Hasil pencarian
Cari di situs ini
10057 hasil ditemukan dengan pencarian kosong
- Agus Salim Bicara Islam di Negeri Paman Sam
PADA 1953, Haji Agus Salim menerima undangan dari Cornell University, Ithaca, New York, Amerika Serikat. Dia diminta menjadi guru besar tamu selama semester perkuliahan musim semi (Januari-Juni). Di salah satu universitas bergensi negeri Paman Sam itu, Agus Salim banyak berbicara soal Islam, agama yang masih sangat asing di kalangan orang-orang AS kala itu. Menurut Kambiz Ghanea Bassiri dalam A History of Islam in America: From the New World to the New World Order, keberadaan Islam sebenarnya sudah cukup lama di AS. Namun baru benar-benar mendapat perhatian dari pemerintah setelah Perang Duni II berakhir. Pada periode 1950-an AS tengah berusaha mendekati negara-negara Islam, baik secara politik maupun ekonomi. Pengetahuan dari Agus Salim inilah yang diharapkan dapat memberi gambaran tentang Islam secara jelas. Berbagai hal diangkat oleh The Grand Old Man di dalam mengisi perkuliahannya. Mulai dari hal yang mendasar, seperti rukun iman dan rukun Islam; hingga soal perkembangan dunia Islam sejak zaman Nabi Muhammad SAW sampai muculnya negara-negara Islam.
- Gurauan Sukarno untuk Kennedy dan Khrushchev
MEMASUKI dekade 1960, ketegangan Perang Dingin memuncak. Kala itu, Amerika Serikat (AS) dipimpin Presiden Kennedy sedangkan Uni Soviet oleh Nikita Khrushchev. Krisis di antara Kennedy dan Khrushchev ditandai dengan perlombaan senjata dan eksplorasi luar angkasa. Ketegangan ini membagi dunia atas dua kubu Blok Barat (AS) dan Blok Timur (Uni Soviet). Di tengah persaingan AS dan Uni Soviet, Presiden Sukarno tampil membawa Indonesia sebagai negara non blok. Meski demikian, Sukarno ikut aktif menjalin persahabatan baik terhadap Kennedy maupun Khrushchev. Sukarno lebih dahulu menggaet Khrushchev dengan mengundang sang kamerad berkunjung ke Indonesia.
- Gebrakan Anti Korupsi Ala Jenderal Jusuf
JENDERAL TNI Mohammad Jusuf masuk gelanggang baru usai purna tugas sebagai Panglima ABRI. Presiden Soeharto menunjuk bangsawan Makassar itu untuk memimpin Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) menggantikan Jenderal TNI (Purn.) Umar Wirahadikusumah. Umar berhenti sebagai Ketua BPK karena harus mendampingi Soeharto sebagai wakil presiden. Pada 29 Maret 1983, Jusuf resmi menjadi ketua BPK. Dari Istana setelah serah terima jabatan, Jusuf langsung menuju kantor BPK yang terletak di Jalan Gatot Subroto, Jakarta Pusat. Hari itu, semua staf BPK telah menanti bos baru mereka dengan harap-harap cemas. Ketika Jusuf memperkenalkan diri, sepatah amanat terlontar. “Yang memeriksa harus lebih bersih sebelum melakukan pemeriksaan,” kata Jusuf dicatat dalam Apa & Siapa Sejumlah Orang Indonesia: 1983—1984. “Tidak ada bangsa di dunia ini dapat menjadi besar apabila apabila tidak memiliki harga diri dan kehormatan.”
- Pesona Braga Tak Pernah Usai
Jika berkunjung ke Bandung, tentu saja tak akan melewatkan untuk jalan-jalan di sepanjang Braga. Di sana berjajar bangunan berarsitektur Eropa yang masing-masing memiliki kisah masa lalu. Sudah lama Braga menjadi destinasi wisata. Setiap hari, ada saja pelancong berlalu-lalang. Apalagi jika hari libur, pejalan kaki di Braga menyemut. Entah sekadar cuci mata atau melampiaskan hasrat berbelanja. Pengunjung menikmati Braga di kota Bandung. (Fernando Randy/Historia). Seorang anak kecil saat bermain di depan toko zaman dulu di Braga. (Fernando Randy/Historia). Para pengunjung di antara lukisan kawasan Braga. (Fernando Randy/Historia). Namun siapa sangka jika dahulu kawasan Braga adalah salah satu kawasan yang dihindari oleh masyarakat. Awal abad ke-19, Jalan Braga berjuluk Jalan Culik karena hanya jalan kecil dengan permukiman penduduk yang sunyi. Seiring berjalannya waktu kawasan tersebut mulai bersolek. Para usahawan yang rata-rata berkebangsaan Belanda mulai membangun toko, bar, tempat hiburan dengan konsep Eropa. Braga makin moncer dengan adanya gedung Societeit Concordia. Di gedung inilah sosialita dan kaum elite kota Bandung berkumpul. Mereka rajin menggelar berbagai pertunjukan kesenian seperti musik dan tari. "Pesta yang pernah usai" di Concordia ini turut merangsang beberapa pertokoan di Jalan Braga menyediakan keperluan pesta. Salah satu bangunan lama di kawasan Braga. (Fernando Randy/Historia). Braga yang berusia dua abad tetap menjadi pesona bagi wisatawan. (Fernando Randy/Historia). Seorang wisatawan berfoto di kawasan