top of page

Hasil pencarian

Cari di situs ini

10057 hasil ditemukan dengan pencarian kosong

  • Stirling Moss, Raja Balap tanpa Mahkota

    CUACA di Sirkuit Monza amat indah suatu hari medio Mei 2015. Sir Stirling Moss yang mengenakan atribut pembalap lengkap era 1950-an, hampir tak bisa berhenti tersenyum di sepanjang trek. Kakinya masih fasih menginjak pedal gas maupun kopling. Tangannya masih solid memegang setir dan persneling. Namun tentu semuanya berbeda. Usianya sudah sepuh. Suasana sirkuit pun tak sesemarak kala ia balapan di trek yang sama pada GP Italia 1955. Meski begitu, Moss tetap bisa merasakan suasana itu kembali hidup. Tak lain lantaran mobil balap yang ia kemudikan sama persis dengan yang digunakannya enam dekade sebelumnya. Legenda balap Inggris itu mengendarai mobil berbodi streamliner Mercedes-Benz 300SLR. Untuk menjajal beberapa lap di Monza, ia ditemani jawara F1 yang senegara dengannya, Lewis Hamilton, di kokpit mobil Mercedes W196 Monoposto atau varian awal mobil Moss di paruh pertama F1 musim 1955, sebelum berganti dengan varian streamliner. Hamilton sesekali menyamakan kecepatan untuk mengambil posisi berdampingan sembari ngobrol kecil. Mungkin sekaligus menjaga agar Moss tak berlebihan menggeber mobilnya, mengingat usianya sudah 85 tahun. Kenangan pada 2015 itu tak terlupakan buat Hamilton, salah satu figur F1 yang terpukul ketika mendengar Moss wafat pada Minggu (12/4/2020). Legenda balap yang sepanjang kariernya jadi raja di lintasan tanpa mahkota itu mengembuskan nafas terakhir di usia 90 tahun karena kesehatannya terus menurun. “Hari ini kita menyampaikan selamat tinggal kepada Sir Stirling Moss, seorang legenda balapan. Tentu saya akan sangat merindukan perbincangan kami. Saya benar-benar bersyukur sempat memiliki momen istimewa bersamanya. Semoga ia beristirahat dengan tenang,” tutur Hamilton berduka via akun Twitter -nya, @LewisHamilton, 12 April 2020. Mengubah Bully jadi Motivasi Laman resmi F1 dalam muatan obituari Moss menjuluki sebagai “Mr. Motor Racing”. Ia legendaris sejati meski dalam rentang tujuh tahun (1955-1961) kariernya di ajang balap paling beken sedunia itu tak pernah sekalipun mencicipi gelar juara. Moss dicap sebagai pembalap paling sportif dengan catatan turun di 66 balapan, 16 kali merebut pole position, dan 16 kali berdiri di puncak podium. Ia rival terberat sejumlah legenda lain macam Juan Manuel Fangio, Alberto Ascari, Jack Brabham, hingga sesama pembalap Inggris Mike Hawthorn dengan empat kali jadi runner-up (1955-1958) dan tiga kali menempati urutan tiga klasemen akhir (1959-1961). Pria bernama lengkap Stirling Craufurd Moss itu lahir di West Kensington, London, Inggris pada 17 September 1929. Sejak kecil ia sudah akrab dengan deru mesin mobil balap. Pasalnya sang ayah, Alfred Moses, berprofesi sebagai dokter gigi sekaligus pembalap medioker. Di era 1920-an, ayahnya sering terjun di ajang-ajang amatir lokal. Sempat pula ia sekali ‘ gas pol ’ di ajang Indianapolis 500 pada 1924 dan finis di urutan ke-16. Ibunya, Aileen Craufurd, semasa muda juga jadi juru balap ajang-ajang amatir balap mobil sejenis Singer Nine. Kelak adiknya yang lantas dipersunting pembalap reli Swedia Erik Carlsson, Pat Moss, juga merambah dunia balap di ajang reli. Mengutip otobiografi yang dituliskan Moss bersama Alan Henry bertajuk All My Races , ia sudah dihadiahi ayahnya mobil Austin 7 pada usia sembilan tahun. Alfred Moss, ayah Stirling Moss juga merupakan pembalap era 1920-an (Foto: mundalis.com ) Walau hidup di keluarga dengan perekonomian yang lebih dari cukup, bocah Moss bukan tak pernah mengalami pergulatan batin. Sejak di usia sekolah dasar, ia acap jadi korbanperundungan. Utamanya perundungan bernada anti-semit karena ia punya darah Yahudi dari garis kakeknya, Abraham Moses Moss. Akibatnya, ia jadi anak yang malas ke sekolah. Beberapakali pula ia harus pindah-pindah sekolah. “Awalnya saya selalu menyembunyikan masalah itu dari orangtua. Butuh waktu lama untuk saya bisa mengubah perundungan itu menjadi motivasi kesuksesan,” kenang Moss. Mille Miglia dan Mahkota Formula Mengidap nefritis atau radang ginjal membuat Moss muda tak diharuskan ikut ke medan Perang Dunia II dan wajib militer dua tahun pasca-perang. Berkahnya, pendidikannya tak terlalu terganggu oleh perang. Ia hanya harus sering ikut lari ke tempat-tempat perlindungan serangan bom tiap kali sirine meraung-raung di masa-masa Battle of Britain , 10 Juli-31 Oktober 1940. Sejak 1948, Moss merintis karier balapnya dengan serius mengikuti beberapa ajang balap “kasta menengah” seperti Cooper 500, RAC Tourist Trophy, Alpine Rally, Goodwood Trophy, dan British Formula Three (F3). Moss menjalani debutnya di F1 pada 27 Mei 1951 bersama tim HWM-Alta di Sirkuit Bremgarten, GP Swiss. Ia hanya mampu finis di urutan ke-14. Bukan karena kalah skill dari Fangio yang di hari itu naik ke puncak podium atau Nino Farina dan Luigi Villoresi di podium kedua dan ketiga, namun karena mobil HWM 51 bermesin Alta F2 yang dikendarai Moss kurang kompetitif. Pada musim 1952, ia pindah ke tim ERA dengan mobil bermesin Bristol BS1 dan kemudian pindah tim Connaught, dan Cooper hingga 1953. Itu dilakoninya karena prinsip, hanya mau mengemudikan mobil bermesin dan ditopang sasis buatan Inggris. “Lebih baik kalah terhormat dengan mobil Inggris daripada menang dengan mobil buatan asing,” cetus Moss, dikutip Paul May dalam Heroes and Saints . Prinsip itu kemungkinan merupakan buah dari pengalaman getirnya kala merasa dikerjai Enzo Ferrari. Pada 1951, ia mulai didekati Enzo Ferrari yang menawarkan untuk mengendarai mobil Ferrari untuk ajang Formula Two (F2) di GP Bari. Tapi ketika sudah melakukan perjalanan jauh dari London ke Puglia, Moss yang ditemani ayahnya, hanya mendapati