Hasil pencarian
9823 hasil ditemukan dengan pencarian kosong
- Penerjunan Pertama Indonesia
DERU mesin pesawat DC-3 Dakota RI-002 memecah keheningan pagi 17 Oktober 1947. Pilot Bob Freeberg, veteran AL AS yang menjadi pilot Commercial Air Lines Incorporated (CALI), dan co-pilot Mayor Makmur Suhodo berkonsentrasi penuh mencari dropping zone , Sapanbiha, Kalimantan. Langit masih gelap. Belantara Kalimantan di bawah hanya terlihat hamparan warna hitam. Mata Mayor (Ud.)Tjilik Riwut, pemuda Dayak yang menjadi perwira di Bagian Siasat Perang Sekretaris KSAU, terus memelototi daratan yang akan dijadikan titik penerjunan. Meski sulit, dia tak ingin gagal. Misi kali ini menjadi pertaruhan baginya sekaligus AURI dalam mempertahankan kemerdekaan di bumi Kalimantan. Sejak Indonesia diproklamirkan, para republiken berjuang secara swadaya mengusir Belanda yang dipasrahi AS memegang kendali ketertiban dan keamanan di Kalimantan. Perjuangan para republiken di Kalimantan dilakukan dengan bergerilya menggunakan persenjataan alakadarnya. Bantuan dari pusat selalu gagal mencapai tujuan lantaran blokade pasukan Belanda amat ketat. Bagi Gubernur Kalimantan Ir. Mohammad Nur, satu-satunya pengiriman bantuan yang mungkin hanya lewat udara. Sepucuk surat pun dikirimkannya kepada KSAU Komodor Suryadarma di ibukota RI Yogyakarta. “Isinya meminta bantuan agar AURI bersedia melatih pemuda-pemuda asal Kalimantan, kemudian menerjunkan mereka kembali ke Kalimantan untuk berjuang membantu saudara-saudaranya,” tulis Irna HN Soewito dkk. dalam Awal Kedirgantaraan di Indonesia: Perjuangan AURI 1945-1950 . Permintaan itu membuahkan hasil. Setelah merundingkannya dengan pimpinan AURI, Markas Besar Tentara (MBT) membentuk staf khusus untuk membuat pasukan payung yang akan diterjunkan ke Kalimantan. Dalam waktu singkat, sekira 60 pejuang asal Kalimantan, Sulawesi, dan Jawa berhasil direkrut. Mereka ditempatkan di Asrama Padasan, dekat Lanud Maguwo. Di bawah Tjilik Riwut, yang ditunjuk Suryadarma memimpin pembentukan pasukan itu, mereka kemudian menjalani latihan dasar terjun. Mereka dilatih oleh Opsir Udara II Sujono, Opsir Muda Udara II Amir Hamzah, Sersan Udara Mispar, dan Kopral Udara Sangkala. Namun karena sempitnya waktu, latihan terjun hanya didapatkan secara teori dan latihan di darat tanpa penerjunan dari pesawat. Dua belas orang akhirnya terpilih masuk dalam tim penerjuanan yang akan menggunakan pesawat RI-002 itu. Letnan Udara II Iskandar ditunjuk mengomandani tim. Dua personil PHB (perhubungan) AURI bakal menemani penerjunan mereka. Selain ikut terjun, Tjilik Riwut mendapat tugas menjadi penunjuk jalan, sedangkan Amir Hamzah sebagai jumping master . Dini hari 17 Oktober 1947, mereka diberangkatkan dari Lanud Maguwo. “Suryadarma turut hadir untuk memberikan briefing dan melepas keberangkatan mereka dengan manyalami seluruh anggota pasukan satu per satu,” tulis Adityawarman Suryadarma dalam Bapak Angkatan Udara Suryadi Suryadarma . “Tujuan dan tugas operasi penerjunan rahasia itu adalah membentuk dan menyusun kekuatan inti gerilya di daerah asal suku Dayak, Sepanbiha, membantu perjuangan rakyat setempat, membuka stasiun pemancar induk, serta menyiapkan daerah penerjunan untuk operasi selanjutnya,” tulis Irna dkk. Sekira subuh, pesawat RI-002 sudah mencapai langit Kalimantan. Pesawat itu terus terbang menuju sebuah bukit kecil yang berada di sebelah titik penerjunan. “Akan tetapi 10 menit kemudian di sebelah bukit kecil yang dimaksudkan itu kami tidak ada melihat suatu apapun kampung atau lapangan,” kenang Tjilik Riwut dalam memoarnya, Kalimantan Memanggil . Setelah Tjilik yakin mereka sudah di atas Sepanbiha, pintu pesawat pun dibuka. Satu per satu penerjun melompat keluar dan terjun, kecuali Jamhani yang batal terjun karena takut. Penerjunan personil itu kemudian diikuti penerjunan peralatan dan logistik bekal gerilya. Kendati beberapa penerjun sempat tersangkut di pohon, mereka semua selamat menapakkan kaki di darat. Mereka akhirnya bisa bergabung kembali pada hari ketiga lantaran tercerai-berai saat mendarat. Sebagian peralatan yang diternjukan pun tak dapat ditemukan. Namun yang menjadi masalah, mereka ternyata bukan mendarat di Sepanbiha ( droppingzone ), melainkan di Kampung Sambi, barat laut Rantau Pulut, Kotawaringin. Alhasil, mereka pun terpaksa survive di dalam belantara. Pada hari ke-35, mereka bermalam di sebuah ladang di tepi Sungai Koleh. Dini hari 23 Nopember, ketika mayoritas mereka sedang nyenyak tertidur, tembakan dari pasukan NICA menghujani mereka dari tiga arah. Letda (Ud.) Iskandar, Sersan (Ud.) Achmad Kosasih, dan Kapten (Ud.) Hari Hadisumantri gugur seketika. Suyoto tertawan. Sisa pasukan yang selamat langsung menyelamatkan diri. Mereka langsung keluar-masuk hutan melakukan gerilya. Namun kepungan pasukan NICA begitu ketat, ruang gerak mereka kian terbatas. Kurang dari dua bulan kemudian, sisa pasukan penerjunan pertama yang selamat itu semua tertangkap. Setelah dibawa ke Banjarmasin, mereka ditahan di Penjara Bukitduri, Jakarta sebelum dipindah-pindah lagi ke Penjara Glodok, Cipinang, dan Nusakambangan. Mereka dibebaskan menjelang Konferensi Meja Bundar. Untuk mengenang operasi penerjunan pertama Indonesia itu, sutradara Vladimir Sis membuat film berjudul Aksi Kalimantan . Selain Bambang Hermanto, film itu dibintangi antara lain oleh Bambang Irawan dan Mieke Wijaya. “Operasi penerjunan yang dilakukan oleh 13 prajurit AURI tersebut merupakan peristiwa yang menandai lahirnya satuan pasukan khusus AURI, yang kemudian dikenal sebagai Pasukan Gerak Tjepat (PGT),” tulis Adityawarman.