Braga. (Fernando Randy/Historia). Braga yang sudah berusia dua abad seperti tak kehilangan pesonanya. Arsitektur khas Eropa tetap dipertahankan. Pertokoan yang menjual pernak-pernik antik, lukisan hingga wayang masih bisa ditemui. Toko roti Sumber Hidangan sejak 1929 juga masih melayani pembeli. Bahkan penjual jamu gendong juga masih sesekali ditemukan. Kini bisa dibilang Braga makin "modis" dengan hadirnya berbagai kedai-kedai kopi kekinian. Ramdan Kosasih salah satu penjual wayang di Braga. (Fernando Randy/Historia). Toko roti dari jaman Belanda, Sumber Hidangan. (Fernando Randy/Historia). Salah satu toko yang menjual pernak-pernik dari zaman dulu. (Fernando Randy/Historia). Salah satu toko di kawasan Braga. (Fernando Randy/Historia). Pedagang jamu tradisional turut menambah kesan zaman dulu di Braga. (Fernando Randy/Historia). Kehidupan di sekitar kawasan Braga. (Fernando Randy/Historia). Seorang anak memakai jersey Persib Bandung, klub sepakbola dengan pendukung terbanyak di Jawa Barat. (Fernando Randy/Historia). Seorang kasir di toko roti Sumber Hidangan di Braga. (Fernando Randy/Historia). Di malam hari, Braga tak pernah sunyi karena banyak bermunculan tempat hiburan malam. Itulah Braga dengan segala daya pikatnya. Ia menjadi tujuan orang melepas penat sekaligus menjadi tumpuan banyak orang untuk bertahan hidup. Centre Point salah satu bangunan bersejarah di Braga. (Fernando Randy/Historia).
- Kawanan Serigala Berburu Mangsa
““YA Tuhanku, biarkanlah malaikat kudus-Mu membimbing dan menyertaiku,” tutur Kapten Ernest Krause (diperankan Tom Hanks) dalam doanya di atas kapal perusak USS Keeling . Doa itu sebagai penguat batinnya lantaran nantinya ia bakal dihadapkan pada marabahaya pertempuran dahsyat yang belum pernah ia alami sebelumnya. Kisahnya diangkat ke layar perak bertajuk Greyhound. Film yang disutradarai Aaron Schneider itu merupakan adaptasi dari novel The Good Shepherd karya CS. Forester, nama pena novelis Inggris Cecil Louis Troughton Smith, yang terbit 1955. Kisahnya berpusar pada epik Kapten Krause yang bertugas melindungi konvoi Sekutu berisi 37 kapal logistik dan kapal dagang melintasi Samudera Atlantik Utara, demi menyokong Inggris dan Uni Soviet di awal 1942 di tengah Perang Dunia II. Meski sang kapten merupakan perwira senior, itu jadi penugasan lapangan pertamanya. Kala langit mulai dibalut awan gelap dan ombak mulai mengganas, alarm dan sirine tanda bahaya kapal meraung-raung. Benar saja, sebuah Unterseeboot atau yang dikenal U-Boat di kalangan Sekutu alias kapal selam Kriegsmarine (AL Jerman) menampakkan bagian sail -nya. USS Keeling segera mengejar untuk melepaskan belasan depth-charge (peledak kedalaman). U-Boat Jerman itu pun hancur dalam sekali hantam. Krause dan para krunya masih larut dalam euforia ketika tanpa dinyana kemudian sirine dari salah satu kapal dagang meraung-raung lagi. Satu kapal lainnya pun terbakar dan karam. Krause segera insyaf. Ia terhenyak ketika menyalakan radar dan mendapati belasan titik di sekitar posisi kapalnya. Itu artinya konvoi mereka tengah dikepung belasan U-Boat yang bersiap menyerang mangsanya dalam formasi wolfpack (kawanan serigala). Lantas, apa yang terjadi? Anda mesti bersabar. Jadwal tayang film yang tadinya akan dirilis pada 12 Juni 2020 ini diundur ke waktu yang belum ditentukan. Apa lagi penyebabnya kalau bukan gara-gara pandemi virus corona . Namun sepertinya tak sia-sia menunggu, mengingat di belakangan ini jarang film mengangkat epik tentang wolfpack di front Atlantik sebagaimana Das Boot (1981), U-571 (2000), atau In Enemy Hands (2004). Tom Hanks (kanan) sebagai Kapten Krause di atas kapal perusak USS Keeling menghadapi kawanan U-Boat Jerman. (Sony Pictures). Mula Kawanan Serigala Bila di darat Jerman-Nazi gilang-gemilang pada awal Perang Dunia II berkat taktik blitzkrieg dengan pasukan lapis baja sebagai ujung tombaknya, di laut, Kriegsmarine dengan tulang punggung sejumlah U Boat mengembangkan pola berbeda tapi memiliki kesamaan esensi dalam “sengatan” terkonsentrasi dan terkoordinir pada kubu musuh yang lemah. “Menurut saya tetap beda konteksnya. Wolfpack hanya pengembangan strategi kapal selam Jerman dalam Perang Dunia II yang pada intinya adalah mengeroyok konvoi. Awalnya strategi ini dari zaman Perang Dunia I. Populer diterapkan di Perang Dunia hasil buah pikir (Panglima Kriegsmarine, großadmiral ) Karl Dönitz,” ujar peneliti sejarah Perang Dunia II cum penulis buku 1000+ Fakta Nazi Jerman