satu-satunya mobil Ferrari adalah mobil yang dikendarai pembalap Piero Taruffi. Masalahnya tak satupun staf tim Ferrari yang bisa memberi penjelasan memuaskan. Akhirnya Moss dan ayahnya pulang dengan memendam dengki. Maka hingga 1954 ia tak pernah sekalipun mau menyentuh mobil-mobil pabrikan asing. Namun karena catatan awal kariernya (1951-1953) yang sama sekali tak menggembirakan, ditambah nasihat-nasihat para sponsor, Moss akhirnya berkenan masuk ke kokpit mobil asing, yakni Maserati 250F di tim Alfieri Maserati asal Italia. “Moss bisa tampil di musim 1954 dengan mobil (Maserati) 250F, di mana finansialnya disponsori Shell-Mex dan BP. Moss merasakan sendiri betapa bagusnya handling mobil 250F sebagai wahana yang ideal untuk mendemonstrasikan skill -nya,” tulis Stuart Codling dalam Art of the Formula 1 Race Car . Prestasi Moss pun mulai moncer sejak mengendarai Maserati. Di pentas F1 ia memang hanya merasakan sekali naik ke podium ketiga di GP Belgia, 20 Juni 1954. Tetapi di luar F1, tahun itu Moss mendulang beberapa gelar dengan mobil 250F, di antaranya International Gold Cup dan Goodwood Trophy. Semusim berikutnya, ia pindah ke tim Mercedes. Di sinilah nama Moss mulai jadi langganan calon juara F1. Di musim 1955 dengan mobil Mercedes W196, Moss tiga kali naik podium, termasuk kemenangan pertamanya di GP Inggris, 16 Juli 1955 yang dihelat di Sirkuit Aintree, Liverpool. Bahkan di akhir musim, ia sukses menguntit Fangio yang juga rekan setimnya menjadi runner-up , sekaligus mengangkangi dua pembalap Ferrari, Eugenio Castellotti dan Maurice Trintignant, yang hanya mampu bercokol di urutan tiga dan empat klasemen akhir. Stirling Moss bersama co-driver Denis Jenkinson di ajang Mille Miglia 1955 (Foto: formula1.com ) Namun kenangan yang tak pernah dilupakannya di tahun 1955 justru keikutsertaannya di ajang Mille Miglia. Bersama co-driver Denis Jenkinson, Moss memenanginya. Itu menjadi kali pertama Moss memenanginya sejak ikut Mille Miglia pada 1951. Mirip Le Mans 24 Hours, Mille Miglia adalah ajang balap ketahanan mobil dan pembalap. Bedanya, Le Mans dibatasi waktu 24 jam, sementara Mille Miglia waktunya non-stop selama 10 jam dengan jarak tempuh 1.500 kilometer dengan start -nya dimulai dari Brescia dan finis di Roma. “Menang Mille Miglia lebih sulit daripada Le Mans 24 Hours. Tingkat stres di dalam mobil lebih tinggi. Anda juga balapan di jalanan umum dengan intensitas selama 10 jam. Balapan di jalanan umum di mana Anda tak mengenal treknya sangat berbeda dan sangat menuntut teknik. Anda tidak bisa mempelajari karakter trek sepanjang 1.000 mil,” sambung Moss dalam otobiografinya. “Belum lagi penonton yang berdesak-desakan di pinggir treknya membuat Anda tak bisa melihat ujung tepi tikungan. Tapi sepanjang karier kemenangan itulah pencapaian terbaik saya. Anda tak bisa membandingkan misalnya dengan kemenangan saya di GP Monaco 1961. Segalanya bergantung pada kepercayaan diri, baik terhadap mobil maupun kemampuan Anda,” lanjutnya lagi. Pada musim 1958, Moss hanya kalah sebutir poin dari kompatriotnya, Mike Hawthorn, dalam perebutan juara F1. Tak pernah sepanjang kariernya gelar juara begitu dekat dengan genggamannya. Di musim itu, Moss empat kali menang dan mengumpulan 41 poin. Adapun Hawthorn cuma sekali menang tetapi punya perolehan 42 poin. Penyebabnya, Moss lebih sering gagal mendapatkan poin karena gagal finis di lima seri, sementara Hawthorn hanya dua kali. Namun yang paling menjadi perhatian utama adalah sikap sportif Moss terhadap Hawthorn di GP Portugal yang dihelat di Sirkuit Boavista, 24 Agustus 1958. Mengutip majalah Motor Sport edisi Oktober 1958, mobil Hawthorn tergelincir di sebuah tikungan pada lap ke-48. Masalahnya saat itu kondisi tikungannya menanjak, menjadikan Hawthorn sukar menyalakan lagi mesin mobilnya. Satu-satunya cara adalah didorong ke jalanan menurun dan itu artinya Hawthorn harus berbalik arah. Itu kemudian dipermasalahkanpengawas balapan ( steward) . Hawthorn dianggap menjalankan mobilnya berlawanan arah di luar trek dan itu merupakan pelanggaran. Hasilnya, Hawthorn yang finis kedua di belakang Moss, didiskualifikasi. “Tapi pada rapat ofisial balapan di malam hari setelah balapan, Moss memberi kesaksian bahwa Hawthorn mencoba menyalakan lagi mesinnya dengan didorong di sisi dalam bantalan tepi trek, bukan di luar dan oleh karenanya tidak melanggar peraturan. Lalu pada jam 11 malam ofisial balapan memberi keputusan mengembalikan status runner-up Hawthorn,” tulis majalah itu. Stirling Moss (kiri) bersama John Michael 'Mike' Hawthorn, saingan sekaligus teman baik di pentas F1 era 1950-an (Foto: formula1.com ) Andai Moss tak berinisiatif dan bersikap sportif untuk memberi kesaksian pada ofisial balapan GP Portugal, Hawthorn takkan mendapatkan tambahan tujuh poin. Itu berarti di akhir musim sangat mungkin Moss-lah yang keluar sebagai juara dunia, bukan Hawthorn. “Bagi saya, Mike tak semestinya didiskualifikasi. Saya merasa, keputusan steward telah salah mendiskualifikasinya. Dan saya memberi kesaksian bahwa dia masih di dalam trek, tepatnya di escape road (jalur darurat, red. ) yang kemudian diterima ofisial. Nyatanya hal itu membuat saya kehilangan gelar. Walau demikian (sikap sportif) sudah berarti kemenangan buat saya,” tambah Moss. Di pengujung musim, Moss akhirnya gagal juara. Meski pedih, tiada penyesalan dalam hatinya. “Memang sempat ada sedikit rasa kesal karena saya merasa harusnya tahun itu saya juara. Saya merasa punya kemampuan untuk jadi juara tapi nyatanya saya tidak juara. Mike adalah teman baik saya. Tentu saya merasa mampu mengalahkan dia, tetapi harus diterima juga bahwa saya kalah satu poin darinya,” tandas Moss yang pensiun pada 1962 akibat cedera parah usai kecelakaan di ajang Glover Trophy.