- Sumber Pemasukan Kerajaan Kuno
Kerajaan-kerajaan kuno punya kebijakan meringankan pajak bagi desa-desa perdikan ( sima ). Namun, pemasukan negara tetap terjaga, salah satunyaa dari pajak. Semua penduduk wajib membayar pajak. Di samping mereka harus kerja bakti untuk raja atau kerajaan. Menurut arkeolog UGM, Djoko Dwiyanto membayar pajak merupakan komitmen rakyat untuk menjaga keselarasan hubungan sosial dengan rajanya. “Seorang raja dianggap dapat melindungi, melayani, dan menyejahterakan rakyatnya,” tulisnya dalam “Pungutan Pajak dan Pembatasan Usaha di Jawa Pada Abad IX-XV Masehi” dalam Jurnal Humaniora I/1995. Pajak Tanah Ada beberapa hal yang dikenai pajak. Pertama, pajak tanah. Ini terkait dengan istilah pajak dalam bahasa Jawa Kuno yang disebut drabya haji . Selain punya arti pajak secara umum, ia jua berarti “milik raja”. Djoko menjelaskan, pengertian ini muncul dari anggapan kalau rajalah yang punya hak atas tanah dan segala aktivitas di atas tanah itu. Sementara rakyat hanya punya hak menggarap dan mengelola. “Hak raja atas sebagian pembagian hasil itu diwujudkan dalam bentuk iuran sejumlah emas dan perak. Iuran ini harus diserahkan ke kas kerajaan,” lanjut Djoko. Tanah yang kena pajak yaitu sawah, pegagan atau sawah kering, kebun, sungai, rawa, dan lembah sungai. Besar pajaknya ditetapkan berdasarkan luas tanah, terutama untuk sawah dan kebun. Menurut epigraf Boechari dalam “Kerajaan Matarām dari Prasasti" yang terbit di Melacak Sejarah Kuno Indonesia Lewat Prasasti,” petugas kerajaan yang mengukur tanah itu bernama wilang thani . Artinya pemerintah pusat punya daftar catatan tentang luas dan berbagai macam tanah yang ada di seluruh kerajaan, dan berapa penghasilan pajak yang dapat diterima. Penetapan itu seringkali menimbulkan sengketa akibat standar ukuran yang berbeda. “Beberapa contoh kasus terjadi berupa permohonan revisi pajak dengan cara mengukur kembali luas tanah yang akan dikenai pajak,” jelas Djoko. Pajak Orang Asing Kedua, pajak perdagangan dan usaha. Boechari menerangkan usaha yang dimaksud yaitu hasil kerajinan dan keahlian tertentu yang digunakan untuk mencari nafkah seperti pesinden, pelawak, penabuh gamelan, dan dalang. Ketiga, pajak orang asing yang dalam prasasti disebut warga kilalang . Misalnya, dalam Prasasti Palebuhan (927 M) disebut orang asing yang wajib membayar pajak, yaitu keling, Arya, dan Singhala. “Gambaran yang diperoleh dari prasasti orang asing masa itu erat kaitannya dengan perdagangan,” jelas Djoko. Pajak yang dikenakan kepada mereka bukan karena aktivitasnya, melainkan keberadaannya sebagai orang asing. Keempat, pajak keluar masuk wilayah yang dalam prasasti disebut pinta palaku . Artinya, pajak yang dikenakan pada orang yang melakukan perjalanan. Dalam praktiknya, penarikan pajak tidak kaku. Pada saat tertentu raja memberikan keringanan bahkan membebaskan dari pajak. Dalam penetapan sima , pajak tak dibebaskan sama sekali karena raja membutuhkan pemasukan untuk menggaji pegawai kerajaan. Menurut Djoko dalam usaha menjaga kestabilan sumber pemasukan itu muncul istilah pembatasan usaha. Ini dilakukan agar kerajaan tak kehilangan sumber pendapatan sama sekali. “Barangkali secara politis untuk menjaga agar tidak terjadi akumulasi pengusaha dalam sebuah sima yang bermaksud menghindari pajak,” jelas Djoko. Misalnya, perdagangan ternak. Dalam Prasasti Linggasutan (929 M) disebutkan pajak tidak dipungut di daerah sima jika tidak melebihi jumlah yang ditetapkan yaitu jumlah pedagangnya tiga orang dalam sebuah kelompok aktivitas perdagangan. Jika kerbau tak lebih dari 30 ekor, sapi 40 ekor, kambing (?) ekor, dan satu wadah pranjen ( wantayan ) itik. Jika pada periode Jawa Tengah jenis usaha yang dibatasi adalah perdagangan, pada periode Jawa Timur ditambah lagi. Pembatasan juga berlaku pada bisnis sarana transportasi, seperti pemilikan perahu dan kuda tunggangan serta budidaya di pantai dan kelautan. “Hasil ini sangat erat kaitannya dengan ketentuan bahwa sumber daya perekonomian yang bermanfaat bagi kemaslahatan umum sebaiknya dikuasai negara,” jelas Djoki. Sumber kas kerajaan lain adalah hasil rampasan perang. Petugas yang mengurusnya disebut tawān atau hañanan di ibukota kerajaan. Lalu cenderamata dari negara sahabat yang tak banyak disebutkan dalam prasasti. “Mungkin sekali karena jenis pendapatan itu tak begitu berpengaruh terhadap kondisi perekonomian negara,” jelas Djoko.