Alif Rafik Khan kepada Historia . Adalah Laksamana Hermann Bauer, Führer der Unterseeboote (FdU) atau Panglima Unit U-Boat Jerman di Perang Dunia I, yang disebut-sebut membidani embrio taktik kawanan serigala. Pada awal 1917, ia menggagas garis patroli U-Boat secara terkoordinir dan disokong kapal logistik Kriegsmarine di Atlantik Utara dengan tujuan menerkam konvoi Sekutu. Percobaannya pada Mei 1918 gagal. Banyak dari enam U-Boat dalam operasi perdana di Selat Inggris itu malah tumbang tertabrak kapal-kapal tempur dalam konvoi Sekutu. Penyebab utamanya soal komunikasi. Baru pada 1935 ketika Kriegsmarine mulai membangun lagi kekuatannya, sejumlah taktik eksperimental sebagai revisi strategi Bauer dilancarkan Dönitz yang saat itu komandan sebuah armada kapal torpedo. Dalam penilaian Dönitz, kapal selam mesti jadi tulang punggung baru bagi Kriegsmarine. Großadmiral Karl Dönitz di salah satu pangkalan U-Boat di St. Nazaire, Prancis, medio 1941. (Bundesarchiv). Pokok dari revisi Dönitz adalah pendekatan koordinasi dan komunikasi yang lebih canggih menggunakan mesin kode enkripsi Enigma. Kode yang biasanya berisi perintah ini datang dari stasiun komando BdU di Kerneval menginformasikan posisi-posisi konvoi yang bisa diterkam. Ketika formasi kawanan serigala itu sudah siap, setiap komandan U-Boat diberi keleluasaan memilih mangsanya satu per satu. Konsep Dönitz itu mulanya menuai penolakan, salah satunya dari Panglima Kriegsmarine Großadmiral Erich Raeder . Namun, gagasan Dönitz justru didukung Adolf Hitler. “Ia mengembangkannya menjadi konsep Rudeltaktik ( wolfpack /kawanan serigala). Gagasan yang kemudian diapresiasi Kanselir Adolf Hitler dan membuahkan promosi menjadi Befehlshaber der Unterseeboote/BdU (komandan unit kapal selam) di tahun yang sama,” ungkap David T. Zabecki dalam The German War Machine in World War II: An Encyclopedia. Dönitz pun memberi bukti di awal-awal Perang Dunia II. Buah pikirannya kemudian bikin keringat dingin para pembesar Sekutu di fase Pertempuran Atlantik (3 September 1939-8 Mei 1945). Pasalnya, sebelum 1943 konvoi Sekutu minim pengawalan kapal perang. “Satu-satunya yang membuat saya benar-benar ketakutan selama perang adalah bahaya U-Boat… Saya merasa lebih gelisah terkait pertempuran ini ketimbang Battle of Britain (pertempuran udara Inggris, 10 Juli-31 Oktober 1940),” kata Perdana Menteri Inggris Winston Churchill, dikutip Jonathan Dimbleby dalam The Battle of the Atlantic: How the Allies Won the War. Kapitänleutnant Günther Prien dan U-Boat yang dipimpinnya, U-47. (Bundesarchiv). Pemburu Berbalik Diburu Dalam catatan sejarawan Bernard Edwards yang dituangkannya dalam Dönitz and the Wolfpacks: The U-Boats at War , sepanjang Perang Dunia II Kriegsmarine mengerahkan 248 kawanan serigala. Wolfpack merupakan gugus tempur kecil yang kekuatannya minimal dua atau tiga U-Boat. Jika di darat perwira yang mengukir prestasi pertama menggunakan blitzkrieg adalah Jenderal Heinz Guderian dan Erwin Rommel, di laut dengan wolfpack perwira kondangnya adalah Korvettenkapitän (setara mayor) Gunther Prien. Wolfpack Prien, gugus tempurnya berkekuatan tujuh U-Boat yang berburu dalam kurun 12-7 Juni 1940, sukses memangsa lima kapal (40.949 ton) dalam Konvoi Sekutu HX 47. Kendati Wolfpack Prien lebih tenar di kalangan Kriegsmarine, catatan lebih fenomenal digoreskan Wolfpack West. Dengan kekuatan 23 U-Boat, kawanan yang berburu sepanjang 8 Mei-20 Juni 1941 itu menelan mangsa 33 kapal logistik/kapal dagang (191.414 ton) dan empat kapal tempur (33.448 ton) dari 10 konvoi yang diterkamnya. Namun, taktik wolfpack nan moncer itu seketika berbalik. Mulai akhir 1942 hingga akhir Perang Dunia II, kawanan serigala yang menjadi pemburu malah balik diburu gugus-gugus tempur Sekutu. Ini berkat keberhasilan Sekutu memecahkan kode-kode Enigma andalan kawanan serigala U-Boat dan mengembangkan alat pencegat transmisi komunikasi U-Boat, Huff-Duff (High Frequency Direction Finder). Alat itu membuat Sekutu tahu isi perut musuh. Mereka bisa melacak posisi-posisi musuh untuk kemudian mengerahkan gugus tempur pemburu U-Boat dari mulai kapal perusak hingga pesawat anti-kapal selam. “Ya, faktor kemunduran prestasi wolfpack karena Sekutu kemudian mengembangkan pertahanan yang lebih maju untuk menangkal serangan keroyokan dari U-Boat. Di antaranya adalah mengawal konvoi kapal dagang mereka dengan banyak destroyer (kapal perusak) dan mempersenjatai setiap kapal dagangnya,” tandas Alif.