  • Superfood Ala Nusantara

    Saat wabah Corona semakin menggila, makanan untuk meningkatkan imun semakin banyak. Indonesia punya jenis rempah dan herbal yang berkualifikasi sebagai superfood. Murah, mudah ditanam, tak mengandung kimia, dan mudah diolah menjadi minuman dan makanan lezat. Inilah superfood ala Nusantara (seri jamu dan rempah).

  • Rokok Kretek Rumahan Eksis di Tengah Krisis

    GELOMBANG pasang Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) terkait dampak ekonomi akibat pandemi Covid-19 mulai berlangsung. Sebuah video viral menangkap suasana murung puluhan karyawan yang di-PHK di sebuah ritel besar di Depok, Jawa Barat. Di tempat lainnya, ratusan ribu orang di beragam sektor usaha dan bisnis juga telah kehilangan pekerjaannya. Hampir 90 tahun lalu, PHK massal juga pernah melanda Hindia Belanda. Saat itu, ekspor Hindia Belanda jatuh dihantam resesi global pada awal dekade 1930-an. Barang melimpah, harganya turun, tapi orang sulit memperoleh uang. Industri manufaktur di kota dan agroindustri mem-PHK buruh-buruhnya. Sebagian buruh kembali ke kampung halaman atau desanya untuk mencari pekerjaan lain. "Mereka yang sudah menjadi penduduk kota, seperti para buruh di Surabaya, menggantungkan diri pada jaringan sosial kampung untuk bertahan hidup," catat Dick Howard dalam Surabaya, City of Work: A Socioeconomic Behaviour in Java. Salah satu jaring pengaman sosial perdesaan adalah usaha rokok rumahan.