- Ramadan Para Tahanan
SAMBIL duduk di teras sel tempat tahanannya dan menghirup udara segar, Mia Bustam bergantian memandangi langit malam dan menyaksikan rekan-rekan sesama penghuni kamp shalat tarawih di kamar F1. Selama Ramadan, pintu sel dibuka untuk lalu-lalang tapol perempuan yang ingin shalat tawarih. Para penghuni yang tidak tarawih menunggu di luar, termasuk Mia yang memutuskan masuk Katolik setelah jadi tahanan politik (tapol). “Pada bulan-bulan lain kami tidak pernah melihat bulan atau bintang-bintang karena langit tidak tampak, terhalang oleh atap emper. Selama bulan puasa kami nikmati benar pemandangan indah itu,” kata Mia dalam memoarnya Dari Kamp ke Kamp. Sepulang tarawih, kawan-kawan Mia membawa pulang jaburan, snack yang dibagikan selepas tarawih untuk dinikmati sambil menyimak pengajian. Jaburan itu lantas dibagi rata dengan para penghuni kamp lain, biasanya setup jambu biji. Menu ini terbilang mendingan, pasalnya makanan di dalam kamp amat buruk. Kol dan ikan asin busuk atau grontol (jagung rebus dengan parutan kelapa) yang jagungnya amat keras (jenis metro) menjadi menu rutin mereka. Waktu makan normal para tapol ialah pukul 10 pagi dan 3 sore. Kala bulan puasa, mereka sebetulnya cuma memindahkan jam makan saja, lantaran jatah makannya dipakai untuk sahur dan berbuka. Hidangan untuk para tapol ketika puasa pun tak ada yang spesial, tetap kol busuk, ikan asin buduk, atau grontol super keras. Pernah suatu kali di Ramadan tahun 1966, ketika Mia masih ditahan di Beteng Vredeburg, terdengar suara orang muntah dari dalam sel pria lantaran berbuka puasa dengan makanan kadaluarsa. Sore itu jatah makan yang dikirim dari Wirogunan berupa gathot (singkong hitam yang diberi parutan kelapa). Rupanya, gathot itu sudah apek dan beracun. “Tahanan perempuan tidak memakan gathot itu, malah banyak yang menangis, nelangsa ,” kata Sumiati pada Josepha Sukartiningsih yang menulis “Ketika Perempuan Menjadi Tapol”. Namun, namun beberapa tahanan pria yang kelaparan langsung memakannya. Tak lama setelah itu, beberapa di antaranya pun tumbang jalaran gathot beracun. Suasana jadi panik, para sipir mondar-mandir bingung. Para tahanan berusaha menolong teman satu selnya yang keracunan. Di tengah kekacauan itu, Pak Parman Jenthut, tapol asal Kricak yang disegani, berteriak, “Yang masih sehat, jangan makan gathot itu!” Salah seorang tapol ingat kalau daun papaya mentah bisa jadi penawar keracunan. Kebetulan, di halaman depan kamar petugas ada pohon pepaya yang belum berbuah. Maka, habislah daun-daunnya diambil untuk mengobati para tapol hingga tinggal pokoknya saja. Jatah makan tak layak terulang lagi pada Ramadan 1967. Mia kala itu sudah dipindahkan ke Wirogunan. Makanan yang dibagikan menjelang buka puasa ialah oyek apek dan berkutu. Tapol perempuan di blok F dan tapol pria di blok E sepakat tidak menyentuh oyek itu. Mereka lebih pilih lanjut puasa sampai esok hari tanpa makan sedikitpun. Tapi pada akhirnya pihak pengurus dapur mengalah. Jam 9 malam mereka memberikan grontol yang masih hangat beruap. Jagungnya pun bukan metro seperti biasanya, melainkan jagung manis. Namun lantaran para petugas memasaknya dengan terburu-buru, alhasil jagung pun kurang matang dan jadi biang gas di perut. Tak lama kemudian keluar “tembakan-tembakan” dari dalam sel. “Dat-dut-dat-dut itu bisa terjadi kalau jagung dimasak tak matang benar,” kata Mia. Meski sudah rajin ibadah sejak sebelum masuk tahanan, para tapol yang digolongkan sebagai orang komunis (meski tidak semuanya demikian) diangggap tidak beragama. Mereka mendapat pembinaan mental. Mulanya para tapol diminta memilih agama yang akan dipelajari, kemudian tiap minggu akan ada rohaniawan yang datang berkunjung. Mereka sering merasa bosan dengan pengulangan materi sila pertama, Ketuhanan Yang Maha Esa. “Kami semua ya beragama. Meski selalu dituduh PKI ateis, kami semua beribadah… nyatanya di dalam kamp ngajinya sudah bagus-bagus,” kata Indrasih, penghuni kamp Plantungan dalam Gerwani: Kisah Tepol Wanita di Kamp Plantungan.
- Pasang Surut Pasar Tanah Abang
Kerusuhan melanda kawasan Tanah Abang, Jakarta Pusat, pada 21—22 Mei 2019. Selama dua hari berikutnya, Pasar Tanah Abang terdampak. Para pedagang menutup kiosnya. Mereka jatuh rugi. Perputaran uang senilai Rp200 miliar per hari hilang. Tapi tiga hari setelah kerusuhan, Pasar Tanah Abang buka kembali. Pengunjung pun menyesaki pasar untuk membeli pakaian Lebaran. Sejarah Pasar Tanah Abang ialah sejarah bangkit berkali-kali dari hantaman bala. Kerusuhan dan kebakaran pernah menimpa pasar ini silih berganti. Tapi pasar ini mampu bertahan. Bahkan kemudian menjelma pasar tekstil terbesar di Asia Tenggara. Pasar Tanah Abang bermula dari permintaan Justinus Vinck, pejabat kaya VOC (Kongsi Dagang Hindia Timur), untuk mendirikan pasar di atas dua lahan miliknya pada 1733. Satu di wilayah Weltevreden (sekarang Pasar Senen), lainnya berada di Tanah Abang. Vinck melihat perkembangan Batavia ke wilayah selatan telah membentuk permukiman baru. Ada pula pembukaan kebun-kebun baru seperti kebun kacang, kebun jahe, kebun pala, kebun sirih, dan kebun melati untuk penduduk di Tanah Abang. Tetapi belum ada pasar di sekitar wilayah hunian baru ini. Vinck memperoleh izin pendirian dari Gubernur Jenderal Abraham Patras dua tahun berselang, pada 30 Agustus 1735. Surat izin Gubernur Jenderal menyebutkan hari buka pasar milik Vinck. “Pasar diselenggarakan hari Senin untuk Pasar Weltevreden, hari Sabtu untuk pasar yang akan dibangun di Bukit Tanah Abang,” tulis Abraham Patras dalam suratnya kepada Vinck, dikutip PD Pasar Jaya dalam Pasar Tanah Abang 250 Tahun. Terdampak Huru-Hara 1740 Dua pasar Vinck memiliki jenis dagangan berbeda, sesuai aturan Gubernur Jenderal. Pasar Senen untuk jenis sayur mayur dan keperluan sehari-hari. Tanah Abang kebagian jenis tekstil, klontong, dan sedikit sayuran. Vinck membangun sebuah jalan untuk