- Setelah Sukarno Melarang Freemason
FREEMASON telah hadir di Hindia Belanda sejak tahun 1760 dengan tercatatnya seorang anggota bernama J.L. van Schevichaven. Dua tahun kemudian, J.C.M. Radermacher, pegawai VOC, mendirikan loji pertama bernama La Choisie di Batavia. Ayahnya adalah Grand Master (Suhu Agung) Freemason pertama di Belanda pada 1730-an.
- Bung Hatta Skakmat Kawan yang Mengelabuinya
MESKI menghormati dan mengagumi Bung Hatta, Hasjim Ning tak bisa bergaul secara “renyah” dengan pamannya itu. Hubungan keduanya “garing” sebagaimana hubungan anak dengan orangtuanya. Hampir tak ada candaan ketika Hasjim berbincang dengan Bung Hatta. Meski begitu, Hasjim amat menghormati Bung Hatta sebagai paman sekaligus bapak bangsa. Hubungannya dengan sang paman yang tak bisa seluwes hubungannya dengan Bung Karno dimakluminya karena dia tahu karakter Bung Hatta memang orang yang serius dan teguh memegang prinsip. Keteguhan Bung Hatta dalam memegang prinsip itu bahkan membuat Hasjim mengaguminya. “Jauh di dalam lubuk hatiku, aku mengagumi kekuatan imannya,” kata Hasjim dalam otobiografinya, Pasang Surut Pengusaha Pejuang . Keteguhan iman Bung Hatta itulah yang membuat Hasjim tak bisa sembarang bicara kepada sang paman, terlebih untuk mengobrolkan soal perempuan. Hasjim tahu betul sang paman “dingin” terhadap perempuan. Itu dibuktikan dengan tidak tergodanya Bung Hatta kepada gadis cantik asal Polandia yang menggodanya. Selain itu, Bung Hatta juga memenuhi janjinya tidak menikah sebelum Indonesia merdeka. “Bung Hatta sadar apa yang sedang dia prioritaskan,” kata Halida Hatta, putri bungsu Bung Hatta. Sebaliknya, hubungan Hasjim dengan Bung Karno amat “renyah”. Gaya bergaul keduanya sama-sama luwes. Keduanya bisa bersahabat meski terpaut jauh dalam usia. Canda dan derai tawa hampir selalu memenuhi obrolan keduanya. Hampir tak ada rem bagi masing-masing dalam melontarkan kalimat, tak peduli sopan atau tidak. Kondisi seperti itu terjadi juga ketika keduanya mengobrolkan Bung Hatta usai menghadiri resepsi pernikahan Bung Hatta. “Aku dengan Bung Karno memang usil memperkatakan ‘keperawanan’ Bung Hatta itu,” kata Hasjim. Soal yang satu itu memang santer di kalangan politik bahwa Bung Hatta jauh dari perempuan. Bung Karno sering menggambarkan bagaimana “dinginnya” Hatta kepada perempuan lewat sebuah kisah ketika di suatu petang Hatta menumpang sebuah angkutan yang berisi dirinya, supir, dan penumpang perempuan cantik di jok belakang. Ketika mobil mereka pecah ban, supir mencari bantuan dalam waktu lama. Begitu kembali, sang supir melihat Hatta sedang mendengkur di kursinya alih-alih menggunakan kesempatan untuk merayu perempuan cantik di kursi belakang. “Naluri ‘preman’ yang ada padaku mengatakan bahwa Bung Hatta belum pernah bersenggolan dengan perempuan selain hanya bersalaman atau dalam situasi yang tidak sengaja,” sambungnya. Penilaian Hasjim tidak berangkat dari cerita Bung Karno semata. “Anekdot Bung Hatta dengan perempuan selama belajar di Belanda banyak sekali aku dengar. Misalnya dari Nazir Pamontjak,” kata Hasjim. Anekdot Bung Hatta paling diingat Hasjim adalah yang dikisahkan Makcik Iljas, teman kos Bung Hatta ketika kuliah di Belanda yang asal Kotagedang. Menurutnya, Bung Hatta pernah menegurnya karena sering keluyuran malam untuk mengikuti pesta dansa. “Konsentrasikan pikiranmu dengan membaca buku agar pikiranmu teralih dari perempuan,” kata Hatta sebagaimana ditirukan Iljas. Iljas akhirnya segan pada Bung Hatta meski teguran itu tetap tak mempan memendam gairah mudanya. Maka demi tidak mengecewakan Hatta, Iljas pun bersiasat. Dia tak lagi keluar malam hingga menjelang tengah malam. Tapi begitu waktunya tiba dan anak-anak kos sudah di kamar masing-masing, Iljas segera menyelemuti guling di atas tempat tidurnya sehingga terlihat seperti orang tidur berselimut. Setelah itu, ia matikan lampu kamar. “Sehingga, kalau Bung Hatta mengontrol, ia akan menyangka Makcik Iljas