  • Nas yang Nahas

    KETIKA Presiden Sukarno bingung mencari kandidat yang pas untuk mengisi jabatan KSAD yang –sementara dijabat Pj. KSAD Kolonel Zulkifli Lubis– kosong, Gatot Subroto menyarankannya agar memilih kembali AH Nasution bila presiden menginginkan sosok yang paling sesuai dengan keinginannya untuk memimpin Angkatan Darat. Presiden akhirnya menerima saran Gatot. Saran Gatot tentu berangkat dari pertimbangan-pertimbangan rasional. Namun di luar itu, Gatot mengenal betul karakter orang yang dicalonkannya. Gatot dan Nas, sapaan akrab AH Nasution, telah menjalin persahabatan sejak lama meski usia keduanya berbeda jauh. Beberapa pengalaman hubungan kedua jenderal mantan KNIL itu di masa Perang Kemerdekaan dituliskan Nas dalam memoarnya, Memenuhi Panggilan Tugas . Sewaktu Nas menjadi panglima Divisi Siliwangi dan Gatot panglima Divisi Sunan Gunung Jati, misalnya, keduanya sering bertemu. “Kolonel Gatot Subroto, panglima Divisi II, sehabis menginspeksi anak buahnya sering mampir di pos komando saya, mengolok dengan kata-kata, ‘Kamu terlalu zakelijk , kamu tak tahu kesenangan’,” tulis Nas dalam memoarnya. Nas biasanya membalas celetukan itu dengan celetukan pula. Suatu ketika, Gatot yang mengunjungi pos komando Nas mendapati Nas dan bawahannya sedang sarapan. Melihat menu sarapan mereka berupa jagung tua yang direbus dengan gula, Gatot enggan ikut sarapan dan melontarkan kalimat yang menyulut tawa hadirin. “Gigi-gigi saya sudah tua, tidak bisa mengunyah jagung setua begitu. Maka itu saya cari-cari makan di luar saja!” kata Gatot, dikutip Nas. Namun, persahabatan Nas dan Gatot tak melulu berisi canda-tawa. Usai Perjanjian Renville, Gatot pernah mencurigai Nas. “Rekan Kolonel Gatot Subroto mendapat laporan-laporan yang bersifat tuduhan bahwa Jenderal Mayor Nasution adalah seorang agen NICA. Laporan-laporan itu membanjir sedemikian banyaknya sehingga ia sendiri mulai bimbang mengenai diri saya,” kata Nas mengenang. Psywar  tentang mata-mata musuh begitu masif pada masa itu. Biasanya yang menjadi korban adalah orang-orang yang punya keterkaitan latar belakang, entah pendidikan atau jabatan, dengan Belanda, atau orang-orang yang secara fisik mirip indo. Rohmah Soemohardjo, istri Jenderal Oerip Soemohardjo, salah satu yang mengalaminya. Ia dicuriga laskar sebagai mata-mata Belanda karena punya hubungan akrab dengan orang-orang Belanda dan kemampuan bahasa Indonesianya buruk. Akibat kecurigaan itu, Rohmah selama suatu waktu pernah mengalami ancaman pembunuhan setiap hari dan rumahnya pernah diperampok. Tuduhan sebagai mata-mata NICA yang berlanjut dengan ancaman penculikan juga menimpa KSAU Komodor Suryadarma yang punya tampilan fisik seperti bule dan latar belakang sebagai navigator di AU KNIL. “Pengumuman Belanda bahwa Komodor Suriadarma ‘diberhentikan dengan resmi dari dinas militer KNIL’ merupakan bahan provokasi yang luas pula, sehingga salah seorang anggota delegasi kita sudah benar-benar menganggap dia berada di pihak Belanda,” tulis Nasution. Tuduhan itu amat mengganggu Suryadarma. “Soeriadi sering merasa kecewa, sakit hati, kalau ia mendengar isu atau desas-desus bahwa ia seorang NICA karena ia bekas KNIL,” kata istri Suryadarma, Utami Suryadarma, dalam memoar berjudul Saya, Soeriadi, dan Tanah Air . “Mungkin juga desas-desus itu berasal dari pihak-pihak kita sendiri yang merasa iri.” Karena tuduhan yang amat mengganggu itulah Suryadarma akhirnya suatu hari membuka tantangan. “Ia pernah mengumbar secara terbuka di hadapan banyak perwira dan prajurit dengan berkata, bahwa silahkan siapa saja yang berani menculik dia, akan dihadapi dengan pistolnya yang dapat dipakainya dengan tangan kiri dan kanan. Dan seketika itu juga, ia mendemonstrasikan kelihaian ini. Sejak itu hilanglah suara-suara kelompok yang mau menculiknya,” sambung Utami. Berbeda dari Suryadarma yang merespon tuduhannya dengan cara koboi, Nas justru lebih banyak diam merespon tuduhan miring yang dialamatkan kepadanya. Kecurigaan Gatot terhadapnya hilang setelah Gatot mengutarakannya kepada Wapres Moh. Hatta dan mendapat penjelasan yang meyakinkannya. Namun ketika bertemu Presiden Sukarno, Nas akhirnya mengutarakan juga kegelisahannya. Nahas bagi Nas, alih-alih mendapatkan respon serius presiden untuk membahas solusinya, dia justru mendapati presiden bersikap seolah tak peduli sambil bercanda. “Waktu saya singgung hal itu di depan Presiden, ujar beliau dengan tertawa adalah sekadar: ‘Ah, mukamu juga seperti peranakan Indo’,” kata Sukarno dikutip Nasution.*