menghubungkan dua pasar ini. Keberadaan jalan mempermudah pedagang dan pembeli menjangkau pasar tersebut. Kemudahan akses terhadap pasar menumbuhkan jumlah transaksi. Dua pasar ini selalu ramai selama lima tahun beroperasi. Sebuah lukisan karya Johannes Rocht pada 1750 menggambarkan keramaian Pasar Weltevreden. Tampak bangunan pasar terbuat dari bambu dan atapnya berbahan rumbia. Gerobak sapi, kerbau, dan kuda memenuhi jalanan pasar. Tersua juga pedagang sedang memikul barang di jalanan pasar. Rocht memang hanya melukis suasana Pasar Weltevreden. Tidak ada lukisan tentang Pasar Tanah Abang. Tetapi lukisan tentang Pasar Weltevreden dianggap mewakili keadaan serupa di Pasar Tanah Abang selama lima tahun pertama operasional pasar. Dalam lima tahun pertama pula salah satu pasar milik Vinck menghadapi bala. Pasar Tanah Tanah Abang beroleh serangan dari Gubernur Jenderal Gustaaf Willem Baron von Imhoff pada 8 Oktober 1740. Serangan Von Imhoff merupakan jawaban atas perilaku agresif orang-orang Tionghoa di Tanah Abang terhadap pos jaga VOC sehari sebelumnya. Banyak orang Tionghoa menjadi pedagang di Pasar Tanah Abang. Mereka juga bertempat tinggal di sekitar kawasan pasar. Pasukan VOC menggunakan meriam untuk menghadapi orang-orang Tionghoa di Tanah Abang. “Dengan mudah W. von Imhoff membubarkan gerombolan Tionghoa yang bikin gaduh di Tanah Abang,” catat Adolf Heuken dalam Tempat-Tempat Bersejarah di Jakarta . Adolf menambahkan orang-orang Tionghoa lari kocar-kacir menyelamatkan diri. Tembakan meriam merusak sejumlah bangunan Pasar Tanah Abang. “Baru lima tahun berdiri Pasar Tenabang terkena bencana, porak-poranda, dan terbakar ludes,” tulis Abdul Chaer dalam Tenabang Tempo Doeloe. Huru-hara ini melumpuhkan Pasar Tanah Abang hingga 20 tahun. Kumuh dan Sarang Gelandangan Pasar Tanah Abang beroperasi kembali setelah hubungan VOC dengan orang-orang Tionghoa membaik. “Malah orang Cina diberi kepercayaan dan kekuasaan untuk memungut cukai pasar secara borongan,” ungkap Abdul Chaer. Orang Tionghoa juga memperoleh izin pengelolaan rumah madat atau candu di sekitar Pasar Tanah Abang. Pasar Tanah Abang terus semarak memasuki 1800-an. Hari buka pasar tidak lagi cuma pada Sabtu, melainkan juga pada hari Rabu. Keramaian aktivitas perdagangan di pasar tak seiring dengan perbaikan kualitas lingkungan. Bangunan-bangunan pasar kian lama kian rapuh dan kusam. Sampah-sampah menumpuk dan semrawut. “Sampai akhir abad ke-19 bahkan awal abad ke-20 Pasar Tanah Abang belum mempunyai bangunan permanen,” tulis PD Pasar Jaya. Perbaikan fisik di Pasar Tanah Abang berlangsung secara kecil-kecilan pada 1913. Lantai bawahnya mulai dikeraskan pondasi adukan. Perbaikan ini kurang berdampak banyak bagi lingkungan pasar. Khawatir pedagang dan pembeli berkurang, pemerintah kolonial akhirnya merombak Pasar Tanah Abang secara besar-besaran pada Agustus 1926. Bangunan lama nan rapuh berganti bangunan permanen. Lebih nyaman untuk aktivitas para pedagang dan pembeli. Lebih bagus pula untuk promosi nama Pasar Tanah Abang keluar Batavia dan Hindia Belanda. Tetapi kedatangan Jepang pada 1942 mengubah banyak hal di Pasar Tanah Abang. “Pasar Tanah Abang yang tadinya kesohor tekstilnya, saat itu berubah menjadi los-los dan kios kosong melompong tidak ada tekstil sama sekali bahkan banyak yang tutup dan ditempati gelandangan,” cerita H.M. Hasan, pensiunan kepala pasar dalam Pasar Tanah Abang 250 Tahun . Preman dan Kebakaran Pasar Tanah Abang kembali memperoleh cerlangnya setelah sempat masuk tahun-tahun kegelapan selama masa Jepang hingga Revolusi Fisik (1945—1949). Di bawah pengelolaan Pemerintah DKI Jakarta lewat Perusahaan Daerah (PD) Pasar Jaya, Pasar Tanah Abang mengalami perombakan secara besar-besaran pada 1973. Pasar Tanah Abang menjadi bangunan bertingkat tiga. Bangunan baru mengerek harga sewa kios lebih mahal. Banyak pedagang tak bisa membayar. Mereka memilih dagang di luar pasar, di pinggir jalan. Keberadaan mereka menyalahi aturan. Pemerintah berupaya menertibkan mereka. Tetapi mereka memperoleh perlindungan dari centeng-centeng atau jago Tanah Abang. Demi keamanan berdagang, mereka rela membayar uang jago. “ Masalah keamanan pasar dirasakan sangat baik. Tentang jawara, tidak pernah mereka melakukan tindak yang menjurus semacam pemerasan. Dengan kami mereka malah saling bekerja sama secara dekat ,” kata seorang pedagang dalam Pasar Tanah Abang 250 Tahun . Pemerintah mulai kehilangan kendali atas keamanan pasar. Mereka bahkan menyerahkan urusan keamanan renovasi pasar kepada salah satu centeng tersohor Tanah Abang dekade 1970-an, Haji Bidun. Kehadiran pemerintah di Pasar Tanah Abang menjadi sebatas pengatur. Keamanan berada di tangan para jago. Jago-jago memperoleh banyak uang atas jasa keamanan, parkir, dan kebersihan dari para pedagang. Tetapi lama-lama mereka tidak lagi melindungi para pedagang, melainkan memerasnya. Bahkan mereka juga menjadikan pembeli sebagai sasaran. Istilah jago tidak lagi tepat untuk mereka. Istilah preman muncul untuk menyebut perilaku mereka. Perputaran uang di Pasar Tanah Abang pada 1990-an mencapai Rp8—10 miliar per hari. Para preman dari berbagai etnis dan wilayah berebut kendali atas Pasar Tanah Abang. Puncaknya terjadi pada November—Desember 1996. Bentrok antarpreman di Pasar Tanah Abang meminta korban jiwa. Pedagang dan pembeli menghindari kawasan ini beberapa lama. Usai rusuh antarpreman, pedagang dan pembeli kembali ke Pasar Tanah Abang. Ini terjadi terus menerus. Kerusuhan Mei 1998 sempat membuat nadi Pasar Tanah Abang berhenti. Tetapi kemudian berdetak kembali. Kebakaran besar pada 2003 menghentikan aktivitas perdagangan selama beberapa hari. Tetapi setelah kebakaran, sembari menunggu bangunan baru dibangun, pedagang menggelar dagangan di jalanan sekitar pasar. Pembeli tetap berdatangan di tempat seadanya itu. Tidak ada satu pun bala mampu meruntuhkan Pasar Tanah Abang untuk selama-lamanya.