sudah tidur,” kata Hasjim. Begitu kamar sudah gelap, Iljas pun keluar lewat jendela. Tak ada orang di dalam rumah yang mengetahuinya keluar. Kebiasaan lompat jendela itu berjalan mulus hingga suatu ketika Iljas nahas. “Sekali waktu, ketika aku pulang hampir pagi, tentu aku masuk lewat jendela juga, bantal-guling yang aku selimuti sudah berada di atas selimut. Dan di atas bantal terletak sebuah Quran,” kata Iljas. Meski membingungkannya, Iljas yakin perpindahan posisi selimut dan gulingnya itu hasil perbuatan Hatta. Maka ketika keesokannya mereka bertemu dalam sarapan, Iljas pura-pura tak tahu. Dia hanya mendapati Bung Hatta sesekali mencuri pandang kepadanya. Suasana sunyi itu baru berubah ketika Iljas memancing Bung Hatta dengan pernyataan bahwa dirinya berencana pindah kos. “Kenapa pindah?” tanya Bung Hatta. “Ya aku ke Belanda bukan disuruh mengaji,” jawab Iljas untuk menggoda Bung Hatta. “Tapi juga bukan sebagai pencuri yang keluar-masuk rumah lewat jendela,” kata Bung Hatta yang membuat Iljas kena skakmat.*
- Sosok Sukarno dan Pak Dirman dalam Kadet 1947
SEMANGAT perjuangan tidak hanya dimiliki muda-mudi Indonesia di darat dan lautan, namun juga di udara. Salah satu petite histoire tentang tekad membela negeri dari pihak agresor Belanda bakal diangkat ke layar lebar oleh rumah produksi Temata Studios dengan tajuk Kadet 1947. Rencananya dirilis pada November 2020 . “Ketika Belanda melanggar perjanjian (Linggarjati, red. ) dan menyerang republik, tujuh kadet angkatan udara berinisiatif melakukan serangan balik demi mempertahankan kedaulatan bangsa. (Film) ini kisah tentang tujuh kadet yang menggagas operasi udara perdana Indonesia (29 Juli 1947),” begitu logline filmnya yang disampaikan Aldo Swastia, sutradara cum penulis naskah, kepada Historia. Untuk menggugah minat kaum milenial terhadap kisahnya, tim produksi sengaja mencari aktor yang milenial pula guna memerankan tujuh kadet yang asing di telinga mereka. Para kadet itu jarang disebutkan dalam buku-buku pelajaran sejarah di berbagai institusi pendidikan formal. Aktor milenial Kevin Julio dipilih memerankan Kadet Mulyono, Baskara Mahendra sebagai Kadet Sutardjo Sigit, Ajil Ditto sebagai Kadet Suharnoko Harbani, Samo Rafael sebagai Kadet Bambang Saptoadji, Wafda Saifan sebagai Kadet Sutardjo, Chicco Kurniawan sebagai Kadet Dulrachman, dan Fajar Nugra sebagai Kadet Kaput. Senior-senior mereka tak ketinggalan diikutsertakan untuk memerankan para pembesar AURI seperti Komodor Muda Agustinus Adisutjipto (diperankan Andri Mashadi), Komodor dr. Abdulrachman Saleh/Pak Karbol (Ramadhan al-Rasyid), Komodor Muda Halim Perdanakusuma (Ibnu Jamil), dan KSAU Komodor Suryadi Suryadarma (Mike Lucock). Ario Bayu kembali memerankan Presiden Sukarno (Foto: Instagram @filmsoekarno) Yang menarik disimak, dua dari sekian tokoh tambahan yang bakal nongol dalam Kadet 1947 adalah tokoh Presiden Sukarno (diperankan Ario Bayu) dan Panglima besar Jenderal Sudirman (Indra Pacique). “Ini peran yang gawat. Sudirman itu kan karakternya berwibawa. Tantangannya ya wibawanya itu. Dari tekanan suara dan intonasi harus berwibawa, ditambah dengan (bahasa) Jawa-nya. Yang jelas karakter ini kan karakter yang sudah ada. Gue jadi harus lebih banyak baca lagi tentang Pak Dirman,” ujar Indra mengenai sosok yang paling dihormati di kalangan militer Indonesia itu, dalam konferensi pers virtual, Rabu (15/4/2020). Mempertanyakan Sosok Sukarno dan Sudirman Terlepas dari ketidakhadiran pemeran Sukarno dalam konferensi pers virtual itu, menarik untuk didalami apakah ada peran, pengaruh, atau keterlibatan keduanya dalam misi bombardir udara tangsi-tangsi militer Belanda di Semarang, Ambarawa, dan Salatiga oleh tujuh kadet itu? “Bung Karno dan Pak Dirman tidak ada hubungan dengan peristiwa (pemboman 29 Juli 1947, red ). tersebut. Menurut fakta sejarah, tidak pernah ada pertemuan antara pihak AURI dengan dua tokoh itu untuk membahas misi itu. Tetapi yang ada