  • Mengenang Hebatnya Dolores O’Riordan di Panggung

    Vokalis band The Cranberries asal Irlandia, Dolores O’Riordan, ditemukan meninggal dunia di bak mandi kamarnya, di Hotel Park Land Hilton, London, 15 Januari 2018. Industri musik dunia gempar. Spekulasi bermunculan. Apakah Dolores bunuh diri? Catatan dokter menunjukkan kematian Dolores bukan bunuh diri, melainkan kecelakaan setelah menenggak alkohol. “Ini kecelakaan yang tragis,” ujar dokter Shirley Radclife dilansir dari  washingtonpost.com . Dolores saat tampil di Jakarta pada 2011. (Fernando Randy/Historia). Semasa hayatnya, Dolores tampil cemerlang di blantika musik. Dia memulai kiprahnya bersama The Cranberries pada 1990. Grup ini tadinya bernama The Cranberry Saw Us dengan personel Niall Quinn (vokalis), kakak beradik Noel Hogan (gitaris) dan Mike Hogan (bassis), dan Fergar Lawler (penabuh perkusi).  Begitu Niall Quinn keluar karena alasan sudah tidak ada kecocokan di antara mereka lagi, Dolores masuk menggantikannya. Kualitas vokal Dolores memikat Mike dan Noel. Mereka akhirnya merekrut Dolores dan mengganti nama grupnya jadi The Cranberries. Bergabungnya Dolores membawa peruntungan. Lagu-lagu The Cranberries bertengger di puncak tangga lagu Irlandia, Eropa Timur, dan Amerika Utara.  Hits  mereka antara lain "Ode To My Family", "Linger", "Salvation", "Dreams" dan "Zombie". Album-album mereka juga laris manis tanjung kimpul.  Dolores dengan gitar andalanya saat membawakan lagu-lagu The Cranberries. (Fernando Randy/Historia). Dolores menghibur ribuan fansnya di Jakarta. (Fernando Randy/Historia). Dolores bersama The Cranberries memberikan warna baru kepada blantika musik tahun 1990. Saat itu aliran  Grunge Music  lagi jaya-jayanya dengan grup Nirvana sebagai kepalanya. Lalu diikuti oleh Soundgarden dan Pearl Jam. Keberhasilan penjualan album membawa The Cranberries tur keliling dunia. Hingga akhirnya mereka sampai pada titik jenuh dalam bermusik dan menyatakan vakum.  The Cranberries kemudian bereuni. Tempat yang dipilihnya istimewa: Indonesia. Mereka tampil dalam acara "Java Rockin Land" di Ancol, Jakarta, pada 2011. The Cranberries mementaskan hampir semua  hits -nya malam itu. Mereka sadar penggemarnya rindu setengah mampus. The Cranberries telah lama menghilang. Obat paling mujarab untuk membayar tuntas kerinduan para penggemar adalah dengan memainkan  hits  yang ada.  Suara unik nan khas adalah salah satu andalan Dolores dalam bernyanyi. (Fernando Randy/Historia). Dolores bernyanyi seolah energinya tak akan habis. Vokalis kelahiran 6 September 1971 masih atraktif serupa pemudi usia 20-an. Dia fasih memainkan gitar dan bergonta-ganti pakaian. Dan yang membuat penggemarnya makin kesengsem, Dolores tak pelit menyapa. Malam itu benar-benar milik The Cranberries, Dolores, dan ribuan penggemarnya.  Aksi bersemangat dari Dolores. (Fernando Randy/Historia). Total seluruh hits dibawakan oleh The Cranbberies di Jakarta. (Fernando Randy/Historia). Ribuan penggemar yang menyaksikan aksi panggung The Cranbberies. (Fernando Randy/Historia). Kini setelah hampir dua tahun kepergian Dolores, The Cranberries mengeluarkan album baru sebagai penghormatan untuk sang vokalis. Album itu memuat 11 lagu yang sempat mereka rekam saat masih bersama Dolores. Dimulai dari  singel  berjudul "All Over Now" dan berakhir pada "In The End" yang menjadi tajuk album mereka.  Tanpa lelah Dolores dan The Cranberries tampil di hadapan para penggemar mereka. (Fernando Randy/Historia). Album penghormatan itu ternyata masuk nominasi untuk kategori album rock terbaik dalam ajang Grammy Awards 2020. Dolores boleh jadi sudah bernyanyi di surga sana. Tapi sisa-sisa suaranya masih  nyantol  kuat di dunia sini. Selamat jalan, Dolores.  Usai sudah penampilan The Cranbberies dan Dolores di Jakarta. (Fernando Randy/Historia).

  • Ketika Bung Sjahrir Pergi

    MINGGU pagi, 10 April 1966. Dalam suasana Paskah, Jakarta yang baru saja tenang dari demonstrasi-demontrasi mahasiswa tetiba terhenyak. Antara menyiarkan sebuah berita duka: Sutan Sjahrir meninggal di Zurich (Swis). Kantor Berita milik pemerintah Republik Indonesia (RI) itu mengutip keterangan dari seorang jurnalis Reuters (Kantor Berita Kerajaan Inggris). “Reuters sendiri mendapat berita itu dari seorang petugas rumah sakit tempat Sjahrir dirawat,” ungkap wartawan senior, Rosihan Anwar dalam Perdjalanan Terachir Pahlawan Nasional Sutan Sjahrir. Tokoh pejuang sekaligus Perdana Menteri Republik Indonesia pertama itu pergi meninggalkan seorang istri, Siti Wahjuni Poppy Saleh (yang dinikahinya pada 1951) dan putra-putri yang masih kecil: Krya Arsjah alias Buyung (9) dan Siti Rabyah Parvati alias Upik (5).

  • Jenderal Jusuf dan Para Wartawan

    BISA dikatakan Jenderal TNI M. Jusuf adalah Panglima ABRI yang paling disenangi wartawan pada masanya. Selain dikenal ramah terhadap kuli tinta, Jusuf juga tidak “pelit” berbagi dengan mereka. Jusuf membuktikan itu dengan kebiasaan mengajak para wartawan untuk meliput perjalanan dinasnya. “Antara tahun 1978-1983, Jusuf identik dengan perjalanan keliling Indonesia. Perjalanan pun identik dengan hidup, makan, tidur di dalam perut (pesawat) Hercules,” tulis Atmadji Sumarkidjo dalam Jenderal M. Jusuf: Panglima Para Prajurit . Bagi kalangan wartawan, kunjungan ke penjuru negeri ini disebut sebagai “Safari Jusuf”. Hampir sebagian besar perjalanan Jusuf ke luar kota diawali pada dini hari. Artinya, berangkat sekitar pukul 05.00 pagi. Maka bagi wartawan yang diajak untuk meliput sudah dijemput oleh staf Menhankam pada pukul 02.00-03.00 dini hari. Jusuf punya aturan terhadap para wartawan yang berkesempatan mengikuti safarinya. Mereka harus mengenakan seragam serba hijau, baik seragam formal ataupun lapangan (Pakaian Dinas Lapangan). Di balik aturan itu terselip alasan khusus. “Supaya mereka menghayati dan merasakan denyut nadi para prajurit ABRI,” kata Jusuf ditirukan Atmadji. Sekira 30 menit setelah pesawat berangkat dari Pangkalan Halim Perdanakusumah, Jusuf suka melakukan inspeksi dalam pesawat. Dia melihat siapa-siapa saja penumpang yang jadi anggota rombongan. Kesempatan itu juga yang selalu digunakan Jusuf untuk menyapa para wartawan. Kadang-kadang Jusuf memberikan informasi kepada wartawan mengenai tujuan yang harus dicapai dalam kunjungan tersebut. Pembicaraan Jusuf dengan wartawan acap kali diselingi canda. Bagi yang sudah dikenalnya baik, Jusuf kerap melayangkan tanya, “Bagaimana kabarmu? Baek-baek  saja kan?” Jusuf juga tidak sungkan memperhatikan penampilan wartawan yang terlihat agak urakan. Misalnya, jika dilihatnya ada wartawan yang gondrong, Jusuf akan berseloroh, “Kau rapikan sedikit rambutmu ya, biar kelihatan bagus.” Di dalam pesawat, Jusuf tidak senang kepada mereka yang punya kebiasaan merokok. Dia bisa marah kalau melihat asap membubung, sekalipun terhadap sesama perwira tinggi. Namun Jusuf toleran kalau soal tidur. Jusuf senang jalan ke kabin belakang dan mengamati para penumpang yang tertidur lelap. Beberapa jam kemudian dalam suasana yang santai, dia sering meledek para wartawan. “Wah enak sekali kalian ini, sudah nggak bayar naik pesawat terbang, tidurnya pulas pula,” celoteh Jusuf . Siapapun tidak ada yang marah karena tahu bahwa itu sekedar senda gurau belaka. Setiap kali ikut serta meliput kunjungan kerja Jusuf di daerah, semua kebutuhan wartawan ditanggung. Mulai dari transportasi, makan, hingga akomodasi. Mereka yang sudah jadi langganan tetap masuk kategori “rombongan sirkus”. Namun ada pula wartawan yang diajak secara dadakan. Suatu siang usai rapat kerja DPR, empat orang wartawan menunggu Jusuf untuk melakukan wawancara. Ketika Jusuf berjalan ke luar ruangan, otomatis para wartawan mengerumuninya sambil menyodorkan alat perekam. Namun Jusuf sedang dalam kondisi kurang mood  untuk diwawancarai. Dengan tongkat komandonya, dia menunjuk satu-satu ke perut wartawan itu. “Aku sedang malas bicara. Kau, kau, kau, dan kau, ikut aku saja sekarang ke Halim! Kita berangkat ke Medan satu jam lagi,” ujar Jusuf spontan. Dengan cepat, staf Jenderal Jusuf mencari sebuah mobil untuk menaikan para wartawan itu. Keempat wartawan tadi pun diangkut dalam keadaan setengah bengong . Setibanya di Medan, barulah mereka punya waktu untuk buru-buru membeli sikat gigi, odol, pakaian dalam dan baju ganti. Salah satu wartawan yang beruntung selalu mengikuti kunjungan Jusuf ialah Atmadji Sumarkidjo. Ketika itu, Atmadji masih seorang reporter muda harian Sinar Harapan . Menurut Atmadji, hubungannya dengan Jusuf pada awalnya sebatas profesionalitas antara wartawan dengan narasumbernya. “Kemudian hubungan tersebut berkembang menjadi hubungan pribadi yang amat berkualitas dan tak pernah satu kali pun terhenti hingga Pak Jusuf wafat,” kenang Atmadji. Hubungan karib tersebut dimulai dengan perhatian khusus yang diberikan oleh istri Jusuf, Elly Jusuf Saelan atas tulisan-tulisan yang dimuat di surat kabar  Sinar Harapan . Atmadji kemudian dipercaya untuk menuliskan biografi M. Jusuf yang berjudul  Jenderal M. Jusuf: Panglima Para Prajurit.   Seiring waktu, karier jurnalis Atmadji kian menanjak di  Sinar Harapan . Namanya pun malang melintang di dunia media maupun penerbitan tanah air. Kini Atmadji lebih dikenal aktif sebagai staf khusus Menteri Kordinator Bintang Kemaritiman Luhut Binsar Pandjaitan.*