- Ibu Ani Pergi
Ibu Negara Ani Yudhoyono meninggal dunia di National University Hospital, Singapura, Sabtu, 1 Juni 2019, pukul 11.50 waktu setempat, setelah menjalani perawatan penyakit kanker darah sejak Februari 2019. Kristiani Herrawatilahir pada 6 Juli 1952 di Yogyakarta, sebagai anak ketiga dari pasangan Sarwo Edhie Wibowo dan Sunarti Sri Hidayah. Ada kisah di balik nama Kristiani Herrawati. Saat dia lahir, Sarwo ditugaskan di Batalyon Kresna di Yogyakarta. Ini suatu kebetulan karena dia mengagumi tokoh pewayangan yang berkarakter baik itu. “Begitu aku lahir, Papi langsung mendapat ilham untuk menyematkan ‘Kresna’ dalam namaku,” kata Ani dalam biografinya, Kepak Sayap Putri Prajurit karya Alberthiene Endah. Tentu saja tidak mungkin diberi nama Kresna karena identik dengan laki-laki. Ditambahi “wati” pun terdengar lucu: Kresnowati. “Akhirnya Papi memberi nama Kristiani.” Sedangkan nama Herrawati dipilih dari penggalan kisah yang pernah diceritakan ayahnya. Herrawati memiliki makna kekuatan yang bisa menyapu bersih halang rintang saat terjadi huru-hara. Ani tumbuh seiring penugasan ayahnya. Setelah Yogyakarta, Sarwo ditugaskan di Gombong, kemudian Magelang. Di sini lahir Pramono Edhie Wibowo pada 5 Mei 1955. Kelak menjabat posisi strategis: Danjen Kopassus, Pangdam Siliwangi, Panglima Kostrad, dan Kepala Staf TNI. Dari Magelang, Sarwo pindah tugas ke Sekolah Para Komando Angkatan Darat di Batujajar, pada 1959. Dia kemudian menjabat komandan RPKAD (Kini Kopassus) yang memimpin penumpasan PKI pasca Gerakan 30 September 1965. Setelah itu, Sarwo menjabat Pangdam II Bukit Barisan dan Pangdam XVII Cenderawasih. Dianggap menyaingi pamor Presiden Soeharto, Sarwo kemudian ditugaskan menjabat Gubernur Akademi Militer di Magelang. Di sinilah dia mendapat menantu, siswa Akmil, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY). Ketika menghadap Sarwo, SBY bertemu Ani yang tengah mengunjungi ayahnya. Saat itu, Ani tinggal di Jakarta karena kuliah kedokteran di Universitas Kristen Indonesia. Sayangnya, dia gagal menyelesaikan pendidikannya. Hubungan SBY dan Ani berlanjut. Keluarga merestui hubungan mereka. SBY dan Ani tunangan pada 1974 karena Ani ikut ayahnya tugas sebagai duta besar di Seoul, Korea Selatan. Ketika Ani kembali ke Indonesia, giliran SBY yang tengah mengikuti pendidikan militer di Amerika Serikat. Setelah kembali dari Negeri Paman Sam, SBY menikahi Ani pada 30 Juli 1976. Mereka dikaruniai dua orang putra: Agus Harimurti Yudhoyono dan Edhie Baskoro Yudhoyono. Ani mengikuti jejak ibunya yang bersuami tentara. Ibunya berpesan: “begitu masuk ke dalam kehidupan tentara, Ani, kamu harus belajar dua hal: kuat mendampingi suami dalam berbagai kondisi tugasnya, serta harus pandai beradaptasi. Tiada lain.” “Pengalaman menjadi anak tentara membuat saya tak kaget setelah menjadi istri tentara. Saya bisa mendampingi SBY menempuh karier militernya dengan corak kehidupan yang berubah-ubah,” kata Ani dalam 10 Tahun Perjalanan Hati karya Alberthiene Endah. Karier militer SBY sampai puncak dengan pangkat jenderal. Dia menjalani pendidikan militer di dalam dan luar negeri. Begitu pula penugasannya. Jabatan terakhir di militer sebagai Kepala Staf Teritorial (Kaster) ABRI. Sedangkan penugasan ke luar negeri sebagai Chief Military Observer United Nation Peace Forces di Bosnia-Herzegovina. SBY pensiun dari militer karena ditunjuk menjadi menteri. Dia menjabat Menteri Pertambangan dan Energi kemudian Menteri Koordinator Politik, Sosial, dan Keamanan (Menko Polsoskam) di era pemerintahan Presiden Abdurrahman Wahid. Dia kembali menjabat Menteri Koordinator Bidang Politik dan Keamanan (Menko Polkam) pada masa pemerintahan Presiden Megawati Soekarnoputri. Setelah itu, dia mendirikan Partai Demokrat pada 9 September 2002. “Hal yang terasa beda, ketika SBY akhirnya terjun ke dunia politik. Inilah penyesuaian diri saya yang memerlukan mental lebih tangguh. Karena flavour politik beda dengan tempaan dalam kehidupan tentara. Kelihatannya memang tidak sekeras di barak, tapi politik itu 'makan dalem'. Batin dan pikiran digerus,” kata Ani. Walau begitu, Ani mendukung SBY memilih jalan politik untuk mengabdi kepada negara. “Dari istri menteri saya kemudian ikut menyibukkan diri mendampingi SBY membangun Partai Demokrat. Hingga akhirnya dia diantar ke posisi puncak. Menjadi seorang presiden,” kata Ani. Selama mendampingi SBY, Ani dengan semangat menjadi anak-anak tangga yang dilintasi SBY. "Dan sepanjang itu saya berada di sisinya.” Kini, dia berada di sisi-Nya.