hanya pertemuan antara Halim dan Suryadarma saja,” demikian peneliti sejarah revolusi Wawan Kurniawan Joehanda menjelaskan kala dihubungi Historia. “Karena belum ada data sejarah keterlibatan kedua tokoh itu dalam peristiwa tersebut, seharusnya masih harus dicari data pendukungnya dulu. Kalau hubungan dengan AURI memang pernah tahun 1946 Pak Dirman berkunjung ke Pangkalan Bugis (Malang) dan Campurdarat (Tulungagung). Entah apakah mereka (tim produksi) mau menarik cerita mulai dari pembentukan AURI atau bagaimana,” imbuh penulis buku Palagan Maguwo dalam Mempertahankan Kemerdekaan Republik Indonesia: 1945-1949 itu. Bila epos para kadet AURI itu yang menjadi fokus, dimasuk k annya Sukarno dan Sudirman tentu mengacaukan fakta sejarahnya. Itu bakal tak menjadikan film Kadet 1947 sebagai suguhan bergizi bagi edukasi para generasi milenial untuk mengenal sejarah bangsanya. Bagaimana fakta sejarahnya soal kedua sosok itu di waktu yang sama (29 Juli 1947)? Keduanya memang berada di Yogyakarta saat misi pemboman berlangsung karena Yogyakarta saat itu merupakan ibukota. Namun Jenderal Sudirman, sebagaimana ditulis Pramoedya Ananta Toer, Koesalah Soebagyo Toer, dan Ediati Kamil dalam Kronik Revolusi Indonesia, Jilid III (1947), saat itu tengah disibukkan dengan laporan perkembangan lanjutan Agresi Militer I yang berlangsung sejak 21 Juli 1947. Di titimangsa itu pasukan Belanda tengah merangsek ke berbagai wilayah seperti Aceh, Medan, Slawi, Cilacap, Kaliwungu, dan Malang. Figur Biju Patnaik (kedua dari kanan) seorang industriawan India yang simpati pada kemerdekaan Indonesia (Foto: Repro "Bapak AURI Suryadi Suryadarma") Sedangkan Presiden Sukarno pagi itu sedang menerima Biju Patnaik, industriawan India yang bersimpati pada perjuangan Indonesia, di Istana Kepresidenan Yogyakarta (Gedung Agung). Itu jadi kunjungan kedua Patnaik setelah kunjungannya ke Yogyakarta pada awal Juli 1947. “B. Patnaik mengunjungi ibukota Republik Indonesia untuk menyaksikan sendiri keadaan di daerah Republik. Maksud Patnaik antara lain ialah mendirikan perusahaan tekstil di daerah Republik. Di Yogyakarta, ia diterima oleh Presiden Sukarno dan dijamu masyarakat India di Yogyakarta dengan dihadiri pembesar-pembesar Republik, antara lain Mr. M. Rum,” tulis Pram dkk. Berita yang menarik perhatian sekaligus mengiris hati para petinggi Republik di hari itu, 29 Juli 1949, adalah insiden pesawat Dakota VT-CLA yang ditembak jatuh dua pesawat tempur Curtiss P-40 Kittihawk AU Belanda. Peristiwa itu terjadi pada sore di atas langit Pangkalan Maguwo yang jadi basis keberangkatan misi tujuh kadet pagi harinya. Serangan terhadap Dakota AURI yang dipinjamkan Patnaik untuk mengangkut suplai obat-obatan itu merupakan aksi balas dendam Belanda terhadap misi pemboman para kadet. Serangan pengecut itu menewaskan sejumlah petinggi AURI: Komodor Agustinus Adisutjipto, Komodor dr. Abdulrachman Saleh, dan Opsir Muda Udara Adisumarmo Wiryokusumo. Jenderal Sudirman turut terpukul saat memberi penghormatan terakhir kepada tiga perintis AURI korban tragedi Dakota VT-CLA di Hotel Tugu (Foto: Repro "Awal Kedirgantaraan di Indonesia") Terlepas dari fakta sejarah yang ada, pihak penggarap Kadet 1947 punya pertimbangan lain untuk menghadirkan tokoh Sukarno dan Jenderal Sudirman. “Ada dokumentasi sejarah Bung Karno dan Pak Dirman menghadiri pameran penerbangan di Maguwo akhir 1946, beberapa bulan sebelum Agresi Militer Belanda I. Kala itu, Agustinus Adisutjipto juga ikut terbang untuk melakukan atraksi,” sambung Aldo Swastia. “Selain itu, walau memang tidak ada dokumentasi sejarah menunjukkan keterkaitan langsung Bung Karno dan Pak Dirman di misi tersebut, kehadiran kedua tokoh besar tersebut di pameran penerbangan menunjukkan dukungan penuh mereka terhadap angkatan udara kala itu. Maka, mengingat misi ini begitu penting bagi keberlangsungan bangsa, kami memasukkan beberapa adegan kedua tokoh tersebut dalam film ini,” tandasnya.