  • Krisis Ekonomi Masa Sukarno

    KRISIS ekonomi beberapa kali mewarnai sejarah Indonesia. Penyebabnya beragam: bisa karena pengaruh perubahan dunia luar atau lantaran dinamika politik dalam negeri. Untuk penyebab kedua, Indonesia mengalaminya pada dekade 1960-an. Banyak orang terkapar menyusul krisis itu. Tapi segelintir kecil lainnya justru makmur.

  • Naskah-naskah tentang Jamu

    Jamu sempat diburu karena dianggap dapat menangkal virus corona (Covid-19). Banyak orang memang meyakini khasiat jamu dalam mencegah dan mengobati berbagai penyakit. Jejak pengobatan warisan leluhur ini dapat ditelusuri hingga masa prasejarah. Manusia purba sudah memanfaatkan tetumbuhan sebagai obat. Buktinya berupa alat batu pipisan untuk menghaluskan biji-bijian dan tanaman yang tersimpan di Museum Nasional, Jakarta. “Alat ini hampir pasti digunakan untuk perawatan kesehatan sehari-hari dengan ditemukannya sisa bubuk dan ekstrak tanaman padanya,” tulis Susan-Jane Beers dalam Jamu: The Ancient Indonesian Art of Herbal Healing . Pemanfaatan tanaman sebagai obat kemudian ditemukan dalam naskah-naskah kuno masa Hindu-Buddha.   Setelah budaya tulis makin kuat, paling tidak sejak abad ke-17, pemanfaatan jamu mulai ditulis dalam manuskrip-manuskrip dan menjadi tradisi turun-temurun. Dwi Cahyono, arkeolog dan pengajar sejarah di Universitas Negeri Malang, mengatakan ilmu pengobatan kuno terekam di sejumlah pustaka. Terutama yang menggunakan unsur sebutan usadha . Misalnya, Usadha Jawa dan  Usadha Bali . Dwi menjelaskan istilah usadha  atau kadang ditulis osadha  dan husadha  mengandung arti obat. “Hingga kini istilah usada , perubahan dari bentuk sebelumnya, masih lazim digunakan sebagai nama apotek, rumah sakit, atau tempat pengobatan lainnya,” kata Dwi. Selain itu, ada juga manuskrip Serat Primbon Jampi Jawi Jilid I dan Serat Primbon Racikan Jampi Jawi Jilid II. Menurut Hesti Mulyani, dosen pendidikan bahasa Jawa Universitas Negeri Yogyakarta,   naskah-naskah ini memuat uraian racikan jamu asli Jawa, khususnya bagi para bangsawan. “Sejak zaman dulu, zaman kerajaan, gaya hidup sehat sangat diperhatikan dengan memanfaatkan tanaman obat atau herbal sebagai bahan perawatan kecantikan, kebugaran, dan pengobatan,” tulis Hesti dalam “Pengobatan Tradisional Jawa Terhadap Penyakit Bengkak dalam Manuskrip Serat Primbon Jampi Jawi Jilid I dan Serat Primbon Racikan Jampi Jawi Jilid II Koleksi Surakarta”, yang terbit di Prosiding Seminar Nasional Meneguhkan Peran Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat dalam Memuliakan Martabat Manusia . Serat Primbon Jampi Jawi  ditulis sekira abad ke-18 pada masa Hamengkubuwono II. Di dalamnya tertulis berbagai macam herbal. Bagian tumbuhan yang berasal dari daun, rimpang, akar, dan kulit kayu dari berbagai jenis tanaman diolah secara tradisional untuk mempertahankan kecantikan dan kebugaran perempuan bangsawan. Hesti menjelaskan, bagian rimpang misalnya. Di dalam manuskrip Serat Primbon Jampi Jawi  disebutkan beberapa janis yang berkhasiat. Di antaranya rimpang jahe, kencur, kunyit, kunci, lempuyang, sunthi, temulawak, bengle, dan dringo . B agian umbi tanaman yang biasa digunakan sebagai bahan racikan jamu adalah bawang merah dan bawang putih. Sementara kulit kayu atau kulit batang  berasal dari kayu manis, secang, mesoyi, rasuk angin, dan kelembak. Bahan dari dedaunan adalah pupus anggur, asam jawa (kering), gondhangkasih, inggu prêman , jempinah, pupus kara, karandang, lampes, menirang, bawang cina, pegagan, seruni, saraband, saga (kering), walu, waru, dan trawas. J enis bunga, buah, dan biji yang berkhasiat antara lain bunga cengkih dan waru; buah asam, kemukus, labu putih, pala, isi sawo; dan biji adas, jinten, kedhawung, ketumber, dan mungsi. B ahan pelengkap yang biasa dipakai adalah dupa cina, garam, inggu, tambakau, dan terasi merah. C airan sebagai campuran bahan ramuan jamu yaitu air jeruk nipis, air jeruk purut, air panas, air tawar, air perasan daun iler, air susu ibu, dan cuka. Sumber tertulis lainnya adalah Serat Centhini . Karya ini ditulis atas perintah Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Anom Amengkunegara III yang memerintah Surakarta (1820–1823). Ia adalah putra Pakubuwono IV (1788–1820). Penyusunannya dipimpin Ki Ngabehi Ranggasutrasna, didampingi Raden Ngabehi Yasadipura, Raden Ngabehi Sastradipura. Mereka dibantu Pangeran Jungut Mandurareja dari Klaten, Kiai Kasan Besari dari Panaraga, dan Kiai Mohammad Mindad dari Surakarta. Dalam Serat Centhini, tumbuhan obat digunakan untuk menjaga kesehatan, mencegah penyakit, mengurangi sakit, penyembuhan, dan mempercantik diri. Menurut serat ini tanaman bahan jamu dapat digunakan untuk mengobati penyakit panas dingin, batuk, mata, bisul, susah kencing, susah kentut, dan masalah stamina pria. Naskah ini memuat dengan lengkap cara pengobatannya . Dilengkapi dengan uraian jenis bahan tanaman dan cara memakainya. Ada yang cara pengobatannya dengan diminum setelah diambil sarinya, dikunyah, ditempelkan pada dahi ( pilis ), dioleskan pada perut ( tapel ), dioleskan pada badan ( parem ), untuk merendam bagian badan ( rendhem ), ditempelkan atau diteteskan pada bagian yang sakit, dan disemburkan ke bagian tubuh yang diobati ( sembur ). Di luar cara-cara itu, menurut Murdijati Gardjito, Guru Besar Ilmu dan Teknologi Pangan Universitas Gadjah Mada, Serat Centhini juga menunjukkan bahwa masyarakat Jawa selalu melibatkan Tuhan dalam penyembuhan penyakit. Misalnya dalam membuat obat penyakit telinga yang tuli. Diperlukan bahan seperti tujuh butir merica, akar kelor, empedu ayam hitam, dan minyak wijen. Ramuannya lalu diteteskan pada lubang telinga yang tuli sambil membaca palak binas atau Surat Al-Falaq dan An-Naas tiga kali. “Berbagai bahan tanaman jamu yang digunakan ada yang masih dapat kita jumpai pada masa sekarang, adapula yang sudah sulit dijumpai atau bahkan belum pernah didengar namanya,” tulis Murdijati dalam Jamu Pusaka Penjaga Kesehatan Asli Indonesia . Selain Serat Centhini , dalam Serat Kawruh terdapat 1.166 resep di antaranya 922 resep tentang ramuan bahan alam . Khususnyadalam bab Jampi-Jampi Jawi terdapat 244 resep berupa catatan rajah dan jimat. Isinya adalah gambar-gambar doa, rapal, dan mantra. “ Serat Kawruh disusun pada 1831 atas perintah Pakubuwono V. Isinya kumpulan ramuan obat asli Jawa,” kata Murdijati. Ada juga buku tentang jamu karya Johanna Maria Carolina Versteegh (setelah menikah menjadi Jans Kloppenburg-Versteegh) yang ditulis pada 1907. Buku berjudul Indische Planten en Haar Geneeskracht (Tanaman Asli Hindia dan Daya Penyembuhnya) itu berisi uraian singkat mengenai nama daerah asal tumbuhan, nama latin, morfologi, dan bagian dari tanaman yang bisa digunakan. Termuat pula resep pengobatan dan cara memelihara kesehatan yang dilakukan orang Jawa berdasarkan pengamatannya. Terdapat 1.467 petunjuk bagaimana mengatasi gangguan kesehatan menggunakan bahan ramuan jamu Jawa. “Banyak pasien yang datang ke Kloppenburg-Versteegh, reputasinya sebagai penyembuh menyebar cepat. Publikasi penemuannya adalah suatu warisan berharga sebagai pedoman dalam dunia pengobatan herbal,” kata Murdijati. Alternatif Mujarab Agaknya pengobatan tradisional warisan leluhur ini dapat dipercaya khasiatnya. Pasalnya,ada hukuman bagi mereka yang asal-asalan mengobati orang sakit. Khususnya pada masa Majapahit, kegagalan dalam melakukan pengobatan diancam hukuman cukup berat. Aturan itu tertuang dalam Kitab Undang-Undang Majapahit, Kutaramanawa atau Agama . Dari 275 pasal, ada pasal yang berisi sanksi bagi yang gagap mengobati hingga berujung kematian pada hewan atau manusia. Apabila gagal mengobati hewan sehingga hewannya mati, maka didenda empat kali tiga atak . Satu atak  setara 200 picis , satuan untuk menyebut mata uang tembaga Cina. Jika yang diobati manusia dan malah mati, maka didenda selaksa  atau satu laksa setara 10.000 picis . Apabila yang diobati seorang brahmana dan mati, maka ia diganjar hukuman mati oleh raja. “Ini mengingatkan kita kepada apa yang sekarang disebut dengan malapraktik,” kata Dwi. Namun, menurut Dwi, sebagai obat tradisional, khasiat jamu tidak serta merta menyembuhkan penyakit. Lebih sering jamu harus dikonsumsi teratur secara berangsur-angsur. Kendati hanya diposisikan sebagai obat alternatif, jamu tak pernah ditinggalkan oleh para penggunanya. “Ketika merasa mentok oleh cara medis dan obat-obatan modern, ” kata Dwi, “ orang masa kini beralih ke pengobatan tradisional, yang boleh jadi lebih memiliki kemujaraban. ”