- Tottenham Hotspur Tak Pernah Lelah Bertempur
MENDEKATI hari-H final Champions League, Minggu (2/6/2019) dini hari, Mauricio Pochettino kian dinaungi kegalauan. Pembesut Tottenham Hotspur itu tentu ingin menurunkan pasukan dengan komposisi terbaiknya untuk meladeni Liverpool. Namun apa daya, sudah dua bulan-an Spurs tampil tanpa kapten sekaligus mesin gol Harry Kane akibat cedera engkel. Kendati Kane sudah dua kali nongol di kamp latihan akhir pekan lalu, kekhawatiran tetap masih terpancar di wajah Pochettino. “Jumat dan Sabtu pekan lalu dia sudah mulai bergabung ke latihan tim. Situasinya sangat positif baginya. (Tapi) saya tak bisa bilang bahwa dia akan 100 persen bugar, atau jika dia akan bisa bermain dari menit awal atau tampil dari bangku cadangan atau mungkin tak masuk susunan pemain. Namun kami menyambut positif progres kepulihannya,” sebut Pochettino, dikutip Daily Star , Rabu (29/5/2019). Skenario terburuk jika Kane gagal tampil, Pochettino terpaksa memaksimalkan sisa skuad mudanya macam Dele Alli, Son Heung-min atau Lucas Moura. Sudah kepalang tanggung buat Spurs jika bersikap nothing to lose . Maklum, seumur-umur Spurs hanya punya koleksi tiga gelar Eropa kelas medioker: satu trofi Winners Cup (1962-63) dan dua UEFA Cup yang kini jadi Europa League (1971-72 dan 1983-84). Tottenham Hotspur saat memenangi UEFA Cup 1984 (Foto: Twitter @SpursOfficial) Raihan trofi “Si Kuping Besar” jelas bakal jadi penyempurna kejutan “The Lilywhites” (julukan Spurs) musim ini. Namun yang terpenting, itu bakal jadi momen pertama klub berkomposisi pemain muda itu mencicipinya. Dilahirkan Sekumpulan Bocah Sekolah Kini, anak-anak muda dari London utara itu sedang menatap sejarah baru. Tinggal Liverpool yang menghalangi mereka nanti di Estadio Wanda Metropolitano, Madrid, tempat laga final bakal digelar. Terlepas dari bagaimana hasilnya nanti, anak-anak muda itu harus bangga ditakdirkan sebagai pencipta sejarah. Mereka bak sebelas pemuda yang mendirikan klub tempat mereka kini merumput. Sebagaimana disingkap dalam A Romance of Football: The History of the Tottenham Hotspur F.C. , penggagas lahirnya Spurs merupakan sebelas siswa Mr. Cameron’s School (kini Scotch Prebysterian Academy) yang sebelumnya merupakan anggota Hotspur Cricket Club. “Para pendirinya adalah J. Anderson, T. Anderson, E. Beaven, R. Buckle, H.D. Casey, L. R. Casey, F. Dexter, S. Leaman, J.H. Thompson Jr, P. Thompson dan E. Wall. Dengan mandiri mereka membeli sendiri bola dan tiang gawang kayunya. Lapangannya dipinjamkan Kapten Delane yang punya hubungan kerabat dari salah satu Thompson bersaudara di Park Lane,” sebut buklet yang dirilis bersama oleh The Tottenham dan Edmonton Weekly Herald pada Februari 1921. Sejumlah pelajar yang menggagas berdirinya Tottenham Hotspur (Foto: Repro A Romance of Football) Seiring waktu, tambahan pemain Hotspur FC berdatangan dari sekolah lain dan pada Desember 1882 anggota mereka sudah mencapai 18 pemain. Tujuh anggota barunya dibebankan biaya masuk untuk menambah kas klub. Hingga 1921, jersey yang acap mereka pakai berwarna biru gelap. Adapun logo klub baru sekadar lambang huruf “H”. John Rispsher, guru mata pelajaran Alkitab di All Hallows Curch, yang lantas dijadikan presiden pertama klub, menata klub menjadi terorganisir. Laga kandang pertama mereka, 6 Oktober 1883, melawan klub amatir lain, Brownlow Rovers. Hotspur menang telak 9-0. Namun, sumber lain, A People’s History of Tottenham Hotspur karya Martin Cloake dan Alan Fisher, menyebutkan debut Spurs terjadi pada 30 September 1882 kontra tim lokal Radicals. Spurs keok 0-2. Sementara, kompetisi resmi pertama yang diikuti Spurs baru terjadi pada 1892, yakni kompetisi amatir Southern Alliance. Setelah menjadi profesional dan diakui FA (otoritas tertinggi sepakbola Inggris) pada 20 Desember 1895, Spurs diikutsertakan ke divisi satu Southern League musim 1896. Dua tahun berselang klub ini naik kelas dengan dinaungi perusahaan yang lebih profesional. Namanya pun diganti menjadi Tottenham Hotspur and Athletic Company dengan dibesut pelatih pertamanya Frank Brettell. Nama Spurs mulai dikenal luas setelah menjuarai FA Cup 1901 mengalahkan Sheffield United 3-1 di final. Jersey Spurs berubah menjadi putih pada 1898 yang jadi warna kebanggaan sampai kini. Hingga 1921, logo klub masih berupa huruf “H” berwarna merah. Logo itu berubah sekaligus mengusung moto Audere est Facere (Berani dalam Bertindak) setelah Spurs untuk kedua kalinya memenangkan FA Cup, 1921. “Ayam jantan muncul sebagai logo di jersey setelah 1921. Inspirasinya diambil dari kekaguman Sir Henry Percy, bangsawan yang dijuluki Hotspur, pada taji ayam jantan, meski logo ayam jantan ini sudah dipakai klub sejak 1901,” tulis Leonard Jägerskiöld Nilsson dalam World Football Club Crests: The Design, Meaning and Symbolism of World Football’s Most Famous Club Badges . Pada 1956, logo Spurs diubah lagi dengan tambahan lambang perisai Sir Henry Percy plus sisipan ayam jantan. Namun pada 1983 hiasan perisainya dihilangkan lagi. Pada 2006 logo Spurs dikembalikan seperti awal, ayam jantan yang berdiri gagah di atas sebutir bola tapi tanpa dibubuhi motto klub. Tottenham Hotspur di musim pertamanya berlaga di White Hart Lane pada 1899 Selain logo, kandang Spurs pun mengalami evolusi. Setelah tak lagi menempati Park Lane yang disewa sejak awal berdiri, pada 1888 Spurs pindah ke Northumberland Park. Setahun berselang, Spurs hijrah lagi ke White Hart Lane, dan menetap sampai sekarang. Laga pertama Spurs di kandang baru mereka dihelat 4 September 1899 kontra Notts County. Di markas-markas itulah nama Spurs terus diukir hingga akhirnya jadi klub kuda hitam sepakbola Inggris. Spurs bahkan menjadi pemasok utama striker timnas Inggris era 1980-an hingga 1990-an. Glenn Hoddle, Clive Allen, Gary Lineker, dan Chris Waddle merupakan striker Spurs yang jadi andalan lini depan Inggris. Hampir semua turnamen pernah dimenangi Spurs. Hingga kini, lemari gelar Spurs sudah terisi masing-masing dua titel Second Division dan First Division, delapan FA Cup, empat League Cup, tujuh Charity Shield, satu Winners Cup, dan dua UEFA Cup. Jika menang kontra Liverpool besok, lemari itu akan kedatangan penghuni baru: trofi “kuping besar” Champions League.