- Multatuli dan Freemason
MAX HAVELAAR, karya sohor Multatuli alias Eduard Douwes Dekker, ditulis di sebuah kamar sempit di Kota Brussel, Belgia pada September hingga November 1859. Kekecewaan dan gugatannya pada ketidakadilan yang ia temui selama bertugas di Lebak, Banten pada 1856 ia curahkan dalam novel itu. Max Havelaar kemudian terbit pada 14 Mei 1860.
- Gus Dur dan Buku
SOSOK Abdurrahman Wahid, akrab disapa Gus Dur, begitu terkenang di hati rakyat Indonesia. Presiden ke-4 RI ini dianggap reformis oleh kalangan santri. Hal itu juga menghilangkan kesan kolot dunia pesantren di mata masyarakat. Meski tentu saja anggapan tersebut tidak benar. Hidup di lingkungan pesantren –sebagai cucu ulama besar KH Hasyim Asyari, pendiri Nahdlatul Ulama (NU) juga Pesantren Tebu Ireng di Jombang, Jawa Timur– tidak serta-merta menghalangi minat baca Gus Dur. Tersedianya buku (berbagai jenis) dalam jumlah banyak, ditambah lingkungan keluarga yang mendukung membuat minat membacanya tersalurkan. Ketika menempuh pendidikan di Yogyakarta, tahun 1950, di SMEP (Sekolah Menengah Ekonomi Pertama) Gowongan dan nyantri di Pesantren Al-Munawwir, Gus Dur semakin menikmati hari-harinya bersama buku. Dikisahkan Greg Barton dalam Gus Dur: The Authorized Biography of Abdurrahman Wahid, Yogyakarta menjadi tempat Gus Dur menemukan berbagai jenis tema buku yang diinginkan. Ia bahkan sering mengunjungi toko-toko buku langganan mahasiswa UGM.
- Gesekan Biola Gandrung
MELIHAT pertunjukan tari gandrung membuat hati ingin turut menari. Suara sindennya manja. Ditingkahi irama gending gamelan nan rancak dan iringan nada tinggi-rendah biola yang menyayat. Kehadiran biola, yang notabene alat musik gesek dari Barat, membuat pertunjukan gandrung kian menarik. Jarang ditemui sebuah kesenian tradisional menggandeng biola sebagai salah satu unsur dalam pementasan. Dalam pementasan gandrung, biola membantu melodi lagu-lagu yang dinyanyikan sang penari. Biola dan vokal terjalin erat dan isi-mengisi. Keduanya membangun melodi lagu dan menentukan gerak tari. Maka, posisi penggesek biola ( baola ) menjadi sentral. Pemain biola tak melihat usia, tua atau muda. Asalkan mumpuni dalam memainkan biola, bisa ikut terjun dalam pementasan. Beberapa waktu lalu, komunitas Banyuwangi Tempo Doeloe mengunjungi seorang pemain biola gandrung yang sudah senior. Dia adalah Mbah Timbul dari daerah Mangir, sebuah desa di Kecamatan Rogojampi, Banyuwangi. “Saya mulai pegang baolah sejak tahun 1930-an. Lalu setelah cukup mahir mulai ikut dalam pementasan pada tahun 1940-an. Tidak ada guru. Ya cuma ikut melihat pas latihan lalu coba-coba sendiri. Hasilnya dulu tidak mesti, kadang dapat 15 rupiah, kadang sampai 100 rupiah,” ujarnya kepada tim Banyuwangi Tempo Doeloe, yang diunggah di laman Youtube dengan nama BTD channel. Pengaruh Eropa Gandrung merupakan salah satu kesenian asli dan tertua Banyuwangi. Kemunculan gandrung berkaitan erat dengan seblang, ritual suku Osing di Banyuwangi untuk keperluan bersih desa dan tolak bala. Sementara tari seblang mirip dengan tari sang hyang di Bali, yang di masa lalu ditemui juga di Banyuwangi dengan sebutan tari sanyang. “Lintasan gerak dan pose-pose dasar ketiga tarian tersebut pun masih menunjukkan banyak kesamaan,” tulis Sal M. Murgiyanto dan A.M. Munardi dalam Seblang dan Gandrung . Perubahan dan adaptasi pun mengiringi perkembangan kesenian gandrung. Gandrung, yang awalnya dibawakan penari laki-laki, kemudian diisi penari perempuan. Begitu pula dengan penggunaan instrumen musiknya. “Susunan orkes gandrung berubah lagi sejak Mak Midah mulai menyelenggarakan pertunjukan gandrung dengan Semi sebagai penari gandrung putri yang pertama pada tahun 