  • ‘Superfood’ dari Laut

    Indonesia sangat kaya akan hasil lautnya, seperti ikan dan tiram. Sumber alam tersebut dapat dijadikan pilihan makanan yang sehat dan sungguh nikmat.

  • Percaya pada Jamu dari Dulu

    Mpu Monaguna, penulis abad ke-13 dalam karyanya , Kakawin Sumanasantaka,   menggambarkan kehidupan di pedalaman. Salah satunya tempat tinggal para pertapa. Para biarawan itu membajak sawah dan memiliki kebun-kebun sayur yang terpelihara. Sementara para rahib perempuan memasuki hutan untuk mengumpulkan buah-buah serta dedaunan untuk dijadikan obat. Tokoh utama dalam kisah itu, seorang putri raja, Putri Indumati, seringkali dipakaikan pupuk   ( apupuk ) pada ubun-ubunnya. Pilis dioleskan ke pelipisnya yang sakit. Bila cegukan diobati ujung daun sirih. Obat tuli-tuli  untuk merawat bagian telinganya . Ia juga minta disembur air yang melegakan ketika tenggorokannya sakit seperti tersedak. Karya Mpu Monaguna itu merekam bagaimana orang Jawa Kuno mengobati penyakit. Pupuk dan pilis hingga kini masih digunakan. Pupuk adalah ramuan yang ditempelkan pada ubun-ubun bayi atau batita agar tetap hangat. Pilis adalah jamu oles yang terbuat dari bahan-bahan seperti ganthi, kencur, kunyit, peppermint,  dan bunga kenanga. Biasanya ia ditempelkan pada bagian kening atau dahi. Pilis sampai kini dipercaya bisa membantu meredakan rasa pusing dan melancarkan peredaran darah. S. Supomo dalam Kakawin Sumanasantaka: Mati karena Bunga Sumanasa  menjelaskan dari asal katanya,  tuli-tuli mungkin adalah obat untuk penyakti telinga. Sedangkan menyembur tenggorokan yang sakit dengan air yang melegakan diartikan sebagai metode pada masa itu yang dilakukan oleh penyembuh. Fungsinya untuk mengobati sakit ringan dengan kunyahan jamu yang mendinginkan. Dwi Cahyono, arkeolog dan pengajar sejarah di Universitas Negeri Malang, menjelaskan bahwa kata "jamu" adalah serapan dari istilah bahasa Jawa Baru. Bahasa kromonya adalah jampi . “Varian sebutannya, yaitu jampyan , terdapat dalam bahasa Jawa Kuna dan Jawa Tengahan yang berarti obat, pengobatan, atau penawar,” kata Dwi. Istilah jampi  atau jampyan banyak muncul dalam kesusastraan kuno. Di antaranya Kakawin Gathotkacasraya, Bhomakawya, Bharattayudha, Sumanasantaka, Lubhdaka, Subhadrawiwaha, dan Abhimanyuwiwaha . Muncul juga dalam susastra kidung seperti Harsyawijaya, Kidung Sunda, Kidung Malat, dan  Kidung Ranggalawe. Menurut Hesti Mulyani, dosen pendidikan bahasa Jawa Universitas Negeri Yogyakarta , tak ada catatan jelas sejak kapan tradisi meracik dan meramu jamu bermula. Namun, tradisi itu diyakini sudah menjadi budaya sejak kerajaan Hindu-Buddha di Jawa. “Relief Candi Borobudur menggambarkan kebiasaan meracik dan meminum jamu untuk menjaga kesehatan,” tulis Hesti dalam “Pengobatan Tradisional Jawa Terhadap Penyakit Bengkak dalam Manuskrip Serat Primbon Jampi Jawi Jilid I dan Serat Primbon Racikan Jampi Jawi Jilid II   Koleksi Surakarta”, yang terbit di Prosiding Seminar Nasional Meneguhkan Peran Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat dalam Memuliakan Martabat Manusia . Sementara itu, Murdijati Gardjito, Guru Besar Ilmu dan Teknologi Pangan Universitas Gadjah Mada, mengatakan kebiasaan meracik dan meminum jamu tampak dalam relief Karmawibhangga di kaki candi yang mulai dibangun pada abad ke-8. Salah satu adegannya menunjukkan beberapa orang menolong laki-laki yang sakit dengan cara dipijat kepalanya, digosok perut dan dadanya. Ada pula yang membawakan semangkuk obat. Relief lainnya menggambarkan tanaman yang masih digunakan sebagai bahan pembuat jamu, seperti nagasari, semanggen, cendana merah, jamblang, pinang, pandan, maja, cendana wangi, dan kecubung. “Gambaran yang sama juga ditemukan pada relief-relief di Candi Prambanan, Candi Panataran, Candi Sukuh, dan Candi Tegawangi,” tulis Murdijati   dalam Jamu Pusaka Penjaga Kesehatan Asli Indonesia. Dengan begitu, kata Murdijati, pengetahuan asli orang Jawa tentang penyembuhan penyakit sudah berkembang sejak lama. Pengobatan itu dilakukan dengan bahan dasar yang ada di sekitarnya. Para Penyembuh Pada zaman kuno terdapat ilmu, buku, atau orang yang berkaitan dengan pembuatan, penggunaan, dan penjualan obat. Berbagai profesi di dunia kesehatan disebutkan dalam beberapa prasasti. Dalam Prasasti Balawi (1305) muncul istilah tuha nambi  yang artinya tukang obat. Kemudian terdapat istilah kdi  (dukun wanita) dan walyan  (tabib). Profesi tuha nambi  juga muncul dalam Prasasti Sidoteka (1323). Prasasti ini juga menyebut istilah wil tamba . Secara harfiah kata Jawa Kuna dan Tengahan tamba  menunjuk pada obat. Kata jadiannya anambani  atau tumambani  yang berarti menyembuhkan atau mengobati orang. “Pada bahasa Jawa Baru ada kata-kata Mutiara,  tamba teka lara lunga,  artinya obat datang penyakit pergi,” jelas Dwi. Dalam Prasasti Bendosari (1360) disebutkan istilah padadah  atau pemijatan, mungkin merujuk pada tukang pijat. Ada juga tabib desa atau dalam prasasti disebut janggan . Menurut Dwi, sebutan janggan  juga terdapat dalam Serat   Pararaton  yang berkaitan dengan guru di Desa Sagenggeng. “Bila menilik sebutannya, yaitu guru janggan , salah satu ilmu yang diajarkan pada muridnya itu adalah ilmu pengobatan,” kata Dwi. Dari masa Majapahit juga ada Prasasti Madhawapura yang menyebutkan profesi penjual jamu ( acaraki ). Kata acaraki dan caraki  terdapat dalam kitab Korawasrama . Kata caraki juga merujuk pada seseorang yang menyediakan atau menjual ramuan tumbuh-tumbuhan. Istilah yang hampir mirip adalah caraka, yaitu   sebutan bagi orang bijaksana penyusun buku mengenai obat-obatan. Istilah caraka  telah ada sejak abad ke-9 dan masa sesudahnya. Ia disebut dalam Kakawin Ramayana , Bhomakawya , Arjunawijaya ,  Sutasoma, Korawasrama, dan Tantri Demung . “Ada kemungkinan, kata Jawa Baru craken  menunjuk pula pada pengarang tulisan mengenai obat-obatan,” jelas Dwi. Dwi menyebut istilah caraka juga merujuk pada kitab yang membicarakan mengenai obat-obatan. Ia merupakan cabang Yajurveda Hitam . Hingga kini, pengetahuan asli tentang jamu masih terjaga. Terbukti dengan masih adanya sentra produksi jamu di Wonogiri dan Sukoharjo; dusun jamu di Dusun Kiringan, Bantul, Yogyakarta; kampung jamu di Nguter, Sukoharjo, Jawa Tengah; serta pasar bahan dan perlengkapan untuk membuat dan menjajakan jamu di Pasar Jamu Nguter.  “Sampai ada warung jamu, toko jamu, hingga kafe jamu. Tak ketinggalan industri jamu,” kata Murdijati.