- Mudik Tahun 1960-an
BAGI banyak orang Indonesia, mudik Lebaran sudah jadi tradisi. Setelah 365 hari bekerja banting tulang di rantau, mudik menjadi momen tepat untuk mengambil jarak dari keriuhan kota, bertemu keluarga, dan mengunjungi tempat-tempat penuh kenangan masa kanak-kanak. Salah satu sarana transportasi favorit untuk mudik Lebaran adalah kereta api. Tiket bisa dipesan secara daring dan jauh-jauh hari. Perjalanan nyaman dan menyenangkan. Tapi itu cerita masa kini. Di masa lalu sungguh lain ceritanya. Pada 1960-an, banyak orang juga memilih kereta api untuk mudik ke kampung halaman. Selain harga tiketnya terjangkau, pilihan moda transportasi lain masih terbatas. Tiga daerah utama tujuan pemudik kala itu ialah Semarang, Solo dan Yogyakarta. Namun animo masyarakat tak bisa dipenuhi Djawatan Kereta Api (DKA) yang kekurangan gerbong kereta.
- Berebut Takhta Mataram Kuno
TAK semua raja yang bertakhta di Mataram Kuno adalah pewaris sah. Prasasti mencatat adanya pergantian kekuasaan yang tak wajar. Setidaknya ada dua prasasti yang memuat nama-nama penguasa Mataram. Prasasti Mantyasih (907 M) dan Prasasti Wanua Tengah III (908 M), keduanya dikeluarkan pada masa Balitung. Berdasarkan daftar raja yang tertulis dalam Prasasti Mantyasih (907 M) terdapat sembilan penguasa di Kerajaan Mataram Kuno sebelum Balitung. Diawali Rakai Mataram sang Ratu Sanjaya, Śrī Maharaja Rakai Panangkaran, Śrī Maharaja Panunggalan, Śrī Maharaja Rakai Warak, Śrī Maharaja Rakai Garung, Śrī Maharaja Rakai Pikatan, Sri Maharaja Rakai Kayuwangi, Śrī Maharaja Rakai Watuhumalang. Terakhir adalah raja yang menulis prasastinya, Śrī Maharaja Rakai Watukura Dyah Balitung. Sementara itu, berdasarkan Prasasti Wanua Tengah III, di Mataram ada 13 raja yang berkuasa sebelum era Balitung. Berbeda dengan Prasasti Mantyasih, Prasasti Wanua Tengah III menyebut raja-raja berikut hari dan tahun mereka naik takhta.
- Mengerjai Tentara Pelajar
Pada akhir Januari 1946, satu seksi pasukan tentara pelajar di bawah pimpinan Murdoyo dan Poly Sulistio, dari Yogyakarta tiba di Jetis, asrama TRIP setelah mundur dari Surabaya. Mereka bermaksud bergabung dengan kesatuan TRIP (Tentara Republik Indonesia Pelajar). Setelah melalui latihan kemiliteran, pada suatu malam yang gelap, mereka dibangunkan agar bersiap-siap berangkat ke front untuk menyergap kedudukan Belanda. Semua anggota pasukan berangkat dengan hati berdebar-debar. Mereka bergerak dalam formasi satu-satu ke belakang dengan jarak 1-2 meter dengan teman di depannya. Perintah disampaikan secara beranting. Mereka berjam-jam bergerak terus, diselingi dengan menikung ke kiri dan kanan, melalui pematang-pematang sawah dan tegalan serta menerobos berbagai perkampungan penduduk. Sekitar jam 03.00 pasukan diperintahkan berhenti dan membentuk posisi pertahanan menyamping serta mencari perlindungan di balik pohon atau gundukan tanah. Senjata yang sudah diisi dan dikunci sejak berangkat meninggalkan Jetis, kini mulai disiapkan dan diarahkan ke sasaran. Setiap anggota pasukan jantungnya berdebar-debar, mulutnya komat-kamit membaca doa, dan mengingat pesan orangtua apabila ada teman sedang sekarat agar dibisikkan kalimat syahadat. Tiba-tiba datang perintah agar mengunci kembali senjata, karena sarang musuh harus diserang dari dekat. Semua anggota pasukan harus merayap mendekati sarang musuh. Setelah beberapa saat merayap di atas rumput dan batu-batu yang basah karena embun pagi, kembali pasukan diperintahkan berhenti dan bersiap untuk menyerang bila kedudukannya sampai diketahui oleh musuh. Komandan kemudian mengirimkan seseorang utuk menyelidiki kedudukan musuh secara tepat. Secara kebetulan saat itu front Kedamean sedang sepi, tak terdengar satu pun suara tambakan. Setelah lama menunggu dalam kedinginan embun pagi, tiba-tiba pasukan diperintahkan bergerak sambil merundukkan tubuhnya karena sarang musuh yang akan disergap sudah dekat. Dari berbagai penjuru mulai terdengar suara kokok ayam bersaut-sautan. Hari pun mulai terang-terang tanah. Ketika itulah setiap anggota pasukan mengetahui di mana mereka berada. “Tanpa setahunya mereka tidak berkisar terlalu jauh dari Jetis, mereka hanya berputar-putar di daerah itu sepanjang malam. Terdengar anak-anak Yogya itu mengumpat gaya Jawa Timur: Jancuk, jancuk, jancuk,” kata Asmadi, mantan anggota TRIP, dalam Pelajar Pejuang. Menurut Asmadi, selama semalam mereka dicekam ketegangan, malah ada yang berpikir “apakah masih bisa ketemu nasi besok pagi”, tak tahunya mereka hanya diuji ketabahannya jika menghadapi pertempuran yang sesungguhnya.
- Turki Tidak Mengakui Negara Islam Bentukan Uighur
DALAM bab 2 bukunya yang diterbitkan The Chinese University of Hong Kong pada 2013, Gerakan Kemerdekaan Turkestan Timur: 1930an–1940an ( Dong Tujuesitan Duli Yundong: 1930 Niandai zhi 1940 Niandai ), Wang Ke menyimpulkan bubarnya Republik Islam Turkestan Timur (RITT) yang berpusat di Khotan dan Kashgar “lebih tepat bila dikatakan disebabkan oleh perseteruan elite internalnya ketimbang dibilang dipicu oleh gempuran dari pihak musuh.”
