cuma bedanya Tirto menikah,” katanya menuturkan. Hotel Medan Prijaji itu kini diyakini sudah berubah menjadi kantor Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Jalan Kramat Raya. Makanya ketika pernah muncul usulan mengabadikan Tirto menjadi nama jalan di Bandung, Okky kurang sepakat. Usulan itu sempat mencuat pada 2012 kala Ketua Yayasan Masyarakat Sejarawan Indonesia cabang Jawa Barat (MSI Jabar) Nina Lubis menyarankan Pemerintah Provinsi untuk mengabulkan Tirto dijadikan nama jalan di Bandung. Menurut Okky, keluarga besar Tirto akan sangat merasa terhormat jika nama Tirto dijadikan nama jalan di Jakarta, ya tepatnya di jalan bekas Hotel Prijaji itu beralamat. Walau memang kiprah Tirto yang paling mencolok adalah ketika ia masih aktif membela “yang terprentah” terhadap “yang memerentah” di Jawa Barat (Cianjur, Bogor dan Bandung). “Karena seseorang dijadikan pahlawan atau bukan itu, bukan ketika dia lahir. Tapi ketika dia menutup mata. Karena sepanjang hidupnya dia konsisten. Kalau dulu juga ada Bung Karno di-Wisma Yaso-kan, Tirto mengalami itu di hotel miliknya sendiri yang kemudian dirampas itu,” tambah Okky. Hingga pada akhir pekan pertama bulan ke-12 pada 1918, Tirto mengembuskan nafas terakhir. Ia kembali ke Sang Khalik dalam kesendirian dalam usia muda, 38 tahun. Pram menggambarkan momen itu dengan sendu saat memulai pengisahan riwayat Tirto dalam Sang Pemula. “Akhir seorang pemula pada hari suram tanggal 7 Desember 1918 sebuah iring-iringan kecil, sangat kecil mengantarkan jenazahnya ke peristirahatannya yang terakhir di Manggadua, Jakarta. Tak ada pidato-pidato sambutan. Tak ada yang memberikan jasa-jasa dan amalnya dalam hidupnya yang tak begitu panjang. Kemudian orang meninggalkannya seperti terlepas dari beban yang tidak diharapkan,” tulis Pram. Namanya lantas bagai lenyap tak berbekas dalam ombak sejarah yang silih-berganti memunculkan tokoh-tokoh pergerakan nasional lainnya. Namanya baru muncul lagi setelah ditemukan Pram kala meneliti sejarah zaman permulaan nasionalisme Indonesia pada 1956. Bapak Pers & Pahlawan Nasional Perlahan tapi pasti nama Tirto pun mulai dapat perhatian lagi di dunia pers nasional. Sebagaimana Pram menyebut Tirto sebagai “Bapak Pers Nasional”, pemerintah lewat Dewan Pers turut memberi pengakuan dengan menyematkan gelar “Perintis Pers Indonesia” yang diberikan Menteri Penerangan cum Ketua Dewan Pers Mashuri Saleh pada 31 Maret 1973 lewat Surat Nomor 69/XI/1973. Di tahun yang sama, tepatnya 30 Desember 1973 makamnya di Manggadua dipindah ke Tempat Pemakaman Umum (TPU) Blender, Tanah Sareal, Kota Bogor. Berselang kurun 33 tahun, nama Tirto diakui lebih luas dengan dianugerahi status “pahlawan nasional” oleh Presiden RI Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), tepatnya 10 November 2006 bersamaan dengan Hari Pahlawan. Sebelumnya, usulan Tirto dijadikan pahlawan nasional, sebagaimana diungkapkan Nina Lubis dalam kata pengantar buku kecil usulannya, R.M. Tirto Adhi Soerjo (1880-1918): Pelopor Pers Nasional , pengajuan nama Tirto untuk dijadikan pahlawan dari provinsi Jawa Barat datang dari MSI Jabar bersama Pusat Penelitian Kemasyarakatan dan Kebudayaan Lembaga Penelitian Universitas Padjadjaran (PPKK Lemlit Unpad), serta Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Jabar. Buku yang meringkas Sang Pemula karya Pram. Dituturkan Okky, kala itu Nina Lubis mengontak ayahnya untuk membicarakan pengusulan itu. Pengusulannya tak lepas dari jejak Tirto yang banyak berpusar di Cianjur, Bandung dan Bogor meski Tirto kelahiran Blora dan berasal dari keluarga priyayi Jawa. “Iya, zaman SBY itu (gelar pahlawan nasional). Sebelumnya Nina Lubis menghubungi ayah saya, RM Dicky Permadi. Kemudian mereka bikin tim untuk mengurus pengajuannya ke Kementerian Sosial dan pada 2006 itu bulan November dianugerahi Pak SBY,” tandas Okky.*





