  • Jungkir Balik Mengimpor NBA ke Indonesia

    GEGAP gempita pentas basket NBA bergulir lagi.Namun khusus kali ini, digelarnya lewat ranah virtual. Kompetisi aslinya masih ditunda sejak 11 Maret 2020 sebagai imbas pandemi SARS-Cov-2 (COVID-19/virus corona ). Setidaknya 16 pebasket bakal ikutan NBA versi virtual yang digagas NBA bekerjasama dengan NBPA atau asosiasi pebasket NBA. Kevin Durant, Derrick Jones Jr., Donovan Mitchell, Devin Booker, dan DeMarcus Cousins di antaranya. Mereka akan adu skill basket lewat game “NBA 2K Players Tournament” yang sudah dimulai sejak Jumat (3/4/2020) lalu. Bagi yang penasaran , bisa menyaksikannya lewat saluran televisi berbayar ESPN dan ESPN2 , atau di aplikasi ESPN dan NBA. Siaran juga bisa disaksikan via streaming di akun medsos (Twitter, Twitch, Youtube, Facebook) milik NBA dan NBA2K. Toh, upaya menghibur para penggila basket di masa kampanye “#dirumahaja” semacam ini takkan sama dengan menonton langsung, baik di stadion maupun lewat layar kaca. Virtual NBA lewat gim “NBA 2K Players Tournament” jadi alternatif hiburan selepas kompetisi NBA aslinya ditunda sebagai imbas pandemi virus corona (Foto: nba2k.com ) Di Indonesia sendiri tayangan NBA dalam beberapa tahun belakangan, di “zaman normal” sebelum virus corona menerjang, bergantian ditayangkan beberapa stasiun TV swasta nasional, dari SCTV , Indosiar sampai O Channel . Untuk musim 2019-2020, sebelumnya disiarkan secara streaming oleh vidio.com . Siaran NBA beberapa waktu terakhir ini memang tak sepopuler era 1990-an. Bahkan IBL atau pentas basket nasional pun masih kalah pamor ketimbang siaran liga sepakbola nasional. Padahal, pada awal 1990siaran NBA begitu populer di kalangan kelas menengah masyarakat kota setelah susah-payah didatangkan dari Amerika Serikat ke Indonesia oleh Ary Sudarsono. NBA Pendongkrak Basket Nasional Nama Ary Sudarsono sudah dikenal luas dalam perbasketan Asia pada medio 1980-an. Setelah pensiun dari pemain, pamor Ary mengglobal lewat kiprahnya sebagai wasit, hingga disematkan titel “ Mr. Golden Whistle ” oleh FIBA atau induk basket Asia. Begitu pensiun jadi wasit dan pulang ke Indonesia pada 1985, Ary merampungkan pendidikannya di Alabama Sport Academy setahun berikutnya.Ia lalu dipercaya pengusaha Aburizal Bakrie untuk membantu membangun klub basketPelita Jaya. Ary pula kemudian mencetuskan ide untuk mendatangkan pemain asing untuk mengatrol popularitas Kobatama, pendahulu IBL. “Karena saya lama dikenal di Filipina, saya datangin juga pemain dari sana, Bong Ramos buat Pelita Jaya. Kemudian saya dipanggil Perbasi (induk basket nasional) karena mungkin melihat saya total mempopulerkan basket. Kobatama disuruh saya yang pegang,” k ata Ary meng enang , kepada Historia. Langkah pertama Ary setelah memegang Kobatama adalah menggandeng SCTV untuk kerjasama siaran Kobatama. Untuk lebih mendongkrak kepopulerannya lagi, Ary mencetuskan ide mendatangkan pula siaran NBA ke tanah air. “Saya bilang sama Henry, untuk mempercepat, mengangkat, dan mendobrak nilai jual, ambil (siaran) NBA. Jadi penonton dikasih perbandingan. Ada NBA, ada Kobatama yang nantinya bisa dikatrol nih. Tapi saya tunggu-tunggu sebulan, enggak ada jawaban. Lalu saya ke RCTI . Mereka mau tapi cuma bisa bantu (mengongkosi) tiket Jakarta-New York,” lanjutnya. Ary Sudarsono berkisah pengalamannya nekat ke markas NBA untuk melobi siarannya diimpor ke Indonesia (Foto: Fernando Randy/HISTORIA) Meski hanya dimodali tiket pesawat, Ary tak patah arang karena asanya yang membumbung tinggi. “Selebihnya saya jual mobil Rp30 juta buat ke sana,” kata pria yang dulunya kiper itu. Dengan tiket dan uang hasil jual mobil itulah Ary berangkat ke Amerika medio 1990. Rasa optimismenya mengalahkan rasa gugup lantaran di era itu publik Amerika masih asing mendengar nama Indonesia. “Berangkatlah gue . Belaga gila aja walau enggak kenal siapa-siapa di NBA. Indonesia siapa? Amerika enggak melihat. Paling orang sana tahunya Bali, kan?” imbuh Ary yang menghabiskan waktu sekira dua pekan mencari celah melobi bos-bos NBA. Ary mulanya ingin langsung bertatap muka dengan Komisioner NBA David Stern (periode 1984-2014). Sayangnya upaya itu bertepuk sebelah tangan karena Ary datang dari “negara dunia ketiga”. “Untuk ketemu komisionernya, ‘tar sok, tar sok’ (entar/nanti-besok, red. ). Awalnya hanya bisa ketemu PR-nya (humas) NBA. Saya jelasin bahwa atmosfer basket di Indonesia bagus. Sudah mulai ada pemain asing juga. Bahwa (basket) akan lebih cepat populer kalau NBA bisa masuk ke Indonesia. Kan hitung-hitung saya bantu marketing NBA untuk lebih luas,” tuturnya. “Apalagi populasi negara kita 100 juta lebih. Saya kasih pandangan bahwa nanti NBA bisa mendapat viewer jutaan penonton. Ya masak mereka bisa kasih (siaran NBA) ke China, Jepang, Korea, Malaysia, Singapura (tapi kita) enggak dikasih. Akhirnya mereka luluh. Sementara waktu itu sudah 10 hari di sana, sudah tipis nih isi dompet,” kata Ary lagi. Dibantu Magic Johnson Selang berapa hari, Ary diundang lagi ke NBA. Namun ada dilema yang dihadapinya ketika mendapat kabar baik dan buruk. Kabar baiknya, NBA tertarik untuk memberi hak siar. Sialnya, NBA hanya berkenan memberi siaran laga-laga tim papan bawah. “Lemes gue. Aduh gila ini sih. Gue dikasih tanggung begini. Enggak dapat (siaran pertandingan) LA Lakers, Chicago Bulls, Utah Jazz, Boston Celtics, Detroit Pistons. Sialan nih NBA. Cuma dikasih tim-tim macam Denver Nuggets, Indiana Pacers begitu. Merasa dikerjain, gue merasa belum mau pulang,” tambahnya. Kolase Ary Sudarsono bersama Earvin 'Magic Johnson Jr. (kiri) & Julius Winfield 'Dr. J' Erving II (Foto: Instagram @sudarsonoary) Ary kembali melobi untuk bisa minta tayangan NBA dua kali sepekan, meski “separuh-separuh”alias satu pertandingan tim beken, satu lagi tim papan bawah. Negosiasi itu jelas membutuhkan waktu lebih lagi. Namun keajaiban yang tak dinyana mendatangi Ary saat hendak makan siang usai nego dengan pihak NBA. “Pas lagi makan siang sama PR-nya NBA, datang Magic Johnson (Earvin ‘Magic’ Johnson, legenda tim LA Lakers dan timnas basket Amerika) yang lagi mau fitness. Lalu gue dikenalinbahwa gue dari Indonesia dan lagi minta bantu NBA mendongkrak basket. Wah gue langsung didukung Magic Johnson,” kata Ary mengingat pertemuan itu. “ Don’t worry, Brother. I’ll help you. You can contact me, tomorrow we have lunch together ,” kata Johnson sebagaimana ditirukan Ary. “Hampir seminggu gue diajak dia, termasuk dikenalin sama ‘Dr. J’ (julukan legenda NBA Julius Erving). Diajak juga nonton Celtics vs Lakers. Jadi akhirnya komunikasi sama NBA jadi bagus. Akhirnya NBA pusat mengontak NBA Asia di Hong Kong. Lalu gue diminta jadi salah satu NBA Representative Asia,” tandas Ary. Perjalanan Ary melintas benua pun tak sia-sia. NBA disiarkan RCTI mulai musim 1991. Ary pun setahun berselang dikontrak menjadi “Mr. NBA Asia”. Ditambah beberapa program olahraga lain dengan Ary sebagai host -nya, termasuk program “Boom Basket”, Kobatama pun turut terdongkrak pamornya hingga mulai jadi olahraga favorit ketiga anak muda kala itu selain sepakbola dan bulutangkis.

bg-gray.jpg
Tedy masuk militer karena pamannya yang mantan militer Belanda. Karier Tedy di TNI terus menanjak.
bg-gray.jpg
Pemilihan Augustine Magdalena “Tiene” Waworuntu sebagai walikota Manado menjadikannya walikota perempuan pertama pasca pembubaran RIS. Pemilihannya menimbulkan polemik daerah-pusat, hingga menyeret militer.
bg-gray.jpg
Dua anggota legiun Mangkunegaran ikut serta gerakan anti-Belanda. Berujung pembuangan.
bg-gray.jpg
Rumah Sakit Bethesda Yogyakarta merupakan buah kasih dokter misionaris Belanda bernama J.G. Scheurer yang dijuluki Dokter Tolong.
bg-gray.jpg
Rumah yang pernah digunakan untuk mendidik kesadaran politik rakyat. Kini sepi pengunjung.
bottom of page