- Europa League Tempo Doeloe
Pentas pertama UEFA Europa League sejatinya sudah dimulai pada 1955. Namun, pentas kejuaraan itu baru berjalan di bawah naungan UEFA pada 1971-1972. Titik nol kompetisi di bawah Champions League yang baru di- rebranding menjadi Europa League baru dimulai pada 2009. Format baru ini merupakan fusi dengan Intertoto Cup dan Winners Cup. Mengutip majalah Shoot! edisi 4 April 1970, Europa League “tempo doeloe” masih sebatas kompetisi antarkota bernama lengkap International Industries Fairs Inter-Cities Cup atau sohor disebut Inter-Cities Fairs Cup. Kompetisi ini dicetuskan trio Stanley Rous (Inggris), Ottorino Barassi (Italia), dan Ernst Thommen (Swiss). Ketiganya merupakan anggota komite eksekutif FIFA. “Kompetisinya awalnya didesain untuk tim-tim yang mewakili kota-kota di Eropa yang rutin menggelar pekan raya perdagangan dan industri. Kompetisi pertamanya dimulai Juni 1955 namun baru selesai pada Mei 1958,” tulis Matthew Taylor dalam The Association Game: A History of British Football . Turnamennya digelar dalam kurun waktu panjang. Selain berbarengan dengan pekan raya perdagangan, kompetisinya tidak ingin tabrakan dengan jadwal liga di masing-masing negara peserta. Para pemainnya pun cabutan dari klub-klub yang berbasis di masing-masing kota. Di musim pertama, 1955-1958, 12 tim mengikuti turnamen tersebut. Selain Barcelona XI, ada København XI, Wien XI (kemudian mundur), Birmingham City, London XI, Internazionale, Zagreb XI, Lausanne-Sport, Basel XI, Leipzig XI, Köln XI, dan Frankfurt XI. Barcelona XI jadi jawara perdananya. Di laga kandang-tandang partai puncak, Barcelona XI membungkam London XI dengan agregat 8-2. Hadiahnya berupa trofi “langsing” berbahan perak yang dikenal sebagai Trofi Noël Béard. Namanya diambil dari seorang industrialis Swiss, di mana trofi ini pun dibuat di salah satu pabrik miliknya. Setelah dibanjiri apresiasi dari sana-sini, penyelenggara pun membolehkan tim berbasis klub untuk ikut serta di musim berikutnya, 1958-1960. Itupun dengan syarat bahwa klub itu mesti berasal dari kota penyelenggara pekan raya industri dan perdagangan Eropa. Sayang, umur Inter-Cities Fairs Cup hanya sampai 1971. Barcelona langganan juara Inter-Cities Fairs Cup. (fcbarcelona.com) Era Baru Barcelona selain jadi pemenang pertama juga jadi pemenang terakhirnya setelah di final menang tipis 2-1 atas Leeds United. “Dengan begitu trofinya secara permanen dimiliki Barcelona. Pada 1971 kompetisinya diambil alih UEFA dan di- rebranded menjadi UEFA Cup,” sebut Heinz Duthel dalam FC Barcelona-Barça . Selain perubahan nama dan format, turnamen turut menghadirkan trofi baru nan cantik karya seniman Swiss Alex Walter Diggelmann. Berbahan perak dan beralaskan marmer kuning, trofi itu berdimensi tinggi 67 cm, lebar 33 cm, dan berbobot 15 kg. Pembuatnya, pabrikan trofi GDE Bertoni. Trofi ini diperebutkan secara bergilir oleh 64 peserta yang diambil dari sejumlah liga di Eropa, khususnya yang tak lolos European Cup (kini Champions League). Sistem kompetisinya berupa knock-out kandang-tandang di lima fase sebelum partai puncak. Finalnya pun digelar dua kali. Tottenham Hotspur menjadi klub pertama yang menjuarainya setelah menjungkalkan sesama klub Inggris, Wolverhampton Wanderers, dengan agregat 3-2. Perbaruan format terjadi pada musim 1997-1998 di mana finalnya digelar sekali. Seiring ditambahnya jumlah peserta jadi 145 tim di musim 2004-2005, format turnamen kembali dirombak. Kali ini menyamai Champions League, yakni bermula dari penyisihan grup dan baru beralih ke sistem gugur di babak 32 besar. Michel Platini menyerahkan trofi Europa League di musim pertama rebranding kompetisi pada Mei 2009. (ReproCompetition Book Europa League 2009-2012) Meski sudah rebranding , kompetisi UEFA Cup tetap dicap sebagai turnamen Eropa kasta rendahan. Terlebih ia juga menerima “buangan” peserta peringkat tiga fase grup Champions League yang tak lolos ke babak knock - out . Stigma itulah yang membuat Presiden UEFA Michel Platini kembali merombaknya pada 2009. Selain mengganti namanya menjadi UEFA Europa League, UEFA juga menambah delapan tim peserta. Tujuannya untuk lebih meluaskan hegemoni sepakbola Eropa ke segala penjuru benua, termasuk negara-negara yang selama ini hanya jadi penonton seperti Estonia, Azerbaijan, Makedonia Utara, Malta, atau San Marino. “UEFA percaya bahwa sepakbola Eropa butuh kompetisi klub kedua. Kami percaya upaya ini bukan untuk mendikte pihak manapun. Jadi dengan memberikan dorongan dan memastikan warisan kebanggaan terus hidup, kami merekomendasikan format, organisasi dan nama baru. UEFA Cup tidaklah mati namun terlahir kembali dengan UEFA Europa League, kompetisi yang merangkul perbedaan di Eropa,” ungkap Platini dalam buklet Competition Book 2009-2012: Challengers on a European Adventure yang dirilis UEFA pada 2009. Tetap saja, banyak pihak mengkritik kebijakan UEFA yang dianggap sebagai rebranding tak relevan itu. Turnamennya tetap dianggap kompetisi kasta kedua atau dicap dengan julukan yang lebih konyol: “Liga Malam Jumat”, mengingat tayangannya di Indonesia hadir tiap Jumat dini hari selepas jadwal Champions League di tengah pekan (Rabu dan Kamis dini hari).*
- Perempuan di Balik Kejayaan Majapahit
PADA suatu pagi, sang prabu tengah berada di balairung sari menerima para menteri, arya, dan pemuka negara yang datang menghadap. “Sri Paduka yang mulia! Ada suatu kewajiban kenegaraan yang tidak boleh diabaikan sehingga harus dibicarakan sekarang,” ujar Gajah Mada tiba-tiba. Berdasarkan perhitungan, lanjut Gajah Mada, hari peringatan dua belas tahun meninggalnya Rajapatni jatuh pada bulan Badra tahun itu. Ibu suri Tribhuwana Tunggadewi berkeinginan supaya putranya, Raja Hayam Wuruk melaksanakan perayaannya di istana.





