1895. Kala itu, mulai menggunakan instrumen diatonik biola,” tulis Bambang Sularto dalam Kesenian Rakyat Gandrung dari Banyuwangi . Semi kerap disebut-sebut dalam lahirnya kesenian gandrung. Tapi apakah Semi pula yang kali pertama menggunakan biola butuh penelitian lebih jauh. Murgiyanto dan Munardi menuturkan kisah masuknya biola dalam pertunjukan gandrung. Konon, seorang pemain musik Barat, belum jelas apakah dari Prancis atau Belanda, secara kebetulan menyaksikan pertunjukan gandrung. Mendengar nyanyian dan musik pengiringnya yang erotis, dia tertarik. Diambilnya biola miliknya dan dia pun ikut bermain. Ternyata dihasilkan suara “baru” yang dianggap enak. “Masyarakat Banyuwangi pun agaknya sangat terpesona akan barang baru ini, dan selanjutnya menggunakannya di dalam pertunjukan gandrung mereka,” tulis mereka. Jaap Kunst dalam Music in Java (1937) menyebut penggunaan dua biola sebagai musik pengiring gandrung terjadi belum begitu lama. Biola menggantikan alat musik yang disebutnya sebagai “ shawms ” –sebuah alat musik kuno dengan dua buluh, yang merupakan bentuk mula dari oboe . Murgiyanto dan Munardi menduga alat musik itu sejenis serunai, terompet, atau bahkan seruling. Dalam tari sanyang, musik pengiringnya terdiri dari seruling, kendhang, dan gong. Seruling berfungsi sebagai pembentuk melodi. Tapi pada pertunjukan gandrung, posisinya diambil-alih biola sebagai pengganti seruling. Seblang, yang mempergunakan kendhang, gong, dan kenong untuk memperjelas pola irama, kemudian ikut menggunakan biola –terutama seblang di Bakungan. “Agaknya orang lebih suka memainkan alat musik yang baru (biola) daripada harus menghabiskan napas semalam suntuk untuk meniup seruling. Memainkan biola nampaknya juga lebih ‘maju’ daripada meniup seruling dan gesekannya pun mampu mengatasi vokal manusia,” tulis Murgiyanto dan Munardi. Penambahan biola tentu saja membuat iringan musik gandrung semakin tajam dan berwarna. Improvisasi Secara fisik, biola yang digunakan dalam gandrung tidak berbeda dengan biola Barat. Tapi cara dan teknik memainkannya berbeda. Ini disebabkan sistem penggunaan senarnya. “Pada instrumen biola barat senar yang digunakan untuk biola sopran adalah senar G-D-A-E dengan ukuran terbesar hingga senar E yang terkecil. Dalam seni pertunjukan gandrung, biola tidak menggunakan senar G-D-A-E tetapi menggunakan sistem senar G-D-D-A dan tidak menggunakan senar yang paling terkecil yaitu senar E,” tulis Irfanda Rizki Harmono Sejati dalam “Biola dalam Seni Pertunjukan Gandrung Banyuwangi”, dimuat jurnal Harmonia , Desember 2012. Selain itu, untuk cara memakainya, biola gandrung diletakkan di atas siku kanan sebelah kiri. Kemudian ada teknik-teknik khusus, dengan istilah lokal, untuk menghasilkan nada-nada improvisasi dari melodi aslinya seperti rageman , ngrangin , ngembat . Kini, seiring kemeriahan Banyuwangi Festival yang rutin digelar setiap tahun, kesenian gandrung semakin ramai dan digemari pengunjung. Implikasinya banyak orang bisa menikmati dan ikut merawat kesenian ini. Pun kesejahteraan pemain gandrung menjadi semakin baik. Apalagi, mulai muncul generasi-generasi muda di bawah Mbah Timbul yang giat dan menyenangi seni tradisi.*
- Mohammad Sardjan dan Islam Hijau
SEBELUM meletakkan batu pertama pembangunan Gedung Fakultas Pertanian Universitas Indonesia tahun 1952, Presiden Sukarno membacakan pidato yang cukup terkenal, Soal Hidup atau Mati. Sukarno berpendapat produksi pertanian di Indonesia harus ditingkatkan. Alasannya, impor makanan cukup mahal dan akan lebih baik bila Indonesia berdikari. Menurut Sukarno, dalam sebuah “masyarakat adil dan makmur” tidak boleh ada orang-orang yang merasa lapar.





















